Anda di halaman 1dari 19

Otitis Media Akut Stadium Supuratif pada

Telinga Kanan Anak 2 Tahun


Pendahuluan
Telinga tengah biasanya steril, meskipun terdapat mikroba di nasofaring dan
faring. Secara fisiologik terdapat mekanisme pencegahan masuknya mikroba ke
dalam telinga tengah oleh silia mukosa tuba Eustachius, enzim dan antibodi.1
Otitis media akut adalah infeksi atau peradangan akut pada sebagian atau
seluruh rongga telinga tengah, sering diderita oleh bayi dan anak-anak, penyebabnya
infeksi virus atau bakteri. Pada penyakit bawaan seperti down syndrome dan anak
dengan alergi sering terjadi. Terapi antibiotika dan kunjungan ke dokter THT dalam
proses perbaikan sangat disarankan. Otitis media supuratif akut (OMA) adalah otitis
media yang berlangsung selama 3 minggu atau kurang karena infeksi bakteri
piogenik.
Anatomi Telinga Tengah
Bagian-bagian dari telinga tengah terdiri dari :

Cavitas tympatica
Membrana tympatica
Ossicula auditoria tulang telinga
Maleus: terdapat tuba auditorius.
Incus: berhubungan dengan tuba Eustachius.
Stapes: Dengan nasopharinx dan membuka pada saat menelan.
Tuba Auditoria/Tuba Auditorius/Tuba Eustachius.

Telinga tengah tersusun atas membran timpani (gendang telinga) di sebelah


lateral dan kapsul otik di sebelah medial celah telinga tengah terletak di antara kedua
Membrana timpani terletak pada akhiran kanalis aurius eksternus dan menandai batas
lateral telinga, Membran ini sekitar 1 cm dan selaput tipis normalnya berwarna kelabu
mutiara dan translulen.Telinga tengah merupakan rongga berisi udara merupakan
rumah bagi osikuli (tulang telinga tengah) dihubungkan dengan tuba eustachii ke
nasofaring berhubungan dengan beberapa sel berisi udara di bagian mastoid tulang
temporal.
1

Telinga tengah mengandung tulang terkecil (osikuli) yaitu malleus, inkus


stapes. Osikuli dipertahankan pada tempatnya oleh sendian, otot, dan ligamen, yang
membantu hantaran suara. Ada dua jendela kecil (jendela oval dan dinding medial
telinga tengah, yang memisahkan telinga tengah dengan telinga dalam. Bagian dataran
kaki menjejak pada jendela oval, di mana suara dihantar telinga tengah. Jendela bulat
memberikan jalan ke getaran suara. Jendela bulat ditutupi oleh membrana sangat tipis,
dan dataran kaki stapes ditahan oleh yang agak tipis, atau struktur berbentuk cincin.
anulus jendela bulat maupun jendela oval mudah mengalami robekan.
Tuba eustachii yang lebarnya sekitar 1mm panjangnya sekitar 35 mm,
menghubngkan telingah ke nasofaring. Normalnya, tuba eustachii tertutup, namun
dapat terbuka akibat kontraksi otot palatum ketika melakukan manuver Valsalva atau
menguap atau menelan. Tuba berfungsi sebagai drainase untuk sekresi dan
menyeimbangkan tekanan dalam telinga tengah dengan tekanan atmosfer.1
Anamnesis
Anamnesis terhadap kasus OMA dapat dilakukan autoanamnesis apabila keadaan
memungkinkan, apabila keadaan tidak memungkinkan untuk bertanya langsung pada
pasien, dapat dilakukan alloanamnesis terhadap keluarga (orang tua, pengasuh bayi)
yang merawat pasien. Anamnesis yang perlu dilakukan meliputi :
1. Identitas Pasien.
Menanyakan kepada pasien :
Nama

lengkap

pasien,

umur,tanggal

lahir,

jenis

kelamin,

alamat,

pendidikan,agama, pekerjaan,suku bangsa.


2. Keluhan Utama
Keluhan Utama : Ibunya mengatakan : anaknya demam sejak 3 hari yang lalu
Keluhan Tambahan : anaknya tidak mau makan, hidung mengeluarkan ingus
encer dan tadi malam anaknya tiba-tiba menangis dan memegang kuping
kanannya.
3. Riwayat Penyakit Sekarang :

Anamnesis dimulai dengan mengajukan pertanyaan tentang sifat dan beratnya


keluhan yang disampaikan pasien kepada dokter.2
-

Menanyakan sejak kapan penyakit dimulai (akut,subakut, atau kronisdan


bagaimana mulanya, bagaimana perjalanannya (bertambah, berkurang,
tetap, terjadi sebentar-bentar, naik turun), dan bagaimana frekuensinya.

