Anda di halaman 1dari 21

LABORATORIUM ANALITIK INSTRUMENTASI

SEMESTER GENAP TAHUN AJARAN 2013/2014

MODUL

: Polarimetri dan Refraktometri

PEMBIMBING

: Harita Nurwahyu Chamidy, LRSC

Praktikum
Penyerahan
Laporan

: 14 Mei 2014
: 21 Mei 2014

Oleh :
Kelompok : VII
Nama

Kelas

: 1.Rahma Ausina

NIM

131424022

2.Rahma Elyana Ajie

NIM

131424024

3.Rita Inayah

NIM

131424025

: 1A-Teknik Kimia Produksi Bersih

PROGRAM STUDI D-IV TEKNIK KIMIA PRODUKSI BERSIH


JURUSAN TEKNIK KIMIA

POLITEKNIK NEGERI BANDUNG


2014

POLARIMETRI

I.

Pendahuluan

I.1 Latar Belakang


Cahaya biasanya (alamiah) merambat seperti gelombang, dan gelombang itu tegak lurus
arah rambatnya. Cahaya terpolarisasi-bidang adalah cahaya yang getaran (vibration)
gelombangnya telah tersaring semua, kecuali getaran yang berada pada satu bidang. Polarisasi
bidang dilakukan dengan melewatkan cahaya biasa menembus sepasang kaca kristal kalsit
(calsite, CaCO3) atau menembus suatu lensa polarisasi (asas yang sama digunakan dalam kaca
mata gelap polaroid).
Gula (sukrosa) adalah salah satu bahan optik aktif, memutar bidang polarisasi ke kanan
(dextrorotatory). Umumnya sudut pemutaran bidang polarisasi gula digunakan untuk
menunjukan kadar gula berdasarkan skala gula internasional.
Tahun 1932 telah ditetapkan standar internasional untuk analisa kadar gula oleh
International Commission for Uniform Methods of Sugar Analysis. Untuk 26,000 gram sukrosa
murni yang dilarutkan dalam air hingga 100 mL, pemutaran bidang polarisasi sama dengan
34,6260 diukur menggunakan tabung 200 mm dan cahaya lampu natrium. Standar ini sama
dengan 1000 Z. Dengan demikian 10 Z sama dengan sudut pemutaran bidang polarisasi
0,346260, dan 10 pemutaran bidang polarisasi sama dengan 2,88800 Z. Hubungan ini dapat
digunakan untuk menentukan kandungan gula di dalam cuplikan yang tidak diketahui, dengan
menggunakan cuplikan seberat 26,000 gram dan mengukur sudut bidang polarisasi dengan cara
yang sama.
I.2 Tujuan
Polarimetri :
Mengenal metoda penentuan sudut putar untuk penentuan konsentrasi suatu senyawa
yang bersifat optik aktif
Mengukur sudut putar bidang polarisasi larutan sukrosa
Menentukan kadar sukrosa dalam larutan cuplikan

I.3 Polarimetri
Polarimetri adalah suatu cara analisa yang didasarkan pada pengukuran sudut putaran
(optical rotation) cahaya terpolarisir oleh senyawa yang transparan dan optis aktif apabila
senyawa tersebut dilewati sinar monokromatis yang terpolarisir tersebut. Senyawa optis aktif
adalah senyawa yang dapat memutar bidang getarsinar terpolarisir. Zat yang optis ditandai
dengan adanya atom karbon, contoh kuarsa ( SiO2 ), fruktosa.
Cahaya monokromatik pada dasarnya mempunyai bidang getar yangbanyak sekali. Bila
dikhayalkan maka bidang getar tersebut akan tegak lurus padabidang datar. Bidang getar yang
banyak sekali ini secara mekanik dapatdipisahkan menjadi dua bidang getar yang saling tegak
lurus.Yang dimaksuddengan cahaya terpolarisasi adalah senyawa yang mempunyai satu arah
getar danarah getar tersebut tegak lurus terhadap arah rambatnya.
Prinsip dasar polarimetris ini adalah pengukuran daya putar optis suatu zat yang
menimbulkan terjadinya putaran bidang getar sinar terpolarisir. Pemutaran bidang getar sinar
terpolarisir oleh senyawa optis aktif ada 2 macam, yaitu :
Dexro rotary (+), jika arah putarnya ke kanan atau sesuai putaran jarum jam.
Levo rotary (-), jika arah putarnya ke kiri atau berlawanan dengan putaran
jarum jam

