Anda di halaman 1dari 26

BAB I

PENDAHULUAN
Sindrom nefrotik merupakan salah satu penyakit ginjal yang sering dijumpai
pada anak, merupakan suatu kumpulan gejala-gejala klinis yang terdiri dari
proteinuria masif, hipoalbuminemia, hiperkholesterolemia dan sembab. 1
Sindroma nefrotik dibagi menjadi sindroma nefrotik primer dan sekunder.
Sindroma nefrotik primer terjadi akibat kelainan pada glomerulus itu sendiri tanpa
ada penyebab lain, termasuk didalamnya sindroma nefrotik idiopatik, sedangkan
sindroma nefrotik sekunder terjadi akibat suatu penyakit sistemik atau efek
samping obat. 1,2
Kebanyakan anak dengan sindrom nefrotik, 90% merupakan sindrom
nefrotik idiopatik. Penyebabnya meliputi minimal change disease (85%),
mesangial proliferation (5%), and fokal segmental glomerulosclerosis (10%).
Berbagai subkategori sindroma nefrotik primer didasarkan pada deskripsi
histopatologik. Sekitar 10% anak merupakan sindroma nefrotik sekunder yang
berhubungan dengan penyakit sistemik. 1,2
Sindroma nefrotik pada anak terjadi pada usia prasekolah dengan insiden
puncak antara 2 3 tahun, tetapi dapat pula muncul pada usia berapapun. Insiden
lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 2:1. Sekitar
85% diantaranya menderita sindroma nefrotik kelainan minimal (SNKM).
Sedangkan pada orang dewasa paling banyak menderita tipe nefropati
membranosa (30-50%), dengan usia rata-rata 30-50 tahun dan perbandingan lakilaki dan perempuan 2:1. Kejadian SN idiopatik 2-3 kasus dalam 100.000 anak per
tahun sedangkan pada dewasa 3 dalam 1000.000 per tahun. Di Indonesia
dilaporkan kejadian sindroma nefrotik 6 per 100.000 per tahun, dengan
perbandingan anak laki-laki dan perempuan 2:1. 1,3
Pasien dengan minimal change disease kebanyakan menunjukan respon
pada

pengobatan

kortikosteroid.

Disamping

untuk

menginduksi

remisi,

kortikosteroid juga bermaanfaat untuk mempertahankan remisi. 1


BAB II
LAPORAN KASUS

1. Identitas Pasien
Nama
No. RM
Tanggal lahir/Umur
Jenis kelamin
Agama
Alamat
Bangsa/suku
BB/TB
Tanggal MRS
Tanggal KRS
Ruang Perawatan
Orang Tua

: An. SI
: 058155
: 9 Oktober 2009 / 4,8 tahun
: Laki-laki
: Islam
: Kebun cengkeh/SBT
: Indonesia
: 14 kg/93 cm
: 5 Juni 2014
: 15 Juni 2014
: Bangsal Anak Nusaina, Ruang B
: (Ayah: Tn. I dan Ibu: Ny. W)

2. Status Umum
Anamnesis dilakukan secara alloanamnesis terhadap ibu dan ayah pasien
pada tanggal 7 Juni 2014 saat pasien dirawat di Ruang Kanak-Kanak
(RKK).
a. Keluhan Utama :
Panas
b. Keluhan Tambahan :
Batuk pilek, sakit kepala dan belum BAB sejak 4 hari sebelum masuk
RS.
c. Riwayat Penyakit Sekarang
:
Pasien masuk RS dengan keluhan panas tinggi yang dialami 1 minggu
sebelum masuk RS. Panas yang dialami naik turun, panas naik terutama
pada sore dan malam hari. 10 hari sebelum masuk RS pasien mengalami
batuk dan pilek, batuk yang dialami tanpa lendir. 8 hari sebelum masuk
RS panas timbul dan naik pada sore dan malam hari. Kemudian pasien
dibawa ke puskesmas dan diberi pengobatan tetapi keluhan batuk pilek
2

dan panasnya tidak berkurang. 4 hari sebelum masuk RS pasien juga


sempat dibawa ke tempat praktek dr. spesialis anak dan diberi
pengobatan, kemudian keluhan batuk pasien berkurang tetapi panasnya
masih menetap. 2 hari sebelum masuk RS panas tinggi dari pagi hingga
malam dan pasien terlihat pucat sehingga pasien dibawa ke RS. Keluhan
juga disertai sakit kepala dan belum BAB sejak 4 hari sebelum masuk
RS. Kejang (-), Penurunan kesadaran (-), Sesak Napas (-), makan/minum
baik, BAK normal.
d. Riwayat Penyakit Sebelumnya :
Pasien belum pernah mengalami gejala yang sama sebelumnya.
e. Riwayat Penyakit Keluarga
:
Ayah pasien mempunyai riwayat batuk berlendir sejak 2 bulan terakhir
tetapi tidak pernah berobat ke dokter.
f. Riwayat dan Respon Pengobatan :
Pasien pernah melakukan pengobatan di Puskesmas, namun keluhan
batuk pilek dan panas pasien tidak berkurang. Pasien juga pernah dibawa
ke tempat praktek dokter spesialis anak 4 hari sebelum masuk RS dan
diberi obat kemudian keluhan batuk pasien berkurang tetapi panasnya
masih menetap.
g. Riwayat Penyakit Lain
Cacar
:Polio
:Lain-lain : -

Difteri : Pertusis : Tetanus : -

Thypoid : Difteri : -

TBC
:Hepatitis : -

3. Status Neonatal dan Tumbuh Kembang


Tempat lahir : RS/RB/Rumah
Lahir : Spontan/SC/Vacum
BCB/BKB/BLB (tidak diketahui)
BBL
: tidak diketahui
Riwayat IMD : Anak (Ke 5 dari 5 anak)
Berbalik : 6 bulan
Berdiri : 1 tahun

Ditolong oleh : dr/bidan/dukun


A/S : Ketuban : Jernih/keruh/tidak ada
SMK/KMK (tidak diketahui)
PBL : tidak diketahui
Vit K : Ibu Riwayat Keguguran : -

Duduk
: 9 bulan
Jalan sendiri : 1,2 tahun

Gigi pertama : 8 bulan


Bicara : 1 tahun

BB
PB

: 14 kg
: 93 cm

L. Kepala
: 51 cm
L. Lengan Atas : 13 cm

L. Dada
L. Perut

: 56 cm
: 55 cm

Status Gizi : Gizi Baik (berdasarkan Z-Score pasien tergolong dalam 2


SD sampai + 2 SD).
Makanan : Nasi, sayur, ikan
ASI
: Umur 3 hari
Sampai Umur : 1,2 tahun
4. Status Imunisasi
Vaksin
BCG
Hep B
Polio
DPT
Campak

