Anda di halaman 1dari 28

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Di era globalisasi saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan khususnya
dalam bidang teknologi semakin berkembang dengan pesat. Hal tersebut mendorong
munculnya

perusahaan-perusahaan

baru

yang

memanfaatkan

perkembangan

teknologi guna menciptakan inovasi-inovasi baru di dunia bisnis serta mencari


keuntungan dari hasil inovasi tersebut. Perusahaan adalah suatu organisasi yang
didirikan oleh seseorang atau sekelompok orang yang kegiatannya adalah melakukan
produksi dan distribusi guna memenuhi kebutuhan ekonomis (Ely Suhayati dan Sri
Dewi anggadini :2009).
Jenis badan usaha atau perusahaan ada tiga yaitu perusahaan jasa, perusahaan
dagang dan perusahaan manufaktur, sedangkan bentuk dari perusahaan ada tiga
macam yaitu perusahaan perseorangan, perusahaan persekutuan dan perseroan
terbatas. Baik perusahaan dagang, perusahaan jasa, ataupun perusahaan industri
menjalankan

aktivitasnya

untuk

menghasilkan

laba

demi

mempertahankan

kelangsungan hidup perusahaan. Salah satu upaya pencapaian laba tersebut adalah
dengan kegiatan penjualan, karena penjualan merupakan sumber pendapatan yang
utama dalam sebuah perusahaan.
Kegiatan penjualan dari setiap jenis perusahaan untuk menghasilkan
pendapatan berbeda-beda, perusahaan dagang menghasilkan pendapatan dari
penjualan barang dagangan, perusahaan jasa menghasilkan pendapatan dari penjualan
ataupun pemberian pelayanan kepada pelanggan, dan perusahaan industri

menghasilkan pendapatan dari penjualan barang yang diproduksinya. Dengan


semakin berkembangnya dunia usaha dan tingkat persaingan yang ketat dewasa ini,
banyak perusahaan khususnya perusahaan dagang yang membagi penjualan
produknya menjadi dua kelompok yaitu penjualan secara tunai dan penjualan secara
kredit. Kegiatan penjualan mencakup tiga peristiwa yaitu proses pemesanan barang,
pengiriman barang, dan penerimaan kas hasil penjualan.
Sedangkan usaha jasa merupakan jenis usaha yang memiliki aspek dan
lingkup bisnis yang paling luas dibandingkan dengan jenis usaha lainnya. Selain
memiliki keanekaragaman produk dan pelayanan, jenis usaha jasa termasuk memiliki
persaingan yang paling ketat. Strategi pengelolaan usaha dituntut untuk senantiasa
mampu menyerap perubahan pasar dan selera konsumen yang selalu berubah setiap
saat. Salah satunya adalah strategi yang berfokus pada konsumen (consumer
orrientation) yang tujuannya untuk memaksimalkan kepuasan konsumen dengan
memahami keinginan pelanggan seperti perilaku, kebutuhan, dan keinginan (Tjiptono
dan Diana, 1998 : 45).
Pada umumnya jenis usaha jasa lebih banyak mengandalkan kualitas
pelayanan sebagai upaya

atau cara untuk memberikan kepuasan kepada

pelanggannya. Dengan menerapkan strategi yang berorientasi pada konsumen, maka


diharapkan akan mampu memberikan kualitas pelayanan yang diharapkan oleh
pelanggan. Kualitas pelayanan lebih identik dengan jenis usaha jasa di mana produk
yang ditawarkan pada umumnya adalah produk jasa dan bukan barang (Hadiati,
2003 : 299). Pada jenis usaha jasa ini tentunya sasaran utama strategi dalam
meningkatkan kualitas layanan adalah loyalitas konsumen. Sikap loyal konsumen ini

dibentuk berdasarkan pada kepuasan konsumen, yaitu dengan memberikan penilaian


konsumen terhadap produk yang telah dikonsumsi.
Dalam mengupayakan usaha untuk memperoleh laba yang maksimal, maka
dibutuhkan sebuah anggaran untuk mengatur segala pemasukan dan pengeluaran
perusahaan, baik perusahaan dagang, jasa, maupun industri. Anggaran tersebut harus
diperhitungkan secara matang dan sesuai dengan tata cara pengendalian anggaran
yang benar agar proses dari kegiatan perusahaan berjalan dengan baik. Menurut
Gunawan Adisaputro dan Marwan Asri (1996), anggaran adalah suatu pendekatan
yang formal dan sistematis di dalam melaksanakan tanggung jawab manajemen di
dalam perencanaan, koordinasi, dan pengawasan. Sedangkan menurut Mulyadi
(2001), definisi anggaran adalah suatu rencana yang disusun secara sistematis, yang
meliputi seluruh kegiatan perusahaan yang dinyatakan dalam unit (kesatuan) moneter
dan berlaku untuk jangka waktu (periode) tertentu yang akan datang.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan yang telah dibahas sebelumnya,
maka pokok permasalahan yang akan dianalisis adalah:
1. Bagaimanakah cara penghitungan anggaran pada perusahaan dagang dan jasa
yang menggunakan anggaran neraca?
2. Bagaimanakah perbedaan penghitungan anggaran neraca pada perusahaan
dagang dan perusahaan jasa?
1.3 Manfaat Penelitian
1. Bagi Perusahaan

