Anda di halaman 1dari 10

SATUAN ACARA PENYULUHAN ( SAP )

Mencegah Kehilangan Panas Pada Bayi

Disusun oleh:

Fadilla Nisa
NIM. 10613031

Jl. Ciumbuleuit No. 203 Bandung, telp/Fax 022-2036550


Website : poltekestniau.ac.id email : poltekes_tni_au@yahoo.com

PROGRAM STUDI DIII KEBIDANAN


POLTEKES TNI AU
TAHUN AJARAN
2015-2016

SATUAN ACARA PENYULUHAN


(SAP)
Hari/ tanggal

: Senin, 28 Oktober 2013

Jam/waktu

: 09.00 WIB

Pokok Bahasan

: Perawatan Bayi Baru Lahir

Sub Bahasan

: Mencegah Kehilangan Panas Pada Bayi

Sasaran

: Ny.A

Penyaji
Tempat

I.

: Fadilla Nisa
: Rumah Ny.A

Tujuan Instruksional Umum

Setelah mendapatkan penjelasan tentang perencanaan kehamilan selama 20 menit,


diharapkan Ny.A dapat mengerti dan memahami tentang berbagai cara menjaga
kehangatan bayi agar tidak terjadi kehilangan panas.

II.

Tujuan Instruksional

Setelah mendapatkan penjelasan tentang mencegah kehilangan panas pada bayi,


diharapkan Ny.A mampu:
1. Menjelaskan penyebab-penyebab kehilangan panas pada bayi
2. Menyebuktkan tanda-tanda bayi kedinginan karena kehilangan panas
3. Menyebuktan pencegahan kehilangan panas pada bayi
III.

Garis-Garis Besar Materi


1. Mekanisme kehilangan panas
2. Tanda bayi kehilangan panas
3. Dampak bayi kehilangan panas
4. Upaya untuk mencegah kehilangan panas

IV.

Metode
1. Ceramah
2. Tanya jawab

V.

Media dan Alat Peraga


1. Satuan Acara Penyuluhan (SAP)
2. Flip Chart (lembar balik)
3. Leaflet

VI.

Proses Kegiatan Penyuluhan

No
Kegiatan
1 Pendahuluan
a. Menyampaikan salam
b. Menjelaskan tujuan
c. Kontrak waktu
d. Tes awal
2 Inti
a. Mekanisme
kehilangan panas
b. Tanda bayi kehilangan
panas
c. Dampak bayi
kehilangan panas
d. Upaya untuk

Respon

Waktu

a. Menjawab salam
b. Mendengarkan
c. Memberi respon

3
menit

Mendengarkan
penuh perhatian

dengan

10
menit

mencegah kehilangan
panas

Penutup
a. Tanya jawab
b. Tes akhir
c. Menyimpulkan hasil

a. Menanyakan
pemaparan

yang
7

penyuluhan
d. Pemberian salam penutup

belum jelas
b. Mammpu

menit

menjawab
pertanyaan
c. Menyimpulkan
d. Membalas salam

MATERI

A. Mekanisme Kehilangan Panas


Kehilangan panas pada tubuh bayi baru lahir dapat terjadi melalui mekanisme
berikut :
a. Evaporasi
Evaporasi adalah cara kehilangan panas yang utama pada tubuh bayi.
Kehilangan panas terjadi karena menguapnya cairan ketuban pada permukaan
tubuh setelah bayi lahir karena tubuh bayi tidak segera dikeringkan terutama
jika disertai dengan udara ruangan persalinan yang dingin. Hal yang sama

dapat terjadi setelah bayi dimandikan. Kehilangan panas melalui evaporasi


dapat diminimalkan dengan secara cepat mengeringkan kulit dan rambut
dengan handuk hangat dan menempatkan bayi diruangan yang dihangatkan.
b. Konduksi
Konduksi adalah kehilangan panas melalui kontak langsung antara tubuh bayi
dengan permukaan yang dingin. Bayi yang diletakkan diatas meja, tempat
tidur atau timbangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas
tubuh akibat proses konduksi. Hal ini dapat diminimalkan dengan
menempatkan bayi pada permukaan tertutup dan terlapisi yang mampu
memberi isolaso dengan kain dan selimut bukan meletakkan bayi langsung
dimeja keras.
Tindakan meletakkan bayi sangat dekat dengan ibu, seperti dalam dekapannya
atau diatas perutnya segera setelah kelahiran, bermanfaat secara fisik baik
untuk mempertahankan panas maupun menumbuhkan keterikatan maternal.
c. Konveksi
Konveksi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayi terpapar dengan
udara sekitar yang lebih dingin. Bayi yang dilahirkan atau ditempatkan dalam
ruangan yang dingin akan cepat mengalami kehilangan panas. Kehilangan
panas juga dapat terjadi jika ada tiupan kipas angin, aliran udara atau penyejuk
ruangan. Misalnya, menempatkan bayi langsung pada aliran udara kipas angin
atau pendingin udara dapat menyebabkan kehilangan panas yang cepat melalui