Hal-hal yang dapat mempengaruhi sudut putar suatu larutan adalah sebagai berikut :
1. Jenis zat
2. Panjang lajur larutan dan panjang tabung
3. Suhu
4. Konsentrasi zat
5. Jenis sinar atau panjang gelombang
6. Pelarut

Jika sudut putar jenis (rotasi spesifik) diketahui, maka konsentrasi larutan dapat dihitung
dengan persamaan sebagai berikut :

C=

100.
l x [ ] t D

Dengan:
C : konsentrasi larutan (gram/100 mL)
: nilai sudut putar (pengukuran)
l : panjang tabung polarimeter (dm)
[

t D

: sudut putar spesifik/jenis, pada suhu t dan pada panjang gelombang sinar

lampu D ( Natrium dengan panjang gelombang 589nm)

II.
II.1

Alat-alat dan Bahan


Polarimetri
Alat

Bahan

Botol semprot

Sukrosa

AlatPolarimeter

Aquades

Tabung Polarimetri

Labu takar 25 mL

Pipet tetes

Gelas kimia 250 mL

Batang pengaduk

Corong gelas

Neraca analitis

II.2

Bola hisap

Prosedur Kerja

2.2.1 Kalibrasi Alat

Tabung Polarimeter

Tampilan Angka 000

Lihat Teropong

Warna sama

Tekan Zero Set

Aquadest

2.2.2 pengukuran/ penentuan kadar cuplikan

2,5 gram
sukrosa

Encerkan dalam labu takan


25 ml

Membuat larutan dengan konsentrasi 9,98 %,


4,99%,2,45%, 1,25%, 0,624% dalam labu takar
25 mL serta 1 larutan sampel

Memasukkan aquades pada tabung


1

Memasukkan larutan dengan konsentrasi


dari yang terendah ke larutan yang lebih
tinggi secara bergantian ke tabung 2

Memasukkan tabung ke alat, lalu membuat cahaya didalamnya


terang sepenuhnya. Setelah itu dibuat setengah terang, lalu dibuat
terang kembali dengan menekan R+ atau L-

Mengulangi langkah diatas sebanyak 3


kali pada masing-masing larutan
III.Data Pengamatan
3.1 Polarimeter

Penentuan kadar sukrosa berdasarkan sudut putar optik larutan standar

N
o.

Konsentrasi
larutan
sukrosa (%)

1.
2.
3.

4%
2%
1%

Pembaca
an sudut
putar
optik
aktif ( o)
1,65
0,63
0,20

4.1perhitungan
4.1.1 Polarimetri
Membuat larutan sukrosa 99,8 % yaitu dengan mengencerkan 1 gram sukrosa dalam
labu takar 25 ml. Lalu dilakukan pengenceran larutan sukrosa dengan konsentrasi 0,624
%, 1,25 %, 2,45 %, 4,99 % dan 9,98 %.
a. Pembuatan sample 1

N sukrosa induk=

1 gr sukrosa
x 100 =4
25 ml

b. Pembuatan sample 2

V1 N1

V2 N2

12,5 ml . 4 % = 25 ml N2
N2 = 2 %
c. Pembuatan sample 3

V1 N1

V2 N2

12,5 ml . 2 % = 25 ml N2
N2 = 1 %
Menghitung sudut putar jenis larutan glukosa
dik. l = 10 cm = 1 dm

[ ] t D =

100.
l xC

a. Konsentrasi 4 %

[ ] t D =

100. 1,65
1x 4

= 41,250

b. Konsentrasi 2 %

[ ] t D =

100. 0,63
1 x2

= 31,5 0

c. Konsentrasi 1 %

[ ] t D =

100. 0,20
1 x1

= 200

Sudut putar spesifik rata rata : [ ] t D


Pembahasan

rata-rata

= 30,9170

Rahma Ausina
Percobaan yang dilakukan adalah polarimetri yaitu suatu cara analisa yang didasarkan
pada pengukuran sudut putaran (optical rotation) cahaya terpolarisir oleh senyawa yang
transparan dan optis aktif apabila senyawa tersebut dilewati sinar monokromatis yang terpolarisir
tersebut.
Alat yang digunakan untuk pengukuran polarimetri adalah polarimeter. Larutan yang
diuji adalah larutan sukrosa 4 %, 2% dan 1 %. Data sudut putar optic aktif yang didapat adalah
1.65 ; 0.63 ; 0.20 secara berurutan. Lalu sudut putar jenis larutan untuk 4 % adalah 41,250 ; 2%
adalah 31,50 ; 1 % adalah 200.
Dari data data yang didapat dapat disimpulkan bahwa konsentrasi dapat mempengaruhi
sudut putar optis aktif suatu larutan. Dan semakin besar konsentrasi suatu larutan, maka sudut
putar yang didapat akan semakin besar. Lalu sudut putar jenis larutan adalah 30,9170.
Simpulan
Daftar pustaka