Dengan adanya penelitian ini perusahaan dapat mengetahui bagaimana


cara melakukan penghitungan yang tepat dengan menggunakan anggaran
neraca. Selain itu, anggaran neraca juga dapat membantu pengolahan datadata keuangan secara baik dan tepat.
2. Bagi Peneliti
Penelitian ini mampu menambah pengetahuan dan pengalaman
mengenai teori-teori yang telah dipelajari di universitas dan secara langsung
mempresentasikan teori tersebut kepada audiens. Peneliti juga memahami apa
saja faktor-faktor penting yang digunakan dalam melakukan penghitungan
menggunakan anggaran neraca, serta membantu mengembangkan ide maupun
pola pikir peneliti dalam pembuatan laporan tersebut.
3. Bagi Masyarakat
Penelitian ini dapat menjadi bahan referensi ataupun sebagai data
pembanding sesuai dengan topik yang akan diteliti oleh peneliti lainnya.
Selain itu juga dapat digunakan sebagai sumber pengetahuan bagi masyarakat
secara umum.

BAB II
LANDASAN TEORI
2.1 Anggaran
2.1.1 Pengertian Anggaran
Anggaran merupakan salah satu alat vital suatu perusahaan dalam mencapai
tujuannya. Semua perusahaan harus membuat anggaran, baik itu perusahaan besar

maupun perusahaan kecil. Anggaran merupakan sarana utama untuk perencanaan,


pengendalian dan pengambilan keputusan dalam setiap perusahaan.
Anggaran perusahaan biasanya dinyatakan dalam satuan moneter dan
dimaksudkan untuk mencapai sasaran perusahaan dalam jangka waktu tertentu.
Rencana ini biasanya mencakup berbagai kegiatan operasional yang saling berkaitan
dan saling mempengaruhi dengan suatu pendekatan formal dan sistematis dari
pelaksanaan tanggung jawab manajemen dalam perencanaan, koordinasi dan
pengendalian. Berikut intepretasi beberapa pendapat para ahli mengenai pengertian
anggaran.
Menurut Hilton (2008, p.348) A budget is a detailed plan, expressed in
quantitative term, that specifies how resources will be acquired and used during
specific period of time.
Menurut Mowen (2007, p.316) Budget are financial plans for future; they
identify objectives and the actions needed to achieved them.
Menurut Horngren, Datar & Foster (2006, p.171) A budget is quantitative
expression of a proposed plan of action by management for a specified period and
an aid to coordinating what needs to be done to implement that plan.
Berdasarkan penjelasan, dapat kita simpulkan bahwa anggaran adalah
perencanaan yang rinci untuk masa depan yang dinyatakan secara kuantitatif dan
lebih spesifik memperlihatkan bagaimana sumber daya didapat dan digunakan pada
periode tertentu dengan mengidentifikasi tujuan dan tindakan yang perlukan untuk
mencapainya.
Adapun suatu anggaran mempunyai karakteristik sebagai berikut:

a. Dinyatakan dalam satuan moneter, dengan didukung dengan satuan nonmoneter seperti unit produksi atau unit terjual.
b. Mencakup periode waktu tertentu, biasanya satu tahun.
c. Mengestimasi profit potential dari suatu unit bisnis.
d. Merupakan komitmen manajemen, artinya manajemen bertanggung jawab
atas pencapaian tujuan yang telah dianggarkan.
e. Usulan anggaran yang direview dan disetujui oleh orang yang berwenang.
f. Pada saat anggaran sudah disetujui, maka anggaran hanya bisa diubah karena
kondisi tertentu.
g. Melakukan perbandingan antara anggaran dengan realisasinya secara berkala.
Suatu anggaran biasanya meliputi jangka waktu satu tahun dan menyatakan
perencanaan atas pendapatan dan biaya untuk tahun bersangkutan. Anggaran
merupakan alat yang mendukung efektivitas perencanaan jangka pendek dan
pengendalian perusahaan.

2.1.2. Ciri-Ciri Anggaran


Tidak setiap rencana kerja organisasi dapat disebut sebagai anggaran.
Karena, anggaran memiliki beberapa ciri khusus yang memebedakan dengan
sekedar rencana (Rusdianto, 2006).
1. Dinyatakan dalam satuan moneter
Penulisan dalam satuan moneter tersebut dapat juga didukung oleh satuan
kuantitatif lain, misalnya unit. Penyusunan rencana kerja dalam satuan 10
moneter tersebut, bertujuan untuk mempermudah membaca dan usaha untuk

mengerti rencana tersebut. Rencana kerja yang diwujudkan di dalam suatu


cerita panjang akan menyulitkan anggota organisasi untuk membaca atau
mengerti. Karena itu, sebaiknya anggaran disusun dalam bentuk kuantitatif
moneter yang ringkas.
2. Umumnya mencakup kurun waktu satu tahun.
Bukan berarti anggaran tidak dapat disusun untuk kurun waktu lebih pendek,
tiga bulanan misalnya atau untuk kurun waktu lebih panjang, seperti lima
tahunan. Batasan waktu di dalam penyusunan anggaran akan berfungsi untuk
memberikan batasan rencana kerja tersebut.
3. Mengandung komitmen manajemen
Anggaran harus disertai dengan upaya pihak manajemen dan seluruh anggota
organisasi untuk mencapai apa yang telah ditetapkan. Tanpa upaya serius dari
pihak manajemen untuk mencapainya maka penyusunan anggaran tidak akan
banyak manfaatnya bagi perusahaan. Karena itu, di dalam menyusun anggaran
perusahaan harus mempertimbangkan dengan teliti sumber daya yang dimiliki
perusahaan untuk menjamin bahwa anggaran yang disusun adalah realistis.
4. Usulan anggaran disetujui oleh pejabat yang lebih tinggi dari pelaksana
anggaran.
Anggaran tidak dapat disusun sendiri-sendiri oleh setiap bagian organisasi
tanpa persetujuan dari atasan pihak penyusun.
5. Setelah disetujui anggaran hanya diubah jika ada keadaan khusus. Jadi, tidak
setiap saat dan dalam segala keadaan anggaran boleh diubah oleh manajemen.
Anggaran boleh diubah jika situasi internal dan eksternal organisasi memaksa
untuk mengubah anggaran tersebut. Perubahan asumsi internal dan eksternal

