Anda di halaman 1dari 9

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

B. Rumusan Masalah
1. Sebutkan dan jelaskan perbedaan pengertian Pengantar Hukum Pajak dan
Pengantar Perpajakan!
2. Sebutkan dan jelaskan ciri-ciri pengenaan pajak!
3. Penerimaan negara terbesar berasal dari Pajak, apakah benar pemungutan
pajak dilakukan semata-mata untuk mengisi kas negara? Jelaskan!
4. Jelaskan perbedaan sistem pemungutan pajak berdasar Self Assesment
dengan Semi Self Assesment, serta sistem pemungutan pajak mana yang
dianut oleh Indonesia?
5. Apa yang digambarkan Hukum Pajak Material dan Hukum Pajak Formal,
serta bagaimana kaitan antara keduanya? Berikan contoh penerapannya!
6. Apa yang disebut dengan kekosongan hukum? Apa penyebabnya, serta
bagaimana cara mengatasinya?
7. Apa sebab diperlukan penafsiran hukum pajak, mana yang paling utama dan apa
kelemahannya?

8. Apakah benar bahwa pemungutan pajak yang memberatkan pembayar


pajak dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat? Jelaskan!
9. Apakah juridiksi pemungutan pajak berdasar azas tempat tinggal yang
dianut oleh negara yang berbeda dapat menimbulkan pajak berganda,
jelaskan dengan memberikan contoh.
10. Apakah benar pada reformasi perpajakan Indonesia tahun 1983 Undangundang perpajakan Indonesia tersebut merupakan hasil Bangsa indonesia
sendiri?

C. Tujuan
1. Mengetahui perbedaan pengertian Pengantar Hukum Pajak dan Pengantar
Perpajakan.

2. Mengetahui ciri-ciri pengenaan pajak.


3. Mengetahui fungsi pajak.
4. Mengetahui perbedaan sistem pemungutan pajak berdasar Self Assesment
dengan Semi Self Assesment, serta sistem pemungutan pajak yang dianut
oleh Indonesia.
5. Mengetahui hubungan dan penerapan Hukum Pajak Material dan Hukum
Pajak Formal.
6. Mengetahui penyebab dan cara mengatasi kekosongan hukum.
7. Mengetahui penyebab diperlukannya penafsiran hukum pajak.

8. Mengetahui bahwa pemungutan pajak dapat meningkatkan kesejahteraan


rakyat.
9. Mengetahui penerapan juridiksi pemungutan pajak berdasar azas tempat
tinggal.
10. Mengetahui kebenaran mengenai reformasi perpajakan Indonesia tahun
1983.

BAB II
PEMBAHASAN
A. Perbedaan Pengertian Pengantar Hukum Pajak dan Pengantar Perpajakan
B. Ciri-Ciri Pengenaan Pajak

- Pembayaran pajak harus berdasarkan undang-undang,


- sifatnya dipaksakan,
- tidak ada kontraprestasi/imbalan yang langsung dirasakan oleh pembayar
pajak,
- pemungutan pajak dilakukan oleh negara, baik pemerintah pusat maupun
daerah, dan
- pajak digunakan untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran pemerintah
bagi kepentingan masyarakat umum.
C. Fungsi Pajak
Tidak, karena fungsi pajak ada 5, yaitu fungsi budgeter, reguleren,
demokrasi, redistribusi, dan stabilitas. Mengisi kas negara merupakan fungsi
budgeter. Fungsi budgeter adalah fungsi yang letaknya di sektor publik, yaitu
fungsi untuk mengumpulkan uang pajak sebanyak-banyaknya sesuai dengan
peraturan-peraturan yang berlaku, yang pada waktunya akan digunakan untuk
membiayai pengeluaran-pengeluaran negara.Sedangkan fungsi yang lainnya
adalah sebagai berikut:
Fungsi reguleren adalah suatu fungsi bahwa pajak-pajak tersebut
akan digunakan sebagai suatu alat untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu yang
letaknya di luar bidang keuangan. Dalam hal ini, pajak berfungsi sebagai alat
pengatur keadaan sosial dan ekonomi. Salah satu contohnya, yaitu adanya
pengenaan pajak dengan tarif yang tinggi untuk PPnBM.
Fungsi demokrasi dari pajak adalah suatu fungsi yang merupakan
salah satu penjelmaan atau wujud sistem gotong royong dalam kegiatan
pemerintahan dan pembangunan demi kemaslahatan manusia. Fungsi
demokrasi pada masa sekarang ini sering dikaitkan dengan hak seseorang
dalam memperoleh pelayanan dari pemerintah. Apabila seseorang telah
melakukan kewajiban membayar pajak kepada Negara sesuai ketentuan yang
berlaku, maka ia mempunyai hak untuk mendapatkan pelayanan yang baik dari
pemerintah. Bila pemerintah tidak memberikan pelayanan yang baik, pembayar
pajak bisa melakukan protes (complaint) terhadap pemerintah.
Fungsi redistribusi yaitu fungsi yang lebih menekankan pada unsur
pemerataan dan keadilan dalam masyrakat. Hal ini dapat terlihat misalnya

