Anda di halaman 1dari 13

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang
Kebutuhan masyarakat dunia terhadap protein hewani ikan terus meningkat

seiring dengan peningkatan populasi penduduk dunia. Sejak tahun 1990-an,


produksi perikanan tangkap mengalami stagnasi dan cenderung menurun akibat
kerusakan lingkungan laut dan upaya penangkapan ikan illegal. Oleh karena itu
pemenuhan konsumsi ikan dunia hanya diharapkan dari usaha budidaya ikan.
Untuk mencapai target produksi sesuai dengan yang diharapkan, berbagai
permasalahan menghambat upaya peningkatan produksi tersebut, antara lain
kegagalan produksi akibat serangan wabah penyakit ikan yang bersifat patogenik
baik dari golongan parasit, jamur, bakteri, dan virus. Permasalahan lainnya adalah
degradasi mutu lingkungan budidaya yang semakin buruk, yang disebabkan oleh
kegiatan budidaya itu sendiri maupun dari luar lingkungan budidaya. Timbulnya
serangan wabah penyakit tersebut pada dasarnya sebagai akibat terjadinya
gangguan keseimbangan dan interaksi antara ikan, lingkungan yang tidak
menguntungkan

ikan

dan

berkembangnya

patogen

penyebab

penyakit.

Kemungkinan lainnya adalah adanya atau masuknya agen penyakit ikan obligat
yang ganas (virulen) meskipun kondisi lingkungannya relatif baik
Untuk mengatasi permasalahan akibat serangan agen patogenik pada ikan,
para petani maupun pengusaha ikan banyak menggunakan berbagai bahan-bahan
kimia maupun antibiotika dalam pengendalian penyakit tersebut. Namun dilain
pihak pemakaian bahan kimia dan antibiotik secara terus menerus dengan
dosis/konsentrasi yang kurang/tidak tepat, akan menimbulkan masalah baru
berupa meningkatnya resistensi mikroorganisme terhadap bahan tersebut. Selain
itu, masalah lainnya adalah bahaya yang ditimbulkan terhadap lingkungan
sekitarnya, ikan yang bersangkutan, dan manusia yang mengonsumsinya.
Berkaitan dengan permasalahan tersebut, perlu ada alternatif bahan obat yang
lebih aman yang dapat digunakan dalam pengendalian penyakit ikan. Salah satu
alternatifnya adalah dengan menggunakan tumbuhan obat tradisional yang bersifat
anti parasit, anti jamur, anti bakteri, dan anti viral. Beberapa keuntungan

1 | Makalah Manajemen Tata Lingkungan Perikanan Budidaya

menggunakan tumbuhan obat tradisional antara lain relatif lebih aman, mudah
diperoleh, murah, tidak menimbulkan resistensi, dan relatif tidak berbahaya
terhadap ingkungan sekitarnya.
Menurut Nuryati et al., (2008), upaya pencegahan dan pengobatan yang
lazim dilakukan pada ikan-ikan yang terkena penyakit mikotik adalah
menggunakan obat-obatan kimia seperti malachite green, formalin, hidrogen
peroxida, dan sebagainya. Akan tetapi penggunaan bahan kimia cenderung tidak
ramah lingkungan dan ada yang bersifat karsinogenik. Seiring dengan adanya
kecenderungan yang memperhatikan masalah keamanan pangan dan lingkungan
maka diharapkan adanya metode pencegahan penyakit mikotik yang bersifat aman
bagi pembudidaya, ramah lingkungan dan murah.

