Anda di halaman 1dari 14

SULFONAMIDA

A. Pengertian Sulfonamida
Sulfonamida merupakan kemoterapeutik pertama yang efektif
pada terapi penyakit sistemik. Sekarang, penggunaannya terdesak oleh
kemoterapeutik lain yang lebih efektif dan kurang toksik. Banyak
organisme yang menjadi resisten terhadap sulfonamida. Penggunaannya
meningkat kembali sejak ditemukan kotrimoksazol yaitu kombinasi
trimetoprim dengan sulfametoksazol.
Sulfonamida biasanya digunakan dalam sediaan berbentuk
tablet,suspensi,injeksi,tetes mata, dan salep mata. Sulfonamida
mempunyai spektrum antibakteri yang luas meskipun kurang kuat
dibandingkan dengan antibiotika. Goongan sulfonamida umumnya
hanya bersifat bakteriostatik(menghambat pertumbuhan bakteri) namun
pada kadar yang tinggi dalam urin, sulfonamida dapat bersifat
bakterisid(membunuh bakteri).
Sulfonamida digunakan secara luas untuk pengobatan infeksi
yang disebabkan oleh bakteri Gram-positif dan Gram-negatif
tertentu,beberapa jamur dan protosoa. Golongan ini efektif terhadap
penyakit yang disebabkan oleh mikroorganisme,seperti Actinomycetes
sp, Bacillus anthracis,Brucella sp,Corinebacterium
diphtheriae,Calymmantobacterium granulomatis,Chlamydia
trachomatis,vibrio cholerae dan lain-lain.
Sulfonamida pertama diisolasi dari senyawa tar batubara
analin, tahun 1900 an, digunakan pertama untuk mengatasi infeksi
kokus tahun 1935. Tidak termasuk antibiotik karena tidak dihasilkan
dari substnsi biologis.Khasiat bakteriostatik melalui hambatan sintesis
asam folat atau PGA bakteri. Saat ini penggunaannya sudah banyak
yang tergeser untuk infeksi saluran kemih.Tidak efektif untuk jamur dan
virus.
Beberapa sulfonamida dimungkinkan diturunkan dari asam
sulfonat dengan menggantikan gugus hidroksil dengan gugus
amina.Dalam kedokteran, istilah sulfonamida kadang-kadang
dijadikan sinonim untuk obat sulfa, yang merupakan turunan
sulfanilamida.
Sulfonamida bertindak sebagai analog struktural dari asam paminobenzoik (PABA), yang menghambat PABA saat pembentukan asam
dihidropteroik dalam sintesis asam folat.Organisme yang membuat
sendiri asam folatnya dan tidak dapat memakai pasokan eksogen dari
vitamin menjadi sensitif terhadap sulfonamida, karena selnya dapat

menyerap obat ini, sementara organisme yang memerlukan asam folat


eksogen untuk pertumbuhannya tidak sensitif. Penundaan periode
beberapa generasi terjadi antara paparan sel yang sensitif pada
sulfonamida dan penghambatan pertumbuhan; pada saat ini sel
menghabiskan pasokan asam folat endogen yang telah dibuat
sebelumnya.
Rumus struktur dari sulfonamida ialah:

B. M ekanisme Kerja Sulfonamida


Sulfonamida mempunyai struktur mirip dengan asam paminobenzoat, suatu asam yang diperlukan untuk biosintesis koenzim
asam dihidropteroat dalam tubuh bakter atau protozoa. Biosintesis
turunan asam folat dan reseptor turunan sulfonamida dan trimetoprim.
Manusia juga memerlukan turunan asam folat sebagai faktor
pertumbuhan yang cukup penting. Berbeda dengan bakteri yang harus
mensintesisnya terlebih dahulu, turunan asam folat tersebut didapatkan
dari luar atau makanan. Sulfonamida hanya aktif pada fasa multiplikasi
bakteri,sehingga tidak efektif terhadap bakteri yang membentuk spora.
Kuman memerlukan PABA (p-aminobenzoic acid) untuk
membentuk asam folat yang di gunakan untuk sintesis purin dan asam
nukleat.Sulfonamid merupakan penghambat kompetitif PABA. Efek
antibakteri sulfonamide di hambat oleh adanya darah, nanah dan
jaringan nekrotik, karena kebutuhan mikroba akan asam folat
berkurang dalam media yang mengandung basa purin dan timidin.
Sel-sel mamalia tidak dipengaruhi oleh sulfanamid karena
menggunakan folat jadi yang terdapat dalam makanan (tidak
mensintesis sendiri senyawa tersebut). Dalam proses sintesis asam folat,
bila PABA di gantikan oleh sulfonamide, maka akan terbentuk analog
asam folat yang tidak fungsional.
Sistem enzim bakteri yang mampu mempengaruhi sistensi
asam tetrahidrofolat ada tiga, yaitu:
1. Dihidropteroat sintetase, yaitu enzim yang mengkatalisis
sintesis asam dihidropteroat, suatu prekursor asam
dihidrofolat, melalui kondensasi asam p-aminobenzoat
dengan turunan pteridin.
2. Dihidrofolat sintetase,yaitu enzim ynag mengkatalisis
sintesis asam dihidrofolat, suatu prekursor asam
tertrahidrofolat,melalui interaksi asam dihidropteroat
dengan asam glutamat.

3. Dihidrofolat reduktase,yaitu enzim yang mengkatalisis


reduksi asam dihidrofolat menjadi asam tetrahidofolat.
Sulfonamida bekerja secara langsung sebagai antagonis,
melalui mekanisme panghambat bersaing,terhadap kedua jalur
biosintesis asam dihidrofolat di atas dan secara tidak langsung
mempengaruhi penggabungan asam glutamat dengan asam
dihidropteroat. Kemungkinan mekanisme kerja bakteriostatik
sulfonamida yang lain adalah berhubungan langsung dengan reaksi
enzimatik turunan pteridin, yaitu dengan membentuk produkseperti
folat yang tidak aktif sehingga turunan pteridin tidak berfungsi sebagai
prekursor asam folat.
C. Tata Nama dan Klasifikasi
a. Tata nama
Nama umum : sulfonamid
Turunan para aminobenzensulfonamid/ sulfonamida

Gugus fungsi sulfonamida dituliskan -S(=O)2-NH2, sebuah gugus


sulfonat yang berikatan dengan amina. Senyawa sulfonamida adalah
senyawa yang mengandung gugus tersebut. Beberapa sulfonamida
dimungkinkan diturunkan dari asam sulfonat dengan menggantikan
gugus hidroksil dengan gugus amina.
b.

Klasifikasi
1. Berdasarkan lamanya masa kerja
Berdasarkan masa kerjanya sulfonamida sistemik dibagi menjadi 3
kelompok yaitu sulfonamida dengan masa kerja pendek, sulfonamida
dengan masa kerja sedang, sulfonamida dengan masa kerja panjang.
a. Sulfonamida dengan masa kerja pendek; Waktu paruh lebih kecil
dari 10 jam.
Contoh: sulfetidol,

sulfamerazin,

sulfametazin,

sulfatiazol,

sulfasomidin dan sulfaksasol.


b. Saulfonamida dengan masa kerja sedang; waktu paroh 10 24
jam.
Contoh: sulfadiazin, sulfametoksasol dan sulfafenazo
c. Sulfonamida dengan masa kerja panjang; waktu paroh lebih besar
24 jam.

Contoh:

sulfadoksin,

sulfalen,

sulfametoksipiridazin

dan

sulfametoksidiazin.
2. Berdasarkan kecepatan absorpsi dan ekskresinya, sulfonamid
dibagi

dalam empat golongan besar:


a. Sulfonamid dengan ekskresi cepat, antara lain sulfadiazin
dan sulfisoksazol
b. Sulfonamid yang hanya diabsorpsi sedikit bila diberikan per
oral dan karena itu kerjanya dalam lumen usus, antara lain
sulfasalazin
c. Sulfonamid yang terutama digunakan untuk pembrian
topikal, antara lain sulfasetamid, mafenid, dan Ag-sulfadiazin
d. Sulfonamid dengan masa kerja panjang,seperti sulfadoksin,
absorpsinya cepat dan ekskresinya lambat.