memaksa untuk mengubah anggaran karena jika dipertahankan malah


membuat anggaran tidak relevan lagi dengan situasi yang ada.
6. Jika terjadi penyimpangan/varians didalam pelaksanaannya, harus dianalisis
sebab terjadinya penyimpangan tersebut. Karena, tanpa ada analisis yang lebih
mendalam tentang penyimpangan tersebut maka potensi untuk terulang lagi di
masa mendatang menjadi besar. Tujuan analisis penyimpangan tersebut adalah
untuk mencari penyebab penyimpangan, supaya tidak terulang lagi di masa
mendatang dan agar penyususnan anggaran dikemudian hari menjadi lebih
relevan dengan situasi yang ada.
2.1.3. Tujuan Anggaran
Terdapat beberapa tujuan disusunnya anggaran, antara lain:
a. Digunakan sebagai landasan yuridis formal dalam memilih sumber dan
investasi dana.
b. Mengadakan pembatasan jumlah dana yang dicari dan digunakan.
c. Merinci jenis sumber dana yang dicari maupun jenis investasi dana, sehingga
dapat mempermudah pengawasan.
d. Merasionalkan sumber dan investasi dana agar dapat mencapai hasil yang
maksimal.
e. Menyempurnakan rencana yang telah disusun karena dengan anggaran
menjadi lebih jelas dan nyata terlihat.
f. Menampung dan menganalisis serta memutuskan setiap usulan yang berkaitan
dengan keuangan.
2.1.4. Macam-Macam Anggaran

Anggaran dapat dikelompokkan dari berbagai sudut pandang berikut ini (Nafarin,
2000):
1. Menurut dasar penyusunan, anggaran terdiri dari:
a. Anggaran variabel, yaitu anggaran yang disusun berdasarkan interval
(kisar) kapasitas (aktivitas) tertentu dan pada intinya merupakan suatu
seri anggaran yang dapat disesuaikan pada tingkat-tingkat aktivitas
(kegiatan) yang berbeda.
b. Anggaran tetap, yaitu anggaran yang disusun berdasarkan suatu tingkat
kapasitas tertentu.
2. Menurut cara penyusunan, anggaran terdiri dari:
a. Anggaran periodik, adalah anggaran yang disusun untuk satu periode
tertentu, pada umumnya periodenya satu tahun yang disusun setiap akhir
periode anggaran.
b. Anggaran kontinu, adalah anggaran yang dibuat untuk mengadakan
c. perbaikan anggaran yang pernah dibuat, misalnya tiap bulan diadakan
perbaikan, sehingga anggaran yang dibuat dalam setahun mengalami
perubahan.
3. Menurut jangka waktunya, anggaran terdiri dari:
a. Anggaran jangka pendek (anggaran taktis), adalah anggaran yang dibuat
dengan jangka waktu paling lama sampai satu tahun. Anggaran untuk
keperluan modal merupakan anggaran jangka pendek.
b. Anggaran jangka panjang (anggaran strategis), adalah anggaran yang
dibuat dengan jangka waktu lebih dari satu tahun. Anggaran untuk
keperluan investasi barang modal merupakan anggaran jangka panjang

yang disebut anggaran modal (capital budget). Anggaran jangka panjang


tidak mesti berupa anggaran modal. Anggaran jangka panjang
diperlukan sebagai dasar penyusunan anggaran jangka pendek.
4. Menurut bidangnya, anggaran terdiri dari anggaran operasional dan anggaran
keuangan. Kedua anggaran ini bila dipadukan disebut anggaran induk
(master budget). Anggaran induk yang mengkonsolidasikan rencana
keseluruhan perusahaan untuk jangka pendek, biasanya disusun atas dasar
tahunan. Anggaran tahunan dipecah lagi menjadi anggaran triwulan dan
anggaran triwulanan dipecah lagi menjadi anggaran bulan.
a. Anggaran operasional adalah anggaran untuk menyusun anggaran
laporan laba rugi. Anggaran operasional antara lain terdiri:
1) Anggaran penjualan
2) Anggaran biaya pabrik
a) Anggaran biaya bahan baku
b) Anggaran biaya tenaga kerja langsung
c) Anggaran biaya overhead pabrik
3) Anggaran beban usaha
4) Anggaran laporan laba rugi
b. Anggaran keuangan adalah anggaran untuk menyusun anggaran
neraca.
Anggaran keuangan, antara lain terdiri dari:
1) Anggaran kas
2) Anggaran piutang
3) Anggaran persediaan

4) Anggaran utang
5) Anggaran neraca
2.2

Proses Manajemen Pengendalian


Secara formal proses manajemen pengendalian memiliki empat fase utama,

dimana fase-fase tersebut terjadi dalam sebuah siklus regular. Adapun empat fase
proses manajemen pengendalian (Anthony & Young, 2003) yaitu:
2.2.1

Perencanaan Stratejik (Programming)


Perencanaan stratejik merupakan aktivitas yang timbul menjadi program baru.

