Anda di halaman 1dari 13

PERCOBAAN PENGUAT OPERASIONAL

(OP-AMP. 2)
OP-AMP SEBAGAI RANGKAIAN INTEGRATOR & DIFERENSIATOR
I. TUJUAN PERCOBAAN
Adapun tujuan dari pelaksanann percobaan ini adalah
1

Mengamati tegangan input dan output dari rangkaian integrator dan


defferensiator.

Mengamati, mengukur, dan menentukan hubungan antara tegangan input


dan output.

Berlatih

merancang

dan

memasang

rangkaian

integrator

dan

differensiator
II. LANDASAN TEORI
Penguat

operasional

(oprasional-amplifier)

yang

selanjutnya disingkat dengan OPAmp

merupakan

penguat

DC

berpenguatan sangat tinggi yang


menggunakan
balik

luar

rangkaian umpan
untuk

mengontol

responnya. Op-Amp bukan merupakan alat tunggal, tetapi terdiri dari beberapa
penguat yang dipasang berjajar (Sadia, 1992). Salah satu kegunaan Op-Amp yang
akan dibahas dalam laporan ini adalah Op-Amp sebagai rangkaian integrator dan
differensiator.
2.1 Op-Amp Sebagai Integrator
Rangkaian integrator adalah

suatu

rangkaian

yang

berfungsi

mengintegrasikan persamaan sinyal input dan mengeluarkannya sebagai output


dalam bentuk sinyal yang sudah terintegrasi. Rangkaian integrator dapat
digambarkan sebagai berikut

+Vcc

a
Input

+
-Vcc

Outp
ut

Gambar
2. Rangkaian
Berdasarkan gambar
diatas
persamaanIntegrator
yang berlaku adalah sebagai
berikut.

VS I R ... (1)
1
V0 Idt
..
C

(2)
Kita substitusikan persamaan (1) ke dalam persamaan (2) sehingga diperoleh
V0

1
V S dt
RC

(3)
Dalam hal ini tegangan isyarat input merupakan fungsi dari waktu (t) yakni: V S =
VS(t). jika tegangan input konstan, Vs = V, maka output Vo = -Vt/RC. Karena
tegangan input Vs merupakan fungsi waktu, maka output rangkaiannya adalah.
V0 VS dt ..
(4)
Persamaan (3) dan (4) telah memberikan gambaran bahwa kalau input Vs
diketahui maka output V0 dapat ditentukan dengan persamaan tersebut (sadia,
1992).
2.2

Op-Amp sebagai Rangkaian Defferensiator


Rangkaian diferensiator merupakan suatu rangkaian yang berfungsi

mendiferensialkan persamaan sinyal input dan mengeluarkannya dalam bentuk


sinyal output yang sudah terdiferensialkan. Rangkainnya dapat digambarkan
sebagai berikut.
.
+Vcc

a
Input

+
-Vcc

Outp
ut

Gambar 3. Rangkaian Differensiator

Rangkaian pada gambar 3 diatas memiliki rangkaian ekuivalen untuk


memudahkan memahami persamaan yang digunakan. Rangkaian ekuivalennya
seperti pada gambar 4 berikut.
i

R
+

Vs

V0
Gambar 4. Rangkaian Ekuivalen

Dari rangkaian ekuivalen seperti pada gambar 4 diatas, dapat diperoleh bahwa:
iC

dV
dt

... (5)

dengan tegangan outputnya adalah


V0 Ri

V0 RC

dV
.
dt

(6)
Rangkaian pada gambar 3 jika digunakan menimbulkan permasalahan berupa
reaktansi kapasitor berubah terbalik dengan frekuensi. Oleh karena tegangan
output defferensiator bertambah besar sebanding dengan frekuensinya, maka
rangkaian tersebut menjadi rawan terhadap berisik (noise) frekuensi tinggi (Sadia,
1992).

