Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PRAKTIKUM KIMIA

SISTEM KOLOID

DISUSUN OLEH:
Tiffany, XI-MIPA 2/27
William Christian Solihin, XI-MIPA 2/30
Wilson Gomarga, XI-MIPA 2/31
Yoris, XI-MIPA 2/32

SMAK IPEKA Sunter II


JL. Baru Sunter Agung, Jakarta Utara 14350, DKI Jakarta
19 Januari 2015

SISTEM KOLOID
A. Tujuan: Peserta didik dapat membuat larutan koloid dan menguji sifat koloid.
B. Dasar Teori:
Koloid berasal dari kata kolia yang dalam bahasa Yunani berarti lem. Istilah koloid
pertama kali diperkenalkan oleh Thomas Graham (1861) berdasarkan pengamatannya terhadap
gelatin yang merupakan kristal, tetapi sukar mengalami difusi. Padahal, umumnya kristal mudah
mengalami difusi. Oleh karena itu, zat semacam gelatin ini kemudian disebut dengan koloid.
Koloid atau disebut juga dispersi koloid atau sistem koloid sebenarnya merupakan sistem dispersi
dengan ukuran partikel yang lebih besar dari larutan, tetapi lebih kecil daripada suspensi
Pada umumnya, koloid mempunyai ukuran partikel antara 1nm sampai 100nm. Beberapa
koloid tampak jelas secara fisik, misalnya santan, susu, dan lem, tetapi beberapa koloid sepintas
tampak seperti larutan, misalnya larutan kanji yang encer dan agar-agar yang masih cair. Oleh
karena ukuran partikelnya relatif kecil, sistem koloid tidak dapat diamati dengan mata, tetapi
dapat diamati dengan mikroskop dengan tingkat pembesaran yang tinggi (mikroskop ultra).
Beberapa koloid dapat terpisah jika didiamkan dalam waktu yang relatif lama meskipun
tidak semuanya, misalnya koloid belerang dalam air dan santan. Beberapa koloid yang lain sukar
terpisah, misalnua lem, cat, dan tinta.
Sistem dispersi koloid dapat terbentuk dari dispersi zat padat, cair, atau gas ke dalam
medium pendispersi dalam fase padat, cair, atau gas. Gas yang terdispersi dalam gas tidak akan
menghasilkan koloid. Sistem koloid diberi nama berdasarkan fase terdispersi dan medium
pendispersinya, misalnya koloid yang terjadi dari dispersi zat cair didalam medium pendispersi
cair disebut dengan emulsi.
Fase

Medium

terdispersi

pendispersi

Padat
Cair

Padat

Gas
Padat
Cair

Cair

Jenis (nama) koloid

Contoh

Sol padat

Mutiara, kaca warna

Emulsi padat

Keju, mentega

Buih padat

Batu apung, kerupuk

Sol

Pati dalam air, cat, jeli

Emulsi

Susu, mayones, santan


2

Gas
Padat
Cair

Gas

Buih

Krim, pasta

Aerosol padat

Debu, asap

Aerosol cair

Awan, kabut

Koloid dapat menunjukkan efek Tyndall. Seberkas sinar dilewatkan pada suspensi
(dispersi pasar dalam air), koloid (susu), dan larutan (gula dalam air). Jika dilihat tegak lurus dari
arah datangnya cahaya, jejak lintasan cahaya akan terlihat jelas pada suspensi dan koloid. Akan
tetapi, jejak cahaya pada larutan tidak terlihat. Terlihatnya lintasan cahaya ini disebabkan cahaya
yang melewati suspensi dan koloid dihamburkan oleh partikel-partikelnya, sedangkan pada larutan
tidak
Terhamburnya cahaya oleh partikel koloid disebut dengn efek Tyndall. Partikel koloid dan
suspensi cukup besar untuk dapat menghamburkan sinar, sedangkan partikel-partikel larutan
berukuran sangat kecil sehingga tidak dapat menghamburkan sinar.