Perencanaan stratejik terdiri dari identifikasi, pengembangan dan analisis usulan


program baru. Selama proses perencanaan stratejik, manajer harus memilih antara
dua atau lebih program, dengan berusaha untuk mengkualifikasi untung dan rugi
yang biasanya membantu dalam upaya pengambilan keputusan. Pada fase ini senior
manajemen menentukan program utama yang akan dilakukan organisasi untuk
periode yang akan datang dan taksiran pengeluaran yang akan terjadi.
Banyak organisasi mempersiapkan rencana stratejik yang berisi tentang
perencanaan pendapatan dan pengeluaran untuk beberapa tahun di masa depan,
biasanya lima tahun. Dalam perencanaan menyebutkan jumlah dan karakter dari
sumber daya (input) yang digunakan untuk setiap program dan perencanaan
penggunaan sumber daya tersebut.
2.2.2

Penyusunan Anggaran
Proses penyusunan anggaran merupakan kegiatan yang penting dan

kompleks, karena memungkinkan dampak fungsional dan disfungsional sikap dan


perilaku anggota organisasi yang ditimbulkannya (Milani, 1975), lebih lanjut
dikemukakan bahwa tingkat keterlibatan dan pengaruh bawahan terhadap pembuatan

keputusan dalam proses penyusunan anggaran merupakan faktor utama yang


membedakan antara anggaran partisipatif dengan anggaran non partisipatif. Mia
(1988) menyimpulkan bahwa organisasi akan baik tergantung sistem anggaran
(partisipatif atau non-partisipatif) yang selaras dengan sikap dan motivasi yang
dimiliki anggota organisasi (Fahrianta dan Gozali, 2002).
Partisipasi penyusunan

anggaran dalam proses

penganggaran juga

merupakan suatu pendekatan yang efektif untuk meningkatkan motivasi manajer.


Dengan tingkat partispasi yang tinggi cenderung mendorong manajer untuk lebih
aktif di dalam memahami anggaran (Anthony dan Govindarajan, 1995), dan manajer
kan memiliki pemahaman yang baik dalam menghadapi kesulitan pada saat
pelaksanaan anggaran. Dalam lingkungan yang turbulen hal ini akan mempercepat
modifikasi dan penyusunan anggaran (Fahrianta dan Gozali, 2002).
Beberapa syarat penyusunan anggaran suatu perusahaan, yaitu:
a.

Realistis, anggaran diharapkan dapat dicapai sesuai dengan keadaan saat


ini, tidak terlalu optimis dan juga tidak terlalu pesimis.

b. Luwes, tidak kaku dan berpeluang untuk disesuaikan dengan keadaan


yang berubah.
c.

Berkesinambungan, membutuhkan perhatian yang terus menerus.

d. Partisipatif, membutuhkan partisipasi dari keseluruhan perusahaan untuk


mencapai tujuan perusahaan yang telah tercermin dalam anggaran.
e.

Edukatif, dapat mendidik karyawan dan manajemen untuk berkerja sesuai


dengan komitmennya.

f.

Komunikatif, anggaran digunakan sebagai alat komunikasi antar


departemen.

g.

Integratif, anggaran harus dapat menyatukan pelaksanaan kegiatan semua


bagian dalam suatu laporan anggaran.

h.

Koordinatif, dapat mengkoordinasikan seluruh kegiatan departemen


untuk mencapai tujuan perusahaan.

Dalam penyusunan anggaran perlu diperhatikan perilaku para pelaksana anggaran


dengan cara mempertimbangkan hal-hal berikut:
1. Anggaran harus dibuat serealistis mungkin dan secermat mungkin sehingga
tidak terlalu rendah atau terlalu tinggi. Anggaran yang dibuat 9 terlalu rendah
tidak menggambarkan kedinamisan, sedangkan anggaran yang dibuat terlalu
tinggi hanyalah angan-angan.
2. Untuk memotivasi manajer pelaksana diperlukan partisipasi manajemen
puncak (direksi).
3. Anggaran yang dibuat harus mencerminkan keadilan, sehingga pelaksana
tidak merasa tertekan tetapi justru termotivasi.
4. Untuk membuat laporan realisasi anggaran diperlukan laporan yang akurat
dan tepat waktu, sehingga apabila terjadi penyimpangan yang merugikan
dapat segera diantisipasi lebih dini.

2.2 Pengertian Perusahaan Dagang


Perusahaan dagang adalah perusahaan yang membeli barang untuk
tujuan menjualnya kembali tanpa mengubah bentuk atau sifat barang secara
berarti. Barang yang diperdagangkan biasanya barang yang akan digunakan
karena manfaat pakai yang melekat pada barang tersebut. Barang ini dapat
berupa barang konsumsi atau barang produksi dan bahan baku untuk produksi.

