Anda di halaman 1dari 104

Muhammad Mujianto

Mu ianto
Penulis Freelance & Pemilik Blog: http://pustakalaka.wordpress.com

Pengalaman Sederhana
Menulis di Media Massa

Alhamdulillah,

Dimuat !

Sebuah Nasihat, Motivasi, dan Inspirasi


untuk Remaja Muslim
yang Ingin Berdakwah Lewat Tulisan

Seke
Sekedar

Berbagi cerita
Pustaka


2

Dakwah bil Kitabah


Alhamdulillah,

Bismillah...
dengan menyebut nama-Mu ya Allah
kugerakan tangan
coba berdakwah lewat tulisan

TULISANKU Dimuat !

berbekal firman dan sabda


kuayunkan pena
ke kiri dan ke kanan
agar terbuka sebuah jalan

Penulis:
Muhammad Mujianto

jalan yang terang


jalan yang lurus tak berbilang
jalan yang menuju ke satu tujuan
Dakwah bil kitabah
tahukah kamu, apakah dakwah bil kitabah itu?
yaitu berdakwah lewat tulisan
berdakwah dengan pena di tangan


3

Layout & Desain Sampul:


Abdul Jabbar

Penerbit:
Pustaka

Sebuah Persembahan Sederhana


Teruntuk,
para SAHABATKU yang pernah bertanya di suatu ketika:

Gimana sih cara nulis di media?


Wa bil khusus Al-Akh B. Widha P. di Jawa Timur sana yang
pernah mengirim SMS di suatu malam (20.49 WIB):

Assalamualaikum. Mas, gimana


kabarnya? Ana tadi seminar privat
dengan seorang produser Buletin
Siang RCTI, beliau juga malang
melintang di jurnalistik. Tadi
diajarkan penulisan dan editing yang
sesuai dengan bahasa jurnalistik.
Nah, ana jadi tertarik nulis-nulis
di Republika nih, tapi nggak tahu
kapan, gimana sih caranya? Syukron.

&
Untuk semua REMAJA MUSLIM
yang ingin berdakwah lewat tulisan.
Meski tak seterang mentari,
semoga yang sederhana ini berguna bagi kalian
sebagai bekal menyelami dunia tulis-menulis
yang begitu dalam, mengasyikkan, namun penuh misteri.
SEMOGA SUKSES, SOBAT !

Pengharapan Seorang Hamba


Kutulis buku ini karena
aku tak tahu,
kapan nyawaku akan berpisah dari raga
Dan, karena ku juga tak tahu
di akhir hembusan nafasku
apakah pahala yang telah kukumpulkan selama menghirup
udara bumi
bisa menghapus dosa yang terlanjur kuperbuat
Oleh karena itu,
Kutulislah buku ini
Karena ku yakin betul
akan kebenaran sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
Sallam :

Jika manusia telah mati, maka terputuslah


semua amalnya, kecuali tiga hal: sedekah
jariyah, ILMU YANG BERMANFAAT,
BERMANFAAT dan
anak shalih yang mendoakannya.
(HR. MUSLIM)

Harapanku
Buku ini akan tetap memproduksi pahala untukku
Meski jasadku telah hancur di makan tanah
Terkubur sepi di dalam celah sempit liang lahat

Ya Alloh...!
Perkenankanlah kiranya...
7

MENU PERBINCANGAN
UCAPAN PEMBUKA
DAPAT APA DENGAN MENULIS ?
MENYELAMI DUNIA TULIS-MENULIS
HONOR DARI ALLOH
GIMANA SIH CARANYA?
7 LANGKAH MEMBUAT ARTIKEL (Bagian-1)
MEMBEDAH ARTIKEL
7 LANGKAH MEMBUAT ARTIKEL (Bagian 2)
MENGIRIM ARTIKEL
NAMA PENA
MELAWAN KEBUNTUAN
GIMANA SUPAYA GAMPANG ?
LADANG LUAS TERBENTANG
MENEMBUS MEDIA
JURUS AT
MENULIS PAKAI ATURAN
BELAJAR MENULIS DARI ZIDANE
MENJADI PENULIS SUKSES
NASIHAT IMAM ASY-SYAFII
CERITA PENUTUP
UCAPAN TERIMA KASIH
REFERENSIKU
TAARUF DENGAN PENULIS

10

UCAPAN PEMBUKA
BISMILLAAHIRROHMAANIRROHIIM

Assalamualaikum wa Rohmatullahi wa Barokatuh.


Sobat muda, gimana kabarnya nih? Semoga baik-baik
saja, kan? Alhamdulillah deh kalo gitu. Senang sekali saya
mendengarnya. Semoga kita semua senantiasa diberi kesehatan
selalu oleh Alloh Subhanahu wa Taala. Amieen...ya Alloh...
Eh, tapi jangan lupa loh untuk senantiasa bersyukur
kepada Alloh Subhanahu wa Taala. Supaya apa? Ya, supaya
kita terus diberi kucuran nikmat-Nya. Jangan sampai kita dapat
azab dari Alloh gara-gara kita nggak mau bersyukur. Sebab,
Alloh Subhanahu wa Taala berfirman begini:

Dan jika kamu bersyukur, sungguh Aku akan menambah


nikmat-Ku kepadamu; dan jika kamu kufur, sesungguhnya
azab-Ku sangat pedih. (QS. Ibrahim [14]: 7)
Nah tuh, dengerin tuh! Kita memang kudu senantiasa
bersyukur kepada Alloh Subhanahu wa Taala. Lagi pula ini
memang sudah seharusnya kita lakukan. Kenapa? Sebab, Alloh
Subhanahu wa Taala sudah memberikan begitu banyak
nikmat-Nya kepada kita, yang seandainya kita mau ngitungngitung niscaya nggak bakalan sanggup deh, karena saking
banyaknya tuh nikmat. Makanya Alloh Subhanahu wa Taala
pernah berfirman begini:
Seandainya kamu menghitung nikmat-nikmat Alloh, maka
kamu tidak akan sanggup menghitung nikmat-nikmat itu. (QS.
Ibrahim [14]: 34)

11

Coba saja kita lihat apa yang ada pada diri kita.
Misalnya saja mata. Coba deh kamu bayangin seandainya kamu
nggak punya mata. Kamu nggak bisa ngelihat indahnya warnawarni bunga, hijaunya pepohonan, kupu-kupu lucu yang
beterbangan, pegunungan yang tinggi menjulang, air laut yang
membiru, pasir pantai yang putih kemilau, lembayung senja di
ufuk barat, dan pemandangan alam lainnya yang masyaAlloh
indahnya.
Ini baru satu nikmat. Belum nikmat-nikmat lainnya
seperti hidung, telinga, mulut, tangan, kaki, dan nikmat-nikmat
lainnya yang BUAAAAAAAANNNNYAK nggak keitung.
Makanya, sekali lagi, kita kudu senantiasa bersyukur kepada
Alloh. Supaya kita terus dan terus mendapat tambahan nikmat.
Bukannya malah sebaliknya, kita justru diazab karena nggak
mau bersyukur. Bisa saja kan, kalo Alloh mau, mata kita
diambil oleh Alloh dengan berbagai macam cara. Bisa saja,
misalnya, kita mengalami kecelakaan yang mengakibatkan
mata kita buta. Naudzubillah min dzalik.
Makanya sobat, jangan lupa bersyukur, ya! Caranya
gimana? Ya, tentunya dengan mempergunakan semua nikmat
pemberian Alloh sebagai sarana untuk beribadah kepada-Nya.
Jadi, selain kita berucap syukur dengan lisan kita, misalnya
dengan mengucap Alhamdulillah, kita juga kudu mengucap
syukur dengan anggota badan kita. Kita gunakan seluruh
nikmat pemberian Alloh sebagai sarana untuk beribadah
kepada-Nya, apa saja bentuknya nikmat itu. Entah nikmat
berupa panca indera, kesehatan, ilmu pengetahuan, atau barangbarang yang kita miliki. Pokoknya semuanya kita gunakan
untuk beribadah kepada-Nya. Jangan sampai sedikitpun kita
gunakan buat bermaksiat kepada-Nya. Hendaknya kita ukir
dalam hati sanubari kita firman Alloh Subhanahu wa Taala
berikut ini:
Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku
hanyalah untuk Alloh, Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi12

Nya; dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku


adalah orang yang pertama-tama menyerahkan (diri kepada
Allah). (QS. Al-Anam:162-163)
Lagi pula, tujuan kita diciptakan ke dunia ialah untuk
beribadah kepada Alloh, bukannya untuk bermaksiat kepadaNya. Kamu semua tentu sudah sangat hafal dengan ayat ini:

Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan


untuk beribadah kepada-Ku. (QS. Adz-Dzariyat: 56)
Sobat...
Pada kesempatan kali ini, saya ingin mengajak diri saya
pribadi dan juga kamu-kamu semua untuk mensyukuri nikmat
berupa ilmu pengetahuan. Yaitu dengan cara menyebarkan dan
mengajarkan ilmu pengetahuan pemberian dari Alloh itu
kepada orang lain. Jangan sampai ilmu yang kita punya
disimpan sendiri, nggak mau dibagi-bagi ke yang lain.
Kalo kita, misalnya, punya ilmu tentang gimana caranya
bercocok tanam yang baik agar bisa menghasilkan panen yang
melimpah ruah, alangkah bagusnya selain kita praktikkan
sendiri, kita ajarkan juga kepada orang lain agar mereka dapat
merasakan manfaatnya juga.
Atau, kalau kita misalnya, punya ilmu tentang gimana
teknik berkendaraan yang baik agar bisa hemat BBM, alangkah
indahnya selain kita praktikkan sendiri, kita ajarkan juga
kepada orang lain agar mereka juga dapat merasakan
manfaatnya.
Atau, kalau kita misalnya, punya ilmu tentang gimana
cara mendidik anak biar menjadi anak yang soleh, alangkah
indahnya selain kita praktikkan sendiri, kita ajarkan juga
kepada orang lain agar mereka dapat merasakan manfaatnya.
Atau, kalau kita misalnya, punya ilmu tentang gimana
cara melaksanakan suatu ibadah agar bisa diterima Alloh,
alangkah indahnya selain kita praktikkan sendiri, kita ajarkan

