Anda di halaman 1dari 15

ANALISIS ZAT PADAT

(Laporan Praktikum Kimia Lingkungan)

Oleh :
Yulia Ningsih
1117011053

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014

Nama Percobaan

:Analisis Zat Padat

Tanggal percobaan

: 20 Mei 2014

Tempat Percobaan

: Laboratorium kimia Instrumen

Nama

:Yulia NIngsih

NPM

:1117011053

Jurusan

: Kimia

Fakultas

: Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Kelompok

:2 (dua)

Bandarlampung, 20 Mei 2014


Mengetahui
Asisten

M. Prasetyo Ersa
NPM1017011041

I. PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Air merupakan sumber daya alam yang dapat diperbarui, tetapi air akan dapat
dengan mudah terkontaminasi oleh aktivitas manusia. Air banyak digunakan oleh
manusia untuk tujuan yang bermacam-macam sehingga dengan mudah dapat
tercemar. Menurut tujuan penggunaannya, kriterianya berbeda-beda. Air yang
sangat kotor untuk diminum mungkin cukup bersih untuk mencuci, untuk
pembangkit tenaga listrik, untuk pendingin mesin dan sebagainya.Pencemaran air
dapat menyebabkan masalah, regional maupun lingkungan global, dan sangat
berhubungan dengan pencemaran udara serta penggunaan lahan tanah atau
daratan. Pada saat udara yang tercemar jatuh ke bumi bersama air hujan, maka air
tersebut sudah tercemar. Beberapa jenis bahan kimia untuk pupuk dan pestisida
pada lahan pertanian akan terbawa air ke daerah sekitarnya sehingga mencemari
air pada permukaan lokasi yang bersangkutan. Pengolahan tanah yang kurang baik
akan dapat menyebabkan erosi sehingga air permukaan tercemar dengan tanah
endapan.

Air murni tidak berwarna, tapi air dialam sering berwarna oleh zat asing. Air yang
warnanya sebagian disebabkan bahan tersuspensi dikatakan memiliki warna
tampak (apparent color). Warna yang disebabkan oleh padatan terlarut yang
tersisa

setelah

penghilangan

bahan

tersuspensi

dikenal

sebagai

warna

sesungguhnya (true color). Setelah hubungan dengan puing-puing organik seperti


daun, batang pohon, rumput atau kayu, air mengambil tannin dan asam humus dan
berwarna coklat kekuningan. Besi oksida menyebabkan air kemerahan dan
mangan oksida menyebabkan air coklat atau kehitaman.

Air yang berwarna secara estetis tidak dapat diterima masyarakat. Kenyataannya,
bila diberi pilihan masyarakat cenderung memilih air yang jernih tidak berwarna.
Air yang sangat berwarna tidak cocok untuk mencuci, mandi, minum, produksi
dan pengolahan makanan.Oleh karena itu, untuk tetap menjaga kualitas air
tersebut utamanya padatan terlarut dan padatan tersuspensi maka diadakanlah
percobaan analisis zat padat untuk mengetahui kadar kekeruhan dari sampel yang
di gunakan
I.2 Tujuan

Adapun tujuan dari percobaan ini ialah menentukan kadar zat padat total, zat
padat terlarut, dan zat padat terendapkan dalam sampel air peruntukan