Kegiatan perusahaan dagang terutama adalah pembelian dan penjualan barang


yang berwujud fisik dengan spesifikasi (berat, volume atau ukuran unit fisik
lainnya) yang jelas.
Pada dasarnya perusahaan dagang adalah perusahaan yang bergerak
dalam bidang distribusi barang. Suatu perusahaan biasanya merupakan salah
satu mata rantai dari saluran distribusi antara produsen dan konsumen baik
konsumen industri atau konsumen akhir. Dengan kata lain, perusahaan dagang
sebenarnya adalah perantara penjualan barang dari produsen ke konsumen atau
pemakai.
Perusahaan dagang dalam kehidupan sehari-hari dapat berupa agen, toko,
penyalur tunggal, distributor, pedagang besar dan sebagainya. Sedangkan
bentuk usahanya dapat berupa perseroan, CV, perusahaan perseorangan, firma
atau persekutuan.Dalam perusahaan dagang, jumlah uang yang diterima dari
konsumen atas penyerahan barang dalam transaksi penjualan disebut sebagai
penjualan dengan nama rekening khususnya yaitu penjualan. Jadi, penjualan
merupakan pendapatan yang diperoleh perusahaan dagang dan akan mempunyai
pengaruh menambah modal perusahaan.
Karena adanya barang fisik yang dibeli dan dijual, biasanya perusahaan
dagang mempunyai gudang untuk menyimpan barang dagangan. Perusahaan
membeli barang di leveransir atau pemesok (suppliers) dan menjualnya kepada
pelanggan (customers). Semua biaya yang melekat pada kegiatan tersebut
(termasuk barang keluar dan diserahkan kepada pelanggan) akhirnya akan
menjadi biaya operasi yang merupakan elemen dalam Laporan Laba-Rugi.
Susunan dan elemen yang terdapat dalam Laporan Laba-Rugi merupakan hal

yang dapat digunakan untuk membedakan perusahaan dagang dan perusahaan


jasa.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa perusahaan dagang adalah perusahaan
yang kegiatan usahanya melakukan transaksi pembelian barang dagang yang
kemudian dijual kembali untuk memperoleh laba tanpa mengubah bentuknya.

2.2.1 Karakteristik Perusahaan Dagang


Perusahaan perdagangan adalah perusahaan yang beroperasi dengan
membeli barang dagangan dan menjual kembali barang tersebut tanpa
mengubah bentuk barang. Perbedaan utama dengan perusahaan jasa adalah jenis
produk yang dijual. Perusahaan perdagangan menjual produk yang sifatnya riil
(tangible goods), sedangkan pada perusahaan jasa menjual jasa (intangible
goods).
Perbedaan antara kedua jenis perusahaan tersebut menyebabkan
perbedaan elemen yang disajikan pada laporan keuangan. Pada perusahaan
perdagangan, terdapat satu akun persediaan barang dagangan di neraca, dan hal
tersebut tidak terdapat pada perusahaan jasa. Pada laporan rugi-laba perusahaan
perdagangan akan menyajikan biaya pokok penjualan, sedangkan hal tersebut
tidak terdapat pada laporan rugi-laba perusahaan jasa.
2.2.2 Ciri-ciri Perusahaan Dagang
1. Pendapatan utamanya berasal dari penjualan barang dagangan.
2. Biaya utamanya berasal dari harga pokok barang yang terjual dan biaya
usaha lainnya.
3. Terdapat akun persediaan barang atau barang dagangan.
4. Tidak merubah barang.
5. Menjual barang lebih tinggi dari harga pembeliannya.

Selain itu, perusahaan dagang juga dapat dibedakan menjadi:


1. Pedagang Besar: Pedagang yang membeli barang dalam skala besar dan
kemudian menjualnya kembali kepada pedagang yang lebih kecil untuk
mendapatkan keuntungan.
2. Pedagang Menengah: Pedagang yang membeli barang dagangan dengan
skala yang lebih kecil daripada pedagang besar.
3. Pedagang Kecil: Pedagang yang membeli barang dagangan dalam skala
kecil dan menjualnya langsung ke konsumen.
Studi Kasus
Toko Banjar
Anggaran Neraca
Tiap Akhir Bulan untuk Triwulan Pertama Tahun 2017
Keterangan
ASET
Kas
Piutang Dagang Bersih
Sediaan Barang
Dagangan
Aset Tetap Bersih
Jumlah Aset
UTANG DAN MODAL
Utang Bank
Utang Dagang
Utang Bunga
Modal Saham
Laba Ditahan

