Anda di halaman 1dari 175

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA
Pengembangan Profesi Guru Sains
melalui Penelitian dan Karya Teknologi
yang Sesuai dengan Tuntutan Kurikulum 2013
11 September 2014 – FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

Editor:
Meiry Fadilah Noor
Nanda Saridewi
Erina Hertanti

Desain cover:
Siti Robiah Hazan
Iin Safrina

Layout:
Adi Ilhami

ISBN : 978-602-17290-2-1

Diterbitkan Oleh:
Jurusan Pendidikan IPA
Jl. Ir. H. Juanda No.95 Ciputat, Tangerang
Telp. (021)7443328 / Fax. (021)7443328

i

KATA PENGANTAR
Assalamu’ alaikum wr.wb.
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat, hidayah dan Inayah-Nya
Seminar Nasional Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta tahun 2014 dapat terlaksana. Seminar ini bertemakan “Pengembangan
Profesi Guru Sains melalui Penelitian dan karya Teknologi yang Sesuai dengan Tuntutan
Kurikulum 2013.” Seminar ini diikuti oleh guru IPA/Sains di SD, SMP, SMA, SMK;
dosen LPTK, pemerhati pendidikan serta mahasiswa.
Seminar nasional ini merupakan program kerja Jurusan Pendidikan IPA tahun 2014
untuk peningkatan kualitas pendidikan di sekolah. Kegiatan ini diharapkan dapat
meningkatkan potensi diri guru atau calon guru menjadi lebih profesional dalam
melaksanakan tugas sebagai tenaga pengajar. Informasi yang didapatkan berupa:
Penggunaan penelitian kependidikan dalam jenis, teknis, dan instrumen penilaian;
Pengembangan karya teknologi; serta Penulisan dan publikasi karya ilmiah.
Makalah dan abstraksi yang disampaikan berasal dari pemakalah utama dan
pemakalah pendamping. Bahasan makalah berupa hasil penelitian atau pemikiran yang
berkaitan dengan evaluasi pembelajaran serta pengembangan/penggunaan media
pembelajaran. Kumpulan makalah ini, diharapkan dapat berguna dalam pembelajaran yang
disesuaikan dengan Kurikulum 2013.
Atas nama Jurusan Pendidikan IPA, kami mengucapkan terima kasih kepada Dekan
FITK, narasumber utama, pemakalah, peserta seminar dan panitia yang telah memberikan
dukungan atas terselenggaranya seminar nasional ini. Terimakasih juga terucapkan kepada
para sponsor yang memberikan dukungan serta sarana untuk kegiatan ini. Semoga kegiatan
ini bermanfaat untuk peningkatan kualitas pendidikan IPA di Indonesia.
Wassalamu’alaikum wr.wb.

Jakarta, September 2014

Panitia

ii

................... Demystifying Math and Science Phobia by Using A Module For Rebuilding Learning Concepts Based on Spiral-Integrated Curriculum and Problem Based Learning (PBL)-Mapping Oleh : Ludjeng Lestari .............................. ..... Kreativitas Guru Biologi dalam Merencanakan Pembelajaran Biologi SMA Berbasis Komoditas Hayati Unggulan Lokal Oleh : Asep Agus Sulaeman...................................................................................... 60 10............................................................................................ 12 Curriculum vitae ........... 17 3.........................................................................DAFTAR ISI Halaman Resume Keynote Speaker 1................................................................................................. Hayat Sholihin...................... Muslim.................................................................................................................................. dan Instrumentasi Oleh : Harry Firman..... 33 6......... Sri Redjeki...................... Analisis Kelayakan Course-Ware untuk Perkuliahan Fisiologi Hewan bagi Mahasiswa Calon Guru Biologi Oleh : Adeng Slamet dan Ijang Rohman ......................................... 1 Curriculum vitae ........... 22 Abstrak Paralel 4................................................................................................................................... 79 iii ........................ Liliasari.............. Profil Pemahaman Konsep Pemantulan Cahaya yang Dianalisis Menggunakan Three-Tier Test pada Siswa SMP Oleh : Uswatun Khasanah............................................................. Profil Kemampuan dan Hambatan Guru dalam Mengembangkan Profesi Melalui Karya Tulis Ilmiah Oleh : Suciati Sudarisman ........................................................ 44 8............................. dan Dewi Sawitri ............................................................................................................................................ Teknis............. Kiat Menulis dan Mempublikasikan Karya Ilmiah Oleh: Ely Djulia.................................................................................................................. 19 Curriculum vitae ............... Rekonstruksi Didaktis Bahan Ajar Perkuliahan Penelitian Laboratorium (PL) Konteks Batu Gamping Berbasis Problem Solving-Decision Making (PSDM) Oleh : Florida Doloksaribu ....................................................................................... Meningkatkan Literasi Sains Siswa pada Aspek Proses Sains Melalui Pembelajaran Berbasis Multimedia Interaktif Oleh : Evi Sapinatul Bahriah ............................................................... Pemanfaatan Jejaring Sosial “Facebook” pada Diskusi Isu Sosiosaintifik untuk Mengembangkan Keterampilan Berargumentasi Mahasiswa Oleh : Yanti Herlanti ................................................................................ Ahmad Mudzakir ....................................................................... Penelitian Pendidikan: Jenis............................................................................................................................. dan Achmad Samsudin ........................ 54 9..... 37 7............... 10 2..... Pembelajaran Saintifik yang Mengintegrasikan TIK Oleh : Uwes Anis Chaeruman ........ 68 11........................ 26 5.................................................................. Fransisca Sudargo ..........................................................................

........................................................................................................ Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk Mengoptimalkan Praktikum Virtual Laboratory Materi Induksi Elektromagnetik Oleh : Novitasari............................. Pengaruh Model Pembelajaran Kooperatif Tipe STAD dengan Game terhadap Hasil Belajar Siswa pada Konsep Momentum dan Impuls Oleh : Ilusi Pangarti dan Erina Hertanti ...................................12... Mawardi dan Andromeda ...... Pengaruh Pembelajaran Fisika Berbasis Inkuiri Terbimbing Menggunakan LKS terhadap Kemampuan Berpikir Kritis Siswa Madrasah Aliyah Qamarul Huda Bagu Lombok Tengah Oleh : Kosim dan Yuyu Sudarmini ............................................................................ 140 20....................................................................................................................................... dan Ahmad Sofyan ....................................................................... 122 18.................... 116 17.......... 154 22....................... Perbedaan Hasil Belajar Biologi antara Penggunaan Kartu Card Sort dengan Index Card Match pada Konsep Sistem Reproduksi Manusia Oleh : Titik Kadarsih....... Agus Suyatna dan I Dewa Putu Nyeneng ...................... Pengaruh Penggunaan LKS Berbasis Learning Cycle 7e Terhadap Hasil Belajar Siswa pada Pembelajaran Konstruktivisme Konsep Sistem Peredaran Darah Oleh : Nengsih Juanengsih...................................... 101 15............. Analisis Literasi Lingkungan Siswa pada Penggunaan Bahan Ajar Buku Suplemen Berbasis Pendidikan Lingkungan Oleh : Irzaqotul inayah ... Pengaruh Media Audio-Visual (Video) terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas XI pada Konsep Elastisitas Oleh : Ika Risqi Citra Primavera dan Iwan Permana Suwarna ..... 110 16.............................. 96 14............................................................................. 146 21................................... Perbedaan Penggunaan Media Pembelajaran Animasi dan Komik terhadap Hasil Belajar Siswa pada Konsep Sistem Pencernaan (Kuasi Eksperimen di SMP Negeri 1 Parung) Oleh : Lola Novitasari................................................ 161 iv .................. 130 19................... Pengaruh Penggunaan LKS Berbasis Inkuiri Terbimbing dengan Representasi Chemistry Triangle terhadap Hasil Belajar Siswa untuk Materi Asam Basa Kelas XI SMA Oleh : Iryani. Kajian Evaluasi Hasil Belajar Melalui Penerapan Penilaian Berbasis Kelas pada Program Studi Berbasis Sains di Lingkungan Uin Syarif Hidayatullah Jakarta Oleh : Ai Nurlaela dan Erina Hertanti ............................................... Efektivitas Penerapan Pembelajaran Aktif Tipe Mind Maps untuk Meningkatkan Penguasaan Konsep Fisika Mahasiswa dalam Kuliah Fisika Teknik Oleh : Usmeldi............................... dan Nengsih Juanengsih ....................................................... Meiry Fadilah Noor.................................................. 85 13................................................ Meiry Fadilah Noor.... Zulfiani dan Ina Septi Wijaya ......

cermat. Secara khusus makalah menguraikan posisi instrumen penilaian sebagai alat pengumpul data serta obyek dari penelitian pendidikan itu sendiri. Salah satu jenis penelitian yang tergolong penelitian terapan dalam bidang pendidikan adalah “penelitian tindakan kelas (PTK)” atau “classroom action research (CAR)”. Dari segi fungsinya. penelitian pendidikan dapat dipandang sebagai suatu kontinum dengan salah satu ujungnya penelitian dasar (basic research) dan penelitian terapan (applied research) sebagai ujung lainnya Penelitian terapan berfungsi memecahan masalah praktis pendidikan. Makalah ini selanjutnya memaparkan secara lebih rinci 1 .. sehingga memungkinkan upaya tersebut menghasilkan solusi-solusi yang efektif. disamping mengembangkan teori kependidikan. dan teknis penelitian. Sementara itu penelitian dasar berfungsi mengembangan teori kependidikan. serta penelitian tindakan kelas (PTK) sebagai penelitian oleh praktisi pendidikan. apakah membangun teori (to generate a theory). Posisi suatu penelitian pendidikan dapat berada pada satu titik tertentu dalam kontinum tersebut. Oleh karena itu penelitian-penelitian perlu dilakukan terhadap permasalahan-permasalahan dalam bidang pendidikan IPA secara serempak. menguji teori (to test a theory). Kalaupun ternyata dapat diterapkan segera untuk pemecahan masalah praktis. apakah dampak-dampaknya. yang diarahkan untuk memberikan informasi sebagai landasan pembuatan keputusan tentang suatu program pendidikan.com Abstrak Makalah ini mengupas elemen-elemen dasar dari penelitian pendidikan pendidikan. Hasil penelitian pendidikan ialah pengetahuan baru (fakta-fakta. apakah efektif. TEKNIS. Selain itu. Lingkup makalah meliputi hakekat penelitian pendidikan. Dengan pengetahuan baru tersebut. (Gay et al. fenomena pendidikan terkait dapat lebih dimengerti. Sebaliknya. baik penelitian akademik untuk pengembangan teori maupun penelitian berbasis kelas untuk penyelesaian masalah praktis pembelajaran.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Fokus makalah tertumpu pada isu-isu pokok dalam penelitian pendidikan. dsb. walaupun tidak menjadi tujuannya. desain-desain dasar dan ranah-ranah mutakhir bagi penelitian pendidikan IPA. apakah dapat dijalankan. apakah sesuai dengan tujuannya. Penelitian dasar tidak dituntut untuk dapat menghasilkan temuan yang segera dapat diterapkan dalam praktek. Pengetahuan baru hasil penelitan. bergantung pada sifat penelitiannya. untuk menjawab masalah praktis dalam pendidikan dan/atau berkontribusi pada pengembangan teori pendidikan (McMillan & Wergin. 2012). DAN INSTRUMENTASI Harry Firman Universitas Pendidikan Indonesia harry. desain. terdapat jenis penelitian yang dinamakan penelitian evaluasi. yang mencakup fungsi penelitian.firman@hotmail. 2009). atau menyempurnakan teori (to refine a theory) (McMillan. baik oleh akademisi maupun praktisi pendidikan IPA. Upaya peningkatan mutu pendidikan IPA di Indonesia perlu berbasis pada kajian ilmiah. relasi-relasi. dan hubungaan kausal) tentang fenomena pendidikan tertentu yang belum terungkap sebelumnya. 2002). jenis. serta instrumen penelitian. juga memperkaya praktisi pendidikan dengan pedoman yang dapat dipakai untuk memecahkan masalah praktis pendidikan secara efektif. penelitian terapan mungkin saja dapat berkontribusi pada pengembangan ilmu kependidikan. 11 September 2014 Keynote Speaker 1 PENELITIAN PENDIDIKAN: JENIS. hal itu sebetulnya bukan tujuan utamanya. PENDAHULUAN Penelitian pendidikan (educational research) dapat dimaknai sebagai penyelidikan secara sistematik. kontinum penelitian kuantitatif dan kualitatif. dan mendalam. yakni penelitian oleh guru sebagai praktisi professional pendidikan untuk memecahkan masalah sehari-hari pembelajaran yang dihadapi. paradigma-paradigma penelitian pendidikan.

Banyak penelitian berada pada posisi tertentu dalam kontinum itu. melainkan suatu kontinum. dikendalikan (dikontrol) dengan pelbagai cara. Jika penelitian kualitatif mempelajari fenomena secara holistik (menyeluruh). sampai sekarang banyak penelitian dilakukan dalam paradigma positivistik. Dalam penelitian eksperimen satu variabel (variable eksperimen) secara sengaja “dimanipulasi” (divariasikan) oleh peneliti untuk menentukan pengaruh dari variasi tersebut. yakni memperhatikan informasi tentang suatu aspek yang diteliti dari lebih dari satu sumber. Namun. Dewasa ini berkembang penelitian pendidikan yang menerapkan kedua paradigma penelitian secara terintegrasi dalam bentuk metode campuran (mixed-method). 1. Oleh karena itu paparan tentang teknik-teknik penelitian dikemukakan dengan merujuk pada desain penelitiannya. dilakukan oleh peneliti sendiri (peneliti sebagai instrumen) dan memanfaatkan banyak cara (multimethods). penelitian kuantitatif bertumpu pada desain. yaitu merujuk pada penelitian dalam Sains yang menitikberatkan pengujian-pengujian hipotesis dengan eksperimen terkendali. kompleksitas fenomena pendidikan dipandang kurang memadai jika dikaji dengan paradigma positivistic. peneliti melakukan “triangulasi”. sedangkan laporan penelitian kualitatif didominasi oleh deskripsi naratif. Sementara itu. Penelitian kualitatif terikat konteks (context-bound) sehingga tak dapat digeneralisasi ke dalam konteks lain. PARADIGMA-PARADIGMA PENELITIAN PENDIDIKAN Istilah paradigma (paradigm) digunakan untuk mendeskripsikan pendekatan penelitian yang diterapkan oleh peneliti pada umumnya dalam satu kurun waktu tertentu (Taber. Untuk meyakinkan peneliti dalam menarik kesimpulan. 2012). antara lain memilih anggota kelompok eksperimen dan anggota kelompok kontrol sebagai pembanding secara acak 2 . dan pengaruh. Metode campuran dapat menjadi metode yang tepat untuk penelitian yang bertujuan mengungkap sekaligus suatu keterkaitan dan menyediakan eksplanasi bagi keterkaitan tersebut (McMillan. 2006). serta instrumen penelitian. laporan penelitian kuantitatif lebih menitikberatkan pada presentasi angka dan statistik. 2013). dan analisis statistik inferensial. 11 September 2014 paradigma-paradigma penelitian. desain dan teknis penelitian. Diharapkan paparan ini dapat menginspirasi dan memperkuat penelitian dalam pendidikan IPA. dalam arti menggunakan prosedur penelitian kualitatif dan kuantitatif sekaligus sesuai dengan permasalahan yang akan dipecahkannya. ranah-ranah penelitian dalam pendidikan IPA. prosedur dan alat ukur standar yang telah ditetapkan sebelumnya.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Bersamaan dengan itu sejumlah peneliti mengembangkan paradigma baru dalam penelitian pendidikan. yang bertumpu pada eksplorasi dan interpretasi sifat-sifat khusus kasus-kasus individual secara kualitatif. DESAIN DAN TEKNIK PENELITIAN Teknik penelitian tidak terlepas dari desain penelitian. yaitu bagaimana penelitian dijalankan. Penelitian kualitatif dilakukan untuk memahami suatu fenomena pendidikan secara mendalam dan holistik. Dalam pengumpulan data. untuk menemukan hukum umum (generalisasi) dalam fenomena pendidikan. Penelitian pendidikan dapat berupa penelitian kualitatif dan penelitian kuantitatif. maka paradigma pasca-positivistik (interpretif) mengarahkan penelitian eksploratori secara kualitatif. sementara itu penelitian kuantitatif justru mencari generalisasi (kesimpulan umum) yang bebas konteks (context-free). hubungan. yang memungkinkan peneliti dapat mengatasi keterbatasan tradisi penelitian kuantitatif dan penelitian kuantitatif. Eksperimen/Quasi-eksperimen/Pra-eksperimen Eksperimen adalah suatu desain penelitian yang di dalamnya peneliti menyelidiki pengaruh suatu perlakuan (treatment) terhadap sekelompok subyek (Fraenkel & Wallen. yang dikenal sebagai paradigma interpretif (pasca-positivistik). Jika paradigma positivistik mengarahkan penelitian konfirmatori (pembuktian) teori secara kuantitatif. Sedangkan penelitian kuantitatif dilakukan untuk menentukan fakta. baik untuk pengembangan teori maupun pemecahamn masalah praktis pendidikan. randomisasi. Dalam konteks pendidikan. Sementara itu variabel-variabel lain (extraneous variable) yang secara teoritis berpengaruh pada hasil eksperimen. sedangkan dalam penelitian kualitatif prosedur pengumpulan data lebih fleksibel. maka penelitian kuantitatif justru terfokus pada faktor atau variabel tertentu secara terpisah. Kembali perlu ditegaskan bahwa perbedaan keduanya bukan dikhotomi.

sementara kelompok pembanding tidak menerima perlakukan tersebut. Kekuatan penelitian seperti ini bergantung pada ketepatan melakukan “sampling”. dsb. Berdasarkan indikator-indikator tertentu ditunjukkan bahwa kedua kelompok tersebut “setara”. dilakukan survei dengan instrumen kuesioner terhadap sejumlah siswa yang menjadi “sample”dalam penelitian ini. yakni topik-topik materi pelajaran IPA yang dirasakan sulit. sedangkan kelas pembanding menerima pengalaman belajar konvensional. Perbedaan antara hasil post-test dan pre-test (Gain dan Normalized Gain) yang seringkali dijadikan andalan peneliti sebagai bukti adanya pengaruh perlakuan. Dalam prakteknya sangat sulit untuk memilih anggota kelompok eksperimen dan kelompok kontrol secara acak. Penelitian deskriptif memaparkan suatu fenomena dalam pembelajaran dengan ukuran-ukuran statistik. Penelitian yang tidak bertumpu pada keacakan (randomness) dalam penugasan kelompok eksperimen dan kelompok. sehingga jumlah anggota sampel yang terbatas itu (misalnya 3-5% dari populasi) dapat representatif (mewakili) populasi. Sebagai contoh. Teknik penarikan sampel (sampling technique) dapat dipelajari secara khusus dari buku-buku statistika. perolehan hasil belajar. karena yang diambil adalah dua kelompok yang lebih mempunyai kesamaan di antara keseluruhan kelompok yang tersedia. Oleh karenanya salah satu kelas ditugasi sebagai kelompok eksperimen (akan menerima perlakukan eskperimen) dan yang lainnya dijadikan kelompok pembanding. mungkin saja diakibatkan oleh faktor-faktor lain selain variabel penelitian. serta citra visual dari data misalnya dalam bentuk grafik. Waktu belajar dan ruang lingkup materi pembelajaran kedua kelas disamakan (dikontrol). misalnya dari tingkat kecerdasan rata-rata siswa. maka sangat sukar untuk menarik kesimpulan yang meyakinkan tetang hubungan kausal dengan penelitian pra-eksperimen. dinamakan penelitian quasi-eksperimen. Oleh karena tidak menggunakan kelompok pembanding. seperti frekuensi. persentase. Sebagai contoh penelitian quasi-eksperimen. Metode penelitian seperti ini dinamakan praeksperimen. rata-rata. dan lain sebagainya. variabilitas (rentang dan simpangan baku). 3 . penelitian dilakukan untuk mengidentifikasi topik-topik materi pelajaran IPA yang dirasakan sulit oleh siswa kelas VI SMP di Kota Bandung. Dengan demikian keacakan pemilihan sampel penelitian tak terpenuhi. seorang peneliti ingin meneliti dampak dari penggunaan media pembelajaran berbasis Information and communications technology (ICT) terhadap pemahaman siswa ketika mempelajari topik struktur atom di kelas satu SMA. Ia memilih dua kelas satu di suatu sekolah yang berdasarkan indikator-indikator rata-rata kelas dalam prestasi belajar. Namun bukan berarti kedua kelompok sampel dibiarkan tidak setara. Setelah materi pelajaran selesai diajarkan. yakni penelitian deskriptif. 2002). acapkali pre-test dilakukan dan selisih antara post. Selanjutnya pembelajaran berbasis ICT diterapkan pada kelas eksperimen. Ada tidaknya pengaruh perlakuan dievaluasi dari perbedaan antara selisih nilai post-test dan pre-test pada eksperimen pertama dan eksperimen kedua. peneliti terpaksa melakukan penelitian untuk mengevaluasi pengaruh satu fakor yang dihipotesiskan sebagai sebab dengan pengendalian minimum bahkan tidak dilakukan sama sekali terhadap fakor-faktor lain. penelitian korelasional. 11 September 2014 (random).dan pre-test (gain atau normalized-gain) turut diperbandingkan. 2.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. tidak berbeda. Dampak variasi dievaluasi dengan membandingkan hasil pengukuran pasca perlakukan (post-test) terhadap kedua kelompok tadi. serta penelitian “ex-post facto” (McMillan & Wergin. Bukan-Eksperimen Beberapa tipe penelitian kuantitatif dilakukan dengan menggunakan metode non-eksperimen. yang mengukur pemahaman siswa terhadap materi pelajaran tersebut. Untuk lebih meyakinkan bahwa dampak tadi memang karena perlakuan. Dalam kondisi tertentu yang sangat terbatasi. Berdasarkan data yang diperoleh dari sampel dapat disimpulkan tentang kondisi populasi. Tidak mungkin peneliti membentuk kelas eksperimen dan kelas kontrol sendiri secara acak. tingkat status ekonomi sosial. kepada dua kelas tersebut diberikan suatu tes yang sama. untuk kemudian diperbandingkan rata-rata skor tes kedua kelompok tersebut secara statistika. yakni dikenai variabel yang dimanipulasi tersebut. penelitian komparatif. Untuk mengumpulkan data. Selanjutnya kelompok eksperimen dikenai perlakuan (treatment). lingkungan belajar yang dialami. sebab dalam setting alaminya di persekolahan siswa telah dikelompokkan ke dalam rombonganrombongan belajar tertentu. fasilitas belajar yang dipunyai.

Dalam konteks pendidikan. proses. 11 September 2014 Penelitian komparatif meninjau hubungan antara dua atau lebih variabel dengan melihat perbedaan yang ada pada dua atau lebih kelompok subyek penelitian. buku ajar. soal ujian. masing-masing kelompok diperbandingkan dari variabel tertentu yang diselidiki. Satu contoh penelitian yang menggunakan analisis konten adalah penelitian tentang kandungan keterampilan proses dalam soal IPA UN SMA. 1993).Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. kelas XI. menggunakan alat. dengan mensurvei minat siswa kelas X. serta pola hubungan antara jenis keterampilan proses dan materi pelajaran kimia dalam soal tes tersebut. sehingga terdapat dua himpunan skor yang jika dihitung nilai koefisien korelasinya memperlihatkan derajad kekuatan hubungan di antara variabel-variabel yang diselidiki hubungannya. Jadi. yang diungkapkan dengan nilai koefisien korelasi. dan pertimbangan kualitatif atau interpretasi terhadap fenomena yang diselidiki. Pada pada akhirnya peneliti dapat menggambarkan profil soal IPA UN dari segi keterampilan proses yang dikandungnya secara kuantitatif (frekuensinya dan %-tase). dan fenomena pendidikan dalam konteks khusus. Sebagai contoh suatu penelitian berusaha meninjau hubungan antara tingkatan kelas dan minat pada pelajaran kimia di suatu sekolah. Jika penelitian korelasional melibatkan lebih dari dua variabel sekaligus. Analisis dapat dilakukan secara kuantitatif. maka korelasi antarvariabel tersebut dapat dimaknai sebagai hubungan kausal. dan membedakannya satu sama lain secara statistika (misalnya analisis varians untuk perbedaan antar rata-rata). menggunakan konsep. Studi ex-post facto menguji suatu fenomena yang telah terjadi dan berusaha menarik kesimpulan tentang adanya hubungan-hubungan kausal. 2012). dan kelas XII terhadap pelajaran kimia. Etnografi adalah deskripsi analitik secara mendalam tentang suatu situasi budaya (McMillan. setiap subyek penelitian memberikan satu skor untuk masing-masing variabel yang diteliti. rekaman video interaksi belajar-mengajar. Namun demikian. Seringkali penelitian etnografik tidak mempunyai basis teoretik yang kuat. Tahapan analisis konten mencakup tahap pendeskripsian yang diikuti dengan tahapan analisis dan inferensi. Untuk mencari korelasi. deskripsi. penelitian etnografik didefinisikan sebagai pendeskripsian secara ilmiah sistem. merancang eksperimen) ia menentukan jenis keterampilan proses yang terkandung dalam setiap butir soal. pada dasarnya merupakan penelitian non-eksperimen yang dipoles sehingga nampak seperti suatu eksperimen. Contoh penelitian korelasional adalah penelitian tentang kekuatan hubungan antara IQ dengan kemampuan belajar fisika siswa SMA. Analisis konten (content analysis) adalah suatu desain penelitian untuk menghasilkan deskripsi yang obyektif dan sistematik mengenai isi (content) yang terungkap dalam suatu komunikasi (Zuchdi. dan pengaruhnya terhadap keberhasilan dalam SBMPTN diselidiki dari perbedaan rata-rata nilai prestasi kedua kelompok tersebut. dll. Justru hipotesis dan teori dibangun selama penelitian dilakukan. media pembelajaran. 3 Etnografi dan Studi Kasus Desain penelitian etnografik diadopsi dari tradisi penelitian antropologi. Penelitian etnografi berlangsung dalam setting alami dan berfokus pada proses dalam mencoba memperoleh gambaran tentang obyek studi secara holistik. Peneliti mula-mula menentukan rentang tahun penerbitan soal-soal UN yang akan dianalisis. Hanya jika keterkaitan hubungan antar variabel dapat dijelaskan secara teoretik. ataupun dilakukan secara kualitatif yang menekankan pola-pola hubungan yang ada dalam dokumen yang dianalisis. hubungan yang ditemukan dari penelitian komparatif ini. sehingga hubungan antara minat terhadap pelajaran kimia dan tingkatan kelas dapat disimpulkan. misalnya regresi ganda. yang seringkali disebut juga penelitian kausal-komparatif. artikel. Contoh pertayaan penelitian dari studi ex-post facto: Apakah siswa SMA yang mengikuti bimbingan belajar mempunyai prestasi belajar biologi lebih tinggi daripada siswa yang tidak mengikuti bimbingan belajar dalam SBMPTN? Pada studi ini mengikuti bimbingan tes dapat dipandang sebagai “perlakuan”. selanjutnya dengan indiator keterampilan-keterampilan proses (interpretasi. Penelitian korelasional menyelidiki hubungan di antara variabel-variabel. 4 . komunikasi. tidak serta merta dapat ditafsirkan sebagai hubungan kausal (sebab-akibat). maka teknik analisis statistikanya yang lebih rumit diperlukan dalam analisis data. Penelitian etnografik berkaitan erat dengan observasi. asosiasi dan korelasi. seperti frekuensi. Penelitian “ex-post facto” (setelah terjadi). Contoh lain adalah penelitian tentang daya prediksi nilai kimia tes SBMPTN terhadap IPK mahasiswa program studi kimia di perguruan tinggi. dan hanya sedikit hipotesis dirumuskan sebelum penelitian dimulai. Analisis konten dimanfaatkan untuk memahami makna dalam bentuk dokumen.

dan keempat. sehingga diperoleh rencana baru untuk dipraktekan dan diamati dampaknya pada siklus berikutnya. hendaknya pertanyaan yang dirumuskan harus bermanfaat untuk kelas. dapat dikatakan sebagai studi kasus. kedua. Penelitian Tindakan Kelas Secara sederhana penelitian tindakan kelas (PTK) dapat dikatakan sebagai suatu penelitian yang dilakukan guru (sebagai praktisi pendidikan) untuk meningkatkan mutu pembelajaran dengan melakukan tindakan-tindakan praktis terencana dalam setting kelasnya. suatu penelitian etnografik dalam pendidikan kimia berangkat dari pertanyaan: “Seperti apa pembelajaran kimia di sebuah sekolah nasional plus?” Observasi dilakukan dalam kelas dan laboratorium kimia. 4. Selain itu.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. peneliti memberikan paparan dan interpretasi yang akurat tentang pembelajaran kimia di sekolah nasional plus yang menjadi situs (site) penelitian. Studi kasus umunya bertalian dengan--tetapi tidak terbatas pada--penelitian kualitatif. Peneliti membuat catatan lapangan (field notes) secara intensif tentang apa yang diobservasinya. misalnya 5 . “good practice” yang berhasil dikembangkan perlu disebarluaskan kepada sejawat guru mata pelajaran lain di satu sekolah serta sejawat di sekolah lain (melalui publikasi) sebagai model. Pada tahap identifikasi masalah. sehingga PTK dapat diilustrasikan pada Gambar 1. formatif. Rangkaian siklus seperti ini berjalan terus. fleksibel. PTK lebih bersifat informal. Mengidentifikasi persoalan yang dihadapi dan merencanakan strategi dan tindakan intervensi yang perlu dilakukan (Rencana/Plan). untuk meningkatkan kemaslahatan hasil PTK. Melakukan observasi dan pengumpulan data ketika dan setelah tindakan dilakukan (Observasi/Observation). pusat komputer. Pada dasarnya studi kasus melibatkan pengkajian secara mendalam terhadap sebuah kelompok atau sejumlah sangat terbatas individu. Sebuah penelitian etnografik yang di dalamnya suatu kelomopok dipelajari secara mendalam. Melakukan analisis dan penafsiran data. 2011). serta melakukan interviu terhadap banyak siswa dan guru. 11 September 2014 Sebagai contoh. Berdasarkan semua informasi yang dikumpulkannya. yakni yang jawabannya mengarah pada metode dan teknik pembelajaran yang lebih efektif. Suhardjono. Studi kasus (case study) sering dikaitkan dengan penelitian etnografik. serta pengkajian terhadap dampak dari tindakan yang dilakukan (Refleksi/Reflection) Refleksi yang dilakukan mengarahkan penyempurnaan atau perbaikan terhadap rencana yang telah dilakukan. Studi kasus dapat dipandang sebagai jenis khusus metode penelitian karena dapat berkaitan dengan metode-metode penelitian lainnya. ketiga. Dibandingkan dengan “penelitian-penelitian tradisional”. Perencanaan Refleksi SIKLUS I Pelaksanaan Pengamatan Perencanaan Refleksi SIKLUS II Pelaksanaan Pengamatan ? Gambar 1. serta mengadakan refleksi berdasarkan dampak dari tindakan-tindakan tersebut (Costello. PTK lahir dari kebutuhan pragmatik guru untuk meningkatkan kinerja profesional secara berkelanjutan. dan perpustakaan. Melakukan intervensi (Tindakan/Action). Ada baiknya PTK dilakukan secara kolaboratif antara sejawat guru di suatu sekolah MGMP sekolah) agar terjadi proses saling melengkapi dan saling berbagi pikiran dan pengalaman. dalam kurun waktu satu tahun pelajaran. Penelitian quasi-eksperimen yang dilakukan terhadap jumlah subyek yang sangat sedikit merupakan juga sebuah studi kasus. Proses penelitian tindalan kelas Dari: Arikunto. praktis. Supardi (2006) Desain PTK dapat digambarkan sebagai rangkaian siklus yang terdiri atas tahap-tahap berikut: Pertama.

misalnya buku-buku tentang pengajaran sains atau informasi praktis dari WWW. 11 September 2014 “Apakah pembelajaran aktif menyebabkan siswa lebih bergairah dalam belajar dan memperoleh hasil belajar yang lebih baik?” Pada tahap perencanaan. hanya tidak terlalu merujuk pada sumber primer (laporan riset). karena penelitian ini lebih bersifat studi kasus dan terikat pada konteks sekolah. Analisis data pada PTK terarah untuk menjawab secara langsung pertanyaan penelitian. interviu klisnis (dengan perekaman) terhadap siswa. 6 . yang menyebabkan mereka memperoleh jawaban salah. mengembangkan solusi bagi permasalahan tadi. Identifikasi perlu dilakukan terhadap titik kelemahan siswa dalam proses pemecahan masalah. Pengujian statistika yang canggih terhadap data kuantitatif tidak praktis dalam PTK. RANAH-RANAH PENELITIAN PENDIDIKAN IPA Penelitian-penelitian untuk tujuan penulisan skripsi/tesis dalam bidang pendidikan IPA diarahkan terutama pada “classroom based research”. tetapi ada potensi untuk memberikan hasil lebih baik). Sementara itu metode penelitian yang diterapkan dapat merujuk pada metodemetode standar. ranah-ranah penelitian yang bersesuaian dengan tujuan itu antara lain sebagai berikut. Data yang dikumpulkan dapat berupa data kuantitatif (skor tes dan hasil survey) ataupun kualitatif (misalnya komentar dan evaluasi siswa pada dialog atau focus group discussion (FGD).Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Sesuai dengan kaidah pembelajaran konstruktivis. Metode standar yang dapat dipakai dalam mengidentifikasi kelemahan tersebut adalah analisis terhadap respon tertulis siswa pada penyelesaian soal hitungan serta teknik “thinking-aloud”. Duit (2007) menyatakan bahwa dalam konteks pendidikan IPA. 2. apakah kembali ke strategi seperti biasa (jika ada indikasi lebih buruk). Tugas melakukan penelitian tipe ini akan memberikan pengalaman belajar kepada calon guru yang dapat mengembangkan profesionalisme guru. Analisis Konsepsi dan Miskonsepsi Siswa Penelitian dalam ranah ini mengidentifikasi konsepsi-konsepsi (ide-ide) siswa mengenai konsep-konsep esensial dalam silabus mata pelajaran kimia di SMP/MTs dan SMA/MA dengan berbagai macam metode standar. antara lain asesmen dengan tes diagnostik miskonsepsi dua tingkat (two-tier diagnostic test). misalnya apakah strategi mengajar yang diterapkan membuahkan proses dan hasil belajar yang lebih baik. Implikasinya perlu jelas. Diagnosis Kesalahan Umum Siswa dalam Memecahkan Masalah Numerik IPA Kompetensi melakukan perhitungan-perhitungan numerik terkait IPA (terutama fisika dan kimia) menjadi masalah nyata yang dihadapi siswa. termasuk kemampuan mengidentifikasi secara tajam permasalahan yang dihadapi dalam pembelajaran di kelas. teknik. literatur perlu dirujuk. atau pemetaan konsep oleh siswa. yaitu penelitian yang dilakukan dalam setting kelas secara nyata untuk mempelajari masalah pembelajaran (Wilson. 3. Sementara itu kesimpulan yang ditarik dari PTK perlu memberikan informasi yang langsung untuk pengambilan keputusan guru dalam menentukan strategi mengajar ke depan. Hasil studi tipe ini diharapkan dapat memperkaya pengetahuan tentang konsepsi-konsepsi alternatif yang ada dalam pikiran siswa sekolah menengah pada umumnya. Sementara itu metode penelitian yang laik dipakai untuk mengevaluasi efektivitas metode inovatif yang dikembangkan adalah quasi-ekesperimen. 1. serta mengujinya secara ilmiah. apakah perlu mengadopsi strategi baru yang dikembangkan (jika ada indikasi memberikan hasil lebih baik). atau memodifiksi strategi baru tersebut untuk diujicobakan lagi (tidak ada indikasi lebih baik. seperti misalnya cukup dengan desain pre-eksperimen atau quasi-eksperimen untuk meninjau hubungan sebab-akibat. namun dapat dibuat lebih praktis. yang hasilnya tidak dapat digeneralisasi ke setting yang lebih luas. tetapi cukup sumber sekunder. Metode pembelajaran inovatif untuk meremedi miskonsepsi dapat dikembangkan dengan merujuk pada teori tentang pengubahan konsep (conceptual change). Remediasi Miskonsepsi dengan Menerapan Teori Pengubahan Konsep Atas dasar miskonsepsi-miskonsepsi yang teridentifikasi dapat dilakukan penelitian untuk mengembangkan dan mengevaluasi efektivitas metode. Siswa yang menjadi subyek penelitian diminta menyelesaikan soal hitungan sambil mengutarakan proses penalaran yang terjadi dalam pikirkannya. 2013). pengetahuan ini penting sebagai landasan bagi guru untuk merancang strategi pembelajaran yang efektif. dan media (konvensional dan digital) inovatif untuk meremedi kelompok siswa yang mengalami miskonsepsi tersebut.

antara lain tes. pengumpulan data dinamakan juga pengukuran. 5. Desain quasi-eksperimen diperlukan untuk menguji efektivitas program pembelajaran yang dirancang. khususnya yang menyangkut topik yang sesuai. Variabel-variabel dalam penelitian kuantitatif perlu dipastikan nilainya dengan menggunakan alat penilaian (instrumen) yang sesuai. bahkan menyebabkan praktek pembelajaran kembali ke cara-cara lama yang menekankan memorisasi pengetahuan sebagaimana diujikan dalam tes konvensional (test driven instruction). baik dari segi konstruksi dan. lingkup kompetensi yang dinilai. misalnya konstruktivisme. science-environment-technology-society (SETS). Ketiadaan alat penilaian kompetensi akan menyebabkan yang dievaluasi hanyalah salah satu aspek dari kompetensi saja. 11 September 2014 dan peneliti merekam apa yang dikatakan siswa. Dalam penelitian tipe ini dikembangkan suatu program pembelajaran dengan menerapkan teori. dan pedoman wawancara (Cohen et al. pembelajaran kooperatif/kolaboratif. atau penggunaan teknologi yang prospektif untuk meningkatkan keberhasilan pembelajaran. Pengembangan dan Validasi Alat Penilaian Kompetensi Praktek penilaian kompetensi berbeda dari sekedar penilaian pemahaman konsep. Program pembelajaran beserta perangkat penunjangnya. dikembangkan. perlu digagas. Terdapat bermacam-ragam alat pengumpul data digunakan dalam penelitian pendidikan. sehingga pengetahuan praktis pembelajaran (practical knowledge of teaching) guru yang menyebabkan kepiawaian dalam mengajar IPA dapat diidentifikasi dan dihimpun untuk dijadikan rujukan bagi guru-guru lainnya. project based approach (PBA). Dalam konteks penelitian tipe ini pula test-tes kompetensi IPA yang digunakan secara internasional (TIMSS & PISA) perlu ditelaah secara mendalam. skala sikap. prinsip. pendekatan yang dirujuk. 2007). pedoman observasi. variable penalaran dan aspek-aspek kemampuan psikologis lainnya seperti kemahiran berpikir kritis diukur dengan tes psikologis yang sesuai. ataupun rubrik penilaian keterampilan. di samping observasi terhadap perilaku belajar siswa dalam pembelajaran inovatif yang diujicobakan. Variabel capaian hasil belajar dinilai dengan tes hasil belajar. untuk kemudian menjadi model bagi pengembang tes kompetensi IPA di Indonesia ke depan.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. problem based learning (PBL). Di sisi lain ketiadaan alat uji kompetensi yang dapat dijadikan model dalam mengembangkan soal ujian akhir semester atau bahkan ujian akhir sekolah dan ujian akhir nasional. 6. Variabel sikap dan motivasi diukur dengan instrumen berbentuk skala sikap dan inventori. 4. Pengembangan dan Ujicoba Lapangan Pembelajaran Penelitian dalam ranah ini berupaya menerapkan teori. dsb. afektif dan psikomotor) baik dalam bentuk tes. kuesioner (angket). Analisis Pembelajaran Maksud dari analisis pengajaran adalah mengobservasi dan merekam interaksi belajar-mengajar yang dilakukan oleh guru piawai ketika mengajarkan suatu topik tertentu pada kurikulum. skala sikap. inventori.. untuk kemudian melakukan analisis konten terhadap transkripsi interaksi belajar-mengajar tadi untuk menemukan bagaimana guru memfasilitasi siswa dalam mengkontruksi konsep IPA. INSTRUMEN PENELITIAN PENDIDIKAN Relasi antara instrumen penilaian dan penelitian pendidikan adalah dua arah. pendekatan baru dalam mengajar. pedagogical content knowledge (PCK). Dengan teknik thinking aloud dimungkinkan peneliti menelusuri titik awal siswa berbuat salah dengan metode analisis konten terhadap transkripsi rekaman yang dibuat. pembelajaran berbasis ICT. dan divalidasi melalui penelitian empirik. Dapat juga perilaku pengajar guru piawai diperbandingkan dengan guru pemula. Oleh karenanya model-model prosedur dan alat penilaian (dalam format test atau penilaian alternatif) yang efektif untuk menilai kompetensi IPA (kognitif. sebab peneliti memberikan 7 . Dalam berbagai studi kuantitatif. untuk kemudian diimplementasikan dalam kelas (oleh guru mitra atau peneliti sendiri). seperti RPP. contextual teaching-learning (CTL). bahan ajar dan media terkait dikembangkan. Strategi guru dalam menerapkan pedagogi sains yang membuat materi pelajaran terpahami (tercerna) menjadi temuan-temuan penting dari penelitian semacam ini. Penelitian pendidikan memerlukan instrument (alat pengumpul data) yang pada dasarnya adalah alat penilaian. prinsip. Variabel keterampilan diukur dengan rubrik penilaian kinerja.

Pedoman Observasi Pedoman observasi merupakan instrumen untuk memfokuskan pengamat terhadap aspek-aspek tertentu yang diselidiki ketika ia melakukan observasinya. 11 September 2014 nilai numerik (angka) pada fenomena atau obyek yang diamati dan pada respon yang diberikan oleh subyek penelitian. Pada pedoman wawancara diberikan pula ruang untuk pewawancara menuliskan jawaban responden. 6 Pedoman Wawancara Pedoman wawancara adalah daftar pertanyaan yang direncanakan diajukan kepada responden. dan guru kimia. (2) sejumlah pertanyaan dengan beberapa opsi jawaban tersedia. misalnya: Sangat setuju (SS). (3) rating scale untuk menentukan nilai suatu obyek. khususnya studi etnografik. Test psikologis yang sering dipakai dalam penelitian pendidikan sains umumnya berbetuk tes penalaran berbasis teori Piaget. orang atau peristiwa. pada 8 . dalam pengertian teruji validitas dan reliabilitasnya berdasarkan pengujian empirik. Kuesioner (Angket) Kuesioner (questioner atau questionnaire) adalah instrumen penelitian untuk mensurvei pilihan. Kalaupun ada wawancara yang dilakukan dalam studi kualitatif. yakni tes psikologis (psychological test) dan tes prestasi belajar (achievement test). Tes Test adalah instrumen yang harus direspon oleh subyek penelitian dengan menggunakan penalaran dan pengetahuannya. dan sangat tidak setuju (STS). obyek yang diamati dapat direkam dan disimpan dalam format VCD. yakni terdapat sejumlah pernyataan sikap. 1. sifatnya sangat kontekstual dan fleksibel. Ada dua macam tes yang dipakai dalam penelitian pendidikan. 2. 3. ujian nasional. namun umumnya berupa: (1) sederetan pertanyaan yang perlu dijawab dengan esai singkat. 4. Inventori disusun sedemikian rupa sehingga mampu mengungkap kecenderungan kepribadian (personality traits) misalnya inventori untuk mengungkap gaya belajar (learning style) dan profil kecerdasan majemuk (multiple intelligence) seseorang. Tidak ada format khusus bagi kuesioner. sehingga memungkinkan pengamat dapat mengamati ulang obyek yang diamati ketika menganalisis hasil pengamatannya. Test Longeot. ekspektasi responden dalam jumlah besar. misalnya pembelajaran sains. Skala Sikap Skala sikap (attitudes scale) adalah suatu bentuk instrumen untuk mengukur sikap seseorang terhadap obyek sikap tertentu (benda. bidang studi kimia. seperti Test of Logical Thinking (TOLT). Secara rinci instrumen-instrumen penelitian yang luas penggunaanya dipaparkan berikut ini. opini. setuju (S).Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Oleh karena itu dalam studi kuantitatif alat pengumpul data dinamakan juga alat ukur (measuring instrument). Group Assessment of Logical Thinking (GALT). orang. sehingga data dan informasi tentang variable-variabel penelitian dituliskan peneliti dalam catatan lapangan (fieldnotes). Oleh karena peneliti dapat mewakilkan kehadirannya kepada petugas pengumpul data pada saat pengumpulan data dengan kuesioner. peneliti umumnya mengandalkan dirinya sebagai instrumen (researcher as instrument). tidak setuju (TS). Umumnya skala sikap dituliskan dalam format skala Likert. Inventori Inventori adalah instrumen penelitian yang memuat daftar pernyataan yang direspon subyek dengan menyatakan persetujuannya (ya) atau ketidaksetujuannya (tidak) secara pribadi terhadap pernyataanpernyataan yang diberikan. sehingga peneliti umumnya tidak menyiapkan pedoman wawancara yang terstruktur. maka setiap pertanyaan harus jelas. peristiwa). cukup daftar pertanyaan-pertanyaan utama saja. Dengan-instrumen ini pula aspek-aspek yang diamati dari sejumlah obyek pengamatan (misalnya indikator-indikator perilaku mengajar guru atau perilaku belajar siswa) dapat diperbandingkan. 5. Baik tes psikologis maupun tes prestasi belajar yang digunakan dalam penelitian harus terstandarisasi (standardized). yang direspon subyek dengan menyatakan kesetujuan atau ketidaksetujuannya dalam beberapa tingkatan. Sementara itu dalam studi kualitatif. Dengan perkembangan pada teknologi kamera video digital. Namun. tidak menimbulkan salah tafsir dan munculnya permintaan penjelasan.

School-based research: A guide for education students (24-38). dan ciri-ciri psikometrik dari tes yang dipakai perlu dimuat dalam paparan tentang instrumen penelitian sebagai bagian dari metode penelitian.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. NJ: Pearson Education. London: Continuum International Publishing. 2002. and domains of research. In E. 2011. sedangkan reliabilitas menunjuk pada konsistensi (keajegan) informasi yang diungkap. namun pewawancara dapat mengembangkan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut yang bersifat “menggali”. Di sisi lain. 2007.).). untuk memperoleh informasi tentang aspek-aspek mana dari instrumen yang perlu diperbaiki. Wallen NE. McMillan. untuk memperoleh informasi yang lengkap dari responden. butir-butir pertanyaan instrumen perlu ditulis dengan merujuk pada jenis informasi yang akan digali. Jakarta: Bumi Aksara. Costello PJM. 2013. Validitas menunjuk pada kesesuaian antara informasi yang dicari dan pertanyaan yang disusun. CA: SAGE Publication. Suhardjono. JH. Fraenkel JR. Educational research: Competencies for analysis and applications. Duit R. Science education research internationally: Conceptions. Cohen L. 2013. diperlukan untuk mengevaluasi validitas isi masing-masing butir pertanyaan. Educational research: Fundamentals for the consumer. Mainon L. Los Angeles. Morrison K. Apapun bentuk instrumennya. Los Angeles. School-based research: A guide for education students (287-304). 2007. Wilson (Ed. Understanding and evaluating educational research. McMillan JH. Upper Saddle River. Gay LR. Oleh karena itu pada saat dikembangkan. Supardi. Science & Technology Education. ditimbang isinya oleh sebuah panel pakar untuk memastikan validitasnya. MA: Pearson Education. Uji coba tentang keterbacaan pertanyaan-pertanyaan perlu dilakukan. Airasian P. 3(1): 3-15. Eurasia Journal of Mathematics. NJ: Pearsoan Education. setelah itu butir-butir (items) yang diprediksi mengukur indikator-indokator tersebut dikembangkan. Research methods in education. pengujian validitas dan reliabilitas perlu dilakukan secara intensif. Timbangan panel ahli (expert judgement). 2006. CA: SAGE Publication. 2009. 3-5 orang. seterusnya diujikan di lapangan terhadap sejumlah responden yang serupa dengan target pengukuran untuk memastikan reliabilitas instrumen yang dikembangkan itu. 11 September 2014 saat ini terdapat banyak alat perekam audio dengan sensitivitas yang kuat. Kesesuaian tersebut akan lebih terjamin jika peneliti menyiapkan Tabel Spesifikasi (kisi-kisi) tes yang berformat matriks yang pada kolom pertama memuat informasi yang dicari dan pada kolom berikutnya pertanyaan yang disusun. Beyond positivism: Scientific research into education. Wilson E. Boston. Effective action research: Developing reflective thinking and practice. 2012. In E. Mills GE. Wilson (Ed. Beyond positivism: Scientific research into education. New York: McGraw-Hill. Penelitian tindakan kelas. Dengan demikian pewawancara tak perlu menulis jawaban responden. Taber KS. Upper Saddle River. Untuk instrumen berbentuk tes. London: Routledge. How to design and evaluate research in education. 9 . Wergin JF. dengan cara memberikan buram (draft) instrumen tersebut kepada sejumlah orang yang dapat dipandang setara dengan responden penelitian. Berdasarkan pandangan teoritis terhadap suatu kompetensi IPA dielaborasi komponen-komponen dan indikator kompetensi tersebut. Sejak lama pengembangan instrumen penilaian kompetensi IPA yang baku (standardized) menjadi topik-topik penelitian yang dilaporkan dalam jurnal-jurnal ilmiah. harus memenuhi kriteria valid dan reliable. research methods. 2006. DAFTAR PUSTAKA Arikunto S. yang dapat dipakai merekam jawaban responden. instrumen-instrumen penilaian dapat menjadi obyek penelitian pendidikan.

Albany New York (1986).Pd. 29 November 2007). Makalah Seminar : Future Trends of Science Education in Indonesia (International Seminar on Science Education. Publikasi Artikel untuk Handbook: Pendidikan Kimia di Indonesia (Dalam Handbook Teori dan Aplikasi Pendidikan. Science Teacher Education (2 months). Visiting professor pada Center for the Study of International Cooperation in Education. Penang Malaysia (1978). Vol. Pekerjaan Guru kimia SMA Santa Maria Bandung (1976-1980). State University of New York at Albany. Pelatihan Modern method of science teaching (3 months). Dosen pada Jurusan Pendidikan Kimia FPMIPA IKIP Bandung (kemudian menjadi UPI). Pedagogiana. Pendidikan No Universitas/institut IKIP Bandung 1 IKIP Bandung 2 Universiti Pendidikan Sultan Idris. Artikel Jurnal: The Future of Schooling in Indonesia. Ohio State University. 1978-sekarang. School of Education. Dekan Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Texas (1993). 10 . Setiabudhi 229 Bandung 40154 Telp & Fax: (022) 2000579 : harry. The British Council Indonesia. Pusat Penilaian Pendidikan. Columbus Ohio (1994). Tanjung 3 Malim. Telp (022) 2500271. Science Education (6 months). Bandung. Cell-phone 08122030864 Kantor: Ruang S-110 FPMIPA. M. School of Education. Journal of International Cooperation in Education. Pusat Pengembangan Kurikulum dan Sarana Pendidikan. Hiroshima University (Agustus – Desember 2006) Anggota Tim Studi PISA. Balitbang Depdiknas (2007) D. Malaysia Gelar S1 S2 Tahun Lulus 1977 1983 Bidang Studi Pendidikan Kimia Pendidikan Sains S3 2013 Pendidikan Kimia B. Science Education (2 months). University of Houston. College of Education. P4TK IPA. 2007). Hiroshima University Center for the Study of International Cooperation in Education.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Universitas Pendidikan Indonesia Jalan Dr. Harry Firman. Balitbang Depdibud (1991-1993).com A. Jakarta. SEAMEO-RECSAM. C. 1(2008) pp 71-84.firman@hotmail. Universitas Pendidikan Indonesia (2000-2004) Anggota Tim Pengembang Instrumen Sertifikasi Guru. 11 No. Professional Training for Higher Education Teaching Staff and Trainers (1 week). Ditjen Dikti (2006). (1999). : 8 Oktober 1952 : Rumah: Jalan Titimplik 64 Bandung 40133 Indonesia. Anggota Tim Pengembanga GBPP Mata Pelajaran Kimia Kurikulum 1994. 11 September 2014 CURRICULUM VITAE Nama Tgl. Lahir Alamat E-mail : Dr.

11 September 2014 Peta Penelitian Pendidikan Kimia (Lokakarya Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru Kimia. Universitas Negeri Yogyakarta. dipresentasikan dalam International Seminar on Science. Laporan Penelitian: Analisis Capaian Siswa Indonesia dalam Studi PISA Nasional (Sponsor: Pusat Penilaian Pendidikan. Perak. Alignment between National Curriculum Content and National Examination Test – Secondary School Chemistry (Penelitian Mandiri. FPMIPA UPI. 25-27 November 2008). September 2013) Aktivitas Profesi: Anggota Hipunan Kimia Indonesia (HKI) cabang Jawa Barat (1980 – sekarang). Bandung 2008). dipresentasikan dalam UPI-UPSI Conference. 2007). malaysia. Universiti Pendidikan Indonesia. May 18-21.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Anggota Himpunan Sarjana Pendidikan IPA (HISPIPAI) (1995. 2014. Bandung. Mengukuhkan Dampak Positif dan Mengurangi Dampak Negatif Ujian nasional dalam Konteks Mata pelajaran Kimia SMA (Penelitian Mandiri. Konsepsi Mahasiswa Calon Guru Kimia tentang Pengajaran Kimia di SMA (Penelitian Mandiri. of Mathematics and Science 2014 (ICRIEMS 2014). dipresentasikan dalam UPI-UPSI Conference.sekarang) 11 . Balitbang Depdiknas. Jurusan Pendidikan Kimia UPI. Universiti Pendidikan Sultan Idris. International Conference on Research. Framework for Staff and Student Research on Chemistry Education. 8-10 November 2010). Math dan Computer Education. Implementation. and Education.

Peserta seminar yang terhormat. penerapan pembelajaran modern yang mengintegrasikan TIK tersebut memerlukan pemahaman yang utuh dan kreatifitas dalam merancang pembelajaran yang tidak hanya efektif dan efisien tapi juga meanrik dan menantang. 11 September 2014 Keynote Speaker 2 PEMBELAJARAN SAINTIFIK YANG MENGINTEGRASIKAN TIK Uwes Anis Chaeruman Pustekkom. Dalam pidato kunci yang singkat ini. saya ingin mencoba mengajak peserta seminar mencermati beberapa point kunci dalam konteks pembelajaran modern berpendekatan saintifik dan mengintegrasikan TIK. Kemudian guru meminta salah seorang siswa untuk menerjang menembus setiap keompok tersebut secara bergantian. masuknya pengaruh teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan warna baru dalam praktek penerapan pembelajaran modern. Pembelajaran. guru membagi siswa kedalam tiga kelompok besar dan mengajaknya keluar ruangan kelas. daripada hanya sekedar pendengar aktif. jika diterapkan secara tetap guna. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut. memiliki semangat pembelajaran moder yang lebih menekankan pada pengalaman belajar sebagai peserta aktif. Kasus Ilustratif #2: 12 .anis@kemdikbud.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. mengkomunikasikan). Untuk menjawab permasalahan tersebut mari kita kaji empat contoh kasus ilustratif berikut. Kelompok 2 diminta berpegangan tapi tidak erat. sebagai upaya membuat peserta belajar mengalami peristiwa belajar yang mendalam telah menajdi obyek penelitian. mendorong peserta belajar untuk menjadi pemain utama dalam situasi pembelajaran. Di lapangan yang teduh. Kelompok dua adalah ibarat zat cair dimana molekulnya tidak bergitu rapat sehingga relative lebih mudah ditembus. Seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Kemdikbud uwes. dimana molekul-molekulnya tidak rapat. Kelompok 3 diminta berkumpul tanpa berpegangan sama sekali. yang dikenal dengan istilah 5M (mengamati.id Peserta seminar yang berbahagia. Di sisi lain. Melalui kasus-kasus ini saya mengajak Anda untuk dapat membedakan dari sekian kasus tersebut. pengembangan dan penerapannya di lapangan. akan memberikan dampak yang sebaliknya. Kurikulum 2013. Setelah diskusi. meneksperimentasi. menanya. kemudian guru meminta setiap kelompok untuk mengambil apa saja yang ada disekitar lapangan sekolah tersebut dan dikumpulkan di lapangan. guru meminta semua siswa duduk berkumpul diatas rumput dan mendiskusikan apa yang terjadi. guru meminta kelompok 1 untuk berpegangan erat-erat sekali satu sama lain. paradigma pembelajaran telah bergeser dari pembelajaran yang tradisional yang dicirikan dengan istilah pembelajaran yang berorientasi pada guru (teacher-centered instruction) ke pembelajaran modern yang lebih berorientasi pada siswa (student-centered center). zat cair dan gas kepada siswanya. cair dan gas. Melalui pendekatan saintifik. Jika tidak. Disitulah dijelaskan bahwa kelompok satu ibarat zat padat dimana molekulnya begitu rapat sehingga susah ditembus alias keras. manakah yang termasuk dalam kategori pembelajaran modern? Kasus Ilustratif #1: Seorang guru SD kelas III. Kemudian. mengasosiasi.go. Setelah itu. TIK memberikan peluang sekaligus tantangan yang besar guna mewujudkan terjadinya proses pembelajaran yang optimal pada diri peserta belajar. kemudian guru meminta setiap kelompok untuk dapat mengelompokkan mana yang termasuk kategori padat. Dan kelompok tiga ibarat gas. siswa diminta mempresentasikannya atau menceritakannya didalam kelas hasil dari klasifikasi tersebut dilanjutkan dengan diskusi dan klarifikasi. Setelah semua terkumpul. Dalam prakteknya. ingin mengajarkan tentang perbedaan zat padat.

kemudian dilanjutkan dengan diskusi dan klarifikasi dari guru. Dari keempat kasus ilustratif tersebut. Setelah diskusi. siswa menjadi PEMAIN UTAMA sementara guru menjadi SUTERADARA. dan lain-lain. Pembelajaran diakhiri dengan diskusi dan tanya jawab dan tugas kelompok sebagai pekerjaan rumah. ingin mengajarkan tentang perbedaan zat padat. Salah satu siswa anggota dari masing-masing kelompok diminta memperesentasikan hasilnya dan dilanjutkan dengan diskusi. Kita akan praktekkan seperti kasus ilustratif 1. Tapi. Kasus ilustratif #1 saya katakana termasuk dalam kategori pembelajaran MODERN WALAU DENGAN TEKNOLOGI SEADANYA. guru meminta kelompok 1 untuk berpegangan erat-erat sekali satu sama lain. Guru kemudian membuat slide presentasi tentang penciptaan alam semesta. Itulah pembelajaran “KUNO”. Ketika dalam suatu situasi pembelajaran. seorng guru ingin mengajarkan tentang teori penciptaan alam semesta. Kasus ilustratif #2 dan #3 adalah pembelajaran MODERN DENGAN TEKNOLOGI MODERN. yang menguasai gambar dengan gabar. Di lapangan yang teduh. Setiap kelompok masing-masing diberikan satu bacaan tentang satu teori penciptaan alam semesta. siswa diminta mempresentasikannya atau menceritakannya didalam kelas hasil dari klasifikasi tersebut. maka dapat dikatakan pembelajaran tersebut adalah pembelajaran yang berpusat pada guru. Mengapa demikian? Sebenarnya apa yang membedakan antara pembelajaran modern dan pembelajaran “kuno”? Jawabnya sederhana. Itulah yang dimaksud dengan pembelajaran MODERN. Yang menguasai slide presentasi dengan slide presentasi. guru meminta semua siswa duduk berkumpul diatas rumput dan mendiskusikan apa yang terjadi. ingin mengajarkan tentang teori penciptaan alam semesta. Bahkan bagi yang bisa menyanyi dapat menyajikannya dalam bentuk lagu. Kemudian guru meminta salah seorang siswa untuk menerjang menembus setiap keompok tersebut secara bergantian. Kemudian. 13 . guru membagi siswa kedalam tiga kelompok besar dan mengajaknya keluar ruangan kelas. diproyeksikan dengan menggunakan overhead projector dan siswa menjadi pendengar setia.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. maka dapat dikatakan bahwa pembelajaran tersebut sebagai pembelajaran yang berpusat pada siswa. kasus mana yang akan Anda pilih? Tentu. zat cair dan gas kepada siswanya. pada dasarnya manakah yang termasuk dalam kategori pembelajaran modern? Inilah jawabnya! Kasus ilustratif #4 saya katakan termasuk dalam kategori pembelajaran KUNO DENGAN TEKNOLOGI MODERN. Peserta seminar sekalian. Kemudian ketika masuk dalam kelas. Kelompok dua adalah ibarat zat cair dimana molekulnya tidak bergitu rapat sehingga relative lebih mudah ditembus. Masing-masing kelompok diminta untuk mengkaji dan menyajikan ulang dengan media dan aplikasi TIK yang mereka kuasai tentang teori tersebut. cair dan gas dalam bentuk folderisasi dalam komputer. Setelah itu. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Dan kelompok tiga ibarat gas. kemudian guru meminta setiap kelompok untuk membawa Handphone masing-masing dan memotret apa saja yang bisa dipotret dengan kamera HP. Setelah semua terkumpul. Disitulah dijelaskan bahwa kelompok satu ibarat zat padat dimana molekulnya begitu rapat sehingga susah ditembus alias keras. 11 September 2014 Seorang guru SD kelas III. Kasus Ilustratif #3: Seorang guru SM. Untuk mencapai tujuan pembelajaran tersebut. Setelah itu guru mengajak kedalam kelas dan duduk berkelompok. guru langsung mengajar dengan menggunakan slide prsentasi tersebut. kita akan tinggalkan kasus ilustratif #4. Kelompok 3 diminta berkumpul tanpa berpegangan sama sekali. Kelompok 2 diminta berpegangan tapi tidak erat. 2 dan 3. dia berhasil membuat sebanyak 54 slide prsentasi. Kasus Ilustratif #4: Sama seperti kasus #3. guru membagi siswa kedalam tiga kelompok besar. siswa menjadi PENONTON UTAMA sementara guru menjadi PEMAIN UTAMA. Sebagai guru atau calon guru. kemudian guru meminta setiap kelompok untuk dapat mengelompokkan mana yang termasuk kategori padat. ketika dalam suatu situasi pembelajarab. Pelajaran kemudian diakhiri dengan memberikan kesimpulan bersama dan tugas kelompok berupa proyek tertentu. dimana molekul-molekulnya tidak rapat. Katakan.

menurut PBB adalah membangun masyarakat berpengetahuan (knowledge-based society) yang memiliki (1) keterampilan melek TIK dan media (ICT and media literacy skills). pada kasus #2 dan #3. jika Anda menjadi guru atau telah menjadi guru. Saudara-Saudara sekalian yang saya hormati. Inilah yang dimaksud dengan mengintegrasikan TIK untuk pembelajaran. ”Apakah TIK di sekolah telah dijadikan sebagai sarana untuk pembelajaran atau masih dijadikan sebagai obyek yang dipelajari?” atau ”Apakah siswa sudah belajar dengan TIK atau siswa masih belajar tentang TIK?” Apa jawaban jujur Anda? Pasti. berapa banyak waktu yang tersita oleh kita untuk mengajar dibandingkan dengan waktu yang tersita oleh siswa mengalami aktifitas belajar? Peserta seminar yang saya hormati. Dalam konteks ini guru harus lebih berperan sebagai fasilitator dan sutradara pembelajaran. siswa juga belajar dengan menggunakan atau melalui TIK (learning with and or through ICT). Jika. bukan tujuan itu sendiri. TIK dijadikan sebagai sarana untuk mencapai tujuan. dan (5) keterampilan bekerjasama secara kolaboratif (collaborative skills).Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Seperti yang disampaikan oleh Driscoll (2004) menyatakan bahwa esensi belajar adalah MENGALAMI. dimana ia berperan sebagai satusatunya sumber informasi dan sumber segala 14 . Oleh karena itu. #2 dan #3 terlihat jelas bahwa peristiwa mengalami pada diri siswa memiliki porsi yang lebih besar dibandingkan dengan pada kasus ilustratif #4. tapi juga proses mengalami tersebut ditunjang oleh teknologi informasi dan komunikasi yang relevan. Jadi. pengintegrasian TIK dalam proses pembelajaran hanya bertujuan untuk mempermudah guru menyampaikan materi. Tujuannya adalah untuk meningkatkan derajat mengalami atau peristiwa belajar pada diri siswa. jangan pikirkan materi apa yang akan saya pelajari. Mengapa pembelajaran yang mengintegrasikan TIK penting? Tantangan pendidikan abad 21. pelatih. Belajar terjadi ketika ada interaksi antara yang belajar dengan dunia (sumber belajar). kolaborator. Anda menjawab bahwa TIK di sekolah masih dijadikan sebagai obyek yang dipelajari atau siswa masih diposisikan sebagai orang yang sedang belajar TIK. coba perhatikan beberapa hal berikut: 1. pertimbangkan. bukan mengajar dengan teknologi (sebagai ciri pembelajaran kuno tapi berteknologi modern) seperti pada kasus ilustratif #4. Dalam kasus ilustratif #1. maka pengintegrasian TIK dalam proses pembelajaran seharusnya memungkinkan dirinya untuk: 1. Jika Anda diberikan suatu pertanyaan. Oleh karena itu. 2. tidak hanya menekankan pada proses mengalami. dimana siswa sebagai pemain utama dalam “sinetron pembelajaran” tersebut. (3) keterampilan memecahkan masalah (problemsolving skills). 11 September 2014 Saudara-saudara sekalian. Semakin mengalami maka semakin tinggi derajat peristiwa belajar terjadi. dalam semangat kurikulum 2013 menekankan pada pendekatan sainitifik yang kita kenal dengan istilah 5M (mengamati. sesungguhnya peran TIK adalah sebagai “enabler” atau alat untuk memungkinkan terjadinya proses pembelajaran yang efektif dan efisien serta menyenangkan. Bagaimanakah peran guru dan siswa dalam pembelajaran yang mengintegrasikan TIK? Bila dilihat dari sisi peran TIK bagi guru. menjadi fasilitator. menanya dan mengkomunikasikan). apa yang seharusnya terjadi adalah sambil belajar tentang TIK (learning about ICT). menalar. Keempat karakteristik masyarakat abad 21 menurut PBB tersebut dapat dibangun melalui pengintegrasian TIK dalam proses pembelajaran. (2) keterampilan berpikir kritis (critical thinking skills). mentor. Ketika akan mengajar. pengarah dan teman belajar. Bahkan. pikirkan aktivitas belajar (pengalaman belajar) seperti apa yang harus terjadi pada diri siswa untuk dapat menguasai materi tersebut. Karena dalam kasus tersebut telah menunjukkan peristiwa belajar dengan teknologi (sebagai ciri pembelajaran modern). (4) keterampilan berkomunikasi efektif (effective communication skills). Tapi. 2. mencoba/mengeksperimentasi. Dalam konteks pendidikan. Selama tiap dua jam pelajaran atau satu semester. Padahal. dapat memberikan pilihan dan tanggung jawab yang besar kepada siswa untuk mengalami peristiwa belajar.

visual. (adaptasi dari Division of Higher Education. Esensi belajar terjadi karena peristiwa mengalami. saran atau pengalaman. memungkinkan siswa dalam suatu kelompok atau komunitas yang saling bekerjasama. Jika pemanfaatan TIK dalam pembelajaran masih membuat siswa tetap pasif. Aktif. Multisensory. 3. (adaptasi dari Division of Higher Education. Sementara itu. Oleh karena itu. maka sia-sialah teknologi tersebut diiintegrasikan dalam proses pembelajaran yang kita lakukan.” bukan KEMAMPUAN UNTUK . memungkinkan siswa dapat terlibat aktif oleh adanya proses belajar yang menarik dan bermakna. baik audio. 3. Sebagai kesimpulan. UNESCO. maka siswasiswi kita nanti hanya akan memiliki ”PENGETAHUAN TENTANG . Dialogis. maka lima keterampilan masyarakat abad 21 yang dicanangkan PBB seperti dijelaskan di atas tidak akan berhasil. 11 September 2014 jawaban.) serta secara tidak langsung juga meningkatkan ”ICT & media literacy” (Fryer. 9. bila dilihat dari sisi peran TIK bagi siswa. sang maha tahu.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. memungkinkan siswa dapat menggabungkan ide-ide baru kedalam pengetahuan yang telah dimiliki sebelumnya untuk memahami makna atau keinginan tahuan dan keraguan yang selama ini ada dalam benaknya. 2002) Jadi. jika itu yang terjadi. (2001)). menasehati dan memberi masukan untuk sesama anggota kelompoknya. pengambilan keputusan. Percayalah. High order thinking skills training. seperti guru mengajar dengan menggunakan slide presentasi dimana yang masih dominan adalah dirinya. mereproduksi pengetahuan (sekedar menghafal). 5. fasilitator. Tanpa mengalami tidak ada peristiwa belajar. secara teoretis. Demikianlah point-point kunci yang dapat saya sampaikan dalam pidato kunci ini. menghasilkan dan berbagi (sharing) pengetahuan/keterampilan sert berpartisipasi sebanyak mungkin sebagaimana layaknya seorang ahli. memungkinkan pembelajaran dapat disampaikan untuk berbagai modalitas belajar (multisensory)... menjadi partisipan aktif.. 2... 2002). 4. Antusiastik. memungkinkan siswa dapat secara aktif dan antusias berusaha untuk mencapai tujuan yang diinginkan. guru harus mampu mendesain pembelajaran atau menyusun rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) yang mencirikan paradgma baru pembelajaran seperti dijelaskan di atas dengan mengintegrasikan TIK sebagai sarananya. integrasi TIK dalam pembelajaran yang sesungguhnya harus memungkinkan terjadinya proses belajar yang: 1.. Semakin rendah kadar mengalami semakin rendah kadar peristiwa belajar terjadi. Bukan sebagai pencekok informasi dan satu-satunya sumber belajar. maka pengintegrasian TIK dalam proses pembelajaran harus memungkinkan siswa: 1. Reflektif. Konstruktif. sebagai mana halnya juga kolaboratif dengan siswa lain. Disinilah letak perbedaan antara guru abad 21 dengan guru tradisional.”. pelatih dan manajer pembelajaran. (Jonassen (1995).. 6. 7. 15 . dll. Kita sebagai guru abad 21 guru yang telah menggeser paradigma pembelajaran dari pembelajaran yang berpusat pada guru (teacher-centered learning) menuju pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered learning) dimana ia lebih berperan sebagai desainer pembelajaran. saya hanya ingin menekankan empat point sebagai berikut: 1. memungkinkan untuk melatih kemampuan berpikir tingkat tinggi (seperti problem solving. Kolaboratif. dikutip oleh Norton et al. 2. 2000). memungkinkan proses belajar secara inherent merupakan suatu proses sosial dan dialogis dimana siswa memperoleh keuntungan dari proses komunikasi tersebut baik di dalam maupun luar sekolah. UNESCO. 8. Saudara-saudara sekalian. Kontekstual. maupun kinestetik (dePorter et al. berbagi ide. memungkinkan siswa dapat menyadari apa yang telah ia pelajari serta merenungkan apa yang telah dipelajarinya sebagai bagian dari proses belajar itu sendiri. belajar secara individu. memungkinkan situasi belajar diarahkan pada proses belajar yang bermakna (real-world) melalui pendekatan ”problem-based atau casebased learning”. 2001).

Boston. Jeanette. Pshycology of Learning for Instruction (third Edition).wtvi. Fryer. peristiwa mengalami tersebut dapat ditunjang dengan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) yang tepat guna. 2002. kurikulum 2013 lebih mendorong kita untuk berpindah dari paradigma lama belajar yang berorientasi pada siswa menjadi belajar yang berorientasi pada siswa aktif(pembelajaran modern). menanya dan mengkomunikaiskan). Technology for Teaching.com/teks/integrate/tcea2001/powerpointoutline. USA. http://www. Integrasi TIK dalam proses pembelajaran sangat penting guna mendorong terbangunnya karakter generasi abad 21 seperti kemampuan berpikir kritis. UNESCO Institute for Information Technologies in Education. Moscow. Boston. 16 . Strategy for effective Elementary http://www. 1999. Marcy P. bekerja kolaboratif. Voss. the Learning Web. General Typology http://www. Information and Communication Technologies in Teacher Education: a Planning Guide. of Teaching Strategies in Technology Integrated Integration.microlessons. Itulah sebabnya. UNESCO. DAFTAR PUSTAKA Driscoll. Dalam implementasinya. 11 September 2014 2. Torrence. Division of Higher Education. Gordon. memecahkan masalah. 2004. mencoba/mengeksperimentasi. Oleh karena itu. High-Level Seminar for Decision Makers and Policy-Makers.net. 2002.com. The Learning Revolution: to Change the Way the World Learn. penting sekali untuk mengintegrasikan TIK dalam proses pembelajaran. 4.USA: Allyn and Bacon Dryden.thelearningweb. 2001. Dalam era informasi dewasa ini. 3. Wesley A. 2001. Spargue D. komunikasi efektif dan melek teknologi dan informasi. mengasosiasi.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Norton P.pdf NIE. Learning System. juga lebih menekankan pada pendekatan saintifik (mengamati. Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan derajat peristiwa belajar terjadi pada diri siswa. Singapore. Toward Policies for Integrating ICTs into Education. USA: Allyn and Bacon.

WORKING EXPERIENCES Year Position` 1998-2000 Lecturer Assistant at the Department of Educational Technology. the State University of Jakarta 2000-now Lecturer at the Department of Educational Technology.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. 11 March 1974 : Indonesia : Male : Moslem : Married : Kompleks Lembah Pinus Sasmita Jaya Blok B3 No 4 RT 05 RW 24. Pamulnag Barat. providing technical assistance Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Department of Educational Technology. the State University of Jakarta 2007-now Lecturer at the Post--‐Graduate Program. EDUCATIONAL BACKGROUND Year 2010 Studying doctoral degree (on progress) in educational technology at the State University of Jakarta 2006 Graduated master degree in educational technology at the State University of Jakarta 1999 Graduated bachelor degree in deucational technology at the State University of Jakarta B. 2013-now consultant (coffey international foundation). Banten 2008-2010 Educational research board member on the application of information and communication technology for the Ministry of National Education expert staff 2008-now Educational consultant for Balai Balai Tekkom Pendidikan. State University of Sultan Ageng Tirtayasa. Tangerang Selatan : 0812 9092 451 : uweschaeruman@gmail. Date of Birth Nationality Sex Religion Marital Status Address Mobile Phone Email : Uwes Anis Chaeruman : Rangkasbitung. assisting providing technical assistance the Center of Health and Medical Training and Education. Minsitry of Health joint cooperation with AusAID. Minsitry of Health. providing technical assistance for the Center of Religious Affairs Training and Education. Department of Educational Technology.com A. 11 September 2014 CURRICULUM VITAE Name Place. providing technical assistance in the project of distance education development for Politeknik Kesehatan Kemenkes Kupang. Province of Banten 2008-2009 Educational consultant. 2011-2012 Educational consultant. Kec. in developing online training system. Ministry of Religious Affairs in developing distance training thorugh e--‐learning system (online training system) 2009-now Educational consultant. Joint Cooperation with USAID and Manajemen Sistem Informasi (MSI) in developing e--‐Learning media. Islamic University of Assyafi’iyah Jakarta 2007-now Lecturer at the Post--‐Graduate Program. Pamulang. Kel. 17 .

ini “Mozaik Teknologi Pendidikan”. Dec. 11 September 2014 C. South Korea (Sept. Solo. Paper titled: Implementing Blended Learning in Higher Education: A Case--‐based Sharing Experience Seminar Speaker in the event of “Festival e--‐Pendidikan” in 10 Towns around Indonesia. the Center of Finance Audit. Topic: Implementing Blended Learning in Higher Education: A Case--‐based Sharing Experience. Bogor and Pontianak. 2013. 2006 Educational Model with Independent Learning System. 18 . Directorate of Secondary Education. 2007. Ministry of Finance (September. D. 2006 Instructional Design for Development of Instructional Software. Topic: “Integrating ICT into Teaching and Learning” ((August – October 2010) Speaker on the Training of e--‐Learning for the State University of Semarang Lecturers. PUBLICATIONS “e--‐Learning dan Pendidikan Jarak Jauh”. 2009 The Application of Distcance Education System in Primary and Secondary Education. Jakarta. Training Module.net. Topic: “Designing Effective Blended Learning Strategy” (Sept 2010) Participant of APEC e--‐Learning Training Program. 2008 Other publication can be seen at http://teknologipendidikan. Seoul and Busan. 2006. Pustekkom. Microsoft Indonesia. Jurnal Teknodik. Prenada. Universitas Terbuka. Australia. Melbourne.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. in the Development of Instructional Software. LAST FIVE YEARS PARTICIPATION IN TRAINING/SEMINAR/WORKSHOP Trainer and Facilitator in the Training of Trainer Conducted by the Center of ICT for Education. the State University of Sebelas Maret . st Partcipant of the 21 Century Education Leadership conducted by Partner in Learning Program. Instructional Strategy that Integrate ICT. Pustekkom. Jakarta June. Singapore. 2011. 2012. since 2004 – now Speaker and participant in International Symposium on e--‐Learning. Ministry of National Education. 2009) Judge Board Member of e--‐Learning Award (2006 – 2009) National Judge Member of Indonesia ICT Award (INAICTA) conducted by Ministry of Communication and Information (2007 – 2011) Speaker and active participant in regular annual National Seminar of Educational Technology. Topic: “Developing ICT--‐integrated Lesson Plan” National Seminar Speaker in the 21th Anniversary of Educational Technology Postgraduate Program. Body of Financial Audit. (November 2011) Instructor and facilitator in the training of assessment and test development. 2011) Speaker and participant of International Seminar of Educational Technology conducted by the State University of Jakarta.

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 11 September 2014

Keynote Speaker 3
KIAT MENULIS DAN MEMPUBLIKASIKAN KARYA ILMIAH
Ely Djulia
Jurusan Pendidikan Biologi, FMIPA Universitas Negeri Medan
djulia247@gmail.com

PENDAHULUAN
Mempublikasikan hasil penelitian dalam bidang studi apapun merupakan hal yang mutlak diperlukan di
dunia Pendidikan . Karena melalui publikasilah baik secara lisan maupun tulisan, berbagai temuan dan
inovasi dapat disebarluaskan kepada para pembaca di seluruh dunia, direview, diamplikasikan, serta diteliti
lebih dalam oleh para peneliti berikutnya. Maka khasanah ilmupun menjadi bertambah dan berkembang.
Publikasi secara lisan dapat kita simak melalui berbagai kegiatan seminar baik nasional, regional,
maupun internasional. Melalui kegiatan seminar para peserta bisa menyimak paparan hasil penelitian secara
langsung dari penelitinya, berdialog, tanya jawab, berdiskusi tentang penelitian yang sedang atau akan
dilakukan, bahkan merencanakan penelitian bersama. Namun publikasi secara lisan ini hanya dapat diikuti
oleh kalangan tertentu, jumlah orang tertentu, dan waktu tertentu. Ada cara lain untuk mengatasi kendala
publikasi lisan ini yaitu publikasi secara tertulis.
Publikasi tertulis ini sangat penting dan strategis karena bisa ditelaah oleh para pembaca di seluruh
dunia, dengan jumlah yang tak terbatas dibanding dengan komunikasi lisan dalam bentuk pertemuan ilmiah.
Walaupun demikian publikasi ilmiah dari para penulis Indonesia hingga saat ini masih minim dibanding
negara-negara lain. Untuk itu diperlukan upaya yang terprogram, secara bertahap dan berkelanjutan oleh para
dosen, para guru, para mahasiswa agar dapat menghidupkan publikasi ilmiah di segala bidang termasuk dunia
pendidikan. Kemampuan menulis karya ilmiah ini memerlukan kemampuan berbahasa yang lugas, berpikir
sistematis, penguasaan bidang studi, gaya bahasa yang mudah dipahami pembaca, serta yang terpenting
adalah menginspirasi pembaca. Untuk itu maka makalah ini akan mengenalkan beberapa bentuk manuskrip,
penggunaan gramatika, pengenalan umum struktur karya ilmiah, serta cara submit pada Journal internasional.
TIPE TIPE MANUSKRIP
Jika kita menelaah isi sebuah Journal Internasional, maka ada beberapa tipe manuskrip sebagai berikut:
1. Research Paper
Kategori ini merupakan paper yang melaporkan berbagai tipe penelitian yang sudah dilakukan oleh
penulisnya, bisa individual maupun group. Penelitian ini meliputi pengujian model atau kerangka kerja,
action research, pengujian data, survey empiris, saintifik, atau penelitian klinis.
2. Viewpoint
Kategori ini merupakan paper yang isinya berdasarkan pada opini dan interpretasi penulis termasuk
studi jurnalistik
3. Conceptual Paper
Kategori ini tidak berdasarkan hasil penelitian, tetapi merupakan pengembangan hipotesis, diskusi teori
baik secara filosofis, studi komparatif tentang suatu kegiatan atau pemikiran.
4. Technical Paper
Paper ini memaparkan dan mengevaluasi berbagai produk, proses, atau layanan teknis
5. Literatur Review
Diharapkan semua paper merujuk pada setiap literature relevan, kategori paper ini digunakan hanya jika
tujuan utama paper untuk merujuk atau mengkritik literature tentang bidang tertentu. Bisa jadi berupa
bibliografi yang memberikan masukan tentang sumber informasi secara komprehensif yang bertujuan
untuk mengembangkan suatu topic tertentu dan mengeksplorasi padangan-pandangan yang berbeda.
6. General Review
Kategori ini memuat paper yang memberikan overview atau pengujian historis tentang konsep, teknik
atau fenomena. Paper sifatnya lebih deskriptif atau instruksional (How to).
KOMPONEN PAPER
Berikut Ini dipaparkan komponen-komponen paper beserta karakteristik sebagaimana lazimnya pada
Journal Internasional yaitu:

19

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 11 September 2014

1.

2.

3.

4.

5.

6.

