Anda di halaman 1dari 4

SOSIALISASI ANUGERAH

PANGRIPTA NUSANTARA 2015


halaman 2

PERPRES NO.99/2014 TENTANG


PENYELENGGARAAN PENGADAAN
TANAH
halaman 3

Kunjungan Tim Alih Fungsi Lahan Pertanian KPK ke Direktorat Tata Ruang dan
Pertanahan ..... halaman 4

RESENSI BUKU
PENATAAN RUANG BERBASIS
CEKUNGAN AIR TANAH
halaman 4

NEWSLETTER

TATA RUANG PERTANAHAN


MEDIA INFORMASI BIDANG TATA RUANG DAN PERTANAHAN

EDISI MARET 2015

KILAS BALIK: DINAMIKA ISU TATA RUANG DAN PERTANAHAN

RPJMN 2015-2019 Bidang Tata Ruang dan Pertanahan

Ilustrasi: Buku Saku RPJMN 2015-2019 Bidang


Tata Ruang dan Pertanahan

RPJMN 2015 - 2019 merupakan rencana


pembangunan jangka menengah nasional
periode 2015 - 2019 sebagai penjabaran
dari visi dan misi Presiden Joko Widodo
dan Wakil Presiden Muhammad Jusuf
Kalla, yang juga merupakan rencana
pembangunan jangka menengah ketiga
dari Rencana Pembangunan Jangka
Panjang Nasional (RPJPN) 2005 - 2025.
Sesuai dengan UU No. 25 Tahun
2004 tentang Sistem Perencanaan
Pembangunan Nasional dan Peraturan
Pemerintah No. 40 Tahun 2006 tentang Tata
Cara Penyusunan Rencana Pembangunan
Nasional, RPJMN merupakan acuan bagi
Kementerian/Lembaga dalam menyusun
Rencana Strategis (Renstra) masingmasing.

Dalam rangka menyosialisasikan RPJMN


2015 -2019 bidang tata ruang pertanahan,
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan
menyelenggarakan kegiatan sosialisasi
untuk memberikan pemahaman kepada
para pemangku kepentingan dalam
berbagai kepentingan terkait bidang
tata ruang dan pertanahan. Kegiatan
ini menghadirkan para pakar terkait
dengan tata ruang pertanahan sebagai
penanggap.
Menurut Direktur Tata Ruang dan
Pertanahan Bappenas, Oswar Mungkasa,
Perpres No.2 Tahun 2015 yang telah
ditandatangani pada 8 januari 2015
merupakan acuan bagi semua pihak,
bukan hanya bagi pemerintah.
Pakar Perencanaan Regional dan Studi
Lingkungan, Prof. Herman Haeruman,
menyebutkan persoalan tata ruang
sekarang adalah implementasi yang tidak
berjalan. Stakeholders tidak melaksanakan
perencanaan yang sudah dirumuskan.
Dalam hal Jabodetabekpunjur seharusnya
ada
harmonisasi
dan
networking
antarinstitusi
dan
antarperaturan
perundang-undangan.

akan tersedianya ruang tetap untuk


jangka panjang.
Prof. Budi Mulyanto, Deputi Bidang
Pengadaan Tanah untuk Kepentingan
Umum Badan Pertanahan Nasional
(BPN), mengatakan yang diperlukan
dalam perencanaan tata ruang adalah
pengelolaan sumber daya alam, bukan
hanya tentang tanah dan ruang saja.
Nomenklatur yang tepat akan berdampak
pada peraturan perundang-undangan dari
masing-masing sektor terkait tata ruang
dan pertanahan yang harmonis.
Beberapa tantangan di bidang tata ruang
dan pertanahan, antara lain; Pertama,
kesenjangan antarwilayah (dominasi
Jawa-Bali dan Sumatera yang masih
tinggi). Kedua, kawasan perdesaan
(penyediaan pangan nasional, defisit
sumber daya manusia dan lahan). Ketiga,
pemekaran wilayah (pembentukan daerah
otonom baru tanpa mempertimbangkan
sumber daya dan keberlanjutan program).
Keempat, lingkungan hidup (penurunan
kualitas lingkungan). Kelima, kelembagaan
(koordinasi, sistem informasi, kualitas
SDM, penyediaan data, dan Penyidik
Pegawai Negeri Sipil/PPNS). [RA]

Pada hakikatnya, perencanaan tata ruang


harus memberikan jaminan bagi publik

REDAKSI:
| Penanggung Jawab : Direktur Tata Ruang dan Pertanahan |
| Tim Redaksi : Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan | Editor : Santi Yulianti, Rini Aditya, Gina Puspitasari | Desain Tata Letak : Indra Ade Saputra dan Rini Aditya |

