Anda di halaman 1dari 199

RANCANG BANGUN SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN

INVESTASI PADA INDUSTRI BIODISEL KELAPA SAWIT
MENGGUNAKAN MODEL SISTEM DINAMIS

ANNA MARIANA

SEKOLAH PASCASARJANA
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2005

SURAT PERNYATAAN

Saya menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa segala pernyataan dalam disertasi
saya yang berjudul :
RANCANG BANGUN SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN
INVESTASI PADA INDUSTRI BIODISEL KELAPA SAWIT
MENGGUNAKAN MODEL SISTEM DINAMIS
Merupakan

gagasan

atau

hasil

penelitian

disertasi

saya

sendiri,

dengan

pembimbingan para Komisi Pembimbing, kecuali yang dengan jelas ditunjukkan
rujukannya. Disertasi ini belum pernah diajukan untuk memperoleh gelar pada
program sejenis di perguruan tinggi lain.

Semua data dan informasi yang digunakan telah dinyatakan secara jelas dan dapat
diperiksa kebenarannya.

Bogor, September 2005

Anna Mariana
995148 - Teknologi Industri Pertanian

ABSTRAK
ANNA MARIANA. Rancang Bangun Sistem Penunjang Keputusan Investasi Pada
Industri Biodisel Kelapa Sawit Menggunakan Model Sistem Dinamis. Dibimbing
oleh: IRAWADI JAMARAN sebagai ketua, M. SYAMSUL MA’ARIF, TUN
TEDJA IRAWADI, AMRIL AMAN, dan DARNOKO masing-masing sebagai
anggota.
Pertumbuhan konsumsi bahan bakar minyak yang terus meningkat dengan
produksi relatif tetap, telah menempatkan Indonesia saat ini sebagai salah satu negara
pengimpor bahan bakar minyak. Kenaikan harga minyak dunia yang mencapai 60
USD per barel telah memperbesar subsidi BBM menjadi lebih dari 100 triliun pada
tahun 2005 berjalan. Untuk mengantisipasi kelangkaan BBM di masa mendatang
perlu dikaji potensi sumber enerji lain terutama enerji yang dapat diperbaharui, antara
lain yang berpotensi untuk dikembangkan sebagai pengganti BBM solar adalah
Biodisel Kelapa Sawit (BDS) yang bersifat ramah lingkungan .
Dalam rangka mendukung salah satu pengembangan investasi enerji
terbarukan di Indonesia perlu disusun suatu rancang bangun sistem penunjang
keputusan investasi pada industri biodisel kelapa sawit menggunakan model sistem
dinamis. Secara garis besar model ini terdiri dari lima submodel
yaitu : (1)
sumberdaya, (2) teknis produksi, (3) analisis finansial, (4) pasar, (5) lingkungan.
Rancang bangun sistem penunjang keputusan didesain dengan menggunakan
metodologi analisis deskriptif dari data sekunder pada masing-masing sub model.
Keterkaitan sub model diagregasikan dengan hubungan fungsi logika dan teori yang
dibangun melalui kaidah sistem dinamis.
Hasil analisis dan validasi faktor-faktor yang berpengaruh pada investasi,
menunjukkan ketersediaan bahan baku CPO, jika diolah menjadi biodisel kelapa sawit
cukup untuk mensubstitusi 5-10% kebutuhan BBM solar di dalam negeri. Peluang
pasar ekspor dan pendanaan investasi dapat dikaitkan dengan program “carbon trade”
yang telah diratifikasi melalui Protokol Kyoto, karena sifat BDS yang ramah
lingkungan. Ketersediaan teknologi proses cukup banyak dan dapat dirancang sesuai
keinginan pengguna. Perhitungan nilai investasi pabrik BDS kapasitas produksi
100.000 ton/tahun memerlukan dana 17.82 juta USD dengan komponen biaya bahan
baku CPO mencapai 79.23% dari biaya produksi, dengan asumsi harga CPO 360
USD/ton. Jika margin keuntungan 15% maka harga jual di tingkat konsumen Rp
5603/liter. Biaya produksi biodisel di luar negeri mencapai 600 USD/ton sedang dari
hasil penelitian ini diperoleh biaya produksi sebesar 629.5 USD/ton. Hasil analisis
penghitungan nilai beban lingkungan dari hujan asam, panas global dan efek
fotokimia yang ditimbulkan oleh emisi gas buang yang menggunakan bahan bakar
biodisel lebih rendah dibandingkan dengan emisi gas buang yang menggunakan bahan
bakar solar.
Hasil penelitian menyimpulkan bahwa model sistem penunjang keputusan
dapat digunakan untuk menilai kelayakan investasi pada industri biodisel kelapa sawit
oleh pengambil keputusan. Hasil validasi menunjukkan industri BDS saat ini layak
untuk dikembangkan jika didukung dengan kebijakan pemerintah yang tepat antara
lain kebijakan penggunaan enerji terbarukan, kemudahan perijinan, beban pajak dan
bunga bank yang terjangkau , dan adanya insentif bagi industri.
Kata kunci : Biodisel, CPO, Sistem Penunjang Keputusan, Investasi, Model Sistem
Dinamis

and DARNOKO as members of advisory committee. decision support system. global warming and photochemical ozone (smog) creation impact caused by the emission of biodiesel is smaller compare to the emission of petroleum diesel.93%. tax. with the the asumption of CPO price $360 US/ton. the decession should also be followed by the appropriate government regulations and policies i. investment. (4) marketing.crude palm oil.ABSTRACT ANNA MARIANA. The various processing technologies are easily available and could be designed according to the owner’s or user’s need. The financial analysis shows the investment cost to produce biodiesel with the capacity 100. The Design Of Investment Decision Support System On Palm Oil Biodiesel Industry Using Dynamic System Models. TUN TEDJA IRAWADI. In the frame work to support the development of palm biodiesel investment in Indonesia. The raw material cost reach about 79. The gap between oil compsumption and production in the last few years has put indonesia into the oil net importer country. The correlation and interaction between submodel are based on logical function and theoritical framework by using system dynamic approach.82 million US. (5) environmental impact assesment. However. The validation of environmental sub model which assess the environmental burden value of acidity. The result of this reseach concluded that the decision support system model can be utilize by decision maker in assessing the invesment on biodiesel industry. M. Dynamic System Models . Key words : biodiesel. AMRIL AMAN. In order to anticipate the scarcity of oil in the future.000/ton per year is $ 17.5 US/ton. this research is aimed to formulate the decision support system (dss) for palm biodiesel investment using dynamic models. the government has to search other energy resources especially renewable energy such as palm biodiesel that can be used as an alternative fuel of petroleum diesel and also known as ecolabelling product.5603/litres. (2) production technology. the selling price of palm biodiesel about Rp. SYAMSUL MA’ARIF. The potential export market and foreign investment can be related to the Protocol Kyoto scheme due to the ecolabelling product. The result of model validation shows that the availability of CPO as a raw material for oil palm biodiesel is still adequate to subtitute 5 – 10% of domestic petroleum diesel’s demand. The increased of world oil’s price up to $60 US per barrel has increased the goverment subsidies more than 100 trillions rupiah in 2005. interest rate. insentive for industry . of the cost structure. Under the Guidance by IRAWADI JAMARAN as a chairman. (3) financial planning. meanwhile the product cost is $ 629.e. Under the assumption of profit margin 15 %. The system consist of 5 submodels ie : The assesment of (1) Raw material resources. in the use of renewable energy.

fotokopi. sebagian atau seluruhnya dalam bentuk apa pun. mikrofilm. dan sebagainya .© Hak cipta milik Anna Mariana. baik cetak. tahun 2005 Hak cipta dilindungi Dilarang mengutip dan memperbanyak tanpa izin tertulis dari Institut Pertanian Bogor.

RANCANG BANGUN SISTEM PENUNJANG KEPUTUSAN INVESTASI PADA INDUSTRI BIODISEL KELAPA SAWIT MENGGUNAKAN MODEL SISTEM DINAMIS ANNA MARIANA DISERTASI sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Doktor pada Program Studi Teknologi Industri Pertanian SEKOLAH PASCASARJANA INSTITUT PERTANIAN BOGOR BOGOR 2005 .

Tanggal Lulus: . MSc. Darnoko.Ir. Syafrida Manuwoto. Dr. Ir. Anggota Diketahui Ketua Program Studi Teknologi Industri Pertanian Dr. MS Anggota Dr. Ir.Dr. Anggota Prof.Eng. Amril Aman. M. MSc. Ir. Syamsul Ma’arif. Anggota Dr.Judul Disertasi : Rancang Bangun Sistem Penunjang Keputusan Investasi pada Industri Biodisel Kelapa Sawit Menggunakan Model Sistem Dinamis Nama : Anna Mariana NRP : 995148 Disetujui Komisi Pembimbing Dr.Ir. Ir. Dr. Ir. M. Irawadi Jamaran Tanggal Ujian : 6 September 2005 Dekan Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor Prof.Sc. Irawadi Jamaran Ketua Prof. Tun Tedja Irawadi.

Bpk Dr.Eng yang telah membimbing dan memberi dorongan semangat untuk menyelesaikan penulisan disertasi ini serta selalu meluangkan waktunya untuk konsultasi walaupun ditengah kesibukannya. yang telah membimbing dan memberi referensi yang bermanfaat bagi penulisan disertasi ini dan selalu berusaha hadir pada sidang komisi dan sidang lainnya walau jauh dari Medan ke Bogor. 4.abang dan adik penulis semua yang telah banyak memberi dukungan dalam menyelesaikan disertasi ini. Suami tercinta dr M.Ir. dra Erlindawati dan suami serta Ir. 3.Ir.Eng yang telah bersedia menjadi penguji luar pada sidang tertutup serta banyak memberikan inspirasi kepada penulis dalam melakukan pengkajian terhadap aspek teknoekonomi. Bpk Dr. 10.Sri Dewi Yudawi MM yang selalu penuh pengertian dan memberi dukungan untuk menyelesaikan disertasi ini.Sabri Basyah.Ir. Ir.Dr.Darnoko MSc.PERSEMBAHAN Puji dan Syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT. Dr. penulis mengucapkan rasa terimakasih yang tidak terhingga kepada : 1. Ayahanda alm Yacob Ali dan Ibunda almh Fatimah Ibrahim tercinta. staf pengajar pada jurusan Teknik Kimia ITB yang telah bersedia menjadi penguji luar dan memberi referensi yang bermanfaat dalam penulisan disertasi. September 2005 ANNA MARIANA . disertasi yang berjudul “Rancang Bangun Sistem Penunjang Keputusan Investasi Pada Industri Biodisel Kelapa Sawit Menggunakan Model Sistem Dinamis”dapat diselesaikan dengan baik. Bapak Prof Dr. Semoga semua kebaikan tersebut menjadi ilmu yang bermanfaat dan mendapat balasan dari Allah swt. yang selalu memberi dorongan untuk menyelesaikan disertasi ini. 2.Eng. dan memberi dukungan dengan penuh kearifan dan bijaksana setiap saat diperlukan. yang telah mengajarkan kepada penulis filosofi ilmu pengetahuan yang bermanfaat dan membimbing serta mengarahkan penyusunan disertasi dengan penuh kesabaran dan pengertian.dan M. Achmad Manggabarani MM (Sekdit Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian) yang telah mengijinkan penulis untuk meyelesaikan studi ini.Ir. yang telah membesarkan penulis dengan penuh kasih sayang dan memberikan teladan yang sangat berharga bagi kehidupan penulis. MM. Basith MSc. Ir. Rekan-rekan di Deptan terutama Ir.Jusuf Syammaun SpOG dan anak-anakku tercinta M. 13.Adriansyah Jusuf yang selalu memberi semangat dan pengertiannya.Ir. Bapak Dr. 6. A.Ir. 7. membimbing.Ir. M. 11. Bogor.IPB. dan Ir. 12. Dari lubuk hati yang dalam dan tulus. Sahabat / Rekan peserta program S-3 TIP.Anas Miftah Fauzi M.Rosmery MA. 9.Tun Tedja Irawadi MS yang telah memberi inspirasi dalam pemilihan judul disertasi.Rikky Jusuf.Irsan Jusuf. berkat rahmat dan karuniaNya. Bpk Dr.Amril Aman MSc.Mirza Pahlevi MSc beserta istri . Ibu Prof.Ir Irawadi Jamaran sebagai ketua komisi pembimbing yang telah memberi dukungan perhatian dan bimbingan dengan penuh dedikasi selama penulis menempuh studi sampai dengan penyelesaian disertasi ini.Tirto Prakoso M. 5. Dr.Syamsul Maarif`M. Ir Tyas MM danYulia Nurendah SE. Adinda dra.Hermawan. 8.

Eng. Dr. Prof. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat. Ir. Tun Tedja Irawadi. Setiap negara perlu mengelola sumber enerjinya dengan benar dan bijaksana agar tidak mengalami kemunduran ekonomi. M. Ir. Syamsul Ma’arif. Dr. MSc masing-masing sebagai anggota komisi pembimbing. penulis dengan senang hati mempersembahkan hasil karya ini. Ir.PRAKATA Sejalan dengan perkembangan kemajuan zaman dan teknologi pada berbagai bidang di dunia. Keluaran penelitian ini berupa program perangkat lunak komputer yang dapat digunakan untuk menilai keputusan investasi dalam waktu yang relatif cepat (Decision Support System) Penelitian ini tersusun berkat bimbingan komisi pembimbing yang sangat kompeten pada berbagi bidang/disiplin ilmu pengetahuan yaitu Dr. Penulis menyadari penelitian ini masih mempunyai banyak kekurangan dan kelemahan namun bagi yang berminat memperdalam bidang ini. September 2005 Penulis . digunakan sebagai pengganti solar. BDS merupakan enerji alternatif dan bersifat ramah lingkungan serta dapat diperbaharui (renewable). Dr. Enerji juga telah mengubah tatanan ekonomi suatu negara maupun tatanan ekonomi dunia. MSc. Ir. Irawadi Jamaran (ketua komisi). Penelitian Rancang Bangun Sistem Penunjang Keputusan Investasi Pada Industri Biodisel Kelapa Sawit Menggunakan Model Sistem Dinamis merupakan salah satu alat bantu untuk menilai kelayakan investasi pada industri biodisel kelapa sawit (BDS). Prof. Amril Aman. MSc. Bogor. Ir. kebutuhan enerji telah menjadi universal bagi manusia. Darnoko. Dr.

dan Direktorat Kelembagaan. sebagai anak ke tiga dari tujuh bersaudara. Pada tahun 1980 Penulis meraih gelar Sarjana dari Fakultas Pertanian. Departemen Pertanian. Sejak di Direktorat Jenderal Perkebunan penulis telah ditempatkan sebagai karyawati di berbagai Direktorat yaitu Direktorat Bina Produksi. Penulis ditempatkan pada Sub Direktorat Pemasaran Internasional Tanaman Perkebunan sampai tahun 2003. Adriansyah Jusuf. Pada tahun 1999 memperoleh gelar Magister Manajemen Agribisnis IPB dengan bea siswa dari Asian Development Bank . Dari tahun 2001 sampai sekarang bekerja pada Direktorat Jenderal Pengolahan dan Pemasaran Hasil Pertanian. Penulis telah mengikuti berbagai macam training. Menikah dengan DR H. Rikky Jusuf. Yacob Ali dan ibu Alm Fatimah Ibrahim.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Pematang Siantar pada tanggal 1 Maret 1957 dari ayah Alm.M Jusuf Syammaun. Sejak bulan April 1980 sampai 2000 penulis bekerja sebagai karyawati pada Direktorat Jenderal Perkebunan. seminar nasional dan internasional pada bidang agribisnis dan agroindustri. SpOG. Direktorat Perlindungan Tanaman. Jurusan Proteksi Tanaman IPB. Irsan Jusuf dan M. . Direktorat Perluasan dan Rehabilitasi Tanaman Perkebunan. Penulis dikaruniai tiga orang putra yaitu M. M. sejak tahun 2003 sampai dengan sekarang penulis memperoleh ijin untuk menyelesaikan desertasi pada program TIP IPB. Penulis juga dipercaya untuk mengelola proyek bantuan luar negeri yaitu proyek bantuan ADB National Estate Crop Protection Project (± 7 tahun) dan proyek Suistainable Agriculture Development Project in Irian Jaya (± 6 tahun).

........................ Teknologi Pengolahan Biodisel .. Model Logistik ................... Tahap Analisis Sensitifitas …………………………………........ Tahap Rekayasa Model ……………………………………… 3.................................... 3............................................ Tahap Seleksi Konsep ………………….......................2..1.................................................8.. Batasan Sistem .................................. Permodelan Sistem ....1....................................................................................1................................. 1 1...................................4.........5................ 2................ Tahap Analisis Stabilitas ……………………………………...7.. Perkembangan Industri Biodisel ....... 2...... Latar Belakang ................... Identifikasi Sistem................ Aplikasi Model ……………………………………………… 30 31 31 32 33 34 34 34 34 34 35 35 ....... 2..................................................2.....................................6............. 3.........................................2.................................4. Sifat Fisiko-Kimia Biodisel ........... 3............. 3.................... x I...................................1... Perkembangan Penelitian Biodisel............................. 3........ 3........................2.......DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL .........1................. 3...................7..... Model Dinamik .............. 6 9 10 11 13 18 20 21 23 25 26 27 III............3...... 6 2...............................................3....1........................... Tahap Implementasi Komputer ……………………………… 3............. Pengertian Dan Spesifikasi Biodisel ........................4..................2........................2..................... Manfaat Penelitian ..................... PENDAHULUAN .....10.........................................……………………............................... 1.....................3.......................... 2...................................................................... 1......... Model Sistem Dinamis .........................5...........1....... 2.......... 30 3.......2.................3................ TINJAUAN PUSTAKA ......................................................... 2..............................................2........ Analisis Finansial ................................. 2......... Tahap Validasi ……………………………………………….......9.. 2........................2. Standar/Spesifikasi Biodisel ................................................ Kerangka Pemikiran ........................................... Pendekatan Sistem ..... 1 4 4 5 II....................................12.................................................................................. METODOLOGI PENELITIAN .............1.. 3.......... Sistem Penunjang Keputusan (SPK) ...........6................. 2.......2......................... Tujuan Penelitian .... 2........ iii DAFTAR GAMBAR .. Ruang Lingkup Penelitian ... 1........................................................ v DAFTAR LAMPIRAN ................. Investasi Biodisel ........................... 3. 2....2..........11................................1....................

................ Saran....4.....1............. ANALISIS KEBIJAKAN ............................. 5............3...... 4................ Kesimpulan ........... Simulasi Submodel Pasar .................5........... 4........................... 102 105 105 105 107 110 112 113 4............................................ 3............................... Submodel Analisis Finansial .1...2................................... 3... 3................. 4.......2........1.................. Submodel Teknis Produksi ..........2... 37 37 51 51 58 99 IV...................................................................................................................... 5........1...........................................................4...4...2......................5...........2.3....2............................... Submodel Analisis Finansial .2...... HASIL DAN PEMBAHASAN .3....... Submodel Sumberdaya .........1....1..... 157 6.1.............2............... Simulasi Submodel Lingkungan ......2. 4..........................2.................. Submodel Sumberdaya.................3.......... 167 COMPACT DISC DATA DAN PROGRAM APLIKASI ii .......2.............2.................................. KESIMPULAN DAN SARAN ......... 160 LAMPIRAN ........3........2.......... Submodel Lingkungan ................................. Permodelan Subsistem ………………………………………………................................................ Validasi Model Sitem....................1................................. 4.......... 3........2...............................................................5..........2...............1.................. Simulasi Submodel Sumberdaya.... 3................... Simulasi Submodel Teknis Produksi . Submodel Teknis Produksi ......... 115 116 122 130 137 149 V............. Submodel Pasar ...... Rekayasa Model SPK... Submodel Analisis Finansial ........................................................................................ 153 153 154 155 156 VI.......................3.......... 5.................. 157 159 DAFTAR PUSTAKA ...... Submodel Pasar .............. 153 5.................................................................................1.............. Submodel Lingkungan ............2.........................................3............2.................. 5........3.......... 4....................2...................2............................ Submodel Sumberdaya .............. Simulasi Model Sistem Dinamis ……………………………..................1...3........................ Submodel Pasar ..................................3.........2.5. 4.............................2.............. 102 4.....3.......4... Simulasi Submodel Analisis Finansial .............................................. 4....1...........................2... 4... Submodel Lingkungan .................................................... 4......................2....2..... Submodel Teknis Produksi ............................ 4... 6....... Simulasi dan Validasi Model Sistem Dinamis Investasi Industri Biodisel Kelapa Sawit . 4........

... 147 Analisis sensitivitas pabrik biodisel kapasitas 100........... 120 Tabel 7.............. Tabel 15....... 145 Hasil perhitungan IRR.... Pay Back Period dan saldo kas bersih pabrik biodisel kapasitas 100............................. 135-136 Tabel 10.......................... 22 Tabel 3... Hasil analisis model dinamik untuk perkebunan besar swasta ............................000 ton per tahun pada berbagai harga CPO .......................... 19 Tabel 2..........DAFTAR TABEL Halaman Tabel 1.......... 144 Proyeksi laba setelah pajak pabrik pengolahan biodisel (dalam Dolar AS) ....... Volume produksi dan nilai penjualan pabrik pengolahan biodisel ........................ Proyeksi proporsi ekspor dengan impor minyak bumi Indonesia ..........................………………………………………....... 118 Tabel 6........ Hasil analisis model dinamik untuk perkebunan rakyat ..... Ringkasan teknologi transformasi kimia pada pembuatan metil ester CPO ............. Proyeksi proporsi produksi dengan pemakaian BBM solar Indonesia …………….......000 ton per tahun (dalam Dolar AS) ........ 129 Tabel 8.......................... NPV............................ Proyeksi kebutuhan biaya investasi pembangunan pabrik pengolahan biodisel kapasitas 100........... 148 Tabel 13.. 34 Tabel 4..... 138-140 Tabel 11....... Metoda analisis yang digunakan pada tiap sub model .................... 142 Tabel 12....................... Hasil analisis model dinamik untuk perkebunan besar negara (data mulai tahun ke-5) ............ Perbandingan spesifikasi biodisel Malaysia dan Indonesia ...... iii .................................. Tabel 14.......................................................................... Perbandingan sifat biodisel dan solar...... 132 Tabel 9............................... 117 Tabel 5............... Rata-rata biaya pokok produksi pengolahan biodisel ...........................000 ton per tahun ...............

148 Data emisi sisa pembakaran kendaraan yang menggunakan disel dan campuran disel dan biodisel................................ tabel 18.. 150 Analisa beban lingkungan dari emisi sisa pembakaran bahan bakar kendaraan .............Halaman Tabel 16... Analisis sensitivitas pabrik biodisel kapasitas 100........... 151 iv ..................... Tabel 17................................................................................000 ton per tahun pada berbagai harga jual biodisel ..

....... Diagram alir deskriptif sub-submodel produksi CPO dari perkebunan kelapa sawit rakyat .................................... 45 Diagram alir deskriptif sub-submodel produksi CPO sebagai bahan baku biodisel ....................................................................................... 54 Gambar 7. 41 Diagram alir deskriptif sub-submodel produksi CPO dari perkebunan negara .. Gambar 12........................ Gambar 11................................................. 44 Diagram alir deskriptif sub-submodel produksi CPO nasional .......................................... 38 Diagram alir deskriptif sub-submodel produksi CPO dari perkebunan swasta ............... Kurva logistik ...................... 46 Diagram alir deskriptif sub-submodel proyeksi kebutuhan CPO sebagai bahan baku industri minyak goreng ....................................................................................................................................... Gambar 14........................................... Gambar 8.DAFTAR GAMBAR Halaman Gambar 1.............................. Diagram alir sistem penunjang keputusan investasi .................................................... 49 Diagram alir deskriptif sub-submodel kebutuhan CPO sebagai bahan baku industri oleokimia ............................... 31 Gambar 4 ...... 12 Gambar 2.. Gambar 13............................... 51 Diagram alir deskriptif sub-submodel proyeksi ekspor dan impor minyak bumi Indonesia ....... Gambar 9............. 36 Gambar 6.............. Diagram alir permodelan.............................................. ................... Persamaan reaksi kimia pembentukan biodisel dari CPO dan Metanol.................... 24 Gambar 3................ Diagram input output SPK investasi industri biodisel .. 50 Diagram alir deskriptif untuk menentukan kelayakan teknis produksi biodisel ................ 32 Gambar 5............... Gambar 10....

......... Diagram alir deskriptif untuk menentukan biaya variabel pabrik biodisel…………………………………………………….... 101 Gambar 31..... Gambar 22.............. Diagram alir deskriptif sub-submodel pasar biodisel........................................................... 67 Gambar 20....... 83 Diagram alir deskriptif untuk menentukan biaya pemasaran dan biaya administrasi pabrik biodisel . Diagram alir deskriptif sub-submodel kelayakan ............................................. Diagram alir deskriptif sub-submodel proyeksi produksi dan pemakaian BBM solar .. Diagram alir deskriptif untuk menghitung biaya penyusutan ....................... Hubungan antara sub model dari SPK investasi pada Indonesia Biodisel Kelapa Sawit (influence diagram)..... 96 Gambar 30.......................................... 84 Diagram alir deskriptif untuk menentukan biaya gaji karyawan pabrik biodisel .................... 73 Gambar 21....... vi ..... 88 Gambar 26. 85 Gambar 25............ Diagram alir deskriptif sub-submodel aliran dana ..... 95 Gambar 29.... 65 Diagram alir deskriptif untuk menentukan investasi pembangunan pabrik biodisel ............... 89 Gambar 27............................... Diagram alir deskriptif untuk menentukan biaya pemeliharaan peralatan/mesin pada pabrik biodisel .............. 78 Diagram alir deskriptif untuk menentukan biaya asuransi peralatan/mesin pada pabrik biodisel ...... Gambar 24.......... Gambar 19... Diagram alir deskriptif sub-submodel analisis finansial .... Gambar 23. 57 Gambar 17........................................ 55 Gambar 16. 91 Gambar 28........................ Diagram alir deskriptif submodel lingkungan....................... Diagram alir deskriptif sub-submodel laba rugi..........Halaman Gambar 15.................................. Diagram alir deskriptif sub-submodel neraca .... 63 Diagram alir deskriptif untuk menentukan biaya produksi pabrik biodisel ........................................... 103 Gambar 18......

.......................................................................................... 104 Tampilan awal program “I Think” SPK investasi Industri biodisel di Indonesia ................ Hasil simulasi analisis NPV dan BCR industri biodisel pada submodel analisis finansial ......000 ton/th ................................. 111 Gambar 42........ Hasil simulasi produksi CPO pada submodel sumberdaya ... vii ...................................... Proyeksi ekspor dan impor minyak bumi pada submodel pasar ................................................. Hasil simulasi proyeksi perkembangan permintaan CPO pada submodel sumberdaya .. 109 Kebutuhan bahan baku industri biodisel kapasitas 30........ 106 Gambar 35................... 107 Hasil simulasi produksi industri biodisel pada submodel teknis produksi ........... Proyeksi produksi dan konsumsi solar pada submodel pasar ............................................. 110 Kebutuhan enerji pada industri biodisel berkapasitas 30..................000 ton/th .............................................................. 114 Gambar 33.................. 113 Nilai indek EB (Environmental Burden) asiditas submodel lingkungan ........... Gambar 45.......................... Gambar 46........ 105 Gambar 34...... Gambar 37........................... 109 Kebutuhan enerji pada industri biodisel berkapasitas 100......................................................................... 112 Gambar 44....... Alur hubungan variabel pada Sistem Penunjang Keputusan Investasi ............................................................................................ 111 Gambar 43.................................................. Gambar 39..................................... 110 Gambar 41.................... 108 Kebutuhan bahan baku industri biodisel kapasitas 100........... Penghematan subsidi solar dengan adanya substitusi biodisel ................... Gambar 36.............. Gambar 38....... Gambar 40............................................... 114 Nilai indek EB (Environmental Burden) global warming submodel lingkungan .....000 ton/th .............................000 ton/th ...........................Halaman Gambar 32............

..................... 131 Validasi model proyeksi impor minyak bumi Indonesia dengan menggunakan model dinamis ............... 134 Proyeksi produksi dan pemakaian BBM solar Indonesia tahun 2003-2032 ........ 134 Validasi model proyeksi konsumsi BBM solar Indonesia dengan menggunakan model dinamis ....... 122 Gambar 52........................................................ Gambar 56.............................. Gambar 54.................... Gambar 53.................... 135 Gambar 60... Gambar 59........................ Gambar 57.................... Gambar 50....................... 131 Proyeksi ekspor dan impor minyak bumi Indonesia dengan menggunakan model kecenderungan kuadratik ..................... 119 Gambar 51... 133 Validasi model proyeksi produksi BBM solar Indonesia dengan menggunakan model dinamis ................ Diagram balok neraca bahan proses produksi biodisel dari Crude Palm Oil ....Halaman Gambar 47 Nilai indek EB (Environmental Burden) smog fotokimia submodel lingkungan ............................... 125 Validasi model proyeksi ekspor minyak bumi Indonesia dengan menggunakan model dinamis .............. 124 Diagram balok neraca enerji proses produksi biodisel dari Crude Palm Oil ....... 115 Validasi model proyeksi luas perkebunan kelapa sawit dari perkebunan rakyat dengan menggunakan model dinamis ................... Proyeksi ketersediaan CPO sebagai bahan baku biodisel .... 117 Validasi model proyeksi luas perkebunan kelapa sawit dari perkebunan negara dengan menggunakan model dinamis ..... viii ...... 143 Gambar 48......................... Grafik proyeksi biaya pokok produksi dan harga biodisel................................... Gambar 49............... Gambar 55............................................................................... Grafik proyeksi perkembangan biaya modal rata-rata ...................... Gambar 58...... 141 Gambar 61............................... 118 Validasi model proyeksi luas perkebunan kelapa sawit dari perkebunan besar swasta dengan menggunakan model dinamis ................................

.........000 ton per tahun........................... 152 ix ............ Gambar 64......... biaya usaha dan laba setelah pajak pabrik biodisel dengan kapasitas 100..........................Halaman Gambar 62. Proyeksi penjualan.... 146 Perbandingan Indeks EB (Environmental Burden) Emisi Sisa Gas Pembakaran ............................ Gambar 63............. 144 Proyeksi aliran kas pabrik biodisel dengan kapasitas 100.....000 ton per tahun...............

... Perbandingan standar biodisel di beberapa negara ............................... Diagram alir unit proses purifikasi .. Diagram alir unit proses transesterifikasi. 179 Lampiran 7................................. Perhitungan rencana biaya produksi pabrik biodisel kapasitas 100.............................000 ton per tahun (US $) ........ 178 Lampiran 6.. 167 Lampiran 2.................................... 171 Lampiran 4........................ Diagram alir unit proses persiapan umpan ............................... 180 Lampiran 8......... 181 x ............ Produsen dan total produksi biodisel di Eropa tahun 2000 ... 169 Lampiran 3...... Skenario pembangunan pabrik biodisel ...................................... Diagram alir unit proses separasi ......DAFTAR LAMPIRAN Halaman Lampiran 1.... 174 Lampiran 5..........

Sejak terjadi krisis ekonomi pada tahun 1997 sampai sekarang. Soerawidjaja dan Tahar (2003) memperkirakan konsumsi minyak solar dalam negeri akan semakin meningkat yaitu mencapai 30 miliar liter pada tahun 2006. sehingga mempengaruhi tatanan ekonomi global. relatif belum ada investasi baru di bidang eksplorasi minyak mineral. dimana ketergantungan akan produk solar impor tidak dapat dihindari disebabkan pertambahan kapasitas pengilangan minyak tidak dapat mengimbangi volume pertumbuhan konsumsi yang besar.35 juta barel per hari (bph). . maka akan semakin memberatkan beban anggaran pemerintah yang dikeluarkan untuk mensubsidi harga BBM nasional (Kurtubi 2005). sedang faktor penyediaannya relatif tetap bahkan cenderung menurun dengan faktor harga berfluktuasi atau sulit diprediksi (Kurtubi 2005).I. regional. Jika keadaan ini terus berlanjut. maupun ekonomi suatu negara. kebutuhan enerji yang berasal dari minyak mineral nasional semakin meningkat yaitu 1.000 bph serta mengimpor BBM sejumlah 300. Penggunaan enerji yang berasal dari minyak mineral di dunia diperkirakan mencapai 140 miliar ton dalam 5 tahun terakhir. Kebutuhan enerji dimasa mendatang akan semakin meningkat. Subsidi BBM pada tahun 2004 mencapai 75 triliun rupiah. Dalam rangka mengantisipasi kelangkaan enerji dimasa mendatang. sedang rata-rata produksi hanya sekitar 1. PENDAHULUAN Latar Belakang Perkembangan kemajuan teknologi dan industri telah memacu pertumbuhan konsumsi enerji yang cukup tinggi selama beberapa dasawarsa terakhir di dunia. dan sejalan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia saat ini mencapai $ 60 juga akan menyebabkan penambahan jumlah subsidi yang harus dikeluarkan pemerintah mencapai lebih dari 100 triliun rupiah sampai dengan kwartal ketiga tahun 2005 (Kurtubi 2005). pemerintah harus mengimpor minyak mentah sejumlah 250. Oleh karena itu.000 bph. 1.1. Menurut Departemen Enerji dan Sumberdaya Mineral (2002).1 juta bph minyak mentah. perlu dikaji potensi sumber enerji lain terutama enerji yang dapat diperbaharui.

India dan Cina. terutama ke negara-negara Eropa.2 juta hektar lahan dengan produksi mencapai 10 juta ton pada tahun 2004. panas bumi dan enerji biomas. matahari. maupun BBM selama ini maka pengembangan enerji alternatif yang ramah lingkungan dan dapat . produk kosmetik.5-4 juta ton per tahun terutama digunakan oleh industri minyak goreng dan makanan serta industri oleokimia. dan Papua. Pengembangan tanaman kelapa sawit secara besarbesaran dilakukan sejak tahun 1980 melalui berbagai macam program perluasan areal atau ekstensifikasi terutama di Pulau Sumatra. Minyak kelapa sawit dapat dijadikan berbagai macam produk industri antara (produk oleokimia dasar) atau produk industri hilir seperti minyak goreng. serta meningkatnya harga minyak mentah.2 Indonesia diketahui memiliki berbagai macam sumber enerji yang dapat diperbaharui seperti enerji air. selebihnya minyak sawit tersebut diekspor ke berbagai negara industri. sabun/detergen dan lain-lain. Potensi bahan baku BDS ditunjukkan oleh besarnya luas areal perkebunan kelapa sawit yaitu mencapai 5. BDS dapat dijadikan alternatif pengganti minyak solar yang banyak digunakan sebagai bahan bakar terutama pada sektor transportasi dan industri. Sejak tahun 1994 mulai dikembangkan berbagai macam produk agroindustri sawit (Direktorat Jenderal Tanaman Perkebunan 2002). Umumnya produk tersebut di negara tujuan diolah lebih lanjut menjadi produk-produk oleokimia akhir yang bernilai tambah tinggi ( Biro Data Indonesia 2000 ). angin. Konsumsi minyak sawit dalam negeri berkisar 3. Kalimantan. Mencermati masalah kelangkaan enerji fosil dan dampak lingkungan akibat emisi yang ditimbulkan oleh kendaraan yang berbahan bakar minyak fosil yang terus meningkat. Salah satu sumber enerji biomas yang mempunyai potensi untuk dikembangkan adalah enerji biomas yang berasal dari minyak kelapa sawit atau disebut Biodisel Kelapa Sawit (BDS). sifat produk yang ramah lingkungan. BDS merupakan salah satu produk yang mempunyai prospek dan peluang yang cukup baik untuk dikembangkan terutama ditinjau dari aspek kontinuitas penyediaan bahan baku. dan merupakan sumber enerji yang dapat diperbaharui (renewable).

Pendekatan model sistem dinamis dinilai tepat untuk digunakan dalam menganalisis keputusan investasi BDS karena faktor yang berpengaruh pada investasi dinilai cukup kompleks dan dapat berubah-ubah menurut waktu dan kondisi. serta kendala lainnya (LIPI 2005). dan penambahan enerji yang dapat diperbaharui (Murdiyarso 2003). maka penelitian ini menyusun model sistem penunjang keputusan investasi pada industri BDS menggunakan model sistem dinamis. Untuk membantu pengambil keputusan mengetahui keputusan investasi yang tepat dan relatif cepat. Pengembangan BDS di Indonesia baru dilakukan oleh beberapa perusahaan dan Lembaga Penelitian dalam skala “Pilot plant”. Diketahui faktor yang mempengaruhi suatu keputusan investasi banyak dan kompleks serta dapat berubah baik besaran maupun nilai menurut waktu dan kondisi yang terjadi. hal ini terutama ditunjukan oleh meningkatnya jumlah impor BBM nasional akibat adanya perubahan kebijakan struktur industri yang semula vertikal menjadi horizontal. diversifikasi sumber enerji. terutama oleh pemerintah. relatif mahal (Korbitz 1997). Biaya investasi pada industri biodisel terutama industri yang berskala besar. pengembangan investasi dalam bidang enerji mengalami pertumbuhan yang negatif.3 diperbaharui perlu mendapat perhatian yang cukup besar. Dalam rangka mendukung program pengembangan BDS nasional secara komersial diperlukan suatu pengkajian terhadap keputusan investasi. Kyoto tahun 1997. Kendala pengembangan investasi yang dihadapi oleh negara produsen di dunia saat ini adalah mahalnya biaya produksi biodisel terutama disebabkan oleh harga bahan baku yang relatif tinggi (Soerawidjaja dan Tahar 2003 ). dan Birma tahun 2001 telah menetapkan bahwa strategi pengembangan bioenerji harus diarahkan pada penghematan enerji melalui peningkatan efisiensi teknologi. Sejak tahun 1997. konvensi internasional di Rio de Jeneiro tahun 1992. Selain hal tersebut. Sistem dinamis telah banyak diterapkan dalam memecahkan persoalan . Pengembangan investasi industri biodisel sangat dipengaruhi oleh kebijaksanaan pemerintah dalam mengimplementasikan program diversifikasi enerji terbarukan.

stokastik dan bersifat dinamis atau berubah sesuai dengan kondisi yang terjadi. 3.4 dinamika industri. 2001). perguruan tinggi. Penelitian di bidang investasi biodisel diharapkan dapat bermanfaat bagi pelaku usaha. Biodisel kelapa sawit yang dikaji pada penelitian ini adalah biodisel yang berasal dari minyak kelapa sawit kasar (Crude Palm Oil) 2. Secara garis besar ruang lingkup pada penelitian adalah sebagai berikut : 1. 1. enerji. sosial. 1.3. pemerintah. Biodisel yang dihasilkan digunakan sebagai bahan bakar cair pada alat transportasi. dan lingkungan (Muhamadi et al. Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan rancang bangun sistem penunjang keputusan investasi pada industri biodisel kelapa sawit menggunakan model sistem dinamis. Ruang Lingkup Penelitian Biodisel kelapa sawit merupakan sumber energi baru di Indonesia yang belum banyak dikembangkan secara komersial. Mengingat biodisel kelapa sawit merupakan salah satu sumber energi yang dapat terbarukan dan bahan bakunya tersedia didalam negeri maka perlu dikaji potensi dan manfaat serta masalah yang akan dihadapi apabila investasi BDS dilakukan. Analisis faktor yang berpengaruh pada pengembangan investasi biodisel kelapa sawit didasarkan atas faktor yang terkait secara langsung atau . Dalam merepresentasikan keputusan model digunakan model sistem dinamis. Untuk menilai kelayakan investasi tersebut perlu disusun suatu model sistem penunjang investasi biodisel kelapa sawit. formulasi kebijakan.2. karena model sistem ini dapat merepresentasikan berbagai skenario permasalahan yang bersifat kompleks. dan masyarakat pengguna yang merupakan motor penggerak bagi pengembangan investasi pada industri BDS. Penggunaan produk tersebut diharapkan dapat mengurangi masalah polusi yang terjadi dan dapat mengatasi masalah kelangkaan sumber enerji mineral dimasa yang akan datang. bisnis.