III.ALAT DAN BAHAN


Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah
sebagai berikut
Tabel 1. Alat dan bahan praktikum
No.
1
2
3
4
5
6

NAMA
Op-Amp [IC(ua 741)]
Hambatan geser
Hambatan: 200 , 210
Kapasitor nonpolar (0,1 F)
Adaptor
Audio Frequency Generator

JUMLAH
1 buah
1 buah
Masing-masing 1
buah
1 buah
1 buah
1 buah

(AFG)
7

Cathode Ray Oscilloscope

1 buah

(CRO)
8
9
10

Gunting
Multimeter
Papan percobaan

11

board)
Kabel

(bread

1 buah
1 buah
1 buah
Secukupnya

IV. LANGKAH-LANGKAH PERCOBAAN


Percobaan ini dibedakan menjadi dua bagian dan setiap bagian memiliki
langkah-langkah tersendiri.
4.1 Percobaan I (Integrator)
1. Mempersipakan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Mengecek kondisi alat dan bahan yang digunakan dengan multimeter.
3. Menyusun rangkaian integrator seperti gambar berikut ini.

Gambar 5. Rangkaian Integrator


4. Menggunakan harga R = 100 dan C = 10 F.
5. Memasukkan tegangan kotak pada input Vs, dengan frekuensi sebesar 50
Hz. Mencatat besarnya tegangan input Vs dan tegangan output V 0 dan
memperhatikan bentuk gelombang outputnya
6. Mengulangi langkah 5 dengan frekuensi gelombang kotak yang berbeda
sebanyak 3 kali.
7. Mengulangi langkah 5 dan 6 , tetapi dengan menggunakan gelombang
segitiga.

8. Mengulangi langkah 5 dan 6 , tetapi dengan menggunakan gelombang


sinus pada inputnya.
9. Mengulangi percobaan ini dengan berbagai harga R dan C.
10. Mencatat data yang diperoleh pada jurnal yang telah disiapkan.
4.2
Percobaan II (Differensiator)
1. Mempersipakan alat dan bahan yang diperlukan.
2. Mengecek kondisi alat dan bahan yang digunakan dengan menggunakan
multimeter.
3. Menyusun rangkaian differensiator seperti gambar berikut ini

Gambar 6. Rangkaian Diferensiator


4. Menggunakan harga R = 210 dan C = 1000 F.
5. Memasukkan tegangan sinus pada input Vs sebesar 2 volt, dengan
frekuensi sebesar 1 KHz. Mencatat besarnya

output V0 dan

memperhatikan bentuk gelombang outputnya


6. Mengulangi langkah 5 dengan frekuensi gelombang sinus yang berbeda
sebanyak 2 kali
7. Mengulangi langkah 5 dan 6 , tetapi dengan menggunakan gelombang
segitiga.

8. Mengulangi langkah 5 dan 6 , tetapi dengan menggunakan gelombang


kotak pada inputnya.
9. Mengulangi percobaan ini dengan berbagai harga R dan C.
10. Mencatat data yang diperoleh pada jurnal yang telah disiapkan

V. TABEL HASIL PENGAMATAN


Adapun data yang diperoleh dari praktikum yang dilakukan adalah
sebagai berikut.
5.1 Percobaan I
Tabel 2. Data Percobaan I
Gelombang

Gelombang

Input

Output

C
(F)

R
()

Sinus

Sinus

10

200

Kotak

Segitiga

10

200

Segitiga

Sinus

10

200

Fs
(Hz)
50
70
90
110
130
50
70
90
110
130
50
70
90
110
130

F0
(Hz)
50
67
77
100
111
40
50
67
109
111
50
67
90
100
142

Vs
(volt)
3.80
4.90
5.96
6.51
6.89
5.12
6.85
7.79
8.37
8.58
3.14
1.50
0.48
0.17
0.10

Vo
(volt)
14.0
12.0
9.0
8.0
6.0
16.2
14.0
12.0
10.0
9.0
14.0
10.0
8.0
6.0
6.0

Vs
(volt)
6.63

Vo
(volt)
12

5.2 Percobaan II
Tabel 3. Data hasil percobaan II
Gelombang

Gelombang

Input
Sinus

Output
Kotak

C
(F)
1000

R
()
210

Fs
(Hz)
350

F0
(KHz)
1/2.8

Kotak

Kotak

1000

210

Segitiga

Kotak

1000

210

370
390
410
430
350
370
390
410
430
350
370
390
410
430

1/2.6
1/2.4
1/2.3
1/2.2
1/2.8
1/2.6
1/2.6
1/2.4
1/2.4
1/2.8
1/2.6
1/2.5
1/2.4
1/2.3

