Anda di halaman 1dari 23

JURNAL PRAKTIKUM KIMIA FISIK 1

KONSENTRASI KRITIS MISEL

Nama

: Dewi Adriana Putri

NIM

: 121810301053

Kelompok / Kelas : 2 / B
Asisten

: Rani Armida

Fak / Jurusan

: FMIPA / Kimia

LABORATORIUM KIMIA FISIK


JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS JEMBER
2015

BAB I. PENDAHULUAN
1.1 Tujuan Praktikum
Tujuan dari praktikum konsentrasi krisis misel adalah menentukan konsentrasi kritis
misel surfaktan pada pelarut air dan menentukan harga entalpinya.
1.2 Latar Belakang
Zat satu dengan yang lain jika dicampurkan belum tentu akan mengalami reaksi kimia.
Beberapa zat yang tidak dapat bereaksi disebabkan karena perbedaan sifat kimia, contohnya
minyak dengan air. Minyak dan air merupakan dua zat yang tidak dapat saling bercampur
karena perbedaan sifatnya dimana air bersifat polar sementara minyak bersifat nonpolar.
Perbedaan sifat seperti kepolaran dapat menyebabkan dua zat tidak dapat bereaksi. Surfaktan
memiliki kedua sisi tersebut sehingga dapat bereaksi pada zat yang bersifat polar maupun zat
yang bersifat nonpolar. Zat tersebut merupakan zat pengaktif permukaan sehingga dapat
mempersatukan campuran yang terdiri dari air dan minyak.
Tegangan permukaan merupakan fenomena menarik yang terjadi pada zat cair (fluida)
yang berada pada keadaan diam (statis). Air memiliki tegangan permukaan yang tinggi, tetapi
ketika surfaktan dilarutkan ke dalam air maka tegangan permukaan dari larutan itu akan turun
sampai tercapainya suatu konsentrasi.
Konsentrasi kritis misel merupakan konsentrasi setimbang di mana monomer
surfaktan mulai membentuk misel. Misel adalah sesuatu yang dihasilkan dari penggabungan
(agregasi) dari ion-ion surfaktan yang merupakan zat pengaktif permukaan. Pembentukan
misel banyak terjadi dalam kehidupan sehari-hari misalnya proses sabun mandi
membersihkan minyak dari tubuh dan proses sabun membersihkan kotoran pada pakaian.
Fenomena detergen merupakan contoh yang paling umum dimana detergen membersihkan
bahan seperti minyak, lemak, atau kotoran yang tidak bisa dibersihkan dengan air. Detergen
melakukannya dengan menurunkan tegangan permukaan air. Praktikum ini dilakukan karena
praktikan ingin mengetahui pengaruh suhu dan konsentrasi terhadap daya hantar surfaktan
dalam pelarut air dan menentukan konsentrasi kritis misel surfaktan serta menentukan harga
entalpinya.
1.3 Tinjauan Pustaka
1.3.1 Material Safety Data Sheet (MSDS)
a) Air
Air adalah zat kimia yang mempunyai rumus kimia H2O. Satu molekul air tersusun
atas dua atom hidrogen yang terikat secara kovalen pada satu atom oksigen. H2O memiliki
kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya yaitu seperti garam, gula, asam,
beberapa jenis gas, dan berbagai macam molekul organik lainnya. Nama lain dari air adalah
dihidrogen monoksida atau hidrogen hidroksida. Air dapat berwujud padatan (es), cairan (air)