Refraktometri
I.Tujuan
Refraktometri :
Memahami prinsip refraktimetri dan dapat mengoprasikan refraktometer dengan
benar
Menentukan harga indeks bias

Menentukan konsentrasi suatu zat berdasarkan harga indeks biasnya

Refraktometri

1.1

Refraktometer adalah alat yang digunakan untuk mengukur kadar/konsentrasi bahan terlarut
misalnya : Gula, Garam, Protein dsb. Prinsip kerja dari refraktometer sesuai dengan namanya
adalah dengan memanfaatkan refraksi cahaya. Seperti terlihat pada Gambar di bawah ini sebuah
sedotan yang dicelupkan ke dalam gelas yang berisi air akan terlihat terbengkok. Pada Gambar
kedua sebuah sedotan dicelupkan ke dalam sebuah gelas yang berisi lauran gula. Terlihat sedotan
terbengkok lebih tajam.Fenomena ini terjadi karena adanya refraksi cahaya. Semakin tinggi
konsentrasi bahan terlarut (Rapat Jenis Larutan), maka sedotan akan semakin terlihat bengkok
secara

proporsional.

Besarnya

sudut

pembengkokan

ini

disebut

Refractive

Index

(nD).Refractometer ditemukan oleh Dr. Ernst Abbe seorang ilmuwan dari German pada
permulaan abad 20.

Pengukuran indeks bias suatu zat cair adalah penting bagi penilaian sifat dan kemurnian
cairan, konsentrasi larutan-larutan dan perbandingan komponen dalam campuran dua zat cair
atau kadar (persentase) zat yang diekstrasikan dalam pelarutnya. Dalam keadaan yang lebih
kritik, penentuan indeks bias kadang-kadang belum menentukan, tetapi dapat sebagai data yang
berharga bagi kelengkapan penelitian.
Ciri khas refraktometer ialah dapat digunakan untuk mengukur secara cepat dan sederhana,
karena hanya memerlukan zat sampel yang sangat sedikit, yaitu kira-kira 0,1 mL dan dengan
ketelitian yang tinggi. Apabila sinar cahaya monokromatik berpindah dari medium optik yang
kurang rapat ke medium yang lebih rapat, maka akan terjadi pembiasan ke arah normal. Sudut
yang terbentuk antara sinar datang dengan garis tegak lurus pada permukaan media disebut sudut
datang dengan garis tegak lurus pada permukaan media disebut sudut datang (i), sedangkan sudut
yang terbentuk antara sinar bias dengan garis tegak lurus tersebut disebut dengan sudut bias (r).
Bila sudut datang pada garis batas kedua permukaan (90o), maka sinar yang dibiaskan merupakan
sinar kritik. Perbandingan antara sudut sinar datang dengan sudut sinar bias adalah sama dengan
indeks bias.
sin i
sinr

=n

Jika media-I lebih rapat dibandingkan dengan media-II, maka sudut r akan lebih besar
dari sudut i, akibatnya indeks bias (n) akan lebih kecil dari 1. Demikian sebaliknya, jika media-II
lebih rapat dibandingkan dengan media-I, maka sudut r akan lebih kecil dari sudut i dan
akibatnya nilai n lebih besar dari 1.
Secara teoritis, indeks bias ditentukan dengan media I dalam keadaan vakum (hampa).
Tetapi jika media I digunakan udara, hasilnya hanya berbeda 0,03%. Oleh karena itu untuk
mudahnya digunakan media I adalah udara. Harga indeks bias untuk tiap senyawa dipengaruhi
oleh tekanan dan temperatur.
Adapun prinsip kerja dari refraktometer dapat digambarkan sebagai berikut :
1. Dari gambar dibawah ini terdapat 3 bagian yaitu : Sample, Prisma dan Papan Skala.
Refractive index prisma jauh lebih besar dibandingkan dengan sample.

2. Jika sample merupakan larutan dengan konsentrasi rendah, maka sudut refraksi akan
lebar dikarenakan perbedaan refraksi dari prisma dan sample besar. Maka pada papan
skala sinar aakan jatuh pada skala rendah.
3. Jika sample merupakan larutan pekat / konsentrasi tinggi, maka sudut refraksi akan
kecil karena perbedaan refraksi prisma dan sample kecil. Pada gambar terlihar sinar
b jatuh pada skala besar.

