Anda di halaman 1dari 32

LAPORAN PENDAHULUAN

A. PENGERTIAN
BPH (Benigna Prostat Hyperplasia) adalah pembesaran jinak kelenjar
prostat, disebabkan oleh karena hiperplasia. Beberapa atau semua komponen
prostat, meliputi jaringan kelenjar dan jaringan fibro muskular yang
menyebabkan penyumbatan uretra parsprostatika. (Basuki B Pornomo : 2000)
BPH adalah pembesaran

progresif dari kelenjar prostat ( secara

umum pada pria lebih tua dari 50 tahun ) menyebabkan


derajat obstruksi uretral dan pembatasan

berbagai

aliran urinarius. ( Marilynn,

E.D, 2000 : 671 )


BPH adalah kondisi patologis yang paling umum pada pria lansia dan
penyebab kedua yang paling sering untuk intervensi medis pada pria di atas
usia 60 tahun. (Smeltzer : 2001 ; 1625)
BPH atau disebut pembesaran prostat jinak adalah pertumbuhan dari
nodula-nodula fibrioadenomatosa majemuk dalam prostat; pertumbuhan
tersebut dimulai dari bagian periuretral sebagai proliferasi yang terbatas dan
tumbuh dengan menekan kelenjar normal yang tersisa. (Sylvia A. Price: 2005;
1320)
Hipertrofi prostat jinak (benign prostatic hypertrophy/ BPH)
merupakan kondisi yang belum diketahui penyebabnya, ditandai oleh
meningkatnya ukuran zona dalam (kelenjar periuretra) dari kelenjar prostat.
(Pierce A. Grace: 2006; 169)
Hiperplasia prostat jinak (BPH) adalah kelainan yang sering terdapat
pada kelenjar prostat dan lebih sering terjadi pada pria setelah berusia lebih
dari 50 tahun. (Seymour I. Schwartz: 2000; 592)

B. EPIDEMIOLOGI
Prevalensi umur 41-50 th sebanyak 20%,51-60 th
50%,>80 th sekitar 90%. Angka di indonesia,bervariasi 24-30
persen dari kasus urologi yang dirawat di beberapa rumah
sakit.
C. KLASIFIKASI
1. Rectal Grading
Rectal grading atau rectal toucher dilakukan dalam keadaan buli-buli
kosong. Sebab bila buli-buli penuh dapat terjadi kesalahan dalam
penilaian. Dengan rectal toucher diperkirakan dengan beberapa cm
prostat menonjol ke dalam lumen dan rectum. Menonjolnya prostat
dapat ditentukan dalam grade.
Pembagian grade sebagai berikut:
Grade 0

: 0 - 1 cm

Grade I

: 1 - 2 cm

Grade II

: 2 - 3 cm

Grade III : 3 - 4 cm
Grade IV : > 4 cm
Biasanya pada grade 3 dan 4 batas dari prostat tidak dapat diraba karena
benjolan masuk ke dalam cavum rectum. Dengan menentukan rectal
grading maka didapatkan kesan besar dan beratnya prostat dan juga
penting untuk menentukan macam tindakan operasi yang akan
dilakukan. Bila kecil (grade 1), maka terapi yang baik adalah T.U.R
(Trans Urethral Resection) Bila prostat besar sekali (grade 3-4) dapat
dilakukan prostatektomy terbuka secara trans vesical.
2. Clinical Grading
Pada pengukuran ini yang menjadi patokan adalah banyaknya sisa
urine. Pada pagi hari setelah bangun pasien disuruh kencing sampai
selesai, kemudian di masukan kateter ke dalam buli-buli untuk
mengukur sisa urine.
Grade 0

: Sisa urine 0 cc

Grade I

: Sisa urine 0-50 cc

Grade II

: Sisa urine 50-150 cc

Grade III : Sisa urine > 150 cc


Grade IV : Tidak bisa kencing
3. Intra Uretral Grading
Untuk melihat seberapa jauh penonjolan lobus lateral ke dalam lumen
urethra. Pengukuran ini harus dapat dilihat dengan penendoskopy dan
sudah menjadi bidang dari urology yang spesifik.
Grade I

: Clinical grading sejak berbulan-bulan, bertahun-tahun,

mengeluh kalau kencing tidak lancar, pancaran lemah, nokturia.


Grade II

:Bila miksi terasa panas, sakit, disuria.

Grade III :Gejala makin berat


Grade IV :Buli-buli penuh, disuria, overflow inkontinence. Bila
overflow inkontinence dibiarkan dengan adanya infeksi dapat terjadi
urosepsis berat. Pasien menggigil, panas 40-41 celsius, kesadaran
menurun.

D. ETIOLOGI
Penyebab yang pasti dari terjadinya Benigne Prostat Hyperplasia sampai
sekarang belum diketahui secara pasti, tetapi hanya 2 (dua) faktor yang
mempengaruhi terjadinya Benigne Prostat Hyperplasia yaitu testis dan usia
lanjut.Karena etiologi yang belum jelas maka melahirkan beberapa hipotesa
yang di duga timbulnya Benigne Prostat Hyperplasia antara lain:
1. Hipotesis Dihidrotestosteron (DHT)
Peningkatan 5 alfa reduktase dan reseptor androgen akan menyebabkan
epitel dan stroma dari kelenjar prostate mengalami hiperplasia.
2. Ketidakseimbangan Estrogen-Testoteron

