Anda di halaman 1dari 27

Pendahuluan

Pernapasan adalah peristiwa menghirup udara dari luar yang mengandung oksigen ke dalam
tubuh serta menghembuskan udara yang banyak mengandung CO2 sebagai sisa dari oksidasi
keluar dari tubuh. Fungsi dari sistem pernapasan adalah untuk mengambil O2 yang
kemudian dibawa oleh darah ke seluruh tubuh untuk mengadakan pembakaran,
mengeluarkan CO2 hasil dari metabolisme.
Sistem pernapasan meliputi organ-organ pernapasan dari hidung sampai paru-paru.
Udara melewati organ-organ pernapasan dan mengalami berbagai proses dari pelepasan
oksigen ke jaringan tubuh dan pelepasan karbondioksida ke udara. Semua proses yang terjadi
juga dipengaruhi oleh keadaan tubuh dan zat-zat yang terkandung dalam tubuh. Selain itu
pernapasan juga didukung oleh otot dan tulang pembentuk rongga dada. Jika pada sistem
pernapasan mengalami gangguan seperti infeksi ataupun non infeksi maka sistem pernapasan
tersebut tidak dapat berfungsi sempurna.
Anatomi Fisiologi Pernapasan
a. Hidung
Merupakan saluran udara yang pertama yang mempunyai dua lubang dipisahkan oleh sekat
septum nasi. Di dalamnya terdapat bulu-bulu untuk menyaring udara, debu dan kotoran.
Selain itu terdapat juga konka nasalis inferior, konka nasalis posterior dan konka nasalis
media yang berfungsi untuk mengahangatkan udara.
b. Faring
Merupakan tempat persimpangan antara jalan pernapasan dan jalan makanan. Terdapat di
bawah dasar pernapasan, di belakang rongga hidung, dan mulut sebelah depan ruas tulang
leher. Di bawah selaput lendir terdapat jaringan ikat, juga di beberapa tempat terdapat folikel
getah bening.
c. Laring
Merupakan saluran udara dan bertindak sebelum sebagai pembentuk suara. Terletak di depan
bagian faring sampai ketinggian vertebra servikalis dan masuk ke dalam trakea di bawahnya.

Laring dilapisi oleh selaput lendir, kecuali pita suara dan bagian epiglottis yang dilapisi oleh
sel epitelium berlapis.
d. Trakea
Merupakan lanjutan dari laring yang dibentuk oleh 16 20 cincin yang terdiri dari tulang
rawan yang berbentuk seperti tapal kuda yang berfungsi untuk mempertahankan jalan napas
agar tetap terbuka. Sebelah dalam diliputi oleh selaput lendir yang berbulu getar yang disebut
sel bersilia, yang berfungsi untuk mengeluarkan benda asing yang masuk bersama-sama
dengan udara pernapasan.
e. Bronkus
Merupakan lanjutan dari trakea, ada 2 buah yang terdapat pada ketinggian vertebra thorakalis
IV dan V. mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama.
Bronkus kanan lebih besar dan lebih pendek daripada bronkus kiri, terdiri dari 6 8 cincin
dan mempunyai 3 cabang. Bronkus kiri terdiri dari 9 12 cincin dan mempunyai 2 cabang.
Cabang bronkus yang lebih kecil dinamakan bronkiolus, disini terdapat cincin dan terdapat
gelembung paru yang disebut alveolli.
f. Paru-paru
Merupakan alat tubuh yang sebagian besar dari terdiri dari gelembung-gelembung. Di sinilah
tempat terjadinya pertukaran gas, O2 masuk ke dalam darah dan CO2 dikeluarkan dari darah.
Anamnesis
Pemeriksaan Fisik
Skenario 1
Seorang anak perempuan berusia 2 tahun dibawa ke puskesmas dengan keluhan sesak nafas
sejak 2 hari yang lalu. Keluhan didahului oleh demam naik turun, batuk pilek sejak 1 minggu
yang lalu. Batuk disertai dengan dahak berwarna kuning. Nafsu makan pasien juga menurun.
Pada pemeriksaan fisik didapati compos mentis, tampak sesak dan rewel, sianosis (-), BB 12
kg, frekuensi nafas 55x/menit, denyut nadi 110x/menit, suhu 38,5 derajat celcius, pernapasan

cuping hidung (+), retraksi interkostal (+), faring hiperemis, dan (+) ronkhi basah halus dan
wheezing pada kedua lapang paru.
Working Diagnosa : Pneumonia
Pneumonia
Pneumonia merupakan radang paru yang disebabkan mikroorganisme seperti bakteri, virus,
jamur, dan parasit. Proses peradangan akan menyebabkan jaringan paru yang berupa aveoli
dapat dipenuhi cairan ataupun nanah. Akibatnya kemampuan paru sebagai tempat pertukaran
gas akan terganggu.
Kekurangan oksigen dalam sel-sel tubuh akan mengganggu proses metabolisme tubuh. Bila
pneumonia tidak ditangani dengan baik, proses peradangan akan terus berlanjut dan
menimbulkan berbagai komplikasi seperti, selaput paru terisi cairan atau nanah (efusi pleura
atau emfisema), jaringan paru bernanah (abses paru), jaringan paru kempis (pneumotoraks)
dan lain-lain. Bahkan bila terus berlanjut dapat terjadi penyebaran infeksi melalui darah
(sepsis) ke seluruh tubuh sehingga dapat menyebabkan kematian.
Pneumonia pada anak dibedakan menjadi:
1.
Pneumonia lobaris
Merupakan pneumonia yang terjadi pada seluruh atau satu bagian besar dari lobus paru dan
bila kedua lobus terkena bisa dikatakan sebagai pneumonia lobaris
2.
Pneumonia interstisial (bronkiolitis)
Merupakan pneumonia yang dapat terjadi di dalam dinding alveolar.
3.
Bronkopneumonia.
Merupakan pneumonia yang terjadi pada ujung akhir bronkhiolus yang dapat tersumbat oleh
eksudat mukopuren untuk membentuk bercak konsolidasi dalam lobus (A. Aziz Alimul
Hidayat :2006)
Klasifikasi Pneumonia
Berdasarkan umur
1) Kelompok usia < 2 bulan
a. Pneumonia Berat
Pneumonia yang disebabkan oleh protozoa sering disebut pneumonia pneumosistis. Termasuk
golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii Pneumonia (PCP). Pneumonia pneumosistis
sering ditemukan pada bayi yang prematur. Perjalanan penyakitnya dapat lambat dalam
beberapa minggu sampai beberapa bulan, tetapi juga dapat cepat dalam hitungan hari.
Diagnosis pasti ditegakkan jika ditemukan P. Carinii pada jaringan paru atau spesimen yang

berasal dari paru disertai dengan tanda-tanda klinis seperti berhenti menyusu (jika
sebelumnya menyusu dengan baik), kejang, rasa kantuk yang tidak wajar atau sulit bangun,
stridor pada anak yang tenang, mengi, demam (38C atau lebih) atau suhu tubuh yang rendah
(di bawah 35,5 C), pernapasan cepat 60 kali atau lebih per menit, penarikan dinding dada
berat, sianosis sentral (pada lidah), serangan apnea, distensi abdomen dan abdomen tegang.
b. Bukan Pneumonia
Jika anak bernapas dengan frekuensi kurang dari 60 kali per menit dan tidak terdapat tanda
pneumonia seperti di atas.
2) Kelompok usia 2 bulan sampai < 5 tahun
a. Pneumonia sangat berat
Batuk atau kesulitan bernapas yang disertai dengan sianosis sentral, tidak dapat minum,
adanya penarikan dinding dada, anak kejang dan sulit dibangunkan.
b. Pneumonia berat
Batuk atau kesulitan bernapas dan penarikan dinding dada, tetapi tidak disertai sianosis
sentral dan dapat minum.
c. Pneumonia
Batuk atau kesulitan bernapas dan pernapasan cepat tanpa penarikan dinding dada.
d. Bukan pneumonia (batuk pilek biasa)
Batuk atau kesulitan bernapas tanpa pernapasan cepat atau penarikan dinding dada.
e. Pneumonia persisten
Balita dengan diagnosis pneumonia tetap sakit walaupun telah diobati selama 10-14 hari
dengan dosis antibiotik yang kuat dan antibiotik yang sesuai, biasanya terdapat penarikan
dinding dada, frekuensi pernapasan yang tinggi, dan demam ringan. (WHO, 2003).
Berdasarkan klinis dan epidemiologis
a. Pneumonia Komuniti (community-acquired pneumonia)
b. Pneumonia Nosokomial (hospital-acquired pneumonia/