Menanyakan sejak kapan demamnya pasien, bagaimana suhu tubuh pasien,


menanyakan bagaimana perjalanan demamnya, terus-menerus atau naik
turun.

Menanyakan onset dan durasi terjadinya nyeri telinga, biasanya pada OMA
nyeri akan dikeluhkan pada malam hari.

Menanyakan apakah telinga terasa penuh, seperti kemasukan air

Menanyakan apakah pendengaran pasien terganggu.

Menanyakan usia pasien ketika menderita penyakit ini

Menanyakan status gizi pasien, yaitu berat badan dan tinggi badan pasien,
apakah menurun atau tidak, bagaimana nafsu makan pasien

Menanyakan riwayat ISPA (infeksi saluran napas yang dialami pasien),


sejak kapan, bagaiman sekret yang dikeluarkan

Menanyakan Gejala lain termasuk diare, muntah, kehilangan pendengaran


mendadak, hidung tersumbat, pilek, dan bersin. Tanyakan apakah anak
telah menunjukkan kelesuan, pusing, tinnitus, dan jalan yang tidak mantap.

Setelah itu, diajukan beberapa pertanyaan tentang keadaan telinga, hidung,


tenggorok lain.
Keluhan utama telinga dapat berupa:1,3

Gangguan pendengaran/pekak (tuli): perlu ditanyakan apakah keluhan


tersebut pada satu atau kedua telinga, timbul tiba-tiba atau bertambah berat
secara bertahap dan sudah berapa lama diderita. Adakah riwayat trauma
kepala, telinga tertampar, trauma akustik, terpajan bising, pemakaian obat
ototoksik sebelumnya atau pernah menderita penyakit infeksi virus seperti
3

perotitis, influenza berat dan meningitis. Apakah gangguan pendengaran


ini lebih terasa ditempat yang bising atau ditempat yang lebih tenang.
-

Telinga berdenging: dapat berupa suara berdengung atau berdenging, yang


dirasakan dikepala, atau ditelinga, pada satu sisi atau kedua telinga.
Apakah tinnitus ini disertai gangguan pendengaran dengan keluhan pusing
berputar.

Rasa pusing berputar (vertigo): gangguan keseimbangan dan rasa ingin


jatuh yang disertai mual, muntah, rasa penuh dalam telinga, telinga
berdenging

yang

mungkin

kelainannya

terdapat

dalam

labirin.

Kecenderungan untuk jatuh dan arahnya, rasa putar atau terangkat, saat
timbulnya tergantung posisi tubuh atau kepala, bertambah atau tidak dalam
gelap, akibat menutup mata.
-

Nyeri di dalam telinga (otalgia): perlu ditanyakan apakah pada telinga kiri
atau kanan dan sudah berapa lama. Nyeri alih ke telinga (referred pain)
dapat berasal dari rasa nyeri di gigi molar atas, sendi mulut, dasar mulut,
tonsil atau tulang servikal karena telinga dipersarafi oleh saraf sensoris
yang berasal dari organ-organ tersebut.

Sekret yang keluar dari liang telinga (otore): apakah keluar dari satu atau
kedua telinga, disertai rasa nyeri atau tidak dan sudah berapa lama. Sekret
yang sedikit biasanya berasal dari infeksi telinga luar dan sekret yang
banyak dan bersifat mukoid umumnya berasal dari telinga tengah. Bila
berbau busuk menandakan adanya kolesteatom. Bila bercampur darah
harus dicurigai adanya infeksi akut yang berat atau tumor. Bila cairan yang
keluar seperti air jernih, harus waspada adanya cairan likuor serebrospinal.

4. Riwayat penyakit keluarga.


-

Menanyakan apakah ada keluarga yang menderita penyakit yang sama


dengan yang dialami oleh pasien?

5. Riwayat penyakit dahulu.

Menanyakan apakah pasien pernah mengalami keluhan yang sama


sebelumnya? Cari tahu riwayat penyakit dahulu dari kondisi medis apapun
yang signifikant.

Menanyakan apakah pasien pernah mengalami trauma pada telinga,


apakah pernah kemasukan benda asing, apakah pasien pernah berenang.

6.

Riwayat Psikososial.
-

Menanyakan kepada pasien apakah penyakitnya menganggu/sangat


menggangu/ tidak menggangu aktivitas sehari-hari pasien.

Menanyakan apakah pasien masih suka minum susu dari botol atau sambil
tiduran.

Menanyakan kondisi ekonomi pasien dan keluarga. Karena biasanya


OMA lebih sering terjadi pada keluarga yang miskin

Menanyakan apakah ada anggota keluarga yang satu rumah dengan pasien
yang menghisap rokok.

7. Riwayat pengobatan/obat.
-

Apakah pasien pernah melakukan pengobatan terhadap penyakit yang


dideritanya?

