Anda di halaman 1dari 12

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI II

PENETAPAN DERAJAT KEPAHITAN

HARI DAN JAM PRAKTIKUM : RABU, 08.00-12.00


TANGGAL PRAKTIKUM : 12 DESEMBER 2012
DISUSUN OLEH KELOMPOK 5
10060310102
Freska Indriyanti
10060310103
Gubet Ary Mukjizat
10060310104
Filza Halwa Warman
10060310105
Siti Aminah
10060310106
Irma Yunita
ASISTEN KELOMPOK:
Leni Purwanti S.Si.,Apt

LABORATORIUM FARMASI TERPADU UNIT B


PROGRAM STUDI FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS ISLAM BANDUNG
2012

Penetapan Derajat Kepahitan


A. TUJUAN
Dapat memahami cara penetapan derajat kepahitan.
Dapat menentukan derajat kepahitan dari jinten hitam (serbuk) yang
dibandingkan terhadap derajat kepahitan kinin hidroklorida.
B. ALAT DAN BAHAN

Alat :

C.

Bahan :

Corong

dan

kertas

kering
Erlenmeyer
Gelas ukur 50 ml
Labu takar 100 ml
Labu takar 50 ml
Labu takar 500 ml
Pemanas
Pipet ukur 10 ml
Pipet volume 1 ml
Pipet volume 5 ml
Stopwatch
Tabung reaksi

Simplisia

(jinten

hitam

serbuk)

PROSEDUR
Pembuatan Larutan Stok Kinin Hidroklorida
Larutan kinin HCl dengan konsentrasi 0,04 mg/ml diambil 12,5 ml dan
diencerkan hingga 50 ml. Kemudian dibuat seri pengenceran, yaitu :

No. Tabung
Dekokta
(ml)
Aquadest
(ml)
Konsentrasi

4,2

4,4

4,6

4,8

5,2

5,4

5,6

5,8

5,8

5,6

5,4

5,2

4,8

4,6

4,4

4,2

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

0,00

54

56

58

(mg/ml)
42
44
46
48
5
52
Pembuatan Larutan ekstrak dan pengenceran

Dibuat ekstrak simplisia dengan memanaskan 0,2 g simplisia pada 50 ml air


minum selama 60 menit.
Didinginkan, disaring dan ditandabataskan dengan air minum sampai 50 ml.
Dipipet 0,5 ml ekstrak dan diencerkan sampai 50 ml sehingga setara
dengan 0,04 mg/ml. Kemudian dibuat seri pengenceran, yaitu
No. Tabung
Dekokta (ml)
Aquadest
(ml)
Konsentrasi
(mg/ml)

1
1

2
2

3
3

4
4

5
5

6
6

7
7

8
8

9
9

10
10

0,00

0,00

0,01

0,01

0,02

0,02

0,03

0,03

0,02

0,04

Pengujian Derajat Kepahitan

Dibilas mulut dengan air minum lalu dicicipi 10 ml larutan uji kedalam mulut
dipangkal lidah selama 30 detik dari konsentrasi paling encer.
Page | 2

Jika saat 30 detik tidak terasa pahit, maka ludahkan dan ditunggu 1 menit
untuk memastikan hal tersebut karena sensitivitas lambat.
Dibilas mulut dengan air minum dan diberi jeda 10 menit untuk tiap
konsentrasi.
Kemudian pengujian pada larutan sampel lebih baik dilakukan dimulai pada
tabung kelima. Apabila menimbulkan rasa pahit maka temukan ambang pahit
dari tabung 1 sampai 4. Namun jika tidak terasa pahit maka temukan ambang
pahit pada tabung 6-10.
Dihitung nilai kepahitan dalam satuan unit per g dengan menggunakan
rumus :

2000 x c
axb

dimana,

a = konsentrasi larutan stock (ST) ( mg/ml)


b = Volume ST (ml) pada tabung dengan konsentrasi ambang pahit.
c = jumlah kinin HCl (mg) pada tabung dengan konsentrasi ambang pahit.