Dengan meningkatnya usia pada pria terjadi peningkatan hormon


estrogen dan penurunan testosteron sedangkan estradiol tetap yang
dapat menyebabkan terjadinya hyperplasia stroma.
3. Interaksi Stroma-Epitel
Peningkatan epidermal growth faktor atau fibroblas growth faktor dan
penurunan transforming growth faktor beta menyebabkan hiperplasia
stroma dan epitel.
4. Penurunan Sel Yang Mati
Estrogen yang meningkat menyebabkan peningkatan lama hidup stroma
dan epitel dari kelenjar prostat.
5. Teori Stem Cell
Sel stem yang meningkat mengakibatkan proliferasi sel transit.
E. MANIFESTASI KLINIS
1. Gejala Obstruktif
a. Hesitansi
memulai kencing yang lama dan seringkali
disertai dengan mengejan yang disebabkan oleh
karena otot destrussor buli-buli memerlukan
waktu beberapa lama meningkatkan tekanan
intravesikal guna mengatasi adanya tekanan
dalam uretra prostatika.
b. Intermitency
terputus-putusnya
disebabkan

karena

aliran

kencing

ketidakmampuan

yang
otot

destrussor dalam pempertahankan tekanan intra


vesika sampai berakhirnya miksi.
c. Terminal dribbling
menetesnya urine pada akhir kencing.

d. Pancaran lemah
kelemahan

kekuatan

destrussormemerlukan

dan

kaliber

waktu

pancaran

untuk

dapat

melampaui tekanan di uretra.


e. Retensi urin akut
Bila lebih dari 60 ml urin tetap berada dalam
kandung kemih setelah berkemih.
f. Rasa tidak puas
Timbulnya rasa tidak puas setelah berakhirnya
buang air kecil dan karena kandung kemih belum
dapat dikosongkan dengan maksimal.
g. Azotemia
Akumulasi produk sampah nitrogen
2. Gejala Iritasi
a. Urgency
perasaan ingin buang air kecil yang sulit
ditahan.
b. Frekuensi
penderita miksi lebih sering dari biasanya
dapat terjadi padamalam hari (Nocturia) dan
pada siang hari.
c. Disuria

nyeri pada waktu kencing.


3. Gejala generalisata
a. Keletihan
b. Anoreksia
c. Mual
d. Muntah
e. Rasa tidak nyaman pada epigastrik
4. Gejala komplikasi
Gejala dan tanda pada klien yang lebih lanjut penyakitnya,
misalnya gagal ginjal, dapat ditemukan

uremia, peningkatan

tekanan darah, denyut nadi, respirasi, foetor uremik, peri karditis,


ujung kaki yang pucat, tanda-tanda penurunan mental serta
neuropati

perifer.

Bila

sudah

terjadi

hidronefrosis

atau

pionefrosis, ginjal teraba dan ada nyeri di CVA ( Costa Vertebrae


Angularis ).

F. ANATOMI FISIOLOGI

Gambar
reproduksi dan

anatomi sistem
eliminasi pria

1. Buli-buli
Buli-buli merupakan
organ

berongga

yang

terdiri atas

tiga

lapis

otot

destrusor
yang

saling

beranyaman.
Disebelah
dalam

adalah

otot sirkuler, ditengah

merupakan otot longitudinal, dan paling luar merupakan otot sirkuler.


Mukosa buli-buli terdiri atas sel-sel transisional. Pada dasar buli-buli
kedua muara ureter dan meatus uretra internum membentuk suatu
segitiga yang disebut trigonum buli-buli.
Buli-buli berfungsi menampung urine dari ureter dan kemudian
mengeluarkannya melalui uretra dalam mekanisme miksi ( berkemih ).
Dalam menampung urine, buli-buli mempunyai kapasitas maksimal
untuk orang dewasa kurang lebih adalah 300-450 ml, sedangkan
kapasitas buli-buli pada anak anak menurut formula Koff adalah :
Kapasitas buli-buli = { umur (tahun ) + 2 } x 30 ml
Pada saat kosong buli-buli terletak dibelakang simpisis pubis
dan pada saat penuh berada diatas simpisis sehingga dapat dipalpasi dan
diperkusi.
Buli-buli yang terisi penuh memberikan rangsangan pada syaraf
aferen dan menyebabkan aktivasi pusat miksi di medula

spinalis

segmen sakral S 2-4. Hal ini akan menyebabkan kontraksi otot destruso,
terbukanya leher buli-buli dan relaksasi spingter uretra sehingga
terjadilah proses miksi.
2. Uretra

Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urine keluar dari


buli-buli melalui proses miksi. Pada pria organ ini

berfungsi juga

dalam menyalurkan cairan mani.


Uretra ini diperlengkapi dengan spingter uretra interna yang
terletak pada perbatasan buli-buli dan uretra, dinding terdiri atas otot
polos yang disyarafi oleh sistem otonomik dan spingter uretra eksterna
yang terletak pada perbatasan uretra anterior dan posterior, dinding
terdiri atas otot bergaris yang dapat diperintah sesuai dengan keingian
seseorang. Panjang uretra dewasa 23-25 cm.
Secara anatomis uretra terdiri dari dua bagian yaitu uretra
posterior dan uretra anterior. Kedua uretra ini dipisahkan oleh spingter
uretra eksternal.
Uretra posterior pada pria terdiri atas uretra pars prostatika
yaitu bagian uretra yang dilingkupi oleh kelenjar prostat, dan uretra pars
membranasea. Dibagian posterior lumen uretra prostatika terdapat suatu
tonjolan verumontanum, dan disebelah kranial dan kaudal dari
verumontanum ini terdapat krista uretralis. Bagian akhir dari vasdeferen
yaitu kedua duktus ejakulatorius terdapat dipinggir kanan dan kiri
verumontanum, sedangkan sekresi kelenjar prostat bermuara didalam
duktus prostatiks yang tersebar di uretra prostatika.
Uretra anterior adalah bagian uretra yang dibungkus oleh korpus
spongiosum penis. Uretra anterior terdiri atas: 1. Pars bulbosa, 2. Pars
pendularis, 3. Fossa navikulare, dan 4. Meatus uretra eksterna. Didalam
lumen uretra anterior terdapat beberapa muara kelenjar yang berfungsi
dalam proses reproduksi, yaitu kelenjar Cowperi berada didalam
diafragma urogenitalis bermuara diuretra pars bulbosa, serta kelenjar
Littre yaitu kelenjar para uretralis yang bermuara di uretra pars
pendularis.
3. Kelenjar prostat