Pemeriksaan
a. Fisik
Kanalis Auditorius dan Membran Timpani
Untuk melihat kanalis audiotirus dan membran timpani digunakan otoskop.
Atur posisi kepala pasien agar dapat melihat dengan nyaman melalui otoskop. Untuk
meluruskan kanalis auditorius, pegang daun telinga pasien dengan kuat tetapi hatihati, dan tarik daun telinga ke arah atas belakang serta agak menjauhi kepala.4,5
Pegang tangkai otoskop di antara ibu jari dan jari-jari tangan, tumpangkan
tangan pada wajah pasien agar otoskop tersebut tidak goyang. Dengan demikian
tangan dan alat yang digunakan akan mengikuti gerakan pasien yang tidak terduga.4,5

Pemeriksaan Otoskop pada Liang Telinga 1


Inspeksi kanalis auditorius dengan memperhatikan setiap sekret yang ada,
benda asing, kemerahan pada kulit, atau pembengkakan. Serumen yang warna dan
konsistensinya bervariasi dari kuning serta menyerupai serpihan hingga cokelat dan
lengket atau bahkan hitam dan keras dapat menghalangi sebagian atau seluruh
pandangan.Inspeksi membran timpani, perhatikan warna dan konturnya. Pantulan
cahaya berbentuk kerucut pada membran timpani ketika membran tersebut disinari
biasanya mudah dilihat dan akan membantu untuk mengenali arah. 4,5

Membran Timpani dan Refleks Cahaya (Cone of Light) 6

Ketajaman Pendengaran (Akuitas Auditorius)


Untuk memperkirakan kemampuan pendengaran, lakukan pengujian pada

setiap telinga satu per satu. Minta pasien untuk menutup salah satu lubang telinganya
dengan jari telunjuknya sendiri. Jika terdapat perbedaan ketajaman pendengaran pada
kedua sisi, gerakkan jari tangan dengan cepat, tetapi hati-hati dalam saluran telinga
yang tersumbat. Bunyi yang ditimbulkan akan membantu mencegah agar telinga yang
tersumbat tidak melakukan pekerjaan dari telinga yang hendak diperiksa.4,5
Kemudian berdiri 0,3-0,6 meter dari pasien, hembuskan udara napas
seluruhnya (untuk mengurangi intensitas suara) dan berbisik dengan perlahan ke arah
telinga yang tidak tersumbat. Pilih bilangan atau kata-kata dengan dua suku kata yang

beraksen sama seperti dua tiga atau sepak bola. Untuk memastikan pasien tidak
membaca gerak bibir, tutupi mulut atau halangi penglihatan pasien.4,5

Hantaran Udara dan Tulang


Jika pendengaran berkurang, perlu dibedakan antara gangguan pendengaran

konduktif dan sensorineural. Diperlukan kamar periksa yang sunyi dan sebuah garpu
tala, sebaiknya 512 Hz atau 1024 Hz. Frekuensi suara ini terdapat dalam kisaran suara
percakapan manusia (300-3000 Hz) yang secara fungsional merupakan kisaran bunyi
yang paling penting. Getarkan garpu tala untuk menghasilkan vibrasi ringan dengan
mengetukkannya secara cepat antara ibu jari dan jari telunjuk, atau dengan
mengetukkannya pada buku-buku jari tangan.4,5
o Tes untuk lateralisasi (tes Weber)
Letakkan dengan kuat ujung tangkai garpu tala yang bergetar ringan
pada puncak kepala pasien atau bagian tengah dahinya. Tanyakan kepada
pasien di mana bunyinya terdengar, apakah pada satu sisi atau kedua sisi.
Normalnya bunyi akan terdengar pada garis tengah atau sama kerasnya pada
kedua telinga. Jika tidak terdengar bunyi apa pun, coba sekali lagi dengan
menekankan garpu tala tersebut secara lebih kuat pada kepala pasien.4,5

o Membandingkan hantaran udara dengan hantaran tulang (tes Rinne)


Letakkan dengan kuat ujung tangkai garpu tala yang bergetar
ringan pada tulang mastoideus yaitu di belakang telinga dan sejajar dengan
saluran telinga. Ketika pasien sudah tidak lagi mendengar bunyinya, cepatcepat tempatkan garpu tala tersebut di dekat saluran telinga dan pastikan
apakah bunyinya dapat didengar kembali. Bagian U dari garpu tala harus
menghadap ke depan dan dengan demikian membuat bunyinya terdengar
maksimal oleh pasien. Normalnya bunyi akan terdengar lebih lama lewat
hantaran udara dibandingkan lewat hantaran tulang.4,5