Nosocomial

pneumonia).
c. Pneumonia Aspirasi.
d. Pneumonia pada penderita immunocompromised.
Berdasarkan agen penyebab
a. Pneumonia Bakterial / tipikal. Klebsiella pada penderita alkoholik,
staphyllococcus pada penderita pasca infeksi influenza.
b. Pneumonia atipikal, disebabkan Mycoplasma, Legionella dan Chlamydia
c. Pneumonia virus
d. Pneumonia jamur, sering merupakan infeksi sekunder. Predileksi terutama
pada penderita daya tahan tubuh lemah

Epidemiologi
Pneumonia dapat terjadi di semua negara tetapi data untuk perbandingan sangat
sedikit, terutama di negara berkembang.Di Amerika pneumonia merupakan penyebab
kematian keempat pada usia lanjut, dengan angka kematian 169,7 per100.000 penduduk.
Tingginya angka kematian padan pneumonia sudah dikenal sejak lama, bahkan ada yang
menyebutkan pneumonia sebagai teman pada usia lanjut. Usia lanjut merupakan risiko
tinggi untuk pneumonia, hal ini juga tergantung pada keadaan pejamu dan berdasarkan
tempat mereka berada. Pada orang-orang yang tinggal di rumah sendiri insidens pneumonia
berkisar antara 25 44 per 1000 orang dan yang tiaggal di tempat perawatan 68 114 per
1000 orang. Di rumah sakit pneumonia usia lanjut insidensnya tiga kali lebih besar daripada
penderita usia muda. Sekitar 38 orang pneumonia usia lanjut yang didapat di masyarakat,
43% diantaranya disebabkan oleh Streptococcus pneumoniae, Hemophilus influenzae dan
virus influenza B; tidak ditemukan bakteri gram negatif. Lima puluh tujuh persen lainnya
tidak dapat diidentifikasi karena kesulitan pengumpulan spesimen dan sebelumnya telah
diberikan antibiotik. Pada penderita kritis dengan penggunaan ventilator mekanik dapat
terjadi pneumonia nosokomial sebanyak 10% sampai 70%.
Berdasarkan data WHO/UNICEF tahun 2006 dalam Pneumonia: The Forgotten
Killer of Children, Indonesia menduduki peringkat ke-6 dunia untuk kasus pneumonia pada
balita dengan jumlah penderita mencapai 6 juta jiwa. Diperkirakan sekitar separuh dari total
kasus kematian pada anak yang menderita pneumonia di dunia disebabkan oleh bakteri
pneumokokus.
ETIOLOGI
Pneumonia yang ada di kalangan masyarakat umumnya disebabkan oleh faktor infeksi
bakteri, virus, mikoplasma (bentuk peralihan antara bakteri dan virus) dan protozoa. Sebagian
kecil oleh penyebab lain atau non infeksi seperti hidrokarbon (minyak tanah, bensin, atau
sejenisnya) dan masuknya makanan, minuman, susu, isi lambung ke dalam saluran
pernapasan (aspirasi). Berbagai penyebab Pneumonia tersebut dikelompokkan berdasarkan
golongan umur, berat ringannya penyakit dan penyulit yang menyertainya. Awalnya,
mikroorganisme masuk melalui percikan ludah (droplet), kemudian terjadi penyebaran
mikroorganisme dari saluran napas bagian atas ke jaringan (parenkim) paru dan sebagian
kecil karena penyebaran melalui aliran darah.

a. Faktor infeksi :
1. Bakteri
Pneumonia yang dipicu bakteri bisa menyerang siapa saja, dari bayi sampai usia
lanjut. Sebenarnya bakteri penyebab pneumonia yang paling umum adalah
Streptococcus pneumoniae yang sudah ada di kerongkongan manusia sehat.
Begitu pertahanan tubuh menurun oleh sakit, usia tua atau malnutrisi, bakteri
segera memperbanyak diri dan menyebabkan kerusakan. Balita yang terinfeksi
pneumonia akan panas tinggi, berkeringat, napas terengah-engah dan denyut
jantungnya meningkat cepat.
2. Virus
Setengah dari kejadian pneumonia diperkirakan disebabkan oleh virus. Virus
yang tersering menyebabkan pneumonia adalah Respiratory Syncial Virus (RSV).
Meskipun virus-virus ini kebanyakan menyerang saluran pernapasan bagian atas,
pada balita gangguan ini bisa memicu pneumonia. Tetapi pada umumnya
sebagian besar pneumonia jenis ini tidak berat dan sembuh dalam waktu singkat.
Namun bila infeksi terjadi bersamaan dengan virus influenza, gangguan bisa berat
dan kadang menyebabkan kematian.
3. Mikoplasma
Mikoplasma adalah agen terkecil di alam bebas yang menyebabkan penyakit pada
manusia. Mikoplasma tidak bisa diklasifikasikan sebagai virus maupun bakteri,
meski memiliki karakteristik keduanya. Pneumonia yang dihasilkan biasanya
berderajat ringan dan tersebar luas. Mikoplasma menyerang segala jenis usia,
tetapi paling sering pada anak pria remaja dan usia muda. Angka kematian sangat
rendah, bahkan juga pada yang tidak diobati.
4. Protozoa
Pneumonia yang disebabkan oleh protozoa sering disebut pneumonia
pneumosistis. Termasuk golongan ini adalah Pneumocystitis Carinii Pneumonia
(PCP). Pneumonia pneumosistis sering ditemukan pada bayi yang prematur.
Perjalanan penyakitnya dapat lambat dalam beberapa minggu sampai beberapa
bulan, tetapi juga dapat cepat dalam hitungan hari. Diagnosis pasti ditegakkan
jika ditemukan P. Carinii pada jaringan paru atau spesimen yang berasal dari
paru.
2. Faktor Non Infeksi.
Terjadi akibat disfungsi menelan atau refluks esophagus meliputi :
1. Bronkopneumonia hidrokarbon :

Terjadi oleh karena aspirasi selama penelanan muntah atau sonde lambung ( zat hidrokarbon
seperti pelitur, minyak tanah dan bensin).
2. Bronkopneumonia lipoid :
Terjadi akibat pemasukan obat yang mengandung minyak secara intranasal, termasuk jeli
petroleum.