1. Secara ilmiah menghasilkan suatu model sistem berupa perangkat lunak atau program komputer yang dapat digunakan sebagai alat bantu bagi pengambil keputusan dalam melakukan penilaian terhadap kelayakan investasi pada industri biodisel kelapa sawit. Microsoft Excel dan Minitab. dengan hasil biodisel dan gliserin murni. pelaku usaha dan masyarakat sebagai pengguna. untuk itu diperlukan sosialisasi dan masukan berupa kajian dan penelitian di bidang biodisel kelapa sawit kepada para pihak yang terkait dalam pengembangannya yaitu pemerintah (sebagai regulator dan fasilitator). 7. Faktor tidak langsung seperti kondisi suatu negara atau country risk dan keadaan moneter diasumsikan dalam keadaan tetap. 4. Validasi model dilakukan dengan landasan teori atau data empiris yang ada. Perhitungan simulasi proses pengolahan biodisel kelapa sawit didasarkan pada proses pengolahan berskala besar dengan kapasitas produksi 100 ribu ton per tahun. 3. 6. 2. 5. Pada dasarnya manfaat penelitian dapat diuraikan sebagai berikut : 1.4. Manfaat Penelitian Industri biodisel di Indonesia relatif baru dan belum berkembang secara luas. .5 faktor intrinsik. Implementasi Sistem Penunjang Keputusan didesain menggunakan software I Think. Pengolahan data pada sub model dilakukan dengan software Lotus Smartsuite. Memberi masukan kepada pemerintah dalam memformulasikan kebijakan dibidang enerji terbarukan. Membantu pelaku usaha atau calon investor dalam menyusun perencanaan investasi dibidang biodisel kelapa sawit.

Keberhasilan suatu manajemen sangat ditentukan oleh kemampuan para pimpinan dan manajer untuk mengambil suatu keputusan. Analisis sistem merupakan suatu studi yang mempelajari masalah yang ada pada dunia bisnis dalam rangka mencari rekomendasi yang tepat untuk penyelesaian masalah (Whitten dan Bentley 1998). 2004). ruang dan waktu yang semuanya disebut masukan atau input. sistem adalah sekelompok metode. interaksi. 2001). ilmu sistem adalah suatu ilmu yang mempelajari perilaku dari elemen yang berhubungan dan terorganisir untuk mencapai tujuan. material. 2. Ilmu sistem dapat dijadikan dasar untuk merancang Sistem Penunjang Keputusan (SPK). prosedur. Sedang menurut Eriyatno (1998). Perkembangan ilmu sistem saat ini banyak diarahkan pada soft system yaitu ilmu sistem yang mempelajari sistem penalaran sesuai dengan sistem kerja syaraf manusia (Marimin 2005). untuk selanjutnya diproses menjadi keluaran atau output untuk mencapai tujuan organisasi (Turban et al. .1. yang digunakan untuk membantu para pimpinan atau manajer membuat keputusan terutama keputusan yang bersifat kompleks dan tidak terstruktur serta tidak dapat atau sulit diprediksi. TINJAUAN PUSTAKA Sistem Penunjang Keputusan Setiap hari manusia selalu membuat keputusan baik keputusan individu maupun keputusan organisasi atau manajemen yang dibuat oleh para manajer. teknik atau objek yang berhubungan dan teroganisir saling keterkaitan satu sama lain untuk membentuk kesatuan keseluruhan untuk mencapai tujuan tertentu. Para manajer atau pengambil keputusan dari suatu organisasi sering dihadapkan pada tantangan internal dan eksternal sehingga memerlukan perubahan dan penyempurnaan pada fungsi manajerialnya (Mintzberg dan Quim 1996). koneksi atau relasi. Menurut Marimin (2005). Hubungan antar sub sistem atau elemen dapat berupa transaksi. SPK juga merupakan aplikasi dari sistem informasi yang dirancang untuk menyediakan informasi yang bermanfaat bagi pengambil keputusan (Whitten et al. transisi. enerji. Manajemen adalah suatu usaha pemanfaatan sumberdaya manusia. uang.II.

Pada tatanan sistem. berhubungan dengan penyimpanan data yang besar dan melayani banyak manajer dalam suatu perusahaan (2) Desktop atau single-user DSS adalah sistem kecil yang diperuntukkan pada PC manajer individual Sprague dan Carlson (1982) mengidentifikasi 3 komponen dasar SPK yaitu : (1) Sistem manajemen database (Database Management System/DMBS) .7 Perkembangan dan penerapan SPK telah dimulai sejak 35 tahun yang lalu yaitu dimulai dengan pengembangan SPK yang berorientasi model pada akhir tahun 1960. SPK yang berbasis model menekankan akses dan manipulasi model-model statistik. finansial. membagi SPK menjadi 2 bagian : (1) Enterprise-wide DSS. data warehousing dan on-line analytical processing (OLAP) memulai perluasan bidang SPK dengan pendekatan milenium atau aplikasi analisis berbasis web juga mulai diperkenalkan (Power 2002). diperkenalkan sistem informasi eksekutif (Executive Information System/EIS). Power (2000). SPK kelompok (Group Decision Support System/GDSS) dan SPK organisasional (Organizational Decision Support System/ODSS) tersusun dari pengguna tunggal dan SPK berorientasi model. tetapi mereka tidak memerlukan data yang intensif. optimasi dan simulasi. Pada tatanan konseptual SPK terbagi menjadi 5 bagian yaitu (Power 2002): (1) SPK yang berbasis komunikasi (communication-driven DSS) (2) SPK yang berbasis data (data-driven DSS) (3) SPK yang berbasis dokumen (document-driven DSS) (4) SPK yang berbasis pengetahuan (knowledge-driven DSS) dan (5) SPK yang berbasis model (model-driven DSS). Pada pertengahan dan akhir 1980. Sekitar awal tahun 1990. Pada tahun 1970 dilakukan pengembangan teori dan implementasi sistem perencanaan finansial. SPK yang berbasis model menggunakan data dan parameter yang diberikan oleh pemakai SPK untuk membantu para pengambil keputusan dalam menganalisis suatu situasi.

(2) Sub-sistem yang menyimpan. (3) Mesin pengetahuan. (3) Sub-sistem yang menggunakan model atau kumpulan model untuk melakukan sejumlah tugas analisis. (2) Sistem manajemen model. Menurut Sarma (1994) dan Dyer (1993). struktur SPK terdiri dari 5 komponen berbeda yaitu : (1) Sistem manajemen data. Sprague dan Watson (1980) membagi SPK ke dalam 3 sub-sistem utama yaitu : (1) User-system interface. Menurut Bidgoli et al. pendekatan sistematik (normatif) dalam pengambilan keputusan terdiri dari beberapa tahap. dan dikenal dengan istilah Sistem Manajemen Basis Model (Model Base Management System = MBMS). yaitu: (1) Mengenali problem-problem dalam mengambil keputusan (2) Mengerti dan memodelkan sistem dan lingkungannnya (3) Mengenali para pembuat keputusan (4) Mengenali tujuan-tujuan para pengambil keputusan dan preferensinya (5) Menganalisis pembatas-pembatas (6) Mengembangkan alternatif-alternatif. menampilkan dan menganalisis data yang relevan dan dikenal dengan istilah Sistem Manajemen Basis Data (Data Base Management System = DBMS). Fungsi-fungsi tersebut meliputi . mengambil. (1987). SPK memberikan kemampuan untuk melakukan sejumlah fungsi-fungsi yang berbeda. (4) Antarmuka pemakai dan (5) Pemakai. mengelola.8 (2) Sistem manajemen basis model (Model-Base Management Model/MBMS) dan (3) Generasi dialog dan sistem manajemen (Dialog Generation and Management System/DGMS) Menurut Marakas (1999). dan (7) Memilih alternatif-alternatif tersebut. yaitu dimana para pembuat keputusan dapat berinteraksi langsung dengan sistem.

analisis laporan pengecualian. manajemen. ekonomi. goal seeking. seperti bidang sosial.9 analisis what-if. administrasi. politik dan lain-lain (Ford 1999). karena sistem ini dinilai dapat melakukan pemecahan masalah yang dinamis atau berubah menurut waktu dan dapat mengintegrasikan pemecahan masalah berbagai disiplin. manager perusahaan industri banyak menggunakan pemodelan sistem dinamis. Dewasa ini dalam membantu para eksekutif. Secara substansi terdapat 3 alasan yang mendasari penggunaan sistem dinamis yaitu: 1) pendekatan sistem dengan metode sistem dinamis adalah merupakan proses berpikir menyeluruh dan terpadu yang mampu menyederhanakan kerumitan tanpa kehilangan esensi atau unsur utama yang menjadi objek dari perhatian. 2) metode sistem dinamis sesuai digunakan untuk . (2) Kepentingan adanya transformasi dan komputasi pada proses mencapai keputusan.2 Model Sistem Dinamis Menurut Forester (1961 diacu dalam Coyle 1996). peramalan. Aplikasinya. SPK baru dapat dikatakan bermanfaat apabila terdapat kondisi sebagai berikut : (1) Eksistensi dari basis data yang sangat besar sehingga sulit mendayagunakannya. sistem dinamis adalah sistem yang dikembangkan untuk menyelidiki suatu umpan balik dari suatu informasi tertentu menggunakan suatu model yang didesain untuk memperbaiki struktur dan kebijakan suatu organisasi. Pemodelan merupakan suatu abstraksi dari sebuah situasi nyata atau aktual. 2. baik dalam penentuan hasil maupun dalam prosesnya. analisis grafik. simulasi. analisis statistik dan permodelan. Sistem dinamis merupakan suatu pengembangan dari sistem kontrol atau sistem manajemen pengendalian suatu permasalahan yang kompleks dan berubah-ubah baik parameter maupun waktu. analisis sensitivitas. (4) Kepentingan akan penilaian atas pertimbangan akal sehat untuk menentukan dan mengetahui pokok permasalahan serta mengembangkan alternatif dan pemilihan solusi. (3) Adanya keterbatasan waktu.

tahapan analisis sistem dinamis menurut masyarakat pemerhati sistem dinamis meliputi: 1) identifikasi masalah. p2 . http://www. 3) dapat merepresentasikan alternatif-alternatif keputusan dengan cepat melalui simulasi dari model yang dibangun ( Coyle 1996). 5) melakukan pengujian model apakah dapat diterapkan pada dunia nyata. .edu/cpr/sds/.. Dalam membangun model perlu dilakukan beberapa proses berikut (Muhamadi et al. 2.. (5) Analisis kebijakan yang diperlukan Secara garis besar. (4) Identifikasi dinamika untuk mengatasi kesenjangan. Dalam khasanah ilmu sistem.. (3) Identifikasi kesenjangan antara kenyataan dan keinginan. Stella. 3) menyusun kausal sebab-akibat atau Influence Diagram..albany. metode sistem dinamis dimasukan dalam kategori white box atau proses pengolahan input menjadi output dapat dijelaskan dengan lebih akurat. Beberapa alat perangkat lunak yang digunakan dalam peramalan sistem dinamis adalah program komputer Powersim. (2) Identifikasi kejadian yang diinginkan. xm dapat dinyatakan dengan m buah persamaan diferensial biasa yang bergantung pada waktu t dan k buah parameter yaitu pˆ = { p1 .10 menganalisa mekanisme interaksi atau melihat pola keterkaitan antar unsur atau elemen suatu sistem yang rumit.3. dengan menilai model ini apakah dapat digunakan untuk kebijakan yang pemecahan masalah dan memformulasikan diperlukan (System Dynamics society.. Vensim. pk } dapat dinyatakan sebagai . 2001). berubah menurut waktu dan mengandung ketidakpastian. 2001) : (1) Identifikasi proses yang menghasilkan kejadian nyata. x2. Model Dinamik Secara umum model dinamik kontinu yang melibatkan m state variable x1. 20 Januari 2003). 4) membangun model simulasi pada komputer. 2) merumuskan hipotesis sistem dinamis... I think analist dan Mathematica (Muhamadi et al.

.. xm (t ). Misalkan nilai pengamatan yi dinyatakan sebagai yi = g (x(ti ...... pˆ k } (Luenberger...... t ∈ [0. pˆ 2 .. ii... t... p) f 2 ( x1 (t ).......: i......4.............. x2 (t ).11 x&1 x&2 M x&m dengan x&i = = = M = f1 ( x1 (t ).... p ∈ R p ....... Model Logistik Model logistik adalah suatu bentuk khusus model dinamik yang dapat dinyatakan dengan persamaan diferensial: dY & Y = Y (t ) = r Y (1 − ) dt K . p))) 2 } .. Dengan notasi vektor.. x& ∈ R m . x. x2 (t )......... 1979) 2. (2) Bila diketahui nilai pengamatan yi yang merupakan fungsi dari t dan peubah xi maka parameter p dapat diduga melalui tahapan sbb...... p ). T ]. (4) i =1 Dari (4) akan diperoleh penduga parameter p.. M f m ( x1 (t ). p) ..... p) (1) dxi ....... xm (t )....... yaitu pˆ = { pˆ1 ....... sistem persamaan diferensial (1) dapat dt dinyatakan sebagai: x& = f (t . xm (t )......... x2 (t ). p)) + ε i . (3) dimana ε i merupakan sisaan (residual) model.. Penduga parameter p dapat diperoleh dengan metode kuadrat terkecil (least square method) dengan cara meminimumkan jumlah kuadrat sisaan εˆi : n min{S (p) = ∑ ( yi − g (xˆ (ti . (5) .. t .......... t.. p) adalah solusi (1). Misalkan xˆ (t ...

Laju ini menurun ketika pertumbuhan Y(t) meningkat sampai batas atasnya K yang sering disebut ”daya dukung lingkungan”.12 Suku r (1 − Y / K ) dapat diinterpretasikan sebagai laju pertumbuhan.. Y K titik belok • Y0 t Gambar 1.. Berdasarkan bentuknya kurva logistik juga sering disebut sebagai “kurva S” (Luenberger 1979).. .. Solusi dari persamaan tersebut adalah Y (t ) = K 1 + b exp(− a t ) .. Terlihat bahwa diawal. (Luenberger..... Kurva Logistik Model logistik banyak digunakan untuk menduga pertambahan populasi yang awalnya bertambah tetapi pada suatu saat laju pertambahan menurun karena adanya faktor pembatas misalnya digunakan untuk menduga pertambahan penduduk di negara yang baru berkembang dan perkembangan pertumbuhan tanaman dan lain lain..... Titik di mana terjadi laju pertumbuhan maksimum disebut “titik belok”. Bentuk kurvanya dapat dilihat pada Gambar 1....... lalu perlahan-lahan menurun hingga lajunya mendekati 0 saat mendekati daya dukung lingkungan K.. 1979) (6) Dimana b > 0 ditentukan dengan kondisi awal Y(0) < 0. laju pertumbuhannya meningkat pesat menyerupai pertumbuhan eksponensial sampai pada suatu titik.

Laporan keuangan yang biasanya digunakan untuk menilai kinerja suatu perusahaan secara umum terdiri dari laporan neraca..5. manajemen dan karyawan) dan pihak eksternal seperti kreditor dan investor. Analisis Finansial Dalam menilai tingkat keberhasilan suatu perusahaan........13 2... atau periode ke-0 i = tingkat bunga yang diperhitungkan n = periode waktu. FVn = Ao (1 + i)n Dimana: FVn .................... PVo = Dimana: PVo FVn i FVn (1 + i) n ...n Present Value (nilai sekarang) adalah jumlah uang yang harus diinvestasikan pada waktu sekarang dengan tingkat bunga tertentu guna mendapatkan penerimaan arus kas tertentu pada akhir periode tertentu di masa datang... 0.... laporan laba rugi dan laporan arus kas (Stice dan Skousen 2004). Beberapa dasar perhitungan kriteria investasi adalah sebagai berikut (Haming dan Basalamah 2003): a. Perusahaan bersaing untuk mendapatkan pendanaan eksternal karena pemakai eksternal memiliki beragam alternatif investasi.....…........ Penghitungan Net Present Value (NPV) Future Value (nilai akan datang) ialah nilai dari uang atau arus kas yang akan diterima pada akhir periode tertentu di masa yang akan datang yang bertumbuh sebesar tingkat bunga yang diperhitungkan.. (7) = nilai akan datang pada akhir periode n Ao = nominal arus kas pada periode dasar..... Pengambil keputusan terdiri dari pihak internal (seperti dewan direksi....... Kualitas informasi akuntansi yang disediakan bagi pemakai eksternal akan membantu untuk menentukan (1) apakah pendanaan akan diterima.. dan (2) biaya yang berkenaan dengan pendanaan tersebut..... yang tersusun dalam bentuk akuntansi keuangan..... = nilai sekarang pada periode 0 = nilai akan datang pada akhir periode ke-n = tingkat bunga (8) .. 2... 1........ 3......... pengambil keputusan memerlukan informasi tentang kinerja keuangan..

............... (12) Jika pendanaan proyek dilakukan oleh investor dengan dananya sendiri (self financing) maka beban bunga tidak ada sehingga arus kas sesudah pajak menjadi: NICF = laba sesudah pajak (EAT) + Depresiasi ...... . 2.. (9) = nilai sekarang dari arus kas periode ke-t At = arus kas nominal pada periode ke-t i = tingkat bunga yang diperhitungkan t = periode 1... sekaligus membentuk laba untuk investor atau pemilik perusahaan.................. Kriteria nilai sekarang neto (Net Present Value – NPV) didasarkan pada konsep mendiskonto seluruh aliran kas ke nilai sekarang. n TPV = n ∑ i ==1 Dimana: TPV At (1 + i )t (10) = nilai sekarang total At (1 + i ) t = nilai sekarang arus kas A setiap periode ke-t NPV = -Io + TPV Dimana: NPV ............ (13) Jika nilai sekarang NICF lebih besar nilai sekarang Io................................ maka akan diperoleh nilai sekarang bersih (Net Present Value atau NPV) dari proyek.... Dengan mendiskonto semua aliran kas masuk dan keluar selama umur proyek (investasi) ke nilai ................ 3............. (11) = Nilai Sekarang NICF – Nilai Sekarang TPV = nilai sekarang total Io = investasi awal Net Income Cash Flow (NICF) yaitu arus kas bersih sesudah pajak NICF = laba bersih + Depresiasi + (1 – t) Bunga ...…......... Jika kedua besaran arus kas dikurangkan..............14 Metode nilai sekarang (present value method) adalah metode penilaian kelayakan investasi yang menyelaraskan nilai yang akan datang arus kas menjadi nilai sekarang dengan melalui pemotongan arus kas dengan memakai faktor pengurang (diskon) pada tingkat biaya modal tertentu yang diperhitungkan....... maka proyek dipandang layak karena mampu memikul beban yang ada... PVt = At (1 + i)t Dimana: PVt ..

b........ (14) = nilai sekarang neto (C)t = aliran kas masuk tahun ke-t (C0)t = aliran kas keluar tahun ke-t n = umur unit usaha hasil investasi i = arus pengembalian (rate of return) t = waktu Jika NPV lebih besar 0 atau positif. berarti proyek layak dan jika NPV < 0 atau negatif berarti proyek tidak layak. IRR = I1 + [ NPV2 ] ( I 2 I1 ) .. yaitu harga (pasar) saat ini.. yaitu faktor nilai waktu dari uang dan (selisih) besar aliran kas masuk dan keluar.. maka proyek tersebut layak diterima... NPV = Dimana: NPV (C )t ∑ t t = 0 (1 + i ) n n (Co)t ∑ (1 + i) t =0 t .. Dengan demikian..... atau sewaktu NPV sama dengan 0..... (15) NPV2 NPV1 Dimana: IRR = Internal Rate of Return I1 = tingkat bunga yang kecil I2 = tingkat bunga yang besar NPV1 = nilai sekarang bersih yang diperoleh dari faktor I2 (negatif) .... Penghitungan Internal Rate of Return (IRR) Tingkat kemampulabaan internal (Internal Rate of Return) adalah metode analisis kelayakan yang bertujuan untuk mengetahui tingkat balikan internal sewaktu nilai sekarang arus kas masuk (TPV) sama dengan nilai sekarang pengeluaran investasi (Io)... Jika IRR lebih besar dari tingkat bunga.15 sekarang. kemudian menghitung angka neto maka akan diketahui selisihnya dengan memakai dasar yang sama. Hal tersebut berarti sekaligus dua hal telah diperhatikan......... NPV menunjukkan jumlah lumpsum yang dengan arus diskonto tertentu memberikan angka berapa besar nilai usaha (Rp) tersebut pada saat ini............ amat membantu pengambil keputusan untuk menentukan pilihan..

16
NPV2
c.

= nilai sekarang bersih yang diperoleh dari faktor I1
(positif)

Penghitungan Benefit-Cost Ratio
Untuk mengkaji kelayakan proyek sering digunakan pula kriteria yang

disebut Benefit-Cost Ratio (BCR). Penggunaannya amat dikenal dalam
mengevaluasi proyek-proyek untuk kepentingan umum atau sektor publik.
Rumus yang digunakan adalah sebagai berikut :
BCR =

Nilai sekarang benefit
( PV ) B
=
Nilai sekarang biaya
( PV )C

..............

(16)

Biaya C pada rumus di atas dapat dianggap sebagai biaya pertama (Cf)
sehingga rumusnya menjadi:
BCR =
Dimana: BCR

( PV ) B
Cf

....................................

(17)

= perbandingan manfaat terhadap biaya (Benefit-Cost

Ratio)
(PV)B = nilai sekarang benefit
(PV)C = nilai sekarang biaya
Kriteria BCR akan memberikan petunjuk sebagai berikut:
BCR > 1 usulan proyek diterima
BCR < 1 usulan proyek ditolak
BCR = 1 netral

d.

Penghitungan Titik Impas (Break Even Point)
Titik impas adalah titik dimana total biaya produksi sama dengan

pendapatan.

Titik impas menunjukkan bahwa tingkat telah menghasilkan

pendapatan yang sama besarnya dengan biaya produksi yang dikeluarkan. Selain
dapat mengungkapkan hubungan antara volume produksi, harga satuan dan laba,
analisis titik impas bagi manajemen akan memberikan informasi mengenai
hubungan antara biaya tetap dan biaya variabel. Dengan asumsi bahwa harga
penjualan per unit produksi adalah konstan maka jumlah unit pada titik impas
dihitung sebagai berikut :

17
Pendapatan = biaya produksi
= biaya tetap + biaya tidak tetap
= FC + Qi x VC
Qi x P = FC + Qi x VC

FC

Qi =

….. ..........................................

(18)

P VC
= jumlah unit (volume) yang dihasilkan dan terjual pada
titik impas
= biaya tetap
= harga penjualan per unit
= biaya tetap per unit

Dimana: Qi
FC
P
VC

e. Penghitungan Payback Period

Jangka waktu pemulihan modal (payback period) adalah jangka waktu
yang diperlukan, biasanya dinyatakan dalam satuan tahun, untuk mengembalikan
seluruh modal yang diinvestasikan. Masa pemulihan modal ini dihitung dengan
menggunakan dua macam acuan, yaitu:
1. Metode arus kumulatif, dan
2. Metode arus rata-rata
Metode arus kas kumulatif dipakai sebagai alat penilai kelayakan jika arus
kas proyek tidak seragam, atau berbeda dari tahun ke tahun selama usia ekonomis
proyek. Sedang metode arus kas rata-rata dipakai jika arus kas proyek seragam,
atau sama besarnya dari tahun ke tahun selama usia ekonomis proyek ini.
Informasi masa pemulihan modal dapat dipakai sebagai alat prediksi
ketidakpastian dimasa datang, dimana proyek yang memiliki masa pemulihan
modal yang lebih singkat diidentifikasi sebagai proyek yang memiliki masa
pemulihan modal yang relatif lama akan memiliki pula resiko di masa mendatang
yang lebih besar.
T=
Dimana: T
Io
Ā

Io
A

x 1 tahun

................................................

= periode pemulihan modal
= investasi inisial
= arus kas tahunan yang seragam

(19)

18

Pengertian Dan Spesifikasi Biodisel
Biodisel merupakan salah satu bahan bakar cair yang dapat digunakan
sebagai alternatif pengganti solar. Biodisel dapat diolah dari minyak nabati,
minyak hewani maupun dari minyak goreng bekas (used frying oil). Secara kimia
biodisel merupakan suatu alkil ester asam lemak rantai panjang. Secara teknis
biodisel yang langsung diolah dari minyak nabati dikenal sebagai VOME
(Vegetable Oil Methyl Ester) dan FAME atau Fatty Acid Methyl Ester (Germany
dan Bruna 2001).
Hasil produk pertanian yang dapat dijadikan biodesel diantaranya adalah
minyak kedele, minyak kanola, minyak bunga matahari, minyak jarak, minyak
kelapa, minyak sawit, minyak goreng bekas dan lain-lain. Perkiraan jumlah
biodisel di dunia yang berasal dari minyak kanola (rapeseed oil ) mencapai 84%;
minyak bunga matahari (sun flower oil) 13%; minyak kacang kedelai 1%; minyak
sawit dan minyak kelapa 1% dan lainnya 1% ( Ralf 2001 ).
Selain sebagai produk subsitusi dari solar yang digunakan pada sektor
transportasi, biodisel dapat juga digunakan sebagai minyak bakar atau minyak
pemanas (heating oil) pada wilayah sensitif seperti wilayah perairan/ laut, dan di
area

pertambangan. Penggunaan biodisel di wilayah ini bertujuan untuk

mengurangi polusi karena emisinya tidak membahayakan lingkungan (Biodiesel
Development Corporation 1999).
Beberapa perusahaan otomotif di dunia telah menggunakan biodisel tanpa
memodifikasi mesin. Biodisel dapat digunakan secara murni atau disebut B100
dan penggunaannya dapat juga dicampur dengan solar pada berbagai komposisi
campuran, misalnya B20 merupakan campuran biodisel 20% dan solar 80%. Pada
saat ini biodisel yang tersedia secara komersial di Amerika dan Eropa adalah B20,
Perancis B05, dan berbagai komposisi campuran lainnya (Korbitz 1997).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Colorado Institute terhadap
perbandingan emisi kendaraan yang menggunakan bahan bakar solar dan biodisel
menunjukkan bahwa emisi kendaraan yang menggunakan biodisel (B20) lebih
rendah dibandingkan emisi kendaraan yang menggunakan solar. Komponen emisi
yang lebih rendah adalah total partikulat 14%, hidrokarbon 13% dan karbon
monoksida 7% pada biodisel dibandingkan dengan solar, serta emisi biodisel juga

Tabel 1.1 0. 4) kesadaran terhadap kelangkaan sumber enerji dimasa yang akan datang (Soerawidjaja dan Tahar 2003). National Renewable Energy Laboratory ( 2000 ).19 tidak mengandung logam sulfur (Biodiesel Development Corporation 1999). Beberapa aspek yang menjadi pertimbangan negara produsen untuk mengembangkan biodisel adalah: 1) ketersediaan bahan baku di negaranya. nitro oksida dioksida 13 Handling Kurang mudah terbakar Lebih mudah terbakar 14 Lingkungan Toksisitas rendah 15 Provisi Terbarukan Toksisitas 10 kali lebih tinggi Tak terbarukan Sumber : Penelitian Lemigas (Gafar 2001) dan US Department of Energy. jumlah 12 Emisi hidrokarbon. .8624 0. Perbandingan sifat fisiko kimia solar dan biodisel tertera pada Tabel 1 dibawah ini. % 0. C 172 98 5 Angka setana 62. 3) kapasitas produksi disesuaikan dengan besarnya permintaan produk di negara tersebut. mm2/s ( cSt) 0 4 Titik kilat.000 BTU BTU 8 Putaran mesin Sama Sama 9 Modifikasi mesin Tidak perlu Konsumsi bahan Sama 10 bakar 11 Pelumasan Lebih tinggi Lebih rendah Lebih rendah karbon Lebih tinggi karbon monoksida.8750 Viskositas kinem pd 3 5.55 4.000 128. 2) minyak nabati yang akan diolah menjadi biodisel merupakan tanaman asli atau budidaya asli negeri tersebut sehingga pasokan bahan baku dapat terjamin. sulfur dioksida.3 Tenaga yang Tenaga yang dihasilkan 7 Tenaga Mesin dihasilkan 130. Sifat Fisik/Kimia Biodisel Solar Komposisi Metil ester dari asam Hidrokarbon 1 lemak 2 Massa jenis.4 53 6 Kelembaban. sulfur hidrokarbon.0 40º C. diolah. Perbandingan sifat biodisel dan solar No. mg/ml 0. jumlah monoksida.

Minyak sawit mengandung beberapa jenis asam lemak yang berikatan dengan gliserol membentuk trigliserida. Sifat Fisiko-Kimia Biodisel Sifat fisiko kimia dari biodisel dan solar relatif sama. Enerji yang dihasilkan biodisel relatif sama dengan yang dihasilkan oleh solar. massa jenis Viskositas. . titik awan/mendung (Germani dan Bruna. Parameter mutu biodisel dapat dibedakan atas dua kelompok yaitu: 1) parameter untuk menguji minyak disel. Penyimpanan dan penangganan biodisel cukup aman dibandingkan dengan solar karena tidak menghasilkan uap yang berbahaya pada suhu kamar. angka setana.20 2. Beberapa spesifikasi atau parameter penting adalah ukuran. Jumlah asam lemak mencapai 95% dari berat total molekul trigliserida sehingga hal ini mempengaruhi sifat fisika/kimia dari minyak tersebut (Ketaren 1986).7. Biodisel tidak menghasilkan efek rumah kaca karena karbon yang dihasilkan masih dalam siklus karbon yang tertutup sehingga bersifat ramah lingkungan (Biodiesel Development Corporation 1999). Biodisel relatif tidak memproduksi asap dan emisinya lebih mudah diuraikan karena mempunyai sifat toksisitas yang lebih rendah dibandingkan dengan solar karena biodisel tidak mengandung senyawa hidrokarbon aromatik (Pacific Biodisel 2003). Parameter seperti densitas. Minyak sawit atau CPO merupakan senyawa yang tersusun dari unsur C. Biodisel yang diaplikasikan pada motor bakar menghasilkan suara mesin yang lebih halus karena memiliki angka setana yang lebih tinggi dari solar (Gafar et al. 2) parameter yang berhubungan dengan komposisi kimia dan kemurnian metil ester. CO2. 2001). dan O. H. titik kilat. dan kandungan sulfur dipengaruhi oleh jenis minyak nabati yang digunakan dalam pemurniannya (Mittelbach 2001). Ditinjau dari sumbernya biodisel merupakan bioenerji yang dapat diperbaharui dan ramah lingkungan sedangkan solar tidak dapat diperbaharui dan penggunaannya tidak ramah lingkungan akibat kandungan CO. 2001). dan logam berat yang relatif tinggi (Schafer 1998). angka setana. Minyak sawit juga terdiri dari fraksi padat dan fraksi cair dengan perbandingan yang hampir sama.

Standar biodisel yang ada di Malaysia saat ini mengacu pada standar minyak disel yang digunakan pada angkutan umum bus di sana.21 2. Australia dan negara lainnya mempunyai standar sendiri. Perbedaan standar biodisel Indonesia dan Malaysia disebabkan oleh adanya perbedaan jenis bahan baku yang digunakan untuk membuat biodisel. dan minyak goreng. Perguruan Tinggi dan praktisi. Pertanian. untuk bahan bakar otomotif dan untuk enerji minyak bakar ( heating oil). minyak jarak.8. Sedangkan bahan baku yang digunakan di Malaysia hanya minyak sawit dan . Pada dasarnya standar atau spesifikasi biodisel ditentukan sesuai dengan penggunaannya. Pada saat ini Uni Eropa sedang merumuskan acuan standar penggunaan biodisel untuk Uni Eropa tetapi belum diberlakukan (Korbitz 1997). sedang Jepang. Di Indonesia telah terbentuk Forum Biodisel Indonesia yang beranggotakan Departemen ESDM. Kementrian LH. Bahan baku yang digunakan untuk membuat biodisel di Indonesia adalah minyak kelapa sawit dan turunannya. misalnya DIN51606 banyak digunakan di negara Eropa. digliserida dan trigliserida masing-masing 0. Biodisel yang biasanya digunakan di Jerman umumnya menggunakan standar DIN series. Namun parameter penting untuk kedua jenis penggunaan tersebut adalah kemurnian ester metil. viskositas. Parameter penting adalah kandungan monogliserida 0.8%. Standar/Spesifikasi Biodisel Standarisasi biodisel selama ini dilakukan oleh masing-masing negara pengguna atau produsen. Canada. titik kilat. kadar monogliserida. trigliserida serta kadar CCR atau Conradson Carbon Residu (Germany dan Bruna 2001) . Forum Biodisel Indonesia mengeluarkan acuan standar biodisel dengan mempertimbangkan beberapa alternatif bahan baku yang tersedia di dalam negeri dan memiliki sifat yang sama atau mendekati sifat fisiko kimia dari minyak solar yang digunakan di Indonesia. Standarisasi biodisel yang digunakan di Amerika umumnya biodisel yang berasal dari minyak kedelai dan minyak goreng bekas (used frying oil) distandarisasi oleh ASTM (American Standard for Testing and Material). Lembaga Penelitian.1%. bebas gliserol. Ada dua kegunaan biodisel yaitu. Perbandingan standar biodisel di Malaysia dan Indonesia dapat dilihat pada Tabel 2 . digliserida.

05 ≤ 0.02 ≤ 0.02 Gliserin total % m/m 0.0 0 Titik Awan C 5 Cold Filter Plugging Point (CFPP) % b Korosi strip Tembaga(3jam/50ºC) Residu Karbon .6.05 ≤ 360 ≤ 0. % m/m adalah persen massa per massa 2.0.0 ≥ 100 ≥ 48 ≤ 0. % b adalah persen terhadap berat . Perbandingan Spesifikasi Biodisel Malaysia dan Indonesia Malaysia Parameter Satuan Nilai Kadar Ester Alkali % m/m ≥ 96.02 Kadar monogliserida % m/m 0.25 ≤ 10 ≤ 18 ≤3 ≤ 0. indikator mutu yang masih kosong artinya belum ada informasi tetapi diperlukan 3. Tabel 2.3 ≤ 0. %-b %b Belerang.5 Grams Angka iodium 120 Iodine/100 g Methyl ester dari linolenic acid % m/m 12 Kadar Ester berikatan rangkap >4 % m/m 1 Metanol % m/m 0. angka asam dan bilangan iodium (Soerawidjaja dan Tahar 2003).20 Gliserol bebas % m/m 0.5 Massa jenis pada 15 0C Kg/m3 860-900 Massa jenis pada 40 C Viskositas @ 40 0C mm2/s 3. ppm-b % m/m 5 Fosfor.9 0 Titik kilat C 120 Conradson (CCR) % m/m ≤ 0.5 0. diolah.85 .20 Kadar trigliserida % m/m 0.80 Kadar digeliserida % m/m 0.89 2.5 .8 ≤ 115 ≤ 0.3 . ppm-b %b Uji Halphen Sumber Indonesia Nilai ≥ 96.dalam contoh asli %b .25 Kadar (Na+K).22 turunannya saja. Keterangan : 1. Spesifikasi minyak biodisel di Indonesia telah mempertimbangkan kisaran nilai atau angka parameter yang dapat memenuhi standar biodisel diantaranya angka setana. ppm-b % m/m 10.02 ≤ 50 Negatif : Malaysian Palm Oil dalam Shaz-Lan Group of Companies. Budiman 2004.3 Angka setana ≥ 51 Angka Asam Mg KOH/g 0.dalam 10% ampas distilasi %b Air dan sedimen %b Air ppm b Kontaminasi total Ppm-b Temperatur distilasi 90 % ºC Abu tersulfatkan. Malaysia 2002.

