Anda di halaman 1dari 24

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA FISIK II

PENENTUAN TITIK BEKU LARUTAN

Nama
NIM
Kelompok
Kelas
Asisten

: Lailatul Badriyah
: 121810301036
: V (Lima)
:A
: Hefinda Erfiandika

LABORATORIUM KIMIA FISIKA


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2014

BAB 1. PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang
Zat terbagi menjadi tiga fase yaitu fasa cair, fase padat dan fase gas.

Perubahan fase cair ke fase padat disebut membeku. Setiap senyawa memiliki titik
beku yang berbeda antara yang satu dengan yang lain. Semakin tinggi nilai titik
bekunya maka zat tersebut akan cepat mengalami pembekuan dan begitupa
sebaliknya. Titik beku sendiri merupakan temperatur pada saat larutan setimbang
dengan pelarut padatnya. Penurunan titik beku adalah selisih antara titik beku larutan
dengan titik beku larutan murninya. Penurunan titik beku (Tf) dan kenaikan titik
didih merupakan akibat dari penurunan tekanan uap.
Penurunan titik beku larutan mendiskripsikan bahwa titik beku suatu pelarut
murni akan mengalami penurunan jika ditambahkan zat terlarut didalamnya. Adanya
zat terlarut menyebabkan titik beku larutan lebih rendah daripada titik beku pelarut
murni, sehingga pengukuran titik beku larutan didasarkan jumlah komponen zat
terlarut yang dinyatakan dengan fraksi mol. Menentukan penurunan titik beku larutan
dibutuhkan tetapan penurunan titik beku larutan. Penurunan titik beku tidak
bergantung kepada jenis zat terlarut, tetapi hanya bergantung pada konsentrasi
larutan, untuk larutan encer, penurunan titik beku sebanding dengan kemolalan
larutan.
Aplikasi penurunan titik beku larutan dalam kehidupan sehari-hari adalah
pembuatan campuran pendingin. Cairan pendingin adalah larutan berair yang
memiliki titik beku jauh di bawah 0oC. Cairan pendingin digunakan pada pabrik es,
juga digunakan untuk membuat es putar. Cairan pendingin dibuat dengan melarutkan
berbagai jenis garam ke dalam air. Pada pembuatan es putar cairan pendingin dibuat
dengan mencampurkan garam dapur dengan kepingan es batu dalam sebuah bejana
berlapis kayu. Pada pencampuran itu, es batu akan mencair sedangkan suhu campuran
turun sementara itu, campuran bahan pembuat es putar dimasukkan dalam bejana lain

yang terbuat dari bahan stainless steel. Bejana ini kemudian dimasukkan ke dalam
cairan pendingin, sambil terus-menerus diaduk sehingga campuran membeku.
Percobaan kali ini praktikan akan mengidentifikasi suatu senyawa dengan
menentukan penurunan titik beku molal pelarut dan menentukan berat molekul zat
non volatil yang tidak diketahui.

1.2

Tujuan
Tujuan dari percobaan ini anatara lain sebagai berikut:

1.

Menentukan tetapan penurunan titik beku molal pelarut.

2.

Menentukan berat molekul zat non volatil yang tidak diketahui.

BAB 2. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 MSDS (Material Safety Data Sheet)


2.1.1 Garam (NaCl)
Garam dapur merupakan suatu mineral yang sering dikonsumsi
manusia. Garam dapur berasal dari kristalisasi air laut yang kemudian dibersihkan
dan diberi beberapa kandungan mineral lain. Garam dapur sangat diperlukan bagi
tubuh namun pengonsumsian secara berlebih dapat menimbulkan penyakit tekanan
darah tinggi. Garam dapur juga sering ditambahkan pada makanan sebagai bumbu.
Garam yang ditambahkan iodium digunakan sebagai pencegah penyakit gondok.
Garam dapur biasanya paling banyak mengandung garam natrium klorida atau NaCl.
NaCl mempunyai massa molar 58,44 gram/mol. Kerapatan atau massa jenisnya
adalah 2,16 gram/cm3.NaCl memiliki titik leleh 801oC dan titik didih 1465oC. Garam
natrium klorida memiliki kelarutan dalam air sebesar 35,9 gram/100 mL air pada
suhu 25oC. Natrium klorida (NaCl) yang dikenal sebagai garam adalah zat yang
memiliki tingkat osmotik yang tinggi. Garam dapur tidak berbahaya bila tertelan
namun jika dalam jumlah banyak dapat menyebabkan penyakit tekanan darah tinggi
dalam waktu yang lama. Pertolongan yang harus dilakukan membilas mata dan kulit
yang terkena garam dapur selama kurang lebih 15 menit (Sciencelab, 2014).