dengan adanya tarif progresif pada undang-undang pajak yang mengenakan


pajak lebih besar kepada masyarakat yang mempunyai penghasilan besar dan
pajak yang lebih kecil kepada masyarakat yang mempunyai penghasilan lebih
sedikit (kecil).
Fungsi stabilitas yaitu dengan adanya pajak, pemerintah memiliki
dana untuk menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan stabilitas harga
sehingga dapat dikendalikan, Hal ini bisa dilakukan antara lain dengan jalan
mengatur peredaran uang di masyarakat, pemungutan pajak, penggunaan pajak
yang efektif dan efisien.

D. Sistem Pemungutan Pajak


Self Assesment
Semi Self Assesment
Pejabat pajak hanya bersifat pasif dan Pejabat pajak dan wajib pajak
wajib

pajak

bersifat

aktif

dalam bersifat aktif dalam menentukan

menentukan jumlah pajak yang wajib jumlah pajak yang wajib dibayar
dibayar lunas oleh wajib pajak kepada lunas oleh wajib pajak kepada
negara
negara
Keaktifan wajib pajak adalah untuk wajib pajak menentukan sendiri
menghitung,

memperhitungkan, jumlah pajak yang terutang untuk

melaporkan, dan menyetor jumlah pajak tahun berjalan sebagai angsuran


yang terutang.

yang disetor sendiri.

Pejabat pajak tidak terlibat dalam Pejabat pajak menentukan kembali


pennentuan jumlah pajak yang terutang jumlah pajak yang sebenarnya,
wajib

pajak,

mengarahkan

melainkan
cara

hanya berdasarkan

data

yang

(memberikan disampaikan oleh wajib pajak.

bimbingan) bagaimana wajib pajak Pejabat pajak, dalam hal ini,


memenuhi kewajiban dan menjalankan bertindak

sebagai

pengawas

hak berdasarkan peraturan perundang- terhadap wajib pajak untuk menilai


undangan perpajakan agar tidak terjadi sejauh mana kejujuran wajib pajak
pelanggaran hukum.

dalam melaporkan jumlah pajak


yang terutang.

Indonesia menganut sistem self assesment.


E. Hubungan dan Penerapan Hukum Pajak Material dan Hukum Pajak Formal
Hukum pajak material menggambarkan subjek pajak, objek pajak,
cara menghitung pajak, pelunasan pajak dalam waktu berjalan, kredit pajak,
pelunasan kekurangan pembayaran pajak, ketentuan lain-lain, ketentuan
peralihan, dan ketentuan penutup. Contoh hukum pajak material antara lain UU
PPh dan UU PPN. Hukum pajak formal menggambarkan Ketentuan Umum
dan Tata Cara Perpajakan, Nomor Pokok Wajib Pajak, Surat Pemberitahuan,
cara-cara pembayaran pajak, penetapan dan ketetapan pajak, penagihan pajak,

