Anda di halaman 1dari 7

TUGAS ETIKA

PEMERINTAHAN

OLEH:
RIZQI PRADITYA
NPP: 19.0449

INSTITUT PEMERINTAHAN DALAM


NEGERI
ETIKA PEMERINTAHAN
1. Pengertian Etik

Etika berasal dari perkataan yunani “ethes” berarti kesediaan jiwa


akan kesusilaan, atau secara bebas dapat diartikan kumpulan
dariperaturan-peraturan kesusilaan. Dalam bahasa Latin dikenal dengan
perkataan Mores yang berarti pula kesusilaan, tingkat salah satu
perbuatan lahir 9 perilaku, tingkah laku ). Perkataan mores kemudian
berubah menjadi mempunyai arti sama dengan etika atau sebaliknya.

Etika disebut pula “moral phiciolophy” karena mempelajari


moralitas dari perbuatan manusia. Sedangkan moralitu adalah apa yang
baik atau apa yang buruk, benar atau salah dengan menggunakan
ukuran norma atau nilai. Moral terjadi bila dikaitkan dengan
masyarakat, tidak ada moral bila tidak ada masyarakat, dan ini
berkaitan dengan kesadaran kolektif.

Baik dan buruk merupakan kategori imperative dalam arti yang


boleh dilakukan dan yang tidak boleh dilakukan. Ini dating dari
kesadaran dari dalam diri dan tidak merupakan paksaan. Sikap dasar
dari moral antara lain: moral merupakan social faets yang bersifat
obyektif penmgaruh dari luar yang bersifat ada pembatasan /hambatan
dari individu. Masyarakat mempunyai ukuran moral tersendiri. Moralitas
dikaitkan dengan kepentingan kolektif dan keterlibatan pada
kelompok.moral berkaitan dengan fungsi masyarakat. Perbuatan jahat
atau melanggar kepentingan masyarakat terjadi karena tidak sesuai
dengan ukuran kolektif.

Etika erat hubungannya dengan hokum, hokum mempertanyakan


apakah suatu perbuatan melanggar atau tidak. Etika tidak tergantung
dari peraturan hokum, sedangkan peraturan hokum tergantung pada
etika.etika hanya membicarakan tingkah laku seseorang yang dapat
dipertanggungjawabkan yang menyadari bahwa orang tersebut
bertanggungjawab.

2. Kode Etika Negara

Negara kita mempunyai kode etik dalam arti yang setinggi-


tinginya dan yang berlaku bagi seluruh bangsa dan warga Negara
Indonesi, yaitu Naskah Proklamasi dan Pembukaan UUd 1945.
Proklamasi merupakan titik kulminasi perjuangan bangsa Indonesia dan
merupakan puncaknya daripada tenaga nasional lahiriah dan batiniah.
Pembukaan UUD 1945 memberikan pedoman-pedoman untuk mengisi
kemerdekaan dalam bentuk perwujudannya Pembangunan Nasional
untuk melaksanakan kenegaraan kita, untuk mengetahui tujuan
nasional dalam memperkembangkan kebangsaan Indonesia. Pancasila
sebagai pandangan hidup bangsa dan sebagai dasar negara atau “
pandangan hidup bangsa dan dasar negara”.

3. Pemerintahan Negara

Pengertian Pemerintah dapat dibedakan pemerintah sebagai


organ negara yang menjalankan tugas dan pemerintah sebagai fungsi
dari pemerintah. Pemerintah dalam arti sempit dimaksudkan khusus
kekuasan eksekutif sedangkan dalam arti luas kekuasaan eksekutif,
legeslatif, dan yudikatif. Pemerintah dalam arti sempit berdasarkan UUD
yang pernah berlaku di Indonesia, yaitu UUD 1945, UUDS 1950, dan
UUD Konstitusi RIS 1949. Selanjutnya dalam pengertian luas, alat
perengkapan negara dapat didasarkan atas UUD 1945, Konstitusi RIS
1949, UUDS 1950.

4. Sistem Pemerintahan Indonesia

System pemerintahan Indonesia merupakan pedoman dalam


dasar dan kerangka mekanisme bagi penyelenggaraan pemerintahan
negara, karena dalam system pemerintahan negara itu antara lain telah
ditetapkan berbagai perangkat pemerintah negara berupa lembaga-
lembaga negara dengan tugas, wewenang dan kewajiban masing-
masing serta mekanisme hubungan kerja antar lembaga negara
tersebut dalam rangka menjalankan tugas negara. System
Pemerintahan Indonesia sesuai dengan Demokrasi Pancasila dengan
tujuh kunci pokok:

a. Indonesia adalah negara yang berdasarkan atas hokum tidak


berdasarkan atas kekuasaan.

b. Pemerintahan berdasarkan atas system konstitusi

c. Kekuasaan negara yang tertinggi di tangan MPR

d. Presiden ialah penyelenggara pemerintah negara yang tertinggi di


bawah MPR

e. Presiden tidak bertanggung jawab kepada DPR


f. Menteri negara ialah pembantu presiden, tidak bertanggung
jawab kepada DPR

g. Kekuasaan Kepala Negara tidak tak terbatas.