Title & Affiliations
Normalnya kurang dari 12 kata. Jelas, singkat dan tajam, merupakan frase yang mendeskripsikan atau
merefleksikan isi paper. Tertulis nama penulis beserta afiliasinya, serta korespondennya (No. HP, email,
fax, alamat lengkap). Nama harus konsisten. Padat dan informative karena judul paper sering digunakan
didalam system penggalian informasi. Hindari singkatan nama.
Abstract
Abstrak terdiri dari 100-200 kata, terkadang maksimum 250 kata, informative dan bersifat selfexplanatory. Menyajikan topic secara jelas dan singkat terdiri dari pengantar, tujuan, metodologi,
temuan, kesimpulan, implikasi, serta rekomendasi. Kalimat harus lengkap menggunakan passive verbs,
past tense, tidak usah menyebutkan kata ganti orang ketiga (dia), tidak ada singkatan. Tidak ada kutipan
didalam abstrak, karena abstrak Anda merupakan ringkasan dari hasil kerja atau penelitian Anda
sendiri.
Keywords
Biasanya 3-8 kata, lebih dianjurkan 5 kata. Kata kunci ini berguna untuk indeks atau referensi, untuk
pencarian di data base, namun tidak harus menyebutkan semua kata yang tertera pada judul. Beberapa
jurnal terutama yang submitnya melalui Scholar One Manuscript Central sudah mengkhususkan katakata kunci pada bidang kajian yang dipilih.
Introduction
Pendahuluan perlu mencermati berbagai hal berikut ini:
a. Normalnya berisi 1-1,5 halaman, kecuali paper bidang management bisa lebih dari itu.
b. Pendahuluan harus memuat pernyataan yang jelas tentang masalah, literature yang relevan tentang
bidang tertentu, serta pendekatan atau solusi yang diajukan saat ini.
c. Berbagai overview atau latar belakang tentang mengapa paper ini ditulis merupakan hal yang sangat
penting meliputi definisi istilah-istilah yang relevan, review literature, hipotesis, serta bagaimana
paper ini berbeda dari kajian-kajian atau paper lain pada topic tersebut.
d. Pendahuluan juga menyampaikan berbagai pandangan tentang masalah terdahulu dan masalah
terkini. Semua yang dipaparkan itu harus dapat dipahami para kolega minimal yang memiliki
disiplin ilmu yang sama.
e. Pendahuluan perlu merujuk 10-15 referensi pada 1-3 tahun terakhir dari waktu sumbit paper.
Misalnya jika kita submit paper tahun 2014, maka perlu merujuk pada referensi hasil penelitian
yang relevan dari Journal-journal yang terbit tahun 2013, 2012, 2011 meskipun penelitian Anda
telah dilakukan 5 tahun yang lalu.
f. Pendahuluan perlu berisi pertanyaan penelitian, serta garis besar tentang bagaimana kajian Anda
menambah atau mengisi gap.
g. Tujuan penelitian harus disampaikan pada bagian akhir paragraph pendahuluan.
Methods & Materials
a. Bagian ini tidak ada batasan halaman.
b. Metode penelitian harus dipaparkan secara lengkap tentang bagaimana eksperimen itu direplikasi
atau dilakukan.
c. Setiap prosedur baru harus dideskripsikan secara rinci. Prosedur yang sudah dipublikasikan
sebelumnya harus dirujuk, modifikasi-modifikasi penting dari prosedur yang sudah terpublikasi itu
harus disebutkan dengan jelas.
d. Sub judul perlu digunakan dan konsisten dengan metodologi yang digunakan.
e. Metode-metode yang digunakan secara umum atau yang sudah biasa, tidak perlu dideskripsikan
secara rinci. Perlu juga dijelaskan mengapa Anda memilih populasi dan sampel tersebut sebagai
partisipan.
f. Penelitian relevan lain harus disajikan secara memadai. Jelaskan juga mengapa Anda menggunakan
pertanyaan atau instrument tertentu ?. Jelaskan juga misalnya mengapa Anda menggunakan
pertanyaan Likert berskala 4 atau 5?
Results & Discussion
a. Kata kunci untuk bagian ini adalah jelas dan padat. Metodologi dipaparkan menggunakan kata kerja
past tense.
b. Jelaskan dan diskusikan mengapa Anda memperoleh begitu banyak data, begitu banyak referensi,
untuk perbandingan.
c. Data lebih baik ditampilkan dalam bentuk bentuk charta, grafik, daripada table. Semua gambar dan
table perlu dirujuk sedekat mungkin dengan isi teksnya.

20

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 11 September 2014

7.

8.

d. Kata kerja past tense digunakan ketika mendeskripsikan temuan dari hasil eksperimen penulis,
sedangkan temuan yang sudah dipublikasi sebelumnya harus ditulis dalam bentuk present tense.
Jelaskan data Anda, bandingkan dan diskusikan dengan literature terdahulu.
Conlusion
a. Bagian ini harus memenuhi tujuan penelitian, misalnya dua kesimpulan untuk dua tujuan penelitian,
termasuk bagaimana paper ini memperkaya penelitian di bidang studi Anda, apa keunikannya,
kontribusinya serta inovasinya.
b. Kesimpulan itu merujuk hanya pada penelitian yang telah Anda lakukan.
c. Redaksi kesimbulan tidak lebih dari sepertiga halaman, lebih disarankan berupa 1-2 paragraf.
d. Kesimpulan juga mengandung implikasi praktis terhadap ruang lingkup bidang studi Anda.
e. Kesimpulan juga memuat rekomendasi terhadap penelitian lanjutan yang harus diarahkan pada
berbagai perbaikan yang perlu dilakukan oleh peneliti berikutnya.
References
Setelah dipaparkan komponen manuskrip di atas, bagian yang tidak kalah pentingnya dan perlu
dicermati adalah bahwa tanggung jawab akurasi kutipan itu sepenuhnya berada pada PENULIS.

Kutipan dalam teks. Beberapa hal yang perlu dicermati berkaitan dengan kutipan pada teks adalah
sebagai berikut:
a. Kutiplah hasil penelitian Anda sendiri yang terdahulu dan relevan ketika menulis manuskrip untuk
disubmit ke Journal saat ini.
b. Pastikan bahwa setiap referensi yang dikutip didalam teks juga tertera didalam daftar referensi, dan
sebaliknya.
c. Hindari kutipan didalam abstrak
d. Hasil-hasil studi serta catatan komunikasi personal yang tidak terpublikasikan, tidak perlu dimasukkan
kedalam daftar referensi, tetapi bisa saja tersampaikan didalam teks
e. Kutipan referensi yang sedang “in press” mengimplikasikan bahwa referensi tersebut telah diterima
untuk publikasi.
f. Kutipan didalam teks harus mengikuti pola referensi yang digunakan oleh the American Psychological
Association (APA), Chicago atau Harvard
g. Anda dapat merujuk pada the Manual Publication of the American Psychological Association, Fifth
Edition,
ISBN
1-55798-790-4,
copies
of
which
may
be
ordered
from
http://www.apa.org/books/4200061.html or APA Order Dept., P.O.B.2710, Hyattsville, MD 20784,
USA or APA, 3 Henrietta Street, London, WC3E 8LU, UK
h. Rincian
mengenai
pola
reference
ini
juga
dapat
ditemukan
di
http://humanities.byu.edu/linguistics/Henrichsen/APA/APA01.html
i. Daftar Penulis. Referensi harus disusun secara alfabetis dan kronologis, apabila perlu diberi nomor.
Jika terdapat beberapa referensi dari satu nama yang sama pada tahun yang sama, maka perlu dituliskan
secara berurutan menggunakan huruf a, b, c dituliskan setelah tahun publikasinya. Jika terdapat lebih
dari 3 penulis pada satu referensi, maka gunakan et.al dan ditulis miring didalam teks, tetapi ditulis
penuh didalam daftar referensi
j. Kutipan dari Referensi Web. Kini referensi bukan hanya berasal dari buku atau Journal cetakan, tetapi
juga tersedia dari web. Referensi web dapat ditulis secara terpisah misalnya setelah daftar referensi
dengan diberi tanda berbeda, atau dapat juga dicantumkan didalam daftar referensi, bergantung pada
panduan Journalnya.
Demikian paparan singkat mengenai komponen manuscript, semoga bermanfaat bagi para akademisi,
para guru, para mahasiswa untuk membantu berlatih mengembangkan kemampuan menulis hasil
penelitiannya sehingga bisa dipublikasikan kedalam Journal baik nasional maupun Internasional.
Kemampuan mengkomunikasikan hasil karya ilmiah ini akan semakin meningkatkan kapasitas serta
profesionalisme sebagai pendidik agar dihasilkan generasi masa mendatang yang lebih bermutu.
DAFTAR PUSTAKA
Kamaruzaman J. 2012. Bahan Workshop Publikasi Internasional di UNIMED. Ecxellence in Higher
Education.Journal of Life Science Education

21

Konsepsi Siswa SMA tentang Fotosintesis. Pendidikan IPA. Penerapan Metode Bermain Peran pada 2007 Pembelajaran Biologi Struktur dan Fungsi Sel di SMAN 5 Binjai 2006 2004 1995 Studi Tentang Kesehatan Reproduksi Remaja di Sumut.DIKTI Ketua Peneliti TMPD .DIKTI PERAN Poster Presenter PUBLIKASI/SEMINAR The 5th International Conference on Science and Mathematics Education. Ely Djulia. Thesis Program Magister. Perencanaan dan Evaluasi Pembelajaran. UPI. M. Pendidikan IPA. C. . PUBLIKASI DAN SEMINAR TAHUN JUDUL PAPER / ARTIKEL The Effect of Using Various Power point in Junior Secondary Biology Classroom into 2013 Students Scientific Attitude and Students 22 Bidang Studi Pendidikan Biologi Pendidikan IPA Pendidikan IPA JABATAN Provincial Research Coordinator: Jambi Ketua Peneliti Ketua Peneliti SUMBER DANA ADB PUSKURBUK Florida State University Research Grant – PHKI Ketua Peneliti Teaching Grant – PHKI Ketua Peneliti DIKTI Anggota Peneliti Kementrian pemberdayaan Perempuan Ketua Peneliti TMPD . A-25 Jl Pembinaan Medan : 081320403008 : djulia247@gmail. Disertasi Program Pascasarjana.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. 11 September 2014 CURRICULUM VITAE Nama lengkap NIP Tempat Tgl Lahir Jenis Kelamin Pangkat/Gol Jabatan Bidang Keahlian Bidang lain yang ditekuni Unit Kerja Alamat Rumah Telepon/HP Email A. PENDIDIKAN NO Universitas/Institut 1 IKIP Bandung 2 IKIP Bandung 3 UPI – Bandung : Dr. UPI.com Gelar S1 S2 S3 Tahun Lulus 1989 1995 2005 B.Pd : 19660724 199103 2012 : Sumedang 24 Juli 1966 : Perempuan : Lektor Kepala / III/c : Staff Pengajar : Pendidikan Sains. PSGPA – Lemlit UNIMED Peran Budaya Lokal dalam Pendidikan Sains:: Studi Naturalistik tentang Pemerolehan sains Kelompok Siswa SMA Budaya Sunda tentang Fotosintesis dan Respirasi Tumbuhan pada Konteks Sekolah dan Lingkungan Pertanian. PENGALAMAN PENELITIAN TAHUN JUDUL PENELITIAN Analytical Capacity Development Partnership 2012-2013 (ACDP) – 10: Pendidikan Lingkungan Penelitian Tindakan Kelas di SDN 104242 2007-2009 Lubuk Pakam SUMUT Survey Baseline Danau Toba Sebagai Sumber 2009 Belajar Biologi di Sekolah Menengah Pengembangan Video Pembelajaran Untuk Meningkatkan Penguasaan Metode-Metode 2008 Pembelajaran Aktif pada Perkuliahan Strategi Belajar Mengajar Biologi. Strategi Pembelajaran. Seminar Pendidikan Biologi : Ekologi Tumbuhan. Pendidikan Berbasis Gender : FMIPA : Perum Bandar Setia Asri No.

Penulis. December Indigenous Science Network Bulletine (ISNB) . 2009. 15-17 November 2011 National Conference on Collaborative Action Research in Education. Singapore.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Bali International Research Conference for Globalization and Sustainability. Khairil Anwar. Ketua Peneliti dan Penulis Oral Presenter Penulis. Presenter 2008 Local Science Knowledge about Traditional Farming Constructed by Indonesian People and their Ecological Wisdom into Nature.10 (6). Edisi Maret 2013 The 4th International Conference in Bioscience and Biotechnology. Parapat Gultom. August 14-16. 2012. Universitas Terbuka collaborated with Florida State University. Presenter 2007 Green Revolution: Modern Technology vs Ecological Wisdom. Indonesia Asia Pasific Educational Research Association (APERA) Conference. 30 Sept -5 October 2013 . 11 September 2014 Achievement of Photosynthesis Salamah. Indigenous Science Network Bulletine (ISNB) Vol. UNIMAS Kuching Malaysia Journal Penelitian Pendidikan MIPA UPI. February 20-24. Iloilo City Philippines EHE Journal No 2 Winter Edition (2011): 90-96 The 4th International Conference on Science and Mathematics Education. Penulis. Roslin Siallagan. Syahmi Edi Peserta 2013 2013 Analisis Kompetensi Guru Biologi SMA yang Sudah Lulus Sertifikasi di Kota Medan Retnita Ernayani Lubis. Tangerang. Penang Malaysia. Inayah Hanum. 20-21 September 2012 Udayana University. 23 Penulis Penang Malaysia. Penulis 2006 The Natural Wisdom from Mountain Kendeng. November 2628. Taiwan. Presenter 2008 Biological Thinking Skills Promoted by Indonesian Senior High School Student on Teaching Learning Process of Plant Metabolism . Nurul Wardhani Lubis 2011 Developing Active Learning for Higher Education (ALFHE) Strategy in Indonesia Universities to improve Quality of Higher Education Achievement 2009 Improving Quality of Science Classroom in Elementary School through Implementation of Active Learning Strategy in North Sumatera. Tita Juwitaningsih. December 4-5. Kaohsiung. Hasruddin Tim Pembimbing dan Penulis 2012 Peserta 2012 Peserta 2011 Active Learning in Language Study and Science: Transforming Teacher Practice in North Sumatera’s Elementary Schools Ely Djulia. Ely Djulia. 2008 Conference of Asian Science Education (CASE 2008). Ely Djulia. 11-14 November 2013 ICASE Borneo World Conference on Science and Technology Education (WorldSTE) 2013. Abdul Hamid. DBE-2 USAID. 2008.

National Seminar. Penulis. Penulis. 2006 International Conference of Science and Mathematics Education (CosMED 2005). Malaysia. Presenter 2003 Virtual Class in Higher Education Biology Classroom by using internet. (ISNB) Vol. Presenter 2000 High School Students’conception of Photosynthesis. Presenter School and Community Science Evaluation as Alternative Strategy of Classroom-based Evaluation in Science Education. RECSAM. Penulis. June. Penulis 2003 The perspective of Positivism and Postmodernism about Science. National Seminar on The Role of Science and Mathematics Education. 2004 Visi Wacana. Penulis 2003 The Diversity of Oryza sativa” from community knowledge in West Java traditional community about local rice variety into genetic engineering rice variety to keep scientific and cultural values. National Seminar of Science Education.9 (3).9 (2). Presenter 24 Indigenous Science Network Bulletine. October Mimbar Pendidikan No. Penulis 2004 Paradigma Ekokultural Pendidikan Sains. (ISNB) Vol.12 JanuariApril 2003. Pajajaran University. 11 September 2014 Vol. Penulis 2006 Peran Budaya Lokal dalam Pemerolehan Sains. December.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Penulis 2005 A Naturalistic Study of Science Acquisition of Sundanese High School Students on Photosynthesis and Plant Respiration in The Context of School and Agricultural Environment.IX. Penulis. Solo. National Seminar of Science Education in cooperation with JICA. Indigenous Science Network Bulletine.8 (5). Indonesia University of Education in cooperation with JICA and Directorate General of Higher Education. Presenter 2003 2001 Proposition Generating Task (PGT): An Evaluation Analysis of learning metabolism in Senior Secondary School. 2006 A naturalistic study of Science Acquisition of Sundanese High School Students on Photosynthesis and Plant Respiration in the Context of School and Agricultural Environment (Abstract). Presenter 2005 Harvest Party Ceremony in Indonesian Traditional Community: Seren Taun Ceremony in Kampong Gede Kasepuhan Ciptagelar Sukabumi. and Indonesia University of Education . School of Mathematics and Science Education. National Seminar. April Mimbar Pendidikan No.2 Tahun XXIII. Indonesia University of Education. Indonesian Society for Plant Taxonomy. Penulis. Surakarta National University. Vol.No. Penang. Penulis. The Indonesian Society for Biology in cooperation with Bandung Institute of Technology.3 Tahun XX.

North Sumatera 2 3 4 7 8 9 10 Research Consultant. University Advisor Academy for Educational Development (AED). Sumatera Utara Nias Island. University Advisor Module Development Team (MDT). Sumatera Utara September 2012 – Maret 2014 Jakarta 2012 Bandung 2013 . USAID DBE-2.sekarang Juni 2011 – Februari 2014 March– July 2011 Sept 2008 – July 2010 UPI Bandung 2006-2007 2007 2003-2004 . Save the Children 11 Evaluation Task Force. Sumatera Utara April 2014 sekarang Medan. Sumatera Utara Medan. USAID – DBE-2 Medan. USAID PRIORITAS.Biologi SMA 25 TAHUN 1991 . Teacher Training Institute Development Specialist Education Development Center (EDC). PENGALAMAN PROFESIONAL NO PEKERJAAN Lecturer.Sekarang Medan. Pascasarjana UNIMED 5 Education Development Center (EDC).Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. USAID PRIORITAS. JICA IMSTEP. Lesson Study IPA SMP. USAID – DBE-2. Teacher Training Primary Reviewer Journal EDUSAIN UIN Syarif Hidayatullah Mitra Bestari Journal Pendidikan Dasar PGSD UPI 6 Koordinator Pendidikan Profesi Guru (PPG) UNIMED Education Development Center (EDC). 11 September 2014 D. Research Advisor 1 TEMPAT FMIPA. Sumatera Utara Medan.

Untuk mengoleksi data kelayakan courseware dilakukan dengan meminta mahasiswa mengisi instrumen yang sebelumnya telah mendapat penimbangan oleh pakar (expert judgment). 11 September 2014 ANALISIS KELAYAKAN COURSE-WARE UNTUK PERKULIAHAN FISIOLOGI HEWAN BAGI MAHASISWA CALON GURU BIOLOGI Adeng Slamet Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Sriwijaya. terutama golongan vertebrata (Tn. Hal ini dapat dilihat dari data hasil belajar yang diperoleh dari tahun akademik 2006/2007.64. Bandung Email: ijangrh@gmail. 2007/2008.Tuntutan kurikulum mata kuliah tersebut menghendaki agar mahasiswa mampu memahami konsep-konsep serta interelasi antara satu konsep dengan konsep lainnya dalam membangun fungsi organ tubuh pada berbagai kelompok hewan. Mahasiswa Calon Guru Biologi PENDAHULUAN Di Lembaga Pendidikan Tenaga Kependidikan (LPTK) untuk membekali kompetensi profesional bagi mahasiswa calon guru difasilitasi melalui mata kuliah keahlian. dapat dinyatakan bahwa kedudukan mata kuliah fisiologi hewan dalam stuktur kurikulum pada program studi pendidikan biologi menempati posisi strategis bagi upaya membekali kompetensi profesional calon guru biologi. apa penyebab hal itu bisa terjadi? Kalau ditelaah patut diduga. dimana perolehan rata-rata hasil belajar mahasiswa dalam penguasaan materi fisiologi hewan masih berada dalam kisaran sedang. di mana pemilihan lokasi maupun subjek dilakukan secara purposif. Berdasarkan hasil studi pendahuluan perkuliahan fisiologi hewan pada prodi pendidikan biologi FKIP Universitas Sriwijaya terungkap bahwa para mahasiswa dalam mengikuti proses perkuliahan fisiologi hewan tidak jarang menemui kesulitan dalam memahami materi subjek yang disajikan dosen. 2011). Dalam struktur kurikulum khususnya pada program studi pendidikan biologi.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Kalau ditinjau dari aspek tuntutan kurikulum sebagaimana dijelaskan di atas serta unsur muatan yang diajarkan dalam mata kuliah tersebut. 2010). Informasi dari hasil wawancara tersebut. tidak sulit untuk digunakan. 6. Dalam studi ini melibatkan 20 orang mahasiswa calon guru biologi angkatan 2012/2013 di program S1 Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (PMIPA) FKIP Universitas Sriwijaya.75. beberapa materi mendasari bagi pemahaman materi pada mata kuliah lain yang lebih lanjut. dan 2008/2009 secara berturut-turut adalah 6. Jika dibandingkan dengan target minimal hasil belajar yang ditetapkan untuk mata kuliah tersebut (70.com Abstrak Studi ini bertujuan untuk memperoleh kelayakan course-ware yang dikembangkan untuk perkuliahan fisiologi hewan yang difokuskan pada topik-topik sistem respirasi. Analisis dan pengolahan data dilakukan dengan statistik deskriptif. Kriteria kelayakan didasarkan atas tingkat keterbacaan. Hasil studi menunjukkan berdasarkan tanggapan mahasiswa tingkat keterbacaan dan operasi teknis course-ware yang dikembangkan. Email: slameta60@gmail. Demikian pula sajian course-ware yang dikembangkan memiliki daya tarik yang baik. Timbul pertanyaan. sistem sirkulasi. dan daya tarik. Kata Kunci : Course-ware.80.com Ijang Rohman Universitas Pendidikan Indonesia. tampaknya sesuai dengan data dokumentasi yang tersedia di program studi pendidikan biologi sebelumnya. Fisiologi Hewan. salah satu mata kuliah wajib yang harus ditempuh oleh mahasiswa calon guru biologi adalah fisiologi hewan. dan 6. ekskresi dan osmoregulasi dalam perkuliahan fisiologi hewan bagi mahasiswa calon guru biologi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa course-ware yang dikembangkan sudah lay`ak untuk kegiatan pembelajaran topik sistem respirasi.00) tentu rata-rata nilai yang dicapai belum sesuai dengan harapan. salah satu faktornya adalah kemungkinan ada hubungannya dengan kurang lancarnya komunikasi dalam konteks 26 . Metode dalam studi ini adalah metode deskriptif. sirkulasi. operasi teknis. sistem ekskresi dan osmoregulasi. Mengingat substansi materi yang dikaji dalam ruang lingkup mata kuliah tersebut memiliki jalinan fungsional dengan mata kuliah lain. alasan mereka karena materi fisiologi hewan banyak menyangkut mekanisme kerja organ (Slamet.

11 September 2014 pembelajaran antara dosen dengan mahasiswa sebagai akibat adanya ketidaktepatan dosen pengasuh dalam menerapkan strategi perkuliahan yang dilakukan selama ini. gerak. animasi. seiring dengan pesatnya kemajuan bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Komputer sebagai salah satu produk teknologi dinilai tepat digunakan sebagai alat bantu pembelajaran dan memiliki potensi yang cukup besar untuk dapat dimanfaatkan dalam proses pembelajaran. Karena seperti dinyatakan Sadiman dkk (2009) media pembelajaran merupakan salah satu aspek penting dalam proses pendidikan yang berperan sebagai pembawa pesan yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan pembelajaran. di mana ada kecenderungan dalam melaksanakan praktik pembelajaran fisiologi hewan. dosen masih menggunakan strategi teacher centered yang ditandai dengan masih dominannya kesan mengajar (teaching) daripada membelajarkan (learning). kegiatan perkuliahan didominasi kegiatan mengajar di mana fokus pembelajaran cenderung hanya bersifat mewariskan pengetahuan (transfer of knowledge. dan suara sehingga dapat merangsang lebih banyak indra. teridentifikasi ada empat faktor utama yang menyebabkan fisiologi sulit dipelajari oleh mahasiswa. content transmission) bukan kegiatan membelajarkan. lebih-lebih untuk menjelaskan hubungan antar konsep dalam mendeskripsikan fungsi sebuah organ. Banyak upaya yang dapat dilakukan dosen untuk untuk mengatasi kesulitan belajar mahasiswa. Di lain pihak. ragam media banyak mengarah ke pengintegrasian teknologi informasi. maka dikembangkannya suatu perangkat lunak pembelajaran yang diharapkan efektif mengatasi masalah tersebut merupakan satu langkah yang tepat untuk pembaharuan proses pendidikan. sering kali para peserta didik ketika bekerja dengan komputer mereka sangat menikmatinya dan dapat melakukan pembelajaran yang mandiri (Rusman dkk. dan (4) faktor-faktor di luar kelas. teks. Alasan tersebut didukung dari hasil observasi yang dilakukan. sehingga banyak mahasiswa merasakan kesulitan dalam pembelajaran yang mereka ikuti. sedangkan di lain pihak karakteristik materi mata kuliah fisiologi hewan yang memuat konsep-konsep abstrak dan sulit difahami. yang dapat mengemas program berupa perangkat lunak (software) yang secara khusus untuk program pendidikan dikenal dengan istilah course-ware (educational software) yang dapat membantu peningkatan hasil belajar. Kleinsmith (Siegel & Foster. Namun saat ini. Sebagaimana disebutkan Munir (2005) komputer menjadi popular sebagai media pengajaran karena komputer memiliki keistimewaan yang tidak dimiliki oleh media pengajaran lain sebelum adanya komputer. 2001) menyebutkan pembelajaran dengan berbantuan komputer (CAI) mempuyai efek positif terhadap peningkatan skor hasil belajar anatomi dan fisiologi dalam beberapa materi subjek. gambar. seperti video. Lebih lanjut dijelaskan dengan pemanfaatan media yang bervariasi dalam kegiatan pembelajaran dapat mengatasi sikap pasif peserta didik dan mampu membangkitkan antusiasme belajar peserta didik. keahlian dan kemampun berpikir peserta didik. 2011). Salah satu di antaranya adalah memanfaatkan kelebihan teknologi komputer. Demikian pula Sefton (2001) strategi pembelajaran berbasis komputer yang interaktif dapat mendorong cara belajar aktif peserta didik apabila dirancang dengan baik pada pembelajaran fisiologi. Tampaknya dugaan tersebut seiring dengan apa yang dinyatakan Michael (2007) yang telah melaporkan hasil survei terhadap mahasiswa untuk menjawab pertanyaan:”Mengapa fisiologi hewan itu sulit dipelajari oleh mahasiswa?”. Oleh karena 27 . Melalui berbagai keunggulan yang dimiliki komputer di mana media komputer dapat menampilkan perpaduan antara teks. (3) faktor bagaimana mahasiswa belajar fisiologi. Dari laporan survei Michael (2007) tersebut. Komputer mampu menampilkan berbagai komponen media. (2) faktor bagaimana cara mengajar fisiologi yang memerlukan pengemasan materi secara pedagogis. kreativitas. dan suara secara bersamaan atau saling bergantian. Dengan kata lain. Berdasarkan hasil penelusuran beberapa pustaka. hal ini terutama berkaitan dengan kesiapan dan kemampuan bernalar mahasiswa.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. animasi. 1996) secara spesifik telah melaporkan bahwa pembelajaran melalui media komputer membantu meningkatkan rata-rata prestasi peserta didik antara 1018% dibandingkan dengan pembelajaran tradisional. salah satu langkahnya adalah dengan menyediakan media pembelajaran yang sesuai. yaitu: (1) hakikat disiplin fisiologi sendiri yang banyak membutuhkan kemampuan berpikir atau penalaran mengenai hubungan sebab akibat. Mengingat peran strategis dari media pembelajaran sebagai salah salah satu aspek penting dalam proses pendidikan. Demikian pula Griffin (2003) melaporkan berbagai program pembelajaran dengan menggunakan fasilitas komputer dapat meningkatkan efektivitas waktu pembelajaran. Mengingat Fisiologi hewan banyak memuat konsep-konsep yang abstrak dan rumit. Dalam praktik pembelajarannya tampak dosen lebih dominan membekali mahasiswa dengan fokus pada pemahaman dan penimbunan informasi (rote learning). gambar. maka dengan karakteristiknya yang demikian tentu dibutuhkan kreativitas dan inovasi dari dosen pengasuh kaitannya dengan upaya untuk menciptakan atmosfir perkuliahan yang kondusif sehingga diharapkan dapat memfasilitasi mahasiswa dalam memahami materi pembelajaran yang diberikan. Andrews & Collin (1993) menyatakan penggunaan komputer dalam pembelajaran dapat memberi manfaat terhadap motivasi belajar peserta didik yang diikuti peningkatan prestasi belajar. Bahkan Kulik (Heinich. berbagai media telah dikenal dan dimanfaatkan bagi kebutuhan pembelajaran mulai dari media yang sederhana hingga yang canggih.

METODE PENELITIAN Metode dalam studi ini adalah metode deskriptif. dan sistem ekskresi/osmoregulasi? Urgensi penelitian ini dilakukan sebagai basis data untuk penelitian lebih lanjut. simbol 50 50 seimbang 5 Ukuran dan jenis huruf dalam course-ware mudah dibaca 65 35 6 Visualisasi komposisi warna latar dengan huruf.77 46. Persentase Tanggapan Mahasiswa terhadap Kelayakan Course-Ware pada Pokok Bahasan Sistem Respirasi Jawaban Mahasiswa (%) No Pernyataan ST SS S TS S A. pada studi ini dapat dirumuskan suatu permasalahan yaitu ”Bagaimana kelayakan course-ware yang dikembangkan untuk perkuliahan fisiologi hewan menurut persepsi mahasiswa pada topik sistem respirasi. 2009). bertolak dari urgensi tersebut maka dilakukan studi analisis terhadap course-ware yang dikembangkan untuk mengetahui seberapa jauh kelayakannya menurut persepsi mahasiswa calon guru biologi. 2010). Untuk mengoleksi data mengenai seberapa jauh tingkat kelayakan course-ware yang dikembangkan dilakukan dengan meminta mahasiswa mengisi instrumen. 11 September 2014 itu. Untuk penjelasan lebih rinci mengenai hasil pengolahan data dan pembahasan dijelaskan melalui Tabel 1. DAYA TARIK 13 Tampilan course-ware menarik 70 20 10 Rata-rata 50. dan daya tarik. Subjek dalam penelitian ini adalah 20 orang mahasiswa calon guru biologi program S1 Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (PMIPA) FKIP Universitas Sriwijaya yang mengikuti perkuliahan fisiologi hewan. dan daya tarik yang diberikan mahasiswa calon guru biologi. Tingkat kelayakan course-ware yang dikembangkan ditentukan berdasarkan kriteria aspek keterbacaan. operasi teknis. 28 . Tabel 2.15 3. Kelayakan Course-ware untuk topik Sistem Respirasi Berdasarkan Tabel 1 tampak pada course-ware dengan topik sistem respirasi dari 13 indikator pernyataan yang disajikan sebagian besar mahasiswa menunjukkan respon yang positif terhadap course-ware yang dikembangkan. Pemilihan lokasi maupun subjek dilakukan secara purposif (Creswell. dan Gambar 1. Tabel 1. teknis operasi. Dengan pengembangan media ini diharapkan akan membantu membangkitkan antusiasme mahasiswa dalam pembelajaran fisiologi hewan yang mereka ikuti.08 Hal tersebut ditandai dengan tingginya jumlah persentase respon mahasiswa yang memberikan jawaban terhadap kategori sangat setuju dan setuju pada setiap indikator pernyataan pada ketiga aspek kriteria kelayakan. Tabel 3. Baik course-ware maupun instrumen yang digunakan pada studi ini sebelumnya telah mendapat penimbangan oleh pakar (expert judgment). Untuk itu. sistem sirkulasi. OPERASI TEKNIS 10 Course-ware mudah dioperasikan 50 50 11 Tautan (link) bekerja dengan lancer 55 40 5 12 Tombol-tombol navigasi berfungsi dengan lancer 75 25 C. skema.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. bagan. KETERBACAAN 1 Petunjuk mudah dipahami 50 50 2 Perintah-perintah mudah dipahami 45 55 3 Keterbacaan teks atau tulisan dalam course-ware jelas 35 65 4 Peletakan tampilan (layout) gambar. dan 50 45 5 sejenisnya kontras 7 Bagan-bagan yang digunakan jelas 45 45 10 8 Gambar animasi mudah dimengerti 45 45 10 9 Bahasa yang digunakan komunikatif 25 75 B. Data yang diperoleh dianalisis dan diolah dengan statistik deskriptif (Susetyo. HASIL DAN PEMBAHASAN Data yang diperoleh dalam studi ini adalah persentase setiap indikator pernyataan pada masing-masing aspek yang diukur yakni keterbacaan.

tampaknya sebaran indikator yang mendapat respon negatif pada course-ware dengan topik sistem sirkulasi berbeda dengan topik sistem respitasi (Tabel 1). Dengan demikian.69 44. gambar animasi pada aspek keterbacaan dan indikator pernyataan mengenai daya tarik course-ware jumlah persentasenya 90%. Hal ini tampak dari persentase respon positif yang mencapai 100%. Untuk indikator pernyataan tentang kekontrasan Indikator Pernyataan mengenai visualisasi komposisi warna pada aspek keterbacaan dan indikator pernyataan pada aspek operasi teknis berkaitan dengan kelancaran tautan jumlah persentasenya mencapai 95%. sedangkan indikator pernyataan mengenai kejelasan bagan-bagan. Kelayakan Course-ware untuk topik Sistem Sirkulasi Pada Tabel 2 tampak untuk course-ware sistem sirkulasi dari 13 indikator pernyataan sebagian besar mahasiswa menunjukkan respon positif yang mirip dengan course-ware yang dikembangkan pada topik sistem respirasi (Tabel 1). kemudahan perintah-perintah. di mana indikator yang mendapat respon negatif semuanya ditemukan pada indikator. di lain pihak ditemukan juga adanya respon negatif terhadap course-ware yang dikembangkan yakni pada aspek keterbacaan pada indikator pernyataan mengenai kekontrasan visulisasi komposisi warna dan indikator kelancaran tautan pada aspek operasi teknis dengan persentase 5%. yakni pada aspek keterbacaan ditunjukkan pada indikator-indikator kemudahan petunjuk. yakni pada indikator keseimbangan peletakan tampilan. kejelasan bagan-bagan. keseimbangan peletakan tampilan (layout). sedangkan pada indikator kejelasan bagan-bagan dan kemudahan gambar animasi pada aspek keterbacaan dan indikator daya tarik. serta indikator kemenarikan pada aspek daya tarik. masing-masing menunjukkan respon negatif sebesar 10%. KETERBACAAN 1 Petunjuk mudah dipahami 60 40 2 Perintah-perintah mudah dipahami 55 45 3 Keterbacaan teks atau tulisan dalam course-ware jelas 55 45 4 Peletakan tampilan (layout) gambar. skema. DAYA TARIK 13 Tampilan course-ware menarik 55 45 Rata-rata 52. OPERASI TEKNIS 10 Course-ware mudah dioperasikan 65 35 11 Tautan (link) bekerja dengan lancer 60 40 12 Tombol-tombol navigasi berfungsi dengan lancar 60 40 C.62 2. kejelasan teks atau tulisan. bagan.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. kemudhan perintahperintah. dan penggunan bahasa. kelancaran tombol-tobol navigasi. 11 September 2014 Bahkan untuk aspek keterbacaan pada indikator pernyataan tentang kemudahan petunjuk. Tabel 2. ukuran/jenis huruf.69 Tabel 2 juga dapat dijelaskan adanya respon negatif mengenai course-ware yang dikembangkan. kemudahan gambar animasi untuk 29 . 55 40 5 dan sejenisnya kontras 7 Bagan-bagan yang digunakan jelas 50 40 10 8 Gambar animasi mudah dimengerti 40 50 10 9 Bahasa yang digunakan komunikatif 35 60 5 B. bertolak dari tingginya persentase respon positif pada setiap indikator yang diberikan mahasiswa bisa dikatakan secara keseluruhan tingkat kelayakan course-ware yang berisi materi tentang sistem respirasi sudah mencapai kategori baik. persentase respon positif menunjukkan nilai 100%. kelancaran tautan.indikator dalam aspek keterbacaan. Namun demikian. pada aspek operasi teknis pada indikator-indikator kemudahan operasi. simbol 40 55 5 seimbang 5 Ukuran dan jenis huruf dalam course-ware mudah 55 45 dibaca 6 Visualisasi komposisi warna latar dengan huruf. Namun demikian. Persentase Tanggapan Mahasiswa terhadap Kelayakan Course-Ware pada Topik Sistem Sirkulasi Jawaban Mahasiswa(%) No Pernyataan SS S TS STS A. di mana dari 13 indikator pernyataan pada topik sirkulasi terdapat delapan indikator yang mencapai persentase maksimal (100%). kejelasan teks atau tulisan. kekontrasan visualisasi warna. kejelasan ukuran dan jenis huruf . serta aspek operasi teknis pada indikator pernyataan mengenai kemudahan operasi teknis dan kelancaran fungsi tombol-tombol navigasi.

kekontrasan visualisasi warna. serta indikator pernyataan kemudahan petunjuk.54%. animasi gambar. kemudahan perintah-perintah. kebahasaan yang komunikatif.46 Berdasarkan Tabel 3 tampak di samping respon positif. keseimbangan peletakan tampilan. maka secara keseluruhan dapat dibuat rekapitulasi mengenai rata-rata persentase respon mahasiswa pada seluruh topik yang hasilnya dapat dilihat pada Gambar 1.31%. tampak sebagian besar mahasiswa yang berespon positif masih jauh lebih tinggi dengan rata-rata persentase antara 90%% s. dan 5%. 10%. kelancaran tombol-tombol navigasi. dan indikator kemenarikan pada aspek daya tarik. DAYA TARIK 13 Tampilan course-ware menarik 70 30 Rata-rata 59. Kelayakan Course-ware untuk topik Sistem Ekskresi dan Osmoregulasi Hasil analisis course-ware topik sistem ekskresi dan osmoregulasi yang tertera pada Tabel 3 tampak dari 13 indikator pernyataan pada seluruh aspek hanya ada enam indikator yang mencapai persentase 100%. yaitu terhadap course-ware pada topik sistem respirasi rata-rata respon positif mencapai 96. 65 30 5 dan sejenisnya kontras 7 Bagan-bagan yang digunakan jelas 50 45 5 8 Gambar animasi mudah dimengerti 55 35 10 9 Bahasa yang digunakan komunikatif 60 40 B. dan penggunaan bahasa pada aspek keterbacaan.31 3. Indikatorindikator yang mencapai 100% yaitu. Berdasarkan data-data tersebut. dan gambar animasi pada aspek keterbacaan dan indikator kemudahan operasi courseware. dengan persentase masingmasing indikator 5%. dengan persentase masing-masing 10%. dengan persentase berturut-turut: 5%. ukuran dan jenis huruf. kelancaran tombol-tombol navigasi pada aspek operasi teknis persentase respon positif mahasiswa berada pada kisaran antara 90% sampai dengan 95%.82%. sedangkan untuk indikator pernyataan lainnya yakni indikator-indikator kemudahan petunjuk. bagan. kejelasan bagan-bagan. ditemukan juga pada beberapa indikator mahasiswa memberikan respon yang negatif yakni indikator pernyataan mengenai keseimbangan peletakan tampilan.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. OPERASI TEKNIS 10 Course-ware mudah dioperasikan 65 25 10 11 Tautan (link) bekerja dengan lancar 70 30 12 Tombol-tombol navigasi berfungsi dengan lancar 65 30 5 C. kekontrasan visualisasi warna. Hal lain yang menarik.23 37. 5%. jika dibandingkan antara persentase indikator-indikator respon negatif dengan persentase mahasiswa yang memberikan respon positif. Tampak dari grafik yang tertera pada Gambar 1 rata-rata mahasiswa memberikan respon positif yang tinggi terhadap ketiga course-ware yang dikembangkan. selain itu indikator kelancaran tautan pada aspek operasi teknis. Dengan mencermati tingginya persentase respon positif. KETERBACAAN 1 Petunjuk mudah dipahami 50 45 5 2 Perintah-perintah mudah dipahami 55 45 3 Keterbacaan teks atau tulisan dalam course-ware jelas 50 50 4 Peletakan tampilan (layout) gambar. maka secara kualitatif dapat dinyatakan bahwa berpatokan kepada 30 . 11 September 2014 dimengerti. Persentase Tanggapan Mahasiswa terhadap Kelayakan Course-Ware pada Topik Sistem Ekskresi dan Osmoregulasi Jawaban Mahasiswa(%) No Pernyataan SS S TS STS A. Akan tetapi. skema. semua indikator pada aspek operasi teknis dan aspek daya tarik seluruhnya menunjukkan persentase yang maksimal (100%). kejelasan teks atau tulisan.d. Tabel 3. 10%. 95%. dan pada sistem ekskresi dan osmoregulasi mencapai 96. simbol 60 30 10 seimbang 5 Ukuran dan jenis huruf dalam course-ware mudah 55 45 dibaca 6 Visualisasi komposisi warna latar dengan huruf. kemudahan operasi course-ware. pada course-ware topik sistem sirkulasi. sistem sirkulasi mencapai 97.

1993. 2003. Griffin JD. .zoo. 1993. Molenda M. Inc. Gambar 1. 3th ed. Creswell JW.utoronto. ekskresi dan osmoregulasi bagi mahasiswa calon guru biologi. Quantitative. Journal Advances in Physiology Education. 169-190.htm. Instructional Media and The New Technologies of Instruction (4thed).ca/able/volumes/copyright. California: SAGE Publications. dan sistem ekskresi serta osmoregulasi. Dari ketiga topik course-ware yang dikaji. sistem sirkulasi. SARAN Dengan demikian dapat direkomendasikan bahwa course-ware yang dikembangkan layak dan dapat digunakan untuk kegiatan pembelajaran mata kuliah fisiologi hewan khususnya pada topik sistem respirasi. operasi teknis dan daya tarik secara komprehesif course-ware yang dikembangkan layak digunakan untuk kebutuhan dalam pembelajaran fisiologi hewan pada topik sistem respirasi. sistem sirkulasi. Hal tersebut tampaknya sejalan dengan hasil wawancara yang dilakukan terhadap beberapa orang mahasiswa. 14. DAFTAR PUSTAKA Andrews SE.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Proceedings of the 14 th workshop/Conference of the Association for Biology Laboratory Education (ABLE). in Tested studies for laboratory teaching. umumnya mereka merasa puas dan ingin terus belajar dengan menggunakan courseware yang dikembangkan. 11 September 2014 kriteria aspek keterbacaan. KESIMPULAN Hasil analisis ditemukan course-ware yang dikembangkan ditinjau dari aspek keterbacaan. Revisi produk akan dilakukan berdasarkan komentar dan saran yang diberikan mahasiswa terhadap aspek yang menunjukkan respon negatif.Enhanced Student Learning. 27: 146-155. Sistem Sirkulasi dan Sistem Ekskresi/Osmoregulasi Namun demikian. Rekapitulasi Perbandingan Persentase Tanggapan Mahasiswa terhadap course-ware antar topic Sistem Respirasi.Qualitative. dan sistem ekskresi/ osmoregulasi. dan daya tarik penyajian menurut tanggapan mahasiswa tidak sulit untuk digunakan dan mendapat respon positif dengan rata-rata di atas 90% untuk masing-masing course-ware dengan topik sistem respirasi. Mereka juga berpendapat melalui penggunaan course-ware dalam perkuliahan fisiologi hewan mereka merasakan adanya variasi dalam perkuliahan yang berbeda dengan perkuliahan selama ini. Available at:http://www. sirkulasi. adanya respon negatif dari mahasiswa terhadap produk course-ware yang dikembangkan. tampak ada kecenderungan topik sistem ekskresi dan osmoregulasi merupakan topik yang paling banyak menunjukkan respon negatif meskipun persentasenya relatif rendah. Research Design. [20 Januari 2014]. Russel JD. 31 . Collins MAJ. hal itu merupakan bahan revisi yang akan dilakukan. Co. Computer Enhanced Learning in Biology. 2009. operasi teknis. Heinich R. Technology in the teaching of Neuroscience. and Mixed Methods Approaches. New York: Macmillan Pub.

31: 34-40. Tn. Bandung: PT Refika Aditama. 2011. Statistika untuk Analisis Data Penelitian.Adv. 34(1): 29-37. Laptop Computers and Multimedia and Presentation Software: Their Effects on Students Achievement in Anatomy and Physiology. 11 September 2014 Michael J. Bandung: P3MP UPI. 2007. 2011. 2010.Tidak diterbitkan. Munir. Sefton AJ. 2001. Anung RR. Studi Persepsi dan Pemahaman Konsep-konsep Fisiologi serta Berpikir Kritis pada Perkuliahan Fisiologi Hewan di Program Studi Pendidikan Biologi FKIP Universitas Sriwijaya. Rahardjo R. Foster T. Palembang: Universitas Sriwijaya 32 . Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Haryono. Physiol. Pedoman Akademik FKIP Unsri. 1998. The Future of Teaching Physiology: An International Viewpoint. Slamet A. 2005. What Makes Physiology Hard for Student to Learn? Result of a Faculty Survey. Journal of Research on Technology in Education. Laporan Field Study.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Pengertian Pengembangan dan Pemanfaatannya. 2010. Media Pendidikan. Educ. Educ. 20(1): 53-58. Jakarta: Radjawali Pers. Adv. Siegel D. Susetyo B. Rusman. Physiol. Konsep dan Aplikasi Program Pembelajaran Berbasis Komputer (Computer Based Instrucion). Sadiman A. Kurniawan D. 2009. Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi Mengembangkan Profesionalisme Guru. Riyana C.

Kondisi ini membutuhkan sumberdaya manusia yang berkualitas handal. mampu bersosialisasi dengan lingkungan serta memiliki kepribadian yang baik yang dapat menjadi panutan bagi peserta didiknya.com Abstrak Profesional dalam berbagai profesi merupakan tuntutan dalam menghadapi tantangan abad 21. 2) rendahnya kemampuan guru dalam melakukan inovasi pembelajaran. Dengan demikian guru profesional harus menguasai materi keilmuan yang dibidanginya. dan teknologi.75% tidak merespon. Mengembangkan profesi secara berkesinambungan merupakan salah satu ciri sebagai guru profesional sebagaimana diamanahkan dalam Undang Undang Guru dan Dosen (2005). ataupun internasional. kreatif dan kompetitif agar mampu survive secara produktif di tengah derasnya peluang dan tantangan kehidupan global yang semakin kompleks. karya tulis ilmiah. kompetensi pedagogi. aktif dalam asosiasi profesi serta selalu meningkatkan profesionaltasnya sebagai guru. akibatnya nilai-nilai baru semakin mudah masuk dalam kehidupan yang memunculkan ketidak pastian. 3) kurangnya pengetahuan guru tentang teknik penulisan karya tulis ilmiah yang baku. 13. nasional.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. bertindak sebagai mentor. mampu mentransfer pengetahuan sesuai kaidah dasar-dasar kependidikan. Untuk itu. PENDAHULUAN Keterbukaan yang merupakan ciri globalisasi telah menciptakan situasi seolah dunia tanpa batas. maka: mulai tahun 2011 bagi Guru PNS yang akan mengusulkan kenaikan 33 . serta kebutuhan masyarakat termasuk kebutuhan terhadap sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki kapabilitas untuk mampu bersaing di forum regional. Kata Kunci: pengembangan profesi guru. Hal ini relevan dengan isi Undang Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional. ilmu pengetahuan. bahwa jabatan guru sebagai pendidik merupakan jabatan profesional. 11 September 2014 PROFIL KEMAMPUAN DAN HAMBATAN GURU DALAM MENGEMBANGKAN PROFESI MELALUI KARYA TULIS ILMIAH Suciati Sudarisman Program Studi Pendidikan Biologi FKIP UNS email: suciati. sehingga dunia pendidikan dituntut untuk mampu menghasilkan peserta didik yang inovatif.5% guru mengalami hambatan. sebanyak 67. Hasil penelitian menunjukkan bahwa berkaitan dengan pengembangan profesi. Dapat disimpulkan bahwa membuat karya tulis ilmiah merupakan salah satu faktor penghambat bagi guru dalam mengembangkan profesi. dan kompetensi personal. Dalam rangka mengantisipasi perkembangan IPTEK. Data dihimpun melalui angket dan wawancara yang selanjutnya dianalisis secara kualitatif dan disajikan dalam bentuk bagan persentase. Berdasarkan Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PermenPANRB) No 16 Tahun 2009 Tanggal 10 November 2009. profesionalitas guru merupakan sebuah keharusan (Saud. Penelitian menggunakan metode survei yang melibatkan 80 orang guru sebagai responden. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kemampuan guru dalam mengembangkan profesinya. Setidaknya ada 3 hal yang mempengaruhi rendahnya kemampuan guru dalam membuat karya tulis ilmiah yaitu: 1) kurangnya kepekaan guru dalam mengidentifikasi permasalahan pembelajaran di kelas. kompetensi sosial. persaingan global. Menurut American Association Colleges of Teacher Education / AACTE (2010) bahwa guru abd-21 dituntut menguasai kompetensi yang dapat memfasilitasi belajar peserta didik sesuai dengan hasil belajar yang dipersyaratkan yaitu mampu: menggabungkan antara teknologi dengan pedagogi dan materi pelajaran yang mendorong kreativitas peserta didik. 18. guru yang profesional dituntut untuk terus-menerus berkembang sesuai dengan perkembangan zaman. Oleh karenanya. 2009). menguasai model-model pembelajarana dan berbagai model asesmen yang dapat mengembangkan potensi peserta didik secara optimal. pendidikan harus didukung oleh pendidik (guru ) yang profesional. Hal ini relevan dengan isi Undang Undang Guru dan Dosen (2005) dimana guru dituntut memiliki 4 kompetensi yang meliputi: kompetensi profesional. Pengembangan profesi guru dapat ditempuh melalui berbagai jalur.75% lancar. ketidak seimbangan.sudarisman@yahoo. otonomi pendidikan dan perkembangan kurikulum. sehingga menyebabkan terjadinya perubahan pola hidup di masyarakat.

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. namun hasilnya belum seperti yang diharapkan. memang disadari betapa pentingnya keterampilan menulis karya ilmiah bagi guru. seseorang dapat merekam. bahwa banyak guru yang stagnan pada pangkat/golongan IVA karena untuk naik ke jenjang pangkat berikutnya mengharuskan mereka untuk menulis karya ilmiah. tampaknya belum menemukan cara yang tepat untuk dapat mengakselerasi kompetensi dalam membuat karya tulis ilmiah secara efektif. Melalui kegiatan menulis. dan juga peningkatan profesionalisme guru itu sendiri. Lebih lanjut. dan 5) Pengembangan Kurikulum. Penelitian menggunakan metode survei yang melibatkan 80 orang guru jenjang SMA sebagai responden yang ada di wilayah kota Solo. Pada satu sisi. dikemukakan bahwa realitas seperti ini secara statistik sangat jelas terlihat. 34 . tercatat sebanyak 22.006% guru golongan IVC. misalnya. 0. Penulisan karya ilmiah merupakan kegiatan yang sangat penting bagi seorang guru yang profesional. 11 September 2014 pangkatnya harus memenuhi kriteria pemerolehan angka kredit yang didapat dari: 1) Kegiatan pengembangan diri (Pelatihan atau Kegiatan Kolektif). Guru yang tidak mampu menulis dengan baik akan mengalami berbagai kendala dalam berkomunikasi karena dalam melaksanakan tugasnya sehari-hari seorang guru dituntut mampu menulis seperti menulis surat lamaran pekerjaan. menyebabkan upaya percepatan profesionalitas guru menjadi terhambat. 1996). Akhadiah (1998) mengatakan bahwa menulis membawa seseorang mengenali potensi diri.124 orang guru saat itu.461. Kegiatan ini tidak saja perlu dilakukan dalam rangka memperoleh angka kredit untuk kenaikan jabatan atau untuk keperluan sertifikasi melalui portofolio. memberitahukan. perlu dilakukan pemetaan kompetensi guru dalam membuat karya tulis ilmiah. METODE Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil kemampuan guru dalam mengembangkan profesinya serta hambatan-hambatan yang dialami guru dalam mengembangkan profesinya khususnya dalam membuat karya tulis ilmiah khususnya PTK. Bahkan. 2) Karya Tulis Ilmiah. meyakinkan. Pihak institusi terkait dan guru sendiri. dan menulis laporan suatu kegiatan. Keterampilan menulis khususnya menulis karya ilmiah sangat penting artinya bagi guru. Namun secara faktual kemampuan guru di berbagai jenjang pendidikan dalam membuat karya tulis ilmiah tampaknya belum optimal. dan yang terutama menulis karya ilmiah dalam rangka kenaikan pangkat (Keraf. menulis surat dinas. kiranya tidak berlebihan apa yang dikatakan Tarigan (1994) bahwa menulis merupakan suatu ciri orang terpelajar atau bangsa terpelajar. Data dihimpun melalui angket dan wawancara yang selanjutnya dianalisis secara kualitatif dan disajikan dalam bentuk bagan persentase. setiap guru profesional idealnya mampu membuat karya tulis ilmiah yang bersumber dari pengalaman pembelajaran di kelas yang menjadi tugas kesehariannya.87% guru golongan IVA. pada data Badan Kepegawaian Nasional tahun 2005. 14 Desember 2007. dan membiasakan seseorang berpikir dan berbahasa secara tertib. tetapi terlebih lagi perlu dilakukan dalam rangka peningkatan kualitas pengelolaan kelas. memperluas cakrawala. kualitas layanan kepada anak didik. Dari 1. mendorong seseorang belajar aktif. Belum tersedianya data tentang kompetensi guru dalam membuat karya tulis ilmiah. 0. Secara umum guru masih mengalami hambatan terutama dalam membuat PTK. 0. ditinju dari golongan/ruang kepangkatannya. 4) Karya Teknologi/Seni.00% guru golongan IVE. Oleh karenanya. dan 0.001% golongan IVD. Alat Pembelajaran. Meski telah dilakukan upaya-upaya peningkatan kompetensi guru dalam membuat karya tulis ilmiah. agar dapat diketahui profil kemampuan dan hambatan guru dalam mengembangkan profesinya. Data ini jelas menunjukkan betapa rendahnya aktivitas guru di Indonesia dalam menulis karya ilmiah. Karya tulis ilmiah khususnya dalam bentuk hasil penelitian tindakan kelas (PTK) menjadi salah satu poin yang dipersyaratkan dalam kenaikan pangkat golongan guru. 3) Membuat Alat Peraga. Dengan demikian. Senada dengan hal di atas. seperti yang dikemukakan dalam Kompas. tetapi pada sisi lain. dan mempengaruhi orang lain.16% guru golongan IVB.

pembelajaran berbasis masalah (problem based learning). discovery. 2006). Respon Guru Berkaitan dengan Pengembangan Profesi Berdasarkan Gambar 1 terlihat bahwa dari 80 orang responden. Hasil refleksi terhadap proses pembelajaran yang dilakukan guru dapat menjadi landasan bagi upaya perbaikan pembelajaran selanjutnya dan tanpa disadari sesungguhnya guru tersebut telah melakukan langkahlangkah PTK secara praktis. Sebanyak 13.75% tidak memberikan respon apapun terkait dengan pengembangan profesinya. guru melakukan analisis sebagai refleksi. pendekatan. Guru hanya menuangkannya dalam bentuk karya tulis ilmiah yang dapat dimanfaatkan untuk pengembangan profesi. Kedua. Pertama. sehingga memerlukan waktu untuk beradaptasi dengan model-model pembelajaran terutama pembelajaran konstruktivis dengan paradigma student center. guru terkesan hanya sekedar menggugurkan kewajiban mengajar sesuai jam yang telah ditetapkan. 11 September 2014 HASIL DAN PEMBAHASAN Gambar 1. Berdasarkan hasil wawancara terungkap bahwa guru masih mengalami kendala dalam melakukan inovasi pembelajara.. Dengan demikian. Umumnya guru kurang memiliki informasi tentang teknik penulisan karya tulis ilmiah yang baik dan benar sesuai yang dipersyaratkan.75% guru yang pengembangan profesinya lancar (tidak mengalami hambatan). dkk. Akibatnya pembelajaran berlalu tanpa upaya perbaikan.). Ketiga. Hasil wawancara menunjukkan bahwa menuangkan hasil pengalaman praktis guru dalam proses pembelajaran ke dalam bentuk karya tulis ilmiah merupakan hambatan terbesar. 2013). Sementara berbagai hasil penelitian berbasis refleksi seperti lesson study. Idealnya setiap pembelajaran selesai. pengetahuan guru tentang teknik penulisan karya tulis ilmiah yang baku masih kurang. Sementara sebanyak 67. sehingga menjadi kurang bermakna. strategi pembelajaran konvensional yang cenderung kurang efektif. Ruh PTK adalah perbaikan kualitas pembelajaran di kelas (Arikunto.5% guru menyatakan mengalami hambatan dalam pengembangan profesi. kurangnya kepekaan guru dalam mengidentifikasi permasalahan pembelajaran di kelas. Di dalam melaksanakan pembelajaran di kelas. perlu dilakukan inovasi pembelajaran menggunakan strategi pembelajaran lain yang lebih kreatif dan inovatif. hanya 18. model pembelajaran inovatif sebagaimana disarankan dalam Kurikulum 2013 seperti: pembelajaran berbasis penemuan (inquiry. Hal ini didukung oleh pernyataan (Arani. maka dapat dijadikan landasan untuk melakukan perbaikan pada pembelajaran selanjutnya. kemampuan guru dalam melakukan inovasi pembelajaran rendah. metode.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. pembelajaran berbasis proyek (problem based project) (Kemendiknas. Hasil wawancara menunjukkan bahwa faktor-faktor penghambat dalam pengembangan profesi guru dikarenakan beberapa hal. Hasil wawancara menunjukkan bahwa tidak adanya respon dari responden dikarenakan para guru merasa pasrah dengan keadaan karena peluang pengembangan profesinya sudah mentok disebabkan faktor usia dan masa kerja yang telah mendekati pensiun. Kondisi tersebut mengindikasikan bahwa guru tersebut pada umumnya cenderung mengalami hambatan dalam pengembangan profesinya melalui kenaikan pangkat terutama dalam memenuhi persyaratan terkait karya tulis ilmiah khususnya penelitian tindakan kelas. sangat efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. dan reflection yang merupakan ruh dari lesson study. Jika terdapat kekurangan-kekurangan dalam praktik pembelajaran tersebut. dll. Guru dituntut memahami berbagai strategi. terbukti sangat efektif dalam meningkatkan kualitas pembelajaran. do/observation. Kurangnya sumber informasi dan rendahnya motivasi diri untuk memperoleh informasi merupakan kendala utama. 2011:37) bahwa tahapan plan. 35 .

maka dapat dikemukan saran bahwa penelitian terkait profil kemampuan dan hambatan guru dalam mengembangkan profesinya seyogyanya dapat dilakukan oleh institusi pendidikan yang terkait di semua wilayah dan jenjang pendidikan. Profil ini merupakan sumber informasi penting dalam upaya mendorong percepatan profesi guru pada umumnya. Tarigan HG. Arani SR. 2011. 1996. Terampil Berbahasa Indonesia I. Penelitian Tindakan Kelas. 1998. agar percepatan peningkatan profesionalitas guru secara luas dapat segera terwujud. 2009. Tim. Undang Undang Guru dan Dosen. Menulis sebagai Suatu Keterampilan Berbahasa.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. 2) Setidaknya ada 3 hal yang mempengaruhi rendahnya kemampuan guru dalam membuat karya tulis ilmiah yaitu: a) kurangnya kepekaan guru dalam mengidentifikasi permasalahan pembelajaran di kelas. merupakan salah satu bentuk pemetaan sederhana yang dapat dilakukan oleh institusi pendidikan yang terkait sejauh mana kemampuan dan hambatan yang dialami guru dalam pengembangan profesinya. Jakarta: Kemendiknas. Angkasa: Bandung Tim. 11 September 2014 Berdasarkan uraian tersebut dapat dikemukakan bahwa melakukan wawancara dan pemberian angket terkait dengan kemampuan guru dalam melalui pembuatan karya tulis ilmiah dalam penelitian ini. Sutrisno. Bandung: Alfabeta. Saud US. 2008. 1994. Kurikulum 2013. Menulis I. Sakura H. 2005. Singaraja: Undiksha. Tokyo: Education Science Publishing House. Gerakan Menulis Karya Ilmiah (Sebuah Upaya Peningkatan Profesionalisme Guru). Keraf G. Transnational Learning: The Integration of Jugyou kenkyuu inti Iranian Teacher Training. 36 . 2006. Kreatif Mengembangkan Aktivitas Pembelajaran Berbasis TIK. Jakarta: Kemendiknas. Kompas. b) rendahnya kemampuan guru dalam melakukan inovasi pembelajaran. Arsjad MG. SARAN Keberadaan profil tentang kemampuan dan hambatan guru dalam pengembangan profesi sangat penting bagi peningkatan profesionalitas guru. Suandi IN. Jakarta: Depdikbud. 2013. Jakarta: Balai Pustaka. Jakarta: Referensi. Pengembangan Profesi Guru. 14 Desember 2007. KESIMPULAN Berdasar hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa: 1) Profil kemampuan dan hambatan guru-guru di wilayah kota Solo secara umum masih belum optimal khususnya dalam membuat karya tulis ilmiah melalui PTK. DAFTAR PUSTAKA Akhdiah S. Ridwan. Jakarta: Bumi Aksara. c) kurangnya pengetahuan guru tentang teknik penulisan karya tulis ilmiah yang baku. 2012. Arikunto S.

skor rata-rata siswa terhadap soal konseptual lebih rendah daripada skor rata-rata soal hitungan. 2007). 37 . Fisika adalah salah satu mata pelajaran yang termasuk dalam rumpun IPA. 11 September 2014 PROFIL PEMAHAMAN KONSEP PEMANTULAN CAHAYA YANG DIANALISIS MENGGUNAKAN THREE-TIER TEST PADA SISWA SMP Uswatun Khasanah Pendidikan Fisika. Solusi alternatif untuk mengukur pemahaman konsep. Tujuan penelitian ini menganalisis profil pemahaman konsep pemantulan cahaya menggunakan three-tier test. artinya tingkat pemahaman konsep pemantulan cahaya sedang. Salah satu tujuan pendidikan fisika di sekolah agar siswa paham terhadap fenomena alam secara ilmiah. maka siswa dianggap sudah paham konsep. three-tier test dapat mendeteksi miskonsepsi. Selain itu. UPI uswahsayang@gmail. Bagoyo. sehingga IPA bukan hanya penguasaan kumpulan pengetahuan yang berupa fakta. sedangkan soal yang bersifat kualitatif sedikit. pembelajaran berpusat pada guru. Kemudian pilihan ganda biasa ini ditambahkan dengan pilihan alasan (tingkat dua) disebut pilihan ganda dua tingkat atau two-tier test. Pilihan ganda dua tingkat atau two tier test pertama kali dikembangkan oleh Treagust (Treagust et al. Penelitian ini dilakukan di salah satu SMP Negeri di Kabupaten Bandung Barat dengan 37 subyek penelitian. Peneliti menganalisis soal-soal IPA-fisika berupa pilihan ganda yang menunjukkan bahwa soal fisika rata-rata lebih banyak bersifat kuantitatif. 2009). Kata Kunci: three-tier test. Pilihan ganda tiga tingkat ini disebut three-tier test. Proses pembelajaran perlu direncanakan. yaitu dengan pilihan ganda multi-tier. Tingkat kedua yaitu pilihan alasan menjawab soal tingkat pertama dengan empat pilihan jawaban. konsep. Two-tier test yaitu pengembangan pilihan ganda menjadi dua tingkat. dinilai. 2010) bahwa two-tier test tidak dapat membedakan antara miskonsepsi dan tidak paham konsep. akibatnya siswa lebih mampu menguasai materi pada tingkat hafalan dan kurang memahaminya. dilaksanakan. Menurut Hasan. evaluasi merupakan salah satu komponen penting dan tahap yang harus ditempuh oleh guru untuk mengetahui keefektifan pembelajaran (Arifin. dan menerapkan atau mengaplikasikannya secara fleksibel dalam kehidupan sehari-hari. UPI Abstrak Fakta bahwa siswa lebih sering mendapatkan evaluasi dalam bentuk tes pilihan ganda atau uraian. Pembelajaran fisika memiliki ciri khas sendiri yaitu berhubungan erat dengan fenomena dan konsep. Fakta di lapangan. Tingkat pertama yaitu pertanyaan pilihan ganda biasa. Guru juga kurang memberikan pertanyaan kepada siswa dan jarang praktikum. FPMIPA . Dalam sistem pembelajaran.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. two-tier test masih ada peluang untuk menebak jawaban. memahami konsep. FPMIPA . atau prinsip saja. two-tier test dikembangkan lagi menjadi tiga tingkat dengan menambahkan tingkat keyakinan pada tingkat ketiga. Metode penelitian ini menggunakan deskriptif. Tes pilihan ganda memungkinkan peluang menebak jawaban lebih besar dan kurang menyaring pemahaman konsep secara mendalam. tetapi juga suatu proses penemuan atau penyelidikan ilmiah (Standar Isi Permen No. maka disebut threetier test. FPMIPA. maka ditambahkan lagi berupa tingkat keyakinan (tingkat tiga). Pilihan ganda yang sering dipakai oleh guru yaitu hanya satu tingkat dan sederhana tanpa ada tambahan kolom alasan. dan Kelley (Pesman dan Erylimas. UPI Achmad Samsudin Jurusan Pendidikan Fisika.com Muslim Jurusan Pendidikan Fisika. 22 tahun 2006). Diasumsikan jika siswa sudah dapat mengerjakan soal fisika yang bersifat kuantitatif atau hitungan. Namun. Berdasarkan pengamatan di lapangan. pemahaman konsep PENDAHULUAN Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan guru dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. dan diawasi agar terlaksana secara efektif dan efisien. Sehingga. Hasil skor rata-ratanya diperoleh yaitu 34 (sedang). IPA berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis.

(Treagust et al.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. 2007). fokus permasalahan yang akan diteliti ialah “Bagaimana profil pemahaman konsep pemantulan cahaya yang dianalisis menggunakan three-tier test pada siswa SMP kelas VIII?”. 11 September 2014 Berdasarkan latar belakang tersebut. Penyusunan three-tier test diadaptasi dari model penyusunan two-tier test Treagust seperti dalam Gambar 1. Gambar 1. Tujuannya menganalisis profil pemahaman konsep pemantulan cahaya menggunakan three-tier test. Contoh soal three-tier test pemantulan cahaya yang diberikan terdapat pada Gambar 2. Gambar 2. METODE Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Contoh soal three-tier test Pemantulan Cahaya 38 . Tahap Penyusunan three-tier test Pemantulan Cahaya Subyek penelitian ada 37 siswa dan lokasi penelitian adalah di salah satu SMP Negeri di Lembang. Bandung Barat.

dan miskonsepsi dari hasil skor C seperti ditunjukkan pada Tabel 1. Memberi skor 1 untuk jawaban benar pada tingkat satu dua dan yakin atas jawabannya. Memberi skor 1 untuk jawaban benar pada tingkat satu dan tingkat dua. Kategori Jawaban Siswa Berdasarkan Hasil Skor C Kategori Tingkat satu Tingkat dua Paham konsep Benar Benar Benar Benar Benar Salah Salah Benar Salah Salah Salah Benar Salah Benar Salah Salah Tidak paham konsep (lack of knowledge) Error Miskonsepsi Tingkat tiga Yakin Tidak Yakin Tidak Yakin Tidak Yakin Tidak Yakin Yakin Yakin Yakin (Kaltakci & Nilufer. dan yakin atas jawabannya.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.26-0. 8. 7. error. Skor B. tidak paham konsep. Pengkategorian siswa paham konsep. siswa menjawab benar pada tingkat satu dua. berarti paham konsep (Gambar 3). 9. Memberi skor 1 untuk jawaban yakin pada tingkat tiga. 14) 0. c. 2007:500) HASIL DAN PEMBAHASAN Berdasarkan hasil penskoran three-tier test pemantulan cahaya dengan skor C dan hasil data statistik ditujukkan pada Tabel 2. Semakin besar perolehan skor B. maka yakin atas jawabannya. 10. Memberi skor 1 untuk jawaban benar dan skor 0 untuk jawaban salah pada tingkat satu. selain itu diberi skor 0. 11 September 2014 Aturan penskoran three-tier test ini (Pesman. b. 6. Tabel 2. Jika siswa memperoleh skor tinggi. Artinya. Tabel 1. maka semakin tinggi tingkat keyakinan siswa. Skor tingkat keyakinan.00-0.69 Hubungan antara skor B dengan tingkat keyakinan Berdasarkan hubungan antara skor B dengan tingkat keyakinan dapat dinyatakan bahwa terdapat hubungan linier atau hubungan positif antara skor B dengan tingkat keyakinan. maka tingkat keyakinanya juga tinggi. Jika jawabanya salah pada salah satu tingkat maka diberi skor 0. 3.76-1. 11.82 dan validitas = 0. 2010: 39-40) yaitu: a. 2. Skor C. Jika jawabannya tidak yakin maka diberi skor 0. Skor A.00 (Mudah) 1 (4) Catatan : reliabilitas = 0. 39 . 12. Deskripsi Semua Data Statistik Three-Tier Test Berdasarkan Hasil Skor C Statistik N Siswa 37 Jumlah butir soal three-tier test 15 pemantulan cahaya Skor ideal 100 Skor minimum 0 Skor maksimum 67 Rata-rata 34 Tingkat kesukaran Jumlah dan nomor soal 0. d. Siswa menjawab benar tingkat satu dua.25 (Sukar) 7 (5.75 (Sedang) 7 (1. 15) 0. 13.

disimpulkan bahwa pada skor A. Validitas three-tier test yaitu 0. Skor B dan skor C ratarata nilainya sama. pada tingkat satu berupa pilihan ganda biasa ini tingkat kesulitannya rendah. Semakin naik tingkatanya. yaitu memperkecil peluang menebak jawaban. siswa rata-rata menjawab benar paling tinggi. tidak paham konsep (lack of knowledge). juga menegaskan bahwa jika nilai koefisien korelasi Pearson product-moment> 0. J. 11 September 2014 Gambar 3. yakin”. dan Skor C Perbandingan skor A. miskonsepsi. miskonsepsi. 2010: 213). dan skor C. Hasil pengkategorian berdasarkan skor C ditunjukkan pada Gambar 5. Artinya. skor B. yaitu jawaban siswa tingkat satu dua benar dan menjawab “ya.50. Kelebihan three-tier test pemantulan cahaya. 40 . terdiri dari: paham konsep. menegasakan bahwa siswa yang memiliki skor tinggi diperkirakan lebih yakin daripada siswa yang memiliki skor rendah. Jumlah Siswa yang Merespon Benar pada Masing-Masing Tingkat Tiap Butir Soal Gambar 4. Perbandingan Skor A. membedakan siswa yang paham konsep.Indikasi paham konsep. karena tingkat kesulitannya semakin tinggi. skor B. dan error. 35 32 29 27 Jumlah Siswa 30 25 20 33 32 21 25 21 22 19 17 30 29 21 15 17 16 14 11 10 10 7 6 5 1110 5 3 1 15 12 11 0 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 No. Pengategorian Berdasarkan Skor C Pengategorian berdasarkan skor C.69. Cohen (Pesman & Eryilmaz. Hasil rekapitulasi skor A. Kesimpulannya tiap butir soal three-tier test pemantulan cahaya berfungsi dengan baik. Skor B. tidak paham konsep (lack of knowledge). maka jawaban benar siswa semakin rendah. akibatnya waktu pengerjaan soal three-tier test lebih banyak daripada soal pilihan ganda biasa. Bentuk soal three-tier test berbeda dengan tes pilihan ganda biasa. Grafik Hubungan antara Skor B dengan Tingkat Keyakinan Cataloglu (Pesman & Eryilmaz. dan skor C dapat dilihat pada Gambar 4. butir Soal skor A skor B 11 12 13 14 15 Gambar 4.50. 2010: 213). Perkiraan ini dapat di amati dari tiap butir soal tes yang berfungsi baik.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. nilai validitasnya lebih besar dari 0. Artinya. dan error. maka ada hubungan kuat antara skor B dengan tingkat keyakinan.

Skor totalnya dikelompokkan seperti pada Tabel 3. bahwa pemahaman konsep tertinggi pada nomor soal 4 dengan indikator menglompokkan benda yang tembus cahaya. 73-100 Tinggi 0 Skor rata-rata three-tier test sebesar 34 (sedang). materi cahaya bersifat abstrak. guru jarang memberi contoh konkret fenomena pemantulan cahaya dan tidak menggunakan media pembelajaran yang mendukung. Hal ini karena pertama. Sebesar 65% siswa mengalami miskonsepsi tentang cermin cembung. Sebelumnya siswa sudah memiliki pengetahuan awal. 0-27 Rendah 16 2. Tabel 3. Keempat. maka cahaya tersebut masih bisa terlihat oleh mata. Siswa belum mampu mengilustrasikan grafik. Berdasarkan percobaan bahwa bayangan benda semakin jauh dan semakin besar terlihat pada layar. Kedua. Miskonsepsi yang dibawa siswa yaitu kaca spion bentuk permukaannya datar. sifat bayangannya yaitu maya dan tegak. Kategori Tingkat Pemahaman Siswa dari Hasil Skor Total No. 11 September 2014 Gambar 5. Siswa tidak paham konsep bahwa ketika benda diletakkan di titik fokus cermin cekung. yaitu ketika benda yang transparan diletakkan di depan sumber cahaya. pada saat pembelajaran pemantulan cahaya. Persentasi siswa yang tidak paham konsep sebesar 59%. Profil Pemahaman Konsep Pemantulan Cahaya dari Hasil Three-Tier Test Data hasil skor C digunakan peneliti untuk mengukur pemahaman konsep pemantulan cahaya siswa. Pada nomor 9 dengan indikator membandingkan perbesaran bayangan pada cermin cembung. Siswa sudah terbiasa dengan soal yang berisi pilihan angka. karena pada soal tidak dicantumkan tabel data jarak benda dan jarak bayangan. siswa mengalami tidak paham konsep tertinggi.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. siswa belum pernah melihat fenomenanya dan belum pernah melakukan percobaan. sehingga siswa harus mengkonstruksi pikirannya terlebih dahulu dengan contoh atau peristiwa yang konkret. Tingkat pemahaman konsep pemantulan cahaya yaitu sedang. Interval skor Kategori tingkat Jumlah pemahaman konsep siswa siswa 1. Siswa mengalami kekeliruan mengilustrasikan grafik antara jarak benda terhadap jarak bayangan. Erorr tetinggi pada nomor soal 15 dengan indikator mengilustrasikan grafik antara jarak benda terhadap jarak bayangan. Namun. Sedangkan pemahaman konsep terendah pada nomor soal 11 dengan indikator meramalkan letak benda pada cermin cekung. sedangkan kaca spion bentuknya datar dan termasuk contoh cermin cembung. sebesar 57% siswa paham konsep sifat cahaya yaitu cahaya dapat merambat lurus. 28-72 Sedang 21 3. Siswa beranggapan bahwa cermin cembung selalu bentuk permukaannya cembung. maka bayangannya tak terhingga. Miskonsepsi tertinggi pada nomor soal 5 dengan indikator mengelompokkan cermin cembung dari gambar. Pengkategorian Berdasarkan Hasil Skor C Gambar 5. Hal ini karena siswa tidak hafal rumus perbesaran bayangan dan siswa tidak terbiasa dengan pilihan jawaban berupa simbol. siswa tidak hafal. sehingga kaca spion termasuk cermin datar. tidak paham sinar-sinar 41 .

Akibatnya. SIMPULAN Kesimpulan dari hasil penelitian ini adalah profil pemahaman konsep pemantulan cahaya dengan menggunakan bentuk soal three-tier test yaitu sedang dengan skor rata-rata 34. tidak paham konsep.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. peneliti menyarankan agar pada pembelajaran optik geometri siswa diharapkan mampu menggambarkan proses pembentukan bayangan benda dari pemantulan cahaya. “Development and Application of a Three-Tier Diagnostic Test to Assess Secondary Students’ Understanding of Waves”. pemahaman konsep siswa akan menjadi kuat dan bertahan lama. SMP Labschool UPI Bandung. Siswa tidak hafal dan tidak paham sinar-sinar istimewa cermin cekung maupun cermin cembung. Soal Pra-UN IPA Fisika Tahun Ajaran 2011/2012. siswa tidak terbiasa dengan soal berbentuk pemahaman konsep dan bentuk soal three-tier test. 2010. maupun error. Namun. dapat diselenggarakan untuk sampel yang lebih besar dan membutuhkan waktu yang lebih sedikit. International Journal of Science Education. 2011. Teori-Teori Belajar. Tidak Diterbitkan 42 . DAFTAR PUSTAKA Anderson LW. Caleon I. Standar Isi Peraturan Mentri Nomor 22 Tahun 2006. Dahar. yaitu: Pertama. Dari hasil soal three-tier test ini. S. New York: Addison Wesley Longman Inc. siswa kesulitan menggambarkan pembentukan bayangan pada cermin cekung maupun cermin cembung. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 2009. Teaching and Assessing (A Revisions of Bloom’s Taxonomy of Educational Objectives). 2010. Hal ini mungkin disebabkan karena pekerjaan memecahkan masalah hitungan itu seperti pekerjaan mekanis yang hanya “memasukan” angka dalam rumus tertentu tanpa memahami atau menghayati “arti fisis” yang terkandung dalam konsep atau rumus itu. 2001. Bandung. Hasil penelitian Kumaedi (2000) bahwa siswa yang paham konsep pemantulan cahaya hanya 41 siswa dari 172 siswa atau hanya sebesar 24% siswa. Jakarta: Erlangga. SMP Labschool UPI Bandung. Siswa lebih tertarik menghafal rumus daripada memahami arti fisisnya. Hanya siswa yang memiliki pemahaman konsep yang baik akan mendapatkan skor C lebih tinggi. Keuntungan three-tier test. Werdhiana (2010) juga menegaskan bahwa skor rata-rata hitungan lebih tinggi daripada skor rata-rata pemahaman konsep. Hal ini mengidentifikasi bahwa siswa dominan menjawab benar pada tingkat satu dengan bentuk soal pilihan ganda biasa dan tingkat kesulitannya paling mudah dari pada soal two-tier test atau three-tier test. dapat membedakan siswa yang paham konsep. dan error. miskonsepsi. Evaluasi Pembelajaran. Jika ditambahkan dengan kegiatan praktikum pemantulan cahaya. presentase siswa yang paham konsep rata-rata rendah dibandingkan presentase siswa yang miskonsepsi. Arifin Z. tidak paham konsep. Bandung. skor C. W. A Taxonomy for Learning. Selain itu. siswa belum pernah mengerjakan soal three-tier test. Soal UN IPA-Fisika Kode Soal P1 Tahun Ajaran 2009/2010. Arikunto. Ikhsan M. Soal UKK IPA Fisika Kelas VIII Tahun Ajaran 2011/2012. 1989. bahwa nilai skor A paling tinggi. 11 September 2014 istimewa pada cermin cembung maupun cermin cekung. menurut Mazuir (Werdhianaa. semua isi materi dapat diujikan. 2006. Hal ini karena kurang termotivasi belajar memahami konsep. R. Berdasarkan dari hasil perbandingan skor A. skor B dan skor C rata-rata nilainya sama. Berdasarkan hasil pengamatan di lapangan. Jakarta: Bumi Aksara. serta tidak paham cara menggambarkan pembentukan bayangan oleh pemantulan cermin cekung maupun cermin cembung. Subramaniam R. 2009. Krathwohl DR. Sebelumnya. Siswa memahami konsep pemantulan cahaya sedang. Kedua. Jakarta: Depdikbud. Tidak Diterbitkan Ikhsan M. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. SARAN Setelah melakukan penelitian ini. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. skor B. 2010: 2) bahwa skor rata-rata siswa terhadap masalah konseptual lebih rendah daripada skor rata-ratanya terhadap masalah hitungan. 2011. Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. dan mudah dalam penskorannya. Ketiga. 32(7):939-961.

Nilufer D. 2010. Pesman H. Jakarta. “Development of a Three-Tier Test to Assess Misconceptions About Simple Electric Circuits”. Werdhiana IK. Bandung: UPI. “Development of a Two-Tier Diagnostic Test to Determine Students’ Understanding of Concepts in Genetics”. (4). “The Taiwan National Science Concept Learning Study in an International Perspective”. Sudjana. 2000. 2010. 11 September 2014 Kaltakci D. Identification of Pre-Service Physics Teachers' Misconceptions on Gravity Concept: A Study with a 3-Tier Misconception Test. Bandung : Penerbit Alfabeta. Tesis pada Pascasarjana Pendidikan IPA UPI Bandung. Kumaedi. 2005. Development Of A Three-Tier Test To Assess Misconceptions About Simple Electric Circuits. Saglam N. 2007. Tidak Diterbitkan. Kilic D. E-book Soal TO UN IPA-Fisika SMP/MTs 2012. 391-403. Dan Cembung. The Journal of Educational Research. Tesis pada Pascasarjana Pendidikan Fisika Firat University Turkey: Tidak Diterbitkan. Disertasi pada Pascasarjana Pendidikan IPA Bandung.Tesis pada Pascasarjana Pendidikan IPA UPI Bandung. Tidak Diterbitkan 43 . 29. Eurasian Journal of Educational Research. 208-222. Eryilmaz A. Team Erlangga. 227-244. Universitas Pendidikan Indonesia. Metode Penelitian Pendidikan. 103. 2008. 2010. Erlangga. Pedoman Penulisan Karya Ilmiah. 2011. Bandung: Tarsito. Metoda Statistika. Sri E. 2010. 2009. Profil Tes Open Book Sesuai Dengan Tahap Perkembangan Intelektual. International Journal of Science Education. 2012. Sixth International Conference of the Balkan Physical Union: American Institute of Physics. 2007. Analisis Miskonsepsi Siswa MAN Dalam Pembelajaran Pembentukan Bayangan Oleh Cermin Datar. Cekung. Pesman H. Tidak Diterbitkan Sugiyono. Pengembangan tes pemahaman konsep fisika siswa SMA. Treagust DF.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Chandrasegaran AL.

Lebih dari 85% siswa menanggapi setuju atau sangat setuju bahwa berpartisipasi dalam kelas biologi dengan konteks peternakan menyebabkan mereka menghayati sifat kompleks peternakan hewan. Komoditas hayati unggulan lokal pertanian merupakan konteks yang dekat dengan siswa di wilayah agraria. yaitu dengan nilai 100 dan aspek kelengkapan materi dalam memperoleh nilai yang paling kecil. Instrumen yang digunakan untuk menilai kreativitas guru biologi SMA. Kata Kunci: RPP. Balschweid (2002) menjelaskan bahwa lebih dari 90% subyek penelitian menyatakan setuju atau sangat setuju bahwa berpartisipasi dalam kelas biologi yang menggunakan pertanian sebagai konteks membantu mereka untuk memahami hubungan antara sains dan pertanian. baik karena potensi alam maupun karena komoditas ini dipengaruhi oleh tingkat produksi.32. yaitu 95. dan pemasarannya sebagai upaya menghasilkan produk pertanian yang memiliki keunggulan (Susanto & Sirappa. skala usaha.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. dengan nilia paling rendah adalah dalam merumuskan tujuan pembelajaran. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada umumnya guru biologi SMA sudah dapat mengintegrasikan aspek komoditas hayati unggulan ke dalam RPP dengan baik. 11 September 2014 KREATIVITAS GURU BIOLOGI DALAM MERENCANAKAN PEMBELAJARAN BIOLOGI SMA BERBASIS KOMODITAS HAYATI UNGGULAN LOKAL Asep Agus Sulaeman PPPPTK IPA Liliasari. menyatakan dalam pengembangan pembelajaran kimia kontekstual di wilayah industri. Sejalan dengan hal tersebut. Guru biologi juga sudah bisa membuat LKS yang memberikan nilai kebermaknaan dan kemanfaatan dengan nilai tertinggi dari aspek-aspek lainya. 2005). Komoditas unggulan lokal adalah komoditas yang memiliki potensi besar dan dapat dikembangkan. yaitu 71. Kajian ini menggunakan metode deskriptif. Hofstein & Kesner (2006). yaitu menggambarkan kreativitas guru dalam mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar kegiatan siswa berbasis komoditas hayati unggulan lokal. yaitu 76. LKS. Begitu pula 44 . Adapun Balschweid & Huerta (2008) menyatakan bahwa pembelajaran Biologi dalam konteks pengetahuan tentang hewan ternak dapat meningkatkan informasi langsung kepada siswa tentang tempat kerja dan memberikan siswa landasan untuk memilih pendidikan pasca-sekolah menengah. konteks komoditas hayati unggulan lokal pertanian memungkinkan untuk dapat diintegrasikan dalam pembelajaran biologi di sekolah oleh guru di lingkungan wilayah pertanian. Analisis data terhadap dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran biologi dan lembar kegiatan siswa berbasis komoditas hayati unggulan lokal dilakukan secara deskriptif kuantitatif dengan menggunakan kriteria sesuai instrumen yang telah dikembangkan. seperti Indonesia. salah satu konteks pembelajaran yang dapat diintegrasikan dalam pembelajaran adalah komoditas hayati unggulan lokal pertanian. Berkaitan dengan integrasi pertanian dalam sains sebagai konteks. deskriptif kuantitatif PENDAHULUAN Di wilayah pertanian. Balschweid (2002) juga menyimpulkan bahwa sains yang diajarkan dalam konteks peternakan oleh guru yang berpengalaman memiliki dampak positif pada sikap siswa terhadap pertanian dan mereka yang bekerja di industri pertanian. yaitu instrumen penilaian produk kreatif untuk rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar kegiatan siswa yang dihasilkan guru yang memuat topik-topik yang terkait dengan seluruh aspek salah satu jenis komoditas hayati unggulan lokal. salah satu prinsip dalam mengintegrasikan industri kimia ke dalam pembelajaran adalah industri yang berperan dalam kepentingan lokal dan berbahan dasar material lokal. seperti di Indonesia. Sri Redjeki.25 dan nilainya paling besar adalah kemampuan merencanakan penilaian. Dewi Sawitri Universitas Pendidikan Indonesia Institut Teknologi Bandung Abstrak Kajian ini dilakukan untuk mengetahui kreativitas guru Biologi SMA dalam merancang rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar kegiatan siswa berbasis komoditas hayati unggulan lokal. Oleh karena itu. Data diperoleh dengan menilai dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran biologi SMA yang dibuat oleh guru dengan mengintegrasikan komoditas hayati unggulan lokal.