konveksi. Pemindahan bayi ke dalam tempat tidur dengan sisi-sisi yang padat
dapat mengurangi aliran udara di sekitar bayi.
d. Radiasi
Radiasi adalah kehilangan panas yang terjadi saat bayi ditempatkan dekat
benda yang mempunyai temperatur lebih rendah dari temperatur tubuh bayi.
Bayi akan mengalami kehilangan panas melalui cara ini meskipun benda yang
lebih dingin tersebut tidak bersentuhan langsung dengan tubuh bayi. Suhu
nyaman atau udara yang ada dalam atau disekitar inkubator pada dasarnya
tidak memiliki efek terhadap kehilangan panas melalui radiasi. Ini merupakan
titik kritis yang perlu diingat jika kita berusaha menjaga suhu tetap konstan
bagi bayi, karena meskipun suhu konstan udara sudah optimal, bayi masih
bisa mengalami hipotermia.
Penggunaan alat pemanas radiasi seperti lampu pemanas atau sinar fototerapi
dalam inkubator dapat menyebabkan pemanasan berlebihan (overheating)
pada bayi, karena bayi tidak mampu membuang napas secara efektif melalui
dinding Plexiglas inkubator. Selain itu, inkubator tidak boleh terpajan pada
matahari secara langsung.
Contoh kehilangan panas melalui radiasi adalah penempatan inkubator dekat
dengan jendela yang dingin, lorong yang kering, atau di unit dengan pendingin
udara. Sumber tersebut akan mendinginkan dinding inkubator dan selanjutnya,

tubuh neonates. Untuk mencegahnya, bayi harus diletakkan sejauh mungkin


dari dinding, jendela, dan unit ventilasi.
B. Tanda-Tanda Bayi Kedinginan
a. Bayi tampak mengantuk atau lesu
b. Tubuh bayi teraba dingin
c. Kemampuan menghisap lemah
d. Tangisan lemah
C. Dampak Bayi Kehilangan Panas
Bayi baru lahir tidak dapat mengatur temperatur tubuhnya sendiri secara
memadai, dan dapat dengan cepat kedinginan jika kehilangan panas tidak
segera dicegah. Bayi yang mengalami kehilangan panas (hipotermia) beresiko
tinggi untuk untuk jatuh sakit dan meninggal. Jika bayi dalam keadaan basah
atau tidak diselimuti, mungkin akan mengalami hipotermia, meskipun berada
dalam lingkungan yang hangat. Bayi premature atau berat badan lahir rendah
sangat rentan terhadap terjaidnya hipotermia.

D. Upaya Untuk Pencegah Kehilangan Panas


Kehilangan panas tubuh bayi dapat dihindarkan melalui upaya-upaya berikut :

a. Keringkan bayi secara seksama


Segera keringkan permukaan tubuh sebagai upaya untuk mencegah kehilangan
panas akibat evaporasi cairan ketuban pada permukaan tubuh bayi. Hal ini
juga merupakan rangsangan taktil untuk membantu bayi memulai pernapasan.
b. Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih, kering dan hangat
Segera tubuh bayi dikeringkan kemudian selimuti bayi dengan selimut atau
kain hangat, kering dan bersih. Kain basah yang diletakkan didekat tubuh bayi
akan mengakibatkan bayi tersebut mengalami kehilangan panas tubuh. Jika
selimut bayi harus dibuka untuk melakukan suatu prosedur, segera selimuti
kembali dengan handuk atau selimut kering, segera setelah prosedur tersebut
selesai.
c. Tutupi kepala bayi
Pastikan bahwa bagian kepala bayi ditutupi setiap saat. Bagian kepala bayi
memiliki luas permukaan yang cukup besar sehingga bayi akan dengan cepat
kehilangan panas tubuh jika bagian kepalanya tidak tertutupi.
d. Anjurkan ibu untuk memeluk dan memberikan ASI
Memeluk bayi akan membuat bayi tetap hangat dan merupakan upaya
pencegahan kehilangan panas yang sangat baik. Anjurkan ibu untuk sesegera
mungkin menyusukan bayinya setelah lahir. Pemberian ASI, sebaiknya
dimulai dalam waktu satu jam setelah bayi lahir.

e. Jangan memandikan bayi setidak-tidaknya 6 jam setelah lahir


Tunda untuk memandikan bayi hingga sedikitnya enam jam setelah lahit.
Memandikan bayi dalam beberapa jam pertama kehidupannya dapat mengarah
kepada kondisi hipotermia dan dangat membahayakan keselamatan bayi.
f. Tempatkan bayi dilingkungan hangat
Tempatkan bayi dilungkungan yang hangat. Idealnya, segera setelah lahir bayi
harus ditempatkan bersama ibunya ditempat tidur yang sama. Menempatkan
bayi bersama ibunya adalah cara yang paling mudah untuk menjaga bayi agar
tetap hangat, mendorong upaya untuk menyusui dan mencegah terpapar
infeksi.

VII. Evaluasi
a. Mengajukan pertanyaan lisan
i. Tes awal
Apa saja penyebab kehilangan panas pada bayi?
Apa tanda-tanda bayi kedinginan karena kehilangan panas?
Bagaimana pencegahan kehilangan panas pada bayi?
ii. Tes akhir
Mengajukan pertanyaan yang sama dengan tes awal.
b. Observasi
i. Respon /tingkah laku Ny. A saat diberikan pertayaan, apakah
diam/menjawab (benar/salah)
ii. Ny. A antusias/tidak
iii. Ny. A mengajukan/ tidak.
VIII.

Daftar Pustaka

L. Wong, Donna. 2002. Buku Ajar Keperawatan Pediatrik Wong, Ed.6,


Vol.1 . Jakarta : EGC
Saifuddin, Abdul Bari. Dkk. 2006. Buku Acuan Nasioanl Pelayanan
Kesehatan Maternal dan Neonatal. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka
Sarwono Prawirodardjo
Kliegman, Robert M. Ann M. Arvin. 1999. Ilmu Kesehatan Anak
Nelson Volume 1. Jakarta: EGC