dan gas (uap air). Air merupakan jenis senyawa cair yang tidak berwarna, tidak berasa, dan
tidak berbau pada keadaan standar. Massa molar dari air 18,01528 g/mol. Titik didih air
100C (373.15C) dan titik leleh air adalah 0C (273,15C). Massa jenis air adalah sebesar 1
g/cm3, viskositasnya sebesar 0,001 Pa/s (20C). Air merupakan jenis bahan kimia yang tidak
memiliki dampak berbahaya terhadap jaringan (Anonim, 2015).
b) SDS
Sodium dodesil sulfat dapat berbahaya dalam kasus kontak kulit (iritan), kontak mata
(iritan), tertelan dari inhalasi. Kontak dengan mata secara berulang dapat memperburuk
kondisi penglihatan, segera basuh dengan air sekurang-kurangnya 15 menit serta dapatkan
bantuan medis jika terjadi iritasi, sedangkan kontak dengan kulit maka cucilah dengan sabun
dan air. Kulit yang teriritasi ditutup dengan sebuah emolien dan dapatkan bantuan medis jika
iritasi berkembang. Gelatin yang terhirup maka pindahkan ke udara segar dan berikan
pernapasan buatan atau oksigen dan dapatkan perhatian medis dan jika terjadi penelanan
segera hubungi petugas medis, jangan mengusahakan mutah kecuali petunjuk tim kesehatan.
Senyawa ini berwujud cair dalam keadaan standard. Titik didih gelatinSDS terletak pada
temperatur 100oC (212 oF). Zat ini mudah larut dalam air dingin maupun air panas. Upaya
pencegahannya yaitu jauhkan dari panas dan jauhkan dari sumber nyala. SDS sebaiknya
disimpan di wadah tertutup rapat, sejuk, dan berventilasi baik (Anonim, 2015).
1.3.2 Dasar teori
Surfaktan adalah suatu zat yang dapat mengurangi atau menurunkan tegangan
antarmuka, contoh surfaktan antara lain sabun atau detergen dan zat-zat organik tertentu
lainnya. Antarmuka adalah bagian dimana dua fasa saling bertemu atau kontak biasanya pada
permukaan suatu zat. Surfaktan bersifat ampifilik, yakni memiliki dua sifat sekaligus yaitu
hidrofilik (bagian polar) dan hidrofobik (bagian non polar). Dua sifat tersebut terletak pada
gugus-gugus surfaktan. Surfaktan memiliki dua buah gugus, yaitu kepala (head) yang bersifat
hidrofilik dan ekor (tail) yang bersifat hidrofobik. Hidrofilik yang berarti suka air atau dapat
bereaksi dengan air dan senyawa polar lainnya. Hidrofobik yaitu tidak suka air atau tidak
dapat bereaksi dengan air dan senyawa polar lainnya, hidrofobik dapat bereaksi dengan
senyawa nonpolar seperti hidrokarbon (Alfaruqi, 2008).

Gambar 1.1 Surfaktan

Kepala melambangkan gugus hidrofilik yang dapat terdiri dari ion logam atau senyawa logam
sedangkan ekor melambangkan gugus hidrofobik berupa rantai hidrokarbon yang panjang.
Dua gugus yang berbeda inilah surfaktan dapat menghubungkan dua zat yang berbeda sifat.
Salah satu molekul dengan dua gugus berbeda ini adalah Sodium Dodesil Sulfat (SDS),
NaOSO3C12H25 (Alfaruqi, 2008).
Klasifikasi surfaktan berdasarkan muatannya dibagi menjadi empat golongan yaitu:
1. Surfaktan anionik, yaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada suatu anion.
Contohnya adalah garam alkana sulfonat, garam olefin sulfonat, garam sulfonat asam
lemak rantai panjang.
2. Surfaktan kationik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya terikat pada suatu kation.
Contohnya garam alkil trimethil ammonium, garam dialkil-dimethil ammonium dan garam
alkil dimethil benzil ammonium.
3. Surfaktan nonionik yaitu surfaktan yang bagian alkilnya tidak bermuatan. Contohnya ester
gliserin asam lemak, ester sorbitan asam lemak, ester, sukrosa asam lemak, polietilena alkil
amina, glukamina, alkil poliglukosida, mono alkanol amina, dialkanol amina dan alkil
amina oksida.
4. Surfaktan amfoter yaitu surfaktan yang bagian alkilnya mempunyai muatan positif dan
negatif. Contohnya surfaktan yang mengandung asam amino,betain, fosfobetain.
(Nurdin, 2009).
Penambahan surfaktan dalam larutan akan menyebabkan turunnya tegangan
permukaan larutan. Setelah mencapai konsentrasi tertentu, tegangan permukaan akan konstan
walaupun konsentrasi surfaktan ditingkatkan. Surfaktan yang apabila ditambahkan melebihi
konsentrasi maka akan mengagregasi membentuk misel. Misel adalah struktur bulat dengan
diameter sekitar 5 nm yang terbentuk dari monomer-monomer surfaktan. Misel ini merupakan
penggabungan agregasi dari ion-ion surfaktan dimana rantai hidrokarbon yang lipofil akan
menuju kebagian dalam misel, sementara gugus hidrofil berhubungan dengan medium air
(Widjajanti, 2004).