Jumlah
1x
3x
4x
3x
1x

Belum Pernah

Hib
PVC
Influenza
MMR
Tifoid

Hep. A
Varisela
HPV
Lain-lain
Lengkap

5. Pemeriksaan Fisik
a. Keadaan Umum

Tidak Tahu

: Tampak sakit sedang

Gizi

: Gizi Baik

Kesadaran
: Compos Mentis
GCS : E4M6V5
Tekanan Darah
: 100/80 mmHg
Nadi : 130 x/menit
Pernapasan
: 36 x/menit
Suhu : 38,20C
Kepala
: Normocephal
Rambut
: Hitam, terdistribusi normal, tidak mudah tercabut.
Ubun-ubun besar
: Tertutup
L. Kepala
: 51 cm
Wajah
: Pucat (+) Ikterus : (-) Edema : (+) periorbital, sembab
Mata
: Ca +/+, Si +/+
Tenggorokan : Hiperemis (-)
Hidung
: Rhinorea -/Leher : Pembesaran KGB (-)
Bibir
: Sianosis (-)
Telinga
: Othorea (-)
Gigi
: Intak
Tonsil
: T1/T1
Caries
: (-)
Kel. Limfe : Pembesaran (-)
4

b. Neurologi
Refleks pupil : +/+
N. Kranialis : Dalam batas normal

Refleks cahaya : RCL+/+ , RCTL+/+

c. Kardiovaskular
Bentuk dada : Normochest
Lingkar dada : 56 cm
Batas kiri
: Linea midclavicularis kiri
Irama : BJ I/II reguler
Batas kanan : Linea parasternalis kanan Ictus cordis : Tidak terlihat
Batas atas
: ICS III sinistra
Thrill : (-) Shouffle
: (-)
d. Respirologi
Inspeksi
: Pergerakan napas simetris kiri dan kanan
Palpasi
: VF +/+, Nyeri tekan (-)
Perkusi
: Sonor
Auskultasi
: Buyi pernapasan dasar Vesikuler +/+
Bunyi tambahan Rh +/+ Wh -/e. Gastrointestinal
Inspeksi
: Cembung, Distensi, Asites
Auskultasi
: Peristaltik (+) normal
Palpasi
: Nyeri Tekan (-)
Lien
: Tidak teraba
Konsistensi : (-)
Hepar : Teraba 2 jari dibawah arcus costa
Konsistensi : Padat
Permukaan: Rata
Perkusi
: Timpani

Permukaan: (-)
Tepi

: Rata

f. Genitalia dan Pubertas


Tidak ditemukan kelainan
g. Ekstremitas
Kol. Vertebralis
KPR
APR
L. Lengan Atas
Edema

: Skoliosis (-), Gibus (-)


: +/+
Refleks Patologis : (-)
Kekuatan : 5
+
: /+
Refleks Fisiologis : (+)
5
: 13 cm Tonus
: Eutoni
: (+), pada kedua kaki

h. Tanda Rangsang Meningeal


Kaku kuduk
: (-)
Kernig Sign
: (-)

Brudsinki I : (-) II : (-) III : (-) IV : (-)

6. Pemeriksaan Penunjang
a. Pemeriksaan Laboratorium
1) Pemeriksaan Darah Rutin (4 Juni 2014) di Prodia
HEMATOLOGI

HASIL

NILAI RUJUKAN

UNIT

WBC
9.56
5.5 15.5
[103/mm3]
PRC
3.96
3.7 5.7
[106/mm3]
HGB
10.1
10.7 14.7
[g/dL]
HCT
27.1
31.0 - 43.0
[%]
PLT
12*
217 497
[103/mm3]
LED
13
0 15
[mm/jam]
MCV
68.4
72 88
[fL]
MCH
25.5
23 31
[pg]
MCHC
37.3
32 36
[pg]
Neutrofl
37.6*
50 70
[%]
Limfosit
22.2*
25 40
[%]
Monosit
40.3
28
[%]
Eosinofil
0.4
24
[%]
Basofil
0.5
01
[%]
GOLDA
O
Kesan : neutropenia, monositosis, dan trombositopenia.
2) Pemeriksaan Imuno Serologi Widal di Prodia (4 Juni 2014)
Nama pemeriksaan
Widal S. typhi O
Widal S. par. A-O
Widal S. par. B-O
Widal S. par. C-O
Widal S. typhi H
Widal S. par. A-H
Widal S. par. B-H
Widal S. par. C-H
Kesan : ditemukan

Hasil
Nilai rujukan
1/40
Titer < 1/160 atau kenaikan titer <4x
1/40
Titer < 1/160 atau kenaikan titer <4x
1/40
Titer < 1/160 atau kenaikan titer <4x
1/40
Titer < 1/160 atau kenaikan titer <4x
1/40
Titer < 1/160 atau kenaikan titer <4x
Negatif
Titer < 1/160 atau kenaikan titer <4x
Negatif
Titer < 1/160 atau kenaikan titer <4x
1/40
Titer < 1/160 atau kenaikan titer <4x
Plasmodium flacifarum dan Plasmodium vivax

stadium tropozoit. Hasil pemeriksaan trombosit secara manual = 8000/uL.

b. Uji Torniquet atau Pemeriksaan rumple leed


Saat dilakukan pemeriksaan rumple leed pada pasien, pemeriksaan
dilakukan selama 5 - 10 menit yaitu dengan mempertahankan tekanan
darah setelah mengukur tekanan darah pasien (tekanan darah sistol
ditambah diastol dibagi dengan 2), didapatkan hasil 90 mmHg. Setelah
dilakukan uji bendung tampak pada pasien timbul bintik-bintik kemerahan
di daerah lipatan lengan kiri sebanyak 5 bintik kemerahan diluar lingkaran
yang dibuat dengan diameter 5 cm tersebut.

