Anda di halaman 1dari 23

RSU Dr.

PIRNGADI MEDAN
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Berdasarkan PPDGJ III, skizofrenia adalah suatu diskripsi sindrom dengan
variasi penyebab (banyak belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu
bersifat kronis atau deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung
pada pertimbangan pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya. Pada umumnya
ditandai oleh penyimpangan yang fundamental dan kharacteristik dari pikiran dan
persepsi ,serta oleh afek yang tidak wajar. Kesadaran yang jernih tetap
terpelihara,walaupun kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.1
Skizofrenia berasal dari bahasa Yunani, schizeinyang berarti terpisahatau
pecah, dan phren yang artinya jiwa. Pada skizofrenia terjadi pecahnya atau
ketidakserasian antara afeksi, kognitif dan perilaku. Secara umum, simptom
skizofrenia dapat dibagi menjadi tiga golongan: yaitu simptom positif, simptom
negative, dan gangguan dalam hubungan interpersonal.2
Dalam sejarah perkembangan skizofrenia sebagai gangguan klinis, banyak
tokoh psikiatri dan neurologi yang berperan. Mula-mula Emil Kreaplin (18-1926)
menyebutkan gangguan dengan istilah dementia prekok yaitu suatu istilah yang
menekankan proses kognitif yang berbeda dan onset pada masa awal. Istilah
skizofrenia itu sendiri diperkenalkan oleh Eugen Bleuler (1857-1939), untuk
menggambarkan munculnya perpecahan antara pikiran, emmosi dan perilaku pada
pasien yang mengalami gangguan ini. Bleuler mengindentifikasi symptom dasar dari
skizofrenia yang dikenal dengan 4A antara lain : Asosiasi, Afek, Autisme dan
Ambivalensi.2
Skizofrenia merupakan gangguan psikotik yang paling sering. Hampir 1%
penduduk di dunia menderita skizofrenia selama hidup mereka. Skizofrenia biasanya
bermula diusia 25 tahun ,berlangsung seumur hidup ,dan mengenai orang dari semua
kelas sosial. Baik pasien maupun keluarga pasien sering mendapatkan pelayanan

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


yang buruk dan pengasingan sosial karena ketidaktahuan yang meluas akan gangguan
ini.3
Skizofrenia merupakan gangguan jiwa kronis,berat dan sangat mengganggu
aktivitas hidup. Gangguan ini dialami oleh berbagai jenis kalangan masyarakat dan
hampir tidak ada perbedaan secara umum terhadap perempuan dan laki-laki. Sekitar
50 % penderita gangguan jiwa yang dirawat di rumah sakit menderita skizofrenia.2
Pasien

yang

mengalami

skizofrenia

memiliki

gejala

seperti

delusi,halusinasi,gangguan bentuk pikiran dan perilaku,bahasa yang terganggu,dan


yang berupa perilaku katatonia. Kebanyakan penderita memiliki ketidakmampuan
untuk menjalankan fungsi hidup seperti biasa,namun ada juga yang hanya memiliki
gangguan

aktifitas

tetap

seperti

bekerja,

ataupun

ketidakmampuan

dalam

berkomunikasi.3
Skizofrenia hebefrenik disebut juga disorganized type atau kacau balau
yang ditandai dengan inkoherensi, afek datar,perilaku dan tertawa kekanakkanakan

,yang

terpecah

pecah

,dan

perilaku

aneh

seperti

menyeringai

sendiri,menunjukkan gerakan gerakan aneh, mengucap berulang-ulang, dan


kecenderungan untuk menarik diri secara ekstrim dari hubungan sosial.2
1.2 Tujuan
Makalah ini ditulis sebagai salah satu prasyarat untuk mengikuti aktivitas koasisten di Departemen Psikiatri. Makalah ini diharapkan dapat menambaha
pengetahuan pembaca mengenai skizofrenia hebeferenik ,sehingga pembaca dapat
lebih mengenal tentang gangguan ini dan lebih akurat dalam mendiagnosisnya.
Pemahaman tengtang diagnosis Skizofrenia Hebefrenik yang baik diharapkan
dapat memberikan potensi untuk prognosis yang lebih baik dengan diagnosis
dini,mencegah terjadinya kesalahan pengobatan ,dan memungkinkan untuk mencegah
penyakit berlarut-larut.

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Skizofrenia
2.1.1 Definisi
Skizofrenia adalah suatu deskripsi sindrom dengan variasi penyebab (banyak
belum diketahui) dan perjalanan penyakit (tak selalu bersifat kronis atau
deteriorating) yang luas, serta sejumlah akibat yang tergantung pada pertimbangan
pengaruh genetik, fisik dan sosial budaya. Pada umumnya ditandai oleh
penyimpangan yang fundamental dan kharacteristik dari pikiran dan persepsi ,serta
oleh afek yang tidak wajar. Kesadaran yang jernih tetap terpelihara,walaupun
kemunduran kognitif tertentu dapat berkembang kemudian.1
Skizofrenia adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Yunani; schizein
yang berarti terpisah atau pecah dan phrenia yang berarti jiwa. Arti dari katakata tersebut menjelaskan tentang karakteristik utama dari gangguan skizofrenia,
yaitu adanya pemisahan antara pikiran, emosi, dan perilaku dari orang yang
mengalaminya.2
2.1.2 Etiologi 2
1.Model Diatesis-stres
Merupakan integrasi faktor biologis, faktor psikososial, faktor lingkungan.
Model ini mendalilkan bahwa seseorang mungkin memiliki suatu kerentanan spesifik
(diatessis) yang jika dikenai oleh suatu pengaruh lingkungan yang menimbulkan
stress, memungkinkan perkembangan skizofrenia.
Komponen lingkungan mungkin biologikal (seperti infeksi) atau psikologis
(missal kematian orang terdekat). Sedangkan dasar biologikal dari diatesis
selanjutnya dapat terbentuk oleh pengaruh epigenetik seperti penyalahgunaan obat,
stress psikososial , dan trauma.