Dari penjelasan di atas jelas bahwa konsentrasi larutan akan berpengaruh secara
proporsional terhadap sudut refraksi. Pada prakteknya Refractometer akan ditera pada skala
sesuai dengan penggunaannya. Sebagai contoh Refractometer yang dipakai untuk mengukur
konsentrasi larutan gula akan ditera pada skala gula. Begitu juga dengan refractometer untuk
larutan garam, protein dll.
Konsentrasi bahan terlarut sering dinyatakan dalam satuan Brix(%) yaitu merupakan
pronsentasi dari bahan terlarut dalam sample (larutan air). Kadar bahan terlarut merupakan total
dari semua bahan dalam air, termasuk gula, garam, protein, asam dsb. Pada dasarnya Brix(%)
dinyatakan sebagai jumlah gram dari cane sugar yang terdapat dalam larutan 100g cane sugar.
Jadi pada saat mengukur larutan gula, Brix(%) harus benar-benar tepat sesuai dengan
konsentrasinya.
Dibawah ini tabel yang menunjukkan korelasi antara Brix(%) dengan Refractive
Index (nD).
(http://dunianalalitika.wordpress.com/2010/03/04/refractometer)

Refraktometer

III.

(www.wikipedia.com)

Alat-alat dan Bahan


Refraktometri

Alat
Alat Refraktometer

Bahan
Larutan Etanol 9,98 %

Labu takar 25 mL

Aquades

Gelas kimia 25 mL

Larutan Aseton

Gelas Kimia 250 mL

Tissue halus

Pipet ukur 5 ml ,10 ml


Pipet tetes
Bola hisap
Botol semprot

III.1

Prosedur Kerja

3.1.1Pengenceran Ethanol menjadi beberapa konsentrasi

2,505 mL
ethanol 99,8
%

5,01 mL
ethanol 99,8
%

10,02 mL
ethanol 99,8
%

15,03 mL
ethanol 99,8
%

20,04 mL
ethanol 99,8
%

Labu takar
25 mL

Tanda bataskan
dengan aquades

Kocok

Ethanol
10%

Ethanol
20%

Ethanol
40%

Ethanol
60%

3.1.2 Pengukuran Indeks Bias dari Ethanol dan Sampel

Ethanol
80%

Hidupkan alat

Bersihkan permukaan
prisma dengan larutan
yang akan diamati

Atur daerah
cahaya (X)
hingga bagian
atas tanda X
terang dan bagian
bawah gelap

Teteskan lensa dengan


larutan yang akan di
amati

Serap larutan
dengan tissue
kering

bersihkan permukaan
lensa dengan tissue
lensa

Catat indeks biasnya

3.2Data Pengamatan
3.2.1 Refraktometri
Pengukuran refraktometri dengan refraktometer biasa menggunakan etanol 99,8 %
No.

Konsentrasi
Etanol 99,8 (%)

Indeks Bias (n)


T=27oC

1.
2.
3.
4.
5.

0,624 %
1,25 %
2,45 %
4,99 %
9,98 %

1,338
1,424
1,514
1,358
1,339

Konsentrasi Vs Indeks bias


1.55
1.5
1.45
1.4
1.35
1.3
1.25

Konsentrasi Vs Indeks
bias

Pengukuran refraktometri dengan refraktometer digital menggunakan etanol 99,8 %


No

Konsentrasi etanol 99,8 %

1.

0,624 %

2.

1,25 %

3.

2,45 %

4.

4,99 %

5.

9,98 %

Indeks bias (n) T=27oC


0.90%
1.10%
1.40%
2.20%
3.90%

Series 1
4.50%
4.00%
3.50%
3.00%
2.50%
2.00%
1.50%
1.00%
0.50%
0.00%

f(x) = 0.01x - 0
Series 1
Linear (Series 1)

3.3 Perhitungan
Refraktometri
Mengencerkan larutan etanol 99,8 % menjadi larutan etanol 0,624%, 1,25%, 2,45%, 4,99% dan
9,98%.
a. Pembuatan larutan etanol %
V1 N1

