Anda di halaman 1dari 8

Proposal Penelitian

JALAN BAWAH TANAH


SEBAGAI ALTERNATIF PENCEGAH BANJIR DAN KEMACETAN
SERTA ALTERNATIF RUANG PUBLIK
Studi kasus : Jl. A. P. Pettarani

Di susun oleh
Syahril Siddiq
60100110069

JURUSAN TEKNIK ARSITEKTUR


FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN
MAKASSAR
2014

JALAN BAWAH TANAH


SEBAGAI ALTERNATIF PENCEGAH BANJIR DAN KEMACETAN
SERTA ALTERNATIF RUANG PUBLIK
Studi kasus : Jl. A. P. Pettarani

I.

Latar Belakang
Kota Makassar merupakan kota metropolitan yang manjadi pintu gerbang
menuju kawasan Indonesia timur. Sebagai kota metropolitan, Makassar tumbuh
dan berkembang dengan ditunjang berbagai fasilitas modern yang mendukung
seperti sarana hiburan, mall, hotel berbintang, apartemen, ruko ruko, pasar
swalayan serta perumahan mewah turut menyemarakkan pembangunan
Makassar. Selain itu, Makassar menuju kota dunia adalah sebuah jargon yang
akhir akhir ini sangat akrab di telinga masyarakat. Salah satu faktor yang
mendukung berkembangnya sebuah kota adalah sarana dan prasarana
transportasi yaitu jalan raya.
Jalan raya merupakan penghubung antar kawasan yang memiliki berbagai
fungsi diantaranya fungsi sosial, ekonomi dan estetik. Sebagai fungsi ekonomi
jalan raya menjadi ruang sirkulasi berbagai moda kendaraan dengan berbagai
tujuan. Dengan adanya jalan raya, komoditi dapat mengalir ke pasar setempat
dan hasil ekonomi dari suatu tempat dapat dijual kepada pasaran di luar wilayah
itu. Selain itu, jalan raya juga mengembangkan ekonomi di sepanjang
lintasannya. Keberadaan jalan raya di suatu kota khususnya yang menjadi pusat
perekonomian di suatu wilayah, memegang peranan penting dalam memajukan
perekonomian kota tersebut. Kemudian jalan sebagai fungsi sosial merupakan
tempat bertemu, berinteraksi dan berkegiatan, khususnya untuk masyarakat
kotadalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Sedangkan fungsi estetis berkaitan
dengan bagaimana jalan tersebut dapat membentuk persepsi positif bagi
pengguna melalui elemen-elemen visual yang ada sehingga akan memberikan
dampak psikis yang baik berupa kenyamanan dan pengalaman visual yang
menyenangkan. Dengan fungsi estetis tersebut, jalan memiliki peranan penting

dalam membentuk persepsi seseorang terhadap struktur atau image sebuah kota.
Jika jalan-jalan kota hidup, maka kota tersebut akan menarik, begitupun
sebaliknya jika jalan-jalannya menjemukan maka kota juga akan tampak
menjemukan (Jacobs dalam Broadbent, 2001).
Namun dibalik itu, banyak permasalahan yang terjadi pada jalan jalan di
kota kota besar termasuk di kota Makassar. Permasalahn permasalahan
tersebur seperti kemacetan lalu lintas dan banjir.
Kemacetan lalu lintas terjadi akibat volume lalu lintas yang hampir
mendekati kapasitas jalan. Selain itu kemacetan disebabkan berbagai kehidupan
yang saling terkait misalnya kedisiplinan yang kurang, low inforcement yang
lemah, serta pertumbuhan kendaraan yang tidak diimbangi pertumbuhan
prasarana jalan. Kemacetan mengakibatkan kerugian secara ekonomi maupun
meterial.
Permasalahan yang selanjutnya yaitu banjir. Banjir merupakan fenomena
alam dimana terjadi kelebihan air yang tertampung oleh jaringan drainase di
suatu daerah sehingga menimbulkan genangan yang merugikan. Kerugian yang
diakibatkan banjir seringkali sulit diatasi baik oleh masyarakat maupun instansi
terkait. Banjir disebabkan oleh berbagai macam faktor yaitu kondisi daerah
tangkapan hujan, durasi dan intesitas hujan, land cover, kondisi topografi, dan
kapasitas jaringan drainase.
Untuk itu, perlu ada upaya untuk menanggulangi permasalahan
permasalahan tersebut. Salah satunya dengan membangun jalan bawah tanah
yang di fungsikan sebagai jalan alternatif sekaligus sebagai pembuangan
kelebihan air ketika musim hujan. Selain itu, jalan bawah tanah dapat
dimanfaatkan sebagai ruang publik pada bagian atas jalan.
Ruang publik merupakan salah satu elemen kota yang memberikan karakter
tersendiri, dan pada umumnya memiliki fungsi interaksi sosial bagi masyarakat,
kegiatan ekonoi masyarakat dan tempat apresiasi budaya. Ruang publik yang
menarik akan selalu dikunjungi masyarakat luas dengan berbagai tingkat
kehidupan sosial etnik, tingkat pendidikan, perbedaan umur dan motivasi atau
tingkat kepentingan yang berlainan.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis bermaksud mengadakan penelitian