6.63
6.64
6.64
6.64
9.47
9.47
9.48
9.48
9.48
5.44
5.44
5.45
5.45
5.45

12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12
12

VI. TEKNIK ANALISIS DATA


Teknik analisa data yang digunakan pada praktikum ini adalah dengan
menggunakan analisis secara kualitatif. Analisa yang dilakukan hanya
membandingkan bentuk gelombang input dan output.
VII. ANALISIS DATA
6.1 Percobaan I (Rangkaian Integrator)
Dari data pada tabel 2 diatas dapat diketahui bahwa nilai V 0 berbanding
terbalik dengan frekuensi. Semakin besar frekuensi maka tegangan outputnya
semakin kecil. Sehingga dapat diketahui bahwa percobaan ini sesuai dengan teori
dimana hubungan antara tegangan input dan output adalah sebagai berikut
V0

1
V S dt
RC

Tabel 4. Perbandingan Bentuk Gelombang Rangkaian Integrator


Gelombang Input
Kotak
Segitiga
Sinus

Gelombang Output
Segitiga
Sinus
Sinus

Validitas
Sesuai
Sesuai
Sesuai

Untuk lebih memperjelas data diatas penulis sajikan beberapa gambar


bentuk gelombang input dan output.
Input Kotak dan Output Segitiga

input

Output
Gambar 7
Input Segitiga dan Output Sinus

input

Output
Gambar 8
Input Sinus dan Output Cosinus

input

Output
6.2 Percobaan II (Rangkaian Differensiator)
Dari data pada tabel 2Gambar
diatas 9dapat diketahui bahwa nilai V 0 rangkaian
differensial berbanding lurus dengan hambatan. Semakin besar hambatan
rangkaian yang dipasang maka tegangan outputnya semakin besar. Sehingga
dapat diketahui bahwa percobaan ini sesuai dengan teori dimana hubungan antara
tegangan input dan output adalah sebagai berikut

V0 RC

dV
dt

Tabel 5. Perbandingan Bentuk Gelombang Rangkaian Differensiator


Gelombang Input
Sinus
Segitiga
Kotak

Gelombang Output
Kotak
Kotak
Kotak

Validitas
Tidak Sesuai
Sesuai
Tidak Sesuai

VIII. PEMBAHASAN
Berdasarkan analisis data yang dilakukan dapat diketahui bahwa
percobaan yang dilakukan sudah mendekati namun masih ada sedikit kekeliruan
baik pada percobaan I maupun II. Pada langkah percobaan direncanakan untuk
mempariasikan nilai kapasitor (C), hambatan (R), dan frekuensi (f) namun karena
keterbatasan pada praktikan dan alat yang tersedia variasi tersebut tidak semuanya
dapat dilakukan. Sehingga hanya diperoleh data seperti yang disajikan pada tabel
2 dan 3.
Percobaan I (integrator) sudah baik, dimana gelombang input dan
gelombang output yang dihasilkan sudah sesuai dengan teori namun pada
percobaan ini belum dapat dianalisis pengaruh R dan C pada tegangan output
Percobaan II (differensiator) sudah baik, namun pada data yang pertama
dan ketiga tidak sesuai. Pada data yang pertama dimana input yang berbentuk
gelombang sinus menghasilkan ouput yang berbentuk gelombang kotak,
seharusnya gelombang output yang dihasilkan adalah gelombang sinus. Pada data
ketiga dimana input yang berbentuk kotak menghasilkan output gelombang
berbentuk kotak, seharusnya gelombang yang dihasilkan berbentuk garis lurus.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa rangkaian differensiator pada input gelombang
sinus dan kotak sudah tidak berfungsi.
Penyimpanganpenyimpangan yang diperoleh pada percobaan disebabkan
karena adanya kesalahan-kesalahan yang dilakukan dalam melakukan percobaan
yaitu:
1. Kesalahan umum yaitu kesalahan yang terjadi karena kekeliruan manusia,
misalnya kesalahan dalam pembacaan dan pemakaian instrumen.
Kesalahan ini terjadi pada saat merangkai rangkaian, di mana karena
kekurang terampilan praktikan dalam merangkai mengakibatkan efisiensi

