Anda di halaman 1dari 7

Askep CA Nasofaring

BY IDI SUWARDI , AT 19.29 , HAS 0 KOMENTAR


Asuhan Keperawatan (Askep) CA Nasofaring berikut ini adalah contoh tugas bidang
keperawatan. Tugas ini membahas tentang, pengertian nasofaring, epidemiologi dan
etiologi, tanda dan gejala karsinoma nasofaring, pemeriksaan penunjang nasofaring,
pathway, pelaksanaan medis sampai dengan konsep dan pelaksaan asuhan
keperawatan karsinoma nasofaring atau tomor ganas nasofaring.

CA NASOFARING
A. PENGERTIAN
Karsinoma nasofaring merupakan tumor ganas yang tumbuh di daerah nasofaring
dengan predileksi di fossa Rossenmuller dan atap nasofaring. Karsinoma nasofaring
merupakan tumor ganas daerah kepala dan leher yang terbanyak ditemukan di
Indonesia. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146)
B. EPIDEMIOLOGI DAN ETIOLOGI
Urutan tertinggi penderita karsinoma nasofaring adalah suku mongoloid yaitu 2500
kasus baru pertahun. Diduga disebabkan karena mereka memakan makanan yang
diawetkan dalam musim dingin dengan menggunakan bahan pengawet nitrosamin.
(Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146).
Insidens karsinoma nasofaring yang tinggi ini dihubungkan dengan kebiasaan
makan, lingkungan dan virus Epstein-Barr (Sjamsuhidajat, 1997 hal 460). Selain itu
faktor geografis, rasial, jenis kelamin, genetik, pekerjaan, kebiasaan hidup,
kebudayaan, sosial ekonomi, infeksi kuman atau parasit juga sangat mempengaruhi
kemungkinan ti mbulnya tumor ini. Tetapi sudah hampir dapat dipastikan bahwa
penyebab karsinoma nasofaring adalah virus Epstein-barr, karena pada semua
pasien nasofaring didapatkan titer anti-virus E EB yang cukup tinggi (Efiaty &
Nurbaiti, 2001 hal 146).
C. TANDA DAN GEJALA
Gejala karsinoma nasofaring dapat dikelompokkan menjadi 4 bagian, yaitu antara
lain :
1. Gejala nasofaring
Adanya epistaksis ringan atau sumbatan hidung.Terkadang gejala belum ada tapi
tumor sudah tumbuh karena tumor masih terdapat dibawah mukosa (creeping
tumor)
2. Gangguan pada telinga
Merupakan gejala dini karena tempat asal tumor dekat muara tuba Eustachius (fosa
Rosenmuller). Gangguan dapat berupa tinitus, tuli, rasa tidak nyaman di telinga
sampai rasa nyeri di telinga (otalgia)
3. Gangguan mata dan syaraf
Karena dekat dengan rongga tengkorak maka terjadi penjalaran melalui foramen

laserum yang akan mengenai saraf otak ke III, IV, VI sehingga dijumpai diplopia,
juling, eksoftalmus dan saraf ke V berupa gangguan motorik dan sensorik.
Karsinoma yang lanjut akan mengenai saraf otak ke IX, X, XI dan XII jika penjalaran
melalui foramen jugulare yang sering disebut sindrom Jackson. Jika seluruh saraf
otak terkena disebut sindrom unialteral. Prognosis jelek bila sudah disertai destruksi
tulang tengkorak.
4. Metastasis ke kelenjar leher
Yaitu dalam bentuk benjolan medial terhadap muskulus sternokleidomastoid yang
akhirnya membentuk massa besar hingga kulit mengkilat. Hal inilah yang
mendorong pasien untuk berobat.
Suatu kelainan nasofaring yang disebut lesi hiperplastik nasofaring atau LHN telah
diteliti dicina yaitu 3 bentuk yang mencurigakan pada nasofaring seperti pembesaran
adenoid pada orang dewasa, pembesaran nodul dan mukositis berat pada daerah
nasofaring. Kelainan ini bila diikuti bertahun tahun akan menjadi karsinoma
nasofaring. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 147 -148).
D. PEMERIKSAAN PENUNJANG
1.
2.

