Anda di halaman 1dari 13

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian

Propinsi Sulawesi Utara

POTENSI AGENS HAYATI Trichoderma spp. SEBAGAI AGENS


PENGENDALI HAYATI
Nurmasita Ismail, Andi Tenrirawe
Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Sulawesi Utara
Jl. Kampus Pertanian Kalasey

ABSTRAK
Kemajuan ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi budidaya tanaman yang dilakukan perlu
berorientasi pada pemanfaatan sumber daya alam yang efektif penggunaannya, sehingga
tercipta keseimbangan lingkungan yang dapat menjamin kelangsungan hidup manusia dan
spesies lainnya. Serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) hingga saat ini masih
merupakan masalah utama yang membatasi produksi terutama untuk daerah-daerah yang
mempunyai iklim tropis. Sementara, penggunaan pestisida sintetik dalam mengendalikan OPT
mempunyai resiko yang besar karena dapat menyebabkan resistensi, resurgensi, pencemaran
lingkungan, musnahnya musuh alami, timbulnya residu pestisida dalam tanaman dan
sebagainya. Pengendalian hayati diharapkan dapat mengurangi efek samping dari penggunaan
pestisida dalam mengendalikan serangan OPT. Salah satu agens hayati yang telah banyak
dilaporkan adalah Trichoderma spp.. Trichoderma spp. merupakan jamur antagonis yang
mampu menghambat perkembangan patogen melalui proses, mikroparasitisme, antibiosis dan
kompetesi. Makalah ini bertujuan untuk memaparkan informasi hasil-hasil penelitian tentang
pemanfaatan Trichoderma spp. sebagai pengendalian hayati yang berwawasan lingkungan.
Kata kunci : Agens Hayati, Trichoderma spp., Mikroparasitisme

PENDAHULUAN
Pertanian merupakan suatu bidang kegiatan usaha yang tidak akan lepas
dari kehidupan manusia dan alam, sebab secara hirarkhi di ekosistem beberapa
komponen kehidupan membentuk mata rantai yang saling mempengaruhi,
terputusnya salah satu mata rantai tersebut akan mengakibatkan atau
berpengaruh terhadap kelangsungan makhluk hidup yang lain sehingga harus
dilestarikan.
Kemajuan ilmu pengetahuan dan penerapan teknologi budidaya
tanaman yang dilakukan perlu berorientasi pada pemanfaatan sumber daya
alam yang efektif penggunaannya, sehingga dapat terciptan keseimbangan
lingkungan yang dapat menjamin kelangsungan hidup manusia dan spesies
lainnya.

Potensi Agens Hayati Trichoderma Sp

177

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian


Propinsi Sulawesi Utara

Pada saat ini upaya pengendalian terhadap hama dan penyakit tanaman
masih mengandalkan penggunaan pestisida sebagai upaya pengendalian utama.
Kenyataannya menunjukkan bahwa upaya pengendalian dengan menggunakan
senyawa kimia bukan merupakan alternative yang terbaik, karena sifat racun
yang terdapat dalam senyawa tersebut dapat meracuni manusia, ternak piaraan,
serangga penyerbuk, musuh alami, tanaman, serta lingkungan yang dapat
menimbulkan polusi bahkan pemakaian dosis yang tidak tepat bias membuat
hama dan penyakit menjadi resisten. Selain itu dengan adanya aplikasi
pestisida sintetik yang tidak bijaksana dapat memicu timbulnya pathogen yang
resisten terhadap pestisida sistetik yang digunakan.
Berdasarkan hal tersebut maka perlu diambil alternatif pengendalian
yang efektif terhadap penyebab penyakit tanaman tanpa mengandalkan
fungisida sistetik. Pengendalian biologi (hayati) menunjukkan alternatif
pengedalian yang dapat dilakukan tanpa harus memberikan pengaruh negatif
terhadap lingkungan dan sekitarnya, salah satunya adalah dengan pemanfaatan
agens hayati seperti virus, jamur atau cendawan, bakteri atau aktiomisetes.
Beberapa jamur atau cendawan mempunyai potensi sebagai agens hayati dari
dari jamur patogenik diantaranya adalah Trichoderma spp. (Baker dan
Cook,1983 dalam Tindaon, 2008). Jamur Trichoderma spp. digunakan sebagai
jamur atau cendawan antagonis yang mampu menghambat perkembangan
patogen melalui proses mikroparasitisme, antibiosis, dan kompetisi (Mukerji
dan Garg, 1988 dalam Rifai, et. al., 1996).
Potensi jamur Trichoderma spp. sebagai jamur antagonis yang bersifat
preventif terhadap serangan penyakit tanaman telah menjadikan jamur tersebut
semakin luas digunakan oleh petani dalam usaha pengendalian organism
pengganggu tumbuhan (OPT). Disamping karakternya sebagai antagonis
diketahui pula bahwa Trichoderm spp. juga berfungsi sebagai dekomposer
dalam pembuatan pupuk organik. Aplikasi jamur Trichoderma spp. pada
pembibitan tanaman guna mengantisipasi serangan OPT sedini mungkin
membuktikan bahwa tingkat kesadaran petani akan arti penting perlindungan
preventif perlahan telah tumbuh.
TUJUAN
Penulisan ini bertujuan untuk memaparkan hasil hasil penelitian
tentang pemanfaatan agens hayati Trichoderma spp. dalam mengendalikan
penyakit tanaman.