juga kepada orang lain agar mereka dapat merasakan


manfaatnya juga.
Atau,
kalau
kita
misalnya,
punya
ilmu
tentang......eee.......macem-macem deh pokoknya, yang penting
ilmu itu bermanfaat (bukan ilmu sihir, ilmu pelet, ilmu santet,
ilmu...mmm....ilmu apa lagi ya...?), alangkah eloknya selain
kita praktikkan sendiri, kita ajarkan juga kepada orang lain agar
mereka dapat merasakan manfaatnya juga.
Lah, trus gimana cara nyampeinnya?
Oo..banyak sekali caranya, Sobat! Nggak usah
khawatir. Tapi secara umum ada dua cara: lewat lisan dan lewat
tulisan. Lewat lisan misalnya dengan mengajar di depan kelas,
ceramah di mimbar-mimbar, atau obrolan biasa ketika sedang
duduk-duduk santai di pinggir sawah sambil melihat bulir-bulir
padi yang tampak mulai menguning. Ini kalo lewat lisan.
Kalo lewat tulisan misalnya dengan menulis di bulletin,
surat pribadi, media massa, buku, dll. Pokoknya banyak sekali
cara buat menyampaikan ilmu yang sudah kita punya.
Nah, sobat...
Pada kesempatan yang baik ini, saya akan sedikit
berbagi pengalaman tentang bagaimana caranya berdakwah
lewat tulisan di media massa, dalam hal ini koran atau majalah.
Setidaknya ada dua alasan kenapa saya memilih tema ini.
Pertama, karena dengan berdakwah di media massa
manfaatnya akan lebih banyak dan tersebar luas. Sebab
biasanya, sebuah majalah atau koran, sekali terbit jumlahnya
bisa mencapi puluhan ribu atau bahkan bisa sampai ratusan
ribu. Udah gitu, cakupannya luas, bisa sampai pelosok-pelosok
daerah.
Kedua, karena saya punya sedikit pengalaman
berdakwah lewat tulisan di media massa. Beberapa tulisan saya
pernah dimuat di majalah dan koran. Walaupun belum terlalu
banyak, setidaknya saya bisa sedikit bercerita tentang gimana
caranya saya menulis hingga akhirnya dimuat. Mudah-mudahan

13

14

bisa menjadi inspirasi dan penerang jalan buat kamu-kamu


semua yang memang punya keinginan kuat untuk berdakwah
lewat tulisan di media massa. Biar kamu nggak gelap sama
sekali. Nggak kayak saya dulu, waktu pertama kali nyobanyoba nulis di koran. Waktu itu saya nggak tau sama sekali
gimana caranya. Saya coba-coba saja sendiri. Saya bikin tulisan
seadanya, trus saya amplopin dan saya kirim ke alamat kantor
sebuah surat kabar. Hasilnya? Nggak ada satupun yang dimuat.
Hingga akhirnya...
Ah, kayaknya ceritanya nanti saja deh di dalam. Biar
lebih leluasa. Kayaknya untuk kata pengantar cukup segini
dulu. Yang jelas, tujuan utama buku ini ditulis ialah sebagai
wujud rasa syukur saya kepada Alloh atas limpahan nikmatNya berupa ilmu pengetahuan dan pengalaman yang berharga.
Semoga apa yang saya tulis ini bermanfaat, untuk saya dan
untuk kamu-kamu semua yang pada pingin berdakwah lewat
tulisan di media massa. Amien.

Bukit Asri Ciomas Bogor,

Desember 2008

Muhammad Mujianto
(Seorang Penulis Pemula
yang Sederhana dan Biasa-biasa Saja)

15

16

DAPA
DAPAT APA DENGAN MENULIS ?

50.000. (lima puluh ribu rupiah). Tapi, ya...lumayanlah, pikir


saya waktu itu. Bisa buat nambah-nambah ongkos pulang kota,
karena waktu itu sebentar lagi akan liburan lebaran.
Tapi saya kemudian kaget. Ketika saya baca alamat si
pengirim wesel, kok beda dengan alamat redaksi yang memuat
tulisan saya. Salah alamat? Nggak, nggak salah alamat. Di
wesel itu jelas-jelas tertulis nama saya, dan alamatnya pun
sama. Cuma alamat pengirimnya beda dengan alamat redaksi
majalah yang memuat tulisan saya. Tertulis nama dan alamat
redaksi majalah lain.
Setelah berpikir sejenak, saya baru ingat. Ternyata itu
alamat redaksi majalah yang pernah saya kirimi tulisan juga.
Dan wesel itu adalah honor tulisan saya yang telah dimuat oleh
majalah itu dua bulan yang lalu. Sayangnya saya nggak tau kalo
tulisan saya dimuat di majalah itu, karena memang di tempat
saya tinggal nggak ada yang menjual majalah itu sehingga saya
nggak bisa memantaunya setiap kali terbit. Berbeda dengan
majalah yang satunya lagi yang memuat tulisan saya juga.
Wah, saya jadi semakin senang saja rasanya. Apalagi
kemudian, tak berapa lama, honor yang selama ini saya tunggutunggu akhirnya datang juga. Semenjak itu, semangat saya
untuk menulis semakin berkobar-kobar.