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


Kerentanan

yang

dimaksud

disini

haruslah

jelas,

sehingga

dapat

menerangkan mengapa orang tersebut dapat menjadi skizofren. Semakin besar


kerentanan seseorang maka stressor kecilpun dapat menyebabkan menjadi skizofren.
Semakin kecil kerentanan maka butuh stressor yang besar untuk membuatnya
menjadi penderita skizofren. Sehingga secara teoritis seseorang tanpa diathese tidak
akan berkembang menjadi skizofren, walau sebesar apapun stressornya.2
2. Faktor Neurobiologi
Penelitian menunjukkan bahwa pada pasien skizofrenia ditemukan adanya
kerusakan pada bagian otak tertentu. Namun sampai kini belum diketahui bagaimana
hubungan antara kerusakan pada bagian otak tertentu ddengan munculnya simptom
skizofrenia.
Terdapat beberapa area tertentu dalam otak yang berperan dalam membuat
seseorang njadi patologis, yaitu sitem limbik, korteks frontal, cerebellum dan ganglia
basalis. Keempat area tersebut saling berhubungan, sehingga disfungsi pada satu area
mungkin melibatkan proses patologis primer pada area yang lain. Dua hal yang
menjadi sasaran penelitian adalah waktu dimana kerusakan neuropatologis muncul
pada otak, dan interaksi antara kerusakan tersebut dengan stressor lingkungan dan
sosial.2

Hipotesa Dopamin
Menurut hipotesa ini, skizofrenia terjadi akibat dari peningkatan aktivitas
neurotransmitter dopaminergik. Peningkatan ini mungkin merupakan akibat dari
meningkatnya pelepasan dopamine, terlalu banyaknya reseptor dopamine, turunnya
nilai ambang, atau hipersentivitas reseptor dopamine, atau kombinasi dari faktorfaktor tersebut. Munculnya hipotesa ini berdasarkan observasi bahwa :

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


a.Ada korelasi antara efektivitas dan potensi suatu obat antipsikotik dengan
kemampuannya bertindak sebagai antagonis reseptor dopamine D2.
b.Obat yang meningkatkan aktivitas dopaminergik- seperti amphetamine-dapat
menimbulkan gejala psikotik pada siapapun.
3. Faktor Genetika
Penelitian tentang genetik telah membuktikan faktor genetik/keturunan
merupakan salah satu penyumbang bagi jatuhnya seseorang menjadi skizofren.
Resiko seseorang menderita skizofren akan menjadi lebih tinggi jika terdapat anggota
keluarga lainnya yang juga menderita skizofren, apalagi jika hubungan keluarga
dekat. Penelitian terhadap anak kembar menunjukkan keberadaan pengaruh genetik
melebihi pengaruh lingkungan pada munculnya skizofrenia, dan kembar satu telur
memiliki kemungkinan lebih besar untuk mengalami skizofrenia.
4. Faktor Psikososial
4.1 Teori Tentang Individu Pasien
a. Teori Psikoanalitik
Freud

beranggapan

bahwa

skizofrenia

adalah

hasil

dari

fiksasi

perkembangan, yang muncul lebih awal daripada gangguan neurosis. Jika


neurosis merupakan konflik antara id dan ego, maka psikosis merupakan
konflik antara ego dan dunia luar. Menurut Freud, kerusakan ego (ego
defect) memberikan kontribusi terhadap munculnya simptom skizofrenia.
Disintegrasi ego yang terjadi pada pasien skizofrenia merepresentasikan
waktu dimana ego belum atau masih baru terbentuk.
Konflik intrapsikis yang berasal dari fiksasi pada masa awal serta
kerusakan ego-yang mungkin merupakan hasil dari relasi obyek yang buruk-

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


turut memperparah symptom skizofrenia. Hal utama dari teori Freud tentang
skizofrenia adalah dekateksis obyek dan regresi sebagai respon terhadap
frustasi dan konflik dengan orang lain.
Harry Stack Sullivan mengatakan bahwa gangguan skizofrenia
disebabkan oleh kesulitan interpersonal yangyang etrjadi sebelumnya,
terutama yang berhubungan dengan apa yang disebutnya pengasuhan ibu
yang salah, yaitu cemas berlebihan.
Secara umum, dalam pandangan psikoanalitik tentang skizofrenia,
kerusakan ego mempengaruhi interprestasi terhadap realitas dan kontrol
terhadap dorongan dari dalam, seperti seks dan agresi. Gangguan tersebut
terjadi akibat distorsi dalam hubungan timbal balik ibu dan anak.
Berbagai simptom dalam skizofrenia memiliki makna simbolis bagi
masing-masing pasien. Misalnya fantasi tentang hari kiamat mungkin
mengindikasikan persepsi individu bahwa dunia dalamnya telah hancur.
Halusinasi mungkin merupakan substitusi dari ketidakmampuan pasien
untuk

menghadapi

realitas

yang

obyektif

dan

mungkin

juga

merepresentasikan ketakutan atau harapan terdalam yang dimilikinya.