178

Potensi Agens Hayati Trichoderma Sp

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian


Propinsi Sulawesi Utara

KARAKTERISTIK Trichoderma spp.


Biologi Trichoderma spp.
Menurut Streets (1980) dalam Tindaon (2008), Trichoderma spp.
diklasifikasikan dalam Kingdom Plantae,Devisio Amastigomycota,Class
Deutromycetes,Ordo Moniliales, Famili Moniliaceae,Genus Trichoderma,
Spesies Trichoderma spp.. Cendawan marga Trichoderma terdapat lima jenis
yang mempuyai kemampuan untuk mengendalikan beberapa patogen yaitu
Trichorderma harzianum, Trichorderma koningii, Trichorderma viride,
Trichoderma hamatum dan Trichoderma polysporum. Jenis yang banyak
dikembangkan di Indonesia antara lain Trichorderma harzianum,
Trichorderma
koningii,
Trichoderma
viride
(Anonim,
2010).
Trichoderma spp. memiliki konidiofor bercabang cabang teratur,
tidak membentuk berkas, konidium jorong, bersel satu, dalam kelompokkelompok kecil terminal, kelompok konidium berwarna hijau biru (Semangun,
1996). Trichoderma spp. juga berbentuk oval, dan memiliki sterigma atau
phialid tunggal dan berkelompok (Barnet, 1960 dalam Nurhaedah,2002).
Morfologi Trichoderma spp..
Koloni Trichoderma spp. pada media agar pada awalnya terlihat
berwarna putih selanjutnya miselium akan berubah menjadi kehijau-hijauan
lalu terlihat sebagian besar berwarna hijau ada ditengah koloni dikelilingi
miselium yang masih berwarna putih dan pada akhirnya seluruh medium akan
berwarna hijau (Umrah, 1995 dalam Nurhayati, 2001).
Koloni pada medium OA (20oC) mencapai diameter lebih dari 5 cm
dalam waktu 9 hari, semula berwarna hialin, kemudian menjadi putih kehijauan
dan selanjutnya hijau redup terutama pada bagian yang menunjukkan banyak
terdapat konidia. Konidifor dapat bercabang menyerupai piramida, yaitu pada
bagian bawah cabang lateral yang berulang-ulang, sedangkan kearah ujung
percabangan menjadi bertambah pendek. Fialid tampak langsing dan panjang
terutama apeks dari cabang, dan berukuran (2,8-3,2) m x (2,5-2,8) m, dan
berdinding halus. Klamidospora umumnya ditemukan dalam miselia dari
koloni yang sudah tua, terletak interkalar kadang terminal, umumnya bulat,
berwarna hialin, dan berdinding halus (Gandjar,dkk., 1999 dalam Tindaon,
2008).
Mekanisme Antagonis Trichoderma spp.
Mikroorganisme antagonis adalah mikroorganisme yang mempunyai
pengaruh yang merugikan terhadap mikroorganisme lain yang tumbuh dan
berasosiasi dengannya. Antagonis meliputi (a) kompetisi nutrisi atau sesuatu