Sobat...
Saya mau cerita dikit nih. Dengerin ya...
Pada bulan Januari 2004, waktu itu bertepatan dengan
bulan suci Ramadhan, tulisan saya dimuat di sebuah majalah
remaja Islam. Wah, senang sekali rasanya saya waktu itu. Hati
saya berbunga-bunga. Ada bunga mawar, bunga melati, bunga
kamboja, bunga tulip, bunga cempaka, bunga dahlia, bunga
eee...bunga apa lagi ya?
Yah, pokoknya seneng banget deh rasanya. Waktu itu
saya mengira, itulah tulisan pertama saya yang berhasil
menembus tembok tebal sebuah media massa.
Setelah itu, saya menunggu-nunggu datangnya kiriman
honor dari redaksi. Sebab, setahu saya dari membaca bukubuku maupun artikel tentang kiat menulis, tulisan yang dimuat
biasanya akan diberi honor. Jumlahnya bervariasi tergantung
besar kecilnya media yang memuat tulisan kita. Kalo medianya
besar, honornya lumayan besar. Kalo medianya sedang,
honornya pun sedang. Dan kalo medianya kecil, honornya pun
ikut-ikutan kecil. Bahkan ada juga media yang nggak ngasih
honor sama sekali. Ya..., boro-boro ngasih honor ke penulis
luar. Untuk mencari dana buat menopang kelangsungan hidup
media itu saja mungkin sudah empot-empotan.
Beberapa hari saya tunggu, honor belom juga datang.
Sehari, dua hari, tiga hari sampai seminggu lamanya honor
nggak nongol-nongol juga. Hingga suatu hari datanglah tukang
pos ke kos-kosan saya. Waktu itu saya sedang berada di kamar
sehingga teman saya satu kos yang kemudian menyambut
kedatangan pak pos. Setelah itu, selembar wesel diberikan
kepada saya. Inilah wesel pertama yang saya dapat dari hasil
menulis.
Saya langsung melihat angka yang tertera di wesel.
Jumlahnya memang nggak terlalu besar. Tertulis angka Rp.

Sobat...
Lewat cerita di atas, saya cuma pingin memberikan
gambaran kepadamu bahwa ada sesuatu yang bakalan kita
dapat dengan menulis. Sebenarnya ada banyak. Dalam cerita di
atas, saya baru menunjukkan dua hal saja. Adapun yang lainnya
akan saya sampaikan juga nanti. (Makanya, panteng terus, ya!)
Pertama, dengan menulis kita akan mendapatkan
kepuasan batin sekaligus kegembiraan. Dan saya telah
merasakan hal itu. Ketika melihat tulisan saya dimuat, rasanya

17

18

***

gimanaaa...gitu! Seneng banget deh pokoknya. Apalagi ketika


baru pertama kali melihat tulisan saya dimuat, saya bisa
memandanginya berkali-kali, membacanya berkali-kali,
menciuminya ber...(eh, nggak ding!)
Ternyata, apa yang saya rasakan, dirasakan juga oleh
para penulis yang lain. Saya pernah membaca di internet, ada
beberapa penulis yang meluapkan kegembiraannya karena
tulisannya berhasil dimuat di koran dan majalah. Mereka
ceritakan keberhasilan mereka itu kepada orang lain di blog
pribadi mereka. Padahal tulisan mereka yang dimuat itu cuma
tulisan singkat yang terdiri dari beberapa paragraf saja. Tapi
mereka terlihat begitu gembira.
Lho, apa nggak jadi ujub nantinya kalo begitu?
Mmm....saya pikir nggak deh. Sebab, saya yakin apa
yang mereka lakukan hanyalah sebuah ekspresi kegembiraan
karena mereka baru saja mendapatkan anugerah yang menurut
mereka sangat tidak terkira. Ibaratnya, ada seorang suami-istri
yang sudah lama menikah tapi belum juga dikaruniai anak.
Kemudian begitu anak pertama mereka lahir, sangat wajar jika
kemudian mereka ceritakan kepada orang-orang. Barangkali
dalam bahasa agamanya ialah tahadduts binnimah yaitu
menyebut-nyebut nikmat pemberian dari Alloh, sebagaimana
Alloh berfirman dalam Al-Quran:
Dan terhadap nikmat Robb-mu, hendaknya engkau
nyatakan.(QS. Adh-Dhuha: 11)
Nah, kalo kamu-kamu pingin ngerasain hal yang sama
dengan mereka, coba deh nulis. Trus, abis itu kirim deh ke
media. Insya Alloh kamu bakalan merasakan kepuasan batin
yang luar biasa begitu melihat tulisanmu dimuat. Terutama
kamu-kamu yang baru pertama kali tulisannya dimuat. Kalo
sudah sering mungkin rasanya jadi biasa-biasa saja. Nggak
kayak dulu lagi waktu awal pertama kali menulis. Nah, inilah
hal yang pertama.

Yang kedua, dengan menulis kita akan mendapatkan


keuntungan materi, baik berupa uang maupun bingkisan yang
lain. Seperti saya misalnya. Selama berkecimpung di dunia
tulis-menulis, sudah beberapa kali saya dapat kiriman uang,
walaupun jumlahnya kadang nggak seberapa. Paling besar saya
dapat honor Rp. 150.000 (potong pajak 10%). Selain itu,
pernah juga saya dapat Rp.50.000, Rp. 25.000, dan Rp. 20.000.
Namun, pernah juga nggak dikasih honor. Selain uang, saya
juga pernah dapat bingkisan berupa buku-buku, bundel
majalah, dan kaos bertuliskan nama majalah yang memuat
tulisan saya.
Memang sih, uang yang saya dapat nggak seberapa.
Tapi paling nggak, hal ini membuktikan bahwa menulis bisa
menghasilkan uang. Sehingga, kalau kamu mau, menulis bisa
kamu jadikan sebagai pekerjaan sambilan. Lumayan kan, buat
nambah-nambah uang jajan.
Eh, tapi jangan salah loh. Nggak sedikit penulis yang
jadi kaya karena menulis di media. Saldi Isra, seorang dosen di
Universits Andalas Padang, dalam sebuah wawancara dengan
HU. Republika (Minggu, 07 Juli 2002) mengaku bahwa dia
bisa membeli sebidang tanah dengan uang honor tulisannya
yang dimuat di surat kabar. Kemudian, saya juga pernah
dengar, ada seorang dosen di UGM yang mengaku bahwa
penghasilannya dari menulis di media lebih besar dari gajinya
mengajar di kampus. Trus, ada juga seorang mahasiswa yang
bisa membiayai kuliahnya sampai lulus dari uang hasil menulis.
Dan, ada juga penulis yang bisa menikah, pergi haji, dan buka
usaha dengan modal uang dari menulis. Lho, kok bisa?
Ya, jelas bisa. Sebab terkadang, dari sebuah artikel
yang panjangnya paling-paling cuma dua lembar kertas A4
(sekitar 700 kata) bisa dihargai Rp. 500.000 Rp. 700.000,
bahkan bisa lebih, tergantung siapa yang nulis dan media mana
yang memuat tulisan itu. Coba saja bayangin sendiri. Gimana
seandainya ada seorang penulis yang dalam sebulan ada 4