Majelis Permusyawaratan Rakyat sebagai penjelmaan seluruh


rakyat Indonesia dan merupakan Lembaga Negara Tertinggi dan
pelaksana sepenuhnya kedaulatan rakyat Indonesia.

5. Kedudukan, Fungsi, dan Wewenang Lembaga-Lembaga


Negara

Dalam UUD negara Indonesia Lembaga Negara adalah lembaga


yang dibentuk berdasarkan UUD 1945 terdiri dari Lembaga tertinggi dan
Lembaga-Lembaga Tinggi Negara. Kedudukan lembaga negara adalah
keadaan yang menempatkan lembaga tersebut dengan lembaga negara
lainnya , apakah lebih rendah, sejajar, atau lebih tinggi. Fungsi lembaga
negara ialah suatu lingkungan kerja dalam hubungan dengan
keseluruhannya tidak melepaskan diri satu sama lain untuk mencapai
tujuan.suatu fungsi dipegang oleh satu badab atau sebaliknya beberapa
fungsi dapat dipegang oleh satu badan. Untuk m elaksanakan fungsi
suatu badab harus dilengkapi dengan wewenang yang diberikan oleh
badan yang lebih tinggi dan ditetapkan berdasarkan ketentuan atau
peraturan yang telah dimuat dalam UUD. Untuk terselenggaranya
hubungan tata kerja yang baik dalam rangka pelaksanaan tugas
lembaga tertinggi negara dengan atau antar lembaga-lembaga tinggi
negara ditetapkan dengan ketetapan MPR.

6. Etika Pemerintahan

Prinsip etika bersifat author yang bersifat perintah menjadi suatu


perintah. Dalam etika pemerintahan, apa yang dianjurkan merupakan
paksaan yang dalam kehidupan sehari-hari dapat menimbulkan kesulita.
Etika digantungkan dengan authori y menghendaki orang harus tunduk
pada perintah. Pemerintah tidak dapat melaksanakan perintah
sekehendaknya yang bertentangan dengan nilai etika masyarakat.
Kebijakan sebagai prinsip etika memang baik, tetati tidak memberikan
suatu kepastian. Sedangkan dalam masyarkat perlu adanya tindakan
yang praktis yang dapat membawa kearah perbaikan.

Agama sebagai unsure perkembangan adalah subjek dalam Etika


Pemerintahan. Agama sebagai subjek, adalah agent of change dan
agent bmodernization. Etika itu sebenarnya didalam suatu jenjkang dari
usaha manusia untuk menyesuaikan tindakan-tindakannya dengan apa
yang dikehendaki. Dalam kehidupan terdapat dua keadaan, di satu
pihak manusia menghendaki kesempurnaan untuk dirinya sendiri dan
di lain pihak manusia ingin bersama-sama masyarakat untuk mencapai
kesempurnaan, ini m otif agama. Oleh karena itu motif agama tidak
dapat dilepaskan dari segala aktivitas keduniawian. Manusia
mengetahui ketentuan peraturan ajaran agama untuk mengetahui
hakiki kebenaran menimbulkan keyakinan dalam hati dan secara
mantap tanpa rasa paksaan mendekatkan diri pada pencipta. Cara
tersebut harus dicapai kesempurnaan dirinya dan mendekatkan diri
dengan Tuhan. Tanpa melalui jenjangan tersebut maka tidak dibenarkan
dapat secara langsung mencapai kesempurnaan diri dan dekat dengan
Tuhan. Suatu kebiasaan diikatkan dengan ukuran-ukuran yang bersifat
dan ukuran-ukuran yang bersifat pancaindera, hal yang bersifat fisik
tersebut disebut estetika. Pelanggaran estetika akan memperoleh
hukuman. Dalam agama ada jenjang tindakan terhadap manusia untuk
mencapai kesempurnaan. Karena kesempurnaan demikian tinggi maka
manusia hanya berusaha mendekati, tidak menyatu. Filsafat sama
sekali dikerjakan oleh rasio, dengan teknik yang demikian sempurna,
sehingga orang mingkin tidak dapat ada kesalahan. Sedangkan agama
tidak terlepas dari etika dan kesempurnaan. Dalam mencapai
kesempurnaan manusia harus dapat melaksanakan tindakan-tindakan
dan nilai-nilai yang riilkepada nilai-nilai ideal. Kesempurnaan adalah
relative, karenanya hany dapat ditafsirkan secar analogi. Untuk
mencapai tingkatan yang leih tinggi ia harus mengetahui tingkatan
yang lebih rendah, menyangkut conduct, custom, agama.