2.1.2 Asam Asetat Glasial


Asam asetat merupakan nama umum dari asam etanoat. Asam asetat itu
sendiri memiliki nama alternatif lainnya yaitu asam metanakarboksilat. Rumus
molekulnya CH3COOH dan massa molarnya 60,05 g/mol. Selain itu asam asetat
memiliki nilai densitas sebesar 1,049 g/cm3. Titik didih dan titik leburnya sebesar
16,5oC dan 118,1oC. Asam asetat dalam suhu kamar berupa cairan yang tak berwarna
ataupun dapat berbentuk kristal. Asam asetat juga memiliki tingkat keasam pKa

sebesar 4,76 pada suhu kamar yaitu 25oC. Asam asetat bersifat korosif terhadap
banyak logam seperti besi, magnesium dan seng, membentuk gas hidrogen dan
garam-garam asetat (disebut logam asetat). Asam asetat termasuk zat yang stabil. Zat
yang harus dihindari termasuk alkohol, aldehida, senyawa halogen-halogen, oksidasi
agen, logam, hidroksida alkali, anhidrida, halida non-logam, permanganat, peroksida,
etanolamin, karbonat. Bahan ini sangat korosif dan menyebabkan luka bakar yang
serius. Sangat berbahaya jika tertelan dan jika terhirup lepaskan ke udara segar.
Penyimpanan asam asetat dapat dilakukan dengan memasukkan bahan ini ke dalam
suatu wadah. Simpan wadah di tempat yang sejuk dan berventilasi baik (Sciencelab,
2014).

2.1.3 Naftalen
Naftalen memiliki sifat fisik dan kimia dengan keadaan fisik dan penampilan
padat atau berbentuk kristal, berbau aromatik, berat molekul 128,19 g/mol, berwarna
putih, titik didih 218 oC (424,4 oF), titik lebur 80,2 oC (176,4 oF), Sebagian tersebar
dalam air panas, metanol, n-oktanol. Sangat sedikit terdispersi dalam air dingin.
Identifikasi bahaya untuk naftalen yaitu sangat berbahaya dalam kasus menelan,
berbahaya dalam kasus kontak mata (iritan), sedikit berbahaya dalam kasus kontak
kulit. Tindakan pertolongan pertama untuk kontak mata yaitu periksa dan lepaskan
lensa kontak, segera basuh mata dengan banyak air mengalir selama minimal 15
menit. Apabila kontak dengan kulit segera cuci dengan air yang banyak. Biarkan
korban untuk beristirahat di tempat yang berventilasi baik jika terjadi penghirupan
dan jangan dimuntahkan jika tertelan, kecuali diarahkan oleh tenanga medis untuk
melakukannya (Sciencelab, 2014).
2.2 Penurunan Titik Beku Larutan
Larutan adalah suatu campuran yang homogen dan dapat berwujud padatan,
maupun cairan. Larutan cair merupakan arutan yang paling umum dijumpai. Larutan