D. PENGAMATAN
Pembuatan larutan stok dan seri pengenceran kinin hidroklorida
Larutan
kinin
hidroklorida
berbentuk
hablur
jarum
mengkilat;putih;tidak berbau;rasa sangat pahit.
Dibuat larutan stok kinin hidroklorida dengan konsentrasi 0,04 mg/ml.

Konsentrasi larutan stok kinin hidroklorida 0,04 mg/ml.

Pengenceran larutan stok diambil 12,5 ml dan diencerkan hingga 50 ml


sehingga konsentrasi menjadi 0,01 mg/ml.

Page | 3

Dibuat 9 tabung larutan seri pengenceran dengan konsentrasi tiap tabung


(mg/ml)

jumlah dekokta(ml)
jumla hlarutan (ml)

= 0,01 mg/ml x

4,2

4,4

4,6

ml

ml

ml

4,8 ml

5 ml

5,2 ml

5,6

5,4 ml

5,8 ml

ml

Ad 10 ml air minum
0,004

0,004

0,004

0,004

2No.

6 2

83

Tabung
Dekokta
(ml)
Aquades
t (ml)
Konsentr
asi

0,005
4

0,005

0,005

2
5

64

0,005
76

0,005

8 8

4,2

4,4

4,6

4,8

5,2

5,4

5,6

5,8

5,8

5,6

5,4

5,2

4,8

4,6

4,4

4,2

0,00

0,00

0,00

0,00

0,0

0,00

0,00

0,00

0,00

42
44
46
48
05
52
54
56
58
(mg/ml)
Setelah dibuat larutan seri kinin hidroksida, maka dicicipi larutan kinin
hidroksida dibagian pangkal lidah dari konsentrasi paling rendah. Ternyata
pada tabung pertama sudah merasakan rasa pahit. Maka nilai ambang pahit
kinin hidroksida pada konsentrasi 0,0042 mg/ml.

Pembuatan larutan uji dan pengenceran


Nama simplisia
: Jinten hitam (serbuk)
Nama latin simplisia
: Nigella semen
Nama latin tumbuhan
: Nigella sativa L.
Serbuk jinten hitam halus ditimbang dengan berat 0,2013 gram.
Hasil rebusan jinten hitam (serbuk) tidak larut pada air minum panas
sehingga masih membentuk granul kecil.

Konsentrasi larutan stok zat uji = 0,2g/50mL

Page | 4

Pengenceran larutan stok uji diambil 0,5 ml dan diencerkan hingga 50 ml


sehingga konsentrasi menjadi 0,04 mg/ml.
Dibuat 10 tabung larutan seri pengenceran zat uji dengan konsentrasi tiap
tabung (mg/ml)

jumlah dekokta(ml)
jumla hlarutan (ml)

= 0,04mg/mL x

1 ml

2 ml

3 ml

4 ml

5 ml

6 ml

7 ml

8 ml

9 ml

10 ml

0,028

0,032

0,036

Ad 10 ml air minum
0,004

0,008

0,012

No. Tabung
Dekokta (ml)
Aquadest
(ml)
Konsentrasi
(mg/ml)

0,016

0,02

0,024

0,04

1
1

2
2

3
3

4
4

5
5

6
6

7
7

8
8

9
9

10
10

0,00

0,00

0,01

0,01

0,02

0,02

0,03

0,03

0,02

0,04

Setelah dibuat larutan seri jinten hitam (serbuk), maka dicicipi larutan jinten
hitam (serbuk) dibagian pangkal lidah dimulai pada tabung 5. Ternyata pada
tabung kelima belum terasa pahit, begitu seterusnya hingga tabung 10 tidak
dirasakan pahit. Sehingga nilai indeks kepahitan tidak dapat dihitung.