b. Teori Psikodinamik
Berbeda dengan model yang kompleks dari Freud, pandangan
psikodinamik setelahnya lebih mementingkan hipersensitivitas terhadap
berbagai stimulus. Hambatan dalam membatasi stimulus menyebabkan
kesulitan dalam setiap fase perkembangan selama masa kanak-kanak dan
mengakibatkan stress dalam hubungan interpersonal.
Menurut pendekatan psikodinamik, simptom positif diasosiasikan
dengan onset akut sebagai respon terhadap faktor pemicu/pencetus, dan erat
kaitannya dengan adanya konflik. Simptom negatif berkaitan erat dengan

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


faktor biologis, dan karakteristiknya adalah absennya perilaku/fungsi
tertentu. Sedangkan gangguan dalam hubungan interpersonal mungkin
timbul akibat konflik intrapsikis, namun mungkin juga berhubungan dengan
kerusakan ego yang mendasar.
Tanpa memandang model teoritisnya, semua pendekatan psikodinamik
dibangun berdasarkan pemikiran bahwa symptom-simptom psikotik
memiliki makna dalam skizofrenia. Misalnya waham kebesaran pada pasien
mungkin timbul setelah harga dirinya terluka. Selain itu, menurut pendekatan
ini, hubungan dengan manusia dianggap merupakan hal yang menakutkan
bagi pengidap skizofrenia.
c.Teori Belajar
Menurut teori ini, orang menjadi skizofrenia karena pada masa kanakkanak ia belajar pada model yang buruk. Ia mempelajari reaksi dan cara pikir
yang tidak rasional dengan meniru dari orangtuanya, yang sebenarnya juga
memiliki masalah emosional.
4.2 Teori Tentang Keluarga
Beberapa

pasien

skizofrenia-sebagaimana

orang

yang

mengalami

nonpsikiatrik-berasal dari keluarga dengan disfungsi, yaitu perilaku keluarga yang


patologis, yang secara signifikan meningkatkan stress emosional yang harus dihadapi
oleh pasien skizofrenia.
4.3 Teori Sosial
Beberapa teori menyebutkan bahwa industrialisasi dan urbanisasi banyak
berpengaruh dalam menyebabkan skizofrenia. Meskipun ada data pendukung, namun
penekanan saat ini adalah dalam mengetahui pengaruhnya terhadap waktu timbulnya
onset dan keparahan penyakit

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN

2.1.3 Kriteria Diagnostik Skizofrenia 1,2,4


Pedoman diagnostik berdasarkan PPDGJ III

Harus ada sedikitnya satu gejala berikut ini yang amat jelas (dan biasanya dua
gejala atau lebih bila gejala-gejala itu kurang tajam atau kurang jelas):

a. -Thought echo
Isi pikiran dirinya sendiri yang berulang atau bergema dalam kepalanya
(tidak keras) dan isi pikiran ulangan, walaupun isinya sama, namun
kualitasnya berbeda, atau
-Thought insertion or withdrawal
Isi pikiran yang asing dari luar masuk kedalam pikirannya (insertion) atau isi
pikirannya diambil keluar oleh sesuatu dari luar dirinya (Withdrawal) dan
-Thought broadcasting
Isi pikirannya tersiar keluar sehingga orang lain atau umumnya
mengetahuinya.
b. -Delusion of control
Waham tentang dirinya dikendalikan oleh suatukekuatan tertentu dari luar
- Delusion of influence
Wahamtentang dirinya dipengaruhi oleh suatu kekuatan tertentu dari luar
- Delusion of passivity
Waham tentang dirinya tidak berdaya dan pasrah terhadap suatu kekuatan dari
luar; (tentang dirinya= secara jelas ,merujuk ke pergerakan tubuh/anggota
gerak atau kepikiran, tindakan atau penginderaan khusus).
- Delusion perception
Pengalaman inderawi yang tidak wajar, yang bermakna sangat khas bagi
dirinya , biasanya bersifat mistik dan mukjizat.
c. Halusional Auditorik ;
-Suara halusinasi yang berkomentar secara terus menerus terhadap prilaku
pasien ,atau
-Mendiskusikan perihal pasien di antara mereka sendiri (diantara berbagai
suara yang berbicara) atau

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


- Jenis suara halusinasi lain yang berasal dari salah satu bagian tubuh.
d. Waham-waham menetap jenis lainnya, yang menurut budaya setempat
dianggap tidak wajar dan sesuatu yang mustahi,misalnya perihal keyakinan
agama atau politik tertentu atau kekuatan dan kemampuan diatas manusia
biasa (misalnya mampu mengendalikan cuaca atau berkomunikasi dengan
mahluk asing atau dunia lain)

Atau paling sedikitnya dua gejala dibawah ini yang harus selalu ada secara
jelas:

e. Halusinasi yang menetap dari panca indera apa saja , apabila disertai baik oleh
waham yang mengambang maupun yang setengah berbentuk tanpa kandungan
afektif yang jelas, ataupun disertai oleh ide-ide berlebihan (over-valued ideas)
yang menetap, atau apabila terjadi setiap hari selama berminggu-minggu atau
berbulan-bulan terus menerus.
f. Arus pikiran yang terputus (break) atau yang mengalami sisipan
(interpolation) yang berakibat inkoherensia atau pembicaraan yang tidak
relevan atau neologisme.
g. Perilaku katatonik seperti keadaan gaduh gelisah (excitement), posisi tubuh
tertentu (posturing) atay fleksibilitas cerea, negativisme, mutisme, dan stupor
h. Gejala negatif seperti sikap apatis, bicara yang jarang dan respons emosional
yang menumpul tidak wajar, biasanya yang mengakibatkan penarikan diri dari
pergaulan sosial dan menurunya kinerja sosial, tetapi harus jelas bahwa semua
hal tersebut tidak disebabkan oleh depresi atau medikasi neureptika.