3. Berdasarkan penggunaan terapik, sulfonamida di bagi menjadi:


a. Sulfonamida untuk infeksi sistemik
Berdasarkan masa kerjanya sulfonamida sistemik dibagi
menjadi tiga kelompok yaitu:
1. Sulfonamida dengan masa kerja pendek; Waktu paruh lebih
kecil dari 10 jam.
Contoh: sulfetidol, sulfamerazin, sulfametazin, sulfatiazol,
sulfasomidin dan sulfaksasol.
2. Saulfonamida dengan masa kerja sedang; waktu paroh 10
24 jam.
Contoh: sulfadiazin, sulfametoksasol dan sulfafenazo
3. Sulfonamida dengan masa kerja panjang; waktu paroh lebih
besar 24 jam.
Contoh: sulfadoksin, sulfalen, sulfametoksipiridazin dan
sulfametoksidiazin.
b. Sulfonamida untuk infeksi usus
Obat golongan ini di rancang agar sedikit diabsorpsi
dalam saluran cerna,yaitu dengan memasukkan gugus
yang

bersifat

hidrofil

kuat,seperti

ptail,suksinil

atau

guanil,membentuk turunan sulfonamida yang lebih polar.


Di

usus

besar,senyawa

dihidrolisis

oleh

bakteri

usus,melepaskan secara perlahan-lahan sulfonamida induk


aktif.
Contoh

Ptalilsulfatiozol,suksinsulfatiazol,sulfaguanidin

dan sulfasalazin.
c.Sulfonamida untuk infeksi mata

Obat golongan ini digunakan secara setempat untuk


pengobatan konjungtivitas,infeksi mata superfisial lain dan
trakom(trachoma).
Contoh : Sulfasetamid

natrium

dan

sulfisoksasol

diolamin.
d.Sulfonamida untuk infeksi saluran seni
Golongan obat ini digunakan untuk pengobatan infeksi
saluran seni karna cepat diabsorpsi dalam saluran cerna
sedang ekskresi melalui ginjal lambat sehingga kadar obat
di ginjal cukup tinggi.
Contoh : Sufasetamid,sulfadiazin,sulfaetidol, sulfameter,
sulfametazin,sulfametoksazol,sulfasoinidin

dan

sulfisoksazol.
e.Sulfonamida untuk pengobatan luka bakar
Golongan ini pada umumnya digunakan pada uka
bakar

yang

terinfeksi

oleh

Pseudomonas

sp.

Atau

Clostridium welchii.
Contoh : mafenid asetat dan perak sulfadiazin.
f. Sulfonamida untuk penggunaan lain-lain
1. untuk infeksi membran mukosa dan kulit,contoh:
sulfabenzamid dan sulfasetamid Na.
2. untuk pengobatan dermatitis herpetiformis,contoh :
sulfapiridin
3. untuk infeksi telinga,contoh : sulfasuksinamid
4. untuk infeksi mulut,contoh : sulfatolamid
5. untuk infeksi jamur,contoh : sulfadiazin
6. untuk pengobatan malaria,contoh: sulfadoksin
D. Golongan Sulfonilamid
Sulfonamida dapat dibagi menjadi dua kelompok, Antibiotik
dan Non Antibiotik.
1. Antibiotik, contoh :
a. Sulfamethoxazole,
b. Sulfisoxazole
c. Sulfacetamide
2. Golongan sulfonilamid non antibiotik,contoh:
a. Clortiazid
b. Furosemid
c. Celecoxib
Contoh-contoh sulfonamida antara lain:
1. Sulfacetamida (N-[(4-aminofenil)sulfonil]-asetamida);

2. Sulfadiazin
3. Sulfadimetoksin (4-amino-N-(2,6-dimetoksi-4
pirimidinil)benzenesulfonamida)
4. Sulfadimidin (=sulfametazin: 4-amino-N-(4,6-dimetil-2pirimidinil)benzenesulfonamida);
5. Sulfaguanidin(4-amino-N-(aminoiminometil)benzenesulfonamide)
6. Sulfametizol(4-amino-N-(5-metil-1,3,4-tiadiazol-2il)benzenesulphonamide);
7. Sulfametoksazol(4-amino-N-(5-metil-3isoxazolil)benzenesulfonamida);
8. sulfatiazol(4-amino-N-2-tiazolilbenzenesulfonamida)dan sebagainya.
E.Pemakaian,Sifat dan Kelarutan
a. Pemakaian
1.
2.
3.
4.