Perbandingan indeks kepahitan pada tiap simplisia


Nama simplisia
Daun imba
Batang brotowali
Herba sambiloto
Biji mahoni
Jinten hitam
Buah pare

Tabung ke7
3
>10
10
>10
10

Indeks kepahitan
21,4285
733,33
210
210
Page | 5

Perhitungan derajat kepahitan tidak dapat dihitung karena pada


tabung ke-10 belum menimbulkan rasa pahit.

E. PEMBAHASAN
Pada praktikum ini, kami mengamati indeks kepahitan dengan
merasakan pahit sejumlah tertentu larutan seri uji dengan indra pengecap.
Prinsipnya adalah penentuan derajat kepahitan dengan indera pengecap dari
suatu simplisia yang dibandingkan dengan zat lain misalnya kinin hidroklorida.
Simplisia yang digunakan yaitu jintan hitam berbentuk serbuk dimana jintan
merupakan tanaman rempah yang termasuk kedalam famili Ranunculaceae.
Jenis lain yang banyak digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah Jintan
putih (Cuminum cyminum), dan Jintan Manis (Pimpinella anisum). Jintan Putih
dan Jintan manis yang juga dikenal dengan nama adas manis banyak
digunakan sebagai bumbu masakan atau bahan tambahan jamu-jamuan,
namun jintan hitam selain berfungsi sebagai bumbu masak juga lebih banyak
dikenal masyarakat sebagai tanaman obat tradisional yang cukup banyak
mengandung

khasiat

dan

manfaat

dan

sangat

berpotensi

untuk

dikembangkan. Jintan hitam dipercaya berasal dari Mediterania (seputar Laut


Tengah), sebelum tersebar ke berbagai belahan dunia, termasuk ke Asia.
Bentuknya kecil berserabut, ukurannya tidak lebih dari 3 mm, dapat tumbuh
sampai pada ketinggian 1100 m dari permukaan laut. Biasanya ditanam di
daerah pegunungan ataupun sengaja ditanam dihalaman atau ladang sebagai
tumbuhan rempah-rempah. Daerah sentra produksi Jintan di Indonesia adalah
Sumatera dan Jawa serta di berbagai daerah lainnya (Jalod, 2009).
Klasifikasi dari Jintan hitam adalah sebagai berikut :

Page | 6

Kingdom
Divisio

: Plantae
: Magnoliophita

Class

: Magnoliopsida

Family

: Ranunculaceae

Genus

: Nigella

Species

: Nigella sativa. Linn

Lokal

: Jintan hitam, dan Jintan hitam pahit.

Asing

: Black seed, Black cumin, Nutmeg flower, Schwarzcummel.

Biji jintan hitam antara lain mengandung minyak atsiri, minyak lemak, dan
saponin. Kandungan lainnya adalah melantin, zat pahit nigelin, nigelon, dan
timokinon. Minyak atsiri pada umumnya bersifat anti bakteri, anti peradangan
dan menghangatkan perut. Thymoquinone dalam Jintan hitam berkhasiat
antiradang dan antinyeri, Senyawa aktif nigelon dan thymoquinone membantu
meningkatkan sistem kekebalan tubuh, mencegah terjadinya kejang otot dan
melebarkan saluran pernapasan, sehingga Jintan hitam berkhasiat untuk
penyakit pernapasan seperti asma dan batuk kering. Nigellone juga bersifat
antihistamin, sehingga membantu mengurangi alergi.
Indeks kepahitan jinten hitam (serbuk) ini dibandingkan dengan
kepahitan kinin hidroksida. Dimana kinin hidroklorida berasal dari kina yang
merupakan tanaman obat berupa pohon yang berasal dari Amerika Selatan
yang ditanam pada ketinggian 900-3.000 m dpl (Sultoni, 1995).
Klasifikasi dari Kina yaitu :
Divisi

: Spermatophyta

Sub divisi : Angiospermae


Kelas

: Monocotyledonae

Keluarga : Rubiaceae
Genus

: Chinchona

Spesies

: Chinchona spp.