Adanya gejala-gejala khas tersebut diatas telah berlangsung selama kurun


waktu satu bulan atau lebih (tidak berlaku untuk setiap fase nonpsikotik
prodromal);

Harus ada suatu perubahan yang konsisten dan bermakna dalam mutu
keseluruhan (overall quality) dari beberapa aspek perilaku pribadi (personal
behavior), bermanifestasi sebagai hilangnya minat, hidup tak bertujuan, tidak
berbuat sesuatu, sikap larut dalam diri sendiri (self absorbed attitute), dan
penarikan diri secara sosial.

2.1.4 Klasifikasi 1,2,4

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


Dalam PPDGJ III Skizofrenia dibagi lagi dalam 9 tipe atau kelompok yang
mempunyai spesifikasi masing-masing yang kriterianya didominasi dengan hal-hal
sebagai berikut :
1. Skizofrenia Paranoid
2. Skizofrenia Hebefrenik
3. Skizofrenia Katatonik
4. Skizofrenia Tak Terinci (Undifferentiated)
5. Depresi Pasca Skizofrenia
6. Skizofrenia Residual
7. Skizofrenia Simpleks
8. Skizofrenia lainnya
9. Skizofrenia YTT
2.2 Skizofrenia Hebefrenik
2.2.1 Definisi
Skizofrenia hebefrenik adalah suatu bentuk skizofrenia dengan perubahan
perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan ,ada
kecenderungan untuk selalu menyendiri .dan ungkapan kata yang diulangulang,proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu serta
adanya penurunan perawatan diri pada individu.1
2.2.2 Etiologi
Faktor predisposisi dan presipitasi 2:
1. Faktor Predisposisi
Beberapa faktor predisposisi yang berkontribusi pada munculnya respon
neurobiologi seperti pada harga diri rendah antara lain :
a.

Faktor Genetis
Telah diketahui bahwa secara genets skizofrenia diturunkan melaluui
kromosom-kromosom tertentu. Tetapi kromosom yang ke berapa
menjadi faktor penentu gangguan ini sampai sekarang masih dalam

10

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


tahap penelitian. Diduga letak gen skizofrenia ada dikromosom no. 6
dengan kontribusi genetik tambahan no. 4, 8, 15 dan 22. Anak kembar
identik memiliki kemungkinan mengalami skizofrenia sebesar 50%
jika salah satunya mengalami skizofrenia, sementara jika dizigote
peluangnya sebesar 15%. Seorang anak yang salah satu orang tuanya
mengalami skizofrenia, ssementara bila kedua orang tuany skizofreia
maka peluangnya menjadi 35%.
b. Faktor Neurologis
Ditemukan bahwa korteks prefrotal dan korteks limbik pada klien
skizofrenia tidak pernah berkembang penuh. Ditemukan juga pada
klien skizofrenia terjadi penurunan volume dan fungsi otakyang
banormal. Neurotransmitter yang ditemukan tidak normal khususnya
dopamine, serotonine, dan glutamat.
c.

Studi Neurotransmiter
Skizofrenia diduga juga disebkan oleh adanya ketidakseimbangan
neurotransmtter dopamine yang berlebihan.

d. Teori Virus
Paparan virus influenza pada trimester 3 kehamilan dapat menjadi
faktor predispossisi skizofrenia.
e.

Psikologis
Beberapa kondisi psikologis yang menjadi faktor predisposisi
skizofrenia antara lain anak yang diperlakukan oleh ibu pencemas,
terlalu melindungi, dingin dan tidak berperasaan, sementara ayah yang
mengambil jarak dengan anaknya.

2. Faktor Presipitasi
Faktor-faktor pencetus respon neurobiologis meliputi :
a.

Berlebihannya proses inflamasi pada sistem saraf yang menerima dan


memproses informasi di thalamus dan frotal otak.

b. Mekanisme penghantaran listrik di saraf terganggu.

11

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


c.

Gejala-gejala pemicu seperti kondisi kesehatan, lingkunga, sikap dan


perilaku.
Gejala-gejala pencetus respon biologis :
- Kesehatan : nutrisi kurang, kelelahan, kurang tidur,
ketidakseimbangan irama sirkadian, infeksi, obat-obatan sistem saraf
pusat, kurangnya latihan dan hambatan layanan kesehatan yang sulit
terjangkau.
- Lingkungan : lingkungan yang tidak kondusif, masalah rumah
tangga, pola aktivitas sehari-hari, kesukaran berhubungan dengan
orang lain, isolasi sosial, kehilangan kebebasan hidup, perubahan pola
hidup, kurang mendapat dukungan sosial, tekanan kerja, stigmasisasi,
kemiskinan, kurangnya alat transportasi dan ketidakmampuan mencari
pekerjaan.
- Tingkah laku : merasa tidak mampu, putus asa, merasa gagal,
kehilangan kendali diri (demoralisasi), merasa punya kekuatan
lebih,perilakunya agresif, perilaku kekerasan, merasa malang,
bertindak tidak sama seperti orang lain, kurang mampu
bersosialisasi, kurang memadainya pengobatan dan kurang
memadainya penanganan gejala.