23 2. Produk yang ingin dihasilkan dapat dirancang sesuai dengan keinginan pengguna atau taylor made. dan dengan cara berkesinambungan atau disebut continous process. . yaitu lebih kecil dari 10. Pada saat ini berbagai macam proses teknologi tersedia di pasaran mulai dari kapasitas produksi skala kecil. reaksinya dapat dinyatakan dengan persamaan yang terlihat pada persamaan berikut.000 ton per tahun. Pengolahan minyak kelapa sawit atau CPO untuk menghasilkan biodisel dapat dilakukan dengan proses esterifikasi dan transesterifikasi. sehingga dalam pengolahan biodisel air harus dihilangkan. dan kapasitas produksi dengan skala besar. minyak kelapa.9. Sedangkan teknologi pengolahan yang berskala kecil banyak dihasilkan oleh bengkel kerja yang ada di Perguruan Tinggi dan lembaga penelitian atau asosiasi petani terutama di negara Uni Eropa.000 ton per tahun. Ester dapat berikatan hidrogen dengan air. yaitu kapasitas 30. Teknologi pengolahan biodisel berskala besar dan sedang banyak dihasilkan oleh perusahaan besar yang ada di Uni Eropa dan di Amerika. Rudolf Disel dengan mengekstrak minyak bunga matahari. O R C + OH Asam Karboksilat Ester adalah O H2SO4 ROH Alkohol turunan R C + H2 O OR Ester karboksilat asam karboksilat yang Air gugus –OH dari karboksilatnya diganti dengan gugus –OR dari alkohol. dan minyak kacang dan diuji cobakan penggunaannya sebagai bahan bakar mesinmesin disel (Korbitz 1997). misalnya biodisel dan gliserin (Lohrlein 2002). Amerika dan Australia (Korbitz 1997). Esterifikasi adalah proses pembuatan ester dari asam karboksilat dan alkohol dengan katalis asam (H2SO4). Proses pengolahan biodisel dapat dilakukan secara bertahap atau disebut batch process.000-100. Teknologi Pengolahan Biodisel Proses pengolahan biodisel telah dikembangkan sejak tahun 1895 oleh DR.

yang diperoleh dengan mereaksikan ester karboksilat dengan metanol dengan bantuan katalis basa (KOH). Sumber bahan baku yang digunakan untuk memproduksi biodisel dapat berasal dari minyak sawit kasar (CPO) atau produk turunanya RBD – Olein. RBD – Stearin serta dari CPO Parit (limbah minyak CPO yang ada di pabrik). Transesterifikasi adalah proses pengubahan ester menjadi ester dalam bentuk lain. 2) CPO off grade atau dengan kadar FFA lebih besar 5 %. Reaksinya dapat ditulis sebagai berikut : O R1 C O OCH2 R1 C O OCH R1 C OCH2 Trigliserida HOCH2 + 3CH3OH KOH HOCH O + 3R1 C OCH3 HOCH2 Metanol Gliserin Metil Ester Gambar 2. Secara garis besar. Persamaan reaksi kimia pembentukan biodisel dari trigliserida dan metanol Reaksi berlangsung pada temperatur dan tekanan yang rendah (150º F dan 20 Psia) dengan katalis basa (NaOH atau KOH) dengan hasil rendemen biodisel mencapai 98 % dari bahan baku utamanya (Reksowardoyo et al.24 Ester yang berbobot molekul rendah sedikit larut dalam air tetapi ester yang terdiri dari empat atau lima karbon lebih tidak larut dalam air. proses transesterifikasi pada pengolahan biodisel merupakan proses pengubahan trigliserida dari CPO atau RBDPO menjadi metil atau etil ester sebagai biodisel. 2002). dan 4) FFA distilat atau kadar FFA mencapai 75 % dan biasanya merupakan limbah dari pabrik pengolahan minyak goreng. kadar asam lemak bebas atau FFA yang terdapat pada minyak sawit yang dapat digunakan sebagai bahan baku CPO terdiri dari: 1) CPO dengan kadar FFA lebih kecil dari 5%. Dengan demikian. Menurut penelitian yang dilakukan oleh BPPT (2002). Lohrlein (2002) membagi proses pengolahan biodisel dalam tiga tahapan unit proses sebagai berikut: 1) Unit proses preparasi yang meliputi: . 3) CPO pond atau kadar FFA berkisar 40–70 %.

katalis dan senyawa lainnya (impuritas). Reaksi berlangsung pada kondisi atmosfir dan 0 temperatur 60–70 C. Sebelum dilakukan pengkajian suatu investasi baru sebaiknya dilakukan suatu analisa persaingan dari posisi industri tersebut atau analisa posisi industri serta faktor atau . sebelum direaksikan bahan baku dibersihkan untuk menghilangkan padatan/kotoran yang terdapat pada minyak sawit kasar. kelayakan teknis. Proses pemurnian dilaksanakan dengan melakukan pencucian terhadap metil ester dan pendestilasian terhadap gliserin. untuk memperoleh metil ester atau biodisel dan gliserin yang murni. Kelayakan suatu investasi adalah suatu pengkajian yang bersifat menyeluruh terhadap semua aspek yang mempengaruhi investasi tersebut misalnya potensi pasar. Kadar asam lemak bebas yang sangat besar dapat juga dihilangkan melalui penguapan dengan menggunakan alat destilasi volume pada tekanan 10 Torr dan temperatur 250 0C.10. gliserol.25 a) Unit operasi pembersihan bahan baku (Physical refining). dan 2) penanaman modal dalam bentuk aset keuangan (financial asset). metanol. Hasil reaksi diperoleh campuran biodisel. b) Unit operasi pencampuran metanol dan katalis. 2) Unit proses transesterifikasi yaitu mereaksikan bahan baku dan metanol dengan bantuan katalis. Kegiatan ini bertujuan untuk mencampurkan metanol dan katalis sehingga diperoleh suatu larutan yang homogen. Penanaman modal jangka panjang mengandung ketidakpastian dan resiko sehingga setiap pengambil keputusan investasi perlu pertimbangan yang matang sebelum melakukan investasi dengan menggunakan kriteria investasi yang terkait (Bodie et al. Investasi Biodisel Investasi adalah penanaman modal jangka panjang untuk menghasilkan keuntungan di masa yang akan datang. finansial dan lain-lain. 2. 3) Unit proses pemurnian biodisel dan gliserin yang dihasilkan. 2005). Penanaman modal terbagi dalam dua kategori yaitu: 1) penanam modal dalam bentuk aset riil (real asset).

antara lain ketentuan jumlah emisi yang diperbolehkan. Masing-masing aspek dasar tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor lainnya seperti lingkungan. pemasaran. Uni Eropa. yaitu Departemen Lingkungan Hidup dan Departemen Pertanian (Tapsavi et al. kebijakan dan stakeholder yang saling berinteraksi dan memberikan umpan balik membentuk suatu rantai (chain). Pada dasarnya pengembangan investasi dibidang agroindustri terdiri dari pengkajian tiga aspek dasar. terutama dalam bidang teknologi proses. dan penyediaan bahan baku (raw material supply). dan kebijakan. Studi dan implementasi kebijakan penggunaan biodisel. yaitu pemasaran (marketing). Hasil analisa ini akan membantu pengambil keputusan dalam memformulasikan faktor atau elemen penting yang akan mempengaruhi investasi (Mintzberg dan Quin 1996). proses pengolahan (processing). Penelitian biodisel di Uni Eropa umumnya dibidang pengujian bahan baku. Pengembangan suatu investasi yang tepat selalu diawali dengan analisis berorientasi pasar market oriented analysis (Brown et al.11. Universitas Idaho di Amerika banyak melakukan penelitian biodisel dalam bidang pemilihan bahan baku. 2. sifat . tersedianya produk yang diminta oleh pasar. meningkatnya tingkat penghasilan. uji penggunaan (Road test).26 elemen yang mempengaruhinya. 1994). Perkembangan Penelitian Biodisel Penelitian biodisel telah banyak dilakukan terutama di Amerika. uji emisi. tersedianya lapangan kerja. Suatu investasi dikatakan sehat atau baik apabila ditopang oleh prinsipprinsip ekonomi yang universal yang mendorong kegiatan disegala bidang seperti. pengujian spesifikasi produk dan pengujian emisi yang dikeluarkan oleh biodisel (Korbits 1997). Untuk itu kelayakan investasi dapat dilakukan dengan mengkaji manfaat finansial dan non finansial yang akan diperoleh dan perkiraan faktor resiko yang akan dihadapi serta implikasi kebijakan yang diperlukan (Soeharto 1999). Jepang dan Australia. tumbuhnya kegiatan ekonomi lainnya seperti usaha dan jasa. 2004). kebijakan pajak dan kebijakan pemberian perijinan investasi pada industri biodisel dilakukan oleh organisasi biodisel Amerika dan pemerintah. teknologi proses.

HC. 2003. Beberapa penelitian di bidang proses pengolahan biodisel antara lain dilaporkan oleh Tapasvi et al. pemakaian biodisel 100% berbasis minyak sawit akan menghasilkan jumlah emisi hidrokarbon 42%. partikulat dan Nox. yaitu pendekatan permodelan proses pengolahan biodisel dapat digunakan untuk menilai kelayakan ekonomi dan produksi dari biodisel. (2004). Perkembangan Industri Biodisel Terjadinya krisis minyak dunia pada tahun 1973 telah mendorong sejumlah negara maju untuk mengadakan serangkaian penelitian terhadap enerji .27 fisikokimia biodisel atau spesifikasi produk dan pengujian emisi (Anderson et al. motivasi penelitian biodisel di negara maju cukup besar disebabkan oleh adanya kesadaran terhadap kelangkaan sumber enerji mineral dimasa yang akan datang. kesadaran terhadap penggunaan produk yang ramah lingkungan dan keinginan untuk mendukung program diversifikasi enerji nasionalnya. 2. Hal ini disebabkan pengolahan biodisel yang berasal dari minyak goreng bekas yang menggunakan katalis basa memerlukan jumlah bahan baku yang lebih besar dibandingkan dengan proses yang menggunakan katalis asam. Zhang et al. Wuryaningsih et al. (2003) melaporkan bahwa pengolahan biodisel yang berasal dari minyak goreng bekas menggunakan katalis asam lebih baik dibandingkan dengan menggunakan katalis basa. karbon monoksida 54% dan karbon dioksida 42% lebih rendah dibandingkan dengan minyak solar yang dijual bebas di Indonesia. Dengan memodelkan berbagai komposisi neraca bahan dan neraca enerji pada pengolahan biodisel maka akan diketahui komposisi mana yang memberikan keuntungan paling optimum atau proses yang paling layak untuk dikembangkan. Menurut Forum Biodisel Dunia (2004).12. Zhang et al. (2003) melaporkan pengujian terhadap penggunaan biodisel kelapa sawit dan minyak jarak pada kendaraan akan menurunkan emisi CO. 2003). Menurut penelitian oleh Hanif (2003). Penelitian di bidang investasi umumnya dilakukan dalam bentuk studi kelayakan proyek oleh perusahaan yang akan mengembangkan biodisel dan dilakukan secara spesifik sesuai dengan visi dan misi perusahaan yang bersangkutan.

Banyaknya produsen dan total produksi biodisel di Eropa pada tahun 2000 tertera pada Lampiran 2. persyaratan emisi bahan bakar yang diperbolehkan serta kebijakan lainnya ( European Commision-DG XVII 1996). Pelaku usaha yang menanamkan investasi pada industri tersebut umumnya mendapat berbagai macam kemudahan dan fasilitas dari pemerintah berupa kebijakan/regulasi yang mendukung berkembangnya investasi tersebut misalnya penerapan tax holiday dibidang perijinan dan pemasaran. Jepang. Hal lainnya yang mendorong perkembangan industri biodisel adalah semakin sadarnya masyarakat negara tersebut akan terjadinya sumber kelangkaan sumber enerji yang berasal dari minyak mineral yang tidak dapat diperbaharui serta kesadaran akan pentingnya melestarikan lingkungan melalui penggunaan produk-produk yang ramah lingkungan. Amerika. Penggunaan biodisel di Amerika . Amerika dan Australia memberikan insentif yang cukup besar bagi pengembangan industri biodisel misalnya berupa keringanan pajak mulai dari perijinan pabrik sampai dengan keringanan pajak bagi pengguna produk biodisel. Adanya aturan dari batasan emisi yang dapat ditolerir yang dikeluarkan oleh negara-negara produsen biodisel memberikan pengaruh yang sangat positif bagi perkembangan investasi industri tersebut (Germany dan Bruna 2001). Italia serta sisanya oleh negara lainnya seperti Amerika. Australia. terutama Jerman.000 ton pada tahun 2000 menjadi hampir 2 juta ton pada tahun 2004. Pemerintah di negara-negara Eropa. dan Australia telah lama mulai mengembangkan industri biodisel nasionalnya (Krause 2001). Jepang. Austria. Perkembangan biodisel di negara Eropa mengalami peningkatan yang pesat ditunjukkan dengan meningkatnya kapasitas produksi biodisel dari negaranegara yang ada di Uni Eropa dari 500. Dewasa ini produksi minyak biodisel dunia diperkirakan lebih dari lima juta ton dimana lebih dari 85% dari jumlah tersebut diproduksi di negara Eropa. Malaysia.28 alternatif di antaranya enerji biomas. Peningkatan konsumsi biodisel ini terutama disebabkan oleh kekuatiran akan langkanya enerji fosil dimasa mendatang dan kesadaran akan keamanan lingkungan yang tinggi sehingga pemerintah di negara tersebut mendukung pengembangan investasi. Perancis. dan lain-lain (Korbitz 1997). Sehubungan dengan kedua hal tersebut negara–negara maju seperti Eropa. Belanda.

net/article chemical maker htm. 17 Mei 2003). www. Jepang mengembangkan E-oil yang menggunakan proses daur ulang dari minyak goreng bekas rumah tangga atau disebut tempura Yu dan digunakan sebagai bahan bakar transpor umum (Yukawa 2001). Worldenergy. .29 tidak hanya digunakan bagi transportasi umum tetapi digunakan juga pada lokasilokasi yang sensitif terhadap kerusakan lingkungan seperti lokasi perairan dan pertambangan (Forum Enerji Dunia.

Disamping hal tersebut. METODOLOGI PENELITIAN 3. .1. Rancang bangun yang dihasilkan diharapkan dapat digunakan sebagai alat bantu bagi pengambil keputusan untuk menilai kelayakan investasi pada industri biodisel kelapa sawit. Pendekatan Sistem Dalam pengembangan model sistem penunjang keputusan investasi pada industri BDS menggunakan model sistem dinamis maka dilakukan beberapa tahapan identifikasi sistem. batasan sistem dan penetapan metoda analisis. 3.1. Saran rekomendasi terhadap implikasi kebijakan yang diperlukan terutama kebijakan dibidang investasi dan dibidang penggunaan produk.III. Dari hasil validasi rancang bangun sistem penunjang keputusan investasi pada industri BDS menggunakan sistem dinamis diharapkan dapat diambil suatu kesimpulan terhadap penilaian kelayakan investasi dan stategi pengembangannya. Kerangka Pemikiran Penelitian ini diawali dengan pengkajian faktor-faktor yang berpengaruh serta keterkaitan antar faktor dalam pengembangan investasi biodisel kelapa sawit di Indonesia.1. Tiap faktor dimodelkan sebagai suatu submodel dimana masingmasing submodel akan dianalisis sesuai dengan landasan teoritis maupun empiris yang sesuai dengan submodel tersebut. Berdasarkan hasil analisis pada masing–masing submodel akan disusun suatu rancang bangun model sistem penunjang keputusan investasi pada industri BDS yang merupakan model agregasi dari submodel tersebut menggunakan model sistem dinamis. Strategi pengembangan investasi yang diinginkan adalah jangka pendek. jangka menengah dan jangka panjang. dapat pula ditetapkan sasaran investasi berupa penentuan struktur industri dan posisi produk sebagai pengganti produk substitusi solar di dalam negeri dan sebagai produk ekspor.

Pasar Biodisel di DN & LN 3. Potensi Sumber Bahan Baku. SDM 2.1. Resiko Investasi Manajemen Pengendalian Gambar 3.2. Kebijakan Pemerintah di Bidang Enerji 2. Input Lingkungan 1. Perubahan Kurs SPK INVESTASI PADA INDUSTRI BDS MENGGUNAKAN MODEL SISTEM DINAMIS Input Terkendali Output Tidak Dikehendaki 1. Terjadinya Investasi BDS secara bertahap dan terencana 2. Kebijakan Pemerintah di Bidang Lingkungan 3. Teknolog i. Program Diversifikasi E nerji Terlaksana 4. Finansial. Diagram input output SPK investasi industri biodisel. Metode analisis yang digunakan pada tiap sub model disusun pada Tabel 4. Harga Pokok Produksi Tinggi 3.Skenario Pengembangan Investasi 1. Kebijakan Pemerintah di Bidang Investasi Output Dikehendaki Input Tak Terkendali 1. Harga Produk BDS lebih mahal daripada Produk Subtitusi 2. Perbaikan Kualitas Lingkungan 1. Secara garis besar diagram alir sistem penunjang keputusan investasi tertuang pada Gambar 4. .31 3. Iklim Investasi Belum Membaik 4. Hubungan antar parameter sistem tersebut digambarkan dalam bentuk diagram input-output (Gambar 3). Tingkat Suku Bunga Bank 3. Identifikasi Sistem Hasil analisis kebutuhan dan formulasi permasalahan menjadi landasan untuk identifikasi parameter yang berpengaruh. Fluktuasi Harga Bahan Baku 2.

Diagram alir sistem penunjang keputusan investasi 3.32 Start -Analisis Sumberdaya -Analisis Produksi Biodisel -Analisis Finansial -Analisis Lingkungan -Analisis Pasar Agregasi penilaian Kelayakan Investasi berdasarkan model SPK yang diformulaskan Layak tidak ya Formulasi Implementasi Selesai Gambar 4. faktor teknis produksi.3. faktor lingkungan dan faktor pasar.1. faktor finansial. . Batasan sistem Batasan sistem dalam pemodelan yang dibangun adalah dibatasi pada pengkajian faktor internal yang dapat dimodelkan atau disimulasikan yaitu faktor sumber daya.

produktivitas. model logistik Pasar (Pengukuran potensi pasar) Pangsa. internet Literatur. PT Ecogreen. harga. literatur Forcasting. . PT Sumi Asih. Lab. studi literatur. produk BBM solar dan produk BDS Wawancara dengan pelaku usaha dan pengguna. Adapun tahapan-tahapan permodelan adalah sebagai berikut. Lab Lemigas Sub model Perhitungan neraca bahan dan neraca enerji untuk skala industri (scaling up) Analisis rasio keuangan Enviromental burden (beban lingkungan dari gas sisa pembakaran) Software” I think” Permodelan Sistem Model yang dibangun menggambarkan abstraksi dari suatu obyek atau situasi aktual yang memperlihatkan hubungan-hubungan langsung atau tidak langsung serta kaitan timbal balik setiap aspek yang terkait dalam pengembangan industri biodisel kelapa sawit.2.33 Tabel 3. Metoda analisis yang digunakan pada tiap sub model Data yang diperlukan Metode Pengumpulan Data Sumber Data Metoda Analisis Sumberdaya (pengukuran ketersediaan sumberdaya) Luas lahan. data sekunder diolah Hasil penelitian industri Biodisel di Uni Eropa. wawancara Analisa Lingkungan (pengukuran kerugian akibat emisi) Pengukuran Emisi BDS Vs produk Data sekunder subtitusi. diolah spesifikasi produk SPK Investasi Input sub model Sub Model 3. PPKS dan Puspitek Serpong. data sekunder Departemen ESDM. Data primer Tehnik Kimia ITB. dan penggunaan CPO Data sekunder diolah Data statistik perkebunan. internet Forcasting (deskriptif) Kelayakan produksi Jumlah bahan dan Jumlah enerji proses pengolahan Biodisel skala laboratorium Data sekunder diolah Kelayakan finansial Struktur biaya investasi Data sekunder diolah.

34 3.4. Setelah program komputer dirancang. Kemudian melakukan penelaahan yang teliti tentang asumsi model. Tahap Rekayasa Model Tahapan dimulai dari menetapkan jenis model abstraksi yang akan diterapkan sesuai dengan tujuan dan karakteristik sistem. dan memperbandingkan model dengan kondisi aktual.2.2. konsistensi normal pada parameter. Tahap Validasi Tahap ini merupakan tahapan untuk menilai apakah model sistem tersebut merupakan perwakilan yang sah dari realitas yang dikaji dimana dapat dihasilkan kesimpulan yang meyakinkan. Tahap Analisis Sensitivitas Tahapan ini untuk menentukan variabel keputusan mana yang penting untuk dikaji lebih lanjut pada aplikasi model. Model mungkin telah mencapai status valid (absah) walaupun masih menghasilkan kekurang-benaran output.2.2. 3. sehingga pemusatan dapat ditekankan pada variabel keputusan kunci serta menambahkan efisiensi kunci. 3. 3. . Suatu model adalah absah dicirikan oleh konsistensinya atau hasilnya tidak bervariasi lagi. Tahap Implementasi Komputer Dalam tahap ini diwujudkan model abstrak dalam berbagai bentuk persamaan. serta meningkatkan efisiensi dari proses pengambilan keputusan.1. Tahap ini akan menghasilkan deskripsi dari model abstrak yang melalui uji permulaan dan validitasnya. diagram alir dan diagram blok dengan menggunakan bahasa program/komputer untuk implementasi model.2. Tahap Seleksi Konsep Seleksi dilakukan untuk menentukan alternatif-alternatif mana yang bermanfaat dan bernilai cukup memadai untuk dilakukan permodelan abstraksi dan juga pertimbangan ketersediaan data dan informasi serta efisiensi dari sistem yang dihasilkan. Analisis ini mampu mengeliminasi faktor yang kurang penting.2. selanjutnya dilakukan tahap pembuktian atau verifikasi bahwa model komputer tersebut mampu melakukan simulasi dari model abstrak yang dikaji. hubungan fungsional antar variabel. 3.3.5.

35 3. Dalam tingkat stabilitas tersebut sering ditentukan adanya time-lag. dan fungsi turunan ordo tinggi terhadap waktu untuk mendeteksi perubahan dinamik. Analisis stabilitas dapat menggunakan teknik analisis berdasarkan teori stabilitas. Aplikasi Model Pada tahap ini model dioperasikan untuk menganalisis secara terinci kebijakan yang dipermasalahkan.2. Secara skematis. Hasil dari permodelan abstraksi ini adalah gugusan terinci dari spesifikasi manajemen.2. dalam bentuk diagram alir permodelan. atau menggunakan simulasi secara berulang kali untuk mempelajari batasan stabilitas sistem.7. tahapan-tahapan permodelan sistem dapat dilihat pada Gambar 5. Tahap Analisis Stabilitas Dalam sistem dinamik sering ditemukan perilaku tidak stabil yang destruktif untuk beberapa nilai parameter sistem. Informasi yang timbul setelah proses ini dapat merupakan indikasi akan kebutuhan untuk pengulangan kembali proses analisis sistem dan permodelan sistem. . mencakup penyesuaian dan adaptasi melalui lintasan waktu.6. 3. Hal ini sesuai dengan fakta bahwa pendekatan sistem dalam lingkungan dinamik adalah suatu proses yang berkesinambungan. Perilaku tidak stabil ini dapat berupa fluktuasi random yang tidak mempunyai pola ataupun nilai output yang eksplosit sehingga besarannya tidak realistis lagi.

Diagram alir permodelan Tidak .36 Konsep-konsep yang layak Seleksi Konsep Tidak Terbaik ? Konsep Pilihan Permodelan dari Konsep Tidak Lengkap ? Implementasi Komputer Realistik? Tidak Model Komputer Validasi Tidak Diterima ? Model yang Dapat Digunakan Analisis Sensitifitas Tidak Lengkap ? Parameter dan Input Terkontrol yang Sensitif Analisis Stabilitas Tidak Lengkap ? Kondisi Untuk Stabil Aplikasi Model Terbaik ? Ya Keputusan yang tepat dan terbaik Gambar 5.

3 Pemodelan Subsistem 3.37 3. Diagram alir deskriptif sub-sub model produksi CPO dari perkebunan rakyat dapat dilihat pada Gambar 6 berikut ini. Secara umum. perkebunan swasta dan perkebunan negara.1. serta sub- submodel untuk menghitung penggunaan CPO baik untuk ekspor maupun pemakaian CPO sebagai bahan baku industri minyak goreng dan industri oleokimia lainnya. model ini terdiri dari beberapa sub-submodel yaitu sub-submodel untuk menghitung produksi CPO dari perkebunan rakyat. Mulai * Data luas perkebunan kelapa sawit rakyat * Produksi CPO dari perkebunan rakyat Hitung Peningkatan luas perkebunan rakyat kelapa sawit Proyeksikan luas perkebunan rakyat kelapa sawit Data diperiksa kembali Hitung tingkat akurasi proyeksi perkebunan rakyat kelapa sawit (menggunakan statistik kesalahan r2) r2 memuaskan ? ya a tidak . Submodel Sumberdaya Submodel ini digunakan untuk memproyeksikan ketersediaan CPO sebagai bahan baku industri biodisel.3.

38 a Produktivitas perkebunan kelapa sawit rakyat ( ton CPO /ha/tahun) Proyeksikan produksi CPO dari perkebunan rakyat Hitung tingkat akurasi proyeksi produksi CPO dari perkebunan rakyat Proyeksi memuaskan ? tidak ya Proyeksi CPO dari perkebunan rakyat selesai Gambar 6. Proyeksi produksi CPO dari perkebunan rakyat diperoleh dengan memproyeksikan luas perkebunan kelapa sawit dari perkebunan rakyat yang kemudian dikalikan dengan produktivitas CPO per ha dari perkebunan rakyat. Luas perkebunan rakyat diproyeksikan dengan menggunakan model dinamis. Diagram alir deskriptif sub-submodel produksi CPO dari perkebunan kelapa sawit rakyat Sub-Submodel Produksi CPO dari Perkebunan Rakyat Submodel ini digunakan untuk menghitung CPO yang dihasilkan dari perkebunan rakyat. Proyeksi luas perkebunan rakyat juga dibatasi oleh luas lahan untuk .

.... 2.. Proyeksi luas perkebunan besar swasta juga .... x2 (t)... jumlah proyeksi Sub-Submodel Produksi CPO dari Perkebunan Swasta Submodel ini digunakan untuk menghitung CPO yang dihasilkan dari perkebunan besar swasta.... Luas perkebunan besar swasta diproyeksikan dengan menggunakan model dinamis................... Proyeksi produksi CPO dari perkebunan besar swasta diperoleh dengan memproyeksikan luas perkebunan kelapa sawit dari perkebunan besar swasta yang kemudian dikalikan dengan produktivitas CPO per ha dari perkebunan besar swasta... xm (t) .. : proyeksi CPO yang dihasilkan dari perkebunan rakyat (ton) pada tahun ke-t (ton)... maka Luas Perkebunan Rakyat(t)=Lahan Maksimum Perkebunan Rakyat Prod CPO Rakyat (t) = Luas Perkebunan Rakyat (t) x Prod Kebun Rakyat .... ....... Lahan Maksimum Perkebunan : lahan perkebunan rakyat maksimum yang Rakyat Prod CPO Rakyat (t) dapat ditanami dengan kelapa sawit... t .. p) ..... Prod Kebun Rakyat : produktivitas perkebunan rakyat (ton CPO/ha/tahun) t : 1............... (20) Keterangan : x1 : Luas lahan tahun ke-1 x2 : Luas lahan tahun ke-2 : Luas lahan tahun ke-m xm x1 : Proyeksi luas lahan perkebunan rakyat (proyeksi tahun ke-1) Jika Luas Perkebunan Rakyat(t)>Lahan Maksimum Perkebunan Rakyat............. .. Sedangkan persamaan matematis yang digunakan adalah sebagai berikut : Luas Perkebunan Rakyat (t) Model Dinamis x1 = ƒ1(x1(t).39 perkebunan kelapa sawit rakyat maksimal yang dapat ditanami...(21) Keterangan : Luas Perkebunan Rakyat (t) : proyeksi luas perkebunan rakyat (ha) pada tahun ke-t..

Mulai * Data luas perkebunan kelapa sawit swasta * Produksi CPO dari perkebunan swasta Hitung Peningkatan luas perkebunan kelapa sawit swasta Proyeksikan luas perkebunan kelapa sawit swasta Data diperiksa kembali Hitung tingkat akurasi proyeksi perkebunan kelapa sawit swasta(menggunakan statistik kesalahan r2 r2 memuaskan ? tidak ya Produktivitas perkebunan kelapa sawit swasta ( ton CPO /ha/tahun) Proyeksikan produksi CPO dari perkebunan swasta Hitung tingkat akurasi proyeksi produksi CPO dari perkebunan swasta a b . Diagram alir deskriptif sub-submodel produksi CPO dari perkebunan swasta dapat dilihat pada Gambar 7. sedangkan persamaan matematis yang digunakan dapat dilihat sebagai berikut.40 dibatasi oleh luas lahan untuk perkebunan kelapa sawit swasta maksimal yang dapat ditanami.

41 a b Proyeksi memuaskan ? tidak Proyeksi CPO dari perkebunan swasta ya selesai Gambar 7..... Prod Kebun Swasta : produktivitas perkebunan besar swasta (ton CPO/ha/tahun) t : 1. x2 (t). 2....... ... t .................... Prod CPO Swasta (t) : proyeksi CPO yang dihasilkan dari perkebunan besar swasta (ton) pada tahun ke-t (ton)... maka Luas Perkebunan Swasta (t) = Lahan Maksimum Perkebunan Swasta Prod CPO Swasta (t) = Luas Perkebunan Swasta (t) x Prod Kebun Swasta ......... Diagram alir deskriptif sub-submodel produksi CPO dari perkebunan swasta Luas Perkebunan Swasta (t) x1 Model Dinamis Keterangan : x1 : x2 : : xm x1 : = ƒ1(x1(t).... p) ........ jumlah proyeksi Lahan Swasta ............. (22) Luas lahan tahun ke-1 Luas lahan tahun ke-2 Luas lahan tahun ke-m Proyeksi luas lahan perkebunan swasta Jika Luas Perkebunan Swasta(t) > Lahan Maksimum Perkebunan Swasta.............. Maksimum Perkebunan : lahan perkebunan swasta maksimum yang dapat ditanami dengan kelapa sawit.. xm (t) .... ..(23) Keterangan : Luas Perkebunan Swasta (t) : proyeksi luas perkebunan besar swasta (ha) pada tahun ke-t..

. ..... Prod CPO Negara (t) : proyeksi CPO yang dihasilkan dari perkebunan milik negara (ton) pada tahun ke-t..... .. Proyeksi luas perkebunan negara juga dibatasi oleh luas lahan untuk perkebunan negara maksimal yang dapat ditanami.... Lahan Maksimum Perkebunan : lahan perkebunan negara maksimum yang Negara dapat ditanami dengan kelapa sawit. Luas perkebunan negara diproyeksikan dengan menggunakan model dinamis............ x2 (t)..... maka selanjutnya diproyeksikan produksi CPO nasional dengan menjumlahkan seluruh produksi CPO pada tahun yang sama... (24) Luas lahan tahun ke-1 Luas lahan tahun ke-2 Luas lahan tahun ke-m Proyeksi luas lahan perkebunan negara Jika Luas Perkebunan Negara(t) > Lahan Maksimum Perkebunan Negara... t ......... jumlah proyeksi ..... Dari hasil proyeksi produksi CPO dari tiga jenis perkebunan tersebut......... p) ..42 Sub-Submodel Produksi CPO dari Perkebunan Negara Submodel ini digunakan untuk menghitung CPO yang dihasilkan dari perkebunan negara......... Proyeksi produksi CPO dari perkebunan negara diperoleh dengan memproyeksikan luas perkebunan kelapa sawit dari perkebunan negara yang kemudian dikalikan dengan produktivitas CPO per ha-nya. Prod Kebun Negara : produktivitas perkebunan milik negara (ton CPO/ha/tahun) t : 1. Diagram alir deskriptif sub- ..... Diagram alir deskriptif sub-submodel produksi CPO dari perkebunan negara dapat dilihat pada Gambar 8 sedangkan persamaan matematis yang digunakan dapat dilihat sebagai berikut: Luas Perkebunan Negara (t) = Model dinamis Model Dinamis Keterangan : x1 : x2 : : xm x1 : x1 = ƒ1(x1(t).... 2. maka Luas Perkebunan Negara(t) = Lahan Maksimum Perkebunan Negara Prod CPO Negara (t) = Luas Perkebunan Negara (t) x Prod Kebun Negara........(25) Keterangan : Luas Perkebunan Negara (t) : proyeksi luas perkebunan milik negara (BUMN) (ha) pada tahun ke-t....... xm (t) ....

. .. Sisa CPO yaitu seluruh produksi CPO dikurangi dengan CPO yang diekspor...... CPO sebagai bahan baku minyak goreng dan industri oleokimia lainnya selanjutnya digunakan sebagai bahan baku biodisel.... : rata-rata persentase CPO yang diekspor dari seluruh produksi CPO nasional..... Persamaan matematis yang digunakan dalam proyeksi ketersediaan CPO sebagai bahan baku biodisel adalah sebagai berikut : Prod CPO Ekspor (t) = Prod CPO (t) x CPO Ekspor . : proyeksi kebutuhan CPO untuk keperluan di dalam negeri (ton) pada tahun ke-t......... : proyeksi total CPO yang tersisa di dalam negeri (ton) pada tahun ke-t........ ........ Sub-Submodel Penggunaan CPO sebagai Bahan Baku Biodisel Produksi CPO nasional pada tahun ke-t tidak seluruhnya diekspor....................... Persamaan matematis yang digunakan dalam proyeksi produksi CPO adalah sebagai berikut : Prod CPO (t) = Prod CPO Rakyat (t) + Prod CPO Swasta (t) + Prod CPO Negara (t) . (28) Demand CPO Dalam Negeri(t) = Bahan Baku MG (t) + Bahan Baku Oleo (t) ........ (27) Prod CPO Dalam Negeri (t) = Prod CPO (t) – Prod CPO Ekspor(t) ........43 submodel proyeksi CPO nasional dapat dilihat pada Gambar 9..... tetapi sebagian digunakan untuk kebutuhan bahan baku minyak goreng dan bahan baku industri oleokimia lainnya........... perkebunan besar swasta dan perkebunan milik negara (ton) pada tahun ke-t........(29) Prod CPO Sisa (t) > 0 = Prod CPO Dalam Negeri (t) Demand CPO Dalam Negeri (t) ...... (30) Keterangan : Prod CPO Ekspor (t) CPO Ekspor Prod CPO Dalam Negeri (t) Demand CPO Dalam Negeri (t) : proyeksi total CPO yang diekspor (ton) pada tahun ke-t. (26) Keterangan : Prod CPO (t) : proyeksi total CPO yang dihasilkan dari perkebunan rakyat......... Diagram alir deskriptif sub-submodel proyeksi CPO sebagai bahan baku biodisel dapat dilihat pada Gambar 10.....

Diagram alir deskriptif sub-submodel produksi CPO dari perkebunan negara .44 Mulai * Data luas perkebunan kelapa sawit negara * Produksi CPO dari perkebunan negara Hitung Peningkatan luas perkebunan kelapa sawit negara Data diperiksa kembali Proyeksikan luas perkebunan kelapa sawit negara Hitung tingkat akurasi proyeksi perkebunan kelapa sawit negara(menggunakan statistik kesalahan r2 r2 memuaskan ? tidak ya Produktivitas perkebunan kelapa sawit negara ( ton CPO /ha/tahun) Proyeksikan produksi CPO dari perkebunan negara Hitung tingkat akurasi proyeksi produksi CPO dari perkebunan negara Proyeksi memuaskan ? tidak ya Proyeksi CPO dari perkebunan negara selesai Gambar 8.

Diagram alir deskriptif sub-submodel produksi CPO nasional .45 Bahan Baku MG (t) Bahan Baku Oleo (t) Prod CPO Sisa (t) : proyeksi kebutuhan CPO untuk keperluan bahan baku industri minyak goreng (ton) pada tahun ke-t. Mulai * * * Proyeksi produksi CPO dari perkebunan rakyat Proyeksi produksi CPO dari perkebunan swasta Data produksi CPO dari perkebunan negara Proyeksikan produksi CPO nasional Hitung tingkat akurasi proyeksi produksi CPO nasional tidak Proyeksi memuaskan ? ya Produksi CPO nasional Selesai Gambar 9. : proyeksi produksi CPO yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri biodisel pada tahun ke-t. : proyeksi kebutuhan CPO untuk keperluan bahan baku industri oleochemical (ton) pada tahun ke-t.

Diagram alir deskriptif sub-submodel produksi CPO sebagai bahan baku biodisel .46 Mulai Proyeksi produksi CPO nasional Prosentase CPO yang diekspor Hitung CPO yang diekspor dan CPO yang tersedia dalam negeri • • CPO yang diekspor Ketersediaan CPO dalam negeri Proyeksi konsumsi CPO untuk keperluan : • Industri minyak goreng • Industri oleochemical • Industri biodisel CPO di dalam negeri cukup ? tidak ya Kelebihan stok produksi CPO untuk industri biodisel Selesai Gambar 10.

.... Jum Penduduk (0) : jumlah penduduk pada awal proyeksi Laju Penduduk : persentase peningkatan jumlah penduduk Konsumsi MG (t) : proyeksi konsumsi minyak goreng nasional tahun ke-t. Tidak seluruhnya kebutuhan minyak goreng ini dipenuhi dari CPO... (33) Keterangan : Jum Penduduk (t) : proyeksi jumlah penduduk pada tahun ke-t... Diagram alir deskriptif sub-submodel proyeksi produksi CPO sebagai bahan baku minyak goreng dapat dilihat pada Gambar 11...... tetapi sebagian menggunakan bahan baku selain CPO.47 Sub-Submodel Kebutuhan CPO sebagai Bahan Baku Industri Minyak Goreng Proyeksi kebutuhan minyak goreng nasional dalam model ini dihitung dengan mengalikan antara konsumsi per kapita per tahun dengan total jumlah penduduk. (31) MG CPO (t) = Konsumsi MG (t) x Persen MG CPO ....... Dari kebutuhan minyak goreng yang dipenuhi dari CPO tersebut selanjutnya diproyeksikan kebutuhan CPO sebagai bahan baku minyak goreng........ : konsumsi minyak goreng rata-rata per kapita Kons Per Kapita (kg/kapita/tahun)....... ..... (31) Konsumsi MG (t) = Jum Penduduk (t) x Kons PerKapita .. Persen MG CPO : persentase kebutuhan minyak goreng nasional yang dipenuhi dari bahan baku CPO. MG CPO (t) : proyeksi kebutuhan minyak goreng yang dipenuhi dari bahan baku CPO pada tahun ke-t. Persamaan matematis yang digunakan dalam memproyeksikan kebutuhan CPO untuk bahan baku minyak goreng adalah : Jum Penduduk (t) = Jum Penduduk (0) x (1 + Laju Penduduk)t ........ dilakukan proyeksi jumlah penduduk dengan menggunakan model pertumbuhan eksponensial dengan input jumlah penduduk pada saat perencanaan dan laju pertumbuhan penduduk per tahun.... (32) Bahan Baku MG (t) = MG CPO (t) x Rendemen CPO MG ..... Oleh karena itu.