Guru biologi SMA harus kreatif dan inovatif dalam penerapan dan pengembangan bidang ilmu biologi dan ilmu-ilmu yang terkait (Depdiknas. 2007). Saat pengembangan bahan pembelajaran di kelas. Hasilnya adalah guru dapat memetakan 10 jenis komoditas hayati unggulan lokal di Kabupaten Majalengka dengan 15 topik biologi 45 . (4) mengimplementasikan komoditas unggulan lokal dan diversifikasinya ke dalam rencana pembelajaran. et al. Sulaeman dkk. (2) menganalisis komoditas unggulan lokal berdasarkan data primer dan sekunder. melalui penggunaan mind map guru-guru biologi sudah kreatif memetakan keberkaitan di antara aspek-aspek komoditas hayati unggulan lokal. Saat ini. Guru sendiri perlu untuk menjadi pemikir kreatif dalam merancang program pembelajaran yang tepat dan untuk memelihara kemampuan berpikir kreatif peserta didik. dan berpusat pada peserta didik. melibatkan siswa secara aktif dan efektif (Ellis & Read. Mereka juga sudah dapat memetakan aspek-aspek komoditas hayati unggulan lokal tersebut ke dalam topik-topik pembelajaran biologi di SMA. (5) mengimplementasikan komoditas unggulan lokal dan diversifikasinya ke dalam lembar kegiatan siswa. menunjukkan bahwa peserta didik gagal mengembangkan pemahaman mendalam tentang sains dan matematika di kelas tradisional yang menyebabkan gagalnya menerapkan pengetahuan ini dalam kehidupan di luar kelas. komunitas keluarga dan masyarakat. guru ditantang untuk kreatif sehingga mampu mengintegrasikannya ke dalam pembelajaran. Konteks berpikir kreatif guru dalam pembelajaran adalah kemampuan guru dalam menciptakan berbagai ide dan kemungkinan-kemungkinan baru dan asli. Berdasarkan hal tersebut. Oleh karena itu. sekolah harus membantu siswa memenuhi kebutuhan kehidupan pribadinya dalam kontribusi ke arah kesejahteraan keluarga. 2010). kelenturan. Salah satu bentuk kreativitas guru adalah mengembangkan program pembelajaran yang unik dan merangsang pelajaran yang relevan dengan masukan dari budaya lokal. 2007) Hasil penelitian yang dilakukan oleh Bailey dan Merritt dalam Balschweid (2002). Meintjes & Grosser (2012) merangkum dari beberapa peneliti sebelumnya bahwa kreativitas guru dalam mengambangkan pembelajaran merujuk pada kreativitas guru sebagai fungsi kognitif yang mengacu pada kemampuannya untuk menghasilkan ide-ide dan konsep-konsep baru. Penggunaan kurikulum pertanian sebagai kerangka kontekstual untuk mendukung akuisisi pendidikan IPA akan meningkatkan pembelajaran dan bermakna bagi siswa sehingga dapat menerapkan pembelajaran yang telah mereka peroleh (Myers & Washburn. Mengajar dengan kreatif adalah guru menggunakan berbagai pendekatan untuk mewujudkan pembelajaran yang lebih menyenangkan. serta kemampuan berpikirnya sebagai hasil refleksi dari wawasan. Oleh karena itu. 2008). Guru bertanggung jawab untuk merancang dan membangun lingkungan belajar yang relevan. 2010). (6) berkreasi menyusun pembelajaran biologi yang mendukung pengembangan komoditas hayati unggulan lokal di wilayahnya masing-masing. serta kemampuan untuk berpikir divergen dan berpikir produktif dalam domain akademik. guru dituntut dapat melihat fakta bahwa setiap wilayah memiliki jenis komoditas unggulan hayati lokalnya masing-masing dengan seluruh aspeknya. Kompetensi guru sebagai hasil dari program ini adalah. keingintahuan. menantang. guru-guru biologi SMA di Indonesia perlu mengembangakan pembelajaran berbasis komoditas hayati unggulan lokal sebagai cara untuk memberikan pembelajaran bermakna kepada siswanya. guru-guru biologi belum mengembangkan rencana pembelajaran dan lembar kegiatan pembelajaran yang mengintegrasikan komoditas hayati unggulan lokal. mulai aspek budidaya sampai ke industri pengolahan serta pemasarannya. Hasil kajian Sulaeman dkk (2014) setelah melaksanakan program ini menunjukkan bahwa. 2006). 2013). 2001). Dalam konteks integrasi komoditas hayati unggulan lokal. Guru ditantang untuk menghasilkan lingkungan belajar yang dapat membantu siswa dalam memahami sains dan relevansinya yang disesuaikan dengan minat dan kemampuan siswa (Marshall. Dalam pembelajaran Sains. (1) memahami konsep komoditas hayati unggulan lokal dan manfaatnya di suatu wilayah. Salah satu bentuk kreativitas adalah keterampilan penting dalam memproduksi ide baru yang dapat memecahkan masalah pembelajaran serta membantu para siswa dalam belajar biologi (Diki. (2014) mengembangkan program diklat kreativitas guru biologi SMA dalam pembelajaran berbasis komoditas hayati unggulan lokal yang diharapkan menjadi fasilitas bagi guru biologi untuk memperoleh pengetahuan komoditas hayati unggulan lokal dan keterampilan menganalisisnya sehingga mereka kreatif membuat pembelajaran biologi di SMA berbasis keunggulan hayati lokal.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. guru harus memberikan kegiatan pembelajaran untuk peserta didik agar meningkatkan kemampuan mental dan pengembangan sikapnya (Dailey. Selanjutnya.. (3) kreatif mengaitkan komoditas unggulan lokal dan diversifikasinya dengan konsep-konsep biologi di SMA. keaslian. aspek-aspek komoditas hayati unggulan lokal dapat dipetakan dengan topiktopik dalam pembelajaran biologi di SMA. dan kemampuan menghubungkan antara konsep-konsep atau ide-ide yang terkadang dilupakan oleh guru itu sendiri ketika menyusun program pembelajaran (Meintjes & Grosser. berkaitan dengan komoditas hayati unggulan lokal. 11 September 2014 sebaliknya. Siswa yang diajar dengan mengintegrasikan pertanian dan prinsip-prinsip ilmiah menunjukkan prestasi yang lebih tinggi daripada siswa yang diajar dengan pendekatan tradisional (Balschweid & Huerta. hasil penelitian mendukung pernyataan bahwa integrasi sains ke kurikulum pertanian adalah cara yang lebih efektif untuk mengajarkan sains.

Responden dalam kajian ini adalah 20 guru biologi SMA yang menjadi perwakilan setiap SMA Negeri dan Swasta yang terdapat di Kabupaten Majalengka. merancang keberkaitan antara komoditas hayati unggulan lokal serta diversifikasinya dan konsep-konsep biologi di SMA. Adapun komponen lembar kegiatan siswa terdiri atas kebermaknaan dan kebermanfaatan. METODE Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. guru dibekali beberapa keterampilan. guru harus kreatif mengembangkan rencana pembelajaran dan LKS biologi SMA yang berbasis komoditas hayati unggulan lokal. yang terdiri atas novelty (kemampuan menghasilkan ide baru). guru dibekali pengetahuan tentang keanekaragaman hayati di Indonesia. Kajian ini dilakukan pada bulan April 2014. mengorganisasikan materi. Setelah itu. 11 September 2014 SMA dan mengajukan 76 alternatif pembelajaran yang tersebar di setiap jenjang kelas SMA. Setelah guru mampu memetakan topik-topik dari seluruh aspek komoditas hayati unggulan lokal ke dalam pembelajaran. Analisis data dokumen lembar kegiatan siswa juga dilakukan secara deskriptif kuantitatif dengan menggunakan kriteria sesuai instrumen yang telah dikembangkan. kelengkapan materi. dan sistematika keilmuan. Oleh karena itu. guru dibekali pengetahuan tentang komoditas unggulan lokal dan manfaatnya bagi pengembangan wilayah. dan scientific knowledge (menghasilkan karya yang berlandaskan pengetahuan ilmiah). Jumlah terbanyak alternatif pembelajaran terdapat di kelas X semester 2. Selanjutnya guru biologi dibekali cara memetakan topik-topik dari seluruh aspek komoditas hayati unggulan lokal dan praktik memetakannya ke dalam pembelajaran biologi SMA. Analisis data terhadap dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran biologi berbasis komoditas hayati unggulan lokal dilakukan secara deskriptif kuantitatif dengan menggunakan kriteria sesuai instrumen yang telah dikembangkan. Pengambilan data dilakukan terhadap kreativitas guru-guru biologi SMA di kabupaten Majalengka yang mengikuti pendidikan dan pelatihan kreativitas guru biologi SMA dalam pembelajaran berbasis komoditas hayati unggulan lokal. Komponen rencana pelaksanaan pembelajaran terdiri atas merumuskan tujuan pembelajaran. Kajian ini dilakukan untuk mengetahui Kreativitas guru Biologi SMA dalam merancang rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar kegiatan siswa berbasis komoditas hayati unggulan lokal. dan menyiapkan alat penilaian. Instrumen yang digunakan untuk menilai kreativitas guru biologi SMA yaitu instrumen penilaian produk kreatif untuk rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar kegiatan siswa yang dihasilkan guru yang memuat topik-topik yang terkait dengan seluruh aspek salah satu jenis komoditas hayati unggulan lokal. guru dituntut untuk dapat mengembangkan pembelajaran biologi SMA berbasis komoditas hayati unggulan lokal.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada Diklat Kreativitas Guru Biologi dalam Mengembangkan Pembelajaran Berbasis Komoditas Hayati Unggulan Lokal. media dan sumber belajar. dan komponen lembar kegiatan siswa. Hasil pemetaan ini harus ditindaklanjuti oleh guru-guru biologi dengan mengaplikasikannya ke dalam rencana pembelajaran. Sejalan dengan hal tersebut. style of creation (menghasilkan bentuk kreasi). keakuratan materi. Selanjutnya setiap komponen ini dibuatkan deskriptor penilaiannya berdasarkan komponen produk kreatif yang dikembangkan oleh Besmer and O' Quin (1986). yaitu memahami keanekaragaman hayati di Indonesia. merencanakan skenario pembelajaran. dan menyusun lembar kegiatan siswa berbasis komoditas hayati unggulan lokal. yaitu dengan mengembangkan rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) dan lembar kegiatan siswa (LKS). Indikator masing-masing aspek produk kreatif tersebut dikembangkan dengan mengaitkan komoditas hayati unggulan lokal sebagai kontennya. menyusun perangkat rencana pembelajaran berbasis komoditas hayati unggulan lokal. Adapun jumlah paling sedikit terdapat di kelas XII semester 2. memahami komoditas unggulan lokal dan manfaatnya bagi pengembangan wilayah. Di awal kegiatan diklat. yaitu sebanyak 2 jenis. Dalam kajian ini. data diperoleh dengan menilai dokumen rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar kegiatan siswa mata pelajaran biologi SMA yang dibuat oleh guru dengan mengintegrasikan komoditas hayati unggulan lokal. applicability to problem solving (kemampuan menghasilkan pemecahan masalah yang berguna). Selanjutnya. yaitu sebanyak 36 jenis. yaitu menggambarkan kreativitas guru dalam mengembangan rencana pelaksanaan pembelajaran dan lembar kegiatan siswa berbasis komoditas hayati unggulan lokal. 46 . Pengembangaan instrumen dilakukan berdasarkan atas komponen-komponen yang terdapat di dalam komponen rencana pelaksanaan pembelajaran. menganalisis komoditas unggulan lokal berdasarkan dokumen perencanaan. melibatkan siswa secara aktif. guru dilatih menganalisis komoditas hayati unggulan lokal berdasarkan dokumen perencanaan dari Bappeda dan Dinas Pertanian sehingga guru dapat menentukan jenis komoditas unggulan di Kabupaten Majalengka.

mengulas materi. dan kemampuan siswa merupakan faktor utama sebagai pertimbangan awal dalam menentukan tujuan dan sasaran yang tepat. Dengan menggunakan mind map pada proses diklat. yang keduanya harus dikaitkan dengan pertimbangan kurikulum yang lebih luas. biasanya dapat diimplementasikan dengan baik pula (Rustaman. Mereka tidak mengetahui cara membuat rencana pembelajaran berbasis keanekaragaman hayati unggulan lokal secara sistematis. Berdasarkan hasil kajian sebelumnya. akhirnya guru dapat menentukan jenis komoditas hayati unggulan 47 . memilih sumber daya dan media. mengembangkan materi ajar. dan (4) merencanakan penilaian. 2007). memilih metode. guru-guru merancang rencana pembelajaran dengan lengkap. Langkah pertama dalam merencanakan pembelajaran adalah pemilihan topik atau komponen dari subjek yang akan diajarkan. media dan sumber belajar. Rencana pembelajaran merupakan hasil aktivitas individual guru yang dibentuk oleh latar belakang guru. Pada umumnya guru-guru biologi SMA belum pernah menganalisis komoditas unggulan lokal. dkk. seperti struktur kurikulum yang menjadi standar dan tolok ukur ketika mengembangan rencana pembelajaran. Langkah ketiga adalah penyusunan konten yang akan dibahas dan menentukan metode pengajaran dan pengalaman belajar terbaik yang akan membawa siswa mencapai tujuan dan sasaran yang telah ditetapkan.. Langkah keempat adalah proses perencanaan penilaian terhadap efektivitas metode pembelajaran dan kegiatan belajar sehingga dapat diukur pencapaian terhadap tujuan yang telah ditetapkan. Selanjutnya RPP dikembangkan menjadi bentuk langkah-langkah pembelajaran yang terdiri atas aktivitas rincian aktivitas siswa dan alokasi waktunya. 11 September 2014 Pembelajaran biologi yang difasilitasi guru dapat difokuskan untuk memperkenalkan konten baru. yaitu gabungan antara domain kognitif. 2006). Dalam mengembangkan pembelajaran saat persiapan mengajar. Pada awalnya guru tidak mengenal komoditas hayati unggulan dan tidak mampu mengidentifikasi komoditas hayati unggulan lokal di daerahnya karena tidak mengetahui kriterianya. guru-guru biologi SMA mengembangkan RPP biologi berbasis komoditas hayati unggulan lokal dari satu altenatif jenis kegiatan pembelajaran yang telah dipetakan sebelumnya. mengorganisasikan kegiatan pembelajaran. dan mengevaluasi hasilnya (John. Selanjutnya. 2006). pengalaman. merencanakan. guru harus memikirkan komptensi yang harus siswa pahami dan menentukan proses terbaik agar mudah memahami isinya. mulai dari menentukan indikator pencapaian kompetensi. Indikator penilaian kemampuan guru biologi SMA dalam mengembangkan RPP berbasis komoditas hayati unggulan lokal terdiri atas (1) merumuskan tujuan pembelajaran. afektif. 2014). Guru tidak akan dapat merancang. Kondisi tersebut menyebabkan guru tidak pernah membuat indikator dan tujuan pembelajaran biologi di SMA dengan mengintegrasikan komoditas hayati unggulan lokal. (3) merencanakan langkah pembelajaran. menentukan langkah pembelajaran. Artinya. Kreativitas Guru dalam Mengembangkan RPP Berbasis Komoditas Hayati Unggulan Lokal Salah satu keterbatasan guru IPA saat ini adalah kemampuan untuk mengintegrasikan kehidupan seharihari ke dalam kurikulum pembelajaran IPA di kelas (Balschwed. 2012). memutuskan untuk memilih strategi pembelajaran tertentu. Membuat persiapan mengajar dengan menyusun RPP merupakan tugas guru yang sangat penting karena kegiatan yang telah dirancang dengan baik. Mereka juga memiliki waktu untuk mengembangkan kegiatan pedagogis atau metode yang memungkinkan siswa untuk mudah dalam memahami materi pelajaran. kendalanya adalah keterbatasan kemampuan guru biologi dalam memetakan komoditas ke dalam topik-topik biologi. atau menerapkan pembelajaran yang diinginkan dengan baik jika tidak melalui suatu siklus rasional yang dimulai dengan merumuskan tujuan. atau menerapkan apa yang telah dipelajari melalui pemecahan masalah. dan merencanakan penilaian yang dihubungkan dengan topik komoditas hayati unggulan lokal. guru berhasil memetakan topik-topik biologi dan alternatif jenis kegiatan pembelajaran biologi SMA yang berbasis komoditas hayati unggulan lokal dengan mengunakan mind map (Sulaeman. sangat penting bagi guru biologi SMA untuk menemukan cara dalam menghubungkan konten sains dengan kehidupan sehari-hari siswa. Setelah dibekali pengetahuan tentang komoditas hayati unggulan lokal dan cara menganalisisnya. Pada kajian ini. termasuk cara mempresentasikan materi yang terdapat di dalam buku teks atau aspek-aspek lainnya. serta kemampuan profesionalitasnya yang dihubungkan dengan kebutuhan siswa (Ellis & Read. Begitu pula kelemahan untuk mengimplementasikan pembelajaran berbasis komoditas hayati unggulan lokal. mengkorelasikan antara topik-topik dari aspek komoditas hayati unggulan lokal dan pembelajaran untuk kemudian diintegrasikan ke dalam pembelajaran. melaksanakan pembelajaran. Karakteristik materi. menentukan tujuan pembelajaran. dan psikomotorik. Guru memiliki kesempatan untuk berpikir secara mendalam tentang materi pelajaran. tidak mengetahui cara menganalisis komoditas unggulan hayati lokal secara sistematis sehingga mereka belum pernah membuat rencana pembelajaran berbasis komoditas hayati unggulan lokal (Sulaeman. Langkah kedua adalah menetapkan maksud dan tujuan. akhirnya guru mampu memetakan topik-topik komoditas hayati unggulan lokal ke dalam pembelajaran biologi SMA. karakteristik siswa. 2002).Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. (2) mengorganisasikan materi. kecenderungan dan keyakinan guru.

Artinya.25.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Berdasarkan contoh tersebut. media dan sumber belajar sangat baik. padi. Dalam menetapkan indikator pencapaian kompetensi dan tujuan pembelajaran. 2007). Kemampuan guru mengembangkan RPP berbasis komoditas hayati unggulan lokal dapat terlihat pada Gambar 1. yaitu 81. Indikator merumuskan tujuan pembelajaran dalam RPP yang memperoleh nilai paling rendah. 2010). dan (3) menganalisis hasil fermentasi kentang (Solanum tuberosum L). Untuk membuat pembelajaran IPA relevan dengan lingkungan siswa. dan (2) menjelaskan kandungan zat makanan pada kentang (Solanum tuberosum L. guru-guru biologi menetapkan indikator dan tujuan pembelajaran berdasarkan kompetensi dasar yang telah ditetapkan dengan mengintegrasikan komoditas hayati unggulan lokal. Contoh indikator pencapaian kompetensi dari aspek keterampilan yang berbasis komoditas hayati unggulan lokal yang dihasilkan oleh guru adalah (1) mempraktikkan pemanfaatan ikan nila (Oreochromis niloticus) menjadi makanan ringan. yaitu 95. Nilai dari aspek mengorganisasikan materi. Selain itu. guru-guru juga sudah mampu mengintegrasikan komoditas hayati unggulan lokal.). dan ubi jalar. guru sudah bisa merencanakan pengalaman belajar untuk siswanya sesuai tuntutan kompetensi dasar yang dihubungkan dengan pemahaman komoditas hayati unggulan lokal bagi siswanya. Tanpa ada tujuan. guru sudah dapat merumuskan indikator hasil belajar dan merumuskan tujuan pembelajaran yang sesuai dengan kompetensi dasar dengan mengintegrasikan komoditas hayati unggulan lokal. Adapun pengetahuan yang akan dicapai oleh siswa dalam pembelajaran tersebut adalah (1) faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tanaman dan (2) kandungan zat gizi pada makanan.4. Gambar 1. Pengetahuan dan keterampilan yang menjadi pengalaman belajar siswa ini dapat memberikan motivasi bagi siswa untuk turut berpartisipasi dalam pengembangan komoditas hayati unggulan lokal di kehidupan nyatanya di luar sekolah. jagung. dan membuat donut. Sebagai contoh. rencana pembelajaran tidak dapat disusun. baik dari aspek pengetahuan maupun keterampilannya ke dalam pembelajaran. Berdasarkan contoh indikator pencapaian kompetensi tersebut. 2005). Adapun aspek yang nilainya paling besar adalah kemampuan merencanakan penilaian. Tujuan pembelajaran merupakan titik tolak atau pijakan guru dalam membuat rencana dan menilai keberhasilan rencana pembelajarannya (Rustaman. dan kentang. Kemampuan Guru dalam Membuat RPP Biologi Berbasis Komoditas Hayati unggulan Lokal Berdasarkan Gambar 1 tampak bahwa pada umumnya guru biologi sudah dapat mengintegrasikan aspek komoditas hayati unggulan ke dalam RPP dengan baik. Adapun keterampilan yang akan dicapai oleh siswa adalah mengolah ikan nila. 11 September 2014 lokal.). menentukan dan mengembangkan media pembelajaran. jenis komoditas hayati unggulannya adalah ikan nila. yaitu 71. Dalam pengembangan pembelajaran dengan konteks lokal. dan jagung (Zea mays). demikian juga untuk merancang evaluasinya. memilih sumber belajar yang sesuai yang berkaitan dengan komoditas hayati unggulan lokal. indikator pencapaian kompetensi dari aspek pengetahuan komoditas hayati unggulan lokal yang dihasilkan oleh guru adalah (1) menjelaskan pengaruh faktor luar terhadap pertumbuhan tanaman cabe merah (Capsicum annuum L.. Berdasarkan hasil analisis ini. Banyak indikator pencapaian kompetensi yang dihasilkan oleh guru dalam mengembangkan pembelajaran berbasis komoditas hayati unggulan lokal. diperlukan perencanaan dan persiapan dari pengajar (Marshall. Guru-guru tidak hanyak 48 . interpretasi pertama oleh guru adalah memfokuskan pada isi kurikulum yang dipilih untuk kemudian dikembangkan sesuai dengan minat dan pengalaman peserta didik di kehidupan sehari-hari (Kasandaa et al. serta merancang dampak pengiring berbentuk kecakapan hidup (life skills) berkaitan dengan komoditas hayati unggulan lokal. (2) mempraktikkan pembuatan medium jamur merang dari jerami padi (Oryza sativa L. jenis komoditas hayati unggulan adalah cabe merah.). Pada aspek ini guru harus mengembangkan dan mengorganisasikan materi pembelajaran sesuai tujuan. sebagian besar guruguru biologi sudah mampu memilih kata kerja operasional yang sesuai dengan kompetensi yang telah ditetapkan dalam standar isi. membuat medium tumbuh jamur merang. akan tetapi nilai tersebut masih dalam katagori baik. Melalui Diklat Kreativitas Guru Biologi dalam Mengembangkan Pembelajaran Berbasis Komoditas Hayati Unggulan Lokal.

RPP merupakan produk kreatif dari guru. siswa dengan lingkungan dan siswa dengan sumber belajar lainnya dalam rangka pencapaian kompetensi dasar (Utami dan Jailani. pada awalnya guru-guru menyediakan jenis makanan yang akan diuji yang sesuai dengan jenis makanan yang terdapat di LKS yang dikembangkan oleh penerbit. Meintjes & Grosser (2012) yang merangkum dari beberapa peneliti sebelumnya menyatakan bahwa kreativitas guru dalam mengembangkan pembelajaran merujuk pada 49 . harus dipertimbangkan aspek pengetahuan dan keterampilan lokal sebagai pengalaman belajar siswa. Terdapat dua kriteria dalam merencanakan penilaian. Dalam merencanakan pembelajaran berbasis komoditas hayati unggulan guru mendapatkan nilai sangat baik. Adapun untuk aspek keterampilan.8. Misalnya pada kegiatan uji makanan. berdasarkan uraian tersebut guru-guru sudah mampu memanfaatkan aspek-aspek komoditas hayati unggulan lokal sebagai media dalam pembelajaran. guru-guru sudah mampu memilih media pembelajaran yang berbasis komoditas hayati unggulan lokal. dan komoditas hayati unggulan lokal. yaitu ketika membelajarkan manfaat keanekaragaman hewan dan tumbuhan. yaitu pembuatan media jamur merang dengan memanfaatkan limbah jerami padi. Diklat yang telah dilakukan membantu guru untuk kreatif dalam membuat pembelajaran sehingga guru lebih mengenal komoditas hayati unggulan lokal dan mengimplementasikannya ke dalam pembelajaran. bahwa seluruh aspek siswa harus dinilai secara otentik. Salah satu contoh keterampilan mengolah komoditas hayati unggulan lokal yang menjadi konten pembelajaran adalah mengolah dan memproduksi makanan dari komoditas hayati unggulan lokal. Pada kajian ini. pengetahuan yang berkaitan dengan komoditas. guru sudah bisa mengembangkan instrumen pengamatan keterampilan siswa ketika melakukan praktik. Beberapa keterampilan dimunculkan guru dalam perencanaan pembelajaran berbasis komoditas hayati unggulan dalam bentuk konten ataupun konteks yang dibelajarkan kepada siswa. Dalam kajian ini pada umumnya sudah mampu merencanakan pembelajaran yang membekalkan keterampilan penanganan komoditas hayati unggulan lokal. Dalam pengembangannya pun. guru sudah menambahkan jenis-jenis komoditas hayati unggulan lokal sebagai objek yang diuji. Jerami padi merupakan limbah padi yang sangat berlimpah di lingkungan wilayah pertanian. guru sudah mampu mengembangan perangkat penilaiannya. Artinya. dalam pembelajaran dengan materi pengolahan limbah organik. guru dituntut mampu mengembangkan instrumen penilaian sikap. guruguru merencanakan penilaian dengan baik. konten. Oleh karena itu. Dalam pengembangan konteks lokal ke dalam pembelajaran. Adapun contoh keterampilan yang menjadi konteks dalam pembelajaran adalah membuat donut dengan berbahan dasar kentang atau ubi ketika membelajarkan pengetahuan tentang metabolisme dan bioteknologi. Perangkat pembelajaran yang disusun seharusnya memberikan pengalaman belajar yang melibatkan proses mental dan fisik melalui interaksi antar siswa. Dalam penyampaiannya. Pada umumnya. Keberhasilan pencapaian tujuan pembelajaran oleh siswa dan guru dapat diketahui melalui kegiatan penilaian. seperti pembelajaran biologi berbasis komoditas hayati unggulan lokal merupakan pembelajaran yang berpusat pada siswa kerena guru harus menggunakan pengetahuan dan keterampilan yang dimiliki siswa pada saat membelajarkan suatu topik. Salah satu elemen penting dalam membelajarkan siswa dengan konteks lokal ke dalam pembelajaran kepada siswa adalah dengan mempraktikkan langsung keterampilan yang berkaitan dengan aspek lokal (Gilbert. yaitu menentukan prosedur dan menunjukan bahwa jenis penilaian yang sesuai tujuan pembelajaran yang mengintegrasikan komoditas hayati unggulan lokal. Berdasarkan tujuan pembelajaran yang telah dibuat. Contoh lainnya. Sekarang.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. terutama dalam pengembangan soal tes. guru juga harus mempertimbangkan aspek pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan komoditas hayati unggulan lokal yang dibelajarkan kepada siswa. Dalam pengembangan evaluasinya. di dalam perencanaan pembelajaran harus tergambarkan kegiatan-kegiatan yang menggali dan memberdayakan pengetahuan dan keterampilan siswa di kehidupan sehari-hari. guru sudah mampu menampilkan materi ajar yang berbasis komoditas hayati unggulan lokal. tanpa ada kemamuan guru untuk mengubahnya. tetapi dalam pengembangannya tidak terbiasa mengembangkan melalui tahap kisi-kisi. 2013).. Dalam kajian ini. Sejalan dengan tuntutan kurikulum 2013. guru-guru harus lebih berperan sebagai fasilitator untuk siswanya daripada hanya sebagai pemberi informasi. biasanya guru-guru mengembangkan pembelajaran dengan mendaur ulang kertas bekas sesuai LKS di buku. guru mampu menampilkan kegiatan lain untuk materi pengolahan limbah organik. Dalam memilih metode pembelajaran. siswa dengan guru. pengetahuan. guru-guru sudah mampu menentukan tujuan pembelajaran dengan mempertimbangkan antara kompetensi. Dalam pemilihan media. 2011). Oleh karena itu. guru-guru harus bisa menyajikan pembelajaran biologi yang membekalkan keterampilan-keterampilan yang berkaitan dengan penanganan komoditas hayati unggulan lokal kepada siswa. 11 September 2014 dituntut untuk memiliki pengetahuan tentang konsep-konsep IPA baik. dan keterampilan (Kemdikbud. dalam penilaian. pengetahuan tentang komoditas hayati unggulan lokal yang berkaitan dengan konten pun ditambahkan ke dalam pembelajaran oleh guru-guru. dan keterampilan yang berkaitan dengan komditas hayati unggulan lokal. Guru-guru terbiasa mengembangkan soal berdasarkan perkiraan dengan merujuk pada tujuan pembelajaran. baik dari aspek sikap. 2012). Kegiatan pembelajaran dengan konteks lokal. et al. yaitu 84.

kelengkapan mater. Nilai kreativitas dari aspek style of creation (menghasilkan bentuk kreasi) menghasilkan nilai paling rendah. Adapun kriteria yang digunakan untuk menilai kreativitas guru dalam mengembangkan RPP adalah novelty (kemampuan menghasilkan ide baru). Adapun aspek kelengkapan materi dalam LKS yang telah dibuat oleh guru memperoleh nilai yang paling kecil. dan scientific knowledge (menghasilkan karya yang berlandaskan pengetahuan ilmiah). yaitu 80. Niali kreativitas tertinggi dari aspek applicability to problem solving (kemampuan menghasilkan pemecahan masalah yang berguna). 50 . Secara khusus. Berdasarkan Gambar 3. konten yang dibelajarkan. Indikator masing-masing aspek produk kreatif tersebut dikembangkan dengan mengaitkan komoditas hayati unggulan lokal sebagai kontennya (Besmer & O' Quin. style of creation (menghasilkan bentuk kreasi). Berdasarkan aspeknya. yaitu dengan nilai 100. Kreativitas Guru dalam Membuat RPP Biologi Berbasis Komoditas Hayati unggulan Lokal Berdasarkan Gambar 2 tampak bahwa nilai kreativitas guru dalam mengembangkan RPP dengan mengintegrasikan aspek komoditas hayati unggulan termasuk katagori sangat baik. yaitu 76. guru sudah bisa merencanakan pengalaman belajar untuk siswa sesuai kompetensi dasar yang dihubungkan dengan pemahaman komoditas hayati unggulan lokal. applicability to problem solving (kemampuan menghasilkan pemecahan masalah yang berguna). tampak bahwa pada umumnya guru sudah bisa mengembangkan LKS yang membekalkan pengetahuan dan keterampilan yang berkaitan dengan komoditas hayati unggulan lokal dalam kegiatan pembelajaran biologi. dan kemampuan untuk berpikir divergen dan berpikir produktif dalam domain akademik. Artinya. guru sudah bisa membuat LKS yang memberikan nilai kebermaknaan dan kemanfaatan dengan nilai tertinggi dibandingkan aspek-aspek lainya. pelibatan siswa secara aktif. LKS yang disusun dapat digunakan untuk mengembangkan keterampilan siswanya. LKS dapat dikembangkan sesuai kebutuhan siswa. misalnya keterampilan mengolah jenis koditas hayati unggulan lokal. Guru sudah dapat mengaplikasikan pemahaman jenis komoditas hayati unggulan lokal dan prosesnya sebagai bahan aktivitas siswa. dan sitematika materi. yaitu 100. 11 September 2014 kreativitas guru sebagai fungsi kognitif yang mengacu pada kemampuannya untuk menghasilkan ide-ide dan konsep-konsep baru.32. Kreativitas Guru dalam Mengembangkan LKS Berbasis Komoditas Hayati Unggulan Lokal Salah satu alternatif bahan ajar untuk belajar mandiri siswa adalah Lembar Kerja Siswa (LKS).Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. penilaian LKS yang telah dibuat meliputi aspek kebermaknaan dan kemanfataan. Sebagai hasil kerja guru. dan konteks yang tersedia sehingga mempermudah siswa dalam memahami konsep dan membantu siswa dalam mencapai kompetensinya. Akan tetapi nilai tersebut masih dalam katagori yang sangat baik. Gambar 2. pengembangan indikator dari masing-masing aspek penilaian LKS tersebut dengan mengaitkan komoditas hayati unggulan lokal. Kondisi tersebut berkaitan dengan kebiasaan guru yang jarang mengembangkan materi dan hanya menggunakan bahan ajar yang sudah ada. 1986).

Kondisi tersebut sejalan dengan kajian Marshall (2010) yang menyatakan bahwa sebagian besar guru di Amerika Serikat selalu menggunakan permasalan dan bahan pembelajaran dari buku teks dan LKS yang sudah ada. dan scientific knowledge (menghasilkan karya yang berlandaskan pengetahuan ilmiah). Adapun untuk aspek kelengkapan materi mendapatkan nilai paling rendah. dalam mengembangkan LKS. Gambar 4. Indikator masing-masing aspek produk kreatif tersebut dikembangkan dengan mengaitkan komoditas hayati unggulan lokal sebagai kontennya (Besmer and O' Quin. 11 September 2014 Gambar 3. Guru juga sudah dengan baik pula mengembangkan aspek sistematika materi. keakuratan materi dan pelibatan siswa aktif di dalam LKS-nya yang dihubungkan dengan komoditas hayati unggulan lokal. dan memberikan kemudahan kepada siswa dalam memahami suatu konsep yang dikaitkan komoditas hayati unggulan lokal. applicability to problem solving (kemampuan menghasilkan pemecahan masalah yang berguna). yang hampir sama di seluruh negara.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. menawarkan kegiatan pembelajaran. 1986). Kondisi ini terjadi karena pada umumnya guru tidak terbiasa mengembangkan materi sendiri sesuai konteks lingkungan sekolah dan objek pembelajaran. pada umunya sudah dapat mengintegrasikan aspek komoditas hayati unggulan ke dalam lembar kegiatan siswa. kriteria yang digunakan untuk menilai kreativitas guru dalam mengembangkan LKS adalah novelty (kemampuan menghasilkan ide baru). Kemampuan Guru dalam Membuat LKS Biologi Berbasis Komoditas Hayati unggulan Lokal Salah satu domain akademik yang dihasilkan guru sebagai bentuk kreativitasnya adalah LKS. Kreativitas Guru dalam Membuat LKS Biologi Berbasis Komoditas Hayati unggulan Lokal Berdasarkan Gambar 3 dan Gambar 4. Artinya. guru juga sudah mampu membelajarkan beberapa keterampilan yang berkaitan dengan pengolahan komoditas unggulan lokal melaui kegiatan pembelajaran yang difasilitasinya. Aspek ini berkaitan dengan kemampuan guru memberikan apa yang mencakup materi yang ada dalam kurikulum yang berlaku dan dikaitkan dengan komoditas hayati unggulan lokal serta mencakup seluruh kompetensi dasar. seluruh guru sudah bisa memberikan nilai kebermanfaatan komoditas hayati unggulan lokal untuk siswanya. Aspek-aspek komoditas hayati unggulan lokal dijadikan bagian dari kegiatan pembelajaran sebagai objek langsung dalam pembelajaran. Lebih dari itu. guru-guru biologi SMA sudah mampu mengaitkan konsep. Dari keseluruhan aspek. style of creation (menghasilkan bentuk kreasi). guru lebih mengandalkan dari buku paket atau buku LKS yang sudah dikembangkan oleh penerbit. Padahal dalam konteks pembelajaran berbasis bahan lokal seharusnya 51 . Dalam mengembangkan materi. Seperti dalam penilaian RPP.

Number 1. 2. Article 3. PENUTUP Kesimpulan Guru-guru biologi memiliki banyak tanggung jawab terhadap siswa untuk mengembangkan sikap. untuk kemudian dibuatkan RPP dan LKS-nya. Volume 49. Jangan sampai pengetahuan tentang komoditas hayati unggulan lokal yang telah mereka miliki menjadi tidak berkembang atau bahkan menjadi hilang karena tidak diberi kesempatan untuk dibelajarkan dalam kelas karena guru memberikan pengetahuan dan keterampilan mata pelajaran biologi yang hanya terpaku kepada buku teks dan LKS yang telah dikembangkan penerbit. Number 1 Bessemer. Volume 49. memperluas wawasan mereka dan menanamkan keinginan untuk mempelajari lebih lanjut tentang materi dan keterampilan yang telah mereka pelajari di dalam maupun di luar kelas. Gilbert JK. Issue 1. Teaching Advanced Life in Animal Context: Agricultural Science Teacher Voices.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Melalui kegiatan Diklat Kreativitas Guru Biologi SMA dalam Pembelajaran Berbasis komoditas Hayati Unggulan Lokal. Kreativitas guru dalam mengembangakan pembelajaran berbasis komoditas hayati unggulan lokal dapat tercermin dari RPP dan LKS yang telah mereka hasilkan. Huerta. Jakarta Diki D.. pp. 2007. 2006). No. 17 . Bulte AMW. Oleh karena itu. 2013. Depdiknas. Shelley-Tolbert CA. Dalam aplikasinya. International Journal of Science Education. 2002. Reiss M. 52 . Creativity for Learning Biologi in Higher Education. 11 September 2014 guru harus lebih kreatif menyediakan bahan pembelajaran sendiri. Concept Development and Transfer in Context-Based Science Education. No. Vol 20. guru-guru sudah mampu menyediakan langkah-langkah pembelajaran yang membekalkan pengetahuan dan keterampilan tentang komoditas hayati unggulan lokal kepada siswanya. Journal of Agricultural Education. Conroy CA. pp. PP. O’Quin. 2006. 6. guru dituntut harus terus kreatif dalam mengembangkan pembelajaran berbasis komoditas hayati unggulan lokal sehingga mampu memberikan pembelajaran bermakna bagi siswanya. Sebenarnya siswa sudah memiliki pengetahuan dan pemahaman yang kaya tentang lingkungannya yang seharusnya dapat dibawa dan lebih diperkuat lagi oleh gurunya dalam pembelajaran di kelas. Pilot A. 1986. kreativitas guru biologi juga harus terus dikembangkan dalam implementasi pembelajaran berbasis komoditas hayati unggulan lokal. 2001. 107-114 Braund M. Toward a More Authentic Science Curiculum : The Contribution of Out-ofSchool Learning. M. M. 28. materi pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan sehingga siswa bisa lebih berperan dan berkiprah di lingkungan masyarakat tempat tinggalnya. 2006. Journal of Agricultural Education. Selanjutnya.27. Journal of Agricultural Education 56. Teaching Biology Using Agriculture as The Context: Preceptions of High School Students. Selanjutnya. Volume 43. Using Agricultural Education's The Context to Teach Life Skills. DAFTAR PUSTAKA Balschweid. Number 2 Balschweid. 1373-1388 Dailey AL. Guru harus dapat menyediakan kegiatan pembelajaran yang berarti yang akan memperdalam pengetahuan mereka. International Journal of Science Education Vol 33. 2008. guru tidak hanya dituntut untuk kreatif dalam memetakan aspek-aspek komoditas hayati unggulan lokal ke dalam topik-topik biologi SMA. No. 3. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru. tetapi mereka juga dituntut juga untuk kreatif mengimplementasikannya secara nyata pembelajaran berbasis komoditas hayati unggulan lokal di sekolah. Pp 817-837. Vol. Vol. melalui penyusunan RPP dan LKS berbasis komoditas hayati lokal. Kemampuan mengembangan RPP dan LKS berbasis komoditas hayati unggulan lokal merupakan keterampilan baru bagi sebagian besar guru biologi karena selama ini mereka mengembangkannya hanya berpedoman pada buku teks dan LKS yang sudah disediakan penerbit yang tidak memperhatikan aspek kehidupan sehari-hari siswa sesuai daerahnya. guru-guru biologi sudah dapat kreatif dalam mengintegrasikan topik-topik dari seluruh aspek komoditas hayati unggulan lokal di wilayahnya. 2011. Journal of Creative Behaviour. Analyzing Creative Product: Refinement and Test of Judging Instrument. 12. Lux: A Journal of Trandisciplinary Writing and Research from Claremont Graduated University. bukan hanya menggunakan bahan pembelajaran yang sudah ada (Hofstein & Kesner.

Sharsmistha. NO. 2012. Vol. Mind Maps and Scoring Scale for Environmental Gains in Science Education. Januari-Juni 2008. Rusastra IW. No. Sastradipradja. Diunduh Dari Http://Www. 2011. Haceeminoglu E. Vol. (ed. 706-712 Purwati. The Role of Student and Teacher Creativity in Aiding Current Reform Efforts in Science and Technology Education. Disampaikan Pada Konggres Ilmu Pengetahuan Nasional X. Yager RE. 2010. Jailan.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Campbell B. 1-2 53 . pp. Commitment and Innovativeness in Curriculum Development and Implementation. 2011. B. Jakarta.3. Prosiding Seminar dan Ekspose Hasil Penelitian/Pengkajian BPTP Jawa Timur. 4. Prospek dan Problema dalam Tataran Aplikasinya.21. KTSP. Grosser M.Id/Data/1228964432/Data/13086710321320841770. Paradigma. 2006. Permasalahan Penyusunan Perangkat Pembelajaran Matematika. 3. International Journal of Science Education Vol. National Forum of Applied Educational Research Journal. Vol 30:361-386 NRC. 2006. Curriculum Studies. Kapendaa H. No. 9. Lubbenb F. 2008. VOL. 27. J. Jurnal Litbang Pertanian. Tahun XIII. Kandjeo-Marengaa U. Meintjes H. Teachers’ Involvement.). 176-196 Hofstein A. Student Centered. International conference on New Horizons in Education Conference Proceedings Book. Vol 25.Lipi. 2002. Gaoseba N. 2010. BPTP Jawa Timur: Surabaya Susanto AN. Nomor 25. 1805–1823 Keles O. Prosiding Seminar Nasional Matematika dan Pendidikan Matematika ISBN : 978-979-16353-8-7 Walujo EB. 1(12) pp..Opi. New Jersey. 2009. Industrial Chemistry and School Chemistry: Making Chemistry Studies more Relevant. The Role of Everyday Contexts in Learner-centred Teaching: The practice in Namibian secondary schools. Marshal G. 2005. Widjaja EA. 2010. 483–498 Kasandaa C. Lesson Planning and The Student Teacher: Re-Thinking The Dominant Model. 38. No. LIPI Press. Jakarta Sudaryanto T. No. Washington DC : National Academic Press Oloruntegbe. Prospek dan Strategi Pengembangan Jagung untuk Mendukung Ketahanan Pangan di Maluku. 2005. 1996. 28. A John Wiley & Sons. Sirappa MP. OK. et al. Vol. Wahyu U. Simatupang P. Keanekaragaman Hayati untuk Pangan. Inc. Kesner M. Strategi dan Kebijakan Pembangunan Ekonomi Pedesaan Berbasis Agribisnis.Makalah. Creative Thinking in Prosfectif Teacher: The Status Quo and The Imfact of Contextual Factor. 2010. T. 2006. pp. Science Education International. 16 December 2005. Educational Research.Pdf Yager SO. 8 – 10 Nopember 2011. 15. International Journal of Science Education.Go. 2010. September 2010. Keanekaragaman Hayati Pertanian Menjamin Kedaulatan Pangan. 24(2): 70-79. Dogan. SD. dan Eilks I. South African Journal of Education. pp. Active Learning Pedagogies in Chemistry Education. 1017-1039 John PD. 11 September 2014 Feierabend T. Raising students’ perception of the relevance of science teaching and promoting communication and evaluation capabilities using authentic and controversial socioscientific issues in the Framework of climate change. National Science Education Standards. Making Chemistry Relevant.

dan lingkungan masyarakat. Fobia matematika dan IPA kerap terjadi pada siswa. IPA merupakan ilmu pengantar teknologi.Kurikulum spiral terintegrasi memiliki ruang lingkup pembahasan yang luas. manusia akan sangat mudah dipengaruhi dan dimanfaatkan oleh pihak tertentu yang ingin mencari keuntungan pribadi. tidak terkendali dan dapat terjerumus ke halhal negatif. lingkungan sekolah.Dengan menguasai teknologi maka dapat mengolah sumber daya alam. Memperoleh pendidikan merupakan hak setiap manusia karena pendidikan memiliki peranan yang sangat penting bagi kelangsungan hidup dan masa depan seseorang. teorema ataupun pembuktian. seseorang akan tumbuh menjadi pribadi yang tidak berkualitas. Tanpa pendidikan. Belajar IPA memerlukan ilmu matematika sebagai pembentuk pola logika dan alat hitung. tidak memiliki daya juang positif yang akhirnya akan membuat arah hidupnya tidak jelas. Studi ini akan mengidentifikasi berbagai masalah dan penyebab fobia matematika dan IPA di antara siswa Sekolah Dasar sampai siswa Sekolah Menengah Atas. Pembelajaran matematika dan IPA seharusnya bersinergi dengan fitrah manusia sebagai makhluk yang berakal dan pencari tahu.Matematika dengan berbagai problem solving merupakan ilmu alat pengasah dan pembangun logika 54 . Tanpa pendidikan. belajar matematika dan IPA memegang peranan yang amat penting..Ide dasar metode ini adalah memberi kesempatan pada siswa dalam mengkonstruksi pemahaman mereka sendiri melalui berbagai aktivitas berupa praktek ataupun penyelesaian masalah (soal-soal cerita). seenaknya sendiri. melainkan matematika kaya akan koneksi yang meliputi visualisasi. Kata Kunci: fobia matematika dan IPA.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. modul pembelajaran.Pendidikan kita peroleh di lingkungan keluarga. pengabstrakan ide asosiasi Sementara itu. PENDAHULUAN Pengertian “pendidikan” menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia ialah proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Matematika bukan hanya sekedar kumpulan teknik mendapat jawaban soal atau definisi. pemetaan . malas dan cenderung memiliki mental yang lemah.com Abstrak Mengobati Fobia Matematika dan IPA dengan Menggunakan Modul yang Dirancang Berdasarkan Kurikulum Spiral Terintegrasi dan Pemetaan Problem Based Learning (PBL) untuk Membangun Ulang Pemahaman Kosep Belajar. menyediakan sebuah kerangka pembelajaran yang mencakup keterkaitan seluruh materi dari tingkat dasar sampai tingkat atas dan tema-tema pembelajaran yang terintegrasi dalam kurikulum.Dengan pendidikan yang matang.Sebuah modul pembelajaran yang disusun berdasarkan kurikulum spiral terintegrasi dan metode Problem Based Learning (PBL) sedang dikembangkan sebagai suatu bentuk usaha untuk mengobati fobia matematika dan IPA pada siswa.Ketakutan ini merupakan reaksi siswa akibat belajar matematika dan IPA yang disertai dengan pengalaman kurang menyenangkan atau adanya salah pemahaman terhadap konsep yangdipelajari. suatu bangsa akan memiliki sumber daya manusia yang berkualitas dan tidak mudah diperbudak oleh pihak lain Dalam proses pendidikan manusia. analisa. Peningkatan mutu pendidikan sangat berpengaruh terhadap perkembangan suatu bangsa.Pada akhirnya penggunaan modul pembelajaran ini dianggap sebagai salah satu upaya terbaik dalam mengikis fobia matematika dan IPA pada siswa. imajinasi. 11 September 2014 DEMYSTIFYING MATH AND SCIENCE PHOBIA BY USING A MODULE FOR REBUILDING LEARNING CONCEPTS BASED ON SPIRAL-INTEGRATED CURRICULUM AND PROBLEM BASED LEARNING (PBL)-MAPPING Ludjeng Lestari CEO Ludjeng Math and Science Center jeng_tari81@yahoo. serta pengaruh yang ditimbulkan terhadap prestasi belajar siswa di sekolah. dia akan tumbuh menjadi seseorang yang tidak mengenal aturan. kurikulum spiral terintegrasi.Problem Based Learning (PBL) menggunakan pendekatan konstruktivisme. Fobia ini seringkali tergambar sebagai sikap siswa yang tidak atau kurang berpartisipasi dalam mengerjakan soal-soal matematika dan IPA atau bahkan sampai siswa mengucapkan “Saya tidak suka matematika dan IPA”.Dengan menguasai IPA maka dapat mengembangkan teknologi.problem based learning (PBL).

yakni proses memperoleh pengetahuan.Kebiasaan menghapal tidak sepenuhnya menjamin keberhasilan siswa dalam mencapai prestasi di sekolah. Bahwa perubahan yang bersifat sementara seperti perubahan karena mabuk. 11 September 2014 berpikir. Ekpo (1999) mengkategorikan lima strategi pembelajaran dan pengajaran efektif untuk pelajaran IPA. Berkaitan dengan ini. Relatively permanent.Hal ini merefleksikan keyakinan bahwa belajar itu merupakan peristiwa hipotesis yang hanya dapat dikenali melalui perubahan kinerja akademik yang dapat diukur. Sedangkan IPA melalui metode saintifiknya (pendekatan ilmiah: pengamatan. Namun dalam proses berlangsungnya pembelajaran IPA dan matematika di sekolah. waktu dan ruang yang tersedia untuk proses pengajaran serta gaya mengajar yang sesuai. menyajikan data.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. mengolah data. 5. mendapat nilai jelek atau bahkan menjadi tidak suka (fobia) terhadap kedua pelajaran ini. menyelesaikan permasalahan dalam kehidupan sehari-hari. Response potentiality. Beberapa teknik mengajar yang efisien seperti: strategi pembelajarn kooperatif. teknologi dan matematika. yang diperkuat. jenuh. 2. praktik atau latihan. lingkungan sekolah dan ruang kelas haruslah kondusif untuk pelaksanaan proses pembelajaran. Belajar matematika yang seharusnya berperan sebagai asah logika dan belajar IPA yang seharusnya melatih keahlian saintifik beralih menjadi kebiasaan menghapal. Dictionary of Psychology membatasi belajar dengan dua definisi. Teknik Instruksional: Teknik/pendekatan instruksional meliputi berbagai macam metode pengajaran yang dapat digunakan dalam mengajar IPA dan matematika. yang secara umum menetap. 3. Strategi tersebut meliputi: 1. Pengertian ini biasanya lebih sering dipakai dalam pembahasan psikologi kognitif yang oleh sebagian ahli dipandang kurang representative karena tidak mengikusertakan perolehan keterampilan nonkognitif. menalar. 1. Reinforcel. 2013: 89). Dalam definisi ini terdapat empat macam istilah yang esensial dan perlu disoroti untuk memahami proses belajar. menyimpulkan dan mencipta) sangat sesuai dengan fitrah manusia yang selalu ingin mencari tahu tentang sesuatu yang asing di sekelilingnya. Belajar adalah perubahan yang relative menetap yang terjadi dalam segala macam/keseluruhan tingkah laku suatu organisme sebagai hasil pengalaman. 4. sering terjadi bahwa tujuan pendidikan tidak tercapai dengan baik. Proses belajar membutuhkan latihan yang berulang-ulang untuk menjamin kelestarian kinerja akademik yang telah dicapai siswa (Syah. Ukeje (1997) menggambarkan sebuah kelas matematika dan IPA yang disiplin merupakan kelas di mana gurunya memegang kendali penuh. Lingkungan mengajar dan belajar: Kelas atau suasana belajar yang nyaman berpengaruh besar pada pencapaian belajar siswa. Menunjukkan pengakuan terhadap adanya perbedaan antara belajar dengan penampilan atau kinerja hasilhasil belajar. Practice. 2013). yaitu suatu perubahan kemampuan bereaksi yang relative langgeng sebagai hasil praktik yang diperkuat. strategi problem solving. belajar adalah A relatively permanent change in respons potentiality which occurs as a result of reinforced practice. menganalisis. strategi permainan. 55 . belajar adalah The process of acquiring knowledge.Banyak siswa yang mengalami kegagalan belajar matematika dan IPA. lelah. bahasa pengajaran yang digunakan. dari hal yang sederhana sampai hal yang kompleks. Tujuan belajar IPA adalah untuk pembangunan keahlian IPA/science Wittig dalam bukunya Psychology of Learning mendefinisikan belajar sebagai: any relatively permanent change in an organism’s behavioural repertoire that occurs as a result of experience. percobaan. 4. Pertama. dan perubahan karena kematangan fisik tidak termasuk belajar 2. dan pemanfaatan laboratorium baik untuk IPA maupun matematika 3. Kedua. Tujuan belajar matematika adalah untuk pembentukan mental matematika siswa. yang nantinya akan menjadi sebuah keahlian. Reber dalam kamus susunannya yang tergolong modern. Merencanakan instruksi pembelajaran: Pada tahap perencanaan pengajaran dan pembelajaran konsep matematika dan IPA. Kemajuan yang didapat dari proses belajar mungkin akan hilang apabila tidak diberi penguatan. Menjaga kedisiplinan: Suatu pengajaran dan pembelajaran yang efektif selalu dicapai dalam kelas yang terjaga kedisiplinan di dalamnya. bertanya. usia dan kemampuan pelajar. kemampuan bereaksi. Evaluasi perkembangan pelajar: Evaluasi hasil belajar merupakan hal yang sangat penting dalam mengukur keberhasilan proses pembelajaran yang telah dilakukan (Gbolagade & Sangoniyi. para guru harus memperhatikan beberapa hal sebagai berikut: area materi yang akan diajarkan.

Mind Map adalah “alternatif pemikiran keseluruhan otak terhadap pemikiran linear. membangun konsep baru di atas konsep lama. Dengan sifat penyajian tersebut. Tetapi.Ketika menggunakan PBLdalam mengajar. membantu kita membandingkannya. Beberapa ciri kurikulum ini adalah : (1) Siswa mendapat kesempatan untuk mempelajari sebuah topik bahasan beberapa kali selama masa pembelajaran sekolah mereka. Prinsip kurikulum spiral dimulai dengan hipotesis bahwa semua mata pelajaran dapat diajarkan kepada semua siswa dengan berbagai tingkat intelektual. digunakan modul sebagai media pembelajaran.Di dalamnya mengandung tujuan. (c) Peran guru sebagai fasilitator dan (d) Penggunaan masalah-masalah nyata dalam kehidupan sebagai topik pembahasan. Memberi gambaran yang jelas pada keseluruhan dan perincian 6. Membersekan akal dari kekusutan mental 3. 167 kali jumlah manusia di planet ini. Modul merupakan bahan belajar yang dapat digunakan siswa untuk belajar secara mandiri dengan bantuan seminimal mungkin dari orang lain. 56 . bahan dan kegiatan belajar. bahkan jika setiap sel hanya dapat melakukan beberapa operasi mendasar. disusun berdasarkan kurikulum spiral terintegrasi dan pemetaan problem based learning. 11 September 2014 Selain kebiasaan menghapal. 1960). serta lebih mementingkan aktivitas belajar pembacanya.Mind Map akan: 1. (3) Kurangnya motivasi dari orang tua (orang tua sibuk. Kelebihan kurikulum spiral: (1) Interaktif. tingkat kesadaran akan tujuan yang ingin dicapai. konkrit. 7. Pemetaan kasus-kasus dan konsep dilakukan berdasarkan konsep mind mapping. pendekatan-pendekatan instruksional dapat dimanipulasi sejak tingkat awal untuk mengenalkan topic-topik umum yang banyak terdapat di setiap mata pelajaran. (b) pendekatan student centered. (4) Motivasi teman/pergaulan. guru membantu siswa agar fokus pada penyelesaian masalah dalam konteks kehidupan sehari-hari. (2) Kompleksitas sebuah topik makin meningkat setiap kesempatan pembelajaran berikutnya. Mengaktifkan seluruh otak 2. Mensyaratkan kita untuk memusatkan perhatian pada pokok bahasan yang membantu mengalihkan informasi tentangnya dari ingatan jangka pendek ke ingatan jangka panjang (Buzan. (6) Peranan tugas-tugas (Nasir & Taylor. fobia matematika dapat juga disebabkan oleh beberapa hal seperti: (1) Kurangnya kompetensi guru (kompetensi akademik. Penjabaran tema pembelajaran dalam modul ini akan disajikan secara pemetaan. Setiap kasus akan dijabarkan dari tingkat dasar sampai tingkat kompleksitas tertinggi berdasarkan tingkatan level belajar. Aplikasi PBL meliputi enam aspek penting: (1) Peranan kasus-kasus yang dipelajari. Membantu menunjukkan hubungan antara bagian-bagian informasi yang saling terpisah 5. Menurut Plucker & Nowak (1999). Cracking Creativity. (4) Peranan keahlian berpikir. (2) Peranan guru. (Mind Map) menggapai ke segala arah dan menangkap berbagai pikiran dari segala sudut. orang tua mengatakan tidak suka matematika) . semua sajiannya disampaikan melalui bahasa yang komunikatif. beberapa ciri PBL: (a) Manfaat dari kolaborasi kerja kelompokkelompok kecil. Memungkinkan kita berfokus pada pokok bahasan 4. 2007). (5) Peranan interaksi social. maka proses komunikasinya dua arah bahkan dapat dikatakan bahwa modul dapat menggantikan beberapa peran pengajar (Munadi. Modul dibuat berdasarkan program pembelajaran yang utuh dan sistematis serta dirancang system pembelajaran mandiri. kompetensi psikologis dalam berinteraksi dengan siswa). PBL hadir sebagai metode mengajar yang dibangun di atas ide konstruktivisme dan student-centered learning. serta evaluasi. 2012: 99). Dalam setengah abad pertama abad ke-20 ditemukan bahwa jumlah sel otak bukan beberapa juta-tapi satu juta juta (1000 000 000 000). untuk siswa perempuan terdapat anggapan bahwa matematika dan IPA adalah hal berat bagi perempuan). (5) Kematangan pribadi siswa (motivasi dari dalam diri. menyemangati mereka memilah dan menentukan situasi di mana masalah ditemukan ketika mencari penyelesaian.Makna dari jumlah ini sangat luas.Oleh karena itu. Memungkinkan kita mengelompokkan konsep. (2) Peranan siswa. 2008).Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Modul dalam pembahasan ini. (2) Mengaktifkan pengetahuan/konsep awal. (2) Ketidakcocokan antar cara belajar siswa dengan metode mengajar guru. Kurikulum spiral sangat memungkinkan digunakan di banyak pembahasan pada pelajaran matematika dan IPA. cakupan bahasan materi dalam modul lebih fokus dan terukur. Untuk membantu tercapainya tujuan pembelajaran matematika dan IPA. jika setiap sel otak penuh daya. maka makna jumlah mereka akan membawa para ilmuwan ke dalam realisme yang nyaris supernatural. Michael Michalko. menghasilkan pencapaian belajar yang bagus terlepas dari tingkat usia perkembangan (Bruner. (3) Pembelajaran yang baru saling terhubung dengan pembelajaran yang lama dan disajikan secara konstekstual.

fenomena fobia matematika dan IPA di kalangan siswa berbanding terbalik dengan idealisme pentingnya matematika dan IPA bagi kehidupan. Kedua. bahwa menjadi bisa dan berhasil dalam pembelajaran matematika dan IPA adalah sesuatu yang sangat mungkin. 11 September 2014 Modul yang disusun berdasarkan kurikulum spiral terintegrasi. IPA (Biologi. Fisika. Penelitian berulang telah dilaksanakan selama 10 x 6 bulan (satu paket program pembelajaran SPM) Pada pelaksanaan informan yang ikut membantu dalam penelitian adalah guru di sekolah. memberikan gambaran tentang penyebab. Kedua. IPA: Test diagnose keahlian sains. IPA untuk tiap subjek pelajaran masing-masing sebanyak 25 sesi. Modul ini membantu guru dalam membuka paradigma baru pada siswa. Sedangkan pelaksanaan penelitian di luar sekolah sebagai asistansi pembelajaran bagi siswa untuk membantu mengatasi kesulitan belajar dan meningkatkan prestasi belajar di sekolah. Problem Solving Learning/PBL. Kimia). data diambil pada awal siswa masuk program pembelajaran dengan modul SPM. Kedua. Pertama. Jumlah siswa per level: SD 50 orang. pemetaan problem based learning). mengidentifikasi gejala fobia matematika dan IPA pada siswa sebagai reaksi proses pembelajaran yang telah dilaksanakan. nilai hasil evaluasi pembelajaran modul Spiral PBL Mapping (nilai evaluasi per tema. Ketiga. Waktu untuk pengambilan data penelitian dikumpulkan pada beberapa waktu yang berbeda. data kognitif: nilai yang diperoleh di sekolah (nilai ulangan harian. SMP. Kedua. ciriciri dan solusi akan fobia matematika dan IPA. memperkuat peran modul terprogram sebagai media pembelajaran untuk mendukung keberhasilan proses belajar dan mengajar. dari sekolah yang berbeda dan jenis kurikulum berbeda (nasional dan internasional). meliputi seluruh level. Data yang didapat dianalisis dengan teknik yang digunakan berupa analisa persentasi rata-rata perubahan yang terjadi pada tiap penilaian instrument. nilai ulangan tengah semester dan akhir semester). Pertama. Adapun rumusan masalah meliputi beberapa hal. Adapun tahapan pelaksanaan yang dilakukan peneliti sebagai berikut. Pra-data. dan SMA dan meliputi seluruh subjek pelajaran yang diteliti yaitu Matematika. Nilai pencapaian di sekolah sebelum program. Post-data diambil setelah selesai mengikuti program pembelajaran. Lama penelitian selama 6 bulan untuk setiap satu paket program pembelajaran. Mind Mapping) dalam mengatasi fobia matematika dan IPA pada siswa. Manfaat penelitian yang dilakukan antara lain: Pertama. Ini merupakan penyia-nyiaan sumber daya manusia. Lama observasi 3 – 6 bulan (tercatat dalam laporan perkembangan pelajar). Jumlah total sesi belajar untuk masing-masing subjek pelajaran: Matematika 40 sesi. Data berupa: Matematika: test diagnose mental matematika. SD. Peneliti menganalisa secara langsung proses belajar dengan menggunakan modul SPM (kurikulum spiral terintegrasi. Pendekatan kualitatif dianggap tepat oleh penulis dalam penelitian ini karena penulis dapat memahami secara langsung mengamati. pemetaan problem based learning) ini kemudian mengevaluasi tingkat keberhasilan pembelajaran. Pertama. fobia matematika dan IPA merupakan salah satu penyebab siswa tidak memiliki kesempatan mengembangkan potensi berpikir logis dan jiwa saintis dalam penyelesaian masalah sehari-hari. Sedangkan populasi meliputi siswa dari berbagai level sekolah. try outs) . dan Mind Mapping) dalam mengatasi fobia matematika dan IPA. SMP 50 orang dan SMA 50 orang. kedua. project. data non kognitif: Motivasi belajar dan tingkat fobia matematika dan IPA sebelum dan setelah menggunakan modul SPM. menjelaskan keunggulan model SPM (Spiral-integrated curriculum. 57 . Kedua. Jenis data yang dikumpulkan meliputi: pertama. tim guru pada program pembelajaran yang menggunakan modul SPM (kurikulum spiral terintegrasi. menjalankan dan mengevaluasi seluruh proses pembelajaran sebagai bahan penelitian. suatu bentuk solusi yang tepat guna namun ringan amat diperlukan kehadirannya di tengah-tengah kejenuhan siswa dalam belajar matematika dan IPA. Problem Based Learning/PBL. Peneliti menghadiri seluruh sesi belajar selama masa observasi. METODE Metode penelitian menggunakan metode kualitatif deskriptif. data berdasarkan observasi harian yang tertulis dalam laporan perkembangan belajar siswa.Penelitian ini berusaha menggambarkan peranan modul SPM (Spiral-integrated curriculum.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Pertama. dan pemetaan problem based learning telah digunakan dalam beberapa periode pembelajaran yang dijalankan oleh peneliti. Ketiga. sehingga dapat merencanakan dan melakukan tindakan preventif. Dan selama itu pula modul ini terbukti dapat meningkatkan prestasi belajar matematika dan IPA siswa dan menghilangkan fobia matematika dan IPA pada siswa. Tujuan metode ini meliputi.

sebagai makhluk berpikir dengan menggunakan anugerah terindah dari Allah yakni akal. Pembelajaran lebih merupakan sebuah pemahaman bukan replikasi. Sinergi pembelajaran SPM dalam mengatasi fobia matematika dan IPA. Kurikulum Spiral terintegrasi memungkinkan siswa pada level tertentu mendapatkan materi yang lengkap dari level sebelumnya. menganalisa data. Keterkaitan antar problem dan konsep terhubung secara pemetaan yang searah dengan pola kerja otak (sel-sel syaraf). PBL sangat cocok diterapkan dalam pembelajaran IPA karena prinsip-prinsip utama PBL sejalan dengan pengembangan keahlian IPA melalui aplikasi pendekatan saintifik dalam pemecahan masalah. Penyajian modul sebagai alat bantu pembelajaran tidak hanya merangsang perkembangan otak kiri (untuk berpikir logis dan teratur) tetapi juga perkembangan otak kanan melalui pola berpikir kreatif. masalah-masalah dalam kehidupan nyata. serta berkomunikasi secara oral ataupun tertulis (Behiye. Distribusi persentasi jumlah siswa untuk setiap kategori faktor penyebab fobia matematika dan IPA Persentasi jumlah siswa Faktor penyebab fobia matematika dan IPA Sekolah Dasar (SD) 60 % 20 % 80 % 10 % 60 % Kurangnya kompetensi guru Ketidakcocokan cara belajar siswa dengan metode mengajar guru Kurangnya motivasi dari orang tua Motivasi/pengaruh negati teman/pergaulan Kurangnya kematangan pribadi siswa Sekolah Menengah Pertama (SMP) 70% 35 % 60 % 70 % 80 % Sekolah Menengah Atas (SMA) 75 % 40 % 60 % 50 % 50 % Tingkat perubahan sikap dan hasil belajar setelah mengikuti program belajar dengan modul SPM Tabel 2. Pembelajaran ini diharapkan dapat mengembalikan manusia ke fitrah pembelajarannya semula. 1999). PBL membawa siswa belajar dengan cara yang sama manusia menghadapi permasalahan dalam kehidupan nyata. PBL memungkinkan siswa mengembangkan cara berpikir kritis. siswa diharapkan dapat mengeksplorasi kasus.Sejak kasus pembuka sampai kasus yang menuntut penyelesaian aplikasi.50 % + 20 – 40 % Nilai project + 30 – 50 % + 20 – 30 % Try Out + 20 – 50 % Penggunaan modul ini terbukti efektif dan efisien dalam mengatasi fobia matematika dan IPA pada siswa. mendorong siswa menyelesaikan kasus-kasus matematika yang kompleks dan abstrak menjadi lebih memiliki arti dan mudah untuk diselesaikan. Keahlian ini akan sangat menunjang kelanjutan pengembangan akademik maupun karir. Penyusunan problem konstruktivisme dari masalah paling sederhana sampai masalah paling kompleks. membangun dan mengevaluasi hipotesis. PBL mengangkat potensi meta kognisi dan memacu keinginan sisa untuk belajar seiring dengan aktivitas siswa memproduksi strategi dalam menganalisa kasus. Namun dikemas secara sederhana dan ringan. 2009). sehingga akan mudah diingat (Smith. Kasus-kasus dan solusi berkaitan dengan jelas. Tingkat perubahan sikap dan hasil belajar setelah mengikuti program belajar dengan modul SPM Kategori sikap yang diukur Tingkat kesadaran akan pentingnya belajar matematika dan IPA Tingkat kenyamanan belajar matematika dan IPA Tingkat motivasi diri Rata-rata Presentasi perubahan jumlah siswa Kategori perubahan nilai akademik Rata-rata Presentasi perubahan nilai + 30 – 50 % Nilai ulangan harian/umum + 30 .Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Observasi fobia matematika dan IPA terhadap siswa sebelum mengikuti program pembelajaran. 58 . Tabel 1. 11 September 2014 HASIL DAN PEMBAHASAN Problem Based Learning pada pelajaran matematika dan IPA PBL mendorong kepercayaan diri siswa dalam keahlian menyelesaikan masalah.Manusia memahami alam dengan logika dan merekam dan menyimpan konsep pengetahuan ke dalam memori jangka panjang otak. mengumpulkan informasi. kemampuan menganalisa dan menyelesaikan masalah yang kompleks. 1999). bekerjasama dalam kelompok. Penerapan PBL pada pelajaran matematika. membuat hubungan-hubungan dan membuat persamaan matematika serta penyelesaian secara matematis. Kurikulum spiral juga memungkinkan siswa dari level pendidikan yang sama maupun dari level pendidikan yang berbeda untuk berkumpul dan berdiskusi secara kelompok menyelesaikan masalah tematik. Dan menggunakannya pada contoh kasus yag sama namun dalam konteks yang berbeda (Dianne & Erickson. Distribusi persentasi jumlah siswa untuk setiap kategori faktor penyebab fobia matematika dan IPA disajikan dalam Tabel 1.

Problem-Based Learning in Science Education. NS. Connecting Research to Teaching Journal. 2. Cetakan ke-7. 2007. Media Pembelajaran. Journal of Turkish Science Education. teman. Faktor eksternal yang berpengaruh dalam penentuan keberhasilan dalam belajar. V. Issue 1. Syah. DAFTAR PUSTAKA Behiye AKCAY. Turky.M. SARAN 1. Culture and mathematics in school: Boundaries between “cultural” and “domain” knowledge in the mathematics classroom and beyond. Problem Based Learning (PBL) mampu menempatkan siswa pada suasana belajar yang kondusif untuk perkembangan logika berpikir yang kreatif dan kemampuan aplikasi metode saintifik yang lebih nyata dan konstektual. hendaknya segera diaplikasikan semua solusi yang memungkinkan untuk dilakukan saat ini. Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru. Siswa yang telah dipetakan mental matematika dan keahlian IPA (konsep belajar IPA nya) lebih dapat mengatasi fobia matematika dan IPA. 3. 59 . Mind Map. Sangoniyi S. 32. Munadi. T. Semakin merebaknya kasus fobia matematika dan IPA. 2012. Jakarta: Gaung Persada Press. 1999. M. Problem-based learning. 5. seperti orang tua. A. Y. Dianne. Review of Research in Education. Pembangunan ulang mental matematika siswa dan keahlian IPA siswa dapat dilakukan melalui pemetaan logika berpikir dan konsep belajar... Gbolagade.e. Page 89. International Journal of Academic Research in Business and Social Sciences. dan lingkungan hendaknya menyadarai betapa pentingnya peranan mereka dalam . A. 92. 3. Hand. 2013. CA. Bandung: Rosda. V. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. 2. ISSN: 2222-6990. MA: The President and Fellows of Harvard College. 4. Vol. 1999. Kurikulum spiral terintegrasi memungkinkan siswa membangun ulang mental matematika dan keahlian IPA dengan melengkapi pemahaman konsep belajar pada titik yang tidak lengkap. 15. 2008. 11 September 2014 SIMPULAN 1. guru. Vol. Page 99 Nasir. Bruner. Volume 6. J. Buzan. Buku Pintar. The Process of Education. Problem-Based Approach to Mathematics Instruction. Biochemical Education. 2. 187-240. No.. Cetakan ke-18. Smith. 2009. Sebuah Pendekatan Baru.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.O. England. Erickson.bantu kesuksesan siswa selama masa perkembangan yang singkat ini. 2013.Cambridge. E. Konsep dan kasus pembelajaran dalam PBL yang disajikan sesuai dengan konsep mind mappingakan mempermudah dan mempercepat siswa mengembangkan dan menyusun ulang memori belajar sesuai dengan tujuan pembelajaran. New York. No 6. Demystifying Mathematics Phobia in Schools for Transforming Nigeria in Attaining Vision 20:2020. K. & Taylor. 1960.

Penelitian menggunakan metode R & D Model Education Rekonstruksi/MER (Duit 2007). mencari teori pendukung/literatur yang relevan. perkuliahan tidak menunjukkan pencapaian maksimal. tujuannya untuk mengemban misi perkuliahan dan standar kelulusan yang mampu mengelola secara sains sumber daya alam Papua yang berlimpah. dan pendekatan identifikasi analisis data.84.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Rencana/dan hasil PL sering gagal disebabkan penelitian tidak menunjukkan originalitas (plagiat). mengidentifikasi desain penelitian. Untuk dapat mencapai tujuan perkuliahan mahasiswa perlu dibekali pemahaman konsep penelitian laboratorium secara bermakna yang ditunjang dengan strategi perencanaan penelitian melalui konteks yang diteliti. 3) konten sesuai tingkat kognitif mahasiswa kriteria accesible. Fransisca Sudargo Universitas Cenderawasih Jayapura dan Universitas Pendidikan Indonesia Bandung florida_uncen@yahoo. 7) pendekatan mengidentifikasi analisis data (Ross & Morrison. penelitian laboratorium. dan MER PENDAHULUAN Matakuliah PL disajikan sebagai matakuliah wajib bagi mahasiswa calon guru kimia UNCEN. 5) mengidentifikasi desain penelitian. Kata Kunci: Bahan Ajar. sehingga kelihatan lebih cenderung sebagai penelitian plagiarism. 2003). Untuk tujuan di atas sebaiknya para tenaga pendidik membuat suatu rancangan perkuliahan yang dapat memacu berpikir mahasiswa dalam 60 . Karakteristik bahan ajar : 1) dikembangkan sesuai aspek dan sikap PSDM Myers-Briggs Type Indikator (MBTI). Mahasiswa calon guru kimia selain professional dibidang pengajaran juga harus professional dibidang penelitian laboratorium. Instrumen berupa kuesioner respon ahli untuk menentukan kelayakan materi buku teks sesuai tingkat kognitif mahasiswa dengan kurikulum. 5) Perspektif mahasiswa terhadap konsep materi melalui wawancara. banyak penelitian yang ditemukan di lapangan tidak mencerminkan penggalian ide sesungguhnya. 6) metode determinasi. Berdasarkan masalah tersebut. disinergikan dengan mata kuliah pilihan. Hasil wawancara menunjukkan >80 % mahasiswa memiliki prakonsepsi salah tentang pemaknaan metode ilmiah dan berpikir penelitian berbasis PSDM. 2) mengidentifikasi masalah penelitian. metode. Tujuannya menghasilkan guru professional dibidang penelitian dan pengajaran kimia. mengarahkan berpikir pada perencanaan penelitian yang berpedoman pada 1) seleksi topik. mengidentifikasi masalah.com ABSTRAK PL merupakan mata kuliah wajib pendidikan kimia UNCEN. 2) konteks perkuliahan sesuai isu kimia bahan galian batu gamping. 3) mencari teori-teori pendukung/literatur 4) memulai bertanya tentang penelitian atau hipotesis. penyisipan materi berpikir penelitan berbasis PSDM pada bahan ajar perlu dimunculkan. peneliti merekonstruksi bahan ajar PL konteks batu gamping berbasis PSDM untuk meningkatkan keterampilan berpikir penelitian mahasiswa. yang berdampak pada pengulangan penelitian. Studi pendahuluan menunjukkan tidak tuntasnya perkuliahan disebabkan ketidak mampuan mahasiswa mengelola PL. dan CVI hitung > CVI tabel menunjukkan bahan ajar cocok digunakan pada kuliah PL konteks kimia batu gamping. 11 September 2014 REKONSTRUKSI DIDAKTIS BAHAN AJAR PERKULIAHAN PENELITIAN LABORATORIUM (PL) KONTEKS BATU GAMPING BERBASIS PROBLEM SOLVINGDECISION MAKING (PSDM) Florida Doloksaribu. Kenyataannya. Ahmad Mudzakir. problem solving-decision making MBIT. tetapi cenderung sebagai pelaksanaan tugas yang harus dipenuhi dalam menyelesaikan tugas akhir. Dalam memahami konsep penelitian laboratorium ada hal yang harus dipikirkan sehingga dapat menindak lanjuti penelitian. Menurut Skoumios & Passalis (2010). Dengan demikian perkuliahan PL yang disinerjikan dengan mata kuliah pilihan dapat terlaksana secara efektif. Oleh karena itu. 4) Perancangan bahan ajar menggunakan urutan pembelajaran Sains dan Teknologi. Mengarahkan pola berpikir penelitian pada perencanaan penelitian seperti seleksi topik. Validasi metode CVR memperoleh nilai rata-rata 0. Hayat Sholihin. memulai bertanya tentang penelitian atau hipotesis.

Selama 1 semester. 3) proses yang benar sesuai dengan signifikansi dan kompleksitas keputusan. Tujuannya untuk memenuhi kebutuhan perkuliahan dalam meningkatkan berpikir penelitian mahasiswa. Instrumen yang digunakan pada penelitian ini didasarkan kriteria PSDM type Indicator Myers-Briggs type Indicator (MBTI) menurut William (1992). 2) memilih orang yang tepat yang dapat membantu langkah-langkah pengambilan keputusan. validasi analisis konsep. Pengambilan keputusan yang baik tidak hanya menuntut fakta-fakta tetapi memahami batas-batas pengetahuan.dan pengembangan dan evaluasi pelajaran. tata cara.. teks asli konten. 11 September 2014 melakukan penelitian. desain dan evaluasi bahan ajar perkuliahan . 1). 3) literatur.Klarifikasi dan analisis konten sains (klarifikasi materi subjek dan analisis signifikansi pendidikan Problem solving-decision making. diskusi. Keterampilan berpikir pada penelitian sangat diperlukan oleh mahasiswa agar dapat melaksanakan suatu perencanaan penelitian yang lebih bermakna.dan psikomotorik dalam keterampilan laboratorium (Donnel et al. Metode penelitian dan pengembangan (educational research dan development) MER (Duit. Penelitian dilakukan di pendidikan kimia Universitas Cenderawasih. penghalusan konteks. Selain itu mahasiswa harus memahami pola.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. untuk meningkatkan kognitif.. dan publikasi penelitian. penghalusan konten. teks asli konteks berbasis PSDM. Tujuannya untuk mengklarifikasi konsepsi sains spesifik dan struktur konten dari sudut pandang pendidikan. 2007). Hasil konstruksi Bahan ajar PL Konteks Batu gamping berbasis PSDM. afektif. dalam penelitian ada beberapa langkah yang harus di ikuti dan perlu di pahami oleh mahasiswa seperti: 1) pentingnya memilih topik untuk memberikan daya tarik pembaca atau yang ingin mendalami penelitian. 5) menetapkan nilai preferensi alternatif yang dapat dinyatakan dengan atribut yang diinginkan dan tidak diinginkan. Instrumen skala sikap. dan tahapan yang harus dilaksanakan. Melalui tahapan STL. kimia bahan galian : batu gamping. validasi bahan ajar/perkuliahan Gambar 1. data yang dikumpulkan dianalisis dengan menguji kelayakan buku ajar yang direkonstruksi berdasarkan nilai content validity ratio(CVR) ahli. Menurut Ross dan Morisson (2003). 4) pertanyaan penelitian atau hipotesis 5) metode penelitian. elaborasi sampai tahapan nexus 2) Desain dan Evaluasi bahan ajar Perkuliahan : pada perkuliahan Penelitian laboratorium pada konteks kimia bahan galian pada topik batu gamping. dalam hal ini agar si peneliti dapat memberi batasan penelitian. Indikator dan tujuan aspek sikap. Tahapan pengambilan keputusan dimana solusi benar-benar dilaksanakan yaitu: 1) bingkai masalah: apa yang diputuskan dan mengapa hal itu diputuskan. 2012 ) didesain dengan tujuan spesifik yang menyediakan kerangka teori untuk peserta didik agar bermanfaat dan memungkinkan untuk mengajarkan fakta sains dengan komponen analisis struktur konten. 6) teknik analisis data. Sekilas Skema tahapan penelitian rekonstruksi didaktis bahan ajar penelitian laboratorium konteks batu gamping berbasis PSDM 61 . penyajian konten secara ilmiah langsung dari buku teks merupakan hal yang tidak accessible karena itu perlu “penyederhanaan”. 4) sebuah set alternatif lengkap yang tergantung pada bagaimana pertanyaan dibingkai. analisis instrumen pada partisipan. analisis eksplanasi. 2) mengidentifikasi masalah penelitian. Model of educational reconstruction (MER) (Duit et al. METODE PENELITIAN Metode penelitian adalah rekonstruksi didaktis perkuliahan penelitian PL pada konteks kimia batu gamping berbasis PSDM. yaitu untuk mencari informasi penting dan relevan dengan penelitian yang akan dilakukan dalam hal literatur dasar. partisipan mahasiswa yang telah menyelesaikan perkuliahan semester 1-6. indikator dan tujuan aspek kognitif. tahap kontak. Berbasis PSDM. penelitian mengajar dan belajar. 3). 7) hasil. Sedangkan prosedur penelitian terdiri dari 3 tahapan besar yaitu: klarifikasi dan analisis konten sains. 6) informasi yang menggambarkan nilai dari alternatif.et al 2012). yaitu secara lengkap dan berbeda satu sama lain.

dengan bias diperdebatkan. Mengevaluasi. Bahan ajar yang dikembangkan sesuai dengan aspek kompetensi dan sikap problem solving decision making MBTI.-1. dan solusi pada situasi permasalahan yang menandakan sesuatu prospek yang bersifat original. dalam penelitian laboratorium melalui tahapan berpikir /berbasis PSDM Memiliki gagasan cemerlang. 1. Dan mengklarifikasi nilai-nilai tersebut. fakta ditemukan secara induksi mengenai materi terkait batu gamping Mengklasifikasi . sifat. Intravert: Menunjukkan kemampuan berpikir logik merepleksikan rmasalah terkait batu gamping. Feeling: Kemampuan mempertimbangkan solusi yang tepat memberikan pengaruh kuat pada manusia. Perceiving: Solusi-yang fleksibel. Thinking: Kemampuan memahami suatu solusi berdasarkan fakta. gambaran persfektif mahasiswa terhadap isu penelitian laboratorium konteks batu gamping yang berbasis PSDM. 2012) yang didukung dengan kurikulum 2013 dimana peserta didik yang mampu berkompetensi yang ditandai oleh kompetensi sikap.penilaian para ahli terhadap bahan ajar perkuliahan penelitian laboratorium konteks batu gamping berbasis PSDM. dan keterampilan psikomotorik. keterampilan berpikir. dan tugas analisis. rencana terbalik.Memberikan gambaran efektif dari Batu Gamping) permasalahan yang dapat digali dari sebagai konteks konsep batu gamping berdasarkan uraian penelitian dasar .4. Sensing: Menunjukkan kemampuan menjabarkan pengalaman dalam mempraktekkan suatu solusi. pengetahuan.2.ide.Mempertimbangkan aplikasi pada penelitian laboratorium melalui tahapan berpikir problem solving-Decision making. Intuitif : kemampuan memaknai secara mendalam tentang fakta. Kompetensi Pengetahuan Standar Kompetensi Dasar Kompetensi Menerapkan konsep 1.1. 1. kompetensi berpikir Kompetensi Berpikir (PSDM) sebagai skala sikap Mahasiswa harus menjadi insan yang mandiri.3. Menseringkan nilai. Kompetensi sikap.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.Menerapkan poin 1. Menseringkan nilai pribadi.3.2007 dan beberapa sikap PSDM yang dikembangkan melalui kriteria PSDM berdasarkan tinjauan pustaka yang dibangun kembali dengan memperhatikan tujuan pendidikan pada aspek kognitif dan afektif dan psikomotorik (Duit et al. 11 September 2014 HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil penelitian yang diperoleh meliputi karakteristik bahan ajar penelitian laboratorium konteks batu gamping berbasis PSDM. kompetensi pengetahuan. menrangkai analisis. informasi yang cukup yang tersedia untuk solusi yang benar-benar dipertimbangkan Berpikir keras menyelidiki secara seksama. dan menjauhkan sikap yang tidak memenuhi etika keilmuan seperti kriteria plagiarism karya orang lain yang akan memunculkan penelitian yang bersifat plagiarism. untuk membuat perspektif orang lain. mengidentifikasi permasalahan.1. dan memilih satu solusi. teknik-teknik evaluasi. Judging: Kemampuan membuat keputusan yang dapat diimplemantasikan secara bertahap sesuai prosedur. dan merenungkan permasalahan terkait batu gamping. serta mendengar nilai orang lain. dapat diadaptasi. . Tabel 1. dengan berbagai teknik . Sikap MBTI Ekstravert: Menunjukkan kemampuan mengemukakan masalah terkait batu gamping Indikator Berpikir keras dalam menggali permasalahan yang terkait batu gamping. dan/atau prinsip-prinsip. menkategorikan.. model. aplikasi batu laboratorium yang gamping berbasis PSDM . pembentukan. menganalisis.Mempertimbangkan konstruksi permasalahan dengan solusi yang akan dirancang dalam rumusan permasalahan 1. secara visualisasi Bagaimana mengklasifikasi. memberikan alas an secara deduktif dengan asumsi yang menantang. 62 .

merumuskan masalah.88 0. dengan mengemukakan berbagai peranan batu gamping sebagai pemecah masalah.77 4. mengevaluasi strategi masalah. Mahasiswa mampu menjelaskan tujuan pengungkapan masalah.Mahasiswa mampu menjelaskan.77 1. melaksanakan strategi pemecahan masalah. mengevaluasi strategi masalah. Tabel 2. mengungkap.2. dan memahami manfaat batu gamping. memahami kontribusi batu gamping dalam proses penjernihan air melalui sedimentasi 0. Mengidentifikasi . merumuskan .1. Dari hasil validasi kesesuaian indikator dengan tujuan perkuliahan terhadap sikap berpikir PSDM. mengeksplorasi strategi pemecahan. merumuskan masalah. 3.1. penjernihan air CVR rerata 1. 68 hal ini menunjukkan indikator dan tujuan perkuliahan dengan aspek kognitif adalah valid. sikap berpikir penelitian. 0. Mengidentifikasi masalah. menjelaskan. dan merumuskan solusi dan evaluasi masalah dibiang rekayasa batu gamping Menyelidiki.66 2. dan memahami peran batu gamping 3.2. melaksanakan strategi pemecahan masalah. mengungkap.83 𝑁 𝑁𝑒−( 2 ) 𝑁/2 . mengeksplorasi strategi pemecahan masalah. mengevaluasi strategi masalah.1. merumuskan masalah. Mahasiswa mampu mengungkap berbagai masalah yang menyangkut rekayasa batu gamping pada bidang penetralan pH. mengeksplorasi strategi pemecahan masalah. 11 September 2014 PSDM-MBTI tidak semata-mata berupa pengukuran tingkat pemahaman terhadap penelitian laboratorium.Mahasiswa mampu memberikan gambaran efektif dari permasalahan terungkap seputar pH lahan gambut 0. Berikut hasil validasi terhadap kesesuaian indikator dengan tujuan perkulaihan yang ditunjukkan tabel 2. CVR hitung 0. Menjelaskan dan memahami terbentuknya kapur tohor sebagai proses fisika kimia CVR CVR didapat dari rumus CVR = Tujuan perkuliahan aspek kognitif 0. dan memahami manfaat batu gamping pupuk anorganik Menyelidiki.83 > CVR tabel 0.88 0. melaksanakan strategi pemecahan masalah. serta kemampuan mengaplikasikan berpikir tersebut pada pengetahuan. melaksanakan strategi pemecahan masalah. batu gamping sebagai solusi. Mahasiswa mampu memberikan gambaran permasalahan yang berhubungan dengan blecing.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. mengeksplorasi strategi pemecahan masalah.Mahasiswa mampu menjelaskan masalah yang terdapat disekitar kehidupan.Mahasiswa mampu memberikan suatu gambaran permasalahan yang berhubungan dengan defisiensi mineral kalsium pada tanaman 1 5. diperoleh indikator yang telah dinyatakan valid.88 0. mengungkap. mengeksplorasi strategi pemecahan masalah.1. 63 . tetapi juga pemahaman terhadap aspek proses (kompetensi) berpikir penelitian. Menyelidiki. mengevaluasi strategi masalah. Mengidentifikasi masalah. Menjelaskan peranan batu gamping pada netralisasi pH lahan gambut Kalsinasi Batu gamping Pemutusa n ikatan Defisiens i kalsium Sediment asi Mengidentifikasi masalah. merumuskan masalah. mengevaluasi strategi masalah. menjelaskan.1. menjelaskan. Rekapitulasi CVR Indikator dan tujuan perkuliahan pada aspek kognitif Konteks Konversi lahan gambut dan netralisasi pH lahan gambut Kapur Tohor dan kapur padam Bahan Pemutih Pupuk an Organik Penjernihan air Konten Proses Kompetensi Standarisasi Indikator Batu gamping Mengidentifikasi . melaksanakan strategi pemecahan.