2 | Makalah Manajemen Tata Lingkungan Perikanan Budidaya

1.2 Rumusan Masalah


Adapun rumusan masalah dalam makalah ini :
1. Apa saja jenis jenis dan kandungan dari bahan nabati ?
2. Apa kegunaan bahan nabati bagi kesehatan ikan ?
3. Apa kegunaan bahan nabati bagi lingkungan ?
1.3 Tujuan Makalah
Adapun tujuan dari makalah yang kami buat :
1. Untuk mengetahui jenis jenis dan kandungan dari bahan nabati
2. Untuk mengetahui kegunaan bahan nabati bagi kesehatan ikan
3. Untuk mengetahui kegunaan bahan nabati bagi lingkungan

3 | Makalah Manajemen Tata Lingkungan Perikanan Budidaya

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

Jenis-jenis dan Kandungan dari Bahan Nabati

2.1.1 Lengkuas
Menurut

Selviana et

al., (2009),

tanaman

lengkuas

termasuk jenis tanaman yang mudah tumbuh dimana


saja, sehingga mudah didapatkan, tersedia
melimpah

dan

harga

relative

murah.

Lengkuas selain digunakan sebagai penyedap


juga

untuk

mengatasi

gangguan

lambung,

makanan
menetralkan

Image, 2014
keracunan makanan dan lain-lain. Akan tetapi Google
khasiat lengkuas
yang sudah

dibuktikan secara ilmiah melalui berbagai penelitian adalah sebagai anti jamur.
Menurut Sumayani et al., 2008, Perasan rimpang lengkuas mempunyai daya
hambat dan daya bunuh terhadap bakteri Aeromonas hydrophila karena
mengandung minyak atsiri antara lain alkohol, senyawa fenol termasuk flavonoid
dan deterjen yang bersifat bakterisidal. Mutschler (1991) menyatakan bahwa
alkohol bersifat antibakteri Hal ini disebabkan alkohol dapat merusak membran
sel bakteri yang mengakibatkan cepat hilangnya kandungan sitoplasma bakteri.
Pada kadar tinggi, alkohol menyebabkan lisis (t erlarutnya) sel bakteri (Nogrady,
1992). Mutschler (1991) menyatakan bahwa senyawa fenol bersifat antibakteri.
Senyawa fenol mempunyai daya bunuh karena fenol mempresipitasikan protein
secara aktif, dan selain itu juga merusak membran sel dengan cara menurunkan
tegangan permukaan (Syahrurachman dkk., 1994). Fenol juga merupakan
desinfektan ampuh karena tidak hanya merusak protein tetapi juga bekerja sebagai
deterjen karena kepolaran gugus hidroksil pada fenol.
Menurut Nogrady, 1992 dalam Sumayani et al., 2008. Deterjen merupakan
senyawa organik karena strukturnya dapat berikatan dengan air dan dengan
molekul molekul organik non polar. Deterjen mempunyai satu ujung hidrofilik
yang dapat bercampur dengan air dan satu ujung hidrofilik yang tidak dapat
bercampur dengan air (lipofilik), sehingga molekul deterjen menempel pada
permukaan bahan organik dengan ujung hidrofilik mengarah ke air. Kedua gugus

4 | Makalah Manajemen Tata Lingkungan Perikanan Budidaya

deterjen ini akan merusak membran sel dan dapat membunuh sel (Syahrurachman
dkk., 1994). Flavonoid merupakan senyawa fenol bekerja dengan cara
mendenaturasi protein dan merusak membran sel bakteri. Denaturasi protein
menyebabkan aktivitas metabolisme sel terhenti karena berhentinya semua
aktivitas metabolisme berakibat pada kematian sel bakteri (Nogrady, 1992).
2.1.2 Rumput Laut
Menurut Yunus et al., (2009), rumput laut Halimeda opuntia mengandung
senyawa polifenolik atau flavonoidyang terdiri dari quercitrin, epigallocathecin,
cathecol, hesperidin, miricetin dan morin. Epigallocathecinmerupakan komponen
penting yang digunakan sebagai aktivitas
antioksidan.