Efek Tyndall:
Berkas cahaya tidak terlihat pada larutan (kiri),
sedangkan berkas cahaya dapat terlihat
dihamburkan pada koloid Fe(OH)3

Sistem koloid dapat dibuat secara langsung dengan mendispersikan suatu zat kedalam
medium pendispersi. Selain itu, dapat dilakukan dengan mengubah suspensi menjadi koloid atau
dengan mengubah larutan menjadi koloid. Jika ditinjau dari pengubahan ukuran partikel zat
terdispersi, cara pembuatan koloid dapat dibedakan menjadi dua cara, yaitu dengan cara dispersi
dan kondensasi
Cara dispersi adalah memperkecil partikel. Cara ini melibatkan pengubahan ukuran
partikel besar (misalnya suspensi atau padatan) menjadi ukuran partikel koloid. Sementara itu, cara
kondensasi adalah memperbesar ukuran partikel. Pada umumnya, dari larutan diubah menjadi

koloid. Secara skematis, kedua proses tersebut dapat digambarkan sebagai proses yang
berlawanan, dimana sistem koloid berada di antara dua sistem dispersi yang lain
1. Cara Dispersi
a) Dispersi langsung (mekanik)
Cara ini dilakukan dengan memperkecil zat terdispersi sebelum didispersikan ke
dalam medium pendispersi. Ukuran partikel dapat diperkecil dengan menggiling
atau menggerus partikel sampai ukuran tertentu. Sebagai contoh adalah pembuatan
sol belerang dalam air, serbuk belerang dihaluskan dahulu dengan menggerus
bersama kristal gula secara berulang-ulang. Campuran semen dengan air dapat
membentuk koloid secara langsung karena partikel-partikel semen sudah digiling
sedemikian rupa sehingga ukuran partikelnya menjadi ukuran koloid

b) Homogenisasi
Pembuatan susu kental manis yang bebas kasein dilakukan dengan mencamprkan
serbuk susu skil ke dalam air di dalam mesin homogenisasi sehingga partikelpartikel susu berubah menjadi seukuran partikel koloid. Emulsi obat pada pabrik
obat dilakukan dengan proses homogenisasi menggunakan mesin homogenisasi

c) Peptisasi
Proses peptisasi dilakukan dengan cara memecah partikel-partikel besar, misalnya
suspensi, gumpalan, atau endapan dengan menambahkan zat pemecah tertentu.
Sebagai contoh, endapan Al(OH)3 akan berubah menjadi koloid dengan
menambahkan AlCl3 ke dalamnya. Endapat AgCl akan berubah menjadi koloid
dengan menambahkan larutan NH3 secukupnya

d) Busur Bredig
Busur Bredig adalah suatu alat yang khusus digunakan untuk membentuk koloid
logam. Proses ini dilakukan dengan cara meletakkan logam yang akan dikoloidkan
pada kedua ujung elektrode dan kemudian diberi arus listrik yang cukup kuat
sehingga terjadi loncatan bunga api listrik. Suhu tinggi akibat adanya loncatan

bunga api listrik mengakibatkan logam akan menguap dan selanjutnya terdispersi
ke dalam air membentuk suatu koloid logam

2. Cara Kondensasi
Cara kondensasi dilakukan dengan mengubah suatu larutan menjadi koloid. Proses ini
umumnya melibatkan reaksi-reaksi kimia yang menghasilkan zat yang menjadi partikelpartikel terdispersi
a) Reaksi hidrolisis
Reaksi ini umumnya digunakan untuk membuat koloid-koloid basa dari suatu
garam yang dihidrolisis (direaksikan dengan air). Contohnya pembuatan sol
Fe(OH)3 dengan cara memanaskan larutan FeCl3
FeCl3(aq) + 3H2O(l) Fe(OH)3(s) + 3HCl(aq)

b) Reaksi redoks
Reaksi yang melibatkan perubahan bilangan oksidasi. Koloid yang terjadi
merupakan hasil oksidasi atau reduksi. Contohnya pembuatan sol belerang dengan
cara mengalirkan gas H2S ke dalam larutan SO2
2H2S(g) + SO2(aq) 2H2O(l) + 3S(s)

c) Pertukaran ion
Reaksi pertukaran ion umumnya dilakukan untuk membuat koloid dari zat-zat yang
sukar larut (endapan) yang dihasilkan pada reaksi kimia. Contohnya pembuatan sol
As2S3 dengan mengalirkan gas H2S ke dalam larutan As2O3
3H2S(g) + As2O3(aq) As2S3(s) + 3H2O(l)