Struktur umum misel dan orientasinya terhadap pelarut polar maupun nonpolar dapat
dilihat dibawah ini:

CH3

Gugus lipofil
menuju bagian
misel

H3C
H3C

CH3

Gugus hidrofil
bergabung dengan air

CH3

H3C

CH3

H3C

CH3

CH3

Gambar 1.2 Struktur misel dengan pelarut polar

Gambar 1.3 Struktur misel pada pelarut non polar

Konsentrasi saat misel mulai terbentuk disebut konsentrasi kritis misel (kkm). Dibawah
konsentrasi misel kritis biasanya surfaktan dapat bekerja dengan baik, karena misel dalam
molekulnya belum terbentuk, sehingga dapat menjadi perantara dalam mencampur dua jenis
bahan yang sulit untuk bercampur. Prinsip kerja dari misel adalah ketika tegangan permukaan
menurun hingga kkm tercapai maka tegangan permukaan akan konstan yang menunjukkan
bahwa antar muka menjadi jenuh dan terbentuk misel yang berada dalam keseimbangan
dinamis dengan monomernya (Widjajanti, 2004).
Sifat-sifat larutan surfaktan mengalami perubahan yang mendadak saat misel mulai
terbentuk, termasuk juga turbiditas, oleh karena itu pengukuran konduktivitas dapat
digunakan untuk menentukan besarnya konsentrasi misel kritis larutan surfaktan. Konsentrasi
misel kritis dapat ditentukan dengan menandai titik diskontinuitas pada grafik hubungan
antara konduktivitas dengan konsentrasi, dan konsentrasi saat diskontinuitas inilah yang
disebut konsentrasi kritis misel (Alfaruqi, 2008).

Kesetimbangan antara molekul-molekul atau ion-ion misel yang tidak berasosiasi


berlaku hukum aksi massa untuk kesetimbangan miselisasi. C adalah kosentrasi stoikiometri

larutan, x adalah fraksi dari satuan monomer yang diendapkan dan m adalah jumlah satuan
monomer per satuan misel, maka didapat:

mX
C(l-x)
K=

(X)m
Cx/m

C . x /m
C m . ( 1x )m

Jika m makin besar, pernyataan ini menunjukkan bahwa x menjadi makin kecil pada nilai C
tertentu dan naik dengan cepat (Sukardjo, 1990).
Konduktometer adalah alat yang digunakan untuk menentukan daya hantar suatu
larutan dan mengukur derajat ionisasi suatu larutan elektrolit dalam air dengan cara
menetapkan hambatan suatu kolom cairan. Selain itu, konduktometer memiliki kegunaan
yang lain yaitu mengukur daya hantar listrik yang diakibatkan oleh gerakan partikel di dalam
sebuah larutan. Faktor-faktor yang mempengaruhi daya hantar adalah perubahan suhu dan
konsentrasi. Jika suhu semakin besar maka daya hantar pun juga akan semakin besar. Apabila
suhu yang digunakan semakin kecil maka daya hantar yang dihasilkan juga akan kecil.
Semakin banyak konsentrasi suatu misel dalam larutan maka semakin besar nilai daya
hantarnya karena semakin banyak ion-ion dari larutan yang menyentuh konduktor. Semakin
tinggi suhu suatu larutan maka semakin besar nilai daya hantarnya (Yazid, 2005).
Konduktometer tersusun atas beberapa komponen yaitu konduktor atau inputnya dan
bagian output (menampilkan data yang diperoleh dari input berupa angka). Prinsip kerja
konduktometer adalah bagian konduktor atau yang di celupkan dalam larutan akan menerima
rangsang (dari suatu ion-ion yang menyentuh permukaan konduktor). Lalu hasil ini diproses
dan dilanjutkan pada outputnya yakni berupa angka yang tertera pada layar kaca
konduktometer. Alat konduktometer dapat dilihat sebagai berikut:

Gambar 1.4 Konduktometer

(Paoleti, 1963).
Daya hantar listrik berhubungan dengan pergerakan suatu ion di dalam larutan yang
mudah bergerak sehingga mempunyai daya hantar listrik yang besar. Daya hantar listrik (G)
merupakan kebalikan dari tahanan (R), sehingga daya hantar listrik mempunyai satuan ohm-1.

Bila arus listrik dialirkan dalam suatu larutan mempunyai dua elektroda, maka daya hantar
listrik (G) berbanding lurus dengan luas permukaan elektroda (A) dan berbanding terbalik
dengan jarak kedua elektroda (I).
G = 1/R = k (A/I)
Dimana K adalah daya hantar jenis dalam satuan ohm-1 cm-1 (Paoleti, 1963).