cair merupakan suatu zat tertentu dilarutkan dalam pelarut berwujud cairan yang
sesuai hingga konsentrasi tertentu (Brady, 2003 ).
Sifat-sifat larutan yang sama pada larutan terdapat dua jenis, yaitu sifat-sifat
larutan yang tergantung pada jenis dan sifat yang tidak bergantung pada jenis zat
terlarut namun hanya tergantung pada konsentrasi zat terlarut saja, sehingga semakin
besar konsentrasi yang ditambahkan dalam larutan, maka penurunan titik bekunya
semakin besar. Larutan yang memiliki konsentrasi sama akan memberikan sifat yang
sama. Sifat larutan yang termasuk golongan ini disebut sifat-sifat koligatif larutan
(Purba,1987).
Titik beku adalah temperatur yang menunjukkan pada saat larutan setimbang
dengan pelarut padatnya. Larutan akan membeku pada temperatur lebih rendah dari
pelarutnya. Tekanan uap larutan selalu lebih rendah dari pada pelarut murni
(Soekardjo, 1989).
Sifat koligatif larutan merupakan sifat-sifat yang hanya ditentukan oleh
jumlah partikel dalam larutan dan tidak bergantung jenis partikelnya. Penambahan
pada zat terlarut kedalam suatu pelarut menimbulkan perubahan fisik pelarut tersebut
besarnya sebanding dengan molalitas zat terlarut yang ditambahkan, sifat fisik
tersebut bisa berupa penurunan tekanan uap, kenaikan titik didih, penurunan titik
beku, dan tekanan osmosis. Keempat jenis sifat fisik diatas merupakan jenis dari sifat
koligatif (Soekardjo, 1989).
Zat terlarut harus diketahui agar bisa ditentukan ketergantungan sifat koligatif
larutan dengan konsentrasinya. Susunan kimia zat terlarut tidak menjadi masalah,
tetapi konsentrasi partikel zat terlarutnya yang penting karena itu, kita dapat
menggunakan gejala-gejala ini untuk menghitung massa molekul zat. Cara untuk
mendapatkan massa molekul suatu zat dalam percobaan harus ditentukan dua macam
nilai yaitu, massa dari zat dan jumlah molnya. Sesudah diketahui maka perbandingan
antara jumlah gram dan molnya merupakan harga dari massa molekul zat (BM). Jika
harga penurunan titik beku Tb, serta konstanta penurunan titik beku diketahui maka
dapat dihitung molalitas zat dalam larutan dengan menggunakan persamaan:

= /
Molalitas yang didapat menyatakan jumlah mol solut per kg solven. Jadi, harga
perbandingan ini dengan jumlah kilogram solven yang sebenarnya ada dalam larutan
akan didapat jumlah mol solut dalam larutan yang kita cari tersebut. Akhirnya massa
molekul atau berat molekul (Mr) adalah perbandingan gram solut dan mol solut
(Brady, 1999).
Penentuan Tf dan Tb harus dilakukan pada suhu yang mengalami perubahan
(suhu tidak konstan) sehingga dipakai satuan konsentrasi molal yang tidak
bergantung pada suhu. Satuan konsentrasi molar tidak cocok dipakai karena
perubahan suhu akan mempengaruhi keadaan volume. Harga Kf dan Kb
merupakan tetapan yang hanya bergantung pada jenis pelarut, setiap pelarut memiliki
harga Kf dan Kb masing-masing diperoleh dari hasil suatu eksperimen yaitu
dengan cara mengukur Tf dan Tb dari larutan (Achmad, 1996).
Hukum Roult menyatakan bahwa tekanan uap suatu komponen dalam suatu
larutan senilai dengan tekanan uap suatu larutan dikali dengan fraksi mol komponen
yang menguap dalam larutan. Meurut Roult untuk menentukan titik beku larutan yang
sangat encer berlaku :
Tf = m. Kf
dimana,
Tf = penurunan titik beku
Kf = tetapan penurunan titik beku molal atau tetapan krioskopik
m = kemolalan
Berdasarkan persamaan diatas dapat disimpulkan bahwa :
1. Tekanan tetap menyebabkan penurunan titik beku suatu larutan encer berbanding
lurus
dengan konsentrasi massa.
2. Larutan encer semua zat terlarut yang tidak mengion, dalam pelarut yang sama,