19

20

artikelnya yang dimuat (seminggu 1 artikel). Berarti dalam


sebulan dia punya penghasilan sekitar Rp. 2.000.000 Rp.
2.800.000. Seorang pekerja kantoran saja kadang gajinya nggak
sampai segitu. Padahal mereka sudah kerja dari pagi sampai
sore. Beda dengan penulis. Untuk menghasilkan sebuah tulisan
paling cuma butuh waktu 2-3 jam. Udah gitu ngerjainnya bisa
di mana saja. Nyantai deh pokoknya.
Tapi memang kita kudu catet juga. Penulis yang bisa
seperti itu adalah penulis yang sudah malang-melintang di
dunia tulis-menulis. Ada yang mengistilahkan, mereka adalah
penulis
bermutu
alias
bermuka
tua
(he...he...maaf...becanda...). Lalu, bagaimana dengan kita-kita
yang penulis pemula?
Ya, kita pun insyaAlloh bisa menjadi seperti mereka.
Kalo mereka bisa, kenapa kita nggak? Kalo kita sungguhsungguh, insya Alloh kita akan mendapatkan apa yang kita
inginkan. Sebagaimana pepatah Arab mengatakan: MAN
JADDA WAJADA. Artinya, siapa yang sungguh-sungguh dia
akan dapat.
Saya pernah baca pengalaman seorang penulis pemula
yang tulisannya dimuat dua kali dalam sebulan di sebuah koran
terkenal terbitan Jakarta. Dari hasil tulisannya itu dia mendapat
honor yang lumayan besar. Dia pun kemudian memberi nasihat
kepada penulis pemula agar tidak termakan mitos bahwa
koran besar hanya bisa ditembus orang besar. Demikian
kurang lebih nasihatnya.
Kalau ada di antara kamu yang pingin dapat
penghasilan dari menulis di media, ya...nggak ada cara lain.
Kamu kudu mau menulis. Setelah itu kamu kirim deh tulisanmu
ke media. Gimana, siap Sobat?!
Oya, ada satu lagi nih. Selain kamu bakalan dapat duit
dan kepuasan batin, dengan menulis, kamu juga bakalan dapat
banyak pengetahuan baru, lho.
Ah, yang bener?

Yee nggak percaya. Beneran, saya serius! Saya sendiri


sudah membuktikannya. Sebab begini sobat. Ketika kita hendak
menulis tentang sesuatu, tentu kita akan terdorong dengan
sendirinya untuk mencari referensi yang terkait dengan sesuatu
yang hendak kita tulis. Misalnya kita pingin nulis tentang kiat
agar ibadah diterima Alloh. Nah, tentu kita bakalan baca-baca
dulu buku-buku maupun artikel yang ngebahas masalah itu.
Setelah itu baru kita mulai menulis. Dengan begitu, ilmu kita
tentu bakalan bertambah dibanding sebelumnya. Bisa jadi
ketika kita sedang baca-baca buku, kemudian kita dapat
pengetahuan baru yang selama ini kita belum tau.
Saya punya pengalaman begini. Pernah suatu ketika
saya pingin nulis artikel tentang etika tertawa dalam Islam.
Sebelum nulis, saya cari referensi sebanyak-banyaknya. Saya
baca buku-buku yang ada hubungannya dengan tema yang
hendak saya tulis. Saya juga cari-cari artikel di internet yang
ngebahas masalah tertawa.
Dari membaca sekian banyak referensi, saya kemudian
dapetin banyak pengetahuan baru. Saya baru tau kalo tertawa
itu ternyata memberi pengaruh yang luar biasa bagi kesehatan
tubuh. Bahkan katanya, berdasarkan penelitian, tertawa itu
nggak kalah hebatnya dengan olah raga jogging. Dan saya juga
baru tau kalo ada perkumpulan orang-orang yang menjadikan
tertawa sebagai terapi untuk penyembuhan penyakit.
Kemudian, ketika saya sedang baca-baca referensi, saya
juga dapetin sebuah cerita lucu. Ceritanya begini....
Pada suatu ketika ada seorang ustadz di sebuah acara
pengajian yang mengeluarkan pernyataan bahwa nikah
dengan wanita sekampung itu dilarang dalam Islam.
Mendengar hal ini tentu saja para jamaah yang hadir protes.
Ustadz itupun kemudian memberitahu alasannya, bahwa dalam
Islam hanya boleh nikah maksimal dengan empat orang wanita.
Kalo dengan wanita sekampung kebanyakan! Para jamaah
yang hadir pun lantas tertawa. Hua..ha..ha..ha...