BAB II. METODOLOGI PERCOBAAN


2.1 Alat dan Bahan
2.1.1

Alat

Termometer

Gelas kimia

Labu ukur

Pipet volume dan ball pipet

Pipet tetes

Gelas ukur

Penangas air (water bacth)

Alat pengukur daya hantar listrik (konduktometer)

2.1.2

Bahan

Aquades

SDS

2.2 Prosedur Kerja


SDS
-

Diambil 5, 8, 11, 15, dan 19 mL dan diencerkan dalam labu ukur

100 mL dengan aquades sampai tanda batas,


- Diambil masing-masing 20 mL,
- Diukur daya hantarnya pada temperatur kamar,
-Diulangi pengukur daya hantar pada temperature 35 oC, 40oC, 45oC,
dan 50oC pada masing-masing larutan.

Hasil

BAB III. HASIL PERCOBAAN


3.1 Hasil

3.1.1 Data pengamatan


Konsentrasi (M)

0.005

0,008

0.011

0.015

0.019

Suhu (oC)
28oC

Konduktivitas
1.65

35oC

1.80

40 C

1.86

45oC

1.96

50oC
28oC

2.06
2.46

35oC

2.66

40 C

2.87

45 C

2.96

50oC
28oC

3.02
3.16

35oC

3.35

40oC

3.52

45 C

3.74

50 C
28oC

3.77
3.85

35oC

4.22

40oC

4.36

45oC

4.56

50 C
28oC

4.82
4.45

35oC

4.82

40 C

4.96

45oC

5.36

50oC

5.54

3.1.2 Hasil
Volume
SDS
(ml)

5
8
11
15
19

Konduktivitas

Konsentrasi
(M)

28oC

35 oC

40 oC

45 oC

50 oC

0.005
0,008
0.011
0.015
0.019

1.65
2.46
3.16
3.85
4.45

1.80
2.66
3.35
4.22
4.82

1.86
2.87
3.52
4.36
4.96

1.96
2.96
3.74
4.56
5.36

2.06
3.02
3.77
4.82
5.54

KKM
H

0,012

0,013

0,016
0,024
-8793,7 J/mol.K

0,014

BAB IV. PEMBAHASAN


4.1 Pembahasan
Percobaan ini membahas penentuan Konsentrasi Kritis Misel (KKM) dan entalpi
miselisasi gelatin. Tujuan dari percobaan ini adalah menentukan konsentrasi kritis misel SDS
pada pelarut air dan penentuan harga entalpi. Misel adalah penggabungan agregasi dari ionion surfaktan dimana rantai mempunyai dua bagian yang bersifat hidrofilik dan hidrofobik.
Sifat khas misel dalam larutan encer membentuk suatu kumpulan dengan kepala gugus
hidrofilik bersinggungan dengan solven yang mengelilinginya, mengasingkan ekor gugus
hidrofobik didalam pusat misel. Bahan yang digunakan adalah SDS yang memiliki dua sisi

yaitu hidrofilik dan hidrofobik. Alat yang digunakan adalah konduktometer yang berfungsi
untuk mengukur derajat ionisasi suatu larutan elektrolit dalam air dengan cara menetapkan
hambatan suatu kolom cairan.
Konduktometer juga memiliki kegunaan yang lain yaitu mengukur daya hantar listrik
yang diakibatkan oleh gerakan partikel di dalam sebuah larutan. Konduktometer dapat
merubah energi mekanik menjadi energi listrik karena adanya sifat konduktometer yang dapat
menghantarkan listrik. Prinsip kerja konduktometer adalah bagian konduktor atau yang di
celupkan dalam larutan akan menerima rangsang (dari suatu ion-ion yang menyentuh
permukaan konduktor). Lalu hasil ini diproses dan dilanjutkan pada outputnya yakni berupa
angka yang tertera pada layar kaca konduktometer (Paoleti, 1963).
Konsentrasi kritis misel (KKM) adalah konsentrasi yang menunjukkan suatu keadaan
dimana misel mulai terbentuk. Proses pemnbentukan misel dipengaruhi oleh beberapa faktor
antara lain yaitu struktur surfaktan dalam praktikum kali ini SDS, penambahan elektrolit ke
dalam larutan, penambahan zat organik serta temperature larutan. Misel hanya terbentuk bila
konsentrasi surfaktan lebih besar daripada konsentrasi kritis misel (kkm) dan temperatur
sistem lebih besar daripada temperatur kritis misel. Peristiwa terbentuknya misel dapat
dijelaskan di bawah konsentrasi misel, konsentrasi surfaktan yang mengalami adsorpsi pada
antar muka bertambah jika konsentrasi surfaktan dinaikkan, titik kkm ada dikarenakan titik
dimana baik antar muka maupun dalam cairan jenuh dengan monomer dan jika surfaktan akan
dinaikkan maka akan terbentuk suatu misel.Misel biasanya berbentuk globular dan secara
garis besar berbentuk speris, akan tetapi dapat pula berbentuk elipsoida, silinder, dan bilayer.
Bentuk dan ukuran misel merupakan fungsi dari geometri molekular dari molekul surfaktan
tersebut dan kondisi larutan seperti konsentrasi surfaktan, temperatur, pH, dan kekuatan ionik.
Ekor hidrofobik dari beberapa molekul surfaktan berkumpul menjadi seperti inti
minyak yang memiliki sedikit kontak dengan air. Sebaliknya monomer surfaktan dikelilingi
oleh molekul air yang membuat suatu kurungan molekul yang dihubungkan oleh ikatan
hidrogen. Kurungan air ini memiliki struktur kristal seperti es. Misel tersusun dari surfaktan
ionik yang dikelilingi oleh awan ion-ion. Karena ion-ion ini memiliki muatan berlawanan
dengan muatan ionik surfaktan, maka disebut ion berlawanan. Walaupun ikatan ion
berlawanan menetralisir muatan misel (hampir 90%), efek dari muatan misel dapat
mempengaruhi stuktur solven yang mengelilinginya pada jarak tertentu dari misel. Misel
ionik dapat mempengaruhi beberapa sifat campuran, termasuk konduktivitas listrik (Alfaruqi,
2008).
Pembentukan misel dapat juga dipahami dengan menggunakan termodinamika yaitu
misel dapat terbentuk secara spontan karena keseimbangan antara entropi dan entalpi.