waktu praktikum kurang terjaga, serta kekurang akuratan peneliti


membaca skala pada multimeter juga dapat mempengaruhi hasil
praktikum..
2. Kesalahan sistematis yaitu kesalahan yang disebabkan oleh alat ukur atau
instrumen dan disebabkan oleh pengaruh lingkungan pada saat melakukan
percobaan. Adapaun beberapa kesalahan tersebut antara lain: osiloscop
yang digunakan rusak sehingga praktikan harus menggati osiloskop
sampai dua kali
3. Kesalahan-kesalahan acak yaitu kesalahan yang disebabkan oleh hal-hal
lain yang tidak diketahui oleh praktikan namun berpengaruh terhadap hasil
praktikum.
Adapun kendala-kendala yang praktikan alami dalam melakukan
percobaan diantaranya:
1. Kekurangnnya pengetahuan praktikan dalam melakukan percobaan yang
juga menyebabkan lamanya percobaan yang dilakukan.
2. Sulitnya mengatur osiloskup supaya mau menunjukkan nilai yang pas
karena gelombang yang terbentuk hanya mau berhenti pada time/div
tertentu saja.
3. Sulitnya diperoleh tegangan offset sehingga untuk percobaan ini, praktikan
tidak menentukan offset terlebih dahulu.
4. Tidak semua kelompok mendapat osiloscop yang bagus sehingga
kelompok harus digabung yang menyebabkan tidak semua anggota dapat
mencoba melakukan pengambilan data.
IX. SIMPULAN
9.1 Tegangan input dan output dari rangkaian integrator dan differensiator
adalah sebagai berikut
Integrator
Gelombang Input
Kotak
Segitiga
Sinus

Gelombang Output
Segitiga
Sinus
Sinus

Differensiator
Gelombang Input
Sinus
Segitiga

Gelombang Output
Kotak
Kotak

Kotak

Kotak

9.2 Hubungan antara tegangan input dan output adalah


Integrator
V0

1
V S dt
RC

Differensiator
V0 RC

dV
dt

9.3 Rangkaian integrator dan differensiator yang dicoba adalah


Integrator

+Vcc

a
Input

+
-Vcc 12
Gambar

Differensiator

Outp
ut

+Vcc

a
Input

+
-Vcc

Outp
ut

X. JAWABAN PERTANYAAN Gambar 13


1. Kesimpulan yang dapat ditarik dari kedua percobaan diatas adalah rangkaian
yang dirancang dapat digunakan sebagai integrator dan differensiator
2. Bentuk Gelombang Input dan Output percobaan dapat dibandingkan seperti
tabel berikut:
Integrator
Gelombang Input
Kotak
Segitiga
Sinus
Differensiator

Gelombang Output
Segitiga
Parabola
Cosinus

Gelombang Input
Sinus

Gelombang Output
Cosinus

Segitiga
Kotak

Kotak
Kotak

3. Kelemahan dari rangkaian rangkaian integrator pada gambar (2) dan


rangkaian differensiator pada gambar (3) diatas dan cara mengatasinya adalah
sebagai berikut:
Kelemahan
a Gambar Rangkaian Integrator

+Vcc

a
b

Input
Rangkaian
integrator yang ditunjukkan
seperti gambar diatas
Outp
-Vcc

ut

memiliki suatu kelemahan yakni tidak adanya pembatasan terhadap


penguatan

frekuensi

rendah.

Hal

ini

akanmengakibatkan

ikut

terintegrasinya offset DC selama periode pengintegrasian


b

Gambar Rangkaian Differensiator

+Vcc

+
Rangkaian pada b gambar
3 jika digunakan menimbulkan
Input

Outp
permasalahan berupa reaktansi -Vcc
kapasitor
berubah terbalik dengan
ut

frekuensi. Oleh karena tegangan output defferensiator bertambah besar


sebanding dengan frekuensinya, maka rangkaian tersebut menjadi
rawan terhadap berisik (noise) frekuensi tinggi
Cara Mengatasi Kelemahan Diatas
a Rangkaian Integrator
S
Untuk mengatasi kendala diatas Rmaka
rangkaian tersebut perlu
A

ditambahkan tahanan shunt, rangkainnya


dapat dilihatkan seperti
C
gambar dibawah ini,
R1

VS

V0

Rangkaian Differensiator
Untuk mengurangi penguatan pada frekuensi tinggi maka

dirancang penguatan yang lebih praktis seperti gambar dibawah ini


R

Rs
VS

C
V0