21

22

Yup, sobat. Inilah tiga dari sekian banyak manfaat


menulis. Untuk manfaat yang lain, saya akan sampaikan di bab
yang lain. Sekarang, biar kamu-kamu semakin termotivasi
untuk segera mulai menulis, saya akan bawakan sebuah kisah
tentang seorang mahasiswa yang berhasil menyelesaikan
kuliahnya dengan berbekal honor menulis di media. Begini
kisahnya...
***
MENULIS UNTUK BIAYA KULIAH
Oleh: Muhammad Zen
MENULIS merupakan satu kata yang amat bermakna
dalam kehidupan saya. Dengan berkiprah di kancah tulis
menulis, kehidupan yang saya jalani bisa berubah seratus
delapan puluh derajat. Mengapa demikian? Gara-gara
menulis, kondisi kehidupan saya yang berasal dari keluarga
miskin, mampu terkatrol fantastik sehingga sukses kuliah di
sebuah perguruan tinggi negeri karismatik di tanah air.
Saya lahir dari keluarga dengan ekonomi pas-pasan,
di Desa Sinanggul, Jepara Jawa Tengah. Usai menamatkan
SLTA saya dengan bondo nekat memberanikan diri
mendaftar di Universitas Gadjah Mada Yogyakarta. Saat itu
tahun 1980 seleksi penerimaan mahasiswa baru di PTN
menggunakan istilah Proyek Perintis, UGM Yogyakarta
masuk Proyek Perintis I (semacam SPMB saat ini).
Alhamdulillah diterima menjadi mahasiswa Fakultas Filsafat
UGM Yogyakarta.
Satu semester berlalu, kondisi keuangan keluarga
amat menipis. Maklum ayah seorang Modin di desa dengan
penghasilan yang relatif pas-pasan. Menginjak semester
dua, lebih memprihatinkan, kelangsungan kuliah terancam
putus. Dilema menghadang: saya harus kerja untuk

23

menyambung hidup di Yogyakarta atau meneruskan kuliah.

Saya berniat melamar jadi pegawai Pom Bensin


(SPBU) di kawasan Terban Taman. Lantas mencari informasi
di mana rumah pemilik SPBU tersebut. Dengan tekad yang
membaja, mendatangi rumahnya. Di trotoar depan rumah
pemilik SPBU tersebut pikiran berkecamuk. Jika jadi
pegawai SPBU dan sibuk bekerja, lantas bagaimana kuliah?
Jika tidak bekerja, bagaimana membiayai hidup di rantau?
Niat tersebut saya urungkan.
Esok paginya, di Harian Kedaulatan Rakyat,
terpampang artikel tentang Pancasila yang ditulis seorang
kolumnis. Isinya jauh berbeda dengan pemahaman saya,
nurani saya berontak. Sang kolumnis, mengkritisi kondisi
budaya dan Pancasila secara sepihak. Saya menulis artikel
tandingan, dengan menyodorkan pemikiran-pemikiran baru
terkait Pancasila dan kondisi budaya Indonesia. Saya bisa
menulis artikel Pancasila dengan gaya bahasa yang enak
dibaca dan populer, karena kuliah saya di Fakultas Filsafat
memang banyak menyoroti tentang Filsafat Pancasila.
Tanpa diduga, berselang satu hari, artikel saya tulis
tersebut dimuat Kedaulatan Rakyat. Artikel tersebut
merupakan momentum yang sangat penting dalam hidup
saya. Ada tiga hal yang bisa saya catat.
Pertama, tanggapan dari rekan-rekan mahasiswa dan
dosen di kampus, luar biasa. Mereka menyambut antusias.
Lebih lagi, saya merupakan satu-satunya mahasiswa junior
mampu menembus koran. Para dosen juga sangat setuju
dengan dengan ide-ide saya terkait dengan budaya nasional
dalam kaitannya dengan pengembangan Pancasila dalam
kehidupan sehari-hari.
Kedua, secara pribadi sangat puas, memperoleh
honor Rp7.500. Sungguh jumlah luar biasa. Harga nasi

24

sepiring di Yogyakarta, khususnya di kalangan mahasiswa


kos-kosan sangat murah, sekitar seratus rupiah sepiring
(sudah termasuk lauk ala kadarnya).
Dengan demikian honor satu artikel sebanding
dengan 75 piring nasi. Artikel tersebut, saya buat dalam
tempo sekitar tiga jam, dengan mesin ketik butut pinjaman
teman satu kos.
Ketiga, dengan dimuatnya artikel tersebut, membuka
mata, saya mampu menulis. Profesi sebagai penulis yang
sebelumnya jauh dari angan-angan. Anggapan saya mampu
menjadi penulis amat penting dan bermakna bagi
kehidupan saya.
Sukses menulis artikel pertama, membuat saya
ketagihan. Tentang apa saja saya tulis. Artikel-artikel saya
berikutnya, sebagian besar dimuat di sejumlah media
massa, meski ada sekitar empat puluh persen dari artikel
tersebut gagal tayang di media.
Menghadapi kenyataan, ada artikel yang ditolak,
saya sabar. Saya pernah bertemu dengan seorang redaktur
koran, dia mengatakan, kiriman artikel dari luar jumlahnya
sangat banyak. Karena itulah kompetisi atau seleksi artikel
sangat ketat.
Saya terus menulis dan menulis. Honor menulis saya
gunakan untuk biaya kuliah. Untuk menggali ide-ide segar
ke perpustakaan, membaca koran atau majalah serta
bergaul dengan sejumlah komunitas; teman-teman di senat
mahasiswa, maupun di organisasi ekstra kampus. Dari
interaksi itulah, banyak menemukan ide-ide untuk artikel.

