Anda di halaman 1dari 3

ETIKA DALAM PENELITIAN

I.

PENDAHULUAN
Adanya etika dalam penelitian bertujuan untuk memberikan batasan tentang apa yang boleh dan tidak
boleh dilakukan. Dikarenakan dalam sebuah penelitian profesional harus mempertimbangkan hubungan
antara etika dan hukum formal dan prinsip-prinsip etika dalam penelitian.
Berikut akan dibahas mengenai berbagai dilema yang dialami oleh peneliti.

II. JENIS-JENIS KONFLIK


A. Konflik Kepentingan Dalam Kepentingan
Dalam Konflik Kepentingan Dalam Kepentingan secara garis besar dibagi menjadi 4 yaitu
Kepentingan pengembangan sains, Kepentingan pribadi peneliti, Hak-hak dari partisipan yang diteliti,
konflik kepentingan masyarakat. Konflik-konflik tersebut muncul dikarenakan pengelolaannya tidak
diatur secara khusus oleh hukum formal sebuah negara. Berikut penjelasan masing-masing konflik
yang terjadi :
Konflik kepentingan pengembangan sains muncul ketika terjadi sebuah perbedaan pandangan
dimana disatu sisi sains dianggap membawa peradaban manusia kearah yang lebih baik sehingga
harus diabadikan. Namun disisi lain sain dianggap membawa peradaban manusia kearah yang lebih
buruk misalkan terciptanya senjata pemusnah masal, rekayasa genetika pada manusia, teknologi
komunikasi yang mengalienasi manusia terhadap manusia yang lain. Maka dari itu dalam penelitian
baik akademisi maupun praktisi bisnis dengan penuh rasa tanggung jawab perlu senantiasa mengkaji
dengan hati nurani kearah mana sain dan pengembangan bisnin akan dilakukan. Hal tersebut
dikarenakan untuk menciptakan masyarakat kearah yang lebih baik merupakan tanggung jawab
seluruh lapisan masyarakat sesuai dengan porsinya masing-masing.
Konflik kepentingan pribadi peneliti hal ini seringkali terjadi dikarenakan adanya jenjang karir,
konpensasi finansial, tuntutan pemberi kerja, pengakuan masyarakat, dan semua hal yang
menyangkut tentang ego seorang peneliti sehingga terkadang peneliti menghalalkan segala cara untuk
mendapatkan hasil instan. Hal tersebut dapat dicegah dengan penggunaan hati nurani dalam memilah
dan memilih putusan yang akan diambilnya. Yang kedua adalah norma-norma yang berlaku dalam
sebuah akademik yang berfungsi menjaga moral dari anggota masyarakat dengan sanksi sosial
maupun legal. Yang ketiga adalah semakin tinggi integritas seorang peneliti maka akan semakin kecil
kemungkinan bahwa peneliti tersebut akan melakukan tindakan yang tidak etis.
Konflik Hak-hak dari partisipan yang diteliti muncul dikarenakan pelaku/partisipan memiliki hakhak yang harus dilindungi/dihargai. Biasanya mereka menjadi objek penelitian baik secara
langsung/tidak langsung sehingga mereka harus memberikan informasi tentang apapun yang
berkenaan dengan yang mereka ketahui dan miliki dalam kehidupan mereka. Hak-hak mereka tidak
boleh dikorbankan mengatasnamakan sains. Sebagai contoh adalah penggunaa manusia sebagai
kelinci percobaan di jerman pada masa perang dunia II dimana manusia diuji daya tahan hidupnya
dengan ditempatkan dalam air membeku, dibiarkan kelaparan, dll. Kasus di amerika yaitu Tuskegee

Syphilis Experiment (Bad Blood) dimana 400 partisipan dibiarkan meninggal tanpa pengobatan untuk
mengamati kerusakan tubuh yang terjadi pada tahap lanjut penyakit sipilis. Studi tentang efek radiasi
nuklir ( 1940-1970 ), experimen cuci otak oleh CIA ( 1950-1970 ). Melalui banyak kejadian tersebut
seharusnya hak-hak partisipan harus menjadi batas toleransi dalam sebuah penelitian. Maka dari itu
dalam dasawara terakhir ini hak-hak partisipan telah diperluas bukan hanya menyangkut manusia
melainkan juga non-manusia yang diuji dengan social & environmental cost.
Konflik kepentingan masyarakat muncul dikarenakan masyarakat berkepentingan dengan manfaat
dari penelitian tersebut guna menuju peradaban yang lebih baik, maka dari itu masyarakat berhak
mendapat informasi yang jujur tetap proporsional dan tidak menyesatkan. Misal adanya pengambilan
kebijakan publik maka masyarakat harus tau diskusi-diskusi publik yang muncul sehingga
masyarakat dapat memantau hingga akhirnya putusan yang diambil benar-benar dapat
dipertanggungjawabkan demi kepentingan masyarakat dan hal tersebut bisa disebut DISEMINASI
HASIL PENELITIAN ( penyebaran hasil penelitian ). Disisi lain informasi harus proposional dimana
informasi harus disharing sesuai dengan porsi masyarakat yang harus menerimannya sehingga dapat
menghindari penyesatan opini publik. Konflik kepentingan masyarakat muncul juga dikarenakan
adanya