Penggunaan

rumput

lautEuceuma spinosum juga merupakan


salah satu alternatif yang dapat dilakukan
adalah sebagai bahan antimikroba. Senyawa
fenol dan turunannya (flavonoid) merupakan salah

satu

antibakteri yang bekerja dengan mengganggu Google


fungsi membran
sitoplasma.
Image, 2014
Adanya senyawa fenol ini menyebabkan perusakan pada membran sitoplasma. Ion
H+ dari senyawa fenol dan turunannya (flavonoid) akan menyerang gugus polar
(gugus fosfat) sehingga molekul fosfolipida pada dinding sel bakteri akan terurai
menjadi gliserol, asam karboksilat dan asam fosfat. Fosfolipida tidak mampu
mempertahankan bentuk membrane sitoplasma akibatnya membran sitoplasma
akan bocor dan bakteri akan mengalami hambatan pertumbuhan bahkan kematian.
Flanovoid mencegah pembentukan energy pada membran sitoplasma dan
menghambat motilitas bakteri, yang juga berperan dalam aksi antimicrobial.

5 | Makalah Manajemen Tata Lingkungan Perikanan Budidaya

2.1.3 Daun Pepaya


Salah

satu

tanaman

yang

dapat

digunakan untuk mengendalikan parasit


Argulus adalah daun pepaya. Kandungan
zat aktif dalam daun pepaya salah satunya
adalah alkaloid carpain (Muhlisah, 2001).
Alkaloid carpain merupakan insektisida
yang mempengaruhi sistem saraf (Sudarmo, 1991). Google
Akibatnya,
impuls
saraf akan
Image,
2014
mengalami stimulasi dan menunjukkan gejala tak terkendali (Burdick, 1971) dan
mengakibatkan Argulus tidak dapat menempel pada inang (Walker, 2005 dalam
Puspitasari et al., 2012).
2.1.4 Bawang Putih
Pengobatan

yang
dengan

selama

ini

dilakukan

adalah

pemberian

antibiotik.

Penggunaan antibiotik pada

skala besar kurang efisien karena selain


tidak ekonomis, dampak yang ditimbulkan
adalah bertambahnya jenis bakteri yang
Image,
2014
resisten terhadap antibiotik dan dapat mencemari Google
lingkungan.
Salah
satu cara

pegobatan alternatif yang efektif adalah dengan menggunakan fitofarmaka. Salah


satu fitofarmaka yang dapat digunakan adalah bawang putih (Allium sativum).
Bawang putih merupakan salah satu tanaman obat yang mengandung zat aktif
allicin dan minyak atsiri. Kedua bahan tersebut diduga sebagai antibakteri untuk
menekan bakteri yang merugikan dan membunuh kuman-kuman penyakit.
Kemampuan

allicin

bergabung dengan protein akan mendukung daya

antibiotiknya, karena allicin menyerang protein mikroba dan akhirnya membunuh


mikroba tersebut (Wahjuningrum et al., 2010 dalam Aniputri et al., 2014).

6 | Makalah Manajemen Tata Lingkungan Perikanan Budidaya

2.2

Kegunaan Bahan Nabati pada Kesehatan

2.2.1 Lengkuas
Menurut

Kris et

al., (2009),

lengkuas

memiliki

potensi

untuk

menyembuhkan penyakit jamur pada ikan, dalam penelitian konsentrasi


LC50 untuk konsentrasi lengkuas terhadap ikan lais (Kryptopterus macrocephalus)
adalah 55,59 (45,77-65,41) mg/L dan konsentrasi yang tepat untuk mengatasi
penyakit jamur pada ikan ini adalah 30,29 mg/L dengan presentase kesembuhan
maksimal sebesar 91,3%.