yang berjudul Jalan Bawah Tanah Sebagai Alternatif Pencegah Banjir dan
Kemacetan Serta Alternatif Ruang Publik, dengan studi kasus di jalan A. P.
Pettarani yang merupakan salah satu jalur transportasi yang cukup penting di
kota Makassar.
II. Rumusan Masalah
Rumusan masalah yang diangkat dalam penelitian ini adalah :
1.

Bagaimana peranan jalan bawah tanah sebagai sebuah alternatif yang dapat
mencegah banjir dan kemacetan serta sebagai ruang publik di jalan A. P.
Pettarani ?

2.

Bagaimana konsep dan desain jalan bawah tanah sebagai alternatif


pencegah banjir dan kemacetan serta ruang publik di jalan A. P. Pettarani ?

3.

Bagaimana konsep dan desain ruang publik pada jalan bawah tanah di jalan
A. P. Pettarani ?

III. Tujuan Penelitian


Adapun tujuan dari penelitaian ini adalah :
1.

Untuk mengetahui peranan jalan bawah tanah sebagai sebuah alternatif


yang dapat mencegah banjir dan kemacetan serta sebagai ruang publik di
jalan A. P. Pettarani.

2.

Untuk mengetahui konsep dan desain jalan bawah tanah sebagai alternatif
pencegah banjir dan kemacetan serta ruang publik di jalan A. P. Pettarani.

3.

Untuk mengetahui konsep dan desain ruang publik pada jalan bawah tanah
di jalan A. P. Pettarani.

IV. Tinjauan Pustaka


Kota adalah daerah yang menjadi pusat kegiatan pemerintahan, ekonomi,
dan kebudayaan. Pada umumnya kota mempunyai ciri-ciri banyaknya fasilitas
umum yang tersedia (seperti pertokoan, rumah sakit dan sekolah). Selain itu,
lapangan pekerjaan di kota lebih beragam dibandingkan dengan di desa. Pada
umumnya para pekerja membentuk organisasi berdasarkan pekerjaan atau
profesi. Beberapa organisasi dibentuk berdasarkan kesamaan kepentingan dan
gaya hidup seperti, organisasi dokter, organisasi pencinta buku, atau organisasi

olah raga. Dalam kehidupannya, penduduk kota memerlukan banyak pelayanan


seperti listrik, air, sanitasi, telepon dan angkutan umum.
Sebagai pusat komunitas sosial dan cultural, kota menempati kedudukan
penting dalam dinamika kebudayaan di Indonesia. Hubungan interaktif dan
dinamis antara keduanya pada dasarnya tidak bisa dipisahkan. Dinamika
kehidupan kota pada hakekatnya mempengaruhi dinamika kebudayaan dan
begitu pula sebaliknya. Perjalanan sejarah di Indonesia menunjukkan bahwa
semenjak awal kelahiran kota-kota maritim dan agraris atau kota-kota
perdagangan pada masa colonial, sampai masa terbentuknya kota-kota moderen
pasca kemerdekaan, kota-kota di Indonesia secara dinamis telah memainkan
peranan penting dalam kehidupan masyarakat Indonesia, tidak saja sebagai pusat
politik, ekonomi dan pemerintahan, tetapi juga sebagai tempat berlangsungnya
proses transformasi dan konfigurasi berbagai unsur kebudayaan luar dan lokal di
Indonesia.
Namun ada banyak permasalahan di kota kota besar yang masih belum
bisa diatasi sehingga perlu dikaji lebih mendalam. Permasalahan tersebut seperti
meledaknya jumlah penduduk kota, sehingga menyebabkan kemacetan di
hampir setiap ruas jalan kota. selain itu, maraknya pembangunan menyebabkan
banjir akibat tidak adanya daerah resapan air hujan. Kemudian kurangnya ruang
publik menyebabkan permasalahan sosial pada masyarakat perkotaan.
V. Landasan Teori
Dalam penelitian ini, ada beberapa landasan teori yang menjadi acuan
dalam mengkaji masalah konsep dan desain jalan bawah tanah sebagai alternatif
pencegah banjir dan kemacetan serta ruang publik di jalan A. P. Pettarani.
Landasan teori tersebut adalah:
1.