II. TINJAUAN PUSTAKA

TDS (Total Dissolve Solid) yaitu ukuran zat terlarut (baik itu zat organic maupun
anorganic, mis : garam, dll) yang terdapat pada sebuah larutan. TDS meter
menggambarkan jumlah zat terlarut dalam Part Per Million (PPM) atau sama
dengan milligram per Liter (mg/L). Umumnya berdasarkan definisi diatas
seharusnya zat yang terlarut dalam air (larutan) harus dapat melewati saringan
yang berdiameter 2 micrometer (210 -6 meter). Aplikasi yang umum digunakan
adalah untuk mengukur kualitas cairan biasanya untuk pengairan, pemeliharaan
aquarium, kolam renang, proses kimia, pembuatan air mineral, dll. Setidaknya,
kita dapat mengetahui air minum mana yang baik dikonsumsi tubuh, ataupun air
murni untuk keperluan kimia (misalnya pembuatan kosmetika, obat-obatan,
makanan, dll) (Insan, 2007).
Zat padat tersuspensi (Total Suspended Solid) adalah semua zat padat (pasir,
lumpur, dan tanah liat) atau partikel-partikel yang tersuspensi dalam air dan dapat
berupa komponen hidup (biotik) seperti fitoplankton, zooplankton, bakteri, fungi,
ataupun komponen mati (abiotik) seperti detritus dan partikel-partikel anorganik.
Zat padat tersuspensi merupakan tempat berlangsungnya reaksi-reaksi kimia yang
heterogen, dan berfungsi sebagai bahan pembentuk endapan yang paling awal dan
dapat menghalangi kemampuan produksi zat organik di suatu perairan (Tarigan et
al, 2003).
Total padatan terlarut merupakan bahan-bahan terlarut dalam air yang tidak
tersaring dengan kertas saring millipore dengan ukuran pori 0,45 m. Padatan ini
terdiri dari senyawa-senyawa anorganik dan organik yang terlarut dalam air,
mineral dan garam-garamnya. Penyebab utama terjadinya TDS adalah bahan
anorganik berupa ion-ion yang umum dijumpai di perairan. Sebagai contoh air
buangan sering mengandung molekul sabun, deterjen dan surfaktan yang larut air,
misalnya pada air buangan rumah tangga dan industri pencucian (Anonim, 2010).

Total padatan terlarut (Total Dissolved Solid) adalah bahan-bahan terlarut


(diameter < 10 -6 mm) dan koloid (diameter < 10 -6 mm - < 10 -3 mm) yang
berupa senyawa kimia dan bahan-bahan lain yang tidak tersaring pada kertas
saring berdiameter 0,45 m (Vanho, 2010).

Ada dua metode yang sering digunakan dalam pengukuran TDS, yaitu:
a. Gravimetri
Gravimetri adalah pemeriksaan jumlah zat dengan cara penimbangan hasil reaksi
pengendapan. Gravimetri merupakan pemeriksaan jumlah zat yang paling tua dan
paling sederhana dibandingkan dengan cara pemeriksaan kimia lainnya. Hal ini
dikarenakan metode gravimetri ditentukan melalui penimbangan langsung massa
zat yang dipisahkan dari zat-zat lain.
Bagian terbesar dari gravimetri meliputi transformasi unsur atau radikal
kesenyawaan murni stabil yang dapat segera diubah menjadi bentuk yang dapat
ditimbang dengan teliti. Metode gravimetri memakan waktu yang cukup lama.
Adanya pengotor pada konstituen dapat diuji dan bila perlu digunakan faktorfaktor koreksi. Faktor paling penting dalam metode ini yaitu proses pemisahan
harus cukup sempurna sehingga kualitas analit yang ditimbang mendekati murni
(Irha, 2011).
b. Electrical Conductivity
Konduktivitas listrik air secara langsung berhubungan dengan konsentrasi padatan
terlarut yang terionisasi dalam air. Ion dari konsentrasi padatan terlarut dalam air
menciptakan kemampuan pada air untuk menghasilkan arus listrik yang dapat
diukur menggunakan conductivity meter. Electrical conductivity berfungsi
mengukur konduktivitas listrik bahan-bahan yang terkandung dalam air.
Semakin banyak bahan (mineral logam maupun nonlogam) dalam air maka hasil
pengukuran akan semakin besar. Sebaliknya, bila sangat sedikit bahan yang
terkandung dalam air maka hasilnya mendekati nol, atau disebut air murni (Insan,
2008). Prinsip kerjanya dengan menghubungkan 2 buah probe ke larutan yang
diukur, kemudian dengan rangkaian pemprosesan sinyal akan mengeluarkan

output yang menujukkan besar konduktivitas/daya hantar listrik sampel air


tersebut (Endrah, 2010).