Prostat adalah suatu organ yang terdiri dari komponen kelenjar,


stroma dan muskular. Kelenjar ini mulai tumbuh pada kehamilan umur
12 minggu karena pengaruh dari horman androgen yang berasal dari
testis janin. Prostat merupakan derivat dari jaringan embrional sinus
urogenital. Kelenjar prostat bentuknya seperti konnus terbalik yang
terjepit ( kemiri ).
Letak kelenjar prostat disebelah inferior buli-bulu, didepan
rektum dan membungkus uretra posterior. Ukuran rata-rata prostat pada
pria dewasa 4 x 3 x 2,5 cm dan beratnya kurang lebih 20 gram.
Pada tahun 1972 Mc. NEAL, mengemukakan konsep tantang
zona anatomi dari prostat. Menurut Mc. NEAL, komponen kelenjar dari
prostat sebagian besar terletak/membentuk zona perifer. Zona perifer
ini ditambah dengan zona sentral yang terkecil merupakan 95 % dari
komponen kelenjar. Komponen kelenjar yang lain ( 5% ) membentuk
zona transisi. Zona transisi ini terletak tepat di luar uretra di daerah
verumontanum. Proses hiperplasia dimulai di zona transisi ini.
Sebagian besar proses keganasan (60-70 % ) bermula di zona perifer,
sebagian lagi dapat tumbuh di zona transisi dan zona sentral.
Prostat menghasilkan suatu cairan yang merupakan salah satu
komponen dari cairan ejakulat. Cairan kelenjar ini dialirkan melalui
duktus sekretorius dan bermuara di uretra posterior untuk kemudian
bersama cairan semen yang lain pada saat ejakulasi. Cairan ini
merupakan25 % dari volume ejakulat.
Jika kelenjar ini mengalami hiperplasia jinak atau berubah
menjadi kanker ganas dapat membuntu uretra posterior dan
mengakibatkan terjadinya obstruksi saluran kemih.

G. PATOFISIOLOGI
Pathway terlampir

Gambar perbedaan prostat normal dan BPH


Pembesaran prostat menyebabkan penyempitan lumen uretra
prostatika

dan akan menghambat aliran urin. Proses ini terjadi

secara perlahan-lahan sehingga perubahan pada saluran


kemih juga terjadi secara perlahan-lahan. Pada tahap awal
setelah terjadi pembesaran prostat, resistensi pada leher
buli-buli dan daerah prostat meningkat, serta otot detrusor
menebal dan meregang sehingga timbul sakulasi atau
divertikel.

Fase

penebalan

detrusor

ini

disebut

fase

kompensasi. Apabila keadaan berlanjut, maka detrusor


menjadi lelah dan akhirnya mengalami dekompensasi dan
tidak mampu lagi untuk berkontraksi sehingga terjadi
retensio

urine

yang

selanjutnya

dapat

menyebabkan

hidronefrosis dan disfungsi saluran kemih atas.


Di samping itu pembesaran prostat juga dapat
tekanan intravesikal.

Sebagai

kompensasi terhadap

meningkatkan
tahanan

uretra

prostatika, maka otot detrusor dari buli - buli berkontraksi lebih kuat
untuk dapat memompa urin keluar. Kontraksi yang terus - menerus
menyebabkan perubahan anatomi dari buli - buli berupa hipertropi otot

detrusor, trabekulasi, terbentuknya selula, sakula dan difertikel buli buli.


Perubahan struktur pada buli - buli dirasakan klien sebagai
keluhan pada saluran kemih bagian bawah atau Lower Urinary Tract
Symptom

/ LUTS. Puncak

dari kegagalan kompensasi

adalah

ketidakmampuan otot detrusor memompa urine dan terjadi retensi


urine. Retensi urin yang kronis dapat mengakibatkan kemunduran
fungsi ginjal.
Adapun patofisiologi dari masing-masing gejala adalah
1. Penurunan kekuatan dan kaliber aliran yang
disebabkan resistensi uretra adalah gambaran awal
dan menetap dari BPH.
2. Hesistancy terjadi karena

detrusor

membutuhkan

waktu yang lama untuk dapat melawan resistensi


uretra.
3. Intermittency terjadi
mengatasi

karena

resistensi

uretra

detrusor

tidak

dapat

sanpai

akhir

miksi.

Terminal dribbling dan rasa belum puas sehabis miksi


terjadi karena jumlah residu urine yang banyak
dalam buli-buli.
4. Nokturia dan frekuensi terjadi karena pengosongan
yang tidak lengkap pada tiap miksi sehingga interval
antar miksi lebih pendek.
5. Frekuensi terutama terjadi

pada

malam

hari

( nokturia ) karena hambatan normal dari korteks


berkurang dan tonus spingter dan uretra berkurang
selama tidur.
6. Urgensi dan disuria jarang terjadi, jika ada disebabkan
oleh

ketidak

stabilan

detrusor

kontraksi involunter.
7. Inkontinensia bukan gejala

sehingga

terjadi

yang khas, walaupun

dengan berkembangnya penyakit, urine keluar sedikitsedikit

secara

berkala

karena

setelah

buli-buli

mencapai compliance maksimum, tekanan dalam bulibuli akan cepat naik melebihi tekanan spingter.
H. PENGKAJIAN
Pengkajian merupakan tahap awal dan landasan proses keperawatan.
pengumpulan data yang akurat dan sistematis akan membantu penentuan
status kesehatan dan pola pertahanan klien, mengidentifikasi kekuatan dan
kebutuhan klien, serta merumuskan diagnosis keperawatan.
Pengkajian dibagi menjadi 2 tahap, yaitu pengkajian pre operasi TUR-P dan
penkajian post operasi TUR-P.
1. Pengkajian pre operasi TUR-P
Pengkajian ini dilakukan sejak klien ini masik rumah sakit hingga saat
operasinya, yang meliputi :
a. Identitas klien
Meliputi nama, jenis kelamin, umur, agama / kepercayaan, status
perkawinan, pendidikan, pekerjaan, suku/ Bangsa, alamat, no.
rigester dan diagnosa medis.
b. Riwayat penyakit sekarang
Pada klien BPH keluhan keluhan yang ada adalah frekuensi ,
nokturia, urgensi, disuria, pancaran melemah, rasa tidak lampias/
puas sehabis miksi, hesistensi, intermitency, dan waktu miksi
memenjang dan akirnya menjadi retensio urine.
c. Riwayat penyakit dahulu
Adanya penyakit yang berhubungan dengan saluran perkemihan,
misalnya ISK (Infeksi Saluran Kencing ) yang berulang. Penyakit
kronis yang pernah di derita.