2.3 Tanda dan Gejala.


Skizofrenia Hebefrenik ditandai dengan gejala-gejala antara lain sebagai
berikut 3:
1. Inkoherensi yaitu jalan pikiran yang kacau, tidak dapat dimengerti apa
maksudnya.
2. Alam perasaan yang datar tanpa ekspresi serta tidakserasi atau ketolol-tololan.
3. Perilaku dan tertawa kekenak-kanakan, senyum yang menunjukkan rasa puas
diri atau senyum yang hanya dihayati sendiri.
4. Waham yang tidak jelas dan tidak sistematik tidak terorganisasi sebagai suatu
kesatuan.
5. Halusinasi yang terpecah-pecah yang isi temanya tidak terorganisasi sebagai
satu kesatuan.
6. Perilaku aneh, misalnya menyeringai sendiri, menunjukkan gerakan-gerakan
aneh, berkelakar, pengucapan kalimat yang diulang-ulang dan cenderung
untuk menarik diri secara akstrim dari hubungan social.

12

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


Dari pengertian diatas dapat disimpulkan skizofenia hebrefrenik adalah
gangguan jiwa dengan perilaku yang khas regresi dan primitif, afek tidak sesuai,
dengan karakteristik umum wajah dungu, tertawa-tawa aneh, meringis, percakan dan
perilaku yang kacau, permulaanya perlahan-lahan atau subakut, sering timbul pada
masa remaja atau antara 15-25 tahun yang disertai adanya gangguan kemauan,
gangguan psikomotor seperti manerisme, neologisme atau perilaku kekanak-kanakan,
waham, dan halusinasi.
2.2.4 Kriteria Diagnostik Skizofrenia Hebefrenik
Pedoman Diagnostik berdasarkan PPDGJ III 1,2

Memenuhi Kriteria umum diagnosis skizofrenia


Diagnosis hebefrenik untuk pertama kali hanya ditegakkan pada usia remaja
atau dewasa muda (onset biasanya 15-25 tahun).

Kepribadian premorbid menunjukan pemalu dan senang menyendiri (solitary),


namun tidak harus demikian untuk menentukan diagnosis.

Untuk diagnosis hebefrenia yang meyakinkan umumnya diperlukan


pengamatan kontinu selama 2 atau 3 bulan lamanya, untuk memastikan bahwa
gambaran yang khas berikut ini memang benar bertahan :

Perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan,


serta manerisme, ada kecenderungan untuk menyendiri (solitaris) dan
perilaku menunjukan hampa tujuan dan hampa perasaan.

Afek pasien yang dangkal (shallow) tidak wajar (inaproriate), sering


disertai oleh cekikikan (gigling) atau perasaan puas diri (selfsatisfied), senyum-senyum sendiri (self absorbed smiling) atau sikap
tinggi hati (lofty manner), tertawa menyerigai, (grimaces),
manneriwme, mengibuli secara bersenda gurau (pranks), keluhan
hipokondriakalI dan ungkapan dan ungkapan kata yang diulangulang (reiterated phrases)

Proses pikir yang mengalamu disorganisasi dan pembicaraan yang


tak menentu (rambling) dan inkoheren

Gangguan afektif dan dorongan kehendak, serta gangguan proses pikir


biasanya menonjol.Halusinasi dan waham biasanya ada tapi tidak menonjol )
fleeting and fragmentaty delusion and hallucinations.Dorongan kehendak
13

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


(drive) dan yang bertujuan (determnation) hilang serta sasaran ditinggalkan,
sehingga prilaku penderita memperlihatkan ciri khas yaitu perilaku tanpa
tujuan (aimless) dan tanpa maksud (empty of purpose) Tujuan aimless tdan
tampa maksud (empty of puspose).
Adanya suatu preokupasi yang dangkal, dan bersifat dibuat-buar terhadap
agama, filsafat, dan tema abstrak lainnya, makin mempersukar orang
memahami jalan pikiran pasien.

2.2.5

Penatalaksanaan

1.Terapi Somatik (Medikamentosa) 5


Obat-obatan yang digunakan untuk mengobati Skizofrenia disebut
antipsikotik. Antipsikotik bekerja mengontrol halusinasi, delusi dan perubahan pola
fikir yang terjadi pada Skizofrenia. Pasien mungkin dapat mencoba beberapa jenis
antipsikotik sebelum mendapatkan obat atau kombinasi obat antipsikotik yang benarbenar cocok bagi pasien. Antipsikotik pertama diperkenalkan 50 tahun yang lalu dan
merupakan terapi obat-obatan pertama yang efekitif untuk mengobati Skizofrenia.
Pada dasarnya semua obat antipsikotik mempunyai afek primer (efek klinis)
yang sama. Perbedaan utama pada efek sekunder(efek samping). Pemilihan jenis
antipsikosis mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping
obat. Bila gejala negative lebih menonjol dari gejala positif pilihannya adalah obat
antipsikosis atipikal(golongan generasi kedua),sebaliknya bilagejala positif lebih
menonjol dibandingkan gejala negatif pilihannya adalah antipsikosis tipikal(golongan
generasi pertama).
Terdapat 2 kategori obat antipsikotik yang dikenal saat ini, yaitu antipsikotik
tipikaldan antipsikotik atipikal
a. Antipsikotik Tipikal

14

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


Walaupun sangat efektif, antipsikotik tipikal sering menimbulkan efek samping
yang serius.
Penggolongan obat antipsikotik tipikal antara lain :
a. Phenothiazine

