Anda di halaman 1dari 3

Pada praktikum kali ini, dilakukan analisis kandungan ekstrak daun

alpukat dengan menggunakan metode HPLC (High Performance Liquid


Chromatography). Metode ini digunakan untuk mengetahui kadar kuarsetin
dalam daun alpukat dengan membandingkan kurva yang diperoleh dengan
kurva standar kuarsetin. Prinsip kerja dari HPLC sendiri sama dengan prinsip
kerja kromatografi lainnya, yaitu memisahkan suatu senyawa dari suatu
campuran.
Prinsip dari HPLC yaitu didasarkan pada perbedaan kecepatan migrasi
solute yang dipengaruhi oleh perbedaan afinitas solute terhadap fase gerak
dan fase diam HPLC memiliki dua fase, yaitu fasa gerak dan fasa diam. Fasa
gerak yang digunakan kali ini, yaitu methanol. Methanol mempunyai
kepolaran yang tinggi sehingga diharapkan mampu menarik senyawa yang
terkandung dalam ekstrak daun alpukat. Fasa diam yang digunakan adalah
berupa kolom, yang di dalamnya berisi silika yang terlah dibuat menjadi
bersifat non polar melalui pelekatan rantai-rantai hidrokarbon panjang pada
permukaannya secara sederhana, baik berupa atom karbon 8 atau 18.
Karena silika yang digunakan bersifat non polar sehingga senyawa yang
terelusi lebih dahulu, yaitu senyawa yang polar. Sedangkan, senyawa yang
non polar akan keluar lebih lama melalui kolom karena berinteraksi dahulu
dengan silika. Adanya gaya tarik-menarik dengan gugus hidrokarbon pada
silika ini dikarenakan adanya gaya van der waals.
Larutan standar kuarsetin mempunyai konsentrasi 1000 ppm yang
digunakan sebagai pembanding sampel. Volume yang diinjeksi adalah 20
mikro liter dan waktu yang diperlukan untuk mengidentifikasi kuarsetin, yaitu
15 menit. Dari pola kromatogram yang dihasilkan, kuarsetin standar
menimbulkan peak (puncak) pada no. 12 dengan waktu retensi 7,63 menit
dan area di bawah kurva 392,067 mAU*menit. Untuk mengetahui apakah
sampel yang akan di analisis mengandung kuarsetin atau tidak, data yang
dihasilkan harus sesuai dengan data larutan standar diatas.

Sebelum pengukuran, dilakukan penyiapan larutan sampel terlebih


dahulu. Pada tahap awal, dilakukan dengan melarutkan 25 mg ekstrak
alpukat dengan 10 ml methanol dalam labu ukur 10 ml, sehingga didapatkan
larutan sampel dengan konsentrasi 250 ppm. Setelah itu, larutan sampel
dimasukkan ke dalam vial khusus untuk dideteksi oleh HPLC, hingga 1,5 ml.
Sebelum dimasukkan ke dalam vial, larutan sampel disaring terlebih dahulu
dengan penyaring membrane berukuran 20 mikro m. Penyaringan dilakukan
untuk menyaring partikel-partikel yang bersifat pengotor, bahkan yang
berukuran mikro dari pelarut. Karena dengan adanya pengotor, akan
menyebabkan gangguan pada sistem kromatografi.
Injeksi larutan sampel ke dalam HPLC, dilakukan secara otomatis oleh
instrumen HPLC. Proses HPLC untuk mengidentifikasi senyawa kuarsetin
pada sampel memerlukan waktu 20 menit setiap sampel. Dari hasil analisis,
didapatkan data not available pada waktu retensi, area dibawah kurva
(AUC), tinggi, jumlah, tipe, dan plates, jika dibandingkan dengan larutan
standar kuarsetin. Data ini menunjukkan bahwa ekstrak yang di analisis,
dalam hal ini ekstrak daun alpukat, tidak mengandung kadar kuarsetin. Hal
ini juga dapat terlihat dari data kromatogram yang dihasilkan sampel, tidak
ada waktu retensi dan area dibawah kurva (AUC) yang mendekati waktu
retensi dan AUC dari larutan standar. Bahkan nilai AUC yang dihasilkan
memiliki nilai jauh dibawah nilai AUC standar, yaitu 3,006 dibandingkan
392,607.
Hal ini bertentangan dengan literatur, yang menyatakan bahwa daun
alpukat memiliki kandungan kimia kuarsetin. Ketidaksesuaian percobaan
dengan literatur dapat disebabkan oleh berbagai faktor. Faktor utama pada
percobaan kali ini adalah kesalahan praktikan dalam proses menghasilkan
sampel ekstrak daun alpukat serta perlakuan pada sampel. Saat
mendapatkan ektrak kental, ada proses pemanasan ekstrak yang masih
belum kental di atas gelas beker berisi air yang dipanaskan diatas hot plate.
Proses tersebut dilakukan dalam lemari asam dan proses tersebut

menyebabkan ekstrak semakin kental karena pelarut teruapkan. Akan tetepi,


terdapat kekeliruan saat pengaturan suhu pemanasan, dimana praktikan
mengatur suhu lebih tinggi dari 80oC. Walaupun pemanasan tersebut tidak
terlalu lama, proses tersebut dapat mengakibatkan kandungan dalam
ekstrak rusak atau kadarnya berkurang. Tidak terdeteksi nya kuarsetin
dalam sampel, dapat berarti bahwa kadar kuarsetin dalam sampel terlalu
kecil untuk dapat terdeteksi, akibat perlakuan-perlakuan sebelumnya
terhadap sampel, sehingga data yang keluar adalah n.a (not available).
Faktor lain adalah karena kadar kuarsetin dalam ekstrak daun alpukat
memang berada dalam jumlah yang sedikit.