Potensi Agens Hayati Trichoderma Sp

179

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian


Propinsi Sulawesi Utara

yang lain dalam jumlah terbatas tetapi tidak diperlukan oleh OPT, (b) antibiosis
sebagai hasil dari pelepasan antibiotika atau senyawa kimia yang lain oleh
mikroorganisme dan berbahaya bagi OPT, dan (c) predasi, hiperparasitisme,
dan mikroparasitisme atau bentuk yang lain dari eksploitasi langsung terhadap
OPT oleh mikroorganisme yang lain (Istikorini, 2002 dalam Gultom, 2008).
Trichoderma spp. merupakan salah satu jamur antagonis yang telah
banyak diuji coba untul mengendalikan penyakit tanaman (Lilik,dkk., 2010).
Sifat antagonis Cendawan Trichoderma spp. telah diteliti sejak lama.
Inokulasi Trichoderma spp. ke dalam tanah dapat menekan serangan penyakit
layu yang menyerang di persemaian, hal ini disebabkan oleh adanya pengaruh
toksin yang dihasilkan cendawan ini (Khairul, 2000). Selain itu Trichoderma
spp.. mempunyai kemampuan berkompetisi dengan patogen tanah terutama
dalam mendapatkan Nitrogen dan Karbon (Cook dan Baker, 1983 dalam
Djatmiko dan Rohadi, 1997).
Menurut Harman (1998) dalam Gultom (2008), mekanisme utama
pengendalian patogen tanaman yang bersifat tular tanah dengan menggunakan
cendawan Trichoderma spp.. dapat terjadi melalui :
a. Mikoparasit (memarasit miselium cendawan lain dengan menembus
dinding sel dan masuk kedalam sel untuk mengambil zat makanan dari
dalam sel sehingga cendawan akan mati).
b. Menghasilkan antibiotik seperti alametichin, paracelsin, trichotoxin yang
dapat menghancurkan sel cendawan melalui pengrusakan terhadap
permeabilitas membran sel, dan enzim chitinase, laminarinase yang dapat
menyebabkan lisis dinding sel.
c. Mempunyai kemampuan berkompetisi memperebutkan tempat hidup dan
sumber makanan.
d. Mempunyai kemampuan melakukan interfensi hifa. Hifa Trichoderma
spp.. Akan mengakibatkan perubahan permeabilitas dinding sel.
Trichoderma spp. adalah jenis cendawan yang tersebar luas di tanah, dan
mempunyai sifat mikoparasitik. Mikoparasitik adalah kemampuan untuk
menjadi parasit cendawan lain. Sifat inilah yang dimanfaatkan sebagai
biokontrol terhadap jenis-jenis cendawan fitopatogen. Beberapa cendawan
fitopatogen penting yang dapat dikendalikan oleh Trichoderma spp. antara lain
: Rhizoctonia solani, Fusarium spp, Lentinus lepidus, Phytium spp, Botrytis
cinerea, Gloeosporium gloeosporoides, Rigidoporus lignosus dan Sclerotium
roflsii yang menyerang tanaman jagung, kedelai, kentang, tomat, dan kacang
buncis, kubis, cucumber, kapas, kacang tanah, pohon buah- buahan, semak dan
tanaman hias (Wahyudi, 2002 dalam Tindaon, 2008).