b. Penunjang

Timpanosintesis
Adalah pungsi pada membran timpani untuk mendapatkan sekret guna
pemeriksaan mikrobiologik untuk menentukan organisme penyebab (dengan semprit
dan jarum khusus) dan juga adalah cara yang pasti membuktikan keberadaan dan tipe
efusi telinga tengah. Dilakukan dengan menyelipkan, melalui bagian inferior
membrana timpani, jarum spinal ukuran 18 yang dilekatkan pada semprit atau
perangkap pengumpulan. Indikasi timpanosintesis yang mungkin adalah OMA yang
tidak berespon terhadap terapi konvensional, OMA pada neonatus atau pasien yang
respon imunnya lemah.1,7
Timpanosentesis harus juga dipertimbangkan pada keadaan seperti berikut:
untuk anak yang sakit berat atau mereka yang tampak toksik; untuk anak yang
berespons secara tidak memuaskan pada terapi antibiotik; pada mulainya otitis media
pada penderita yang mendapat agen antibiotik; pada penderita yang mengalami
komplikasi infratemporal atau intrakranial supuratif; dan untuk otitis pada bayi baru
lahir, bayi yang amat muda. atau penderita yang de-fisien secara imunologis, yang
pada masing-masing dari mereka organisme yang tidak biasa dapat menyebabkan infeksi.3
Pemeriksaan Laboratorium
o Jumlah leukosit
-

Jumlah leukosit biasanya normal atau sedikit meninggi

Adanya pergeseran ke kiri.2,6

o Laju endap darah


-

Laju endap darah meningkat bervariasi dengan rata-rata 87


mm/jam

Laju endap darah dapat digunakan untuk mendukung diagnosis


klinik dari otitis eksternal akut atau keganasan pada telinga yang
tidak menyebabkan peningkatan tes ini.2,6

o Kimia darah

Pasien yang diketahui dengan diabetik perlu pemeriksaan kimia


darah untuk menentukan intoleransi glukosa basal.

Pasien

tanpa

riwayat

diabetes

perlu

diperiksa

toleransi

glukosanya2,6
o Kultur dan tes sensivitas dari liang telinga
-

Kultur dari drainase telinga perlu dilakukan sebelum pemberian


antibiotic

Organisme penyebab utama otitis eksterna maligna adalah P.


Aeruginosa (95 %). Organisme ini anaerobik, gram negatif. Spesies
pseudomonas mempunyai lapisan mukoid untuk fagositosis.
Eksotoksin ( yaitu eksotoksin A, kolagenase, elastase) dapat
menyebabkan nekrosis jaringan, dan beberapa strain menghasilkan
neurotoksin yang menyebabkan neuropati kranial.2,6

Working Diagnosis
Otitis media akut (OMA) biasanya terjadi karena factor pertahanan tubuh ini
terganggu. Sumbatan tuba Eustachius merupakan factor penyebab utama dari otitis
media. Karena fungsi tuba Eustachius terganggu, pencegahan invasi kuman ke telinga
tengah juga terganggu, sehingga kuman masuk ke dalam telinga tengah dan terjadi
peradangan.
Selain itu, pencetus lain adalah infeksi saluran napas atas. Pada anak, makin
sering anak terkena infeksi saluran napas, makin besar kemungkinan terjadinya OMA.
Pada bayi terjadinya OMA dipermudah oleh karena tuba Eustachiusnya pendek, lebar
dan letaknya agak horizontal, dan juga adenoid

pada anak relatif lebih besar

dibanding orang dewasa.


Diagnosis Banding
Otitis media supuratif kronik.1
Bila perforasi menetap dan sekret keluar terus-menerus atau hilang timbul,
sekret mungkin encer, kental, bening atau berupa nanah lebih dari dua bulan, maka
keadaan ini disebut otitis media supuratif kronis (OMSK). Beberapa faktor yang
9

menyebabkan OMA menjadi OMSK ialah terapi yang tidak adekuat, virulensi kuman
tinggi, daya tahan tubuh pasien rendah (gizi kurang) atau higiene buruk. OMSK
terbagi menjadi 2 yaitu tipr maligna dan benigna
Otitis media serosa akut.
Otitis media serosa akut adalah keadaan terbentuknya sekret di telinga tengah
secara tiba-tiba yang disebabkan oleh gangguan fungsi tuba, kedaan ini dapat
disebabkan antara lain oleh :

Sumbatan tuba, pada keadaan tersebut terbentuk cairan di telinga tengah


disebabkan oleh tersumbatnya tuba secara tiba-tiba yang disebabkan oleh
gangguan fungsi tuba seperti pada barotrauma,