Setiap

keadaan

yang

mengganggu

mekanisme

menelan

seperti

palatoskizis,pemberian makanan dengan posisi horizontal, atau pemaksaan pemberian


makanan seperti minyak ikan pada anak yang sedang menangis. Keparahan penyakit
tergantung pada jenis minyak yang terinhalasi. Jenis minyak binatang yang mengandung
asam lemak tinggi bersifat paling merusak contohnya seperti susu dan minyak ikan . Selain
faktor di atas, daya tahan tubuh sangat berpengaruh untuk terjadinya Bronkopneumonia.
Menurut sistem imun pada penderita-penderita penyakit yang berat seperti AIDS dan respon
imunitas yang belum berkembang pada bayi dan anak merupakan faktor predisposisi
terjadinya penyakit ini.
Sedangkan dari sudut pandang sosial penyebab pneumonia menurut Depkes RI (2004) antara
lain:
a. Status gizi bayi
Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang
diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan sebagai
status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan masukan nutrient.
Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada data antropometri serta
biokimia dan riwayat diit.
b. Riwayat persalinan
Riwayat persalinan yang mempengaruhi terjadinya pneumonia adalah ketuban pecah dini dan
persalinan preterm.
c. Kondisi sosial ekonomi orang tua
Kemampuan orang tua dalam menyediakan lingkungan tumbuh yang sehat pada bayi juga
sangat mempengaruhi terhadap terjadinya pneumonia.
d. Lingkungan tumbuh bayi
Lingkunngan tumbuh bayi yang mempengaruhi terhadap terjadinya pneumonia adalah
kondisi sirkulasi udara dirumah, adanya pencemaran udara di sekitar rumah dan lingkungan
perumahan yang padat.
e.

Konsumsi ASI

Jumlah konsumsi ASI bayi akan sangat mempengaruhi imunitas bayi, bayi yang diberi ASI
secara eksklusif akan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan bayi
yang tidak diberi ASI secara eksklusif.

Patofisiologis
Pada umumnya Penyakit pneumonia merupakan manifestasi dari rendahnya daya tahan tubuh
seseorang akibat adanya peningkatan kuman patogen seperti bakteri yang menyerang saluran
pernapasan serta konsumsi obat obatan yang dapat menekan refleks batuk sebagai akibat dari
upaya pertahanan saluran pernapasan terhadap serangan kuman dan virus. Bila pertahanan
tubuh tidak kuat maka mikroorganisme dapat melalui jalan nafas sampai ke alveoli yang
menyebabkan radang pada dinding alveoli dan jaringan sekitarnya. Pneumonia termasuk
kedalam penyakit menular yang ditularkan melalui udara. Sumber penularan adalah penderita
pneumonia yang menyebarkan kuman ke udara pada saat batuk atau bersin dalam bentuk
droplet. Inhalasi merupakan cara terpenting masuknya kuman penyebab pneumonia kedalam
saluran pernapasan yaitu bersama udara yang dihirup, di samping itu terdapat juga cara
penularan langsung yaitu melalui percikan droplet yang dikeluarkan oleh penderita saat
batuk, bersin dan berbicara kepada orang di sekitar penderita, transmisi langsung dapat juga
melalui ciuman, memegang dan menggunakan benda yang telah terkena sekresi saluran
pernapasan penderita (Azwar, 2002).
Pneumococcus masuk ke dalam paru bayi melalui jalan pernafasan secara percikan (droplet).
Bakteri masuk ke dalam paru-paru melalui udara, akan tetapi kadang kala juga masuk melalui
sistem peredaran darah apabila pada bagian tubuh kita ada yang terinfeksi. Sering kali bakteri
itu hidup pada saluran pernafasan atas yang kemudian masuk ke dalam arteri. Ketika masuk
ke dalam alveoli, bakteri melakukan perjalanan diantara ruang antar sel dan juga diantara
alveoli. Dengan adanya hal tersebut, sistem imun melakukan respon dengan cara mengirim
sel darah putih untuk melindungi paru-paru. Sel darah putih (neutrofil) kemudian menelan
dan membunuh organisme tersebut serta mengeluarkan sitokin yang merupakan hasil dari
aktivitas sistem imun itu. Hal ini yang mengakibatkan terjadinya demam, rasa dingin
(menggigil), lemah yang merupakan gejala umum dari pneumonia yang disebabkan oleh
bakteri ataupun jamur. Neutrofil, bakteri, dan cairan mempengaruhi keadaan sekitarnya dan
juga mempengaruhi transportasi O2.

Setelah itu mikroorganisme tiba di alveoli membentuk suatu proses peradangan yang
meliputi empat stadium, yaitu :
1. Stadium I (4 12 jam pertama/kongesti)
Disebut hiperemia, mengacu pada respon peradangan permulaan yang berlangsung pada
daerah baru yang terinfeksi. Hal ini ditandai dengan peningkatan aliran darah dan
permeabilitas kapiler di tempat infeksi. Hiperemia ini terjadi akibat pelepasan mediatormediator peradangan dari sel-sel mast setelah pengaktifan sel imun dan cedera jaringan.
Mediator-mediator tersebut mencakup histamin dan prostaglandin. Degranulasi sel mast juga
mengaktifkan jalur komplemen. Komplemen bekerja sama dengan histamin dan
prostaglandin untuk melemaskan otot polos vaskuler paru dan peningkatan permeabilitas
kapiler paru. Hal ini mengakibatkan perpindahan eksudat plasma ke dalam ruang interstisium
sehingga terjadi pembengkakan dan edema antar kapiler dan alveolus. Penimbunan cairan di
antara kapiler dan alveolus meningkatkan jarak yang harus ditempuh oleh oksigen dan
karbondioksida maka perpindahan gas ini dalam darah paling berpengaruh dan sering
mengakibatkan penurunan saturasi oksigen hemoglobin. Di dalam alveolus terdapat eksudat
jernih, Bakteri dalam jumlah banyak, beberapa neutrofil dan makrofag.
2.

Stadium II (48 jam berikutnya)

Disebut hepatisasi merah, terjadi sewaktu alveolus terisi oleh sel darah merah, eksudat dan
fibrin yang dihasilkan oleh penjamu ( host ) sebagai bagian dari reaksi peradangan. Lobus
dan lobulus yang terkena menjadi padat dan tidak menggabung udara oleh karena adanya
penumpukan leukosit, eritrosit dan cairan, sehingga warna paru menjadi merah dan pada
perabaan seperti hepar, di dalam alveolus didapatkam fibrin, leukosit neutrofil eksudat dan
banyak sekali eritrosit dan kuman. pada stadium ini udara alveoli tidak ada atau sangat
minimal sehingga anak akan bertambah sesak, stadium ini berlangsung sangat singkat, yaitu
selama 48 jam.
3. Stadium III (3 8 hari)
Disebut hepatisasi kelabu yang terjadi sewaktu sel-sel darah putih mengkolonisasi daerah
paru yang terinfeksi. Pada saat ini endapan fibrin terakumulasi di seluruh daerah yang cedera
dan terjadi fagositosis sisa-sisa sel. Pada stadium ini eritrosit di alveoli mulai diresorbsi,
lobus masih tetap padat karena berisi fibrin dan leukosit, warna merah menjadi pucat kelabu,
permukaan alveolus terisi fibrin dan leukosit, tempat terjadi fagositosis Pneumococcus dan
kapiler darah tidak lagi mengalami kongesti.
4. Stadium IV (7 11 hari)

Disebut juga stadium resolusi yang terjadi sewaktu respon imun dan peradangan mereda,
sisa-sisa sel fibrin dan eksudat lisis dan Dalam alveolus makrofag bertambah dan leukosit
menglami nekrosis dan degenarasi lemak. Fibrin diresorbsi dan menghilang. Secara patologi
anatomis bronkopneumonia berbeda dari pneumonia lobaris dalam hal lokalisasi sebagai
bercak-bercak dengan distribusi yang tidak teratur. Dengan pengobatan antibiotika urutan
stadium khas ini tidak terlihat.
Manifestasi Klinik
Secara umum dapat dibagi menjadi :
a.

Manifestasi nonspesifik infeksi dan toksisitas berupa demam, sakit kepala, iritabel, gelisah,
malaise, nafsu makan kurang, keluhan gastrointestinal.

b.

Gejala Umum saluran pernapasan bawah berupa batuk, takipnu, ekspektorasi sputum, napas
cuping hidung, sesak napas, air hunger, merintih, dan sianosis. Anak yang lebih besar dengan
pneumonia akan lebih suka berbaring pada sisi yang sakit dengan lutut tertekuk karena nyeri
dada.

c.