dengan konsentrasi molal yang sama, mempunyai titik beku yang sama, pada
tekanan yang sama (Achmad,1996).
Suatu zat pelarut jika kedalamnya dimasukkan zat lain yang tidak mudah
menguap (non volatil), maka tenaga bebas pelarut tersebut akan turun. Penurunan
tenaga bebas ini mengikuti persamaan Nernst.
G1 G = RT ln x
G1 G = Penurunan tenaga bebas pelarut
Dimana : R = Tetapan gas murni umum
T = suhu mutlak
x = Fraksi mol pelarut dalam larutan
Penurunan energi bebas ini akan menurunkan kemampuan zat pelarut untuk berubah
menjadi fase uapnya, sehingga tekanan uap pelarut dalam larutan akan lebih rendah
bila dibandingkan dengan tekanan uap pelarut yang sama dalam keadaan murni.
Pengaruh penurunan tekanan uap terhadap titik beku larutan mudah difahami dengan
bantuan diagram fasa. Misalnya, titik beku larutan Tf lebih rendah dibandingkan
dengan titik beku pelarut murni Tof. Dari uraian diatas jelas bahwa penurunan titik
beku larutan
Tf = Tof Tf
Besarnya tergantung pada fraksi mol pelarut. Karena fraksi mol zat terlarut X1 :
menurut persamaan X = 1- X1 maka Tf dapat dinyatakan sebagai X1 berikut:
Tf = (R(Tof )2/Hf) X1
Dimana Hf adalah panas pencairan pelarut. Jika m ml zat terlarut ke dalam 1000
gram zat terlarut, maka di dapat larutan dengan molarutas m. Sehingga larutan
tersebut mempunyai fraksi mol zat terlarut sebesar
X1 = m / (1000/M)+ m)
Dimana adalah berat molekul zat pelarut. Untuk larutan encer m mendekati 0 (nol),
maka X1 = mM/1000, sehingga penurunan titik beku larutan dapat di tulis :
Tf = (R(Tof )2 M.m)/1000Hf

Bila di substitusikan Kf = (R(Tof )2 M)/1000Hf kedalam persamaan (5), maka akan


diperoleh persamaan yang sederhana, yaitu persamaan (6) diatas.
Dari X1 = m.M/1000 di atas didapat (persamaan 4) didapat
m = 1000 X1/M
Sedangkan X1= m1 / (m1 + m) = (W1/M1) / {(W1/M1 + W/M)}
W1 = berat zat terlarut
M1 = BM zat terlarut
W = berat pelarut
Oleh karena larutan encer, maka (W1/M1) >>(W/M), sehingga didapat :
X1 = (W1.M) / (W.M1) dan Tf = (1000/kf) / M1 x (W1/W)
Rumus untuk menghitung harga kf adalah :
kf = (W.M1.Tf) / (1000 W1)
Sedangkan runus untuk menghitung BM zat terlarurt :
M1 = (1000.kf ) / Tf x (W1/W)
(Tim kimia fisik, 2014).
Gejala penurunan titik beku analog dengan peningkatan titik didih. Jika zat
terlarut mengkristal bersama pelarut, maka situasinya akan lebih rumit. Pelarut padat
murni berada dalam kesetimbangan dengan tekanan tertentu dari uap pelarut,
sebagimana ditentukan oleh suhunya. Pelarut dalam larutan berada dalam
kesetimbangan dengan tekanan tertentu dari uap pelarut. Adanya zat padat dan
pelarut air dalam larutan bersama-sama, mereka harus memiliki tekanan uap yang
sama. Ini berarti bahwa suhu beku larutan dapat diidentifikasi selagi suhu ketika
kurva tekanan uap pelarut padat murninya berpotongan dengan kurva larutan. Jika zat
terlarut ditambahkan ke dalam larutan, tekanan uap pelarut turun dan titik beku.
Selisih dengan demikian bertanda negatif dan penurunan titik beku dapat diamati
(Oxtoby, 2001).