POTRET KEGIATAN:

Anugerah Pangripta Nusantara 2015

Para perwakilan dari 32 provinsi di Indonesia mengamati paparan Sosialisasi Proses


Penilaian Anugerah Pangripta Nusantara 2015 di Gedung SG Bappenas, (02/03).
Sumber: Dokumentasi TRP

Jakarta [02/03]. Anugerah Pangripta


Nusantara (APN) 2015 kali ini diharapkan
dapat memberikan dorongan semangat
bagi masing-masing daerah untuk
meningkatkan mutu dokumen rencana
pembangunan
dan
memperkuat
kemitraan
dalam
perencanaan
pembangunan. Hal ini disampaikan oleh
Direktur Tata Ruang dan Pertanahan
Bappenas, Oswar Mungkasa dalam acara
sosialisasi pada Senin (2/3) di kantor
Bappenas.
Sesuai
Undang-Undang
Sistem
Perencanaan Pembangunan Nasional
No.25 Tahun 2004, perencanaan yang
baik menjadi salah satu penentu
keberhasilan pencapaian tujuan dan

sasaran pembangunan nasional. Salah


satu langkah meningkatkan mutu
rencana pembangunan adalah dengan
memberikan
penghargaan
kepada
daerah yang berhasil menyusun
dokumen rencana pembangunan secara
baik.
Tahun ini, Direktorat Tata Ruang dan
Pertanahan (Dit. TRP) mendapat tugas
menjadi
koordinator
pelaksanaan
kegiatan pemberian Anugerah Pangripta
Nusantara (APN).
Tim penilai terdiri dari tiga unsur, yaitu
Tim Penilai Independen, (TPI) Tim
Penilai Utama (TPU), dan Tim Penilai
Teknis (TPT).

Tahapan penilaian provinsi ada tiga


tahap, yaitu (1) Penilaian dokumen RKPD,
(2) Verifikasi penyusunan RKPD dan
kunjungan lapangan, dan (3) Presentasi
dan wawancara di Jakarta oleh TPI dan
TPU. Tahapan penilaian kabupaten/kota
ada empat tahap, yaitu tahap (1) dan
(2) sama seperti penilaian provinsi, (3)
Penilaian dokumen oleh TPT pusat, dan
(4) Presentasi dan wawancara di Jakarta
oleh TPI pusat dan TPU pusat.
Ada 17 provinsi yang lolos ke penilaian
tahap II. Provinsi-provinsi itu adalah
Kepulauan Bangka Belitung, Kalimantan
Timur, Sumatera Selatan, Kalimantan
Selatan, Sumatera Barat, Jawa Barat,
DKI Jakarta, Nusa Tenggara Barat, Jawa
Timur, Aceh, Sulawesi Tenggara, Sulawesi
Utara, Gorontalo, Sulawesi Tengah, DI
Yogyakarta, Jawa Tengah, dan yang
terakhir Sumatera Utara. Sementara itu,
jumlah kabupaten/kota yang lolos ke
penilaian tahap III ada 18 daerah.
Dengan
adanya
penganugerahan
ini, diharapkan agar setiap daerah
dapat menyiapkan dokumen rencana
pembangunan yang lebih konsisten,
komprehensif, dan terukur. [RA/SY]

BKPRN Mengupas UU No. 23/2014 tentang Pemerintah


Daerah dari Perspektif Penataan Ruang
Jakarta, (18/03). Pemberlakuan UndangUndang Nomor 23 Tahun 2014 tentang
Pemerintahan Daerah sebagai pengganti
Undang-Undang Nomor 32 tahun 2004
tentang Pemerintah Daerah memberikan
implikasi terhadap kebijakan Pemerintah
di berbagai bidang.
Dalam rangka sosialisasi Undang-Undang
Nomor 23 Tahun 2014 dan implikasinya
terhadap penyelenggaraan penataan
ruang, Sekretariat Badan Koordinasi
Penataan Ruang Nasional (BKPRN)
menyelenggarakan Rapat Koordinasi
Tingkat Eselon II untuk mengidentifikasi
perubahan
pembagian
kewenangan
penyelenggaraan penataan ruang di
tingkat pusat, provinsi, dan kabupaten/
kota
serta
potensi
permasalahan
penyelenggaraan tata ruang sebagai
implikasi pemberlakuan UU tersebut.

