Anda di halaman 1dari 5

Nama : Tiara Rahmah Dini Hanjari

NPM :1406650046

Penatalaksanaan Medis dan Keperawatan Khususnya terkait dengan Overload, serta


Komplikasi terkait Klien dengan Gangguan CHF

A. Penatalaksanaan
Tahap Keluasan Penyakit

Disfungsi

Kelas

Hasil yang diharapkan dan Penatalaksanaan

NYHA

Tujuan

I/II

Kepentingan
Mengembalikan

miokardium
Asimtomatik
dengan
2

gagal

sampai

sedang

Gagal

Urutan

mencegah remodeling
Mencegah gagal jantung

jantung ringan
Gagal
jantung II/III
ringan

dalam

jantung III/IV

lanjut

atau Inhibitor
atau ARB
Penyekat

ACE
beta

adrenergik
Mengembalikan

atau Inhibitor

ACE

mencegah remodeling
atau ARB, atau
Memperbaiki keluhan dan
penyekat
beta
kapasitas fungsional
adrenergik
Mengurangi disabilitas dan
Diuretik,
rawat inap
digoksin
Mengurangi kematian
Mengurangi kematian
Inhibitor ACE,
Mengurangi disabilitas dan
spironolakton,
rawat inap
penyekat
beta
Memperbaiki keluhan dan
adrenergik
kapasitas fungsional
Agen inotropik
positif, termasuk

Gagal jantung berat III/IV

digoksin
Mengurangi disabilitas dan Diuretik,

dengan

rawat inap

inhibitor ACE

dekompensasi yang

Memperbaiki keluhan dan Agen

sering

kapasitas fungsional
Mengurangi kematian

akan

bertahan lama

positif,

inotropik
selama

periode
dekompensasi
Penyekat
beta

adrenergik
Tabel 1 Tahap Gagal Jantung dan Penatalaksanaannya (Black dan Hawks, 2014)
Manajemen Hasil

pada Gagal Jantung Kronis biasanya mengikuti panduan

berdasarkan tingkat keparahan. Instruksi spersifik sebaiknya meliputi berikut ini (Black
dan Hawks, 2014):
1. Kepatuhan pada pembatasan diet. Natrium dalam diet sebaiknya dibatasi sampai 4
g/hari pada awalnya sampai cairan dan penambahan berat badan terkendali.
Pembatasan cairan juga dibutuhkan. Klien sebaiknya ditunjukkan cara menimbang
diri sendiri setiap hari dan cara menyesuaikan asupan natrium dan cairan jika berat
badannya mengalami kenaikan dari hari ke hari.
2. Monitor tekanan darah. Klien dan anggota keluarganya diajari cara mengukur tekanan
darah setiap hari, terutama jika klien memiliki gagal jantung diastolik.
3. Modifikasi aktivitas. Selama beberapa tahap gagal jantung, klien sebaiknya tetap
beristirahat di tempat tidur dengan posisi kepala terangkat dan stoking elastis atau
manset ketat untuk mengurangi edema. Jika klien dapat bernafas dengan nyaman
selama aktivitas, aktivitas harus ditingkatkan secara bertahap untuk membantu
meningkatkan kekuatan.
4. Patuh terhadap medikasi. Obat yang banyak akan membutuhkan suatu sistem untuk
mencegah dosis yang hilang atau terulang. Yakinkan bahwa klien mengetahui cara
memonitor efek samping. Banyak yang menemukan bahwa meminum diuretik pada
pagi hari sehingga berkemih banyak pada siang hari. Meminum diuretik pada sore
atau malam hari sering menggangu tidur karena rasa ingin berkemih yang
berlangsung dalam beberapa jam.
Menurut (Mansjoer dkk, 2008) penatalaksanaan pada klien gagal jantung yaitu:
1. Meningkatkan oksigenasi dengan cara pemberian oksigen dan menurunkan konsumsi
Oksigen melalui istirahat/pembatasan aktivitas.
2. Memperbaiki kontraktilitas otot jantung.

a. Mengatasi keadaan yang reversibel, termasuk tirotoksikosis, miksederma, dan


aritmia.
b. Digitalisasi dengan digoksin
Digoksin sering digunakan untuk klien dengan gagal jantung kronis.
Digoksin sendiri adalah inotropik positif, sering disebut klien sebagai obat yang
memperlambat dan menguatkan denyut jantung. Perbaikan curah jantung akan
meningkatkan perfusi ginjal yang akan menyebabkan diuresis ringan air dan
natrium. Digoksin tampaknya tidak memiliki efek pada mortalitas jangka panjang
pada klien dengan gagal jantung. Terapi digoksin juga dapat diawali untuk
mengontrol respons ventrikel pada fibrilasi atrium, kondisi aritmia yang paling
sering pada gagal jantung. (Black dan Hawks, 2014)
Digoksin memiliki indeks terapeutik yang sangat sempit dan toksisitas
terjadi pada satu dari lima klien. Klien yang berisiko mengalami toksisitas
digoksin adalah klien berusia lanjut, klien dengan penyakit jantung tahap lanjut,
disritmia berat, penggunaan bersama quindin, verapamil, dan amiodaron. Dosis
digoksin membutuhkan pengurangan jika klien mendapatkan terapi ini. Toksisitas
digoksin lebih sering terjadi jika konsentrasi serum mencapai 2 mcg/ml atau lebih,
kadar kalium serum kurang dari 3 mEq/ml atau kadar magnesium rendah.
Toksisitas digoksin dapat merupakan kondisi yang mengancam jiwa dan
dideskripsikan pada pemantauan kritis. (Black dan Hawks, 2014)
3. Menurunkan beban jantung
a. Menurunkan beban awal dengan diet rendah garam, diuretik, dan vasodilator
(Mansjoer dkk, 2008).
Diet rendah garam
Pada gagal jantung dengan NYHA kela IV, penggunaan diuretik, digoksin,dan
penghambat angiotensin converting enzyme (ACE) diperlukan meningat usia
harapan hidup yang pendek. Untuk gagal jantung kelas II dan III diberikan:
- Diuretik dalam dosis rendah atau menengah (furosemid 40-80mg)
- Digoksin pada pasien dengan fibrilasi atrium maupun kelainan irama
-