Virus, terbentuknya cairan ditelinga tengah yang berhubungan dengan infeksi


virus pada jalan napas atas

Alergi, terbentuknya cairan di telinga tengah yang berhubungan dengan alergi


pada jalan napas atas

idiopatik
Gejala yang menonjol pada otitis media serosa akut biasanya pendengaran

berkurang. Selain itu pasien juga dapat mengeluh rasa tersumbat pada telinga atau
suara sendiri terdengar lebih nyaring atau berbeda, pada telinga yang sakit (diplacusis
binauralis). Kadang-kadang terasa seperti ada cairan yang bergerak dalam telinga
pada saat posisi kepala berubah. Rasa sedikit nyeri dalam telinga dapat terjadi pada
saat awal tuba terganggu, yang menyebabkan timbulnya tekanan negatif pada telinga
tengah (misalnya pada barotrauma). Rasa nyeri dalam telinga tidak pernah ada bila
penyebab timbulnya sekret adalah virus atau alergi. Tinitus, vertigo atau pusing
kadang-kadang ada dalam bentuk ringan. Pada otoskopi terlihat membran timpani
rertraksi. Kadang-kadang tempak gelembung udara atau permukaan cairan dalam
kavum timpani. Tuli konduktif dapat dibuktikan dengan garpu tala.
Etiologi
Bakteri piogenik sebagai penyebab tersering yaitu Streptokokus hemolitikus,
Stafilokokus aureus, dan Pneumokokus. Kadang-kadang bakteri penyebabnya yaitu
10

Hemofilus influenza, Escheria coli, Streptokokus anhemolitikus, Proteus vulgaris,


Pseudomonas aeruginosa. Haemophilus influenza merupakan bakteri yang paling
sering kita temukan pada pasien anak berumur 5 tahun.1
Patofisiologi
Terjadi akibat terganggunya faktor pertahanan tubuh yang bertugas menjaga
kesterilan telinga tengah. Faktor pertahanan tubuh seperti silia dari mukosa tuba
Eustachius, enzim, dan antibodi. Faktor ini akan mencegah masuknya mikroba ke
dalam telinga tengah. Penyebab utamanya adalah tersumbatnya tuba Eustachius
sehingga pencegahan invasi kuman terganggu. Faktor pencetus terjadinya otitis media
supuratif akut (OMA), yaitu : infeksi saluran nafas atas (common cold) yang terjadi
terutama pada pasien anak-anak Bayi lebih mudah menderita otitis media supuratif
akut (OMA) karena letak tuba Eustachius yang lebih pendek, lebih lebar dan lebih
horisontal.2
Epidemiologi
Hampir 85% anak mempunyai paling sedikit satu episode otitis media akut pada
umur 3 tahun, dan 50% anak akan mempunyai dua episode atau lebih. Bayi dan anak
kecil berisiko paling tinggi untuk otitis media, frekuensi insi-den adalah 15-20%
dengan puncak terjadi dari umur 6-36 bulan dan 4-6 tahun. Anak yang menderita otitis
media pada umur tahun pertama mempunyai kenaikan risiko penyakit akut kumat atau
kronis. Sesudah episode pertama, sekitar 40% anak menderita efusi telinga-tengah
yang menetap selama 4 minggu dan 10% menderita efusi yang masih ada pada 3
bulan. Insiden penyakit ccnderung menurun sebagai fungsi dari umur sesudah umur 6
tahun. Insiden tinggi pada laki-laki, kelompok sosio-ekonomi yang lebih rendah, suku
asli Alaska, suku asli Amerika, dan lebih tinggi pada orang kulit pulih daripada orang
kulit hitam. Insiden juga bertambah pada musim dingin (winter) dan awal musim
semi.
Gejala Klinis
Gejala klinis OMA tergantung pada stadium penyakit dan umur pasien.Stadium
OMA berdasarkan perubahan mukosa telinga sebagai akibat infeksi dapat dibagi atas
5 stadium:2

11

1. Stadium Oklusi Tuba Eustachius


Tanda adanya oklusi tuba Eustachius ialah gambaran retraksi membran
timpani akibat terjadinya tekanan negatif di dalam telinga tengah akibat
absorpsi udara. Efusi mungkin telah terjadi, tetapi tidak dapat terdeteksi. 1,2
2. Stadium Hiperemis (Pre-Supurasi)
Tampak pembuluh darah yang melebar di membran timpani atau
seluruh membran timpani tampak hiperemis dan edem. Sekret yang telah
terbentuk mungkin masih bersifat eksudat yang serosa sehingga sukar
terlihat.1,2
3. Stadium Supurasi
Edema yang hebat pada mukosa telinga tengah dan hancurnya sel
epitel superfisial serta terbentuknya eksudat yang purulen di kavum timpani,
menyebabkan membran timpani menonjol (bulging) ke arah liang telinga
luar.1,2 Pada keadaan ini pasien tampak sangat sakit, nadi dan suhu meningkat,
serta rasa nyeri di telinga bertambah hebat. Bila tidak dilakukan insisi
membran timpani maka kemungkinan besar membran timpani akan ruptur dan
nanah keluar ke liang telinga luar. Dengan miringotomi, luka insisi akan
menutup kembali, sedangkan bila terjadi ruptur, tidak mudah menutup
kembali. 1,2
4. Stadium Perforasi
Keterlambatan pemberian antibiotika atau virulensi kuman yang tinggi,
maka dapat terjadi ruptur membran timpani dan nanah keluar mengalir dari
telinga luar. 1,2
5. Stadium Resolusi
Bila membran timpani tetap utuh, maka keadaan membran timpani
perlahan akan normal kembali. Bila sudah terjadi perforasi maka sekret akan
berkurang dan akhirnya kering. Bila daya tahan tubuh baik maka resolusi
dapat terjadi walaupun tanpa pengobatan. Perforasi menetap diserta dengan