Operasi yang pernah di jalani

kecelakaan yang pernah dialami adanya riwayat penyakit DM dan


hipertensi.
d. Riwayat penyakit keluarga
adanya riwayat keturunan dari salah satu anggota keluarga yang
menderita penyakit BPH Anggota keluargayang menderita DM,
asma, atau hipertensi.
e. Riwayat psikososial

1) Intra personal
Kebanyakan klien yang akan menjalani operasi akan muncul
kecemasan. Kecemasan ini muncul karena ketidaktahuan
tentang prosedur pembedahan. Tingkat kecemasan dapat
dilihat dari perilaku klien, tanggapan klien tentang sakitnya.
2) Inter personal
Meliputi peran klien dalam keluarga dan peran klien dalam
masyarakat.
f. Pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan tatalaksana hidup sehat
Klien ditanya tentang kebiasaan merokok, penggunaan
tembakau, penggunaan obat-obatan, penggunaan alkhohol
dan upaya yang biasa dilakukan dalam mempertahankan
kesehatan diri (pemeriksaan kesehatan berkala, gizi makanan
yang adekuat )
2) Pola nutrisi dan metabolisme
Klien ditanya frekuensi makan, jenis makanan, makanan
pantangan, jumlah minum tiap hari, jenis minuman, kesulitan
menelan atau keadaan yang mengganggu nutrisi seperti
nause, stomatitis, anoreksia dan vomiting. Pada pola ini
umumnya tidak mengalami gangguan atau masalah.
3) Pola eliminasi
Klien ditanya tentang pola berkemih, termasuk frekuensinya,
ragu ragu, menetes - netes, jumlah klien harus bangun pada
malam hari untuk berkemih, kekuatan system perkemihan.
Klien juga ditanya apakah mengedan untuk mulai atau
mempertahankan aliran kemih. Klien ditanya tentang
defikasi, apakah ada kesulitan seperti konstipasi akibat dari
prostrusi prostat kedalam rectum.
4) Pola tidur dan istirahat
Klien ditanya lamanya tidur, adanya waktu tidur yang
berkurang karena frekuensi miksi yang sering pada malam
hari (nokturia). Kebiasaan tidur memakai bantal atau situasi

lingkungan waktu tidur juga perlu ditanyakan. Upaya


mengatasi kesulitan tidur.
5) Pola aktifitas
Klien ditanya aktifitasnya sehari hari, aktifitas penggunaan
waktu senggang, kebiasaan berolah raga. Apakah ada
perubahan sebelum sakit dan selama sakit. Pada umumnya
aktifitas sebelum operasi tidak mengalami gangguan, dimana
klien masih mampu memenuhi kebutuhan sehari hari
sendiri.
6) Pola hubungan dan peran
Klien ditanya bagaimana hubungannya dengan anggota
keluarga, pasien lain, perawat atau dokter. Bagai mana peran
klien dalam keluarga. Apakah klien dapat berperan sebagai
mana seharusnya.
7) Pola persepsi dan konsep diri
Meliputi informasi tentang perasaan atau emosi yang dialami
atau dirasakan klien sebelum pembedahan . Biasanya muncul
kecemasan dalam menunggu acara operasinya. Tanggapan
klien tentang sakitnya dan dampaknya pada dirinya. Koping
klien dalam menghadapi sakitnya, apakah ada perasaan malu
dan merasa tidak berdaya.
8) Pola sensori dan kognitif
Pola sensori meliputi daya penciuman, rasa, raba, lihat dan
pendengaran dari klien. Pola kognitif berisi tentang proses
berpikir, isi pikiran, daya ingat dan waham. Pada klien
biasanya tidak terdapat gangguan atau masalah pada pola ini.
9) Pola reproduksi seksual
Klien

ditanya

pasangannya,

jumlah

anak,

pengetahuannya

hubungannya
tentangseksualitas.

dengan
Perlu

dikaji pula keadaan seksual yang terjadi sekarang, masalah


seksual yang dialami sekarang (masalah kepuasan, ejakulasi
dan ereksi) dan pola perilaku seksual.

10) Pola penanggulangan stress


Menanyakan apa klien merasakan stress, apa penyebab stress,
mekanisme penanggulangan terhadap stress yang dialami.
Pemecahan masalah biasanya dilakukan klien bersama siapa.
Apakah mekanisme penanggulangan stressor positif atau
negatif.
11) Pola tata nilai dan kepercayaan
Klien menganut agama apa, bagaimana dengan aktifitas
keagamaannya. Kebiasaan klien dalam menjalankan ibadah.
g. Pemeriksaan fisik
1) Status kesehatan umum
Keadaan penyakit, kesadaran, suara bicara, status/ habitus,
pernafasan, tekanan darah, suhu tubuh, nadi.
2) Kulit
Apakah tampak pucat, bagaimana permukaannya, adakah
kelainan pigmentasi, bagaimana keadaan rambut dan kuku
klien ,
3) Kepala
Bentuk bagaimana, simetris atau tidak, adakah penonjolan,
nyeri kepala atau trauma pada kepala.
4) Muka
Bentuk simetris atau tidak adakah odema, otot rahang
bagaimana

keadaannya,

begitu

pula

bagaimana

otot

mukanya.
5) Mata
Bagainama keadaan alis mata, kelopak mata odema atau
tidak. Pada konjungtiva terdapat atau tidak hiperemi dan
perdarahan. Slera tampak ikterus atau tidak.
6) Telinga
Ada atau tidak keluar secret, serumen atau benda asing.
Bagaimana bentuknya, apa ada gangguan pendengaran.
7) Hidung

