Anda di halaman 1dari 31

Pertemuan

Ke - X
24 Nov 2012

MANAJEMEN
STRATEJIK

SEKOLAH TINGGI ILMU EKONOMI

KESATUAN
2012
20
12

ALIANSI
STRATEJIK
Roup Purohim, MM

Strategic
Inputs

Strategic Management Process


Chapter 2
External
Environment

Visi & Misi


Strategic Intent

Chapter 3
Internal
Environment

Strategic Actions

Strategic
Outcomes

Feedback

Strategy Formulation

Strategy Implementation

Chapter 4
Business-Level
Strategy

Chapter 6
Corporate-Level
Strategy

Chapter 10
Corporate
Governance

Chapter 7
Acquisitions &
Restructuring

Chapter 8
International
Strategy

Chapter 12
Strategic
Leadership

EVALUASI KINERJA

Chapter 11
Structure
& Design Org.
Chapter 13
Strategic
Control

Perusahaan
A

Kemitraan antar perusahaan


Di mana

Sumber daya

Kapabilitas

Perusahaan
B
Kompetensi
Inti

Digabungkan untuk mencapai


kepentingan bersama:
Barang
Mengembangkan

Aliansi Stratejik
Jasa
Memproduksi
Distribusi

Pendahuluan
Aliansi strategis adalah hubungan formal antara 2 atau lebih
kelompok untuk mencapai satu tujuan yang disepakati bersama
ataupun memenuhi bisnis kritis tertentu yang dibutuhkan
masing-masing organisasi secara independen.
Aliansi strategis terjadi pada rentang waktu tertentu,
Pihak yang melakukan aliansi bukanlah pesaing langsung,
namun memiliki kesamaan produk atau layanan yang ditujukan
untuk target yang sama.

Dengan aliansi, pihak-pihak yang terkait haruslah menghasilkan


yang lebih baik melalui sebuah transaksi.
Rekanan dalam aliansi, memberikan peran dengan sumberdaya
yang dimilikinya (seperti: produk, saluran distribusi), kapabilitas
(manufaktur, pendanaan projek, pengetahuan, keahlian,
kekayaan intelektual, dll).
Aliansi maka terjadi kooperasi atau kolaborasi dengan tujuan
muncul sinergi yang positif.
Dengan aliansi, perusahaan dapat saling berbagi kemampuan
transfer teknologi, risiko, dan pendanaan.

Keuntungan Aliansi
1. Memungkinkan partner untuk konsentrasi pada aktivitas terbaik
yang sesuai dengan kapabilitasnya,
2. Pembelajaran dari partner dan pengembangan kompetensi
yang mungkin untuk memperluas akses pasar,
3. Memperoleh kecukupan sumber daya dan kompetensi yang
sesuai agar organisasi dapat hidup.

Mengelola Resiko dalam Strategi Kerjasama


Risiko Persaingan

Pendekatan Manajemen
Risiko dan Aset

Hasil

* Ketidakcukupan kontrak
* Misrepresentasi kompetensi
* Mitra gagal memakai sumber
daya pelengkap
* Holding alliance partners
specific investments
hostage

* Pengawasan dan

kontrak yang mendetail


Penciptaan Nilai

* Mengembangkan
hubungan saling
percaya

Penggunaan Aliansi
Aliansi strategis pada umumnya digunakan perusahaan untuk:
Mengurangi biaya melalui skala ekonomi atau pengingkatan
pengetahuan
Meningkatkan akses pada teknologi baru
Melakukan perbaikan posisi terhadap pesaing
Memasuki pasar baru
Mengurangi waktu siklus produk
Memperbaiki usaha-usaha riset dan pengembangan
Memperbaiki kualitas

Proses pembentukan aliansi strategis


Pengembangan Strategi.
Penilaian Rekanan
Negosiasi Kontrak
Operasionalisasi Aliansi
Pemutusan Aliansi

Proses pembentukan aliansi strategis


1. Pengembangan Strategi.
Pada tahap ini akan dilakukan:
Kajian tentang kelayakan aliansi, sasaran dan rasionalisasi,
pemilihan fokus isu yang utama dan menantang,
pengembangan sumberdaya strategi untuk mendukung
produksi, teknologi, dan sumber daya manusia.
Penyesuaian sasaran dengan strategi keseluruhan
perusahaan/ korporasi.

2. Penilaian Rekanan.
Pada tahap ini dilakukan:
Analisis potensi rekan yang akan dilibatkan, baik kekuatan
maupun kelemahan,
penciptaan strategi untuk mengakomodasi semua gaya
manajemen rekanan,
menyiapkan kriteria pemilihan rekanan,
memahami motivasi rekanan dalam membangun aliansi dan
memperjelas gap kapabilitas sumber daya yang mungkin
akan dikeluarkan oleh rekanan.