180

Potensi Agens Hayati Trichoderma Sp

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian


Propinsi Sulawesi Utara

POTENSI Trichoderma spp.. SEBAGAI AGENS HAYATI


Pengertian agens hayati menurut FAO (1997) dalam Supriadi (2006)
yaitu organisme yang dapat berkembang biak sendiri seperti parasitoid,
predator, parasit, arthropoda pemakan tumbuhan, dan patogen. Agens hayati
yang digunakan untuk mengendalikan penyakit disebut agens antagonis,
pemanfaatan agens hayati dalam menekan perkembangan penyakit terus
dikembangkan dan dimasyaratkan ke petani (Lilik, dkk., 2010). Salah satu
metode pengendalian penyakit tanaman dengan menggunakan mikroorganisme
antagonis yang sekarang banyak dikembangkan yaitu dengan menggunakan
cendawan atau bakteri nonparasitik (Djatmiko dan Rohadi, 1997).
Penggunaan cendawan antagonis sebagai pengendali patogen
merupakan salah satu alternatif yang dianggap aman dan dapat memberikan
hasil yang cukup memuaskan (Darmono, 1994). Pengendalian hayati terhadap
patogen dengan menggunakan mikroorganisme antagonis dalam tanah
memiliki harapan yang baik untuk dikembangkan karena pengaruh negatif
terhadap lingkungan tidak ada.
Rasminah (1995)
dalam Khaeruni (2010) menyatakan bahwa
pemanfaatan mikroorganisme sebagai agens pengendalian nampaknya masih
perlu dikembangkan. Pengembangan penggunaan mikroorganisme tersebut
perlu dilandasi pengetahuan jenis-jenis mikroorganisme, jenis-jenis penyakit
dan juga mekanisme pengendalian penyakit tanaman dengan menggunakan
mikroorganisme. Pemanfaatan ini diharapkan dapat membantu pengendalian
penyakit tanpa mengganggu kondisi lingkungan.
Pengendalian hayati dengan menggunakan agens hayati seperti
Trichoderma spp. yang terseleksi ini sangatlah diharapkan dapat mengurangi
ketergantungan dan mengatasi dampak negatif dari pemakaian pestisida
sintetik yang selama ini masih dipakai untuk pengendalian penyakit tanaman di
Indonesia (Purwantisari dan Hastuti, 2009).
PEMANFAATAN Trichoderma spp. DALAM MENGENDALIKAN
PENYAKIT TANAMAN
Hasil-hasil penelitian tentang Trichoderma spp. dan kemampuannya
sebagai agen pengendalian hayati telah banyak dilaporkan. Trichoderma spp.
yang dinfestasikan kedalam tanah dilaporkan oleh Rifai,dkk., (1996) mampu
menekan serangan Phytium sp pada tanaman Kedelai.
Data mereka
menunjukkan bahwa semakin panjangnya jarak antara infestasi T. viride
dengan saat saat dating Phytium cenderung semakin menurunkan intensitas dan
persentase bibit dan benih yang terserang Phytium spp. Penelitian lainnya

Potensi Agens Hayati Trichoderma Sp

181

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian


Propinsi Sulawesi Utara

dilakukan oleh Sulistiyowati, dkk., (1997) dengan menggunakan cendawan uji


Sclerotium roflsii. Hasil pengujian secara invitro Trichoderma spp.. mampu
menghambat pertumbuhan S. rolfsii sebesar 53,89%. Sedangkan hasil
pengujian di rumah kaca menunjukkan bahwa cara aplikasi Trichoderma spp.
melalui tanah yang menyebabkan saat penyakit lebih lambat yakni 12-14 hari
dibandingkan dengan cara penyelaputan benih (7-8 hari).
Talanca, dkk., (1998) dengan mengutip beberapa penulis lain
memberikan penjelasan bahwa kemampuan antagonis Trichoderma spp.
berhubungan dengan mekanisme-mekanisme berikut :
a. Trichoderma spp. mengeluarkan toksin yang menyebabkan
terlambatnya pertumbuhan bahkan mematikan inangnya
b. Trichoderma spp. menghasilkan enzim hidrolitik -1,3 glukanase,
kitinase dan selulase.
Menurut Ismujiwanto, et.al., (1996), aplikasi T. viride dengan kompos
jerami dapat menurunkan intensitas serangan Fusarium oxysporum pada
pangkal batang dan akar tanaman vanili. Penelitian yang dilakukan oleh
Darmono (1994) tentang aplikasi Trichoderma spp.. dengan menggunakan
dedak ternyata dapat menekan serangan Phytophthora spp. di dalam jaringan
buah kakao. Hasil penelitian Djatmiko dan Rohadi (1997) menunjukkan pelet
T. harzianum yang diperbanyak dalam sekam padi dan bekatul mempunyai
kemampuan menekan patogenitas Plasmodiophora brassicea dan penyakit
akar gada, baik pada tanah andosol maupun latosol. Pelet T. harzianum 61
g/pot, merupakan perlakuan paling baik dalam memperkecil diameter akar
gada, bobot akar gada dan intensitas penyakit akar gada.
Penyakit busuk daun dan umbi tanaman kentang yang disebabkan oleh
cendawan P. infestans merupakan masalah yang sangat serius untuk petani
kentang, hal ini disebabkan sangat pentingnya penyakit ini dalam merusak
jaringan tanaman, dan serangan patogen yang dapat mencapai 90% penurunan
produksi dari total produksi kentang. Dari hasil penelitian yang dilakukan oleh
Purwantisari dan Hastuti (2009), menunjukkan bahwa penghambatan
cendawan Trichoderma spp. mampu menghambat pertumbuhan cendawan P.
infestans pada medium PDA. Persentase penghambatan Trichoderma spp.
terhadap pertumbuhan P. infestans dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini :

182

Potensi Agens Hayati Trichoderma Sp

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian


Propinsi Sulawesi Utara

Tabel 1. Persentase penghambatan Trichoderma spp. terhadap pertumbuhan


cendawan P. infestans dengan metode biakan ganda
Persentase penghambatan (%)
Ulangan
Hari ke 3
Hari ke 4
Hari ke 5
Hari ke 6
Hari ke 7
1
12
25
30,56
32,50
41,30
2
4,55
15,38
31,43
38,10
48
3
9,09
16
18,52
20
31,25
Rata-rata
8,55
18,79
26,84
30,20
40,18
Sumber Purwantisari dan Hastuti (2009)
Pengamatan penghambatan pertumbuhan P. infestans dilakukan sejak inkubasi
3 hari sampai hari ketujuh. Pada hari pertama dan kedua selama pengamatan,
belum terjadi mekanisme penghambatan oleh kedua cendawan, pada hari
ketiga barulah tampak bahwa pertumbuhan kedua biakan saling mendekati,
sehingga terbentuklah zona penghambatan bagi P. infestans (lebih dari 5 mm).
Zona penghambatan ini tidak tetap selama pengamatan, sampai hari ketujuh
lebar zona bening yang terbentuk semakin menyempit (kurang dari 5 mm).
Mekanisme penghambatan yang terjadi pada uji antagonisme ini adalah
antibiosis dan hiperparasit yang ditandai dengan terbentuknya zona bening
yang merupakan zona penghambatan pertumbuhan P. infestans (antibiosis) dan
pertumbuhan miselium Trichoderma spp. yang menutupi seluruh permukaan
medium termasuk koloni P. infestans (hiperparasit). Adanya hambatan
perkembangan koloni patogen P. infestans oleh cendawan antagonis
Trichoderma spp. disebabkan karena pertumbuhan cendawan Trichoderma
spp. lebih cepat dibanding cendawan patogen. Hal ini didukung oleh
pernyataan Golfarb, et.al., (1989) dalam Purwantisari dan Hastuti (2009)
bahwa cendawan yang tumbuh cepat mampu menggunguli dalam penguasaan
ruang dan pada akhirnya dapat menekan pertumbuhan cendawan lawannya.
Selain itu diduga karena selulase yang dimiliki oleh Trichoderma spp.. Akan
merusak dinding sel selulosa cendawan patogen P. infestans, sesuai dengan
pernyataan Salma dan Gunarto (1999) bahwa Trichoderma spp.. Mampu
menghasilkan selulase untuk mengurai selulosa menjadi glukosa. Selulosa
merupakan komponen utama penyusun dinding sel cendawan patogen P.
infestans.
Sclerotium roflsii Sacc merupakan cendawan patogen tular tanah dan
bersifat polifag. Menurut Hardiningsih (1993) dalam Sulistyowati, dkk.,
(1997) melaporkan bahwa penyakit busuk batang yang disebabkan oleh infeksi
S. roflsii yang menyerang tanaman kedelai pada masa vegetative dapat
menyebabkan tanaman mati. Menurut Semangun (1994), bahwa S. roflsii

Potensi Agens Hayati Trichoderma Sp

183

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian


Propinsi Sulawesi Utara

menghasilkan sklerotia yang tahan terhadap suhu tinggi dan kekeringan.


Bahkan di dalam tanah dapat bertahan 6-7 tahun. Hal ini menimbulkan
kesulitan besar bagi usaha mengurangi inokulum penyakit dalam tanah.
Upaya pengendalian penyakit tanaman yang disebabkan oleh cendawan
S. roflsii dapat dilakukan dengan memanfaatkan Trichoderma spp.. Hal ini
sesuai dengan apa yang dikemukakan oleh Papavizaz (1985) dalam
Sulistyowati, dkk., (1997), bahwa pengendalian penyakit busuk batang
sklerotium juga dapat dilakukan secara hayati dengan menggunakan cendawan
antagonis, misalnya Trichoderma spp.. Hal ini dapat dilihat dari hasil
penelitian Nurhayati (2001), dimana dapat diketahui bahwa daya hambat
Trichoderma spp. terhadap infeksi S. roflsii pada akar bibit cabai.