Dari konsentrasi lengkuas (Alpinia galanga) yang

diperoleh untuk mengatasi penyakit jamur pada ikan lais (Kryptopterus


macrocephalus) diasumsikan bahwa tingkat kesembuhan ini dapat berubah-ubah
tergantung dengan kondisi lingkungan tempat pemeliharaan ikan, daya tahan ikan
dan tingkat keparahan serangan jamur terhadap ikan.
Menurut Kris et al., (2009), Menurut Selama ini pengunaan lengkuas
(Alpinia galanga) sangat efektif dalam memberantas jamur pada ikan domestikasi.
Akan tetapi permasalahannya adalah konsentrasi yang tepat belum ditetapkan,
karena bila dalam jumlah yang banyak lengkuas dapat menjadi racun yang dapat
membahayakan. Sehingga perlu penelitian untuk memperoleh konsentrasi yang
tepat dalam mengobati penyakit jamur pada ikan dengan menggunakan lengkuas
(Alpinia galanga).
2.2.2 Rumput Laut
Menurut

Yunus et

al., (2009),

rumput

laut

spesies Eucheuma

spinosum diharapkan berfungsi sebagai zat antibakteri yang mampu mengontrol


pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophila. Ekstrak rumput lautEusheuma
spinosum terbukti

mampu

berperan

sebagai

antibakteri

terhadap

bakteri Aeromonas hydrophilayaitu bersifat bakteriostatik pada konsentrasi 3%,


6% dan 9%, serta bersifat bakteriosidal pada konsentrasi 12%. Senyawa bioaktif
mampu berperan sebagai anti bakteri/bakteriosidal dengan konsentrasi efektif
12%.
2.2.3 Daun Pepaya
Menurut Burdick (1971) dalam Puspitasari et al., (2012), alkaloid carpain
dapat menekan Central Nervous System (CNS), mengganggu sistem saraf dengan
mengikat protein yang mengatur denyut impuls saraf. Impuls saraf akan

7 | Makalah Manajemen Tata Lingkungan Perikanan Budidaya

mengalami stimulasi secara terus menerus dan rangsangan kepada sucker


terganggu mengakibatkan Argulus menunjukkan gejala tremor/gemetar, gerakan
tak terkendali dan pada akhirnya Argulus akan terlepas dari tubuh ikan komet.
Menurut Puspitasari et al., (2012), Hasil penelitian menunjukkan semakin
besar konsentrasi perasan daun pepaya yang diberikan maka semakin banyak
jumlah Argulus yang lepas dari tubuh ikan komet. Perasan daun pepaya
konsentrasi 30% rata-rata dapat melepaskan sebanyak 88% Argulus yang
menginfestasi ikan komet dengan lama perendaman 20 menit. Pada semua
perlakuan tidak ada ikan yang mengalami kematian, tetapi pergerakan ikan
melemah. Hal ini menunjukkan bahwa perendaman ikan dengan perasan daun
pepaya menggunakan konsentrasi 30% aman digunakan pada ikan dengan lama
waktu perendaman 20 menit.
2.2.4 Bawang Putih
Menurut Aniputri et al., 2014 Konsentrasi ekstrak bawang putih sebesar
45% merupakan konsentrasi yang efektif untuk menghambat pertumbuhan A.
Hydrophila pada uji in vitro. Pada uji in vivo, ekstrak bawang putih menunjukkan
hasil yang berbeda terhadap kelulushidupan, gejala klinis dan penyembuhan luka,
serta pertumbuhan. Dosis terbaik yang didapat untuk penambahan ekstrak bawang
putih pada pakan ikan yaitu sebesar 2,5% untuk tingkat pencegahan dan nilai
kelulushidupan pada ikan nila. Berdasarkan pada hasil penelitian, maka dapat
disimpulkan bahwa ekstrak bawang putih dapat dipergunakan untuk pencegahan
infeksi bakteri A. Hydrophilla dan meningkatkan nilai kelulushidupan ikan nila.
2.3

Kegunaan Bahan Nabati pada Lingkungan

2.3.1 Lengkuas
Menurut Selviana et al., (2009), Dari pengukuran parameter kualitas air
tersebut, diperoleh hasil bahwa setelah 2 hari diaerasi media uji mengalami
peningkatan kadar oksigen terlarut (DO) dan penurunan tingkat konduktivitas
(Conductivity). Sebelum diaerasi oksigen terlarut di media uji adalah 2,98 mg/L
dan setelah diaerasi meningkat menjadi 5,95 mg/L, sedangkan konduktivitas
sebelum diaerasi adalah 24,50 S/cm dan setelah diaerasi menjadi 19,31 S/cm.
Untuk pH dan suhu setelah diaerasi tidak menunjukkan perubahan yang signifikan
yaitu dengan kisaran pH adalah 5,35 dan kisaran suhu adalah 28 oC.