Tanda pneumonia berupa retraksi (penarikan dinding dada bagian bawah ke dalam saat
bernapas bersama dengan peningkatan frekuensi napas), perkusi pekak, fremitus melemah,
suara napas melemah dan ronki.

d.

Tanda efusi pleura atau empiema berupa gerak ekskursi dada tertinggal di daerah efusi,
perkusi pekak, fremitus melemah, suara napas melemah, suara napas tubuler tepat di atas
batas cairan, friction rub, nyeri dada karena iritasi pleura (nyeri berkurang bila efusi
bertambah dan berubah menjadi nyeri tumpul), kaku kuduk/meningismus(meningen tanpa
inflamasi) bila terdapat iritasi pleura lobus atas, nyeri abdomen(kadang terjadi bila iritasi
mengenai diafragma pada pneumonia lobus kanan bawah). Pada neonatus dan bayi kecil
tanda pneumonia tidak selalu jelas.efusi pleura pada bayi akan menimbulkan pekak perkusi.
Pemeriksaan Penunjang
1. Pemeriksaan laboratorium
Pada pneumonia pneumococcus gambaran darah menunjukkan leukositosis, biasanya 15.000
40.000/mm3 dengan pergeseran ke kiri. Kuman penyebab dapat dibiak dari usapan
tenggorokan dan 30% dari darah. Nilai Hb biasanya tetap normal atau sedikit menurun .
Peningkatan LED ,Urin biasanya berwarna lebih tua, mungkin terdapat albuminuria ringan
karna suhu yang naik. Pneumonia pneumokokus tidak dapat dibedakan dari pneumonia yang
disebabkan oleh bakteri lain atau virus, tanpa pemeriksaan mikrobiologis.
2. Pemeriksaan Radiologis

Pola radiologis dapat berupa pneumonia alveolar dengan gambaran air bronchogram
(airspace disease) misalnya oleh Streptococcus pneumoniae; bronkopneumonia
(segmental disease) oleh antara lain staphylococcus, virus atau mikoplasma; dan
pneumonia interstisial (interstitial disease) oleh virus dan mikoplasma. Distribusi
infiltrat pada segmen apikal lobus bawah atau inferior lobus atas sugestif untuk kuman
aspirasi. Tetapi pada pasien yang tidak sadar, lokasi ini bisa dimana saja. Infiltrat di
lobus atas sering ditimbulkan Klebsiella, tuberkulosis atau amiloidosis. Pada lobus
bawah dapat terjadi infiltrat akibat Staphylococcus atau bakteriemia.

3. Pemeriksaan Bakteriologis
Bahan berasal dari sputum, darah, aspirasi nasotrakeal/transtrakeal, aspirasi jarum
transtorakal, torakosentesis, bronkoskopi, atau biopsi. Untuk tujuan terapi empiris
dilakukan pemeriksaan apus Gram, Burri Gin, Quellung test dan Z. Nielsen.
4. Pemeriksaan Khusus
Titer antibodi terhadap virus, legionela, dan mikoplasma. Nilai diagnostik bila titer
tinggi atau ada kenaikan titer 4 kali. Analisis gas darah dilakukan untuk menilai
tingkat hipoksia dan kebutuhan oksigen.
Penatalaksanaan
Sebagian besar pneumonia pada anak tidak perlu diraawat inap. Indikasi perawatan
terutama berdasarkan berat-ringannya penyakit, misalnya toksis, distres pernapasan, tidak
mau makan/minum, atau ada penyakit dasar yang lain, komplikasi, dan terutama

mempertimbangkan usia pasien. Neonatus dan bayi kecil dengan kemungkinan klinis
pneumonia harus dirawat inap.
Dasar tatalaksana pneumonia rawat inap adalah pengobatan kausal dengan antibiotik
yang sesuai, serta tindakan suportif. Pengobatan suportif meliputi pemberian cairan
intravena, terapi oksigen, koreksi terhadap gangguan keseimbangan asam-basa, elektrolit,
dan gula darah. Untuk nyeri dan demam dapat diberikan analgetik/antipiretik.
Suplementasi vitamin A tidak terbukti efektif. Penyakit penyerta harus ditanggulangi
dengan adekuat, komplikasi yang mungkin terjadi harus dipantau dan diatasi.
1. Pneumonia rawat jalan
Pada pneumonia rawat jalan diberikan antibiotik lini pertama secara oral misalnya
amoksisilin atau kotrimoksazol. Dosis amoksisilin yang diberikan adalah 25
mg/KgBB. Dosis kotrimoksazol adalah 4 mg/kgBB TMP 20 mg/kgBB
sulfametoksazol). Makrolid, baik eritromisin maupun makrolid baru, dapat digunakan
sebagai terapi alternatif beta-laktam untuk pengobatan inisial pneumonia, dengan
pertimbangan adanya aktivitas ganda terhadap S. Pneumoniae dan bakteri atipik.
2. Pneumonia rawat inap
Pilihan

antibiotika

lini

pertama

dapat

menggunakan

beta-laktam

atau

kloramfenikol. Pada pneumonia yang tidak responsif terhadap obat diatas, dapat
diberikan antibiotik lain seperti gentamisin, amikasin, atau sefalosporin. Terapi
antibiotik diteruskan selama 7-10 hari pada pasien dengan pneumonia tanpa
komplikasi .
Pada neonatus dan bayi kecil, terapi awal antibiotik intravena harus dimulai
sesegera mungkin untuk mencegah terjadinya sepsis atau meningitis. Antibiotik yang
direkomendasikan adalah antibiotik spektrum luas seperti kombinasi betalaktam/klavunalat dengan aminoglikosid, atau sefalosporin generasi ketiga. Bila
keadaan sudah stabil, antibiotik dapat diganti dengan antibiotik oral selama 10 hari.
Pada balita dan anak yang lebih besar, antibiotik yang direkomendasikan adalah
antibiotik beta-laktam dengan/ aatau tanpa klavulanat. Pada kasus yang lebih berat
diberikan beta-laktam/klavulanat dikombinasikan dengan makrolid baru intravena,
sefalosporin generasi ketiga. Bila pasien sudah tidak demam atau keadaan sudah
stabil, antibiotik diganti dengan antibiotik oral dan berobat jalan.
Pencegahan
Untuk mencegah pneumonia perlu partisipasi aktif dari masyarakat atau keluarga
terutama ibu rumah tangga, karena pneumonia sangat dipengaruhi oleh kebersihan di dalam
dan di luar rumah. Pencegahan pneumonia bertujuan untuk menghindari terjadinya penyakit

pneumonia pada balita. Berikut adalah upaya untuk mencegah terjadinya penyakit
pneumonia :
1. Perawatan Selama Masa Kehamilan
Untuk mencegah risiko bayi dengan berta badan lahir rendah, perlu gizi ibu
selama kehamilan dengan mengkonsumsi zat-zat bergizi yang cukup bagi
kesehatan ibu dan pertumbuhan janin dalam kandungan serta pencegahan
terhadap hal-hal yang memungkinkan terkenanya infeksi selama kehamilan.
2. Perbaikan Gizi Balita
Untuk mencegah risiko pneumonia pada balita yang disebabkan karena
malnutrisi, sebaiknya dilakukan dengan pemberian ASI pada bayi neonatal
sampai umur 2 tahun. Karena ASI terjamin kebersihannya, tidak terkontaminasi
serta