Didalam air efek hidrofobik merupakan gaya pendorong pembentukan misel, meskipun
faktanya pengumpulan molekul surfaktan menurunkan entropinya. Pada umumnya, diatas
kkm, entropi dari pengumpulan molekul surfaktan lebih sedikit daripada entropi dari molekul
kurungan air. Hal yang juga penting adalah pertimbangan entalpi seperti interaksi elektrostatis
yang terjadi antara muatan (atau ionik) surfaktan. Ketika surfaktan berada diatas kkm
(konsentrasi kritis misel), surfaktan dapat berfungsi sebagai pengemulsi yang akan melarutkan
senyawa yang secara normal tidak larut dalam solven yang digunakan (Alfaruqi, 2008).
Langkah pertama yang dilakukan dalam percobaan ini adalah menyiapkan SDS
sebanyak 5 mL, 8 mL, 11 mL, 15 mL, dan 19 mL kemudian diencerkan dalam labu ukur 100
mL. Konsentrasi SDS yang didapat yaitu 0.005, 0.008, 0.011, 0.015, dan 0.019 M. Proses
pengenceran bertujuan untuk membuat variasi konsentrasi pada percobaan. Setelah
pengenceran larutan diambil masing-masing 20 mL dan diletakkan dalam gelas kimia yang
berbeda. Pengukuran daya hantar atau konduktivitas yang pertama dilakukan pada suhu
kamar yaitu pada 28oC dan dilanjutkan dengan variasi temperatur yaitu pada 35 oC, 40oC,
45oC, dan 50oC pada masing-masing larutan.
Pada umumnya peningkatan konsentrasi zat kimia dalam suatu larutan akan
meningkatkan

konduktivitas.

Perubahan

suhu

suatu

larutan

juga

mempengaruhi

konduktivitasnya, kenaikan suhu akan meningkatkan pergerakan ion-ion atau partikel-partikel


dalam larutan, sehingga konduktivitas larutan meningkat (Alfaruqi, 2008).
Data konduktivitas masing-masing larutan pada suhu 28oC, 35oC, 40oC, 45oC, dan
50oC diperoleh sebagai berikut: pada suhu konsentrasi 0.005 M konduktivitasnya secara
berurutan 1.65, 1.80, 1.86, 1.96 dan 2.06, pada konsentrasi 0.008 M 2.46, 2.66, 2.87, 2.96 dan
3.02, pada konsentrasi 0.011 M adalah 3.16, 3.35, 3.52, 3.74 dan 3.77, pada konsentrasi 0.015
M adalah 3.85, 4.22, 4.36, 4.56 dan 4.82, pada konsentrai 0.019 M adalah 4.45, 4.82, 4.96,
5.36 dan 5.54. Dari data yang didapatkan menghasilkan hasil yang sesuai dengan literatur
terhadap variasi konsentrasi yaitu pada konsentrasi yang lebih tinggi konduktivitasnya juga
akan semakin tinggi. Larutan berkonsentrasi tinggi akan memiliki zat terlarut yang lebih
banyak dibandingkan dengan larutan yang berkonsentrasi rendah dan menyebabkan tumbukan
antar molekul dalam surfaktan juga semakin besar sehingga daya hantar listrik larutan
tersebut akan semakin besar pula. Sedangkan untuk pengaruh variasi suhu, dari data dapat
diketahui semakin tinggi suhu maka akan semakin besar konduktivitasnya, hal ini juga sesuai
dengan literatur.
Data yang diperoleh dari hasil percobaan dan hasil perhitungan kemudian dibuat
grafik hubungan konduktivitas dengan konsentrasi. Grafik dibuat dari masing-masing suhu
yang diukur. Perpotongan antara garis dimana konduktivitas naik dan garis saat konduktivitas