48 Bahan Baku MG (t) : proyeksi kebutuhan CPO untuk keperluan bahan baku industri minyak goreng (ton) pada tahun ke-t. Rendemen CPO MG : rendemen CPO menjadi minyak goreng (ton CPO/ton minyak goreng). Mulai • Data jumlah penduduk • Laju pertambahan penduduk Proyeksikan pertambahan penduduk Hitung ketepatan proyeksi jumlah penduduk tidak Proyeksi memuaskan ? ya Konsumsi minyak goreng per kapita / tahun Hitung kebutuhan minyak goreng nasional Proyeksi kebutuhan minyak goreng nasional Prosentase minyak goreng yang dipenuhi dari CPO a .

Diagram alir deskriptif sub-submodel proyeksi kebutuhan CPO sebagai bahan baku industri oleokimia dapat dilihat pada Gambar 12. Diagram alir deskriptif sub-submodel proyeksi kebutuhan CPO sebagai bahan baku industri minyak goreng Sub-Submodel Kebutuhan CPO sebagai Bahan Baku Industri Oleokimia Sub-submodel ini digunakan untuk memproyeksikan kebutuhan CPO sebagai bahan baku industri oleokimia yang dihitung dengan menggunakan metoda pertumbuhan eksponensial. .49 a Hitung kebutuhan minyak goreng yang dipenuhi dari CPO Proyeksi kebutuhan min * Laju ekspor dan impor Rendemen dari CPO ke minyak goreng Hitung CPO yang har disediakan untuk industri minyak Proyeksi produksi CPO yang harus dialokasikan untuk industri minyak goreng Selesai Gambar 11.

. . % Laju BB Oleo : peningkatan rata-rata kebutuhan CPO untuk keperluan bahan baku industri oleokimia (%).. (34) Keterangan : Bahan Baku Oleo (t) : proyeksi kebutuhan CPO untuk keperluan bahan baku industri oleokimia (ton) pada tahun ke-t. Diagram alir deskriptif sub-submodel kebutuhan CPO sebagai bahan baku industri oleokimia Bahan Baku Oleo (t) = Bahan Baku Oleo(t-1) x (1 + %Laju BB Oleo) .Mulai 50 Data kebutuhan CPO untuk industri oleokimia Prosentase peningkatan konsumsi CPO untuk industri oleokimia Hitung CPO yang harus disediakan untuk industri oleokimia Proyeksi memuaskan ? tidak Proyeksi kebutuhan CPO untuk industri oleokimia Selesai Gambar 12.

3. Diagram alir deskriptif untuk menentukan kelayakan teknis produksi biodisel dapat dilihat pada Gambar 13. Simulasi disain proses diperoleh dari hasil scale up proses skala kecil yang dilakukan oleh Institut Teknologi Bandung (ITB).51 3.3. Submodel Pasar Biodisel merupakan salah satu enerji alternatif sebagai pengganti BBM solar yang dapat diperbaharui. Diagram alir deskriptif untuk menentukan kelayakan teknis produksi biodisel 3. Submodel Teknis Produksi Sub model teknis produksi digunakan untuk menentukan disain proses pengolahan untuk produksi biodisel yang berkapasitas 100.3.000 ton/tahun. Mulai • Kapasitas produksi yang direncanakan • Disain proses yang dipilih • Asumsi proses • • • Kebutuhan bahan baku CPO Kebutuhan bahan penolong Kebutuhan alat Hitung Neraca bahan dan neraca enerji • • Rendemen CPO menjadi biodisel Hasil produk samping Selesai Gambar 13.2. Peluang pemasaran biodisel sebagai salah satu enerji alternatif akan banyak mendapat tantangan sepanjang bahan bakar minyak .

. Sub-Submodel Proyeksi Ekspor dan Impor Minyak Bumi Proyeksi ekspor dan impor minyak bumi Indonesia digunakan untuk melihat sampai kapan Indonesia akan menjadi negara pengekspor minyak bumi dan menghitung proporsi ekspor terhadap impornya. p) .52 bumi masih tersedia dengan harga yang lebih murah dibandingkan dengan biodisel. x2 (t). Selanjutnya diskenariokan 5-10 persen dari kebutuhan BBM solar akan dipenuhi dari biodisel.. Dengan demikian.. Submodel pasar terdiri beberapa subsubmodel yang dapat dilihat di bawah ini. xm (t) .. kondisinya cukup memprihatinkan dimana pada tahun-tahun mendatang akan lebih banyak mengimpor daripada mengekspornya. Oleh karena itu model peluang pasar biodisel dibangun dari proyeksi ekspor dan impor baik minyak mentah maupun BBM solar. Namun untuk Indonesia... (35) Ekspor minyak bumi tahun ke-1 Ekspor minyak bumi tahun ke. xm (t) .... Ekspor Minyak Bumi (t) x1 Model Dinamis Keterangan : x1 : x2 : xm : x1 : = ƒ1(x1(t).. ...2 : Impor minyak bumi tahun ke. t . . x2 (t).2 Ekspor minyak bumi tahun ke. model proyeksi ekspor dan impor minyak bumi Indonesia menggunakan model dinamis.m xm x2 : Proyeksi impor minyak bumi (tahun proyeksi ke-2) .. Diagram alir deskriptif sub-submodel proyeksi ekspor dan impor minyak bumi dapat dilihat pada Gambar 14 Persamaan-persamaan matematis yang digunakan dalam sub-submodel ini adalah sebagai berikut. Kebutuhan biodisel ini selanjutnya dikonversi menjadi kebutuhan CPO sebagai bahan baku utamanya dan dibandingkan dengan ketersediaan CPO yang telah diperoleh dari submodel sebelumnya.. t . p) Keterangan : x1 : Impor minyak bumi tahun ke-1 x2 : Impor minyak bumi tahun ke..m Proyeksi ekspor minyak bumi (tahun proyeksi ke-1) Impor Minyak Bumi (t) Model Dinamis x2 = ƒ1(x1(t). beban pemerintah untuk memberikan subsidi BBM akan semakin membesar.. Secara umum.

......... (36) Keterangan : Ekspor Minyak Bumi (t) : proyeksi ekspor minyak bumi Indonesia pada tahun ke-t. .. Impor MinyakBumi (t) : proyeksi impor minyak bumi Indonesia pada tahun ke-t.53 Proporsi Ekspor Impor (t) = Ekspor Minyak Bumi (t) Impor Minyak Bumi (t) ... Proporsi Ekspor Impor (t) : perbandingan ekspor dengan impor minyak bumi Indonesia pada tahun ke-t.

Proyeksi produksi BBM solar menggunakan model . Diagram alir deskriptif sub-submodel proyeksi ekspor dan impor minyak bumi Indonesia Sub-Submodel Produksi dan Pemakaian BBM solar Proyeksi produksi dan pemakaian BBM solar di dalam negeri digunakan untuk melihat keseimbangan antara produksi dengan pemakaian BBM solar. Peluang pasar biodisel akan semakin terbuka jika proporsi produksi dengan pemakaian BBM solar semakin kecil.54 Mulai * Data ekspor dan impor minyak bumi Indonesia * Laju ekspor dan impor minyak bumi Proyeksikan ekspor dan impor minyak bumi Data diperiksa kembali Hitung tingkat akurasi ekspor dan impor minyak bumi tidak r2 memuaskan ? ya Hitung proporsi ekspor dan impor minyak bumi Proyeksi ekspor dan impor minyak bumi dan proporsinya selesai Gambar 14.

55
dinamis sementara itu untuk proyeksi penggunaan BBM solar menggunakan
model dinamis.

Model tersebut adalah yang paling cocok dengan pola data

masing-masing.

Diagram alir deskriptif sub-submodel proyeksi produksi dan

pemakaian BBM solar dapat dilihat pada Gambar 15.

Mulai

* Data produksi dan pemakaian BBM solar
* Laju produksi dan pemakaian BBM solar

Hitung Proyeksikan produksi dan
pemakaian BBM solar

Data diperiksa
kembali

Hitung tingkat akurasi produksi dan pemakaian BBM
solar (menggunakan statistik kesalahan

r2
memuaskan ?

tidak

ya
Hitung proporsi produksi dan
pemakaian BBM solar

Proyeksi produksi dan
pemakaian BBM solar dan
proporsinya

selesai

Gambar 15. Diagram alir deskriptif sub-submodel proyeksi produksi dan
pemakaian BBM solar

56
Persamaan-persamaan matematis yang digunakan dalam sub-submodel ini adalah:
Produksi BBM Solar (t)
Model Dinamis
Keterangan :
x1
:
x2
:
xm
:
x2
:

x2

= ƒ1(x1(t), x2 (t), ....., xm (t) ; t ; p) ...... (37)

Produksi BBM solar tahun ke-1
Produksi BBM solar tahun ke- 2
Produksi BBM solar tahun ke- m
Proyeksi produksi BBM solar (tahun proyeksi ke-2)

Konsumsi BBM Solar (t)
x2

Model Dinamis
Keterangan :
x1
:
x2
:
xm
:
x2
:

= ƒ1(x1(t), x2 (t), ....., xm (t) ; t ; p) ...... (37)

Konsumsi BBM solar tahun ke-1
Konsumsi BBM solar tahun ke- 2
Konsumsi BBM solar tahun ke- m
Proyeksi konsumsi BBM solar (tahun proyeksi ke-2)

Proporsi Produksi Konsumsi (t) = Produksi BBM Solar (t)/ Konsumsi BBM
Solar (t)

.................... (38)

Keterangan :
Produksi BBM Solar (t)
Konsumsi BBM Solar (t)
Proporsi Produksi Konsumsi (t)

: proyeksi produksi BBM solar pada tahun
ke-t.
: proyeksi penggunaan BBM solar pada
tahun ke-t.
: perbandingan
produksi
dengan
penggunaan BBM solar pada tahun ke-t.

Sub-Submodel Pasar Biodisel
Untuk menjamin pemasaran biodisel, maka diskenariokan sebagian dari
penggunaan BBM solar harus menggunakan biodisel. Jaminan pemasaran ini
merupakan suatu kebijakan dari pemerintah untuk lebih mendorong penggunaan
enerji alternatif biodisel dan mendorong tumbuhnya industri biodisel di dalam
negeri. Diagram alir deskriptif sub-submodel pasar biodisel dapat dilihat pada
Gambar 16. Persamaan-persamaan matematis yang digunakan dalam subsubmodel pasar biodisel adalah sebagai berikut :
Pasar Biodisel (t) = Persen Solar Biodisel x Konsumsi BBM Solar(t)....... (39)

57
Kebutuhan CPO (t) = Pasar Biodisel (t) x (1/RendemenCPOBiodisel) x BJ
CPO
(40)
Keterangan :
Pasar Biodisel (t)

Rendemen CPO Biodisel

: proyeksi kebutuhan biodisel sebagai
substitusi BBM solar (liter).
: persentase dari kebutuhan solar yang akan
disubstitusi dengan biodisel
: proyeksi kebutuhan CPO sebagai bahan
baku biodisel sebagai substitusi BBM solar
pada tahun tahun ke-t (kg).
: rendemen CPO menjadi biodisel (%).

BJ CPO

: berat jenis CPO (g/ml atau kg/liter)

Persen Solar Biodisel
Kebutuhan CPO (t)

Mulai

* Proyeksi pemakaian BBM solar
* Persentase pemakaian BBM solar yang
akan disubsitusi oleh biodisel

Proyeksikan kebutuhan biodisel
sebagai substitusi BBM solar

Proyeksi kebutuhan
biodisel sebagai substitusi
BBM solar

Hitung kebutuhan CPO
sebagai bahan baku biodisel

Proyeksi kebutuhan CPO
sebagai bahan baku
biodisel

selesai

Gambar 16. Diagram alir deskriptif sub-submodel pasar biodisel

. Kap Produksi : kapasitas terpasang industri biodisel (ton/tahun). biaya pemeliharaan... biaya pemasaran.. (41) Keterangan : Produksi Biodisel(t) : jumlah produksi biodisel (dalam satuan ton) pada tahun ke-t... Submodel Analisis Finansial Sub-Submodel Perencanaan Produksi Submodel ini digunakan untuk menentukan rencana produksi biodisel untuk memenuhi kebutuhan pasar.. Sub-Submodel Biaya Produksi Sub-Submodel biaya produksi digunakan untuk menghitung total biaya produksi dan harga pokok produksi.. Selanjutnya perencanaan produksi tersebut digunakan sebagai landasan perencanaan strategik dan penyusunan anggaran perusahaan mulai dari perencanaan investasi sampai dengan perencanaan biaya dan perencanaan penjualan. % Kapasitas(t) : persentase kapasitas terpasang yang digunakan untuk produksi biodisel.. Metanol.. Biaya variabel terdiri dari biaya-biaya yang dikeluarkan untuk pembelian bahan baku dan bahan penolong lainnya seperti.. biaya gaji/administrasi dan biaya bunga... Dari proyeksi biaya produksi tersebut selanjutnya dihitung biaya pokok produksi biodisel per satuan berat atau per satuan volume (liter)..58 3.. katalis.3. Persamaan matematis yang digunakan dalam submodel biaya produksi adalah sebagai berikut : . Submodel ini terdiri dari biaya tetap dan biaya produksi variabel.. Biaya tetap terdiri dari penyusutan. Persamaan matematis yang digunakan dalam submodel rencana produksi adalah sebagai berikut : Produksi Biodisel (t) = % Kapasitas (t) x Kap Produksi . CPO.. air dan bahan bakar.. Diagram alir desktiptif submodel biaya produksi dapat dilihat pada Gambar 17 dan Gambar 18. biaya asuransi..4. H3PO4. KOH.

... Biaya Tetap (t) : total biaya tetap industri biodisel pada tahun ke-t... (42) = Penyusutan (t) + Pemeliharaan (t) + Asuransi (t) + Pemasaran (t) + Biaya Gaji (t) + Biaya Bunga (t)..........(43) Biaya Variabel (t) = Biaya CPO (t) + Biaya Metanol (t) + Biaya H3PO4 (t) + Biaya KOH (t) + BiayaKatalis (t) + Biaya Air (t) + Biaya BBM (t) . (44) Biaya Produksi (t) . BiayaGaji (t) : biaya gaji industri biodisel pada tahun ke-t Biaya Bunga (t) : biaya bunga industri biodisel pada tahun ke-t BiayaVariabel (t) : total biaya produksi variabel industri biodisel pada tahun ke-t..... Biaya Katalis (t) : biaya pembelian katalis pada tahun ke-t...... Pemasaran (t) : biaya pemasaran industri biodisel pada tahun ke-t..... Biaya KOH (t) : biaya pembelian KOH pada tahun ke-t................. Biaya BBM (t) : biaya pembelian bahan bakar pada tahun ke-t HPP Biodisel (t) : harga pokok produksi per ton biodisel pada tahun ke-t .... Penyusutan (t) : biaya penyusutan industri biodisel pada tahun ke-t Pemeliharaan (t) : biaya pemeliharaan industri biodisel pada tahun ke-t. Biaya H3PO4 (t) : biaya pembelian H3PO4 pada tahun ke-t. Asuransi (t) : biaya asuransi industri biodisel pada tahun ke-t.... Biaya Air (t) : biaya pembelian air pada tahun ke-t. (45) HPP Biodisel (t) = Produksi (t) Keterangan : Biaya Produksi(t) : total biaya produksi industri biodisel pada tahun ke-t............ : biaya pembelian bahan baku (CPO) pada tahun ke- Biaya CPO (t) t Biaya Metanol (t) : biaya pembelian metanol pada tahun ke-t...59 Biaya Produksi (t) = Biaya Tetap(t) + BiayaVariabel (t) Biaya Tetap (t) .

.......... Rendemen CPO : besarnya rendemen CPO yang menjadi biodisel (%)....60 Bahan Baku CPO (t) = Produksi Biodisel (t) x (1/Rendemen CPO) ..... Biaya H3PO4 (t) = Bahan Baku CPO(t) x Keb H3PO4 CPO x Hrg H3PO4 ..... % Hrg CPO : persentase peningkatan harga CPO per tahun.... % Hrg H3PO4 : persentase peningkatan harga H3PO4 per tahun........... .. Hrg CPO : harga CPO pada awal perencanaan.. (47) Keterangan : Bahan Baku CPO (t) : jumlah bahan baku (CPO) yang dibutuhkan untuk memproduksibiodisel pada tahun ke-t.... (49) x (1 + %Hrg H3PO4)t Keterangan : Bahan Baku CPO (t) : jumlah bahan baku (CPO) yang dibutuhkan untuk memproduksi biodisel pada tahun ke-t....... Hrg Metanol : harga metanol pada awal perencanaan.. % Hrg Metanol : persentase peningkatan harga metanol per tahun. : harga H3PO4 pada awal perencanaan.. Produksi Biodisel (t) : jumlah produksi biodisel pada tahun ke-t...... Biaya CPO (t) = Bahan Baku CPO (t) x Hrg CPO x (1 + %HrgCPO)t .... Keb H3PO4 CPO Hrg H3PO4 : jumlah H3PO4 yang diperlukan per ton CPO sebagai bahan baku biodisel..... Keb Metanol CPO : jumlah metanol yang diperlukan per ton CPO sebagai bahan baku biodisel.... (46) Keterangan : Bahan Baku CPO (t) : jumlah bahan baku (CPO) yang dibutuhkan untuk memproduksi biodisel pada tahun ke-t........ Biaya Metanol (t) = Bahan Baku CPO (t) x Keb Metanol CPO x Hrg Metanol x (1 + %HrgMetanol)t...... (48) Keterangan : Bahan Baku CPO (t) : jumlah bahan baku (CPO) yang dibutuhkan untuk memproduksi biodisel pada tahun ke-t..

.. Hrg Katalis : harga katalis pada awal perencanaan... Hrg KOH : harga KOH pada awal perencanaan... (53) Keterangan : .......................... (50) x (1 + %HrgKOH)t Keterangan : BahanBaku CPO (t) : jumlah bahan baku (CPO) yang dibutuhkan untuk memproduksi biodisel pada tahun ke-t.. % Hrg KOH : persentase peningkatan harga KOH per tahun........... %Hrg Air : persentase peningkatan harga air per tahun............... Keb KOH CPO : jumlah KOH yang diperlukan per ton CPO sebagai bahan baku biodisel...... Biaya Katalis (t) = Bahan Baku CPO(t) x Keb Katalis CPO x Hrg Katalis x (1 + %HrgKatalis)t .. Biaya BBM (t) = Bahan Baku CPO(t) x Keb BBM CPO x Hrg BBM x (1 + % Hrg BBM)t ..................... Keb Katalis CPO : jumlah katalis yang diperlukan per ton CPO sebagai bahan baku biodisel............ (52) Keterangan : Bahan Baku CPO (t) : jumlah bahan baku (CPO) yang dibutuhkan untuk memproduksi biodisel pada tahun ke-t.... (51) Keterangan : Bahan Baku CPO (t) : jumlah bahan baku (CPO) yang dibutuhkan untuk memproduksi biodisel pada tahun ke-t......... Hrg Air : harga air pada awal perencanaan....... % Hrg Katalis : persentase peningkatan harga katalis per tahun............... Keb Air CPO : jumlah air yang diperlukan per ton CPO sebagai bahan baku biodisel.......................61 Biaya KOH (t) = Bahan Baku CPO(t) x Keb KOH CPO x Hrg KOH . Biaya Air (t) = Bahan Baku CPO (t) x Keb Air CPO x Hrg Air x (1 + % Hrg Air)t ...

Hrg BBM : harga BBM pada awal perencanaan. % Hrg BBM : persentase peningkatan harga BBM per tahun.62 Bahan Baku CPO (t) : jumlah bahan baku (CPO) yang dibutuhkan untuk memproduksi biodisel pada tahun ke-t. Keb BBM CPO : jumlah BBM yang diperlukan per ton CPO sebagai bahan baku biodisel. Mulai • Kapasitas produksi biodisel yang direncanakan • Prosentase kapasitas yang digunakan Hitung rencana produksi biodisel Rencana produksi biodisel Rendemen CPO menjadi biodisel Hitung kebutuhan CPO untuk produksi biodisel Kebutuhan CPO untuk produksi biodisel a .

katalis. H3PO4. air. KOH. air dan bahan bakar Kebutuhan metanol. Diagram alir deskriptif untuk menentukan biaya variabel pabrik biodisel . katalis. H3PO4. air. dan bahan bakar per tahun Hitung total biaya pembelian bahan baku dan bahan penolong Total biaya pembelian bahan baku dan bahan penolong per tahun (biaya variabel) Selesai Gambar 17. H3PO4. metanol. katalis. KOH.63 a • • • • • • Kebutuhan metanol terhadap CPO Kebutuhan H3PO4 terhadap CPO Kebutuhan KOH terhadap CPO Kebutuhan katalis terhadap CPO Kebutuhan air terhadap CPO Kebutuhan bahan bakar terhadap biodisel Hitung kebutuhan metanol. KOH. dan bahan bakar per tahun • • • • • • • Harga CPO Harga metanol Harga H3PO4 Harga KOH Harga katalis Harga air Harga bahan bakar Hitung biaya pembelian CPO.

biaya pemasaran. biaya asuransi. biaya bunga Hitung total biaya tetap Total biaya tetap per tahun Total biaya variabel produksi biodisel Hitung total biaya produksi biodisel Total biaya produksi biodisel per tahun a b . biaya penyusutan. biaya administrasi. biaya pemeliharaan.64 Mulai Rencana produksi biodisel Biaya gaji.

Diagram alir desktiptif sub-submodel investasi dapat dilihat pada Gambar 19.65 a b Hitung harga pokok produksi / harga pokok penjualan biodisel per ton Harga pokok penjualan biodisel per ton tidak Lebih mahal dari minyak solar ? ya Subsidi ? tidak ya Selesai Gambar 18. Persamaan matematis yang digunakan dalam submodel ini adalah sebagai berikut. Diagram alir deskriptif untuk menentukan biaya produksi pabrik biodisel Sub-sub Model Investasi Submodel ini digunakan untuk menghitung kebutuhan dana investasi untuk pembangunan pabrik biodisel sekaligus dengan peralatan dan mesinmesinnya. Investasi (t) = Investasi Weighbridge (t) + Investasi Storage Tank (t) + Investasi Industri (t) + Investasi Power House (t) + Investasi Water Treatment (t) + Investasi Pipa (t) + Investasi Listrik (t) + Investasi Lab (t) + Investasi . Secara umum investasi yang dibutuhkan adalah jumlah dari seluruh komponen mesin/peralatan dikalikan dengan harganya masing-masing.

......... Investasi Listrik (t) : investasi yang dibutuhkan untuk pemasangan sambungan listrik pada tahun ke-t......... Investasi Kendaraan (t) : investasi yang dibutuhkan untuk pembelian kendaraan pada tahun ke-t..(54) Keterangan : Investasi Weighbridge (t) : investasi yang dibutuhkan untuk pengadaan weighbridge pada tahun ke-t. Investasi Pipa (t) : investasi yang dibutuhkan untuk pemasangan pipa pada tahun ke-t...... Investasi Storage Tank(t) : investasi yang dibutuhkan untuk pengadaan tanki-tanki penyimpanan pada tahun ke-t... ...... Investasi Lab (t) : investasi yang dibutuhkan untuk pengadaan peralatan laboratorium pada tahun ke-t.. Investasi Power House (t) : investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan power house pada tahun ke-t...... Investasi Gedung (t) : investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan gedung pada tahun ke-t.... Investasi Effluent (t) : investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan effluent treatment pada tahun ke-t.. Investasi Water Treatment (t) investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan water treatment pada tahun ke-t........ Investasi Industri (t) : investasi yang dibutuhkan untuk pembelian peralatan/mesin industri utama pada tahun ke-t.................66 Gedung(t) + Investasi Effluent(t) + Investasi Kendaraan (t).......

.. Diagram alir deskriptif untuk menentukan investasi pembangunan pabrik biodisel Investasi Weighbridge (t) = Jum Weighbridge (t) x Hrg Weighbridge (t).........67 Mulai Input jumlah fisik dan harga satuan untuk : • Weighbridge • Storage tank • Pabrik utama • Power house • Water treatment • Pipa dan instalasi • Listrik • Peralatan lab • Gedung • Effluent treatment • Transportasi Hitung investasi pembangunan pabrik biodisel Biaya investasi pembangunan pabrik biodisel Selesai Gambar 19.. . n2 Σ InvestasiStorageTank(t) = j=1 Keterangan : n2 : JumStorageTank(tj) x HrgStorageTank(tj).. Hrg Weighbridge (t) : harga weighbridge yang dibeli pada tahun ke-t....(56) jumlah item storage tank yang dibeli pada tahun ke-t.......... Jum Weighbridge (t) : jumlah weighbridge yang dibeli pada tahun ke-t.(55) Keterangan : Investasi Weighbridge (t) : investasi yang dibutuhkan untuk pembangunan weighbridge pada tahun ke-t.

... ....................................... Investasi WaterTreatment (t) = Keterangan : JumW Treatment (t) : Jum W Treatment (t) x Hrg W Treatment(t).......(57) Keterangan : n3 : jumlah item peralatan dan mesin yang dibeli pada tahun ke-t. n4 Σ Investasi Power House (t) j=1 Jum Power House (tj) x Hrg Power House (tj)...... Hrg Storage Tank (tj) : harga per unit storage tank ke-j yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t...(59) jumlah unit peralatan water treatment yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t. n3 Σ Investasi Industri (t) j=1 Jum Alat Mesin (tj) x Hrg Alat Mesin (tj)...68 Jum Storage Tank (tj) : jumlah unit storage tank ke-j yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t........ Hrg Power House (tj) : harga per unit peralatan power house ke-j yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t......... Jum Power House(tj) : jumlah unit peralatan power house ke-j yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t..................... Hrg Alat Mesin(tj) : harga per unit peralatan dan mesin ke-j yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t.. Jum Alat Mesin (tj) : jumlah unit peralatan dan mesin ke-j yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t....................... (58) Keterangan : n4 : jumlah item peralatan power house yang dibeli pada tahun ke-t......

......................... : jumlah unit bangunan ke-j yang direncanakan dibangun pada tahun ke-t........ (62) Keterangan : Jum Lab (t) : jumlah paket perlengkapan laboratorium yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t.. (61) Keterangan : Jum Listrik (t) : jumlah paket peralatan listrik yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t................ Hrg Pipa (t) : harga per paket pemasangan pipa yang direncanakan pada tahun ke-t Investasi Listrik (t) = Jum Listrik (t) x Hrg Listrik (t) ....... (63) Keterangan : n5 Jum Gedung (tj) : jumlah item bangunan yang direncanakan dibangun pada tahun ke-t...... Investasi Lab (t) = Jum Lab (t) x Hrg Lab (t) ................... Hrg Gedung (tj) : harga per unit bangunan ke-j yang ....... (60) Keterangan : Jum Pipa (t) : jumlah paket pemasangan pipa yang direncanakan pada tahun ke-t.. Investasi Pipa (t) = Jum Pipa (t) x HrgPipa (t)..............69 Hrg W Treatment (t) : harga per unit peralatan water treatment yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t............. Hrg Lab (t) : harga per paket perlengkapan laboratorium yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t..... n5 Investasi Gedung (t) Σ j=1 Jum Gedung (tj) x Hrg Gedung (tj) ...... Hrg Listri k(t) : harga per paket peralatan listrik yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t....... ..................

...........70 direncanakan dibangun pada tahun ke-t................. n6 Σ Investasi Kendaraan (t) j=1 Jum Kendaraan (tj) x Hrg Kendaraan (tj) ... .. Hrg Biodisel : harga biodisel pada awal tahun proyeksi.......... Hrg Gliserin : harga gliserin pada awal tahun proyeksi.... ....... (67) Penjualan (t) = Penjualan Biodisel (t) + Penjualan Gliserin (t) (68) Keterangan : Penjualan Biodisel (t) : nilai penjualan biodisel pada tahun ke-t... Persamaan matematis yang digunakan dalam submodel penjualan adalah sebagai berikut : Penjualan Biodisel (t) = Produksi Biodisel (t) x HrgBiodisel x (1 + % Hrg Biodisel)t .. % Hrg Biodisel : persentase kenaikan harga biodisel per tahun Penjualan Gliserin (t) : nilai penjualan gliserin pada tahun ke-t....................... Hrg Effluent (t) : harga per paket perlengkapan effluent treatment yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t. (66) Penjualan Gliserin (t) = Produksi Biodisel (t) x Fraksi Glierin x HrgGliserin x (1 + %HrgGliserin)t.......(65) Sub-Submodel Penjualan Submodel ini digunakan untuk menentukan anggaran atau target pendapatan periodik... Investasi Effluent (t) = Jum Effluent (t) x Hrg Effluent (t) ...... ... (64) Keterangan : Jum Effluent (t) : jumlah paket perlengkapan effluent treatment yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t... Produksi (t) : jumlah produksi biodisel pada tahun ke-t...... Pendapatan diperoleh dari penjualan biodisel sebagai produk utama dan gliserin sebagai produk samping........

.. Penyusutan(t) = Penyusutan Weighbridge (t) + Penyusutan Storage Tank (t) + Penyusutan Industri (t) + Penyusutan Power House (t) + Penyusutan Water Treatment (t) + Penyusutan Pipa (t) + Penyusutan Listrik (t) + Penyusutan Lab (t) + Penyusutan Gedung (t) + Penyusutan Effluent (t) + Penyusutan Kendaraan (t) ...71 Fraksi Gliserin : fraksi gliserin yang dihasilkan sebagai produk samping dari biodisel (satuan persen).. biaya asuransi.... % Hrg Biodisel : persentase kenaikan harga biodisel per tahun Sub-Submodel Biaya Tetap Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya bahwa biaya tetap terdiri dari penyusutan. (69) Keterangan : Penyusutan (t) : total biaya penyusutan industri biodisel pada tahun ke-t............. Penyusutan Power House (t) : biaya penyusutan power house pada tahun . biaya gaji/administrasi dan biaya bunga............. Penyusutan Storage Tank (t) : biaya penyusutan tanki-tanki penyimpanan pada tahun ke-t. biaya pemeliharaan... biaya pemasaran... Penyusutan Industri (t) : biaya penyusutan peralatan/mesin industri utama pada tahun ke-t.......... Metoda penyusutan yang digunakan adalah metoda garis lurus dengan input utama nilai pembelian dan umur ekonomis mesin atau peralatan tersebut.............. Penyusutan Weighbridge (t) : biaya penyusutan weighbridge pada tahun ke-t.. Persamaanpersamaan matematis yang digunakan dalam menentukan biaya penyusutan adalah sebagai berikut.. Biaya Penyusutan Biaya penyusutan dihitung dengan menjumlahkan seluruh biaya penyusutan peralatan dan mesin yang digunakan. Diagram alir deskriptif untuk menentukan biaya penyusutan dapat dilihat pada Gambar 20.

..(70) Keterangan : Umur Weighbridge : umur ekonomis peralatan weighbridge n2 Σ Penyusutan Storage Tank (t) = j=1 Investasi Storage Tank (tj) . Penyusutan Kendaraan (t) : biaya penyusutan kendaraan pada tahun ke-t........ Penyusutan Weighbridge (t) = Investasi Weighbridge (t) Umur Weighbridge . Penyusutan Lab (t) : biaya penyusutan peralatan laboratorium pada tahun ke-t....... Penyusutan Gedung (t) : biaya penyusutan gedung pada tahun ke-t........(71) Umur Storage Tank (j) Keterangan : n2 : jumlah item storage tank yang dibeli pada tahun ke-t. Umur Storage Tank (j) : umur ekonomis item storage tank ke-j...72 ke-t Penyusutan Water Treatment (t) : biaya penyusutan water treatment pada tahun ke-t. ..... Penyusutan Effluent (t) : biaya penyusutan effluent treatment pada tahun ke-t..... Penyusutan Pipa (t) : biaya penyusutan pipa pada tahun ke-t Penyusutan Listrik (t) : biaya penyusutan sambungan listrik pada tahun ke-t. Investasi Storage Tank (tj) : investasi untuk item storage tank ke-j yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t...

(71) Umur Alat Mesin (j) Keterangan : n3 : jumlah item peralatan dan mesin yang dibeli pada tahun ke-t. n4 Penyusutan Power House (t) = Σ j=1 InvestasiPowerHouse(tj) UmurPowerHouse(j) . Investasi Alat Mesin (tj) : investasi untuk peralatan dan mesin ke-j yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t.(73) .73 Mulai Biaya pembelian peralatan / gedung / kendaraan Umur ekonomis setiap peralatan / gedung / kendaraan Hitung biaya penyusutan untuk setiap peralatan / gedung / kendaraan Hitung total biaya penyusutan Total biaya penyusutan per tahun Selesai Gambar 20. Umur Alat Mesin (j) : umur ekonomis item peralatan dan mesin ke-j... Diagram alir deskriptif untuk menghitung biaya penyusutan n3 Σ Penyusutan Industri (t) = j=1 Investasi Alat Mesin (tj) .

74 Keterangan : n4 : jumlah item peralatan power house yang dibeli pada tahun ke-t Investasi Power House (tj) : investasi untuk peralatan power house ke-j yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t.(74) Umur W Treatment Tank (j) Keterangan : Investasi Water Treatment (t) : investasi water treatment pada tahun ke-t. Umur Listrik umur ekonomis perlengkapan peralatan listrik Investasi Lab (t) Penyusutan Lab (t) = UmurLab .....(76) UmurListrik Keterangan : Investasi Listrik (t) : jumlah investasi untuk peralatan listrik pada tahun ke-t.. Umur Power House (j) : umur ekonomis peralatan power house ke-j. Umur W Treatment : umur ekonomis peralatan water treatment.(75) Umur Pipa Keterangan : Investasi Pipa(t) : jumlah investasi untuk pemasangan pipa yang direncanakan pada tahun ke-t. Umur Pipa : umur ekonomis pipa... InvestasiPipa(t) Penyusutan Pipa (t )= .. Investasi Listrik (t) PenyusutanListrik(t) . Investasi Water Treatment(t) Penyusutan Water Treatment(t) = .(77) .

.(80) UmurKendaraan(j) Keterangan : n6 Investasi Kendaraan (tj) Umur Kendaraan (j) : jumlah item kendaraan yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t...... . (j) PenyusutanEffluent(t) = InvestasiEffluent(t)/UmurEffluent ........ Umur Lab : umur ekonomis perlengkapan laboratorium n5 Σ Penyusutan Gedung (t) = j=1 InvestasiGedung(tj) .. Umur Effluent : umur ekonomis perlengkapan effluent treatment n6 Penyusutan Kendaraan (t) = Σ j=1 InvestasiKendaraan(tj) .75 Keterangan : Investasi Lab (t) : jumlah investasi paket perlengkapan laboratorium yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t.(78) UmurGedung(j) Keterangan : n5 : jumlah item bangunan yang direncanakan dibangun pada tahun ke-t.. : jumlah investasi kendaraan ke-j yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t.. Investasi Gedung (tj) : jumlah investasi untuk bangunan ke-j yang direncanakan dibangun pada tahun ke-t. (79) Keterangan : Investasi Effluent (t) : jumlah investasi untuk perlengkapan effluent treatment pada tahun ke-t.. : umur ekonomis item kendaraan ke-j.... Umur Gedung : umur ekonomis bangunan ke-j..

Pemeliharaan Power House (t) : biaya pemeliharaan power house pada tahun ke-t..... peralatan ... Pemeliharaan Storage Tank(t) : biaya pemeliharaan tanki-tanki penyimpanan pada tahun ke-t. Pemeliharaan Listrik (t) : biaya pemeliharaan sambungan listrik pada tahun ke-t...... Diagram alir deskriptif untuk menentukan biaya pemeliharaan dapat dilihat pada Gambar 21... Pemeliharaan Water Treatment (t) : biaya pemeliharaan water treatment pada tahun ke-t. Metoda penghitungan biaya pemeliharaan yang digunakan adalah dengan mengalikan persentase biaya pemeliharaan dengan nilai pembelian mesin atau peralatan tersebut. Pemeliharaan Pipa (t) : biaya pemeliharaan pipa pada tahun ke-t. Persamaan-persamaan matematis yang digunakan dalam menghitung biaya pemeliharaan adalah sebagai berikut: Pemeliharaan(t) = PemeliharaanWeighbridge(t) + PemeliharaanStorageTank(t) + PemeliharaanIndustri(t) + PemeliharaanPowerHouse(t) + PemeliharaanWaterTreatment(t) + PemeliharaanPipa(t) + PemeliharaanListrik(t) + PemeliharaanLab(t) + PemeliharaanGedung(t) + PemeliharaanEffluent(t) + PemeliharaanKendaraan(t) . (81) Keterangan : Pemeliharaan Weighbridge (t) : biaya pemeliharaan weighbridge pada tahun ke-t. Pemeliharaan Industri (t) : biaya pemeliharaan peralatan/mesin industri utama pada tahun ke-t... Pemeliharaan Lab (t) : biaya pemeliharaan laboratorium pada tahun ke-t....76 Biaya Pemeliharaan Biaya pemeliharaan dihitung dengan menjumlahkan seluruh biaya pemeliharaan peralatan dan mesin yang digunakan..