Januari

Februari

Maret

60.050
67.800

60.175
74.500

63.300
68.050

121.875
144.000
393.725

113.750
138.000
386.425

120.250
132.000
383.600

10.000
89.875
100
100.000
193.750

10.000
76.375
200
100.000
199.850

0
81.250
0
100.000
202.350

393.725

386.425

383.600

Jumlah Utang dan


Modal

2.3 Pengertian Perusahaan Jasa


Perusahaan jasa adalah perusahaan yang mempunyai kegiatan utama
memberikan pelayanan, kemudahan, dan kenyamanan kepada masyarakat untuk
memperlancar aktivitas produksi maupun konsumsi. Jasa yang dihasilkan bersifat
abstrak tapi bisa dirasakan manfaatnya oleh konsumen. Misalnya: Perusahaan jasa
telekomunikasi, transportasi dan asuransi.
2.3.1 Ciri-ciri perusahaan jasa
Sebuah perusahaan jasa mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
a) Jasa yang dihasilkan bersifat abstrak.
Salah satu ciri penting dari perusahaan jasa adalah keabstrakan dari jasa yang
dihasilkan. Namun walaupun abstrak, jasa ini bisa dirasakan manfaatnya oleh para
konsumen. Contoh: Jasa seorang dokter.
b) Jasa yang diberikan tidak seragam
Dalam pelayanan jasa masing-masing konsumen bisa memperoleh jenis
pelayanan yang berbeda antara dengan yang lain. Misalnya dalam suatu bengkel,
teknisi bengkel akan memperbaiki mobil di mana ditemukan kerusakan. Bila mobil
Amir yang rusak adalah bagian kemudi maka bagian yang diperbaiki, bila mobil
Banu rusak di bagian kopling maka bagian koplinglah mobil Banu di perbaiki.
c) jasa yang dihasilkan tidak dapat disimpan
Berbeda dengan barang yang apabila dalam penggunaannya masih tersisi
maka sisanya akan bisa disimpan untuk dapat digunakan di masa yang akan datang,
sedangkan jasa tidak dapat disimpan. Sekali dibeli maka akan segera habis
penggunaannya, tapi tidak bisa disimpan untuk penggunaan berikutnya. Contoh tiket

kereta api, sekali dibeli maka harus diperbaiki, jika tidak dipakai pada tanggal yang
tercantum, maka tiket tersebut tidak berlaku lagi.

2.3.3 Laporan Keuangan Perusahaan Jasa.


Sebagai pemilik sebuah usaha jasa tailor, Karina tentu menginginkan
informasi tentang kondisi keuangan usahanya. Berapa jumlah aset yang dimilikinya,
berapa besar penghasilan atau laba yang diperolehnya dan berapa jumlah utang yang
menjadi kewajibannya. Untuk mengetahuinya, maka disusun sebuah laporan
keuangan perusahaan jasa.
1. Unsur-unsur dalam laporan keuangan.
Adapun unsur-unsur dalam laporan keuangan perusahaan jasa penyusun laporan
keuangan adalah sebagai berikut:
a) Neraca
Neraca sebagai laporan yang berkaitan langsung dengan pengukuran posisi
keuangan perusahaan. Neraca mempunyai unsur-unsur penyusun sebagai berikut:
1) Aktiva adalah sumber daya ekonomi yang dimiliki perusahaan, yang timbul
dari peristiwa masa lalu dan akan memberikan manfaat ekonomi di masa yang akan
datang. Dalam neraca, sebagian besar aktiva perusahaan akan disusun urut berdasar
tingkat kelancaran atau likuiditasnya, kecuali untuk aktiva tetap yang disusun urut
berdasarkan tingkat kekekalan. Kelancaran (likuiditas) adalah kecepatan perputaran
aktiva untuk habis digunakan atau untuk berubah menjadi bentuk kas. Semakin cepat
berubah menjadi bentuk kas atau habis dipakai maka aktiva tersebut dikatakan
semakin lancar.

Berdasarkan hal tersebut maka unsur-unsur aktiva dapat diklasifikasikan sebagai


berikut:
(a) Aktiva lancar (current assets)
Aktiva lancar adalah aktiva yang akan habis digunakan atau berubah bentuk menjadi
kas dalam waktu kurang dari satu tahun. Contoh aktia lancar adalah kas, persediaan
perlengkapan.
(b) Investasi jangka panjang
Investasi jangka panjang adalah sumber ekonomis yang dimiliki oleh perusahaan
dengan tujuan bukan untuk digunakan dalam kegiatan operasional perusahaan, namun
mempunyai tujuan lain seperti membeli saham untuk mengakuisisi (membeli)
perusahaan lain dan sebagainya.
(c) Aktiva tetap
Hampir sama dengan aktiva lancar, namun aktiva tetap periodenya lebih panjang
yakni lebih dari satu tahun. Untuk bisa dikategorikan ke dalam aktiva tetap, suatu
aktiva harus mempunyai ciri-ciri sebagai berikut:
(1) aktiva tersebut dibeli dengan maksud untuk dipakai dalam kegiatan
operasi perusahaan.
(2) Mempunyai masa manfaat lebih dari satu tahun.
Contoh aktiva tetap adalah kendaraan, mesin-mesin produksi bangunan dan
sebagainya.

(d) Aktiva tidak berwujud


Aktiva tidak berwujud adalah aktiva yang melekat pada perusahaan secara
keseluruhan dan tidak dapat diidentifikasi secara fisik namun dirasakan manfaatnya

bagi perusahaan. Contoh: merek, hak cipta, goodwill dan sebagainya. Merek tidak
bisa diidentifikasi, misalnya konsumen akan cenderung memilih produk tertentu
dengan cara melihat merek. Karena aktiva tetap tidak berwujud ini merupakan aset
perusahaan, maka harus dilindungi keberadaannya dari pihak-pihak yang menirunya.

(e) Aktiva lain-lain


Aktiva lain-lain adalah aktiva yang tidak memenuhi klasifikasi-klasifikasi di atas.
Adapun contohnya adalah peralatan msein yang masih mempunyai umur ekonomis
namun kondisinya telah rusak, dana jaminan dan sebagainya.

2) Kewajiban
Kewajiban adalah utang perusahaan saat ini yang timbul sebagai akibat dari
peristiwa masa lalu dan akan dibayar oleh perusahaan di masa yang akan datang
dengan sumber daya ekonomi yang ada. Kewajiban ini sering juga disebut utang.

Penyajian kewajiban di dalam neraca akan diurutkan dari yang palin cepat tanggal
jatuh tempo atau tanggal pembayarannya. Kewajiban dibagi menjadi:
(a) Kewajiban jangka pendek
Kewajiban jangka pendek adalah kewajiban perusahaan yang akan dibayar atau
dilunasi dalam jangka waktu satu tahun atau kurang dengan sumber daya ekonomis
yang ada. Contoh kewajiban jangka pendek adalah sumber utang dagang.