8 | Makalah Manajemen Tata Lingkungan Perikanan Budidaya

Menurut Sumayani et al., 2008, Berdasarkan pengamatan secara visual,


media mulai jernih pada konsentrasi 0,39% dengan nilai OD rata-rata sebesar
0,021, sedangkan media mulai keruh pada konsentrasi 50% dan 100% dengan
nilai OD rata rata sebesar 0,861 dan 0,808. Benson (2002) menyatakan bahwa
ada hubungan sebanding antara jumlah sel bakteri dengan absorban (OD). Dengan
demikian maka semakin jernih media maka nilai OD juga semakin rendah dan
sebaliknya semakin keruh media maka nilai OD juga semakin tinggi. Hal ini
disebabkan karena nilai OD yang terbaca spektrofotometer merupakan nilai
banyaknya partikel yang terserap oleh spektrofotometer, dalam hal ini adalah
partikel partikel dari perasan rimpang lengkuas dan partikel dari bakteri
Aeromonas hydrophila. Namun, hasil pada penelitian menunjukkan bahwa
kekeruhan tersebut lebih banyak disebabkan oleh banyaknya partikel dari perasan
rimpang lengkuas.
Kekeruhan yang terjadi disebabkan karena partikel perasan rimpang
lengkuas tidak dapat larut sempurna dengan air. Hal ini disebabkan karena adanya
gugus fungsi hidrokarbon yang non polar pada rimpang lengkuas (Rahayu
dkk.,2002). Molekul hidrokarbon yang non polar tidak melarut dalam air sehingga
molekul air menjadi lebih tersusun di sekitar molekul hidrokarbon (Nogrady,
1992). Dengan demikian maka semakin tinggi konsentrasi maka semakin banyak
molekul hidrokarbon non polar yang terdapat di dalamnya sehingga semakin sulit
larut dengan air dan sebaliknya semakin rendah konsentrasi maka semakin sedikit
molekul hidrokarbon non polar yang terdapat di dalamnya sehingga lebih mudah
melarut dengan air. Hal ini juga disebabkan karena adanya tingkat kepekatan yang
tinggi pada perasan rimpang lengkuas.
2.3.2 Rumput Laut
Menurut Yunus et al., (2009), berbeda dengan obat-obatan maupun senyawa
antibakteri seperti antibiotik, obat-obatan yang berasal dari alam, seperti rumput
laut belum memiliki standart daya hambat yang dibakukan. Pada penelitian ini
belum dapat dilakukan penggolongan tingkat sensitifitas dan resistensi
Aeromonas hydrophila terhadap ekstrak rumput laut. Namun dari hasil penelitian
dapat member informasi bahwa konsentrasi ekstrak rumput laut yang berbeda
mempengaruhi diameter daerah hambatan yang terbentuk.