Simplisia : Chinchona cortex


Tanaman berupa pohon dengan tinggi hingga 17m, cabang berbentuk
galah yang bersegi 4 pada ujungnya, mula-mula berbulu padat dan pendek
kemudian agak gundul dan berwarna merah. Daun letaknya berhadapan
dan berbentuk elips, lama kelamaan menjadi lancip atau bundar, warna
hijau sampai kuning kehijauan, daun gugur berwarna merah. Tulang daun
terdiri dari 11 12 pasang, agak menjangat, berbentuk galah, daun
Page | 7

penumpu sebagian berwarna merah, sangat lebar. Ukuran daun panjang 24


25cm, lebar 17 19cm. Kelopak bunga berbentuk tabung, bundar, bentuk
gasing, bergigi lebar bentuk segitiga, lancip. Bunga wangi, bentuk bulat
telur sampai gelendong.
Kulit kina banyak mengandung alkaloid-alkaloid yang berguna untuk
obat. Di antara alkaloid tersebut ada dua alkaloid yang sangat penting yaitu
kinine untuk penyakit malaria dan kinidine untuk penyakit jantung. Manfaat
lain dari kulit kina ini antara lain adalah untuk depuratif, influenza, disentri,
diare, dan tonik (Sultoni, 1995).
Penetapan

mutu

suatu

simplisia

dalam

standarisasi

simplisia,

dipengaruhi oleh beberapa parameter. Salah satunya adalah parameter


kadar

senyawa

aktif

atau

identitas,

dimana

salah

satu

komponen

parameternya adalah penentuan derajat kepahitan simplisia. Alasan derajat


kepahitan perlu diperhitungkan, karena rasa pahit dari suatu bahan obat
dapat memiliki efek terapeutik. Rasa pahit dapat meningkatkan sekresi
pada saluran pencernaan, terutama sekresi asam lambung. Dengan
meningkatnya sekresi asam lambung akan membuat seseorang menjadi
meningkat nafsu makannya, sehingga dengan simplisia yang memiliki rasa
pahit dapat digunakan sebagai suplemen penambah nafsu makan.
Hal yang pertama dilakukan adalah menyiapkan alat dan bahan yang
akan digunakan dalam keadaan bersih dan pembilasan alat menggunakan
air minum karena praktikum berhubungan dengan indera pengecap secara
langsung. Kemudian selanjutnya pembuatan larutan seri pengenceran kinin
hidroklorida sebagai standar yang biasa digunakan dalam pembanding
terhadap indeks kepahitan zat uji lain karena kinin ini berasa pahit dan
banyak mengandung alkaloid. Standar kepahitan dari kinin hidrokloridanya
yaitu 1g/2000 ml atau sebanding dengan 0,005 g/ml. Pada praktikum tidak
digunakan kinin hidroklorida murni, namun digunakan kinin hidroklorida
berupa tablet sehingga kemurniannya berkurang karena ada zat tambahan
pada tablet dan akhirnya konsentrasi yang dibuat untuk larutan stok kinin
hidroklorida adalah 0,04 mg/ml yang seharusnya 1 mg/ml. Dan pelarut yang
digunakan adalah air minum karena praktikum langsung berhubungan
dengan indera pengecap.
Setelah dibuat larutan seri pengenceran kinin hidroklorida dari larutan
stok maka dicicipi dari mulai tabung pertama. Ternyata sejak tabung
pertama sudah dirasakan pahit yang cukup kuat sehingga dinilai pada
tabung pertama dengan konsentrasi kinin hidroklorida 0.0042 mg/ml
Page | 8

merupakan ambang batas rasa pahit dari praktikan. Larutan yang dicicipi
ditempatkan sedemikian rupa sehingga tertahan dibagian pangkal lidah
karena disitulah reseptor rasa pahit berada. Ambang batas pahit ini akan
berbeda-beda pada tiap orang. Karena rasa pahit yang timbul dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor. Salah satunya jika orang tersebut tidak
suka atau jarang mengkonsumsi bahan makanan yang berasa pahit, maka
reseptor rasa pahitnya akan sensitif terhadap rasa pahit. Namun jika orang
tersebut sudah sering mengkonsumsi bahan makanan yang berasa pahit,
maka reseptor pahit tersebut bergeser kesensitifan pahitnya, sehingga akan
terjadi

pergeseran

pada

ambang

batas

pahitnya.