7. Resume Pasien
Pasien anak (laki-laki, usia 4,7 tahun, BB 14 Kg) masuk RS dengan keluhan
panas tinggi yang dialami 1 minggu sebelum masuk RS. Panas yang
dialami naik turun, panas naik terutama pada sore dan malam hari. 10 hari
sebelum masuk RS pasien mengalami batuk dan pilek, batuk yang dialami
tanpa lendir. 8 hari sebelum masuk RS panas timbul dan naik pada sore dan
malam hari. Kemudian pasien dibawa ke puskesmas dan diberi pengobatan
tetapi keluhan batuk pilek dan panasnya tidak berkurang. 4 hari sebelum
masuk RS pasien juga sempat dibawa ke tempat praktek dr. spesialis anak
dan diberi pengobatan, kemudian keluhan batuk pasien berkurang tetapi
panasnya masih menetap. 2 hari sebelum masuk RS panas tinggi dari pagi
hingga malam dan pasien terlihat pucat sehingga pasien dibawa ke RS.
Keluhan juga disertai sakit kepala dan belum BAB sejak 4 hari sebelum
masuk RS. Pada pemeriksaan laboratorium pada tanggal 4 juni 2014 di
Prodia ditemukan neutropenia, monositosis, trombositopenia, ditemukan
plasmodium flacifarum dan plasmodium vivax stadium tropozoit dan hasil
pemeriksaan trombosit secara manual = 8000/uL. Serta dilakukan
pemeriksaan rumple leed hasilnya negatif.
Tekanan Darah : 100/80 mmHg
Nadi : 130 x/menit
Pernapasan
: 36 x/menit
Suhu : 38,20C
Wajah
: Pucat (+)
Edema : (+) periorbital, sembab
+
+
Mata
: Ca /+, Si /+
Paru: Rh +/+
Abdomen
: Cembung, Distensi, asites
Hepar : Teraba 2 jari dibawah arcus costa
8. Diagnosis Kerja
Mix Malaria (Malaria Biliosa) + Bronkopneumoni Ringan
9. Diagnosis Banding
Bronkitis akut
TB Paru
Suspek Demam Dengue
GNA
10. Anjuran pemeriksaan
Pemeriksaan faal hari (bilirubin total dan direk, SGOT/SGPT)
Pemeriksaan darah rutin serial tiap 6 8 jam

Uji tuberculin
Pemeriksaan urin rutin
11. Terapi
Pasien diberikan terapi sebagai berikut :
- IVFD Ringer Asering 16 tpm
- Drip kina 140 mg dalam 100cc D5% tiap 8 jam
- Ibuprofen syrup 3 x 1 cth
- Psidii syrup 1 x 1 cth
- Domperidon syrup 3 x 1 cth (kalau perlu)
- Ranitidin 2 x ampul
- Primakuin hari 1 : 1 x 10,5 mg, hari 2-14 : 1 x 3,5 g

12. Follow-Up
Tanggal/
Jam

HASIL PEMERIKSAAN, ANALISA DAN TINDAK LANJUT


CATATAN PERKEMBANGAN
S
(subjective)
O
(objective) A P (planning)
(Assesment)

6/6/2014

S: demam (+), batuk (+) berkurang, pilek


(+) berkurang, sesak (-), wajah sembab
(+), edema kelopak mata (+), edema
tungkai (+), makan dan minum baik, BAK
normal, sudah BAB sedikit
O: N : 120 x/m
P : 40 x/menit
S : 38,00C
TD : 90/60 mmHg
BB : 14 kg
Mata : anemis +/+, Ikterus +/+
Paru : BND Ves +/+ Rh +/+, Wh -/Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen : peristaltik (+), Cembung,
distensi, asites, hepar teraba 2 jari
dibawah arcus costa
Ekstremitas : edema (+) kedua tungkai
Skoring TB :
- Kontak
:1
- Uji tuberculin
:0
- Batuk
:0

R/
- IVFD RL 16 tpm
- Drip kina 140 mg
dalam 100 cc D5%
/8 jam
- Ibuprofen syrup
3x1 cth
- Psidii syrup 1x1
cth
- Domperidone
syrup 3x1 cth
(kalau perlu)
- Primakuin hari 1 :
1 x 10,5 mg, hari
2-15 : 1 x 3,5 g
- Darah rutin ulang
- Urin rutin

- Demam
:0
- Gizi
:0
- Pembesaran KGB
:0
- Pembengkakan sendi : 0
- Foto thorax
: 0, total 1
A: Mix Malaria (Malaria Biliosa) +
Bronkopneumoni Ringan
DD: Bronkitis akut, DBD, GNA

Pemeriksaan Darah Rutin di Apotik Mulia (6 Juni 2014)


JENIS
HGB
PLT
WBC
Malaria (DDR)

NILAI
10.2
163
11.6
Negatif

SATUAN
g/dL
103/l
[103/mm3]

KISARAN NORMAL
11,5-17,0
150-500
4-11

Pemeriksaan Urin di Apotik Mulia (6 Juni 2014)


Parameter
Warna
Berat jenis
pH
Protein
Bilirubin
Blood
Urobilinogen
Keton
Glukosa
Eritrosit
Leukosit
Eosinofil
Basofil

Hasil
Kuning muda
1,005
4,6
(+)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
5-6
11-14
(+)
(+)

Kisaran normal
1,003
7,0
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
(-)
0-2/LPB
0-5/LPB
(-)
(-)

7/6/2014

8/6/2014

S: demam (-), batuk (+) berkurang,


pilek (-), sesak (-), muntah (+), wajah
sembab (+), edema kelopak mata (+),
edema tungkai (+), makan dan minum
baik, BAK sedikit-sedikit, sudah BAB
O: N : 120 x/m
P : 30 x/menit
S : 37,20C
TD : 90/60 mmHg
BB : 14 kg
Mata : anemis +/+, Ikterus +/+,
Paru : BND Ves +/+ Rh -/-, Wh -/Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen : peristaltik (+), Cembung,
distensi, asites, hepar teraba 2 jari
dibawah arcus costa
Ekstremitas : edema (+) kedua tungkai
A: Bronkopneumoni Ringan, suspek
ISK
DD: Bronkitis akut, GNA, Sindorma
Nefrotik
S: demam (-), batuk (+) berkurang,
pilek (-), sesak (-), muntah (-) ,wajah
sembab (+), edema kelopak mata (+),
edema tungkai (+), makan dan minum
baik, BAK sedikit-sedikit, sudah BAB
O: N : 110 x/m
P : 34 x/menit
S : 37,30C
TD : 90/60 mmHg
BB : 14 kg
Mata : anemis +/+, Ikterus +/+,
Paru : BND Ves +/+ Rh -/-, Wh -/Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen : peristaltik (+),Cembung,
distensi, asites, hepar teraba 2 jari
dibawah arcus costa
Ekstremitas : edema (+) kedua tungkai
A: Bronkopneumoni Ringan, suspek
ISK

R/
- IVFD RL 16 tpm
- Ibuprofen syrup 3x1 cth
(kalo perlu)
- Psidii syrup 1x1 cth
stop
- Domperidone syrup 3x1
cth (kalau perlu)
- Cefixim 2x75 mg oral
- Urin tampung 24 jam
- Kultur urin
- Periksa ureum,
kreatinin, protein
albumin, globulin dan
kolestrol

R/
- IVFD RL 16 tpm
- Ibuprofen syrup 3x1 cth
(kalo perlu)
- Domperidone syrup 3x1
cth (kalau perlu)
- Cefixim 2x75 mg
- Urin tamping
- Kultur urin
- Periksa ureum,
kreatinin, protein
albumin, globulin dan
kolestrol