(Unggul Sudarmo. 2013)

C. Alat dan Bahan:


Alat

Jumlah

Bahan

Jumlah

Gelas kimia

7 buah

Gula

1 gram

Batang pengaduk

2 buah

Terigu

1 gram

Kertas saring

7 buah

Susu

1 gram

Gelas Ukur

3 buah

Urea

1 gram

Tabung reaksi

3 buah

Larutan gula

1 gram

Senter

1 buah

Air sabun

1 gram

Lumpang

1 buah

Larutan K2CrO4

1 gram

Spatula

1 buah

Aquades

300 ml

Spiritus

2 buah

Larutan FeCl3

25 ml

Kaki tiga

2 buah

Serbuk belerang

1 sdt

Agar-agar

1 sdt

D. Cara Kerja:
Kegiatan 1
1. Menyiapkan alat-alat yang diperlukan untuk melakukan pecobaan pada. Pertama-tama
menuangkan aquades sebanyak 50 ml di masing-masing gelas beaker yang sudah disiapkan
sebelumnya dengan jumlah 7 buah. Lalu mengambil gula sebanyak 1 gram dan
memasukkannya ke dalam gelas beaker yang pertama. Mengaduk campuran tersebut dengan
batang pegaduk, lalu memperhatikan apakah campuran tersebut dapat larut atau tidak dan
memperhatikan apakah campuran tersebut bening atau keruh dan stabil atau tidak. Kemudian
mengambil saringan untuk menyaringnya, lalu memperhatikan apakah hasil filtrat tersebut
bening atau keruh dan menghasilkan residua atau tidak.
2. Mengambil terigu sebanyak 1 gram lalu memasukkannya ke dalam gelas beaker yang kedua.
Mengaduk campuran tersebut dengan batang pengaduk, lalu memperhatikan apakah campuran
tersebut dapat larut atau tidak dan memperhatikan apakah campuran tersebut bening atau keruh
dan stabil atau tidak. Kemudian mengambil saringan untuk menyaringnya, lalu memperhatikan
apakah hasil filtrat tersebut bening atau keruh dan menghasilkan residua atau tidak.

3. Mengambil susu bubuk sebanyak 1 gram lalu memasukkanya ke dalam gelas beaker yang
ketiga. Mengaduk campuran tersebut dengan batang pengaduk, lalu memperhatikan apakah
campuran tersebut dapat larut atau tidak dan memperhatikan apakah campuran tersebut bening
atau keruh dan stabil atau tidak. Kemudian mengambil saringan untuk menyaringnya, lalu
memperhatikan apakah hasil filtrat tersebut bening atau keruh dan menghasilkan residua atau
tidak.
4. Setelah itu mengambil urea sebanyak 1 gram lalu memasukkanya ke dalam gelas beaker yang
keempat. Mengaduk campuran tersebut dengan batang pengaduk, lalu memperhatikan apakah
campuran tersebut dapat larut atau tidak dan memperhatikan apakah campuran tersebut bening
atau tidak dan stabil atau tidak. Kemudian mengambil saringan untuk menyaringnya, lalu
memperhatikan apakah hasil filtrat tersebut bening atau keruh dan menghasilkan residua atau
tidak.
5. Lalu mengambil sabun deterjen sebanyak 1 gram, memasukkannya ke dalam gelas beaker yang
kelima. Mengaduk campuran tersebut dengan batang pengaduk, lalu memprhatikan apakah
campuran tersebut dapat larut atau tidak dan memperhatikan apakah campuran tersebut bening
atau tidak dan stabil atau tidak. Kemudian mengambil saringan untuk menyaringnya, lalu
memperhatikan apakah hasil filtrat tersebut bening atau keruh dan menghasilkan residua atau
tidak.
6. Lalu mengambil serbuk belerang sebanyak 1 gram, memasukkannya ke dalam gelas beaker
yang keenam. Mengaduk campuran tersebut dengan batang pengaduk, lalu memprhatikan
apakah campuran tersebut dapat larut atau tidak dan memperhatikan apakah campuran tersebut
bening atau tidak dan stabil atau tidak. Kemudian mengambil saringan untuk menyaringnya,
lalu memperhatikan apakah hasil filtrat tersebut bening atau keruh dan menghasilkan residua
atau tidak.
7. Lalu mengambil garam sebanyak 1 gram, memasukkannya ke dalam gelas beaker yang
ketujuh. Mengaduk campuran tersebut dengan batang pengaduk, lalu memprhatikan apakah
campuran tersebut dapat larut atau tidak dan memperhatikan apakah campuran tersebut bening
atau tidak dan stabil atau tidak. Kemudian mengambil saringan untuk menyaringnya, lalu
memperhatikan apakah hasil filtrat tersebut bening atau keruh dan menghasilkan residua atau
tidak.