yang mampu mengangkat materi kuliah dipadu kondisi


aktual lantas bisa termuat di media massa, tanpa ujian pun
diberi nilai minimal B. Alhamdulillah saya lulus dengan nilai
A.
Satu hal yang sangat istimewa, menulis artikel juga
bisa menjadi prasasti unik bagi wisuda saya. Saya mengikuti
wisuda sarjana di UGM pada tanggal 18 agustus 1984,
sebagai wisudawan dengan nilai tertinggi dan waktu studi
tercepat. Saya ingin agar pada hari saya diwisuda, artikel
saya bisa dipampang di koran terbesar terbitan Yogyakarta.
Beberapa hari sebelum wisuda, saya mencari bahan tulisan
terkait dengan tanggal 18 agustus, tanggal wisuda tersebut.
Proklamasi Kemerdekaan RI dilakukan 17 Agustus
1945, namun ternyata berbagai perangkat yang harus
dimiliki sebuah Negara dilakukan pembahasannya pada
tanggal 18 Agustus 1945. Momentum mengenang 18
Agustus saya angkat untuk sebuah artikel, dan saya beri
keterangan untuk dimuat pada tanggal 18 Agustus 1984.
Redaktur Opini harian Kedaulatan Rakyat setuju. Terbit
tanggal 18 Agustus 1984, bersamaan dengan hari saya
diwisuda sarjana.
Yang membuat artikel tersebut tidak bisa dilupakan,
di akhir tulisan diberi catatan, penulis hari ini di wisuda
sarjana di kampus UGM.
Berkat modal kemampuan menulis, mulai semester
dua hingga wisuda sarjana, artikel-artikel saya sudah
menembus sekitar sepuluh media masa di tanah air. Inilah
suatu bukti bahwa menulis merupakan hal yang luar biasa,
karena dengan menulis bisa membiayai kuliah hingga
sarjana.

Dalam kaitannya dengan kelancaran kuliah, sangat


tertolong. Seorang dosen yang cukup disegani, Prof. Dr
Kunto Wibisono pernah menyatakan, jika ada mahasiswanya

Usai wisuda sarjana, kancah pekerjaan yang saya


tekuni hingga saat ini juga masih terkait dengan tulis
menulis. Awalnya saya diterima di majalah Kartini. Tahun

25

26

1988 pindah ke Malang sebagai wartawan Suara Karya


untuk wilayah Jatim.
Setelah lama bekerja di majahah dan surat kabar
harian, tahun 1995 jadi jurnalis di Televisi Pendidikan
Indonesia (TPI). Mulai bulan Mei tahun 2007 hingga
sekarang, mengemban amanah sebagai jurnalis di MNC
Grup (TPI, RCTI dan Global TV ) untuk wilayah Kota Malang
Jawa Timur.

Sumber:
http://mhzen.wordpress.com/2008/02/07/alhamdulillah-sayajuara-i-lomba-menulis/

27

28

MENYELAMI DUNIA TULISTULIS-MENULIS

***

Sobat...
Terus terang saja nih. Yang pertama kali bikin saya
tertarik untuk menulis di media ialah honor menulisnya.
Ceritanya waktu itu saya pernah melihat ada tulisan seorang
teman nongol di sebuah koran nasional. Trus, saya dengar
kabar, katanya dia dapat duit Rp. 50.000 dari tulisannya yang
dimuat itu. Sebuah jumlah yang cukup lumayan untuk kalangan
pelajar/mahasiswa pada waktu itu. (pada waktu itu, harga
gorengan (pisang goreng, tahu goreng, tempe goreng, pisang
molen, bakwan, dll.) masih Rp. 150-200. Kalo sekarang ratarata Rp. 500 Rp. 700. Jadi bisa kamu bayangin sendiri deh,
jumlah uang segitu lumayan apa nggak?)
Selain honor, ada satu hal lagi yang juga membuat saya
tambah semangat untuk menulis di media. Apa itu? Saya
tertarik dengan keistimewaan sebagai seorang penulis lepas.
Kerjanya nyantai. Cuma duduk-duduk saja di rumah, trus duit
datang sendiri. Nggak kayak orang-orang yang kerja kantoran
yang setiap hari harus berangkat pagi-pagi ke kantor dengan
tergesa-gesa. Udah gitu harus berdesak-desakkan di bis kota
lagi. Kemudian, mereka pun baru pulang ke rumah sore hari
(bahkan ada yang sampai malam baru puang) dalam keadaan
lelah.
Untuk ketertarikan saya dengan hal yang satu ini
bermula ketika saya membaca artikel Pak Onno W. Purbo di
internet. Artikel beliau berhasil mengompori saya untuk terus
mencoba menulis di media. Setelah baca artikel beliau saya jadi
tergiur dengan aktivitas sebagai seorang penulis lepas yang
beliau gambarkan. Beliau mengatakan kalo jadi penulis itu
enak. Kenapa? Karena.... mmm.... karena....
Kamu baca sendiri deh artikel beliau. Nih, saya
kutipkan sebagiannya buatmu. Simak nih...