naik drastis merupakan konsentrasi kritis misel (kkm). Grafik hubungan konduktivitas dengan
konsentrasi pada suhu 28oC adalah

Suhu 301 K
5
Konduktifitas
f(x) = 150x + 1.6
Linear (Konduktifitas)
R = 1
f(x) = 251.67x + 0.41
R = 1
Linear ()

4
3
Konduktivitas 2
1

Linear ()

0
0

0.01

0.02

Konsentrasi

Grafik diatas menunjukkan hubungan antara konduktivitas dengan konsentrasi pada


suhu kamar (28oC). Berdasarkan data diatas konduktivitas meningkat dengan bertambahnya
konsentrasi larutan. Hal ini sesuai dengan literatur yang ada karena perubahan konsentrasi
sangat mempengaruhi terhadap nilai daya hantar listrik. Meningkatnya daya hantar listrik
tersebut dikarenakan semakin banyak ion-ion dari larutan yang menyentuh konduktor. Dari
persamaan yang dihasilkan yaitu y1 = 150x + 1,6 dan y2 = 251,67x + 0,41maka jika y1 = y2
nilai x akan didapatkan dan nilai KKM dapat diketahui karena x= KKM. Nilai KKM yang
diperoleh pada suhu 28oC adalah 0.012.
Grafik selanjutnya yaitu hubungan antara konduktivitas dengan konsentrasi pada suhu
35oC dan data yang diperoleh sesuai dengan literatur sama seperti grafik pada suhu 28oC.
Grafik hubungan konduktivitas dengan konsentrasi pada suhu 35oC adalah

Suhu 308K
6
5

Konduktifitas
f(x) = 150x + 1.97
R = 1
Linear ()
f(x) = 258.33x + 0.54
R = 1
Linear ()

4
Konduktivitas

3
2
1

Linear ()

0
0

0.01

0.01

0.02

0.02

Konsentrasi

Grafik diatas menghasilkan persamaan yaitu y1 = 150x + 1,97 dan y2 = 258,33x +


0,5367. Jika y1 = y2 maka nilai x akan didapatkan dan nilai KKM dapat diketahui karena x=
KKM. Nilai KKM yang diperoleh pada suhu 35oC adalah 0.013.
Grafik hubungan konduktivitas dengan konsentrasi pada suhu 40oC adalah

Suhu 313K
6
5
4
Konduktivitas

f(x) = 217.6x
+ 150x
0.99 +Konduktifitas
f(x) =
2.11
R = 0.98 R = 1
Linear (Konduktifitas)

3
Linear ()

2
1
0
0 0.01 0.01 0.02 0.02
Konsentrasi

Grafik diatas menunjukkan hubungan antara konduktivitas dengan konsentrasi pada


suhu 40oC. Berdasarkan data diatas konduktivitas meningkat dengan bertambahnya
konsentrasi larutan. Hal ini sesuai dengan literatur yang ada karena perubahan konsentrasi
sangat mempengaruhi terhadap nilai daya hantar listrik. Grafik diatas menghasilkan
persamaan yaitu y1 = 150x + 2,11 dan y2 = 217,6x + 0,9899 maka jika y1 = y2 nilai x akan
didapatkan dan nilai KKM dapat diketahui karena x= KKM. Nilai KKM yang diperoleh pada
suhu 40oC adalah 0.016.