sinus
Penghambat ACE (kaptopril mulai dari dosis 2 x 6,25 mg atau setara
penghambat ACE yang lain, dosis ditingkatkan secara bertahap dengan
memperhatikan tekanan darah pasien); isosorbid dinitrat (ISDN) pada
pasien dengan kemampuan aktivitas yang terganggu atau adanya iskemia

yang menetap, dosis dimulai 3 x 10-15 mg. Semua obat ini harus dititrasi

secara bertahap.
Diuretik
Yang digunakan furosemid 40 80 mg. Dosis penunjang rata rata 20
mg. Efek samping berupa hipokalemia dapat diatasi dengan suplai garam
kalium atau diganti dengan spironolakton. Diuretik lain yang dapat digunakan
antara lain hidroklorotiazid, klortalidon, triamteren, amilorid, dan asam
etakrinat.
Dampak diuretik yang mengurangi beban awal tidak mengurangi curah
jantung atau kelangsungan hidup, tapi merupakan pengobatan garis pertama
karena mengurangi gejalan dan perawatan di rumah sakit. Penggunaan
penghambat ACE bersama diuretik hemat kalium maupun suplemen kalium

harus berhati hati karena memungkinkan timbulnya hiperkalemia.


Vasodilator
- Nitroglierin 0,4 - 0,6 mg sublingual atau 0,2-2 ug/kg BB/menit iv
- Nitroprusid 0,5 1 ug/kg BB/menit iv
- Prazosin per oral 2-5 mg
- Penghambat ACE : kaptopril 2 x 6,25 mg
Dosis ISDN adalah 10 40 mg peroral atau 5 15 mg sublingual setiap 4 6
jam. Pemberian nitrogliserin secara intravena pada keadaaan akut harus
dimonitor ketat dan dilakukan di ICCU.
Kaptopril sebaiknya dimulai dari dosis kecil 6,25 mg. Untuk dosis awal ini
perlu diperhatikan efek samping hipotensi yang harus dimonitor dalam 2 jam
pertama setelah pemberian. Jika secara klinis tidak ada tanda tanda
hipotensi maka dosis dapat ditingkatkan secara bertahap sampai 3 x 25-100
mg. Kaptopril dapat menimbulkan hipoglikemia dan gangguan fungsi ginjal.
Dosis awal enalapril 2 x 2,25 mg dapat dinaikan perlahan lahan sampai 2 x
10 mg.

b. Menurunkan beban akhir dengan dilator arteriol. (Mansjoer dkk, 2008)

B. Komplikasi

Menurut (Davey, 2006) komplikasi pada gagal jantung antara lain adalah :
1. Tromboemboli : resiko terjadinya bekuan vena berupa trombosis vena dalam atau
DVT(deep venous thrombosis) dan emboli paru

serta emboli sistemik tinggi,

terutama pada CHF berat. Diturunkan dengan pemberian warfarin.


2. Fibrilasi atrium : sering terjadi dan dapat menyebabkan perburukan dramatis. Hal
tersebut merupakan indikasi pemantauan denyut jantung (dengan pemberian
digoksin/bloker ) dan pemberian walfarin.
3. Kegagalan pompa progresif : bisa terjadi karena penggunaan diuretik dengan dosis
yang ditinggikan. Transplantasi jantung merupakan pilihan pada pasien tertentu.
4. Aritmia ventrikel : sering dijumpai, bisa menyebabkan sinkop atau kematian jantung
mendadak (25 50 % kematian pada CHF). Pada pasien yang berhasil diresusitasi,
amiodaron, bloker , dan defibrilator yang ditanam mungkin ikut mempunyai
peranan.

Daftar Pustaka

Black J. M dan Hawks J. H (2014) Keperawatan Medikal Bedah : Manajemen untuk Hasil yang
Diharapkan Ed. 8 (Joko Mulyanto et al.:Penerjemah). Jakarta : Salemba Medika.
Davey P. (2006) At a Glance Medicine(Rahmalia A. dan Novianty C. : Penerjemah). Jakarta :
Erlangga.
Mansjoer A., dkk (2008) Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta : Media Aesculapius.