Zat padat tersuspensi sendiri dapat diklasifikasikan sekali lagi menjadi zat padat
terapung yang selalu bersifat organis dan zat padat terendap yang dapat bersifat
organis dan inorganis. Zat padat terendap adalah zat padat dalam suspensi yang
dalam keadaan tenang dapat mengendap setelah waktu tertentu karena pengaruh
gaya beratnya. Penentuan zat padat ini dapat melalui volumenya, disebut analisis
volume lumpur (sludge volume).
Analisis zat padat dalam air sangat penting bagi penentuan komponen
komponen air secara lengkap, juga untuk perencanaan serta pengawasan proses
proses pengolahan dalam bidang air minum maupun dalam bidang air buangan.
Dimensi zat padat tersebut adalah mg/l atau g/l, namun sering pula ditemui %
volume yaitu dm3 zat padat/liter larutan.

III. METODOLOGI PENELITIAN

3.1 Alat dan Bahan


Adapun Alat yang digunakan dalam percobaan ini ialah: cawan, oven, kertas
saring, neraca analitik, dan desikator
Adapun Bahan-bahan yang digunakan dalam percobaan ini ialah: air sumur,
air sawah, dan air limbah
3.2 Diaram alir
3.2.1 Zat Padat Total

3 Cawan uap yang kosong


-Di panaskan pada 165oC dalam
oven selama 1jam
-Disinginkan (5 Menit)
-Ditimbang
-Di masukkan 25gram Sampel pada
masing-masing cawan
-Di panaskan dalam Oven 1 hari
-Didinginkan dalam Desikator
-Ditimbang kembali
-Dipanaskan kembali dalam oven
-dilakukan sampai berat konstan
-hasil di catat

Hasil

-Di panaskan dalam oven 105oC


selama 1 jam
3.2.2 Zat padat tersuspensi

-Didinginkan dalam Desikator


selama 15 menit
-Ditambah sampel yang sudah di
3 filter kertas

kocok lalu disaring dengan kertas


saring ini

-kertas di ambil laludi oven dengan


suhu 105oC
-kertas didinginkan dalam desikator,
-ditimbang, dilakukan berulang
sampai berat kertaskonstan

Hasil

3.2.3 Zat Padat terlarut

3 cawan kosong yang kering


-Di panaskan dalam oven 105oC
selama 1 jam
-Didinginkan dalam Desikator
selama 15 menit
-Ditambah sampel yang sudah di
kocok lalu disaring dengan kertas
saring ini
-cawan dan filtrat sampel di oven
dengan suhu 105oC
-cawan didinginkan dalam desikator,
-ditimbang, dilakukan berulang
sampai beratcawan konstan
IV DATA PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

Hasil
4.1 Tabel hasil Pengamatan
NO

Data Pengamatan

Hasil Pengamatan

1.
2.
3.
4.
5.

Berat Cawan Kosong


Berat cawan + Residu setelah dipanaskan
Volume Sampel
Berat Kertas Saring
Volume ZPT

51,56 gr
52,45 gr
50 ml
0,78 gr
20 ml

4.2 Pembahasan
Pada percobaan kali ini menggunakan sampel berupa air sabun, air sawah, dan air
sumur, dengan mencari berat zat padat total, zat padat tersuspensi, dan zat padat
terlarut,

Dalam berbagai cara, jenis filter yang digunakan sebagai berikut:


1. Filter kertas saring biasanya terbuat dari kertas saring biasa dengan ukuran
diameter pori-pori 10 m. Filter ini menahan semua zat tersuspensi dan
sebagian kecil zat koloidal yang dapat diabaikan. Filter ini menyerap
kelembapan udara yang mengakibatkan bertambahnya berat sampai 5%
dari beratnya sendiri. Oleh karena itu maka filter ini harus ditentukan
beratnya dalam keadaan kering. Filter ini cocok untuk analisa zat padat
tersuspensi organik atau anorganik karena setelah dikeringkan pada suhu
550 oC filter tidak diketahui beratnya.
2. Filter kertas khusus. Terbuat dari bahan kertas khusus, yang lenyap waktu
pembakaran pada suhu 550 oC. Filter ini digunakan untuk analisa zat
tersuspensi dan cocok untuk zat tersuspensi organik atau anorganik, karena
tidak ada sisa pembakaran filter.
3. Filter gelas-fiber. Terbuat dari serabut kaca yang halus dan bersifat
anorganik, sehingga tidak ikut terbakar pada suhu 550 oC. Filter ini tidak
menyerap kelembaban udara, sehingga tidak perlu dikeringkan dahulu
sebelum analisa zat tersuspensi, analisa zat tersuspensi organik atau
anorganik .
4. Filter membran. Terbuat dari semacam plastik seperti selulosa asetat dan
mempunya lubang lubang pori dengan ukuran tertentu dan sama
besarnya. Ukuran lubang pori adalah 0,2 m atau 0,45 m tergantung dari
spesifiknya. Filter membran digunakan untuk menyaring atau menahan zat