mengandung

faktor-faktor

antibodi

sehingga

dapat

memberikan

perlindungan dan ketahanan terhadap infeksi virus dan bakteri. Oleh karena itu,
balita yang mendapat ASI secara ekslusif lebih tahan infeksi dibanding balita
yang tidak mendapatkannya.
3. Memberikan Imunisasi Lengkap pada Anak
Untuk mencegah pneumonia dapat dilakukan dengan pemberian imunisasi yang
memadai, yaitu imunisasi anak campak pada anak umur 9 bulan, imunisasi DPT
(Difteri, Pertusis, Tetanus) sebanyak 3 kali yaitu pada umur 2 bulan, 3 bulan dan
4 bulan.
4. Memeriksa Anak Sedini Mungkin Apabila Batuk
Balita yang menderita batuk harus segera diberi pengobatan yang sesuai untuk
mencegah terjadinya penyakit batuk pilek biasa menjadi batuk yang disertai
dengan napas cepat/sesak napas.
5. Mengurangi Polusi didalam dan diluar Rumah
Untuk mencegah pneumonia disarankan agar kadar debu dan asap diturunkan
dengan cara mengganti bahan bakar kayu dan tidak membawa balita ke dapur
serta membuat lubang ventilasi yang cukup. Selain itu asap rokok, lingkungan
tidak bersih, cuaca panas, cuaca dingin, perubahan cuaca dan dan masuk angin
sebagai faktor yang memberi kecenderungan untuk terkena penyakit
pneumonia.
6. Menjauhkan balita dari penderita batuk.
Balita sangat rentan terserang penyakit terutama penyakit pada saluran
pernapasan, karena itu jauhkanlah balita dari orang yang terserang penyakit
batuk. Udara napas seperti batuk dan bersin-bersin dapat menularkan
pneumonia pada orang lain. Karena bentuk penyakit ini menyebar dengan
droplet, infeksi akan menyebar dengan mudah. Perbaikan rumah akan

menyebabkan berkurangnya penyakit saluran napas yang berat. Semua anak


yang sehat sesekali akan menderita salesma (radang selaput lendir pada hidung),
tetapi sebagian besar mereka menjadi pneumonia karena malnutrisi.
Komplikasi
1.
2.
3.
4.
5.

Efusi pleura
Hipoksemia
Pneumonia kronik
Bronkaltasis
Atelektasis (pengembangan paru yang tidak sempurna/bagian paru-paru yang

diserang tidak mengandung udara dan kolaps).


6. Komplikasi sistemik (meningitis)
PROGNOSIS
Sembuh total, mortalitas kurang dari 1 %, mortalitas bisa lebih tinggi didapatkan pada anakanak dengan keadaan malnutrisi energi-protein dan datang terlambat untuk pengobatan.
Interaksi sinergis antara malnutrisi dan infeksi sudah lama diketahui. Infeksi berat dapat
memperjelek keadaan melalui asupan makanan dan peningkatan hilangnya zat-zat gizi
esensial tubuh. Sebaliknya malnutrisi ringan memberikan pengaruh negatif pada daya tahan
tubuh terhadap infeksi. Kedua-duanya bekerja sinergis, maka malnutrisi bersama-sama
dengan infeksi memberi dampak negatif yang lebih besar dibandingkan dengan dampak oleh
faktor infeksi dan malnutrisi apabila berdiri sendiri.
Differensial Diagnosa :
1. Bronkitis
Bronkitis merupakan proses peradangan pada bronkus dengan manifestasi utama berupa
batuk yang produktif. Proses ini dapat disebabkan karena perluasan dari proses penyakit yang
terjadi dari saluran napas atas maupun bawah. (3) Secara harfiah bronkitis adalah suatu
penyakit yang ditanda oleh inflamasi bronkus. Secara klinis pada ahli mengartikan bronkitis
sebagai suatu penyakit atau gangguan respiratorik dengan batuk merupakan gejala yang
utama dan dominan. .. Ini berarti bahwa bronkitis bukan penyakit yang berdiri sendiri
melainkan bagian dari penyakit lain tetapi bronkitis ikut memegang peran.( Ngastiyah,
1997 ).

Bronkitis berarti infeksi bronkus. Bronkitis dapat dikatakan penyakit tersendiri, tetapi
biasanya merupakan lanjutan dari infeksi saluran peranpasan atas atau bersamaan dengan
penyakit saluran pernapasan atas lain seperti Sinobronkitis, Laringotrakeobronkitis, Bronkitis
pada asma dan sebagainya (Gunadi Santoso, 1994).
Sebagai penyakit tersendiri, bronkitis merupakan topik yang masih diliputi kontroversi dan
ketidakjelasan di antara ahli klinik dan peneliti. Bronkitis merupakan diagnosa yang sering
ditegakkan pada anak baik di Indonesia maupun di luar negeri, walaupun dengan patokan
diagnosis yang tidak selalu sama.(Taussig, 1982; Rahayu, 1984).
Definisi klinis dari bronchitis pada anak sampai saat ini masih belum jelas, tetapi banyak para
klinisi membuat diagnosis bronchitis untuk anak dengan gejala batuk, dengan atau tanpa
demam serta adanya produksi dahak/sputum. Meskipun etiologi dari bronchitis masih sukar
dijelaskan secara spesifik, dan beberapa studi menunjukkan bahwa bronchitis merupakan
penyakit yang self-resolving, tetapi bronkitis ini pada umumnya disebabkan oleh patogen
virus. Secara praktis, diagnosa bronkitis sering tercermin dari hasil pemberian resep berupa
antibiotika tertentu yang diyakini membasmi jenis bakteri penyebab penyakit ini. (4) Jaringan
teriritasi dan memproduksi banyak lendir. Hal ini banyak terjadi pada anak-anak yang
menjadi perokok baik perokok primer maupun sekunder dan tinggal di lingkungan yang
banyak terpolusi.(2)

Bronkitis dibagi 2 berdasarkan proses berlangsungnya(3)


1.

Bronkitis Akut

2.

Bronkitis Kronik
Bronkitis Akut
Bronkitis akut pada bayi dan anak biasanya juga bersama dengan trakeitis, merupakan
penyakit saluran napas akut (ISNA) yang sering dijumpai. (berakhir dalam masa 3 hari
hingga 3 minggu)
Etiologi

Virus merupakan penyebab tersering (rhinovirus, respiratoru sincytial virus (RSV), para
influenza, influenza, adeno, morbilli, dan coxsackie virus). Virus yang menyebabkan flu atau
pilek seringkali menyebabkan juga bronkitis akut.
Selain itu bronkitis akut selalu terdapat pada anak yang menderita morbilli, pertusis,
dan infeksi mycoplasma pneumonia.(2). Penumokokus, stafilokokus, haemophilus influenzae
dan berbagai streptokokus dapat diisolasi dari sputum (dahak mungkin kental dan kuning)
tetapi keberadaannya tidak menyatakan penyebab bakteria atau infeksi bakteri sekunder.
Bronkitis akut dapat disebabkan karena non infeksi karena paparan asap tembakau karena
polutan pembersih rumah tangga dan asap. Pekerja yang terkena paparan debu dan uap dapat
juga menyebabkan bronkitis akut. Alergi, cuaca, polusi udara dan infeksi saluran napas atas
dapat merupakan faktor-faktor yang turut menyebabkan terjadinya bronkitis akut..(2,6)
Gejala Klinis

Bronkitis akut biasanya didahului oleh infeksi saluran pernapasan atas (ISPA)(2,3,6)

Khasnya anak datang dengan batuk yang sering, kering, tidak produktif, dan timbulnya
relative bertahap, 3-4 hari sesudah munculnya rhinitis (setelah 2-3 hari, batuk mulai berdahak
dan menimbulkan suara adanya lender)(2,6). Batuk dapat disertai muntah.(3)

Rasa nyeri atau panas pada daerah substernal bawah atau dada depan sering ada dan dapat
diperparah oleh batuk(3,6)