Bentuknya bagaimana, adakah pengeluaran secret, apa ada


obstruksi atau polip, apakah hidung berbau dan adakah
pernafasan cuping hidung.
8) Mulut dan faring
Adakah caries gigi, bagaimana keadaan gusi apakah ada
perdarahan atau ulkus. Lidah tremor ,parese atau tidak.
Adakah pembesaran tonsil.
9) Leher
Bentuknya bagaimana, adakah kaku kuduk, pembesaran
kelenjar limphe.
10) Thoraks
Betuknya bagaimana, adakah gynecomasti.
11) Paru
Bentuk

bagaimana,

apakah

ada

pencembungan

atau

penarikan. Pergerakan bagaimana, suara nafasnya. Apakah


ada suara nafas tambahan seperti ronchi, wheezing atau
egofoni.
12) Jantung
Bagaimana pulsasi jantung (tampak atau tidak).Bagaimana
dengan iktus atau getarannya.
13) Abdomen
Bagaimana bentukabdomen. Pada klien dengan keluhan
retensi umumnya ada penonjolan kandung kemih pada supra
pubik. Apakah ada nyeri tekan, turgornya bagaimana. Pada
klien biasanya terdapat hernia atau hemoroid. Hepar, lien,
ginjal teraba atau tidak. Peristaklit usus menurun atau
meningkat.
14) Genitalia dan anus
Pada klien biasanya terdapat hernia. Pembesaran prostat
dapat teraba pada saat rectal touch. Pada klien yang terjadi
retensi urine, apakah trpasang kateter, Bagaimana bentuk
scrotum dan testisnya. Pada anus biasanya ada haemorhoid.

15) Ekstrimitas dan tulang belakang


Apakah ada pembengkakan pada sendi. Jari jari tremor apa
tidak. Apakah ada infus pada tangan. Pada sekitar
pemasangan infus ada tanda tanda infeksi seperti merah
atau bengkak atau nyeri tekan. Bentuk tulang belakang
bagaimana.
2. Pengkajian post operasi TUR-P
Pengkajian ini dilakukan setelah klienmenjalani operasi, yang
meliputi:
a. Keluhan utama
Keluhan pada klien berbeda beda antara klien yang satu dengan
yang lain. Kemungkinan keluhan yang bisa timbul pada klien post
operasi TUR-P adalah keluhan rasa tidak nyaman, nyeri karena
spasme kandung kemih atau karena adanya bekas insisi pada waktu
pembedahan. Hal ini ditunjukkan dari ekspresi klien dan ungkapan
dari klien sendiri.
b. Keadaan umum
Setelah operasi klien dalam keadaan lemah dan kesadaran
baik, kecuali bila terjadi shock. Tensi, nadi dan kesadaran pada
fase awal ( 6 jam ) pasca operasi harus diminitor tiap jam dan
dicatat.

Bila

keadaan tetap stabil interval monitoring dapat

diperpanjang misalnya 3 jam sekali


c. Pola pola fungsi kesehatan
1) Pola persepsi dan tata laksana hidup sehat
Timbulnya perubahan pemeliharaan kesehatan karena tirah
baring selama 24 jam pasca TURP. Adanya keluhan nyeri
karena spasme buli - buli memerlukan penggunaan anti
spasmodik sesuai terapi dokter.
2) Pola nutrisi dan metabolisme
Klien yang di lakukan anasthesi SAB tidak boleh makan
dan minum sebelum flatus.
3) Pola eliminasi

Pada klien dapat terjadi hematuri setelah tindakan TURP.


Retensi urin dapat terjadi bila terdapat bekuan darah
pada

kateter.

Sedangkan

inkontinensia

dapat

terjadi

setelah kateter di lepas.


4) Pola aktivitas dan latihan
Adanya keterbatasan aktivitas karena kondisi klien yang
lemah dan terpasang traksi kateter selama 6 24 jam.
Pada paha yang dilakukan perekatan kateter tidak boleh
fleksi selama traksi masih diperlukan.
5) Pola tidur dan istirahat
Rasa nyeri dan perubahan situasi karena hospitalisasi
dapat mempengaruhi pola tidur dan istirahat.
6) Pola kognitif perseptual
Sistem Penglihatan, Pendengaran, Pengecap, peraba dan
Penghidu tidak mengalami gangguan pasca TURP.
7) Pola persepsi dan konsep diri
Klien

dapat

mengalami

cemas

karena

ketidaktahuan

tentang perawatan dan komplikasi pasca TURP.


8) Pola hubungan dan peran
Karena klien harus menjalani perawatan di rumah sakit
maka dapat mempengaruhi hubungan dan peran klien
baik dalam keluarga tempat kerja dan masyarakat.
9) Pola reproduksi seksual
Tindakan TURP dapat menyebabkan impotensi dan ejakulasi
retrograd.
10) Pola penanggulangan stress
Stress dapat dialami klien karena kurang pengetahuan
tentang

perawatan dan komplikasi pasca

TURP. Gali

adanya stres pada klien dan mekanisme koping klien


terhadap stres tersebut.