BAB 3. METODOLOGI PERCOBAAN

3.1

Alat dan Bahan

3.1.1 Alat

3.1.2

Termometer alkohol

Tabung gelas

Pengaduk

Stopwatch

Gelas beker 100 cc

Erlenmeyer

Gelas ukur 100 cc

Bahan
-

air

Es

Garam

Asam cuka

Asam cuka glasial

Naphtalen

Zat x

3.2 Skema Kerja


3.2.1 skema alat

B
C

Keterangan:
A. Thermometer
B. Tabung gelas 1
C. Pengaduk
D. Tabung gelas 2
E. Tabung gelas 3
3.2.2 Prosedur Kerja
3.2.2.1 Persiapan
20 ml Asam Cuka Glasial

diisi ke dalam beaker gelas

beaker gelas kemudian dimasukkan ke dalam


tabung gelas yang berisi air

dimasukkan tabung gelas ke dalam tabung gelas


yang berisi es, air dan garam

Hasil

3.2.2.2 Penentuan tetapan penurunan titik beku molal


20 mL Asam cuka glasial
- dimasukkan kedalam beaker gelas,
didinginkan, dicatat suhunya setiap
menit
- Diamati pelarut (membekku atau
belum) jika suhu sudah tetap
- Diulangi percobaan diatas sekali lgi
- Ditentukan Tf
- Dimasukkan naftalen
- Diulangi percobaan,dicatat Tf
- Didapat tf
- Di hitung Kf
Hasil

3.2.2.3 Penentuan BM zat x


Larutan percobaan I
- Ditambah 2 gram zat x
- Diamati Tf
- Dihitung Tf
- Dihitung BM zat x
Hasil

BAB 4. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Percobaan


1. Pengukuran Titik Beku Asam Cuka Glasial

t (Waktu=menit)

Temperatur (oC)

Awal

27

26

23

20

20

18

17

17

17

4.1.2 Pengukuran Titik Beku Asam Cuka Glasial Setelah Penambahan Naftalen
t (Waktu=menit)

Temperatur (oC)

Awal

27

19

15

13

13

4.1.3 Pengukuran Titik Beku Asam Cuka Glasial Setelah Penambahan Naftalen dan
Zat X
t (Waktu=menit)
Awal

Temperatur (oC)
26

15

11

11

4.2 Pembahasan
Percobaan pertama ini membahas tentang penentuan titik beku larutan. Titik
beku larutan ialah keadaan dimana pada temperatur tersebut terjadi kesetimbangan
antara larutan dengan pelarut padatnya. Percobaan ini bertujuan untuk menentukan
tetapan penurunan titik beku molal pelarut dan menenentukan berat molekul zat non
volatil yang tidak diketahui. Penurunan titik beku adalah selisih antara titik beku
larutan dengan titik beku larutan murninya, dimana larutan akan membeku jika
temperatur larutan tersebut lebih rendah daripada titik beku larutan murninya.
Penurunan titik beku merupakan salah satu dari sifat koligatif larutan, yaitu suatu
sifat larutan yang hanya dipengaruhi oleh jumlah zat dan tidak dipengaruhi oleh
jenisnya. Syarat dari sifat koligatif larutan adalah zat terlarut tidak mudah menguap
(non volatil) sehingga tidak memberi kontribusi pada uapnya dan zat terlarut tidak
larut dalam pelarut padat. Penambahan zat non volatil ini berkaitan dengan penurunan
tenaga bebas dari pelarut. Penurunan tenaga bebas ini menyebabkan penurunan
terhadap kemampuan pelarut untuk berubah menjadi fase uapnya sehingga tekanan
uap pelarut dalam larutan akan lebih rendah bila dibandingkan dengan tekanan uap
pelarut yang sama dalam keadaan murni. Penurunan tekanan uap ini sebanding
dengan penurunan titik beku sehingga semakin kecil penurunan tekanan uap, maka
semakin kecil pula penurunan titik bekunya dan sebaliknya.
Percobaan yang pertama yaitu penentuan tetapan penurunan titik beku asam
cuka glasial. Proses pertama yang dilakukan yaitu merangkai set alat yang sesuai
dengan prosedur kerja. Gelas piala 1 yang berisi asam cuka glasial 20mL dan
termometer dimasukkan ke dalam gelas piala 2 yang berisi air dan kemudian
dimasukkan ke dalam gelas piala 3 yang berisi campuran air, es dan garam. Fungsi