Dalam beberapa hari, batuk menjadi produktif dan sputum berubah dari jernih ke purulen
setelah 10 hari mukus menjadi encer dan batuk menghilang secara bertahap batuk dapat
disertai muntah(6). Biasanya hilang setelah 1 atau 2 minggu.(2)

Pemeriksaan Fisik

Pada mulanya, keadaan umum baik, anak tidak tampak sakit, anak biasanya tidak demam
atau demam ringan (subfebris), dan ada tanda-tanda nasofaringitis, kadang konjungtivitis(3,6)

Auskultasi menunjukkan adanya suara pernapasan yang kasa, ronki basah kasar dan halus,
dan ronki yang dapat bernada tinggi, menyerupai mengi pada asma. (6) Mengi (wheezing)
mungkin saja terdapat pada penderita bronkitis akut tetapi perlu juga diingat kemungkinan
manifestasi asma pada anak tersebut.(2)

Pemeriksaan Penunjang(3)

Foto thoraks dapat normal atau peningkatan corak bronkovaskular

Pada pemeriksaan lab, leukosit dapat normal atau meningkat

Kultur sputum(6)

Penatalaksanaan
Karena penyebab utamanya virus maka belum ada obat yang kausal(2). Tidak ada terapi
spesifik, sebagian besar penderita sembuh tanpa banyak masalah, tanpa pengobatan
apapun. Pada bayi-bayi yang kecil, drainase paru dipermudah dengan cara sering melakukan
pergeseran posisi. Anak yang lebih tua lebih enak dengan kelembaban tinggi, tetapi tidak ada
bukti bahwa ini memperpendek lama penyakit(6,9)

Batuk iritatif dan paroksismal dapat menyebabkan distres berat dan menganggu tidur.
Walaupun penekanan batuk dapat menambah kemungkinan supurasi, penggunaan penekan
batuk yang bijaksana (termasuk koderin) mungkin memadai untuk pengurangan gejala (6).
Obat penekan batuk tidak boleh diberikan pada batuk yang banyak lendir.
Mukolitik tidak lebih baik daripada banyak minum.(2)

Koderin, efek samping mual, muntah, pusing dan bingung. Pada anak kecil dapat terjadi
konvulsi dan depresi pernapasan. Dosis : oral sebagai pereda batuk 3-5 dd 10-40 mg dan
maksimum 200 mg/hari. Pada diare 3-4 dd 25-40 mg.

Dekstrometorfan, sama kuatnya dengan kodein. Mekanisme kerjanya berdasarkan ambang


pusat batuk diotak. Dosis anak-anak 2-6 tahun 3-4 dd 8 mg, 6-12 tahun 3-4 dd 15 mg

Antitusif (bromheksin dan ambroksol) dan antihistamin (dipenhidramin dan prometazin,


yang mengeringkan sekresi tidak boleh digunakan karena menimbulkan atelektasis atau
pneumonia(3,5) (9)

Bromheksin dan ambroksol, memiliki khasiat mukolitis, efek sampingnya gangguan


saluran cerna, perasaan pusing, berkeringat. Pada inhalasi dapat terjadi bronkokonstriksi
ringan. Dosis anak 3 dd 1,6-8 mg

Dipenhidramin, mengeringkan selaput lendir karena efek kolinergis, dosis anak : 3-4 dd
25-50 mg

Prometazin, obat ini terutama digunakan pada batuk malam yang mengganggu anak-anak.
Tidak boleh diberikan pada anak usia dibawah 1 tahun karena dapat menyebabkan depresi
pernapasan dan kematian mendadak. Dosis : anak di atas 1 tahn 2-4 dd 0,2 mg/kgBB.

Fisioterapi dada bila perlu(3)

Antibiotika diberikan apabila diharapkan adanya kecurigaan infeksi bakteri sekunder,


dengan pilihan antibiotika : ampisilin, kloksasilin, klomrafenikol, eritromisin (3) (9)

Ampisilin, kerjanya broad spektrum meliputi banyak kuman yang negatif. Banyak
digunakan pada infeksi saluran napas (bronkitis(, saluran cerna dan saluran kemih, kuping
(otitis media), gonorhoe, kulit, dan bagian lunak (otot dan sebagainya). Efek sampingnya
gangguan lambung usus (karena penyerapan yang kurang baik) aleri kulit (rush, ruam). Dosis
anak : oral 50-100 mg/kgBB/hari, dibagi dalam 4x pemberian 1m/iv 25-50 mg/kgBB/hari
dibagi dalam 2-3 x pemberian

Kloksasilin, khusus digunakan pada infeksi dengan kuman yang memproduksi laktamase.
Dosis anak : oral 4-6 dd 500 mg a.c, im/iv 4-6 x sehari 250-1000 mg (garam Na).

Kloramfenikol, broad spektrum antibiotik, berguna pada hampir semua kuman gram
positif dan sebagian kuman gram negatif. Efek, sampingnya gangguan lambung-usus,
neuropati optis dan perifer, radang lidah dan mukosa mulut, depresi sum-sum tulang
(penghambatan pembentukan sel-sel darah, anemia aplastik). Pada pemakaian jangka panjang
dapat timbul resistensi. Tidak boleh diberikan pada kehamilan dan laktasi. Dosis anak : 25-50
mg/kgBB/hari dalam 2-3 dosis. Pada infeksi parah (meningitis, bases otak) iv 4 dd 500-1.500
mg (Na-suksinat).

Eritromisin, bakteriostatis terutama terhadap kuman gram positif. Merupakan pilihan


utama pada infeksi paru terutama Legionella pneumophila (penyakit veteran) dan
mycoplasma pneumoniae (radang paru tidak khas), kadang juga digunakan pada infeksi usus.
Efek samping : diare, nyeri perut, nausea, kadang muntah. Pada pemberian dosis tinggi dapat
menyebabkan ketulian yang revesibel. Dosis anak : oral 20-40 mg/kgBB/hari dibagi 2 4x
pemberian. Maksimal pemberian 7 hari.
Komplikasi
Komplikasi bronkitis akut jarang didapatkan. Pada anak dengan status gizi kurang dapat
terjadi komplikasi berupa(3) :

Otitis media

Pneumonia

Sinusitis
Anak dengan serangan bronkitis akut berulang harus dievaluasi dengan cermat untuk
kemungkinan adanya(2,36) :

Kelainan saluran napas

Benda asing

Bronkiektasis

Difisiensi imun

Hiperaktivitas bronkus

Tuberkulosis

Alergi

Sinusitis

Tonsilitis

Adenoiditis

Kistik fibrosis

Kelainan kongenital
Prognosis(2)
Bila tidak ada komplikasi umumnya baik. Pada bronkitis akut berulang disertai paparan asap
rokok secara teratur cenderung menjadi bronkitis kronik pada waktu dewasa.
2. Bronkitis Kronik dan atau Batuk Berulang.
Bronkitis Kronik dan atau berulang adalah Dengan memakai batasan ini maka secara jelas
terlihat bahwa Bronkitis Kronik termasuk dalam kelompok BKB tersebut. Dalam keadaan
kurangnya data penyelidikan mengenai Bronkitis Kronik pada anak maka untuk menegakkan
diagnosa Bronkitis Kronik baru dapat ditegakkan setelah menyingkirkan semua penyebab
lainnya dari BKB. (boleh berakhir sehingga 3 bulan dan menyerang semula untuk selama 2
tahun atau lebih).
Bronkitis kronik pada orang dewasa didefinisikan sebagai batuk produktif selama 3
bulan atau lebih dalam satu tahun selama 2 tahun berturut-turut atau lebih, namun tidak ada
standar demikian yang dapat diterima pada anak(6). Belum ada persesuaian pendapat
mengenai definisi bronkitis kronik pada anak. Kesepakatan definisi batuk produktif kronis
atau sering kumat (batuk kronik berulang BKB) ialah kedaan klinis yang disebabkan oleh
berbagai sebab dengan gejala batuk yang berlangsung sekurang-kurangnya selama 2 minggu
berturut-turut dan atau berulang paling sedikit 3 kali dalam 3 bulan dengan atau tanpa disertai
gejala respiratorik dan non respiratorik lainnya (KONIKA, 1981). Batasan ini secara klinis
jelas terlihat bahwa bronkitis kronik termasuk dalam BKB, untuk menegakkan diagnosa
bronkitis kronik pada anak setelah menyingkirkan penyebab lainnya dari BKB(2)
Etiologi