11) Pola tata nilai dan kepercayaan


Adanya

traksi

kateter

memerlukan

adaptasi

klien

SAB

tidak

dalam menjalankan ibadahnya .


d. Pengkajian fisik
1) Sistem respirasi
Klien yang menggunakan

anasthesi

mengalami kelumpuhan pernapasan kecuali bila dengan


konsentrasi tinggi mencapai daerah thorakal atau servikal.
Perrli juga dikaji bagaimana pernafasan klien, apa ada
sumbatan pada jalan nafas atau tidak. Apakah perlu dipasang
O2. Frekuensi nafas, irama nafas, suara nafas. Ada wheezing
dan ronchi atau tidak. Gerakan otot bantu nafas seperti
gerakan cuping hidung, gerakan dada dan perut. Adana
cyanosis atau tidak.
2) Sistem sirkulasi
Tekanan darah dapat meningkat atau menurun pasca
TURP. Lakukan cek Hb untuk mengetahui banyaknya
perdarahan dan observasi cairan (infus, irigasi, per oral)
untuk mengetahui masukan dan haluaran.
Yang dikaji: nadi (takikardi/bradikardi, irama), tekanan
darah, suhu tubuh, monitor jantung (EKG).
3) Sistem gastrointestinal
Anasthesi SAB menyebabkan klien pusing, mual dan
muntah. Kaji
Frekuensi defekasi, inkontinensia alvi, konstipasi / obstipasi,
bagaimana dengan bising usus, sudah flatus apa belum,
apakah ada mual dan muntah.
4) Sistem neurology
Pada

daerah

kaudal

akan

mengalami

kelumpuhan

(relaksasi otot) dan mati rasa karena pengaruh anasthesi


SAB. Hal yang dikaji: keadaan atau kesan umum, GCS,
adanya nyeri kepala.
5) Sistem muskuloskleletal

Traksi kateter direkatkan di bagian paha klien. Pada paha


yang direkatan kateter tidak boleh fleksi selama traksi
masih diperlukan.
Bagaimana aktifitas klien sehari hari setelah operasi.
Bagaimana memenuhi kebutuhannya. Apakah terpasang infus
dan dibagian mana dipasang serta keadaan disekitar daerah
yang terpasang infus. Keadaan ekstrimitas.
6) Sistem eliminasi
Setelah dilakukan tindakan TURP klien akan mengalami
hematuri . Retensi dapat terjadi bila kateter tersumbat
bekuan darah. Jika terjadi retensi urin, daerah supra
sinfiser akan terlihat menonjol, terasa ada ballotemen
jika dipalpasi dan klien terasa ingin kencing. Residual
urin

dapat

diperkirakan

kateter dilonggarkan

dengan

selama

cara

perkusi. Traksi

6 - 24

jam. Apa ada

ketidaknyamanan pada supra pubik,kandung kemih penuh.


Masih ada gangguan miksi seperti retensi. Kaji apakah ada
tanda tanda perdarahan, infeksi. Memakai kateter jenis apa.
Irigasi kandung kemih. Warna urine dan jumlah produksi
urine

tiap

hari.

Bagaimana

keadaan

sekitar

daerah

pemasangan kateter.
I. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK
1.Pemeriksaan fisik sistem perkemihan
a. Inspeksi buli-buli: ada/ tidaknya penonjolan perut di daerah
supra pubik ( buli-buli penuh / kosong )
b. Palpasi buli-buli: Tekanan didaerah supra pubik menimbulkan
rangsangan

ingin

kencing

bila

buli-buli

berisi

atau

penuh.Terasa massa yang kontraktil dan Ballottement.


c. Perkusi: Buli-buli yang penuh berisi urin memberi suara redup.
2. Colok dubur

Pemeriksaan colok dubur dapat memberi kesan keadaan tonus


sfingter anus, mukosa rektum, kelainan lain seperti benjolan di dalam
rektum dan prostat. Pada perabaan melalui colok dubur harus di
perhatikan konsistensi prostat (pada pembesaran prostat jinak
konsistensinya kenyal), adakah asimetris adakah nodul pada prostat ,
apa batas atas dapat diraba .
Dengan colok dubur besarnya
prostat dibedakan:
Grade

1:

beratnya

Perkiraan

sampai

20

gram.
Grade
beratnya

2:

Perkiraan

antara

20-40

gram.
Grade 3: Perkiraan beratnya
lebih dari 40 gram.
Gambar pemeriksaan colok dubur/rectal touch
3. Kateterisasi
Mengukur rest urine yaitu mengukur jumlah sisa urine setelah miksi
sepontan dengan cara kateterisasi. Sisa urine lebih dari 100 cc biasanya
dianggap sebagai batas indikasi untuk melakukan intervensi pada hiper
tropi prostat.
4. Laboratorium
-

Darah lengkap sebagai data dasar keadaan umum penderita .

Gula darah dimaksudkan untuk mencari kemungkinan adanya


penyakit diabetus militus yang dapat menimbulkan kelainan
persarafan pada buli-buli (buli-buli nerogen).

Faal ginjal (BUN, kreatinin serum) diperiksa untuk mengetahui


kemungkinan adanya penyulit yang mengenai saluran kemih
bagian atas.

Analisis urine diperiksa untuk melihat adanya sel leukosit, bakteri,


dan infeksi atau inflamasi pada saluran kemih.

Pemeriksaan kultur urine berguna dalam mencari jenis kuman yang


menyebadkan infeksi dan sekligus menentukan sensitifitas kuman
terhadap beberapa anti mikroba yang diujikan.

5. Flowmetri
Flowmetri adalah alat kusus untuk mengukur pancaran urin
dengan satuan ml/detik. Penderita dengan sindroma protalisme perlu di
periksa dengan flowmetri sebelum dan sesudah terapi.
Penilaian :
Fmak <10ml/detik --------obstruktif
Fmak 10-15 ml/detik-----borderline
Fmak >15 ml/detik-------nonobstruktif
6. Radiologi
-

Foto polos abdomen, dapat dilihat adanya batu pada traktus


urinarius, pembesaran ginjal atau buli-buli, adanya batu atau
kalkulosa prostat dan kadang kadang dapat menunjukkan bayangan
buli-buli yang penuh terisi urine, yang merupakan tanda dari suatu
retensi urine.

Pielografi intra vena, dapat dilihat supresi komplit dari fungsi


renal, hidronefrosis, dan hidroureter, fish hook appearance
( gambaran ureter berkelok kelok di vesikula ) inclentasi pada
dasar buli-buli, divertikel, residu urine atau filling defect
divesikula.