10

9/6/2014

10/6/2014

DD: Bronkitis akut, GNA, Sindroma


nefrotik
S: demam (+), batuk (-), pilek (-),
sesak (-), muntah (-), wajah sembab
(+) edema kelopak mata (+), edema
tungkai (+), makan dan minum baik,
BAK tidak nyeri tapi warna merah teh,
BAB sedikit-sedikit.
O: N : 130 x/m
P : 38 x/menit
S : 38,30C
TD : 100/60 mmHg
BB : 14 kg
Mata : anemis +/+, Ikterus +/+,
Paru : BND Ves +/+ Rh -/-, Wh -/Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen : peristaltik (+), distensi,
asites, hepar teraba 2 jari dibawah
arcus costa
Ekstremitas : edema (+) kedua tungkai
Urin tampung : gross hematuria, total
per 24 jam : 0,8 ml
A: Suspek GNA
DD: Sindroma nefrotik, black water
fever, Mix Malaria
S: demam (-), batuk (-), pilek (-), sesak
(-), muntah (-), wajah sembab
berkurang, edema kelopak mata (+)
berkurang, edema tungkai (+), makan
dan minum baik, BAK tidak nyeri tapi
merah, BAB sedikit-sedikit.
O: N : 128 x/m
P : 34 x/menit
S : 37,00C
TD : 100/60 mmHg
BB : 14 kg
Mata : anemis +/+, Ikterus +/+,
Paru : BND Ves +/+ Rh -/-, Wh -/Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen : peristaltik (+), distensi,
asites, hepar teraba 2 jari dibawah
arcus costa
Ekstremitas : edema (+) kedua tungkai

R/
-

R/
-

IVFD RL 8 tpm
Restriksi cairan
Inj cefotaxim 3x250 mg
Inj furosemide 2x15 mg
Kultur urin
Periksa ureum,
kreatinin, protein
albumin, globulin dan
kolestrol
Ukur TD tiap 4 jam
Tampung urin tiap
BAK/24 jam
Ukur lingkar perut tiap
pagi sebelum makan
Diet rendah garam dan
tinggi protein (lapor
petugas gizi)

IVFD RL 8 tpm
Restriksi cairan
Microlax sup
Inj cefotaxim 3x250 mg
Inj furosemide 2x15 mg
Diet rendah garam,
tinggi protein 1-2
mg/kgBB

11

11/6/2014

Urin tampung : gross hematuria, total


per 24 jam : 0,93 ml/jam
TD 18.00 = 90/60
22.00 = 90/60
02.00 = 100/60
06.00 = 90/70
LP : 47 cm
A: Suspek GNA
DD: Sindroma nefrotik, black water
fever, Mix Malaria
Lab 10/6/2014
DDR : vivax stadium tropozoid
Ureum/kreatinin : 13/0,5
Bilirubin total : 2,3
SGOT/SGPT : 144/113
Protein : 6,0
Albumin : 2,3
S: demam (+), batuk (-), pilek (-),
sesak (-), muntah (-), wajah sembab
berkurang, edema kelopak mata (+)
berkurang,
edema
tungkai
(+)
berkurang, makan dan minum baik,
BAK kuning tua, BAB baik.
O: N : 120 x/m
P : 40 x/menit
S : 37,90C
TD : 100/60 mmHg
BB : 130 kg
LP : 46 cm
Mata : anemis +/+, Ikterus +/+,
Paru : BND Ves +/+ Rh -/-, Wh -/Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen : peristaltik (+), distensi,
asites, hepar teraba 2 jari dibawah
arcus costa
Ekstremitas : edema (+) kedua tungkai
berkurang
Urin tampung : gross hematuria, total
per 24 jam : 1800 ml = 5,3 ml/jam
A: Suspek GNA + Malaria Tertiana
DD: Sindroma nefrotik
Lab 11/6/2014
Hb : 5,7
WBC : 15.600

R/
-

IVFD RL 8 tpm
Inj cefotaxim 3x250 mg
Inj furosemide 2x15 mg
Diet rendah garam,
tinggi protein 1-2
mg/kgBB
Kina Sulfat 1 x 130 mg
oral
Primakuin 1x3,25 mg
bila kencing merah
STOP
Periksa darah rutin
Rencana transfuse PRC
bila Hb <6 g/dl (target
9-10)
Elkana 1x1 cth

12

12/6/2014

13/6/2014

14//6/204

LED : 18,8%
S: demam (+), batuk (-), pilek (-),
sesak (-), muntah (-), wajah sembab
kurang, edema kelopak mata (+)
berkurang,
edema
tungkai
(+)
berkurang, makan dan minum baik,
BAK kuning muda, BAB baik
O: N : 128 x/m
P : 36 x/menit
S : 37,90C
TD : 90/60 mmHg
BB : 13 kg
LP : 45 cm
Mata : anemis +/+, Ikterus +/+,
Paru : BND Ves +/+ Rh -/-, Wh -/Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen : peristaltik (+), distensi,
asites, hepar teraba 2 jari dibawah
arcus costa
Ekstremitas : edema (+) kedua tungkai
berkurang
A: Suspek GNA + Malaria Tertiana
DD: Sindroma nefrotik
S: demam (-), batuk (-), pilek (-), sesak
(-), muntah (-), edema (-), makan dan
minum baik, BAK kuning muda, BAB
sedikit-sedikit.
O: N : 118 x/m
P : 32 x/menit
S : 36,80C
TD : 90/70 mmHg
BB : 13 kg
LP : 44 cm
Mata : anemis +/+, Ikterus -/-,
Paru : BND Ves +/+ Rh -/-, Wh -/Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen : peristaltik (+), distensi (-)
asites (-), hepar teraba 2 jari dibawah
arcus costa
Ekstremitas : edema (-)
A: Suspek GNA + Malaria Tertiana
DD: Sindroma nefrotik
S: demam (-), batuk (-), pilek (-), sesak
(-), muntah (-), edema (-), makan dan

R/
-

IVFD RL 8 tpm
Inj cefotaxim 3x250 mg
Inj furosemide 2x15 mg
Diet rendah garam,
tinggi protein 1-2
mg/kgBB
Kina 1 x 130 mg
Primakuin 1x3,25 mg
bila kencing merah
STOP
Rencana transfuse PRC
200 cc bila Hb <6 g/dl
(target 9-10)
Elkana 1x1 cth

R/
- IVFD RL 8 tpm
- Inj cefotaxim 3x250 mg
- Diet rendah garam,
tinggi protein 1-2
mg/kgBB
- Kina 1 x 130 mg
- Primakuin 1x 3,25 mg
- Rencana transfuse PRC
200 cc bila Hb <6 g/dl
(target 9-10)
- Elkana 1x1 cth