. n3 Pemeliharaan Industri (t) =Σ j=1 InvestasiAlatMesin(tj) x ....(84) %RawatAlatMesin(j) Keterangan : n3 : jumlah item peralatan dan mesin yang dibeli pada tahun ke-t. Investasi Storage Tank (tj) : investasi untuk item storage tank ke-j yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t.(83) Rawat Storage Tank (j) Keterangan : n2 : jumlah item storage tank yang dibeli pada tahun ke-t.. n2 Pemeliharaan Storage Tank (t) = Σ j=1 InvestasiStorageTank(tj) ..... Pemeliharaan Weighbridge (t) = Investasi Weighbridge (t) x % Rawat Weighbridge ..... % Rawat Storage Tank (j) : persentase biaya pemeliharaan item storage tank ke-j. . (82) Keterangan : % Rawat Weighbridge : persentase biaya pemeliharaan peralatan weighbridge....77 Pemeliharaan Gedung (t) : biaya pemeliharaan gedung pada tahun ke-t. Pemeliharaan Effluent (t) : biaya pemeliharaan effluent treatment pada tahun ke-t. Pemeliharaan Kendaraan (t) : biaya pemeliharaan kendaraan pada tahun ke-t.. Investasi Alat Mesin (tj) : investasi untuk peralatan dan mesin ke-j yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t.....

Diagram alir deskriptif untuk menentukan biaya pemeliharaan peralatan/mesin pada pabrik biodisel n4 Investasi Power House (tj) x Pemeliharaan Power House (t) = Σ j=1 Keterangan : x Rawat Power House (j) .78 % Rawat Alat Mesin (j) : persentase biaya pemeliharaan item peralatan dan mesin ke-j.(85) .. Mulai Biaya pembelian peralatan / gedung / kendaraan Prosentase biaya pemeliharaan untuk setiap peralatan / gedung / kendaraan Hitung biaya pemeliharaan untuk setiap peralatan / gedung / kendaraan Hitung total biaya pemeliharaan Total biaya pemeliharaan per tahun Selesai Gambar 21...

.. persentase biaya pemeliharaan peralatan water reatment Pemeliharaan Pipa (t) = Investasi Pipa (t) x % Rawat Pipa ..... % Rawat Pipa : persentase biaya perawatam pipa Pemeliharaan Listrik (t) = Investasi Listrik (t) x % Rawat Listrik . Pemeliharaan (t) = Investasi Water Treatment (t) x . (87) Keterangan : Investasi Pipa (t) : jumlah investasi untuk pemasangan pipa yang direncanakan pada tahun ke-t..... % Rawat Power House (j) : persentase biaya pemeliharaan item peralatan power house ke-j....... Investasi Power House (tj) : investasi untuk peralatan power house ke-j yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t..(86) % Rawat W Treatment Keterangan : Investasi Water Treatment (t) : % Rawat W Treatment : investasi water treatment pada tahun ke-t............ % Rawat Listrik : persentase biaya pemeliharaan perlengkapan peralatan listrik Pemeliharaan Lab (t) = Investasi Lab (t) x % Rawat Lab .. (88) Keterangan : Investasi Listrik (t) : jumlah investasi untuk peralatan listrik pada tahun ke-t.... (89) Keterangan : Investasi Lab (t) : jumlah investasi paket perlengkapan laboratorium yang direncanakan dibeli pada ........79 : n4 jumlah item peralatan power house yang dibeli pada tahun ke-t..

(91) Keterangan : Investasi Effluent (t) : jumlah investasi untuk perlengkapan effluent treatment pada tahun ke-t...(92) j=1 Keterangan : n6 : jumlah item kendaraan yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t. % Rawat Gedung (j) : persentase biaya pemeliharaan bangunan ke-j Pemeliharaan Effluent (t) = Investasi Effluent (t) x % Rawat Effluent..(90) j=1 Keterangan : n5 : jumlah item bangunan yang direncanakan dibangun pada tahun ke-t. % Rawat Lab : persentase biaya pemeliharaan perlengkapan laboratorium n5 Σ Pemeliharaan Gedung (t) = Investasi Gedung (tj) x %Rawat Gedung (j) .. Investasi Gedung (tj) : jumlah investasi untuk bangunan ke-j yang direncanakan dibangun pada tahun ke-t.80 tahun ke-t.. % Rawat Effluent : persentase biaya pemeliharaan perlengkapan effluent treatment n6 Pemeliharaan Kendaraan (t) = Σ Investasi Kendaraan (tj) x % Rawat Kendaraan (j) ... Investasi Kendaraan (tj) : jumlah investasi kendaraan ke-j yang direncanakan dibeli pada tahun ke-t % Rawat Kendaraan (j) : persentase biaya kendaraan ke-j pemeliharaan item ..

.... baik langsung maupun tidak langsung dibandingkan dengan mengggunakan bahan bakar solar....... Diagram alir deskriptif untuk menentukan biaya pemasaran dapat dilihat pada Gambar 23... Diagram alir deskriptif untuk menentukan biaya asuransi dapat dilihat pada Gambar 22... Persamaanpersamaan matematis yang digunakan dalam menentukan biaya asuransi adalah sebagai berikut.. Persamaan-persamaan matematis yang digunakan dalam menentukan biaya pemasaran adalah sebagai berikut.. Pemasaran (t) = Penjualan (t) x % Biaya Pemasaran .............. (94) Keterangan : Pemasaran(t) : biaya pemasaran pada tahun ke-t (US $).......... Asuransi(t) = Investasi (t) x % Asuransi .........81 Biaya Asuransi Biaya asuransi yang dimaksud adalah biaya asuransi untuk perlindungan gedung dan peralatan serta mesin-mesin pabrik yang dihitung dengan persentase biaya asuransi dengan total investasi yang dibutuhkan........... Biaya pemasaran dihitung dengan mengalikan persentase biaya pemasaran dengan total penjualan per tahunnya.. (93) Keterangan : Asuransi (t) : biaya asuransi pada tahun ke-t % Asuransi : persentase biaya asuransi terhadap total investasi Biaya Pemasaran Biaya pemasaran digunakan untuk lebih mensosialisasikan penggunaan biodisel dan menyadarkan masyarakat bahwa penggunaan biodisel banyak memberikan manfaat... %BiayaPemasaran : persentase biaya pemasaran terhadap total nilai penjualan Penjualan(t) : total nilai penjualan pada tahun ke-t (US $) ..........

.. Diagram alir deskriptif untuk menentukan biaya gaji dapat dilihat pada Gambar 24. (95) j=1 Keterangan : : jumlah jenis karyawan JumKaryawan(tj) : jumlah karyawan tipe ke-j pada tahun ke-t..... Persamaan-persamaan matematis yang digunakan dalam menentukan biaya gaji adalah sebagai berikut.82 Biaya Gaji Biaya gaji dihitung dengan menjumlahkan gaji yang diterima masingmasing karyawan untuk setiap posisi/jabatan. n Biaya Gaji (t) = Jum Karyawan (tj) x Gaji Karyawan (tj) Σ .. GajiKaryawan(tj) : gaji karyawan tipe ke-j pada tahun ke-t ...

83 Mulai Biaya pembelian peralatan / gedung / kendaraan Prosentase biaya asuransi untuk setiap peralatan / gedung / kendaraan Hitung biaya asuransi untuk setiap peralatan / gedung / kendaraan Hitung total biaya asuransi Total biaya asuransi per tahun Selesai Gambar 22. Diagram alir deskriptif untuk menentukan biaya asuransi peralatan/mesin pada pabrik biodisel .

84 Mulai Prosentase biaya Mulaipemasaran terhadap omzet penjualan Prosentase biaya administrasi Total penjualan biodisel dan terhadap omzet penjualan hasil sampingannya Total penjualan biodisel dan biaya pemasaran hasilHitung sampingannya Total biaya pemasaran per tahun Hitung biaya administrasi Total biaya administrasi per tahun Selesai Selesai Gambar 23. Diagram alir deskriptif untuk menentukan biaya pemasaran dan biaya administrasi pabrik biodisel .

Diagram alir deskriptif sub-submodel laba rugi dapat dilihat pada .85 Mulai • Jumlah personalia di tingkat manajemen puncak • Gaji per bulan untuk manajemen puncak • Jumlah personalia di tingkat manajemen bawah • Gaji per bulan untuk manajemen bawah • Jumlah personalia di tingkat pelaksana / operator • Gaji per bulan untuk setiap pekerja pelaksana /operator Hitung total gaji untuk personalia di tingkat : • Manajemen puncak • Manajemen bawah • Pelaksana / operator Hitung total gaji seluruh personalia Total gaji per tahun Selesai Gambar 24. Diagram alir deskriptif untuk menentukan biaya gaji karyawan pabrik biodisel Sub-Submodel Laba Rugi Submodel ini dipakai untuk menentukan proyeksi laporan laba rugi industri biodisel.

000.000..000.....000...000) + 30% x (Laba Kena Pajak (t) – 100.000.000) + (30% x 100....000....... maka: PPh Pasal 25 (t) = 5% x Laba Kena Pajak (t) Jika 25..000..000) Jika Laba Kena Pajak (t) > 200... maka: PPh Pasal 25 (t) = (5% x 25.000 < Laba Kena Pajak (t) ≤ 50.000) + (10% x 25....000.. Laba Kena Pajak (t) : Akumulasi Kerugian (t) : laba yang terkena pajak pada tahun ke-t industri biodisel akumulasi kerugian pada tahun ke-t industri biodisel Pph Pasal 25 (t) : pajak penghasilan badan atau perusahaan industri biodisel pada tahun ke-t .000.000.... maka: PPh Pasal 25 (t) = (5% x 25..000) + (15% x 50. (97) Laba Setelah Pajak (t) = Laba Kena Pajak (t) – Pph Pasal 25 (t) ... (96) Laba Kena Pajak (t) = Laba Sebelum Pajak (t) – Akumulasi Kerugian (t) ..000) + (10% x 25.000.....000. (98) Penentuan pajak penghasilan : Jika Laba Kena Pajak (t) ≤ 25..000) Keterangan : Laba Sebelum Pajak (t) : laba sebelum pajak pada tahun ke-t industri biodisel... Persamaan matematis yang digunakan dalam submodel laba rugi adalah sebagai berikut..000..000.000...000.000) Jika 100..000) + 35% x (LabaKenaPajak(t) – 200..000...86 Gambar 25..000) + (10% x 25..000....000..000) + (15% x 50...000.000) Jika 50...000. Laba Sebelum Pajak (t) = Penjualan (t) – Biaya Produksi (t) .000) + 15% x (Laba Kena Pajak(t) – 50.000 < Laba Kena Pajak (t) ≤ 200.000) + 10% x (Laba Kena Pajak (t) – 25.000....000......000 < Laba Kena Pajak (t) ≤ 100..000.000..000. maka: PPh Pasal 25 (t) = (5% x 25... maka : PPh Pasal 25 (t) = (5% x 25.000.

........ Diagram alir deskriptif sub-submodel aliran dana dapat dilihat pada Gambar 26..... (102) Keterangan : Penerimaan Dana(t) : total kas masuk pada tahun ke-t Modal Sendiri(t) : suntikan dana segar dari modal sendiri pada tahun ke-t........ (101) Saldo Kas Akhir (t) = Saldo Kas Awal (t-1) + (Penerimaan (t) – Pengeluaran Dana (t)) .......... Persamaan matematis yang digunakan dalam submodel aliran dana adalah sebagai berikut : Penerimaan Dana (t) = Modal Sendiri (t) + Pinjaman Bank (t) + Penjualan(t) ... Di sini dapat ditentukan besarnya perubahan kas pada awal dan akhir periode............ dan pendanaan dalam satu periode keuangan.... (100) Saldo Kas Awal (1) = Penerimaan Dana(1) – PengeluaranDana(1) .... investasi... Pinjaman Bank(t) : suntikan dana yang diperoleh dari pinjaman bank pada tahun ke-t Penjualan (t) : total nilai penjualan pada tahun ke-t Saldo Kas Awal (t) : saldo kas awal pada tahun ke-t Saldo Kas Akhir (t) : saldo kas akhir pada tahun ke-t .87 Sub-Submodel Aliran Dana Submodel ini dikembangkan untuk menentukan aliran kas industri biodisel dalam kegiatan-kegiatan operasional................................................ (99) Pengeluaran Dana (t)= Investasi(t) + Biaya Produksi(t) + Pembayaran Deviden (t) ..

Diagram alir deskriptif sub-submodel laba rugi .88 Mulai Total penjualan per tahun Total biaya produksi biodisel per tahun Aturan perpajakan Hitung laba rugi pabrik biodisel Laporan laba atau rugi pabrik biodisel tidak Rugi ? ya Kebijakan pemerintah Selesai Gambar 25.

89 Mulai • Setoran dana awal • Pinjaman dari pihak ketiga • Penjualan produk (biodisel dan gliserin ) Hitung total kas masuk Kas masuk • • • • Investasi pembangunan pabrik biodisel Biaya produksi biodisel Pembayaran angsuran pokok Pembayaran deviden Hitung total kas keluar Kas keluar Hitung kas akhir Saldo Kas akhir tidak tidak Negatif ? ya Kebijakan pemerintah Selesai Gambar 26. Diagram alir deskriptif sub-submodel aliran dana .

........... .... Nilai Buku Power House (t) : nilai buku asset perlengkapan power house yaitu nilai perolehannya dikurangi dengan akumulasi penyusutannya pada tahun ke-t..... Saldo Kas Akhir (t) : saldo kas pada akhir tahun ke-t....... Nilai Buku Pabrik (t) : nilai buku asset peralatan dan mesin pabrik yaitu nilai perolehannya dikurangi dengan akumulasi penyusutannya pada tahun ke-t..... Nilai Buku Weighbridge (t) : nilai buku asset weighbridge yaitu nilai perolehannya dikurangi dengan akumulasi penyusutannya pada tahun ke-t.......: TotalAktiva(t) = Saldo Kas Akhir (t) + (Nilai Buku Weighbridge (t) + Nilai Buku Storage Tank (t) + Nilai Buku Pabrik (t) + Nilai Buku Power House (t) + Nilai Buku W Treatment (t) + Nilai Buku Pipa (t) + Nilai Buku Listrik (t) + Nilai Buku Lab (t) + Nilai Buku Effluent (t) + Nilai Buku Kendaraan (t) ....... (106) Total Aktivat = Total Pasivat Keterangan : Total Aktiva (t) : total aktiva yang berupa kas dan aktiva tetap pada tahun ke-t.... Nilai Buku Storage Tank (t) : nilai buku asset storage tank yaitu nilai perolehannya dikurangi dengan akumulasi penyusutannya pada tahun ke-t.... (103) Total Pasivat = Hutangt + Modal Sendirit + Laba Ditahant ........90 Sub-Submodel Neraca Dalam submodel ini dapat ditentukan proyeksi posisi neraca untuk industri biodisel......... Nilai Buku Wtreatment (t) : nilai buku asset peralatan water treatment yaitu nilai perolehannya dikurangi dengan akumulasi penyusutannya pada tahun ke-t.............. Diagram alir deskriptif untuk sub-submodel neraca dapat dilihat pada Gambar 27....... Persamaan matematis yang digunakan dalam submodel neraca adalah sebagai berikut..................... (105) .........

91 Nilai Buku Pipa (t) : nilai buku asset pipa yaitu nilai perolehannya dikurangi dengan akumulasi penyusutannya pada tahun ke-t.......... Persamaan matematis yang digunakan dalam submodel kelayakan investasi adalah sebagai berikut : SaldoKasBersiht = Penjualant – (BiayaPraoperasionalt + TotalInvestasit +BiayaManajement + BiayaPemeliharaanTMt + BiayaPemupukant + BiayaPanenDanPengangkutant + BiayaPengolahant + BiayaPemasarant + BiayaBungat + Pph Pasal 25t ) .......... Total Pasiva (t) : total pasiva yang berupa hutang dan modal pada tahun ke-t... Laba Ditahan (t) : akumulasi dari laba ditahan sampai dengan tahun ke-t............. Nilai Buku Kendaraan (t) : nilai buku asset kendaraan yaitu nilai perolehannya dikurangi dengan akumulasi penyusutannya pada tahun ke-t.. Nilai Buku Lab (t) : nilai buku asset peralatan laboratorium yaitu nilai perolehannya dikurangi dengan akumulasi penyusutannya pada tahun ke-t.... Sub-sub Model Kelayakan Submodel ini digunakan untuk membantu pengambilan keputusan investasi.. Nilai Buku Effluent (t) : nilai buku asset peralatan effluent treatment yaitu nilai perolehannya dikurangi dengan akumulasi penyusutannya pada tahun ke-t..... sehingga diperoleh hasil tentang kelayakan ekonomis pendirian industri biodisel............ Modal Sendiri (t) : akumulasi modal sendiri yang disetor sampai dengan tahun ke-t.... Nilai Buku Listrik (t) : nilai buku asset peralatan listrik yaitu nilai perolehannya dikurangi dengan akumulasi penyusutannya pada tahun ke-t..... Diagram alir sub-submodel kelayakan dapat dilihat pada Gambar 31..(107) .

..... (108) FaktorDiskonto(t) = t (1 + SukuBunga) n NPV = Σ Faktor Diskonto (t) x Saldo Kas Bersih (t) .................... ................... Diagram alir deskriptif sub-submodel neraca ..............(109) t=1 Hutang jangka panjang Mulai Modal sendiri Saldo kas akhir • Nilai perolehan aset • Penyusutan aset Akumulasi laba / rugi ditahan Hitung total pasiva Hitung akumulasi penyusutan aset Hitung nilai buku aset Nilai buku aset Hitung total aktiva Total pasiva Total aktiva tidak Total pasiva = Total aktiva ? ya Neraca Selesai Gambar 27...........92 1 .

.......... (113) .. (112) PajakEfektifRataRata(t)= (PersentasePajak5%(t) x 5%) + (PersentasePajak10%(t) x 10%) + (PersentasePajak15%(t) x 15%) + (PersentasePajak30%(t) x 30%) + (PersentasePajak35%(t)t x 35%) ........ IRR.......... NPV : Net Present Value IRR : Internal Rate of Return iNPV Positif : tingkat suku bunga yang masih membuat nilai NPV tetap positif iNPV Negatif tingkat suku bunga yang mulai membuat nilai NPV negatif.... dengan Persamaan matematis yang digunakan dalam submodel biaya modal adalah sebagai berikut : WACC(t)= (PersentaseModalSendiri(t)x BiayaModalSendiri) + (PersentaseHutang(t) x SukuBunga x (1PajakEfektifRataRata(t))) . (111) Profitability Indeks = Investasi Awal Keterangan : Saldo Kas Bersih (t) : aliran kas bersih pada tahun ke-t industri biodisel Suku Bunga : tingkat suku bunga pinjaman Faktor Diskonto (t) : faktor diskonto pada tahun ke-t... PBP) Submodel ini dipakai untuk menentukan angka Weighted Average Cost of Capital (WACC) yang dipergunakan dalam kriteria investasi mempertimbangkan nilai waktu dari uang pada industri biodisel........................................ B/C........... PI.... Sub-submodel Analisa Rasio (NPV....93 NPV Positif .(110) IRR = iNPV Positif + (NPV Positif – NPV Negatif) x (iNPVNegatif – iNPVPositif) NPV ... Investasi Awal suntikan dana awal yang diperoleh dari modal sendiri dan modal pinjaman..... ....................................

Persentase Pajak 35% (t) : persentase total pajak penghasilan yang terkena pajak penghasilan 35% pada tahun ke-t. Persentase Modal Sendiri (t) : persentase modal sendiri terhadap total modal yang dimiliki pada tahun ke-t. Persentase Pajak 15% (t) : persentase total pajak penghasilan yang terkena pajak penghasilan 15% pada tahun ke-t. Persentase Pajak 30% (t) : persentase total pajak penghasilan yang terkena pajak penghasilan 30% pada tahun ke-t. WACC (t) : biaya modal rata-rata pada tahun ke-t. Persentase Pajak 5% (t) : persentase total pajak penghasilan yang terkena pajak penghasilan 5% pada tahun ke-t. Pajak Efektif Rata-rata (t) : persentase pajak rata-rata yang ditanggung industri pengolahan biodisel pada tahun ket. Persentase Pajak 10% (t) : persentase total pajak penghasilan yang terkena pajak penghasilan 10% pada tahun ke-t.94 Keterangan : Total Aktiva (t) : total aktiva yang berupa kas dan aktiva tetap pada tahun ke-t. Suku Bunga : tingkat suku bunga yang berlaku . Biaya Modal Sendiri : Persentase Hutang (t) : biaya yang harus ditanggung jika menggunakan modal sendiri yaitu harapan pemilik modal terhadap modal yang telah ditanamkan (dinyatakan dalam satuan persen) persentase modal yang diperoleh dari pinjaman terhadap total modal yang dimiliki pada tahun ke-t.

95 Mulai • Kas masuk • Kas keluar Penghitungan kas bersih Kas bersih (net cash flow ) • Faktor diskonto • Biaya modal Penghitungan NPV. Diagram alir deskriptif submodel analisis finansial dapat dilihat . PI. PBP ya Layak ? Kebijakan pemerintah Selesai Gambar 28. dan PBP NPV. Diagram alir deskriptif sub-submodel kelayakan Submodel ini juga digunakan untuk menentukan kinerja keuangan industri biodisel dengan menggunakan angka-angka rasio yang diperoleh dari laporan laba rugi dan neraca. B/C. IRR. IRR. PI. B/C.

. Persamaan matematis yang digunakan dalam submodel analisis finansial adalah sebagai berikut : Saldo Kas Akhir (t) . : hutang yang dimiliki pada tahun ke-t.96 pada Gambar 29. : = Keterangan : Total Debt To Equity Ratio (t) saldo kas akhir pada tahun ke-t... Laba Ditahan (t) : akumulasi laba ditahan sampai dengan tahun ke-t Hutang (t) Total Debt To Total Capital Assets(t) = .... (115) : rasio antara total hutang dengan modal sendiri pada tahun ke-t..... Hutang (t) : hutang yang dimiliki pada tahun ke-t... ..... Hutang(t) Modal Sendiri (t) + Laba Ditahan (t) . (116) Total Aktiva (t) Keterangan : Total Debt ToTotal Capital : Assets(t) Hutang (t) rasio antara total hutang dengan total modal kerja pada tahun ke-t........... Modal Sendiri (t) akumulasi modal sendiri yang disetor sampai dengan tahun ke-t..(114) Rasio Modal Kerja Terhadap Total Aktiva (t) = Total Aktiva (t) Keterangan : Rasio Modal Kerja : TerhadapTotal Aktiva (t) Saldo Kas Akhir (t) Total Debt To Equity Ratio (t) rasio modal kerja terhadap total aktiva pada tahun ke-t...

... Biaya Produksi (t) Operating Ratio (t) = ... Penjualan (t) : total nilai penjualan hasil produksi pada tahun ke-t... (118) ......... (117) Gross Profit Margin (t) = Penjualan (t) Keterangan : Gross Profit Margin (t) : margin keuntungan kotor pada tahun ke-t.....97 Mulai • Laporan laba rugi • Neraca Penghitungan kinerja keuangan dengan menggunakan analisis rasio Kinerja keuangan • Rentabilitas • Likuiditas • Solvabilitas • Rasio overage • Rasio aktivitas Memuaskan ? tidak ya Selesai Gambar 29........................................... Diagram alir deskriptif sub-submodel analisis finansial Laba SebelumPajak (t) ........... Laba Sebelum Pajak (t) : laba sebelum pajak pada tahun ke-t.......

. Penjualan (t) : total nilai penjualan pada tahun ke-t.... Laba Setelah Pajak (t) Rate Return For The Owner (t) = ..... Penjualan (t) : total nilai penjualan pada tahun ke-t..... (123) ........ Biaya Produksi (t) : total biaya produksi pada tahun ke-t.................. Earning Power (t) = Gross Profit Margin (t) x Total Assets Turnover (t).......... Penjualan (t) : total nilai penjualan pada tahun ke-t..................... Penjualan (t) ....... (120) Total Assets Turnover (t) = Total Aktiva (t) Keterangan : Total Assets Turnover (t) : tingkat perputaran asset pada tahun ke-t.. Laba Setelah Pajak (t) ...........98 Penjualan (t) Keterangan : Operating Ratio (t) : rasio operasi pada tahun ke-t... Laba Setelah Pajak (t) : laba setelah pajak pada tahun ke-t Total Aktiva (t) : total aktiva pada tahun ke-t.(122) Keterangan : ROI (t) : return on investment pada tahun ke-t...................(121) Laba Setelah Pajak (t) ROI (t) = atau Total Aktiva (t) Net Profit Margin (t) x Total Asset Turnover (t).... Total Aktiva (t) : total aktiva pada tahun ke-t...... (119) Net Profit Margin (t) = Penjualan (t) Keterangan : Net Profit Margin (t) : margin keuntungan bersih pada tahun ke-t... Laba Setelah Pajak (t) : laba setelah pajak pada tahun ke-t.

. Dalam analisis lingkungan dilakukan beberapa perhitungan sebagai berikut : ¾ Selisih emisi BBM solar dengan emisi biodiesel ¾ Konversi emisi BBM solar dan emisi biodisel dengan dampak iklim global menurut standar UNEP....3..... Analisa Beban Lingkungan (Environmental Burden = EB) dari emisi sisa pembakaran bahan bakar kendaraan.. Perbandingan antara Bahan Bakar Disel dan Biodisel dengan Analisa Beban Lingkungan dapat diperoleh dari penghitungan yang terdiri dari : 1...5....... pemanasan global dampak fotokimia yang merupakan polutan-polutan pencemaran udara yang ada di atmosfir dan bumi.. Submodel Lingkungan Submodel ini digunakan untuk menghitung besarnya perubahaan iklim global akibat penggunaan bahan bakar BBM solar dan biodisel. 3... Indeks EB Asiditas .. Dalam analisis ini parameter yang digunakan untuk menilai perubahan iklim global tersebut adalah hujan asam.. (124) Working Capital Turnover (t) = Saldo Kas Akhir(t) Keterangan : Working Capital Turnover(t) : tingkat perputaran modal kerja pada tahun ke-t Penjualan (t) : total nilai penjualan hasil produksi pada tahun ke-t Saldo Kas Akhir (t) : saldo kas akhir pada tahun ke-t.99 Modal Sendiri (t) Keterangan : Rate Return For The Owner (t) : tingkat pengembalian kepada pemilik modal pada tahun ke-t Laba Setelah Pajak (t) : laba setelah pajak pada tahun ke-t Modal Sendiri (t) : akumulasi modal sendiri yang disetor sampai dengan tahun ke-t Penjualan(t) .

Indeks EB Fotokimia Setelah diperoleh hasil penilaian terhadap masing-masing sub model.100 2. Indeks EB Global Warming 3. . maka disusun keterkaitannya variabel berdasarkan persamaan yang dibangun. Penilaian terhadap Sistem Penunjang Keputusan Investasi secara keseluruhan dilakukan bersamaan dengan validasi model. Pada model Sistem Penunjang Keputusan Investasi dapat dilakukan simulasi terhadap variabel-variabel yang diinginkan sehingga pengguna dapat mengetahui beberapa alternatif keputusan yang diperlukan.

101 Mulai • Emisi penggunaan BBM solar • Emisi penggunaan biodisel Penghitungan selisih emisi BBM solar dengan biodisel Selisih emisi tidak Selisih positif ya Penghitungan pengurangan emisi jika menggunakan biodisel konversi terhadap lingkungan yang ditetapkan oleh UNEP Dampak terhadap iklim global akibat penggunaan biodisel dan BBM solar Selesai Gambar 30. Diagram alir deskriptif submodel lingkungan .

IV.

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Rekayasa Model SPK
Model penunjang keputusan investasi pada industri biodisel kelapa sawit
bertujuan untuk menilai faktor-faktor yang berpengaruh dalam melakukan
investasi pada industri tersebut. Faktor yang berpengaruh terdiri dari 5 faktor yang
disebut sebagai submodel yaitu :
1.

Submodel sumberdaya untuk menilai potensi ketersediaan bahan baku
CPO yang akan dijadikan biodisel.

2.

Submodel teknis produksi untuk menilai ketersediaan teknologi dan
persyaratan yang diperlukan dalam mengolah bahan baku CPO
menjadi biodisel.

3.

Submodel pasar untuk menilai potensi pasar biodisel di dalam dan di
luar negeri.

4.

Submodel analisis finansial untuk menilai kelayakan finansial dari sisi
pengeluaran, penerimaan dan biaya investasinya.

5.

Submodel lingkungan untuk menilai perbedaan dampak penggunaan
biodisel dan solar terhadap lingkungan

Hubungan antara submodel penyusun model SPK investasi industri
biodisel pada permodelan software I Think tertera pada gambar 31. Asumsi dasar
keterkaitan alir variabel dalam submodel sistem penunjang keputusan diatas
meliputi :
1. Biodisel kelapa sawit diproses dari bahan baku minyak CPO (Crude Palm
Oil).
2. Biodisel yang dihasilkan digunakan sebagai produk subsitusi dari bahan
bakar minyak solar yang digunakan sebagai bahan bakar cair pada alat
transportasi.
3. Simulasi desain pabrik yang digunakan dalam perhitungan investasi
berkapasitas 100.000 ton biodisel per tahun dengan hasil produk samping
gliserin lebih kurang 10.000 ton/tahun.
4. Pangsa pasar biodisel di dalam negeri diasumsikan sebagai pengganti 510% produk bahan bakar minyak solar per tahun. Potensi pangsa biodisel

103
di luar negeri dikaitkan dengan kesepakatan iklim “Carbon Trade” yang
tertuang dalam Protokol Kyoto.
5. Industri biodisel diasumsikan terdiri dari agregasi pengolahan/pabrik besar
(kapasitas 100.000 ton/tahun). Industri jangka panjang 10-15 tahun dengan
perbandingan modal sendiri dibanding hutang 60:40.
6. Analisa

dampak

lingkungan

dilakukan

secara

global

dengan

membandingkan perbedaan iklim global yang ditimbulkan akibat
penggunaan biodisel dan BBM solar, menggunakan standar acuan yang
diterbitkan oleh UNEP (United Nation Environment Program).
Secara diagram keterkaitan (influence diagram) antara submodel terlihat
pada gambar 31.
SM Teknis Produksi

SM Sumberdaya

IK Sumberdaya

IK Teknis Produksi

Model SPK

SM Finansial

Investasi

IK Finansial

SM Lingkungan

SM Pasar

IK Lingkungan

IK Pasar

Keterangan

SM : Submodel
IK : Implikasi Kebijakan

Gambar 31. Hubungan antar submodel dari SPK investasi pada industri
biodisel kelapa sawit (Influence Diagram)
Skenario permodelan diperoleh dari hasil analisis keragaan penggunaan
CPO nasional saat ini. Penggunaan CPO nasional terdiri dari penggunaannya di
dalam negeri yaitu untuk industri minyak goreng dan industri oleokimia.
Sedangkan penggunaan di luar negeri adalah untuk diekspor ke berbagai negara
tujuan. Jika industri biodisel kelapa sawit akan dikembangkan di Indonesia maka

104
akan menambah kegunaan CPO yaitu sebagai bahan baku bagi pembuatan
biodisel. Dalam rangka menentukan apakah industri BDS akan memberikan
manfaat atau keuntungan jika dikembangkan di Indonesia maka diperlukan
pengkajian terhadap investasi tesebut. Dalam menilai kelayakan investasi industri
baik kelayakan finansial maupun kelayakan non finansial seperti ketersediaan
bahan baku industri, ketersediaan dan keterjangkauan teknologi pengolahannya,
manfaat dari produk ramah lingkungan dan efek ganda (multiplayer effect) yang
diperoleh dari penggunaan produk kelapa sawit sebagai bahan bakunya.
Hubungan antar variabel pada permodelan disusun berdasarkan fenomena tersebut
diatas.

Gambar 32. Alur hubungan variabel pada Permodelan Sistem Penunjang
Keputusan Investasi
Dalam merekayasa model maka abstraksi dari semua keterkaitan tersebut
dimodelkan dengan mengakisisi pengetahuan dari masing-masing variabel, untuk
selanjutnya pengetahuan tersebut diolah pada program komputer.
Sistem penunjang keputusan investasi pada industri biodisel dirancang
dengan bantuan perangkat lunak Microsoft Excel, Lotus smart suite dan I Think
versi 6.0. Model dibangun dengan memperhatikan keterkaitan antar submodel
dengan submodel lainnya, dimana dalam spreadsheet keterkaitan tersebut dapat
berupa hubungan antar sel dan hubungan antar spreadsheet. Representasi dari
model SPK yang dikembangkan

menggunakan bantuan perangkat lunak “I

Think”. Aplikasi SPK disajikan secara interaktif sehingga pengambil keputusan

Simulasi Perkembangan Produksi CPO . Simulasi dan Validasi Model Sistem Dinamis Investasi Industri Biodisel Kelapa Sawit 4.1. Gambar 33.1.2. 4. Gambar tampilan awal program “I Think” SPK investasi Industri biodisel di Indonesia tertera pada Gambar 33 dibawah ini.1. Simulasi Submodel Sumberdaya 1.2.2. 4. Tampilan awal program “I Think” SPK investasi Industri biodisel di Indonesia Model yang dikembangkan dengan perangkat lunak I Think selengkapnya dapat dilihat pada lampiran dalam bentuk CD 1. Simulasi Model Sistem Dinamis Simulasi yang dilakukan pada masing-masing submodel yang direkayasa pada SPK investasi industri biodisel kelapa sawit dipilih berdasarkan keperluan manajemen atau pengguna.105 mudah melakukan perubahan suatu skenario jika dikehendaki.

dan masing-masing 3 ton/ha untuk PBS dan PBN. Jika sebagian dari CPO nasional digunakan untuk dijadikan bahan baku pada industri . PBS. Gambar 34 menunjukkan proyeksi perkembangan produksi CPO dengan produktivitas 1. Jika tingkat produktivitas diubah maka segera dapat diketahui perubahan produksi CPO yang akan dihasilkan. PN dan total perkebunan nasional direkayasa pada submodel sumberdaya.9 ton/ha pada PR. Semakin besar luas lahan dan tingkat produktivitas suatu lahan maka akan semakin besar produksinya. Gambar 34. Produksi CPO dipengaruhi oleh luas lahan dan tingkat produktivitas lahan dengan korelasi positif.106 Proyeksi perkembangan luas lahan perkebunan baik yang dikelola oleh rakyat (PR). Hasil simulasi produksi CPO pada submodel sumberdaya 2. Simulasi Perkembangan Permintaan CPO Nasional Penggunaan CPO di Indonesia selama ini terserap pada industri minyak goreng. industri oleokimia dan untuk diekspor ke berbagai negara tujuan. swasta (PBS) maupun negara (PBN) dilakukan dengan pendekatan model dinamik atau model logistik. Luas lahan dan produktivitas dapat berubah menurut waktu sesuai dengan kondisi yang terjadi di lapangan. Hasil simulasi produksi CPO pada berbagai tingkat produktivitas dari PR.

Gambar 35. Simulasi Produksi Biodisel dan Gliserin Berdasarkan Kapasitas Terpasang Pembangunan submodel teknis produksi memberikan gambaran perkembangan produksi biodisel dan gliserin mulai dari perusahaan berdiri sampai dengan akhir masa proyek atau umur investasi.5 kg/kapita). Pada Gambar 36. Rekayasa submodel yang dibangun adalah mensimulasikan perubahan permintaan CPO sesuai dengan besarnya prosentase substitusi solar oleh biodisel yang diinginkan oleh pengguna. Perkembangan kebutuhan CPO untuk minyak goreng dilakukan dengan pendekatan perkembangan jumlah penduduk dan konsumsi perkapita (16.107 biodisel maka perkembangan permintaan CPO nasional untuk masing-masing industri disimulasikan pada submodel sumberdaya.1. Gambar 35 di bawah ini menunjukkan proyeksi perkembangan permintaan CPO nasional jika prosentase substitusi solar oleh biodisel adalah 10%.2. Permintaan pada indutri oleokimia diskenariokan laju permintaan bertambah 5% setiap tahunnya. Simulasi Submodel Teknis Produksi 1.2. produksi . Hasil simulasi proyeksi perkembangan permintaan CPO pada submodel sumberdaya 4. Selebihnya diekspor dan digunakan untuk memasok industri biodisel.

sedangkan pada Gambar 38 . Metanol. Sebagai contoh Gambar 37 mensimulasikan kebutuhan bahan baku pada kapasitas produksi indutri biodisel sebesar 100. Simulasi Kebutuhan Bahan Baku pada Industri Biodisel Kebutuhan bahan baku industri biodisel yang terdiri dari bahan baku CPO.000 ton/tahun. H3PO4 dan bahan bakar.000 ton/tahun. Gambar 36. Besarnya kebutuhan bahan baku industri biodisel dapat disimulasikan berdasarkan kapasitas terpasang. Perubahan juga akan diikuti oleh perubahan neraca bahan dan neraca enerji yang diperlukan. Kapasitas terpasang semakin besar produksi biodisel dan gliserin juga semakin besar atau berkorelasi positif. Rekayasa submodel sistem teknis produksi dapat memberikan gambaran perubahan produksi biodisel dan gliserin jika kapasitas terpasangnya diubah sesuai perubahan waktu yang terjadi. Gambar 36 menunjukkan tampilan perkembangan produksi biodisel dan gliserin dengan kapasitas produksi terpasang 100. Hasil simulasi produksi industri biodisel pada submodel teknis produksi 2.000 ton per tahun. Besarnya kapasitas terpasang dapat disimulasikan sehingga besaran dan perubahan produksi biodisel dan gliserin tiap tahun dapat diketahui.108 biodisel dengan kapasitas terpasang sebesar 100. KOH.

000 ton/th Gambar 38.000 ton/th 3. Sebagai contoh pada Gambar 39 mensimulasikan kebutuhan enerji pada kapasitas produksi 100.109 mensimulasikan kebutuhan bahan baku industri biodisel pada kapasitas 30.000 ton/tahun. Gambar 37. sedangkan pada Gambar 40 mensimulasikan kebutuhan enerji pada industri biodisel kapasitas produksi 30. Simulasi Kebutuhan Enerji pada Industri Biodisel Submodel teknis produksi juga dapat mensimulasikan kebutuhan enerji pada berbagai kapasitas produksi industri yang diinginkan oleh pengguna.000 ton/tahun. .000 ton/tahun. Kebutuhan bahan baku industri biodisel kapasitas 30. Kebutuhan bahan baku industri biodisel kapasitas 100.