Kemoterapeutikum :Sulfadiazin, Sulfathiazol


Antidiabetikum : Nadisa, Restinon.
Desibfektan saluran air kencing : Thidiour
Diuretikum : Diamox

b. Sifat sifat
1. Bersifat ampoter, karena itu sukar di pindahkan dengan acara
pengocokan yang digunakan dalam analisa organik.
2. Mudah larut dalam aseton, kecuali Sulfasuksidin, Ftalazol dan
Elkosin
c. Kelarutan
1. Umumnya tidak melarut dalam air, tapi adakalanya akan larut
dalam air anas. Elkosin biasanya larut dalam air panas dan dingin.
2. Tidak larut dalam eter, kloroform, petroleum eter.
3. Larut baik dalam aseton.
4. Sulfa sulfa yang mempunyai gugus amin aromatik tidak bebas
akan mudah larut dalam HCl encer. Irgamid dan Irgafon tidak
lariut dalam HCl encer.
5. Sulfa sulfa dengan gugusan aromatik sekunder sukar larut
dalam HCl, misalnya septazin, soluseptazin, sulfasuksidin larut
dalam HCl, akan tetapi larut dalam NaOH.
6. Sulfa dengan gugusan SO2NHR akan terhidrolisis bila dimasak
dengan asam kuat HCl atau HNO3.
F. Metode Penetapan Kadar
1. Metode Nitrimetri

Amin aromatis primer,sekunder,dan tersier bereaksi dengan


asam nitri(dari natrium nitri dan asam klorida)membentuk
senyawa yang berbeda-beda menurut reaksi.
Asam nitri juga bereaksi dengan amin alifatis primer dan
sekunder. Pada amin alifatis primer juga terbentuk garam
diazonium yang tidak stabil dan segera terurai dengan membentuk
gas nitogen. Reaksi ini merupakan dasar dari metode Van Slyke
dengan mengukur gas nitrogen yang terjadi. Banyaknya gas yang
terbentuk sesuai dengan banyaknya senyawa amin yang ada. Amin
alifatik tersier tidak bereaksi dengan asam nitri.
Cara penetapan kadar sulfadiazin: sebanyak kurang lebih 500
mg sulfadiazin yang ditimbang seksama,dilarutkan dalam 10 ml
asam klorida pekat dan 75 ml air(jika perlu hangatkan sampai
larut) lalu didinginkan. Larutan dititrasi secara perlahan-lahan
dengan larutan baku natrium nitri 0,1 N pada suhu tidak lebih
dari 15 0C . Natrium nitrit ditambahkan dengan kecepatan 4-8 ml
setiap menit sampai lebih kurang 1 ml sebelum titik akhir,
kemudian penambahan lebih lambat hingga satu tetes larutan
segera memberikan warna birupada kertas kanji-iodida. Titrasi
dianggap selesai jika titik akhir dapat ditunjukkan lagi setelah
larutan dibiarkan selama satu menit. Titik akhir dapat juga
ditetapkan secara potensiometri. Tiap ml natrium nitrit 0,1 N
setara dengan 25,03 mg sulfadiazin.
Pada sulfadiazin hanya gugus amin aromatis primer yang
bereaksi dengan asam nitrit. Atom nitrogen pada inti heterosiklik
dan atom nitrogen pada gugus sulfonamid tidak bereaksi dengan
asam nitrit.
Pada penetapan kadar sulfadiazin di atas, reaksi yang terjadi
adalah sebagai berikut :

Keuntungan dan kerugian :