Kegiatan 2
1. Pertama-tama menyiapkan 5 tabung reaksi yang besar. Menuangkan larutan gula ke dalam
tabung pertama dengan setinggi 5 cm. Mengamati warna dan keadaan larutan tersebut. Lalu
mengarahkan berkas cahaya lampu senter dan mengamati berkas cahaya dari samping dengan
arah tegak lurus.
2. Setelah itu menuangkan larutan air sabun ke dalam tabung kedua dengan setinggi 5 cm.
Mengamati warna dan keadaan larutan tersebut. Lalu mengarahkan berkas cahaya lampu senter
dan mengamati berkas cahaya dari samping dengan arah tegak lurus.
3. Menuangkan larutan 2 4 ke dalam tabung ketiga dengan setinggi 5 cm. Mengamati warna
dan keadaan larutan tersebut. Lalu mengarahkan berkas cahaya lampu senter dan mengamati
berkas cahaya dari samping dengan arah tegak lurus.
4. Menuangkan larutan 2 ke dalam tabung keempat dengan setinggi 5 cm. Mengamati warna dan
keadaan larutan tersebut. Lalu mengarahkan berkas cahaya lampu senter dan mengamati
berkas cahaya dari samping dengan arah tegak lurus.
5. Menuangkan sol ()3 (yang akan di dapatkan setelah melakukan percobaan kegiatan
ketiga). Mengamati warna dan keadaan sol tersebut. Lalu mengarahkan berkas cahaya lampu
senter dan mengamati berkas cahaya dari samping dengan arah tegak lurus.

Kegiatan 3
1. Pertama-tama membuat sol ()3 dengan cara kondensasi. Memanaskan 50 ml air suling
di dalam gelas kimia 100 ml sampai mendidih. Lalu menambahkan 25 tetes larutan 3
jenuh dan mengaduk sambil meneruskan pemanasan sampai campuran tersebut berwarna
coklat merah.
2. Lalu membuat sol belerang dengan cara disperse. Mencampurkan 1 sendok gula dan 1 sendok
belerang ke dalam lumping. Kemudian menggerus campuran tersebut sampai halus dan
mengambil 1 sendok teh dari campuran yang sudah digerus sampai halus itu. Lalu
mencampurkannya dengan 1 sendok gula kemudian menggeruskannya sampai halus.
Kemudian melanjutkan pekerjaan seperti di atas sampai 4 kali. Setelah itu menuangkan sedikit
dari campuran terakhir ke dalam gelas kimia yang berisi 50 ml air suling lalu mengaduknya.
Menyaring nya jika masih terjadi endapan.

3. Lalu membuat sol/gel agar-agar dengan cara dispersi. Mengisi sebuah tabung reaksi dengan
air suling hingga kira-kira sepertiga tabung tersebut. Menambahkan 1 spatula agar-agar ke
dalamnya lalu mengaduknya. Kemudian memanaskan tabung beserta isinya sampai mendidih.
Setelah itu mendinginkan campuran tersebut agar memperoleh gel agar-agar.
4. Lalu membuat emulsi minyak dalam air dengan cara dispersi. Memasukkan kira-kira air
sebanyak 5 ml dan minyak tanah sebanyak 1 ml ke dalam sebuah tabung reaksi.
Mengguncangkan tabung itu dengan keras, kemudian meletakkan tabung tersebut pada rak
tabung. Setelah itu memperhatikan apa yang terjadi. Kemudian memasukkan kira-kira air
sebanyak 5 ml, minyak tanah sebanyak 1 ml dan larutan detergen sebanyak 1 ml ke dalam
tabung reaksi lainnya. Mengguncangnya dengan keras, lalu meletakkan tabung tersebut pada
rak tabung. Kemudian mengamati apa yang terjadi.