12

sekret yang keluar terus menerus atau hilang timbul menyebabkan otitis media
akut berubah menjadi otitis media supuratif kronik. 1,2
Jadi secara umum pada OMA terdapat beberapa gejala seperti berikut :

Otalgia, demam, otorrhea, anoreksia, irritabel, muntah, diare, kejang.

Gejala gejala ini disertai dengan temuan otoscopic abnormal dari membran
timpani: terlihat gelap, bulging/membenjol, hiperemis, efusi telinga tengah,
penurunan mobility dengan pneumatik otoscopi.

Komplikasi
Komplikasi yang dapat timbul pada kasus OMA adalah sebagai berikut:1
a. Pada proses penyembuhan perforasi, epitel squamosa, dapat tumbuh
kedalam telinga tengah, membentuk struktur sperti kantong yang
mengumpulkan debris epitel yang lepas. Kista ini disebut Kolesteatoma
b. Perforasi
keduanya

membran timpani yang menetap dan nekrosis osikula ,


menyebabkan

kehilangan

pendengaran

konduktif

yang

memerlukan koreksi bedah dengan timpanoplasti.


c. Paralisis nervus fasialis dapat terjadi pada otitis media supuratif akut.
Sekitar sepertiga penderita mempunyai tulang yang tidak sempurna yang
menutupi nervus fasialis dalam telingah tengah, sehingga nervus fasialis
juga mengalami peradangan. Paralisis dapat parsial atau total.
d. Selama otitis media akut, respon radang yang disebut labirintis serosa
dapat terjadi, yaitu infeksi pada kanalis semisirkularis. Biasanya ada
vertigo ringan tetapi bukan kehilangan pendengaran. Namun jika bakteri
menginvasi labirin melalui fenestra ovalis atau rotundum, terjadi labirintis
supuratif akut yang menyebabkan vertigo berat, nistagmus, dan
kehilangan pendengaran sensorineural berat
e. Keterlibatan mastoid dengan radang akut dan eksudat purulen selalu ada
selama otitis media akut, seperti ditunjukan oleh keopakan sistem sel
udara (mastoiditis) pada rontgenografi. Istilah mastoiditis supuratif akut

13

menggambarkan osteomielitis mastoid koalesen akut, sekat-sekat sel


udara mastoid mengalami nekrosis dan sistem sel udara menjadi konfluen.
Hal ini disertai dengan nyeri berat di belakang telinga dan radang pada
mastoid. Kadang-kadang ujung mastoid pecah karena infeksi dan nanah
disebelah anterior m. strenocleidomastoideus (abses Bezold)
f. Infeksi ini dapat mencapai sel udara bagian medial os temporale melalui
sel perilabirintin, menyebabkan osteomielitis apeks petrosa. Bila ini
terjadi, dapat mengakibatkan paralisis n. kranialis VI, nyeri otot
retroorbital dalam akibat terlibatnya n. trigeminus.
g. Komplikasi intrakranium OMA yang paling lazim adalah meningitis.
Organisme

yang

paling

lazim

menyebabkan

meningitis

yang

menyebabkan ketulian adalah H. influenzae. Sekitar 7% penderita dengan


meningitis ini mengalami tuli sensorial.
h. Abses Otak terjadi karena adanya penyebaran bakteri karena adanya
infeksi ditempat lain. Penyebarannya ini dapat melalui darah, trauma
tembus kepala, adanya meningitis piogenik, ataupun berasal dari infeksi
pada katup jantung. Untuk itu perlu juga diketahui apakah pasien
sebelumnya pernah mengalami sinusitis, otitis media ataupun riwayat
infeksi lainnya. Insiden paling banyak adanya penyebaran melalui
hematogen atau aliran darah yang mengenai substantia alba dan grisea
atau perkontinuatum yakni dari daerah yang dekat dengan otak. Sifat dari
abses serebri terbagi dua, ada yang soliter, ada pula yang multiple.
Penatalaksanaan
Medika Mentosa
Penatalaksanaan tergantung pada stadium penyakitnya. Pada stadium
Supurasi, yang harus di lakukan adalah terapi antibiotika disertai dengan miringotomi
bila membran timpani masih utuh. Miringotomi membantu menghilangkan gejala
klinis lebih cepat dan menghindarkan terjadinya ruptur. 1,2
Sekitar 80% kasus OMA sembuh dalam 3 hari tanpa pemberian antibiotik.
Observasi dapat dilakukan. Antibiotik dianjurkan jika gejala tidak membaik dalam