Rencana Tata Ruang Provinsi/Kabupaten/


Kota yang menjadi lebih panjang karena
dalam proses evaluasi, Menteri Dalam
Negeri harus berkoordinasi dengan
Menteri ATR.
Disamping
itu,
Rancangan
Perda
Rencana Tata Ruang Kabupaten/Kota
yang sebelumnya cukup dievaluasi oleh
Gubernur, harus dikonsultasikan dengan
Menteri Dalam Negeri. Hal ini perlu
ditindak lanjuti dengan penyesuaian
terhadap Permendagri No. 28 Tahun
2008 tentang Tata Cara Evaluasi Raperda
tentang Rencana Tata Ruang Daerah.

Pemberlakuan Undang-Undang Nomor


23 Tahun 2014 juga memunculkan
kewenangan baru bagi Pemerintah Pusat
untuk menyusun Rencana Detail Tata
Ruang (RDTR) di Kawasan Perbatasan.
Oleh karena itu, Presiden lazimnya
mendelegasikan
kewenangannya
kepada K/Ltertentu yang dipandang
berkompeten. [CW/ZH/RA]

Asisten Deputi Bidang Prasarana,


Riset, Tekonologi dan Sumber Daya
Alam, Sekretariat Kabinet Ir. Agustina
Murbaningsih,
M.Si
menyampaikan
bahwa
urusan
pemerintahan
merupakan kewenangan Presiden yang
pelaksanaannya dapat didelegasikan
kepada Menteri yang membidangi urusan
tertentu bidang pemerintahan, serta
Kepala Daerah sebagai Wakil Pemerintah
Pusat di Daerah.
Implikasi
pemberlakuan
UndangUndang Nomor 23 Tahun 2014 terhadap
penyelenggaraan penataan ruang lainnya
adalah proses evaluasi Rancangan Perda
2

Oswar Mungkasa selaku Direktur Tata Ruang dan Pertanahan (kiri) dan Asdep Bidang Prasarana, Riset,
Teknologi dan Sumber Daya Alam, Sekretariat Kabinet Agustina Murbaningsih (kanan), memimpin
diskusi UU N0.23/2014 Tentang Pemerintah Daerah dari Perspektif Penataan Ruang di Bappenas. (18/03).
Sumber: Dokumentasi TRP

Peraturan Presiden No 99 Tahun 2014

WAWASAN

tentang Perubahan Kedua atas Perpres 71 Tahun 2012 tentang Penyelenggaraan


Pengadaan Tanah Bagi Pembangunan untuk Kepentingan Umum

Joko Widodo saat meninjau pembangunan dan proses pembebasan lahan akses tol Tanjung Priok (03/13) .
Sumber: istimewa
Di Indonesia, tanah dikuasai oleh
Negara dan berfungsi sosial, akan
tetapi diatasnya melekat berbagai hak
masyarakat seperti hak milik dan hak
guna bangunan. Sehingga apabila Negara
akan melaksanakan pembangunan perlu
dilakukan pembebasan tanah.
Salah
satu
contoh
permasalahan
terkait pengadaan tanah yakni lamanya
proses pengadaan tanah yang dialami
pemerintah untuk mengambil alih hak
atas tanah dari masyarakat.
Maka dari itu, dalam rangka penyelesaian
pengadaan tanah untuk percepatan
pembangunan
infrastrukur
bagi
kepentingan umum, Presiden Susilo
Bambang Yudhoyono (SBY) pada 17
September 2014 telah menandatangani
Peraturan Presiden (Perpres) No. 99
Tahun 2014 tentang Perubahan Kedua
atas Perpres No. 71 Tahun 2012 tentang
Penyelenggaraan Pengadaan Tanah bagi
Pembangunan untuk Kepentingan Umum.
Perpres No. 71 Tahun 2012 merupakan
amanat dari pelaksanaan Pasal 53 dan
Pasal 59 UU No. 2 Tahun 2012. Perpres
ini mengatur tata cara pengadaan tanah
untuk kepentingan umum dari tahapan
perencanaan, tahapan persiapan, tahapan
pelaksanaan, sampai dengan penyerahan
hasil.
Hal-hal pokok yang diatur dalam kedua
Perpres ini adalah keharusan setiap
instansi yang memerlukan tanah bagi
pembangunan untuk kepentingan umum,
agar menyusun dokumen perencanaan
pengadaan tanah, yang antara lain
memuat tujuan rencana pembangunan
yang sesuai dengan Rancangan Tata
Ruang Wilayah (RTRW); letak tanah; luas
tanah yang dibutuhkan; gambaran umum
status tanah; dan perkiraan nilai tanah,