penambahan garam pada tabung gelas 3 yaitu untuk menurunkan titik beku larutan
sehingga suhu yang dingin mampu dipertahankan walaupun es dalam gelas piala telah
mencair. Pada gelas piala 2 diisi dengan air, berfungsi untuk mencegah pendinginan
yang terlalu cepat. Asam cuka glasial pada gelas piala 1 mula-mula diukur suhu
awalnya

sebelum dimasukkan ke dalam gelas piala 2 dengan menggunakan

termometer alkohol dan diperoleh hasil suhunya yaitu sebesar 27oC. Penggunaan
termometer alkohol ini disebabkan karena termometer alkohol dapat mengukur suhu
yang sangat rendah, sebab titik beku alkohol -130oC dan termometer alkohol lebih
teliti, sebab untuk kenaikkan suhu yang sangat kecil ternyata alkohol mengalami
perubahan volume yang besar.
Proses selanjutnya yaitu gelas piala 1 diatur sesuai dengan set alat yang sudah
disiapkan sebelumnya dan kemudian diukur asam cuka glasial setiap menitnya.
Berdasarkan hasil praktikum didapatkan suhu pada menit ke 1,2,3,4,5,6,7,8 secara
berturut-turut yaitu 27 oC, 26 oC,23 oC, 20 oC, 20 oC, 18 oC, 17 oC, 17 oC, 17 oC.
Berdasarkan hasil tersebut dapat terlihat bahwa suhu konstan atau titik beku larutan
asam cuka glasial yaitu pada suhu 17oC dan berdasarkan literatur titik beu larutan
asam cuka glasial yaitu sebesar 16,5oC, hal ini menunjukkan hasil yang diperoleh
cukup baik karena mendekati nilai pada litertatur. Dari hasil yang telah diperoleh
tersebut dapat dibuat grafik penentuan titik beku asam cuka glasial yaitu sebagai
berikut :

GRAFIK PENENTUAN TITIK BEKU ASAM CUKA GLASIAL


30

Suhu (C)

25

y = -1.35x + 25.95
R = 0.894

20
15

10

(1)

5
0
0

10

waktu (menit)

Grafik 1. Grafik penentuan titik beku asam cuka glasial


Berdasakan grafik yang telah diperoleh suhu asam cuka glasial mengalami penurunan
secara bertahap dan menghasilkan keadaan konstan pada suhu 17 oC. Fenomena
penurunan titik beku larutan dapat dijelaskan secara termodinamika. Asam asetat
glasial membeku pada suhu 17C dan pada suhu ini asam asetat glasial berada pada
kesetimbangan antara fasa cair dan fasa padat artinya kecepatan air berubah wujud
dari cair ke padat atau sebaliknya adalah sama, sehingga bisa dikatakan fasa cair dan
fasa padat pada kondisi ini memiliki potensial kimia yang sama, atau dengan kata lain
tingkat energi kedua fasa adalah sama.
Proses selanjutnya yaitu mencairkan asam cuka glasial yang membeku dalam
gelas piala 2 kemudian larutan asam cuka glasial tersebut ditambahkan dengan
naftalen. Penambahan naftalen ini berfungsi untuk menurunkan energi bebas dari
pelarut sehingga kemampuan pelarut untuk berubah menjadi fase uapnya akan
menurun pula, oleh karena itu tekanan uap pelarut dalam larutan akan lebih rendah
bila dibandingkan dengan tekanan uap pelarut yang sama dalam keadaan murni.
Penurunan tekanan uap sebanding dengan penurunan titik beku. Suhu awal campuran
ini yaitu sebesar 27C. Proses selanjutnya yaitu sama dengan proses pengukuran suhu
setiap menit seperti halnya pengukuran suhu pada asam asetat glasial. Berdasarkan