184

Potensi Agens Hayati Trichoderma Sp

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian


Propinsi Sulawesi Utara

Tabel 2. Daya Hambat Trichoderma spp. Terhadap Infeksi S. roflsii pada Akar
Bibit Cabai
Waktu Pengamatan (hari ke)
Intensitas daya hambat Trichoderma
spp.
21
20,18%
28
30,00%
35
30,80%
(Sumber : Nurhayati, 2001).
Dari Tabel 2 tampak bahwa intensitas daya hambat Trichoderma spp.
pada hari ke 21 (20,18%) meningkat sebesar 9,28% pada hari ke 28 menjadi
30%. Sedangkan pada hari ke 35 intensitas daya hambat meningkat 0,80%
menjadi 30,80%. Dalam penelitian ini penghambatan Trichoderma spp.
terhadap infeksi S. roflsii terus meningkat. Secara umum hasil penelitian ini
menunjukkan bahwa pemberian Trichoderma spp. ke dalam tanah menghambat
daya infeksi S. roflsii. Mekanisme penghambatan dari Trichoderma spp.
terhadap infeksi S. roflsii dapat terjadi melalui beberapa mekanisme
diantaranya dengan memproduksi senyawa gliotoksin dan viridian yang
bersifat toksik terhadap cendawan lain (Cook dan Baker, 1989 dalam
Sumartini, dkk., 1994).
Penyakit yang sering menyerang tanaman Cabai adalah busuk buah
yang disebabkan oleh cendawan Colletotrichum capsici. Cendawan C. capsici
dapat bertahan dilapangan pada sisa tanaman sakit. Apabila keadaan atau
kondisi lingkungan sesuai seperti hujan terus menerus dan kelembaban tinggi,
maka perkembangan penyakit lebih cepat dari lahan satu ke lahan lainnya
(sastrahidayat, 1988). Dari hasil penelitian Baharia (2000) menunjukkan
bahwa Trichoderma spp. mampu menghambat pertumbuhan C. capsici pada
media PSA maupun pada buah Cabai. Salah satu factor yang menyebabkan
pertumbuhan C. capsici terhambat karena cendawan Trichoderma spp. dapat
mengeluarkan toksin yang menyebabkan terhambatnya pertumbuhan dan
bahkan mematikan inangnya. Dari hasil penelitian Nurhaedah (2002), tentang
pengaruh aplikasi Trichoderma spp. dan mulsa terhadap persentase serangan
penyakit antraknosa pada buah tanaman cabai merah besar, dapat dilihat pada
tabel dibawah ini :

Potensi Agens Hayati Trichoderma Sp

185

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian


Propinsi Sulawesi Utara

Tabel 3. Persentase serangan Antraknosa pada Panen I, II dan III


Perlakuan Trichoderma spp.
Panen
P0 (tanpa Trichoderma P1 (aplikasi Trichoderma
spp.)
spp.)
Panen I
40,47%
42,69%
Panen II
47,14% a
35,71% b
Panen III
49,53% a
30,14% b
Hasil analisis statistik pada panen I, menunjukkan bahwa perlakuan
Trichoderma spp. tidak memberikan pengaruh yang nyata terhadap persentase
serangan penyakit antraknosa. Penyebab terjadinya hal tersebut, diduga karena
Trichoderma spp. belum berinteraksi dengan cendawan C. capsici sebagai
akibat dari : (1) ruang tumbuh yang masih cukup untuk pertumbuhan
Trichoderma spp. dan (2) media tumbuh yang mengandung bahan organik
sehingga Trichoderma spp. masih memanfaatkan nutrisi yang ada pada media
tersebut. Litshitz,et.al., (1986) dalam Talanca (1998) mengemukakan bahwa
mekanisme antagonis antara Trichoderma spp. terhadap patogen merupakan
interaksi bersifat mikroparasitisme yang dimulai setelah hifa parasit melakukan
kontak fisik dengan hifa inang. Selanjutnya aktivitas biologis dalam tanah
terjadi karena mikroorganisme antagonis berkompetisi dalam hal makanan,
menghaislkan antibiotik yang bersifat racun dan melakukan parasitisme
terhadap patogen (Djafaruddin, 2000).
Pada Panen kedua dan ketiga perlakuan Trichoderma spp. berpengaruh
nyata terhadap persentase serangan penyakit antraknosa. Hal tersebut
dibuktikan dengan rendahnya persentase serangan penyakit pada perlakuan
Trichoderma spp. (P1) yaitu rata-rata 35,71% bila dibandingkan dengan
perlakuan tanpa Trichoderma spp. (P0) yaitu mencapai 47,14% pada panen
kedua. Pada panen ketiga persentase serangan rata-rata 30,14% pada perlakuan
Trichoderma spp. sedangkan pada perlakuan tanpa Trichoderma spp. rata-rata
44,53%. Terjadinya penurunan persentase serangan penyakit berarti bahwa
Trichoderma spp. telah mampu menekan pertumbuhan patogen antraknosa.
Hal ini diduga disebabkan oleh pertumbuhan yang cepat dan adanya sifat
antagonis dari cendawan Trichoderma spp..
Mukerji dan Garg (1986) dalam Djatmiko dan Rohadi (1997)
melaporkan bahwa mikroorganisme antagonis terutama Trichoderma spp..
Mempunyai kemampuan berkompetisi dengan patogen terbawa tanah terutama
dalam mendapatkan nitrogen dan karbon. Selain itu, cendawan Trichoderma
spp.. Mempunyai kemampuan untuk menghasilkan enzim hidrolitik 1,3
glukanase, kitinase dan selulase. Enzim-enzim inilah yang secara aktif
merusak sel-sel jamur yang sebagian besar tersusun dari
1,3 glukan