dan untuk selanjutnya diserahkan kepada


Gubernur yang melingkupi wilayah
dimana letak tanah berada.
Agar Perpres ini dapat diimplementasikan
secara penuh, diatur pula bahwa izin
lokasi yang telah diterbitkan oleh
Gubernur dalam rangka pengadaan tanah
proyek-proyek pengadaan tanah yang
capaiannya telah mencapai 75 persen
tersebut diperpanjang sampai dengan 31
Desember 2015.
Apabila sampai dengan 31 Desember
2015, pengadaan tanah yang telah
diperpanjang tersebut belum selesai
dilaksanakan, maka sisa tanah yang belum
diselesaikan, pengadaannya diselesaikan
melalui tahapan-tahapan sebagaimana
diatur dalam Perpres No. 71 Tahun 2012.
Antara Perpres No.71 Tahun 2012 dengan
Perpres No.99 Tahun 2014 tidak terdapat
banyak penambahan atau pengurangan.
Hanya ada dua pasal yang ditambahkan
ayatnya, yaitu pasal 63 dan pasal 76.
Sementara itu antara pasal 123 dan pasal
124, disisipkan satu pasal lagi, yakni 123A.
Pengaturan Ganti Rugi
Pengaturan pemberian ganti rugi
dapat diberikan dalam bentuk uang,
tanah pengganti, permukiman kembali,
kepemilikan saham, atau bentuk lain yang
disetujui kedua belah pihak.
Ganti Rugi Keadaan Khusus

tanahnya kepada pelaksana pengadaan


tanah; dan ketentuan bahwa pelaksana
pengadaan tanah dapat mendahulukan
pemberian ganti rugi kepada pihak yang
berhak dan membutuhkan pemberian
ganti rugi dalam keadaan mendesak,
maksimal 25% dari perkiraan ganti rugi
berdasarkan Nilai Jual Objek Pajak (NJOP)
tahun sebelumnya.
Syarat dan ketentuan penitipan ganti
kerugian di pengadilan negeri, yaitu dalam
hal adanya penolakan dari pihak yang
berhak, padahal dari hasil musyawarah
yang telah dilaksanakan, tidak ada
keberatan sebelumnya; pihak yang berhak
tidak diketahui keberadaannya; dan obyek
pengadaan tanah menjadi obyek perkara
di pengadilan masih disengketakan
kepemilikannya, diletakkan sita, atau
menjadi jaminan bank.
Perubahan ketentuan mengenai tahapan
pembebasan tanah untuk kepentingan
umum ini diperlukan sehubungan dengan
adanya beberapa proyek infrastruktur
strategis yang pembebasan lahannya
telah mencapai atau hampir mencapai
75% dari luas kebutuhan lahan, namun
diakhir 2014 diperkirakan tidak akan
mencapai 100 % (misalnya, pembangunan
jalan tol Trans Jawa dan jalan tol Non
Trans Jawa).
Dengan terbitnya Perpres No.99 Tahun
2014,
diharapkan
pembangunanpembangunan infrastruktur strategis yang
telah menjadi prioritas pembangunan
dapat tetap dilanjutkan. [RA]

Pengaturan ganti rugi dalam keadaan


khusus, meliputi pengaturan dimana
sejak ditetapkannya lokasi pembangunan
untuk kepentingan umum, pihak yang
berhak hanya dapat mengalihkan hak atas

LINK TERKAIT
Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan,
Bappenas
Portal Tata Ruang dan Pertanahan
Sekretariat BKPRN

Potret Kegiatan TRP

Sosialisasi Anugerah Pangripta Nusantara 2015


BKPRN Review UU No.23/2014 dari Perspektif
Penataan Ruang
Kunjungan KPK ke Direktorat TRP
3

KPK Mengkaji Implementasi LP2B di Daerah


Kunjungan Tim Alih Fungsi Lahan Pertanian KPK ke Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan
perdesaan yang menyebutkan bahwa
perlindungan terhadap kawasan lahan
abadi pertanian pangan diatur dengan UU
tersendiri. Regulasi tersebut ditetapkan
melalui UU No. 41 Tahun 2009 tentang
Perlindungan Lahan Pertanian Pangan
Berkelanjutan (PLP2B).