Ultrasonografi (USG), dapat dilakukan secara transabdominal


atau trasrektal (trasrektal ultrasonografi = TRUS) Selain untuk
mengetahui pembesaran prostat < pemeriksaan USG dapatpula
menentukan volume buli-buli, meng ukur sisa urine dan keadaan
patologi lain seperti divertikel, tumor dan batu .Dengan TRUS

dapat diukur besar prostat untuk menentukan jenis terapi yang


tepat. Perkiraan besar prostat dapat pula dilakukan dengan USG
suprapubik.
-

Cystoscopy (sistoskopi), pemeriksaan dengan alat yang disebut


dengan cystoscop. Pemeriksaan ini untuk memberi gambaran
kemungkinan tumor dalam kandung kemih atau sumber perdarahan
dari atas bila darah datang dari muara ureter, atau batu radiolusen
didalam vesika. Selain itu dapat juga memberi keterangan
mengenahi besarprostat dengan mengukur panjang uretra pars
prostatika dan melihat penonjalan prostat kedalam uretra.

J. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Pre Operasi :
1). Obstruksi akut / kronis berhubungan dengan obstruksi mekanik,
pembesaran prostat,dekompensasi otot destrusor dan ketidakmapuan
kandung kemih unmtuk berkontraksi secara adekuat.
2). Nyeri ( akut ) berhubungan dengan agens cedera biologis.
3). Ansietas berhubungan dengan perubahan status kesehatan.
4). Kurang pengetahuan tentang kondisi,prognosis dan kebutuhan
pengobatan berhubungan dengan kurangnya informasi
5). Resiko tinggi kekurangan cairan berhubungan dengan pasca obstruksi
diuresis.
Post Operasi :
1)

Nyeri (akut) berhubungan dengan agens


cedera fisik: pembedahan.

2)

Kurang

pengetahuan:

tentang

TUR-P

berhubungan dengan kurang informasi


3)

Gangguan pola tidur berhubungan dengan


nyeri sebagai efek pembedahan

4)

Resiko tinggi infeksi berhubungan dengan

prosedur invasif: alat selama pembedahan, kateter, irigasi kandung


kemih sering.
5)

Resiko

tinggi

cidera:

perdarahan

berhubungan dengan tindakan pembedahan


6)

Resiko tinggi disfungsi seksual berhubungan


dengan ketakutan akan impoten akibat dari TUR-P.

K. INTERVENSI KEPERAWATAN
1. Memberikan penjelasan kepada pasien untuk bersikap tenang.
2. Membantu dengan pengenalan kateter
- Memonitor intake dan output.
- Memantau patensi kateter
3. Memberi obat sebagaimana dosis dari efek samping
4. Menilai dan mengajarkan pasien untuk melaporkan tanda-tanda
hematuria dan infeksi.
5. Jelaskan komplikasi yang mungkin BPH dan untuk melaporkan hal
ini sekaligus.
6. Anjurkan pasien untuk menghindari obat-obatan yang
mengganggu berkemih seperti obat OTC yang mengandung
simpatomimetik seperti fenilpropanolamin dingin
7. Mendorong untuk selalu check up.

L. KEPUSTAKAAN
Baughman, Diane C. 2000. Keperawatan medikal bedah: Buku Saku
untuk Brunner dan Suddarth. Jakarta: EGC.
Guyton, Arthur C. 2007. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran. Ed 11.
Jakarta: EGC.
Grace, Pierce A. 2007. At a Glance Ilmu Bedah. Jakarta: Penerbit
Erlangga.

Herdman, T. Heather. 2012. Diagnosis Keperawatan: Definisi dan


Klasifikasi 2012-2014. Jakarta: EGC.
Price, Sylvia Anderson. 2005. Patofisiologi: konsep klinis prosesproses penyakit. Ed 6. Vol 2. Jakarta: EGC
Smeltzer, Suzanne C. 2002. Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah
Brunner & Suddarth. Ed 8. Vol 3. Jakarta: ECG
Schwartz, Seymour I. 2000. Intisari Prinsip-Prinsip Ilmu Bedah.
Jakarta: EGC
Wilkinson, Judith M. 2011. Buku Saku Diagnosis Keperawatan:
Diagnosis NANDA, Intervensi NIC, Kriteria Hasil NOC. Ed 9.
Jakarta: EGC.

PATHWAY

Peningkatan Sel Sterm


Berkurangnya sel yang mati

Peningkatan 5 Alfa reduktase

Proses Menua

Interaksi Sel Epitel dan Stroma

dan reseptor endogen

Ketidakseimbangan hormon
(

Estrogen dan testoteron

Hiperplasia pada epitel dan stroma pada kelenjar


prostat

Penyempitan Lumen Ureter Protatika

Menghambat Aliran Urina

Retensi Urina

Hidro Ureter

Peningkata tekanan intra vesikal

Hiperirritable pada bladder

Hidronefritis

Peningkatan Kontraksi Otot detrusor dari buli-buli

Penurunanan

Hipertropi Otot detrusor,trabekulasi

Fungsi ginjal
Terbentuknya Sekula-sekula dan difertikel buli-buli

Frekuensi

Intermiten

Disuria

Urgensi

Hesistensi

Terminal dribling

RENCANA ASUHAN KEPERAWATAN KLIEN BPH


NO.
1.

DIAGNOSA KEPERAWATAN

2.

TUJUAN

Perubahan pola eliminasi urin ;


sehubungan dengan :

Tujuan : Jumlah urine normal dan


tanpa retensi.

Mekanisme obstruksi : bekuan


darah, edem, truma, prosedur
pem-bedahan.
Tekanan dan iritasi kateter / balon
Kehilangan tonus kandung kemih
aki
bat
over
distersi
pada
preoperasi atau dekom-presi terusmenerus.
ditandai dengan :
Sering
kencing,
dys
inkontinensia, retensi urin.
Blas penuh, supra-pubis
nyaman.