Simulasi Perbandingan Produksi dan Konsumsi Solar Nasional Hasil proyeksi menunjukkan proyeksi kenaikan konsumsi lebih besar dari kenaikan produksi setiap tahunnya.1.3.2.000 ton/th 4. Kebutuhan enerji pada industri biodisel berkapasitas 30. Gambar 41 di bawah ini menunjukkan . Kebutuhan enerji pada industri biodisel berkapasitas 100. proyeksi perbandingan ekspor dan impor minyak bumi nasional dan simulasi penghematan subsidi solar terutama jika sebagian dari solar tersebut disubstitusi oleh biodisel. Simulasi Submodel Pasar Submodel pasar terdiri dari analisa produk yang disubstitusi oleh biodisel yaitu pendugaan perbandingan produksi dan konsumsi solar nasional.110 Gambar 39. 1.000 ton/th Gambar 40.

Proyeksi produksi dan konsumsi solar pada submodel pasar 2. Proyeksi ekspor dan impor minyak bumi pada submodel pasar . Gambar 41.111 perbandingan kenaikan produksi dan konsumsi nasional sejak tahun 2005 sampai dengan tahun 2019. Simulasi Perbandingan Ekspor dan Impor Minyak Bumi Gambar 42 dibawah ini menunjukkan proyeksi ekspor minyak bumi semakin menurun sedangkan proyeksi impor semakin meningkat setiap tahunnya. menunjukkan perbandingan proyeksi ekspor dan impor minyak bumi nasional pada tahun 2005 sampai dengan 2019. Gambar 42. Gambar 42.

Gambar 43.2. aliran kas. harga biodisel sebesar 700 $ US dan harga CPO sebesar 360 $ US/ton.659 $ US sedangkan nilai BCR sebesar 1. . BCR. Simulasi Penghematan Subsidi Solar Submodel pasar juga dapat memberikan gambaran penghematan subsidi solar jika sebagian dari solar tersebut disubstitusi oleh biodisel. Pada submodel ini dapat disimulasikan besarnya persentase substitusi solar oleh biodisel sehingga dapat memberikan gambaran terhadap besarnya penghemtan subsidi terhadap solar oleh pemerintah.05.4. Pada gambar tersebut terlihat nilai NPV sebesar 20. harga biodisel dan harga CPO. rugi laba. Penghematan subsidi solar dengan adanya substitusi biodisel.010. dan struktur biaya produksi pada berbagai tingkat suku bunga. Simulasi Submodel Analisis Finansial Rekayasa submodel sistem finansial pada industri biodisel ditujukan untuk menilai kinerja keuangan perusahaan dengan mensimulasikan kriteria investasi.1. Sebagai contoh pada Gambar 44 memberikan contoh hasil simulasi kinerja keuangan dengan penetapan suku bunga sebesar 12%. Gambar 43 menunjukkan besarnya penghematan subsidi terhadap solar yang dikeluarkan oleh pemerintah dari tahun 2005 sampai dengan 2019 jika solar solar yang disubstitusi oleh biodisel adalah 10%. 4. Pada submodel ini kinerja keuangan yang disimulasikan adalah perubahan besarnya NPV.112 3.

. 1.5. EB Global Warming (efek pemanasan global) dan EB Smog Fotokimia (efek asap hitam).000 ton biodisel dan solar yang digunakan tertera pada gambar 45.2. Pada submodel lingkungan perbandingan besarnya nilai EB pada pembakaran solar dan biodisel terdiri dari tiga yaitu EB Asiditas (efek hujan asam). Simulasi Submodel Lingkungan Submodel ini memberikan gambaran perbandingan besarnya indeks beban lingkungan atau EB (Environmental Burden) dari sisa pembakaran biodisel dan solar.113 Gambar 44. di bawah ini. Perbandingan besarnya masing-masing nilai EB dalam 1 tahun untuk setiap 100.000 ton per tahunnya. Hasil simulasi analisis NPV dan BCR industri biodisel pada submodel analisis finansial 4. gambar 46.1. dan gambar 47. Simulasi Perbandingan Beban Lingkungan atau Indeks EB Asiditas Gambar 45 menunjukkan perbandingan indeks beban lingkungan asiditas antara solar dan biodisel setiap penggunaan 100.

Nilai indek EB (Environmental Burden) global warming submodel lingkungan 3. Simulasi Perbandingan Beban Lingkungan atau Indeks EB Smog Fotokimia Gambar 46 menunjukkan perbandingan indeks beban lingkungan Smog Fotokimia antara solar dan biodisel setiap penggunaan 100. Gambar 46.000 ton per tahunnya. Nilai indek EB (Environmental Burden) asiditas submodel lingkungan 2. .000 ton per tahunnya.114 Gambar 45. Simulasi Perbandingan Beban Lingkungan atau Indeks EB Global Warming Gambar 46 menunjukkan perbandingan indeks beban lingkungan global warming antara solar dan biodisel setiap penggunaan 100.

perkebunan besar negara.2. Hasil validasi pada tiap submodel seperti berikut. sedangkan sisanya (40%) adalah CPO yang digunakan di dalam negeri terutama pada industri minyak goreng dan industri oleokimia. CPO nasional dipenuhi dari tiga jenis perkebunan yaitu perkebunan rakyat.2. Validasi Model Sistem Validasi pada masing-masing submodel dilakukan dengan menetapkan beberapa skenario yang nilainya baik langsung diperoleh dari berbagai sumber maupun melalui pengolahan data terlebih dulu. . 4. Proyeksi produksi CPO dari ketiga perkebunan tersebut dilakukan dengan melakukan terlebih dahulu proyeksi terhadap luas lahan dari ketiga jenis pengusahaan perkebunan tersebut. dan perkebunan besar swasta. Submodel Sumberdaya Proyeksi luas lahan perkebunan dan produksi CPO Submodel ketersediaan CPO digunakan untuk melihat seberapa besar ketersediaan CPO di dalam negeri yang dapat digunakan sebagai bahan baku biodisel.1. Penggunaan CPO untuk bahan baku biodisel diskenariokan diperoleh dari sisa CPO yang tidak digunakan untuk ekspor. bahan baku industri minyak goreng dan bahan baku industri oleokimia.2. Skenario yang digunakan adalah CPO ekspor sebesar 60% dari total produksi CPO nasional. Skenario yang digunakan dalam sistem penunjang keputusan investasi industri BDS dapat dilihat pada lampiran 3.115 Gambar 47.2. Nilai indek EB (Environmental Burden) smog fotokimia submodel lingkungan 4.

7) Penggunaan model untuk proyeksi.. 1... Berdasarkan data Statistik Perkebunan 2004.. Persamaan proyeksi luas perkebunan kelapa sawit rakyat Yt = 5. 51. 3) memformulasikan masalah matematis. Berdasarkan perhitungan menggunakan model dinamis atau logistik. 5) merumuskan solusi. Perkiraan luas lahan sampai dengan 10 – 15 tahun yang akan datang adalah 8 juta ha dengan komposisi 36..04 x 106 + 196279 (-1 + e0. (125) . 2) menetapkan asumsi.. Permodelan logistik dilakukan dengan pendugaan parameter model dinamis.199749t 3. proyeksi luas lahan pada masing-masing jenis pengusahaan mempunyai persamaan seperti yang tertera dibawah ini.76% lahan untuk perkebunan rakyat. 6) melakukan validasi model dan.199749t) ..86% lahan untuk perkebunan besar swasta. Asumsi model yang dikembangkan kurva proyeksi luas lahan akan meningkat hingga satu saat mencapai kejenuhan karena lahan yang tersedia semakin berkurang sampai tidak teredia lagi.38% lahan untuk perkebunan besar negara.. 4) pemecahan masalah matematis.. Perkebunan Besar Swasta (PBS) dan Perkebunan Besar Negara (PBN) maka diketahui besarnya laju pertambahan luas lahan setiap tahunnya.96688 x 1011 e0. luas lahan perkebunan selama 15 tahun terakhir (data tahun 1989–2004) untuk Perkebunan Rakyat (PR).116 Produktivitas masing-masing jenis pengusahaan kebun dikalikan dengan rataan produktivitas yang diperoleh selama 2 tahun terakhir. dan 11. Pemilihan model proyeksi luas lahan perkebunan kelapa sawit untuk masing-masing jenis pengusahaan perkebunan dilakukan dengan menggunakan permodelan dinamis atau disebut model logistik... Komposisi diasumsikan sama dengan komposisi yang terjadi pada tahun 2004 atau kondisi sekarang. Berdasarkan peta kesesuaian lahan perkebunan dapat diperhitungkan potensi luas lahan yang dapat dijadikan perkebunan kelapa sawit. Tahapan permodelan yaitu: 1) memformulasikan model sesuai dengan fenomena sebenarnya...

Tabel 4.332.154.00 572.057.60 1.00 1.295.000.00 1 3 5 7 9 11 13 15 17 19 21 23 25 27 29 31 33 THN Gambar 48.45 663.81 1.279.10 -0.038.00 2.09 1.175.342.117 GBR PR PR (Hektar) 4. Hasil analisis model dinamik untuk perkebunan rakyat R2 t 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Y(t) 196.506.000.9748 Ypred(t) 196.08 -0.10 479.000.302.040.44 R2 Corrected (Ypred(t)-Y(t))/Y(t) 0.468.00 0.190.43 1.279.12 0.544.641.01 0.04 -0.48 404.000.12 894.832.795.27 566.00 1.5 juta ha.47 773.00 658.000.9730 .06 -0.03 = 0.594.12 -0.763.00 236. Setelah itu laju pertumbuhan tetap disebabkan karena tidak adanya lahan yang tersedia untuk dijadikan lahan perkebunan rakyat.00 890.00 813.23 1.461.10 -0.00 = 0.000.000.10 0.03 -0.05 0.58 339.00 291.289.00 0.478.00 738. Validasi model proyeksi luas perkebunan kelapa sawit dari perkebunan rakyat dengan menggunakan model dinamis Dari hasil grafik proyeksi luas perkebunan kelapa sawit perkebunan rakyat tersebut diatas dapat dilihat peningkatan areal luas lahan sejak tahun 1988 (tahun1) sampai tahun 2021 (tahun ke-33) yaitu dari 500.852.613.164.025.389.15 0.00 223.00 439.321.00 384.672.444.031.07 -0.00 1.01 0.304.27 283.897.073.810.887.00 3.566.311.00 502.000 ha menjadi 3.00 model 1.000.536.00 1.753.815.338.32 1.00 1.

...00 800.00 0.000.118 Dari hasil perhitungan validasi model logistik dapat diketahui luas lahan yang diproyeksi dan luas lahan sebenarnya terdapat perbedaan yang cukup kecil yaitu rata-rata berkisar 6 persen dan ditunjukkan dengan nilai R2 yang diperoleh sebesar 0..72 (Ypred(t)-Y(t))/Y(t) 0.04 0.00 200.804..00 model 400. 2.732.00 386..04 0.....00 600. (126) GBR PBN PBN (Hektar) 1..65516 x 1011e0. + 380746 (-1 + e0..00 Ypred(t) 380.745.000 ha.. Lahan maksimum yang tersedia berkisar 900.0824692t 960000.309. Hal ini berarti tingkat keakuratan pendugaan cukup tinggi.. Tabel 5.. Kemudian mengalami keadaan yang tetap akibat tidak adanya lahan perkebunan cadangan tersedia.96 438.223.799.. Validasi model proyeksi luas perkebunan kelapa sawit dari perkebunan negara dengan menggunakan model dinamis Dari grafik hasil proyeksi luas lahan perkebunan besar negara terlihat laju kenaikan pertambahan luas sejak tahun 1993 (tahun-1) sampai dengan tahun 2026 (tahun ke-33).000. Persamaan proyeksi luas perkebunan besar negara Dengan menggunakan model dinamis diperoleh persamaan proyeksi luas perkebunan kelapa sawit perkebunan negara Yt = 3.00 1 4 7 10 13 16 19 22 25 28 31 THN Gambar 49..000....03 ..16 419.000...00 404.83 399.0824692t) .000.000..00 426.852.746.97. Hasil analisis model dinamik untuk perkebunan besar negara (data mulai tahun ke-5) t 0 1 2 3 Y(t) 380.00 0..

00 6 516..52 666.119 Tabel 5.000.557.. (127) GBR PBS PBS (Hektar) 6.00 model 1 5 9 13 17 21 25 29 33 THN Gambar 50....125..000.03 =0...03 0.00 9 556.000.60 649.02 -0.000.00 0.304.97.00 8 540.000.447.00 5 489..323.. 3.9695.00 15 645.879.00 12 588.64 517.02 -0.31 R2 Corrected =0.100.836.04 0.76 576.03 0..03 0. Persamaan proyeksi luas perkebunan besar swasta Dengan menggunakan model dinamis diperoleh persamaan proyeksi luas perkebunan kelapa sawit perkebunan besar swasta Yt = 1.16 556..000.00 14 631.17268 x 1012e0.999.02 -0.566.01 0. 0....142.25 537.00 4.862.364..207195t) .61 498...00 R2 458..515.445.432.00 594...735.143.823.207195t 4..716..13 613.00 7 528..00 10 560.04 -0.00 11 576. Validasi model proyeksi luas perkebunan kelapa sawit dari perkebunan besar swasta dengan menggunakan model dinamis . Lanjutan 4 448.29 478..00 0.04 0.9661 Validasi model logistik pada proyeksi luas lahan perkebunan besar negara menunjukkan luas lahan yang diproyeksi dan luas lahan sebenarnya mempunyai perbedaan yang cukup kecil yaitu rata-rata kurang dari 3%.728. Hal ini ditunjukkan dengan nilai R2 sebesar 0.x106+293171(-1+e0.038.00 13 609.40 631.027.00 2.947..

34 1.89 2.00 638.08 -0.08 0. Akan tetapi kemudian mengalami laju yang tetap disebabkan karena tidak adanya lahan yang tersedia untuk dijadikan lahan perkebunan besar swasta. Luas lahan maksimum dapat berubah jika pemerintah menetapkan kebijakan baru dibidang konversi lahan misalnya dengan mengkonversikan sebagian hutan sekunder atau lahan komoditi lain yang tidak produktif untuk dijadikan perkebunan kelapa sawit.04 0.89 2.00 =0.08 -0.430.949.05 -0.00 383.991.743.08 0.555.03 0.703.617.09 0.180.00 463.296.219.607.169.00 845.00 2.02 0.241.032.93 427.083.00 2.03 -0.554.00 1.314.046.9889.222.00 1.050.879.00 2.9881 Dari hasil validasi data proyeksi dengan data sebenarnya diketahui nilai data yang diproyeksi mempunyai perbedaan yang cukup kecil atau rata-rata sebesar 3%.72 613.882.254.00 1.08 -0. Tabel 6.00 2.823.99.209.156.823.739.542.92 1.37 1.488.33 1.38 1. Hasil analisis model dinamik untuk perkebunan besar swasta t 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 R2 Y(t) 293. .093.000 ha menjadi 4 juta ha.17 860.00 354.00 730.750.409.008. Hal ini ditunjukkan dengan nilai R2 sebesar 0.416.987.109.42 728.427.02 R2 Corrected (Ypred(t)-Y(t))/Y(t) 0.718.359.05 0.607.134.21 2.00 -0.171.88 1. atau tingkat akurasi model cukup tinggi.395.171.00 =0. Pendugaan 10– 15 tahun mendatang luas lahan maksimum kelapa sawit 8 juta hektar mengingat selain terbatasnya lahan yang tersedia juga iklim investasi nasional yang belum cukup baik.00 0.173.120 Dari grafik proyeksi luas lahan perkebunan besar swasta terlihat terjadi peningkatan areal sejak tahun 1988 (tahun ke-1) sampai dengan tahun 2020 (tahun ke-30) yaitu dari luas lahan 500.00 961.00 531. Ypred(t) 293.00 1.668.07 -0.49 513.351.680.

Proyeksi kebutuhan minyak goreng nasional dilakukan dengan mengalikan antara jumlah penduduk dengan konsumsi minyak goreng rata-rata per kapita per tahun yang besarnya 16. namun . Sedangkan laju kenaikan tahun sebelumnya hanya 2% dan dari sisa CPO di dalam negeri inilah yang selanjutnya digunakan untuk diolah lebih lanjut menjadi biodisel. CPO juga digunakan sebagai bahan baku industri hilir lainnya. bahan baku minyak goreng dan industri oleokimia maka dapat memenuhi kebutuhan bahan baku untuk industri biodisel kelapa sawit. Besarnya ekspor CPO berfluktuasi dari tahun ke tahun mengikuti perkembangan harga CPO internasional.8%. CPO sebagai bahan baku utama biodisel dilihat dari ketersediaan dan kontinuitasnya dapat dikembangkan lebih lanjut.3 juta ton atau sekitar 63% total produksi CPO nasional (Direktorat Jenderal Bina Produksi Perkebunan 2004). Kebutuhan minyak goreng ini dipenuhi dari CPO sebesar 83. diperoleh dengan mengalikan luas lahan dan produktivitasnya untuk masing-masing jenis pengusahaan kebun. Di samping untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng. sementara sisanya dipenuhi dari minyak lain termasuk kelapa biasa. Total produktivitas nasional diasumsikan diekspor sebesar 60% dan sisanya yang 40% digunakan untuk kebutuhan dalam negeri yaitu untuk kebutuhan konsumsi minyak goreng dan pabrik industri hilir lainnya.121 Proyeksi penggunaan CPO Nasional Produksi CPO nasional tersebut di atas. Kebutuhan CPO sebagai bahan baku industri oleokimia sekitar 1 juta ton per tahun dengan peningkatan rata-rata diskenariokan 5% per tahun. Gambar 51 memperlihatkan jika jumlah CPO yang tersedia dikurangi kebutuhan ekspor. Proyeksi kebutuhan CPO untuk memenuhi kebutuhan minyak goreng ini dapat dilihat selengkapnya pada Lampiran 28. Pada tahun 2002 ekspor CPO sebesar 6. Kebutuhan CPO sebagai bahan baku biodisel dihitung dengan skenario bahwa 5–10% pemakaian solar akan disubstitusi dengan biodisel dari CPO. Proyeksi ketersediaan CPO sebagai bahan baku biodisel selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran 29.5 kg/tahun. Dengan demikian.

Sedangkan proyeksi produksi CPO nasional 17. Strategi pengurangan ekspor CPO (minyak sawit kasar) dan penambahan lahan perkebunan kelapa sawit perlu dipertimbangkan. CPO ekspor 10.000 Nilai (Ton) 20.000 ton pertahun dengan hasil produk sampingnya gliserin sejumlah 10–12 ribu ton per tahun. Submodel Teknis Produksi Desain proses dirancang untuk menghasilkan biodisel atau metil ester. industri oleokimia 1. maka diperlukan suatu regulasi yang khusus mengatur penyediaan CPO sebagai bahan baku biodisel. Keragaan penyediaan CPO nasional diuraikan pada gambar berikut ini.122 mengingat nilai strategisnya minyak kelapa sawit baik di pasar ekspor maupun pasar domestik untuk industri minyak goreng dan industri oleokimia di dalam negeri.000.54 juta ton. Proyeksi ketersediaan CPO sebagai bahan baku biodisel Dari grafik diatas dapat diketahui tingkat perkembangan masing-masing kebutuhan CPO bagi industri minyak goreng oleokimia ekspor dan industri biodisel.000.000 15. Cara proses yang dipilih adalah proses yang .2 juta ton.68 juta ton.28 juta ton.000 10.80 juta ton. 25.000.000 5.2. Sebagai contoh. proyeksi kebutuhan 2010 bagi industri minyak goreng 4.000.000. dan kebutuhan disel 2. yang berkapasitas 100.2.000 0 2032 2031 2030 2029 2028 2027 2026 2025 2024 2023 2022 2021 2020 2019 2018 2017 2016 2015 2014 2013 2012 2011 2010 2009 2008 2007 2006 2005 2004 2003 Tahun Produksi CPO Ekspor CPO Bahan Baku Minyak Goreng Bahan Baku Oleochemical Bahan Baku Biodiesel Total Kebutuhan Gambar 51. 4. Jumlah ini cukup jika laju kenaikan ekspor CPO nasional diasumsikan tetap.2.

. reaksi transesterifikasi. Diagram blok neraca bahan dan neraca enerji proses pengolahan biodisel tertera pada Gambar 52 dan Gambar 53 berikut. yaitu persiapan bahan baku.123 berkesinambungan (continous process) dan diperoleh dari hasil “scalling up” dan modifikasi dari perhitungaan desain proses yang dilakukan oleh Fakultas Teknik Kimia ITB dengan kapasitas 400 ton/tahun. Proses pembuatan biodisel berbahan baku minyak kelapa sawit terdiri dari 4 tahapan. pemisahan dan pemurnian produk.

124 .

125 .

Proses penyiapan bahan baku dapat dilakukan secara kontinu karena produk metil ester dapat disiapkan pada tanki penyimpanan. Produk atas kolom ekstraksi kemudian direaksikan dengan katalis asam (H2SO4) yang terpasang sebagai packing dalam kolom pada temperatur 55–65 oC. Sebelum minyak kelapa sawit direaksikan pada reaktor dilakukan ekstraksi minyak lemak tersebut dengan metanol. Ekstraksi yang dilakukan bertujuan untuk mengambil asam lemak bebas (FFA) dan air yang terkandung dalam minyak tersebut. . Ekstraksi dilakukan secara counter current yaitu dengan mengalirkan minyak lemak yang mengandung asam lemak bebas tinggi (FFA) dari bagian atas dan metanol dari bagian bawah kolom. metanol dan ester yang diperoleh selanjutnya dipindahkan pada reaktor transesterifikasi.126 1. menghilangkan Untuk kandungan air yang jenuh pada kolom desikan. sampai menghasilkan metil ester.7 %. dilakukan regenerasi dengan mengalirkan udara panas dari bagian bawah kolom. Minyak nabati yang memiliki bilangan asam < 1 kemudian dimasukkan dalam tangki penyimpanan dan siap untuk dipakai pada reaksi tranesterifikasi.3%. Air yang terdapat pada produk akan diserap oleh absorban (CaCl2) yang terdapat dalam kolom desikan. Asam lemak bebas 5% dan kotoran 0. perlu dipasang 2 kolom secara paralel dan digunakan secara bergantian. metanol sisa dan air. produk dan reaktan akan mengalami sirkulasi melalui kolom desikan. Tahap Persiapan Bahan Baku/Persiapan Umpan Komposisi bahan baku minyak CPO yang direaksikan sesuai dengan Standar Nasional Indonesia diasumsikan terdiri dari Trigliserida 94. CaCl2 dipilih sebagai absorban karena kemampuannya menyerap air dengan perbandingan mol 1:4. karena kadar asam lemak bebas yang tinggi dalam minyak dapat merusak katalis (KOH) pada reaksi tranesterifikasi. Untuk memperoleh hasil transesterifikasi yang sempurna dan untuk melakukan penyerapan seluruh air yang terbentuk dari reaksi. Agar proses penyiapan umpan tidak terhambat akibat regenerasi kolom desikan. Tahap ekstraksi akan menghasilkan aliran produk FFA dan metanol pada bagian atas kolom dan minyak nabati dengan kandungan FFA rendah (bilangan asam <1) pada bagian bawah kolom. Setelah kandungan air dihilangkan. Untuk memisahkan FFA dari minyak sawit digunakan ekstraksi pelarut karena kelarutan FFA dalam metanol lebih tinggi dibandingkan dengan trigliserida.

Reaksi dilakukan dalam dua tahap dengan bantuan katalis KOH.57% dari hasil bahan yang masuk.56% dari bahan yang masuk secara keseluruhan. Pada reaktor ini akan ditambahkan metanol untuk mencapai perbandingan molar antara metanol dengan minyak nabati sebesar 6:1. sisa metanol. dan sisa trigliserida yang belum terkonversi maka dilakukan pemisahan menggunakan settling tank. Campuran tersebut dialirkan menuju tangki penetralan. Tahap Pemisahan/Separasi Fasa bawah dari tangki pengendapan 1 mengandung ester metil. Pada tangki akan didapatkan campuran gliserin-metanol pada bagian bawah dan campuran ester metil-trigliserida pada bagian atas. Tahap Reaksi Transesterifikasi Tahap reaksi transesterifikasi merupakan tahap reaksi pembentukan biodisel (ester metil) dan gliserin. Produk hasil reaksi tahap 2 selanjutnya dialirkan menuju tangki pemisahan ke dua. sedangkan metanol-air dialirkan menuju kolom penukar ion. 3. dan gliserin. Sehingga akan didapatkan fasa campuran metanol-air pada bagian bawah dan ester metil pada bagian atas tangki. sehingga dilakukan pemisahan gliserin terlebih dahulu sebelum reaksi tahap kedua dilakukan. metanol. dengan .127 2. Pada tahap 1. Selanjutnya reaksi tahap 2 dilaksanakan dengan kondisi temperatur rendah yaitu sekitar 30-32oC untuk mencapai konversi hingga 98% dari bahan baku dan 76. Gliserin dalam campuran hasil reaksi akan menghambat reaksi bergeser ke arah produk. Untuk memisahkan antara ester metil. reaksi dilaksanakan pada temperatur sekitar 60–70oC selama 1-2 jam hingga diperoleh konversi sekitar 96% dari bahan baku dan 68. gliserin. Fasa campuran ester metil-gliserin-metanol selanjutnya akan dialirkan menuju tahap pemisahan sedangkan fasa campuran ester metil trigliserida dimasukkan menuju reaktor tahap 2. Untuk memisahkan metanol dengan ester metil maka ditambahkan air sebagai pelarut Metanol akan terlarut dalam air sedangkan ester metil tidak. Selanjutnya ester metil (biodisel) ditampung dalam tangki penyangga biodisel. Reaksi dilakukan melalui dua tahap untuk memperoleh konversi yang lebih tinggi dan sekaligus untuk mempermudah proses pemisahan yang dilakukan.

dan gliserin. Campuran tersebut dialirkan menuju kolom penukar ion untuk memisahkan ionion yang terdapat dalam campuran produk kemudian dimasukkan ke unit evaporator. Gliserin yang telah dipisahkan dari unit evaporator ditampung pada tangki penyimpanan. sedangkan metanol-gliserin dimasukkan ke unit evaporator untuk mendapatkan kembali metanol yang masih terbawa. Asumsi reaksi/transformasi kimia yang terjadi pada simulasi proses produksi pengolahan biodisel tertera pada Tabel 7 berikut : . dan gliserin dimasukkan ke tangki pengendapan. sedangkan gliserin ditampung pada tangki penyimpanan. sehingga untuk memurnikan metanol diperlukan unit pemisahan distilasi. Tahap Pemurnian/Purifikasi Fasa bawah dari tangki pengendapan 2 mengandung metanol. Ester metil ditampung pada kolom penyangga biodisel. 4. Diagram alir pada masing-masing unit proses pengolahan biodisel kelapa sawit tertera pada Lampiran 5 sampai dengan Lampiran 8.128 penambahan asam posfat (H3PO4) sehingga terbentuk garam kalium posfat (K3PO4). metanol. Metanol yang teruapkan digunakan kembali untuk ekstraksi dan reaksi tranesterifikasi. Produk atas evaporator masih berupa campuran metanol-air. air. Ester metil. sehingga didapatkan ester metil pada bagian atas dan metanol-gliserin pada bagian bawah tangki.

pemisahan dengan perubahan fasa Tidak ada reaksi kimia. H3PO4 Gliserol Metil Ester Kasar Sabun Kalium Air Tidak ada.1.3.129 Tabel 7.1. Netralisasi 3.3. Leaching 1. Persiapan Umpan 1. Destilasi 4.2.2.1. Transesterifikasi 1 R – C – OCH3 + H2O Metanol Kotor Kolom CaCl2 Pengambilan air dari metanol CPO bebas ALB Ester Metil ALB KOH Metanol Transesterifikasi H O R–C–O–C–R O KOH O CPO bebas ALB EkstrakALB Ester Metil ALB (Ester Kasar) Kolom CaCl2 Jenuh CaO + 2HCl CaCl2 + H2O Produk H H – C – OH Metil Ester Kasar Gliserol 3H3CO – C – R + H – C – OH R – C – O – C – R + 3CH3OH O H – C – OH H R–C–O–C–R 2.2. Evaporasi 3. H3PO4 Reaksi netralisasi Campuran Gliserol. Pengendapan 3. pemisahan fisik secara grafitasi Endapan Kotoran dan Sabun Metil Ester Kasar yang mengandung KOH. Pengeringan Sumber : Data Diolah 2004 Metil Ester Kasar yang mengandung KOH. Metil Ester Netral Campuran netral tidak bermuatan Gliserol dan Metanol kasar Metanol Metil Ester Netral Air Metil Ester Bersih Pencucian kotoran dari metil ester kasar dengan air Penguapan sisa air pada Metil Ester dengan perubahan fasa 3KOH + H3PO4 K3PO4 + 3H2O Tidak ada reaksi kimia. Metanol dan Metil Ester Netral Campuran Gliserol dan Metanol Campuran Metanol dan air Pengambilan ion H+ sisa dari katalis H2SO4 yang terbawa Garam Kalium. Transesterifikasi 2. Penukaran ion 3. Pencucian 4.3. Esterifikasi ALB Bahan Masuk Reaksi Transformasi Kimia CPO Metanol Tidak ada Ekstrak ALB Metanol Esterifikasi ALB O O H2SO4 R – C – OH + CH3OH 1.2.4. Kolam desikan 2. Ringkasan teknologi transformasi kimia pada pembuatan metil ester CPO Unit Proses/ Unit Operasi 1. Purifikasi 4.1. Transesterifikasi 2 Trigliserida sisa Metil Ester Kasar KOH Metanol Transesterifikasi sisa Trigliserida H O R–C–O–C–R O KOH R – C – O – C – R + 3CH3OH O H H – C – OH 3H3CO – C – R + H – C – OH O H – C – OH H R–C–O–C–R 2. pemisahan dengan perubahan fasa Metil Ester bersih Metil Ester nurni . Separasi 3.

Model yang digunakan untuk memproyeksi ekspor dan impor minyak bumi dipilih adalah model dinamis. Keragaan ketersedian BBM yang berasal dari minyak bumi dapat diuraikan sebagai berikut : Proyeksi ekspor impor minyak bumi nasional Biodisel yang berasal dari minyak kelapa sawit atau CPO merupakan salah satu sumber energi bahan bakar cair yang dapat mensubstitusi BBM solar. Untuk mengetahui peluang pangsa pasar yang dapat disubsitusi oleh biodisel kelapa sawit maka perlu diketahui keragaan proyeksi ekspor/impor BBM dan proyeksi produksi dan konsumsi BBM solar nasional. Dengan menggunakan model dinamis diperoleh persamaan proyeksi ekspor minyak bumi Indonesia sebagai berikut. Data yang digunakan dalam proses validasi ini adalah data ekspor dan impor minyak bumi Indonesia mulai tahun 1992 sampai dengan tahun 2001.2. Validasi model dinamis untuk memproyeksikan ekspor minyak bumi menghasilkan nilai R2 0.5269 Sementara itu.3. Diantaranya adalah adanya asumsi bahwa Indonesia memiliki energi minyak bumi yang melimpah dan harganya yang relatif murah karena disubsidi oleh pemerintah telah berubah dalam beberapa tahun terakhir.8845. Dari data proyeksi dapat perkirakan jumlah atau pangsa pasar BBM solar yang dapat disubsitusi biodisel yang berasal dari minyak kelapa sawit. Proyeksi ekspor minyak bumi Indonesia dengan menggunakan metode model dinamis dapat dilihat pada Gambar 44 berikut ini. petroleum disel atau solar nasional selama ini. Yt = 379968 – 7598.2. menggunakan kurva logistik atau kurva yang berbentuk S. Terjadinya ketidakseimbangan produksi dan konsumsi minyak mentah maupun minyak yang telah diolah menjadi membesarnya jumlah BBM yang harus dipenuhi dari impor dan membesarnya jumlah subsidi yang dikeluarkan pemerintah .130 4. Submodel Pasar Pasar Dalam Negeri Penciptaan pasar biodisel di dalam negeri dapat dilakukan dengan mensubsitusi sebagian dari pemakaian.47t . validasi model proyeksi impor minyak bumi menghasilkan nilai R2 0.

Validasi model proyeksi ekspor minyak bumi Indonesia dengan menggunakan model dinamis Sementara itu. Yt = 85401.6 + 11142t Model Dinamis Impor BBM 250.00 Ekspor BBM 300.00 data model 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 tahun Gambar 54.000. Dengan menggunakan model dinamis diperoleh persamaan proyeksi impor minyak bumi Indonesia sebagi berikut. maka dapat dilakukan proyeksi ekspor dan impor minyak bumi Indonesia tahun 2005–2030.000.00 200.00 Impor BBM 200.000.00 400.000.000. Sementara itu pada Tabel 8 di bawah ini ditampilkan proyeksi proporsi ekspor dengan impor minyak bumi Indonesia tahun 2005–2030.00 100.00 50.131 Model Dinamis Ekspor BBM 500.000.00 100.00 0.000. .00 0. proyeksi impor minyak bumi Indonesia dapat dilihat pada Gambar 45 berikut ini.000.000.00 data model 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 tahun Gambar 55. Validasi model proyeksi impor minyak bumi Indonesia dengan menggunakan model dinamis Dengan menggunakan model dinamis.000.00 150.

809.620. Jika tidak ada penambahan investasi dan penemuan sumur-sumur minyak baru.218.34% 105.26% 85.824.84 397.099.21% 48.08% Sumber : Hasil Analisis.60 2017 182.25 363.67 519.99% 21.06% 56.60 2030 83.61 497.01% 52.673. Dengan demikian.60 2018 174.371.60 2021 152.08 486.513.400.957.809.60 2019 167.423.945.00% 91. jumlah impor minyak bumi mengalami peningkatan yang berarti dari tahun ke tahun sehingga menghabiskan cadangan devisa yang dimiliki Indonesia.525.60 2009 243.14 508.210.589.597.60 2012 220.63% 45.05% 79.42 241.801.60 2006 265.60 2022 144.60 2011 227.07 297.49 453.229.60 2024 129.52% 30.655.60 2013 212.389.19 341.60 Proporsi Ekspor dengan Impor 113.60 308.30% 73. Untuk mengurangi besarnya penurunan cadangan devisa untuk impor minyak bumi.013.60 2025 121.377.20% 23.38% 60.60 2008 250.604.33% 98.13 319. 2004. 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 Tahun Proyeksi Ekspor Proyeksi Impor Proyeksi (Ribu Barrel) (Ribu Barrel) 2005 273.241.612.415.96% 28.52% 26.021.006.203.939.235.519.60 2015 197.07% 36. Tabel tersebut menunjukkan bahwa peranan ekspor minyak bumi Indonesia dari tahun ke tahun sudah menunjukkan tanda-tanda penurunan.531.60 2028 98.093.78 375.60 2014 205.86% 17.132 Tabel 8.803.01 274.48 263.22% 33.60 2023 136.01% 64.26% 42.815. perlu diupayakan untuk terus mencari sumber-sumber energi alternatif terbaharukan salah satunya adalah biodisel dari CPO.392.96 441.90 419.37 408.60 2026 114.087.54 285.990.43 430.794.627.60 2007 258.55 475. Proyeksi proporsi ekspor dengan impor minyak bumi Indonesia No.93% 16.407.60 2020 159.60 2010 235.95 252.31 386.195.72 352.951.667. .02 464. Proyeksi ekspor dan impor minyak Indonesia dapat dilihat pada Gambar 42.383. maka impor minyak bumi Indonesia semakin besar.60 2027 106.97% 69.226.60 2029 91.797.998.66 330.816.60 2016 190.08% 39.661.87% 19.

Sementara itu.000 200. Dengan menggunakan model dinamis diperoleh persamaan proyeksi produksi BBM solar Indonesia sebagai berikut.3 + 492. model dinamis untuk proyeksi penggunaan BBM solar mampu menjelaskan 74.000 0 2030 2029 2028 2027 2026 2025 2024 2023 2022 2021 2020 2019 2018 2017 2016 2015 2014 2013 2012 2011 2010 2009 2008 2007 2006 2005 Tahun Proyeksi Ekspor Proyeksi Impor Gambar 56.133 Jumlah (Ribu Barrel) 600. Model proyeksi produksi BBM solar menunjukkan bahwa model dinamis paling sesuai digunakan untuk memproyeksikan produksi BBM solar Indonesia.74.9175.000 100. Data realisasi dan proyeksi produksi BBM solar dapat dilihat pada Gambar 47. Model dinamis untuk proyeksi produksi BBM solar mampu menjelaskan 94.000 400. Yt = 11331.000 300. Validasi model proyeksi produksi BBM solar dengan menggunakan model dinamis menghasilkan nilai R2 sebesar 0. Model dinamis juga paling sesuai digunakan untuk memproyeksikan konsumsi BBM solar Indonesia. Data yang digunakan dalam proses validasi ini adalah data ekspor dan impor minyak solar Indonesia mulai tahun 1992 sampai dengan tahun 2001. Sementara itu.072t . Proyeksi ekspor dan impor minyak bumi Indonesia dengan menggunakan model dinamis Proyeksi produksi dan pemakaian BBM solar nasional Keragaan proyeksi produksi dan pemakaian BBM solar dimodelkan dengan model dinamis. validasi model dinamis konsumsi BBM solar dengan menggunakan model dinamis menghasilkan nilai R2 sebesar 0.90% dari pola data produksi BBM solar Indonesia periode tahun 1992 sampai dengan tahun 2001.000 500.08% dari pola data penggunaan BBM solar Indonesia pada periode yang sama.