R/
- IVFD RL 8 tpm
13

15/6/2014

16/6/2014

minum baik, BAK kuning muda, BAB


sedikit-sedikit.
O: N : 110 x/m
P : 30 x/menit
S : 36,60C
TD : 100/70 mmHg
BB : 13 kg
LP : 44 cm
Mata : anemis -/-, Ikterus -/-,
Paru : BND Ves +/+ Rh -/-, Wh -/Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen : peristaltik (+), distensi (-),
asites (-), hepar teraba 1 jari dibawah
arcus costa
Ekstremitas : edema (-)
A: Suspek GNA + Malaria Tertiana
DD: Sindroma nefrotik
Hasil lab 14/6/2014
Hb post 9,6
S: demam (-), batuk (-), pilek (-), sesak
(-), muntah (-), edema (-), makan dan
minum baik, BAK kuning muda, BAB
sedikit-sedikit.
O: N : 110 x/m
P : 36 x/menit
S : 36,60C
TD : 100/70 mmHg
BB : 13 kg
LP : 44 cm
Mata : anemis -/-, Ikterus -/-,
Paru : BND Ves +/+ Rh -/-, Wh -/Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen : peristaltik (+), distensi (-),
asites (-), hepar teraba 1 jari dibawah
arcus costa
Ekstremitas : edema (-)
Hasil lab 15/6/2014
Kolestrol total 213
A: Sindroma nefrotik + Malaria
Tertiana

R/
-

Microlax sup
Inj cefotaxim 3x250 mg
Diet rendah garam,
tinggi protein 1-2
mg/kgBB
Kina 1 x 130 mg
Primakuin 1x 3,25 mg
Elkana 1x1 cth
Periksa Hb post

IVFD RL 8 tpm
Microlax 14sup
Inj cefotaxim 3x250 mg
Diet rendah garam,
tinggi protein 12mg/kgBB
Kina 1 x 130 mg
Primakuin 1 x 3,25 mg
Elkana 1x1 cth
Prednison 2-2-1 (selama
4 minggu)

S: demam (-), batuk (-), pilek (-), sesak R/


(-), muntah (-), edema (-), makan dan - IVFD aff
minum baik, BAK kuning muda, BAB - Furosemide stop

14

baik.
O: N : 110 x/m
P : 36 x/menit
S : 36,60C
TD : 100/70 mmHg
BB : 12,5 kg
LP : 44 cm
Mata : anemis -/-, Ikterus -/-,
Paru : BND Ves +/+ Rh -/-, Wh -/Jantung : BJ I/II murni regular.
Abdomen : peristaltik (+), distensi (-)
Ekstremitas : edema (-), asites (-)
A: Sindroma nefrotik + Malaria
tertiana

Cefotaxim inj stop


Eritromisin syrup 3x1
cth
Kina 1 x 130 mg
Primakuin 1x325 mg
Elkana 1x1 cth
Prednison 2-2-1 (selama
4 minggu)

Hasil pemeriksaan kultur urin (16/6/2014)


Pemeriksaan
Kultur Urin
Ampicillin
Amikasin
Amoxicillin
Karbensicilin
Kloramfenikol
Eritromisin
Gentamisin
Kanamisin
Norfloxasin
Penisilin G
Rifampisin
Sulfametoksasol
Trimetropam
Streptomisin
Sulfonamide
Tetrasiklin

Satuan

Hasil
Ditemukan bakteri
Shigella
R
S
R
R
R
R
S
R
R
R
R
R
R
R
R
R
R

Angka Normal

Metode

Resisten (R)
Intermediet (I)
Sensitive (S)

15

Cefotaxim
Fosfomycin
Ciprofloxasin
Vankomisin

R
S
R
R
R

BAB III
DISKUSI
Pada kasus ini pasien didiagnosis mix malaria (malaria biliosa) dan
bronkopneumonia ringan karena berdasarkan anamnesis ditemukan panas tinggi
1 minggu SMRS, panas naik turun, panas terutama pada sore dan malam hari.
10 hari SMRS pasien batuk dan pilek, batuk tanpa lendir. Pada pemeriksaan fisik
ditemukan wajah pucat. Mata konjungtiva anemis dan sclera ikterik. Paru terdapat
ronki. Abdomen hepar teraba 2 jari dibawah arcus costa. Pemeriksaan darah rutin
(4 juni 2014 di Prodia) ditemukan plasmodium flacifarum dan plasmodium vivax
stadium tropozoit. Hal ini sesuai dengan kepustakaan bahwa malaria disertai
ikterus disebut malaria biliosa yang merupakan komplikasi malaria berat yang
terjadi akibat infeksi plasmodium palsifarum yang sering disebut pernicious
manifestation. Hal ini juga didukung dengan hasil DDR ditemukan plasmodium
palcifarum dan plasmodium vivax sehingga pasien juga didiagnosis mix malaria.
Pada kasus ini pasien didiagnosis banding dengan DBD karena pada
anamnesis ditemukan panas tinggi dari pagi hingga malam 2 hari SMRS. Pada
pemeriksaan laboratorium (4 juni 2014 di Prodia) ditemukan trombositopenia
(PLT 12.000) dan hasil pemeriksaan trombosit secara manual 8000/uL. Namun,
16

dilakukan pemeriksaan rumple leed hasilnya negative dan tidak ada manifestasi
perdarahan spontan.
Pasien juga didiagnosis banding dengan glomerulonephritis akut karena
pada anamnesis ditemukan riwayat batuk pilek sejak 10 hari SMRS, pada
pemeriksaan fisik ditemukan wajah sembab, edema periorbital, asites, dan edema
kedua tungkai. Kemudian pada pemeriksaan urin ditemukan eritrosit dan protein
dalam urin. Namun pasien tidak hipertensi, dan BAK masih normal.
Penatalaksanaan pada kasus ini sudah sesuai, dimana pasien diberikan IVFD
Ringer Asering 16 tpm sesuai kebutuhan berdasarkan darrow, Kina drip 140 mg
dalam 100cc D5% tiap 8 jam untuk malaria berat., primaquin diberikan hari
pertama untuk dosis malaria falsifarum dan dilanjutkan hari kedua sampai 14 hari
dengan dosis malaria vivax. Pemberian Ibuprofen untuk menurunkan panas pasien
dengan dosis seusai kebutuhan pasien, Psidii yang merupakan ekstrak daun jambu
biji (Psidium Guajava Linn) yang mengandung kelompok senyawa tanin dan
flavonoid sebagai quersetin dalam ekstrak daun jambu biji yang berfungsi dalam
menghambat aktivitas enzim reverse trancriptase sehingga dapat menghambat
pertumbuhan virus dengue. Ekstrak daun jambu biji juga dapat meningkatkan
jumlah megakariosit dalam sumsum tulang sehingga dapat meningkatkan jumlah
trombosit dalam darah. Pemberian psidii karena berdasarkan hasil laboratorium di
prodia ditemukan trombositopenia yang dicurigai akibat demam dengue.
Pemberian domperidon syrup hanya jika nantinya pasien muntah dan ranitidin
injeksi untuk mencegah nyeri perut akibat efek samping dari pemberian obat
malaria. Pasien tidak diberikan terapi untuk bronkopneumoni ringan yang
diderita. Seharusnya pasien diberikan ambroxol syrup 3x1 cth dan antibotik
amoxicillin syrup 3x1 cth.
Setelah 1 hari perawatan di RS, pasien mengeluh BAK sedikit-sedikit dan
dilakukan pemeriksaan darah rutin ulang hasilanya DDR negatif, tombosit
normal, dan urin rutin yang hasilnya berat jenis meningkat dan adanya protein,
eritrosit dan lekosit dalam urin sehingga diagnosis menjadi bronkopneumoni
ringan dan infeksi saluran kemih karena memenuhi 2 kriteria diagnosis ISK
berupa polakisuria dan leukosit >6/LPB pada urinalisis. Terapi yang diberikan
sudah tepat berupa pemberian antibiotik cefixim sesuai dosis yang dibutuhkan