3. Negosiasi Kontrak.
Tahap ini mencakup:
Penentuan apakah semua pihak memiliki sasaran yang
realistik,
Pembentukan team negosiasi,
Pendefinisian kontribusi masing-masing pihak dan
pengakuan atas proteksi informasi penting,
Pasal-pasal terkait pemutusan hubungan,
Hukuman/ penalti untuk kinerja yang buruk, dan
Prosedur yang jelas dan dapat dipahami dalam interaksi.

4. Operasionalisasi Aliansi.
Operasionalisasi aliansi mencakup:
Penegasan komitmen manajemen senior masing-masing
pihak,
Penentuan sumber daya yang digunakan untuk aliansi,
Menghubungkan dan menyesuaian anggaran dan
sumberdaya dengan prioritas strategis, penegasan kinerja
dan hasil dari aktivitas aliansi.

5. Pemutusan Aliansi.
Aliansi dapat dihentikan dengan syarat-syarat tertentu yang
disepakati.
Pada umumnya ketika sasaran tidak tercapai, atau ketika
partner melakukan perubahan prioritas strategis, atau
melaukan realokasi sumberdaya ke tempat yang berbeda.

Tipe Aliansi Strategis


1. Joint venture
Aliansi strategis dimana 2 atau lebih perusahaan menciptakan
perusahaan yang independen dan legal untuk saling berbagi
sumber daya dan akapabilitas untuk mengembangkan
keunggulan bersaing.
2. Equity strategic alliance
Aliansi strategis dimana 2 atau lebih perusahaan memiliki
persentase kepemilikan yang dapat berbeda dalam
perusahaan yang dibentuk bersama namun mengkombinasikan
semua sumber daya dan kapabilitas untuk mengembangkan
keunggulan bersaing.

3. Non-equity strategic alliance


Aliansi strategis dimana 2 atau lebih perusahaan memiliki
hubungan kontraktual untuk menggunakan sebagian sumber
daya dan kapabilitas unik untuk mengembangkan keunggulan
bersaing.
4. Global Strategic Alliances
Kerjasama secara partnerships antara 2 atau lebih perusahaan
lintas negara dan lintas industri. Terkadang alinasi ini dibentuk
antara korporasi (atau beberapa korporasi) dengan pemerintah
asing.

Alasan Aliansi Menurut Jenis Pasar


Pasar
Pasar Siklus
Lambat

Pasar Siklus
Standar

Pasar Siklus
Cepat

Alasan
Memperoleh akses ke pasar yg dibatasi
Menciptakan franchise dalam pasar yang baru
Memelihara stabilitas pasar
Memperoleh kekuatan pasar
Memperoleh akses ke sumber daya pelengkap
Mengatasi halangan perdagangan
Melayani tantangan persaingan
Sumber daya cadangan untuk proyek besar
Belajar teknik bisnis baru
Meningkatkan kecepatan produk, jasa atau masuk pasar
Mempertahankan kepemimpinan pasar
Dari standar teknologi industri
Membagi pengeluaran R&D yang beresiko
Mengatasi ketidakpastian

Pendorong Eksternal Aliansi Stratejik


1. Proses globalisasi menjadi kekuatan utama di balik
pertumbuhan aktivitas nilai tambah lintas batas negara, yang
juga meningkatkan saling ketergantungan ekonomi.
2. Meningkatnya internasionalisasi dan persaingan menimbulkan
kebtuhan untuk bekerja sama secara regional
3. Perkembangan teknologi yang cepat, siklus umur produk yang
lebih pendek, dan kenaikan biaya litbang mendorong
perusahaan-perusahaan untuk mewujudkan riset bersama dan
berbagi sumber daya yang langka

Pendorong Eksternal Aliansi Stratejik


4. Munculnya banyak pesaing baru dalam bisnis tradisional
memaksa perusahaan yang ada untuk membina hubungan
dan memperluas jaringan yang erat
5. Pergeseran dari produk menuju kompetensi memaksa
perusahaan untuk keluar dan mencari pengetahuan yang
saling melengkapi dan kompetensi yang baru

Pendorong Internal Aliansi Stratejik


Adanya kebutuhan untuk bekerja sama untuk mencapai
fleksibilitas, kompetensi inti, dan insentif yang berasal dari
otonomi, pada waktu yang sama memanfaatkan sumber daya
yang saling melengkapi bagi pembelajaran dan efisiensi
Motif dan tujuan dibentuknya aliansi stratejik meliputi:
Teknologi (know-how); Aset finansial; Persaingan; Akses pada
segmen pasar; Akses terhadap input, output, dan
pengalaman manajemen; Sumber daya dan kapabilitas yang
saling melengkapi

Faktor Pendorong Aliansi


Pendorong Persaingan

Motif & Tujuan Perusahaan

Globalisasi
Regionalisasi
Meningkatnya tekanan
biaya
Meingkatnya biaya
pengembangan
Siklus hidup produk
semakin pendek
Ketatnya persaingan
Perubahan konstelasi
bisnis: dari produk ke
kompetensi