Teori perancangan jalan bawah tanah


Membahas tentang konsep perancangan bawah tanah seperti struktur dan
material jalan. Jalan adalah prasaran transportasi darat yang meliputi segala
bagian jalan, termasuk bangunan pelengkap dan perlengkapannya yang
diperuntukkan bagi lalu lintas, yang berbeda pada permukaan tanah, di atas
permukaan tanah, di bawah permukaan tanah dan/atau air, serta di atas

permukaan air, kecuali jalan kereta api, jalan lori, dan jalan kabel. (UndangUndang Republik Indonesia No. 38 Tahun 2004 Tentang Jalan: Pasal 1)
2.

Teori penanggulangan banjir


Merupakan teori tentang banjir dan cara penanggulangannya.

3.

Teori penanggulangan kemacetan


Membahas tentang kemacetan dan penyebabnya serta cara penanggulangan.

4.

Teori arsitektur lansekap sebagai konsep penataan ruang public


Membahas tentang konsep arsitektur lansekap pada ruang publik. Arsitektur
lansekap merupakan seni perencanaan (planning) dan perancangan (design)
serta pengaturan daripada lahan penyusunan benda-benda alam maupun
benda-benda buatan manusia.

VI. Metodologi Penelitian


Metode penelitian yang digunakan untuk menyelesaikan penelitian ini
adalah :
1.

Metode pustaka, yaitu metode yang dilakukan dengan mempelajari dan


mengumpulkan data dari pustaka yang berhubungan dengan judul, baik
berupa buku, jurnal maupun informasi dari internet.

2.

Metode diskusi/wawancara, yaitu mendapatkan data dengan cara bertanya


kepada orang yang mengetahui tentang informasi yang diperlukan.

3.

Metode survey, yaitu melakukan survey langsung ke lapangan. Tujuannya


untuk mengetahui kondisi yang terjadi di lokasi studi kasus.

4.

Metode deskriptif, yaitu dengan mendeskripsikan hal hal atau


permasalahan yang terjadi di lokasi untuk kemudian dianalisa. Metode
deskriptif menggambarkan secara sistematis fakta dan karakteristik objek
dan subjek yang diteliti secara tepat .

5.

Metode analitis, yaitu menganalisa hasil pustaka, wawancara / diskusi dan


survey lapangan untuk mencari solusi dari permasalahan yang ada sebagai
tujuan dari penelitian.

6.

Analisis data, bertujuan untuk mengetahui peranan jalan bawah tanah


sebagai sebuah alternatif yang dapat mencegah banjir dan kemacetan serta
sebagai ruang publik di jalan A. P. Pettarani. Analisis ini dilakukan dengan
dengan menerapkan teori teori pendukung penelitian yaitu teori

perancangan jalan bawah tanah, teori penanggulangan banjir, teori


penaggulangan kemacetan dan teori arsitektur lansekap sebagai konsep
penataan ruang publik. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisa hal
hal yang berkaitan dengan analisa fungsi jalan bawah tanah. Hasil dari
penelitian ini berupa rancangan dari jalan bawah tanah di sepanjang jalan
A. P. Pettarani yang mampu menaggulangi banjir dan kemacetan serta
sebagai ruang publik bagi masyarakat.

Daftar Pustaka
Alfian, Magdalia. 2007. Kota dan permasalahannya. Universitas Indonesia.
Jogjakarta
Alhadar, Ali. 2011. Analisis Kinerja Jalan dalam Upaya Mengatasi Kemacetan Lalu
Lintas pada Ruas Simpang Bersinyal di Kota Palu. Universitas Tadulako. Palu
Chevy.

2008.

Ketentuan-Ketentuan

Tentang

Jalan.

[Online].

Tersedia:

http://theplanner.wordpress.com/2008/02/22/tinjauan-pustaka-ketentuanketentuan-tentang-jalan/. [26 Maret 2014]


Darmawan, Edi. 2007. Peranan Ruang Publik dalam Perancangan kota (Urban
Design). Universitas Diponegoro. Semarang
Ilham, Suardi. 2009. Pengantar Arsitektur Lansekap. Universitas Hasanuddin.
Makassar
Hakim, Rustam. 2006. Rancang Visual Arsitektur Lansekap Jalan. Jakarta : PT Bumi
Aksara
Hakim, Rustam., dkk. 2002. Komponen Perancangan Arsitektur Lansekap. Jakarta :
PT Bumi Aksara