PERTANGGUNGJAWABAN

DANA yang

harus

disajikan

berupa

akuntanbilitas

administratif (penggunaan dana) yang mana memerlukan tata tertib administrasi untuk melindungi
dana dan mengatur dana agar sesuai dengan tujuan penelitian. Pertanggungjawaban juga berupa
akuntanbilitas kualitas ( integritas penelitian dalam melaksanakan penelitiannya ) dimana peneliti
dinilai dari sejauh mana peneliti tersebut memiliki & menggunakan intelektualitasnya, keahliannya,
dan kejujurannya dalam semua tahap penelitian sehingga dapat diselesaikan dengan sebaik-baiknya
untuk basic research atau applied research.
B. Etika dan Hukum Formal
Batasan etika tidak selalu sama dengan batasan hukum formal, sanksi yang diberikan ketika terjadi
pelanggaran etika pada umumnya berupa sanksi moral/sanksi ringan. Namun sanksi yang diberikan
ketika terjadi pelanggaran hukum formal adalah bersifat mengikat dan diatur dalam undang-undang.
Dalam etika penelitian haruslah dihasilkan suatu keseimbangan kepentingan antara sain dan
kepentingan lingkungan.berikut beberapa contoh tindakan tidak etis yang terjadi : 1. Mengutip
pernyataan orang lain tanpa pengakuan yang layak, 2. Menciptakan data sendiri, 3. Menggunakan
data diluar pengetahuan pelaku, dll. Ada beberapa hal yang harus diperhatikan oleh seorang peneliti:
1. Plagiarisme adalah mengutip ide orang lain (dosen, mahasiswa,peneliti lain , dsb) tanpa
mengakui sumbernya,dan ditampilkan seolah-olah hasil penulisan sendiri.
2. Kejujuran dalam penelitian : manipulasi penelitian meliputi pemalsuan data yang tidak sesuai
dengan fakta dengan tujuan memaksakan hasil tertentu akan dapat menimbulkan penyesatan.
3. Perlindungan terhadap identitas pribadi dari pelaku obyek penelitian. Identitas pelaku pada
obyek yang diteliti perlu dirahasiakan agar dapat menjaga status sosial pelaku maupun obyek
dan agar dapat menjaga rasa saling percaya. Akan tetapi perlindungan pada pelaku obyek
adalah prioritas utama.

4. Akses ke obyek penelitian. Ada dua akses obyek yaitu properti pribadi dan properti publik.
Obyek properti pribadi diperlukan ijin dari pemilik untuk menghormati dan menghindari
tuntutan hukum. Jika properti publik tidak diperlukun ijin kecuali ada UU yg mengatur. Ada
dua jenis penelitian yaitu covert dan overt. Covert adalah merahasiakan status dan aktivitas
peneliti terhadap obyek. Sedangkan overt adalah penelitian dengan sepengetahuan obyek.
Pelaksanaan covert terhadap kedua akses adalah tidak etis.
5. Independensi peneliti harus dipegang teguh guna mempertnggungjawabkan profesionalitasnya
dan tidak boleh mengorbankan kebenaran guna memenuhi kepentingan pihak-pihak tertentu
saja.
6. Pelecehan terhadap objek penelitian peneliti harus dapat menghindari pelecehan dalam bentuk
apapun baik disengaja maupun tidak disengaja terhadap pelaku dari objek yang diteliti.
7. Informasi yang dimiliki pelaku objek penelitian tentang konsekuensi penelitian yang
dilakukan, hal tersebut perlu diberitahukan kepada objek dan harus secara tertulis, agar objek
mengetahui dengan benar dan dapat menyatakan setuju/tidak untuk menjadi objek penelitian.
C. Konklusi
Merupakan suatu simpulan ( pendapat ) dimana dalam sebuah penelitian harus memperhatikan
keseimbangan semua aspek baik aspek pribadi, sponsor, masyarakat, sain, dll. Agar nantinya tidak
merugikan peneliti baik balam jangka pendek maupun panjang. Etika penelitian tidak dapat direduksi
maka dari itu peneliti harus proaktif untuk mencari masukan dari berbagai sumber guna memastikan
agar penelitiannya tidak menimbulkan masalah etika dikemudian hari.