00 data model 5. Dengan menggunakan model dinamis diperoleh persamaan proyeksi konsumsi BBM solar Indonesia Yt = 15072.000.7 + 829. Validasi model proyeksi produksi BBM solar Indonesia dengan menggunakan model dinamis Sementara itu. Gambar 49 menunjukkan bahwa produksi BBM solar Indonesia masih belum mampu memenuhi kebutuhan BBM solar sehingga sebagian masih harus tetap diimpor. Model Dinamis Konsumsi Solar 25.149t. Validasi model proyeksi konsumsi BBM solar Indonesia dengan menggunakan model dinamis Dengan menggunakan model dinamis untuk proyeksi produksi BBM solar dan konsumsi BBM solar.000.000 solar 10.000 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 tahun Gambar 57.00 solar 10.134 Model Dinamis Produksi Solar 20.00 15. . data dan proyeksi pemakaian BBM solar Indonesia dapat dilihat pada Gambar 48.000.000.000 Produksi 15. maka dapat dilakukan proyeksi produksi dan pemakaian BBM solar Indonesia tahun 2005–2030.00 konsumsi 20.00 0.000.000 data model 5.00 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 tahun Gambar 58.

000 45.13 34.509.72 38.20% 65.313.000 15.17 24.09% 66.712.87 39.125.569.83 33.680.617.57 37.02 39.72% 65.630.81 22.484. Proyeksi produksi dan pemakaian BBM solar Indonesia tahun 2005-2030 Sementara itu Tabel 9 di bawah ini menampilkan proyeksi proporsi produksi dengan konsumsi BBM solar Indonesia tahun 2005-2030.459.000 20.67 21.53 31.141.32 41.972.53% 67.28 35.288.633.03 23.38 30.94 28.696.168.17 40.118.34% 66. Tabel 9.31 18.68 32.648.204.69% 66.664. Tahun Proyeksi Proyeksi Produksi BBM Solar (Juta liter) Kebutuhan BBM Solar Nasional (Juta liter) Proporsi produksi terhadap konsumsi 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 2020 2021 2022 2023 2024 18.51% 66.10 24.143.45% 65.88 22.188.97% .000 0 2030 2029 2028 2027 2026 2025 2024 2023 2022 2021 2020 2019 2018 2017 2016 2015 2014 2013 2012 2011 2010 2009 2008 2007 2006 2005 Tahun Proyekjsi Produksi Solar Proyeksi Konsumsi Solar Gambar 59.172.39 26.74 21.32% 65.46 26. Proyeksi proporsi produksi dengan pemakaian BBM solar Indonesia No.01% 65.826.23 29.32 25.680.17% 66.60 20.02% 67.Jumlah (Juta liter) 135 50.339.30% 67.601.655.093.79 27.801.000 40.077.997.000 25.585.109.53 27.77% 67.47 42.156.96 23.605.776.000 35.220.29% 68.38 19.000 10.86% 65.08 29.24 25.43 36.000 5.947.62 68.52 20.98 34.58% 65.45 19.88% 66.60 27.08% 64.434.000 30.68 26.

Semarang.75 28.522. Jumlah pemakaian BBM solar selalu lebih besar dibandingkan dengan produksinya seperti dapat dilihat pada Tabel 9. perlu diupayakan untuk terus mencari sumber-sumber energi alternatif terbaharukan salah satunya adalah biodisel.553.045.11 43.06 45. Surabaya.409. Hasil analisa proyeksi impor dan ekspor minyak bumi Indonesia menunjukkan.136 Tabel 19 Lanjutan 23 2025 24 2026 25 2027 26 2028 27 2029 28 2030 28.96 30. 2004.263.922. .66% 64.56% 64.86% 64.77 44.092.89 29. seperti Jakarta. Mencermati masalah akan semakin langkanya ketersediaan BBM fosil dan masalah lingkungan maka energi alternatif biodisel dapat diposisikan sebagai pengganti dari sebagian bahan bakar BBM solar yaitu 5–10% dalam 15 tahun kedepan.51 64. Berdasarkan skenario ini maka dunia usaha di dalam negeri akan tertarik untuk melakukan investasi pada biodisel. Medan. Biodisel dari CPO lebih diarahkan sebagai alternatif pengganti dari sebagian penggunaan BBM solar pada sektor transportasi.580. Bandung.36 47. jumlah impor BBM solar mengalami peningkatan yang berarti dari tahun ke tahun sehingga menghabiskan cadangan devisa yang kita miliki.030. Dengan demikian. Penggunaan BBM solar juga lebih besar dari produksinya sehingga sebagian besar kekurangannya harus diimpor yang berarti pengeluaran devisa negara.38% Sumber : Hasil Analisis. Hal ini diasumsikan sesuai karena pola permintaan solar sebagai bahan bakar cair diperkirakan dapat dipenuhi dengan jaminan ketersediaan minyak sawit nasional.04 30.061.21 46.76% 64. bahwa Indonesia mulai tahun 2005 sudah merupakan “Net importer country” dimana jumlah minyak bumi yang diimpor lebih besar dari jumlah minyak bumi yang diekspor.537.82 29. Penggunaan BBM yang berasal dari minyak bumi atau fosil juga telah menyebabkan pencemaran udara yang cukup besar terutama di kota-kota besar di Indonesia.751.47% 64. dan lain-lain.92 44. Untuk mengurangi besarnya penurunan cadangan devisa untuk impor minyak bumi.

eksploitasi dan penjualan dilakukan dengan menggunakan mata uang Dolar AS.335 Dolar AS. Dasar perhitungan biaya investasi pabrik diperoleh dari simulasi perhitungan scaling up desain proses yang dirancang untuk pengolahan biodisel. 4. (Murdiyarso. .2.000 ton per tahun disajikan pada Tabel 10. Uni Eropa.137 2. Negara yang menghasilkan emisi carbon yang lebih sedikit dapat melakukan transaksi dengan negara yang menghasilkan emisi karbon yang lebih besar dari yang dipersyaratkan sehingga secara agregat dapat menurunkan dampak iklim global yang ditimbulkan. Ringkasan hasil perhitungan investasi pabrik biodisel dengan kapasitas 100. Perhitungan biaya investasi. 2003).4. Umur pabrik didesain sampai dengan 15 tahun sehingga masa ekonomis mulai tahun 2005 . dan Jepang. Biodisel merupakan salah satu energi alternatif yang ramah lingkungan sehingga penggunaannya akan memberi andil dalam pengurangan dampak emisi gas buangnya atau memberikan pengaruh perubahan iklim global yang lebih baik dibandingkan dengan penggunaan BBM solar. Dari Tabel 10 tampak bahwa kebutuhan dana investasi untuk pembangunan pabrik pengolahan biodisel dan sarana-sarana penunjangnya 17.2019. Dengan demikian investasi pada industri biodisel mempunyai peluang yang cukup besar untuk dibiayai oleh proyek luar negeri yang tergabung dalam mekanisme pembangunan bersih.2. Pasar Luar Negeri (Pasar Ekspor) Potensi pasar luar negeri dapat dikaitkan dengan Perjanjian Kyoto yang telah diratifikasi pada bulan Pebruari 2005 yang lalu berupa carbon trade.000 ton biodisel per tahun. Rencana produksi awal dirancang hanya 90% kapasitas tersebut dan meningkat menjadi 100% pada tahun kedua sampai tahun terakhir umur pabrik.819. terutama negara-negara maju seperti Amerika. Jika ditambah dengan dana pra operasional 6 bulan menjadi 41.288 Dolar AS. Submodel Analisis Finansial Submodel Kelayakan Investasi Industri Biodisel Pembangunan pabrik pengolahan biodisel dilakukan mulai tahun 2003 dengan kapasitas 100.179.

2.518 17. Pompa minyak 2. Tangki netralisasi 4.100 Transesterifikasai 3.138 Tabel 10.521 8.2. Crude ester pump 4. Jembatan timbang 1. Tangki gliserol 4.4.500 7.100 1 1 2 1 1 2 1 107. KOH dosing pump 3.6.000 23. Kolom desicant 2.000 174. Pompa metanol recovery 6.774 22. Kolom destilasi 4. MESIN PENGOLAHAN Penerimaan Bahan 1.1.300 9.6.000 179.200 25.10.10.11.238 87. Motor penggerak 4.3.000 87. KOH mixing tank 8. Cooling fan 8.500 7. Tangki CPO 1.000 11. Tangki metanol 21.274 Pre Treatment 2.223 8.446 23.000 22.600 75.903 29. Reaktor transester 2 3. Pompa metanol 2.12.9.100 60. Reaktor transester 1 3.000 182.946 5.000 10.5 Filter garam 4.000 10. Motor pengaduk 3. Pompa asam fosfat 4.841 48.000 17.988 3.714 22.455 21. Tangki pengendapan 2 3.3.3.2.714 174.929 5.000 2.000 ton per tahun (dalam Dolar AS) Harga ($ AS/unit) Jumlah (Unit) Total Biaya ($ AS) No.000 11.5.7.4.000 35.100 30.000 22.000 91.2. Kolom pencucian 9.1.223 23. 4.600 1 2 1 2 1 2 1 2 3 2 3 1 642.8. Kolom ekstraksi 2.7.000 11.5.2.309 3.1.6.1. Tangki pengendapan 4.500 21. .238 7.000 23. Soap residu tank 3.4. Evaporator 4.600 Purifikasi 5.4.976 23.7.000 75.284 8.801 1 2 3 3 2 1 3 3 1 1 595. 1. Metanol pump 3.500 43. 3.346 6.000 8. Cooling tower 4.000 19. Pompa air 5.879 1 5 2 6 321.300 9. Kolom penukar ion 4.903 29.446 24.8.036 51. Uraian A.309 7.205 97. Reaktor esterifikasi 2. Proyeksi kebutuhan biaya investasi pembangunan pabrik pengolahan biodisel kapasitas 100.784 8.264 9.000 9. 5.3.548 22.892 5.000 1 2 142.000 11. Tangki bahan bakar 1.000 216. Mater mixer tank 3.784 8.858 5.9.000 72. Mixer metanol 2. Tangki Pengendapan 1 3.1.801 Separasi 4.000 25.

000 1 101.2.2. Tangki gliserol 6. Forklif 11. 12.418. Steam piping line 7.4.000 16. Tangki produk metil ester 6.000 71.000 52.520 6.2.086 83. Menara air boiller 1 1 1 1 1 1 84 18 195 1 1 1 10. Air compressor 7. Kolom pengering 5.000 9.951 10.886 1.548 56. Thermopack 7. Penerangan 7. Soap residu treatment 8.000 1 160.000 11.250.000 93. 7.000 96.25 .000 24.10.970.000 Maintenance 12. Electricity line 7.1.3.000 70.000 98.000 13. Water Treatment 8. Safety Instrument 101.000 202.000 24.000 30.000 10.280 6.000 1 1 1 1 294.5.951 10.000 16.1. Mesin perawatan mekanik 12.9.000 30. Tangki penampung ester 9.6.000 70.086 83. Boiler 7.000 Utilitas 7.000 100.000 61. Tangki penampung air 5.000 1 1 1 1 288. Instalasi pengolah air limbah (IPAL) 8.000 2 1 2 320.850.471 290.358 2 2 1 2 19.000 202.7. Panel utama 7.000 140.000 78. Tangki pengendapan 5.000 13.4.5.3. 5. Bak penampung garam 32.520. Other vessel 70.000 11.000 9 1 1 307. Water piping line 7.000 22.418.139 Tabel 10 Lanjutan 6.3.000 93.1.800 18.000 96. Oil piping line 7. Disel dan alternator 7. Perawatan kendaraan 12.3.000 40.000 2. Mesin perawatan listrik 12.000 13.000 98.800 18.227 128.4. Dump truck 11.11.4.000 13.000 98.000 5.1.000 98.12.2.000 52. Laboratorium elektronik Jumlah Investasi Mesin Pengolahan Jumlah Total (Rp Milyar) 14.000 80.000 630.6.000 100. 8.000 35.2.3. Vapor absorber 1.000 Laboratory Equipment 160.8.3. Incenerator 8.000 61. Water treatment 7.000 61.774 28.000 78. Transportasi 11.716 Produk Akhir 6.000 61.000 71.1.

4. Pabrik 1.200 Jumlah Investasi Infrastruktur TOTAL INVESTASI (US $) TOTAL INVESTASI (Rp Milyar) 3.431 6.100 1. 2004 Sub-Submodel Biaya Modal Konsep biaya modal dimaksudkan untuk dapat menentukan besarnya biaya yang secara riil harus ditanggung oleh perusahaan untuk memperoleh dana dari suatu sumber.288 160.500 Lingkungan (m2) 3.998.000 88.3. Pengolahan limbah 1.4.6.000 34. INFRASTRUKTUR PABRIK Lahan (m2) 1.3.5. Pos pengamanan 2.000 6.000 2.423 800 2.350 1.800 1. 1. Jalan 3. Perkantoran 2.670. Gardu listrik 18 12 8 23 11 40. Fasum dan Fasos 75 55 45 55 55 35 35 22. Biaya modal dimaksudkan untuk menentukan biaya modal rata-rata dari keseluruhan dana yang digunakan di dalam perusahaan.061 17.3.2. Utilitas 1. Perkantoran 1.500 3.5. Pagar 3.7.100 49. Biaya modal rata-rata biasanya digunakan sebagai ukuran untuk menentukan diterima atau tidaknya suatu usul investasi yaitu dengan membandingkan rate of return dari suatu usul investasi dengan biaya modal rata-ratanya.2. 2.4.1. 3.38 Sumber : Hasil Analisis. Rumah pompa 3.1.961 7.000 7.140 Tabel 10 Lanjutan B.268 900 250 1.6.000 310 200 200 849.000 73. Biaya modal rata-rata selama proyek berlangsung . Taman 3.000 120.280 720. dimana tingkat suku bunga yang digunakan adalah 12% dan keuntungan yang diharapkan dari pemilik modal sebesar 15%.600 2. Areal sediaan 1.125 600. Dari hasil analisis dengan menggunakan ratio modal sendiri dengan hutang adalah 60:40.5.940 51. Pabrik 2.705 Bangunan (m2) 2.480 4.200 17.941 721. Laboratorium 2. Gudang 2.250 99. Jalan 5 7 9 7 5 6 5 1.569.388 7. Bengkel 2.500 625 100.600 200 2. Areal penyangga 1.819.2.1.7.500 11.000 10.

0 Tahun Gambar 60. Jika nilai IRR lebih besar daripada biaya modal maka industri biodisel yang dirancang layak secara finansial selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran CD 2.4% sampai dengan 15% seperti terlihat pada Gambar 50.141 umumnya berkisar antara 9. 2) biaya produksi biodisel. Komponen biaya pokok produksi pengolahan biodisel terdiri dari: 1) biaya manajemen/umum (gaji pegawai). Selanjutnya untuk tahun kedua sampai dengan tahun kelimabelas digunakan maksimal sebesar 100%. 4) biaya asuransi. 6) biaya penyusutan. .000 ton per tahun dan digunakan untuk tahun pertama hanya 90% dari kapasitas tersebut. Rencana produksi biodisel dan kebutuhan bahan baku serta bahan penolongnya selama 15 tahun masa ekonomis pabrik selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran CD 2. Perhitungan biaya gaji pegawai selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran CD 2. 3) biaya bunga bank. Perhitungan biaya manajemen (gaji pegawai) dihitung atas dasar jumlah pegawai yang terlibat dan gaji yang diterima. Nilai biaya modal inilah yang selanjutnya digunakan sebagai dasar dalam menentukan tingkat kelayakan industri biodisel. Di samping itu. 16 Biaya Modal (%) 14 12 10 8 6 4 2 20 05 20 06 20 07 20 08 20 09 20 10 20 11 20 12 20 13 20 14 20 15 20 16 20 17 20 18 20 19 . pabrik pengolahan biodisel juga menghasilkan produk sampingan atau by product berupa gliserin. 5) biaya pemeliharaan dan. Grafik proyeksi perkembangan biaya modal rata-rata Sub-Submodel Biaya Produksi Biodisel Rencana produksi pabrik pengolahan biodisel dirancang sebesar 100.

Biaya asuransi dan biaya pemeliharaan selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran CD 2.00% Sumber : Hasil Analisis. H3PO4 0. Atas dasar perhitungan komponen biaya produksi tersebut dilakukan perhitungan biaya pokok produksi dalam bentuk nominal dan persentase seperti dapat dilihat pada Lampiran CD 2.74% VII PENYUSUTAN 5.142 Biaya asuransi dan biaya pemeliharaan diskenariokan masing-masing sebesar 2% dari nilai perolehan aset pabrik pengolahan biodisel. Dari Tabel 11 tersebut terlihat bahwa komponen biaya produksi biodisel menempati porsi yang paling besar yaitu 79.00% 6.03% IV BIAYA BUNGA BANK 0. Jika diasumsikan pabrik biodisel mengambil margin keuntungan 15% dari total biaya. 2004.23% III BIAYA PEMASARAN 12. Hasil perhitungan biaya penyusutan dapat dilihat pada Lampiran 13.93 %. Bahan Baku Utama 60. Bahan Bakar 0. Rata-rata biaya pokok produksi pengolahan biodisel NO.98% 3. dengan komponen biaya bahan baku utama (CPO) mencapai 60. I II URAIAN RATA-RATA BIAYA ADMINISTRASI DAN UMUM 0.93% 1. Air 0. Secara rata-rata persentase biaya pokok produksi untuk masing-masing komponen biaya dapat dilihat pada Tabel 11. Uap air 8.49% JUMLAH TOTAL (I S/D VII) 100.64% 5. maka harga yang akan ditanggung oleh konsumen per liternya mencapai Rp .00% 7. Tabel 11. Perhitungan biaya penyusutan aset dilakukan dengan menggunakan metoda garis lurus (straight line method) sesuai dengan masa manfaatnya (umur ekonomis).74% VI PEMELIHARAAN 0. Listrik 0.78% 4.84% V ASURANSI 0.23% BIAYA PRODUKSI BIODISEL 79.07% (dengan asumsi harga CPO 360 US$/ton). Metanol 4. KOH 5.07% 2. Biaya modal diperhitungkan sesuai dengan tingkat bunga yang berlaku.22% 8. yang pada saat investasi diperkirakan mencapai 12%.

. Proyeksi penjualan.160. 7000 6000 Rp/Liter 5000 4000 3000 2000 1000 20 19 20 18 20 17 20 16 20 15 20 14 20 13 20 12 20 11 20 10 20 09 20 08 20 07 20 06 20 05 0 Tahun Biaya Produksi per Liter Harga Biodiesel per Liter Gambar 61. Grafik proyeksi biaya pokok produksi dan harga biodisel Sub-Submodel Penjualan Dalam penetapan perkiraan harga jual biodisel dan gliserin digunakan satuan uang Dolar AS. Sementara itu rata-rata proyeksi rugi laba selama 15 tahun umur pabrik biodisel dapat dilihat pada Tabel 12. Hasil perhitungan proyeksi rugi laba selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran CD 2.603.143 5. proyeksi rugi laba dibuat untuk jangka waktu 15 tahun sesuai dengan umur proyek.. maka proyeksi penjualan produk tahun 2005–2019 dapat dilihat pada Lampiran CD 2 dan Tabel 12. Sementara itu. Sub-Submodel Rugi Laba Sesuai dengan periode jangka waktu analisis keuangan. perhitungan biaya pokok produksi selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran CD 2.yang jauh di atas harga BBM solar yang saat ini harganya sekitar Rp 2. Proyeksi biaya pokok produksi dan harga biodisel dapat dilihat pada Gambar 51. Dengan asumsi harga jual seperti telah diuraikan dalam skenario model. biaya usaha dan laba setelah pajak dapat dilihat pada Gambar 52.

000.748. 80.000.000.288 75.776 100.000.288 75.000 50.748.656.776 100.748.748.288 75.000 9.776 100.288 70.748.776 100.288 70.000.288 70.748.288 75.000 9.748.288 70.113 67.776 100.000 9.748.288 70.000.776 100.748.000.776 100.000 40.288 70.288 70.748.000.000.919 100.000 5.000 9.288 70.748.776 Penjualan (Dolar AS) Biodisel Gliserin Total 63.748.000.000 9.000 5. Proyeksi penjualan.288 75.288 75.000.144 Tabel 12.000 60.000 20 05 20 06 20 07 20 08 20 09 20 10 20 11 20 12 20 13 20 14 20 15 20 16 20 17 20 18 20 19 0 Tahun Penjualan Biaya Usaha Laba Setelah Pajak Gambar 62. .000 20.000 7.776 100.748.776 100.288 75.000.748.000.000.113 70.000 5.748.000.288 70.656.000. Volume produksi dan nilai penjualan pabrik pengolahan biodisel Tahun 2005 2006 2007 2008 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 2019 Produksi (Ton) Biodisel Gliserin 90.000 9.288 Sumber : Hasil Analisis.000 ton per tahun.000 10.288 75.000 9.000 9.000 4.000 5.000.288 70.000 30.000.748.288 75.000 5.000 5.288 75.748.748.000 5.000 9.000.000 Nilai (Dolar AS) 70.000 9.776 100.748.748.000 9.288 75.000 9.000 5.000 5.000 5.000 5.748.748.776 100.000.288 70.748.288 75.776 100.288 70.748.748.000 5.000.000.288 75. 2004.000 5. biaya usaha dan laba setelah pajak pabrik biodisel dengan kapasitas 100.000 9.748.

35 II BIAYA USAHA : 62.675.644. Biaya Bunga Bank 527.37 5. Sementara itu.256.915.476.94 Sumber : Hasil Analisis. Biaya Pemeliharaan 460.964.510.441. masalah yang sebenarnya adalah bagaimana membuat harga jual biodisel ini mampu bersaing dengan harga solar yang berlaku saat ini. Biaya Produksi Biodisel 49. Harga jual biodisel yang digunakan tersebut merupakan harga biodisel internasional yang berlaku saat ini. Sub-Submodel Aliran Kas Proyeksi anggaran kas dimaksudkan untuk mengetahui kebutuhan dana segar dari pihak penyandang dana dalam proses pembangunan dan mengkaji kemampuan proyek dalam menghasilkan dana.69 2.095.61 IV PPH PASAL 25 4. Dengan demikian.67 V LABA SETELAH PAJAK 8.020.697.707.520.97 3.69 1. Proyeksi laba setelah pajak pabrik pengolahan biodisel (dalam Dolar AS) No.33 2.894. Biaya Asuransi 460. 2004. Biaya Gaji 142.49 4.333.08 1. perhitungan proyeksi anggaran kas selama 15 tahun sampai dengan 2019 selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran .880.825.434. Biaya Pemasaran 7.18 7. Proyeksi aliran kas pabrik biodisel dapat dilihat pada Gambar 53.707.37 6.859.533.145 Tabel 13. Uraian Jumlah I HASIL PENJUALAN : 75.603/liter.00 III LABA SEBELUM PAJAK 12.208. Penjualan Biodisel 69. Oleh karena itu dibutuhkan suatu kebijakan penggunaan energi alternatif khususnya biodisel ini dengan cara memberikan subsidi pada harga biodisel atau dengan cara memberlakukan regulasi khusus untuk menggunakan biodisel sebagai campuran bahan bakar solar pada transportasi publik. Dari hasil perhitungan proyeksi rugi laba tersebut tampak bahwa pabrik biodisel dalam keadaan memperoleh laba jika diasumsikan harga biodisel mencapai 700 Dolar AS/ton atau sekitar Rp 5.809.068. Biaya Penyusutan 3. Penjualan Gliserin 5.

Beberapa parameter penilaian proyek .0 0 0 ) 4 0 .0 0 0 N il 1 2 0 .0 0 0 ai 1 0 0 .0 0 0 . Proyeksi neraca untuk proyek pabrik pengolahan biodisel dapat dilihat pada Lampiran CD 2. Dalam model ini digunakan beberapa asumsi salah satunya adalah penjualan dilakukan secara tunai dalam tahun yang bersangkutan sehingga posisi dari aktiva hanya menunjukkan harta lancar yang berupa kas dan aktiva tetap.0 0 0 .000 ton per tahun.0 0 0 2 0 .0 0 0 .0 0 0 .0 0 0 .0 0 0 0 2005 2006 2007 2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015 2016 2017 2018 Tahun P e n e rim a a n D a n a P e n g e lu a ra n d a n a S a ld o K a s A w a l S a ld o K a s A kh ir Gambar 63.0 0 0 . Kelayakan investasi juga dilakukan analisis sensitivitas yang meliputi peningkatan biaya produksi khususnya harga CPO dan penurunan harga jual biodisel.000 ton per tahun dengan bahan baku utama CPO mampu memberikan dampak finansial yang positif bagi pengelola proyek dan masyarakat sekitarnya.0 0 0 .0 0 0 (D o la 8 0 . Analisis kelayakan investasi dilakukan untuk mengkaji sampai sejauh mana rencana investasi dan eksploitasi dari pembangunan pabrik pengolahan biodisel dengan kapasitas 100. Proyeksi aliran kas pabrik biodisel dengan kapasitas 100. Aktiva tetap menunjukkan nilai buku suatu aktiva tetap yaitu nilai perolehan dikurangi dengan akumulasi penyusutannya.146 CD 2.0 0 0 1 4 0 . 1 6 0 . Sub-Submodel Kelayakan Investasi Periode waktu analisis kelayakan investasi adalah 15 tahun yaitu dari tahun 2005 sampai tahun 2019. Dari analisis proyeksi aliran kas tampak bahwa proyek selalu dalam keadaan saldo positif. Sub-Sub model Neraca Neraca menunjukkan posisi aktiva dan passiva suatu perusahaan dalam suatu kurun waktu umumnya dalam tahun tertentu.0 0 0 .0 0 0 r A S 6 0 .

Dari Tabel 14 tersebut tampak proyek pembangunan pabrik pengolahan biodisel layak dikembangkan jika diasumsikan harga biodisel mencapai 700 Dolar AS/ton atau sekitar Rp 5. Ringkasan hasil perhitungan nilai IRR. Namun demikian. proyeksi arus kas. Tujuan analisis ini adalah untuk menilai sejauh mana seluruh asset memberikan pengembalian yang layak dan sejauh mana dana investasi dari bank cukup layak untuk digunakan dalam proyek tersebut. 1 Uraian IRR (%) 2 NPV.010. Hasil perhitungan analisis kelayakan untuk proyek pabrik pengolahan biodisel tercantum pada Lampiran CD 2. Tabel 14.99 6-7 104.95% 26.455.147 yang dihitung dalam analisis keuangan terdiri dari proyeksi laba rugi. Analisis selengkapnya dapat dilihat pada Tabel 15. Pay Back Period dan PI tercantum pada Tabel 14 berikut ini. Analisis sensitivitas pabrik biodisel pada berbagai harga CPO dilakukan karena biaya bahan baku CPO merupakan komponen biaya terbesar dalam industri biodisel. Dari tabel tersebut terlihat bahwa peningkatan sampai pada harga 400 Dolar AS/ton masih . NPV.603/liter. NPV (Net Present Value) dana untuk mengetahui Pay Back Period dalam jangka waktu umur proyek yaitu 15 tahun. Net Present Value (NPV) dan Pay Back Period. pada tingkat bunga 12% (Dolar AS) 3 Pay Back Period (Tahun) 4 Saldo Kas Akhir (Kumulatif) Tahun 2019 (Dolar AS) Nilai 25. Perhitungan arus kas bersih dilakukan dengan ketentuan bahwa 40% dana investasi diperoleh dari lembaga perbankan dengan tingkat bunga 12%. agar harga biodisel ini dapat bersaing dengan harga BBM solar maka perlu campur tangan pemerintah yang lebih serius untuk membantu kalangan investor yang akan mendirikan industri biodisel dengan melakukan serangkaian kebijakan. Proyeksi arus kas bersih ditujukan untuk menghitung IRR (Internal Rate of Return). Pay Back Period dan Saldo kas bersih pabrik biodisel kapasitas 100. Hasil perhitungan IRR.650. proyeksi arus kas bersih.000 ton per tahun No.90 Sumber : Hasil Analisis. NPV. Internal Rate of Return (IRR). 2004.007.

148
membuat industri biodisel tetap layak, namun harga CPO di atas 400 Dolar
AS/ton (sekitar Rp. 3.600/kg) membuat industri biodisel menjadi tidak layak.
Analisis sensitivitas pabrik biodisel pada berbagai harga jual biodisel
dilakukan karena harga biodisel mengalami fluktuasi di samping harga itu sendiri
belum terbentuk di dalam negeri. Analisis selengkapnya dapat dilihat pada Tabel
16. Dari tabel tersebut terlihat bahwa penurunan sampai pada harga 425 Dolar
AS/ton masih membuat industri biodisel tetap layak, namun harga biodisel di
bawah 425 Dolar AS/ton (sekitar Rp 3.300 per liter) membuat industri biodisel
menjadi tidak layak.
Tabel 15. Analisis sensitivitas pabrik biodisel kapasitas 100.000 ton per tahun
pada berbagai harga CPO
No.

1
2
3
4
5

Harga CPO

250 Dolar AS/ton
300 Dolar AS/ton
350 Dolar AS/ton
400 Dolar AS/ton
425 Dolar AS/ton

IRR
(%)

74,50
47,48
29,03
14,83
8,41

NPV
(Dolar AS)

82.195.892,31
56.657.146,26
31.118.400,20
5.579.654,15
-7.189.718,87

Harga BDS
(Dolar
AS/ton)
586,70
649,07
711,45
773,82
805,01

Harga
BDS
(Rp/liter)
4.541,05
5.023,83
5.506,61
5.989,39
6.230,78

Sumber : Hasil Analisis, 2004.

Tabel 16. Analisis sensitivitas pabrik biodisel kapasitas 100.000 ton per tahun
pada berbagai harga jual biodisel
No.
1

Analisis Sensitivitas
Kondisi Awal : 700 Dolar AS/ton

2

Harga Biodisel 650 Dolar AS/ton

3

Harga Biodisel 600 Dolar AS/ton

IRR(%)
25,95

15,37
4,69

NPV (Dolar AS)
26.010.650,99

6.350.033,08
-13.310.584,84

Sumber : Hasil Analisis, 2004.

Multiplier Effect
Analisis manfaat adanya industri biodisel dari kelapa sawit dihitung
berdasarkan skenario pertambahan luas perkebunan kelapa sawit sebelum dan
sesudah industri BDS muncul. Pada saat model ini dikembangkan (tahun 2003),
luas total perkebunan kelapa sawit adalah 4,9 juta hektar. Untuk memenuhi
kebutuhan bahan baku biodisel maka luas perkebunan kelapa sawit ditingkatkan

149
menjadi 8 juta hektar yang akan tercapai pada tahun 2009 mendatang. Dengan
demikian terjadi pertambahan luas perkebunan kelapa sawit sebesar 3,1 juta
hektar. Pertambahan luas perkebunan kelapa sawit akan menyerap tenaga kerja di
sektor perkebunan. Dengan asumsi bahwa setiap satu hektar kebun kelapa sawit
menyerap 2 orang, maka akan tercipta lapangan pekerjaan bagi sekitar 6,2 juta
petani.

Peningkatan luas kebun kelapa sawit akan mendorong tumbuhnya

berbagai usaha ikutan lainnya seperti sarana produksi pertanian, jasa angkutan,
pupuk organik (dari TBS/Tandan Buah Segar) dan pupuk anorganik, alat dan
mesin pertanian dan mesin-mesin pengolahan. Jumlah tenaga kerja yang terserap
tersebut belum termasuk tenaga kerja yang terlibat dalam pabrik kelapa sawit
yang mengolah TBS menjadi CPO dan PKO serta industri biodisel itu sendiri.
4.2.2.5. Submodel Lingkungan

Penggunaan biodisel dapat mengurangi efek pemanasan global dan
pencemaran udara. Hal ini disebabkan karena biodisel dibuat dari minyak lemak
nabati atau hewani, maka emisi gas buang CO2 yang dilepaskan dari mesin yang
berbahan bakar biodisel tidak diklasifikasikan sebagai emisi CO2 yang
menyebabkan pemanasan global. Selain itu, biodisel juga mengandung atom–
atom oksigen yang terikat dalam senyawa dari ester asam lemak penyusunnya
sehingga pembakarannya didalam mesin menjadi sempurna dan membutuhkan
nisbah udara dibandingkan bahan bakar lebih kecil. Dengan demikian emisi
senyawa karbon non CO2/CO2 minimal maka mesin penggunanya menjadi lebih
efisien.
Biodisel mempunyai kadar belerang yang amat rendah. Menurut penelitian
kadar belerang biodisel adalah berkisar 0-24 ppm dan umumnya lebih kecil dari
15 ppm. Sedangkan solar mempunyai kadar belerang berkisar 1500-4100 ppm.
Hal ini menyebabkan emisi SO2 dan partikulat SPM (Solid Particulate Matter’s)
pada mesin yang menggunakan biodisel relatif nihil.
Berdasarkan analisa beban lingkungan yang dilakukan terhadap emisi sisa
pembakaran bahan bakar kendaraan yang menggunakan bahan bakar solar dan
biodisel diperoleh hasil penggunakan biodisel memberikan dampak atau beban
lingkungan

(Environmental Burden) atau EB yang lebih kecil dibandingkan

150
dengan penggunaan bahan bakar solar.

Perhitungan indeks EB dilakukan

terhadap penghitungan 3 parameter yaitu indeks hujan asam atau asiditas, indeks
fotokimia dan indeks pemanasan global.
Indeks hujan asam, fotokimia dan pemanasan global diperoleh berdasarkan
perhitungan jumlah emisi yang dihasilkan dikonversikan dengan indeks EB.
Standar EB yang digunakan adalah berdasarkan standar yang ditetapkan oleh ICI
mengenai “Safety, Health and Environmental Performance” pada tahun 1996.
Data emisi sisa pembakaran kendaraan yang menggunakan disel dan campuran
solar dan biodisel (PPKS, 2000) dengan berbagai tingkat perbandingan tertera
pada Tabel 17 dan Tabel 18.
Tabel 17. Data emisi sisa pembakaran kendaraan yang menggunakan disel dan
campuran disel dan biodisel.
Disel
No

Tolak Ukur

Satuan

Beberapa Komposisi Biodisel

Minyak
Bumi

Disel-Ester Disel-Ester Disel-Ester

Ester
Murni

75 :25

70 : 30

65 : 35

1 Efisiensi Thermal

1

-

-

1,125

-

2 Efisiensi Volumetrik

1

-

-

1.0184

-

Emisi Hidrokarbon
(beban maksimum)

ppm

18

14

-

16

-

Emisi Karbon
4 monooksida
(beban maksimum)

ppm

1650

710

-

1390

-

% Volume

11.4

11

10,931.25

-

-

9,208.75

-

3

5

Emisi Karbon
Dioksida

-

11

-

6 Emisi Nox

ppm

7 Partikulat
Dugaan emisi SOx
8 (maksimum)

gram/km

0.497

-

-

0.178

-

% berat

0.14

0.03

-

0.1

-

9 Nilai Kalor

kj/kg

40,297.32 37,114.13

-

-

-

28 4.13 133.791.99 13.8 3 Ton 4.751.50 9.00 672.317.88 9.97 3.65 EB Value Eb Value EB Value Panas Global Penipisan 03 Fotokimia 230.60 893.19 1.439.45 1.21 1.587.49 1.03 BAHAN BAKAR BIODISEL 30 : 70 Dugaan Total Gas Buang Emisi Hidrokarbon 2 (beban maksimum) Emisi Karbon 3 monooksida (beban maksimum) Emisi Karbon 4 Dioksida 1 5 6 Emisi Nox Partikulat Dugaan emisi SOx 7 (maksimum) Ton Ton Ton Ton Ton Ton Ton 97.322.4 0 207.134.17 113.260. 03 Ton Ton Ton 7 Dugaan emisi SOx Ton (maksimum) Indeks EB 48. indeks EB asiditas .406. 65 13.82 Jika seluruh hasil BDS digunakan sebagai bahan bakar maka perbandingan emisi gas buang sesuai standar yang ditetapkan UNEP dan ICI (diolah) adalah: emisi sisa bahan bakar yang menggunakan disel adalah.732.17 48.151 Tabel 18.732.787. 72 49.899.75 806.88 6.58 301.28 417.07 1.48 31.442.63 47.35 1.48 693.075.79 1 26. 07 11.20 1.110.43 591.775.12 945.32 1 392.597.72 1.083 Ton 435. Analisa beban lingkungan dari emisi sisa pembakaran bahan bakar kendaraan Estimasi No 1 2 3 4 5 Tolak Ukur BAHAN BAKAR DISEL Dugaan Total Gas Buang Emisi Hidrokarbon (beban maksimum) Emisi Karbon monooksida (beban maksimum) Emisi Karbon Dioksida Emisi Nox 6 Partikulat Satuan Dugaan Nilai Beban Lingkungan (EB Value) Substansi EB Value Tunggal Asiditas Ton 96.69 486. 31 9.363.58 1.371.

322.00.72.567.82.406. . Indeks EB pada emisi kendaraan yang menggunakan biodisel adalah indeks EB asiditas 301.35 dan indeks EB fotokimia 1.03.134.69. dan indeks EB fotokimia 1. indeks EB pemanasan global 1.597. Perbandingan Indeks EB (Environmental Burden) Emisi Pembakaran Biodisel dan Disel Minyak Bumi Sisa Gas Dari gambar diatas terlihat dampak indeks hujan asam atau asiditas. Perbandingan indeks EB emisi gas sisa pembakaran secara histogram tertera pada gambar 50 Gambar 64. indeks pemanasan global dan indeks fotokimia pada biodisel mempunyai beban atau dampak lingkungan lebih kecil dibandingkan disel minyak bumi. indeks EB pemanasan global 1.152 417.751.