Hal

lain

yang

mempengaruhinya adalah anatomi lidah orang yang mencicipinya rusak jadi


rasa yang dirasakan tidak dihantarkan ke pusat otak untuk diproses
sehingga rasanya tidak dapat dirasakan. Selain itu juga apabila orang
tersebut telah makan makanan yang lain, misalnya makan makanan yang
manis, jadi rasa pahitnya tidak terlalu terasa.

Lidah adalah kumpulan otot rangka pada bagian lantai mulut yang
dapat membantu pencernaan makanan dengan mengunyah dan menelan.
Lidah dikenal sebagai indera pengecap yang banyak memiliki struktur tunas
pengecap. Lidah juga turut membantu dalam tindakan bicara. Juga
membantu membolak balik makanan dalam mulut (Anonim,2011). Sebagian
besar, lidah tersusun atas otot rangka yang terlekat pada tulang hyoideus,
tulang rahang bawah dan processus styloideus di tulang pelipis. Terdapat
dua jenis otot pada lidah yaitu otot ekstrinsik dan intrinsik.
Lidah memiliki permukaan yang kasar karena adanya tonjolan yang
disebut papila. Terdapat tiga jenis papila yaitu:
1. papila filiformis (fili=benang); berbentuk seperti benang halus;
2. papila sirkumvalata (sirkum=bulat); berbentuk bulat, tersusun seperti
huruf V di belakang lidah;
3. papila fungiformis (fungi=jamur); berbentuk seperti jamur.
Setelah dilakukan pengujian ambang pahit terhadap larutan kinin
hidroklorida, maka pengujian selanjutnya adalah pengujian derajat pahit
Page | 9

terhadap simplisia uji, yaitu jinten hitam. Hal yang sama dilakukan pada
jinten

hitam

serbuk

yaitu

membuat

larutan

stok

dan

larutan

seri

pengenceran. Sebelumnya serbuk jinten hitam dipanaskan selama 1 jam


untuk melarutkan bahan. Kemudian disaring untuk memisahkan bahan yang
tidak larut. Dan dibuatlah larutan stok dan seri pengenceran sesuai
prosedur. Kemudian dicicipi mulai pada tabung no 5 ternyata tidak terasa
pahit hingga pada tabung 10 pun tidak dirasakan pahit. Maka dari itu indeks
kepahitan tidak dapat dihitung karena dari tabung 1 sampai tabung 10 tidak
ada yang terasa pahit.
Pada Tabung 10 serbuk jinten hitam yang memiliki konsentrasi 0,04
mg/ml tidak memberikan rasa pahit dilidah, sedangkan kinin hidroklorida
yang konsentrasinya lebih kecil yaitu 0,0042 mg/ml memberikan rasa pahit.
Ini artinya kandungan senyawa yang memberikan rasa pahit pada kinin
hidroksida sangat banyak dibandingkan dengan jinten hitam.
Derajat kepahitan serbuk jinten hitam dengan simplisia yang lainnya
yaitu daun imba, batang brotowali, herba sambiloto, biji mahoni, dan buah
pare menghasilkan hasil yang berbeda- beda. Ternyata indeks kepahitan
tertinggi ada pada batang brotowali yang pada tabung ke-3 sudah dirasakan
pahit. Sedangkan derajat paling rendah terdapat pada herba sambiloto dan
serbuk jinten hitam karena pada tabung ke-10 belum menimbulkan rasa
pahit.
Nilai kepahitan berperan dalam penentuan takaran atau kadar
simplisia yang harus digunakan agar memiliki efek terapeutik. Karena nilai
kepahitan ini berhubungan erat dengan sekresi asam lambung yang
dihasilkan. Setiap simplisia memiliki nilai kepahitan yang berbeda-beda, dan
praktikan