11 September 2014 Tabel 3. 0. dan memilih satu solusi yang tepat dalam mengungkap ide yang berkaitan dengan batu gamping. Intuitif : kemampuan memaknai mendalam tentang fakta-fakta. merangkai analisis tugas analisis terkait batu gamping 0. Konversi lahan gambut dan netralisasi pH lahan gambut Netralisasi pH dengan Batu gamping 1. sikap plagiarism terkait gamping ̅̅̅̅̅ 𝒄𝒗𝒓 1 Berpikir keras dengan menyelidiki secara seksama.dan mensintesis materi terkait batu gamping. Intravert: Menunjukkan kemampuan berpikir logik dengan ide-ide cemerlang yang mampu merepleksikan permasalahan terkait batu gamping. Mengevaluasi. 5.86 > dari CVR hal ini menunjukkan indikator dan tujuan perkuliahan pada aspek sikap PSDM MBTI dapat diterima.88 Bagaimana mengklasifikasi.88 Mengklasifikasi . dan fakta-fakta yang ditemukan secara induksi mengenai materi yang berkaitan dengan batu gamping. Pupuk an Organik 5. serta mendengar nilai-nilai orang lain. teknik-teknik evaluasi. untuk membuat perspektif orang lain pada materi batu gamping. 0. rencana terbalik. Ekstravert: Menunjukkan kemampuan mengemukakan permasalahan terkait batu gamping 2. memberikan alasan secara deduktif dengan asumsi yang menantang. Sensing: Menunjukkan kemampuan menjabarkan pengalaman diri. menkategorikan. dengan bias yang diperdebatkan. 0.77 Menseringkan (share) ide-ide. mengklarifikasi nilai-nilai tersebut untuk mengungkap ide – ide terkait batu gamping. Feeling: Kemampuan mempertimbangkan solusi tepat yang memberikan pengaruh kuat pada manusia 7. 64 . mempraktekkan suatu solusi sesuai dengan kemampuan diri terkait batu gamping 4. Thinking: Kemampuan memahami suatu solusi-solusi berdasarkan ffakta.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. memberikan gambaran secara visualisasi. menjiplak. dan merenungkan permasalahan yang ditemukan berkaitan dengan batu gamping. CVR Berpikir keras dalam menggali permasalahan yang berkaitan dengan batu gamping. dengan berbagai teknik-teknik . CVR hitung 0. Judging: Kemampuan membuat keputusan yang dapat diimplemantasikan sesuai dengan prosedur yang tepat. Rekapitulasi CVR Indikator dan Tujuan Perkuliahan aspek sikap PSDM MBTI Konteks Konten Sikap PSDM-MBTI 1.77 Menseringkan nilai-nilai . dan solusi-solusi pada permasalahan yang menandakan sesuatu prospek yang bersifat original terkait batu gamping. menganalisis. informasi-informasi yang cukup tersedia untuk solusi yang benar-benar dipertimbangkan. Perceiving: Solusi-solusi yang fleksibel dan dapat diadaptasi.86 Berdasarkan Tabel 4. Penjernihan air Defisiensi Kalsium Sedimentasi Indikator 2. Tujuan Perkuliahan aspek sikap Mahasiswa tidak melakukan aksi meniru. 0. 6. 8. mengidentifikasi . prinsip batu gamping. Memiliki gagasan-gagasan cemerlang. Kapur Tohor dan kapur padam Kalsinasi CaCO3 3. models. Bahan Pemutih Pemutusan ikatan 4. 3.

Demikian juga pada tahap elaborasi yaitu dimana mahasiswa dapat menerapkan konsep batu gamping.66 0. kapur tohor dan kapur padam.66 0. Sifat fisik batu gamping Tugas CVR ratarata CVR Kesesuaian materi dengan kemampuan mahasiswa CVR 1 0. Bahan Pemutih 4. 1. Rancangan bahan perkuliahan penelitian laboratorium konteks berbasis PSDM dengan nilai pada tahap kontak dengan nilai CVR Tahapan Elaborasi Tujuan Perkuliahan Mahasiswa dapat menerapkan konsep batu gamping pada penelitian laboratorium berbasis PSDM 2 .66 0.72 CRV CRV CRV CRV CRV CVR ratarata 1 0.80 Pada Tabel 5 menunjukkan rancangan bahan perkuliahan penelitian laboratorium konteks berbasis PSDM dengan nilai pada tahap kontak dengan nilai CVR 0. Mahasiswa dapat menerapkan konsep sifat fisik-kimia batu gamping pada penelitian laboratorium berbasis PSDM Tahap Nexus Ketepatan materi konten dan konteks Kesesuaian antara konten dan konteks CVR CVR Kesesuaian materi dengan kurikulum (tujuan perkuliahan) CVR 1.77 0. dengan CVI hitung 0. bahan pemutih. Konversi lahan gambut dan netralisasi pH lahan gambut 2.66 0.79 0.88 0. Mahasiswa dapat menerapkan konsep pembentukan batu gamping pada penelitian laboratorium berbasis PSDM 3. 11 September 2014 Tabel 4.66 0. 1 0.66 1 1 CVR 0. Contoh soal 1.66 1 0.80 artinya responden mempunyai persfektif baik terhadap kesesuaian materi dengan kurikulum 2013. serta kesesuaian materi dengan kemampuan mahasiswa.66 1 0.66 0.86 0. Hal ini menunjukkan bahwa tahapan penyusunan bahan ajar STL pada tahap kontak alur konversi lahan gambut dan netralisasi pH lahan gambut. dan penjernihan air memberikan kesesuaian dengan teks keluaran.67 (nilai batas minimum CVI tabel). ilustrasi.66 0.66 1 1 0. 3. Rekapitulasi Penilaian terhadap Rancangan Bahan Perkuliahan Penelitian Laboratorium Konteks Batu Gamping Berbasis PSDM Tahapan STL Kesesuaian materi dengan kurikulum Tahap Kontak 1. 2.66 1 0. Pupuk an Organik 5.79 0.66 0.66 CVR 0. pupuk anorganik.86 1 1 0.66 0.88 0.66 0. Kapur Tohor dan kapur padam 3. sisfat fisika kimianya pada 65 .Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. pembentukannya. Penjernihan air Ketepatan gambar dan tugas Kesesuaian materi : kemampuan mahasiswa CVR ratarata CVR CVR CVR 1 0.66 0.80 > 0.79 Ketepatan gambar.66 0.66 1 1 0.66 0.66 1 1 0. ketepatan gambar.66 0.66 0.66 1 0. Pembentukan batu gamping Contoh soal 2.88 1 0.66 1 0.66 0.81 Tabel 5.

Pertanyaan nomor 1-5 menanyakan prakonsepsi mahasiswa tentang batu gamping sedangkan pertanyaan 6-10 menanyakan tentang sikap dan ketertarikan mahasiswa terhadap isu kimia bahan galian batu gamping yang telah berkembang. Tahap Kontak. Tahap Kuorisiti. Pertanyaan nomor 6 sebanyak 20% memberikan alasan dengan sikap yang diinginkan. Penyajian susunan wacana teks yang telah dijabarkan pada bahan perkuliahan yang dirangkum untuk proses pengambilan intisari. dipindahkan kedalam struktur konten perkuliahan melalui tahap elementasi dan konstruksi “proses penyederhanaan” untuk pengurangan tingkat kesulitan bahan ajar agar mahasiswa dapat memahami dengan mudah melalui penghalusan. penilaian. 1. Sehingga perlu dimunculkan perkuliahan PL konteks batu gamping berbasis PSDM.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. dan rangkuman. Berdasarkan wawancara dengan 10 pertanyaan pada 10 mahasiswa angkatan yang berbeda-beda yaitu bagaimana keterkaitan konsep batu gamping pada konteks penelitian. sifat fisika kimia. dapat diketahui bahwa pengetahuan mahasiswa tentang batu gamping sebagai prospek PL kimia masih sangat minim (blank mind).67). Nomor 3 dijawab benar hanya 10%. kesesuaian materi dengan kurikulum. Tahap pengambilan keputusan. Pertanyaan nomor 9 dijawab 100% mahasiswa. tahap ini merupakan fase dekontekstualisasi dan rekontekstualisasi. 100% menjawab secara singkat tanpa penjelasan konkrit. Berdasarkan wawancara tersebut dapat dikatakan > 80 % mahasiswa sangat minim memahami batu gamping sebagai prospek penelitian kimia. 2012). Komponen pertama MER adalah klarifikasi struktur konten yaitu klarifikasi materi subjek dan analisis signifikansi pendidikan. Pertanyaan nomor 7 dijawab baik oleh 100% mahasiswa. isi pokok. pada tahap ini dilakukan eksplorasi. dikembangkan isuisu serta beberapa permasalahan yang terjadi di lingkungan sekitar yaitu. Melihat pola jawaban yang diberikan 10 mahasiswa. Secara keseluruhan tampilan naskah dari beberapa buku teks meliputi: pengantar. bahan bleching (pemutih). Tahap Elaborasi. Dalam hal ini agar mahasiswa menyadari dan membuka cakrawala berpikirnya bahwa material bahan gamping merupakan sesuatu yang penting dipahami dan ditelusuri untuk kebutuhan pengembangan ilmu dan sains. Selain itu tahap nexus memahami contoh serta menyelesaikan tugas rancangan PL berbasis PSDM terkait batu gamping. Pertanyaan nomor 4 pada hanya dijawab benar (40%). dan penjernihan air. Konten sains harus diproses sesuai dengan rekonstruksi didaktis (Duit. isu konversi lahan gambut.81> CVI tabel (0. 2. selebihnya pada penggunaan secara fisik saja. Tingkat penerimaan mahasiswa kepada bahan ajar melalui analisis materi subjek batu gamping berbasis PSDM.Pertanyaan nomor 8 dijawab 100% mahasiswa pendapat yang sangat dangkal. hal ini ditunjukkan pada nilai CVR 0. pembentukan dan pemantapan konsep sampai pada tahap kuriositi dapat terjawab. Dalam hal ini konteks lain yang dikembangkan adalah mengenai pembentukan batu gamping. Pada Tabel 6 pertanyaan nomor 1 dan 2 pada hanya 20% menjawab pernah mendengar dan membacanya. konversi batu gamping menjadi bahan semen. 3. 11 September 2014 penelitian laboratorium berbasis PSDM. dengan tidak ada keterkaitan antara PL dengan mata kuliah. melakukan analisis dan evaluasi terhadap masalah yang ada.ketepatan gambar. Sehingga struktur konten asli dari buku teks asli yang sudah ditetapkan. Pada penelitian ini ada empat buku teks yang dijadikan acuan dalam melakukan analisis konten secara kualitatif. defisiensi unsur hara tanaman. Tahapan ini mengajak mahasiswa menggali jawaban terkait dengan konteks permasalahan melalui berbagai proses penelusuran terkait batu gamping. Tahap Nexus. Nomor 5. dan berbagai aplikasi pada bidang kehidupan. dan kesesuaian materi dengan kemampuan mahasiswa dengan nilai CVI hitung 0. pada tahap ini mahasiswa diberikan pertanyaan PSDM sesuai dengan isu atau fakta yang terjadi pada kehidupan sehari-hari. kesesuai antara konten dan konteks. Perspektif mahasiswa terhadap isu PL terkait batu gamping berbeda-beda.66-1menunjukkan persfektip yang baik berdasarkan ketepatan materi konten dan konteks. 66 . penyisipan dan penghapusan kata atau frasa. 100% menunjukkan respon yang sangat baik. dalam hal ini tingkat kesesuaian yang amat baik. Pertanyaan nomor 10.

DAFTAR PUSTAKA Donnel CM.org/pgpers/prbsm Ross MS. Michael KS. 1. 4) Ketepatan gambar dan tugas percobaan. Huitt G. 2003. bahan pembuatan semen. 4. Journal Chemistry Education Research and Practice. 67 . Komorek M. 2. 6. dan penjernih air)? Dari manakah kamu mendapatkan informasi tersebut? Menurut pendapatmu apakah batu gamping sangat berarti bagi perkembangan penelitian kimia? Berikanlah salah satu contoh aplikasi batu gamping pada kehidupan yang pernah anda ketahui. Aect. peracangan bahan perkuliahan menggunakan urutan pengajaran STL dengan tahap perkuliahan berbasis PSDM.org/edtech/ed 1/38 pdf. konteks pembelajaran disesuaikan dengan isu sosial-ilmiah (PSDM) dan kurikulum 2013. William. ”Developing Practical Chemistry Skill by Means of StudentsDriven Problem Based Learning Mini-Projects Mini”. Duit R. bahan pemutih. 8. Hand Book: Research Methods in Experimental.130-139. 5. konsep PL konteks kimia batu gamping yang berbasis PSDM. 2012. Ilka P. bila hal itu dapat diselesaikan dengan cara mengaplikasikan keberadaan batu gamping? Pernahkah anda mendengar prinsip-prinsip tentang pengelolaan lingkungan dengan pemanfaatan batu gamping?. Kattmann U. 1992. consideration of individual differences using the Meyers Briggs Type Indicator. “Problem solving decision making. Pertanyaan Apakah kamu pernah membaca atau mengetahui tentang kimia batu gamping sebagai bahan (penetral keasaman tanah. > 80% prakonsepsi salah terhadap penelitian. 2. Berdasarkan poin penilaian tersebut maka diperoleh CVR rata-rata untuk bahan ajar perkuliahan adalah 0. 10. Morrison GR. dan 5) Kesesuaian materi dengan kemampuan mahasiswa.84. 8. 3) Kesesuaian materi dengan kurikulum (tujuan pembelajaran). keuntungan apakah yang anda dapat peroleh jika mengikuti prinsip kimiawi batu gamping? Apakah bahan perkuliahan yang kamu gunakan telah mengkaitkan antara konten kimia bahan galian dengan konteks penelitian laboratorium? Menurut anda.68) ini menandakan bahwa bahan perkuliahan yang dihasilkan layak untuk mahasiswa pendidikan kimia. konten perkuliahan disesuaikan dengan tingkat kognitif mahasiswa kriteria accesible. (2). 2) Kesesuaian antara konten dan konteks. Solusi apa yang anda dapat berikan. [online] Avalaible: http://www. Cristine O. adakah perbedaan pemahaman anda pada batu gamping yang anda lihat selama ini dengan batu gamping pada prospek kimiawi? Apakah yang kamu pikirkan tentang gambar dibawah ini Tanggapan Bila ada permasalahan yang anda temui di lingkungan sekitar anda.edssyanteractive.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Harald G. ” The Model of Educational Reconstruction-A Framework for Improving Teaching and Learning Science”. perlukah perkuliahan kimia bahan galian dirancang menjadi suatu prospek penelitian laboratorium ? apa alasan anda? KESIMPULAN Temuan dan analisis data penelitian memiliki karakteristik bahan ajar yang dikembangkan melalui MER yaitu: bahan ajar dikembangkan sesuai dengan aspek kompetensi dan sikap PSDM-MBT. 3. CVIh> CVIt(0.Ketepatan materi (konten dan konteks). 7. The University of Memphis & Wayne State University. 1. 2007. Apakah anda pernah mendengar/atau membaca tentang permasalahan kimiawi menyangkut batu gamping? Menurut pendapatmu. Perspektif mahasiswa terhadap isu PL konteks batu gamping berbasis PSDM digali melalui hasil wawancara.83> 0. Science Education Research and Practice in Europe. 11 September 2014 Tabel 6. Pedoman Wawancara Mahasiswa No. Penilaian bahan ajar keseluruhan meliputi : 1). sebagai pupuk anorganik. 9.

11 September 2014 PEMANFAATAN JEJARING SOSIAL “FACEBOOK” PADA DISKUSI ISU SOSIOSAINTIFIK UNTUK MENGEMBANGKAN KETERAMPILAN BERARGUMENTASI MAHASISWA Yanti Herlanti Pendidikan Biologi. Kelebihan lainnya menurut penelitian Osborne (2005). Fasilitas grup dapat mengumpulkan partisipan dalam satu kelompok diskusi. diskusi isu sosiosaintifik. Kata Kunci: jejaring sosial. sehingga antar partisipan dapat berhubungan. Ada sekitar 50 juta pengguna facebook di Indonesia. 2011). 2004. argumentasi. facebook memiliki fasilitas grup. Facebook dimanfaatkan sebagai media diskusi isu sosiosaintifik karena. PENDAHULUAN Penggunaan jejaring sosial facebook (facebookers) Indonesia cukup banyak. Chang & Chiu (2008). serta dapat melakukan konstruksi pengetahuan secara kolaboratif (Serrano. Salah satu pemanfaatan jejaring sosial dalam pembelajaran sains adalah sebagai media diskusi isu sosiosaintifik. Padahal dunia pendidikan dapat memanfaatkan facebook sebagai media diskusi. dan mengevaluasi idenya. tetapi sosial. 2011. Sadler. etika atau nilai. terutama diskusi isu sosiosaintifik. 2011). Facebook menawarkan sebuah media diskusi isu sosiosaintifik untuk meningkatkan keterampilan berargumentasi. dan Dawson & Venville (2009) adalah peningkatan kemampuan argumentasi pelajar. Makalah ini akan memaparkan bagaimana memanfaatkan facebook sebagai sarana diskusi isu sosiosaintifik yang dapat meningkatkan keterampilan berargumentasi partisipan diskusi. DISKUSI ISU SOSIOSAINTIFIK Selama tahun 1970-1990-an diyakini bahwa strategi Science Technology Society (STS) merupakan cara terbaik untuk mempromosikan literasi sains (DeBoer. Jejaring sosial memiliki karakter interaksi dan umpan balik. ekonomi. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yantiherlanti@uinjkt. bertanya. facebook. Robert & Gott. 1991). budaya. memberikan umpan balik. Dawson & Venville. sehingga terjadi keluasan diskusi tidak hanya melibatkan pengetahuan saintifik. politik. Diskusi isu sosiosaintifik adalah diskusi isu-isu sains yang dipandang tidak hanya dengan sudut pandang sains tetapi juga sosial yaitu politik. Kelebihan diskusi isu sosiosaintifik menurut Cross et al. Jejaring sosial “facebook” merupakan media yang popular di Indonesia. Beberapa penelitian menunjukkan diskusi isu sosiosaintifik lebih mudah meningkatkan keterampilan berargumentasi. 2009). dan mendebatkan argumennya. Kelebihan lainnya menurut Osborne (2005) diskusi isu sosiosaintifik peningkatan partisipasi dalam diskusi. (2008) adalah sangat efektif dalam mengkontruksi pengetahuan.id Abstrak Makalah ini memaparkan cara memanfaatkan jejaring sosial “facebook” sebagai media diskusi isu sosiosaintifik. karena partisipan berargumen dengan berbagai sudut pandang. Menurut Osbone. Eduran & Simon (2005). Selain itu menurut Brunsell & Cimino (2009:) sifat komunikasi tulis secara maya pada jejaring sosial menciptakan lingkungan belajar yang bersifat partisipatif dan ramah (bebas dari waswas dan malu). (2009) peningkatan kemampuan argumentasi terjadi karena partisipan diskusi membangun. Fasilitas kirim tulisan dan komentar yang bersifat interaktif dapat dimanfaatkan sebagai media diskusi antara partisipan. Pada STS pembelajar 68 . namun pemanfaatannya dalam bidang pendidikan masing kurang.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. berbagi. McNeill. Padahal jejaring sosial ‘facebook’ mempunyai beberapa kelebihan yang berpotensi untuk digunakan dalam pembelajaran.ac. Yager (1996) menyatakan STS bertolak dari isu yang kemudian digunakan untuk mengorganisasikan pembelajaran sains di sekolah. 2009. mempertimbangkan. karena para pelajar mengemukakan ideanya. namun pemanfaatannya masih bersifat entertainment. Diskusi isu sosiosantifik adalah permasalahan atau isu sainstifik yang menimbulkan kontroversi di masyarakat karena dipengarui oleh sudut pandang sosial politik (Salder & Zeidler. dan berkolaborasi (Bosman & Zagenczyk. dan etika.

Nuangchalernm. sosial politik. teknologi. kontroversi yang terjadi. Penelitian lain menggambarkan diskusi isu sosiosaintifik di kelas sains. 2005. 11 September 2014 berperan merencanakan dan melaksanakan aktivitas pemecahan masalah berdasarkan isu-isu yang berkembang dalam masyarakat. Unsur-unsur sosiosaintifik yang dapat meningkatkan literasi sains terlihat pada Gambar 1.. Sains semula digambar sebagai kegiatan laboratorium yang kaku menjadi lebih humanis. 2010. NOS SSI pun telah membuat siswa terpacu untuk mencari informasi dan bertanggung jawab secara sosial terhadap keputusannya. Pada masa kini (2000-an). karena sains lebih relevan dengan kehidupan sehari-hari. 2005) Promosi literasi sains melalui pendekatan isu sosiosaintifik di kelas sains dapat dilakukan dengan berbagai metode. salah satunya diskusi. yaitu menjadikan kelas sains lebih hidup karena adanya perdebatan saintifik. isu sosiosaintifik adalah isu kontroversial terkait dengan sains yang terjadi di masyarakat. Beberapa penelitian menunjukkan diskusi isu sosiosaintifik dapat mempromosikan literasi sains (Osborne. Zelder et al. moral dan etika. Lee (2008) menyatakan strategi hakikat sains melalui diskusi isu sosiosaintifik (NOS SSI) telah mengubah pandangan siswa terhadap sains. et al. Keyakinan ini akan memunculkan perbedaan persepsi atau pluralisme pendapat. dan diskusi publik yang banyak dipengaruhi sosial politik. pembelajaran sains pun mengembangkan keterampilan berpikir kritis dan membuat keputusan. Zelder et al. STS saja dipandang belum lengkap. tetapi konteksi antara kompetensi utama tersebut sangat berkaitan dengan “keyakinan” yang bersumber dari kognitif personal dan perkembangan moralnya. Marreo & Mensah. Isu budaya. Harris & Ratcliffe (2005) menyatakan diskusi isu sosiosaintifik membuat siswa lebih tertarik pada sains. dan STS belum mengakomodasi ini. Menurut Lewis (2003) diskusi isu sosiosaintifik memiliki kelebihan. (2005) mengusulkan perlunya melibatkan unsur sosisiosaintifik untuk mempromosikan literasi sains. membuat sains lebih manusiawi dan lebih menarik bagi siswa. kasus. dan lingkungan merupakan komponen utama dari pengembangan literasi sains. kritis. dan saintifik kemudian diistilahkan dengan isu sosiosaintifik. Chang & Chiu (2008) menyatakan isu-isu sosiosaintifik terjadi karena hubungan sains dan sosial. Berdasarkan definisi di atas. 2010). Unsur-unsur sosiosaintifik meningkatkan literasi sains (Zeidler. masyarakat.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. tidak hanya dari sudut pandang sains tetapi juga sudut pandang budaya. 2009. Robert & Gott (2009) menyatakan isu sosiosaintifik melibatkan komponen sosial sebagaimana keterlibatan saintifik. Dawson & Venville (2009) menafsirkan isu sosiosaintifik sebagai isu berbasis konsep dan masalah sainstifik. 69 . Meningkatkan Gambar 1. Dawson & Venville. (2005) menyatakan pengetahuan dan pemahaman tentang keterkaitan antara ilmu pengetahuan. Kontroversial terjadi karena isu tersebut dipandang dari berbagai sudut pandang.

Hasil penelitian mengungkapkan diskusi isu sosiosaintifk membuat pembelajaran sains lebih humanis dan juga meningkatkan keterampilan berargumentasi (Osborne. Data (grounds) adalah sinonim dari bukti (evidence). Mean and Voss (Dawson & Venville. & Ratcliffe. but the ethical side was really interesting and made it more life” (from a student. 2.. penjamin. 2008. dan reservasi. Ringkasnya. M. 2009). pendukung. B = Backing/pendukung. data.. R. data adalah bukti dan alasan untuk menyokong dasar dari argumen. 3. Gambar 2 memperlihatkan komponen argumentasi dan keterkaitannya D Maka Q. 1. sebuah klaim didukung oleh fakta dan alasan atau kesimpulan yang terhubung antara fakta ke klaim. (2006) argumen memiliki tiga karakteristik. Klaim (claim) adalah pendapat atau kesimpulan yang dikemukan oleh orang yang berpendapat dan ingin diterima audien. Chang & Chiu. 70 . W = warrant/penjamin Inch et al. kualifer. 2003) Keterangan: D = Data. K Kecuali R Karena W Berdasarkan B Gambar 2. Kuhn & Udell (2003) mendefinisikan argumen sebagai sebuah pernyataan dengan disertai pembenaran. Komponen ini menggambarkan sebagai fungsi dalam argumen. Bukti dan alasan dikembangkan menjadi klaim yang tak terbantahkan kebenarnya. Argumen dan argumentasi memiliki makna tersendiri. Data/bukti adalah fakta atau kondisi obyektif yang dapat diamati. 2006). Ciri sebuah argumen yang baik menurut Toulmin (2003) mengangung komponen klaim. kepercayaan. 11 September 2014 DISKUSI ISU SOSIOSAINTIFIK DAN KETERAMPILAN BERARGUMENTASI “I’m not really interested in it (Biology). Model lengkap argumentasi Toulmin (Toulmin. (2006) dan Freeley & Steinberg (2009) menjelaskan lebih lanjut keenam komponen tersebut yaitu. 2009) menggambarkan argumen sebagai pendapat dari suatu kesimpulan yang didukung minimalnya oleh satu alasan. K = Klaim. Argumen diartikan sebagai sebuah penyataan yang berisi sebuah klaim yang didukung oleh data dan dikemukakan untuk mempengaruhi seseorang (Inch. Dawson & Venville. 2005. Penjamin (warrant) adalah penalaran yang digunakan untuk menghubungkan data dan klaim. Pertama. Ketiga. Harris. Menurut Inch et al. sebuah argumen berusaha mempengaruhi pendapat seseorang yang berada dalam ketidaksetujuan. 2005) Pernyataan di atas diungkapkan oleh peserta didik yang telah melakukan diskusi isu sosiosaintifik. Girle (1991) mendefinisikan argumen sebagai serangkaian pendapat yang bersifat interakif yang memungkinkan untuk disanggah. Kedua.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. sebuah klaim berupa opini atau kesimpulan yang ingin diterima pembantah. Q = Qualifier/kualifer. et al. atau premis yang telah diterima sebagai sebuah kebenaran oleh audien atau kesimpulan-kesimpulan yang telah ditetapkan sebelumnya.

dan lain-lain. menyajikan argumen kounter. Ketika berpendapat derajat kekuatan pendapat biasanya tercermin dari ungkapan atau tulisannya dengan beberapa kata seperti “kuat/sangat (stongly). Adapun Freeley & Steinberg (2009) menyatakan komponen keenam adalah penyanggah (rebutal). argumentasi informal memiliki karakteristik membuat klaim. Argumentasi pada model Toulmin merupakan 71 . Argumentasi informal dikembangkan berdasarkan model Toulmin. individu dapat mengubah premis berdasarkan pengetahuan dan keyakinan pribadi. 3. (2006) merupakan argumentasi informal. menyediakan alasan. dan mengevaluasi argumen. (2006).Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Berdasarkan perbedaan ini. a) Data – Klaim (DK) b) Data – Penjamin/Warrant – Klaim (DWK) c) Data – Penjamin – Pendukung/Backing – Klaim (DWBK) d) Data–Penjamin–Pendukung – Reservasi-Qualifier– Klaim (DWBRQK) Keempat model argumentasi Toulmin yang dikemukan Inch et al. atau pengalaman hidup. informasi dari media massa. kemungkinan (probably). tentu (certainly). 11 September 2014 Data Penjamin Klaim Teroris melakukan aksi terror untuk mendapatkan publisitas Media sensasional memberikan peluang bagi publikasi teroris Pelarangan media sensasional akan mengurangi aksi terorisme Sumber: Freeley & Steinberg (2009) 1. Menurut Chang & Chiu (2008) argumentasi informal dapat dibedakan dengan formal dari cara pengambilan klaim. Kualifikasi (modal qualifications) adalah kata keterangan sehari-hari (adverb) atau kalimat keterangan tambahan (adverbial frase) yang memodifikasi klaim dan menunjukkan kekuatan rasional atau derajat kekuatan dari orang yang berpendapat tersebut. Keempat model tersebut adalah sebagai berikut. Data Penjamin Klaim Kekerasan oleh anak menghasilkan kematian dan kecelakaan Karena media kekerasan menghantarkan pada kekerasan pada anak Pelarangan media kekerasan akan mengurangi kematian dan kecelakaan Pendukung: Kajian memperlihatkan hubungan antara media dan kekerasan dan kekerasan pada anak Sumber: Freeley & Steinberg (2009) 2. Argumentasi yang terjadi pada diskusi isu sosiosaintfik bersifat argumentasi informal. yaitu bukti atau alasan yang akan melemahkan atau menghancurkan klaim. Pengajuan klaim pada argumentasi informal mengandung fitur kognitif dan afektif. buku teks. penambahan dan penghapusan isi premis tidak diperbolehkan. Reservasi ini dikemukan oleh ini Inch et al. (2006) ada empat model argumentasi Toulmin yang mungkin terjadi dalam sebuah teks. Pendukung (backing) adalah fakta lebih lanjut atau penalaran yang digunakan untuk mendukung atau melegitimasi prinsip yang ada pada penjamin. Pengajuan klaim pada argumentasi formal didasarkan pada premis-premis yang baku. Menurut Inch et al. bisa saja (possibly)”. Pengecualian (reservation) adalah keadaan atau kondisi yang melemahkan argumen. menunjukkan kualifer. Hal ini terjadi karena adanya keterbatasan atau pengecualian yang membatalkan penerapan penjamin.

tapi tidak ada sanggahan Argumentasi mengandung beberapa argumen yaitu klaim sederhana lawan sebuah klaim balasan atau klaim lawan klaim Sumber Osborne (2005: 371) dan Erduran et al. Osborne dan Erduran mengembangkan penilaian kualitas argumentasi berdasarkan model argumentasi Toulmin. Level 4 3 2 1 Tabel 2. 2011). 2) argumen dengan justifikasi.. Hakyolu & Bekiroglu. Osborne (2005) mengklasifikasikan argumen ke dalam tiga kelompok yaitu: 1) klaim sederhana. yang merupakan sebuah kerangka kerja analitik untuk menilai kualitas argumentasi. Tiga kelompok ini kemudian dikuantifikasi menjadi lima level argumentasi. data (bukti yang mendukung klaim). atau pendukung. penjamin atau pendukung dengan terkadang sanggahan yang kurang bagus Argumentasi mengandung beberapa argumen yang mengandung klaim dengan data. Diskusi isu sosiosaintifik mempunyai potensi yang lebih besar dalam meningkatkan kualtias argumentasi. 2005). (2005:390).. 2009). dan 2) argumen dengan justifikasi dan penyanggah. Erduran et al. Erduran. kesimpulan. dan/atau penjamin (penghubung antara data dan klaim) Klaim (pernyataan. Kerangka kerja analitik untuk menilai kualitas argumentasi dapat dilihat pada Tabel 1. Dawson & Venville (2009) memodifikasi kerangka Osborne. Pada konteks isu sosiosaintfik peserta didik berargumen dengan sudut pandang yang dikuasainya atau diminatinya. Kerangka analitik digunakan untuk menilai kualitas argumentasi pada diskusi isu sosiosaintifik kelas Level Keterangan Argumen meunjukkan keluasan argumen dengan lebih dari satu sanggahan 5 4 3 2 1 Argumentasi menunjukkan beberapa argumen dengan klaim atau klaim-klaim dan klaim balasan dengan sanggahan yang jelas Argumentasi mengandung beberapa argumen dengan serangkaian klaim atau klaim balasan dengan data.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. pendukung (asumsi yang mendukung penjamin) atau kualifer (kondisi tentang ketepatan klaim) Klaim. data. penjamin yang menghubungkan data pada klaim. penyanggah merupakan komponen penting pada kerangka ini (Dawson & Venville. aktivitas diskusi berkaitan dengan memberikan sanggahan (rebuttal) terhadap argumen. proposisi saja) Sumber: Dowson & Venville (2009: 1432-1433) memodifikasi dari Osborne & Erduran. Tabel 1. dan dengan melakukan perdebatatan isu saintifik di kelas (Aleixandre et al.. penjamin. & Simon (2005) sangat cocok digunakan untuk menganalisis dialog yang digunakan siswa pada sebuah diskusi isu sosiosaintifik dalam bentuk berpasangan atau kelompok kecil. penjamin. 2005. Kerangka analitis kualitas argumentasi Keterangan Klaim. Kerangka analitik kualitas argumen yang dikembangkan Osborne. karena argumentasi pada konteks sosiosaintifik lebih mudah. dan kualifer Klaim. 2009). Lebih jauh lagi. et al. (2005: 371. data. Osborne dan Erduran adalah pakar yang mengembangkan keterampilan argumentasi dalam pembelajaran sains. 11 September 2014 aktivitas rasional yang melibatkan klaim yang dikembangkan dan didukung oleh data. & Simon menjadi kerangka baru (lihat Tabel 2). Bagi diskusi yang kurang memberi kesempatan untuk memunculkan penyanggah. Dawson & Venville. Pengembangan argumentasi di kelas sains dapat dilakukan dengan metode diskusi berbasis isu sosiosaintifik (Osbone. pendukung. penjamin. tetapi juga etika dan nilai (Osborne. 2005. 390) 72 . Erduran. akibatnya argumentasi pun meluas tidak hanya menggambarkan pengetahuan ilmiah. Klaim mempunyai kualifer dan penjamin didukung oleh pendukung/backing. 2000.

777. dilihat dari dua sisi yaitu jumlah pengguna dan sifat media sosial. Sifat media sosial seperti ini memberikan beberapa keuntungan antara lain menambah kuantitas komunikasi antara pengajar dan pembelajar. dan berkolaborasi (connecting. Ragupathi (2011) mengemukakan facebook bersifat kontruksi sosial yaitu peserta didik mengirim dan bebagi pandangannya dan peserta lain memberi komentar. facebook memiliki beberapa keunggulan diantaranya adalah. Perbandingan antara blog dan facebook terlihat dari Tabel 3. Perbandingan Blog dan Facebook Fasilitas Weblog Pembuatan akun gratis V Pembuatan dan pengeloaan mudah (tidak V menggunakan bahasa program/webmaster) Pengiriman tulisan V Pemberian komentar V Pemberitahuan setiap tulisan/komentar V Pemberitahuan terintegrasi secara “mobile” melalui X telepon gengam Tulisan dan komentar yang dikirimkan bersifat terbuka V bagi public Tulisan dan komentar yang dikirimkan dapat dibuat X tertutup hanya untuk jaringan teman Grup diskusi dan partisipan dapat dipilih (dapat X bersifat tertutup atau terbuka pada publik) Penanda (tag in) yang dapat terkoneksi secara mobile X dan muncul dalam pemberitahuan. dan meningkatkan partisipasi serta keterlibatan pembelajar dalam berbagai program aksi di sekolah. 5. Seperti media sosial lainnya. 6. situs socialbakers mencatat pengguna facebook aktif di seluruh dunia berjumlah 900 juta orang. membuat kiriman guru cepat ditanggapi oleh peserta didik. and collaborating). sehingga aktif berdiskusi. 11 September 2014 DISKUSI ISU SOSIOSAINTIFIK MELALUI JEJARING SOSIAL “FACEBOOK” Media sosial memiliki potensi besar untuk dikembangkan dalam pendidikan di Indonesia. X = tidak ada Dibandingkan dengan weblog. 8. Tabel 3. No 1. Saikaew (2011) menyatakan facebook bersifat memberi kenyamanan dan kemudahan dalam berinteraksi sosial dalam berdiskusi. dan pengguna facebook di Indonesia mencapai hampir 44 juta. tanpa mengalami kelambatan muat (low 73 . a. 3. 9. 7.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. 12. 10. Menurut Wahyudi (2011) ada 55 juta pengguna internet di Indonesia. membuka peluang berdiskusi dan berkolaborasi dalam penyelesaian tugas. Popularitas facebook di kalangan peserta didik.600. Sifat dan kepopuleran facebook berpotensi digunakan sebagai media diskusi isu sosiosaintifik. untuk memanggil pengguna lain. 2. sharing. Satu tulisan dapat menampung lebih dari 100 X komentar tanpa “low loading” Selain diskusi ON I OFF juga dapat dilakukan diskusi X online Facebook V V V V V V V V V V V V Keterangan: V = ada. 11. Sejak didirikan pada tahun 2004 sampai tahun 2012. Jumlah pengguna media sosial di Indonesia cukup besar terutama terutama facebook. berbagi. Pada 1 Febuari 2013 jumlah pengguna facebook di Indonesia meningkat menjadi 48. faceebook pun memiliki sifat berhubungan. Daya tampung komentar pada grup jejaraing facebook dapat mencapai ratusan dalam satu halaman/satu kiriman status. 4. Facebook merupakan situs jejaring sosial yang memungkinkan seseorang berhubungan dengan orang lain secara bertatapan muka (face to face) secara online tertulis ataupun interaksi secara multilog pada sebuah komunitas (group facebook). Daya tampung komentar dan kecepatan akses. berdasarkan data ini maka hampir 80% pengguna internet di Indonesia adalah pengguna facebook.

solusi terhadap isu sosiosaintifik harus kembali diletakkan secara sainstifik. 1. sehingga privasi dan kenyamaan partisipan terlindungi. Diskusi ini akan dimoderatori oleh saya Yanti Herlanti Full. Facebook dapat diakses dengan mudah melalui telepon genggam.00-19. Empat sesi pada diskusi isu sosiosaintifik bersifat kontekstual. Argumentasi pro dan kontra akan didukung data. b. Moderator dapat memanggil partisipan yang belum memberi komentar/tanggapan untuk berpartisipasi dalam diskusi. menjadi sebuah patokan untuk menyikapi isu yang terjadi di masyarakat secara benar. Secara individual. Sesi diskusi untuk menghantarkan pada literasi sains Empat sesi diskusi dilakukan untuk menghantarkan pada literasi sains partisipan. 11 September 2014 b. ditunggu untuk posting pertama: satu orang mengemukan pendapat pro. sehingga partisipasi dapat dilakukan secara mobile. dan satu orang mengemukakan pendapat kontra. loading). Penandaan oleh moderator pada partisipan. Sesi IV (kesimpulan) menegaskan kembali posisi terhadap isu yang berkembang. karena perbedaan sudut pandang. akan muncul pada pemberitahuan/notifikasi facebook partisipan.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Sesi dua lebih membahas tentang hakikat dan penjabaran sainstifik tentang pokok persoalan yang dipermasalahkan (menjadi isu). Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam menggunakan facebook sebagai media diskusi isu sosiosaintifik adalah sebagai berikut. secara online. Partisipan pun mengkontruksi argumen yang lebih kaya daripada argumen sebelum diskusi dilaksanakan. Partisipan yang mempunyai nilai rendah. sakazakii akan berlangsung 1 hari saja. Pukul 19. Kemudahan akses. Kejelasan alokasi waktu jeda setiap sesi diskusi sangat diperlukan untuk memberi kesempatan pada partisipan memahami dan mencerna isi diskusi. Fasilitas mengaktifkan partisipan dalam diskusi. d. setiap komentar akan terunggah dengan baik. c. isu sains bersifat sosial yang menimbulkan kontroversi. karena tujuan diskusi adalah meningkatkan mengembangkan kualitas argumentasi secara individual maupun sosial. so tune on and stay on selama 2 jam. cenderung rendah tingkat partisipasinya. Aturan diskusi: a. Sebagai seorang calon guru sains yang memiliki literasi sains. Sesi 1: Polemik E. Pemberian rasa nyaman. maka hanya anggota grup yang dapat mengakses dan melihat perbincangan yang terjadi. sehingga partisipan memperoleh literasi sains tentang topik yang sedang didiskusikan. Grup pada facebook dapat dibuat terbuka atau tertutup. Sesi I (polemik) berdiskusi isu kontekstual dan kontroversial yang terjadi di masyarakat.05. 2. Tujuan dari sesi I adalah mengeksplorasi kemampuan argumentasi partisipan. tetapi kuat dan tidak argumentasi yang dikemukakan.00 WIB 21. walaupun ada beberapa komentar yang masuk bersamaan. Sesi ini bertujuan untuk mengembalikan isu sosial kepada isu sains. Sistem unggah komentar. melalui fasilitas “menandai/tag in/@” yang tersedia dalam facebook. sehingga masyarakat dapat memperoleh solusi praktis dan ilmiah (saintifik). Jumlah komentar lebih dari seribu pada grup jejaring facebook pun tidak mengalami kelambatan muat (low loading). e. c.00 WIB. Pada grup facebook. penilaian bukan salah dan benar. Aturan diskusi isu sosiosaintifik yang ditampilkan pada media facebook adalah sebagai berikut. Aturan diskusi Aturan diskusi merupakan bagaian penting dalam diskusi isu sosiosaintifik. kualitas argumentasi akan terasah dengan seringnya memberi argumen pada saat diskusi berlangsung. Pada sesi I. Literasi sains yang sudah diperoleh pada sesi kedua. Hal yang patut diperhatikan pada setiap sesi diskusi adalah waktu jeda. 74 . dan alasan logis serta rasional. hal ini akan mendorong partisipan untuk berpartisipasi. dan problem solving. Sesi (III) merumuskan solusi dan berperan aktif memberi pemahaman pada masyarakat terhadap permasalahan kontroversial yang terjadi di masyarakat. Waktu jeda setiap sesi diskusi diperlukan partisipan untuk mencari dan membaca literatur yang relevan dengan topik diskusi. Sesi II (eksplorasi) mengkonstruksi pengetahuan sains secara kolaboratif. fakta. konstruksional. yaitu 20 November Pukul 19. Jika dibuat tertutup.

391 karakter atau 10 kali twit (1 kali twit pada twitter = 140 karakter). Hal ini karena layar komputer memuat jumlah komentar sesuai luas pandangan partisipan yaitu sebanyak 10 komentar atau setara dengan 215 kata atau 1.. tetapi sukar terlihat bedanya pada proses diskusi.. Posting kedua dan selanjutnya.. 11 September 2014 d.619 karakter (setara 32 twit. caranya dengan memberi "tag (ketik @ lalu nama orang yang dirujuk pendapatnya)" berikan juga hastag (#) sebagai identifikasi anda berada dikubu mana. partisipan tidak berkomentar lagi di dinding yang telah diberikan f. e. a. Penelitian Cowan (2002) tentang penggunaan sistem nilai minus (plus/minus marking) menghasilkan hasil yang sama. Penskoran dengan sistem minus menjadi assesmen diri bagi mahasiswa (self assesment) dan menjadi pendorong untuk memperoleh kinerja yang lebih baik. Rubrik sistem minus point dapat dilihat pada Tabel 4. sehingga huruf kapital dan pengulangan arahan sangat diperlukan dan untuk hal-hal yang berkaitan dengan jeda dan berhenti diskusi digunakan tanda tersendiri agar lebih jelas terlihat partisipan. atau #KubuProIPB artinya berpendapat bahwa IPB tidak perlu mengumumkan susu formula E. c. posting dapat berupa menambahkan atau memperkuat argumen posting sebelumnya.. sakazakii. misalnya #KubuKontraIPB artinya berpendapat bahwa IPB harus mengumumkan susu formula E.. dimulai pukul 19. JIKA ANDA SUDAH MEMBACA DAN MEMAHAMI ATURAN DISKUSINYA! Penggunaan simbol dan huruf kapital oleh moderator dilakukan untuk mengatasi kelemahan yang ada pada sistem facebook. komentar yang masuk mencapai 571 kata atau setara 4. Penggunaan sistem minus point belum mampu mengendalikan komentar multi ganda.41 baru ada komentar yang menanggapi moderator.05. b. perolehan point akan mengikuti penilaian seperti terlampir (atau termuat di bagian D. tetapi dominanya masih membahas permasalahan sebelumnya. Oleh sebab itu pada proses diskusi moderator mengarahkan diskusi melalui kolom komentar dengan penggunaan huruf kapital untuk moderator. Evaluasi BlogQuest 1. Menyediakan rubrik penilaian dengan sistem minus point Facebook adalah media diskusi informal. = diskusi stop untuk jeda sementara waktu XXX = diskusi diakhiri untuk dilanjutkan pada dinding baru/sesi berikutnya. karena berdasarkan 32 kuisioner yang diisi oleh partisipan menunjukkan 38% menyatakan membaca penilaian. Penelitian menunjukkan sistem minus point (sistem penilaian minus) berhasil dalam mengendalikan komentar partisipan.40. dengan cara merujuk pendapat sebelumnya. maka pada pukul 19. hal ini menyebabkan partisipan sering memberi komentar diluar konteks dari diskusi isu sosiosaintifik. tetapi tidak memperhatikan lagi ketika diskusi isu sosiosaintifik dilaksanakan 3. SILAHKAN BERI JEMPOL ANDA. = diskusi lanjutkan ..Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. partisipan dilarang menggunakan huruf kapital. Komentar yang dikirmkan cepat mengalami penggulungan (scrolling).. Ketika moderator memberikan arahan diskusi pada kolom komentar pada pukul 19. Untuk setiap posting. Beberapa kelemahan pada sistem facebook adalah sebagai berikut. 75 . moderator akan menggunakan HURUF KAPITAL...02 pada weblog) g. luas pandang layar hanya 10 twit). Dalam satu menit. Facebook tidak memiliki fasilitas memunculkan komentar penting dari moderator secara permanen. Komentar moderator terlihat jelas pada pengiriman status (standpoint). Untuk mengatasi hal ini dan untuk menjaga kualitas argumen partisipan maka digunakanlah sistem penilaian minus. Sistem penggulungan yang cepat dan tidak adanya fasilitas mendeteksi duplikasi komentar memyebabkan partisipan sering sekali mengulang-ulang tautan yang dirujuk dan mengulang-ulang pendapat sebelumnya. sakazakii. Pada saat memandu diskusi. Ingat tanda/simbol yang moderator berikan: .

Dini=1 menarik Endah Lestari. Diskusi isu sosiosaintifik melalui facebook memberikan peluang untuk meningkatkan keterampilan berargumentasi dengan syarat harus memperhatian hal-hal berikut yaitu penyelenggaraan sesi diskusi. pengaturan aturan-aturan diskusi. dan penjamin. Novia Btari Krishnamuty. walaupun dikemas dalam bahasa berbeda) Memberi data/penjamin/pendukung/pengecualian/klaim yang memiliki kesamaan dengan komentar sebelumnya Memberi persetujuan/ketidaksetujuan tanpa menyebutkan Klaim yang disetujui/tidak disetujui Memberi komentar berupa klaim saja. mungkin kubu kontra bisa menanggapi??? kita tunggu saja. penggunaan rubrik menilai keterampilan berargumentasi dengan sistem minus point.5 0 Penjelasan Memberi komentar yang tidak berkaitan dengan topik diskusi Memberi komentar berupa klaim. Rubrik penilaian untuk komentar yang diberikan pada diskusi isu sosiosaintifik pada jejaring sosial dengan sistem minus point Skor -2 -1. dan peranan moderator dalam memfasilitasi diskusi isu sosiosaintifik. klaim. Contoh tindakan moderator dapat dilihat pada Tabel 5. untuk mendukung atau membantah klaim sebelumnya dengan sebuah klaim baru tegas/kuat memperlihatkan kualitas/pengecualian 5 yang dilengkapi dengan bukti (Data*/Evidence) dan alasan (jaminan/reasoning) disertai penyataan yang mendukung terhadap penjamin  COUNTER KLAIM/BACKING KLAIM  NEW KLAIM + DWBRQ Keterangan: *) data merupakan data/fakta baru yang dikemukan bukan berasal dari bagian Pendahuluan pada quest 1 4. Murti MSari=1. 11 September 2014 Tabel 4. untuk mendukung atau 4 membantah klaim sebelumnya dengan sebuah klaim baru yang dilengkapi dengan bukti (Data*/Evidence) dan alasan (jaminan/reasoning)  COUNTER KLAIM/BACKING KLAIM + DW Memberi komentar dengan merujuk pada pendapat dari komentar sebelumnya. Alie Akbar=1. bagaimana komentar dari Adjie Pratama. Tabel 5. COUNTER KLAIM/BACKING KLAIM  NEW KLAIM Memberi komentar dengan merujuk pada pendapat dari komentar sebelumnya. untuk mendukung atau 2 membantah klaim sebelumnya dengan sebuah klaim baru. menyinggung gugatan Bapak David yang dimenangkan pengandilan.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Peran moderator Pada pelaksanaan diskusi. Disa Fajriah Arifin. data dan penjamin yang serupa dengan pada komentar sebelumnya (plagiasi) Memberi komentar berupa klaim. Closing statement. Azkiah Rahmi=1. bakteri yang merugikan atau bakteri yang bersahabat? siip. terhadap hasil ekplorasi ES!!! PENUTUP Facebook dapat dijadikan sebagai media diskusi isu sosiosaintifik. @rosihananwar= 2.5 -1 -0. dan tidak mengkaitkan dengan pendapat sebelumnya.10= Cuda Lupita4. Endah Lestari=2. memanggil partisipan (mention) yang belum aktif.Reny Pujiati Sakhi=5. 76 . Lianda Shasyli=3. Anisa Lina Anggraeni=1. arifa=1. dan memfokuskan permasalahan. Tindakan Moderator pada Diskusi Isu Sosiosaintifik Tindakan moderator Memberikan standpoint Menilai kualitas argument Memanggil partisipan Memfokuskan permasalahan Contoh "Perlukah IPB mengumumkan nama merk Susu Formula dan Makanan Bayi yang terkontaminasi E. BebHilaliyah Hilda Ningsih. setiap sesi moderator memberikan standpoint. 14. menilai kualitas argumen. Sekarang. untuk mendukung atau 3 membantah klaim sebelumnya dengan sebuah klaim baru yang dilengkapi dengan bukti (Data/Evidence)  COUNTER KLAIM/BACKING KLAIM  NEW KLAIM+D Memberi komentar dengan merujuk pada pendapat dari komentar sebelumnya. sakazakii didasarkan pada hasil penelitian Sri Estuningsih 2006? “ Record point anda. dan ani!! Kita beralih ke bakteri ataupun mikroba secara umum ya!!! Mana yang lebih banyak.12-15.  NEW KLAIM Memberi komentar dengan merujuk pada pendapat dari komentar sebelumnya. Muhammad Fuad Fahrudin=1.Nuri Shabania=6. Ichi Ajjah Dech. data dan penjamin yang senada dengan pada komentar sebelumnya (tidak mengandung kebaruan data.

uk [Akses 6 Febuari 2014] Cross D. 2002. 2010. Miami: Wadsworth Cengage Learning. White. 2008. Chiu MH. B. 2003.org. 2009. Dawson V. (Eds). Harris R. 11 September 2014 DAFTAR PUSTAKA Aleixandre MPJ. Cimino C. 2010. European Journal of Social Science. Technology & Social Media (Special Issue. High School Student’s Informal Reasoning and Argumentation about Biotechnology: An Indicator of Science Literacy?. Chang SN. 77 . Zagenczyk T. Teachers’ Use of Curriculum to Support Students in Writing Scientific Arguments to Explain Phenomena. Argumentation and Debate. Argumentation: a Strategy for improving achievement and revealing scientific identities. 2008. Socioscientific Decision Making the Ocean: The Case Study of 7 th Grade Life Science Students. [Unduh 3 Juni 2012] Marrero ME. Ratcliffe M. Dialogue and the Teaching of Reasoning. 23 (1):45– 55.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Steinberg DL. Hickey. Hendricks S. DeBoer GE.org. 837-861. Lee CK. Rodri´Guez AB. Science Education. 2000. 2008. 2011. 74(5): 1245-1260. King. Social Media Tools and Platforms in Learning Environtment. 2(2):1-12 Freeley AJ. Guzel BY. 2009. DT. Warnick B. Erduran S. 84(6):757-792 . 2(1): 264-270. 15(2). International Journal of Science Education. I. Issue-Based Teaching in Science Education. Udell W. 16(4): 439-453. Plus/Minus Marking: a method of assessment worth considering. Eurasia Journal of Matematics Science and Teachnology Eduacation. Revitalize Your Teaching: Creative Approaches to Applying Social Media in the Classroom. Inch ES. Engaging Students to Perceive Nature of Science Though Socioscientific Issue-Based Instruction. Tersedia secara online di: http://jisctechdis. International Journal of Science Education. Electronic Journal of Science Education. Socio-scientific Issues of Exploratory Talk-What Can be Learned from School Involved in a ‘Collapsed Day Project’?. Learning to Teach Argumentation: Case Studies Secondary Science Teachers. A Proposed Instructional Model Using Socioscientific Issues to Illustrate the Nature of Science (NOS-SSI Instructional Model). 1991.com [Unduh 3 Juni 2012] Nuangchalern P. Part 1). International Journal of Science Education. 223-268. Tersedia online di http://aracte. Girle RA. 14(1). Duschl RA. Child Development. Critical Thinking and Communication: The Use of Reason in Argument. The Development of argumentation Skill.wiley. A history of Ideas in Science Education. 30(6). Cowan J. P. London: Springer. American Institute of Biological Sciences. The Curriculum Journal. 1991. 2011. Lactos’s Scientific Research: Programmes as a Framework for Analysing Informal Argumentation about Sosio-scientific Issues. Bosman L. 31(11): 1412-1445.. “Doing the Lesson” or “Doing Science”: Argument in High School Genetics. Taasoobshirazi G. Brusell E. Investigating the Impact of Weekly Weblog Assignments on the Learning Environment of a Secondary Biology Course.ac. Hakyolu H. 2006. The Higher Education Academy. 2009. Educational Philosophy and Theory. [Unduh 3 Maret 2011] Lewis SE. 30 (17):1753-1773. 2009. Tersedia online di http://www. Tersedia online di http://interscience. Khun D. International Journal for Cross-Disciplinary Subjects in Education (IJCDSE). New York: Teacher College Press. Assessment of Students’ Science Knowledge Levels and Their Involvement with Argumentation. 2003. Venville GJ. Journal of Science Education 93. Mensah FMM. Boston: Pearson Education Inc. Mc Neill KL. Endres D. Bekiroglu FO.actionbioscience. 2005. 13(1): 34-37. 2006. & Tsang.. Ardac D.

A framework for Practical Work. & Tsang. Sadler TD. Eduran S. New York: State University of New York Press. Facebook for Teaching and Learning. 2005. Wiley Periodicals. Research and Quality of Science Education.ufl. Tersedia online di http://www. Goedhart.. B. and Scientific Literacy. Gott R. Beyond STS: A Research-Based Framework for Socioscientific Issues Education. 11 September 2014 Osborne J. Tersedia online di http://interscience. New York: Cambridge University Press. & Research. 2011. Dordrecht: Springer. White. [Unduh 12 April 2012] 78 . Ragupathi W. Research and Quality of Science Education. “The role of argument in Developing Science Literacy”. 2003. M. 1996. & H. P. 99–105. Wahyudi R. Technology in Pedagogy. G. Dordrecht. http://tekno. 2009. Zeidler DL. Toulmin SE.com. (Eds). O.edu.edu..com [Unduh 18 April 2013] Tersedia online di Yager RE.google. K. Osborne J. [Unduh 18 April 2013] Robert R. Ankara: Pegem Akademi. Simon J.co. 2005. Learning. [Unduh 3 Juni 2012] Serrano MJH. 2011. I. The Morality of Sosioscientific Issues: Construal and resulution on genetic engineering dillemas. Contemporary Science Education Research: Scientific Literacy and Social Aspects of Science. De Jong. & H.cdtl. Dordrecht. Howets SE.kompas. Progressing the Social Dimension Toward the Collaborative Construction of Knowledge in 2. De Jong.sg. Sadler TD. Argumentation. Boesma. 2005. Simmons ML.wiley. 2011. Social Media Tools and Platforms in Learning Environtment. Boesma. King. Eijkelhof [Eds]. O. Science Technology Society as Reform in Science Education. Goedhart.0 Learning Environments: A Pedagogical Approach. Pengguna Internet Indonesia 55 Juta Orang.education. 2004.id Zeidler DL. pp. Tersedia online di http://books. 1. Nederlands: Spinger. Naik 13 Juta. Nederlands: Spinger. a Collection of papers presented at ESERA 2009 Conference. Tersedia online di http://faculty. Eijkelhof [Eds]. Socio-scientific Issues in The Clasroom: Teaching. K.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. 2011.Cakmaci. Inc. Sadler TD. M. The Uses of Argument. Journal of Science Education 88:4-27. London: Springer. MF Tafsar [Eds]. The Role of argument in Science Education.nus.

2009). mandiri. Hal ini terungkap berdasarkan hasil studi PISA pada tahun 2000 Indonesia berada pada peringkat ke-38 dari 41 negara peserta PISA dengan nilai rerata tes 393. menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti agar dapat memahami dan membantu membuat keputusan tentang dunia alami serta interaksi manusia dengan alam (OECD.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. yang mampu menghadapi tantangan dalam kehidupan nyata baik pada lingkup lokal maupun global. pada tahun 2006 juga menunjukkan tingkat literasi sains anak-anak Indonesia masih rendah. 2006). serta mempersiapkan sumber daya manusia yang melek sains dan teknologi. yaitu untuk mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Research instrument in the form of pieces of scientific literacy test in the form of multiple choice questions. berilmu. Pendidikan merupakan sebuah proses akademik yang tujuannya untuk meningkatkan nilai sosial. serta adaptif terhadap perubahan dan perkembangan zaman (Mudzakir. menguasai teknologi. berdasarkan hasil studi penilaian yang dilakukan oleh PISA (Programe for International Student Assessment) mengungkapkan bahwa pembelajaran sains di Indonesia kurang berhasil meningkatkan kemampuan literasi sains.com/evisapinatul@gmail. Jurusan Pendidikan IPA Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta evisapinah@yahoo. PENDAHULUAN Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dewasa ini berpengaruh pada berbagai bidang kehidupan. Aspects of Process Science. termasuk bidang pendidikan. Potensi ini akan terwujud jika pendidikan sains mampu melahirkan peserta didik yang cakap dalam bidangnya dan berhasil menumbuhkan kemampuan berpikir logis. 34% untuk proses. bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. berpikir kreatif. 2010).2 (high category). Pendidikan sains memiliki potensi dan peranan strategis dalam menyiapkan sumber daya manusia yang berkualitas seperti yang diharapkan oleh tujuan pendidikan nasional. Chemical Equilibrium. Keywords: Science Literacy. indicators of "Explaining phenomena scientifically" by 72. dan 32% untuk konteks dengan rerata tes 395. berakhlak mulia. dan terakhir pada tahun 2009 Indonesia menempati peringkat ke-57 dari 65 negara peserta dengan skor 383 (OECD. 11 September 2014 MENINGKATKAN LITERASI SAINS SISWA PADA ASPEK PROSES SAINS MELALUI PEMBELAJARAN BERBASIS MULTIMEDIA INTERAKTIF Evi Sapinatul Bahriah Dosen Prodi Pendidikan Kimia. moral. Weak Experimental. The trial results demonstrate scientific literacy of students in every aspect of the process of science has increased with an average value of NGain (%) on the indicator "Identifying scientific issues" of 74. memecahkan masalah. Literate dalam sains ini dikenal dengan literasi sains. PISA (Programme for International Student Assesment) mendefinisikan literasi sains sebagai kapasitas individu dalam menggunakan pengetahuan ilmiah. and indicators of "Using scientific evidence" of 78. 2005). The research method used is weak experimental with The OneGroup Pretest-Postest Design. sehat. melek sains. budaya. dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Depdiknas. mengidentifikasi pertanyaan-pertanyaan.com Abstract This study aims to improve the scientific literacy of students in aspects of the process of science through interactive multimedia based learning on the theme of chemical equilibrium in living creatures and industry. Arti lebih lanjut adalah bahwa pendidikan sains harus mampu menghasilkan masyarakat yang literate terhadap sains (Hayat & Yusuf. Namun. 5 (high category). Interactive Multimedia Software. cakap. bersifat kritis.5 (high category). pada tahun 2003 Indonesia menempati peringkat ke-38 dari 41 negara peserta dengan nilai rerata tes 395. 2009). kreatif. yakni: 29% untuk konten. 79 .

perhatian dan kemauan siswa sehingga dapat mendorong proses belajar. Bahriah. sehingga diharapkan berdampak pula pada hasil belajarnya. inspiratif. Berdasarkan paparan tersebut. masih jarang peneliti yang mengembangkan pembelajaran multimedia interaktif kesetimbangan kimia untuk meningkatkan literasi sains pada aspek proses sains. Wiratama (2010) mengungkapkan bahwa pemanfaatan laboratorium virtual interaktif pada pembelajaran kesetimbangan kimia dapat meningkatkan kemampuan generik sains dan keterampilan berpikir kritis siswa SMA. Penelitian yang mengkaji bagaimana pengaruh penggunaan komputer sebagai multimedia terus berkembang. dipandang perlu adanya penelitian lebih lanjut. Hal ini dikarenakan materi kesetimbangan kimia berkaitan dengan kompetensi proses yaitu pengetahuan tidak hanya mengandalkan daya ingat siswa dan berkaitan hanya dengan informasi tertentu dan merupakan salah satu materi kimia yang bersifat abstrak tetapi sangat dekat dengan kehidupan sehari-hari karena aplikasinya luas. siswa dituntut untuk memiliki pemahaman abstraksi yang baik. Beberapa pakar multimedia interaktif (Muhammad. Berdasarkan beberapa hasil penelitian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa secara umum pembelajaran dengan multimedia interaktif dapat diterapkan pada berbagai level pembelajaran dan memberikan dampak positif terhadap hasil belajar. Untuk membantu mengembangkan konsep abstraksi tersebut guru harus pandai memilih media. KAJIAN TEORI Literasi Sains Paul de Hart Hurt dari Stamford University menyatakan bahwa Scientific Literacy berarti memahami sains dan aplikasinya bagi kebutuhan masyarakat. 2009). Peningkatan kualitas pengalaman belajar lebih berarti bagi siswa. peneliti tertarik untuk meneliti dan mengembangkan lebih lanjut tentang bagaimana meningkatkan literasi sains siswa pada aspek proses sains melalui pembelajaran berbasis multimedia interaktif. mengungkapkan bahwa pembelajaran berbantuan komputer mampu menciptakan suatu proses belajar mengajar yang interaktif. 2002. efektif. teori. Oleh karena itu. dalam memahami konsep tersebut. sikap. dan menyenangkan. proses. guru sebagai ujung tombak pelaksanaan pendidikan di sekolah dihadapkan pada tantangan bagaimana pembelajaran kimia dirancang dan diimplementasikan agar aktif. et al. dan aplikasi belum tersentuh seutuhnya dalam pembelajaran. dan hukum tanpa diikuti pemahaman yang bisa digunakan siswa dalam kehidupan nyata mereka. dalam OECD. dan sikap sains siswa. Berdasarkan permasalahan-permasalahan tersebut. 2007) mengemukakan bahwa pembelajaran multimedia interaktif dapat digunakan untuk menyalurkan pesan. merangsang pikiran. Hal ini sejalan dengan hasil studi PISA yang mengungkapkan bahwa penggunaan komputer sebagai produk teknologi informasi dan komunikasi berhubungan erat dengan pencapaian akademik yang tinggi (Horrison.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. E. Setiawan. Bentuk-bentuk media yang ditampilkan harus mencerminkan pengalaman belajar. 11 September 2014 Literasi sains terhadap materi pelajaran kimia saat ini juga masih belum menggembirakan salah satu sebabnya adalah proses pembelajaran kimia yang terjadi di Indonesia masih menitikberatkan pada aspek menghafal konsep. kreatif. yang dapat meningkatkan literasi sains tetapi tidak mengurangi esensi materi pelajaran yang dituntut dalam kurikulum nasional. Akibatnya ilmu kimia sebagai proses. Salah satu alternatif yang dapat diterapkan dalam mengatasi masalah ini adalah dengan memanfaatkan teknologi komputer dalam bentuk multimedia interaktif.S (2012) juga mengungkapkan bahwa penggunaan multimedia interaktif dapat meningkatkan literasi sains siswa baik pada aspek konten. sangat penting untuk dikembangkan suatu model pembelajaran alternatif yang menyenangkan dan interaktif. konteks. Literasi sains menurut National Science Education Standards adalah suatu ilmu pengetahuan dan pemahaman mengenai konsep dan proses sains yang akan 80 . Oleh karena itu. perasaan. Implikasi dari kenyataan tersebut. Hasil penelitian Polla (2000). Bagaimanapun pemilihan dan penggunaan metode dan media pembelajaran yang inovatif dan komunikatif dalam penyampaian materi merupakan komponen pembelajaran yang masih perlu diantisipasi oleh guru. Materi yang dipilih dalam penelitian ini adalah kesetimbangan kimia. Keadaan ini diperparah dengan pembelajaran yang berorientasi pada tes akhir. sehingga dapat memberikan manfaat optimal bagi siswa dan guru dalam mencapai tujuan pendidikan. Oleh karena itu.

1996). dan pertumbuhan ekonomi.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. serta kewajiban untuk melaporkan metode dan prosedur yang digunakan dalam pengumpulan bukti. dan menarik kesimpulan berdasarkan bukti-bukti.. serta mengenal kesimpulan yang sesuai dengan bukti yang tersedia. Kompetensi yang menuntut peserta didik memaknai temuan ilmiah sebagai bukti untuk suatu kesimpulan. Kompetensi ini mencakup mendeskripsikan atau menafsirkan fenomena. bukan hanya pemahaman terhadap pengetahuan sains. keterbukaan terhadap pengujian dan pengkajian. dan prediksi yang sesuai. yakni proses sains. mengenal bukti apa yang diperlukan dalam suatu penyelidikan sains. prosedur sains. Definisi literasi sains ini memandang literasi sains bersifat multidimensional. suara. PISA juga memandang pendidikan sains berfungsi untuk mempersiapkan warga negara masa depan. serta tipe jawaban yang dapat diharapkan dari sains. mengenal karakteristik utama penyelidikan ilmiah. dimana peserta didik mendemonstrasikan kemampuan proses sains ini dengan mengaplikasikan pengetahuan sains dalam situasi yang diberikan. dan sentuhan. pendengaran. fotografi. serta kekuatan dan limitasi sains. PISA juga menetapkan tiga aspek dari komponen proses dalam penilaian literasi sains. Ini bisa kombinasi antara teks. Oleh karena itu. mengidentifikasi kata-kata kunci untuk mencari informasi ilmiah tentang suatu topik yang diberikan. budaya. Termasuk di dalamnya mengenal pertanyaan yang mungkin diselidiki secara ilmiah dalam situasi yang diberikan. Kompetensi ini melibatkan pengenalan dan identifikasi deskripsi. Penggunaan media pembelajaran dapat mendukung keberhasilan pembelajaran karena menurut Munir (2008) media pembelajaran memiliki kelebihan-kelebihan sebagi berikut: (1) Dapat memberikan pemahaman yang lebih dalam terhadap materi pembelajaran yang sedang dibahas. grafik. eksplanasi. Sejalan dengan hal tersebut. video. 2008) sebagai suatu sistem komputer yang terdiri dari hardware dan software yang memberikan kemudahan untuk menggabungkan gambar. atau video. grafik. teks. PISA menjadikan proses sains ini sebagai salah satu domain penilaiannya. Thomson (1994) mendefinisikan multimedia sebagai suatu sistem yang menggabungkan gambar. konten sains. animasi. serta turut terlibat dalam hal kenegaraan. Termasuk di dalamnya mengenal jenis pertanyaan yang dapat dan tidak di jawab oleh sains. PISA menetapkan tiga dimensi besar literasi sains dalam pengukurannya. sifat tentatif dari pengetahuan sains. animasi. PISA mendefinisikan literasi sains sebagai kemampuan menggunakan pengetahuan sains. mengidentifikasi pertanyaan. menggunakan argumen logis. Oleh karenanya pendidikan sains perlu mengembangkan kemampuan peserta didik memahami hakekat sains. dalam rangka memahami serta membuat keputusan berkenaan dengan alam dan perubahan yang dilakukan terhadap alam melalui aktivitas manusia. Proses sains merujuk pada proses mental yang terlibat ketika menjawab suatu pertanyaan atau memecahkan masalah. dan konteks aplikasi sains. sebagaimana dikemukakan oleh Schade dalam Munir (2008):“Multimedia improves sensory stimulation. PISA memilih istilah “Kompetensi Sains” sebagai pengganti proses sains. dan data yang dikendalikan oleh komputer. yang mana perpaduan dan kombinasi dua atau lebih jenis media ditekankan pada satu kendali komputer sebagai penggerak keseluruhan gabungan media itu. yakni: (1) Mengidentifikasi pertanyaan ilmiah. suara. 11 September 2014 memungkinkan seseorang untuk membuat suatu keputusan dengan pengetahuan yang dimilikinya. Multimedia juga merupakan media pengajaran dan pembelajaran yang efektif dan efisien berdasarkan kemampuannya menyentuh berbagai panca indera seperti penglihatan. Konsep multimedia didefinisikan oleh Haffost (Munir. Multimedia Pembelajaran Interaktif Secara etimologis multimedia berasal dari bahasa latin yang terdiri atas dua kata yaitu multi yang berarti banyak atau bermacam-macam dan medium yang diartikan sebagai perantara atau pengantar terjadinya komunikasi dari pengirim menuju ke penerima (Heinich et al. seperti mengidentifikasi dan menginterpretasi bukti serta menerangkan kesimpulan. Arsyad (2011) juga mengemukakan bahwa multimedia dapat diartikan sebagai lebih dari satu media. suara secara interaktif. particulary due to the inclusion of interactivity”. Namun dalam perkembangan terakhir. melainkan lebih dari itu. Peserta didik perlu memahami bagaimana ilmuwan sains mengambil data dan mengusulkan eksplanasi-eksplanasi terhadap fenomena alam. Karakteristik utama sains mencakup: pengumpulan data dipandu oleh gagasan dan konsep. (3) Menggunakan bukti ilmiah. yaitu pertanyaan ilmiah meminta jawaban berlandaskan bukti ilmiah. yakni warga negara yang mampu berpartisipasi dalam masyarakat yang semakin terpengaruh oleh kemajuan sains dan teknologi. karena dapat menjelaskan konsep yang 81 . video. (2) Menjelaskan fenomena secara ilmiah. memprediksi perubahan. animasi.

6. yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan literasi sains siswa pada aspek proses sains. Pertemuan kedua dan ketiga dilakukan implementasi pembelajaran dengan menggunakan multimedia interaktif kesetimbangan kimia. 24. O2 = Postes.3 74. 52.2 Menjelaskan fenomena ilmiah 1. Hasil Belajar Siswa pada Aspek Proses Sains Rata-rata (%) Indikator N-Gain No. X = Pembelajaran dengan multimedia interaktif Subjek yang digunakan dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA-Reguler Tahun Pelajaran 2011/2012 di SMA X Jakarta. Hal ini dapat ditunjukkan oleh nilai rata-rata N-Gain (%) sebesar 75. dimana sebelum dan setelah perlakuan diberikan tes.1 82 . kegiatan diakhiri dengan pemberian postes.1 Berdasarkan data pada Tabel 1. 22 17. 2. lama diingat.21. kebutuhan.5 85. atau klasikal.5.14. Adapun instrumen yang digunakan adalah tes pilihan ganda.9. (5) Memancing partisifasi peserta didik dalam proses pembelajaran dan memberikan kesan yang mendalam dalam peserta didik.15. Dari kegiatan penelitian yang telah dilakukan.19. Berikut adalah gambaran desain penelitian yang digunakan.17.4. Tabel 1. serta dapat menghibur peserta didik. (2) Dapat menjelaskan materi pembelajaran atau objek yang abstrak menjadi konkrit.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. dan N-Gain (%) tentang kemampuan literasi sains siswa. tenaga. (8) Membentuk sikap peserta didik dan meningkatkan keterampilan. O1 X O2 Gambar 1. minat.1 3. Desain The One-Group Pretest-Postest Design adalah desain penelitian yang hanya menggunakan satu kelas. Weak Experimental dengan Desain The One-Group Pretest-Postes Design Dimana: O1 = Pretes. (9) Peserta didik dapat belajar sesuai dengan karakteristiknya.5 Rata-rata 30. kelompok. baik belajar secara individual. Soal Proses Sains (%) Pretes Postes Mengidentifikasi isu ilmiah 18. dan bakatnya. Setelah proses perlakuan selesai. dapat dilihat bahwa secara umum semua aspek proses sains mengalami peningkatan yang cukup signifikan. METODE Metode penelitian yang digunakan adalah weak experimental dengan desain The One-Group PretestPostest Design (Fraenkel. Subjek penelitian berjumlah 31 siswa yang terdiri dari 17 orang siswa laki-laki dan 14 siswa perempuan dan dipilih dengan cara purposive sampling.5 84. aktivitas. (10) Menghemat waktu. HASIL DAN PEMBAHASAN Penelitian ini dilakukan selama 4 kali pertemuan (6x40‘). (7) Menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. postes.23. diperoleh data skor pretes. motivasi. 11 September 2014 sulit atau rumit menjadi mudah atau lebih sederhana. (4) Menarik dan membangkitkan perhatian. 20 21.9 78.6 75.8.3 89.7. (3) Membantu pengajar menyajikan materi pembelajaran menjadi lebih mudah dan cepat. dan biaya.25 Menggunakan bukti ilmiah 11. (6) Materi pelajaran yang sudah dipelajari dapat diulang kembali (playback). sehingga materi pun mudah dipahami. Berikut adalah Tabel 1 yang menggambarkan hasil belajar siswa pada aspek proses sains sebelum dan setelah implementasi pembelajaran dengan menggunakan software multimedia interaktif.7 72.10.12.7 82..5 3. dan mudah diungkapkan lagi. minat. 2006). et al. 16. dan kreativitas belajar peserta didik. Pada pertemuan pertama dilakukan pretes dengan tujuan untuk mengetahui kemampuan literasi awal siswa.

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 11 September 2014

(kategori tinggi) yang menunjukkan adanya peningkatan rata-rata tes dari 30,5 menjadi 85,6. Peningkatan
hasil belajar pada aspek proses sains dapat dilihat juga pada Gambar 2 di bawah ini.

100,0

Rata-rata

80,0

82,3
74,2

85,0
78,5

72,5
52,3

60,0
40,0

89,7

PRETES
21,5

17,7

POSTES
N-Gain (%)

20,0
0,0
P-1

P-2

P-3

Aspek Proses Sains
Gambar 2. Grafik peningkatan hasil belajar siswa pada aspek proses sains dengan P-1= Mengidentifikasi
isu ilmiah; P-2= Menjelaskan fenomena ilmiah; dan P-3= Menggunakan bukti ilmiah
Berdasarkan data pada Gambar 2, dapat dilihat bahwa secara umum semua aspek proses sains
mengalami peningkatan yang cukup signifikan. Hal ini dapat ditunjukkan oleh nilai rata-rata N-Gain (%) dari
masing-masing indikator. Nilai rata-rata N-Gain (%) indikator “Mengidentifikasi isu ilmiah” yaitu sebesar
74,2 (kategori tinggi), nilai rata-rata N-Gain (%) indikator “Menjelaskan fenomena ilmiah” yaitu sebesar 72,5
(kategori tinggi), dan nilai rata-rata N-Gain (%) indikator “Menggunakan bukti ilmiah” yaitu sebesar 78,5
(kategori tinggi). Setiap indikator pada aspek proses sains mengalami peningkatan pada kategori tinggi. Hal
ini dikarenakan dalam penyampaian konsep kesetimbangan banyak ditampilkan simulasi, gambar, animasi,
dan video yang memuat konteks-konteks yang dekat dengan siswa dan merangsang keingintahuan mereka
untuk memperdalam lebih jauh konsep ini. Hal ini sesuai dengan pendapat Levie dan Lentz (1982) yang
mengemukakan bahwa media visual berfungsi untuk atensi, afektif, kognitif, dan kompansatoris.
SIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa literasi sains siswa pada
setiap aspek proses sains mengalami peningkatan dengan nilai rata-rata N-Gain (%) pada indikator
“Mengidentifikasi isu ilmiah” sebesar 74,2 (kategori tinggi), indikator “Menjelaskan fenomena ilmiah”
sebesar 72,5 (kategori tinggi), dan indikator “Menggunakan bukti ilmiah” sebesar 78,5 (kategori tinggi).
SARAN
Adapun saran-saran demi perbaikan antara lain: software multimedia yang dihasilkan belum dapat
memberikan konstribusi yang maksimal untuk mamantapkan konsep-konsep yang bersifat hitungan sehingga
diperlukan penguatan dengan penambahan jam pelajaran. Software multimedia interaktif ini juga masih perlu
perbaikan terutama pada simulasi percobaan serta konsep-konsep yang bersifat mikroskopik.
DAFTAR PUSTAKA
Arikunto S. 2006. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan Edisi Revisi. Jakarta: Bumi Aksara.
Arsyad A. 2004. Media pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Bahriah ES. 2012. Pengembangan Multimedia Interaktif Kesetimbangan Kimia Untuk Meningkatkan Literasi
Sains Siswa. Tesis SPs UPI Bandung: Tidak Diterbitkan.
Fraenkel J, Wallen NE. 2006. How to Design and Evaluate Research in Education Seventh Edition. San
Francisco: The McGraw-Hill Companies.
Holbrook J. 1998. “A Resource Book for Teachers of Science Subjects”. UNESCO.