Ir. Oswar Mungkasa, Direktur Tata Ruang dan Pertanahan, bersama


Tim Kajian Alih Fungsi Lahan Pertanian KPK berdiskusi di ruang
Direktur TRP (17/03). Sumber: Dokumentasi TRP

Jakarta (17/03). Tim Kajian Alih Fungsi


Lahan Pertanian dari Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) berkunjung ke Direktorat TRP
Bappenas pada Selasa (17/3) guna membahas
alih fungsi lahan pertanian. Pertemuan ini
merupakan tindak lanjut dari pertemuan
awal Tim Kajian Alih Fungsi Lahan Pertanian
di Kementerian Pertanian.
Regulasi perlindungan lahan pertanian
telah disebutkan dalam Pasal 48 UU No. 26
Tahun 2007 terkait penataan ruang kawasan

Implementasi penetapan LP2B di daerah


belum berjalan optimal walaupun telah
memasuki tahun ke-6 karena masih
banyak daerah yang tidak menetapkan
LP2B dalam Perda RTRW.
Sebanyak 91 kabupaten/kota yang telah
menetapkan Perda RTRW namun dengan
menetapkan luasan LP2B, hasilnya
jauh dibawah luas lahan hasil audit
Kementerian Pertanian tahun 2011 dan
2013.
Angka laju alih fungsi lahan di Indonesia
masih berbeda antara satu institusi dan
institusi lainnya. Berdasarkan data Badan
Pertanahan Nasional (BPN), laju alih

fungsi lahan pertanian sebesar 100 ribu


Ha/tahun, sementara berdasarkan data
Kementerian Pertanian sebesar 40-60
ribu Ha/tahun.
Salah satu kendala utama dalam
penetapan LP2B di daerah adalah belum
tersedianya data sebaran lokasi LP2B di
tingkat kabupaten/kota. Skala peta dalam
RTRW yang digunakan adalah 1:50.000,
sementara skala peta yang dibutuhkan
adalah 1:5.000.
Langkah-langkah
yang
sebaiknya
dilakukan dalam mendorong daerah
menetapkan LP2B diantaranya adalah
melaksanakan diseminasi dan sosialisasi
tidak hanya pada pemerintah daerah
tetapi juga pihak petani sehingga tercipta
kesetaraan pemahaman tentang LP2B,
serta pemberian insentif kepada petani,
maupun pemerintah daerah. [CW,RA]

RESENSI BUKU:

MATERI TEKNIS STANDAR PENATAAN


RUANG BERBASIS CEKUNGAN AIR TANAH
Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2004 tentang Sumber Daya Air menyebutkan bahwa sumber
daya air salah satunya adalah air tanah, dikelola berdasarkan asas kelestarian, keseimbangan,
kemanfaatan umum, keterpaduan dan keserasian, keadilan, kemandirian, serta transparansi dan
akuntabilitas.
Menurut Peraturan Pemerintah Nomor 43
tahun 2008 tentang Air Tanah, Cekungan Air
Tanah adalah suatu wilayah yang dibatasi
oleh batas hidrogeologis, tempat semua
kejadian hidrogeologis seperti proses
pengimbuhan, pengaliran, dan pelepasan air
tanah berlangsung.
Konservasi air tanah sebagai bagian dari
pengelolaan air tanah menjadi penting
untuk dijadikan salah satu dasar penataan
ruang guna mewujudkan ruang wilayah
nasional yang aman, nyaman, produktif,
dan berkelanjutan sesuai dengan amanat
Undang-Undang Nomor 26 Tahun 2007
tentang Penyelenggaraan Penataan Ruang.
Buku Materi Teknis ini dijadikan standar

untuk memberikan ketentuan teknis


dan
acuan
dalam
perencanaan
tata ruang, pemanfaatan ruang dan
pengendalian pemanfaatan ruang yang
mempertimbangkan aspek konservasi air
tanah.
Dengan
mengacu
pada
standar
ini,
diharapkan
dapat
menjamin
berlangsungnya
harmonisasi
antara
keberadaan air tanah dan pemanfaatannya,
keterpaduan penggunaan air tanah
yang memperhatikan kebutuhan dasar
manusia, dan perlindungan fungsi ruang
dan pencegahan dampak negatif terhadap
air tanah akibat pemanfaatan ruang. [RA]

Untuk informasi lebih lanjut silakan hubungi kami:

DIREKTORAT TATA RUANG DAN


PERTANAHAN,
BAPPENAS
Jalan Taman Suropati No. 2A
Gedung Madiun Lt. 3

T : 021 392 7412


F : 021 392 6601
E : trp@bappenas.go.id
W: www.trp.or.id
Portal : www.tataruangpertanahan.com

Judul Buku: Materi Teknis Standar


Penataan Ruang Berbasis Cekungan
Air Tanah
Penyusun dan Penerbit : Dirjen Penataan Ruang Kemen PU
Jumlah halaman : 278