Rantai Aliphatic :
- Chlorpromazine
-Levomepromazine

Rantai Piperazine
-Perphenazine
-Trifluoperazine
-Fluphenazine

Rantai Piperidine
-Thioridazine

b. Butyrophenone
-Haloperidol
c. Diphenyl-butylpiperidine
- Pimozide
Mekanisme kerja antipsikotik tipikal adalah memblokade Dopamine pada
reseptor pasca sinaptik neuron di otak,khususnya di sistem limbik dan sistem
ekstrapiramidal(Dopamine D2 receptor antagonists) sehingga efektif untuk gejala
positif.
2. Antipsikotik Atipikal
Obat-obat yang tergolong kelompok ini disebut atipikal karena prinsip
kerjanya berbeda, serta sedikit menimbulkan efek samping bila dibandingkan dengan
antipsikotik tipikal. Beberapa contoh, antara lain :
a. Benzamide
-Sulpride (dogmatil)

15

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


b. Dibenzodiazepine
-Clozapine(clozaril)
-Olanzapine (zyprexa)
-Quetiapine (Seroquel)
c. Benzisoxazole
-Risperidone (risperdal)
Mekanisme kerja antipsikotik atipikal berafinitas terhadap Dopamine D2
receptor juga berafinitas terhadap Serotonin 5 HT2 Receptors (Serotonin dopamine
antagonists) sehingga efektif untuk gejala negati.
Efek samping obat anti psikotik dapat berupa :
-

Sedasi

dan

inhibisi

psikomotor

(rasa

mengantuk,kewaspadaan

berkurang,kinerja psikomotor menurun,kemampuan kognitif menurun)


-

Gangguan

otonomik

(hipotensi,antikolinergik

/parasimpatolitik,mulut

kering,sering miksi dan defekasi,hidung tersumbat,mata kabur,tekanan


intraokuler meninggi,gangguan irama jantung)
-

Gangguan ekstrapiramidal (distonia akut,akathisia,sindrom parkinson berupa


tremor,bradikinesia,dan rigiditas)

Gangguan

endokrin(amenorrheaa,gynaecomastia),metabolik(jaundice)

hematologik (agranulocytosis),biasanya untuk pemakaian jangka panjang


-

Efek samping yang irreversible yaitu tardive dyskinesia (gerakan berulang


involunter pada lidah,wajah,mulut/rahang dan anggota gerak,dimana pada
waktu tidur gejala tersebut menghilang). Biasanya terjadi pada pemakaian
jangka panjang (terapi pemeliharaan) dan pada pasien usia lanjut. Efek
samping ini tidak berkaitan dengan dosis obat antipsikotik.

Pemilihan Obat untuk Episode (Serangan) Pertama


Atypical antipsycoic merupakan terapi pilihan untuk penderita Skizofrenia
episode pertama karena efek samping yang ditimbulkan minimal dan resiko untuk

16

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


terkena tardive dyskinesia lebih rendah. Biasanya obat antipsikotik membutuhkan
waktu beberapa saat untuk mulai bekerja. Sebelum diputuskan pemberian salah satu
obat gagal dan diganti dengan obat lain, para ahli biasanya akan mencoba
memberikan obat selama 6 minggu (2 kali lebih lama pada Clozaril)
Pemilihan Obat untuk keadaan relaps (kambuh)
Biasanya timbul bila pendrita berhenti minum obat, untuk itu, sangat penting
untuk mengetahui alasan mengapa penderita berhenti minum obat. Terkadang
penderita berhenti minum obat karena efek samping yang ditimbulkan oleh obat
tersebut. Apabila hal ini terjadi, dokter dapat menurunkan dosis menambah obat
untuk efek sampingnya, atau mengganti dengan obat lain yang efek sampingnya lebih
rendah. Apabila penderita berhenti minum obat karena alasan lain, dokter dapat
mengganti obat oral dengan injeksi yang bersifat long acting, diberikan tiap 2- 4
minggu. Pemberian obat dengan injeksi lebih simpel dalam penerapannya. Terkadang
pasien dapat kambuh walaupun sudah mengkonsumsi obat sesuai anjuran. Hal ini
merupakan alasan yang tepat untuk menggantinya dengan obat obatan yang lain,
misalnya antipsikotik konvensonal dapat diganti dengan newer atipycal antipsycotic
atau newer atipycal antipsycotic diganti dengan antipsikotik atipikal lainnya.
Clozapine dapat menjadi cadangan yang dapat bekerja bila terapi dengan obat-obatan
diatas gagal.
Pengobatan Selama fase Penyembuhan
Sangat penting bagi pasien untuk tetap mendapat pengobatan walaupun
setelah sembuh. Penelitian terbaru menunjukkan 4 dari 5 pasien yang behenti minum
obat setelah episode petama Skizofrenia dapat kambuh. Para ahli merekomendasikan
pasien-pasien Skizofrenia episode pertama tetap mendapat obat antipskotik selama
12-24 bulan sebelum mencoba menurunkan dosisnya. Pasien yang mendertia
Skizofrenia lebih dari satu episode, atau balum sembuh total pada episode pertama
membutuhkan pengobatan yang lebih lama. Perlu diingat, bahwa penghentian

17

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


pengobatan merupakan penyebab tersering kekambuhan dan makin beratnya
penyakit.
Tabel 1. Sediaan Obat Anti Psikosis dan Dosis Anjuran
Nama Generik