83

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 11 September 2014

Hayat B, Yusuf S. 2010. Mutu Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara.
Heinich R, et al. 1996. Instructional Media and Technology for Learning. New Jersey: Pretince Hall. Inc.
Meltzer DE. 2002. “The Relationship between Mathematics Preparation and Conceptual Learning Grains in
Physics: A Possible “Hidden Variable” in Diagnostice Pretest Scores”. American Journal Physics. 70,
(12), 1259-1286.
Matlin MW. 1994. Cognition. Fort Worth: Harcourt Brace Publishers.
Mudzakir A. 2005. Chemie im Kontext (Konsepsi Inovatif Pembelajaran Kimia di Jerman). Seminar Nasional
Pendidikan Kimia.
Munir. 2008. Kurikulum Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Bandung: Alfabeta.
OECD-PISA. 2006. Science Competencies for Tomorrow’s World. Volume 1: Analysis. USA. OECD-PISA.
OECD. 2009. PISA 2009 Assesment Framework: Key Competences in Reading, Mathematics, and Science.
PISA. 2000. The PISA 2000 Assesment of Reading, Mathematical and Scientific Literacy. [Online]. Tersedia:
http://www.pisa.oecd.org/dataoecd/44/63/33692793.pdf. [26 Februari 2011].
Polla Gerardus. 2000. Buletin Pelangi Indonesia. Jakarta: UNJ.
Retmana LR. 2010. Pembelajaran Berbasis Multimedia Interaktif untuk Meningkatkan Kemampuan Literasi
Sains Siswa SMP. Tesis S2 UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Setiawan A. 2007. Dasar-dasar Multimedia Interaktif (MMI). Tesis S2 UPI Bandung: Tidak diterbitkan.
Thiagarajan S, et al. 1974. Intructional Development for Training Teacher of Exceptional Children.
Minnesota: Indiana University.
Undang-undang RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional. 2006. Jakarta: Depdiknas.
Wallen NE. 2006. How to Design and Evaluate Research in Education Seventh Edition. San Francisco: The
McGraw-Hill Companies.
Wiratama BS. 2010. Pemanfaatan Laboratorium Virtual Interaktif Pada Pembelajaran Kesetimbangan
Kimia Untuk Meningkatkan Kemampuan Generik Sains dan Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA.
Tesis SPs UPI Bandung: Tidak diterbitkan.

84

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 11 September 2014

KAJIAN EVALUASI HASIL BELAJAR MELALUI PENERAPAN PENILAIAN
BERBASIS KELAS PADA PROGRAM STUDI BERBASIS SAINS DI LINGKUNGAN UIN
SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
Ai Nurlaela
Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta
ai.nurlaela@gmail.com

Erina Hertanti
Program Studi Pendidikan Fisika, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK), UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta
ina.asnawi@yahoo.co.id
Abstrak
Penelitian ini mengkaji keterampilan proses sains mahasiswa pendidikan Fisika FITK dan
mahasiswa Fisika Saintek UIN Syarif Hidayatullah jakarta, semester 1 pada praktikum Fisika
Dasar bab Pengenalan Alat Ukur. Keterampilan proses sains yang dinilai adalah keterampilan
merencanakan percobaan, mengajukan pertanyaan, menggunakan alat/bahan, menerapkan
konsep, berkomunikasi, klasifikasi, dan interpretasi. Dari penelitian ini diperoleh nilai rata-rata
persentase ketercapaian indikator keterampilan proses sains mahasiswa pendidikan Fisika FITK
sebesar 87% dan mahasiswa Fisika Saintek sebesar 86%. Kedua nilai persentase tersebut setelah
dilakukan pengujian selisih antara dua proporsi dengan taraf nyata sebesar α 0,025 menghasilkan
nilai z hitung sebesar 0,272978. Nilai z hitung ini lebih rendah dari z α 1,96 sehingga
kesimpulannya terima H0, yaitu tidak terdapat perbedaan antara nilai rata-rata persentase
ketercapaian indikator keterampilan proses sains mahasiswa pendidikan Fisika FITK dengan
mahasiswa Fisika Saintek. Apabila ditinjau dari setiap indikator keterampilan proses sains,
mahasiswa pendidikan Fisika FITK memiliki nilai rata-rata persentase ketercapaian indikator
berturut-turut dari tinggi ke rendah adalah keterampilan mengajukan pertanyaan dan interpretasi
dengan nilai 100%, berkomunikasi 95%, klasifikasi 89%, menggunakan alat/bahan 81,67%,
merencanakan percobaan 79%, dan menerapkan konsep 67%. Sementara pada mahasiswa Fisika
Saintek diperoleh rata-rata persentase ketercapaian indikator berturut-turut dari tinggi ke rendah
adalah keterampilan mengajukan pertanyaan, berkomunikasi, dan interpretasi dengan nilai
100%, klasifikasi 89%, menggunakan alat/bahan 87,33%, menerapkan konsep 77%, dan
merencanakan percobaan 50%. Dari semua keterampilan proses sains hanya keterampilan
merencanakan percobaan yang menunjukkan perbedaan yang nyata antara mahasiswa
pendidikan Fisika FITK dengan mahasiswa Fisika Saintek dengan nilai persentase rata-ratanya
berturut-turut adalah 79% dan 50%. Dalam hal ini, mahasiswa pendidikan Fisika FITK lebih
unggul dari mahasiswa Fisika Saintek.
Kata Kunci: Keterampilan proses sains, hasil belajar, evaluasi

PENDAHULUAN
Evaluasi dan penilaian memiliki pengertian yang berbeda. Evaluasi adalah kegiatan identifikasi untuk
melihat apakah suatu program yang telah direncanakan telah tercapai atau belum, berharga atau tidak, dan
dapat pula untuk melihat tingkat efisiensi pelaksanaannya. Dalam praktek pembelajaran secara umum,
pelaksanaan evaluasi menekankan pada evaluasi proses pembelajaran atau evaluasi manajerial, dan evaluasi
hasil belajar atau evaluasi substansial. Kedua jenis evaluasi ini dapat dipergunakan untuk mengetahui kekuatan
dan kelemahan pelaksanaan dan hasil pembelajaran. Selanjutnya pada gilirannya dapat dipergunakan sebagai
dasar memperbaiki kualitas proses pembelajaran menuju ke perbaikan kualitas hasil pembelajaran.
Penilaian (assessment) adalah penerapan berbagai cara dan penggunaan beragam alat penilaian untuk
memperoleh informasi tentang sejauh mana hasil belajar peserta didik atau ketercapaian kompetensi (rangkaian
kemampuan) peserta didik. Penilaian menjawab pertanyaan tentang sebaik apa hasil atau prestasi belajar
seorang peserta didik. Hasil penilaian dapat berupa nilai kualitatif (pernyataan naratif dalam kata-kata) dan
nilai kuantitatif (berupa angka).
Secara khusus, dalam konteks pembelajaran di kelas, penilaian dilakukan untuk mengetahui kemajuan
dan hasil belajar peserta didik, mendiagnosa kesulitan belajar, memberikan umpan balik/perbaikan proses
belajar mengajar. Melalui penilaian dapat diperoleh informasi yang akurat tentang penyelenggaraan

85

kecerdasan visual-spatial dan kecerdasan musikal yang termasuk dalam domain psikomotor memberikan sumbangannya sebesar 5%. tugas untuk melakukan percobaan. Oleh sebab itu diperlukan penerapan penilaian yang dapat mengungkap aspek tersebut. Dalam penelitian ini akan diterapkan penilaian berbasis kelas. Hasil penelitian multi kecerdasan menunjukkan bahwa kecerdasan bahasa dan kecerdasan logikamatematika yang termasuk dalam domain kognitif memiliki kontribusi hanya sebesar 5% terhadap kesuksesan kehidupan seseorang. yang kadang-kadang direduksi sedemikian rupa melalui laporan hasil praktikum peserta didik. (2) Kemampuan yang dapat dilakukan oleh peserta didik yang mencakup pengetahuan. yaitu (1) domain kognitif (pengetahuan atau yang mencakup kecerdasan bahasa dan kecerdasan logika-matematika). kompetensi inti yang harus dimiliki oleh pendidik adalah kompetensi menyelenggarakan penilaian dan evaluasi hasil belajar. salah satunya dengan menerapkan penilaian berbasis kelas. kegiatan praktikum dan eksperimen dapat meningkatkan pemahaman konsep dan keterampilan proses peserta didik. (3) Integrasi domain kognitif. Realitas menunjukkan bahwa penilaian dengan cara konvensional belum mampu mengungkap hasil belajar peserta didik dari aspek unjuk kerja peserta didik secara aktual. sehingga didapatkan potret/profil kemampuan peserta sesuai dengan daftar kompetensi yang ditetapkan dalam kurikulum. Untuk menilai sejauhmana peserta didik telah menguasai beragam kompetensi. Mengingat kegiatan evaluasi yang belum optimal dan kenyataan di lapangan pun menunjukkan adanya kesenjangan antara pembelajaran sains dengan teknik penilaiannya. menganalisis data. Kecerdasan kinestetik. hipotesis. membuat hipotesis. dapat dibuat keputusan tentang pembelajaran. salah satu diantaranya adalah menggambarkan sejauh mana seorang peserta didik telah menguasai kompetensi. Berdasarkan informasi itu. penilaian unjuk kerja tepat digunakan untuk menilai ketercapaian kompetensi yang menuntut peserta didik melakukan tugas tertentu. Sesungguhnya menurut Roth. melakukan pengukuran secara cermat. pendidik kerapkali mengabaikan keterampilan dan sikap ilmiah peserta didik dalam melakukan percobaan maupun menciptakan hasil karya. tentu saja berbagai jenis penilaian perlu diberikan sesuai dengan kompetensi yang akan dinilai. Artinya. Oleh sebab itu. Dalam hal ini kompetensi diartikan sebagai (1) Seperangkat tindakan cerdas penuh tanggung jawab yang dimiliki seseorang sebagai syarat untuk dianggap mampu oleh masyarakat dalam melaksanakan tugas-tugas di bidang pekerjaan tertentu (SK. dengan kata lain kecerdasan emosional). Penilaian berbasis kelas adalah proses pengumpulan dan penggunaan informasi oleh pendidik untuk pemberian nilai terhadap hasil belajar peserta didik berdasarkan tahapan kemajuan belajarnya. pengamatan. Misalnya. kecerdasan visual-spasial. dan (3) domain psikomotor (keterampilan atau yang mencakup kecerdasan kinestetik. serta keberadaan kurikukulum. dan kecerdasan musikal). Penilaian unjuk kerja untuk mengungkap hasil belajar peserta didik dalam domain psikomotorik. Mengacu pengertian kompetensi tersebut. dan perilaku. keterampilan. Kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi yang termasuk domain afektif memberikan kontribusi yang sangat besar. (2) domain afektif (sikap dan nilai atau yang mencakup kecerdasan antarpribadi dan kecerdasan intrapribadi. Menurut Pusat Kurikulum Balitbang. Penilaian kegiatan praktikum biasanya lebih ditekankan pada hasil (produk) dan cenderung hanya menilai kemampuan aspek kognitif. yaitu penilaian unjuk kerja. 045/U/2002). pendidik. 11 September 2014 pembelajaran dan keberhasilan belajar peserta didik. maka hasil belajar peserta didik dapat diklasifikasikan dalam tiga ranah/domain. serta proses pembelajaran itu sendiri. 86 . merancang eksperimen. karena dalam kegiatan praktikum peserta didik dituntut untuk merumuskan masalah. merakit alat. membuat kesimpulan tentang konsep yang dipelajari melalui berbagai fakta langsung sehingga konsep tersebut menjadi lebih nyata dan bermakna bagi peserta didik. ataupun tugas keterampilan proses sains lainnya saat praktikum di laboratorium. Fakta di lapangan menunjukkan bahwa. Penilaian dengan cara ini dirasakan lebih adil dan fair bagi peserta didik. afektif dan psikomotorik yang direfleksikan dalam perilaku. Saat praktikum. maka penelitian ini dirasakan sangat penting sebagai upaya terobosan alternatif penilaian komprehensif. selain itu juga dapat meningkatkan motivasi peserta didik untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran. yaitu 80%. Mendiknas No. kesulitan peserta. Penilaian berbasis kelas dilaksanakan secara terpadu dalam kegiatan belajar mengajar. baik di tingkat dasar hingga perguruan tinggi penilaian pembelajaran sains selama ini cenderung lebih difokuskan pada penilaian domain kognitif dan kurang memperhatikan domain afektif dan psikomotor. sudah seharusnya paradigma penilaian berubah dari sesuatu yang mudah dinilai menjadi sesuatu yang penting dinilai. Penilaian berbasis kelas merupakan salah satu pilar dalam kurikulum berbasis kompetensi.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Penilaian memiliki tujuan yang sangat penting dalam pembelajaran.

peristiwa. Sedangkan deskriptif analitik adalah suatu penelitian yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang realitas pada obyek yang diteliti secara obyektif. yaitu merencanakan percobaan. berkomunikasi. Adapun teknik analisis datanya adalah dengan menggunakan uji selisih dua proporsi dengan rumus. Tabel 1. mengajukan pertanyaan. Penilaian terhadap aspek psikomotor terhadap mahasiswa yang melakukan praktikum sains. 3) Melakukan konsultasi dengan laboran di tempat dilaksanakannya penelitian. Selanjutnya dari lembar observasi masing-masing kelompok dihitung persentase ketercapaian setiap indikator pada masing-masing keterampilan proses sains.025. Pada penelitian ini obyek yang ditelitinya adalah keterampilan proses sains mahasiswa prodi Fisika fakultas Saintek dan mahasiswa Prodi pendidikan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. dan 5) Melakukan pembuatan instrument. Keterampilan proses sains yang diukur pada penelitian ini meliputi enam keterampilan. Observasi dilakukan oleh dua orang observer dengan masing-masing observer mengobservasi tiga kelompok praktikan.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Analisis data terhadap aspek psikomotor mahasiswa dalam melakukan praktikum. 4) Melakukan penentuan populasi dan sampel. Pelaksanaan Penelitian Tahap pelaksanaan penelitian meliputi: Pertama. 2) Melakukan survey ke fakultas yang akan dijadikan tempat penelitian. kejasian yang terjadi pada saat sekarang. Penelitian deskriptif adalah penelitian yang berusaha mendeskripsikan suatu gejala. Penilaian dilakukan pada saat praktikum Fisika Dasar pada bab pengenalan alat ukur. Pada penelitian ini penilaian dilakukan dengan menggunakan lembar observasi dengan skala penilaian ya dan tidak. Adapun penilaiannya adalah dengan melihat indikator pada masingmasing keterampilan proses sains. Observasi dilakukan terhadap enam kelompok mahasiswa. HASIL DAN PEMBAHASAN Pada penelitian ini dilakukan penilaian terhadap keterampilan proses sains mahasiswa Fisika Saintek dan mahasiswa Pendidikan Fisika FITK semester 1. menggunakan alat/bahan. dan interpretasi. menerapkan konsep. Penelitian ini meliputi dua tahap yaitu tahap persiapan penelitian dan tahap pelaksanaan penelitian Persiapan Penelitian Persiapan yang dilakukan untuk melaksanakan penelitian ini adalah sebagai berikut:1) Melakukan studi pustaka mengenai teori yang melandasi penelitian. Persentase Ketercapaian Indikator Keterampilan Proses Sains Mahasiswa Pendidikan Fisika FITK Persentase ketercapaian indikator (%) Keterampilan Proses Sains Kel 1 Kel 2 Kel 3 Kel 4 Kel 5 Kel 6 Rata-rata Merencanakan percobaan 75 100 75 75 75 75 79 Mengajukan pertanyaan 100 100 100 100 100 100 100 menggunakan alat/bahan 83 83 75 83 83 83 81. Uji ini adalah mencari nilai z hitung melalui persamaan z p1  p 2 (1) 1 1  pˆ qˆ     n1 n2  x  x2 pˆ  1 n1  n2 qˆ  1  pˆ (2) (3) dengan taraf nyata α = 0. 11 September 2014 METODE Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif analitik. klasifikasi. Berikut adalah tabel persentase ketercapaian indikator keterampilan proses sains mahasiswa pendidikan Fisika FITK dan mahasiswa Fisika Saintek pada praktikum pengenalan alat ukur.67 Menerapkan konsep 60 60 80 60 60 80 67 Klasifikasi 100 67 100 67 100 100 89 Berkomunikasi 100 100 67 100 100 100 95 Interpretasi 100 100 100 100 100 100 100 Rata-rata 88 87 85 84 88 91 87 87 . Kedua. setiap kelompok terdiri dari enam sampai tujuh orang mahasiswa.

mempunyai arti kurang dari cukup. Berdasarkan indikator keberhasilan nilai persentase tersebut. yaitu dengan mengambil nilai rata-rata persentase ketercapaian keterampilan proses sains mahasiswa pendidikan fisika FITK dan mahasiswa fisika Saintek. nilai persentase tersebut mempunyai arti baik. Berdasarkan indikator keberhasilan nilai persentase tersebut. Seperti terlihat pada tabel 3 keterampilan merencanakan percobaan mahasiswa pendidikan Fisika FITK lebih unggul dari mahasiswa Fisika Saintek dengan nilai rata-rata 79% untuk mahasiswa pendidikan Fisika FITK dan 50% untuk mahasiswa Fisika Saintek. sementara mahasiswa pendidikan Fisika FITK hanya mencapai nilai 81. mempunyai arti sangat baik. untuk keterampilan menggunakan alat dan bahan nilai tertinggi dicapai oleh mahasiswa Fisika Saintek dengan nilai rata-rata persentase ketercapaian indikator sebesar 87. Perolehan persentase tersebut jika dianalisis dari indikator keterampilan proses sains berturut dari tinggi ke rendah adalah kemampuan untuk mengajukan pertanyaan. Dan keterampilan proses dengan nilai rata-rata terendah pada mahasiswa pendidikan Fisika FITK adalah keterampilan menerapkan kosep dengan nilai rata-rata persentasenya sebesar 67%.33%. Nilai rata-rata persentase ini berdasarkan indikator keberhasilan. Jadi dalam hal ini. mempunyai arti sangat baik. Selanjutnya keterampilan menggunakan alat dan bahan dengan nilai rata-rata persentase 81. Kedua tabel 1 dan 2 dapat disajikan dalam bentuk yang lebih sederhana. Persentase Ketercapaian Indikator Keterampilan Proses Sains Mahasiswa Fisika Saintek Persentase ketercapaian indikator (%) Keterampilan Proses Sains Kel 1 Kel 2 Kel 3 Kel 4 Kel 5 Kel 6 Rata-rata Merencanakan percobaan 50 50 50 50 50 50 50 Mengajukan pertanyaan 100 100 100 100 100 100 100 menggunakan alat/bahan 83 83 100 100 75 83 87. mempunyai arti sangat baik. 11 September 2014 Berdasarkan hasil analisis deskriptif pada Tabel 1. menunjukkan bahwa rata-rata persentase ketercapaian indikator keterampilan proses sains mahasiswa pendidikan Fisika FITK sebesar 87%. Keterampilan proses yang berada di urutan kedua adalah keterampilan berkomunikasi dengan nilai 95%. mempunyai arti cukup. mempunyai arti sangat baik. mempunyai arti sangat baik. Selanjutnya keterampilan menerapkan konsep menempati urutan ke empat dengan nilai rata-rata persentasenya 77%. Dan keterampilan proses dengan nilai rata-rata terendah pada mahasiswa Fisika Saintek adalah keterampilan merencanakan percobaan dengan nilai rata-rata persentasenya sebesar 50%. menunjukkan bahwa rata-rata persentase ketercapaian indikator keterampilan proses sains mahasiswa Fisika Saintek sebesar 86%. berkomunikasi dan interpretasi menempati nilai rata-tata paling tinggi yaitu 100%. Nilai rata-rata persentase ini berdasarkan indikator keberhasilan. keterampilan merencanakan percobaan mahasiswa Fisika Saintek masih kurang dari cukup. Diikuti oleh keterampilan klasifikasi yang berada di urutan ke tiga dengan nilai rata-rata persentasenya 89%. Berdasarkan indikator keberhasilan. Di lain pihak. 88 . Berdasarkan indikator keberhasilan nilai persentase tersebut.33%. Berdasarkan hasil analisis deskriptif pada tabel 2. Diikuti oleh keterampilan menggunakan alat/bahan yang berada di urutan ke tiga dengan nilai rata-rata persentasenya 87. Berdasarkan indikator keberhasilan nilai persentase tersebut. Selanjutnya keterampilan merencanakan percobaan menempati urutan ke lima dengan nilai rata-rata persentasenya 79%. Keterampilan proses yang berada di urutan kedua adalah keterampilan klasifikasi dengan nilai rata-rata 89%.33 Menerapkan konsep 80 80 80 80 80 60 77 Klasifikasi 100 100 100 100 67 67 89 Berkomunikasi 100 100 100 100 100 100 100 Interpretasi 100 100 100 100 100 100 100 88 88 90 90 82 80 86 Rata-rata Kedua nilai rata-rata tersebut apabila ditinjau berdasarkan indikator keberhasilan. nilai persentase tersebut mempunyai arti baik. Walaupun demikian keduanya sudah mencapai nilai dengan indikator sangat baik. Perolehan persentase tersebut jika dianalisis dari indikator keterampilan proses sains berturut dari tinggi ke rendah adalah kemampuan untuk mengajukan pertanyaan dan interpretasi menempati nilai rata-tata paling tinggi yaitu 100%. Tabel 2. mempunyai arti sangat baik. Ketiga nilai rata-rata tersebut apabila ditinjau berdasarkan indikator keberhasilan. Berdasarkan indikator keberhasilan.67%.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.67% menempati urutan ke empat.

272978 Terima H0 Data-data yang tersaji pada tabel 4 memperlihatkan keterampilan merencakan percobaan antara mahasiswa pendidikan Fisika FITK dan mahasiswa Fisika Saintek berbeda nyata (tolak H0).862582 Terima H0 Klasifikasi 89 89 0. keterampilan klasifikasi dan interpretasi antara mahasiswa pendidikan Fisika FITK dan mahasiswa Fisika Saintek keduanya memiliki nilai pencapaian yang sama yaitu 100%.33 Menerapkan konsep 67 77 Klasifikasi 89 89 Berkomunikasi 95 100 Interpretasi 100 100 Rata-rata 87 86 Keterampilan menerapkan konsep mahasiswa Fisika Saintek lebih unggul dengan nilai rata-rata persentase ketercapaian indikator sebesar 77% dari mahasiswa pendidikan Fisika FITK yang hanya memiliki nilai rata-rata persentase 67%. berarti persentase ketercapaian indikator Keterampilan Proses Sains dari mahasiswa FITK dan Saintek berbeda nyata.000000 Terima H0 87 86 0. dilakukan pengujian selisih antara dua proporsi dengan taraf nyata (α) 0. Pengujian Selisih antara Dua Proporsi Ketercapaian Indikator KPS Mahasiswa Pendidikan Fisika FITK dan Mahasiswa Fisika Saintek Keterampilan Proses Sains Persentase ketercapaian indikator (%) FITK Merencanakan percobaan Mengajukan pertanyaan Uji selisih dua proporsi Saintek 79 50 2.099411 Tolak H0 100 100 0.96 maka terima H0. mahasiswa Fisika Saintek lebih unggul dari mahasiswa pendidikan Fisika FITK. Sementara itu. Namun keduanya sudah menunjukan nilai persentase rata-rata dengan kategori sangat baik. Demikian pula untuk keterampilan berkomunikasi. Untuk taraf nyata 0. 89 .240356 Terima H0 100 100 0.96 maka tolak H0. Selanjutnya untuk mengetahui sejauh mana perbedaan persentase ketercapaian indikator dari setiap keterampilan proses sains. Sementara untuk keterampilan proses yang lainnya tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (terima H0).33 0.025 ini proporsi keberhasilan diuji dengan wilayah kritik z > 1. Sebaliknya apabila nilai z yang diperoleh lebih kecil dari 1.67 87. Apabila nilai z yang diperoleh lebih besar dari 1. Data-data tersebut dapat disajikan dalam bentuk grafik batang seperti yang terlihat pada Gambar 1.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. berarti persentase ketercapaian indikator antara mahasiswa pendidikan fisika FITK dan mahasiswa fisika Saintek tidak berbeda nyata. Dalam hal ini mahasiswa pendidikan Fisika FITK masih memiliki nilai dengan kategori cukup.000000 Terima H0 81.000000 Terima H0 menggunakan alat/bahan Berkomunikasi Interpretasi Rata-rata 95 100 1.025.938391 Terima H0 Menerapkan konsep 67 77 0. Berikut adalah tabel hasil pengujian selisih antara dua proporsi ketercapaian indikator Keterampilan Proses Sains mahasiswa pendidikan fisik FITK dan mahasiswa fisika Saintek. Perbandingan Nilai Rata-Rata Persentase Ketercapaian Indikator Keterampilan Proses Sains Mahasiswa Pendidikan Fisika FITK dan Mahasiswa Fisika Saintek Persentase ketercapaian indikator (%) Keterampilan Proses Sains FITK Saintek Merencanakan percobaan 79 50 Mengajukan pertanyaan 100 100 menggunakan alat/bahan 81. 11 September 2014 Tabel 3.96.67 87. Tabel 4.

Apabila mahasiswa sudah mengalami kesalahan pada tahap ini maka akan berakibat pada kesalahan selanjutnya. dan lingkungan) sesuai dengan pedoman kerja. Melakukan kalibrasi sederhana sebelum melaksanakan praktikum 4. Apabila dilihat secara keseluruhan baik mahasiswa pendidikan Fisika FITK maupun mahasiswa Fisika Saintek belum memperhatikan pentingnya kalibrasi alat sebelum melakukan pengukuran. menerapkan konsep. dan lingkungan) sesuai dengan pedoman kerja Berdasarkan Tabel 1. Pada saat mereka menggunakan jangka sorong. alat. pada buku panduan praktikum Fisika Dasar Pendidikan Fisika FITK itu 90 . Perbedaan yang tidak terlalu signifikan pada keterampilan menggunakan alat/bahan. Berikut akan dijelaskan hasil observasi pada masing-masing keterampilan proses sains Merencanakan Percobaan Keterampilan merencanakan percobaan pada penelitian ini meliputi beberapa indikator yang harus dipenuhi oleh mahasiswa pada saat memulai praktikum pengenalan alat ukur. mikrometer skrup dan neraca analitik semua kelompok langsung menggunakan alat-alat ukur tersebut tanpa memastikan bahwa skala pada alat tersebut benar-benar sudah berada di posisi nol.099411. hasil observasi terhadap enam kelompok mahasiswa pendidikan Fisika FITK diperoleh nilai persentase ketercapaian indikator rata-rata sebesar 79%. Pengujian selisih dua proporsi untuk nilai rata-rata persentase ketercapaian indikator pada keterampilan merencanakan percobaan antara mahasiswa Pendidikan Fisika FITK dan mahasiswa Fisika Saintek dengan nilai taraf nyata (α) 0. Mengenai kalibrasi alat sebelum digunakan. Semua kelompok tidak melakukan indikator ke 3 yaitu melakukan kalibrasi sederhana sebelum melaksanakan praktikum dan indikator ke 4 yaitu melakukan aspek-aspek keamanan (diri. tidak melakukan indikator ke 3 yaitu melakukan kalibrasi sederhana sebelum melaksanakan praktikum. Adapun beberapa indikator tersebut adalah: 1. Menyiapkan/memeriksa alat dan bahan sesuai yang tercantum dalam buku panduan praktikum 3. Keterampilan merencanakan percobaan ini penting karena dari pengukuran keterampilan ini dapat dilihat kesiapan mahasiswa untuk melakukan percobaan dalam hal ini penggunaan alat ukur. hal ini mengindiasikan bahwa mahasiswa pendidikan Fisika FITK lebih unggul ketercapaian indikator merencanakan percobaanya daripada mahasiswa Fisika Saintek.025 menghasilkan nilai z sebesar 2. Membaca buku panduan praktikum dengan baik sebelum praktikum dimulai 2. Dari ke enam kelompok mahasiswa pendidikan fisika FITK yang diobservasi. dan berkomunikasi. Perbandingan Nilai Rata-rata Persentase Ketercapaian Indikator Keterampilan Proses Sains Gambar 1 memperlihatkan adanya perbedaan yang signifikan pada keterampilan merencanakan percobaan. alat. Keterampilan proses ini perlu untuk dikaji karena sangat bermanfaat bagi mahasiswa. Keputusannya adalah tolak H0 karena nilai z hitung lebih besar dari zα. 11 September 2014 Gambar 1. Melakukan aspek-aspek keamanan (diri. Mahasiswa yang terlatih menggunakan keterampilan proses ini akan mudah menerapkan konsep sains dalam kehidupan sehari-hari.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Sedangkan hasil observasi terhadap enam kelompok mahasiswa fisika saintek dapat dilihat pada Tabel 2. Dari beberapa keterampilan proses sains pada penelitian ini hanya mengambil tujuh keterampilan proses sains yang diobservasi pada mahasiswa saat melakukan praktikum pengenalan alat ukur. Keterampilan proses sains merupakan keterampilan-keterampilan yang biasa dilakukan ilmuwan untuk memperoleh pengetahuan. Dari tabel terlihat nilai rata-rata persentase ketercapaian indikator untuk mahasiswa saintek sebesar 50%.

Memperhatikan angka pada skala utama dan skala putar pada mikrometer ketika mengukur 10. Mengencangkan baut pengunci jangka sorong ketika pengukuran sudah pas 5. Indikator-indikator tersebut adalah: 1. Pada penelitian yang dilakukan oleh Wawan Kurniawan tersebut keterampilan merencanakan percobaan hanya mencapai nilai rata-rata persentase pada siklus satu sebesar 60. luar dan kedalaman 2. Hasil observasi terhadap mahasiswa secara keseluruhan mahasiswa sudah menunjukkan keterampilan untuk bertanya dengan nilai rata-rata persentase ketercapaian indikator sebesar 100%. Ini bisa dijadikan masukan kepada tim penyusun buku panduan praktikum bahwa tahap kalibrasi harus dinyatakan secara eksplisit dalam buku panduan praktikum. pada buku panduan praktiukum Fisika Dasar mahasiswa Fisika Saintek tidak dicantumkan tahap kalibrasi ini. jangka sorong maupun neraca analitik. 11 September 2014 sudah tercantum dengan jelas pada langkah pertama baik itu untuk penggunaan alat ukur mikrometer sekrup. mengapa. mengetahui alasan mengapa menggunakan alat/bahan. Sementara itu. Memutar pengunci poros penggeser pada mikrometer skrup sampai terdengar bunyi klik agar tidak bisa bergerak lagi 9. Akibatnya mereka terlihat tidak hati-hati dalam menggunakan alat bahkan ada beberapa orang yang justeru memainkan beberapa alat ukur. Mengajukan pertanyaan Keterampilan mengajukan pertanyaan merupakan keterampilan dasar yang harus dimiliki peserta didik sebelum mempelajari suatu masalah lebih lanjut. Petunjuk praktikum fisika dasar yang sudah ada. Memperhatikan angka pada skala utama dan skala nonius pada jangka sorong ketika melakukan pengukuran 6. Sejalan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh Wawan Kuriawan dan Diana Endah H mengenai pembelajaran fisika dengan metode inquiry terbimbing untuk mengembangkan keterampilan proses sains menjelaskan bahwa buku panduan praktikum dapat dibuat sedemian rupa sehingga menuntut mahasiswa calon guru untuk dapat mengembangkan keterampilan ilmiah. petunjuk praktikum yang digunakan selama ini kurang mengembangkan keterampilan ilmiah. Menjepit benda yang diukur diantara poros tetap dan poros geser sampai terjepit dengan tepat 8. sehingga mahasiswa tinggal melaksanakan praktikum. tentang apa. Dalam hal ini peran asisten lab diperlukan untuk selalu mengingatkan praktikan agar melakukan kalibrasi. Karena pada penelitian ini peneliti mengukur aspek psikomotor mahasiswa selama melakukan praktikum pegenalan alat ukur. Meletakkan benda yang diukur massanya pada neraca analitik 11. becanda dengan teman dan masih ada beberapa tidak menggunakan jas lab. Menempatkan jangka sorong tegak lurus dengan benda yang diukur 3. Pertanyaan yang diajukan dapat meminta penjelasan. Pada keterampilan ini menurut Zulfiani aspek-aspek yang diukur antara lain adalah keterampilan untuk memkai alat/bahan.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. nilai tersebut mempunyai arti sangat baik. Berdasarkan indikator keberhasilan. Rata-rata mereka menanyakan apa saja yang akan diukur. Menggunakan mikrometer skrup ketika mengukur ketebalan suatu benda 7. Wawan Kurniawan juga memaparkan dalam jurnalnya bahwa yang jadi penyebab rendahnya keterampilan merencanakan percobaan salah satunya dimungkinkan karena mahasiswa belum memiliki persiapan dalam menghadapi praktikum.01% yang berarti kategori nilai tersebut masih kurang dari cukup. menyebutkan tujuan. Menggunakan jangka sorong ketika mengukur diameter dalam. Adapun mengenai aspek-aspek keselamatan diri mahasiswa masih terlihat tidak terlalu memperhatikan hal ini karena mereka menganggap bahwa praktikum Fisika tidak sebahaya praktikum Kimia. Sebelum praktikum mahasiswa menanyakan beberapa pertanyaan terkait dengan hal-hal yang berhubungan dengan pelaksanaan praktikum. Menggeser skala neraca analitik dimulai dari skala besar kemudian skala kecil 12. Menggunakan alat/bahan Keterampilan menggunakan alat dan bahan merupakan keterampilan proses selanjutnya yang harus dimiliki oleh mahasiswa. maka peneliti menentukan beberapa indikator yang harus dipenuhi dalam pengukuran keterampilan menggunakan alat/bahan. bagaimana. Membaca hasil pengukuran neraca analitik ketika dua garis sejajar sudah seimbang (panah sudah berada di titik setimbang 0) 91 . Hal ini disebabkan mungkin karena mahasiswa saat belajar di sekolah menengah jarang atau belum pernah melakukan praktikum fisika. Menempatkan sedekat mungkin benda yang diukur dengan skala utama pada jangka sorong 4. tanpa membuat perencanaan percobaan terlebih dahulu. atau menanyakan latar belakang hipotesis. Namun pada saat praktikum kemungkinan mahasiswa tidak menyadari bahwa kalibrasi itu benar-benar penting dan harus selalu dilakukan di awal pengukuran. mengetahui bagaimana menggunakan alat/bahan. alat dan bahan praktikum serta langkah kerja dengan rinci. Sehingga dalam pelaksanaan.

Keenam kelompok tidak melakukan indikator ke 3 yaitu menentukan hasil pengukuran dengan memperhatikan aturan penulisan angka penting. yaitu sebesar 87. Apabila dikaji lebih lanjut kelemahan yang terjadi pada mahasiswa pendidikan Fisika FITK dan mahasiswa Fisika Saintek berbeda. adapun indikator-indikatornya ntara lain: 1. Ketercapaian indikator keterampilan menerakan konsep ini termasuk ke dalam kategori cukup. luar dan kedalaman. nilai ini lebih kecil dari zα sehingga keputusannya adalah terima H0 berarti perbedaan nilai rata-rata persentase ketercapaian indikator keterampilan menggunakan alat/bahan untuk mahasiswa pendidikan Fisika FITK dan mahasiswa Fisika Saintek tidak berbeda secara nyata. Sehingga mahasiswa menjadi kurang teliti dalam membaca alat ukur. Nilai tersebut berdasarkan indikator keberhasilan. Mahasiswa pendidikan Fisika FITK lemahnya pada penggunaan jangka sorong. Namun demikian. 1 kelompok tidak melakukan indikator ke 12 yaitu membaca hasil pengukuran neraca analitik ketika dua garis sejajar sudah seimbang. mereka tidak melakukan pengukuran diameter dalam. menerapkan konsep yang dikuasai pada situasi baru atau menerapkan rumus-rumus pada pemecahan soal-soal baru.33%. Wawan Kurniawan mengemukakan bahwa rendahnya nilai tersebut dimungkinkan akibat mahasiswa kurang mengenal alat ukur yang digunakan. Hasil temuan tersebut apabila dikaitkan dengan hasil penelitian ini memberikan kesimpulan bahwa keterampilan menggunakan alat/bahan dalam hal ini adalah alat ukur merupakan keterampilan yang sangat penting untuk melakukan praktikum-praktikum lebih lanjut. Ada 4 kelompok yang tidak melakukan indikator ke 2 yaitu menempatkan jangka sorong tegak lurus dengan dengan benda yang diukur. dan neraca analitik 5. Apabila penggunaan alat ukur dasar mahasiswa lemah. Menentukan hasil pengukuran dengan memperhatikan aturan penulisan angka penting 4. Menerapkan Konsep Keterampilan menerapkan konsep ini menurut Zulfiani meliputi keterampilan menggunakan konsepkosep yang telah dipahami untuk menjelaskan peristiwa baru. maka pada saat praktikum berikutnya mahasiswa akan kesulitan dalam melakukan pengukuran. Pada penelitian ini indikator-indikator untuk keterampilan menerapkan konsep disesuaikan dengan praktikum yang dilakukan yaitu pengenalan alat ukur. Dan satu kelompok tidak melakukan indikator ke 3 yaitu menempatkan sedekat mungkin benda yang diukur dengan skala utama pada jangka sorong. 2 kelompok tidak melakukan indikator ke 4 yaitu mengencangkan baut pengunci jangka sorong ketika pengukuran sudah pas. mempunyai arti cukup. Melakukan pengukuran dan pembacaan hasil pengukuran minimal 3 kali 2. Menjawab pertanyaan yang tercantum dalam buku panduan praktikum Nilai rata-rata persentase ketercapaian indikator keterampilan menerapkan konsep pada mahasiswa pendidikan Fisika FITK seperti terlihat pada Tabel 1 adalah sebesar 67%. Membaca hasil pengukuran dengan cepat dan tepat dalam waktu kurang dari 60 detik 3. 92 . Sementara itu untuk mahasiswa Fisika Saintek.938391. Adapun pada mahasiswa fisika saintek kelemahanya adalah pada penggunaan jangka sorong. Pada tahun 2010 Wawan Kurniawan dan Diana Endah dalam jurnal penelitiannya mengenai pembelajaran fisika dengan metode inkuiri terbimbing untuk mengembangkan keterampilan proses sains menemukan hasil pengukuran terhadap keterampilan proses melaksanakan pada siklus I dengan nilai rata-rata presentase keberhasilan indikator sebesar 63. Mengetahui nilai skala terkecil (nst) dari jangka sorong. micrometer skrup. nilai pengujian selisih antara dua proporsi menghasilkan nilai z hitung sebesar 0. mahasiswa tidak menempatkan jangka sorong tegak lurus dengan benda yang diukur dan tidak mengencangkan baut pengunci jangka sorong ketika pengukuran sudah pas. Nilai rata-rata persentase ketercapaian indikator keterampilan menggunakan alat/bahan pada mahasiswa fisika Saintek sedikit lebih unggul dibandingkan mahasiswa pendidikan Fisika FITK seperti dapat dilihat pada grafik Gambar 1.67% seperti tertera pada Tabel 1 di atas. hasil observasi terhadap enam kelompok diperoleh data rata-rata persentase ketercapaian indikator pada keterampilan menggunakan alat/bahan seperti terlihat pada Tabel 2. 11 September 2014 Hasil observasi terhadap enam kelompok mahasiswa pendidikan Fisika FITK menghasilkan data rata-rata persentase ketercapaian indikator keterampilan menggunakan alat/bahan sebesar 81. 2 kelompok tidak melakukan indikator ke 11 yaitu menggeser skala neraca analitik dimulai dari skala besar kemudian skala kecil. Kemungkinan yang lain mahasiswa juga kurang memahami dalam penggunaan alat ukur tersebut. Hal ini memang terjadi karena di buku pedoman praktikum tidak dinyatakan secara eksplisit perintah untuk melakukan pengukuran diameter dalam. Pengukuran terhadap mahasiswa tersebut dilakukan pada saat praktikum fisika dasar dengan materi fluida. luar dan kedalaman.43%.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. 3 kelompok tidak melakukan indikator ke 2 yaitu membaca hasil pengukuran dengan cepat dan tepat dalam waktu kurang dari 60 detik dan 1 kelompok tidak melakukan indikator ke 1 yaitu melakukan pengukuran dan pembacaan hasil pengukuran minimal 3 kali ulangan. Semua kelompok tidak melakukan indikator ke 1 yaitu penggeser pada micrometer skrup sampai terdengar bunyi klik agar tidak bisa bergerak lagi.

Hampir sama dengan mahasiswa pendidikan Fisika FITK. menggambarkan data empiris dengan tabel. Semua mahasiswa mendiskusikan semua yang mereka dapatkan dari hasil pengukuran. Nilai rata-rata persentase ketercapaian indikator untuk keterampilan menerapkan konsep pada mahasiswa fisika saintek sedikit lebih unggul dibandingkan mahasiswa pendidikan fisika FITK. setiap anggota kelompok terlihat saling bekerja sama dengan baik pada saat praktikum. Dapat dilihat pada grafik nilai rata-rata untuk mahasiswa fisika saintek grafik batangnya lebih tinggi dari mahasiswa pendidikan fisika FITK. keterampilan menerapkan konsep ini berada pada nilai yang paling rendah baik pada mahasiswa pendidikan Fisika FITK maupun mahasiswa fisika Saintek. dan mencari dasar pengelompokan. hasil yang diperoleh dari observasi terhadap mahasiswa fisika saintek diperoleh nilai ratarata persentase ketercapaian indikator ketempilan menerapkan konsep sebesar 77%. seperti mencari perbedaan. membandingkan. Gambar 1 memperlihatkan grafik batang untuk keterampilan menerapkan konsep ini paling rendah dibandingkan keterampilan lainnya. Namun dari pengujian selisih dua proporsi nilai z hitung yang didapat sebesar 0.862582 lebih kecil dari zα . 3 kelompok tidak melakukan indikator ke 2 yaitu membaca hasil pengukuran dengan cepat dan tepat dalam waktu kurang dari 60 detik. Menyusun laporan praktikum secara sistematis Hasil observasi terhadap enam kelompok mahasiswa pendidikan Fisika FITK diperoleh nilai rata-rata persentase ketercapaian indikator keterampilan berkomunikasi adalah 100%. Semua mahasiswa juga melakukan serta menyajikan hasil pengukuran dalam tabel. atau bisa juga disebut sebagai keterampilan dalam mengelompokkan atau menggolong-golongkan. Adapun indikator-indikatornya adalah: 1. hasil prediksi atau hasil percobaan kepada orang lain. Berkomunikasi Berkaitan dengan keterampilan berkomunikasi ini menurut Zulfiani meliputi keterampilan menginformasikan hasil pengamatan. Begitu pula hasil yang didapat dari observasi terhadap enam kelompok mahasiswa fisika Saintek sebesar 100%. Mendiskusikan hasil pengukuran dengan teman sekelompok 2. masih ada beberapa kelompok yang salah dalam penulisan satuan. grafik atau diagram.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Mencatat hasil pengukuran jangka sorong dalam satuan cm 2. Demikian pula hasil observasi terhadap mahasiswa fisika Saintek diperoleh nilai rata-rata persentase ketercapaian indikator dengan nilai yang sama yaitu 89%. mencari kesamaan. menghubung-hubungkan hasil pengamatan. Keterampilan interpretasi meliputi keterampilan mencatat hasil pengamatan. Mencatat hasil pengukuran neraca analitik dalam satuan gram Dari hasil observasi terhadap enam kelompok mahasiswa pendidikan fisika FITK diperoleh nilai rata-rata persentase ketercapaian indikator keterampilan mengklasifikasi adalah 89%. Menyajikan semua data hasil pengukuran pada sebuah tabel 3. Ini mengindikasikan keterampilan mahasiswa dalam berkomunikasi sudah sangat baik. dan 93 . Dasar yang perlu diperhatikan dalam membuat klasifikasi. Masih ada beberapa kelompok yang terlalu lama dalam menentukan berapa nilai hasil pengukuran yang didapat dari masing-masing alat ukur terutama pada neraca analitik. Hal ini tentunya merupakan hasil kerjasama antara dosen pengajar dengan asisten praktikum yang memotivasi mahasiswa untuk sungguh-sungguh dalam penyusunan laporan. Rata-rata kelompok belum bisa menerapkan konsep penulisan angka penting. indikator-indikator keterampilan berkomunikasi yang dinilai selama praktikum pengenalan alat ukur adalah: 1. 11 September 2014 Sementara itu. Mencatat hasil pengukuran mikrometer skrup dalam satuan mm 3. Klasifikasi Dasar keterampilan mengklasifikasikan adalah kemampuan mengidentifikasi perbedaan dan persamaan anatara berbagai objek yang diamati. Interpretasi Keterampilan interpretasi merupakan keterampilan dalam menafsirkan. Mereka pun sangat rapi dalam menyusun laporan dan menyajikannya secara sistematis sesuai denga petunjuk yang ada pada buku panduan praktikum. Jenis komunikasi dapat berupa paparan sistematis (laporan) atau transformasi parsial. Indikator-indikator yang dibuat pada saat penilaian keterampilan mengklasifikasi pada penelitian ini disesuaikan dengan praktikum pengenalan alat ukur. 1 kelompok tidak melakukan indikator ke 1 yaitu melakukan pengukuran dan pembacaan hasil pengukuran minimal 3 kali. Semua kelompok tidak melakukan indikator ke 3 yaitu menentukan hasil pengukuran dengan memperhatikan aturan penulisan angka penting. Masih ada kelompok yang salah dalam menuliskan satuan hasil pengukuran. Selain itu. hal ini berarti perbedaan antara keduanya tidak nyata. mengontraskan ciri-ciri. Apabila dibandingkan dengan keterampilan proses lainnya. Pada penelitian ini. Bentuk komunikasi ini bisa dalam bentuk lisan dan tulisan. masih ada beberapa kelompok yang tidak dapat membaca hasil pengukuran dengan cepat.

keterampilan menggunakan alat/bahan 81. Mahasiswa pendidikan fisika FITK lebih tinggi ketercapaian indikator keterampilan merencanakan percobannya dengan nilai 79% dari mahasiswa fisika saintek dengan nilai 50%. keterampilan merencanakan percobaan 79%. keterampilan klasifikasi 89%. penggunaan alat ukur yang benar. Pada penelitian indikator keterampilan interpretasi ini adalah membuat kesimpulan hasil praktikum. SIMPULAN Penelitian ini memperoleh hasil yang mengindikasikan keterampilan proses sains antara mahasiswa pendidikan fisika FITK dan mahasiswa fisika saintek tidak berbeda nyata. Adapun mengenai beberapa aspek yang belum dipenuhi dengan baik. Berdasarkan pengujian selisih dua proporsi antara nilai rata-rata persentase keduanya diperoleh nilai z hitung 0. Sedangkan untuk keterampilan proses lainnya tidak berbeda nyata.67%. Nilai Rata-Rata Persentase Ketercapaian Indikator Keterampilan Proses Sains Hasil observasi secara keseluruhan nilai rata-rata persentase ketercapaian indikator keterampilan proses sains mahasiswa pendidikan fisika FITK adalah sebesar 87% sementara untuk mahasiswa fisika Saintek 86%. keterampilan berkomunikasi 95%.272978. Diantara keduanya memiliki perbedaan yang sangat kecil. dan interpretasi dengan nilai rata-rata persentase ketercapaian indikator 100%. untuk mahasiswa pendidikan fisika FITK keterampilan menerapkan konsep menempati pada posisi nilai ketercapaian indikator paling bawah dengan nilai 67%. berkomunikasi. Dari beberapa indikator keterampilan proses sains. Dan ada beberapa kelompok belum memperhatikan pentingnya aspek-aspek keamanan dan keselamatan diri. apabila dilihat dari setiap indikator mahasiswa pendidikan Fisika memiliki keterampilan proses sains dengan urutan persentase keberhasilan dari tinggi ke rendah meliputi keterampilan mengajukan pertanyaan dan interpretasi dengan nilai rata-rata persentase ketercapaian indikator 100%. Adapun hasil pengujian selisih antara dua proporsi. Hampir semua kelompok mahasiswa belum memperhatikan pentingnya kalibrasi alat ukur sebelum digunakan. Namun demikian. Pada buku panduan praktikum fisika dasar mahasiswa pendidikan fisika FITK maupun buku panduan praktikum fisdas mahasiswa fisika saintek telah mencantumkan cara-cara pembuatan laporan disertai dengan contoh format laporannya. Sementara itu. dan keterampilan merencanakan percobaan 50%. Mahasiswa fisika FITK memiliki nilai rata-rata persentase ketercapaian indikator 87% dan mahasiswa fisika Saintek nilai rata-rata persentase ketercapaiannya sebesar 86%. 94 . Dari penilaian ini terlihat aspek-aspek mana saja yang telah memenuhi indikator keberhasilan dan aspek mana yang belum memenuhi indikator keberhasilan. Dengan demikian. Hal tersebut tentunya didukung oleh adanya buku panduan praktikum yang baik. Hasil observasi pada enam kelompok mahasiswa pendidikan fisika FITK dan mahasiswa fisika Saintek diperoleh nilai rata-rata ketercapaian indikator 100%. nilai skala terkecil suatu alat ukur dan besaran serta satuan. keterampilan menggunakan alat/bahan 87. Hal ini sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Wawan Kurniawan dan Diana Endah H yang memaparkan penemuannya pada penilaian keterampilan proses sains mahasiswa saat praktikum fisika dasar dengan materi fluida. penilaian berbasis kelas yang berupa penilaian kinerja pada praktikum pengenalan alat ukur ini secara umum telah dapat mengukur hasil pembelajaran mahasiswa khususnya mengenai alat ukur dan konsep-konsep penting di dalam pengukuran seperti penulisan angka penting. keterampilan klasifikasi 89%.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. dimungkinkan karena praktikum pengenalan alat ukur merupakan praktikum pertama dan mahasiswa belum memiliki pengalaman praktikum sebelumnya. Semua mahasiswa sudah sangat baik dalam menuangkan sebuah hasil praktikum dalam sebuah laporan serta membuat kesimpulan hasil praktikum dengan baik. 11 September 2014 menemukan pola keteraturan dari satu seri pengamatan hingga memperoleh kesimpulan. keterampilan menerapkan konsep 77%. Dari penelitian ini diperoleh gambaran bahwa pada umumnya mahasiswa telah menunjukkan keterampilan proses yang baik terutama pada praktikum pengenalan alat uku. alat dan lingkungan.33%. bahwa nilai persentase ketercapaian indikator merencanakan percobaan masih menunjukkan ketercapaian yang kurang dari cukup dikarenakan mahasiswa tidak siap untuk melakukan percobaan. dan keterampilan menerapkan konsep 67%. Nilai z hitung ini lebih kecil dari zα. untuk mahasiswa fisika Saintek jika dilihat dari setiap indikator memiliki keterampilan proses dengan urutan persentase keberhasilan dari tinggi ke rendah meliputi keterampilan mengajukan pertanyaan. sementara untuk mahasiswa fisika Saintek keterampilan dengan pencapaian indikator paling rendah adalah keterampilan merencanakan percobaan yaitu 50%. hanya keterampilan untuk merencanakan percobaan yang menunjukkan perbedaan yang nyata. karena pada saat mereka belajar di sekolah menengah jarang melakukan praktikum atau bahkan mungkin belum pernah sama sekali. sehingga perbedaan antara keduanya tidak nyata.

2011. mesin atwood. 11 September 2014 SARAN Dari penelitian yang telah dilakukan ini. Jakarta. 1992. Bandung: Rosdakarya. Bagi tim pembuat buku panduan praktikum fisika dasar. Strategi Pembelajaran Sains. agar membuat buku panduan praktikum yang dapat lebih mengeksplore keterampilan proses sains mahasiswa tanpa harus menuangkan semua langkahlangkah kerja praktikum 4. Pembelajaran Fisika dengan Metode Inquiry Terbimbing untuk Mengembangkan Keterampilan Proses Sains. dkk. Cakrawala Pendidikan. Bambang S. Evaluasi Pembelajaran IPA Berbasis Kompetensi. dan fluida 2. Bandung: Sinar Baru Surapranata S. KTSP Pembelajaran Berbasis Kompetensi dan Kontekstual. Jakarta: Bumi Aksara. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Sudjana N. 2009. Pengukuran Kreativitas Keterampilan Proses Sains dalam Konteks Assesment for Learning. http://elearning. 1989. Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2005. Jakarta: Lembaga Penelitian UIN Jakarta 95 . Rosdakarya Wawan K. 2008. DAFTAR PUSTAKA Arifin Z. Ibrahim. Bagi asisten praktikum. JP2F. Kompetensi Supervisi Akademik: Stategi Pembelajaran MIPA. dkk. Perlunya penelitian lanjutan terhadap keterampilan proses sains untuk materi-materi fisika dasar yang lain seperti gerak harmonik sederhana. Diana EH. Sistem Penilaian Kelas SD SMP SMA dan SMK. Th. Bandung: PT. Evaluasi Pembelajaran. 2006. Pendekatan Keterampilan Proses. XXX. Rosdakarya. 2009. No. agar lebih memberikan pengarahan yang baik mengenai pentingnya menjaga tata tertib pelaksanaan praktikum serta perlunya menjaga keselamatan diri. maka disarankan : 1. 2011. Penelitian dan Penilaian Pendidikan. Bandung: PT. Perencanaan Pembelajaran. Peraturan Menteri Pendidikan Nasional (Permendiknas) Nomor 20 Tahun 2007. Agar dapat lebih memperlihatkan pencapaian hasil belajar data penilaian kinerja ini perlu didukung oleh data tes tertulis mengenai kemampuan kognitif mahasiswa agar dapat diketahui apakah hasil yang diperoleh dari penilaian unjuk kerja berbanding lurus atau tidak tingkat pemahaman mahasiswa pada materi tersebut 3. alat dan lingkungan.unesa. Bagi dosen pengampu mata kuliah fisika dasar dan alat ukur agar memberikan pemahaman yang lebih baik lagi kepada mahasiswa mengenai penggunaan alat ukur yang baik serta mengenai penulisan angka penting. Muslich M.id/metode-pembelajaran-dengan-penilaian/ Majid A. Februari 2011. Penilaian Portofolio Implementasi Kurikulum 2004. 2007. Jakarta: Gramedia Sofyan A. Standar Nasional Pendidikan Semiawan C. 2009.ac.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Volume 1 Nomor 2 September 2010 Zulfiani. 1 Departemen Pendidikan Nasional (Depdiknas). 5.

mind maps. (2) kemampuan berdiskusi dalam kelompoktermasuk kategori baik. dan tes penguasaan konsep fisika. Salah satu faktor penyebabnya adalah proses pembelajaran yang bersifat informatif sehingga pelajaran kurang bermakna.Sejalan dengan perkembangan teknologi. keterampilan. (5) peningkatan penguasaan konsep fisika mahasiswa termasuk kategori sedang. sebanyak 36 orang. mereka kurang mampu menerapkan pengetahuan.Saran diajukan kepada dosen fisika teknik untuk dapat menggunakan pembelajaran aktif tipe mind mapsuntuk meningkatkanpenguasaankonsepfisikamahasiswa. dan sikap dalam kehidupan sehari-hari. dan tanya jawab.Fisika merupakan ilmu yang mendasari perkembangan teknologi. format penilaian pelaksanaan pembelajaran.Untuk dapat menguasai dan mencipta teknologi diperlukan penguasaan fisika dan matematikayang kuat sejak dini (Depdiknas.Untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran disusun satuan acara perkuliahan. Penelitian menggunakan metode eksperimenkuasi dengan desain satu grup pretestpost-test.id Abstrak Fisika Teknik merupakan salah satu mata kuliah pendukung di Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang (FT UNP).Pembelajaran adalah suatu proses yang rumit karena tidak sekedar menyerap informasi dari dosen.Perkembangan teknologi tidak terlepas dari perkembangan fisika. 11 September 2014 EFEKTIVITAS PENERAPAN PEMBELAJARAN AKTIF TIPE MIND MAPS UNTUK MENINGKATKAN PENGUASAAN KONSEP FISIKA MAHASISWA DALAM KULIAH FISIKA TEKNIK Usmeldi Pendidikan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang usmeldy@yahoo. Kata Kunci:pembelajaran aktif. pendidikan banyak menghadapi berbagai tantangan. Dalam upaya untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menguasai konsep fisika. Hal ini ditunjukkan oleh. (3) Dosen menyajikan pelajaran dengan media power point. diantaranya adalah peningkatan mutu pendidikan. Subyek penelitian adalah mahasiswa program studi Pendidikan Teknik Elektro FT UNP yang mengikuti kuliah Físika Teknik. Mata kuliah Fisika Teknikdi Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang (FT UNP) berfungsi sebagai mata kuliah pendukung bagi mata kuliah keahlian (MKK) yang relevan.(1) kemampuan mahasiswa dalam membuat mind maptermasuk kategori baik.penguasaan konsep fisika. Untuk meningkatkan kemampuan mahasiswa dalam menguasai konsep fisika. mahasiswa bersifat pasif.Rendahnya mutu pendidikan dapat dilihat dari kemampuan peserta didik. Diharapkan mahasiswa dapat menguasai konsep fisika dan memiliki keterampilan dalam melakukan kegiatan praktikum fisika teknik. tidak berani mengemukakan pendapatnya. (2) Dosen lebih dominan menggunakan metode ceramah. Hal ini ditunjukkan oleh rata-rata nilai fisika teknik adalah C (55-59).Menurut Buzan 96 . PENDAHULUAN Peningkatan mutu pendidikan sangat penting untuk mengantipasi perkembangan teknologi. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkapkan efektivitas penerapan pembelajaran aktif tipemind mapsuntukmeningkatkanpenguasaankonsepfisikamahasiswadalam kuliah Fisika Teknik.co.media pembelajaran berupa program powerpoint dan macromedia flash.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Kemampuan menguasai konsep fisika dan melakukan praktikum fisika teknik diperlukan oleh mahasiswa pada saat mengikuti MKK yang relevan. diskusi. Rendahnya hasil belajar fisika mahasiswa diduga disebabkan oleh kesulitan memahami konsep fisika. Peserta didik kurang dilibatkan dalam kegiatan pembelajaran. telah dilakukan survei terhadap perkuliahan fisika teknik bagi mahasiswa jurusan Teknik Elektro FT UNP. (4) kemampuan menguasai konsep fisika termasuk kategori baik.Hasil penelitian menunjukkan bahwapembelajaran aktif tipe mind mapsefektif untuk meningkatkanpenguasaankonsepfisika mahasiswa. handout.salah satu metode pembelajaran yang dapat digunakan adalah pembelajaran aktif tipe mind maps (peta pikiran). (3)kemampuan mempresentasikan hasilmind maptermasuk kategori sangat baik. sehingga sulit menerapkannya dalam mata kuliah keahlian yang relevan. tetapi juga melibatkan berbagai kegiatan dan tindakan yang harus dilakukan terutama bila diinginkan hasil belajar yang baik.Fakta menunjukkan pada saat pembelajaran berlangsung sebagian besar mahasiswa kurang antusias menerimanya. Data dikumpulkan dengan menggunakan format observasi. 2004). (4) Penguasaan konsep fisika mahasiswa masih rendah. Hasil survei menunjukkan bahwa: (1) Perkuliahan fisika teknik dilaksanakan secara teori. Survei awal menunjukkan bahwa mahasiswa kurang menguasai konsep fisika.

(3) Meningkatkan motivasi dan konsentrasi. (3) memvalidasi perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian. Naskah soal ini disusun oleh peneliti dengan bantuan penimbang ahli (expert judgment) untuk mengetahui validitas isi tes. Selanjutnya menurut Buzan (2008) bahwa pembelajaran denganmenggunakan metode mind map dapat membantu mahasiswa: (1) Mudah mengingat sesuatu.Penilaian mind map menggunakan rubrik yang terdiri atas delapan aspek penilaian. sehingga menciptakan hasil peta pikiran berupa konsep materi yang baru. Lembaran observasi digunakan dalam survei pendahuluan. (2) struktur mind map. rangkaian listrik. 97 . Penelitian dilaksanakan pada mahasiswa jurusan Teknik Elektro FT UNP yang mengikuti kuliah Fisika Teknik yang berjumlah 36 orang. dilaksanakan tes untuk mengetahui penguasaankonsep fisika mahasiswa. (6)Dosen memberikan soal latihan tentang materi yang telah dipelajarikepada siswa untuk dikerjakan secara individu. (4) melakukan ujicoba instrumen penelitian. (7) pemilihan keterangan tambahan. Data penilaian proses pembelajaran dianalisis dengan membandingkan rata-rata skor dengan kategori skor. Masalah dalam penelitian dirumuskan sebagai berikut: Bagaimana efektivitas pembelajaran aktif tipe mind maps untuk meningkatkan penguasaan konsep fisika mahasiswa? Tujuan penelitian adalah untuk mengungkapkan efektivitas pembelajaran aktif tipe mind maps untuk meningkatkan penguasaan konsep fisika mahasiswa. (2) menyiapkan perangkat pembelajaran dan instrumen penelitian. dan mempresentasikan hasil mind map. serta mahasiswa menjadi lebih kreatif. Materi fisika teknik yang disajikan dalam penelitian adalah konsep listrik arus searah. angka. Peningkatan penguasaan konsep fisika mahasiswa dianalisis dengan menghitung rata-rata skor gain dinormalisasi dari skor pre-test dan post-test. Tes penguasaan konsep fisika berbentuk tes esei dengan mengutamakan pertanyaan konsep fisika daripada penyelesaian soal berupa perhitungan dengan menggunakan rumus-rumus fisika. Untuk mendukung pelaksanaan pembelajaran disusun satuan acara perkuliahan. Data penilaian proses pembelajaran dan penguasaan konsep fisika dianalisis secara kuantitatif untuk mengetahui efektivitas pembelajaranaktif tipe mind maps. (5) Dari hasil presentasi yang disajikan oleh mahasiswa. (3) kesesuaian kata kunci kode dan simbol. berdiskusi dalam kelompok. Buzan (2006) menyatakan bahwa pembelajaran fisika dengan menggunakanmetode mind mapdapat meningkatkan daya hafal dan motivasibelajar siswa yang kuat. dosen membimbing mahasiswa untuk membuat kesimpulan. dan hukum dasar rangkaian. Validitas konstruksi dan reliabilitas tes diperoleh melalui ujicoba instrumen penelitian. 2009). (8) memberikan post-test(9) menganalisis data.media pembelajaran berupa program powerpoint dan macromedia flash. (6) pemilihan sub tema. (2) Mengingat fakta. Berdasarkan pada kondisi perkuliahan fisika teknik yang telah diuraikan di atas maka dilakukan penelitian tentang penerapan metode pembelajaran aktif tipe mind mapuntuk meningkatkan kompetensi mahasiswa dalam menguasai konsep fisika. dan (10) menginterpretasi hasil yang diperoleh. (7) Pada akhir pembelajaran. Lembaran penilaian proses pembelajaran digunakan untuk menilai kemampuan mahasiswa dalam membuat mind map. Langkah-langkah pelaksanaan penelitian adalah: (1) melakukan survei pendahuluan. (5) menganalisis data ujicoba. (4) Untuk mengevaluasi mahasiswa tentang pemahaman terhadap konsep-konsep yang dibahas. (4) kesesuaian kata kunci istilah. (6) memberikan pre-test. dosen mengelompokkan mahasiswa ke dalam beberapa kelompok sesuai dengan tempat duduk yang berdekatan. (2) Mahasiswa mempelajari konsep tentang materi pelajaran dengan bimbingan dosen.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Mind map merupakan teknik meringkas bahan yang akan dipelajari dan memproyeksikan masalah yang dihadapi ke dalam bentuk peta atau grafik sehingga lebih mudah memahaminya. Mind map merupakan salah satu produk kreatif yang dihasilkan oleh mahasisw dalam kegiatan belajar. 1994). dan rumus dengan mudah. (3) Setelah mahasiswa memahami materi yang telah dijelaskan. (5) pemilihan warna. lembaran penilaian proses pembelajaran. Menurut Buzan (2004) mind map dapat menghubungkan konsep yang baru diperoleh mahasiswa dengan konsep yang sudah didapat dalam proses pembelajaran. 11 September 2014 (2004) mind map adalah metode untuk menyimpan suatu informasi yang diterima oleh seseorang dan mengingat kembali informasi yang diterima tesebut. handout. (8) pemilihan kata sambung (Tee. Mind map merupakan metode belajar yang efektif untuk memahami kerangka konsep suatu materi pelajaran. dan tes penguasaan konsep fisika. Instrumen yang digunakan dalam penelitian berupa: lembaran observasi. yaitu: (1) gambar ditengah mind map. Kemudian mahasiswa diminta untuk membuat mind map dari materi yang dipelajari. METODE PENELITIAN Penelitian ini menggunakan metode eksperimenkuasi dengan desain one group pretest-posttest (Creswell. Menurut Pandley (1994) tahap-tahap pembelajaran dengan menggunakan metode mind map adalah: (1) Dosen menyampaikan tujuan dan materi pembelajaran. Pre-test dan post-test diberikan pada mahasiswa kelas eksperimen dengan menggunakan soal yang setara. (7) memberikan perlakuan dengan melaksanakan pembelajaran aktif tipe mind map. (4) Mengingat dan menghafalmenjadi lebih cepat. dosen menunjuk beberapa mahasiswa untukmempresentasikan hasil mind map yang telah dibuat.

Rata-rata skor kemampuan mahasiswa dalam pembelajaran disajikan dalam Tabel 1. dan peningkatan penguasaan konsep fisika mahasiswa. 1 2 3 Aspek Kemampuan Membuat mind map (MM) Berdiskusi dalam kelompok (BK) Mempresentasikan hasilmind map (MH) Rata-rata 68. Peningkatan penguasaan konsep fisika mahasiswa termasuk kategori sedang. Mahasiswa malas membuat gambar dan lebih memilih menuliskan langsung judulnya. Ketidakrapian mahasiswa dalam hal tata ruang dalam membuat mind map.Mahasiswa malas menggunakan beberapa warna karena merasa repot mewarnai. Tabel 1.52 dengan standar deviasi 6. (3)mempresentasikan hasil mind maptermasuk kategori sangat baik. (3) Kata Kunci. Ratarata skor pre-test adalah 62. Hasil penilaian proses pembelajaran digunakan untuk mengetahui kemampuan mahasiswa dalam pembelajaran.Mahasiswa malas menggunakan atau menambahkan gambar dalam mind map. Kemampuan mahasiswa dalammenguasai konsep fisikasetelah pembelajaran dengan mind maptermasuk kategori baik.85. (4) Cabang-cabang. Namun demikian ditemukan sejumlah mahasiswa yang mengalami kesulitan dalam membuat mind map.Mahasiswa membuat cabang-cabang dalam mind map tidak menyebar ke segala arah. 98 . 100 Rata-rata 80 60 40 20 0 MM BK MH Aspek Kemampuan Gambar 1.21 5. Kesulitan mahasiswa mencari kata kunci suatu kalimat untuk dituliskan di atas cabang mind map. Peningkatan penguasaan konsep fisika mahasiswa dapat diketahui dengan menghitung rata-rata skor gain dinormalisasi (NG) dari skor pre-test dan post-test (Tabel 2).Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.43. Setelah melalui proses analisis data diperoleh rata-rata skor NG sebesar 0.14 6. (7) Tata Ruang.53 Merujuk pada Tabel 1 dan kategori penilaian dalam buku pedoman akademik Universitas Negeri Padang dapat dinyatakan bahwa kemampuan mahasiswa dalam: (1) membuat mind map termasuk kategori baik.23 82.76.15 72. Mahasiswa kesulitan mencari cabang utama jika struktur materi tidak terlalu sistematis. Rata-rata skor kemampuan mahasiswa dalam pembelajaran dalam Tabel 1 dapat divisualisasikan dengan grafik (Gambar 1). (3) mempresentasikan hasil mind map. (2) Cabang Utama. Rata-rata skor post-test adalah 71. Mereka tidak tahu apa yang harus digambar. yakni kemampuan dalam. (1) membuat mind map.27 Standar Deviasi 11. Kemampuan Mahasiswa dalam Pembelajaran No. Grafik Kemampuan Mahasiswa dalam Pembelajaran Kemampuan mahasiswa dalam pembelajaran denganmetode mind map secara keseluruhan termasuk kategori baik. (5) Warna. Data yang diperoleh melalui lembaran penilaian proses pembelajaran dikelompokkan berdasarkan pada aspek kemampuan mahasiswa dalam pembelajaran. (6) Gambar.48 dengan standar deviasi 7. (2) berdiskusi dalam kelompok. Kemampuan Mahasiswa dalam Pembelajaran Dalam pembelajaran aktif tipe mind mapdilakukan penilaian proses dan hasil belajar. Faktor penghambat dalam pembuatan mind mapping yang berasal dari kesalahan mahasiswa adalah: (1) Pusat mind map. Peningkatan Penguasaan Konsep Fisika Mahasiswa Kemampuan mahasiswa menguasai konsep fisika diperoleh melalui tes penguasaan konsep fisika. kemampuan menguasai konsep fisika. 11 September 2014 HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN Efektivitas pembelajaran aktif tipe mind mapsuntuk meningkatkanpenguasaankonsepfisikamahasiswa dalam kuliah Fisika Teknik ditinjau dari kemampuan mahasiswa dalam pembelajaran. (2) berdiskusi dalam kelompok termasuk kategori baik.

99 . Mahasiswa melengkapi ide dasardengan cabang-cabang yang berisi data-data pendukung yang terkait. (4) kemampuan menguasai konsep fisika termasuk kategori baik.48 0. biasanya adalah judul bab atau sub bab dari materi yang mereka pelajari.54 Rata-rata Rata-rata skor penguasaan konsep fisika mahasiswa dalam Tabel 2 dapat divisualisasikan dengan grafik 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 Pre-test Post-test NG (%) Gambar 2. 11 September 2014 Tabel 2. Connor (2011) menyatakan bahwa mind map memberikan kesempatan pada mahasiswa untuk menunjukkan tingkat pemahamannya. mahasiswa dituntut untuk dapat berpikir dan mengolah materi pelajaran bukan dengan cara menghafal tetapi menyimpan dan meringkas materi dengan ingatan. (2) kemampuan berdiskusi dalam kelompok termasuk kategori baik. Hal ini ditunjukkan oleh.Mind map dapat membantu mahasiswa mengembangkan potensi berpikir secara kreatif. menemukan contoh dan mencatat pelajaran dengan cara yang berbeda. atau merencanakan penelitian baru. Dalam pembelajaran Mind Mapping. sikap kreatif. mencatat pelajaran. Penguasaan Konsep Fisika Mahasiswa No. Metode pembelajaran aktif tipe mind maps dapat membentuk pola pikir kreatif bagi mahasiswa dengan aktivitas belajar mandiri untuk menghasilkan ide-ide. Mahasiswa membuat ide dasar untuk topik sentral.Menurut Sugiarto (2004) mind map merupakan suatu metode pembelajaran yang sangat baik digunakan untuk meningkatkan daya hafal. Mustami (2007) dalam penelitiannya menemukan bahwa metode pembelajaran aktif tipe mind maps memberikan pengaruh yang signifikan terhadap kemampuan berpikir kreatif. (3) kemampuan mempresentasikan hasil mind map termasuk kategori sangat baik. mahasiswa dituntun untuk menemukan dan mengelola pengetahuan secara mandiri yaitu mendapatkan pengetahuan dengan mengkaji berbagai sumber yang relevan. dan daya kreativitas mahasiswa melalui kebebasan berimajinasi. Melalui mind map mahasiswa dapat memfokuskan perhatian pada masalah atau materi yang dipelajari.85 7. dan memberikan penguasaan konsep yang lebih utuh. (1) kemampuan mahasiswa dalam membuat mind map termasuk kategori baik. pemahaman konsep. mengembangkan imajinasi.76 0. KESIMPULAN Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran aktif tipe mind maps efektif untuk meningkatkanpenguasaankonsepfisika mahasiswa. (5) peningkatan penguasaan konsep fisika mahasiswa termasuk kategori sedang. Grafik Penguasaan Konsep Fisika Mahasiswa Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembelajaran dengan metode mind map dapat meningkatkan penguasaan konsep fisika mahasiswa. dan penguasaan materi pelajaran. Adanya peningkatan penguasaan konsep mahasiswa disebabkan oleh beberapa hal yang merupakan kelebihan dalam metode pembelajaran Mind Mapping. Hal ini sesuai dengan pendapat Silberman (2009) yang menyatakan bahwa metode pembelajaran aktif tipe mind maps dapat melatihkretivitas mahasiswa secara individual untuk menghasilkan ide-ide.52 71. Penggunaan metode pembelajaran aktif tipemind mapping memiliki serangkaian proses yang membuat mahasiswa memiliki pengalaman belajaryang baik dan mandiri. seluruh data-data harus ditempatkan dalam setiap cabang ide dasar.43 Standar Deviasi 6. 1 2 3 Kelompok Uji Pre-test Post-test NG Rata-rata 62. Selain itu.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.Setiap cabang dilengkapi oleh siswa dengan gambar atau simbol yang membuat mind mapping tersebut menjadi menarik sehingga lebih mudah untuk dimengerti dan diingat. mengeluarkan informasi dengan bahasa sendiri.

Creswell JW. China: BBC Active. 2011. Widad. 2007. p. Reading and Winning Memories Tchniques. Tee TK. Jakarta: Gramedia.Mind Map: The Ultimate Thinking Tool. 2. edisi X No. 2006. New Delhi: SAGE Publications. 2004. M Sarjuli dkk. The Buzan Study Skills Handbook: The Shortcut to Success in Your Studies with Mind Mapping. London: Thorson. “The Used on Mind Maps as an Assessment Tool”. 100 . Jakarta: Gramedia.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Yee MH.114-121. 2008. Speed. 2009. Jailani. 2009. “PengaruhModel Pembelajaran Synectics Dipadu Mind Maps Terhadap Kemampuan Berpikir Kreatif.Mind Map untuk Meningkatkan Kreativitas. 2007. Jakarta: Gramedia. 2004. p. 2001. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani. 11 September 2014 SARAN Saran diajukan kepada dosen fisika teknik untuk dapat menggunakan pembelajaran aktif tipe mind maps untuk meningkatkanpenguasaankonsepfisikamahasiswa. 173-184. Dublin. 1994. Research Design: Qualitative and Quantitative Approaches. 2004. Model Pembelajaran Matematika. Silberman. Lentera Pendidikan. Connor R. Mustami. “Pengintegrasian Kemahiran Berfikir Aras Tinggi Menerusi Peta Minda bagi Mata Pelajaran Kemahiran Hidup”.. Buzan T. Buzan T.Buku Pintar Mind Map untuk Anak. Depdiknas. Sugiarto I. Baharom. Active Learning 101 Strategi Pembelajaran Aktif. Buzan T. DAFTAR PUSTAKA Buzan T. December 16. Jakarta: Gramedia. Inland.International Conference on Engaging Pedagogy. Persidangan Kebangsaan Pendidikan Sains dan Teknologi 2009. Mengoptimalkan Daya Kerja Otak dengan Berfikir Holistik dan Kreatif. Sikap Kreatif dan Penguasaan Materi Biologi”.

Game. Penelitian dilakukan di kelas X IPA 2 dan X IPA 4 MAN 4 Jakarta. Selanjutnya. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Dalam belajar kompetitif dan individualis. menimbulkan kompetisi antar siswa yang tidak sehat. pembelajaran menggunakan model kooperatif tipe STAD dengan game terbukti unggul dalam meningkatkan kemampuan mengingat (C1). penerapan game pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD berada pada kategori baik. Proses belajar seperti itu masih terjadi dalam pendidikan di Indonesia sampai sekarang. guru menempatkan siswa pada tempat duduk yang terpisah dari siswa lain. kerjakan tugasmu sendiri. dan menganalisis (C4).59 sedangkan nilai ttabel = 2. dan jangan perhatikan orang lain. berdasarkan analisis data non tes berupa lembar observasi.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Kurangnya motivasi dalam belajar. Angket. Kata-kata dilarang mencontoh. Model pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana sistem belajar dan 101 .com Erina Hertanti Program Studi Pendidikan Fisika. Penelitian ini berlangsung pada bulan Januari sampai Februari 2014. Kedua. 11 September 2014 PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DENGAN GAME TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP MOMENTUM DAN IMPULS Ilusi Pangarti Program Studi Pendidikan Fisika. Kata kunci: STAD. geser tempat dudukmu. Hasil Belajar. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ina. belajar kompetitif dan individualis memiliki kelemahan yaitu: pertama. Lembar Observasi. belajar kompetitif dan individualis telah mendominasi pendidikan di Amerika Serikat. Upaya yang dapat dilakukan adalah dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif. Hal tersebut didasarkan pada hasil uji hipotesis dengan menggunakan uji t.00. Keempat. Melahirkan generasi yang mempunyai kepedulian yang tinggi. Kelebihan dari belajar kompetitif dan individualis adalah dapat memotivasi siswa untuk melakukan yang terbaik dalam kegiatan pembelajaran. tetapi juga membentuk budi pekerti yang baik. perhatikan dirimu sendiri. Kelima.co. Jurusan Pendidikan IPA. keadaan frustasi dan ketertinggalan dalam pelajaran dapat berdampak pada rendahnya hasil belajar. Instrumen yang digunakan adalah instrumen tes berupa soal-soal pilihan ganda dan instrumen non tes berupa lembar observasi dan angket. dapat menimbulkan frustasi pada siswa lain. Untuk itu perlu sebuah cara yang dapat meningkatkan kemampuan dalam bersosialisasi. Tujuan dari pendidikan bukan hanya mencerdaskan siswa. mampu bersosialisasi. kerjasama.asnawi@yahoo. Fakultas Tarbiyah dan Keguruan. Namun. dan berkompetisi sekaligus meningkatkan hasil belajar siswa dalam pembelajaran. Selain itu.id Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game terhadap hasil belajar siswa pada konsep momentum dan impuls. Hasil analisis angket pun menunjukkan bahwa model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game berada pada kategori baik sekali. diperoleh hasil bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game terhadap hasil belajar siswa pada konsep momentum dan impuls. siswa sulit untuk bersosialisasi dan bekerjasama. Hasilnya adalah nilai thitung = 2. Siswa mendapatkan tekanan dari orang tua untuk menjadi yang terbaik. bekerjasama dengan baik dan dapat berkompetisi dengan sehat. menerapkan (C3). Siswa biasanya datang ke sekolah dengan harapan untuk berkompetisi. Ketiga. PENDAHULUAN Sekitar tahun 1960-an. Jurusan Pendidikan IPA. Terlihat bahwa nilai thitung  ttabel. siswa yang berkemampuan rendah sulit untuk sukses dan semakin tertinggal. sering digunakan dalam belajar kompetitif dan individualis. Berdasarkan analisis data tes. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ilusipangarti@gmail. siswa yang berkemampuan rendah kurang termotivasi. memahami (C2).

Dengan menggunakan game tidak ada siswa yang melalaikan tugas dalam kelompoknya karena setiap siswa berpeluang untuk menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Dan ketiga pemanfaatan waktu kelompok yang tidak efektif. Untuk itu perlu sebuah inovasi untuk mengatasi masalah yang sering terjadi pada tahapan tim. Apabila jawaban dari kelompok tersebut salah. Kedua. 102 . tim. Tahapan tim dapat dimodifikasi dengan game atau permainan yang menggunakan komputer. dan secara khusus yaitu: (1) Untuk mengetahui hasil belajar siswa di setiap ranah kognitif setelah diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game. 11 September 2014 bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa untuk bersosialisasi. Game yang dapat dimasukkan pada tahapan ini adalah game Who Wants to be a Winner. kuis. dengan menggunakan game masalah dalam pemanfaatan waktu dalam kelompok ketika berdiskusi dapat teratasi karena game membuat tim lebih termotivasi untuk lebih cepat mengerjakan tugas yang diberikan. maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah: Apakah terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game terhadap hasil belajar siswa pada konsep momentum dan impuls? Berdasarkan rumusan masalah di atas. maka akan digantikan oleh kelompok lain yang memiliki skor tertinggi. (3) Untuk mengetahui respon siswa terhadap penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game. Terbatasnya waktu membuat guru tidak mungkin menjelaskan aturan subsitusi atau eliminasi karena masih banyak materi yang harus dijelaskan. perilaku siswa yang melalaikan tugas dalam kelompok. Namun dalam menerapkan model pembelajaran kooperatif tipe STAD banyak masalah yang timbul pada tahapan tim yaitu: pertama. sehingga dapat meningkatkan hasil belajar siswa. gagal untuk mencapai kebersamaan. Dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD siswa yang mempunyai kemampuan matematis yang baik dapat membantu teman sekelompoknya. siswa terlibat aktif pada proses pembelajaran yang memberikan dampak positif terhadap kualitas interaksi dan komunikasi antar siswa. Adapun dipilihnya konsep momentum dan impuls dalam penelitian ini karena pada konsep ini diperlukan kemampuan matematis yang baik. Masalah dalam mencapai kebersamaan pun dapat teratasi karena ketika anggota kelompok tidak bisa menjawab pertanyaan yang diberikan guru. Dengan menggunakan model pembelajaran STAD. maka tim mereka akan gugur. pada konsep momentum dan impuls banyak sekali perhitungan yang membuat siswa jenuh. Dengan begitu setiap anggota kelompok akan lebih termotivasi untuk membantu mengatasi kesulitan anggota kelompoknya. sehingga membuat siswa menjadi betah belajar. Selain itu. Namun. Salah satu model pembelajaran kooperatif yang dapat digunakan adalah model pembelajaran kooperatif tipe STAD (Student Teams Achievement Divisions).Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Game Who Wants to be a Winner adalah game yang diadopsi dari kuis Who Wants to be Millionaire. (2) Untuk mengetahui aktivitas siswa saat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game. Game membuat siswa tidak merasa bahwa dirinya sedang mengerjakan soal. bekerjasama dan lebih bergairah dalam belajar. STAD terdiri atas lima komponen utama yaitu: presentasi kelas. Dengan aturan yang ada pada game Who Wants to be a Winner diharapkan dapat mengatasi permasalahan pada tahapan tim. Pada game Who Wants to be a Winner siswa secara berkelompok akan menjawab pertanyaan yang diberikan oleh guru dengan waktu tertentu dan secara acak anggota kelompok harus menjelaskan jawaban kelompok mereka. Hal tersebut dapat memotivasi siswa untuk meningkatkan prestasi belajarnya. tidak semua siswa mempunyai kemampuan matematis yang baik. Berdasarkan penjelasan di atas peneliti tertarik untuk meneliti pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game terhadap hasil belajar siswa pada konsep momentum dan impuls. Berdasarkan permasalahan di atas. Betah belajar inilah yang membuat siswa dapat mengikuti pelajaran dengan baik. Selain itu. dan rekognisi tim. skor kemajuan individual. Misalnya dalam menghitung kecepatan setelah tumbukan diperlukan kemampuan matematis seperti subsitusi dan eliminasi. terdapat beberapa fokus pertanyaan penelitian meliputi: (1) Bagaimana hasil belajar siswa di setiap ranah kognitif setelah diberi perlakuan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game? (2) Bagaimana aktivitas siswa saat menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game? (3) Bagaimana respon siswa terhadap penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game? Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game terhadap hasil belajar siswa pada konsep momentum dan impuls.

adakah perbedaan antara kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. maka hipotesis penelitian ini adalah terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game terhadap hasil belajar siswa pada konsep momentum dan impuls. pada kedua kelompok diberikan pretest untuk mengetahui keadaan awal. cerdas secara emosi. dan memiliki keterampilan hidup yang bermakna bagi dirinya. Belajar juga dimaksudkan untuk mengembangkan seluruh aspek inteligensi sehingga anak didik akan menjadi manusia yang utuh. Sebelum diberikan perlakuan. yaitu sistem pembelajaran yang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk bekerjasama dengan siswa lain dalam tugas-tugas yang terstruktur. serta untuk mengetahui sejauh mana kemampuan dasar siswa pada konsep momentum dan impuls. Menurut Effandi Zakaria. memberi tanya-jawab serta mewujudkan dan membina proses penyelesaian kepada suatu masalah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah quasi experiment dengan Nonequivalent Control Group Design. Beberapa kelebihan dari metode permainan adalah (1) siswa dirangsang untuk aktif. Kemudian keduanya diberikan perlakuan yang berbeda. Slavin mengemukakan bahwa pembelajaran kooperatif adalah suatu model pembelajaran dengan sistem belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil yang berjumlah 4-6 orang secara kolaboratif sehingga dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar. Pembelajaran ini memerlukan siswa bertukar pendapat. Jakarta Selatan. METODE Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap Tahun Ajaran 2013-2014. Berdasarkan teori yang telah dikemukakan. dalam permainan terdapat peraturan yang bertujuan untuk membatasi perilaku pemain dan menentukan permainan. Anita Lie menyebut pembelajaran kooperatif dengan istilah pembelajaran gotong-royong. Permainan adalah suatu aktifitas yang dilakukan oleh beberapa anak untuk mencari kesenangan yang dapat membentuk proses kepribadian anak dan membantu anak mencapai perkembangan fisik. cerdas psikomotornya.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. pembelajaran kooperatif dirancang bagi tujuan melibatkan siswa secara aktif dalam proses pembelajaran menerusi perbincangan dengan rekan-rekan dalam kelompok kecil. yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol yang tidak dipilih secara random. Pengambilan data dilaksanakan pada bulan Januari sampai Februari 2014. Tipe STAD (Student Team Achievement Division) merupakan salah satu tipe kooperatif yang menekankan pada adanya aktivitas dan interaksi diantara siswa untuk saling memotivasi dan saling membantu dalam menguasai materi pelajaran guna mencapai prestasi yang maksimal. Pembelajaran kooperatif berasal dari kata “cooperative” yang artinya mengerjakan sesuatu secara bersama-sama dengan saling membantu satu sama lainnya sebagai satu kelompok atau satu tim. Proses belajar menimbulkan hasil yang disebut dengan hasil belajar. cerdas secara inteligensi. disini pemain berinteraksi dengan sistem dan konflik dalam permainan merupakan rekayasa atau buatan. play dan budaya. Belajar adalah suatu upaya pembelajar untuk mengembangkan seluruh kepribadiannya. Permainan adalah sebuah aktivitas peserta yang mengikuti peraturan yang telah ditetapkan yang berbeda dari kehidupan nyata. (3) Kemampuan memecahkan masalah pada siswa dapat meningkat. Adapun tempat penelitiannya di MAN 4 Jakarta yang berlokasi di Jalan Pondok Pinang Raya. Sebuah permainan adalah sebuah sistem yang pemainnya terlibat dalam konflik buatan. dan berfungsi sebagai pedoman bagi para perancang pembelajaran dan para pengajar dalam merencanakan aktivitas belajar mengajar. Tipe STAD adalah model pembelajaran kooperatif yang mengelompokkan siswa secara heterogen dan melibatkan pengakuan tim serta tanggung jawab kelompok untuk pembelajaran setiap anggota. moral dan emosional. Permainan adalah kegiatan yang kompleks yang didalamnya terdapat peraturan. berfikir logis. mereka berusaha untuk mencapai tujuan yang menantang. yaitu desain penelitian yang dilakukan pada dua kelompok. intelektual. Menurut Nana Sudjana hasil belajar siswa adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. 11 September 2014 Model pembelajaran adalah kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematis dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai tujuan belajar tertentu. sportif dan merasa senang dalam proses belajar mengajar. sosial. (2) Materi pembelajaran dapat lebih cepat dipahami. yaitu kelompok eksperimen akan diberikan 103 . baik fisik maupun psikis.

Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa MAN 4 Jakarta dengan populasi sasarannya adalah seluruh siswa kelas X di sekolah tersebut. Pada saat posttest kemampuan kelas kontrol dalam mengingat (C1) 93%. Uji hipotesis yang digunakan adalah uji t. yaitu uji prasyarat analisis dan uji hipotesis.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Diagram Hasil Pretest dan Posttest pada Jenjang kognitif Berdasarkan diagram Gambar 1. dan menganalisis (C4) 57%. Pada saat posttest kemampuan kelas eksperimen dalam mengingat (C1) 98%. Pada saat pretest kemampuan kelas kontrol dalam mengingat (C1) 31%. HASIL DAN PEMBAHASAN Rekapitulasi Hasil Belajar Hasil belajar siswa untuk setiap jenjang kognitif dapat dilihat pada gambar berikut ini. memahami (C2) 83%. Uji prasyarat analisis yang digunakan adalah uji normalitas dan uji homogenitas. menerapkan (C3) 89%. Teknik pengumpulan data yang digunakan pada penelitian ini berupa tes dengan instrumen berupa soal tes objektif tipe pilihan ganda. Setelah diberikan perlakuan. 100% 93% 98% 86% 83% 90% 89% 77% 80% 71% Persentase 70% 57% 60% 50% 40% 40% 31% 30% 34% 27% 30% 29% 16% 20% 21% 10% 0% C1 C2 C3 Ranah Kognitif Pretest Kontrol Pretest Eksperimen C4 Posttest Kontrol Posttest Eksperimen Gambar 1. menerapkan (C3) 86%. perlu dilakukan uji prasyarat analisis untuk menentukan rumus statistik yang akan digunakan dalam uji hipotesis. memahami (C2) 77%. 104 . memahami (C2) 34%. dan nontes berupa lembar observasi dan angket. dan menganalisis (C4) 16%. Sedangkan pengujian instrumen nontes dilakukan dengan pertimbangan ahli. prinsip uji t ini yaitu membandingkan rata-rata (mean) kelompok kontrol dan eksperimen. taraf kesukaran. Sebelum melakukan uji hipotesis. menerapkan (C3) 40%. memahami (C2) 30%. kedua kelompok diberikan posttest untuk mengetahui sejauh mana pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game terhadap hasil belajar. dan daya pembeda. dilakukan dua tahapan. reliabilitas. Instrumen tes penelitian ini diuji validitas. Analisis data tes. terlihat bahwa hasil belajar akhir (posttest) kelas kontrol dan kelas eksperimen mengalami peningkatan dari hasil pretest. Sementara kemampuan kelas eksperimen pada saat pretest dalam hal mengingat (C1) 27%. 11 September 2014 perlakuan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game. dan menganalisis (C4) 71%. menerapkan (C3) 29%. sedangkan kelompok kontrol akan diberikan perlakuan dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Pertimbangan para ahli ini berhubungan dengan validitas isi yang bekaitan dengan butir-butir pernyatan yang terdapat pada lembar observasi dan angket. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik purpossive sampling dan terpilih kelas X IPA 2 sebagai kelas kontrol dan kelas X IPA 4 sebagai kelas eksperimen. dan menganalisis (C4) 21%.

Oleh karena itu. 11 September 2014 Pengujian normalitas dilakukan terhadap dua buah data. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 4.620 10. yaitu hasil pretest dan posttest kedua kelas. pengujian hipotesis dapat dilakukan dengan menggunakan analisis tes statistik parametrik.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.48 Nilai Ftabel 1. diperoleh bahwa kedua data terdistribusi normal dan homogen. Tabel 3.16 1.177 3. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 3. dengan menggunakan rumus uji kai kuadrat (chi square).758 4. Berikut ini adalah hasil yang diperoleh dari perhitungan tersebut: Tabel 1.469 Nilai X2tabel 11.59 2.20 Posttest 2. Hasil Perhitungan Uji Hipotesis Pretest dan Posttest Statistik thitung ttabel Keputusan Pretest 1.070 Data Data Data Data Keputusan terdistribusi terdistribusi terdistribusi terdistribusi normal normal normal normal Pengujian homogenitas dilakukan pada kedua data pretest dan posttest. Tabel 2. Hasil Perhitungan Uji Homogenitas Pretest dan Posstest Pretest Posttest Statistik Kelas Kelas Kelas Kelas Kontrol Eksperimen Kontrol Eksperimen Nilai Varians 8. Berikut adalah hasil yang diperoleh dari uji homogenitas.91 13.00 Ha ditolak Ha diterima Hasil Analisis Data Lembar Observasi Hasil observasi direkapitulasi dan dijumlahkan skor masing-masing kelompok untuk setiap indikator. Perhitungan untuk menentukan nilai thitung disajikan pada lampiran. Skor yang diperoleh kemudian dihitung persentasenya dan dikonversi menjadi data kualitatif. Hasil Perhitungan Uji Normalitas Kai Kuadrat Pretest dan Posttest Pretest Posttest Statistik Kelas Kelas Kelas Kelas Kontrol Eksperimen Kontrol Eksperimen Nilai X2hitung 9.88 Keputusan Kedua data homogen Kedua data homogeny Berdasarkan uji prasyarat analisis statistik.48 15. Hasil Lembar Observasi Aktivitas Pembelajaran No. 1 2 3 4 5 6 Indikator Lembar Observasi Bekerja sama dengan teman satu tim untuk menyelesaikan tugas Mengerjakan tugas yang diberikan guru Bertukar pendapat antar teman dalam tim Kepedulian terhadap kesulitan sesama anggota tim Mengumpulkan tugas tepat waktu Menggunakan waktu untuk mengerjakan tugas Rata-rata Diskusi Kelompok Persentase Kesimpulan Game Persentase Kesimpulan 82% Baik sekali 83% Baik sekali 99% Baik sekali 88% Baik sekali 74% Baik 78% Baik 63% Baik 83% Baik sekali 25% Kurang 58% Cukup 79% Baik 82% Baik sekali 70% Baik 79% Baik 105 . Tabel 4.07 Nilai Fhitung 1.79 9.

Pramukantoro yang berjudul ”Pengaruh Pembelajaran Aktif dengan Strategi Who Wants To Be Smart untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Menerapkan Dasar-dasar Elektronika Kelas X Di SMK Negeri 1 Blitar”. Hal ini sejalan dengan hasil penelitian Aji Anugrah Wijaya dan J. Hasilnya adalah nilai thitung = 2.59 sedangkan nilai ttabel = 2.00.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. menerapkan (C3) sebesar (60%). No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 Indikator Angket Bekerja sama dengan teman satu tim untuk menyelesaikan tugas Mengerjakan tugas yang diberikan guru Bertukar pendapat antar teman dalam tim Kepedulian terhadap kesulitan sesama anggota tim Mengumpulkan tugas tepat waktu Menggunakan waktu untuk mengerjakan tugas Senang belajar Aktif dalam pembelajaran Memahami materi Rata-rata Tabel 5. menunjukkan bahwa pengaruh pembelajaran aktif dengan strategi who wants to be smart dapat meningkatkan hasil belajar siswa. game lebih unggul dalam meningkatkan hasil belajar pada semua jenjang kognitif dibandingkan dengan diskusi kelompok. 11 September 2014 Hasil Analisis Data Angket Hasil data angket direkapitulasi dan dijumlahkan skor masing-masing siswa untuk setiap indikator. Peningkatan hasil pretest dan posttest menunjukkan bahwa game dapat meningkatkan kemampuan mengingat (C1) sebesar 71%. Jika dilihat lebih rinci. Selisih nilai rata-rata kelas eksperimen dan kelas kontrol sebesar 10. Dilihat dari nilai rata-rata (mean) pun siswa kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran STAD dengan game lebih tinggi dibandingkan siswa pada kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran STAD.00. Hasil Angket Respon Siswa Diskusi kelompok Game Persentase Kesimpulan Persentase Kesimpulan 85% Baik sekali 86% Baik sekali 80% Baik 81% Baik sekali 87% Baik sekali 90% Baik sekali 80% Baik 86% Baik sekali 79% Baik 84% Baik sekali 72% Baik 89% Baik sekali 77% Baik 84% Baik sekali 83% Baik sekali 84% Baik sekali 76% 79% Baik Baik 79% 84% Baik Baik sekali Hasil uji hipotesis menunjukkan bahwa terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game terhadap hasil belajar siswa pada konsep momentum dan impuls. Hal tersebut didasarkan pada hasil uji hipotesis dengan menggunakan uji t terhadap data posttest. Skor yang diperoleh kemudian dihitung persentasenya dan dikonversi menjadi data kualitatif. Hasil perhitungan dapat dilihat pada Tabel 5. Keadaan ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa.A. pada konsep momentum dan impuls lebih baik menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game dibandingkan dengan menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. Terlihat bahwa nilai thitung  ttabel . dan menganalisis (C4) sebesar 51%. Hal tersebut sejalan dengan hasil 106 . memahami (C2) sebesar 53%.

Game who wants to be a winner pun mampu meningkatkan kemampuan menganalisis (C4). Game ini mendorong siswa untuk menerapkan pengetahuan yang dimilikinya. sehingga mampu membantu siswa dalam memahami pertanyaan dalam game. mengingat. Game who wants to be a winner juga mampu meningkatkan kemampuan memahami (C2). terlihat pada indikator siswa mengerjakan tugas. Jika siswa telah berhasil memecahkan masalah. soal yang sulit cenderung membuat siswa untuk malas mengerjakan. Namun. tentu siswa juga telah berhasil dalam menganalisis tantangan yang ada pada game. memperoleh persentase sebesar 88% (baik sekali). Hal ini terbukti dari angket respon siswa yang menyatakan bahwa game mendorong siswa untuk aktif dalam pembelajaran dengan sangat baik. Soal analisis termasuk soal yang sulit untuk dikerjakan. siswa yang berkemampuan rendah pun dapat terbantu dalam menganalisis soal yang diberikan dalam game. berpikir. dan menerima informasi baru. Saling bertukar pendapat membuat siswa mampu untuk menganalisis soal yang diberikan. Granic juga menyatakan bahwa game dapat meningkatkan kemampuan navigasi. tantangan tersebut membuat siswa berlomba-lomba dalam mengumpulkan jawaban agar dapat memenangkan game. dibandingkan dengan mengerjakan tugas yang membuat siswa merasa terbebani. game juga memiliki kelebihan lain dibandingkan dengan diskusi kelompok. game who wants to be a winner juga unggul dalam pemanfaatan waktu dibandingkan dengan diskusi kelompok. Ketika siswa belajar menggunakan game siswa berusaha mengingat materi untuk memenangkan game. hasil angket pada indikator bekerja sama dengan teman satu tim memperoleh persentase sebesar 86% (baik sekali). memperoleh persentase sebesar 81% (baik sekali). Siswa menjadi aktif dalam proses pembelajaran. Game menyediakan tantangan yang harus di atasi siswa untuk menyelesaikan game dengan sukses. Hal tersebut menunjukkan bahwa game mendorong siswa untuk bekerja sama dengan teman satu tim. Selain itu. yaitu: pertama. Penerapan ini dilakukan ketika siswa menjawab soal dalam game. Game who wants to be a winner mampu meningkatkan kemampuan mengingat (C1). Hal tersebut ditunjukkan dari hasil observasi dimana pada indikator mengerjakan tugas yang diberikan guru. Salah satu tantangan yang terdapat dalam game adalah menjawab soal analisis. Tantangan pada game berupa waktu yang terbatas untuk menjawab pertanyaan. Selain itu. hasil angket pun menunjukkan bahwa game mampu mendorong siswa dengan sangat baik (90%) untuk bertukar pendapat dengan teman satu tim. Mengerjakan tugas berarti siswa telah menerapkan pengetahuan yang dimilikinya. Bekerja sama membuat siswa saling membantu menerapkan kemampuan yang dimiliki untuk memenangkan game. game dapat membuat siswa untuk mengerjakan tugas yang diberikan guru.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Senada dengan penelitian BBC News dan TEEM (Teachers Evaluating Educational Media) yang menunjukkan bahwa game dapat mengembangkan kemampuan matematis (menerapkan rumus atau pengetahuan yang telah dimiliki) untuk mengambil keputusan dalam menjawab pertanyaan dalam game. Kemampuan menerapkan (C3) juga dapat ditingkatkan dengan menggunakan game who wants to be a winner. Animasi membantu siswa dalam memvisualisasikan hal yang sulit dibayangkan oleh siswa. Selain itu. Selain kelebihan game yang telah dijelaskan di atas. Game pun sangat baik dalam mendorong siswa untuk memiliki kepedulian terhadap kesulitan sesama anggota. Hasil angket siswa pun mendukung bahwa game who wants to be a winner mampu membuat siswa memahami materi momentum dan impuls dengan baik. Dengan begitu. Animasi yang terdapat dalam game who wants to be a winner menurut ahli materi telah sesuai dengan konsep momentum dan impuls. 11 September 2014 penelitian dari beberapa peneliti dan psikolog pendidikan yang menyatakan bahwa game dapat membangun kemampuan kognitif siswa. 107 . Artinya. BBC News dan TEEM (Teachers Evaluating Educational Media) juga berpendapat bahwa game berkontribusi dalam kurikulum dengan mengembangkan kemampuan pemecahan masalah. Hasil angket pun mendukung hal tersebut. membuat siswa memanfaatkan waktu dengan sebaik-baiknya. Sejalan dengan pendapat Neville Bennet yang mengatakan bahwa game dapat meningkatkan mutu pembelajaran karena game mampu membuat siswa mengingat hal-hal yang dilakukan. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Slamet Anwar yang berjudul ”Pengaruh Media Animasi pada Kompetensi Sistem Bahan Bakar Motor Bensin Terhadap Pemahaman Siswa” menunjukkan bahwa penggunaan animasi membuat siswa lebih memahami materi yang diberikan. game mampu mendorong siswa mengerjakan tugas yang diberikan guru.

Isjoni. Game dapat membangun motivasi siswa yang tidak didapatkan dari pembelajaran lainnya. Kedua.. secara keseluruhan pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game dapat meningkatkan hasil belajar. maka sebaiknya software game who wants to be a winner dilengkapi materi agar pengguna dapat lebih memahami tentang momentum dan impuls. 2008. Slavin ER. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. JA Pramukantoro. Namun. Arikunto S. Cooperative Learning Teori. Pembelajaran Kooperatif Meningkatkan Kecerdasan Komunikasi antar Peserta Didik cet. 2009. III. respon siswa terhadap game pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD berada pada kategori baik sekali. 2013. Dilihat dari nilai rata-rata pun hasil belajar siswa kelas eksperimen yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game lebih tinggi dibandingkan siswa kelas kontrol yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe STAD. 2013. maka kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game terhadap hasil belajar siswa pada konsep momentum dan impuls. 2009. dan Praktik. Hamalik O. Jakarta: Pustaka Pelajar. Aji. 2009. David A. dan menganalisis (C4). sebaiknya guru berupaya mengingatkan siswa untuk mengerjakan tugas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Untuk itu. yaitu pada indikator mengerjakan tugas yang diberikan guru. Model pembelajaran kooperatif tipe STAD dengan game terbukti lebih unggul dalam meningkatkan kemampuan mengingat (C1). Pengaruh tersebut terlihat dari nilai t hitung  ttabel. inovasi penggunaan game pada tahapan tim lebih baik dibandingkan dengan diskusi kelompok. 11 September 2014 Kedua. Anwar S. Jurnal Pendidikan. Paul. menerapkan (C3). Huda M. game pada model pembelajaran kooperatif tipe STAD berada pada kategori baik dengan persentase (79%). tampilan game yang kurang menarik. Selain itu. memahami (C2).Teknik Elektro Volume 01 Nomor 1. Cooperative Learning. Evaluasi Program Pembelajaran. Solusi untuk kelemahan ini adalah menyesuaikan warna animasi dengan keadaan sebenarnya. Methods for Teaching Edisi ke-8. Kauchak. Eggen. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan. Putro WE. 2011. DAFTAR PUSTAKA Anugrah W. Jakarta: Bumi Aksara. Riset. Selain itu. Hal ini mungkin disebabkan siswa terlalu terfokus untuk memenangkan game. Jurnal IKIP Veteran Semarang. pada pelaksanaan game. Pengaruh Pembelajaran Aktif dengan Strategi Who Wants To Be Smart untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Pada Standar Kompetensi Menerapkan Dasar-dasar Elektronika Kelas X di SMK Negeri 1 Blitar. Pengaruh Media Animasi pada Kompetensi Sistem Bahan Bakar Motor Bensin Terhadap Pemahaman Siswa. Hal ini terlihat pada saat pelaksanaan game siswa tampak sangat antusias. game juga memiliki kelemahan dibandingkan dengan diskusi kelompok. Deborah. 2008. sehingga lupa untuk menulis jawaban pada lembar kegiatan mereka sendiri. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. dan James dalam buku Instructional Technology & Media for Learning yang menyebutkan bahwa game memiliki kelemahan yaitu tujuan belajar (tugas) mungkin terlupakan karena adanya keinginan menang dibandingkan sekedar belajar.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Jacobsen. Agar pelaksanaan game who wants to be a winner dapat berjalan lebih baik. 108 . Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. agar pelaksanaan game dalam pembelajaran dapat berjalan lebih baik. Senada dengan pendapat Sharon. berdasarkan angket siswa. sebelum penelitian dimulai. Jika penelitian ini akan dilanjutkan. Donald. Berdasarkan penjelasan di atas. SARAN Pada penelitian ini terdapat beberapa kelemahan. guru harus memastikan bahwa siswa telah memahami tata cara dan aturan dalam game. Pertama. Bandung: Nusa Media. Ditinjau dari proses pembelajaran. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara. game juga mampu untuk memotivasi siswa dan membantu siswa dalam menguasai materi dibandingkan dengan diskusi kelompok.

Psikologi Pengajaran. 24 Agustus 2013. “Media Permainan Meningkatkan Motivasi Belajar Siswa”. http://suaraguru. James. Sugiyono. Sudjana N. Artikel Universitas Negeri Yogyakarta. 2006. Purnomo S. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. Implementing Computer Games in Formal Learning. Instructional Technology & Media for Learning: Teknologi Pembelajaran dan Media untuk Belajar. Jakarta: Raja Grafindo Persada. 2011. 2008. Jakarta: Kencana. Sharon. 27 November 2013. Suciati. 2009. Neville Bennet. Arif Rahman. Trianto.com. 11 September 2014 Lestari. 2005. Rahmawati I. Dewi. Teaching Through Play (Teachers Thinking and Classroom Practice). Metode Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Media Abadi. Deborah. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Deborah.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. 2011. dan Sue Rogers. Usman. Definisi Game. Winkel WS. Amerika: Pearson. Jakarta: Kencana. Pengantar Statistik Cet. 2005. Artikel Penelitian pada Universitas Tanjungpura Pontianak. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Nikmah S. Penggunaan Metode Permainan Dalam Pembelajaran IPA Untuk Meningkatkan Aktivitas dan Hasil Belajar Siswa Kelas IV Sekolah Dasar Negeri 11 Sungai Melayu Rayak. Teori-teori Belajar dan Pembelajaran. 1992. Jakarta: Erlangga. Mendesain Model Pembelajaran Inovatif-Progresif. 2008. Bandung: Remaja Rosda Karya. Husaini. 2012. Instructional Technology and Media for Learning. Artikel Game Universitas Muhammadiyah Sukabumi. Model-model Pembelajaran. Dahar RW. Sudijono A. Jakarta: Bumi Aksara.wordpress. Jakarta: Grasindo. R. Sharon. Terj. 2011. “Ini Nilai Positif Bermain Game”. Rusman. Liz Wood. 109 . 2006. Tempo online. I. James. Bandung: Alfabeta.

Berdasarkan analisis Direktorat Perguruan Tinggi (DIKTI) rendahnya pencapaian hasil belajar dikarenakan tenaga pendidik Indonesia masih menggunakan pembelajaran konvensional dan bersifat verbalistik (Asyhar. konsep. Kata Kunci: Media Animasi. maka thitung lebih besar dari ttabel. FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta lola_nov@yahoo. Penelitian ini dilaksanakan di SMP Negeri 1 Parung.67. sehingga H0 ditolak dan H1 diterima. Noor. Generasi baru yang lahir akan terus terlibat dalam proses transformasi dengan belajar pada generasi sebelumnya dan mengupayakan kondisi yang lebih baik dibanding masa sebelumnya. FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar biologi pada siswa yang diajar menggunakan media animasi dan media komik pada konsep sistem pencernaan. Ahmad Sofyan Pendidikan Biologi. Media Komik. Berkaitan dengan hasil belajar.84 dan ttabel sebesar 1. Banyak pembicaraan yang sering diucapkan oleh seseorang tidak efektif. Proses komunikasi yang dimaksud adalah proses penyampaian pesan atau informasi dari sumber belajar kepada penerima untuk kemudian diolah sehingga menghasilkan keluaran dalam bentuk hasil belajar. 2008). Sistem Pencernaan.05. hubungan. Hal ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar secara signifikan. 11 September 2014 PERBEDAAN PENGGUNAAN MEDIA PEMBELAJARAN ANIMASI DAN KOMIK TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA KONSEP SISTEM PENCERNAAN Lola Novitasari Pendidikan Biologi. Tidak akan menjadi suatu masalah apabila kata verbal mengungkapkan sebuah benda. akan tetapi apabila ia merujuk pada sebuah peristiwa. 2002). Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa hasil belajar biologi siswa yang diajar dengan menggunakan media animasi berbeda dengan siswa yang diajarkan dengan menggunakan media komik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen dengan rancangan penelitian two group pretest-posttest design. Oleh karena itu pendidikan menjadi komponen yang mutlak adanya. Analisis data tes kedua kelompok menggunakan uji t pada taraf signifikan α = 0. Oleh karena itu. Proses pembelajaran pada hakikatnya merupakan proses komunikasi yang berkaitan dengan segala usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang telah ditetapkan. termasuk seorang pendidik. Sampel penelitian yang pertama berjumlah 35 siswa untuk kelas eksperimen I dengan menggunakan media animasi. diperoleh hasil t hitung 3. Instrumen yang digunakan untuk mengukur hasil belajar siswa berupa tes pilihan ganda dan angket. Sampel yang kedua berjumlah 33 siswa untuk kelas eksperimen II dengan menggunakan media komik.com Meiry F. sehingga dapat saja komunikasi bersifat tak efektif (Munadi. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik purposive sampling (sampel bertujuan) dan penentuan kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II secara acak. Hasil Belajar PENDAHULUAN Pembelajaran sebagai perwujudan real dari proses pendidikan menempati posisi strategis dalam mengupayakan perubahan kearah yang lebih baik dari kehidupan manusia. untuk menghindari komunikasi yang tidak efektif dalam proses pembelajaran hendaknya guru disamping mengetahui karakteristik simbol (bahasa) verbal juga dapat membantu siswa pada pemahaman kata-kata verbal dengan cara menunjukan referennya yakni menghadirkan simbol-simbol non 110 . dan lain-lain seperti yang menjadi tujuan dalam pembelajaran biologi maka akan memunculkan masalah komunikasi yang lebih rumit. Verbalistik disini berarti guru menyampaikan informasi kepada peserta didik hanya dengan berbicara (Asnawir dan Usman. 2011). berbagai survei nasional dan internasional menunjukan bahwa pencapaian hasil belajar Indonesia masih di bawah Negara-negara tetangga. Manusia sebagai makhluk Tuhan yang memiliki akal sudah sewajarnya memikirkan pemecahan masalah berdasarkan informasi yang dicapainya sehingga kehidupan menjadi lebih dinamis.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.

berbeda halnya dengan media komik. Media visual adalah media yang melibatkan indera pengelihatan. Oleh karena itu. dan kelompok Eksperimen II diberi perlakuan dengan menggunakan media komik. Dengan demikian. dan peta yang dituangkan dalam berbagai penyalur pesan visual (media visual) secara variatif (Munadi. dan 5% lainnya diperoleh melalui indra yang lain (Munadi. Metode ini dinamakan metode kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistic (Sugiono. Jika media animasi disajikan dalam bentuk penggambaran yang bergerak (visual gerak). Akan tetapi disamping sejumlah persamaan tersebut. khususnya media pembelajaran yang dapat dilihat (visual) menjadi poin penting dalam kegiatan pembelajaran. film kartun (Faturrahman dan Sutikno. 2008). 2002). 2007). dan faktor yang berasal dari luar diri manusia itu atau yang disebut faktor eksternal. Jenis penelitian yang digunakan adalah quasi eksperimen (eksperimen semu). Tetapi ada pula media visual yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film bisu. media komik menyajikan informasi dalam bentuk gambar yang diam (visual diam). bagan. sedangkan kelompok II atau kelas eksperimen II adalah kelas yang diberikan perlakuan pengajaran dengan menggunakan media komik. Media visual ini ada yang menampilkan gambar atau simbol yang bergerak seperti film strip film bingkai). penggunaan kedua media ini diharapkan dapat menunjukan perbedaan yang signifikan terhadap hasil belajar siswa pada konsep sistem pencernaan. grafik. diketahui bahwa hasil belajar siswa pada konsep sistem pencernaan masih tergolong rendah hal ini didasarkan pada hasil belajar siswa yang hampir 50% di bawah KKM. Kelompok eksperimen I diberikan perlakuan dengan menggunakan menggunakan media pembelajaran berupa animasi. Melalui penelitian ini. Kedua variabel tersebut merupakan variabel X. diagram. faktor-faktor tersebut berasal dari dalam diri manusia itu sendiri atau yang disebut faktor internal. Pada penelitian ini terdapat dua kelompok yang sama-sama diberi perlakuan. dan media komik dengan penyajian gambar yang diam pada konsep sistem pencernaan terhadap hasil belajar siswa. METODE Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuantitatif. selain itu keduanya juga memiliki fungsi atensi. diantaranya adalah gambar. fungsi afektif. 2010).Kelompok I atau kelas eksperimen I merupakan kelas yang diberi perlakuan pengajaran dengan menggunakan media animasi. Berdasarkan hasil observasi di SMP Negeri 1 Parung. Dua diantara media grafis ialah media komik dan media animasi. 11 September 2014 verbal dalam proses pembelajaran. 30% informasi yang diperoleh oleh siswa berasal dari media visual. gambar atau lukisan. Media grafis termasuk kedalam media visual.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. pada awal kegiatan penelitian. kemudian informasi ini diproses sampai timbulah makna tentang objek. Analisis data pada penelitian ini menggunakan teknik komparasi. pada akhir penelitian kedua 111 . fungsi kognitif. dimana pesan disampaikan dengan menggunakan lambang atau simbol komunikasi visual (Asnawir dan Usman. Kurang lebih 90% hasil belajar seseorang diperoleh melalui indra penglihatan. Media komik dan animasi memilki kesamaan yakni menampilkan informasi dalam bentuk gambar. Adapun desain penelitian menggunakan Two Group Pretest-Postest Design. kedua media ini berbeda dalam hal penyajiannya. peneliti ingin mengetahui perbedaan media animasi berkarakter dengan penyajian gambar yang bergerak. siswa akan dikenakan test awal (pretest) untuk mengetahui kemampuan awal siswa. dan fungsi kompensatoris sebagai media pembelajaran. 2008) Ada dua faktor yang turut mempengaruhi proses dan hasil belajar. Salah satu aspek penting dalam perkembangan kognitif yang berkaitan erat dengan faktor eksternal adalah persepsi. Setelah individu mengindrakan objek di lingkungannya. Untuk hasil kognitif. foto. Dalam penelitian ini sampel yang telah diambil dikelompokkan menjadi 2 yaitu kelompok eksperimen I dan kelompok eksperimen II. Dalam kerucut pengalaman Edgar Dale. yaitu penelitian yang tidak dapat memberikan kontrol penuh. dan hanya 5% diperoleh melalui indra dengar. cetakan. 2010). penggunaan media pembelajaran. Hal ini menunjukan bahwa pengetahuan seseorang paling banyak diperoleh indra pengelihatan. akan tetapi media yang bergerak (animasi) lebih dapat diingat dan dipahami oleh siswa dibandingakan denga gambar yang tidak bergerak (komik). “Persepsi merupakan interpretasi seseorang tehadap sebuah rangsangan” (Trianto.

dapat diartikan bahwa thitung berada diluar daerah penolakan H0 atau dengan kata lain H0 diterima. Selain menggunakan tes tertulis. dan analisis siswa pada konsep pencernaan. Selanjutnya penentuan sampel untuk dijadikan kelas eksperimen I dan eksperimen II dilakukan secara acak (random sampling). Angket mengukur tingkat persepsi siswa terhadap media yang digunakan oleh guru. Penentuan sampel mula-mula menggunakan teknik purposive sampling.5 8. penelitian ini juga menggunakan angket sebagai alat bantu dalam mendukung penelitian HASIL DAN PEMBAHASAN Berikut ini disajikan data dari dua kelompok subjek penelitian.57 Eks. Hal ini menunjukkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang dijar dengan menggunakan media animasi dan media komik Hal ini sejalan dengan pengujian hipotesis data pretest yang dilakukan. diketahui bahwa nilai mean pretest eksperimen I dan eksperimen II memiliki selisih 3. Tes berupa pilihan ganda sebanyak 25 dengan empat pilihan jawaban. Soal test disusun berdasarkan ruang lingkup materi serta disesuaikan dengan pengukuran ranah kognitif. yaitu dengan cara pengambilan soal pretest dan posttest. aplikasi. Populasi terjangkau adalah seluruh siswa kelas VIII di SMP Negeri 1 Parung sebanyak 9 kelas. angket terdiri dari sebelas pernyataan.44 45 46. yang meliputi aspek ingatan. Tujuan pengambilan kelas VIII-1 dan VIII-2 berdasarkan kebijakan guru karena memiliki tingkat pemahaman sama.67). Penentuan secara acak ini dimaksudkan agar peneliti dalam menentukan kelas eksperimen I dan kelas eksperimen II tidak bersikap subjektif. kedua kelas terebut sudah memiliki kemampuan awal yang sama sehingga memenuhi persyaratan sebagai sampel penelitian.58 Berdasarkan Tabel 1. 112 .51 < 1. I 52 96 83. Sehingga pernyataan hipotesisnya adalah tidak terdapat perbedaaan antara hasil belajar siswa yang menggunakan media animasi dengan media komik. Dalam hal ini kelas VIII-2 sebagai kelas eksperimen I dan kelas VIII-1 sebagai kelas eksperimen II. Sedangkan instrument nontes berupa angket.61.33. diperoleh bahwa thitung < ttabel (1. Hal ini menunjukan bahwa kelas yang menggunakan media animasi (eksperimen I) dan kelas yang menggunakan media komik (eksperimen II). nilai mean posttest kelas eksperimen I lebih besar dari pada kelas Eksperimen II dan memiliki selisih yang cukup besar. Populasi target dalam penelitian ini adalah seluruh siswa SMP Negeri 1 Parung.55 75. Test ini dilakukan sebanyak dua kali. Setelah diberi perlakuan. Soal pretest diberikan kepada siswa sebelum pembelajaran. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah berupa tes tertulis dalam bentuk pilihan ganda dengan empat pilihan. Sementara soal posttest diberikan kepada siswa setelah pembelajaran.58 Eks. Data Pretest dan Postest Kelas Eksperimen I dan Kelas Eksperimen II Deskripsi Nilai terkecil Nilai terbesar Mean Median Modus Standar deviasi Pretes Eks.24 Postes Eks. Tabel 1.77 47. II 32 64 47.16 85.71 9. Sampel diambil dari VIII-1 yang terdiri atas 33 siswa dan VIII-2 yang terdiri atas 35 siswa. test berupa soal pilihan ganda. I 32 64 44. II 48 96 74.37 87.94 79.7 11.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Pengumpulan data dilakukan dengan metode tes dan non-tes. 11 September 2014 kelompok ini akan dikenakan test akhir (posttest). yaitu 8. yaitu kelompok yang menggunakan media animasi (eksperimen I) dan kelompok yang menggunakan media komik (eksperimen II) yang diambil dari hasil pretest dan posttest. Teknik yang digunakan dalam penentuan sampel dilakukan dengan dua cara. pemahaman.83 47 9. ini berarti tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua kelas. Hasil kedua penelitian tersebut akan dipakai sebagai data penelitianuntuk diolah dan dibandingkan hasilnya.

Hal ini bertujuan untuk mengetahui jenjang pengetahuan yang mengalami peningkatan tertinggi.43 % siswa mengalami peningkatan ke kriteria tinggi. maupun C4. baik pada jenjang C1.63) jika dibandingkan dengan kelas eksperimen II dalam nilai N-gain kelas eksperimen II (0. Nilai N-gain Hasil Belajar Kelas Eksperimen I dan Kelas Eksperimen II Deskripsi Eks. I 80 % 82 % 84% 82% Kriteria Amat baik Amat baik Amat baik - 113 Eks.68 0. sehingga siswa yang diajarkan dengan menggunakan media animasi cenderung lebih dapat mengingat informasi karena informasi disajikan secara lebih konkret dan dapat menghindari salah persepsi oleh siswa. I Jumlah Eks. Tingginya nilai N-gain pada kelas eksperimen I dikarenakan sebanyak 51. Tabel 3.212 Agar dapat mengetahui lebih lanjut mengenai peningkatan hasil belajar siswa. konsep dan hubungan.9697 2.86 % 45.771 2. berdasarkan penghitungan N-gain hasil belajar.67).6 2. Tabel 4. Didapatkan kriteria N-gain kelas eksperimen I dan eksperimen II dalam kategori sedang.637 C4 2. Dengan demikian terdapat perbedaan hasil belajar dari kedua kelas.152 4.II Jumlah Rata-rata Gain C2 C3 2. hasil uji hipotesis data posttest diperoleh bahwa thitung > ttabel (3.485 4. Maka dapat disimpulkan bahwa media animasi lebih baik dibandingkan dengan media komik.70 % 15. Maka . bila dibandingkan dengan kelas eksperimen II yang hanya 15. C3 (menerapkan).Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Tabel 2. yaitu jenjang C1 (mengingat).58). Berdasarkan tabel 3 diketahui bahwa peningkatan gain pada kelas eksperimen I berbeda dengan kelas eksperimen I.242 0.829 1. Khususnya pada jenjang C3 dan C4. dan C4 (menganalisis).15 % siswa yang dapat mengalami peningkatan ke kriteria tinggi.84 >1.171 2.15 % 69. II 75% 76 % 75% 75% Kriteria Baik Baik Baik - .15 % Rata-rata 0. nilai N-gain kelas eksperimen I mendekati kiteria tinggi (0. Nilai Rata-Rata Gain Hasil Belajar Kelas Eksperimen I dan Kelas Eksperimen II Kelas Eks.71 % 51. Kelas eksperimen I memiliki nilai gain yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan kelas eksperimen II. hipotesis alternatif (Ha) yang menyatakan bahwa rata-rata hasil belajar biologi siswa yang diajar dengan menggunakan media animasi lebih tinggi dibandingkan dengan ratarata hasil belajar biologi yang diajar dengan menggunakan media komik diterima pada taraf signifikansi 5%. 11 September 2014 Setelah diberi perlakuan pada kedua kelas dalam proses pembelajaran. maka peneliti mengukur empat jenjang pengetahuan yang digunakan dalam penelitian.52 Untuk mengetahui keunggulan dari kedua media maka dilakukan pengukuran peningkatan hasil belajar.3429 4.486 C1 2. Data Angket Kelas Eksperimen I dan Kelas Eksperimen II Deskripsi Menyerap Memahami Menilai Rata-rata Eks. I Eks. Hal ini dikarenakan jenjang C3 dan C4 mewakili soal-soal yang berhubungan dengan sebuah peristiwa. C3. akan tetapi. II N Rendah Sedang Tinggi 35 2. C2 (memahami). dapat diartikan bahwa thitung berada diluar daerah penerimaan H0 atau dengan kata lain H0 ditolak.48 % 33 15. C2.

sehingga mempengaruhi hasil penghitungan angket. Pada media aniamasi unsur humor dapat tergambar baik melalui gerakan-gerakan. beberapa siswa diminta untuk menginformasikan jawaban dari LKS tersebut. pairs and share (TPS). 2008) Selain mengukur daya serap dan tingkat pemahaman siswa. Tentu selama pembelajaran berlangsung. Berdasarkan hasil penghitungan angket didapatkan bahwa isi media animasi lebih baik dibandingkan dengan media komik. Sekalipun gambar didukung dengan adanya panah-panah yang menandakan bahwa gambar tersebut menunjukkan makna sebuah gerakan.. Hal ini dimaksudkan agar siswa dapat saling mencocokkan jawaban dan mengetahui jawaban yang tepat dari pertanyaan-pertanyaan yang terdapat di LKS melalui kegiatan diskusi. Perbedaan ini disebabkan oleh banyaknya siswa yang menganggap komik tidak terlalu mengandung unsur humor. 2011). Terkait dari hasil persentase yang diperoleh. mengindikasikan bahwa kelompok siswa yang menggunakan animasi komputer memperlihatkan pemahaman konsep yang signifikan (Robtain et al. tentu masih membuat konsep sistem pencernaan manusia terlihat abstrak (Arsyad. Dengan kemampuan ini media animasi sangat baik digunakan untuk 114 . yang sulit untuk dijelaskan hanya dengan gambar atau kata-kata saja menjadi lebih sederhana dan mudah untuk dipaparkan. Animasi menjelaskan konsep sistem pencernaan manusia menjadi lebih rinci khususnya pada proses pencernaan karena animasi menampilkan efek berupa gerakan. meningkatkan kadar hasil belajar yang tinggi sangat ditunjang oleh peggunaan media pembelajaran. siswa berpasangan dengan teman sebangku untuk mendiskusikan jawaban dari LKS yang telah diisi secara individu. Setelah dilakukan penghitungan nilai LKS yang menjadi alat ukur umpan balik media. siswa masih agak kesulitan memahami bagaimana proses mencerna makanan. Siswa yang diajarkan dengan menggunakan media animasi memiliki tingkat penyerapan dan pemahaman materi yang sangat baik jika dibandingkan dengan siswa yang diajar dengan menggunakan media komik. sehingga menjadi bahan diskusi bersama terkait jawaban yang paling tepat. Adapun tahap-tahap TPS yang digunakan di kdua kelas adalah sebagai berikut. alur. kelas eksperimen I memperoleh nilai yang lebih tinggi (82) dibandingkan kelas eksperimen II (80).Tahap share. Media Animasi sebagai media pendidikan. siswa di kedua kelas mengerjakan LKS secara individu. Hal tesebut menunjukan bahwa pembelajaran konsep sistem pencernaan manusia yang dieksplorasikan dengan menggunakan media animasi dapat memudahkan siswa untuk memahami berbagai proses yang terjadi selama berlangsungnya pencernaan pada manusia. bahwa media gambar komik yang hanya mengedepankan efek visual diam. Hal ini dimaksudkan untuk mengungkapkan jawaban yang telah dikerjakan secara individu dan diskusi bersama teman sebangku terhadap siswa lain. hasil penelitian Rotbain. Melalui media potensi indra peserta didik dapat diakomodasi sehingga kadar hasil belajar akan meningkat (Asyhar.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. 2010) Dilihat dari kaidah pembelajaran. yang tidak menampilkan efek berupa gerakan. Pada Tabel 4 terlihat bahwa rata-rata persepsi siswa terhadap media animasi sebesar 82 %. kesesuaian media dengan materi pembelajaran serta daya humor kedua media. Namun penggunaan media tersebut harus disesuaikan dengan kebutuhan penyampaian informasi terhadap konsep. Tahap think. berupa bahasa yang digunakan. Menurut kerucut pengalaman Dale. yang tidak dapat digambarkan oleh media komik. Tahap pairs. Sebagai bentuk umpan balik untuk mengukur pemahaman siswa dalam menerima informasi dibagian eksplorasi. hasil angket ini juga mengukur penyajian kedua media. Sehingga video animasi mampu membuat suatu konsep yang sifatnya abstrak menjadi konkret. 2010) Berbeda dengan siswa yang diajarkan dengan media komik. dkk dalam artikel yang berjudul Using a Computer Animation to Teach High School Molecular Biology. memiliki kemampuan untuk dapat memaparkan sesuatu yang rumit atau kompleks. Hal ini didasarkan pada kerucut pengalaman (cone of experience) yang di kemukakan oleh Dale (Arsyad. Berdasarkan observasi peneliti. kedua kelas diberikan lembar kerja siswa (LKS) yang dielaborasikan dengan pembelajaran kooperatif tipe think. hal ni berbeda nyata dengan siswa yang diajarkan dengan media komik yang memiliki rata-rata sebesar 75 %. Hal ini dimaksudkan untuk mengukur kemampuan setiap siswa dalam menerima informasi yang diberikan melalui media. namun siswa masih merasa kesulitan untuk dapat memahami proses pencernaan pada manusia. 11 September 2014 Kelebihan media animasi sejalan dengan hasil angket yang diisi oleh siswa. baik siswa yang diajarkan dengan menggunakan media animasi ataupun dengan menggunakan media komik tidak memiliki kesulitan yang berarti ketika mengerjakan LKS.

Hal ini didukung dengan pencapaian nilai rata-rata keseluruhan hasil belajar siswa yang menggunakan media animasi sebesar 83. 2008. 2010. Berdasarkan perbedaan nilai rata-rata posttest antara kelompok eksperimen I (media animasi) dan kelompok eksperimen II (media komik).84. dapat diartikan bahwa penggunaan media animasi pada konsep sistem pencernaan memberikan nilai yang lebih baik daripada penggunaan media komik. Fathurrohman. DAFTAR PUSTAKA Arsyad A. 115 . Pupuh.52. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif. Kualitatif. Alfabeta. 17. Detlev L. KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data. Yosi. Dengan demikian. materi yang dijelaskan dapat tergambarkan dengan baik oleh siswa.Instructional animation versus static picture. hasil angket menunjukan bahwa persepsi siswa terhadap media animasi menunjukan hasil yang amat baik jika dibandingkan dengan persepsi siswa yang menggunakan media komik yang menunjukan hasil baik. seperti halnya pada sistem pencernaan manusia dapat memudahkan siswa untuk menangkap pesan atau informasi selama kegiatan belajar mengajar. Selain itu. Learning and Instruction. 2007. 2010). Ciputat: Gaung Persada Press. 11 September 2014 materi-materi yang secara nyata tidak dapat terlihat oleh mata menjadi lebih tergambarkan dalam bentuk visual.Kreatif mengembangkan Media Pembelajaran.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Munadi Y. dibandingkan dengan gambar statis yang dapat menimbulkan salah persepsi (Hoffler dan Lautner. dan Yhudit J Dori yang dituliskan dalam jurnal yang berjudul Teaching Science via Animated Movies: It’s Effect on Students Learning Outcomes and Motivation. Hal ini sesuai dengan penelitian yang dilakukan oleh Miri Barak. Pengaruh dari perlakuan juga terlihat dari rata-rata N-gain untuk kelas eksperimen I sebesar 0.Media Pembelajaran. Jakarta: GP press. kelompok eksperimen I mendapatkan nilai lebih baik daripada kelompok eksperimen II yakni 83. bahwa media animasi dapat meningkatkan kemampuan berpikir siswa dan dapat memotivasi siswa dalam belajar (Barak. Selain itu. 2007. Media Pembelajaran.2010. Keberhasilan prestasi siswa dalam proses pembelajaran sangat didukung oleh penggunaan media pembelajaran yang dapat menampilkan suatu proses secara lebih rinci. dan R&D. Media Pembelajaran. Asnawir. Sugiyono. Hoffler. Pemanfaatan media animasi dalam menjelaskan materi yang berhubungan dengan kerja tubuh manusia.Strategi Belajar Mengajar. Barak M. Asyhar R. Nilai ini berada pada daerah penolakan H0. Teaching Science via Animated Movies. Hal ini dapat dilihat dari hasil penghitungan uji hipotesis hasil belajar dengan taraf signifikansi 95% didapat t-hitung sebesar 3. Tim N. maka dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang diajar dengan menggunakan media animasi dengan siswa yang diajar dengan menggunakan media komik. media animasi dapat menarik minat dan motivasi siswa selama pembelajaran berlangsung. 2007). Bandung: Refika Aditama. 2008. Dengan visualisasi. Tamar Ashkar.68 dan untuk kelas Eksperimen II sebesar 0. Basyiruddin U. 2002. sehingga konsep-konsep yang tadinya bersifat abstrak menjadi lebih mudah dipahami oleh siswa.16. Ruth Stavy. sehingga memudahkan siswa dalam memahami konsep. Bahkan Hofler dan lautner dalam jurnalnya yang berjudul Instructional animation versus static pictures juga mengidentifikasikan bahwa animasi dapat membantu otak untuk memproses informasi lebih baik. Rotbain. 2011. Using a Computer Animation to Teach High SchoolMolecular Biology. Sobry S. Journal of Science Educational Technology. Jakarta: Ciputat Press. Marbach-Ad. Jakarta: PT Rajagrafindo Persada.16 > 74. 2010.55. Bandung:CV.

metode pembelajaran. mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan mengukur perbedaan hasil belajar biologi antara siswa yang diajar melalui strategi pembelajaran aktif teknik card sort dengan teknik index card match pada konsep sistem reproduksi. pada Card Sort keaktifan siswa dibentuk dalam kelompok-kelompok kecil. Apalagi pembelajaran yang tidak menuntun siswa ikut serta aktif dalam proses belajar. Sampel ditentukan dengan teknik simple random sampling. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Abstrak Teknik Card Sort dan Index Card Match dapat digunakan untuk pembelajaran aktif di kelas. para guru cenderung belum mengoptimalkan pemilihan strategi pembelajaran baik bahan ajar. kurikulum. sarana dan prasarana sekolah dan lain sebagainya. sehingga siswa memperoleh pemahaman dan menguasai konsep yang dipelajari. cakap. berahlak mulia.com Meiry Fadilah Noor. Kualitas pendidikan di sekolah terlihat dari komponen-komponen yang terkait dalam suatu sistem yaitu guru. Komponen penting dalam sistem pendidikan di sekolah adalah kegiatan belajar mengajar. metode. Hasil penelitian menunjukkan terdapat perbedaan yang signifikan antara kelas eksperimen satu dengan kelas eksperimen dua. maupun media pembelajaran. 2008). kreatif. Ketidakoptimalan menjadikan pembelajaran tidak kreatif dan tidak menarik. dan kebermaknaan dalam belajar (Warsita. Kedua teknik ini dapat membuat siswa aktif berpikir (mental) dan aktif bergerak (fisik) secara berkelompok dalam proses pembelajaran. 2006). Kata kunci: Pembelajaran Aktif. Penelitian ini menggunakan metode kuasi eksperimen dengan desain Two Group Pretest-postest design. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta tickha_lesblues@yahoo. teknik. Hasil Belajar.98 dan ttabel 1. Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar biologi antara siswa yang diajar melalui strategi pembelajaran aktif teknik card sort lebih baik (90. menyusun konsep. Padahal kesuksesan siswa disertai dengan keaktifannya dalam berfikir. Salah satu upaya pendidikan nasional dalam pemerataan pendidikan adalah dengan dibangun program wajib belajar 9 (Sembilan) tahun. Card Sort dan Index Card Match PENDAHULUAN Pendidikan Nasional yang berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang dasar Negara Republik Indonesia tahun 1945 memiliki tujuan untuk membentuk dan mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa.99 (2. berilmu. Sistem pendidikan nasional terus menerus berupaya memberikan inovasi dalam kegiatan kependidikan (BNSP. Ilmu Tarbiyah dan Keguruan.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. siswa.50) dibandingkan dengan teknik index card match (88) pada konsep sistem reproduksi manusia. Dalam mengemban amanat tersebut. sedangkan Index Card Match dibentuk dari kelompok besar menjadi kelompok kecil (berpasangan). Nengsih Juanengsih Pendidikan Biologi. 11 September 2014 PERBEDAAN HASIL BELAJAR BIOLOGI ANTARA PENGGUNAAN KARTU CARD SORT DENGAN INDEX CARD MATCH PADA KONSEP SISTEM REPRODUKSI MANUSIA Titik Kadarsih Pendidikan Biologi. 116 . Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. relevansi dan efisiensi dalam pendidikan baik dalam hal manajemen maupun komponen-komponen yang terkait dalam pendidikan. sangat ditentukan oleh kualitas pendidikan yang terdapat didalamnya. Sekolah sebagai salah satu lembaga yang penting dalam upaya mencerdaskan bangsa dan meningkatkan sumber daya manusia. pemerintah harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan.99) pada taraf signifikansi 5%. peningkatan mutu. Kegiatan belajar mengajar di sekolah.98 > 1. Hasil ini diperoleh dari thitung 2. Namun. Populasi penelitian ini adalah siswa SMAN 05 Depok. sehat.

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 11 September 2014

Keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran di kelas menjadikan mereka lebih mudah untuk
memahami dan membuat materi pelajaran dapat lebih lama berada dalam memorinya. Salah satu strategi
yang diharapkan dapat melibatkan lebih banyak kegiatan pembelajaran siswa secara komprehensif adalah
strategi pembelajaran aktif (Rusdiana, 2006; Silberman, 2007).
Proses belajar yang mengaktifkan siswa tidak hanya mengandalkan guru dalam mendapatkan materi
pembelajaran, namun dibutuhkan teknik yang tepat untuk mendukung aktivitas belajar didalamnya.
Penggunaan teknik sebagai suatu cara untuk menyampaikan informasi dalam suatu pembelajaran diperlukan
kreativitas guru, sehingga dapat digunakan secara efektif dan efisien sesuai dengan kesederhanaan fasilitas
sekolah. Teknik yang dapat digunakan dengan fasilitas yang memadai adalah teknik card sort dan teknik
index card match.
Kedua tehnik ini menggunakan kartu sebagai alat bantu dalam pembelajaran (Silberman, 2007).
Keduanya juga membantu siswa dalam memperkuat daya ingat setelah materi diberikan (Hamruni, 2011).
Namun pada Card sort kartu dikelompokkan berdasarkan beberapa kategori mengenai materi pelajaran
(Hamruni, 2011). Sehingga, siswa diaktifkan dengan mencari kartu yang memiliki kategori yang sama
dengan memilah-milah kartu yang berada di tangan siswa lain (Kadir, 2008). Sedangkan kartu pada index
card match dikelompokkan menjadi dua, yaitu kelompok yang berisikan pertanyaan dan kelompok yang
berisikan jawaban (Yasin, 2008).
Berdasarkan perbedaan tersebut, maka diperlukan pengujian untuk membedakan efektifitas kedua
tehnik ini dalam mempengaruhi hasil belajar. Oleh karena itu, dilakukannya perbandingan hasil belajar siswa
antara teknik pembelajaran aktif teknik card sort dan index card match.
METODE
Penelitian ini dilakukan dengan menggunakan metode penelitian eksperimen jenis quasi experimental.
Metode ini mempunyai kelompok kontrol, tetapi tidak dapat berfungsi sepenuhnya untuk mengontrol variabelvariabel luar yang mempengaruhi pelaksanaan eksperimen (Arikunto, 2005). Dalam penggunaan metode
penelitian ini, peneliti meniadakan kelas kontrol tetapi memberikan perlakuan kepada kedua kelas dan
kemudian membandingkannya. Adapun desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan two
group pretest and postest design, dimana penentuan kelompok eksperimen satu (E1) maupun kelompok
eksperimen dua(E2) dipilih secara random (Sugiyono, 2007). Variabel penelitian dengan dua variabel, yaitu
strategi pembelajaran dengan card sort sebagai variabel bebas satu (variabel X E1) dan index card match
sebagai variabel bebas dua (variabel X E2). Sedangkan hasil belajar biologi siswa sebagai variabel terikat
(variabel Y).
Dalam penelitian ini, peneliti menentukan seluruh siswa SMAN 5 Depok yang terdaftar dalam semester 2
pada tahun ajaran 2012-2013 sebagai populasi target. Adapun untuk populasi terjangkaunya adalah SMAN 5
Depok kelas XI semester 2 tahun ajaran 2012-2013. Kemudian yang dijadikan sampel adalah dua kelas dari
seluruh kelas XI yang ada di SMAN 5 Depok pada semester 2 tahun ajaran 2012-2013, dimana kelas XI A 5
sebagai kelas yang diajar dengan teknik card sort (E1) dan kelas XI A 4 sebagai kelas yang diajar dengan
teknik index card match (E2).
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini menggunakan tes tertulis berupa pilihan ganda yang
ditujukan untuk mengukur hasil belajar siswa. Sedangkan lembar observasi digunakan untuk mengamati
keterlaksanaan strategi pembelajaran aktif oleh guru dan partisipasi siswa dalam pembelajaran di kelas.
Teknik analisis data dalam penelitian ini diawali dengan pensekoran bentuk soal pilihan ganda sejumlah 35
soal. Adapun indikator hasil belajar merujuk pada Taksonomi Bloom pada tingkat pengetahuan, pemahaman,
aplikasi, analisis, sintesis dan evaluasi. Penskoran data bentuk soal pilihan ganda yaitu setiap butir soal yang
dijawab benar diberi skor 1, dan untuk butir soal yang dijawab dengan salah diberi skor 0. Kemudian data diuji
kenormalitasannya dengan uji Liliefors, dan dengan uji Fisher untuk menguji kehomogenannya pada taraf
signifikansi 0,05 (. Selanjutnya pengujian hipotesis dilakukan dengan menggunakan uji-t (Sudijono, 2010).
Pada penelitian ini juga menggunakan lembar observasi yaitu mengamati keterlaksanaan penerapan
Penggunaan kartu oleh peneliti. Lembar observasi ini digunakan oleh pengamat pada setiap kali pertemuan

117

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 11 September 2014

proses pembelajaran. Adapun hasil pengamatan lembar observasi tersebut diolah dengan menghitung
persentasenya.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada penelitian ini dikumpulkan dua jenis data yakni kuantitatif dan kualitatif. Adapun data kuantitatif
berupa tes bentuk pilihan ganda sejumlah 35 soal. Kemudian data kualitatif berupa lembar observasi
keterlaksanaan proses pembelajaran. Berdasarkan hasil dari pengolahan data berupa tes kognisi dalam bentuk
pilihan ganda kepada kedua kelas sebelum dan setelah perlakuan didapatkan statistik kemampuan siswa pada
Tabel 1.
Tabel 1. Deskripsi Data Sebelum dan Setelah Perlakuan
Data Statistik
Nilai tertinggi
Nilai Terendah
Rata-rata
Simpangan baku
Jumlah siswa

Eksperimen 1
Pretes
Postes
28
60
60
100
44
90,5
9,40
7,7
45
45

Eksperimen 2
Pretes
Postes
28
73
63
97
43
88
7,48
6,42
44
44

Berdasarkan data rata-rata pretest di kedua kelas menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang
jauh di antara keduanya. Setelah diberikan perlakuan, didapatkan perbedaan hasil belajar dengan kelas yang
menggunakan teknik card sort lebih baik dibandingkan ICM.
Berdasarkan hasil penghitungan uij-t pada data pretest diperoleh thitung < ttabel, (1,28<1,99) maka dapat
disimpulkan bahwa Ho diterima. Dengan demikian bahwa hasil pretest kelas yang diajar dengan teknik card
sort (E1) dan kelas yang diajar dengan teknik index card match (E2) tidak berbeda nyata. Maka dapat
dinyatakan bahwa kemampuan awal siswa di kelas yang diajar dengan teknik card sort (E1) dan dan kelas
yang diajar dengan teknik index card match (E2) sebelum proses pembelajaran tidak ada perbedaan yang
signifikan. Namun setelah diberi perlakuan, maka hasil uji hipotesis pada skor posttest menunjukkan bahwa
terdapat perbedaan yang signifikan antara skor kelas yang diajar dengan teknik card sort (E1) dan kelas yang
diajar dengan teknik index card match (E2), dimana nilai thitung lebih dari ttabel (2,98>1,99). Dengan demikian
dapat dinyatakan bahwa hasil belajar biologi siswa antara kelas kelas yang diajar dengan teknik card sort
(E1) dan kelas yang diajar dengan teknik index card match (E2) dalam pembelajaran aktif terdapat perbedaan
yang signifikan, dimana penggunaan teknik card sort lebih baik dibandingkan dengan teknik index card
match dalam strategi pembelajaran aktif.
Hasil belajar biologi siswa yang menggunakan teknik card sort lebih tinggi dari pada hasil belajar
biologi siswa yang menggunakan teknik index card match sebesar 90,5 > 88. Walaupun peningkatan hasil
belajar di kedua kelas ini dalam kategori tinggi, namun rata-rata ketercapaian penggunaan teknik belajar di
kelas E2 lebih tinggi. Kondisi demikian juga dapat terlihat pada aktifitas siswa pada lembar observasi,
dimana kelas E1 aktifitas siswa lebih tinggi dibandingkan dengan kelas E2. Hal tersebut dikarenakan dalam
pembelajaran menggunakan teknik card sort siswa lebih aktif dalam kegiatan belajar di kelas. Keaktifan
tersebut ditunjukan pada saat siswa bersama-sama mencari kartu dengan kategori yang sama kemudian
membentuk kelompok-kelompok kecil yang memiliki kategori yang sesuai. Hal ini sejalan dengan Widiastusi
(2010), dari hasil penelitiannya menunjukan bahwa dengan menggunakan pembelajaran aktif teknik card sort
memberikan kesempatan kepada siswa untuk aktif baik aktif fisik yang ditunjukan dengan pencarian kartu
yang satu kategori maupun aktif berkomunikasi yang ditunjukan dengan diskusi kelompok, memberikan
pertanyaan maupun menyajikan hasil kerja kelompok melalui presentasi.
Menurut Roziq (2012) yang dalam penelitiannya mengatakan bahwa card sort lebih mengutamakan
pembelajaran yang berpusat pada siswa dengan cara membuat kelompok-kelompok kecil, sehingga
memungkinkan siswa untuk mendapatkan kelompok yang bervariatif dan lebih mudah dalam proses
pembelajaran. Proses pelaksanaan pembelajaran dengan pembentukan kelompok-kelompok kecil merupakan
salah satu tujuan yang membuat siswa lebih mudah berdiskusi, dimana diskusi kelas merupakan aspek yang
sangat penting dari pembelajaran aktif. Dari faktor-faktor tersebut maka dapat dikatakan bahwa penggunaan
teknik card sort lebih efektif dibandingkan menggunakan teknik index card match.

118

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 11 September 2014

Keefektifan kelas card sort dari pada index card match dapat dilihat dari hasil uji Peningkatan hasil
belajar (N-Gain) yang menunjukkan terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang menggunakan teknik card
sort dengan siswa yang menggunakan teknik index card match, hasil yang diperoleh adalah bahwa kelas card
sort lebih baik dari kelas index card match. dapat diamati dalam Tabel 2.
Tabel 2. Perbandingan Persentase Peningkatan Hasil Belajar (N-Gain) Kelas Berteknik Card Sort (E1)
dan Kelas Berteknik Index Card Match (E2)
Kategori

Persentase

Tinggi
Sedang
Rendah

(EI)
86,70
13,30
0

(E2)
77,30
22,70
0

Kategori

Tinggi

Tinggi

Selama proses pembelajaran dilakukan penilaian aktifitas siswa oleh guru mata pelajaran sebagai
observer, penilaian aktifitas siswa dalam pembelajaran mengacu pada lembar observasi dalam bentuk
persentase nilai rata-rata kelompok dengan nilai maksimal 100% yang berkategori sangat baik. Hasil
pengamatan dari tiga pertemuan oleh observer diperoleh nilai rata-rata pada kedua kelompok baik kelompok
kelas yang diajar dengan teknik card sort (E1) maupun kelompok kelas yang diajar dengan teknik index card
match (E2). Adapun persentase hasil penilaian aktifitas siswa dalam pembelajaran diperoleh data yang
digambarkan pada Tabel 2.
Tabel 3. Data Persentase (%) Hasil Penilaian Aktifitas Siswa Kelas Berteknik Card Sort (E1) dan Kelas
Berteknik Index Card Match (E2)
Persentase Aktifitas Siswa (%)
Aktifitas Siswa
E1
E2
Mendengarkan dengan aktif
80
79
Membaca buku siswa
93,3
80
Mengajukan pertanyaan seputar materi
82
80
Berdiskusi dengan anggota kelompok
90
82,3
Mengerjakan Lembar Kerja Siswa
82,3
80,7
Melakukan permainan kartu
100
90
Presentasi
77
79
Membuat Kesimpulan
87
79
Rata-rata
86,45
81,25
Kategori
Baik
Baik
Berdasarkan Tabel 3, persentase ketercapaian hasil penilaian aktifitas siswa dapat dilihat dari kegiatan
yang dilakukan siswa dalam proses pembelajaran. Hasil observasi tersebut, rata-rata yang diperoleh untuk
kelas yang diajar dengan teknik card sort (E1) lebih tinggi dari kelas yang diajar dengan teknik index card
match (E2) yaitu sebesar 86,45% termasuk ke dalam kategori baik. Sedang kelas berteknik index card match
(E2) sebesar 81,25% dan juga dalam kategori baik. Hal tersebut terjadi karena pada dasarnya kedua teknik ini
dapat membuat siswa berpartisipasi aktif dalam pembelajaran. Seluruh indikator dicapai oleh kedua kelas,
persentase setiap indikator di kelas eksperimen satu (E1) selalu lebih tinggi dari kelas eksperimen dua (E2).
Bahkan pada indikator melakukan permainan kartu mencapai nilai 100%, hal ini menunjukan bahwa saat
melakukan kegiatan pelaksanaan teknik card sort semua siswa terlibat dengan antusias yang tinggi. Tetapi
pada indikator pelaksanaan presentasi, kelas yang diajar dengan teknik card sort (E1) memiliki nilai lebih
kecil di bandingkan dengan kelas yang diajar dengan teknik index card match (E2) yakni sebesar 77% dan
79%. Hal ini disebabkan siswa kelas eksperimen dua (E2) lebih siap dan lebih baik dalam melaksanakan
presentasi di kelas.
Terdapat perbedaan dari hasil penilaian observasi aktifitas siswa untuk kedua kelas, kelas yang
menggunakan teknik card sort lebih tinggi dengan perolehan persentase 86,45% dari pada kelas yang
menggunakan teknik index card match dengan perolehan persentase 81,25% (86,45% > 81,25% ), meski

119

hal ini dikarenakan kebanyakan kelompok presentator belum mampu menjawab pertanyaan kelompok lain dengan baik. pada pertemuan pertama. Tetapi setelah guru menerangkan penggunaan teknik card sort siswa mulai mengerti dan siswa mulai fokus menjalankan kegiatan pembelajaran. Kondisi ini menunjukan partisipasi siswa lebih baik pada kelas berteknik card sort dibandingkan dengan kelas berteknik index card match. antusias mencari teman dengan kategori yang sama. melakukan permainan kartu dan membuat kesimpulan kelas yang menggunakan teknik card sort lebih tinggi pencapaiaannya dibandingkan dengan kelas yang berteknik index card match. Dalam kegiatan pembelajaran menggunakan teknik card sort dan index card match peneliti menggunakan metode diskusi kelompok kecil yang disertai kartu sebagai alat bantu dari teknik yang digunakan. 120 . Tujuan penggunaan metode diskusi kelompok kecil yang membagi siswa ke dalam berbagai kelompok untuk lebih memfokuskan siswa pada kerja kelompok dan mengikuti langkah-langkah pembelajaran. setelah guru menjelaskan mekanisme pelaksanaan teknik index card match siswa langsung mengerti dan suasana pembelajaran lebih kondusif. siswa kelas E2 lebih baik dan lebih memiliki persiapan dalam hal penguasaan materi hal tersebut terbukti ketika kelompok presentator mempresentasikan hasil kerja kelompok. kelas lebih kondusif karena siswa fokus melaksanakan kegiatan pembelajaran. Langkah pertama siswa menyimak materi yang disampaikan guru. Tetapi pada pertemuan selanjutnya siswa mulai beradaptasi dengan teknik pembelajaran card sort.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Kemudian setelah diskusi selesai siswa diperkenankan melakukan presentasi hasil kerja kelompok masing-masing. Hal ini dikarenakan pada kelas E2. berbeda dengan kelas E2. guru memberikan Lembar Kerja Siswa yang akan dikerjakan siswa setelah melakukan permainan kartu. Diketahui pula pada aspek mendengarkan dengan aktif. siswa bekerja sama dengan kelompok dan jarang mengajukan pertanyaan kepada guru. setelah siswa merasa siap melakukan permainan kartu. setiap kelompok sudah memegang kartu masing-masing yang sudah terdapat pertanyaan dan jawaban yang sesuai. berdiskusi untuk mengisi LKS dan sering mengajukan pertanyaan tentang hal-hal yang belum dipahami. karena setiap siswa dalam kelompok aktif mengerjakan LKS dengan kemampuannya masing-masing. Kemudian ketika siswa dijelaskan tentang mekanisme penggunaan teknik card sort awalnya siswa merasa bingung dan banyak bertanya yang menimbulkan suasana kelas menjadi gaduh. berdasarkan hasil observasi. Pelaksanaan perlakuan pada kelas E1 siswa bekerja sama dengan kelompok dengan kategori yang sama. setelah pemberian materi selesai. hanya mencari pasangan jawaban atau pertanyaan yang sesuai dengan kartu yang didapat masing-masing siswa. Pada saat pelaksanaan teknik card sort siswa mencari kategori yang sesuai dengan kartu yang dimilikinya dan duduk bersama dalam satu kelompok kemudian mengerjakan LKS yang telah disediakan melalui proses diskusi bersama. berdiskusi dengan anggota kelompok. siswa mulai kompak. guru sebagai fasilitator memberi arahan kepada siswa untuk dapat menemukan kelompoknya. Pada aspek presentasi. Pada saat pertemuan pertama siswa masih banyak yang harus mengingat mekanisme penggunaan teknik card sort terlebih jika siswa belum membaca materi yang akan dipelajari sebelumnya. membaca buku siswa. sehingga pada saat pencarian teman dengan kategori yang sama. Berbeda dengan kelas E1. mereka dapat menjawab pertanyaan dengan baik. Berbeda dengan kelas E1. interaksi antar kelompok tergolong lebih baik. Pada pelaksanaan pembelajaran kelas E1 yang menggunakan teknik card sort terlihat siswa antusias melihat kartu-kartu yang dibawa oleh guru. mengerjakan lembar kerja siswa. sehingga hanya mengkopi pekerjaan teman satu kelompoknya. Pertanyaan pun bermunculan dari para siswa mengenai teknik permainan kartu tersebut. siswa kebingungan karena tidak dapat menentukan kategori kartu yang dimilikinya. Hal ini dikarenakan semua siswa mengikuti semua aspek dan indikator yang rata-rata memperoleh nilai 4 dari skor ideal 5 pada kelas yang menggunakan teknik card sort berbeda dengan kelas yang menggunakan teknik index card match rata-rata perolehan nilai 3. masih ada beberapa siswa yang mengandalkan teman satu kelompok dalam mengisi LKS. Pada kelas E2 interaksi kelompok tergolong rendah. mengajukan pertanyaan seputar materi. Karena pelaksanaan teknik index card match lebih mudah. Hal yang berbeda terjadi pada kelas E2. 11 September 2014 memiliki kategori yang juga baik. guru memberikan arahan untuk melakukan teknik pembelajaran menggunakan kartu. satu-satunya aspek yang memiliki presentase lebih kecil dibandingkan kelas E2 adalah pada aspek presentasi.2 dari skor ideal 5.

Peningkatan Keaktifan Bertanya Siswa Melalui Strategi Motivasi Dalam Model Pembelajaran Aktif Tipe Card Sort di kelas RSBIXI IPA SMAN 01 Surakarta. BSNP. Tidak dipublikasikan Uzlul RA. Jurnal Al-Ta’Dib Vol 1 No. Yasin FA. Perbedaan tersebut lebih baik pada penggunaan teknik card sort berdasarkan rata-rata hasil belajar dan aktivitas siswa. Jurnal Inovasi Pendidikan Fisik. Rusdiana.Active Learning: 101 Strategi Pembelajaran Aktif. SIMPULAN Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan hasil belajar biologi siswa antara siswa yang diajar melalui teknik card sort dengan teknik index card match pada konsep sistem reproduksi manusia kelas XI semester 2 SMA Negeri 5 Depok tahun ajaran 2012/2013. Hamruni. 121 .. salah satunya melalui teknik card sort (Rusdiana. Kadir SF. Dimensi-dimensi Pendidikan Islam. Ittihad Jurnal Kopertis Wilayah XI Kalimantan. 2010. Panduan Penyusunan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Jenjang Pendidikan Dasar dan Menengah. Penerapan Belajar Aktif Dalam Pembelajaran. 2006. 2006. Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. kemudian hasil posttest dan N-Gain yang menghasilkan perolehan angka yang signifikan. Yogyakarta: Pustaka Insan Madani. Rusdiana dalam jurnalnya mengatakan belajar aktif bertujuan untuk memberikan kesempatan kepada siswa secara aktif untuk mengembangkan kemampuan daya pikir dan daya ciptanya yang terlibat langsung dalam proses belajar mengajar. _____________. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. kelas yang diajar menggunakan card sort lebih baik dibandingkan dengan kelas yang diajar menggunakan teknik index card match terhadap hasil belajar biologi siswa pada konsep sistem reproduksi. Widiastuti K. Skripsi FKIP Universitas Sebelas Maret. Suharsimi. 2005.1. Surakarta. 2011. 2007. 2010. Sudijono A. Vol 4 No. 2012. 2008. Yogyakarta: Insan Madani. DAFTAR PUSTAKA Arikunto. Jakarta: Rineka Cipta. Jakarta: Rineka Cipta. 2008. 2010. Jakarta: Bumi Aksara. Jakarta: Rajawali Press. Sugiyono. 2007.5. SARAN Penerapan teknik card sort dan index card match disamakan jumlah kategorinya. 2008. 2010). Jakarta: Balitbang Depdiknas. Strategi Pembelajaran. Sehingga pada index card match terbagi menjadi beberapa kelompok berdasarkan kategori yang selanjutnya ditiap kategori tersebut dibagi kembali menjadi 2 kelompok kartu. Teknologi Pembelajaran dan Aplikasinya. mulai dari aktifitas siswa dalam kelas melalui lembar observasi oleh guru mata pelajaran. Warsita B. 11 September 2014 Secara umum dari berbagai aspek yang diteliti. Pengantar Statistik Pendidikan. Malang: UIN Malang press. Bandung: Alfabeta.. yaitu kartu pertanyaan dan kartu jawaban.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Prosedur Penelitian (suatu pendekatan praktik). Penerapan Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Stad Dengan Strategi Kartu Sortir (Card Sort) Terhadap Prestasi Belajar Fisika Pada Materi Fluida Statis. Ragam Strategi Pembelajaran. Silberman ML.

Penelitian berlangsung pada bulan November 2013. Instrumen yang digunakan adalah instrumen tes berupa soal pilihan ganda dan instrumen nontes berupa angket. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. Pembelajaran menggunakan media audio-visual (video) ini memiliki daya dukung terhadap proses pembelajaran pada kategori baik dengan persentase sebesar 79%.41 dan nilai 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 = 1. Data hasil instrumen tes dan nontes dianalisis secara kuantitatif. Namun beberapa siswa masih kesulitan mengolah konsep-konsep tersebut. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan. dan fenomena atau gejala alam. 11 September 2014 PENGARUH MEDIA AUDIO-VISUAL (VIDEO) TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA KELAS XI PADA KONSEP ELASTISITAS Ika Risqi Citra Primavera Program Studi Pendidikan Fisika. Hasil belajar siswa kelas eksperimen lebih unggul pada jenjang kognitif C2. sehingga dari pemahaman tersebut siswa dapat mengembangkan konsep dan mengaitkannya dengan konsep-konsep lain. sehingga 𝐻0 ditolak. media audio-visual (video). dan C4. Nilai 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 > 𝑡𝑡𝑎𝑏𝑒𝑙 . Gejala-gejala alam tersebut pada mulanya adalah apa yang tertangkap oleh alat indera. pendengaran. Namun beberapa lagi terjadi secara cepat. Konsep fisika dapat diamati pada fenomena-fenomena yang terjadi dalam kehidupan maupun lingkungan sehari-hari. hasil belajarsiswa. Beberapa fenomena dapat dengan jelas terlihat dan dirasakan oleh alat indera. Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta ikarisqicitra14@gmail. fisika memungkinkan manusia memperoleh kebenaran ilmiah dari gejala-gejala alam.99. Fisika mempelajari materi. dan indera peraba. namun hasil data nontes dikonversi ke dalam bentuk kualitatif. Kemudian diolah menjadi suatu konsep-konsep yang bisa menjelaskan kenapa suatu gejala alam bisa terjadi dan berdampak pada gejala alam lainnya. mereka akan mulai kesulitan saat dihadapkan pada soal-soal yang berisi banyak notasi matematis.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Media audio-visual (video) ini dibuat menggunakan software AVS Video Editor. Kata kunci: AVS Video Editor. Berdasarkan analisis data.com Iwan Permana Suwarna. M. sehingga memudahkan dalam menggambarkan dan mengatur alam. Hasil uji hipotesis terhadap data posttest menunjukkan nilai 𝑡ℎ𝑖𝑡𝑢𝑛𝑔 = 2. elastisitas. PENDAHULUAN Fisika adalah salah satu cabang Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) yang mempelajari gejala alam secara keseluruhan. Metode penelitian yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain nonequivalent control group design dan teknik pengambilan sampel purpossive sampling. Jurusan Pendidikan IPA. sehingga tidak dapat tertangkap secara langsung karena keterbatasan 122 . baik yang bersifat makroskopis (berukuran besar) maupun yang bersifat mikroskopis (berukuran kecil). Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media audio-visual (video) terhadap hasil belajar siswa kelas XI pada konsep elastisitas.Pd Program Studi Pendidikan Fisika. energi. Padahal mempelajari fisika bukan hanya menyelesaikan soal-soal yang rumit namun juga pemahaman konsep yang tepat. Penelitian ini dilakukan di kelas XI IPA 1 dan XI IPA 3 SMA Negeri 87 Jakarta. misalnya penglihatan. diperoleh hasil terdapat pengaruh media audio-visual (video) terhadap hasil belajar siswa kelas XI pada konsep elastisitas. Dengan kata lain. Ditambah lagi kecenderungan beberapa siswa yang menganggap bahwa fisika adalah pelajaran yang sulit. Rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan media audio-visual (video) lebih tinggi dibandingkan rata-rata hasil belajar siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional. C3. Jurusan Pendidikan IPA. Hal ini tidak lain karena proses pembelajaran terkadang tidak berjalan dengan baik.

saat gaya pemulih bekerja pada pegas dan mendorong benda ke posisi kesetimbangan. Diperlukan suatu media pembelajaran yang dapat menggambarkan konsep fisika secara nyata. Siswa yang mampu berimajinasi tidak berarti menjadi lebih paham. satu gelombang. dia hanya akan terbiasa menghafal konsep fisika tanpa tahu gambaran prosesnya secara nyata. dapat tervisual isasikan besaranbesaran (simpangan. Jika tidak menggunakan alat bantu dalam mempelajarinya. Dengan melihat karakteristik media tersebut. Jika dibiarkan terus menerus akan berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa. Dengan menggunakan video. Beberapa subkonsep lagi berisi banyak notasi matematis yang berasal dari fenomena pegas. amplitudo. siswa akan lebih kesulitan lagi meyelesaikan persoalan-persoalan fisika baik secara teori ataupun matematis. Dengan demikian. Dari ketidaktepatan konsep. karena penjelasan tersebut akan divisualisasikan secara berbeda-beda oleh tiap siswa sesuai tingkat imajinasinya masing-masing. Dengan begitu. dan psikomotorik. Padahal penggunaan video dapat memudahkan guru menyampaikan materi secara sederhana karena memberi gambaran nyata yang biasa terjadi di kehidupan ataupun lingkungan sehari-hari. sehingga proses penyerapan materi elastisitas dapat berlangsung secara maksimal. siswa mampu memahami pesan pembelajaran secara lebih bermakna sehingga informasi yang disampaikan melalui video tersebut dapat dipahami secara utuh. siswa tidak dapat menguasai konsep secara tepat. dan lain-lain. peneliti tertarik untuk melakukan penelitian tentang pengaruh media audio-visual (video). ada pengelompokan lain dari media audio-visual yaitu peralatan visual seperti slide dan OHP yang diberi unsur suara dari rekaman kaset yang dimanfaatkan secara bersamaan dalam satu waktu atau satu proses pembelajaran. Namun beberapa fenomena sulit diamati karena pergerakan pegas berlangsung sangat cepat. televisi. Salah satu media pembelajaran yang dapat digunakan adalah video. Elastisitas merupakan salah satu konsep fisika yang diajarkan di jenjang SMA kelas XI. dengan tujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan media audio-visual (video) terhadap hasil belajar siswa kelas XI pada konsep elastisitas. dengan pesan-pesan di dalamnya untuk ketercapaian tujuan pembelajaran yang disimpan dengan proses penyimpanan pada media pita atau disk. keberadaannya mulai tergeser dengan multimedia lain yang berisi animasi ataupun simulasi. Peristiwa kembalinya pegas pada keadaan setimbang seringkali sulit diamati. Menurut Munadi (2010). spring bed. Sudjana (2009) menyatakan bahwa hasil belajar siswa adalah kemampuan-kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. afektif.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. 123 . Padahal penjelasan verbal diterima dan diproses oleh siswa secara berbeda-beda. Video merupakan media audio-visual yang dapat mengungkapkan objek dan peristiwa seperti keadaan sesungguhnya. Tampilan video juga dapat menjadi daya tarik sehingga mampu mempertahankan perhatian siswa selama video tersebut diputar. berdasarkan uraian di atas. 11 September 2014 indera manusia. Konsep yang tidak tepat itu kemudian akan mengakibatkan miskonsepsi. menampilkan suatu objek atau peristiwa seperti keadaan sesungguhnya. seperti film bersuara. Pada hakikatnya kemampuan-kemampuan tersebut berupa perubahan tingkah laku yang berdasarkan klasifikasi Bloom mencakup ranah kognitif. Bagi siswa yang sulit berimajinasi.. Video merupakan salah satu jenis media-audio visual yang merupakan serangkaian gambar gerak yang disertai suara yang membentuk satu kesatuan yang dirangkai menjadi sebuah alur. Karakteristik dari konsep elastisitas tersebut dapat dijelaskan oleh video. Namun. siswa akan kesulitan mengamati fenomena yang sedang dipelajari. Video dapat memperlambat tampilan gerakan objek dan menampilkan suatu peristiwa seperti keadaan sesungguhnya. dan video. Dengan demikian siswa hanya mengetahui fenomena tersebut dari penjelasan verbal guru. Kemampuan-kemampuan yang berupa perubahan tingkah laku yang ditunjukkan oleh siswa.Video memiliki banyak kelebihan yang dapat mengatasi keterbatasan dalam pembelajaran diantaranya. Video jarang digunakan dalam pembelajaran fisika. Namun dengan bantuan video. dan lain-lain) yang terkait ketika pegas itu digetarkan. contohnya peristiwa gerak harmonis sederhana pada pegas. media audio-visual merupakan peralatan suara dan gambar dalam satu unit. terlihat dari subkonsep elastisitas yaitu susunan pegas seri paralel yang aplikasinya digunakan dalam shockbreaker. salah satu konsep yang sesuai untuk disampaikan menggunakan video adalah elastisitas. Materi elastisitas sangat berkaitan erat dengan kehidupan sehari -hari.