14

dua sampai tiga hari, atau ada perburukan gejala. Ternyata pemberian antibiotik yang
segera dan dosis sesuai dapat terhindar dari tejadinyakomplikasi supuratif seterusnya.
Masalah yang muncul adalah risikoterbentuknya bakteri yang resisten terhadap
antibiotik meningkat.Perawatan untuk otitis media akut bervariasi tergantung pada
umur dan gejala-gejala dari anak. The American Academy of Pediatrics (AAP) dan
the American Academy of Family Physicians (AAFP) merekomendasikan berikut.1
Usia

Diagnosa Pasti

Diagnosa Yang Tidak Pasti

< 6 bulan

Antibiotik

Antibiotik

bulan-2 Antibitik

Antibiotik-antibiotik

tahun

penyakit

parah;

jika
*Observasi

tanpa pilihan antibiotik jika


penyakit tidak parah
> 2 tahun

Antibiotik-antibiotik

*Pilihan

observasi

tanpa

jika penyakit parah; antibiotik-antibiotik


*Pilihan

observasi

jika penyakit

tidak

parah
Tabel 2. Kriteria Antibiotik dan Observasi pada Anak dengan OMA.2
*Observasi adalah pilihan yang tepat hanya ketika follow-up dapat
dipastikan dan agen-agen antibakteri dapat dimulai jika gejala-gejala
berlangsung lama atau memburuk. Penyakit yang tidak parah diwakili oleh
nyeri telinga dan demam yang ringan <39C (102.2F) dalam 24 jam yang
lalu. Penyakit yang parah adalah otalgia (nyeri telinga) yang sedang sampai
parah atau demam 39C. 2
Jika antibiotik-antibiotik dimulai, Amoxicillin (Biomox, Amoxil, Trimox)
biasanya direkomendasikan sebagai perawatan garis pertama. Ini biasanya diresepkan
untuk 10 hari. Kira-kira 10% dari anak-anak tidak merespon dalam 48-72 jam
pertama perawatan, dan terapi antibiotik mungkin harus dirubah. Bahkan setelah
perawatan antibiotik, 40% dari anak-anak ditinggalkan dengan beberapa cairan dalam
telinga tengah yang dapat menyebabkan kehilangan pendengaran sementara yang
berlangsung 3 sampai 6 minggu. Pada kebanyakan anak-anak, cairan ini akhirnya

15

hilang secara spontan dengan sendirinya.2


FDA telah menyetujui lebih dari selusin antibiotik untuk mengobati otitis
media (OM). Beberapa dokter menganjurkan pemberian kortikosteroid dalam
kombinasi dengan antibiotik beta-laktam-stabil. Studi terapi tambahan lainnya untuk
OM akut (AOM) dan Ome telah menunjukkan bahwa NSAID, dekongestan,
antihistamin dan tidak memberikan manfaat yang jelas.1
Non Medika Mentosa.

Edukasi

Edukasi kepada pasien dan orang tuannya (jika anak masih kecil): misalnya
seperti jika minum atau makan dalam posisi duduk, hindari paparan asap rokok secara
langsung, makan makanan yang bergizi dan minum vitamin, Jangan mengorek-ngorek
telinga, jangan kemasukan air sewaktu mandi, tidak boleh berenang, segera berobat
bila ada ISPA.

Miringiotomi

Tindakan insisi pada pars tensa membran timpani dengan atau tanpa
pemasangan pipa ventilasi , agar terjadi drainase sekret dari telinga tengah ke liang
telinga luar. Lokasi miringiotomi ialah kuadran posterior-inferior. Untuk tindakan ini
harus memakai lampu kepala yang mempunyai sinar yang cukup terang, memakai
corong telinga yang sesuai dengan besar liang telinga dan pisau khusus yang
digunakan berukuran kecil dan steril, tindakan harus dilakukan secara a-vuea (dilihat
langsung). Miringotomi dengan pipa ventilasi terbukti dapat menurunkan angka
kematian dan rekurensi OMA dibandingkan miringotomi saja

Timpanosyntesis

selain untuk pemeriksaan diagnotik untuk kultur, tujuan dilakukannya


timpanosintesis bertujuan untuk mengeluarkan sekret purluent pada telinga tengah.
Dilakukan dengan menyelipkan, melalui bagian inferior membrana timpani, jarum
spinal ukuran 18 yang dilekatkan pada semprit atau perangkap pengumpulan.