yang

melakukan

pengujian

pun

akan

berbeda-beda

merasakannya. Untuk mengurangi banyaknya faktor yang mempengaruhi


perbedaan tersebut, maka simplisia yang akan diuji derajat kepahitannya
harus dirasakan atau dilakukan pengujian dalam waktu yang sama dan
dengan orang yang sama. Sehingga dalam rentang waktu tersebut, masingmasing orang yang

melakukan pengujian dikondisikan dalam suatu

perlakuan yang sama dan pengujian harus dilakukan dengan 1 orang


dengan orang yang sama karena sensitifitas tiap orang berbeda-beda, jadi
bila dilakukan oleh orang yang berbeda derajat kepahitan yang didapat
akan berbeda pula.
Selain untuk penentuan kadar simplisia yang akan digunakan sebagai
penstimulasi nafsu makan, nilai kepahitan ini juga berperan dalam
pemilihan bentuk sediaan. Dengan nilai kepahitan tertentu agar dapat
Page | 10

diterima oleh konsumen, simplisia mengalami berbagai pengolahan lagi.


Seperti

dibentuk

menjadi

kapsul,

sirup,

pil,

dan

lain-lain.

Dengan

mengetahui nilai kepahitan, kita dapat memprediksi, dengan sediaan yang


bagaimana simplisia tersebut tidak terlalu dirasakan pahit oleh konsumen
sehingga konsumen mau untuk mengkonsumsi obat tersebut.

F. KESIMPULAN
Derajat kepahitan simplisia dapat ditentukan dengan membandingkan
kepahitan simplisia dengan larutan kinin hidroklorida.
Konsentrasi ambang pahit adalah konsentrasi dimana dapat memancing
sensasi pahit secara terus-menerus selama 30 detik.
Ambang pahit kinin hidroklorida terdapat pada konsentrasi 0,0042
mg/ml.
Nilai kepahitan berperan dalam penentuan kadar dari suatu simplisia
agar dapat memiliki efek terapeutik (stimulasi nafsu makan) serta untuk
penentuan bentuk sediaan jadi yang akan dikonsumsi oleh konsumen.
Nilai indeks kepahitan jinten hitam tidak dapat dihitung karena dari
larutan seri pengenceran yang dibuat tidak ada yang terasa pahit.
Urutan indeks kepahitan dari yang paling tinggi terdapat pada batang
brotowali, daun imba, biji mahoni, buah pare, herba sambiloto dan
jinten hitam.

DAFTAR PUSTAKA

Farmakope Indonesia Edisi III.1979. Departemen kesehatan Republik

Indonesia.
Medical Herb Index in Indonesia. 1995. PT.Eisai Indonesia.
Sultoni, A. 1995. Petunjuk Kultur Teknis Tanaman Kina. Asosiasi
Penelitian dan Pengembangan Perkebunan Indonesia. Pusat Penelitian
Teh dan Kina Gambung. Jakarta, Februari 2000 Sumber : Sistim
Informasi Manajemen Pembangunan di Perdesaan, BAPPENAS Editor :
Kemal Prihatman.
Page | 11

Anonim,

2010.

Tanaman

Obat

Jintan

Hitam.

Diakses

dari

http://jalod.wordpress.com/2009/06/05/mengenal-manfaat-jintan-hitam/.

Pada tanggal 16 Desember 2012.


Jalod,
2009.Mengenal
Manfaat

Jinten

Hitam.

Diakses

dari

http://jalod.wordpress.com/2009/06/05/mengenal-manfaat-jintan-hitam/.
Pada tanggal 16 Desember 2012.

Page | 12