koloidal yang terkandung dalam larutan yang lolos dari filter kertas. Filter
ini biasa dipakai untuk menyaring-menyaring bakteri pada analisa
mikrobiologi, jaringan persegi empat telah dicetak pada bagian muka filter
(untuk perhitungan jumlah bakteri) dan ada juga filter membran yang
sudah steril.
TDS (Total Dissolve Solid) yaitu ukuran zat terlarut (baik itu zat organik
maupun anorganik) yang terdapat pada sebuah larutan TDS meter
menggambarkan jumlah zat terlarut Part Per Million (ppm) atau sama dengan
milligram per Liter (mg/L). Umunya berdasarkan definisi tersebut seharusnya
zat yang terlarut dalam air (larutan) harus dapat melewati saringan yang
berdiameter 2 micrometer (2 x 10 -6 meter). TDS meter menggambarkan
jumlah zat terlarut dalam ppm atau sama dengan miligram per Liter. Aplikasi
yang digunakan adalah untuk mengukur kualitas cairan biasanya untuk
pengairan, pemeliharaan aquarium, kolam renang, proses kimia, pembuatan
mineral dll.
Pada percobaan ini menggunakan sampel air sawah. Cawan yang akan
digunakan pada percobaan ini sebelumnya dicuci dan dibersihkan, fungsi dari
dibersihnya cawan yaitu agar terhilang dari kotoran. Kemudian cawan
ditimbang dan didapatkan berat sebesar 51,56 gr.
Pada percobaan TDS menggunakan alat yang sama untuk pengukuran DHL. Hasil
yang diperoleh dari pengukuran adalah semua sampel mempunya TDS yang sama
yaitu, 28mg/L.
Berdasarkan standar kualitas air minum yang telah ditentukan oleh Amerika
Serikat dan PERMENKES RI 2010 untuk Total Dissolved Solid adalah sebesar
500 mg/L. Jadi dapat diketahui bahwa air sumur dan air sawah masih di bawah
ambang batas, namun belum tentu aman sepenuhnya. Dan air limbah perlu adanya
pengolahan lebih lanjud agar aman untuk digunakan

V KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpuan sebagai


berikut:
1.

Zat padat total yang di dapatkan yaitu sebesar 0,178.10

-4

2. Semua sampel memiliki nilai TDS yang sama yaitu, 28mg/L

DAFTAR PUSTAKA

Anonim, 2010. Padatan Terlarut. (Online). (Http://www.blogspot.com, diakses pada


tanggal 23 Juni 2013.).

Insan, 2007. TDS Meter. (Online). (Http://insansainsprojects.wordpress.com/tds-meter,


diakses pada tanggal 23 Juni 2013).

Khopkar. 2002. Konsep Dasar Kimia Analitik. UI Press. Jakarta.

Safitri, A.2007. Analisis Kualitas Air. (Online).


(http://www.scribd.com/doc/39480308/Analisis-Kualitas-Air, diakses pada
tanggal 23 Juni 2013).

Tarigan, M.S. dan Edward. 2003. Kandungan Total Zat Padat Tersuspensi (Total
Suspended Solid) Di Perairan Raha, Sulawesi Tenggara. MAKARA, SAINS, VOL.
7, NO. 3. LIPI.

Vanho, S. 2010. Pengujian Mutu Air dan Limbah. (Online). (Http://stevevanhoindblogz.blogspot.com/2010/05/pengujian-mutu-air-dan-limbah.htm, diakses pada
tanggal 23 Juni 2013).

LAMPIRAN

Perhitungan
Zat Padat Total (

mg ( ab ) x 1000
)=
L
c

Zat Padat Total (

mg ( 0,05245 mg0,05156 mg ) x 1000


)=
L
50000 L

Zat Padat Total (

mg 0,89 mg
)=
L
50000 L

Zat Padat Total

( mgL )=0,178. 10

-4