Setelah masing-masing kelas diberikan perlakuan yang berbeda. memvisualisasi konsep-konsep fisika yang terjadi terlalu cepat diharapkan dapat tervisualisasi sehingga siswa dapat memahami konsep tersebut dengan baik dan hasil belajarnya meningkat.82 dan nilai rata-rata kelas kontrol 57. METODE PENELITIAN Jenis penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen semu (quasi experiment). Data hasil tes kemudian dianalisis dengan menggunakan uji prasyarat analisis dan uji hipotesis dengan menggunakan uji t. Y1 = Pretest Y2 = Posttest. Hasil analisis data menunjukkan nilai t hitung = 2. Data diambil dari hasil pretest dan posttest menggunakan soal pilihan ganda dan data penunjang diambil dari angket respon siswa. peneliti hanya akan mengukur hasil belajar pada ranah kognitif (C1-C4).41 dan nilai t tabel = 1. Pada penelitian ini. Desain Penelitian Kelompok A B Pretest Y1 Y1 Perlakuan XA XB Posttest Y2 Y2 Keterangan: A= Kelas eksperimen B = Kelas kontrol XA = Perlakuan yang diberikan pada kelompok eksperimen berupapenggunaan media audio-visual (video) XB = Perlakuan yang dilakukan pada kelompok kontrol berupa pembelajarankonvensional. Setelah didapatkan hasil pretest-nya barulah masing-masing kelas diberikan perlakuan berbeda. Perubahan tingkah laku ini berupa peningkatan atau pengembangan yang lebih baik dari sebelumnya dan dapat dijadikan tolak ukur oleh guru maupun siswa untuk pembelajaran selanjutnya. Kemudian diberikan pretest untuk mengetahui keadaan awal kemampuan siswa pada konsep elastisitas.73 dibanding kelas kontrol yang hanya menggunakan pembelajaran konvensional. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Belajar Siswa Berdasarkan data hasil pretest siswa. Populasi dari penelitian ini adalah seluruh siswa SMA Negeri 87 Jakarta dengan populasi sasarannya adalah seluruh siswa kelas XI di sekolah tersebut.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.96 dan nilai rata-rata kelas kontrol 23. diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen 22. 11 September 2014 diukur oleh guru berdasarkan klasifikasi tertentu. Dengan menggunakan video. Kelas kontrol diberikan perlakuan pembelajaran konvensional. Hasil belajar siswa pada ranah kognitif dapat dilihat pada diagram berikut: 124 . sedangkan respon angket siswa dianalisis secara kuantitatif dan hasilnya dikonversi ke dalam bentuk kualitatif. Sampel penelitian ditentukan dengan teknik purpossive sampling. namun dipilih dengan pertimbangan tertentu agar memiliki homogenitas yang relatif sama. hasil uji homogenitas dari rata-rata hasil pretest menunjukkan bahwa kedua kelas homogen.55. artinya tidak ada perbedaan hasil belajar yang signifikan antara kelas kontrol dan kelas eksperimen mengenai konsep elastisitas sebelum diberikan perlakuan. Setelah itu dilanjutkan dengan memberikan posttest untuk melihat sejauh mana kemampuan siswa pada konsep elastisitas setelah diberikan perlakuan.68. Meskipun demikian. Jadi dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh media audio-visual (video) terhadap hasil belajar siswa pada konsep elastisitas. Desain yang digunakan yaitu Nonequivalent Control Group Design. Hasil ini pun didukung oleh selisih nilai ratarata posttest dengan pretest antara kedua kelas.99. diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen 65. Desain penelitiannya dapat dilihat pada Tabel 1 berikut: Tabel 1. kelas eksperimen yang menggunakan media audio-visual (video) lebih unggul sebesar 8. sedangkan kelas eksperimen diberikan perlakuan menggunakan media audio-visual (video). artinya nilai t hitung lebih besar dibanding nilai t tabel .Pengambilan kelompok tidak dilakukan secara acak.

sedangkan pada kemampuan berpikir C1. menerapkan (C3) 58%. Diagram di atas juga menunjukkan bahwa setelah diberikan perlakuan yang berbeda terhadap kedua kelas. menerapkan (C3) 67%. menerapkan (C3) 27%. memahami (C2) 28%. terlihat bahwa hasil belajar akhir (posttest) kedua kelas mengalami peningkatan dari hasil pretest. Sementara kemampuan kelas eksperimen dalam mengingat (C1) 53%. dan menganalisis (C4) 61%. Respon Siswa terhadap Penggunaan Media Audio-Visual (Video) Hasil data angket yang telah diperoleh selanjutnya dihitung secara kuantitatif. Diagram Peningkatan Hasil Belajar Siswa Kedua Kelas pada Ranah Kognitif Hasil peningkatan ini didapatkan dari selisih hasil pretest dan posttest masing-masing kelas. memahami (C2) 67%. Jika ditinjau dari segi peningkatan. Pada saat posttest kemampuan kelas kontrol dalam mengingat (C1) 53%. C3. hasil belajar siswa (posttest) kelas eksperimen lebih unggul pada kemampuan berpikir C 2. menerapkan (C3) 23%.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. kedua kelas memiliki kemampuan yang sama. dan menganalisis (C4) 67%. dan menganalisis (C4) 26%. Hasil perhitungan dapat dilihat pada tabel 2 berikut: 125 . Pada saat pretest. C4 (meningkat 46%). menghasilkan data berupa persentase kemudian dikonversi menjadi data kualitatif. Sementara kelas eksperimen lebih unggul dalam meningkatkan kemampuan berpikir C2 (meningkat 39%). kemampuan kelas kontrol dalam mengingat (C1) 13%. Kelas kontrol unggul dalam meningkatkan kemampuan berpikir C 1 (meningkat 40%). dan menganalisis (C4) 21%. memahami (C2) 23%. C3 (meningkat 44%). Diagram Hasil Belajar Siswa Pretest dan Posttest Kedua Kelas pada Ranah Kognitif Berdasarkan diagram di atas. hasil peningkatan dari masing-masing ranah kognitif dapat dilihat pada Gambar 2 berikut: 50% Persentase 40% 46% 44% 40% 32% 39% 35% 35% 31% 30% Kontrol 20% Eksperimen 10% 0% C1 C2 C3 C4 Ranah Kognitif Gambar 2. 11 September 2014 67% 70% 60% 67% 58% 67% 61% 58% 53% 53% Persentase 50% Pretest Kontrol 40% 28% 30% 21% 20% 27% 23% 23% Posttest Kontrol 26% 21% Pretest Eksperimen 13% 10% 0% C1 C2 Ranah Kognitif C3 C4 Gambar 1. C4. memahami (C2) 58%. Sementara kemampuan kelas eksperimen pada saat pretest dalam mengingat (C1) 21%.

Artinya. siswa dapat lebih paham dengan pengulangan tampilan video dalam cuplikan tertentu. Hal ini didukung oleh angket siswa. menerapkan (C3) sebesar 44%. menganalisis (C4) sebesar 46%. membuat para siswa termotivasi untuk mengamati dan menganalisis fenomena dalam kehidupan sehari-hari (Smaldino. dimana gerakan ditampilkan secara berurutan (Smaldino. Ditambah lagi. sebaliknya. Pembelajaran dengan menggunakan media audio-visual (video) memiliki beberapa keunggulan dibandingkan dengan pembelajaran konvensional diantaranya. 2011). Hasil Angket Penggunaan Media Audio-Visual (Video) Kelas Eksperimen Indikator Angket Persentase Kesimpulan Perpaduan antara suara dan tampilan 79% Baik Tampilan warna dan desain secara keseluruhan 81% Baik Sekali Kemudahan isi pesan untuk dipahami 81% Baik Sekali Kesesuaian isi video dengan materi pelajaran 75% Baik Kesesuaian media dengan pengguna (siswa) 80% Baik Rata-Rata 79% Baik Berdasarkan tabel di atas terlihat bahwa secara keseluruhan penggunaan media audio-visual (video) dalam pembelajaran fisika konsep elastisitas mendapatkan respon yang baik dari para siswa. sehingga kemampuan menerapkan (C3) siswa di kelas eksperimen lebih unggul dibandingkan dalam pembelajaran konvensional dimana siswa hanya dapat membayangkan apa yang disampaikan oleh guru. Sejalan dengan penelitian yang dilakukan oleh Haryoko (2009). penggunaan media audio-visual (video) menarik bagi para siswa dan mampu membantu siswa dalam memahami materi. Meskipun begitu. 75% siswa beranggapan bahwa cuplikan video dapat menggambarkan materi secara nyata. Artinya. indikator tersebut tetap berada dalam kategori baik. Namun pada indikator keempat. didapat persentase sebesar 75%. Hal itu mengindikasikan bahwa sebagian kecil siswa menganggap isi video tidak sesuai dengan materi pelajaran. dalam hal ini pada konsep elastisitas. dengan kata lain setiap siswa memiliki pemahaman yang seragam terhadap suatu materi. Hasil validasi ahli materi pun pada indikator kesesuaian cuplikan video dalam menggambarkan aplikasi dari konsep elastisitas mendapat skor 4 (kategori baik). ia menyatakan bahwa media audio-visual (video) dapat memperlancar pemahaman sehingga para siswa dapat mengoptimalkan kemampuan dan potensinya. Penampilan video yang dapat diulang sesuai dengan keinginan. siswa tidak mengalami kejenuhan. cuplikan video berisi beberapa 126 . dengan melihat program video bersama-sama. 2011). Media audio-visual (video) juga menyajikan materi secara bertahap. Dengan begitu. 11 September 2014 Tabel 2. keterwakilan penjelasan konsep oleh cuplikan video dalam media mendapat skor 5 (kategori sangat baik). Pembahasan Dalam penelitian ini. Hal ini didukung oleh angket siswa yang menunjukkan 81% siswa beranggapan bahwa tampilan media menarik sehingga tidak membosankan. Walaupun diulang. Hal ini didukung oleh hasil angket siswa yang menolak pernyataan “cuplikan video tidak dapat menggambarkan konsep elastisitas secara nyata”. Hal tersebut menyebabkan kelas eksperimen yang menggunakan media ini memiliki peningkatan kemampuan dalam memahami (C2) yang lebih tinggi jika dibandingkan dengan pembelajaran konvensional yang menekankan pada penyampaian materi secara verbal. kelas eksperimen unggul dalam meningkatkan kemampuan memahami (C2) sebesar 39%. yaitu sebesar 81% siswa memberi respon yang baik sekali mengenai kemudahan isi pesan untuk dipahami. siswa mendapatkan gambaran yang nyata terhadap konsep elastisitas dan mampu menerapkan kembali materi yang telah dipelajarinya.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. sekelompok siswa yang berbedabeda bisa membangun kesamaan pengalaman untuk membahas sebuah isu secara efektif.

Respon siswa terhadap pembelajaran menggunakan media audio-visual (video) berada pada kategori baik. Pengaruh tersebut terlihat dari: 1. Kedua. 20% dari yang didengar. Siswa yang terbiasa mengandalkan pendengaran dalam pembelajaran (tipe auditif) akan terbantu dengan adanya narasi dan backsound di dalam video. SARAN Pada penelitian ini terdapat dua kelemahan. sehingga saran yang dapat diajukan untuk penelitian ke depan. Dari sisi penguasaan materi. tetapi gagal dalam membekali siswa memecahkan persoalan dalam jangka panjang dan juga proses pembelajaran membutuhkan waktu yang relatif lama (Haryoko. bahwa manusia dapat menyerap suatu materi sebanyak 70% dari apa yang dilakukan. Berbeda dengan pembelajaran konvensional yang didominasi oleh ceramah. maka kesimpulan yang dapat diambil dari penelitian ini adalah terdapat pengaruh media audio-visual (video) terhadap hasil belajar siswa kelas XI pada konsep elastisitas. Pembelajaran konvensional cenderung berorientasi pada target penguasaan materi dengan cara menghapal karena pembelajaran didominasi oleh ceramah. 11 September 2014 fenomena yang terjadi dalam kehidupan sehari-hari. 30% dari yang dilihat. Sedangkan siswa yang mengandalkan penglihatan (tipe visual) akan terbantu dengan gambaran yang ditampilkan oleh video. penggagas Quantum Learning. Dengan adanya gambaran terhadap fenomena tersebut dan disajikan dengan tampilan menarik. menerapkan (C3). 50% dari apa yang didengar dan dilihat (audio-visual).Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Namun pada kemampuan mengingat (C1). pembelajaran menggunakan media audio-visual (video) memiliki banyak kelebihan dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. karena mereka terbiasa memahami materi pembelajaran dengan mengandalkan pendengaran. 2. dan hanya 10% dari apa yang dibaca. Hal ini juga dikemukakan oleh Porter (2010). dan menganalisis (C4). Hal ini sejalan dengan yang disampaikan Haryoko dalam penelitiannya. keberhasilan media audiovisual (video) salah satunya disebabkan karena siswa menyerap materi lebih banyak saat menyaksikan video. Berdasarkan penjelasan di atas. Pembelajaran menggunakan media audio-visual (video) terbukti lebih unggul dalam meningkatkan kemampuan memahami (C2). Oleh sebab itu dapat diambil kesimpulan bahwa media audio-visual (video) berpengaruh positif dan dapat meningkatkan hasil belajar siswa pada konsep elastisitas. 127 . hasil belajar siswa yang menggunakan media audio-visual (video) lebih rendah (meningkat sebesar 32%) dibandingkan dengan kelas kontrol yang diberikan perlakuan pembelajaran konvensional (meningkat sebesar 40%). siswa akan lebih termotivasi karena konsep yang sedang ia pelajari itu ada di sekitarnya. 2009). Dengan begitu pembelajaran menggunakan media audio-visual (video) dapat menyentuh gaya belajar setiap siswa. Hasil validasi ahli media pada indikator keterlibatan beberapa indera mendapatkan skor 4 (kategori baik). KESIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan. sehingga siswa mampu menganalisis konsep tersebut. menghapal terbukti berhasil dalam meningkatkan hasil belajar siswa. Hasil pengamatan dalam proses pembelajaran menunjukkan bahwa beberapa siswa memiliki tipe belajar auditif. tampilan video kurang membangun interaktivitas siswa dalam pembelajaran. Penyajian materi melalui ceramah pun hanya akan mempermudah siswa yang memiliki tipe belajar auditif. yaitu menambahkan materi ke dalam video secara efektif sehingga durasinya tidak menjadi terlalu lama. Sedangkan pembelajaran di kelas kontrol yang menggunakan pembelajaran konvensional lebih unggul dalam meningkatkan kemampuan mengingat (C1). kurang mendalamnya materi yang disajikan. solusi untuk kelemahan ini adalah dibutuhkan desain dan skenario yang matang untuk membuat video yang dapat berinteraksi dengan siswa serta membuat siswa tidak sadar sedang belajar dan mampu bertahan dalam menonton video yang ditampilkan. Hal itu yang menyebabkan hasil belajar siswa pada ranah kognitif dalam tingkatan menganalisis (C4) yang menggunakan media audio-visual (video) lebih unggul dibanding kelas kontrol yang hanya didominasi oleh ceramah. Pertama. Terbukti respon siswa terhadap perpaduan antara suara dan tampilan video berada dalam kategori baik (79%) serta tampilan warna dan desain secara keseluruhan berada dalam kategori baik sekali (81%). dan sebagian lagi memiliki tipe visual.

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 11 September 2014

DAFTAR PUSTAKA
A Sahertian P. 2008.Konsep Dasar dan Teknik Supervisi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.
Afifah N, dkk. 2013. Penerapan Pendekatan Kontekstual Menggunakan Media Video untuk Meningkatkan
Hasil Belajar Fisika pada Kelas XI RPL 1 SMKN 8 Semarang. Seminar Nasional 2nd Lontar Physics
Forum.
Ariani N, Haryanto D. 2010.Pembelajaran Multimedia di Sekolah. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.
Arikunto S. 2009. Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Bumi Aksara, Cet. IX.
------------------------. 2002.Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta: PT Rineka Cipta, Cet.
XII.
Arsyad A. 2011. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada, Cet. XV.
Daryanto. 2008. Evaluasi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta, Cet. V.
Dimyati. Mudjiono. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta, Cet. III.
E. Barron A, et al. 2002.Technologies for Education. United States: Libraries Unlimited, Fourth Edition.
E Smaldino S, et a.l. 2011.Instructional Technology and Media for Learning. Jakarta: Kencana Prenada
Group, Cet. I.
Fansuri H. 2013. Penerapan Video Pembelajaran untuk Meningkatkan Prestasi Belajar Siswa Kelas X
Teknik Fabrikasi Logam pada Mata Pelajaran Teori Las Oxy-Acetylene di SMK Negeri 1 Seyegan.
Jurnal Skripsi UNY.
Fechera B, dkk. 2012.Desain dan Implementasi Media Video Prinsip-Prinsip Alat Ukur Listrik dan
Elektronika. Portal Jurnal UPI. 8.
George M, Nalliveettil, Odeh H, Ali. 2013.A Study on the Usefulness of Audio-Visual Aids in EFL
Classroom: Implication for Effective Instruction. Sciedu Press. 2.
Hamalik O. 2008.Proses Belajar Mengajar. Bandung: Bumi Aksara, Cet. VIII.
Haryoko S. 2009. Efektivitas Pemanfaatan Media Audio-Visual sebagai Alternatif Optimalisasi Model
Pembelajaran. Jurnal Edukasi Elektro. 5.
Ikrayenti Y, dkk. 2013. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Berbentuk Video Tutorial Berbahasa
Inggris pada Pembelajaran Fisika SMA. Pillar of Physics Education. 1.
Kanginan M. 2002. Fisika 2A untuk SMA Kelas XI. Jakarta: Erlangga.
M Soelarko, R. 1980. Audio Visual: Media Komunikasi Ilmiah Pendidikan Penerangan. Bandung: Binacipta,
Cet. I.
Munadi Y. 2010.Media Pembelajaran. Jakarta: Gaung Persada Press, Cet. 3.
Munir. 2012. Multimedia: Konsep dan Aplikasi dalam Pendidikan. Bandung: Alfabeta.
Quarcoo NR., et al. 2012.Impact of Audio-Visual Aids on Senior High School Student’s Achievement in
Physics. Eurasian Journal of Physics and Chemistry Education.
Rusman, dkk. 2012.Pembelajaran Berbasis Teknologi Informasi dan Komunikasi. Jakarta: Rawajali Press,
Cet. II.
S Sadiman A, dkk. 2011.Media Pendidikan. Jakarta: Rajawali Pers, Cet. XV.
Sudijono A.2008.Pengantar Evaluasi Pendidikan. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sudijono A.2009. Pengantar Statistik Pendidikan. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sudjana N. 2009. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosda Karya, Cet. XIV.
Sudjana. 2005. Metoda Statistika. Bandung: Tarsito, Cet. I.
Sugiyono. 2008. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

128

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 11 September 2014

Trianto. 2010.Pengantar Penelitian Pendidikan Bagi Pengembangan Profesi Pendidikan dan Tenaga
Kependidikan. Jakarta: Kencana, Cet. I.
Usman H, Setiady A, Purnomo.1995. Pengantar Statistika. Jakarta: Bumi Aksara.
WA Lorin, R Krathwohl, David. 2001. A Taxonomy for Learning, Teaching, and Assessing: a revision of
Bloom’s taxonomy of educational objectives. New York: Addison Wesley Longman, Inc.
Zhang D, et al.2006.Instructional Video in E-Learning: Assessing the Impact of Interactive Video on
Learning Effectiveness. Elsevier.

129

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Jakarta, 11 September 2014

PENGEMBANGAN LEMBAR KERJA SISWA (LKS) UNTUK MENGOPTIMALKAN
PRAKTIKUM VIRTUAL LABORATORY MATERI INDUKSI ELEKTROMAGNETIK
Novitasari
Pendidikan Fisika, Sekolah Pascasarjana, Universitas Pendidikan Indonesia

Email: p1p1n0v1t4s4r1@gmail.com
Agus Suyatna dan I Dewa Putu Nyeneng
Dosen Pendidikan Fisika FKIP Universitas Lampung

Abstrak
Perubahan medan magnetik dijadikan objek yang ditinjau dalam Materi Induksi
Elektromagnetik. Alat praktikum nyata sulit menvisualisasikan perubahan medan magnetik
terjadi saat magnet bergerak terhadap kumparan. Hal ini menyebabkan penyelenggaraan
praktikum visrtual laboratory menjadi pilihan yang tepat untuk menunjang kegiatan
pembelajaran. Salah satu upaya guru agar siswa tidak hanya mencapai tujuan pembelajaran
kognitif produk tetapi juga proses (KPS siswa), guru membutuhkan LKS untuk
mengoptimalkan praktikum virtual laboratory. Tujuan penelitian pengembangan ini untuk
mengetahui bentuk LKS yang dapat mengoptimalkan praktikum virtual laboratory pada Materi
Induksi Elektromagnetik, mengetahui hasil belajar ranah kognitif produk dan KPS siswa
setelah menggunakan LKS hasil pengembangan. Subjek penelitian dalam penelitian
pengembangan ini adalah siswa kelas IX SMPN 1 Bandar Lampung. Penelitian pengembangan
ini memiliki tujuh tahapan pengembangan yang terdiri dari analisis kebutuhan, identifikasi
sumber daya untuk memenuhi kebutuhan, identifikasi spesifikasi produk, pengembangan
produk, uji internal (uji materi, uji desain, uji kesesuaian RPP dengan LKS yang dikembangkan
dan alat praktikum virtual laboratory, uji kualitas LKS, dan uji satu lawan satu), uji eksternal
(uji kelompok kecil, uji kemenarikan dan kemudahan LKS), dan produksi. Berdasarkan
penelitian pengembangan ini, dapat disimpulkan bahwa bentuk LKS yang dikembangkan dapat
mengoptimalkan praktikum virtual laboratory pada Materi Induksi Elektromagnetik. Hasil
belajar kognitif produk setelah menggunakan LKS hasil pengembangan belum dapat
menuntaskan tujuan pembelajaran kognitif produk. KPS siswa setelah menggunakan LKS hasil
pengembangan telah dapat menuntaskan tujuan pembelajaran KPS.
Kata Kunci: LKS, praktikum virtual laboratory, Induksi Elektromagnetik, KPS, Hasil belajar

PENDAHULUAN
Pembelajaran fisika tidak hanya menekankan pada suatu penguasaan kumpulan pengetahuan, tetapi juga
suatu proses penemuan. Hal ini mengakibatkan proses penguasaan kumpulan pengetahuan dalam kegiatan
pembelajaran ditekankan pada pemberian pengalaman langsung. Oleh karena itu, pembelajarannya
dilaksanakan dengan menggunakan model inkuiri dan metode eksperimen.
Model inkuiri merupakan salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada pembelajaran berpusat
pada siswa (Student Center Learning). Model inkuiri cocok digunakan dalam kegiatan pembelajaran karena
pembelajarannya menekankan pada proses penemuan. Hal ini sejalan dengan pendapat Suyanto (2006:11)
yang menyatakan bahwa esensi dari model pembelajaran inkuiri untuk melibatkan siswa dalam masalah
yang sesungguhnya dengan cara memberikan tantangan kepada suatu area (lingkup) penyelidikan,
membantu mereka untuk mengidentifikasi suatu masalah secara konseptual atau bersifat metodologis, dan
merekayasa mereka untuk merancang cara pemecahan masalah tersebut. Pernyataan tersebut secara impilit
mengungkapkan bahwa materi pelajaran tidak diberikan secara langsung dalam kegiatan pembelajaran
dengan menggunakan model tersebut. Melainkan siswa dituntut untuk mencari dan menemukan sendiri
materi pelajaran dan guru hanya berperan sebagai fasilitator dan pembimbing.
Model inkuiri terbagi menjadi berbagai jenis inkuiri. Tentunya, pemilihan jenis inkuiri yang digunakan
dalam kegiatan pembelajaran bergantung pada kondisi siswa yang ada di sekolah. Berdasarkan hasil
wawancara tak langsung dengan guru yang mengajar di kelas IX SMPN 1 Bandar Lampung, guru belum
pernah menggunakan model pembelajaran inkuiri. Model inkuiri yang belum pernah digunakan dalam proses

130

SMPN 1 Bandar Lampung yang sudah memiliki satu LCD di setiap kelas dan laboratorium. seperti kegiatan praktikum dalam laboratorium fisika. Hal ini menjadikan penyelenggaraan praktikum virtual laboratory dalam kegiatan pembelajaran adalah pilihan yang tepat. model yang cocok digunakan dalam penelitian pengembangan yang dilaksanakan di IX SMPN 1 Bandar Lampung adalah model pembelajaran inkuiri terbimbing (guided inquiry). laboratorium virtual adalah ruangan yang dilengkapi dengan peralatan khusus untuk melakukan percobaan maya. Peralatan tersebut software dan hardware yang mendukung percobaan maya. LCD. pembelajaran di SMPN 1 Bandar Lampung yang belum terbiasa dengan penggunaan model inkuiri membuat jenis inkuiri terbimbing menjadi pilihan. Salah satunya adalah format sajian multimedia. Selain itu. Dari segi alat dan bahan. menjadikan beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyeleggaraan pelaksanaan praktikum tidak perlu dikhawatirkan dan dapat dipastikan penyelenggaraan praktikum dalam berjalan dengan lancar dan sesuai dengan Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP). Format sajian ini lebih ditujukan kepada kegiatan-kegiatan yang bersifat eksperimen. Djamarah & Zain (2010:84) mengungkapkan bahwa cara penyajian pembelajaran dalam metode eksperimen berkarakteristik siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri sesuatu yang dipelajari. Keunikan dari model pembelajaran tipe inkuiri terbimbing dibandingkan dengan tipe lainnya menurut Trowbridge dalam Sahrul (2009:1) adalah guru dapat memberikan pengarahan dan bimbingan kepada siswa dalam melakukan kegiatan-kegiatan pembelajaran. namun materi pembelajaran yang dibelajarkan perlu diperhatikan. Berdasarkan hasil observasi secara langsung di SMP N 1 Bandar Lampung mengungkapkan bahwa SMPN 1 Bandar Lampung sudah memiliki LCD dan seperangkat komputer yang ada di dalam laboratorium multimedia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) (2008:851 dan 1801).Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. 11 September 2014 pembelajaran di kelas IX SMPN 1 Bandar Lampung mengakibatkan siswa belum berpengalaman belajar dengan model inkuiri sehingga guru perlu menyediakan bimbingan dan petunjuk dalam kegiatan pembelajaran. sejumlah kegiatan mengekspesikan pengalaman langsung didalam metode eksperimen di mana siswa diberi kesempatan untuk melakukan eksperimen sendiri berdasarkan langkah-langkah yang telah ditentukan. Alat praktikum nyata belum tentu dapat memvisualisasikan garis medan magnetik agar dapat terlihat sehingga praktikum dilakukan bersifat virtual yang diselenggarakan dalam laboratorium virtual atau virtual laboratory. Selain itu. Tujuan format sajian ini adalah pengguna diharapkan dapat menjelaskan suatu konsep atau fenomena tertentu berdasarkan eksperimen yang dilakukan secara maya. jumlah perangkat komputer yang sesuai dengan rombel siswa dalam laboratorium multimedia. yaitu mengamati suatu objek. kondisi alat dan bahan yang akan digunakan harus baik dan bersih sehingga sebelum melakukan praktikum atau percobaan diperlukan persiapan untuk mengecek masing-masing alat dan bahan. Format sajian ini menyediakan serangkaian alat dan bahan yang kemudian dilanjutkan dengan 131 . Selain itu. keadaan atau proses sesuatu. Metode yang sesuai dengan model inkuiri terbimbing dan tepat digunakan dalam pembelajaran fisika adalah metode eksperimen. Software dapat berupa suatu multimedia interaktif dan hardware dapat berupa seperangkat komputer. Inkuiri terbimbing biasanya digunakan terutama bagi siswa-siswa yang belum berpengalaman belajar dengan pendekatan inkuiri. jumlah alat dan bahan di dalam melakukan sebuah percobaan harus cukup untuk tiap siswa sehingga siswa dapat merasakan sendiri pengalaman dari kegiatan percobaan yang dilakukan. membuktikan. dan materi pembelajaran. Pemilihan dan penyelenggaraan metode pembelajaran tidak hanya memperhatikan karakteristik siswa dan jenis pelajaran yang dibelajarkan. Banyak sekali jenis sajian multimedia yang dapat mendukung metode eksperimen. jenis pelajaran yang dibelajarkan. Trianto (2011:137) juga mengungkapkan bahwa beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam penyelenggaraan pelaksanaan praktikum adalah pengadaan alat dan bahan dan ketersediaan waktu. Selain karakteristik siswa. dan sebagainya yang dapat mendukung dilakukannya percobaan maya. Oleh karena itu. dan menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu obyek. dan setiap siswa juga telah memiliki laptop. menganalisis. Oleh karena itu. Hal ini dikarenakan cara penyajian pembelajarannya bersifat pemberian pengalaman langsung. Garis medan magnetik yang merupakan objek yang akan ditinjau dalam Materi Induksi Elektromagnetik membuat guru dituntut dapat menyelenggarakan praktikum di mana garis medan magnetik seolah-olah dapat diamati.

Tahap identifikasi sumber daya untuk memenuhi kebutuhan dilakukan dengan cara observasi langsung di SMPN 1 Bandar Lampung. Prosedur pengembangan ini memiliki tujuh tahap pengembangan produk. (5) uji internal: uji kelayakan produk. belum ada LKS yang dapat mendukung program PhET yang digunakan dalam kegiatan praktikum. Hasil dari pengembangan produk ini menjadi prototipe I. uji kualitas LKS. keefektifan produk. 2010:54). membuat penilaian tidak hanya dilihat dari segi hasil belajar kognitif produk tetapi juga proses (Keterampilan proses sains siswa) (Trianto. dan (7) produksi. (2) identifikasi sumber daya untuk memenuhi kebutuhan. Selanjutnya dilakukan revisi berdasarkan hasil yang telah diperoleh. KPS. (6) uji eksternal: uji kemanfaatan produk oleh pengguna. (4) pengembangan produk. Sebelum posttest dilakukan. Gambar Desain one shot study case dapat dilihat pada gambar 1. hasil belajar kognitif produk dan KPS siswa yang menggunakan LKS yang telah dikembangkan. 2010:222). dan uji satu lawan satu. Pada uji ini. Hasil dari identifikasi sumber daya dijadikan sebagai panduan untuk tahap pengembangan produk. Desain penelitian yang digunakan dalam uji kebermanfaatan produk oleh pengguna adalah desain one shot study case di mana sampel diberikan treatment yaitu penggunaan produk di dalam pembelajaran kemudian sampel diberi soal posttest dilihat dalam segi ketercapaian tujuan pembelajaran kognitif produk. Hal ini dikarenakan LKS memuat sekumpulan kegiatan mendasar yang harus dilakukan oleh siswa. Perlu adanya Lembar Kerja Siswa (LKS) yang dapat mengoptimalkan media tersebut sehingga siswa dapat mencapai tujuan pembelajaran yang hendak dicapai. yaitu: (1) analisis kebutuhan.” Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan. instrumen soal posttest diuji validitas dan reliabilitas terlebih dahulu. Tahap analisis kebutuhan dilakukan dengan cara wawancara langsung terhadap salah satu orang guru Fisika SMPN 1 Bandar Lampung. Penulis mencoba memberikan alternatif dengan membuat LKS yang dapat mengoptimalkan praktikum virtual laboratory Materi Induksi Elektromagnetik. menentukan jumlah LKS. Setelah valid dan reliabil.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. uji kesesuaian RPP dengan LKS dan alat praktikum virtual laboratory. Tahap uji eksternal dilakukan dengan cara menggunakan LKS dalam kondisi pembelajaran yang sebenarnya untuk melihat hasil belajar kognitif produk. Contoh sajian multimedia yang menampilkan cara eksperimen adalah berbagai eksperimen maya yang dikembangkan Universitas Colorado dalam bentuk program PhET. kemudian menyusun peta kebutuhan LKS. Menindaklanjuti kondisi tersebut. tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk LKS yang dapat mengoptimalkan praktikum virtual laboratory pada Materi Induksi Eketromagnetik. dan menentukan format LKS yang dapat mengoptimalkan praktikum virtual laboratory dengan memperhatikan hasil analisis kebutuhan dan hasil identifikasi sumber daya untuk memenuhi kebutuhan. Oleh karena itu. kemenarikan. uji desain. dan kemudahan menggunakan produk. penulis melakukan penelitian pengembangan dengan judul “Pengembangan Lembar Kerja Siswa (LKS) untuk Mengoptimalkan Praktikum Virtual Laboratory pada Materi Induksi Elektromagnetik. produk diberikan kepada siswa untuk digunakan sebagai media belajar. Hasil prototipe II akan dikenakan uji eksternal yaitu uji kebermanfaatan produk oleh pengguna. Tahap identifikasi spesifikasi produk diawali dengan melakukan analisis kurikulum. Kelima uji tersebut menghasilkan data kualitatif. Siswa seolah-olah melakukan serangkaian kegiatan eksperimen (mulai dari menyiapkan dan merangkai alat dan bahan sampai melakukan percobaan) dalam sajian multimedia percobaan. Tahap uji internal dilakukan dengan cara menguji prototipe I melalui uji materi. Tahap pengembangan produk dilakukan dengan cara merancang produk berdasarkan tahap sebelumnya yang disesuaikan dengan KPS yang dapat dimunculkan dalam LKS yang dikembangkan. Selain itu. uji Keefektivan produk (LKS) dilihat dari segi 132 . 11 September 2014 kegiatan eksperimen berdasarkan petunjuk yang telah disediakan (Daryanto. Penelitian pengembangan dalam penelitian ini berpedoman pada prosedur pengembangan Suyanto dan Sartinem (2009:322). Hasil revisi uji internal dijadikan sebagai prototipe II. METODE Subjek penelitian dalam penelitian pengembangan ini adalah seluruh siswa kelas IX SMPN 1 Bandar Lampung pada semester ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013 yang terdiri dari 6 kelas dengan masing-masing kelas berjumlah 24 orang. Penyelenggaraan praktikum belum cukup dengan mengandalkan adanya media. (3) identifikasi spesifikasi produk yang diinginkan pengguna.

11 September 2014 ketercapaian tujuan pembelajaran kognitif produk dilakukan di kelas IX. Tabel 1. “mudah”. atau para ahli memberikan masukan khusus terhadap LKS yang sudah dibuat. yaitu: “Ya” dan “Tidak”. posttest Selain uji coba kemanfaatan produk oleh pengguna dari segi keefektivan produk dilihat dalam segi ketercapaian tujuan pembelajaran kognitif produk dan KPS siswa. X O Gambar 1. Desain One Shot Case Study Di mana X: Treatment. jenis data. Skor penilaian dari tiap pilihan jawaban ini dapat dilihat dalam Tabel 2. uji desain. uji coba kemanfaatan produk oleh pengguna juga dilihat dalam segi kemenarikan dan kemudahan menggunakan produk. “sulit” dan “sangat sulit”.3 Tes Hasil Belajar pembelajaran kognitif Kuantitatif produk Uji keefektivan dalam segi Data siswa-siswa kelas IX. 133 . sumber data. “kurang menarik” dan “tidak menarik” atau “sangat mudah”.3 Lembar Observasi KPS Siswa Kuantitatif Teknik analisis data penilaian untuk uji materi. Prototipe III merupakan produk yang diproduksi dalam penelitian pengembangan ini. No 1. Data. 2. data. Jenis Data. dan uji kesesuaian RPP dengan LKS dan alat praktikum virtual laboratory memiliki 2 pilihan jawaban sesuai konten pertanyaan. Tentunya penilaian tidak hanya dilakukan dengan memberikan soal posttest. 5. Angket respon terhadap penggunaan produk. Kemudian dilakukan revisi berdasarkan hasil dari uji eksternal dan dijadikan sebagai prototipe III. Revisi dilakukan pada konten pertanyaan yang diberi pilihan jawaban “Tidak”. 6. namun penilaian KPS siswa juga dilakukan selama proses pembelajaran. 3. 4. uji kualitas LKS. Sumber Data.3 Lembar angket kemudahan Kuantitatif Uji keefektivan dalam segi ketercapaian tujuan Data siswa-siswa kelas IX. Sedangkan teknik analisis instrumen penilaian uji kemudahan dan uji kemenarikan LKS memiliki 4 pilihan jawaban sesuai konten pertanyaan. dan jenis instrumen penilaian yang digunakan dalam penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1. 7. dan Jenis Instrumen Penilaian Jenis Instrumen Data Jenis data Sumber Data Penilaian Satu orang dosen yang Uji desain Data Kualitatif Lembar angket ahli desain Satu orang dosen yang Uji materi Data Kualitatif Lembar angket ahli materi Uji kesesuaian RPP dengan Dua orang dosen yang LKS dan alat praktikum Data Kualitatif Lembar angket ahli dalam bidang sains virtual laboratory Dua orang guru fisika Uji Kualitas LKS Data Kualitatif SMPN 1 Bandar Lembar angket Lampung Uji kemanarikan dan Data siswa-siswa kelas IX. “menarik”. Data kemenarikan dan kemudahan LKS sebagai sumber belajar diperoleh dari siswa sebagai pengguna. penggunaan produk O: Hasil belajar siswa. misalnya: “sangat menarik”.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.3 yang berjumlah 24 orang siswa. Secara keseluruhan.

memudahkan guru untuk memonitor kegiatan. Hasil Uji internal dalam penelitian pengembangan ini adalah tidak adanya revisi LKS dari segi materi dan adanya revisi LKS dari segi desain.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.75 Tidak menarik Sangat sulit Sumber: Suyanto & Sartinem (2009:227) HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil analisis kebutuhan dalam penelitian pengembangan ini adalah dibutuhkannya LKS dalam kegiatan pembelajaran yang mengacu pada model inkuiri terbimbing dan metode eksperimen dengan memberdayakan sumber.25 Menarik Mudah 1. SMPN N 1 Bandar lampung memiliki potensi yang besar dalam pelaksanaan praktikum virtual laboratory. dan fasilitas belajar yang disediakan sekolah agar pembelajaran berpusat pada siswa.26-4. Skor Penilaian terhadap Pilihan Jawaban Pilihan Jawaban Pilihan Jawaban Skor Sangat menarik Sangat mudah 4 Menarik Mudah 3 Kurang menarik Sulit 2 Tidak menarik Sangat sulit 1 Rumus yang digunakan untuk menentukan kemenarikan dan kemudahan LKS yang dikembangkan adalah sebagai berikut: (1) dengan (2) Keterangan: = rata-rata akhir = nilai uji operasional angket tiap siswa banyaknya siswa yang mengisi angket Hasil penilaian uji ahli desain dan isi diinterpretasikan ke dalam kriteria pada Tabel 3. Hasil pengembangan produk mengacu pada hasil identifikasi spesifikasi produk yang diinginkan pengguna. Berdasarkan hasil identifikasi sumber daya. media. mengembangkan keterampilan proses siswa. dan mengarahkan siswa dalam menemukan konsep. jaringan hotspot. Hasil identifikasi sumber daya berdasarkan kebutuhan adalah dibutuhkannya perangkat komputer atau laptop untuk melaksanakan praktikum virtual laboratory dan sumber belajar yang dapat mendukung LKS. generator dan transformator. Hasil identifikasi spesifikasi produk yang diinginkan pengguna adalah Materi yang menjadi pokok bahasan dalam LKS yang dikembangkan adalah Materi Induksi Elektromagnetik. ruang kelas yang telah dilengkapi perlengkapan multimedia.00 Sangat menarik Sangat mudah 2. Hasil pengembangan produk dijadikan prototipe I. 11 September 2014 Tabel 2. dan kesesuaian RPP dengan LKS dan alat praktikum virtual laboratory. faktor-faktor GGL induksi. setiap siswa memiliki laptop. dan setiap siswa telah memiliki sumber belajar pendukung LKS. dan penugasan disetiap kegiatan dalam LKS yang dikembangkan dapat memunculkan KPS siswa. Hal ini dikarenakan sekolah telah memiliki la-boratorium komputer yang lengkap. Hasil revisi LKS dijadikan sebagai prototipe II.50 Kurang menarik Sulit 1.51-3. kualitas LKS. 134 . keterbacaan produk. LKS yang dikembangkan mengacu pada model inkuiri terbimbing dengan metode eksperimen. Kriteria Penilaian untuk Uji Kemenarikan dan Kemudahan dalam Tahap Eksternal Skor Kualitas Pernyataan kualitas aspek Pernyataan kualitas aspek kemenarikan kemudahan 3. Tabel 3. LKS yang dikembangkan berjumlah empat LKS dengan judul-judul LKS meliputi: GGL induksi.01-1.76-2.

3. 2. 135 .1 % No. Jenis LKS LKS GGL Induksi LKS Faktor-faktor GGL Induksi LKS generator dan LKS transformator Persentase ketercapaian tujuan pembelajaran KPS dan kognitif produk 33 % Hasil kualitas Keefektifan LKS dalam segi KPS dan kognitif produk LKS belum efektif 58 % LKS belum efektif 4. dan transformator ≥ 75 % siswa. Persentase ketercapaian tujuan pembelajaran KPS 83 % 88 % Ketuntasan tujuan pembelajaran KPS Tujuan Pembelajaran KPS tuntas Tujuan Pembelajaran KPS tuntas 75 % Tujuan Pembelajaran KPS tuntas Hasil keefektifan LKS dilihat dari segi pencapaian tujuan pembelajaran kognitif produk dan KPS siswa dapat dilihat dari Tabel 6. generator. Jenis LKS 1.3 % 2. hasil belajar KPS siswa setelah menggunakan LKS hasil pengembangan sudah dapat menuntaskan tujuan pembelajaran KPS siswa. persentase siswa yang tuntas tujuan pembelajaran setelah menggunakan LKS GGL induksi. Rangkuman Hasil Belajar Kognitif Produk Jenis LKS Nomor Soal Nilai Ratarata siswa Jumlah Siswa yang lulus KKM 80 Persentase siswa yang lulus KKM 1. dan transformator ≤ 75 % siswa. Berdasarkan Tabel 5. 1. 6 54 1 4. Berdasarkan Tabel 6. 11 September 2014 Hasil uji eksternal dalam penelitian pengembangan ini berupa bentuk LKS yang dapat mengoptimalkan praktikum virtual laboratory. LKS tidak efektif dilihat dari pencapaian tujuan pembelajaran kognitif produk dan KPS siswa. Tabel 6. LKS GGL Induksi LKS Faktor-faktor GGL Induksi LKS generator dan LKS transformator 3. Tabel 4. Berdasarkan Tabel 7. faktor-faktor GGL induksi. Hasil belajar KPS siswa dapat dilihat pada Tabel 5. data kemenarikan dan kemudahan menggunakan produk. Oleh karena itu. generator.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. LKS Faktor-faktor GGL Induksi 3 86 16 67 % 3. 7 79 2 8. didapatkan kesimpulan bahwa seluruh LKS yang dikembangkan memiliki nilai kuantitas kemudahan 3. persentase siswa yang tuntas tujuan pembelajaran setelah menggunakan LKS GGL induksi. LKS Generator 4 47 5 21 % 4. Oleh karena itu. data keefektifan LKS dilihat dari segi pencapaian tujuan pembelajaran kognitif produk dan KPS siswa.26 dengan kategori sangat mudah. data hasil belajar kognitif produk dan KPS siswa setelah menggunakan produk. faktor-faktor GGL induksi. 2. LKS Transformator 5. Tabel 5. Rangkuman Hasil Uji Keefektifan Produk dari Segi Ketercapaian Tujuan Pembelajaran KPS Siswa dan Kognitif Produk No. 2. Berdasarkan Tabel 4. LKS GGL induksi 1. Rangkuman Hasil Belajar KPS Siswa No.1 % LKS belum efektif Hasil uji kemudahan dapat dilihat pada Tabel 7. Ketuntasan tujuan pembelajaran Tujuan pembelajaran belum tuntas Tujuan pembelajaran belum tuntas Tujuan pembelajaran belum tuntas Tujuan pembelajaran belum tuntas Hasil hasil belajar kognitif produk siswa dapat dilihat pada Tabel 4. hasil belajar kognitif produk siswa setelah menggunakan LKS hasil pengembangan belum dapat menuntaskan tujuan pembelajaran kognitif produk.

(7) Kegiatan III: Merancang Percobaan berupa penyajian serangkaian pertanyaan yang membimbing menentukan alat dan bahan. 1. kegiatan memprediksi juga bertujuan agar siswa dapat mengajukan pemikiran tentang sesuatu yang belum terjadi berdasarkan kecenderungan sehingga siswa memunculkan keterampilan memprediksi. 11 September 2014 Tabel 7.08 Menarik 3. yaitu jawaban siswa berdasarkan kegiatan memprediksi dan jawaban siswa berdasarkan kegiatan kajian teoritis. menentukan 136 . dan langkah percobaan.33 Sangat Mudah Hasil uji kemenarikan dapat dilihat pada Tabel 8. (4) Bekal awal berupa penugasan yang menuntun siswa untuk memiliki kemampuan-kemampuan awal sebelum melakukan kegiatan praktikum. 2. (5) Kegiatan I: Penyajian Masalah berupa penyajian serangkaian pertanyaan berbasis masalah dan siswa memprediksi jawaban dari pertanyaan tersebut. Rangkuman Hasil Uji Kemenarikan Menggunakan LKS Nilai Kuantitas Nilai Kualitas Kriteria Kemenarikan LKS Kemenarikan LKS Desain Cover 3. Selain itu. Berdasarkan Tabel 8.08 3.29 Sangat Menarik 3.24 dengan kategori menarik.21 Menarik Berdasarkan ketujuh hasil penelitian pengembangan ini. Jawaban-jawaban dari pertanyaan-pertanyaan ini akan menuntun siswa dalam melakukan percobaan. Isi 2. meliputi: (1) Judul berupa judul materi yang akan dipraktikumkan. Perangkat komputer atau laptop boleh digunakan dalam kegiatan ini.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. secara garis besar LKS yang dikembangkan memiliki nilai kuantitas 3.38 3. Pertanyaan-pertanyaan disajikan secara terarah yang akhirnya akan membuat siswa dapat merumuskan dugaan sementara dari prediksi jawaban pertanyaan. Siswa diharapkan dapat menentukan alat dan bahan.46 Menarik Sangat Menarik Sangat Menarik 3. No. Kebahasaan Petunjuk dalam LKS Kejelasan Isi Kejelasan Penggunaan Bahasa Nilai Kuantitas Kemudahan LKS 3. (2) Pengantar berupa gambar yang didukung dengan wacana yang berisi apersepsi untuk membuat siswa tertarik melaksanakan kegiatan selanjutnya di dalam LKS.17 3.04 Menarik 3. (6) Kegiatan II: Merumuskan dugaan sementara berupa penyajian pertanyaan mengenai hubungan antara dua variabel dan penjelasan dari hubungan tersebut. Rangkuman Hasil Uji Kemudahan Menggunakan LKS No.38 Nilai Kualitas Kemudahan LKS Mudah Sangat Mudah 3. Bentuk penugasan berupa tugas membaca yang kemudian diberi tagihan berupa beberapa pertanyaan yang jawabannya didapatkan dari bacaan dan dan tugas mengenai penggunaan alat sebelum melakukan kegiatan praktikum agar siswa mengenal dan mengetahui cara-cara penggunaan alat dari percobaan yang akan dipraktikumkan.33 Sangat Menarik Kemenarikan Tulisan (Jenis Font dan Ukuran) Pemilihan Ilustrasi Gambar Desain Lay Out Penggunaan Warna Kesesuaian permasalahan dengan materi Petunjuk dalam LKS Alur Penyajian/Format Keseluruhan Media 3. Aspek Tampilan Isi Tabel 8. Jawaban siswa dalam kegiatan ini ada dua macam. Aspek Kriteria 1. (3) Tujuan percobaan berupa pemaparan tujuan dari percobaan yang akan dipraktikumkan sehingga siswa mengetahui tujuan dari percobaan yang akan dipraktikumkan. Siswa diharapkan dapat menyatakan hubungan dua variabel atau memperkirakan penyebab sesuatu terjadi dan mengajukan penjelasan yang konsisten beserta bukti-bukti sehingga memunculkan keterampilan berhipotesis. variabel-variabel yang diamati. didapat bentuk LKS yang dapat mengoptimalkan praktikum virtual laboratory.

(2) Menurut siswa soal-soal yang diujiankan merupakan soal konsep dan siswa belum terbiasa dengan jenis soal tersebut. dan menuliskan langkah percobaan atau merancang percobaan sehingga memunculkan keterampilan merencanakan percobaan. SIMPULAN Simpulan dari penelitian pengembangan ini sebagai berikut: 1. Berdasarkan rangkuman hasil belajar KPS pada Tabel 5. dan (3) Bahasa yang digunakan guru untuk menjelaskan materi pada siswa belum bisa dipahami oleh siswa tingkat SMP. didapatkan fakta bahwa: (1) Ada ujian mata pelajaran lain dilakukan pada hari yang sama dan siswa lebih memilih mempelajari ujian tersebut. Judul LKS disesuaikan dengan pokok bahasan yang akan dipraktikum dalam praktikum virtual laboratory. Kemungkinan faktor lain yang menjadi penyebabnya adalah kelemahan LKS yang diungkapkan oleh penguji ahli desain. Serangkaian kegiatan di dalam LKS diharapkan dapat membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran dari segi kognitif produk dan KPS siswa. Pengisian kalimat rumpang dengan cara memilih kata berdasarkan analisis hasil pengamatan. kognitif produk. siswa yang telah menggunakan LKS hasil pengembangan belum dapat menuntaskan tujuan pembelajaran kognitif produk yang telah ditetapkan. yaitu sebaikbaiknya LKS yang dikembangkan bila guru tidak dapat menguasai kelas. Siswa diharap-kan dapat memunculkan kegiatan me-nafsirkan pengamatan dan mengomunikasikan dari kegiatan ini. berupa penyajian serangkaian pertanyaan yang membimbing siswa untuk membuat kesimpulan berdasarkan hasil analisis percobaan. Siswa diharapkan dapat memunculkan keterampilan mengomunikasikan. Pilihan data dapat digaris bawah atau dilingkari. Berdasarkan wawancara langsung terhadap beberapa siswa. (8) Kegiatan IV: Melakukan Percobaan berupa penyajian tabel untuk mengisi data hasil pengamatan. uji kemudahan. Ketidakcocokan antara rangkuman hasil belajara KPS. Penilaian hasil belajar kognitif produk dilakukan setelah semua LKS digunakan.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. 137 . siswa yang telah menggunakan LKS hasil pengembangan dapat menuntaskan tujuan pembelajaran KPS yang telah ditetapkan. rangkuman data uji kemudahan pada Tabel 7 mengungkapkan bahwa LKS yang dikembangkan sangat mudah dan rangkuman data uji kemenarikan pada Tabel 8 mengungkapkan LKS yang dikembangkan menarik. dan ditulis. diukur. meliputi: a. dan uji kemenarikan mengindikasikan ada faktor lain yang siswa belum dapat menuntaskan tujuan pembelajaran kognitif produk. Pilihan kata dapat digaris bawah atau dilingkari. (10) Kegiatan VI. Penilaian KPS siswa dilakukan dengan cara observasi saat kegiatan pembelajaran berlangsung. dan kreatif dalam melakukan kegiatan pembelajaran maka LKS tidak dapat berjalan secara optimal. Berdasarkan wawancara langsung dengan observer yang mengobservasi KPS siswa. Selain itu. Siswa melaksanakan percobaan dengan tepat waktu dan mencatat hasil pengamatan berdasarkan penggunaan indera penglihat di dalam melakukan pengamatan sehingga memunculkan keterampilan melakukan pengamatan dan menafsirkan pengamatan dalam kegiatan ini. Berdasarkan faktor-faktor di atas. Bentuk LKS yang dapat mengoptimalkan praktikum virtual laboratory Materi Induksi Elektromagnetik. Data pada tabel diisi berdasarkan kegiatan melakukan percobaan. 11 September 2014 apa yang diamati. (2) Guru belum memanajemen kelas dengan baik sehingga pembelajaran yang dilakukan terlihat tergesa-gesa tanpa memperhatikan pemahaman siswa. Seharusnya jika LKS menarik dan pengisiannya dianggap sangat mudah oleh siswa serta menuntaskan tujuan pembelajaran KPS maka siswa juga dapat menuntaskan tujuan pembelajaran kognitif produk. memanajemen kelas dengan baik. Pengisian data hasil pengamatan dengan cara memilih data yang sesuai dengan hasil pengamatan. didapatkan beberapa kemungkinan penyebab kegagalan penggunaan LKS untuk menuntaskan tujuan pembelajaran kognitif produk. meliputi: (1) Guru belum bisa menguasai kelas sehingga ada beberapa siswa tidak memperhatikan penjelasan dari guru. maka perlu dilakukan penelitian lebih lanjut mengenai LKS hasil prototipe III. Berdasarkan rangkuman hasil belajar kognitif produk siswa pada Tabel 4. (9) Kegiatan V: Menganalisis Percobaan berupa penyajian serangkaian pernyataan yang kalimatnya masih rumpang untuk menganalisis data hasil pengamatan. serta terlalu banyak LKS yang harus dipelajari dan tidak mengerti bagian mana yang harus dipelajari.

3 %.1 %. 3. menimbang LKS yang mengoptimalkan praktikum virtual laboratory tidak dapat menuntaskan tujuan pembelajaran kognitif produk siswa. 3. dan persentase siswa yang tuntas tujuan pembelajaran KPS pada Materi Generator dan Transformator sebesar 75 %. 2. berupa penyajian serangkaian pertanyaan yang membimbing siswa untuk membuat kesimpulan berdasarkan hasil analisis percobaan. 138 . g. dan persen-tase siswa yang tuntas pembela-jaran Materi Transformator sebe-sar 4. Kegiatan IV: Melakukan percobaan berupa penyajian tabel yang membimbing siswa untuk mengisi data hasil pengamatan setelah melakukan pengamatan dalam praktikum virtual laboratory. persentase siswa yang tuntas tujuan pembelajaran KPS pada Materi Faktor-Faktor GGL Induksi sebesar 88 %. j. Kegiatan III: Merancang percobaan berupa penyajian serangkaian pertanyaan yang membimbing menentukan alat dan bahan. i. persentase siswa yang tuntas tujuan pembelajaran Materi Gene-rator sebesar 21 %. Kegiatan II: Merumuskan dugaan sementara berupa penyajian pertanyaan mengenai hubungan antara dua variabel dan penjelasan dari hubungan tersebut. Siswa memprediksi jawaban dari pertanyaan tersebut. Dugaan sementara didapat setelah siswa melakukan kajian teoritis kemudian dugaan dibuktikan dalam analisis percobaan setelah melakukan praktikum virtual laboratory. Penilaian tujuan pembelajaran kognitif produk sebaiknya dilakukan diakhir pembelajaran.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. SARAN Saran penelitian pengembangan ini sebagai berikut: 1. Pengoptimalan praktikum virtual laboratory difokuskan melengkapi hal-hal yang tidak dapat diamati dalam praktikum nyata sehingga LKS yang didesain untuk menyeimbangkan praktikum virtual laboratory dan praktikum nyata. d. e. Kegiatan VI. 4. 11 September 2014 b. Penyajian serangkaian pertanyaan ini akan menjadi panduan pembuatan rancangan percobaan untuk melakukan praktikum virtual laboratory. variabel-variabel yang diamati. Berdasarkan bukti empirik hasil uji coba eksternal dapat disimpulkan bahwa hasil belajar kognitif produk setelah menggunakan LKS hasil pengembangan belum dapat menuntaskan tujuan pembelajaran kognitif produk. Kegiatan V: Menganalisis percobaan berupa penyajian serangkaian pernyataan yang kalimatnya masih rumpang untuk menganalisis data hasil pengamatan. c. persentase siswa yang tuntas Materi Faktor-Faktor GGL Induksi sebesar 67 %. LKS yang dikembangkan perlu dilakukan penelitian lebih lanjut. Persentase siswa yang tuntas tujuan pembelajaran Materi GGL Induksi sebesar 8. f. Perihal yang ditugaskan mengenai materi yang harus dikuasai sebelum melakukan praktikum dan keterampilan dalam menggunakan piranti-piranti yang akan digunakan dalam praktikum virtual laboratory. Pengantar berupa wacana yang didukung dengan gambar yang dapat memunculkan motivasi dan apersepsi siswa mengenai pokok bahasan yang dipraktikumkan dalam praktikum virtual laboratory. dan langkah percobaan yang kemudian menjadi panduan dalam melaksanakan praktikum virtual laboratory. Berdasarkan bukti empirik hasil uji coba eksternal dapat disimpulkan bahwa KPS siswa setelah menggunakan LKS hasil pengembangan sudah dapat menuntaskan tujuan pembelajaran KPS. Persentase siswa yang tuntas tujuan pembelajaran KPS pada Materi GGL Induksi sebesar 83 %. h. Tujuan percobaan tiap LKS mengacu pada tujuan dari percobaan yang dapat dipraktikumkan dalam praktikum virtual laboratory. Penggunaan praktikum virtual laboratory bukan sebagai pengganti praktikum nyata tetapi sebagai pelengkap praktikum nyata sehingga siswa memahami kebermaknaan IPA sebagai produk. Kegiatan I: Penyajian masalah berupa penyajian serangkaian pertanyaan berbasis masalah disertai gambar yang diambil dari praktikum virtual laboratory. Bekal awal berupa penugasan disertai tagihan agar siswa memiliki kemampuan awal sebelum melakukan praktikum virtual laboratory. 2.

2009. Universitas Lampung.com. Makalah Mata Kuliah Strategi Pembelajaran Fisika. Sahrul. Media Pembelajaran (Peranannya sangat penting dalam tujuan pembelajaran).Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Suyanto E. Strategi Belajar mengajar. Mengembangkan Model Pembelajaran Tematik Cetakan ke-2. 11 September 2014 DAFTAR PUSTAKA Daryanto. Jakarta. Suyanto E. 139 . Prestasi Pustaka. _____. Sartinem. Trianto. 2011. Mitra Pelajar. Yogyakarta. 2010. Jakarta. 2006. Diakses 17 Desember 2011 dari http://sahrulgmail. Macam-macam Model Pembelajaran Inkuiri. Syaiful B. Rineka Cipta. Jakarta. Bandarlampung. Kamus Lengkap Bahasa Indonesia. 2005. Pembelajaran IPA Terpadu. Djamarah. Aswan Zain. 2010. Artikel. Prosiding Seminar Nasional Pendidikan 2009. 2010. 2009. 322. Kencana. Pengembangan Contoh Lembar Kerja Fisika Siswa dengan Latar Penuntasan Bekal Awal Ajar Tugas Studi Pustaka dan Keterampilan Proses Untuk SMA Negeri 3 Bandarlampung. Gava Media. Hoetomo. Surabaya.blogspot. Penguasaan Teori dan Praktik Membuat Skenario Pembelajaran Mikro.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan menggunakan LKS terhadap kemampuan berpikir kritis siswa Madrasah Aliyah Qamarul Huda Bagu Lombok Tengah. Sampel penelitian terdiri dari dua kelas yang diambil secara simple random sampling. salah satunya adalah kemampuan berpikir kritis. Hal ini menyebabkan kualitas dan kuantitas proses dan produk pembelajaran fisika masih rendah. 11 September 2014 PENGARUH PEMBELAJARAN FISIKA BERBASIS INKUIRI TERBIMBING MENGGUNAKAN LKS TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA MADRASAH ALIYAH QAMARUL HUDA BAGU LOMBOK TENGAH Kosim FKIP IPA Universitas Mataram kosim63@gmail. menafsirkan data dan bereksperimen secara bertahap sesuai 140 . metode yang kurang bervariasi. padahal tujuan pembelajaran fisika sebagai proses adalah meningkatkan kemampuan berpikir siswa. berkomunikasi. Hal ini mengakibatkan tidak terlatihnya kemampuan berpikir siswa terutama kemampuan berpikir tingkat tinggi. objektif dan kreatif. keterampilan berpikir kritis PENDAHULUAN Pembelajaran fisika yang merupakan bagian dari IPA. Uji hipotesis menggunakan uji t dua sampel independen dengan bantuan program spss pada taraf signifikansi 0. Kondisi ini mengakibatkan proses pembelajaran kurang memberikan kesempatan siswa untuk terlibat aktif dalam proses pembelajaran fisika.com Yuyu Sudarmini MA Qamarul Huda Bagu Lombok Tengah Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan menggunakan LKS terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Siswa perlu diberikan kemampuan seperti mengamati. Proses belajar mengajar dimulai dengan orientasi dan penyajian informasi yang berkaitan dengan konsep yang akan dipelajari. menggolongkan. Menurut Wirtha & Rapi (2008). pemberian contoh soal dan dilanjutkan dengan memberikan tes. Kenyataan yang terjadi di lapangan menunjukan bahwa masih banyak guru yang menggunakan metode ceramah sehingga siswa kurang diberikan kesempatan untuk terlibat aktif selama proses pembelajaran. untuk mengetahui kemampuan keterampilan berpikir kritis siswa. 2006). Kategori Peningkatan keterampilan berpikir kritis dianalisis menggunakan rumus N-gain. Populasi dalam penelitian adalah siswa kelas XI IPA MA Qamarul Huda Bagu Lombok Tengah. LKS. menguasai konsep IPA dan mengembangkan kemampuan berpikir kritis (Badan Standar Nasional Pendidikan.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. guru kurang kreatif dan aktif dalam memaksimalkan peranan siswa dalam pembelajaran. Kelas yang tepilih pertama menjadi kelas eksperimen yang diberikan perlakukan pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbimbing dengan menggunakan LKS dan kelas yang terpilih kedua dijadikan kelas kontrol dengan perlakuan pembelajaran konvensional’.05 (𝛼 = 5%). Kondisi ini juga diperkuat oleh pernyataan Keefer dalam Trianto (2007) mengungkapkan bahwa kebanyakan guru masih bertahan pada model pembelajaran klasikal yang didominasi oleh kegiatan ceramah dimana arus informasi lebih bersifat satu arah dan kegiatan berpusat pada guru. Kata kunci : Inkuiri terbimbing. sehingga siswa tidak hanya mampu dan terampil dalam bidang psikmotorik. tetapi juga mampu berpikir secara sistematis. Dari segi kualitas terlihat dari pemilihan pendekatan. Teknik pengumpulan data menggunakan pretes dan postes pada kedua kelas tersebut dengan materi fisika yang sama. Jenis penelitian yang digunakan adalah eksperimen. diharapkan pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran IPA itu sendiri seperti yang dinyatakan dalam Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 22 Tahun 2006 bahwa tujuan pembelajaran IPA di sekolah menengah adalah agar siswa berkompeten untuk melakukan metode ilmiah untuk menyelesaikan suatu masalah. mengukur. strategi.

Kondisi ini menunjukan bahwa kemampuan berpikir kritis siswa sebelum diberikan perlakuan pada kedua kelas dapat dikatakan hampir sama.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. kemudian diuji untuk mencari tahu jawaban dari hipotesis yang telah dibuat melalui kegiatan eksperimen. Interpretasi Skor Gain Ternormalisasi Nilai (g) Kategori 0. Salah satu cara agar dapat memberikan penekanan lebih besar pada aspek proses adalah dengan mengkondisikan proses pembelajaran sedemikian rupa melalui pembelajaran yang tepat. METODE Penelitian ini merupakan jenis penelitian eksperimen dengan menggunakan pretest-postest control group design.70 Sedang 0. 11 September 2014 tingkat berpikir anak dan materi pelajaran.31 < (g) ≤ 0. Populasi dalam penelitian adalah siswa kelas XI IPA MA Qamarul Huda Bagu Lombok Tengah. Sampel penelitian diambil secara simple random sampling.yang sesuai dengan kurikulum. siswa diharapakan dapat menganalisis sehinga dapat ditarik suatu kesimpulan yang tepat terhadap konsep fisika yang ingin ditanamakan pada siswa. salah satunya adalah dengan diberikannya pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan menggunakan LKS karena dalam pembelajaran ini siswa dilatih untuk merumuskan permasalahan berdasarkan hasil observasi dalam bentuk cerita yang terdapat dalam LKS. sehingga di dapat satu kelas sebagai kelas eksperiment dan satu kelas lagi sebagai kelas kontrol. Dari data yang diperoleh dari kegiatan eksperimen. Variabel dalam penelitian ini yaitu pembelajaran fisika sebagai variabel bebas dan kemampuan berpikir kritis sebagai variabel terikat. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis di analisis menggunakan rumus N-gain ternormalisasi dengan rumus g ( s post  s pre ) ( smax  s pre ) (1) Hasil analisis peningkatan kemampuan berpikir kritis dikategorikan kedalam kategori tinggi. Data skor kemampuan keterampilan berpikir kritis siswa dikumpulkan dengan menggunakan tes essay sebanyak 8 soal.71 < (g) ≤ 1. Oleh karena itu tujuan dalam penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan mengunakan LKS terhadap kemampuan berpikir kritis siswa.00 Tinggi Pengujian hipotesis menggunakan uji t dua sampel independen dengan taraf kepercayaan 95 % dengan bantuan program spss. Demikian pula dengan persentase skor rata-rata peningkatan (gain) ternormalisasi kemampuan berpikir kritis siswa yang mendapatkan pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan menggunakan LKS mengalami peningkatan (gain) ternormalisasi kemampuan berpikir kritis lebih tinggi daripada rata-rata 141 .30 Rendah 0. persentase skor rata-rata kemampuan berpikir kritis siswa pada saat postes untuk kelas eksperimen lebih tinggi dari pada kelas kontrol. agar dapat memberikan penekanan lebih besar pada aspek proses. Hasil ini menunjukkan bahwa skor rata-rata pretes kelas kontrol lebih tinggi daripada kelas eksperimen namun dengan selisih nilai yang tidak berbeda jauh yaitu sebesar 1. Setelah diberikan perlakuan pada kedua kelas. lalu merumuskan hipotesis. Pada uji homogenitas data pretes menunjukkan bahwa kedua sampel homogen.00 < (g) ≤ 0. Adanya tahapan-tahapan yang dilalui oleh siswa seperti di atas selama proses pembelajaran diharapkan dapat memberikan dampak terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. sedang dan rendah seperti ditunjukan pada tabel Tabel 1. Sebelum dilakukan uji hipotesis dilakukan uji prasayarat yaitu uji normalitas pada masing-masing sampel dan uji homogenitas untuk kedua sampel. HASIL DAN PEMBAHASAN Deskripsi data untuk keterampilan berpikir kritis siswa diperoleh dari hasil pretes dan postes baik dari kelas kontrol maupun kelas eksperimen yang ditampilkan pada Gambar 1.4 %.

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. siswa tidak hanya menerima begitu saja tetapi melatih siswa untuk mencari tahu jawaban dengan percobaan yang tepat.05. maka diperoleh nilai t hitung=5. lalu berusaha mencari tahu jawaban atas permasalahan yang telah diajukan oleh siswa melalui kegiatan eksperimen yang telah dirancang sendiri secara ilmiah sehingga mampu menganalisis. sementara persntase peningkatan (gain) ternormalisasi keterapilan berpikir kritis pada siswa yang mendapatkan pembelajaran fisika secara konvensional sebesar 30 % termasuk dalam kategori rendah.Kenyataan ini diperkuat oleh hasil uji hipotesis dengan menggunakan uji t dua sampel independen seperti pada Tabel 2 berikut ini.4 KONTROL POSTES N-GAIN Gambar 1. 11 September 2014 Persentase (%) peningkatan (gain) ternormalisasi kemampuan berpikir kritis siswa yang mendapatkan pembelajaran fisika secara konvensional. (2-tailed) Mean Diff erence 5.000 .054 .29 .482 Sig. menyimpulkan dan menerapkan konsep yang telah diperoleh dari kegiatan eksperimen tersebut dengan tepat melalui bimbingan yang terdapat dalam LKS.29 . Postes dan N-Gain (g) untuk Kemampuan Berpikir Kritis Hal ini menunjukan dengan adanya pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing degan menggunakan LKS memberikan dampak yang lebih baik terhadap kemampuan berpikir kritis siswa daripada dengan pembelajaran fisika secara konvensional.4 PRETES EKSPERIMEN 30 22 23.320 37.399 5.000 .383 lebih besar daripada nilai sig=0. Grafik Persentase Skor Rata-rata Pretes. Persentase Peningkatan (gain) ternormalisasi kemampuan berpikir kritis pada siswa yang mendapatkan pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing sebesar 59% termasuk dalam kategori sedang. 100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 86 59 55.055 .180 .383 41 .479 . Adanya kondisi pembelajaran seperti ini menuntut siswa untuk mau berpikir.182 . Hasil uji t dengan menggunakan software SPSS Independent Samples Test Lev ene's Test f or Equality of Variances F NGKBK Equal v ariances assumed Equal v ariances not assumed 1.401 t df Std. Peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa yang mendapatkan pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan menggunakan LKS lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran fisika secara konvensional. Hal ini berarti terdapat pengaruh pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan mengunakan LKS terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. Hal ini menunjukan bahwa terdapat perbedaan peningkatan kemampuan berpikir kritis antara siswa yang mendapatkan pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan menggunakan LKS dan siswa yang mendapatkan pembelajaran fisika secara konvensional. data varian kedua sampel homogeny. Kenyataan ini disebabkan karena dalam pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan menggunakan LKS menuntut siswa untuk menggunakan seluruh kemampuan berpikirnya terutama kemampuan berpikir kritis dalam menemukan permasalahan yang disajikan dalam LKS. 142 .230 t-test for Equality of Means 95% Confidence Interv al of the Diff erence Lower Upper Sig. Tabel 2. Error Diff erence Berdasarkan Tabel 2. Hal ini berarti terdapat pengaruh pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan mengunakan LKS terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. .

sementara pada siswa yang mendapatkan pembelajaran fisika secara konvensional lebih bersifat mengikuti dan melakukan perintah yang terdapat pada LKS konvensional sehingga siswa tidak dilatih untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Persentase peningkatan tiap indikator kemampuan berpikir kritis yang digunakan dalam penelitian baik pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol mengalami peningkatan seperti pada Gambar 2 berikut ini. Hal ini berarti kemampuan berpikir kritis siswa dapat ditingkatkan dengan pembelajaran yang dapat memberi kesempatan kepada siswa untuk terlibat aktif dalam menggunakan seluruh kemampuan berpikir selama proses pembelajaran. Pada kelas eksperimen maupun pada kelas kontrol peningkatan tertinggi terletak pada indikator melaporkan hasil observasi.07%. Kenyataan ini disebabkan karena siswa yang mendapatkan pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan menggunakan LKS diberi kesempatan untuk mengembangkan kemampuanya dalam berpikir baik kemampuan melaporkan hasil observasi berdasarkan apa yang diamati. salah satunya adalah pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan menggunakan LKS. kemampuan merancang eksperimen untuk mencari tahu jawaban atas pertanyaan yang muncul dari hasil observasi. Hal ini juga diperkuat dengan pernyataan Jufri (2009) yang mengungkapkan bahwa kegiatan pembelajaran berbasis inkuiri dapat membantu siswa untuk mengembangkan kompetensi yang berkaitan dengan indikator berpikir kritis. Hal ini disebabkan karena kemampuan ini sudah biasa dilakukan siswa pada kegiatan-kegiatan praktikum sehingga kemampuan melaporkan hasil observasi bukan sesuatu yang baru 143 .Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Kemampuan berpikir kritis siswa yang belajar dengan menggunakan kartu inkuiri biologi lebih tinggi dibandingkan dengan siswa yang tidak belajar dengan kartu inkuiri biologi. Oleh karena itu pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan menggunakan LKS sangat tepat diterapkan dalam pembelajaran sebagai salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa. Sedangkan peningkatan terendah pada indikator kemampuan menarik kesimpulan untuk kelas eksperimen sebesar 24% dan indikator kemampuan menyatakan tafsiran untuk kelas kontrol sebesar 6. Grafik Persentase Skor N-Gain setiap Indikator Kemampuan Berpikir Kritis Gambar 2 menunjukan bahwa kelas eksperimen mengalami peningkatan lebih tinggi dari pada kelas kontrol pada setiap indikator kemampuan berpikir kritis.6% pada kelas ekperimen dan 51. Hal yang senada juga diungkapkan oleh Lawson (2001) dalam (Suardana. 2008) yang menyatakan bahwa siswa dapat ditingkatkan keterampilan berpikir kritisnya jika kurikulum didesain secara eksplisit untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis melalui urutan pembelajaran inkuiri dari konsep yang dipahami dan dapat diamati (observable) menuju konsep yang tidak dipahami dan abstrak. 11 September 2014 Penelitian ini sejalan dengan hasil penelitian Rubiyanto (2010). kemampuan menyatakan tafsiran dan kemampuan menarik kesimpulan berdasarkan hasil ekperimen maupun kemampuan menerapakan konsep berdasarkan apa yang telah diperoleh dari hasil ekpserimen melalui pertanyaanpertanyaan penuntun yang terdpat dalam LKS inkuiri. Peningkatan tertinggi terletak pada indikator kemampuan melaporkan hasil observasi sebesar 64. Karena selama proses pembelajaran berlangsung.2% pada kelas kontrol. yang mengungkapkan bahwa terdapat perbedaaan kemampuan berpikir kritis antara siswa yang belajar dengan menggunakan kartu inkuiri biologi dengan siswa yang tidak belajar dengan menggunakan kartu inkuiri biologi. tahapan-tahapan dalam pembelajaran inkuiri yang disajikan dalam LKS dapat melatih kemampuan berpikir kritis siswa. kelas eksperimen 80 kelas kontrol 60 40 20 0 Gambar 2.

Hal ini disebabkan karena dalam pembelajaran inkuiri siswa dituntut untuk merumuskan dan membuat hipotesis serta merancang suatu percobaan untuk menguji rumusan masalah yang telah dibuat. Program Pascasarjana Universitas Mataram. Peraturan Meneteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia No 22 Tahun 2006 Tentang Standdar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menegah. SARAN Rekomendasi yang dapat dijadikan saran yaitu : (1) Guru hendaknya menerapkan pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan menggunakan LKS dalam proses belajar mengajar karena dapat memberikan dampak positip terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. kemampuan siswa dalam mengobservasi bersifat terbatas karena siswa mengamati apa yang sudah diperintahkan dalam LKS sehingga tidak diberikan kesempatan kepada siswa secara luas dalam menggunakan dan mengembangkan kemampuan berpikirnya selama proses pembelajaran. 2007. (3) Pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan menggunakan LKS diharapkan dapat menjadi salah satu cara agar pembelajaran tidak lagi berpusat kepada guru melainkan berpusat kepada siswa. Tesis. 11 September 2014 ditemui oleh siswa. siswa masih membutuhkan bimbingan yang lebih banyak dalam hal menghubungkan antara kesimpulan yang diambil dengan rumusan masalah yang telah dibuat. DAFTAR PUSTAKA Badan Standar Nasional Pendidikan. Jakarta : BSNP Jufri AW. Rubiyanto. Pada kelas kontrol kemampuan menyatakan tafsiran mengalami peningkatan terendah. Peranan Perangkat Pembelajaran Berbasis Inkuiri Dan Implementasinya Dengan Strategi Kooperatif Terhadap Perkembangan Keterampilan Berpikir Kritis. dan menganalisis sesuai kemampuan berpikir siswa tanpa ada batasan dari guru. 2006. Hal ini merupakan sesuatu yanag baru. Meskipun demikian kemampuan siswa dalam melaporkan hasil observasi pada kelas yang mendapatkan pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan mnggunakan LKS lebih tinggi dari pada kelas yang mendapatkan pembelajaran fisika secara konvensional. sehingga guru hanya berperan sebagai fasilitator. Teaching and Learning analysis of basic Chemistry In Developing Teaching and Learning Of Critical Thinking Skils PROCEEDING The Second International Seminar on Science Education: 551-556. Trianto. Hal ini dikarenakan siswa yang mendapatkan pembelajaran fisika secara konvensional belum terbiasa untuk menafsirkan atau mengintrepetasikan suatu data terutama dalam bentuk grafik secara tepat. 2009. Suardana IW. 144 .Diharapkan kepada guru untuk mengkombinasikan pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan menggunakan LKS dengan model pembelajaran lain terutama untuk materi yang bersifat abstrak.(2).Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Sedangkan pada kelas yang mendapatkan pembelajaran fisika secara konvensional. Penerapan Pembelajaran dengan Kartu Inkuiri Terbimbing Melalui Strategi kooperatif Untuk Meningkatkan Keterampilan Bepikir Kritis Dan Retensi siswa SMPN 2 Mataram. 2008. Jurnal Pendidikan Biologi 1(1): 87-92. Hal ini dikarenakan siswa yang mendapatkan pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan menggunakan LKS dilatih untuk dapat melaporkan apa yang diamati secara ilmiah karena selam proses pembelajaran siswa diberi kesempatan untuk mengamati. Sedangkan pada kelas eksperimen peningkatan terendah berada pada indikator kemampuan menarik kesimpulan. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan mengunakan LKS terhadap kemampuan berpikir kritis siswa. ini berarti tingkat pemahaman terhadap materi tersebut masih rendah. Kemampuan berpikir kritis siswa yang mendapatkan pembelajaran fisika berbasis inkuiri terbimbing dengan menggunakan LKS lebih baik daripada siswa yang mendapatkan pembelajaran fisika secara konvensional. Model-Model Pembelajaran Inovatif. 2010. Jakarta : Prestasi Pustaka.

Pengaruh Model Pembelajaran dan Penalaran Formal terhadap Penguasaan Konsep Fisika dan Sikap Ilmiah Siswa SMA Negeri 4 Singaraja. Lembaga penelitian Undiksha. 11 September 2014 Wirtha IM. Rapi NK.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Hal 15-28. JPP. 145 . April 2008. 2008.

Dari hasil tes diperoleh nilai rata-rata kelas eksperimen (85. Penentuan perbandingan ini tidak dapat dilakukan secara langsung namun dilakukan dengan cara perhitungan yang memerlukan pemahaman dasar siswa tentang konsep asam basa dan berhubungan dengan konsep materi larutan elektrolit dan nonelektrolit dan materi kesetimbangan kimia sebelumnya. tahun ajaran 2013/2014.Hal ini merupakan suatu hambatan bagi siswa untuk memahami konsep tersebut.05 dengan derajat kebebasan 38 diperoleh thitung= 1. asam basa.co.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.15). chemistry triangle. Proses pembelajaran dikembangkan berorientasi pendekatan saintifik.Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Ion H+ dan ion OH. Hasil uji normalitas dan homogenitas dari hasil tes akhir didapat bahwa kedua kelas sampel terdistribusi normal dan homogen. Berdasarkan analisis diperoleh bahwa penggunaan LKS berbasis inkuiri terbimbing berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.Materi asam basa ini dipelajari di kelas XI semester 2 pada kurikulum 2013.Salah satu materi kimia yang dipelajari di SMA/MA adalah asam basa. dimulai dari yang paling sederhana atau mendasar sampai pada yang kompleks. siswadituntut untuk menentukan pH larutan asam/basa kuat dan asam/basa lemah. Hamka Air Tawar Padang Abstrak Kurikulum 2013 menuntut perubahan dalam proses pembelajaran dari siswa diberi tahu menjadi siswa mencari tahu. 2010:2). untuk itu diperlukan bahan ajar yang berorientasi proses saintifik yang dapat menfasilitasi terjadinya siswa aktif.iryani@yahoo. dan berkomunikasi). Sebagian besar bahan kajian asam basa bersifat abstrak. Asam menurut Arrhenius adalah zat yang di dalam air menghasilkan ion H + dan basa adalah zat yang di dalam air menghasilkan ion OH-.Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh penggunaan LKSberbasis inkuiri terbimbing dengan representasi chemistry triangle terhadap hasil belajar siswa untuk materi asam basa. dimana siswa aktif (mengamati. Hamka Air Tawar Padang in. contohnya sesuai dengan salah satu indicator yaitu setelah mempelajari asam basa. di mana hasil belajar siswa yang menggunakan LKS berbasis Inkuiri Terbimbing lebih tinggi secara signifikan dibandingkan dengan hasil belajar siswa tanpa menggunakan LKS berbasis Inkuiri Terbimbing pada materi asam basa di kelas XI SMAN 1Batusangkar. Prof. Tujuan penelitian adalah untuk mengungkapkan pengaruh penggunaan LKS berbasis Inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar siswa pada materi asam basa. DR. seperti konsep asam basa Arrhenius. sifat-sifat. mengasosiasi. Sampel terdiri dari dua kelas yaitu: kelas XI IPA4sebagai kelas kontrol dan kelas XI IPA2 sebagai kelas eksperimen. DR. representasi. bertanya. pH suatu larutan dipengaruhi oleh perbandingan jumlah ion H + dan OH-di dalam larutan.84 dan ttabel= 1. maka pada saat pembelajaran asam basa diperlukan pengetahuan prasyarat yang berhubungan 146 . dengan rancangan “Randomized Control Group Posttest Only Design”. dan transformasi dari suatu materi (Brady.sebagai populasi adalah siswa kelas XI IPA SMAN 1 BatuSangkar sebanyak 4 kelas. Oleh sebab itu dalam proses pembelajarannya guru harus bisa mengonstruksikan model-model atau analogi-analogi yang tepat sehingga konsep mudah diterima oleh siswa. 11 September 2014 PENGARUH PENGGUNAAN LKS BERBASIS INKUIRI TERBIMBING DENGAN REPRESENTASI CHEMISTRY TRIANGLE TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA UNTUK MATERI ASAM BASA KELAS XI SMA Iryani Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Padang Jl.Salah satu bahan ajar tersebut adalah LKS berbasis inkuiri terbimbing dengan representasi chemistry triangle. hasil belajar. Prof. Konsep-konsep asam basa dipelajari dengan urutan tertentu. Kata Kunci: inkuiri terbimbing. asam basa menurut Bronstead Lowry dan Lewis.id Mawardi dan Andromeda Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Padang Jl. PENDAHULUAN Ilmu kimia adalah ilmu yang mempelajari tentang komposisi. Analisis data dilakukan dengan uji-t pada taraf nyata 0.yang dihasilkan tersebut tidak dapat diamati secara langsung.Dengan demikian.15) dan kelas kontrol (81. Pengumpulan data dilakukan dengan pemberian tes di akhir penelitian.68.

dan berkomunikasi (kemendikbud. pembentukan konsep. (4) mendiskusikan dan berinteraksi dengan orang lain. Pertanyaan kunci ini merupakan jantung dari kegiatan inkuiri terbimbing untuk membimbing siswa mengeksplorasi suatu model (Hanson. Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah : apakah penggunaan LKS berbasis inkuiri terbimbing dengan 147 . Namun kenyataannya. pengalaman.3) Sedangkan aplikasi atau latihan berfungsi untuk memperkuat konsep-konsep pada materi asam basa yang telah ditemukan oleh siswa. makroskopik dan submikroskopis (Gilbert. (2) mengikuti siklus pembelajaran eksplorasi. maka diperlukan bahan ajar yang berorientasi proses saintifik yang dapat menfasilitasi terjadinya siswa aktif. Proses pembelajaran menurut ilmu kognitif menyatakan bahwa orang belajar dengan cara: (1) membangun pemahaman mereka sendiri berdasarkan pengetahuan awal. seperti Kota Padang. Untuk itu Johnstone mengusulkan model untuk memahami masing-masing elemen inti yang digambarkan menggunakan tiga jenis representasi (Chemistry triangle) di mana ide-ide kimia dinyatakan yaitu : simbolis. ikatan kovalen masalah berbagi elektron. Payakumbuh dan Batusangkar. proses pembelajaran kimia selama ini masih berorientasi pada hafalan sehingga proses penemuan konsep menjadi sering terabaikan karena kurangnya keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran. melibatkan mental yang menyangkut representasi (gambaran) ide dan fenomena dimana ide tersebut berhubungan. ikatan kimia akan terbentuk apabila electron berpasangan. 2011). hafalan. dan aplikasi. Pemerintah terus berupaya untuk meningkatkan mutu pendidikan di Indonesia. Berdasarkan uraian di atas telah dilakukan penelitian tentang pengaruh penggunaan LKS berbasis inkuiri terbimbing dengan representasichemistry triangleterhadap hasil belajar siwa untuk materi asam basa. informasi. Pembelajaran kimia melibatkan suatu pengenalan terhadap ide-ide pokok. dll. 2007). pembentukan konsep. (5) merefleksikan kemajuan dan menilai kinerja. Pertanyaan kunci merupakan pertanyaan-pertanyaan yang akan membimbing siswa untuk menemukan konsep-konsep pada materi asam basa. pengenalan rumus-rumus.Pemerintah khususnya Kemendikbud telah memberlakukan Kurikulum 2013 mulai semester ganjil 2013.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.2005. (3) menghubungkan dan memvisualisasikan konsep-konsep dan representasi yang beragam. Dari hasil observasi dan tanya-jawab penulis dengan guru kimia dan siswa di beberapa SMA di Sumatera Barat. senyawa terdiri dari dua atau lebih unsur yang dalam banyak kasus ini melibatkan penciptaan spesifik. serta uraian materi yang terdapat pada LKS belum mendukung siswa dalam proses pencarian dan pembentukan konsep. bertanya. model. dan pengenalan istilah-istilah melalui serangkaian latihan secara verbal. aplikasi dan penutup. Model-model dan informasi merupakan data atau pusat perhatian yang akan diamati dan dinalisis oleh siswa untuk menemukan konsep-konsep pada materi asam basa.Orientasi merupakan materi prasyarat yang harus dikuasai siswa sebelum mempelajari materi asam basa. Proses pembelajaran yang dituntut dalam kurikulum 2013 ini adalah proses pembelajaran berorientasikan siswa aktif yang ditandai dengan aktivitas peserta didik berupa latihan untuk mengamati. sikap. Bukittinggi. Memahami ide-ide tersebut. keterampilan. pertanyaan kunci dan aplikasi atau latihan. dan keyakinan. diperoleh suatu kesimpulan bahwa LKS yang digunakan selama ini masih bersifat verbal dan belum ada LKS yang berbasiskan siklus belajar inkuiri terbimbing. seperti: unsur-unsur kimia secara periodik ditampilkan dalam bentuk sifat fisik dan kimianya.LKS yang disediakan hanya berisi soal-soal latihan yang bersifatverbalistis. Lembar Kerja Siswa (LKS) disusun berdasarkan siklus belajar inkuiri terbimbing yaitu orientasi. eksplorasi. 2009).agar tuntutan kurikulum 2013 tersebut bisa terujud.LKS yang berbasis inkuiri terbimbing ini didalamnya terdapat petunjuk penggunaan LKS. 11 September 2014 dengan konsep yang akan dibahas sehingga siswa mengetahui kaitan konsep terdahulu dengan konsep yang akan dipelajari (Rostianingrum. (6) menginterkoneksikan konseptual dan prosedural pengetahuan dalam struktur mental yang besar (Kuhlthau. 2013 ). reaksi oksidasi-reduksi menyangkut transfer suatu elektron. sehingga penggunaan LKS tersebut belum maksimal. namun demikian cara merepresentasikan gagasan merupakah hal yang tidak mudah karena representasi yang dibuat tidak mengandung informasi (pesan) yang diinginkan. mengasosiasi. ada hambatan energik dan geometri untuk terjadinya reaksi kimia. orientasi. Salah satu bahan ajar tersebut adalah LKS berbasis inkuiri terbimbing dengan representasi chemistry triangle.