17

untuk mengobati infeksi saluran kemih, serta pemberian psidii dan obat malaria
dihentikan karena hasil pemeriksaan DDR negatif dan trombosit normal.
Sedangkan terapi yang lain dilanjtkan.
Setelah 5 hari perawatan di RS, tanda dan gejala edema anasarka pasien
tidak berkurang dan BAK pasien kurang hanya 0,8 ml/jam dalam 24 jam
serta berwarna merah teh, dan gejala batuk pilek pasien sembuh sehingga
diagnosis pasien saat ini suspek glomerulonefritis akut karena memenuhi
sebagian kriteria diagnosis untuk glomeruloneritis akut berupa riwayat ISPA
sebelumnya, hematuria gross, wajah sembab sampai edema anasarka,
oligouri, serta proteinuria. Namun pasien tidak hipertensi. Terapi yang
diberikan pada pasien berupa restriksi cairan sehingga kebutuhan cairan dikurangi
menjadi 8 tpm untuk tidak memperberat edema yang dialami pasien, serta injeksi
furosemide dengan dosis sesuai kebutuhan pasien untuk menurunkan edema, dan
Diet rendah garam dan protein 1-2 gram/kgBB/hari sudah tepat. Namun
pemberian antibiotik cefixim tidak tepat, karena pada GNA antibiotik yang
diberikan adalah penisilin atau eritromisin.
Setelah 7 hari perawatan di RS, BAK pasien kembali normal, banyak dan
warna kuning jernih. Serta hasil pemeriksaan darah rutin menunjukan DDR
vivax (+) stadium tropozoid, Ureum/creatinin 13/0,5 Bilirubin total 2,3
SGOT/SGPT 144/113 Protein 6,0 Albumin 2,3 Hb : 5,7 WBC : 15.600 LED :
18,8% sehingga diagnosis pasien saat ini suspek GNA dan malaria tertiana.
Terapi yang diberikan pada pasien berupa pemberian kina sulfat oral dan
primaquin sesuai dosis yang dibutuhkan pasien sudah tepat untuk pengobatan
malaria. Pasien direncanakan untuk transfusi PRC 200 cc utuk mengatasi anemia
sudah tepat. Pemberian elkana hanya sebagai vitamin.
Sehari sebelum pulang, dilakukan pemeriksaan kolestrol total hasilnya 213
sehingga diagnosis pasien saat ini sindroma nefrotik dan malaria tertiana.
Terapi yang diberikan pada pasien ditambahkan prednison 2-2-1 (selama 4
minggu) dosis sudah sesuai kebutuhan pasien sudah tepat. Pengobatan yang lain
dilanjutkan. Pada saat pulang setelah terapi cairan dihentikan, injeksi cefotaxim
dihentikan sehingga antibiotik pada pasien diganti dengan eritromisin dosis sudah

18

sesuai kebutuhan pasien sudah tepat. Sedangkan pemberian prednison dan obat
malaria dilanjutkan.
Sindrom nefrotik adalah salah satu penyakit ginjal yang sering dijumpai
pada anak, merupakan suatu kumpulan gejala-gejala klinis yang terdiri dari
proteinuria masif, hipoalbuminemia, hiperkholesterolemia dan sembab. 1
Sindroma nefrotik pada anak terjadi pada usia prasekolah dengan insiden
puncak antara 2 3 tahun, tetapi dapat pula muncul pada usia berapapun. Insiden
lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan dengan perbandingan 2:1. Sekitar
85% diantaranya menderita sindroma nefrotik kelainan minimal (SNKM).
Sedangkan pada orang dewasa paling banyak menderita tipe nefropati
membranosa (30-50%), dengan usia rata-rata 30-50 tahun dan perbandingan lakilaki dan perempuan 2:1. Kejadian SN idiopatik 2-3 kasus dalam 100.000 anak per
tahun sedangkan pada dewasa 3 dalam 1000.000 per tahun. Di Indonesia
dilaporkan kejadian sindroma nefrotik 6 per 100.000 per tahun, dengan
perbandingan anak laki-laki dan perempuan 2:1. 1,3
Kriteria diagnosis sindroma nefrotik berupa : 4
1. Proteinuria masif atau proteinuria nefrotik : protein 40mg/m2LPB/jam atau
>50mg/kgBB/24 jam atau rasio albumin/kreatinin pada urin sewaktu >2 mg
atau dipstick 2+
2. Hipoalbumin : albumin serum < 2,5 g/dL
3. Sembab
4. Hyperlipidemia : hiperkolestrolemia (kolestrol serum > 200 mg/dl)
Manifestasi klinis yang ditemukan pada sindroma nefrotik dapat berupa
edema yang bersifat pitting, timbul perlahan dan pada awalnya tampak pada
daerah-daerah yang mempunyai resistensi jaringan yang rendah misalnya daerah
periorbital atau edema pada peritibial, genitalia dan asites. Edema dapat menetap
atau menjadi menyeluruh dan masif (edema ansarka). Edema pada kulit
menyebabkan kulit tampak lebih pucat. Gejala lain berupa hipertensi, oligouri
(bila produksi urin <1 ml/kgBB/jam), hematuria makroskopik dan gangguan
gastrointestinal berupa mual muntah, diare, nyeri perut, hepatomegali, anoreksia
dan distensi abdomen. 1,5,6,7
Pada pasien ini berdasarkan anamnesis, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan
laboratorium,