Sediaan

Klorpromazin

Dosis

Tablet, 25 dan 100 mg,

150 - 600 mg/hari

Injeksi 25 mg/ml
Haloperidol

Tablet, 0,5 mg, 1,5 mg, 5 mg,

5 - 15 mg/hari

Injeksi 5 mg/ml
Perfenazin

Tablet 2, 4, 8 mg

Flufenazin

Tablet 2,5 mg, 5 mg

Flufenazin dekanoat
Levomeprazin

Inj 25 mg/ml

12 - 24 mg/hari
10 - 15 mg/hari
25 mg/2-4 minggu

Tablet 25 mg, Injeksi 25 mg/ml 25 - 50 mg/hari

Trifluperazin

Tablet 1 mg dan 5 mg

10 - 15 mg/hari

Tioridazin

Tablet 50 dan 100 mg

150 - 600 mg/hari

Sulpirid

Tablet 200 mg
Injeksi 50 mg/ml

300 600 mg/hari


1 - 4 mg/hari

Pimozide

Tablet 1 dan 4 mg

Risperidon

Tablet 1, 2, 3 mg

18

1 - 4 mg/hari
2 - 6 mg/hari

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN

2.Terapi Psikososial 2
a.

Terapi perilaku
Teknik perilaku menggunakan hadiah ekonomi dan latihan ketrampilan

sosial untuk meningkatkan kemampuan sosial, kemampuan memenuhi diri sendiri,


latihan praktis, dan komunikasi interpersonal. Perilaku adaptif adalah didorong
dengan pujian atau hadiah yang dapat ditebus untuk hal-hal yang diharapkan, seperti
hak istimewa dan pas jalan di rumah sakit. Dengan demikian, frekuensi perilaku
maladaptif atau menyimpang seperti berbicara lantang, berbicara sendirian di
masyarakat, dan postur tubuh aneh dapat diturunkan.
b.

Terapi berorientasi-keluarga
Terapi ini sangat berguna karena pasien skizofrenia seringkali dipulangkan

dalam keadaan remisi parsial, keluraga dimana pasien skizofrenia kembali seringkali
mendapatkan manfaat dari terapi keluarga yang singkat namun intensif (setiap hari).
Setelah periode pemulangan segera, topik penting yang dibahas didalam terapi
keluarga adalah proses pemulihan, khususnya lama dan kecepatannya. Seringkali,
anggota keluarga, didalam cara yang jelas mendorong sanak saudaranya yang terkena
skizofrenia untuk melakukan aktivitas teratur terlalu cepat. Rencana yang terlalu
optimistik tersebut berasal dari ketidaktahuan tentang sifat skizofreniadan dari
penyangkalan tentang keparahan penyakitnya. Ahli terapi harus membantu keluarga
dan pasien mengerti skizofrenia tanpa menjadi terlalu mengecilkan hati. Sejumlah
penelitian telah menemukan bahwa terapi keluarga adalah efektif dalam menurunkan
relaps. Didalam penelitian terkontrol, penurunan angka relaps adalah dramatik.
Angka relaps tahunan tanpa terapi keluarga sebesar 25-50 % dan 5 - 10 % dengan
terapi keluarga.
c.

Terapi kelompok

19

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


Terapi kelompok bagi skizofrenia biasanya memusatkan pada rencana,
masalah, dan hubungan dalam kehidupan nyata. Kelompok mungkin terorientasi
secara perilaku, terorientasi secara psikodinamika atau tilikan, atau suportif. Terapi
kelompok efektif dalam menurunkan isolasi sosial, meningkatkan rasa persatuan, dan
meningkatkan tes realitas bagi pasien skizofrenia. Kelompok yang memimpin dengan
cara suportif, bukannya dalam cara interpretatif, tampaknya paling membantu bagi
pasien skizofrenia.
d.

Psikoterapi individual
Penelitian yang paling baik tentang efek psikoterapi individual dalam

pengobatan skizofrenia telah memberikan data bahwa terapi alah membantu dan
menambah efek terapi farmakologis. Suatu konsep penting di dalam psikoterapi bagi
pasien skizofrenia adalah perkembangan suatu hubungan terapetik yang dialami
pasien sebagai aman. Pengalaman tersebut dipengaruhi oleh dapat dipercayanya ahli
terapi, jarak emosional antara ahli terapi dan pasien, dan keikhlasan ahli terapi seperti
yang diinterpretasikan oleh pasien. Hubungan antara dokter dan pasien adalah
berbeda dari yang ditemukan di dalam pengobatan pasien non-psikotik. Menegakkan
hubungan seringkali sulit dilakukan; pasien skizofrenia seringkali kesepian dan
menolak terhadap keakraban dan kepercayaan dan kemungkinan sikap curiga, cemas,
bermusuhan, atau teregresi jika seseorang mendekati. Pengamatan yang cermat dari
jauh dan rahasia, perintah sederhana, kesabaran, ketulusan hati, dan kepekaan
terhadap kaidah sosial adalah lebih disukai daripada informalitas yang prematur dan
penggunaan nama pertama yang merendahkan diri. Kehangatan atau profesi
persahabatan yang berlebihan adalah tidak tepat dan kemungkinan dirasakan sebagai
usaha untuk suapan, manipulasi, atau eksploitasi.
3.Perawatan di Rumah Sakit (Hospitalization) 2
Indikasi utama perawatan rumah sakit adalah untuk tujuan diagnostik,
menstabilkan medikasi, keamanan pasien karena gagasan bunuh diri atau membunuh,
prilaku yang sangat kacau termasuk ketidakmampuan memenuhi kebutuhan dasar.
Tujuan utama perawatan dirumah sakit yang harus ditegakkan adalah ikatan efektif