keberatan dan banding, pembukuan, ketentuan khusus, ketentuan pidana,


penyidikan, ketentuan peralihan, dan ketentuan penutup.
Hubungan hukum pajak formal dengan hukum pajak material adalah
hukum pajak memuat tata cara pengimplementasian hukum pajak material.
Ketiadaan hukum pajak formal menyebabkan hukum pajak material tidak dapat
dilaksanakan oleh wajib pajak atau fiskus tidak dapat melakukan pengawasan
(law enforcement).
Contoh penerapannya yaitu pelaksanaan hukum pajak formal
membuat pajak terutang dalam hukum pajak material dapat direalisasikan
menjadi penerimaan negara.
F. Penyebab dan Cara Mengatasi Kekosongan Hukum
Kekosongan Hukum adalah keadaan di mana terdapat kekosongan
atau ketiadaan peratuaran perundang-undangan (hukum) yang mengatur
tata tertib (tertentu) dalam masyarakat.
Hal ini dapat disebabkan oleh banyak hal salah satunya yaitu belum
dibuatnya peraturan yang mengatur tentang suatu keadaan atau walaupun
sudah diatur tetapi terdapat ketidak jelasan atau tidak lengkap. Kekosongan
hukum mengakibatkan kekacaun hukum yang mengatur masyarakat.
Cara mengatasinya dengan melakukan yurisprudensi (keputusan
hakim terdahulu), konstruksi hukum (membuat atau membentuk UU baru dan
penemuan hukum oleh hakim dengan melakukan penafsiran hukum).
G. Penyebab Diperlukannya Penafsiran Hukum Pajak
Penafsiran hukum pajak diperlukan karena terdapat kata atau bahasa
dalam undang-undang tidak jelas/kurang dimengerti (sehingga harus
disesuaikan dengan bahasa masyarakat), agar tercipta kesinambungan antara
pelaksana hukum dan masyarakat, sehingga terwujud keadilan menurut hukum.
Penafsiran hukum pajak yang paling utama adalah penafsiran otentik.
Kelemahan dari penafsiran otentik yaitu, ada penjelasan di beberapa pasal
dalam undang-undang yang berbunyi cukup jelas, padahal belum tentu
semua orang paham dengan pasal yang dimaksud.

H. Pemungutan Pajak dapat Meningkatkan Kesejahteraan Rakyat

Apabila pajak tinggi maka penerimaan negara dan APBN akan


bertambah.

APBN

tersebut

akan

digunakan

untuk

memenuhi

roda

pemerintahan dan meningkatkan perekonomian, pendidikan, kesehatan, serta


kebutuhan negara lainnya dalam hal kesejahteraan masyarakat. Sehingga
dengan meningkatnya APBN maka kesejahteraan rakyat akan meningkat.
I. Penerapan Juridiksi Pemungutan Pajak
Contohnya, seseorang kewarganegaraan Singapura yang menganut
azas domisili, kemudian ia pergi ke Indonesia yang menganut azas domisili,
maka ia terlepas dari kewajiban perpajakan dari singapura. Jika ia berada di
Indonesia selama lebih dari 183 hari ia akan dikenakan pajak di Indonesia.
Sehingga orang ini dikenakan pajak di negara Indonesia saja, dan tidak timbul
pajak berganda.

J. Kebenaran Reformasi Perpajakan Indonesia Tahun 1983


Tidak benar karena reformasi pajak tahun 1983 masih mengadopsi
Ordonansi Belanda.

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
B. Saran
Dari penjelasan diatas, dapat kita ketahui pengertian pajak dan hukum
pajak. Semoga dengan adanya pengetahuan mengenai pajak, seluruh aparat
negara dapat melaksanakan tugasnya masing-masing dengan baik.begitu juga
dengan masyarakat luas, semoga kesadaran untuk membayar pajak dapat
meningkat. Sehingga penerimaan negara semakin bertambah. Karena pajak itu
sendiri digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat.
Penulis menyadari bahwa dalam pembuatan makalah ini banyak terdapat
kekurangan. Kami selaku penulis makalah meminta maaf serta mohon kritik
dan saran yang sifatnya membangun demi terciptanya sebuah makalah yang
lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

---. Pajak. http://id.wikipedia.org/wiki/Pajak, diakses pada Sabtu, 18 Oktober


2014 pukul 09.59 WIB
---. Pengertian Pajak dan Hukum Pajak.
http://satudpajak2011.blogspot.com/2012/07/pengertian-pajak-dan-hukumpajak.html, diakses pada Sabtu, 18 Oktober 2014 pukul 09.15 WIB
Zulvina, Susi. 20011. Pengantar Hukum Pajak. Jakarta.