Untuk mendukung berkembangnya industri maka pemerintah perlu memfasilitasi kesinambungan penyediaan bahan baku biodisel baik berupa penambahan lahan ataupun mengolah sebagian dari CPO dalam negeri menjadi menjadi biodisel.2. Berdasarkan validasi sub model teknis produksi dari scalling up proses pengolahan biodisel yang dilakukan oleh ITB dengan kapasitas 400 ton/tahun. Berdasarkan analisa yang dilakukan pada sub model sumberdaya. . apabila subsitusi dari produk BBM solar lebih kecil dari 3% maka lahan yang tersedia saat ini diperkirakan cukup untuk menyediakan bahan baku biodisel. Kegunaan biodisel juga dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti BBM solar atau disel serta sebagai bahan bakar mesin pemanas atau heating Oil seperti genset. Sumber Daya Untuk menjamin ketersediaan sumberdaya bahan baku bagi industri biodisel kelapa sawit diperlukan pengalokasian sejumlah 1. Namun. 5. yaitu membutuhkan 500.000–1000.V. Implikasi kebijakan yang diperlukan untuk mendukung pengembangan investasi biodisel sebagai berikut: 5. Teknis Produksi Ditinjau dari aspek ketersediaan teknologi pengolahan biodisel tidak mempunyai kendala atau dapat didesain sesuai dengan keinginan penggunanya. Sedangkan produksi total CPO dalam negeri pada 15 tahun kedepan mencapai hampir biodisel nasional 22 juta ton. ketersediaan bahan baku CPO untuk mensubtitusi 5–10 % produk BBM solar adalah cukup.5-2 juta hektar lahan sawit untuk menghasilkan 5 juta ton biodisel yang digunakan sebagai pengganti 5–10 persen BBM solar di dalam negeri dalam jangka panjang. ANALISIS KEBIJAKAN Implikasi kebijakan merupakan pernyataan dari pemerintah yang diperlukan dalam mewujudkan suatu keadaan atau kondisi yang memungkinkan diterapkannya strategi dan program pengembangan investasi pada industri biodisel kelapa sawit dengan baik.5-3 juta ton CPO.000 ha lahan atau 1.1.

Pelaksanaannya dapat dilakukan secara bertahap misalnya jangka menengah 5 tahun. laju produksi BBM solar lebih rendah dari pada laju konsumsinya. 5. Pasar Berdasarkan validasi sub model Pasar. Pemerintah perlu menyediakan anggaran untuk mengembangkan teknologi pengolahan yang efisien dan murah sehingga dapat bersaing dengan teknologi yang dihasilkan oleh negara-negara maju. Program diversivikasi enerji harus dimasukan dalam UU enerji. 2. Berdasarkan kondisi tersebut maka pemerintah perlu menerapkan program diversifikasi enerji terutama enerji cair dan dapat terbarukan (renewable energy) diantara lain adalah biodisel kelapa sawit. Demikian juga laju ekspor minyak mentah fosil lebih rendah daripada laju impor.3. 5. 3. Lokasi pabrik sebaiknya dekat dengan sumber bahan baku karena sifat minyak sawit yang mudah rusak. Disain alat pengolahan dirancang agar dapat digunakan oleh berbagai jenis bahan bakar (multifeedstock).000 ton/tahun. biodisel diproyeksikan untuk mensubstitusi 25% dari BBM solar sedang dalam jangka 10 tahun diproyeksikan mensubsitusi . Acuan sementara spesifikasi produk biodisel memenuhi standar yang telah ditetapkan oleh Forum Biodisel Indonesia dan perusahaan otomotif yang akan menggunakan biodisel. Dari hasil scaling up tersebut disarankan beberapa kebijakan dibidang teknis produksi sebagai berikut : 1. Penggunaan biodisel untuk bahan bakar kendaraan yang digunakan pada alat transportasi sebaiknya diproduksi dalam skala besar yaitu 30 – 100 ribu ton kapasitas per tahunnya agar dapat memenuhi volume pertumbuhan konsumsi bahan bakar solar yang besar yang tidak terimbangi oleh peningkatan kapasitas produksinya saat ini. sehingga untuk menjamin penyediaan bahan bakar minyak perlu dipertimbangkan sumber enerji cair lainnya terutama yang dapat terbarukan. 4.154 maka dapat dihitung perkiraan kebutuhan neraca bahan dan neraca enerji pada proses pengolahan biodisel dengan kapasitas 100.

Pasar luar negeri dapat diciptakan atau dikaitkan dengan Protocol Kyoto yaitu dengan skim Carbon Trade. harga jual ditingkat konsumen mencapai Rp 5603/liter dengan asumsi marjin keuntungan 15%.819 juta USD.000 ton/tahun mencapai 17. Fasilitasi pangsa pasar (create market) dalam negeri misalnya dengan mendiversivikasikan penggunaan bahan bakar solar untuk transpotasi dengan penggunaan biodisel dan solar. Semua kebijakan yang diperlukan tersebut bertujuan untuk meningkatkan keuntungan investasi sehingga lebih menarik bagi investor. Finansial Berdasarkan validasi sub model analisi finansial. 5. Komponen biaya bahan baku merupakan biaya terbesar atau 79. Untuk . 2. dan distribusi. Sejalan dengan kenaikan harga minyak mentah dunia yang mencapai lebih dari 60 USD/barel maka terjadi peningkatan subsidi BBM yang cukup besar yang harus ditanggung oleh pemerintah disebabkan 30 persen dari total kebutuhan minyak mentah dan BBM masih harus diimpor.155 lebih dari 5-10% BBM solar. sedangkan biaya BBM solar dalam negeri Rp 2400/liter untuk angkutan umum dan Rp 5400/liter untuk industri.4. Untuk mendukung terjadinya investasi biodisel dengan skala komersial di dalam negeri. Insentif pajak yang menarik bagi investor. Dari simulasi hasil perhitungan. maka terbuka peluang pasar ekspor biodisel terutama ke negara industri yang berkewajiban mengurangi emisinya seperti Jepang dan Jerman.23% dari biaya produksi biodisel. 3. kemudahan perijinan dan suku bunga investasi yang kecil. industri. biaya investasi pabrik kelapa sawit dengan kapasitas 100. pemerintah perlu mengeluarkan serangkaian kebijakan dibidang investasi pada setiap tahap mulai dari perkebunan. Mengingat enerji yang dihasilkan oleh biodisel adalah ramah lingkungan. Dalam rangka menjamin pasar biodisel di dalam negeri diperlukan pengakuan pemerintah akan biodisel sebagai sumber enerji terbarukan. Subsidi harga dalam bentuk keringanan pajak atau Tax Holiday bagi pengguna biodisel. Kebijakan pasar biodisel di dalam dan luar negeri yang diusulkan secara garis besar adalah sebagai berikut : 1.

Lingkungan Validasi sub model lingkungan menunjukkan bahwa emisi gas buang biodisel dan disel menunjukkan perbedaan yang besar baik ditinjau dari jumlah polutan yang diakibatkan maupun dari beban lingkungan yang ditimbulkan. insentif pajak dan suku bunga investasi yang rendah. Untuk mendukung keamanan lingkungan perlu diterapkan kebijakan sebagai berikut : 1. Penggunaan biodisel memberikan jumlah polutan dan beban lingkungan yang lebih kecil dibandingkan dengan penggunaan disel. 5. Perlu dipertimbangkan penggunaan biodisel diwilayah yang sensitif dengan pencemaran lainnya seperti wilayah perairan dan pertambangan. keringanan bea masuk barang modal. Untuk mendukung program pembangunan yang berkelanjutan maka perlu diterapkan batasan emisi sisa gas buang kendaraan 2. .156 mendukung berkembangnya investasi biodisel nasional perlu diberikan kemudahan perijinan pendirian pabrik.5. Keringanan pajak bagi pengguna biodisel juga dapat dipertimbangkan untuk mengurangi pencemaran udara. 3.

Keterkaitan dari faktor-faktor yang berpengaruh pada investasi ini adalah: sub model sumber daya berpengaruh pada sub model teknis produksi berupa jaminan penyediaan bahan baku bagi industri.0. Permintaan pasar juga akan menentukan spesifikasi produk tertentu yang harus diproduksi oleh produsen. Potensi pasar termasuk harga pasar yang cukup baik akan menyebabkan perhitungan kelayakan finansial akan semakin baik. 2. 4) sub model analisis finansial dan. Sub model lingkungan mendukung sub model pasar dan sub model sumber daya. Rancang bangun SPK menggunakan model sistem dinamis dapat digunakan secara cepat oleh pengambil keputusan untuk menilai kelayakan investasi pada industri BDS. KESIMPULAN DAN SARAN 6.VI. 5) sub model lingkungan. 5. jika digunakan untuk mensubsitusi BBM solar antara 5-10 persen masih dapat . Dalam rangka menilai kelayakan investasi industri biodisel kelapa sawit maka disusun rancang bangun SPK investasi pada industri biodisel kelapa sawit. Kesimpulan Industri biodisel kelapa sawit relatif baru di Indonesia dan belum banyak dikembangkan secara komersial dan belum tersosialisasikan kepada masyarakat luas di Indonesia. Rancang bangun SPK yang merupakan agregasi dari sub model yang dikaitkan berdasarkan hubungan fungsi logika dan teori yang dibangun menggunakan model sistem dinamis 3. 3) sub model pasar. Simulasi variabel yang diinginkan dapat didesain sesuai dengan keinginan pengguna. Sub model pasar berpengaruh pada sub model analisis finansial dan sub model teknis produksi.1. Model ini terdiri dari 5 sub model yang saling berkaitan yaitu: 1) sub model sumber daya. 2) sub model teknis produksi. Rancang bangun direpresentasikan melalui program komputer dengan bantuan software I Think versi 6. Setiap sub model berpengaruh kepada kelayakan investasi. 4. Hasil validasi pada sub model sumber daya CPO sebagai bahan baku biodisel. Secara garis besar rancang bangun dapat dijelaskan sebagai berikut: 1.

819 juta USD. 9. 10. 6. Harga pokok produksi Rp 4874/liter dan jika margin keuntungan 15 persen maka harga ditingkat konsumen Rp 5603. Komponen biaya bahan baku adalah sebesar 79. 8. Pasar LN dapat dikaitkan dengan program “carbon trade” yang telah diratifikasi melalui Protocol Kyoto mengingat biodisel bersifat ramah lingkungan. Hasil validasi pada sub model teknis produksi menunjukkan ketersediaan teknologi relatif mudah dan dapat didesain sesuai dengan keinginan pengguna. yaitu sistem yang dapat didesain untuk memecahkan masalah manajemen yang kompleks dan berubah menurut waktu secara cepat dibandingkan dengan model program komputer lainnya. Keterkaitan sub model tersebut dapat digambarkan pada Influence Diagram yang digambarkan dalam program I think. Pasar DN dikaitkan dengan mensubsitusi sebagian atau 5-10 persen BBM solar dengan biodisel.000 ton/tahun adalah 17. Implikasi kebijakan yang diperlukan untuk investasi diperoleh berdasarkan hasil analisis dari setiap sub model. Rancang bangun SPK investasi biodisel pada industri biodisel kelapa sawit menggunakan model sistem dinamis yang dihasilkan dapat memperkuat atau menkonfirmasi permodelan sistem dinamis. .3 persen dari total biaya produksi (dengan asumsi harga CPO 360 USD/ton). Hasil validasi sub model lingkungan menunjukkan emisi dan beban lingkungan yang dihasilkan oleh biodisel lebih kecil dibandingkan dengan emisi dan beban lingkungan yang dihasilkan oleh disel. 7. Hasil validasi sub model pasar dapat dilakukan dengan memfasilitasi pasar DN dan LN. Hasil validasi pada sub model kelayakan finansial diperoleh biaya investasi pabrik biodisel berkapasitas 100. 11.158 dipenuhi dari potensi luas lahan kelapa sawit yang telah direncanakan oleh pemerintah (Departemen Pertanian) asalkan laju pertumbuhan kenaikan ekspor CPO mentah harus dikurangi atau dengan penambahan lahan perkebunan kelapa sawit menjadi 9 juta hektar.

Strategi pengembangan investasi disarankan untuk dilaksanakan dalam 3 tahap yaitu: 1) jangka pendek 1 tahun melalui fasilitas terbitnya UU/PP tentang penggunaan enerji terbarukan (renewable) terutama biodisel untuk transportasi. . Sumber dana investasi dari luar negeri disarankan agar diupayakan oleh pemerintah melalui kerjasama dengan negara maju yang berkewajiban mengurangi emisi globalnya dalam skim “Carbon Trade”. subsidi BBM solar 6-10%. Saran Mencermati kondisi perekonomian nasional serta ketergantungan masyarakat terhadap BBM dan hasil penilaian terhadap kelayakan investasi maka perlu diadakan percepatan realisasi pengembangan investasi energi baru dan terbarukan diantaranya biodisel kelapa sawit. 2) jangka menengah 5 tahun. Untuk menunjang percepatan realisasi pengembangan investasi tersebut diatas maka diusulkan beberapa saran kepada para pihak terkait sebagai berikut: 1. Rancang bangun SPK yang dihasilkan disarankan untuk diaplikasikan pada penilaian kelayakan investasi pada biodisel yang menggunakan bahan baku lainnya yang ada di Indonesia seperti minyak jarak. minyak goreng bekas. 4. 3) jangka panjang >5-10 tahun. 3.159 6. Pemerintah dan para pemangku kepentingan disarankan untuk segera mensosialisasikan pengenalan dan penggunaan produk biodisel kepada masyarakat. RBD-PO dan RBD-olein.2. disarankan agar sumber dana untuk investasi BDS di dalam negeri dapat diupayakan dari sebagian dana subsidi BBM. Sehubungan dengan besarnya biaya investasi biodisel yaitu mencapai 17. subsidi 2-5% BBM solar dengan BDS dan. 2.6 juta USD (kapasitas 100 ribu ton/tahun).

L A M P I R A N .

% mass Ester content.0 3.5-5. -20 (4) (5) - - <-10 - <0/ <-15 - - Sulfur.0.5-5. % mass - - - - <0. % massa % massa Cetane No.87 .8 <0. 40°C mm2/s Distillat.5-5.05 <0. 0 (32) - -5 - max.87 .90 - Densitas 15°C g/cm Viscos.3 >49 >48 >49 >49 - >48 >40 <0. resid. % massa <0.05 - - <0.87 . % mass . 3h/50°C - 1 - 1 - - <No./ mg KOH/g Methanol.86 -0.0 3.6 <0. mg / kg - <24 - <20 - <20 - Cu-Corros.5 - - <0.05 - - <0.87 – 0.02 - <0.01 <0. Perbandingan standar biodiesel di beberapa negara Standar /Spesifikasi Austria Republik (1) Ceko ON C1191 Perancis Jerman Italia CSN 65 Journal DIN V 6507 Officiel 51606 Swedia USA UNI 10635 SS 155436 ASTM PS121-99 Tanggal Jul 97 Sep 98 Sep 97 Sep 97 Apr 97 Nov 96 Jul 99 Aplikasi FAME RME VOME FAME VOME VOME FAMAE 0.0 1.0 3.1 <0.0. -15 max. Neutral.90 0.2 <0.01 <0.3 - <0.89 0.0 3.90 0.5-5.5 <0.02 (Oxid) Ash.90 0.5 <0.03 - - <0.max.5 <0.20 - <0.01 - Water mg / kg - <500 <200 <300 <700 <300 <0.5-5.02 <0.5-5.85 – 0.5 <0.001 <0.95% °C Flashpoint °C CFPP °C (°F) summer CFPP °C (°F) winter Pour point °C 3.89 0.167 Lampiran 1.2 - - - >96.0. 0 (32) -5 max.05 CCR 100%.05% Total contam.02 <0.. % massa <0.5 - >98 >98 - 10% dist.0 - - <360 - <360 - - >100 >110 >100 >110 >100 >100 >100 .9-6.01 <0. No.3 <0.0 3. % massa Sulphated ash.05 - <0.8 <0.02 - <0.

ÖNORM C 1190 (Feb 1991) * All standards information courtesy of BLT Wieselburg Austria. % Perancis Jerman Italia Swedia USA - - <0.24 <0.8 <0.com/chemistry.02 <0. Sumber: http://. % mass - - <0. Unsat.4 <0. 10 Februari 2004) . % mass - - <0.2 <0.2 <0.02 <0.htm.4 <0.02 <0. (tanggal.02 <0. % mass <0.24 Iodine No.24 <0. Lanjutan Austria Republik (1) Ceko Monoglyceride.8 <0.acids % mass Phosphor. % mass <0.25 <0.1 - Triglyceride.1 <0.168 Lampiran 1.8 <0. <120 - <115 <115 - <125 - <15 - - - - - - <20 <20 <10 <10 <10 <10 - - <10 <5 <5 - <10 - mass C18:3 and high.2 <0.02 Total glycerol. mg / kg Alkalinity mg/kg RME: Rapeseed oil methyl ester FAME: Fatty acid methyl ester VOME: Vegetable oil methyl ester FAMAE: Fatty acid mono alkyl ester (1) based on the world's first BioDiesel standard.1 - Free glycerol.02 <0.05 <0.8 - Diglyceride.biodfuelsystem.25 - - <0.

000 80.000 1995 Focus Petroli Ancona 20.000 0 0 1997 180.000 0 0 10.000 0 0 0 Otter up 0 0 0 0 0 ? Finlandia 0 0 0 0 0 ? Norwegia 0 0 0 0 0 ? Italia 160.T.000 0 1995 Sldobre Slnnova Boussens 70.000 20.000 0 0 0 ? 100.000 Belgia Slsas 86.000 0 99/00 Hbg/Adm Wittenberg 50.169 Lampiran 2.000 0 94/96 120.000 30.000 30.000 0 Grossfriesen ADIBAPV Jumlah 0 415.000 30.000 0 0 99/00 L. Diester) Jumlah Bakelite Solbiate 30.000 60.000 40.000 0 0 1999 Bio-diesel Ochsenfurt 50.000 20.000 0 0 1997 a 2.000 0 0 0 5.000 1995 Distillerie Palma Neapel 30.000 0 0 1996 Hallertauer/Agran Henningsleben 3. Produsen biodiesel di Eropa tahun 2000 Negara + Perusahaan Lokasi Produksi TE Capacity Market Segments and estd.000 0 0 99/00 VNR Rudisleben 40.000 60.000 0 20.000 0 4.000 205.000 1993 Oleifici Italiari Bari 20.000 0 2.000 75.000 0 91/93/95 Oelmuhle Hamburg 100.000 0 93/95 Navaol/Icl 60.000 0 20.000 0 0 0 5.000 0 0 35. Mainburg 5.000 0 20.000 Slsas + diverse Milano 50.00 10.000 0 255.000 Ertvelde 30.000 30.000 0 0 0 5.000 160.000 55.000 0 0 5.000 20.000 0 10.000(henkel.000 10.000 125.000 10.000 30.000 20.000 0 0 40.000 0 0 120.000 1996 Novaol + others Livorno 90.000 0 0 20. Supply t/yr in t/yr Heating Berproduksi Cleochem Jerman Henkel Dusseldorf Connemenn/OMH Leer Oil sejak 200.000Vogtlander Perancis Robbe/Diester Corrpiegne Diester Rouen Ver dun 266.000 5.000 0 4.000Oleofina Denmark Jumlah Feluy 1995 1995 .000 0 40.U.

000 1.000 oleochem 0 0 390.000 245.000others Hunggaria 2.000 5.000 0 6.000 0 2.000others 1.000 0 1995 17.000 t/yr 1. Ceko 0 Oil Hull 2.000 United Oil Seeds/ Liverpool RME Bruck Bruck Spanyol Biocat Barcelona Swedia Ecobransle + Skive Milo Oloumuc + Olmutz 32.270.000 240.000 0 0 0 15.020. Supply Heating Berproduksi t/yr 2.000 0 1996 30.000 6.000 0 92/94 0 0 Used in vehicles: 0 95 Bebolna Total Capacity 1.000 0 0 30.000 sejak ? STEEG + others Mureck Rep.000 5. Lanjutan Negara + Perusahaan Lokasi Produksi Inggris TE Capacity Market Segments and estd.000 1994 90/94 Oil Total Capacity 1996 15.000Cargill Austria in t/yr .000 145.210.000 0 0 14.000 0 5.000 0 1992 5.170 Lampiran 2.006.000 Biodiesel + Admixed Heating Europe EU-15: in year 2000 Total FAME in t/yr : = 1.000 0 0 0 0 0 1999? 6.

000 1.47t) (Y = 85401.9 3 3 210.000 2.171 Lampiran 3.76 51.199749t 3.400 5.800 4.000.96688x 1011 e0.65518x1011 e0.000.38 8.5 83.8 1.940. Skenario pembangunan pabrik biodisel No.000.000 5 .4 x 106 + 196279 (−1 + e0.207195t 4 x 106 + 293171(−1 + e0.199749t) 3.148. 1 2 3 4 5 6 7 Skenario Satuan Tahun awal perencanaan Persentase Perkebunan Kelapa Sawit Perkebunan Rakyat Perkebunan Besar Swasta Perkebunan negara Luas Lahan maksimal yang tersedia Perkebunan Rakyat Perkebunan Besar Swasta Perkebunan negara 2005 % % % Ha Ha Ha Ha Y= 8 9 Proyeksi Luas Perkebunan Rakyat (Model Dinamik) Proyeksi Luas Perkebunan Besar Negara (Model Dinamik) 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 Proyeksi Luas Perkebunan Besar Swasta (Model Dinamik) Produktivitas Perkebunan Kelapa Sawit Perkebunan Rakyat Perkebunan Besar Swasta Perkebunan Negara Proyeksi Kebutuhan CPO untuk minyak goreng Jumlah penduduk pada Tahun 2003 Laju pertumbuhan penduduk per tahun Konsumsi minyak goreng per kapita per tahun Kebutuhan minyak goreng dari minyak kelapa sawit (CPO) Kebutuhan CPO untuk Industri Oleochemical Kebutuhan CPO untuk Industri Oleochemical pada Tahun 2003 Laju permintaan CPO untuk industri oleochemical Proyeksi Ekspor Minyak Mentah (Model dinamik ) Proyeksi Impor Minyak Mentah (Model dinamik ) 36.6 + 11142t) 1.17268x 1012 e0.207195t) Ton CPO/ha/Tahun Ton CPO/ha/Tahun Ton CPO/ha/Tahun Jiwa Persentase kg Persentase Ton Persentase (Y = 379968-7598.0824692t Y= 960000+ 380746(−1 + e0.86 11.5 16.0824692t ) Y= 10 Nilai 1.800 910.

86 203.00 Rp 9.149t) Dolar AS/Kiloliter Rp/liter 0 960 Persentase 10.00 10.072t) (Y = 15072.928.00 0.0 0. 23 24 25 26 27 28 29 30 31 32 33 34 35 36 37 38 39 40 41 42 43 44 45 46 47 48 49 50 51 Skenario Proyeksi Produksi Solar (Model dinamik ) Proyeksi Penggunaan Solar (Model dinamik ) Biaya Emisi dan Subsidi Biaya emisi penggunaan BBM Solar Besaran subsidi pemakaian BBM solar Pemasaran Biodiesel Substitusi BBM solar oleh biodiesel Harga Minyak Dunia Harga minyak mentah rata-rata Kurs Nilai tukar I Dolar AS terhadap Rupiah Harga Rata-Rata : Biodiesel Gliserin Harga Faktor-Faktor Produksi CPO Metanol KOH H3PO4 BBM Solar Air Uap air Listrik Biaya Pemasaran dan Distribusi Biaya Pemeliharaan Biaya Asuransi Faktor Konversi Berat Jenis Biodiesel Kebutuhan Metanol terhadap CPO Kebutuhan KOH terhadap CPO Kebutuhan H3PO4 terhadap CPO Kebutuhan Bahan Bakar terhadap Biodiesel Kebutuhan uap air terhadap Biodiesel Kebutuhan listrik terhadap Biodiesel Kebutuhan Air terhadap jumlah CPO Rendemen CPO ke minyak goreng Satuan Nilai (Y = 11331.0 2.172 Lampiran 3.000 Dolar AS/ton Dolar AS/ton 700.00 Dolar AS per barrel 35.08 27.13 74 .0 2.00 588. Lanjutan No.50 46.0 g/ml Jumlah kg/ton CPO Jumlah kg/ton CPO Jumlah kg/ton CPO Liter BB/ton biodiesel Jumlah kg/ton CPO KWh/ton CPO Jumlah kg/ton CPO Persentase 0.00 Dolar AS/ton Dolar AS/ton Dolar AS/ton Dolar AS/ton Dolar AS/kilo liter Dolar AS/ton Dolar AS/ton per MWh Persentase dari Omzet Persentase dari nilai perolehan Persentase dari nilai perolehan 360 222 289 180 200.09 20.55 10.3 + 492.7 + 829.48 120.00 4.00 50.

00 40.00 15.173 Lampiran 3.000 9.776 90 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 100 . Lanjutan No.00 % % 100 0 Ton/tahun % Persen Kapasitas Persen Kapasitas Persen Kapasitas Persen Kapasitas Persen Kapasitas Persen Kapasitas Persen Kapasitas Persen Kapasitas Persen Kapasitas Persen Kapasitas Persen Kapasitas Persen Kapasitas Persen Kapasitas Persen Kapasitas Persen Kapasitas 100.24 Persentase Persentase 60.00 % % 40 60 % % 12. 52 53 54 55 56 57 58 59 60 61 62 Skenario CPO ke Biodiesel Distribusi CPO Ekspor Dalam Negeri Debt to Equity Ratio (DER) Hutang Modal Sendiri Biaya Modal Suku bunga bank Biaya modal sendiri Rasio Laba Ditahan dengan Deviden Laba Ditahan Deviden Kapasitas Produksi Biodiesel Rendemen Gliserin (persentase dari produksi real biodiesel) Tahun 1 Tahun 2 Tahun 3 Tahun 4 Tahun 5 Tahun 6 Tahun 7 Tahun 8 Tahun 9 Tahun 10 Tahun 11 Tahun 12 Tahun 13 Tahun 14 Tahun 15 Satuan Nilai Persentase 95.

76 356.58 0.828.954.50 7.15 5.43 5.976.31 93.31 0.333.50 624.00 50.574.385. H3PO4 6.000.000.00 4.49 356.605.54 4.33 0.385.48 63.00 1.333.640.640.83 5.76 356.196.728.333.98 632.749.00 400.605.54 4.976.485.30 144.21 734.46 724.000.793. Bahan Baku Utama 2.720.85 6.75 357.50 7.39 0.57 5.033.00 400.82 626.174.129.33 356.000.95 5.800. Bahan Bakar 5.128.694.76 2.35 731. Metanol 3.749.020.80 1.749. KOH 4.54 4.44 2.896.57 5.94 0.Lampiran 4.33 2006 142.60 2.862.00 400.396.39 5.96 0.37 0.174.82 34.00 400.76 356.80 847.33 3.00 62.69 37.093.094.23 658.989.40 629.00 59.15 0.33 3.385.411.033.147.87 5.91 356.54 4.828.832.020.657.95 5.49 727.276.80 1.255.17 724.76 2.00 1.30 144.020.69 37.396.82 626.628.852.937.628.580.00 3.580.828. Listrik BIAYA PEMASARAN BIAYA BUNGA BANK BIAYA ASURANSI BIAYA PEMELIHARAAN PENYUSUTAN JUMLAH TOTAL (I S/D VII) BIAYA PRODUKSI PER TON BIODIESEL MARGIN KEUNTUNGAN (15%) HARGA DI TINGKAT KONSUMEN (Dolar AS/ton) BIAYA PRODUKSI PER LITER BIODIESEL BIAYA PRODUKSI SEBELUM SUBSIDI(Rp/Liter) MARGIN KEUNTUNGAN (15%) HARGA DI TINGKAT KONSUMEN (Rp/liter) .50 2008 142.255.33 1.396.89 727.196.663.033.258.00 III IV V VI VII IX 174 X XI XII XIII XIV Uraian BIAYA ADMINISTRASI DAN UMUM BIAYA PRODUKSI BIODIESEL 1.76 356.574.628.574.473.37 2009 142.87 5.40 629.693.58 94. Air 7.64 2.095.00 62.033.65 717.693. I II 2005 142.44 357.431.48 62.385.04 720.630.989.00 63.54 4.020.21 734.937.000.00 62.56 4.33 3.385.94 94.117.095.000.628.54 4.00 3.860.020.47 0.937.76 0.473.749.30 144.00 1.94 764.35 731.00 3.83 5.640.196.76 757.00 50.48 62.000.00 50.95 5.101.15 5.000.000.431.00 360.800.000.989.77 129.54 4.874.640.60 2.98 0.976.76 2.000.39 98.663.95 5.48 59.608.174.937. Uap air 8.852.60 2.879.397.874.385.879.00 46.17 724.43 5.860.800.663.101.69 37.196.94 764.76 94.50 0.574.000.23 658.64 0.00 I II III IV V VI VIII SETELAH ADANYA KEBIJAKAN SUBSIDI EMISI : SUBSIDI EMISI BIAYA PRODUKSI SETELAH SUBSIDI BIAYA PRODUKSI PER TON BIODIESEL SETELAH SUBSIDI BIAYA PRODUKSI PER LITER BIODIESEL SETELAH SUBSIDI BIAYA PRODUKSI SETELAH SUBSIDI(Rp/Liter) MARGIN KEUNTUNGAN (15%) HARGA DI TINGKAT KONSUMEN (Rp/Liter) 0.385.50 7.989.485.258.000.76 2.64 2007 142.490.896.50 624.630.765.08 356.000 ton per tahun (USD) No. Perhitungan rencana biaya produksi pabrik biodisel kapasitas 100.23 0.485.30 144.036.69 37.728.174.235.00 1.49 727.396.828.485.39 5.00 3.60 2.38 62.800.50 7.557.663.33 3.385.000.956.611.020.574.000.333.00 50.147.98 632.094.00 1.557.273.00 3.80 1.54 4.832.

749.613.75 5.50 7.825.640.69 715.980.38 61.45 2014 142.487.574.628.000.848.50 7.613.69 37.75 5.196.69 715.53 4.94 718.000.58 2012 142.196.196.45 2013 142.771.16 0.98 0.898.85 711.33 618.28 3.485.69 37.86 616.97 0. Uap air 8.00 400.484.117.53 4.58 0.00 3.86 616.509.00 1.50 7.490.534.53 4.828.174.00 50.83 0.136.64 5.000.50 7.94 718.000.60 2.95 5.44 2.485.95 5.90 5.764.00 50. KOH 4.38 61.616. Listrik BIAYA PEMASARAN BIAYA BUNGA BANK BIAYA ASURANSI BIAYA PEMELIHARAAN PENYUSUTAN JUMLAH TOTAL (I S/D VII) BIAYA PRODUKSI PER TON BIODIESEL MARGIN KEUNTUNGAN (15%) HARGA DI TINGKAT KONSUMEN (Dolar AS/ton) BIAYA PRODUKSI PER LITER BIODIESEL BIAYA PRODUKSI SEBELUM SUBSIDI(Rp/Liter) MARGIN KEUNTUNGAN (15%) HARGA DI TINGKAT KONSUMEN (Rp/liter) .60 2.000.00 61.64 5.69 715.28 364.989.178.771.033.00 61.509.000.50 0.396.00 400.136.790. Air 7.800.178.60 2.42 708.333.59 0.00 400.020.749.80 0.60 2.174.534.640.764.117.27 715. Bahan Baku Utama 2.812.53 4.764.825.663.000.000.490.649.640.574.00 50.58 360.53 4.36 5.828. H3PO4 6.487.79 0.800.00 400.800.16 92.628.628.33 3.50 7.00 1.69 715.00 400.64 721.800.00 3.812.44 2.90 5.749.97 0.30 144.53 4.09 715.06 0.44 2. Metanol 3.00 360.020.80 282.333.745.00 50.53 4.000.28 3.484.16 360.020.00 50.33 3.36 5.79 93.640.00 61.75 5.136.033.95 5.485.00 1.30 144.749.33 3.60 2.487.95 5.663.333.825.989.769.54 2011 142.663.Lampiran 4.898.828.828.81 61.86 616.790.663.333.00 3.828.44 360.396.800.033.372.00 364.38 62.020.00 364.53 4.47 708.771.45 0.000.000.86 616.640.69 37.75 5.80 0.396.333.33 3.50 92. I II 2010 142.196.649.628.28 364.771.98 92.979.33 3.30 144.00 1.196.95 5.399.848.54 0.44 360.00 3.53 4.69 37.47 708.008.00 62.33 618.00 61.663.825.008.769.574.75 616.174.53 4.764.574.91 621.033.487.396. Lanjutan No.174.174.80 564.616.014. Bahan Bakar 5.033.485.45 I II III IV V VI VIII SETELAH ADANYA KEBIJAKAN SUBSIDI EMISI : SUBSIDI EMISI BIAYA PRODUKSI SETELAH SUBSIDI BIAYA PRODUKSI PER TON BIODIESEL SETELAH SUBSIDI BIAYA PRODUKSI PER LITER BIODIESEL SETELAH SUBSIDI BIAYA PRODUKSI SETELAH SUBSIDI(Rp/Liter) MARGIN KEUNTUNGAN (15%) HARGA DI TINGKAT KONSUMEN (Rp/Liter) 0.45 III IV V VI VII IX 175 X XI XII XIII XIV Uraian BIAYA ADMINISTRASI DAN UMUM BIAYA PRODUKSI BIODIESEL 1.136.91 621.000.30 144.00 1.574.014.75 616.485.44 360.50 92.30 144.980.64 721.020.81 61.396.80 0.45 0.000.000.50 0.749.000.649.00 3.69 37.649.09 715.628.

396.42 5.95 5.196.113. Uap air 8.396.40 2018 142.605.333.80 738.623.800.69 37.113.55 4. Lanjutan No.817.41 731.26 4.628.30 144.000.30 144.311.33 3.828.33 3.81 636.81 636.00 664.333.17 176 SETELAH ADANYA KEBIJAKAN SUBSIDI EMISI : I SUBSIDI EMISI II BIAYA PRODUKSI SETELAH SUBSIDI III BIAYA PRODUKSI PER TON BIODIESEL SETELAH SUBSIDI IV BIAYA PRODUKSI PER LITER BIODIESEL SETELAH SUBSIDI V BIAYA PRODUKSI SETELAH SUBSIDI(Rp/Liter) VI MARGIN KEUNTUNGAN (15%) VIII HARGA DI TINGKAT KONSUMEN (Rp/Liter) Sumber: Hasil analisis.425.00 50.819.00 1.663.02 95.000.311.033.000.26 664.000.749.60 2.58 4.628.00 400.68 0.22 0. Listrik BIAYA PEMASARAN BIAYA BUNGA BANK BIAYA ASURANSI BIAYA PEMELIHARAAN PENYUSUTAN JUMLAH TOTAL (I S/D VII) BIAYA PRODUKSI PER TON BIODIESEL MARGIN KEUNTUNGAN (15%) HARGA DI TINGKAT KONSUMEN (Dolar AS/ton) BIAYA PRODUKSI PER LITER BIODIESEL BIAYA PRODUKSI SEBELUM SUBSIDI(Rp/Liter) MARGIN KEUNTUNGAN (15%) HARGA DI TINGKAT KONSUMEN (Rp/liter) 2016 142.81 636.33 3.80 0.020.80 0.828.00 50. KOH 4.000.00 1.924.425.00 662.30 144.49 738.42 0.663.67 5.800.55 4.02 0.81 636.628.749.922.922.55 4.574.17 2019 142.661.174.661.000.00 400.22 0.661.311.00 664.311.663.24 95.623.020.485.113.40 0.50 7.020.174.663.485.828.80 0.42 5.00 400. Bahan Baku Utama 2.333.363.Lampiran 4.623.604.640.95 5.00 50.574.49 738.919.67 5.02 95.574.661.574.602.640.919.16 63.00 63.828. Air 7.80 738.42 5.749.22 .196.365.605.95 5.00 3.69 37.02 0.68 0.30 144.40 731.628.95 5.55 4.58 662.69 37.000.58 4.033.485.800.00 400.485.24 95.000.50 7. I II III IV V VI VII IX X XI XII XIII XIV Uraian BIAYA ADMINISTRASI DAN UMUM BIAYA PRODUKSI BIODIESEL 1.00 3.95 5.80 738.640.800.333.174.60 2.96 738. Metanol 3.96 738.628.24 0.00 3.17 0.381.602.33 3.81 636.363.00 662.663.16 63.49 738.749.69 37.07 636.45 0.26 664.67 5.07 636.922.00 3.07 636.06 63.922.174.80 0.80 0.602.30 144.605.623.922.44 5.50 7.04 95.396.00 400. 2015 142.020.663.67 5.81 636.50 7.06 63.00 63.033. Bahan Bakar 5.663.55 4.000.00 3.00 1.49 738.174.55 4.000.113.919.60 2.40 731.04 0.000.020.196.00 63.749.817.16 63.00 50.58 662.000.015.22 2017 142.000.924.196.919.485.42 5.574.196.640.127.922.24 0.924.640.819.00 63.00 1. H3PO4 6.44 731.00 50.396.50 7.605.42 0.663.663.80 738.000.127.44 731.396.58 4.44 5.381.69 37.00 63.00 1.033.17 0.26 4.60 2.800.604.661.58 662.55 4.661.07 636.33 3.000.033.55 4.828.55 4. 2004.60 2.55 4.602.924.333.00 662.

22% 8. Air 0. .93% 1.74% PENYUSUTAN 5.84% ASURANSI 0. I II III IV V VI VII URAIAN RATA-RATA BIAYA ADMINISTRASI DAN UMUM 0.78% 4.98% 3.00% 6.49% JUMLAH TOTAL (I S/D VII) 100. Metanol 4. Uap air 8. Ringkasan struktur biaya pengolahan biodisel kelapa sawit dengan kapasitas 100.07% 2. Bahan Baku Utama 60.23% BIAYA PEMASARAN 12. Listrik 0. KOH 5.03% BIAYA BUNGA BANK 0. 2004.00% 7. H3PO4 0. Bahan Bakar 0.00% Sumber : Hasil Analisis.000 ton/tahun NO.74% PEMELIHARAAN 0.64% 5.177 Lampiran 4 Lanjutan.23% BIAYA PRODUKSI BIODISEL 79.

Diagram alir unit proses persiapan umpan 178 .Lampiran 5.

Lampiran 6. Diagram alir unit proses transesterifikasi 179 .

Lampiran 7. Diagram alir unit proses separasi 180 .

Diagram alir unit proses purifikasi 181 .Lampiran 8.