(b) Kewajiban Jangka Panjang

Kewajiban jangka panjang adalah kewajiban yang harus dibayar dalam kurun waktu
lebih dari satu tahun. Adapun contoh kewajiban jangka panjang adalah utang obligasi.

3) Ekuitas
Ekuitas dapat diartikan sebagai hak residual atau sisa atas aktiva perusahaan
setelah dikurangi semua kewajiban. Jika diformulasikan dalam sebuah rumus menjadi
sebagai berikut:
Ekuitas= Aktiva- Kewajiban

Dalam neraca, ekuitas disajikan secara urut berdasarkan tingkat kekekalannya.


Semakin kekal (tidak berubah-ubah) maka akan ditempatkan pada urutan paling awal,
demikian seterusnya ke bawah. Ekuitas sering juga disebut modal.

Adapaun elemen penyusun ekuitas sebagai berikut:


(a) Modal
Modal adalah penyerahan kas atau aktiva bentuk lain sebagai penyertaan seseorang
pada suatu perusahaan. Sebagai gantinya, jika perusahaan berbentuk perseorangan
terbatas maka perusahaan akan memberikan lembar saham sebagai bukti kepemilikan
seseorang terhadap perusahaan. Modal perusahaan akan terbagi-bagi ke dalam lembar
saham. Banyak sedikitnya saham tergantung dari besar kecilnya modal perusahaan
dan juga besar kecilnya nilai nominal (nilai yang tertera dalam lembar saham).
Namun jika perusahaan adalah perusahaan perseorangan maka cukup dicatat dalam
jurnal saja.

(b) Agio Saham


Ketika suatu perusahaan go public (sahamnya dijual kepada masyarakat luas dan
terdaftar di bursa efek) maka harga saham perusahaan akan berfluktuasi mengikuti
pergerakan harga pasar di bursa efek. Bila harga saham lebih besar dari nominal maka
kelebihan ini dinamakan agio, sedangkan bila harga saham lebih kecil dari nilai
nominal maka selisih kurang ini disebut disagio. Penilaian penentuan agio/disagio
dilakukan setiap hari akhir periode tertentu.

(c) Laba ditahan


Laba ditahan adalah bagian laba yang tidak dibagikan kepada pemilik. Laba diperoleh
dari penghasilan dikurangi dengan biaya.

Selain itu di dalam bagian lab yang tidak dibagikan kepada pemilik. Laba diperoleh
dari penghasilan dikurangi dengan biaya.

Selain itu didalam neraca dikenal beberapa akun lawan. Akun lawan ini berfungsi
sebagai penyesuai dari jumlah yang seharusnya disajikan, sebagai contoh cadangan
kerugian piutang.

b) Laporan Laba rugi


Laporan laba rugi merupakan laporan yang berkaitan dengan pengukuran kinerja
perusahaan selama kurun waktu tertentu.
Adapun unsur-unsur penyusun laporan laba rugi sebagai berikut.
1) Penghasilan

Penghasilan adalah kenaikan manfaat ekonomis atau dalam bentuk aliran kas masuk
yang mengakibatkan kenaikan ekuitas yang tidak berasal dari tambahan modal,
selama periode tertentu. Kenaikan manfaat ekonomi bisa diperoleh dengan cara
penjualan barang/jasa, pendapatan bunga, keuntungan penjualan aktiva tetap dan
sebagainya.

2) Biaya
Biaya adalah penurunan atau perubahan manfaat ekonomis yang timbul dalam
pelaksanaan aktivitas perusahaan, selama periode tertentu. Perubahan manfaat
ekonomis bisa diakibatkan dari pembelian barang atau jasa, sedangkan penurunan
manfaat disebabkan oleh pemakaian dalam kegiatan operasional perusahaan bencana
alam dan sebagainya.

2.4 Penyusunan Anggaran Perusahaan Jasa Perbankan


Dalam perusahaan jasa bank yang merupakan anggaran kunci adalah anggaran
kredit, karena anggaran kredit sama fungsinya dengan anggaran jualan. Dalam
penyusunan anggaran kredit harus memerhatikan faktor simpanan masyarakat,
apakah simpanan masyarakat di bank dapat mendukung anggaran kredit. Oleh karena
faktor simpanan di bank sama fungsinya dengan faktor produksi pada perusahaan
industri.
Pada perusahaan industri dan dagang pada umumnya pengakuan terhadap
dapatan dan beban dalam akuntansi menggunakan dasar akrual (pengakuan dilakukan
atas dasa terjadinyatransaksi). Saat ini akuntansi perusahaan jasa bank, pengakuan

dapatan didasarkan atas terjadinya pembayaran (dasar kas), sedangkan beban diakui
atas dasar akrual.