Nasofaringoskopi
Pemeriksaan Serologi IgA anti EA dan IgA anti VCA untuk mengetahui
infeksi virus E-B.
3.
Pengerokan dengan kuret daerah lateral nasofaring dalam narkosis.
(Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 148 - 149).
E. PENATALAKSANAAN MEDIS
1.
2.

Radioterapi merupakan pengobatan utama


Pengobatan tambahan yang diberikan dapat berupa diseksi leher ( benjolan
di leher yang tidak menghilang pada penyinaran atau timbul kembali setelah
penyinaran dan tumor induknya sudah hilang yang terlebih dulu diperiksa
dengan radiologik dan serologik) , pemberian tetrasiklin, faktor transfer,
interferon, kemoterapi, seroterapi, vaksin dan antivirus.
3.
Pemberian ajuvan kemoterapi yaitu Cis-platinum, bleomycin dan 5fluorouracil. Sedangkan kemoterapi praradiasi dengan epirubicin dan cisplatinum. Kombinasi kemo-radioterapi dengan mitomycin C dan 5-fluorouracil
oral sebelum diberikan radiasi yang bersifat RADIOSENSITIZER.

KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN


PENGKAJIAN
1.

Faktor herediter atau riwayat kanker pada keluarga misal ibu atau nenek
dengan riwayat kanker payudara
2.
Lingkungan yang berpengaruh seperti iritasi bahan kimia, asap sejenis kayu
tertentu.

3.

Kebiasaan memasak dengan bahan atau bumbu masak tertentu dan


kebiasaan makan makanan yang terlalu panas serta makanan yang diawetkan (
daging dan ikan).
4.
Golongan sosial ekonomi yang rendah juga akan menyangkut keadaan
lingkungan dan kebiasaan hidup. (Efiaty & Nurbaiti, 2001 hal 146)
5.
Pemeriksaan Fisik

Aktivitas
Kelemahan atau keletihan. Perubahan pada pola istirahat; adanya faktor-faktor yang
mempengaruhi tidur seperti nyeri, ansietas.

Sirkulasi
Akibat metastase tumor terdapat palpitasi, nyeri dada, penurunan tekanan darah,
epistaksis/perdarahan hidung.

Integritas ego
Faktor stres, masalah tentang perubahan penampilan, menyangkal diagnosis,
perasaan tidak berdaya, kehilangan kontrol, depresi, menarik diri, marah.

Eliminasi
Perubahan pola defekasi konstipasi atau diare, perubahan eliminasi urin, perubahan
bising usus, distensi abdomen.

Makanan/cairan
Kebiasaan diit buruk ( rendah serat, aditif, bahanpengawet), anoreksia,
mual/muntah, mulut rasa kering, intoleransi makanan,perubahan berat badan,
kakeksia, perubahan kelembaban/turgor kulit.

Neurosensori
Sakit kepala, tinitus, tuli, diplopia, juling, eksoftalmus

Nyeri/kenyamanan
Rasa tidak nyaman di telinga sampai rasa nyeri telinga (otalgia), rasa kaku di daerah
leher karena fibrosis jaringan akibat penyinaran

Pernapasan
Merokok (tembakau, mariyuana, hidup dengan seseorang yang merokok),
pemajanan

Keamanan
Pemajanan pada kimia toksik, karsinogen, pemajanan matahari lama / berlebihan,
demam, ruam kulit.

Seksualitas
Masalah seksual misalnya dampak hubungan, perubahan pada tingkat kepuasan.