Keuntungan utama metode nitrimetri atau diazotasi ialah
metode ini dapat dipakai hampir pada semua sulfonamid, juga
baku natrium nitrit merupakan pereaksi yang stabil dan mudah

dibakukan. Kerugiannya adalah titrasi harus dilakukan perlahanlahan dan metode nitrimatri ini kurang spesifik. Pada permulaan
penggunaan indikator luar agak sukar menetapkan titik akhirnya
tetapi dengan sedikit latihan akan mudah menetapkan titik
akhirnya. Jika titik akhir ditetapkan secara potensiometri akan
menunjukkan ketelitian yang tinggi.
2.Metode Titrasi Bebas Air
Beberapa cara titrasi bebas air telah digunakan pada
sulfonamid berdasarkan pada sifat asam dari gugus SO2-NHsehingga dapat dititrasi dengan basa.
Cara penetapan kadar sulfisoksazol dengan metode TBA : lebih
kurang 300 mg sulfisoksazol yang ditimbang seksama, dilarutkan
dalam 20 ml dimetil formamid lalu dititrasi dengan litium
metoksida 0,1 N menggunakan indikator 2 tetes biru timol atau
secara potensiometri. Tiap ml 0,1 N litium metoksida setara dengan
26,73 mg sulfisoksazol.
Keuntungan dan kerugian :
Keuntungan utama titrasi bebas air pada sulfonamid adalah :
dalam banyak hal, perubahan warna indikator pada titik akhir
cukup tajam. Dengan cara memilih pelarut dan indikator yang
sesuia maka dapat digunakan untuk menetapkan kadar suatu
campuran sulfonamid tanpa pemisahan. Disamping itu,titrasi
dapat dilakukan cukup tepat. Kerugiannya adalah natrium
metoksida tidak sestabil natrium nitrit dan diperlukan pembakuan
kembali setiap i[ waktu penetapan.

3.Metode Bromometri
Metode bromometri dan argentometri dapat digunakan untuk
penetapan kadar sulfonamid akan tetapi tidak seluas penggunaan
metode diazotasi dan titrasi bebas air. Brom akan mensubstitusi
sufonamid pada inti benzen dan dalam beberapa hal dalam inti
heterosiklik. Reaksi umum dapat ditulis sebagai berikut:

Ada dua tipe penetapan kadar sufonamid dengan metode


bromometri ini,yakni :
a. Metode Titrasi Kembali

Cara penetapan kadar sulfonamid dengan metode titrasi


kembali,lebih kurang 250 mg sulfonamid yang ditimbang
seksama dilarutkan dalam asam klorida 3% sedikit
mungkin lalu ditambah 5 g kalium bromida dan ditambah
asam klorida pekat sehingga larutan mengandung 25%
asam klorida. Larutan ditambah baku kalium bromat 0,1 N
setetes demi setetes dari buret sehingga timbu warna
kuning. Larutan ditambahkan segara 1 g kalium iodida dan
iodium bebas dititrasi dengan baku natrium tiosulfat 0,1 N
dengan indikator kanji.
b. Metode Titrasi Langsung
Metode ini serupa dengan metode titrasi kembali tetapi
dengan menggunakan indikator merah metil dan larutan
dititrasi dengan baku kalium bromat 0,1 N sampai warna
merah hilang.
Reaksi antara brom dengan sulfonamid biasanya
membentuk senyawa yang tidak larut. Pada permulaan
titrasi, reaksi ini cukup cepat tetapi menjadi semakin
lambat pada saat mendekati titik akhir titrasi. Oleh karena
itu, peraksi harus ditambahkan setetes demi setetes
terutama saat mnedakati titik akhir. Kelebihan bromat
ditunjukkan oleh warna kuning yang timbul. Pada titrasi
langsung, endapan sulfonamid terbromasi menyerap
indikator sehingga diperlukan kelebihan brom untuk
menghilangkan warna tersebut. Penambahan asam asetat
dapat mencegah timbunya endapan. Jika perlu dilakukan
penambahan indikator lagi pada saat menjelang titik akhir
sehingga perubahan warna menjadi lebih jelas. Merah metil
merupakan indikator asam basa yang brom dirusak secara
irreversibel.
Keuntungan dan kerugian :
Kerugian metode bromometri adalah bahwa metode ini
tidak spesifik. Senyawa fenol seperti asam salisilat dapat
mengikat brom sehingga dapat mengganggu penetapan.
Disamping itu senyawa-senyawa seperti amin
aromatis,senyawa yang mempunyai atom hidrogen yang
mudah tersubstitusi,senyawa yang tidak jenuh serta
senyawa yang mudah dioksidasi oleh brom akan
mengganggu penetapan kadar dengan cara ini. Sulfonamida
yang berbeda akan mengikat jumah brom yang berbeda.
Keuntungan, metode tirasi kembali memberi titik akhir yang

jelas.