Bronkitis akut dapat menyebabkan bronkitis kronik jika tidak mengalami penyembuhan. Hal
ini terjadi karena penebalan dan peradangan pada dinding bronkus paru paru yang sifatnya
permanen. Disebut bronkitis kronis jika batuk terjadi selama minimal 3 bulan dalam setahun
di dua tahun berturut. Yang termasuk penyebab bronkitis kronik dibagi menjadi spesifik dan
non spesifik yaitu :
1)

Etiologi Spesifik(2)
1. Asma (hiperaktivitas saluran napas)
2. Infeksi kronik saluran napas bagian atas (misalnya sinobronkitis)
3. Infeksi, misalnya bertambahnya kontak dengan virus, infeksi mycoplasma, chlaymydia,
pertusis, tuberculosis, jamur
4. Penyakit paru yang telah ada, misalnya bronkiektasis
5. Sindrom aspirasi
6. Penekanan pada saluran napas
7. Benda asing
8. Kelainan jantung bawaan
9. Kelainan silia primer
10. Defisiensi imunologis
11. Kekurangan alfa-1-1antitripsin
12. Fibrosis kistik
13. Psikis

2)

Iritasi non spesifik saluran napas(2,6,7)


(faktor yang menambah terjadinya BKB)

a.

Asap rokok, penelitian menunjukkan bahwa paparan asap rokok dalam waktu lama dapat
menimbulkan gangguan pergerakan silia, sehingga menghambat fungsi makrofaq alveolar,
dan akhirnya menyebabkan hipertrofi dan hiperplasia kelenjar pengsekresi mukus, sehingga
timbul resistensi jalan napas.

b.

Polusi Udara, angka insiden dan kematian tinggi di daerah urban yang padat industrialisasi.
Gas beracun di tempat kerja , Eksaserbasi bronkitis jelas berhubungan dengan periode polusi
berat sulfur dioksida (SO2) dan unsur kecil lainnya.

c.

Infeksi, banyak usaha telah dilakukan untuk menghubungkan bronkitis kronik dengan
infeksi virus, mikoplasma, dan bakteri. Akan tetapi, hanya rhinovirus yang lebih sering
menyebabkan eksaserbasi.
Patofisiologi
Gambaran patologi bronkitis kronik pada dewasa :

Penebalan dinding bronkus

Hipertrifi kelenjar mukosa

Hipertrofi sel goblet

Epitel mengalami metaplasi skuamosa dan inflamasi kronik


Gambaran patologi bronkitis kronik pada anak belum jelas, akan tetapi berdasarkan hasil
biopsi 59 anak dengan gejala inflamasi kronik bronkus tanpa disertai asma, yang dilakukan
oleh Szekely dan Farkas (1978), didapatkan gambaran patologis bronkitis kronis pada anak
sangat mirip dengan gambaran patologis asma.(2,6)

Infiltrasi sel bulat

Eosinofil

Hipertrofi kelenjar submukosa

Mukus bertambah

Metaplasia epitel

Epithelium utuh
Kelainan klinis yang lama pada bronkitis kronis menimbulkan dugaan adanya reaksi
inflamasi yang berlebihan pada saluran napas atau paparan bahan berbahaya yang terus
menerus dari lingkungan, hal ini menimbulkan kerusakan pada saluran napas sehingga
terjadi(2) :

Ganguan pembersihan lendir

Produksi lendir meningkat

Batu basah

Penyempitan saluran napas sehingga timbul suara mengi dan turunya daya tahan saluran
napas terhadap virus
Virus penyebab tersering infeksi lalu ke dalam Masuk saluran pernapasan melewati Sel
mukosa dan sel silia berlanjut masuk saluran pernapasan menginfeksi saluran pernapasan
hingga terjadi Bronkitis, Mukosa membengkak dan menghasilkan lendir hingga Pilek 3 4
hari dan mengalami Batuk mula-mula kering kemudian berdahak Riak dapat jernih,
Purulent,Encer dapat Hilang tetapi jika Batuk virus akan Keluar . Suara ronchi basah atau
suara napas kasar, Nyeri subsernal dan mengalami Sesak napas, Jika tidak hilang setelah tiga
minggu, Kolaps paru segmental atau infeksi paru sekunder (pertahanan utama)
(Sumber : dr.Rusepno Hasan, Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak, 1981)

Virus dan kuman biasa masuk melalui port de entry mulut dan hidung dropplet infection
yang selanjutnya akan menimbulkan viremia/ bakterimia dengan gejala atau reaksi tubuh
untuk melakukan perlawanan.
Gejala Klinis(2,6)
-

Batuk berdahak (dahaknya bisa berwarna kemerahan)

- Gejala utamanya adalah batuk produktif yang sudah berlangsung lama


-

Anak biasanya mengeluh nyeri dada

Gejala-gejala ini menjelek pada malam hari

Reaktivitas otot bronkus kurang, produksi lendirnya banyak, inflamasi saluran napas
(pada asma yang menonjol adalah reaktivitas otot bronkus)
2. Sesak nafas ketika melakukan olah raga atau aktivitas ringan
3. Sering menderita infeksi pernafasan (misalnya flu)
4. Bengek
5. Lelah
6. Pembengkakan pergelangan kaki, kaki dan tungkai kiri dan kanan
7. Wajah, telapak tangan atau selaput lendir yang berwarna kemerahan
8. Pipi tampak kemerahan
9. Sakit kepala
10. Gangguan penglihatan
11. Sedikit demam.
12. Dada merasa tidak nyaman.
Penatalaksanaan
Karena kemiripannya dengan asma, maka pengobatannya dimasukkan ke dalam varian asma
dan dikelola seperti asma. Akan tetapi perlu disingkirkan dahulu kemungkinan-kemungkinan
penyakit lain yang termasuk dalam diagnosa banding(2).

Komplikasi
a. Bronkitis Akut yang tidak ditangani cenderung menjadi Bronkitis Kronik.
b. Pada anak yang sehat jarang terjadi komplikasi, tetapi pada anak dengan gizi kurang dapat
terjadi Othithis Media, Sinusitis dan Pneumonia
c. Bronkitis Kronik menyebabkan mudah terserang infeksi.
d. Bila sekret tetap tinggal, dapat menyebabkan atelektasisi atau Bronkietaksis
Pemeriksaan Penunjang
Foto Thorax : Tidak tampak adanya kelainan atau hanya hyperemia.
Laboratorium : Leukosit > 17.500.
Pemeriksaan lainnya yang biasa dilakukan:
a. Tes fungsi paru-paru
b. Gas darah arteri
c. Rontgen dada.
d. Pemeriksaan sputum selama 3x berturut-turut selama 3 hari pada pagi hari
sesudah bangun tidur.
Diagnosa
Diagnosis bronkitis biasanya ditegakkan berdasarkan gejala, terutama dari adanya lendir.
Pada pemeriksaan dengan menggunakan stetoskop akan terdengar bunyi ronki atau bunyi
pernafasan yang abnormal.
Pengobatan
a. Tindakan Perawatan