Teknologi (know-how)
1. Pertumbuhan
aktivitas lintas
batas ekonomi
(perdagangan &
PMA)
a. Intra-perusahaan
(TNCs)
b. Intra-industri
2. Meningkatnya
penggunaan
stratejik dan
jaringan

Ghauri (1999), Narula & Dunning (1998) dalam Wahyuni (2003)

Aset finansial
Persaingan
Akses segmen pasar
Akses terhadap input,
output & pengalaman
manajerial
Sumber daya &
kapabilitas yang saling
melengkapi

Strategi Aliansi Tingkat Bisnis


1. Aliansi Komplementer.
Dirancang untuk mengambil keunggulan dari peluang-peluang
pasar dengan mengkombinasikan aktiva-aktiva dari
perusahaan-perusahaan yang menjadi mitra dengan cara-cara
yang saling melengkapi untuk menciptakan nilai baru.
Aliansi Strategis Komplementer Vertikal.
Aliansi Komplementer Horisontal.

2. Strategi Pengurangan Persaingan.


Dalam banyaknya persaingan, banyak perusahaan berusaha
untuk menghindar dari persaingan yang merusak atau
berlebihan. Salah satunya adalah dengan kolusi implisit atau
toleransi mutual.
3. Strategi Tanggapan Persaingan.
Perusahaan menggabungkan kekuatan untuk merespon
tindakan stratejik pesaing lain.
4. Strategi Pengurangan Ketidakpastian.
Aliansi strategis juga digunakan untuk mempertahankan diri
dari risiko dan ketidakpastian khususnya dalam pasar-pasar
siklus cepat.

Strategi Aliansi Tingkat Perusahaan


Dirancang untuk memfasilitasi diversifikasi pasar dan/atau produk.
1. Aliansi Strategis Diversifikasi.
Memungkinkan suatu perusahaan untuk memperluas ke
produk atau wilayah pasar baru tanpa melakukan merger atau
akuisisi.
2. Aliansi Strategis Sinergistik.
Menciptakan ruang lingkup ekonomi bersama antara dua atau
lebih perusahaan.
3. Waralaba.
Merupakan salah satu alternatif dalam diversifikasi yang
merupakan strategi kerja sama berdasarkan relasi kontraktual.

Strategi Aliansi Internasional


Alasan menggunakan aliansi internasional :
1. Perusahaan multinasional memiliki kinerja yang lebih baik
daripada perusahaan yang hanya beroperasi secara
domestik saja
2. Peluang-peluang untuk tumbuh melalui akuisisi atau aliansi
terbatas dalam negara asal perusahaan tersebut
3. Kebijakan pemerintah
4. Membantu sebuah perusahaan yang mentransformasi
dirinya sendiri dalam kondisi-kondisi lingkungan yang
berubah dengan cepat

Strategi Aliansi Jaringan Kerja


Jenis strategi jaringan kerja antara lain:
1. Jaringan Aliansi Stabil. Memiliki siklus pasar dan permintaan
yang mudah diprediksi.
2. Jaringan Aliansi Dinamis. Basis dalam penggunaan strategi
jaringan dalam industri dimana inovasi teknologi cepat
diperkenalkan secara berkala.
3. Jaringan Aliansi Internal. Dibentuk dalam sebuah perusahaan
yang memfasilitasi koordinasi produk dan keragaman global.

Contoh Aliansi
Perusahaan yang telah melakukan aliansi antara lain
GE/SNECMA;
Fuji Xerox Co., Ltd.;
AIZA-Cibe Geigy;
NUMMI;
Dell dan EMC;
Aliansi Dexa Medica dengan GlaxoSmithKline & dengan Alpharma dan
Indofarma;
PT Kalbe Farma Tbk dengan PT Enseval & PT Dankos Laboratories Tbk,;
Bank Muamalat dengan PT Pos dan BCA;
Mitsubishi dengan DaimlerCrysler;
Renault dan Nissan;
Star Alliance; dan lain-lain.

contoh

Penerapan Aliansi Strategi di Indonesia:


Bank Muamalat Pos Indonesia & BCA
Bank Muamalat melakukan aliansi strategis dengan seluruh
jaraingan kantor pos di Indonesia ketika meluncurkan dan
menjual produk Shar-E.
Dengan berbagai kemudahan dan jaringan yang luas sampai ke
tingkat kelurahan, maka aliansi strategis dengan kantor pos
menjadi solusi ampuh dalam meningkatkan pasar perbankan
syariah di Indonesia.

Agar loyalitas nasabahnya terus meningkat dan sustainable,


Bank Muamalat juga berusaha untuk selalu memberikan
berbagai kemudahan.
Misalnya dengan memberikan kemudahan kepada pemegang
kartu Shar-E sehingga dapat mengaktivasi nomor rekening pada
kartu tersebut dan memiliki nomor rekening di Bank Muamalat.
Dengan kemudahaan tersebut, pengguna Shar-E juga dapat
mengakses seluruh Debit BCA dan memperoleh akses
penarikan tunai secara halal dan free of charge pada seluruh
ATM BCA dan ATM Bersama.

Terimakasih