Interaksi sosial
Ketidakadekuatan/kelemahan sistem pendukung
(Doenges, 2000)

DIAGNOSA KEPERAWATAN DAN INTERVENSI


1. Nyeri berhubungan dengan kompresi/destruksi karingan saraf
Tujuan : rasa nyeri teratasi atau terkontrol
Kriteria hasil : mendemonstrasikan penggunaan ketrampilan relaksasi nyeri .
Intervensi :

Tentukan riwayat nyeri misalnya lokasi, frekuensi, durasi


Berikan tindakan kenyamanan dasar (reposisi, gosok punggung) dan
aktivitas hiburan.
Dorong penggunaan ketrampilan manajemen nyeri (teknik relaksasi,
visualisasi, bimbingan imajinasi) musik, sentuhan terapeutik.
Evaluasi penghilangan nyeri atau kontrol
Kolaborasi : berikan analgesik sesuai indikasi misalnya Morfin, metadon
atau campuran narkotik.

2. Gangguan sensori persepsi berubungan dengan gangguan status organ sekunder


metastase tumor
Tujuan : mampu beradaptasi terhadap perubahan sensori pesepsi
Kriteria hasil : mengenal gangguan dan berkompensasi terhadap perubahan
Intervensi :

Tentukan ketajaman penglihatan, apakah satu atau dua mata terlibat.


Orientasikan pasien terhadap lingkungan
Observasi tanda-tanda dan gejala disorientasi
Perhatikan tentang suram atau penglihatan kabur
Bicara dengan gerak mulut yang jelas
Bicara pada sisi telinga yang sehat

3. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan anoreksia, mual


muntah sekunder kemoterapi radiasi
Tujuan : kebutuhan nutrisi pasien terpenuhi.
Kriteria hasil :

Melaporkan penurunan mual dan insidens muntah

Mengkonsumsi makanan dan cairan yang adekuat

Menunjukkan turgor kulit normal dan membran mukosa yang lembab

Melaporkan tidak adanya penurunan berat badan tambahan


Intervensi :

Sesuaikan diet sebelum dan sesudah pemberian obat sesuai dengan


kesukaan dan toleransi pasien
Berikan dorongan higiene oral yang sering
Berikan antiemetik, sedatif dan kortikosteroid yang diresepkan
Pastikan hidrasi cairan yang adekuat sebelum, selama dan setelah
pemberian obat, kaji masukan dan haluaran.

Pantau masukan makanan tiap hari.


Ukur TB, BB dan ketebalan kulit trisep (pengukuran antropometri)
Dorong pasien untuk makan diet tinggi kalori, kaya nutrien dengan masukan
cairan adekuat.
Kontrol faktor lingkungan (bau dan panadangan yang tidak sedap dan
kebisingan)

4. Resiko infeksi berhubungan dengan ketidakadekuatan pertahanan sekunder


imunosupresi
Tujuan : tidak terjadi infeksi
Kriteria hasil :

Menunjukkan suhu normal dan tanda-tanda vital normal


Tidak menunjukkan tanda-tanda inflamasi : edema setempat, eritema, nyeri.
Menunjukkan bunyi nafas normal, melakukan nafas dalam untuk menegah
disfungsi dan infeksi respiratori
Intervensi :

Kaji pasienterhadap bukti adanya infeksi :


Periksa tanda vital, pantau jumlah SDP, tempat masuknya patogen, demam,
menggigil, perubahan respiratori atau status mental, frekuensi berkemih atau
rasa perih saat berkemih
Tingkatkan prosedur cuci tangan yang baik pada staf dan pengunjung,
batasi pengunjung yang mengalami infeksi.
Tekankan higiene personal
Pantau suhu
Kaji semua sistem (pernafasan, kulit, genitourinaria)

5. Resti kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan imunologi, efek


radiasi kemoterapi
Tujuan : integritas kulit tetap terjaga
Kriteria hasil :
Menunjukkan perubahan yang minimal pada kulit dan menghindari trauma pada
area kulit yang sakit
Intervensi :

Kaji kulit dengan sering terhadap efek samping kanker


Mandikan dengan menggunakan air hangat dan sabun ringan
Hindari menggosok atau menggaruk area
Anjurkan pasien untuk menghindari krim kulit apapun, bedak, salep apapun
kecuali diijinkan dokter.
Hindarkan pakaian yang ketat pada aea tersebut
Oleskan vitamin A dan D pada area tersebut
Tinjau ulang efek samping dermatologis yang dicurigai pada kemoterapi.