Pada tindakan perawatan yang penting ialah mengontrol batuk dan mengeluarakan lender
1. Berjemur dipagi hari.
2. Sering mengubah posisi.
3. Banyak minum.
4. Inhalasi
5. Nebulizer
Untuk mempertahankan daya tahan tubuh, setelah anak muntah dan tenang
perlu diberikan minum susu atau makanan lain
b. Tindakan Medis.
1. Jangan beri obat antihistamin berlebih.
2. Beri antibiotik bila ada kecurigaan infeksi bacterial
3. Dapat diberi efedrin 0,5 1 mg/KgBB tiga kali sehari
4. Chloral hidrat 30 mg/Kg BB sebagai sedatif
Pencegahan
Jika Anda telah sering mengalami serangan bronkitis atau berulang, penyebabnya mungkin
sesuatu di lingkungan Anda. Lokasi yang dingin, lembab - khususnya dikombinasikan dengan
polusi udara atau asap rokok - dapat membuat Anda lebih rentan terhadap bronkitis akut.
Ketika masalah menjadi berat, Anda mungkin perlu untuk mempertimbangkan perubahan di
mana dan bagaimana Anda hidup dan bekerja.
Langkah-langkah ini juga dapat membantu menurunkan risiko bronkitis dan melindungi paruparu secara umum:
1. Hindari merokok dan menjadi perokok pasif. Asap tembakau meningkatkan risiko
bronkitis kronis dan emphysema.

2. Cobalah untuk menghindari orang-orang yang telah pilek atau flu. Semakin sedikit Anda
terkena virus yang menyebabkan bronkitis, semakin rendah risiko Anda mendapatkannya.
Hindari kerumunan orang selama musim flu.
3. Hindari keluar malam karena saat malam kondisi udara dingin dan sangat lembab sehingga
membuat bronkus mengalami vasokontriksi dan peningkatan produksi secret.
4. Makan makanan yang bergizi untuk meningkatkan daya tahan tubuh. Misalnya telur, susu,
daging dan sebagainya.
5. Dapatkan vaksin flu tahunan. Banyak kasus bronkitis akut hasil dari influenza, virus.
Mendapatkan vaksin flu tahunan dapat membantu melindungi Anda dari flu, yang pada
gilirannya, dapat mengurangi risiko bronkitis.
6. Tanyakan kepada dokter tentang pneumonia shot. Jika usia Anda lebih dari 60 tahun atau
Anda memiliki faktor risiko seperti diabetes, penyakit jantung dan paru-paru, perlu
dipertimbangkan melakukan shot bronkitis. Selain itu, dikenal sebagai vaksin Prevnar dapat
membantu melindungi anak-anak terhadap pneumonia. Kami menganjurkan untuk semua
anak di bawah usia 2 tahun dan untuk anaku usia 2 hingga 5 tahun yang berada pada risiko
tertentu penyakit pneumokokus, seperti mereka yang memiliki kekurangan sistem kekebalan
tubuh, asma, penyakit jantung atau anemia sel sabit. Efek samping dari vaksin pneumokokus
biasanya kecil dan ringan termasuk rasa nyeri atau bengkak di tempat suntikan. Jika Anda
memiliki radang paru-paru atau lebih lima tahun yang lalu menjalankan shot, dokter anda
dapat merekomendasikan bahwa Anda mendapatkan satu lagi.
7. Cuci tangan atau menggunakan sanitizer tangan secara teratur. Untuk mengurangi risiko
terkena infeksi virus, sering mencuci tangan anda dan membiasakan menggunakan sanitizer
tangan. Dan jangan menggosok hidung atau mata Anda.
8. Ketika praktek, memakai masker. Jika Anda harus menghabiskan banyak waktu di sekitar
orang lain yang batuk dan bersin, ide yang baik untuk memakai masker yang menutupi mulut
dan hidung untuk mengurangi risiko infeksi.

DAFTAR FUSTAKA

1.

Penatalaksanaan Bronkitis Kronik, Faisal Yunus, Bag. Pulmonologi Fakultas Kedokteran


Universitas Indonesia, Unit Paru RSUP Persahabatan Jakarta.

2.

Buku Kuliah Ilmu Kesehatan Anak Jidil 3. Bronkitis Bab. 35, Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia; Jakarta : 1985 (hal. 1197-1201).

3.

Pedoman Diagnosis dan Terapi SMF Ilmu Kesehatan Anak, Fakultas Kedokteran
Universitas Airlangga; Surabaya, 2006.

4.

OBrien, Katherine dkk. Cough Illness/Bronchiti-Principles of Judicious Use of


Antimimicrobial Agent. Supplement : page 178-181.

5.

JONATHAN GLEADLE, At a Glance, ANAMNESIS DAN PEMERIKSAAN FISIK,


Copyright

(C)

2003, Translation copyright (C) 2007 by Penerbit Erlangga, EMS (Erlangga

Medical Series).
6.

Larry k. Pickering dan John D. Snyder, Bronkitis, bab 337, Behrman Kliegmean Arvin,
Ilmu Kesehatan Anak, Nelson Vol2 edisi 15, editor edisi Bahasa Indonesia Prof. Dr. dr. A.
Samik Wahab, Sp. A(k). Jakarta : EGC, 1999, Hal 1483-1484.

7.

Isselbacher, Braunwald, Wilson, Martin, Fauci, Kasper, Harrison, PRINSIP-PRINSIP


ILMU PENYAKIT DALAM, Vol.3, Edisi 13, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Editor edisi
bahasa Indoensia; Prof. Dr. Ahmad. H. Asdie, Sp.PD-KE.

8.

Kapita Selekta Kedokteran, Edisi 3, jilid2, Fakultas Kedokteran UI, hal 461-465

9.

Tan, Hoan Tjay Drs; Rahardja, Kirana Drs: Obat-Obat Penting, Khasiat, Penggunaan dan
Efek-efek sampingnya, edisi ke 5, cetakan ke 2, Penerbit PT Elex Media Komputindo,
Kelompok Gramedia Jakarta, Seksi VII. Bab. 40 Obat Asma dan COPD, Bab. 41 Obat-obat
Batuk.

Doenges, Marilynn E, 1992, Rencana Asuhan Keperawatan edisi 3, ECG: Jakarta.

Pneumonia :

1. Anonim. 2005. Pelayanan Kesehatan anak di Rumah Sakit.Jakarta. WHO


2. Dahlan, Z. 2006. Buku Ajar Ilmu Penyakit Dalam, Pulmonologi. Pusat Penerbitan
Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas kedokteran Universitas Indonesia. Jakarta
3. Price SA, Wilson LM. 2005. Patofisiologi: Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit,
Edisi 6, Volume 2: Penerbit EGC. Jakarta.
4. Rahajoe, NN, Bambang s, Darmawan, BS. 2008. Buku Ajar Respirologi Anak. Jakarta.
IDAI.
5. Soedarsono. 2004. Buku Ajar Ilmu Penyakit Paru. Bagian Ilmu Penyakit Paru FK
UNAIR. Surabaya
6. Behrman RE, Vaughan VC, 1992, Nelson Ilmu Kesehatan Anak, Bagian II, Edisi 12,
Penerbit EGC, Jakarta, hal: 617-628.
7. Isselbacher, et al, Harrison, 1995, Prinsip-Prinsip Ilmu Penyakit Dalam, Edisi 13, Vol.
2, Penerbit EGC, Jakarta, hal. 906-909.

Shulman, dkk. Penyakit Infeksi Edisi Keempat. 1994. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
Syahrurachman, Agus, dkk. Mikrobiologi Kedokteran edisi revisi. 1994. Jakarta : Binarupa
Aksara
Biddulph, Jonn, dkk. 1999. Kesehatan Anak. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press
Ngastiyah. 2005. Perawatan Anak Sakit. Jakarta: EGC
Mansjoer, Arif, dkk. 2008. Kapita Selekta Kedokteran. Jakarta: Media Aesculapius