hasil praktikum pada menit ke 3 dan ke 4 diperoleh hasil yang konstan yaitu pada
suhu 13C. Titik beku asam cuka glasial mengalami penurunan dari 17 C menjadi
13C setelah penambahan naftalen. Penurunan titik beku larutan dapat ditentukan
dengan Tf Tf, sehingga diperoleh = 4 K. Nilai Tf ini kemudian digunakan

untuk menentukan nilai ketetapan penurunan titik beku, yaitu Kf = 2,685 . Hasil
tersebut berbeda dengan literatur, tetapan penurunan titik beku molal asam cuka
glasial yang terdapat pada literatur, yakni sebesar 3,90 Kkg/mol. Hal tersebut dapat
disebabkan kesalahan praktikan yang dapat menimbulkan data yang tidak valid.
Berdasarkan hasil yang telah diperoleh dapat dibuat grafik yaitu sebagai berikut :
GRAFIK PENENTUAN TITIK BEKU ASAM CUKA GLASIAL+ NAPHTALENE

30
y = -3.4x + 24.2
R = 0.830

25
20
15

10

(1)
5
0
0

waktu (menit)

Grafik 2. Grafik penentuan titik beku asam cuka glasial + naftalen


Penambahan naftalen akan menurunkan titik beku larutan asam cuka glasial
karena reaksi antara asam cuka glasial dengan naftalen terjadi melalui ikatan dipoldipol sehingga dapat melarutkan baik senyawa polar seperi garam anorganik dan gula
maupun senyawa non-polar seperti naftalen.
Proses selanjutnya yaitu dilakukan penentuan berat molekul terhadap zat X.
Perlakuannya sama seperti pada naftalen yaitu asam cuka glasial yang telah membeku

didinginkan kembali hingga mencair, kemudian ditambahkan 2 gram zat X. Suhu


diamati hingga konstan. Berdasarkan pengamatan yang telah dilakukan suhu konstan
pada menit kedua dan ketiga yaitu konstan pada suhu 11C, sehingga penurunan titik
beku pada larutan zat X adalah sebesar 6C. Suatu zat akan menurun titik bekunya
apabila ditambahkan dengan zat lain. Hal ini disebabkan karena jarak partikel antara
zat yang sejenis semakin jauh karena adanya partikel zat lain, sehingga interaksi
antara partikel yang sejenis semakin kecil dan dibutuhkan energi yang lebih besar
untuk merubah wujudnya. Dari data hasil percobaan dapat diamati bahwa waktu yang
diperlukan untuk membekukan asam cuka yang dicampur dengan naftalen dan zat X
membutuhkan waktu lebih lama daripada membekukan asam cuka murni. Berikut ini
adalah grafik penentuan titik beku campuran asam cuka glasial, naftalen dan zat x
GRAFIK PENENTUAN TITIK BEKU ASAM CUKA GLASIAL+
NAPHTALENE+ZAT X
30
y = -3.4x + 21.6
R = 0.684

Suhu (C)

25
20
15

10

(1)
5
0
0

waktu (menit)

Grafik 2. Grafik penentuan titik beku asam cuka glasial + naftalen+zat X


Nilai tetapan penurunan titik beku asam cuka glasial yang diperoleh pada
perlakuan sebelumnya kemudian diolah dalam perhitungan menghasilkan bahwa
besar berat molekul zat X adalah sebesar 85,33 gr/mol. Dari hasil praktikum kali ini
diperoleh data sebagai berikut : suhu asam cuka (Tf0) = 17C , Tf total asam cuka
yaitu 2K dan berat molekul zat X sebesar 85,33 mol. Berdasarkan hasil tersebut berat

molekul yang nilainya mendekati dengan zat x adalah berat molekul NaCl yaitu
sebesar 58,5 gr/mol. Hasil ini menunjukkan ketidaksesuain hasil praktikum dengan
literatur namun nilainya cukup mendekati, ketidaktepatan ini dapat disebabkan oleh
ketelitian praktikan yang dianggap kurang dalam mengamati perubahan suhu.