4. Metode Argentometri
Beberapa sulfonamid membentuk garam perak yang
tidak larut dalam suasana basa.
Sulfonamid,sulfametazin,sulfapiridin,elkosin dan suksinil
dapat ditetapkan secara kuantitatif dengan garam perak.
Cara penetapan kadar sulfonamid secra argentometri:
lebih kurang 250 mg sulfonamid yang ditimbang secara
seksama dilarutkan dalam sedikit mungkin natrium
hidroksida 0,1N. Larutan dibuat sehingga berwarna biru
lemah terhadap timolftalin dan diencerkan dengan 50 ml
air. Warna biru yang terbentuk tersebut dihilangkan dengan
beberapa tetes asam sulfat 0,1 N lalu ditambah 25,0 ml
perak nitrat 0,1 N. Setelah didiamkan ditempat
gelap,endapan disaring dengan dua lapis kertas saring dan
dicuci dengan air. Filtrat diasamkan dengan asam nitrat
dan kelebihan perak nitrat dititrasi dengan amonium
tiosianat 0,1N menggunakan indikator besi(III) amonium
sulfat. Tiap ml perak nitrat 0,1N setara dengan 0,1 mmol
sulfonamid.
Pada penetapan kadar sufonamid di atas, reaksi umum
yang terjadi adalah sebagai berikut:

5. Metode Spektrofotometri
a. Spekrofotometri UV
Cara penetapan kadar sulfadiazin dengan spektro
UV(sulfadiazin dalam etanol pada panjang gelombang 270
nm mempunyai harga sebesar 844) adalah sebanyak 100
mg sulfadiazin ditimbang seksama,dilarutkan dalam 50 ml
etanol. Larutan dimasukkan dalam labu takar 100 ml dan
ditambahkan etanol sampai batas tanda. Sebanyak 0,5 m
larutan diatas diambil dan dimasukkan dalam labu takar
100 ml lalu ditambah etanol. Larutan dibaca absorbansinya
pada panjang gelombang 270 nm terhadap blangko yang

berisi etanol sehingga akan didapatkan absorbansi baku


(Ab ).
b. Spekrofotometri Sinar Tampak(visibel) atau
kolorimetri.
Ada bermacam-macam metode kolirimetri untuk
menetapkan kadar sufonamid. Pada umumnya,
metode ini untuk menetapkan kadar sulfonamid
dalam jumlah kecil misalnya pada penetapan hasil
pemisahan kromatografi kertas dari campuran
sulfonamid.
i. Metode bratton-marshall
ii. Metode asam tiobarbiturat
iii. Metode p-benzokuinon
c. Spektrofotometri derivatif
Spektra turunan ordo ketiga dan orde ke empat
telah digunakan untuk menentukan kadar
sulfatiazol, sulfanilamid,dan campuran keduanya.
Metode ini sesuai untuk sulfatiazol pada kisaran 1-22
ug/ml dan untuk sulfanilamid pada kisaran 0,5-4
ug/ml dan juga dapat digunakan untuk menentukan
kadra sulfonamid dalam sediaan farmasi.
6. Metode Spektroflurometri
Spektrofluorometri dan fluoresensi yang diinduksi secar
fotokimia pada suhu ruangan RTPF telah digunakan untuk
penentuan sulfasetamid(SAC),sulfaguanidin(SG),dan
sulfametazin(SMT) dalam susu dan dalam sediaan farmasi.
Metode ini sesuai untuk menentuka SAC pada kisaran 0,020,01 ug/ml, SG pada kisaran 0,10-0,50 ug/ml, dan SMT
pada kisaran 0,40-1,00 ug/ml.
Prosedur analisis dengan metode RTPF: sejumah alikuot
masing-masing larutan sampel ditempatkan dalam kurvet
kuarsa dan disinari dengan sinar ultraviolet dari lampu
merkuri dalam waktu tertentu pada suhu kamar.
Pembacaan intesitas flourensi masing-masing larutan
sampel dilakukan pada panjang gelombang eksitasi dan
panjang gelombang emisi tertentu dengan waktu
penyinaran optimum untuk SMT selama 10 menit.
Untuk menentukan kadar sulfonamid dalam
susu,sampel difortifikasi dengan SAC atau SG diikuti
dengan pengenceran menggunakan air deionisasi (1:1000)
dalam labu takar yang sesuai.