20

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


antara pasien dan sistem pendukung masyarakat. Rehabilitasi dan penyesuaian yang
dilakukan pada perawatan rumahsakit harus direncanakan.
Dokter harus juga mengajarkan pasien dan pengasuh serta keluarga pasien
tentang skizofrenia. Perawatan di rumah sakit menurunkan stres pada pasien dan
membantu mereka menyusun aktivitas harian mereka. Lamanya perawatan rumah
sakit tergantung dari keparahan penyakit pasien dan tersedianya fasilitas pengobatan
rawat jalan. Rencana pengobatan di rumah sakit harus memiliki orientasi praktis ke
arah masalah kehidupan, perawatan diri, kualitas hidup, pekerjaan, dan hubungan
sosial. Perawatan di rumah sakit harus diarahkan untuk mengikat pasien dengan
fasilitas perawatan termasuk keluarga pasien. Pusat perawatan dan kunjungan
keluarga pasien kadang membantu pasien dalam memperbaiki kualitas hidup.

2.2.6

Prognosis
Menurut Kraepelin dan Bleuler,skizofrenia hebefrenik dan jenis jenis

skizofrenia

tipe

sederhana

lainnya

memiliki

prognosis

yang

paling

buruk,dibandingkan dengan tipe paranoid atau katatonik akut yang memiliki reaksi
cepat,namun ada juga yang berkembang menjadi kronik dan semakin lama semakin
memburuk.2
Berikut daftar faktor yang mempengaruhi prognosis penderita skizofrenia :
Perihal
Onset
Faktor pencetus
Onset
Riwayat sosial ,seksual

Prognosis Baik
Lama
Jelas
Akut
Baik

Prognosis Buruk
muda
Tidak ada
Tidak jelas
Buruk

dan pekerjaan premorbid


Gejala

Gangguan mood

Perilaku

Status Perkawinan

Menikah

diri,autistik
Tidak

menarik

menikah,bercerai,atau
21

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN

Riwayat keluarga
Dukungan
Gejala

Gangguan mood
Baik
Gejala Positif

janda/duda
Skizofrenia
Buruk
Gejala negatif
Ada tanda dan gejala
neurologis,
Riwayat

trauma

perinatal,tidak ada remisi


dalam 3 tahun,banyak
relaps

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Skizofrenia hebefrenik adalah suatu bentuk skizofrenia dengan perubahan
perilaku yang tidak bertanggung jawab dan tidak dapat diramalkan ,ada
kecenderungan untuk selalu menyendiri .dan ungkapan kata yang diulangulang,proses pikir mengalami disorganisasi dan pembicaraan tak menentu serta
adanya penurunan perawatan diri pada individu.
Etiologinya

tidak

diketahui.

Diduga

adanya

keterlibatan

genetic,biologis,lingkungan dan psikologis dalam terjadinya skizorenia. Salah satu


teori yang banyak mendapat perhatian adalah keterlibatan neurotransmitter.
Skizofrenia Hebefrenik ditandai dengan gejala-gejala antara lain sebagai
berikut inkoherensi ,alam perasaan yang datar tanpa ekspresi serta tidakserasi atau
ketolol-tololan,perilaku dan tertawa kekenak-kanakan, senyum yang menunjukkan
rasa puas diri atau senyum yang hanya dihayati sendiri,waham yang tidak jelas dan
tidak sistematik tidak terorganisasi sebagai suatu kesatuan,halusinasi yang terpecahpecah yang isi temanya tidak terorganisasi sebagai satu kesatuan dan perilaku aneh,
misalnya menyeringai sendiri, menunjukkan gerakan-gerakan aneh, berkelakar,

22

RSU Dr. PIRNGADI MEDAN


pengucapan kalimat yang diulang-ulang dan cenderung untuk menarik diri secara
akstrim dari hubungan social.
Terapi skizofrenia meliputi psikofarmaka dan psikoterapi. Pemilihan jenis
antipsikotik mempertimbangkan gejala psikosis yang dominan dan efek samping
obat. Bila gejala negatif lebih menonjol dari gejala positif pilihannya adalah
antipsikotik atipikal ,sebaliknya jika gejala positif yang lebih menonjol maka diberi
antipsikotik tipikal. Dalam psikoterapi ,bisa digunakan metode individual,keluarga
ataupun kelompok. Peran serta lingkungan sekitar sangat membantu dalam
menangani skizofrenia secara keseluruhan.

DAFTAR PUSTAKA
1. Maslim,Rusdi dr.2001.Buku Saku Diagnosisi Gangguan Jiwa Rujukan
Ringkas dari PPDGJ-III . Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika
Atmajaya,Jakarta: 46 -50
2. Kaplan,HI,Sadock BJ,Grebb JA.1997.Sinopsis Psikiatri Edisi 7 Jilid 1.
Binarupa aksara,Jakarta 685-729
3. Elvira,SD,Hadisukanto G. 2010.Buku Ajar Psikiatri.Badan Penerbit Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia,Jakarta: 170-195
4. Kaplan,HI,Sadock

BJ.1998.Ilmu

Kedokteran

Jiwa

Darurat.Widya

Medika,Jakarta : 407-413
5. Maslim,Rusdi dr.2002.Paduan Praktis Penggunaan Klinis Obat Psikotropik.
Bagian Ilmu Kedokteran Jiwa FK Unika Atmajaya.Jakarta15-17.

23