V2 N2

2,5 ml . 99,8% =

25 ml N2

N2

9,98 %

b. Pembuatan larutan etanol %


V1 N1

V2 N2

12,5 ml . 9.98 % =

25 ml N2

N2

4,99 %

c. Pembuatan larutan etanol %


V1 N1

V2 N2

12,5 ml . 9.98 % =

25 ml N2

N2

2,45 %

d. Pembuatan larutan etanol 4,99%


V1 N1

V2 N2

12,5 ml . 9.98 % =

25 ml N2

N2

1,25

e. Pembuatan larutan etanol 9,98 %


V1 N1

V2 N2

12,5 ml . 9.98 % =

25 ml N2

N2

0,624 %

Pembahasan
Oleh :
Rita Inayah (131424025)
Refraktometri
Refraktometri merupakan suatu metoda untuk menentukan konsentrasi suatu larutan dengan
melalui refrakto cahaya atau indeks bias. Alat yang digunakan untuk menentukan indeks bias
tersebut adalah refraktometer. Larutan yang digunakan dalam praktikum ini adalah etanol. Etanol
yang digunakan dengan perbedaan konsentrasi, yaitu 0,624%, 1,25%, 2,45%, 4,99% dan 9,98%.

Selain itu digunakan juga larutan sampel yang akan dicari konsentrasinya. Cara membuat etanol
yang berbeda-beda konsentrasi tersebut adalah dari pengenceran larutan induk etanol 99,8%.
Setelah dibuat etanol yang berbeda-beda konsentrasi tersebut, maka memulai dicari indeks
biasnya, yaitu dengan menggunakan refraktometer. Caranya yaitu dengan memasukan 2 atau 3
tetes etanol yang akan diamati indeks biasnya kedalam alat. Berdasarkan percobaan didapatkan
hasil indeks bias pada etanol dengan konsentrasi 0,624 % adalah 1,338, pada konsentrasi 1,25 %
adalah 1,424, pada konsentrasi 2,45 % adalah 1,514, pada konsentrasi 4,99 % adalah 1,358, dan
pada konsentrasi 9,98 % adalah 1,339 dan larutan sampel adalah 1,364. Semakin besar
konsentrasi etanol maka semakin besar indeks biasnya, sebaliknya semakin kecil konsentrasi
etanol maka semakin kecil pula indeks biasnya. Dari hasil yang diperoleh kecenderungan
semakin kecil konsentrasinya maka semakin kecil pula indeks biasnya. Hal ini dikarenakan
etanol yang lebih tinggi konsentrasinya lebih rapat dibandingkan dengan alkohol yang lebih
rendah konsentrasinya.
Adapun hal-hal yang dapat mempengaruhi indeks bias adalah kondisi suhu larutan, konsentrasi
larutan dan kemurnian larutan.

Rahma Ausina
Refraktometri adalah sebuah metode untuk menentukan indeks bias suatu larutan yang
nantinya akan digunakan untuk menentukan konsentrasi larutan tersebut. Variasi konsentrasi
yang digunakan dalam percobaan ini adalah 0,624%, 1,25%, 2,45%, 4,99% dan 9,98%. Dalam
percobaan kali ini, pengukuran indeks bias dilakukan dengan menggunakan alat refraktometer
analog dan digital.
Pengukuran menggunakan refraktometer analog caranya adalah dengan meneteskan 3
tetes larutan yang akan diuji, lalu melihat melalui lensanya sehingga didapatkan indeks biasnya.
Sedangkan pengukuran menggunakan refraktometer digital dilakukan dengan meneteskan
larutan yg diuji lalu melihat pada tampilan angkanya. Dari kedua hasil pengamatan tersebut
didapatkan :
a Pengukuran Refraktometer Analog

No.
1.
2.
3.
4.
5.

Konsentrasi

Indeks Bias (n)

Etanol
0,624 %
1,25 %
2,45 %
4,99 %
9,98 %

T=27oC
1,338
1,424
1,514
1,358
1,339

b Pengukuran refraktometer Digital

No

Konsentrasi etanol

Indeks bias (n) T=27oC


(% bricks)

1.

0,624 %

0.90%

2.

1,25 %

1.10%

3.

2,45 %

1.40%

4.

4,99 %

2.20%

5.

9,98 %

3.90%

Dari kedua data tersebut dapat disimpulkan bahwa semakin besar konsentrasi suatu
larutan, maka indeks biasnya pun akan semakin besar karena konsentrasi berbanding lurus
dengan indeks bias. Hal ini dikarenakan etanol yang lebih besar konsentrasinya kondisinya lebih
rapat dibandingkan etanol yang lebih kecil konsentrasinya.
Faktor faktor lain yang mempengaruhi indeks bias adalah kondisi suhu larutan,
konsentrasi larutan dan kemurnian larutan.

Simpulan

Daftar pustaka

Anda mungkin juga menyukai