kriteria

diagnostik

yang

ditemukan

berupa

proteinuria,

hipoalbuminemia, sembab, dan hiperkolestrolemia. Selain itu, pasien ini juga


19

disertai gejala lain berupa edema anasarka (edema periorbital, peritibial dan
asites), oligouri, gross hematuria dan gangguan gastrointestinal berupa
hepatomegali dan distensi abdomen.
Penyebab pasti sindroma nefrotik belum diketahui, namun dianggap sebagai
suatu penyakit autoimun. Reaksi antigen antibodi menyebabkan permeabilitas
membran basalis glomerulus meningkat dan diikuti kebocoran sejumlah protein
(albumin). 1,5
Patofisiologi beberapa gejala dari sindrom nefrotik diantaranya proteinuria
(albuminuria) masif merupakan penyebab utama terjadinya sindrom nefrotik,
namun penyebab terjadinya proteinuria belum diketahui benar. Salah satu teori
yang dapat menjelaskan adalah hilangnya muatan negatif yang biasanya terdapat
di sepanjang endotel kapiler glomerulus dan membran basal. Hilangnya muatan
negatif tersebut menyebabkan albumin yang bermuatan negatif tertarik keluar
menembus sawar kapiler glomerulus. Terdapat peningkatan permeabilitas
membran basalis kapiler-kapiler glomeruli, disertai peningkatan filtrasi protein
plasma dan akhirnya terjadi proteinuria (albuminuria). Plasma terutama terdiri
dari albumin sehingga bila tubuh kehilangan albumin lebih dari 3,5 gram/hari
menyebabkan hipoalbuminemia. 1,5,8
Hipoalbuminemia menyebabkan penurunan tekanan onkotik plasma, yang
memungkinkan transudasi cairan dari ruang intravaskuler ke ruang intersisiel.
Penurunan

volume

intravaskuler

menurunkan

tekanan

perfusi

ginjal,

mengaktifkan system renin-angiotensin-aldosteron, yang merangsang reabsorbsi


natrium di tubulus distal. Penurunan volume intravaskuler juga merangsang
pelepasan hormone antidiuretik yang mempertinggi reabsorbsi air dalam duktus
kolektivus. Karena tekanan onkotik plasma berkurang, natrium dan air yang yang
telah direabsrobsi masuk ke ruang intersisiel memperberat edema. 5,8
Pada status nefrosis, hampir semua kadar lemak (kolestrol, trigliserida) dan
lipoprotein serum meningkat. Terdapat dua faktor yang berperan diantaranya : 1)
hipoproteinemia merangsang sintesis protein menyeluruh di hati, termasuk
lipoprotein, 2) katabolisme lemak berkurang, karena penurunan kadar lipoprotein
lipase plasma. 5,8
Secara klinis sindrom nefrotik dibagi menjadi 2 golongan, yaitu :

20

1. Sindrom nefrotik primer, faktor etiologinya tidak diketahui. Dikatakan


sindrom nefrotik primer oleh karena sindrom nefrotik ini secara primer terjadi
akibat kelainan pada glomerulus itu sendiri tanpa ada penyebab lain. Golongan
ini paling sering dijumpai pada anak. Termasuk dalam sindrom nefrotik primer
adalah sindrom nefrotik kongenital, yaitu salah satu jenis sindrom nefrotik
yang ditemukan sejak lahir atau usia di bawah 1 tahun. Penyakit ini
diturunkan secara resesif autosom atau karena reaksi fetomaternal. Resisten
terhadap semua pengobatan. Gejalanya adalah edema pada masa neonatus.
Pencangkokan ginjal pada masa neonatus telah dicoba, tapi tidak berhasil.
Prognosis buruk dan biasanya pasien meninggal dalam bulan-bulan pertama
kehidupannya. 1,5
Kelainan histopatologik glomerulus pada sindrom nefrotik primer
dikelompokkan menurut rekomendasi dari ISKDC (International Study of
Kidney Diseases in Children, 1970) adalah : 1,8
Tabel 1. Klasifikasi kelainan glomerulus pada sindrom nefrotik primer3
Kelainan minimal (KM)
Glomerulosklerosis (GS)
Glomerulosklerosis fokal segmental (GSFS)
Glomerulosklerosis fokal global (GSFG)
Glomerulonefritis proliferatif mesangial difus (GNPMD)
Glomerulonefritis proliferatif mesangial difus eksudatif
Glomerulonefritis kresentik (GNK)
Glomerulonefritis membrano-proliferatif (GNMP)
GNMP tipe I dengan deposit subendotelial
GNMP tipe II dengan deposit intramembran
GNMP tipe III dengan deposit transmembran/subepitelial
Glomerulopati membranosa (GM)
Glomerulonefritis kronik lanjut (GNKL)
Sindrom nefrotik primer yang banyak menyerang anak biasanya berupa
sindrom nefrotik tipe kelainan minimal. Pada dewasa prevalensi sindrom nefrotik
tipe kelainan minimal jauh lebih sedikit dibandingkan pada anak-anak.
2. Sindrom nefrotik sekunder, timbul sebagai akibat dari suatu penyakit sistemik
atau akibat dari berbagai sebab yang nyata seperti misalnya efek samping
obat. Penyebab yang sering dijumpai adalah :
21

a. Penyakit metabolik atau kongenital: diabetes mellitus, amiloidosis,


sindrom Alport, miksedema.
b. Infeksi : hepatitis B, malaria, schistosomiasis, lepra, sifilis, streptokokus,
AIDS.
c. Toksin dan alergen: logam berat (Hg), penisillamin, probenesid, racun
serangga, bisa ular.
d. Penyakit sistemik bermediasi imunologik: lupus eritematosus sistemik,
purpura Henoch-Schnlein, sarkoidosis.
e. Neoplasma : tumor paru, penyakit Hodgkin, tumor gastrointestinal. 1,5
Pada kasus ini, pasien kemungkinan menderita sindroma nefrotik sekunder
karena pasien mempunyai penyakit sistemik yang mendasari berupa malaria.
Protokol pengobatan sindroma nefrotik menurut International Study of
Kidney Disease in Children (ISKDC) untuk sindroma nefrotik meliputi 1).
Dietetik protein 1,5-2 gr/kgBB/hari dan diet rendah garam 1-2 gr/hari atau 2
mmol/kgBB/hari selama ada edema dan hipertensi, 2). Penatalaksanaan untuk
sembab berupa pemberian furosemid 1-3mg/kgBB/hari 2 kali sehari. Bila tidak
ada respon, dosis dinaikan 4-6 mg/kgBB/hari bersama dengan spironolakton 2-3
mg/kgBB/hari. Intake air tidak perlu direstriksi, kecuali pada sembab hebat. Infus
albumin 20% bila albumin serum <1,5 g dL : 1 g/kgBB selama 4 jam 3).
Pemberian kortikosteroid fase inisial berupa prednisone 2 mg/kgBB/hari atau 60
mg/m2LPB (maksimal 80 mg/hari) dibagi 3 dosis, diberikan selama 4 minggu.
Bila terjadi remisi pada 4 minggu pertama, prednisone dilanjutkan 4 minggu
kedua dengan dosis 2/3 (40 mg/m2LPB/hari), dengan cara pemberian sekali sehari
pada pagi hari, 3 kali seminggu (senin, rabu, jumat). 4) mengobati infeksi yang
mendasari. 4
Pada pasien ini terapi yang diberikan sudah tepat dimana pasien diberikan
terapi cairan yang restriksi setengah dari kebutuhan cairannya dengan tujuan
untuk tidak memperberat edema yang dialami sehingga hanya diberikan IVFD RL
8 tpm. Pemberian furosemide 2x15 mg untuk mengatasi edema anasarka sudah
sesuai dengan kebutuhan pasien. Pemberian diet rendah garam, tinggi protein 12mg/kgBB sesuai kebutuhan pasien. Pemberian prednison sebagai imunospresan
karena sindroma nefrotik merupakan penyakit autoimun dengan dosis 2-2-1
22