E. Hasil Pengamatan:
Kegiatan 1
Campuran

Sifat Campuran

Air dengan

Larut/Tidak

Stabil/Tidak

Bening/Keruh

Meninggalkan
resdiu/tidak

Filtrat
bening/keruh

Gula

Larut

Stabil

Bening

Tidak

Bening

Terigu

Tidak

Tidak

Keruh

Ya

Bening

Susu

Larut

Stabil

Keruh

Tidak

Keruh

Urea

Larut

Stabil

Bening

Tidak

Bening

Sabun

Larut

Stabil

Keruh

Ya

Bening

Serbuk Belerang Tidak

Tidak

Bening

Ya

Bening

Larut

Stabil

Bening

Tidak

Bening

Larutan
Gula

Larutan
Sabun

Larutan
K2CrO4

Larutan
I2

Sol
Fe(OH)3

Hijau

Kuning tua

Coklat

Coklat
Bening

Garam

Kegiatan 2
No. Sifat Campuran
1.

Warna larutan campuran Kuning muda

2.

Bening atau keruh

Bening

Keruh

Bening

Bening

3.

Menghamburkan atau
Meneruskan cahaya

Meneruskan

Hambur

Meneruskan

Meneruskan Hambur
9

Kegiatan 3
No. Cara Pembuatan
1.

2.

F.

Data Pengamatan

Cara kondensasi

Hidrolisis garam FeCl3

Pembuatan sol Fe(OH)3

Warna berubah menjadi coklat kemerahan

Cara dispersi

Dispersi mekanis

Pembuatan sol belerang

Seletah filtasi terbentuk filtrate koloid sol belerang

Pembuatan sol/gel agar-agar

Diperoleh agar-agar bewarna putih

Pencampuran air dan minyak

Air dan minyak akhirnya bercampur setelah ditambah detergen

Pembahasan dan Jawaban Pertanyaan


PEMBAHASAN
Pada percobaan ini, kami melaksanakan sebuah eksperimen untuk membuat sistem dispersi
koloid dengan beberapa metode seperti disperse mekanis dan juga reaksi hidrolisis. Kami juga
menguji beberapa campuran dan melihat dan mengidentifikasi ciri-ciri yang membedakan koloid
dengan campuran lainnya. Terdapat 3 kegiatan pada percobaan ini.
Pada kegiatan 1, kami melakukan sebuah percobaan dengan prinsip kerja yang cukup
sederhana, yakni dengan mencampurkan 1 gram dari beberapa zat yang diuji pada 7 gelas yang berisi
aquades, mengaduk, lalu menyaringnya. Melalui data pengamatan kami, zat pertama ialah gula. Gula
larut di dalam air dan bersifat stabil, partikel gula tersebut sudah tidak terlihat lagi dalam air dan
menghasilkan larutan dengan warna yang bening. Ketika dilakukan penyaringan tidak terlihat adanya
residu serta filtrate yang dihasilkan juga bening. Melalui percobaan ini kami dapat mengatakan bahwa
campuran gula dan air yang telah diaduk adalah larutan, sebab larutan bersifat sangat stabil dan
merupakan campuran homogen, sehingga saat difiltrasi tidak akan meninggalkan residu. Lalu, kami
melakukan hal yang sama dengan campuran terigu dan air, ternyata terigu tidak larut dengan air,
malahan mengendap, serta bersifat tidak stabil dan keruh. Campuran ini terlihat memiliki 2 fasa dan
ketika difiltrasi maka meninggalkan residu tepung dan filtrate yang bening. Kami dapat mengatakan
bahwa campuran tersebut merupakan suspensi sebab partikel yang terdispersi cukup besar dan
meninggalkan residu ketika difiltrasi. Setelah itu, kami juga melakukan percobaan dengan susu. Susu
terlihat bercampur baik dengan air dan partikelnya tidak dapat terlihat secara makroskopis dan
campuran tersebut bersifat stabil walaupun keruh. Namun, ketika difiltrasi, campuran ini tidak
10