Tabel 1.Adapun yang menjadi variabel dalam penelitian ini adalah sebagai berikut. 148 . Rancangan penelitian menggunakan Posttest Only Control Design. Pada kelompok kontrol digunakan LKS biasa yang tidak berbasis inkuiri terbimbing sebagai sumber belajar. dimana hasil belajar siswa yang menggunakan LKS berbasis inkuiri terbimbing dengan representasi chemistry triangle lebih tinggi daripada hasil belajar siswa tanpa menggunakan LKS berbasis inkuiri terbimbing. Dari hasil belajar diketahui sejauh mana penguasaan siswa terhadap suatu materi pelajaran. Seorang siswa dapat dikatakan berhasil dalam belajar apabila terjadi perubahan tingkah laku dalam dirinya dan perubahan itu terjadi karena latihan dan pengalaman yang mereka peroleh. Hasil belajar juga merupakan prestasi yang dapat dicapai siswa setelah mengikuti proses pembelajaran dalam kurun waktu tertentu.2007 : 69) Keterangan: X:Perlakuan terhadap kelas eksperimen yaitu proses pembelajaran dengan penerapan LKS berbasis inquiry). Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Batusangkar pada tahun pelajaran 2013/2014 yang terdiri 4 kelas. Hasil belajar adalah kemampuan yang dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya (Sudjana. Sampel dalam penelitian ini ada dua kelas yaitu kelas XI IPA4 sebagai kelas kontrol dan kelas XI IPA2 sebagai kelas eksperimen. 11 September 2014 representasi chemistry triangle untuk materi asam basa mempunyai pengaruh terhadap hasil belajar siswa Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkapkan pengaruh penggunaan LKS berbasis Inkuiri terbimbing terhadap hasil belajar siswa pada materi asam basa.2010 : 22). yaitu dengan menggunakan LKS berbasis inkuiri terbimbing. 2010: 22). Variabel adalah konsep yang mempunyai variasi nilai. kejadian atau benda yang dijadikan objek penelitian. Rancangan Penelitian Kelas Perlakuan Posttest Eksperimen X T Kontrol - T (Lufri. a. Pada penelitian ini yang merupakan variabel bebas adalah perlakuan yang diberikan pada kelas eksperimen berupa proses belajar mengajar dengan menggunaan LKS berbasis Inkuiri Terbimbing (guided inquiry). Menurut Sugiyono (2007:73) “Sampel adalah bagian dari jumlah dan karakteristik yang dimiliki oleh populasi tersebut”. afektif dan psikomotor (Bloom dalam Sudjana . METODE PENELITIAN Metode dan Desain Penelitian Jenis penelitian ini adalah penelitian eksperimen. Hasil penelitian ini dapatdimanfaatkan oleh guru kimia sebagai salah satu bahan ajar alternatif dalam proses pembelajaran untuk materi asam basa dalam rangka meningkatkan hasil belajar siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan suatu teknik penyampelan. yaitu kelompok eksperimen dan kelompok kontrol. Hipotesis penelitian adalah “Penggunaan LKS berbasis inkuiri terbimbing dengan representasi chemistry triangle untuk materi asam basa berpengaruh terhadap hasil belajar siswa.Hasil belajar tersebut dapat diukur melalui tes yang diberikan kepada siswa. maka perlu dilakukan penilaian terhadap hasil belajar.Kelompok eksperimen dikenakan perlakuan tertentu. Setelah melaksanakan proses pembelajaran sesuai dengan yang dituntut dalam kurikulum. Variabel bebas merupakan variabel yang berpengaruh terhadap variabel lain.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Secara bagan rancangan ini dapat digambarkan sebagai berikut . yaitu teknik random sampling.Dalam rancangan penelitian ini sampel digolongkan kedalam dua kelompok. T: Tes akhir yang diberikan kepada kedua kelas sesudah pembelajaran Inkuiri Terbimbing (guided Populasi adalah sekelompok orang. Pertama-tama dilakukan pengukuran lalu dikenakan perlakuan untuk jangka waktu tertentu kemudian dilakukan pengukuran untuk kedua rancangan ini. Penilaian hasil belajar mencakup tiga ranah yaitu : tanah kognitif.

Bronstead Lowry dan Lewis. Guru mengecek kehadiran siswa dan mengkondisikan kelas agar kondusif sehingga pembelajaran dapat dimulai. Guru memberikan konfirmasi terhadap hasil diskusi siswa dan membenarkan konsep siswa jika siswa mengalami kesalahan-kesalahan dalam memahami konsep 149 . Siswa diminta mewakili kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi mengenai teorii asam basa. Guru memberikan kesempatan kepada siswa lainnya untuk menanggapi. Guru mengontrol jalannya diskusi dan menghampiri masingmasing kelompok untuk melihat perkembangan diskusi siswa dan untuk mengatasi jika siswa mengalami kendala dalam diskusi. yaitu tentanglarutan elektrolit. Siswa membaca mengenai materi yang akan dipelajari. Guru memberikan konfirmasi terhadap hasil diskusi siswa dan membenarkan konsep siswa jika siswa mengalami kesalahan-kesalahan dalam memahami konsep. Prosedur Penelitian Untuk mencapai tujuan penelitian yang telah ditetapkan perlu disusun prosedur yang sistematis. Variabel terikat adalah variabel yang berpengaruh karena adanya variabel bebas.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. 11 September 2014 b. Guru mengecek kehadiran siswa dan mengkondisikan kelas agar kondusif sehingga pembelajaran dapat dimulai. Pada penelitian ini yang merupakan variabel terikat adalah hasil belajar kimia siswa kelas XI IPA SMAN 1Batusangkar tahun pelajaran 2013/2014. Pada tahap persiapan yang dilakukan adalah: Menentukan tempat dan jadwal penelitian. Siswa mengerjakan latihan-latihan yang tersedia di dalam LKS dengan bimbingan dari guru. Siswa mengamati model dan mendiskusikan hasil pengamatan yang terdapat pada LKS tentang teori asam basa menurut Arrhenius. Dalam pelaksanaan penelitian dilakukan proses pembelajaran yang berbeda antara kelas eksperimen dan kelas kontrol. Guru memberikan kesempatan kepada siswa lainnya untuk menanggapi. yaitu : teori asam basa menurut Arrhenius. Kelas Kontrol Pendahuluan Guru menginstruksikan kepada siswa agar berdo’a sebelum belajar. Pembelajaran yang diberikan kepada kedua kelas sampel adalah sebagai berikut. Tabel 2. Siswa menjawab pertanyaan pada LKS yang telah dimilikinya (bukan LKS berbasis inkuiri terbimbing). Kegiatan Inti Siswa membaca dan memahami materi prasyarat. Mempersiapkan LKS berbasis inkuiri terbimbing. pelaksanaan. membuat kisi-kisi soaldan mempersiapkan soal tes akhir. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Guru memotivasi siswa dengan menuntun siswa dalam mempelajari topik yang akan dibahas yaitu tentang teori asam basa dan menggali pengetahuan siswa tentang materi asam basa Siswa dibagi dalam beberapa kelompok dengan jumlah anggota 2 orang perkelompok. jenis atau kekuatan asam basa . Guru menyampaikan tujuan pembelajaran Guru memotivasi siswa dengan menuntun siswa dalam mempelajari topik yang akan dibahas yaitu tentang teori asam basa dan menggali pengetahuan siswa tentang materi asam basa. dan penyelesaian. membuat Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol. bertanya ataupun memberikan tanggapan. c. jenis atau kekuatan asam basa. Siswa menemukan dan membentuk konsep sebagai hasil dari proses eksplorasi. dan materi asam basa yang lainnya Siswa menjawab pertanyaan kunci pada tiap-tiap model melalui pengamatan terhadap gambar yang ada pada LKS. Guru mengontrol jalannya diskusi dan menghampiri masingmasing kelompok untuk melihat perkembangan diskusi siswa dan untuk mengatasi jika siswa mengalami kendala dalam diskusi. Siswa dibagi dalam beberapa kelompok dengan jumlah anggota 2 orang perkelompok dan masing-masing siswa sudah memiliki LKS yang biasa mereka gunakan dalam pembelajaran kimia (bukan LKS berbasis inkuiri terbimbing). Guru membagikan LKS berbasis Inkuiri Tebimbing kepada masing-masing siswa dan menjelaskan isi LKS secara umum. menentukan populasi dan sampel. Pada penelitian ini yang merupakan variabel kontrol adalah alokasi waktu. Kegiatan inti Guru membantu siswa dalam mengingat kembali materi pelajaran yang terkait yaitu mengenai larutan elektrolit. Siswa menemukan dan membentuk konsep sebagai hasil dari proses eksplorasi. Bronstead Lowry dan Lewis. bertanya ataupun memberikan tanggapan. buku sumber dan guru yang mengajar pada kedua kelas sampel adalah sama. materi pembelajaran. menentukan kelas kontrol dan kelas eksperimen. Secara umum prosedur penelitian dapat dibagi menjadi tiga tahap yaitu: persiapan. Skenario Pembelajaran Kelas Eksperimen dan Kelas Kontrol No 1 2 Kelas Eksperimen Pendahuluan Guru menginstruksikan kepada siswa agar berdo’a sebelumajar. Siswa diminta mewakili kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi mengenai teorii asam basa. Variabel kontrol merupakan segala sesuatu yang bisa mempengaruhi hasil belajar siswa selain perlakuan.

Pada tahap penyelesaian ini yang akan dilakukan adalah: Memberikan tes pada kedua kelas sampel setelah pembelajaran berakhir. mengolah data dari kedua sampel. seperti yang tertera pada Tabel 3 dan 4. Perumusan umum untuk uji pihak kanan mengenai rata-rata μ berdasarkan Ho dan H1 adalah: Ho : μ1≤μ2 H1 : μ1>μ2 Keterangan:  1 = Skor rata-rata kelas eksperimen  2 = Skor rata-rata kelas kontrol Berdasarkan hasil uji normalitas dan uji homogenitas diperoleh bahwa kedua kelas mempunyai nilai hasil belajar siswa yang terdistribusi normal dan mempunyai varians yang homogen. Instrumen penelitian yang dipakai adalah tes hasil belajar karena yang menjadi objek penelitian adalah hasil belajar siswa. menarik kesimpulan dari hasil belajar yang didapat dengan teknik analisis data yang digunakan. 2005:249). Guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah.Oleh karena itu untuk menguji hipotesis menggunakan uji-t Sudjana ( 2005: 239). menyimpulkan materi yang baru saja dipelajari Guru memberikan evaluasi mengenai materi yang dipelajari dengan memberikan soal dan siswa mengerjakannya secara individu.84 pada α = 0. 3 Penutup Siswa dengan bimbingan guru. Sebelum melakukan uji-t terlebih dahulu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Analisis Data Untuk menganalisis kebenaran data hasil penelitian digunakan uji hipotesis yaitu dengan uji perbedaan dua rata-rata atau uji-t. 2005: 466) dan tujuan melakukan uji homogenitas (Sudjana.Tes yang digunakan berupa soal objektif yang disesuaikan dengan tujuan pembelajaran.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Uji normalitas menggunakan uji Lilierfors (Sudjana. Tabel 3. diperoleh data tentang hasil belajar siswa. Guru memberikan tugas kepada siswa untuk dikerjakan di rumah. Nilai Hasil Belajar Siswa Kelas Kontrol No 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 Nilai 58 63 65 70 73 78 80 83 85 88 90 93 150 Frekuensi 1 1 1 1 1 1 2 2 2 3 3 2 .Data tersebut diperoleh dari tes akhir pada kegiatan penelitian. menyimpulkan materi asam basa yang telah dipelajari . Uji hipotesis yaitu uji dengan kesamaan rata-rata dengan uji satu pihak yaitu uji pihak kanan yang sejalan dengan hipotesis penelitian. Penutup Siswa dengan bimbingan guru. Hasil perhitungan diperoleh harga thitung 1.05 dan harga ttabeladalah 1.68. 11 September 2014 a. sehingga dapat disimpulkan bahwa pengaruh penerapan penggunaan lembar kerja siswa berbasis inkuiri terbimbing adalah signifikan dan hipotesis penelitian diterima. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Dari penelitian yang telah dilakukan pada kedua kelas sampel. Guru memberikan soal evaluasi tentang materi yang telah dipelajari dan siswa mengerjakannya secara individu.

Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Setelah itu baru dilakukan uji hipotesis.14 83.6.1251 0. Hasil Uji Homogenitas Kelas Sampel Kelas Sampel N Eksperimen 20 Kontrol α Fhitung Ftabel Keterangan 0.05 1.19 Normal Kontrol 20 0.Data hasil penelitian terhadap hasil belajar siswa pada kedua kelas sampel dianalisis menggunakan “uji t”.61 Kontrol 20 81. kemudian ditentukan nilai rata-rata (𝑥̅ ). 11 September 2014 Tabel 4. Nilai Rata-rata. Nilai tertinggi pada kelas kontrol adalah 93 dan pada kelas eksperimen adalah 98.27 1. Data hasil belajar disusun berdasarkan distribusi frekuensinya. sedangkan pada kelas eksperimen nilai terendah adalah 65 yang diperoleh oleh 1 orang siswa. simpangan baku (S) dan variansi (S2) dari masing-masing kelas eksperimen dan kelas kontrol seperti yang tertera pada Tabel 5 Tabel 5.05 0. Uji normalitas melalui uji Liliefors ini dilakukan dengan membandingkan nilai L0 dan Ltabel yang ditentukan pada taraf nyata 0. Tabel.32 106. Uji normalitas untuk data dari kedua kelas sampel digunakan Uji Liliefors. Nilai Hasil Belajar Siswa Kelas Eksperimen No 1 2 3 4 5 6 7 8 Nilai 65 70 80 85 88 90 93 98 Frekuensi 1 2 3 5 2 3 1 3 Berdasarkan data pada Tabel 3 dan 4 nilai terendah pada kelas kontrol adalah 58 yang diperoleh oleh 1 orang siswa.Hal ini menunjukkan bahwa kedua kelas terdistribusi normal. Uji homogenitas data dilakukan dengan uji F.1015 0. Untuk itu dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas untuk menentukan sampel terdistribusi normal atau tidak dan memiliki varians yang homogen atau tidak.19 Normal Berdasarkan Tabel 6 dapat diketahui bahwa kedua kelas sampel memiliki nilai L0 yang lebih kecil dibandingkan nilai Ltabel. untuk lebih jelasnya tertera pada Tabel 6.05 . lebih lengkapnya dapat dilihat pada Tabel 7. Tabel 7. Simpangan Baku dan Variansi Kelas Sampel Kelas N ̅ 𝒙 S S2 Eksperimen 20 85. Uji ini bertujuan untuk melihat apakah kedua kelas sampel memiliki variansi yang homogen atau tidak.15 10.15 9.84 Variansi homogen 20 Berdasarkan Tabel 7 dapat diketahui bahwa Fhitung< Ftabel.05 0. Hasil Uji Normalitas Data Tes Akhir Kelas Sampel Kelas Sampel N Α L0 Ltabel Keterangan Eksperimen 20 0.. Hal ini dilakukan dengan cara membandingkan harga Fhitung dengan Ftabel yang terdapat dalam tabel distribusi dengan taraf signifikan 5% dan dk pembilang = n 1 – 1 serta dk penyebut = n2 – 1. 151 .45 Berdasarkan Tabel 5dimana hasil belajar kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan hasil belajar kelas kontrol. Hal ini menunjukkan bahwa data mempunyai variansi yang homogen.

Tercapainya tujuan pembelajaran terlihat pada hasil belajar yang diperoleh oleh siswa pada kedua kelas sampel. Pembelajaran pada kelas kontrol. Siswa berlomba-lomba untuk mengemukakan kesimpulan yang mereka dapatkan mengenai konsep asam basa. Hasil yang didapatkan berdasarkan tes akhir yang telah diberikan menunjukkan perbedaan pada kedua kelas. pembentukan konsep.Hasil belajar pada kelas eksperimen dengan menggunakan lembar kerja siswa berbasis inkuiri terbimbing lebih tinggi daripada kelas kontrol yang menggunakan lembar kerja biasa yang bukan berbasis inkuiri terbimbing. karena pada lembar kerja berbasis inkuiri terbimbing terdapat model yang berupa gambar dengan ilustrasi makroskopis maupun mikroskopis yang disertai dengan warna yang menarik bagi siswa. yaitu saat konfirmasi dari guru. pertanyaan kunci. Jadi. maka disimpulkan H0 ditolak dan hipotesis alternatif diterima pada taraf nyata 0. akan tetapi membimbing dan mengarahkan siswa untuk menjawab soal-soal berdasarkan konsep materi asam basa. Antusias dari siswa juga terlihat pada saat akhir pelajaran. hasil belajar siswa dengan menggunakan lembar kerja berbasis inkuiri terbimbing lebih tinggi secara signifikan dari pada hasil belajar siswa yang menggunakan lembar kerja yang bukan berbasis inkuiri terbimbing pada materi asam basa pada kelas XI SMA Negeri 1Batu sangkar. digunakan lembar kerja siswa yang bukan berbasis inkuiri terbimbing. Selama kegiatan diskusi berlangsung. dan penutup (Hanson. Hasil Uji Hipotesis Tes Akhir Kelas Sampel thitung ttabel Kesimpulan 1. Dalam menjawab soal-soal tersebut siswa berdiskusi dalam kelompok dan dengan menggunakan buku sumber lain disamping LKS. informasi dan model berupa gambar serta tabel. aplikasi. Soal yang terdapat pada LKS ini tidak berkaitan antara satu soal dengan soal berikutnya. PEMBAHASAN Berdasarkandatahasil penelitian dan analisis data. diperoleh bahwa penggunaan LKS berbasis inkuiri terbimbing memberikan pengaruh yang positif terhadap hasil belajar siswa pada kedua kelas sampel. eksplorasi. Perbedaan tersebut terlihat pada soal C3 yaitu soal penerapan atau aplikasi. 152 . Hal ini menunjukkan bahwa hasil belajar siswa yang menggunakan LKS berbasis inkuiri terbimbing lebih tinggi secara signifikan daripada hasil belajar siswa yang tanpa menggunakan LKS berbasis inkuiri terbimbing pada materi asam basa di kelas XI IPA SMAN 1 Batusangkar. soal dan latihan. 2005:1). Lembar kerja siswa berbasis inkuiri terbimbing disusun berdasarkan tahapan pada strategi inkuiri terbimbing yaitu.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. LKS memuat pengetahuan pra syarat atau orientasi. Pembelajaran dengan menggunakan lembar kerja siswa berbasis inkuiri terbimbing dapat menarik minat siswa dalam belajar. Pertanyaan kunci dapat dijawab melalui eksplorasi model maupun informasi. siswa dapat menemukan konsep setelah menjawab pertanyaan kunci. siswa antusias untuk menjawab pertanyaan kunci dan juga dalam mengerjakan soal-soal maupun latihan.Hal ini sesuai dengan kelebihan dari strategi inkuiri terbimbing yang di ungkapkan oleh Suyanti (2010:51). Peranan guru dalam proses ini bukan menyampaikan konsep. orientasi. yang dijawab lebih banyak oleh siswa pada kelas eksperimen daripada kelas kontrol. Dalam menjawab pertanyaan kunci inilah siswa berdiskusi sesamanya dan guru dapat mengatur serta membimbing jalannya diskusi yang berarti pembelajaran berpusat pada siswa. 11 September 2014 Setelah dilakukan uji normalitas dan uji homogenitas. Tingkat ketuntasan dan nilai yang diperoleh oleh siswa pada kelas ekperimen jauh lebih tinggi dibandingkan kelaskontrol dan nilai KKM yang ditetapkan yaitu 78. Melalui lembar kerja siswa berbasis inkuiri terbimbing.68 Hipotesis diterima Eksperimen Kontrol Tabel 8 terlihat bahwa harga thitung> ttabel. Tabel 8.84 1. Lembar kerja siswa ini hanya berisi ringkasan materi dan soal-soal yang tidak membimbing siswa untuk dapat menemukan suatu konsep.05. diperoleh bahwa data dari kedua kelas sampel terdistribusi normal dan memiliki variansi yang homogen. sehingga pengujian hipotesis yang dapat digunakan adalah “Uji t” dan data hasil uji hipotesis terangkum pada Tabel 8.

Multiple Representaions in Chemical Education. IL: Pacific Crest. 2005. Designing Process-Oriented Guided-Inquiry Activities. Yogyakarta: Graha lmu. 1. 2007. John Wiley and Sons : New York. Sugiyono. 2010. Hasil belajar siswa yang menggunakan LKS berbasis inkuiri terbimbing dengan representasi chemistry triangle lebih tinggi secara signifikan padataraf kepercayaan 95% (α 0. Introduction: Macro. Gilbert JK. 2007. 153 . IL: Pacific Crest. Jakarta: PT Bumi Aksara. 2013. Jakarta: Rineka Citra. Springer. 2001. K. Hamalik O. Proses Belajar Mengajar. Caspari AK. Apple. Process Oriented Guided Inquiry Learning. Bilgain I. Putri I.Instructor’s Guided to Process-Oriented Guided-Inquiry Learning. Chemistry The Molecular Nature of Matter 6th Edition. Kepada guru kimia disarankan untuk menggunakan LKS berbasis inkuiri terbimbingdengan representasi chemistry trianglesebagai salah satu sumber belajaryang sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013 dan untuk meningkatkan hasil belajar siswa pada materi asam basa. and Symbolic Representaions and the Relationship Between Them: Key Models in Chemistry Education (ed). Hanson DM. Sudjana. Hanson DM. Straumanis A. dan R&D. Submicro. Lisle. In Faculty Guidedbook: A Comprehensive Tool For Improving Faculty Performance. Jurnal Skripsi. Bandung: Tarsito Bandung. Maniotes LK. Rostianingrum HA. Metodologi Penelitian. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. 2013. Padang: SkripsiJurusan Kimia FMIPA-UNP. Metode Penelitian Pendidikan: Pendekatan Kuantitatif. SARAN Dari hasil penelitian dapat disarankan beberapa hal sebagai berikut. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada. ed. Brady JE. “Pengembangan Prosedur Praktikum Kimia pada Topik Indikator Asam Basa Alami yang Layak Diterapkan di SMA”. 2009. DAFTAR PUSTAKA Arikunto S. 2. Pengantar Evaluasi Pendidikan. Balitbang: Kemendikbud.2006. Suyanti D. Prosedur Penelitian: Suatu Pendekatan Praktek. Kualitatif. 2009. Padang: UNP Press. Bandung: PT Remaja Rosda Karya. London: Libraries Unlimited Westpor. 2007.Beyerlein and D. Bandung: Alfabeta. 2005. 11 September 2014 KESIMPULAN Penggunaan LKS berbasis inkuiri terbimbing dengan representasichemistry triangle untuk materi asam basa memberikan pengaruh yang positif terhadap hasil belajar siswa. Lufri. 2010. Sudijono A. 2010. Lisle. Kuhlthau CC. 2009. Kompetensi Dasar Sekolah Menengah Atas (SMA) dan Madrasah Aliyah (MA). Pengembangan Bahan Ajar dalam bentuk Lembar Kerja Siswa (LKS) berbasis Inkuiri Terbimbing pada Materi Asam Basa untuk Pembelajaran Kimia Kelas XI Tingkat SMA/MA. 2011. Kemendikbud. FMIPA UPI Bandung. Treagust D. Sudjana N. Strategi Pembelajaran Kimia. Guided Inquiry: Learning in the 21st Centiry. W.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. The Effect Of Guided Inquiry Incorporating a Cooperative Learning Approach ON University Student Achievement Of Acid And Bases Concep And Attitude Toward Guided Inquiry Instruction. Metoda Statistika. 2009. S.05) dibandingkan hasil belajar siswa yang menggunakan LKS biasa (tanpa inkuiri terbimbing). Dalam penggunaan LKS berbasis inkuiri terbimbing dengan representasi chemistry triangle ini sebaiknya strategi pembelajaran yang digunakan adalah sterategi inkuiri terbimbing. 2010.

engage. learning cycle 7e. hasil belajar. Mata pelajaran biologi dikembangkan melalui kemampuan berpikir analitis. explain. “Belajar kognitif adalah belajar dengan tujuan membangun struktur kognitif siswa” (Suyono & Hariyanto. elaborate.com. dengan N-Gain 0. Oleh karena itu pembelajaran biologi seharusnya diajarkan dengan model pembelajaran yang memberi kesempatan siswa untuk berpikir sendiri dan mengembangkan pengetahuannya. dan mencatat materi.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan LKS berbasis learning cycle 7e (elicit. dan deduktif untuk menyelesaikan masalah yang berkaitan dengan peristiwa alam sekitar. Beberapa peneliti sudah mengobservasi kegiatan pembelajaran biologi di kelas.48. Instrumen penelitian yang digunakan adalah tes hasil belajar yang berupa tes objektif berbentuk pilihan ganda yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Kata Kunci: LKS. PENDAHULUAN Mata pembelajaran biologi merupakan salah satu cabang dari pembelajaran IPA. yaitu siswa cenderung pasif dan hanya menerima materi saja kemudian menghafalkan materi tersebut (Fadhillah. yang melakukan penelitian di SMAN 5 Surakarta. karena hanya di transfer materi oleh guru. Ini membuktikan bahwa ingatan yang melekat pada otak mereka hanya ingatan jangka pendek. Permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan aspek kognitif dapat disiasati dengan cara belajar yang 154 . Hal tersebut dapat tergambar ketika mereka ditanyakan materi yang sudah dipelajari terkadang mereka diam dan lupa akan konsep-konsep yang telah dipelajari. LKS 2 sebesar 86.29 dan postes sebesar 84. Aspek kognitif siswa merupakan aspek yang memberikan pengaruh yang besar dalam keberhasilan proses pembelajaran. menghafalkan materi. evaluate.com Zulfiani dan Ina Septi Wijaya Prodi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Zulfiani2013@gmail. Adapun hasil belajar siswa pada pretes sebesar 38. dan extend) terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran konstruktivisme konsep sistem peredaran darah. 11 September 2014 PENGARUH PENGGUNAAN LKS BERBASIS LEARNING CYCLE 7E TERHADAP HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN KONSTRUKTIVISME KONSEP SISTEM PEREDARAN DARAH Nengsih Juanengsih Prodi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta nengsihj@yahoo. 2011).02.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa sebagian besar waktu belajar siswa di kelas dihabiskan untuk mendengarkan ceramah guru. explore. salah satu peneliti yang mengobservasi kegiatan pembelajaran tersebut yaitu Dewi Setyawati Nur Fadhillah. lebih jauh siswa diharapkan mampu memahami konsep-konsep yang terkandung di dalamnya dan bukan hanya itu. 2012).19. Pembelajaran dengan model belajar konvensional memberikan dampak yang kurang efektif. Belajar biologi bukan hanya sekedar tahu teori dan hafalan saja. Namun kenyataannya pembelajaran biologi banyak yang masih disampaikan dengan cara yang konvensional. Berdasarkan hasil uji paired sample t-test menunjukkan bahwa sig-2 tailed 0.050 yang berarti terdapat pengaruh penggunaan LKS berbasis learning cycle 7e terhadap hasil belajar siswa.50 dan LKS 3 sebesar 89.74 (kategori tinggi). inaswijaya@gmail. diharapkan konsep yang dipahami siswa juga bertahan dalam ingatan jangka panjang. Subjek penelitian ini berjumlah 39 siswa. Penelitian ini dilakukan di SMAN 33 Jakarta tahun ajaran 2013/2014. Hasil penelitian menunjukkan hasil rerata nilai pengerjaan oleh siswa pada LKS 1 sebesar 88.000 < 0. Aspek kognitif akan mengarah pada kecakapan hidup siswa. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kuasi eksperimen dengan desain pre-test and post-test group design. induktif.

guru dapat memanfaatkan Lembar Kerja Siswa (LKS). efisien. Melalui pembelajaran konstruktivisme siswa dapat membangun pengetahuan mereka sendiri. 2010). namun guru tidak memanfaatkan dan memaksimalkan kegiatan yang terdapat di LKS dan hanya menyuruh siswa mengerjakan soal-soalnya saja. Sebenarnya sudah banyak LKS yang diterbitkan dan memenuhi karakteristik pembelajaran konstruktivisme. selain itu model pembelajaran learning 155 . Pada awalnya learning cycle hanya terdiri dari tiga tahap. Salah satu model pembelajaran dengan pendekatan konstruktivisme yaitu pembelajaran dengan model learning cycle. disesuaikan dengan karakteristik peserta didik. yang dilaksanakan dalam proses pembelajaran. 11 September 2014 aktif dan melibatkan siswa dalam proses pembelajaran. Guru memiliki posisi yang menentukan dalam upaya peningkatan kualitas pendidikan. kemudian berkembang menjadi lima tahap. Salah satu pembelajaran yang sesuai dengan konsep tersebut. Model pembelajaran ini dapat mempermudah siswa untuk mengingat kembali materi pelajaran yang telah mereka dapatkan sebelumnya. yaitu pembelajaran konstruktivisme. dan hasil pembelajaran menjadi bermutu. guru juga dapat mengembangkan aspek kognitif siswa dengan cara menerapkan model pembelajaran di kelas yang dapat merangsang pengetahuan awal siswa. LKS didefinisikan sebagai alat dasar yang berisi langkah-langkah proses yang diperlukan dan membantu siswa untuk mengatur pengetahuan dan pada saat yang bersamaan memberikan partisipasi penuh dari seluruh kelas dalam kegiatan pembelajaran. metode. Selain itu. Learning cycle memiliki beberapa kelebihan dibandingkan dengan pembelajaran konvensional. Selain solusi tersebut. LKS yang digunakan di sekolah biasanya dibeli melalui penerbit. Dalam pembelajaran yang aktif guru akan lebih banyak memberikan siswa kebebasan untuk menemukan permasalahan sendiri dan menyelesaikannya. Pembelajaran learning cycle sendiri pada awalnya memang merupakan model pembelajaran dikembangkan dalam kurikulum pembelajaran sains. Model konstruktivisme berpandangan bahwa proses belajar diawali dengan terjadinya interaksi antara konsep awal siswa dengan fenomena yang baru didapat. LKS adalah bahan pengajaran yang efektif dalam penerapan prinsip-prinsip teori belajar konstruktivis. Jean Piaget merupakan pencetus filsafat konstruktivisme. menarik. LKS juga memungkinkan siswa untuk berpartisipasi dalam proses belajar aktif dan meningkatkan prestasi siswa (Celikler. media dan penilaiannya. kedisiplinan kelas perlu dijaga. karena model pembelajaran learning cycle sesuai dengan teori konstruktivisme. dan standar kompetensi dan kompetensi dasar. siswa harus diperhatikan secara sistematis. Dengan demikian LKS yang dibuat guru akan lebih tepat sasaran dalam mencapai tujuan pembelajaran. kondisi lingkungan belajar. Bahan ajar sebaiknya dirancang sedemikian rupa dengan memperhatikan beberapa komponen dalam pembelajaran. strategi. maka proses pembelajaran akan berlangsung efektif. LKS yang digunakan saat ini masih ringkasan materi dan soal-soal. Dalam menciptakan kondisi pembelajaran tersebut. model. sehingga akan terbentuk skema pengetahuan mereka sendiri. kebutuhan individu siswa perlu ditentukan dan komunikasi guru-murid harus disediakan oleh guru. LKS yang ada saat ini jarang memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk mengkonstruk pengetahuannya sendiri. Pembelajaran model ini akan dapat menumbuhkan kegairahan belajar siswa dan meningkatkan motivasi belajar siswa.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. dan sekarang berkembang lagi menjadi tujuh tahap. sehingga diperlukan perubahan struktur kognitif untuk mencapai keseimbangan. Model learning cycle dirasa cocok diterapkan dalam LKS. dengan demikian siswa lebih mudah memahami konsep yang diajarkan oleh guru. padahal LKS dapat dibuat dan dikembangkan oleh guru. Pada pelaksanaan kegiatan pembelajaran yang dikembangkan sesuai dengan teori belajar konstruktivistik. Bahan pengajaran merupakan salah satu komponen sistem pembelajaran yang memegang peranan penting dalam membantu siswa mencapai tujuan pembelajaran. Materi pembelajaran harus diidentifikasi secara tepat sehingga dapat memudahkan guru dalam menentukan pendekatan. LKS memberikan panduan dan menawarkan solusi untuk masalah yang muncul dalam proses pembelajaran. Seharusnya guru dapat memaksimalkan fungsi LKS tersebut dalam pembelajaran. Ketika belajar siswa diharapkan mampu mengaitkan suatu konsep yang diajarkan dengan kenyataan pada pengalaman mereka. Dengan rancangan pembelajaran yang baik.

Sistem peredaran darah merupakan salah satu konsep yang dipelajari pada semester ganjil kelas XI SMA. “Materi pembelajaran biologi. Bila dilihat berdasarkan KD tersebut. darah. Oleh karena itu dalam penelitian ini akan dikaji penggunaan LKS berbasis learning cycle. Marlina menjelaskan bahwa konsep sistem peredaran darah memuat materi mengenai jantung. pembuluh darah. oleh karena itu untuk memudahkan siswa mengkonkritkan hal yang abstrak dapat dipakai model pembelajaran learning cycle. Guru memberi tahu siswa tentang ide dan rencana pembelajaran sekaligus memotivasi siswa agar lebih berminat untuk mempelajari konsep dan memperhatikan guru dalam mengajar. dan Ebert model learning cycle 7e terdiri dari 7 tahap. 2007): Gambar 1. sedangkan extend diperluas dari tahap elaborate dan evaluate. peredaran darah pada tubuh. yaitu fase yang dimulai dengan pertanyaan mendasar terkait pelajaran yang akan dipelajari. explore. Dalam bab ini siswa mengalami kesulitan mengidentifikasi penggolongan darah dan mekanisme transfusi darah selain itu pada umumnya bahasa latin yang masih asing terdengar oleh siswa (Marlina. Tahapan Learning Cycle 7e Menurut Eisenkraft terdapat tujuh tahap pembelajaran dalam learning cycle 7e . 2011). mekanisme proses kerja jantung. Tahapan Model Pembelajaran Learning Cycle 7E Menurut Bently. yaitu fase dimana guru menarik perhatian siswa untuk belajar dan memastikan siswa sudah siap untuk belajar. Elicit merupakan perluasan dari tahap engage. 156 . Ketujuh tahap tersebut digambarkan sebagai berikut ini (Bently. Ebert II. agar penerapannya lebih mudah dibantu dengan LKS. Dengan dimasukkannya model pembelajaran learning cycle dalam LKS diharapkan dapat membantu siswa untuk membangun pengetahuannya sendiri melalui fenomena dan pertanyaan-pertanyaan yang dimuat dalam LKS. yang menggunakan pendekatan konstruktivisme dengan model learning cycle. 2) Engage. Materimateri tersebut sulit diamati secara langsung. memiliki karakteristik kompleks dan abstrak”. dan proses serta kelainan atau penyakit yang dapat terjadi pada sistem peredaran darah. Konsep abstrak tersebut antara lain struktur bagian jantung. 2003): 1) Elicit. explain. khususnya tentang Sistem Peredaran Darah Pada Manusia. Fase ini bertujuan untuk mengetahui sampai dimana pengetahuan awal siswa. dengan memberikan pertanyaanpertanyaan yang merangsang pengetahuan awal siswa agar muncul respon pemikiran siswa. dan proses jantung memompa darah. dan penyakit pada sistem peredaran darah.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Di dalam Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) termuat Kompetensi Dasar (KD) yang harus dicapai siswa pada konsep sistem peredaran darah. yaitu elicit. engage. fungsi. dan extend. peredaran darah. siswa dituntut untuk menjelaskan keterkaitan fungsi dan proses. yaitu menjelaskan keterkaitan antara struktur. ketujuh tahapan dijabarkan di bawah ini (Eisenkraft. evaluate. elaborate. 11 September 2014 cycle juga membantu berpikir siswa dari berpikir abstrak ke konkrit.

Pertanyaan-pertanyaan yang dapat memperluas konsep yang telah diperoleh siswa. Kemudian diberikan perlakuan pembelajaran dengan menggunakan LKS berbasis learning cycle 7e. No 1 Tahap/Fase Elicit 2 Engage 3 Explore 4 Explain 5 Elaborate 6 Evaluate 7 Extend Tabel 1. sehingga muncul respon pemikiran awal siswa. Kegiatan diskusi untuk menjelaskan konsep-konsep dan definisi-definisi awal yang mereka dapatkan selama fase eksplorasi. dan penghitungan denyut nadi. sesuai dengan indikator pembelajaran. Desain LKS Berbasis Learning Cycle 7e Kegiatan pada LKS Pertanyaan-pertanyaan mendasar terkait materi yang akan dipelajari untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan awal siswa. menginterpretasikan hasil percobaan dan mengorganisasikan temuan. Kegiatan penyelidikan yang dilakukan. mengamati anatomi dan cara kerja jantung manusia melalui video.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. yaitu fase yang memberikan kesempatan pada siswa untuk mengaplikasikan pengetahuan. Adapun permasalahan yang ingin dicari jawaban dalam penelitian ini adalah Apakah terdapat pengaruh Penggunaan LKS Berbasis Learning Cycle 7e Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Pembelajaran Konstruktivisme Konsep Sistem Peredaran Darah? METODE Metode dalam penelitian ini adalah eksperimen semu (quasi experiment). 7) Extend. 6) Evaluate. yaitu fase dimana siswa diperkenalkan pada model. Sebelum diberikan perlakuan. 11 September 2014 3) Explore. 157 . yaitu fase yang memberikan kesempatan siswa mengamati. Guru dapat meyakinkan bahwa pengetahuan diterapkan oleh siswa dan tidak terbatas pada elaborasi sederhana. Artikel maupun kegiatan yang dapat menimbulkan rasa penasaran dan minat belajar siswa pada materi yang akan dipelajari. diberikan posttest untuk mengetahui sejauh mana pengetahuan siswa terhadap konsep sistem peredaran darah. mencatat data. sehingga siswa dapat mencari hubungan konsep yang mereka pelajari dengan konsep lain yang sudah atau belum mereka pelajari. pada kelompok eksperimen diberikan pretest untuk mengetahui kemampuan dasar siswa pada konsep sistem peredaran darah. Guru membantu siswa megeneralisasikan hasil penyelidikan. Pertanyaan-pertanyaan untuk menilai/mengevaluasi pembelajaran yang telah dilakukan. Setelah diberikan perlakuan. untuk diselesaikan. merencanakan percobaan. hukum-hukum dan teori. Subjek penelitian adalah siswa kelas XI IPA 1 semester 1 SMAN 33 Jakarta berjumlah 39 siswa. 4) Explain. Desain penelitian ini menggunakan Pre-test and Post-test design. 5) Elaborate. antara lain: uji golongan darah. yaitu fase untuk mengevaluasi hasil pembelajaran yang telah dilakukan. Pertanyaan-pertanyaan maupun permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan contoh dari konsep yang dipelajari untuk menerapkan konsep yang telah diperoleh siswa. yang memberikan kesempatan kepada siswa untuk menguji hipotesis dan mencatat data percobaan. Fase ini menyediakan permasalahan-permasalahan yang berkaitan dengan contoh dari pelajaran yang dipelajari. Pada LKS terdapat pertanyaan yang membimbing siswa untuk berdiskusi dan menyimpulkan konsep/definisi. Siswa merangkum hasil penyelidikan pada teori/konsep baru. Kegiatan penyelidikan baik pengamatan maupun percobaan. yaitu fase yang bertujuan untuk memperluas konsep dan mengingatkan guru pentingnya transfer pembelajaran.

LKS 2 berisi meteri mengenai alat-alat peredaran darah.19 SD 11.12361 2. Tes digunakan untuk mengukur hasil belajar kognitif. Std. Data berupa hasil pretes dan postes kemudian diolah menggunakan uji statistik paired sample t-test dengan menggunakan program SPSS 20 sedangkan data berupa hasil observasi dideskripsikan. LKS 3 berisi materi mengenai sistem limfatik dan gangguan atau kelainan yang terjadi pada sistem peredaran darah.000 < 0.83 88. Hasil penilaian pengerjaan LKS dengan menggunakan LKS berbasis learning cycle 7e disajikan pada tabel 2 di bawah ini: Tabel 2. Hasil Paired Samples Test Paired Differences Std.15136 -41.63 96. Pada LKS berbasis learning cycle 7e terdapat 7 tahap.48 5. Lembar observasi digunakan untuk mengamati proses belajar siswa dan pembelajaran yang dilaksanakan oleh guru. LKS 1 berisi materi mengenai darah. HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Pengerjaan LKS berbasis learning cycle 7e pada konsep sistem peredaran darah dibagi ke dalam 3 LKS.97 70.67 Mean 38.64300 t df Sig. 158 .63 Tabel 4.50 89. Tes yang digunakan berupa soal pilihan ganda.18 9.841 38 . meliputi pengetahuan dan pemahaman konsep siswa. LKS berbasis learning cycle 7e memiliki 7 tahap pembelajaran. Hasil Penilaian LKS Learning Cycle 7e Hasil/Nilai LKS Data LKS 1 LKS 2 LKS 3 Maksimum 98.15 97.10146 Lower Upper -50.29 84. yang dibagi berdasarkan sub bab yang terdapat pada sistem peredaran darah.89718 postes Minimum 16. diawali dengan tahap elicit dan diakhiri dengan tahap extend.05 yang berarti bahwa Ho ditolak.02 86. 11 September 2014 Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini berupa tes (pre-test dan post-test) dan non test (lembar observasi).67 96.67 66.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Error 95% Confidence Interval Deviation Mean of the Difference 13.51 68.40 Minimum 73.67 Maximum 66. (2tailed) -21.80 7.28 SD Tabel 3.61 6. Data Pre-test dan Post-test Pre-test Deskripsi Pretes postes Mean pretes Pair 1 -45.000 Berdasarkan tabel 4 di atas diperoleh sig(2-tailed) adalah 0.

Pada tahap akhir LKS berbasis learning cycle 7e. Pada kelas eksperimen proses pembelajaran dilakukan dengan menggunakan LKS berbasis learning cycle 7e. Model pembelajaran learning cycle 7e merupakan pengembangan dari model learning cycle 5e. yang terdiri dari komponen dan fungsi darah. Pada proses pembelajaran terdapat 3 LKS yang dikerjakan. Ditolaknya H0 menjelaskan bahwa terdapat pengaruh penggunaan LKS berbasis learning cycle 7e terhadap hasil belajar siswa pada pembelajaran konstruktivisme konsep sistem peredaran darah. hasil observasi menunjukkan bahwa guru membimbing siswa untuk menginterpretasikan hasil percobaan dan mengarahkan diskusi siswa melalui pertanyaan yang terdapat pada LKS. LKS 3 memuat materi mengenai sistem limfatik dan gangguan/kelainan yang terjadi pada sistem peredaran darah manusia. dan macam-macam peredaran darah. pada kelas eksperimen yang diajarkan dengan LKS berbasis learning cycle 7e. hasil observasi menunjukkan bahwa guru melakukan evaluasi pada keseluruhan fase pembelajaran yang sesuai dengan indikator yang harus dicapai. Rata-rata hasil belajar siswa kelas eksperimen yang diajarkan dengan dengan LKS berbasis learning cycle 7e berada dalam kategori tinggi (84. seperti yang dijelaskan oleh Eisenkraft dalam Ebert II. Pada tahap explore pengamatan anatomi dan cara kerja jantung melalui video. explain. Pada akhir LKS berbasis learning cycle 7e juga terdapat tahap extend yang merangsang siswa untuk mencari hubungan konsep yang mereka pelajari dengan konsep lain yang sudah atau belum mereka pelajari. Pada tahap elaborate. Pada LKS berbasis learning cycle 7e terdapat tahap elicit yang merangsang pengetahuan awal siswa agar muncul respon pemikiran siswa. hasil observasi menunjukkan bahwa guru memberi waktu siswa untuk melakukan percobaan pada uji golongan darah dan penghitungan denyut nadi. Selain itu. dan Bentley. Pada tahap evaluate. Pada tahap extend siswa memperluas konsep yang sudah mereka dapatkan. dan evaluate. pembuluh darah. Pada tahap ini peneliti menyediakan beberapa pertanyaan mendasar terkait materi yang akan dipelajari untuk mengetahui sampai dimana pengetahuan awal siswa. LKS 2 memuat materi mengenai alat-alat peredaran darah. dan transfusi darah.19). Ebert. siswa memiliki kesempatan yang lebih untuk memperluas pengetahuannya dan mencari hubungan konsep yang telah mereka dapatkan pada proses pembelajaran dengan konsep lain yang berhubungan. Selanjutnya terdapat tahap explore. versi siklus belajar (learning cycle) bermunculan dengan fase yang berkisar dari 3 ke lima (5e) sampai tujuh (7e). sehingga muncul respon pemikiran siswa.siswa yang diajarkan dengan LKS berbasis learning cycle 7e memiliki respon pemikiran awal dan membangun persepsi mereka pada tahap awal pembelajaran sambil mengingat/membangkitkan konsep yang sudah ada melalui tahap elicit. pada tahap extend yang mereka kerjakan di rumah dan mencari referensi-referensi yang berkaitan. yang terdiri dari jantung. memberi waktu siswa untuk memperhatikan video. terlihat bahwa pada tahap elicit guru memberikan pertanyaan mendasar pada LKS yang berhubungan dengan materi yang akan dipelajari. LKS 1 masing-masing LKS memuat materi mengenai darah. Pelaksanaan pembelajaran yang dilakukan oleh guru diamati melalui lembar observasi. Hasil tersebut menjelaskan bahwa hasil belajar siswa yang diajarkan dengan LKS berbasis learning cycle 7e hasil belajarnya sangat baik. Guru juga mamfasilitasi siswa untuk melakukan percobaan dan menyediakan tabel pada LKS untuk mencatat data hasil percobaan. Pada tahap extend. hasil observasi menunjukkan bahwa guru menyediakan permasalahan baru untuk diselesaikan yang mirip dengan konsep yang dipelajari. dan menyediakan kolom pada LKS untuk membuat resume video.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Pembelajaran dimulai dengan pengerjaan LKS tahap elicit. 159 . hasil observasi menunjukkan bahwa guru memberikan kesempatan untuk mentransfer pengetahuan siswa pada LKS dan memberikan pertanyaan pada LKS yang berkaitan dengan konsep lain. hasil observasi menunjukkan bahwa guru membangkitkan minat dan rasa ingin tahu siswa melalui artikel/kegiatan pada LKS. Pada tahap engage. selain itu siswa juga mencari hubungan konsep yang mereka pelajari dengan konsep lain yang sudah atau belum mereka pelajari. Kedua tahap tersebut cukup memberikan dampak. 11 September 2014 Pembahasan Hasil uji hipotesis pada hasil belajar siswa (post-test) menunjukkan kesimpulan bahwa H0 ditolak. guru memutarkan video. Dengan demikian. penggolongan darah. elaborate. Pembagian LKS ini disesuaikan dengan sub bab pada materi sistem peredaran darah manusia. Berdasarkan hasil observasi. Pada tahap explain. Pada tahap explore. terdapat tahap extend.

Hasil observasi tersebut menunjukkan bahwa partisipasi siswa dalam proses pembelajaran menggunakan LKS lebih dari 50%. 1. Bentley. 2010. Skripsi pada Sarjana UIN Syarif HIdayatullah Jakarta: Tidak dipublikasikan. Hasil Belajar Biologi Melalui Penerapan Metode Talking Stick dalam Model Learning Cycle Ditinjau dari Motivasi Belajar Siswa di SMA Negeri 5 Surakarta. khususnya kepada para guru sebagai orang yang langsung berinteraksi dengan siswa disarankan untuk membuat dan memilih lembar kegiatan siswa (LKS) yang sesuai dengan kebutuhan siswa dan indikator pembelajaran. 3. Cet XIV. The educator’s Field Guide: From Organization to Assessment (and Everything in Between). dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh penggunaan LKS berbasis learning cycle 7e pada pembelajaran konstruktivisme konsep sistem peredaran darah. 2012. “Pengaruh Model Cooperative Learning Teknik Think-Pair-Share Terhadap Hasil Belajar Biologi Siswa pada Konsep Sistem Sistem Peredaran Darah”. 2011. 160 . Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. The International Journal of Research in Teacher Education. Bandung: Remaja Rosdakarya. Trianto. Jurnal Pendidikan Biologi. 2011. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa LKS berbasis learning cycle 7e memberikan pengaruh pada proses pembelajaran siswa dan hasil belajarnya. pada setiap pertemuan. Model ini dapat membuat pengetahuan jangka panjang. SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian. et al. Cet III. Jakarta: Rineka Cipta. Model Pembelajaran Terpadu dalam Teori dan Praktek. Teaching Contructivist Science. Yalcin N. Eisenkraft A. Siswa menjadi lebih mampu menerapkan pengetahuan mereka di bidang lain di luar konteks aslinya. Standar Isi untuk Satuan Pendidikan Dasar dan Menengah. SARAN Dalam kegiatan belajar mengajar di sekolah. DAFTAR PUSTAKA Arikunto S. United States of America: Corwin Press. Edward S. 2003. Dengan demikian tujuan pembelajaran akan tercapai dengan lebih efektif dan efisien. 2007. 2011. et al. Cet I. Ebert II. Jakarta: Badan Standar Nasional Pendidikan. Journal of Turkish Science Education. Suyono H. 2006.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Fadhillah DSN. The Effectiveness of The Learning Cycle Model to Increase Students’ Achievement In The Physics Laboratory. The Effect of Worksheets Developed for the Subject of Chemical Compounds on Student Achievement and Permanent Learning. Jakarta: Prestasi Pustaka. National Science Teacher Association. Nuhoglu H. Belajar dan Pembelajaran: Teori dan Konsep Dasar. United States of America: Corwin Presss. K-8: Nurturing Natural Investigators in The Standards-based Classroom. Michael L. Expanding The 5E Model: A proposed 7E Model Emphasized “Transfer of Learning” and The Importance of Eliciting Prior Understanding. dalam hal ini pada saat pengerjaan LKS. 11 September 2014 Observer juga mengamati proses belajar siswa di kelas. Marlina L. Celikler D. Ini berarti bahwa hampir seluruh siwa berpartisipasi pada saat proses pembelajaran. 2010. Hasil tersebut relevan dengan penelitian Nuhoglu dan Yalcin (2006) yang menunjukkan bahwa model learning cycle membantu siswa untuk belajar secara efektif dan mengatur pengetahuan dalam cara yang berarti. 2007. Tidak dipublikasikan. 2006.

Literasi Lingkungan PENDAHULUAN Tantangan pendidikan saat ini bagi bangsa Indonesia adalah salah satunya bagaimana siswa dapat menerapkan ilmu pengetahuan yang telah diajarkan dengan realita kehidupan sehari-hari.com Abstrak Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan literasi lingkungan pada siswa terhadap penggunaan bahan ajar buku suplemen berbasis pendidikan lingkungan. Sehingga dapat dibuat tanggapan hipotesis bahwa pengaturan lingkungan adalah pada dasarnya seiring dengan pengaturan aktifitas manusia. istilah ini pertama kali dikemukakan oleh Charles E. Berdasarkan analisis kamampuan literasi lingkungan siswa diperoleh hasil rata-rata pada aspek pengetahuan tentang lingkungan (knowledge) 82. Pendidikan Lingkungan. batubara dan gas sebagai sumber energi utama yang menimbulkan banyak pencemaran bagi lingkungan. proses. sikap (attitude) terhadap lingkungan 69. Roth pada tahun 1968 sebagai jawaban dari pertanyaan-pertanyaan media tentang ketidakpedulian terhadap lingkungan.56%. Penelitian ini tergolong penelitian deskriptif kuantitatif yang dilakukan melalui tahapan pembuatan bahan ajar buku suplemen yang diintegrasikan pendidikan sebagai media pembelajaran yang kemudian diimplementasikan kepada siswa dan menganalisis kemampuan literasi lingkungan yang dimiliki oleh siswa. Dan dapat disimpulkan kemampuan literasi lingkungan dapat didukung oleh penggunaan bahan ajar buku suplemen berbasis pendidikan lingkungan khususnya pada aspek pengetahuan. sehingga pendidikan sekolah benar-benar dapat dijadikan proses pengembangan kemampuan akademik serta karakter yang baik bagi lingkungan sekitar dan dalam bermasyarakat. saat ini pembelajaran sains lebih diarahkan untuk mendapatkan nilai akademik yang tinggi. sikap dan tujuan dari penerapan dari konsep dan teknologi terlihat kehilangan tujuan sepenuhnya. telah divalidasi oleh dua pakar dari akademisi dan praktisi.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.21%. Salah satunya yaitu upaya menjadikan pelajar yang berilmu dan sadar akan hubungan dengan lingkungan dan tanggung jawabnya.02%. Berhubungan dengan pelajaran kimia dan pelajaran pengetahuan alam lainnya. Pada tahap pembuatan bahan ajar yang digunakan. pendidikan lingkungan adalah penting untuk mendapatkan perhatian sebagai salah satu pendidikan berkelajutan. yaitu “siapakah yang telah mencemari lingkungan” 161 . Kemampuan literasi lingkungan yang diukur meliputi tiga aspek yaitu knowledge (pengetahuan). Sebagaimana kita ketahui saat ini negara menggunakan minyak bumi. Jumlah sampel sebanyak 39 siswa kelas X-1 dari sekolah SMAN 11 Tangerang. attitude (sikap) dan skill (keahlian). Selain itu respon siswa terhadap penggunaan bahan ajar buku suplemen untuk literasi lingkungan sangat positif Kata Kunci: Buku Suplemen. malasnya memakai masker saat di jalan. serta masih banyaknya siswa yang kurang sadar terhadap permasalahan-permasalahan lingkungan seperti penggunaan energi yang kurang hemat. Dari hasil yang diperoleh dapat dikatagorikan rata-rata pencapaian literasi lingkungan siswa dengan kriteria baik. fakultas ilmu tarbiyah dan keguruan irzaqotul_inayah@yahoo. Nurmalahayati (2011) menuturkan pendidikan kimia yang diharapkan meliputi tujuan dari produk. keahlian menentukan keputusan terhadap lingkungan (skill) 75. 11 September 2014 ANALISIS LITERASI LINGKUNGAN SISWA PADA PENGGUNAKAN BAHAN AJAR BUKU SUPLEMEN BERBASIS PENDIDIKAN LINGKUNGAN Irzaqotul Inayah Pendidikan kimia. Konsep pendidikan lingkungan pertama kali muncul dalam sebuah artikel yang diterbitkan di Massacusets pada tahun 1969.

motivasi untuk melakukan sebuah tindakan dan perumusan strategi dalam memelihara alam. pengajar dan materi subjek (Yanti. anak akan terpengaruh perkembangan minat. dan prinsip ilmu dasar yang dihubungkan dengan pemanfaatan alam. (3) Buku Referensi. 2012). seperti kegiatan eksploitasi alam yang akan menyebabkan ketidakseimbangan alam seperti banjir. Saat ini pemerintah telah memberikan kebebasan kepada satuan tingkat pendidikan untuk mengembangkan indikator-indikator serta bahan ajar yang ada dengan rambu-rambu penyusunan dan pengembangannya yang telah ditentukan oleh pemerintah. Pada saat ini pendidikan tidak dapat melepaskan diri dari buku. 2008). (2) Buku Pengayaan/buku suplemen. pengembangan karakter adalah tujuan pendidikan kimia. Dengan berliterasi lingkungan seseorang memiliki rasa peduli. dimana prinsip dasarnya adalah interaksi atau hubungan antara individu dengan lingkungannya (relation). Dalam PP Nomor 19 Tahun 2005 Pasal 20. 11 September 2014 Selain tentang pengetahuan. Salah satunya yaitu penggunaan sumber belajar yang tepat. naiknya suhu bumi yang membahayakan lingkungan alam dan kehidupan tersebut. Pada dasarnya pengertian litarasi selalu berhubungan dengan kemampuan membaca dan menulis. dan saat ini sumber belajar yang paling umum adalah buku. Buku suplemen berbasis pendidikan lingkungan adalah buku yang digunakan untuk melengkapi materi pelajaran yang disusun dengan isi yang berhubungan dan berdasarkan tujuan dari pendidikan lingkungan itu sendiri. kepentingan memelihara lingkungan hidup. Roth (1992) menyatakan bahwa literasi lingkungan adalah kemampuan menghayati dan mengartikan sistem kesahatan lingkungan yang tidak menentu dan mengambil tindakan yang sesuai untuk memelihara. guru diharapkan untuk mengembangkan bahan ajar sebagai salah satu sumber belajar. Lebih lanjut Masnur (2010) menyatakan lewat membaca buku. Tujuan awal dari pendidikan lingkungan adalah membangun literasi lingkungan pada beberapa tingkatan kompetensi. Lewat buku siswa dapat menambah wawasan yang pada akhirnya secara langsung maupun tidak langsung akan memengaruhi pola pikir dan sikapnya. Sumber belajar akan menentukan darimana para siswa memperoleh pengetahuan. Buku teks pelajaran merupakan salah satu sumber yang berisi bahan yang diperlukan untuk mencapai tujuan pembelajaran yang dituntut dalam kurikulum (Sitepu. Hubungan antara pengembangan buku ajar dan suplemen dengan nilai budaya tertentu yang akan dicapai dapat dilakukan dengan menggabungkan konsep meteri dengan nilai yang akan diperoleh. dan (4) Buku Panduan Pendidik. Oleh karena itu buku teks memainkan peran yang penting dalam proses belajar mengajar di kelas (Maya 2011). diisyaratkan bahwa guru diharapkan mengembangkan materi pembelajaran. hal tersebut dapat dilaksanakan dengan melihat faktorfaktor penunjang proses belajar mengajar tersebut. Hal ini senada dengan tujuan pendidikan yang harus dicapai yaitu pendidikan yang holistik atau menyeluruh. Pembangunan karakter memiliki aspek yang sangat penting dalam hidup bernegara. Sebagaimana 162 . tanggung jawab (responsibility) untuk menciptakan dan menjaga hubungan yang harmonis dan sinergis dengan alam semesta. emosi dan penalarannya sehingga buku dapat mempengaruhi siswa itu sendiri. Menurut pusat kurikulum dan perbukuan nasional terdapat empat jenis buku yang dugunakan dalam dunia pendidikan yaitu (1) Buku Teks Pelajaran. Dalam teori pedagogi setidaknya ada tiga unsur yang menunjang tercapainya proses belajar mengajar yaitu pembelajar. Salah satu karakter sebagai hamba Tuhan yang harus ditanamkan oleh peserta didik adalah peka dan cinta terhadap alam dan lingkungan. 2011). Literasi lingkungan dapat dikatakan sebagai kemampuan dimana seseorang mampu melihat dan menjaga alamnya dari berbagai kemungkinan yang merugikan. atau meningkatkan kesehatan dari sistem tersebut. sikap sosial. Seseorang dapat melihat keadaan alamnya serta bahayabahaya yang mengancamnya. menuturkan bahwa pendidikan lingkungan ini meliputi sebuah pemahaman peran manusia di alam. Dengan demikian. perhatian. memperbaiki. lebih jauh lagi dapat diaplikasikan dalam masalah-masalah social Lalu bagaimanakah tujuan tersebut dapat dicapai. Wilke (1995) sebagaimana dikutip oleh Mony.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Karakter peka terhadap lingkungan dan tanggung jawab sebagai warga negara tersebut dapat dibentuk melalui pendidikan kimia yang dihubungkan dengan sikap individu yang diimplementasikan terhadap kehidupan dimana mereka tinggal (Nurmalahayati.

maka dalam penelitian ini dilakuakan analisis atau peninjauan seberapa besar kontribusi buku suplemen berbasis pendidikan lingkungan terhadap pencapaian literasi lingkungan. Pengetahuan dan pemahamankonsep 2. METODE Analisis literasi lingkungan pada penelitian ini dilakukan melalui metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. membuat struktur bahan ajar. Sikap Pendidikan di dan melalui lingkungan Gambar 1. Semua dimensi tersebut dibagi lagi dalam berbagai indikator yang digabungkan dengan indikator pada topik minyak bumi.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Temuan tersebut sesuai dengan temuan Supriadi (1997) yang menyatakan bahwa tingkat kepemilikan siswa akan buku berkorelasi positif dan bermakna terhadap prestasi belajar. selanjutnya pembuatan instrumen penilaian literasi lingkungan. Tahap selanjutnya adalah penerapan bahan ajar buku suplemen dalam proses pembelajaran berdasarkan RPP yang telah disusun. 11 September 2014 penelitian yang dilakukan oleh I Wayan Suja dengan judul “Pengembangan Buku Ajar Sains SMP Mengintegrasikan Content dan Context Pedagogi Budaya Bali”. Mengingat betapa pentingnya faktor penunjang pencapaian pendidikan lingkungan bagi siswa dan buku pelajaran dalam menunjang pencapaian pembelajaran. Adapun teknik pengumpulan data secara keseluruhan dari penelitian ini dapat dilihat pada tabel berikut: 163 . Jumlah sampel yang diambil adalah kelas X-1 SMAN 11 Tangsel. kemudian dilakukan validasi. Menurut Palmer (1994) dimensi literasi lingkungan yang tertuang dalam pendidikan lingkungan meliputi tiga aspek yaitu: pengetahuan dan pemahaman (knowledge and understanding). keahlian (skill) dan sikap (attitude). Hubungan Komponen Pendidikan Lingkungan Komponen-komponen tersebut dirangkum dan dituangkan dalam bahan ajar buku suplemen dimana siswa dapat belajar mengenai manfaat dan dampak serta bagaimana menjaga kesehatan dari bahaya minyak bumi yang berupa pembelajaran dari lingkungan tentang lingkungan dan untuk lingkungan. Tahap pembuatan buku suplemen meliputi anilisis kebutuhan bahan ajar. Dalam perencanaan pencapaian kurikulum pendidikan lingkungan dapat dilakukan dari komponen-komponen yang berhubungan sebagaimana terlihat pada gambar berikut: Proses Pembelajaran 1. dimana tidak semua buku mencakup nilai tersebut. Keahlian/ kemampuan 3. dapat meningkatkan kualitas dan proses hasil belajar. memahami kriteria pemilihan sumber belajar. Tahapan penelitian diawali dengan persiapan dengan pembuatan bahan ajar buku suplemen yang disusun berdasarkan penggabungan konsep minyak bumi dengan kisi-kisi dan indikator pendidikan lingkungan.

yang meliputi tiga aspek yaitu pengetahuan. Soal-soal disusun berdasarkan indikator literasi lingkungan yang disesuaikan dengan konsep minyak bumi. dengan kriteria penilaian sebagai berikut: Tabel 2. Jenis Data. Telaah penilaian yang dikembangkan buku dokumen Jenis data Penilaian kemampuan lingkungan literasi Siswa 3 Soal-soal literasi lingkungan dan pertanyaan sikap Dokumentasi Instrumen Pedoman validasi Tes Angket Unjuk kerja siswa dalam kegiatan Siswa Rubrik pembelajaran siswa *Proses pembuatan buku.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Sumber Data dan Instrumen Sumber Teknik data pengumpulan data Kualitas bahan ajar dan perangkat Pakar. sikap dan keahlian terhadap lingkungan. sebelum dilaksanakannya pengukuran literasi lingkungan kerja Instrumen yang digunakan pada penelitian ini berupa tes literasi lingkungan. 11 September 2014 No 1* 2 Tabel 1. Kriteria Penilaian Indikator Pertanyaan Literasi Lingkungan No Indikator Pertanyaan dan Skor Maksimum Aspek Literasi Lingkungan 1 Mengetahui keadaan lingkungan baik lokal maupun global Ilmu dasar tentang lingkungan (16 poin) Mengetahui dan memahami dari permasalahan lingkungan pada jenjang yang berbeda yang meliputi pemahaman dari perbedaan pengaruh diantara alam dan manusia pada permasalahan-permasalahan yang ada Mengetahui sikap yang harus diambil dan pendekatan untuk menghadapi masalah lingkungan 2 3 4 5 Pengetahuan tentang masalah-masalah lingkungan (6 poin) Penghayatan pengetahuan dalam tindakan (12 poin) Penghayatan kemampuan dalam tindakan (60 poin) Pengidentifikasian masalah (1poin) 6 Memiliki sebuah pengetahuan tentang lingkungan dan kepedulian alam untuk membangun lingkungan Memiliki sebuah sikap yang berhubungan dengan permasalahan lingkungan dan pemahaman terhadap lingkungan Bersikap baik terhadap lingkungan dan menyampaikan informasi kepada sesama tentang tindakan yang baik terhadap lingkungan Menghubungkan pendapat pribadi dengan pilihan sikap terhadap permasalahan lingkungan. yang meliputi pembenaran sebuah sikap atau pencapaian sebelumnya Mengevaluasi informasi tentang lingkungan. dari sumber yang berbeda untuk dapat menyelesaikan permasalahan lingkungan Analisis masalah (10 poin) 7 Perencanaan tindakan (7 poin) Menyebutkan cara yang sesuai dalam masyarakat untuk membawa perubahan lingkungan yang lebih baik Setelah semua data terkumpul dilakukan analisis data berdasarkan persentase pencapaian yang dikonversi dalam kriteria berikut: 164 .

09 74. DARI SUMBER YANG BERBEDA MENYEBUTKAN CARA YANG SESUAI DALAM MASYARAKAT UNTUK MEMBAWA PERUBAHAN LINGKUNGAN YANG LEBIH BAIK Gambar 2.15 60 40 20 0 Pengetahuan Sikap Kemampuan MENGETAHUI KEADAAN LINGKUNGAN ALAM BAIK LOKAL MAUPUN GLOBAL MENGETAHUI DAN MEMAHAMI PERMASALAHAN PADA TINGKAT YANG BERBEDA MENGETAHUI SIKAP YANG HARUS DIAMBIL UNTUK MENGHADAPI MASALAH LINGKUNGAN MEMILIKI PENGETAHUAN TENTANG LINGKUNGAN DAN KEPEDULIAN LINGKUNGAN MEMILIKI SIKAP YANG BERHUBUNGAN DENGAN PERMASALAHAN LINGKUNGAN BERSIKAP BAIK TERHADAP LINGKUNGAN DAN MENYAMPAIKAN INFORMASI KEPADA SESAMA MENGHUBUNGKAN PENDAPAT PRIBADI DENGAN PILIHAN SIKAP TERHADAP PERMASALAHAN LINGKUNGAN MENGEVALUASI INFORMASI TENTANG LINGKUNGAN.60% (baik). aspek sikap sebesar 69. 11 September 2014 Tabel 3.36 67. sehingga pengetahuan terhadap masalah tersebut sebagai prasyarat untuk bertindak.37 70.56% (cukup) dan aspek keahlian (kemampuan kognitif) sebesar 75. Diagram Batang Pencapaian Aspek-Aspek Literasi Lingkungan 165 . Sebelum seseorang dapat bertindak secara sadar terhadap fakta permasalahan lingkungan.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta.44 80 71.02% (cukup). dimana pada penyampaian pendidikan tersebut dilakukan dengan menggunakan media buku suplemen berbasis pendidikan lingkungan. Pedoman Penilaian Persentase Tingkat penguasaan Predikat 86 – 100% Sangat baik 76 – 85% Baik 60 – 75% Cukup 55 – 59% Kurang ≤ 54% Kurang sekali Ngalim Purwanto (2010) HASIL DAN PEMBAHASAN Persentase Analisis kemampuan literasi lingkungan dilakukan setelah para siswa mendapatkan pembelajaran pada konsep Minyak Bumi yang dihubungkan dengan pendidikan lingkungan.52 72. Dengan rincian pada tabel berikut: 91.21% (baik). seseorang tersebut harus disadarkan terhadap permasalahan yang benar-benar ada di sekitar mereka. Secara keseluruhan diperoleh hasil pengukuran kemampuan literasi lingkungan 100 dengan persentase rata-rata sebesar 75. Berdasarkan hasil pengukuran kemampuan literasi lingkungan diperoleh hasil dengan persentase pada aspek pengetahuan sebesar 82.26 83.18 66.03 Kemampuan Literasi Lingkungan 85.

sebagai dasar aspek pengambilan keputusan. Dari sini dapat terlihat kemampuan yang dirasakan oleh siswa masih belum sama seutuhnya dengan pencapaian sikap dan tindakan yang mereka miliki. siswa menggambarkan masalah-masalah yang ada di dunia nyata bukan hanya di dunia sekolah. 11 September 2014 Pada dimensi pengetahuan (knowledge) ini berisi tentang proses alami yang berlangsung di alam dan dampak dari kegiatan manusia terhadap lingkungan. Siswa mengetahui hubungan antara indikator pada konsep minyak bumi dengan aspek pendidikan lingkungan dengan baik dengan pencapaian 82. Namun masih terdapat beberapa siswa yang belum dapat memahami secara keseluruhan. Hal ini menjadi tolak ukur atau perasaan siswa untuk mengintrospeksi bagaimanakah pemahaman dan sikap mereka untuk lingkungan. sehingga buku suplemen dapat dibuat sebagai media pembawa kebenaran. Berdasarkan data yang diperoleh pada dimensi ini. Namun pada hasil penelitian setiap aspek pada dimensi ini memiliki persentase pencapaian yang tidak terlalu jauh sehingga dapat diambil sebuah kesimpulan pencapaian dimensi sikap dengan kriteria cukup.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. 1998). Siswa yang terbiasa melakukan penilain diri sendiri. seperti kegunaan minyak bumi dan keadaan lingkungan mereka saat ini sebagai akibat dari pengaruh kegiatan manusia serta pemberdayaan alam yang ada. Pada penilaian dimensi sikap (attitude).44% dengan kriteria cukup. Hal ini sejalan dengan tujuan dari buku suplemen berdasarkan PerMenDikNas Nomor 2 Tahun 2008 Pasal 6 Ayat 3 yang menyatakan bahwa buku suplemen digunakan untuk menambah pengetahuan dan wawasan peserta didik. Hal ini menujukkan siswa yang memiliki pengetahuan tentang permasalahan yang umum mampu menggambarkan keadaan lingkungannya sebagai rasa kepeduliannya terhadap lingkungan sekitar. Dari pengetahuan tentang lingkungan tersebut diharapkan dapat menjadi modal awal siswa untuk lebih memahami lingkungan. Dimensi sikap ini merupakan bagian dari pendidikan untuk lingkungan (education for environment). Pencapaian paling tinggi aspek literasi lingkungan pada dimensi ini adalah “Memiliki sebuah sikap yang berhubungan dengan permasalahan lingkungan dan pemahaman terhadap lingkungan” sebesar 72. Sebagian besar hanya menyebutkan akibat dari penggunaan bahan bakar fosil. Dari penilaian ini siswa mengukur kemampuan literasi lingkungkungan diri mereka sendiri terhadap 166 . Siswa merasa memiliki pemahaman terhadap lingkungan dan dapat mengambil sikap yang baik terhadap permasalahan lingkungan seperti kegiatan hemat energi listrik. Pengetahuan ini membangun sikap kepedulian mereka dalam melihat keadaan alam di sekitar lingkungan mereka. khususnya guna pencapaian tujuan pendidikan. buku suplemen yang digunakan telah memberikan informasi yang baik terhadap pencapaian pengetahuan pada pendidikan lingkungan khususnya pada konsep minyak bumi yang terangkum secara keseluruhan di dalamnya. mereka akan terbiasa dengan sikap yang lebih objektif. Berdasarkan data hasil analisis aspek tersebut diperoleh pencapaian sebesar 72.4%. sebagaimana penelitian yang dilakukan oleh Siti Maryam (2012) yang menyatakan bahwa cerita pendek sebagai salah satu dari hasil budaya dapat dibuat sebagai media atau bahan untuk mengajarkan nilai sosial dan budaya. Pada aspek ini siswa menilai diri mereka sendiri terhadap penguasaan literasi lingkungan dan menyampaikan sikap yang telah mereka lakukan. dimana siswa menilai diri mereka sendiri.21%. Penilaian ini sesuai dengan ruang lingkup penilaian pada kurikulum 2013 yang diterapkan khususnya pada dimensi sikap. Adapun pada aspek yang lainnya diperoleh persentase yang lebih rendah. keterkaitan antara satu aspek yang berakibat kepada aspek lain. sebagaimana Environment Literacy Council mendefinisikan literasi ekologi yang sebagai hubungan antara makhluk hidup dan pengaruhnya terhadap yang lain sebagai kemampuan untuk bertanya “kemudian apa?” dan bagaimana untuk hidup di bumi?. Siswa yang memiliki pengalaman dengan permasalahan yang terkenal menunjukkan reaksi empati yang kuat terhadap alam dalam sebuah perkumpulan (Palmer. Adapun siswa yang tidak termasuk ke dalam persentase pencapaian pada penelitian ini mereka belum dapat menggambarkan secara jelas. Misalnya perubahan suhu yang tidak menentu akibat gas pemanasan global menyebabkan punahnya sebagian ekosistem dan perkembangan yang tidak terkendali dari ekosistem lainnya. Kegunaan buku suplemen sebagai bacaan bahan pelajaran sangatlah mungkin.

Pada dimensi ini. berinteraksi. Ranah efektif ini yang berkenaan dengan perasaan. Berdasarkan hasil tersebut dapat dilihat bahwa pencapaian dimensi sikap tidak dapat tercapai dengan waktu yang singkat. Pada aspek ini dibagi menjadi dua bagian yaitu “bersikap baik” berupa tindakan hemat energi atau ramah lingkungan dan “menyampaikan informasi kepada sesama” berupa sosialisasi dari kegiatan tersebut. Dimensi keahlian ini berkorelasi dengan dimensi pengetahuan yang siswa miliki dari proses membaca dan belajar. Siswa melakukan penanaman pohon. yang berupa “satu jiwa satu pohon” sebagai salah satu kepedulian terhadap lingkungan. Berdasarkan angket yang diberikan kepada 39 responden siswa kelas X-1 di SMAN 11 Tangerang Selatan mengenai penggunaan bahan ajar buku suplemen berbasis pendidikan lingkungan. Pada aspek keahlian (skill) ini siswa menunjukkan kemampuan dasar literasi lingkungan secara fungsional dalam menganalisis permasalahan yang ada dan mencari penyelesaiannya dengan menggunakan strategi utama atau kedua (Roth. Dari permasalahan yang diberikan siswa dapat mengidentifikasi permasalahan lingkungan. Kondisi inilah yang menyebabkan siswa memiliki perasaan kebermaknaan belajar mengenai alam dan menunjukkan perilaku atau perbuatan sesuai dengan makna yang terkandung. khususnya keahlian dalam pengambilan sebuah sikap dan keputusan yang terbaik terhadap lingkungan. Isu tersebut meliputi manusia. yaitu sebesar 71. Hal ini sejalan dengan pendapat yang disampaikan oleh Carl Rogers dalam Sudjana (2009) menyatakan bahwa seseorang yang telah menguasai tingkat kognitif perilakunya dapat diramalkan. melakukan kegiatan terhadap lingkungan. mengalami. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan oleh Witherington yang menyatakan bahwa tujuan dari pembelajaran adalah melakukan. teknologi. Siswa melakukan kegiatan sosialisasi tentang lingkungan berupa kegiatan terhadap lingkungan dengan memberikan informasi tentang lingkungan dan larangan serta kegiatan yang tidak baik. minat dan perhatian keinginan dan penghargaan yang tertuang bagi alam. Sebuah sikap dan tindakan diperlukan pendidikan yang tidak singkat.02% dengan kriteria baik. bertindak. Begitu pula pada bagian aspek tersebut belum tercapai secara 167 . Kepedulian terhadap lingkungan juga merupakan hal penting yang harus dicapai dalam pendidikan ini. 11 September 2014 kegiatan yang yang harus dilakukan untuk lingkungan. SIMPULAN Literasi lingkungan merupakan pencapaian pendidikan lingkungan yang sangat penting. Pada aspek mudah dipahami siswa merasa kurang dalam segi keberurutan penyusunan materi.56% dengan kriteria kurang sekali. meskipun terdapat beberapa siswa yang tidak melakukan kegiatan alam tersebut. diperoleh hasil rata-rata kepuasan penggunaan sebesar 88. sehingga perlu diperbaiki. Berdasarkan hasil yang diperoleh sebesar 75.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. namun masih rendah dalam kegiatan sosialisasi terhadap kegiatan untuk alam yaitu sebesar 52. “Isu lingkungan” mewakili hubungan perubahan sosial dan menghubungkannya kepada permasalahan antara akibat positif dan negatif yang terlibat dalam proses perubahan tersebut. Mengevaluasi informasi tentang latar belakang permasalahan lingkungan misalnya “faktor ekonomi yang menyebabkan pemerintah kurang memperhatikan perbaikan angkutan umum yang kurang ramah lingkungan” dan menyebutkan cara yang sesuai dalam masyarakat untuk membawa perubahan lingkungan yang lebih baik. lingkungan dan aspek ekonomi yang dihubungkan dengan pembangunan berkelanjutan. dari jawaban siswa dapat diambil sebuah kesimpulan tentang keahlian (cognitive skill) yang dimilikinya. 1992).05% dengan kriteria cukup. Hasil dari pembelajaran adalah segala yang diperoleh oleh peserta didik melalui kegiatan mereka sendiri (Bahri. 2006). Pada dimensi sikap yang dimaksudkan disini merupakan ranah efektif yang mengarah pada hasil belajar psikomotorik. masalah yang diberikan tertuang pada buku suplemen. Pertanyaan tersebut berupa bagaimana taggapan siswa terhadap penggunaan buku suplemen sebagai sumber informasi dan bahan ajar yang membantu mereka dalam pembelajaran pendidikan lingkungan.84% dengan kriteria sangat baik. berupa kemauan melakukan hal yang harus mereka lakukan. Sebagian besar siswa melakukan kegiatan ramah lingkungan dengan baik terkait penggunaan energi.

Pada dasarnya literasi lingkungan merupakan usaha seumur hidup (life long effort). Dalam pencapaian literasi lingkungan perlu adanya peran guru dalam pemanfaatan bahan ajar guna merangsang kemampuan siswa dalam dimensi literasi DAFTAR PUSTAKA Bahri S. Neal.org/article. The Handbook of Environmental Education. namun masing-masing aspek akan memberikan pengaruh yang signifikan pada komponenen-komponen (dimensi) tertentu. 2006. (Environmental Science and Engineering for the http://www. Philip. Are English Teacher the Agent of Cultural Imperialism. 2010. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Cet. 2010. Sebagaimana dijelaskan Charles E.enviroliteracy.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Massachusetts: Education Development Center. Penulisan Buku Teks Pelajaran. 21st Century. 168 . III. Ummi. International Journal for Educational Studies.html. 1992. persentase pada aspek pengetahuan sebesar 82. Sitepu. 5(1). Jakarta: Rineka Cipta. Bandung :Rosda. 2012. aspek sikap sebesar 69. Cet.56% (cukup) dan aspek keahlian (kemampuan kognitif) sebesar 75. Jakarta: FITK Press. Strengthening the Character: Uphold Ethics in Indonesian Language Study Pass by Supplementary Books. Sehingga berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh. Nurmalahayati. meskipun hasil yang dicapai belum dicapai secara maksimal khususnya dalam pencapaian literasi lingkungan secara total. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Remaja Rosdakarya. Pembuatan bahan ajar suplemen lebih divariasikan dengan kegiatan-kegiatan lingkungan yang bersifat langsung kepada lingkungan guna meningkatkan khususnya dimensi sikap 2. Environment Literacy Council. 2011.1. 2012. yang pada dasarnya kompetensi literasi lingkungan dapat dibentuk dari pembelajaran tersebut. Text Book Writing. Palmer. Purwanto N. Pendidikan Holistik. Pembangunan kemampuan literasi lingkungan memerlukan waktu yang lama. Defianty MK. Joy. namun pada penelitian ini diperoleh hasil bahwa sebagian besar siswa menjalankan sikap yang baik untuk lingkungan yang didasarkan pada pengetahuan dan kesadaran yang mereka miliki. Roth (1992) yang menyatakan tidak ada seorang guru secara pribadi dapat melaksanakan seluruh kegiatan dalam membentuk seseorang hingga pada tingkat tertinggi kompetensi literasi lingkungan. 1994).21% (baik). SARAN 1. dapat terlihat pada aspek manakah diperolah pencapaian yang maksimal atau bagian-bagian tertentu yang harus ditingkatkan. Evolution and Direction in 1990s. Jakarta: Ar-Ruz Media. Dimana siswa merasa lebih faham dan mengerti bagaimana keadaan lingkungan saat ini dan tindakan apa yang harus dilakukan. 11 September 2014 maksimal. Komponen yang berperan tersebut meliputi keluarga. Siswa masih kurang dalam melakukan kegiatan sosialisasi kegiatan untuk alam.02% (cukup). media. Pendidikan Holistik. Muslich M. Begitu pula dengan penggunaan bahan ajar suplemen tersebut. 2011. dapat dikatakan bahwa penggunaan bahan ajar suplemen sebagai media memberikan kontribusi dalam pembelajaran pendidikan lingkungan dalam menunjang literasi lingkungan terutama pada dimensi pengetahuan. komunitas. Maryam S. Roth CE.php/1489. organisasi keagamaan dan kelompok yang diminati dan tempat kerja. Developing Character Building through Chemistry Education in the University in Aceh. London: Routledge. Environmental Literacy Its Roots. Jakarta: FITK Press. diakses pada ) 19 Februari 2012.

Jurnal Penelitian. IW. Sudjana N. Bandung: Rosda Karya. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. 169 . 2002.Prosiding Seminar Nasional Pendidikan IPA FITK UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Jakarta. Pengembangan Buku Ajar Sains SMP Mengintegrasikan Content dan Context Pedagogi Budaya Bali. 11 September 2014 Suja. 2009. Cet ke-14.