(selama 4 minggu) sudah tepat. Pemberian kina 1 x 130 mg dan primakuin 1 x


3,25 mg untuk malaria sudah sesuai dengan kebutuhan pasien. Pemberian
antibiotik eritromisin saat pulang tidak tepat karena infeksi pada pasien ini berasal
dari malaria yang diderita dan telah di terapi dengan obat malaria. Eritromisin
diberikan bila pasien didiagnosis glomerulonephritis akut untuk mengobati ISPA
yang mendasari penyakit. Pemberian elkana hanya sebagai vitamin.
Untuk menggambarkan respons terapi terhadap steroid pada anak dengan
sindrom nefrotik digunakan istilah-istilah seperti tercantum pada tabel 2 berikut :1
Tabel 2. Istilah yang menggambarkan respons terapi steroid pada anak
dengan sindrom nefrotik
Remisi
Proteinuria negatif atau seangin, atau proteinuria < 4
mg/m2/jam selama 3 hari berturut-turut
Relaps
Proteinuria 2 + atau proteinuria > 40 mg/m2/jam
selama 3 hari berturut-turut, dimana sebelumnya pernah
mengalami remisi
Relaps tidak sering
Kambuh < 2 kali dalam masa 6 bulan, atau < 4 kali
dalam periode 12 bulan
Relaps sering
Kambuh 2 kali dalam 6 bulan pertama setelah respons
awal, atau 4 kali kambuh pada setiap periode 12 bulan
Responsif-steroid
Remisi tercapai hanya dengan terapi steroid saja
Dependen-steroid
Terjadi 2 kali kambuh berturut-turut selama masa
tapering terapi steroid, atau dalam waktu 14 hari setelah
terapi steroid dihentikan
Resisten-steroid
Gagal mencapai remisi meskipun telah diberikan terapi
prednison 60 mg/m2/hari selama 4 minggu
Responder lambat
Remisi terjadi setelah 4 minggu terapi prednison 60
mg/m2/hari tanpa tambahan terapi lain
Nonresponder awal
Resisten-steroid sejak terapi awal
Nonresponder lambat Resisten-steroid terjadi pada pasien yang sebelumnya
responsif-steroid
Pada kasus ini respon pengobatan steroid terhadap pasien belum dapat
dinilai karena pasien masih dalam pengobatan. Tetapi pasien tidak termasuk
kelompok nonresponder awal dimana pasien tidak resisten steroid sejak terapi
awal karena pasien menunjukan perbaikan setelah pemberian steroid, karena
selama pengobatan pasien tidak pernah kembali dengan keluhan yang sama.

23

Prognosis sindroma nefrotik umumnya baik, kecuali pada keadaan-keadaan:


1) Menderita untuk pertama kalinya pada umur di bawah 2 tahun atau di atas 6
tahun, 2) Jenis kelamin laki-laki, 3) Disertai oleh hipertensi, 4) Disertai hematuria,
5) Termasuk jenis sindrom nefrotik sekunder, 6) Gambaran histopatologik bukan
kelainan minimal. 7) Pengobatan yang terlambat, diberikan setelah 6 bulan dari
timbulnyaa gambaran klinis. Pada umumnya sebagian besar (80%) sindrom
nefrotik primer memberi respons yang baik terhadap pengobatan awal dengan
steroid, tetapi kira-kira 50% di antaranya akan relapse berulang dan sekitar 10%
tidak memberi respons lagi dengan pengobatan steroid. 1,2
Prognosis pasien ini kurang baik karena pasien berjenis kelamin laki-laki,
disertai hematuria, termasuk jenis sindroma nefrotik sekunder.

24

BAB IV
KESIMPULAN
Kesimpulan berdasarkan kasus yang telah dibahas pada pasien diatas adalah
sebagai berikut :
1. Pasien didiagnosis sindroma nefrotik dan malaria tertiana karena memenuhi
kriteria diganosis berupa proteinuria, hipoalbuminemia, sembab, dan
hiperkolestrolemia, serta pada pemeriksaan DDR hasilnya plasmodiun vivax
(+).
2. Tatalaksana berupa restriksi cairan, furosemide, diet tinggi protein dan rendah
garam, serta prednisone, kina dan primaquin telah sesuai dengan protokol
pengobatan. Kecuali eritromisin tidak diperlukan karena penyakit infeksi yang
mendasari adalah malaria.
3. Prognosis kurang baik karena pasien berjenis kelamin laki-laki, disertai
hematuria, termasuk jenis sindroma nefrotik sekunder.

DAFTAR REFERENSI
1. Bagian SMF Ilmu Kesehatan Anak. Sindroma Nefrotik. Pedoman Diagnosis
dan Terapi. Edisi III. Buku kedua. Bagian SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD
dr. Soetomo. Surabaya. 2008. H 128-37

25

2. Pudjiadi Antonius H, dkk. Sindroma Nefrotik. Pedoman Pelayanan Medis


Ikatan Dokter Anak Indnesia. Jilid I. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Jakarta.
2010. H 274-6
3. Bagian SMF Ilmu Kesehatan Anak. Sindroma Nefrotik. Standar Pelayanan
Medis Kesehatan Anak. Bagian SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUP dr. Wahidin
Sudirohusodo. Makassar. 2009. H 196-00
4. Kalew Robby. Sindroma Nefrotik. Standar Pelayanan Medis kesehatan Anak.
Bagian SMF Ilmu Kesehatan Anak RSUD dr. M. Haulussy. Ambon. 2014. H
82-3
5. Wahab Samik. Sindroma Nefrotik. Ilmu Kesehatan Anak Nelson. Edisi 15.
Volume 3. Penerbit Buku Kedokteran EGC. 2000. H 1827-31
6. Rudolph Abraham M, Julien I E Hoffman, Elizabeth I Thompson. Sindroma
Nefrotik. Buku Ajar Pediatri Rudolph. Edisi 20. Volume 2. Penerbit Buku
Kedokteran EGC. Jakarta. 2000. Hal 1503-07
7. Tanagho Emil A, Jack W. McAninch. Nephrotic Syndrome. Smiths Genenral
urology. 17th Edition. Mcg raw Hill lange. 2008. 504-06
8. Sudoyo Aru W, Bambang Setyohadi, Rahmat Sumantri. Sindroma Nefrotik.
Buku Ajar Ilmu penyakit Dalam. Edisi 5. Jilid II. Internal Publishing. H 999002

26