Grafik selanjutnya yaitu hubungan antara konduktivitas dengan konsentrasi pada suhu
45oC dan data yang diperoleh juga sesuai dengan literature yaitu semakin tinggi konsentrasi
maka semakin tinggi pula konduktivitasnya. Grafik hubungan konduktivitas dengan
konsentrasi pada suhu 45oC adalah

Suhu 318K
6
5

f(x) = 238.08x
246.15x + 0.95
0.76
R = 0.99
1

4
Konduktivitas

Konduktifitas
Linear (Konduktifitas)

3
2
Linear ()

1
0
0

0.01 0.01 0.02 0.02


Konsentrasi

Grafik diatas menghasilkan persamaan yaitu y1 = 246,15x + 0,76 dan y2 = 238,08x +


0,9542. Dari sini jika y1 = y2 nilai x akan didapatkan dan nilai KKM dapat diketahui karena
x= KKM. Nilai KKM yang diperoleh pada suhu 45oC adalah 0.024.
Grafik dibawah ini menunjukkan hubungan antara konduktivitas dengan konsentrasi
pada suhu 50oC. Berdasarkan hasil yang didapat konduktivitas meningkat dengan
bertambahnya konsentrasi larutan. Hal ini sesuai dengan literatur. Grafik diatas menghasilkan
persamaan yaitu y1 = 180x + 2,12 dan y2 = 285x + 0,67. Nilai KKM yang diperoleh pada suhu
50oC adalah 0.014. Grafik hubungan konduktivitas dengan konsentrasi pada suhu 50oC adalah

Suhu 323K
6
5

f(x) = 180x + 2.12


Konduktivitas
R = 1

4
Konduktivitas

f(x) = 285x + 0.67


R = 0.99

3
2

Linear ()
Linear ()

1
0
0

0.01

0.01

0.02

Konsentrasi

0.02

Berdasarkan grafik yang ada nilai kkm telah ditentukan, dari harga kkm tersebut dapat
ditentukan besarnya H yang merupakan harga kemiringan atau slope dari grafik ln KKM dan
1/T. Harga H untuk SDS bertanda negatif karena sistem melepaskan kalor. Grafik hubungan
suhu dengan konsentrasi kritis misel adalah
-3.2
-3.4

-3.6
-3.8
ln kkm

-4
-4.2

f(x) = - 1057.69x - 0.86


R = 0.2

Linear (y)

-4.4
-4.6
1/T

Harga H dapat dicari dengan rumus H = m.R, dimana m didapat dari persamaan
yang dihasilkan diatas yaitu y = -1057.x - 0.858. Harga H pada percobaan ini diperoleh
sebesar -8793,7 J/mol.K. Tanda negatif menunjukkan bahwa selama reaksi miselisasi
melepaskan energi sebesar 8793,7 J/mol.K. hubungan suhu dengan H yaitu semakin besar
suhu yang diterima maka H semakin besar.

BAB V. PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan dari percobaan konsentrasi kritis misel adalah konsentrasi kritis misel
dipengaruhi oleh konsentrasi dan suhu. Nilai KKM pada suhu 28oC adalah 0.012, suhu 35oC
adalah 0.013, suhu 40oC adalah 0.016, suhu 45oC adalah 0.024, dan suhu 50oC adalah 0.014.
Harga H diperoleh sebesar -8793,7 J/mol.K
5.2 Saran
Sebaiknya praktikan lebih teliti dan berhati-hati dalam melakukan praktikum agar
tidak terjadi kesalahan yang dapat mempengaruhi hasil percobaan dan agar hasil percobaan
yang didapat lebih sesuai dengan literatur.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim. 2014. Material Safety Data Sheet Aquades http://www.sciencelab.com/MSDSAquades (diakses pada 9 april 2015).
Anonim.

2015.

Material

Safety

Data

Sheet

Sodium

Dodesil

Sulfat

http://www.sciencelab.com/MSDS-SDS (diakses pada 9 April 2015).


Alfaruqi, H. 2008. Pengaruh Konsentasi Hidrogen. Jakarta: FT UI.
Nurdin. 2009. Evaluasi Respon Chemical Oxygen Demand Terhadap Surfaktan Linier Alkil
Sulfonat. Kendari : Universitas Haluoleo.
Paoleti, R.1963. Phospholipids and Artherosclerosis. New York: Raven Press.
Sukardjo. 1990. Kimia Anorganik. Yogyakarta: Rineka Cipta.
Tim Kimia Fisik. 2015. Penuntun Praktikum Kimia Fisik I. Jember: Universitas Jember.
Widjajanti endang. 2004. Penentuan Konsentrasi Kritis Misel Lesitin Secara Turbidmetri.
Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta.
Yazid, E. 2005. Kimia Fisika untuk Paramedis. Yogyakarta: Andi Offset.