9 | Makalah Manajemen Tata Lingkungan Perikanan Budidaya

10 | Makalah Manajemen Tata Lingkungan Perikanan Budidaya

2.3.3 Daun Pepaya


Menurut Puspitasari et al., (2012), Hasil pengamatan tingkah laku ikan
secara garis besar menunjukkan tingkah laku ikan setelah direndam dalam perasan
daun pepaya hampir sama dengan tingkah laku ikan yang sehat. Ikan pada saat
direndam dalam perasan daun pepaya 20%, 25% dan 30% memiliki pergerakan
operkulum lebih cepat dibandingkan ikan yang sehat. Adanya penurunan
kandungan oksigen terlarut, mengakibatkan ikan akan mempercepat gerakan
operkulum untuk mendapatkan gas oksigen dengan cepat sesuai kebutuhan
respirasinya. Berdasarkan hasil pengamatan kualitas air, kondisi suhu dan DO
pada air perlakuan masih dikatakan baik karena masih dalam kisaran dimana ikan
komet masih dapat hidup. Perasan daun pepaya 30% dengan lama perendaman
20 menit aman digunakan sebagai pengendali investasi Argulus pada ikan komet.
2.3.4 Bawang Putih
Parameter kualitas air yang diamati adalah suhu, pH, DO dan amoniak yang
diukur sebelum perlakuan dan akhir perlakuan. Kualitas air selama perlakuan
menunjukkan kisaran suhu 24,4 26,00C, pH 8,03 8,30, DO 3,45 3,96 mg/L,
amoniak 0,16 0,22 mg/L, sehingga kualitas air selama perlakuan menunjukkan
kualitas air yang layak untuk kehidupan ikan nila. Kisaran toleransi kualitas air
untuk ikan nila yaitu, suhu 23 340C dan pH 5 8,9 (Khairuman dan Amri,
2012), nilai DO 3 7 mg/L (Siniwoko, 2013), nilai amoniak < 0,3 ppm (Saparinto
dan Susiana, 2011 dalam Aniputri et al., 2014 ).

11 | Makalah Manajemen Tata Lingkungan Perikanan Budidaya

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
3.2 Saran

12 | Makalah Manajemen Tata Lingkungan Perikanan Budidaya

DAFTAR PUSTAKA
Aniputri, F. D; Johannes, H dan Subandiyono. 2014. PENGARUH EKSTRAK
BAWANG

PUTIH

(Allium

sativum)

TERHADAP

TINGKAT

PENCEGAHAN INFEKSI BAKTERI Aeromonas hydrophila DAN


KELULUSHIDUPAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus). Journal of
Aquaculture Management and Technology. Vol 3 No 2 hal 1-10
Kris, B., Ardianor dan Berkat. 2009. Penentuan Konsentrasi Tepat Tanaman Obat
Lengkuas (Alpinia galangal) dalam Mengatasi Penyakit Jamur pada
Ikan Lais (Kryptopterus macrocephalus) yang Didomestikasi. Journal of
Tropical Fisheries. Vol 4 No 2 hal 397-407.
Puspitasari, P; Kismiyati dan Laksmi, S. PERASAN DAUN PEPAYA (Carica
papaya L.) SEBAGAI PENGENDALI INFESTASI

Argulus PADA

IKAN KOMET (Carassius auratus auratus). Fakultas Perikanan dan


Kelautan Universitas Airlangga. Jurnal Ilmiah Perikanan dan Kelautan
Vol. 4 No. 1.
Selviana E., Tutwuri H. dan Lilia. 2009. Penentuan Konsentrasi Lengkuas
(Alpinia galangal) untuk Mengatasi Penyakit Jamur pada Ikan Nila (O.
Niloticus). Journal of Tropical Fisheries. Vol 4 No 2 hal 431-441.
Sumayani; Rahayu, K dan Yudi, C. 2008. DAYA ANTIBAKTERI PERASAN
RIMPANG LENGKUAS ( Alpinia galanga) DENGAN KONSENTRASI
BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN Aeromonas hydrophila
SECARA IN VITRO. Program Studi Budidaya Perairan Fakultas
Kedokteran Hewan Universitas Airlangga. Berkala Ilmiah Perikanan
Vol. 3 No. 1.
Yunus, Apri Arisandi, dan Indah Wahyuni Abida. 2009. Daya Hambat Ekstrak
Metanol Rumput Laut (Euchema spinosum) terhadap Bakteri Aeromonas
hydrophila. Jurnal Kelautan. Volume 2 No.2 hal 16-24 ISSN : 19079931.

13 | Makalah Manajemen Tata Lingkungan Perikanan Budidaya