2
3

Klien mampu mengosongkan


kandung kencing setiap 2 - 4
jam.
Klien
mampu
me-lakukan
perineal exercise.
Klien B.a.k 1500 cc / 24 jam.

tidak

Perdarahan
pada
area
pembedahan
Pembatasan intake preoperasi.
ditandai dengan :
Post TUR Prostat hari ke II

uria,

Resiko tinggi untuk kekurangan


volume cairan : sehubungan dengan :

Kriteria :

RENCANA TINDAKAN

Tujuan : Kebutuhan cairan klien


terpenuhi.

Kriteria : Jumlah cairan yang masuk


dan keluar seimbang

Kaji pengeluaran urine dan sistem drainage


atau kateter terutama selama blader irigasi.
Kaji kemampuan klien untuk mengosongkan
kandung kemih contoh, berapa kali klien ke
kamar mandi untuk buang air kecil.
Catat waktu, jumlah, ukur an, urine setelah
kateter diangkat.
Anjurkan
klien
untuk
mengo-songkan
kandung kemih setiap 2 - 4 jam.
Anjurkan klien banyak minum 2500 - 3000 cc
per hari jika tidak ada kontra indikasi. Kurangi
minum pada malam hari setelah keteter
dilepaskan.
Anjurkan klien untuk perineal exercise,
contoh
dengan
mengerutkan
bokong,
menahan urine, baru mengalirkan urine.

Catat cairan yang masuk dan keluar tiap 8


jam dan total dalam 24 jam.
Kaji mukosa mulut dan kekenyalan kulit.
Observasi tanda vital tiap 4 jam atau sesuai
kebutuhan.
Berikan cairan peroral atau infus sesuai
program medik ( 2500 - 3000 cc / 24 jam ).

Masih terpasang kateter dan irigasi


drip NaCl 0,9 %
Resiko tinggi untuk infeksi :
sehubungan dengan :

3.

Prosedur
invasif,
instrumentasi
sela-ma operasi, kateter, seringnya
irigasi kandung kemih.
Jaringan traumatik, insisi bedah.
Refluk urine ke dalam kandung
kemih.
Terbukanya sistem drainage urine.
ditandai dengan :

Tujuan : klien terhindar dari re-siko


infeksi salur an kemih.
Kriteria :

Tanda vital dalam keadaan


normal.
Urine bersih dan jernih.
Tidak terasa nyeri.

Dan klem kateter bila akan memindahkan klien.

Post TUR Prostat hari ke II


Masih terpasang kateter dengan
irigasi drip NaCl 0,9 %.

4.

Nyeri akut : sehubungan dengan :

Memasang dan melepaskan kateter dengan


cara aseptik dan antiseptik.
Rawat kateter dengan tehnik aseptik dan
antiseptik.
Cegah
terjadinya
refluks
urine
yaitu
kembalinya urine ke kandung kemih.
Dengan cara : menggantung urine bag lebih
rendah dari kandung kemih.

Tujuan : nyeri berkurang setelah

Gunakan
tehnik
aseptik
pada
saat
mengosongkan urine bag.
Ganti kateter setiap 7 - 10 hari dengan tehnik
aseptik .
Irigasi kateter dilakukan dengan tehnik
aseptik dan antiseptik
Anjurkan klien banyak minum 2500 cc - 3000
cc / hari bila tidak ada kontra
indikasi

Mengukur / mengamati tanda kardinal klien


setiap 4 jam atau sesuai
kebutuhan.

Kolaborasi
dengan
Tim
medis
untuk
penberian antibiotik atau pemeriksaan
diagnostik

Kaji intensitas nyeri dengan skala 1- 10.

Iritasi mukosa kandung kemih.


Spasme otot sehubungan dengan
prosedur operasi atau penekanan
dari balon (traksi)
ditandai dengan :
Dilaporkannya adanya nyeri pada
pangkal alat kelamin dari perut
bagian bawah.
Wajah meringis kesakitan.
Respon autonomik

dilakukan tindakan keperawatan.

Kriteria :
Klien dapat mengontrol nyeri
dengan
menggunakan
skala
nyeri 1 - 10
Klien tampak rileks.
Klien dapat beristirahat dengan
tenang

5.

Resiko tinggi untuk disfungsi seksual:


sehubungan dengan :

Tujuan : klien dapat menerima dan


beradaptasi terhadap keadaannya.
Kriteria :

Situasi krisis (inkontinensia, kondisi


area genital)
Perubahan status kesehatan.
ditandai dengan :

Klien tampak rileks.


Klien
menyatakan
berkurang.

cemas

Fiksasi kateter dengan cara yang tepat agar


tetap stabi sehingga tidak menimbulkan
gesekan baru pada mukosa urethra.
Fiksasi selang urine pada alat tenun
disamping klien dengan menggunakan peniti
atau klem yang telah tersedia pada set urine
bag.
Gunakan kateter menetap dengan nomor
atau ukuran yang sesuai agar tidak
menimbulkan iritasi pada urethra.
Anjurkan pada klien untuk tehnik relaksasi
dengan cara menarik napas panjang dan
menghembuskannya.
Hindari gerakan atau tarikan mendadak pada
selang kateter untuk menghindari trauma
baru pada urethra.
Kempiskan balon kateter sampai habis
sebelum melepaskan kateter dan keluarkan
kateter secara perlahan.
Kolaborasi pemberian analgetik dengan
medik bila diperlukan.
Diskusikan bersama klien tentang anatomi
dan fisiologi fungsi seksual secara singkat.
Jelaskan pada klien tentang tujuan dan
manfaat pemakaian kateter yang menetap.
Anjurkan klien untuk berdialog dengan
sesama klien yang menggunakan kateter.
Berikan kesempatan pada klien untuk saling
mengungkapkan
perasaan
dengan
pasangannya.

Pola berkemih saat ini lewat


kateter.
Post TUR Prostat hari ke II
(kemungkinan ada kerusakan N>
Pudendus)

Ciptakan suasana humor pada saat merawat


klien. Bila perlu konsulkan pada psikolog atau
seksolog.

Anda mungkin juga menyukai