7. Metode Kromatografi
Metode KCKT dengan detektor fluorosensi telah
dikembangkan dan divalidasi oleh Maudens dkk. Untuk
penentuan 12 sulfonamid dalam madu dengan melakukan
derivatisasi post-column menggunakan fluoresamin.
Perlakuan sampel meliputi hidrolisis dengan asam diikuti
dengan ekstraksi cair-cair dan ekstraksi fase padat (solid
phase extration,SPE) pada penukar kation yang kuat.
Pemisahan kromatografi cair dilakukan selama 45 menit
dengan total waktu analisis selama 60 menit. Identitas dan
kuantifikasi sulfonamid didasarkan pada waktu retensi dan
intensitas fluoresensinya.
G. Reaksi-reaksi yang terjadi
1. Reaksi antara sulfonamid (yang tidak mengandung substituen
cincin aromatis atau cincin heterosiklik )dengan bromin

2.Reaksi antara sulfonamid(yang mengandung substituen cincin


aromatis atau cincin heterosiklik ) dengan bromin

3.Reaksi antara sulfonamid dengan perak nitrat membentuk


endapan perak-sulfonamid

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1. Sulfonamida adalah kemoterapeutik yang pertama digunakan secara
sistemik untuk pengobatan dan pencegahan penyakit infeksi pada manusia.
Sulfonamida merupakan kelompok obat penting pada penanganan infeksi
saluran kemih (ISK).
2. Klasifikasi Sediaan sulfonamide. Berdasarkan kecepatan absorpsi dan
eksresinya, sulfonamide dibagi menjadi:
a. Sulfonamid dengan absorpsi dan eksresi cepat, antara lain : sulfadiazine
dan sulfisoksazol.
b. Sulfonamid yang hanya diabsorpsi sedikit bila diberikan per oral dank
arena itu kerjanya dalam lumen usus, antara lain : ftalilsulfatiazol dan
sulfasalazin.
c. Sulfonamid yang terutama digunakan untuk pemberian topical antara
lain : sulfasetamid, mefenid, dan Ag-sulfadiazin.
d. Sulfonamid dengan masa kerja panjang, seperti sulfadoksin, absorpsinya
cepat dan eksresinya lambat.
3. Efek samping yang terjadi kerusakan pada sel-sel darah yang berupa
agranulositosis, anemia aplastis dan hemolitik. Efek samping yang lain ialah
reaksi alergi, gangguan system hematopoetik, dan gangguan pada saluran
kemih.
4. Desinfektan saluran kemih atau yang biasa di sebut Infeksi saluran
kemih (ISK) hampir selalu diakibatkan oleh bakteri aerob dari flora usus.
Penyebab infeksi bagian bawah atau cystitis ( radang kandung) adalah
pertama kuman gram negative.

B. Saran
Diharapkan bagi pembaca sekalian dapat memaklumi kekurangan dari
makalah yang membahas analisis kadar obat golongan sulfonamida.
Kritik dan saran dari pembaca pun sangat kami harapkan, guna perbaikan
dimasa mendatang. Akhir kata kami ucapkan terimakasih.

DAFTAR PUSTAKA
Ganiswara. 1995. Farmakologi dan Terapi. Bagian Farmakologi. Fakultas
Kedokteran. Universitas Indonesia. Jakarta.
Setiabudy, Rianto. 2007. Farmakologi dan Terapi Edisi 5. Fakultas Kedokteran.
Universitas Indonesia. Jakarta.