BAB 5. PENUTUP

5.1

Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum yang telah diperoleh, maka dapat disimpulkan bahwa :
1. Tetapan penurunan titik beku molal pelarut asam cuka glasial adalah sebesar
5,371 K g/mol
2. Berat molekul zat X nonvolatil adalah sebesar 85,33 gr/mol dan zat ini dianggap
sebagai zat NaCl karena memiliki berat molekul yang hampir sama.

5.2

Saran

Saran yang dapat diberikan pada percoabaan ini yaitu:


-

Pratikan hendaknya lebih berhati-hati dalam melakukan pengukuran suhu.

Praktikan seharusnya lebih teliti lagi dalam melakukan praktikum.

DAFTAR PUSTAKA
Achmad, Hiskia. 1996. Kimia Larutan. Bandung : PT Citra Aditya Bhakti
Brady, James E. 2003. Kimia Universitas Asas dan Struktur Jilid satu. Jogjakarta:
Binarupa Aksara
Oxtoby, D.W. dan Gillis, H.P. 2001. Prinsip-prinsip Kimia Modern Edisi ke-4 Jilid 1.
Jakarta: Penerbit Erlangga
Sciencelab. 2014. Material Safety data Sheet Naphtalene.[serial online].

http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927671. [diakses pada tanggal 3


Oktober 2014]
Sciencelab.2014.Material Safety data Sheet Asam Asetat glasial.[serial online].
http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9922769. [diakses pada 3 Oktober
2014]
Sciencelab.2014.Material

Safety

data

Sheet

NaCl.[serial

online].

http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9867454. [diakses pada tanggal 3


Oktober 2014]
Sciencelab.2014.Material

Safety

data

Sheet

of

Aquades.[serial

online].

http://www.sciencelab.com/msds.php?msdsId=9927321.[diakses pada tanggal 3


Oktober 2014]
Soekardjo.1989. Kimia Fisik . Jakarta : PT Rineka Cipta
Tim Penyusun. 2014. Penuntun Praktikum Kimia fisik II. Jember : Laboratorium
Kimia Fisika FMIPA UNEJ

LAMPIRAN
1. Penentuan nilai Kf
Tf asam cuka = 17C = 290 K
Tf naphtalen = 13C = 286 K
Tf 1 = Tf asam cuka - Tf naphtalen
= 290 K 286 K = 4 K
asam
Wasam
Kf =

cuka
cuka

W asam cuka
V asam cuka

= 1,049

cuka

= asam

cuka

x Vasam

g
x 20 cm3 = 20,98 g
cm3

W asam cuka x Mr naphtalen


1000 x W naphtalen

20,98 g x 128

Wasam

g
mol

x T f

x 4K

1000 2

= 5,371

2. Penentuan Mr zat X
Tf asam cuka = 17C = 290K
Tf zat X = 11C = 284 K
Tf 2 = Tf asam cuka - Tf zat X
=290 K 284 K = 6 K
Tf total = Tf 2 - Tf 1
=6K4K=2K
=

2 =

1000

1000 5,371
20,98 g

2
128

cuka

2 K = 256,006
512,012

2K=

255,96

2 K =

2
128

512,012
128

4,00009

6,00009 X = 255,96
= 85,33 gr/mol

GRAFIK PENENTUAN TITIK BEKU ASAM CUKA GLASIAL


30

Suhu (C)

25

y = -1.35x + 25.95
R = 0.894

20
15

10

(1)

5
0
0

waktu (menit)

10

GRAFIK PENENTUAN TITIK BEKU ASAM CUKA GLASIAL+ NAPHTALENE

30
y = -3.4x + 24.2
R = 0.830

25
20
15

10

(1)
5
0
0

waktu (menit)

GRAFIK PENENTUAN TITIK BEKU ASAM CUKA GLASIAL+


NAPHTALENE+ZAT X
30

Suhu (C)

25

y = -3.4x + 21.6
R = 0.684

20
15

10

(1)
5
0
0

waktu (menit)

Anda mungkin juga menyukai