meninggalkan residu dan filtratnya tetap keruh. Kami dapat mengatakan bahwa cmapuran ini
merupakan koloid sebab campuran ini tidak se-stabil larutan dan memiliki partikel terdispersi yang
lebih besar dari larutan. Selanjutnya, kami melakukan perocbaan dengan urea. Urea menunjukkan
ciri yang sama dengan larutan gula maka kami dapat mengatakan bahwa urea dapat larut dalam air
dan merupakan sebuah larutan. Lalu kami melakukan percobaan dengan sabun. Sabun memiliki ciri
yang sama dengan susu, hanya saja pada sabun ketika difiltrasi terlihat ada sedikit residu dan
menghasilkan filtrate yang agak bening. Namun, pada percobaan ini kami mengatakan bahwa
sebenarnya campuran sabun dengan air yang membentuk buih busa merupakan koloid jenis buih cair.
Pada serbuk belerang, serbuk tersebut tidak larut dan juga tidak stabil namun campuran tersebut tetap
bening dan ketika disaring, residu serbuk tertinggal dan filtrate menjadi bening. Hal ini
mengindikasikan bahwa campuran tersebut merupakan suspense. Pada campuran garam dan air, sifatsfiat yang dihasilkan sama seperti larutan gula dan urea sehingga kampi menyimpulkan bahwa
campuran tersebut merupakan larutan.
Pada kegiatan 2, kami melakukan sebuah percobaan untuk menguji efek Tyndall dari beberapa
campuran yang telah diuji pada percobaan sebelumnya, meskipun terdapat campuran baru seperti
K2CrO4

dan I2 yang dibuat. Melalui data pengamatan, larutan gula bewarna kuning muda bening dan

ketika diberi berkas cahaya yang lurus, cahaya diteruskan dan tidak dihamburkan. Campuran sabun
dengan air memiliki warna hijau agak bening dan memiliki busa-busa membentuk buih. Ketika kami
memberikan berkas cahaya terlihat bahwa campuran tersebut menghamburkannya. Mungkin karena
ukuran partikel yang besar sehingga dapat menghamburkan cahaya yang lewat. Pada larutan K2CrO4
kami melihat efek yang sama dengan larutan gula yaitu meskipun berwarna kuning tua bening, namun
tidak menghamburkan cahaya. Sama halnya juga dengan larutan I2 yang berwarna coklat bening
meneruskan cahaya. Namun, pada sol Fe(OH)3 meskipun memiliki warna yang sama dengan larutan
I2 tetapi pada Fe(OH)3 terlihat bahwa cahaya dihamburkan oleh partikel-partikel yang berada pada
sistem koloid tersebut. Melalui kegiatan ini, kami dapat mengatakan bahwa sebuah koloid tidak
bergantung pada warna atau bening keruhnya, tetapi pada efek Tyndall yang terlihat dari cahaya yang
dihamburkan.
Sedangkan pada kegiatan 3, kami membuat beberapa sistem disperse koloid dengan beberapa
metode. Metode yang pertama ialah metode kondensasi yaitu dari partikel larutan sejati yang
bergabung membentuk partikel yang lebih besar dalam pada sistem dispersi koloid. Pada metode ini,
kami mencampurkan larutan FeCl3 pada air dan memanaskannya sehingga terbentuk sol Fe(OH)3 dan
ditandai dengan perubahan warna pada campuran tersebut. Proses pemanasan bertujuan untuk
11

mempercepat terjadinya reaksi. Selanjutnya, dilakukan juga metode dispersi dengan membuat
partikel yang lebih besar menjadi lebih kecil secara mekanis pada sol belerang dan terlihat setelah
filtrasi, terbentuk filtrate yang relatif stabil yang sebenarnya merupakan sol dari belerang. Kami juga
membuag gel agar-agar dengan memanaskan campuran bubuk agar dan air lalu mendiamkannya.
Ketika mendiamkan campuran tersebut maka akan terjadi penggumpalan sehingga menjadi lebih
keras. Pada saat pencampuran air dan minyak terlihat bahwa terjadi pembedaan di mana butiran
minyak cenderung berkumpul membentuk sebuah butiran besar. Hal ini logis sebab lemak bersifat
hidrofobik sedangkan air merupakan molekul polar. Tetapi ketika ditambahkan deterjen, terlihat
bahwa minyak dan air dapat bercampur. Deterjen merupakan koloid asosiasi yang dapat menstabilkan
minyak yang tidak dapat bercampur dengan air karena sifat detergen yang ampifilik yaitu memiliki
kepala polar dan ekor non-polar.