LAMPIRAN
PERHITUNGAN
1. Larutan SDS induk 0,1 M
mol
M=
dalam 250 mL
V
mol = M x V = 0,1 mol/L x 250x10-3L = 0,025 mol
massa
mol =
Mr SDS dicari massa yang dibutuhkan
Mr SDS = 288,372 g/mol
massa = mol x Mr SDS = 0,025 mol x 288,372 g/mol = 7,21 g
2. Pengenceran
- 0,005 M
M1 x V1 = M2 x V2
0,005 M x 100 mL = 0,1 M x V2
V2 = 5 mL
- 0,008 M
M1 x V1 = M2 x V2
0,008 M x 100 mL = 0,1 M x V2
V2 = 8 mL
- 0,011 M
M1 x V1 = M2 x V2
0,011 M x 100 mL = 0,1 M x V2
V2 = 11 mL
- 0,015 M
M1 x V1 = M2 x V2
0,015 M x 100 mL = 0,1 M x V2
V2 = 15 mL
- 0,019 M
M1 x V1 = M2 x V2
0,019 M x 100 mL = 0,1 M x V2
V2 = 19 mL

3. Grafik 1 (hubungan konduktivitas dengan konsentrasi)


- Suhu 301 K
y1 = 150x + 1,6
y2 = 251,67x + 0,41
y1 = y2
150x + 1,6 = 251,67x + 0,41
101,67x = 1,19
x = 0,012
kkm = 0,012

ln kkm = -4,42

Suhu 301 K
5
Konduktifitas
f(x) = 150x + 1.6
Linear (Konduktifitas)
R = 1
f(x) = 251.67x + 0.41
R = 1
Linear ()

4
3
Konduktivitas 2
1

Linear ()

0
0

0.01

0.02

Konsentrasi

Suhu 308 K
y1 = 150x + 1,97
y2 = 258,33x + 0,5367
y1 = y2
150x + 1,97 = 258,33x + 0,5367
108,33x = 1,4333
x = 0,013
kkm = 0,013
ln kkm = -4,34

Suhu 308K
6
Konduktifitas
f(x) = 150x + 1.97
R = 1
Linear ()
f(x) = 258.33x + 0.54
R = 1
Linear ()

5
4
Konduktivitas

3
2
1

Linear ()

0
0

0.01

0.01

0.02

0.02

Konsentrasi

Suhu 313 K
y1 = 150x + 2,11
y2 = 217,6x + 0,9899
y1 = y2
150x + 2,11 = 217,6x + 0,9899
67,6x = 1,1201
x = 0,016
kkm = 0,016
ln kkm = -4,14

Suhu 313K
6
5
4
Konduktivitas

f(x) = 217.6x
+ 150x
0.99 +Konduktifitas
f(x) =
2.11
R = 0.98 R = 1
Linear (Konduktifitas)

3
Linear ()

2
1
0
0 0.01 0.01 0.02 0.02
Konsentrasi

Suhu 318 K
y1 = 246,15x + 0,76
y2 = 238,08x + 0,9542
y1 = y2
246,15x + 0,76 = 238,08x + 0,9542
8,07x = 0,1942
x = 0,024
kkm = 0,024
ln kkm = -3,73

Suhu 318K
6
5
4
Konduktivitas

f(x) = 238.08x
246.15x + 0.95
0.76 Konduktifitas
R = 0.99
1
Linear (Konduktifitas)

3
2
1

Linear ()

0
0 0.01 0.01 0.02 0.02
Konsentrasi

Suhu 323 K
y1 = 180x + 2,12
y2 = 285x + 0,67
y1 = y2
180x + 2,12 = 285x + 0,67
105x = 1,45
x = 0,014
kkm = 0,014
ln kkm = -4,27

Suhu 323K
6
5

Konduktivitas
f(x) = 180x + 2.12
R = 1
f(x) = 285x + 0.67
Linear ()
R = 0.99

4
3

Konduktivitas

2
1

Linear ()

0
0

0.01

0.01

0.02

0.02

Konsentrasi

4. Grafik 2 (hubungan suhu dengan konsentrasi kritis misel)


Sumbu x (1/T)
Sumbu y (ln
kkm)

0,0033

0,0032

0,0031

0,0031

0,0030

-4,42

-4,34

-4,14

-3,73

-4,27

-3.2
-3.4

-3.6
-3.8
ln kkm

-4
-4.2

f(x) = - 1057.69x - 0.86


R = 0.2

-4.4
-4.6
1/T

H = m.R
= -1057,7 x 8,314 J/mol.K
= -8793,7 J/mol.K

Linear (y)