Rujuk

16

Anak-anak yang mempunyai kekambuhan penyakit-penyakit otitis media


mungkin dirujuk pada otolaryngologist (doker THT). Beberapa dari anak-anak ini
mungkin mendapat manfaat dari mendapatkan tabung telinga yang ditempatkan
(tympanostomy tube) untuk mengizinkan cairan mengalir dari telinga tengah..2
Preventif
Pencegahan yang dapat dilakukan adalah:3

Imunisasi dengan vaksin pneumococcus polivalen dapat efektif pada anak


yang lebihdari 2 tahun.

Antibiotik profilaksis (dosis harian amoksilin, 20 mg/kg/ 24 jam, sulfonamid


50 mg/kg/24 jam) dapat efektif pada beberapa anak bila diberikan selama
masa beberapa bulan, biasanya selama musim dingin.

Pencegahan ISPA pada bayi dan anak-anak

Menghilangkan beberapa faktor resiko yang dapat meningkatkan insiden


OMAberulang pada anak, dengan memperhatikan

dan mengubah cara

asuhan pada anak, yaitu : membiarkan anak untuk hidup di ruang yang bebas
dari tembakau/rokok dan menghentikan penggunaan botol pada anak yang
berumur lebih dari 1 tahun dan usahakan untuk memberikan makan atau
meminum susu dalam posisi duduk.

Pencegahan yang paling potensial adalah mengganti gula alami dengan


xylitol. Penelitian menunjukkan permen karet, tablet dan sirup yang
mengandung xylitol dapat mengurangi terjadinya OMA sampai 25%.

Prognosis
Angka kematian dari OMA jarang di era kedokteran modern. Dengan terapi
antibiotik yang efektif, tanda-tanda sistemik demam dan kelemahan seharusnya mulai
menghilang, bersama dengan rasa sakit lokal, dalam 48 jam. Anak-anak dengan
kurang dari 3 episode dan kurang dari 3 kali serangan lebih mungkin untuk ditolong
dengan antibiotik.3
Biasanya, pasien akhirnya dapat memulihkan gangguan pendengaran konduktif

17

yang terkait dengan OMA.3,7


Efusi telinga tengah dan gangguan pendengaran konduktif dapat tetap ada selama
terapi, 70% anak-anak masih memiliki efusi telinga tengah setelah 14 hari, 50%
setelah 1bulan, 20% setelah 2 bulan, dan 10 % setelah 3 bulan, terlepas dari terapi.3,7
Kesimpulan
Otitis media supuratif akut (OMA) adalah otitis media yang berlangsung selama
3 minggu atau kurang karena infeksi bakteri piogenik. Masalah telinga, hidung dan
tenggorokan (THT) merupakan masalah yang sering terjadi pada anak-anak. Saluran
napas atas merupakan tempak infeksi tersering pada anak kecil dan penilaian penyakit
akut pada anak tidak lengkap tenpa pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorokan.
Otitis media sering diawali dengan infeksi pada saluran napas seperti radang
tenggorokan atau pilek yang menyebar ke telinga tengah lewat saluran Eustachius.
Pada anak-anak, makin sering terserang ISPA, makin besar kemungkinan terjadinya
otitis media akut. Pada bayi dan anak, otitis media akut dipermudah karena tuba
eustachiusnya pendek, lebar, dan letaknya agak horisontal.
Jadi hipotesis diterima, anak tersebut menderita otitis media akut stadium
supurasi.
Daftar Pustaka
1. Sopardi AE, dkk. Buku Ajar ilmu kesehatan: telinga, hidung, tenggorok,
kepala, dan leher.Edisi 6. Jakarta: Balai penerbit FK UI; 2007. Hal 1-6, 16-7,
29, 33-8, 64-72.
2. P. van den Broek, L. Feenstra; Buku saku ilmu kesehatan, hidung, dan telinga.
Edisi 12. Jakarta: EGC, 2009. Hal 1-2.
3. Richard E, Behrman, Robert M; editor. Ilmu kesehatan anak nelson. Volume 3.
Jakarta ; EGC. 2006. Hal 2196-2212.
4. Gleadle J. At a glance anamnesis dan pemeriksaan fisik. Jakarta: Penerbit
Erlangga; 2005.h.46.
5. Bickley LS. Buku ajar pemeriksaan fisik & riwayat kesehatan Bates. Edisi ke8. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2009.h.159-62.
18

6. George L. Boeis: buku ajar penyakit THT. Edisi ke-6. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC; 1997.h.78-115.
7. Rudolph MA, Hoffman JIE, Rudolph CD. Buku ajar pediatri rudolph. Edisi 20
volume 2. Jakarta: EGC; 2006. Hal 1051-2.

19