Etika Pemerintahan, di dalam mencapai kesempurnaan harus ada


adjustment dengan politik negara, den gan memperhatikan nilai-nilai
moral, etik sesuai dengan nilai-nilai. Etika pemerintahan harus
mempunyai adjustment dan penyesuaian segala sesuatu yang tidak ada
batasnya. Pemerintahan selalu berubah menurut power yang berkuasa.
Etika pemerintahan harus berpegang pada power, authority dan
otoritas. adanya power setelah adanya authority. Adanya power dan
authority tersebut yang penting adalah penggunaannya. Power
berhubungan dengan factor wibawa. Dalam negara modern orang yang
diberi hak dan kewajiban harus ada partisipasi. Dalam etika
pemerintahan harus ada partisipasi yang intensive dengan
masyarakat.pengintensivan partisipasi sangat penting karena yang
diperhatikan bukan yang memimpin tetapi yang dipimpin.
Dalam welfare state harus ada spesialisasi dalam suatu bidang.
Karena agar seorang pemimpin dapat dengan mudah dalam
pengkoordinasiannya. Inti dari etika pemerintahan adalah penggunaan
kekuasaan yang sesuai dengan kehendak rakyat. Di dalam
mempergunakan authority harus mempunyai pedoman yaitu UUDdan
peraturan perundang-undangan. Penggunaan kekuasaan itu harus
berpedoman pada punlik service. Pemerintahan yang baik harus
mendahulukan kepentingan masyarakat, bukan semata;mata bersifat
corrective. Untuk mendapat anticipate harus memiliki skill between
brain and heart.

Public service adalah pelayanan seefektif mingkin dengan


coordination of power, jadi public service tidaklah pelayanan umum
akan tetapi pelayanan kepada masyarakat umum. Kehancuran
pemerintahan disebabkan oleh tidak adanya coordination of fungtion.
Dalam kenyataan kita tidak boleh melihat formalitas akan tetapi juga
harus memperhatikan hal-hal yang material dan yang informal. Dalam
etika pemerintahan semua unsure-unsur yang ideal, riil, formal, dan
materiel. Pemerintahan perlu ada rasionalisasi sedemikian rupa dengan
masyarakat yang ada, diusahakan penciptaan aparatur negara yang
bersih dan berwibawa.

7. Birokasi

Birokasi mempunyai fungsi positif dalam upaya-upaya


mengintegrasikan masyarakat Indonesia yang memiliki latar belakang
yang ditunjukkan oleh Bhineka Tunggal Ika, berbeda-beda tetapi tetap
satu jua. Birokrasi diharapkan mampu bersikap netral dan obyektif
dalam melaksanakan tugas sebagai aparatur birokrasi dapat bersikap a
politis dan epenuhnya menjadi kepentingan umum yang bersifat
langgeng dan eksplisit ditetapkan dalam konstitusi.

Aparat birokrasi di Indonesaia dalam melaksanakan tugas-tugas


sebagai aparatur Negara, abdi Negara, dan abdi masyarakat dalam
pemerintahan Indonesia telah diatur antara lain Ketetapan MPR Nomor
II/MPR/1978, Eka Prasetia-Pancakarsa, dimana para birokrat
menjalankan tugas-tugas selalu bernapaskan dan berpedoman kepada
Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa dan dasar Negara. Para
birokrat harus menyadari bahwa setiap tindakannya harus selalu
bernapaskan, gaya, dan cara selalu meresapi, menghayati, dan
melaksanakantugas-tugasnya tidak lepas dari Pancasila.
8. Pancasila Sebagai Ideologi Terbuka

Pancasila senagai ideologi terbuka karena dinamika internalnya


telah melaksanakan tugas-tugas secara wajar. Senagaimana dimaklumi
bahwa ideology tersebut sebagai tuntutan, bersifat subyektivitas, dan
bersifat pembenaran. Dalam ideology tidak perlu a priori dan
berprasangka. Aparatur pemerintahan diharapkan tetap menjaga dan
memelihara agar nilai-nilai yang ada sesuai dengan butir-butir Pancasila
tetap actual dan tetap kemantapan berdiri pada landasan budaya
Pancasila dan bertumpu kepada bhineka tunggal ika.