186

Potensi Agens Hayati Trichoderma Sp

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian


Propinsi Sulawesi Utara

(linamirin) dan kitin sehingga dengan mudah jamur Trichoderma spp.. Dapat
melakukan penetrasi ke dalam hifa jamur inangnya (Harman dan Elad, 1983
dalam Talanca,dkk., 1998).

KESIMPULAN
Dari penulisan diatas dapat disimpulkan bahwa Trichoderma spp.
mempunyai potensi yang baik untuk dikembangkan sebagai agens hayati dalam
pengendalian penyakit tanaman, hal ini dikarenakan sifat Trichoderma spp.
sebagai cendawan antagonis yang dianggap aman bagi lingkungan karena
cendawan ini berasal dari tanah dan dapat berfungsi sebagai pengurai unsur
hara tanaman serta dalam pengendalian penyakit memberikan hasil yang cukup
memuaskan.

DAFTAR PUSTAKA
Anonim,
2010.
Contoh
Proposal
Penelitian-Aplikasi.
http://ekyowinnersnews.blogspot.com/2010/05/contok-proposalpenelitian-aplikasi.html, Akses 10 Agustus 2010
Baharia, S., 2000. Uji Antagonis Beberapa Isolat Cendawan Trichoderma
Terhadap Pertumbuhan Colletotrichum capsici pada Buah Cabai. Skripsi
Fakultas Pertanian UNTAD, Palu.
Darmono, T. W., 1994. Kemampuan beberapa isolat Trichoderma spp..
Dalam Menekan Inokulum Phytophthora sp. di dalam Jaringan Buah
Kakao. Menara Perkebunan 62 : 2 :25-29.
Djatmiko, H.A., dan Rohadi, S.S., 1997. Efektivitas Trichoderma harzianum
Hasil Perbanyakan dalam Sekam Padi dan Bekatul Terhadap
Patogenesitas Plasmodiophora brassicae pada Tanah latosol dan
Andosol. Majalah Ilmiah UNSOED, Purwokerto 2 : 23 : 10-22.
Djafaruddin, 2000. Dasar-dasar Perlindungan Penyakit Tanaman.
Aksara, Jakarta