JAWABAN PERTANYAAN
1. Larutan: gula, urea, garam
Koloid: susu, sabun
Suspensi: serbuk belerang, terigu
*Setelah dicampur dengan air 60 ml dan diaduk.
2. Koloid memiliki partikel terdispersi yang berukuran 1-100 nm yang lebih besar dari pada larutan,
sehingga ketika dilewati berkas cahaya, partikel pada koloid dapat menghamburkannya sehingga
terlihat efek Tyndall.
3. Tidak, koloid tidak memiliki tolok ukur pada warna atau keruh beningnya campuran tersebut.
Koloid dapat terlihat bening seperti sol Fe(OH)3 juga keruh misalnya pada susu.
4. Larutan sejati bersifat lebih stabil dari pada koloid serta memiliki ukuran partikel terdispersi yang
lebih besar dari pada larutan. Namun secara makroskopis sangat sulit untuk dibedakan sebab
mereka menunjukkan sebuah persamaan yaitu tidak dapat difiltrasi. Tetapi karena ukuran partikel
pada campuran yang berbeda, hal ini dapat diuji dengan terlihat atau tidaknya efek Tyndall.
5. Pada siang hari, cahaya matahari yang menembus kaca jendela menyorot dan terlihat partikelpartikel debu yang melayang-layang.
6. Campuran yang menunjukkan efek Tyndall dengan menghamburkan cahaya ialah sol Fe(OH)3,
serta campuran sabun dengan air.
7. Reaksi hidrolisis: FeCl3(aq) + 3H2O(l) Fe(OH)3(s) + 3HCl(aq)
12

8. Sebab FeCl3 yang terlarut memiliki ukuran partikel yang sangat kecil sehingga campurannya
dengan air digolongkan larutan. Kondensasi merupakan sistem pembuatan koloid dari partikel
yang lebih kecil seperti pada larutan menjadi lebih besar pada sistem koloid.
9. Gula bersifat larut dalam air, sehingag penggerusan akan menimbulkan partikel yang lebih kecil
dan memudahkan proses penyebaran partikel sehingga bersifat lebih stabil.
10. Agar-agar akan terlihat mengendap dan terlihat bercampur tetapi pada awalnya mengendap
namun ketika didiamkan akan mengeras.
11. Air tidak bercampur dengan minyak sebab minyak bersifat hidrofobik dan nonpolar sehingga
minyak cenderung berkumpul menjadi butiran-butiran. Sabun memiliki kepada polar dan ekor
non-polar sehingga dapat mengikat bagian hidrofobik lemak dan bagian hidrofilik pada deterjen
dapat berinteraksi dengan air sehingga antara minyak dan air dapat bercampur dengan bantuan
deterjen.
12. Sebab dari partikel yang lebih besar akan dibuat partikel yang lebih kecil dengan penggerusan.

G. Kesimpulan
Melalui percobaan ini kami menyimpulkan 2 hal yang bersesuaian dengan tujuan percobaan ini:
1. Koloid dapat dibuat melalui beberapa metode seperti dispersi dengan menggerus partikel yang
lebih besar menjadi lebih kecil dan juga dapat diperoleh melalui metode kondensasi dari partikel
yang lebih kecil misalnya dengan reaksi hidrolisis.
2. Sifat-sifat koloid memiliki partikel yang berukuran mikroskopis namun lebih besar dari pada
larutan sehingga dapat menunjukkan efek Tyndall dengan menghamburkan cahaya. Koloid juga
bersifat relatif stabil sehingga tidak dapat difiltrasi, seperti layaknya larutan.

13

DAFTAR PUSTAKA

Petrucci, Ralph H. et. al. 2007. General Chemistry: Principles and Modern Applications, Tenth
Edition. Toronto: Pearson Canada
Sudarmo, Unggul. 2013. Kimia untuk SMA/MA Kelas XI. Jakarta: Pernerbit Erlangga.
Purba, Michael. 2006. kIMIA untuk SMA Kelas XIi Semester 2. Jakarta : Penerbit Erlangga
Tim KGBS Kimia SMA Kristen IPEKA. 2013. Pedoman Kegiatan Laboratorium Kimia 2.
Jakarta: Sekolah Kristen IPEKA.

14