2.4.1

Studi Kasus
Berdasarkan data neraca Bank Igra per 31 Desember 2011 terdapat kas Rp

5.850, giro di Bank Indonesia Rp2.000, giro bank lain Rp 1.500, pinjaman diberikan
Rp 58.500, aset tetap bersih Rp 27.450, simpanan dan kewajiban segera lainnya Rp
43.500, modal saham Rp 49.000, sisa laba tahun lalu Rp 1.000, dan laba tahun
berjalan Rp 1.800.
Data taksiran yang berhasil dikumpulkan sebagai berikut:
a. Pada awal tahun 2012, pinjaman yang diberikan pada tahun 2011akan
dilunasi seluruhnya Rp 58.500
b. Dari pelunasan pinjaman tahun 2011 sebesar Rp 8.500 dan
direncanakan dibayar pada awal tahun 2012 sebesar Rp 50.000 selama
5 tahun dengan tingkat bunga 12%
c. Bunga simpanan dan kewajiban segera lainnya 5% setahun
d. Aset tetap disusun tiap tahun 10% dari nilai buku
e. Beban usaha lainnya tiap tahun Rp 570, kecuali tahun 2015 dan 2016
masing-masing Rp 100 dan Rp 50
Anggaran Neraca
Keterangan
Kas
Giro di Bank Indonesia
Giro di Bank lain

2012
9.530
2.000
1.500

2013
13.210
2.000
1.500

2014
31.707
2.000
1.500

2015
50.675
2.000
1.500

2016
69.692
2.000
1.500

Pinjaman diberikan
Aset tetap bersih
ASET
Simpanan dan kewajiban

50.000
24.705
87.735

50.000
22.234
88.944

35.183
20.011
90.401

18.157
18.010
90.342

0
16.209
89.401

lain
Modal saham
Laba tahun lalu
Laba (rugi) tahun berjalan
UTANG dan MODAL

35.000
49.000
2.800
935
87.735

35.000
49.000
3.735
1.209
88.944

35.000
49.000
4.944
1.457
90.401

35.000
49.000
6.401
371
90.772

35.000
49.000
6.772
-1.371
89.401

BAB III
PENUTUP

Penyusunan

anggaran

perusahaan

dagang

lebih

sederhana

dibandingkan dengan penyusunan anggaran perusahaan manufaktur karena dalam


perusahaan dagang tidak terdapat istilah bahan baku, tenaga kerja langsung, overhead
pabrik, produk jadi, dan produk dalam proses. Produk jadi dan bahan baku terdapat
dalam perusahaan manufaktur, sedangkan barang dagangan terdapat dalam
perusahaan dagang.
Seperti halnya perusahaan manufaktur, anggaran tetap dan anggaran variabel
juga terdapat pada perusahaan dagang, tetapi pada perusahaan dagang tidak
menggunakan metode penghargapokokan penuh untuk menyusun anggaran tetap
seperti yang terdapat pada perusahaan manufaktur, karena pada perusahaan dagang
tidak terdapat penghargapokokan produk per unit. Harga pokok barang terjual atau
harga pokok jualan pada perusahaan dagang merupakan biaya variabel, sedangkan
pada perusahaan manufaktur yang menggunakan metode penghargapokokan penuh
terdapat unsur biaya variabel dan unsur biaya tetap, yaitu biaya overhead pabrik tetap
(misalnya biaya depresiasi pabrik).
Perusahaan jasa dapat dibedakan menjadi enam golongan: (1) perusahaan jasa
keuangan (perusahaan perbankan, perusahaan asuransi, perusahaan pegadaian, dan
perusahaan sewa guna usaha), (2) perusahaan jasa angkutan (perusahaan
penerbangan, perusahaan perkapalan, perusahaan taksi, dan perusahaan angkutan
lainnya), (3) perusahaan jasa hiburan (perusahaan bioskop, perusahaan permainan,
perusahaan diskotek, dan perusahaan hiburan lainnya), (4) perusahaan jasa penitipan
(perusahaan penitipan anak, perusahaan parkiran, dan perusahaan penitipan lainnya),
(5) perusahaan jasa sewa (perusahaan perhotelan, perusahaan apartment, dan

perusahaan penyewaan alat), dan (6) perusahaan jasa lainnya (perusahaan pengetikan,
perusahaan penagihan, dan perusahaan percaloan).
Perusahaan jasa dalam bab ini untuk kepentingan penyusunan anggaran hanya
membahas perusahaan jasa keuangan berupa perusahaan jasa perbankan, perusahaan
jasa hiburan berupa perusahaan jasa bioskop, dan perusahaan jasa penitipan berupa
perusahaan jasa parkir.

DAFTAR PUSTAKA

Harahap, Sofyan Syafri. (2007). Analisis Kritis Atas Laporan Keuangan. Jakarta: PT.
Raja Grafindo Persada.
Helfert, E. A. 1996. Teknik Analisis Keuangan, Erlangga, Jakarta.
Horne, Van dan James dkk. (2009). Prinsip-prinsip Manajemen Keuangan. Buku 1
Edisi ke-12. Jakarta: Salemba Empat.
http://lib.ui.ac.id/file?file=digital/128081-T%2026540-Peranan%20work

Tinjauan

%20literatur.pdf(diakses pada 1 Desember pukul 20.00)


http://e-journal.uajy.ac.id/3428/3/2EA14301.pdf (diakses 1 Desember pukul 20.00)
http://elib.unikom.ac.id/files/disk1/26/jbptunikompp-gdl-s1-2005-widadianas-1297bab_ii.doc (diakses 1 Desember pukul 20.00)

https://www.academia.edu/7024184/ANGGARAN_DASAR_NERACA_DAN_LAB
A_RUGI_PERUSAHAAN_DAGANG_OLEH (diakses 1 Desember pukul
20.00)
http://www.zakapedia.com/2014/10/pengertian-perusahaan-jasa-dan-ciri.html#_
(diakses 1 Desember 2014)