6. Resiko tinggi perubahan membran mukosa oral behubungan dengan efek


samping agen kemoterapi radiasi

Tujuan : tidak terjadi gangguan pada membran mukosa


Kriteria hasil :

Menunjukkan mukosa oral yang bersih dan utuh

Tidak menunjukkan adanya ulserasi atau infeksi pada rongga mulut

Melaporkan tidak adanya nyeri, kesulitan menelan dan dehidrasi


Intervensi :

Kaji kesehatangigi dan hihiene oral secara periodik


Kaji rongga mulut tiap hari, perhatikan perubahan pada integritas membran
mukosa oral
Instruksikan mengenai perubahahn diet misalnya hindari makanan panas
atau pedas, anjurkan penggunaan sedotan, mencerna makanan lembut atau
diblender.
Pantau dan jelaskan tanda-tanda tentang superinfeksi oral
Mulai program higiene oral : gunakan pencuci mulut dari salin hangat,
larutan pelarut dari hidrogen peroksida, sikat dengan sikat gigi/benang gigi,
pertahankan bibir lembab dengan pelumas bibir.

7. Gangguan harga diri berhubugan dengan efek samping radioterapi: kehilangan


rambut
Tujuan : gangguan harga diri teratasi
Kriteria hasil : Mengungkapkan perubahan gaya hidup tentang perasaan tidak
berdaya, putus asa
Intervensi :

Tinjau ulang efek samping yang diantisipasi berkenaan dengan pengobatan


tertentu
Dorong diskusi tentang/pecahkan masalah tentang efek kanker
Akui kesulitan yang mungkin di alami
Evaluasi struktur pendukung yang ada dan digunakan oleh pasien /orang
terdekat
Beri dukungan emosi untuk pasien/orang terdekat selama tes diagnostik dan
fase pengobatan
Gunakan sentuhan selama interaksi

8. Konstipasi/diare berhubungan dengan iritasi mukosa GI sekunder kemoterapi


Tujuan : gangguan defekasi tidak terjadi
Kriteria hasil : Mempertahankan konsistensi atau pola defekasi umum
Intervensi :

Kaji bising usus, gerakan usus termasuk frekuensi, konsistensi.


Pantau masukan dna haluaran serta berat badan
Dorong masukan cairan adekuat, peningkatan serat diet, latihan
Pastikan diet yang tepat; hindari makanan tinggi lemak, makanan serat
tinggi, kafein tinggi.
Periksa infeksi bila tidak defekasi selama 3 hari atau distensi abdomen.

Berikan cairan IV, agen antidiare, laksatif.

9. Resiko terhadap perdarahan berhubungan dengan gangguan sistem


hematopoetik
Tujuan : perdarahan dapat teratasi
Kriteria hasil :

Tanda dan gejala perdarahan teridentifikasi

Tidak menunjukkan adanya darah feses, urin atau emesis

Tidak menunjukkan perdarahan gusi


Intervensi :

Kaji terhadap potensial perdarahan : pantau jumlah trombosit


Kaji terhadap perdarahan : petekhie, penurunan Hb Ht, perdarahan dari
orifisium tubuh

Instruksikan cara-cara meminimalkan perdarahan : gunakan sikat gigi halus,


hindari cairan pembilas mulut komersial, hindari makanan yang sulit dikunyah

Lakukan tindakan meminimalkan perdarahan : hindari mengukur suhu rektal,


hindari suntikan IM, lembabkan bibir dengan petrolatum, mempertahankan
masukan cairan

Gunakan pelunak feses atau tingkatkan serat dalam diet.


(Doenges, 2000)