Budi

Gultom, J.M., 2008. Pengaruh Pemberian Beberapa Jamur Antagonis dengan


Berbagai Tingkat Konsentrasi Untuk Menekan Perkembangan Jamur

Potensi Agens Hayati Trichoderma Sp

187

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian


Propinsi Sulawesi Utara

Phytium sp Penyebab Rebah Kecambah pada Tanaman Tembakau


(Nicotiana tabaccum L.) http://repository.usu.ac.id.pdf Akses 10 Agustus
2010
Ismujiyanto, S. B., Aeny, T.N., Ginting, C., 1996. Pengaruh Cendawan
Antagonis Trichoderma viride
dan Kompos Terhadap Intensitas
Serangan Fusarium oxysporum Schl. F. Sp. Vanillae (TUCKER) Gordon
Penyebab Penyakit Busuk Batang pada Tanaman Panili (Vanilla plafolia
Andrews). JPP. Vol. VIII. No 8 Agustus, hal 85-90
Khaeruni, A.R., 2010. Penyakit Hawar Daun Bakteri Pada Padi: Masalah dan
Upaya
Pemecahannya.
http://www.rudyct.
com/PPS702ipb/03112/andi_khaeruni.htm
Lilik, R., Wibowo, B.S., Irwan, C., 2010. Pemanfaatan Agens Antagonis
dalam Pengendalian Penyakit Tanaman Pangan dan Hortikultura.
http://www.bbopt.litbang.deptan.go.id akses 30 Agustus 2010.
Nurhayati, H., 2001. Pengaruh Pemberian Trichoderma sp. Terhadap Daya
Infeksi dan Ketahanan Hidup Sclerotium roflsii pada Akar Bibit Cabai.
Skripsi Fakultas Pertanian UNTAD, Palu
Nurhaedah, 2002. Pengaruh Aplikasi Trichoderma sp. Dan Mulsa Terhadap
Persentase Serangan Penyakit Antraknosa pada Buah Tanaman Cabai
Merah Besar (Capsicum annum L). Skripsi Fakultas Pertanian UNTAD,
Palu
Purwantisari, S., dan Hastuti, R. B., 2009. Uji Antagonisme Jamur Patogen
Phythopthora infestans Penyebab Penyakit Busuk Daun dan Umbi
Tanaman Kentang dengan Menggunakan Trichoderma spp. Isolat Lokal.
http://eprints.undip.ac.id.pdf Akses 30 agustus 2010
Rifai, M., Mujim, S., dan Aeny, T.N., 1996. Pengaruh Lama Investasi
Trichoderma viride Terhadap Intensitas Serangan Pythium sp. Pada
Kedelai. Jurnal Penelitian Pertama VII : 8 : 20-25
Salma, S., dan Gunarto, L., 1999. Enzim Selulase dari Trichoderma spp.
http://www.indobiogen.or.id. Akses 30 Agustus 2010
Sastrahidayat, I.R., 1988.
Surabaya.

188

Ilmu Penyakit Tumbuhan.

Potensi Agens Hayati Trichoderma Sp

Usaha Nasional,

Seminar Regional Inovasi Teknologi Pertanian, mendukung Program Pembangunan Pertanian


Propinsi Sulawesi Utara

Semangun, H., 1994. Penyakit-Penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia.


Gadjah Mada University Press, Yogyakarta.
___________, 1996. Ilmu Penyakit Tumbuhan. Gadjah Mada University
Press, Yogyakarta.
Supriadi, 2006. Analisis Resiko Agens Hayati Untuk Pengendalian Patogen
Tanaman.http://aseanbiotechnology.info.10juni2010.pdf
Akses
30
Agustus 2010.
Sulistyowati, L., Estiejarini, M., Cholil, A., 1997. Tehnik Isolat Trichoderma
spp. Sebagai Agen Pengendali Hayati Sclerotium roflsii Sacc. Pada
Tanaman Kacang Tanah. Lembaga Penelitian, Universitas Brawijaya,
Malang.
Sumartini, Modjo, H. S., Harsojo, A., 1994. Potensi Trichoderma viride Untuk
Pengendalian Hawar Upih Pada Jagung. Risalah Seminar Hasil
Penelitian Tanaman Pangan, p 313-319.
Talanca, A.H. Soenartiningsih dan Wakman, W., 1998. Daya Hambat Jamur
Trichoderma spp.. pada Beberapa Jenis Jamur Patogen. Risalah Seminar
Ilmiah dan Pertemuan Tahunan XI PEI, PFI dan HPTI Sul-sel, Maros 5
Desember 1998 Hal 317-322.
Tandion, H., 2008. Pengaruh Jamur Antagonis Trichoderma harzianum dan
Pupuk Organik Untuk Mengendalikan Patogen Tular Tanah Sclerotium
roflsii Sacc. Pada Tanaman Kedelai (Glycine max L.) di Rumah Kasa.
http://repository.usu.ac.id.pdf Akses 10 Agustus 2010

Potensi Agens Hayati Trichoderma Sp

189