MENJADI PENULIS ARTIKEL, BUKU & CERITA,


MUDAHKAH ?
Oleh: Onno W. Purbo

29

Mengarang barangkali merupakan pelajaran yang


paling membosankan pada masa SD. Pernahkah kita berfikir
bahwa pekerjaan mengarang, menulis merupakan pekerjaan
yang sebetulnya paling menyenangkan di dunia ini?
Bayangkan, berbeda dengan pekerjaan lainnya yang harus
datang ke kantor tepat waktu; pulang kadang malam hari;
kekurangan waktu untuk keluarga karena harus pegi
bekerja; persaingan yang ketat & membuat kita stress
sukur-sukur tidak jantungan & mati karena terserang
stroke. Dalam dunia menulis, mengarang ternyata kejadiankejadian di atas tidak terjadi. Bahkan yang membuat dunia
ini lebih ceria lagi adalah tidak adanya (sangat kurang)
persaingan dalam pekerjaan sebagai penulis. Betul di
Indonesia jarang sekali orang yang mendedikasikan
hidupnya untuk menulis saja, artinya persaingan sebagai
penulis amat sangat tidak seru & hampir tidak perlu
bersaing untuk menjadi penulis lepas. Bisa dimaklumi
karena bangsa Indonesia bukan bangsa yang suka menulis,
mereka lebih suka berbicara, berdebat & berteriak bahkan
mungkin berkelahi bisa kita lihat contohnya pada kelakuan
para elit politik.
Asiknya menulis, sebagian besar waktu kerja anda
dapat dilakukan di rumah, atau jika anda memiliki laptop
dapat dilakukan dimana saja. Artinya, waktu untuk keluarga
praktis menjadi lebih banyak, hampir setiap hari jika anda
menghendaki dapat hidup bersama keluarga anda di rumah.
Hidupkah anda dari menulis saja? Insya Allah anda akan
hidup bayangkan satu tulisan kadang di hargai Rp.
250.000 s/d Rp. 1 juta untuk panjang 6000 15000 huruf
yang dapat dilakukan dalam waktu sekitar 2 jam saja.
Rasanya membutuhkan waktu kerja satu bulan bagi sarjana
yang baru lulus untuk memperoleh uang sebanyak itu,
belum lagi biaya transportasi yang demikian tinggi. Jika

30

anda sanggup menulis buku agak lumayan hasilnya sekitar


Rp. 3-4 juta/buku (untuk 10000 eksemplar). Yang paling
mengasyikkan
sebagai
penulis
adalah
undangan
memberikan ceramah, sekali ceramah 1-2 jam bukan
mustahil akan memperoleh antara Rp.250.000 s/d Rp. 6
juta / ceramah tergantung penyelenggaranya. Kalau saya
perhatikan semua ini sangat tergantung pada tingkat
produktifitas anda dalam menulis & menyebarkan ilmu
pengetahuan.
Pada
sisi
ekstrim,
semakin
banyak
pengetahuan anda menyebar ke masyarakat melalui
berbagai media (bahkan yang gratis sekalipun seperti
melalui Web), maka Insya Allah rizki akan datang kepada
anda berlipat ganda, sesuai janji Sang Pencipta.

(Artikel beliau secara lengkap bisa didapati di:


http://www.google.co.id/search?hl=id&q=menjadi+penulis+arti
kel%2C+buku%2C+cerita+onno&btnG=Telusuri+dengan+Goo
gle&meta=)
***
Gimana tulisan beliau, Sobat? Cukup membakar, kan?
Ternyata dua hal ini (honor dan keistimewaan penulis)
pengaruhnya cukup dahsyat. Kedua hal ini mampu memaksa
saya untuk mau menulis hingga akhirnya lahirlah kemudian
dari ujung pena saya beberapa tulisan. Tulisan-tulisan itupun
kemudian segera saya kirim ke media.
Namun, benarlah apa yang dikatakan Abu Al-Ghifari.
Dalam bukunya yang berjudul Kiat Menjadi Penulis Sukses,
dia mengatakan bahwa,Berkecimpung di dunia tulis menulis,
hanya berharap honorarium, memang sangat menyakitkan,
demikian kata beliau. Dan saya pun setuju dengan pendapat
Abu Al-Ghifari ini. Kenapa? Sebab, ketika kita tidak
mendapatkan apa yang kita harapkan itu (honor) kita akan
merasa sedih dan kecewa. Dalam bukunya itu beliau
membawakan beberapa kisah yang menguatkan pernyataan
beliau ini. Begini kisahnya...
31

Teman saya, sebut saja Ali (bukan nama sebenarnya),


datang dengan wajah kecut. Ia menyesalkannya dengan
dikembalikannya artikel yang susah payah dibuat. Artikel itu
dibuatnya hampir dua minggu, puluhan buku sebagai referensi
dia baca dan berkali-kali artikel itu ia revisi, maksudnya agar
lebih sempurna. Hasilnya, artikel itu ditolak (dikembalikan).
Menurut Ali, apa sich kurangnya artikel saya. Lebih
menyakitkan, redaksi mengembalikannya tanpa disertai
keterangan secuil pun. Sebelumnya ia begitu optimis artikelnya
dimuat oleh surat kabar itu. Terbayang honor yang akan
diterimanya. Pernah juga ia janji, kalau nanti dapat honor akan
menghadiahkan buku untuk saya.
Lain lagi dengan Toni (juga bukan nama sebenarnya), ia
mengadu karena honor yang ditunggu-tunggu tak kunjung
datang. Padahal artikel itu sudah dimuat sebulan yang lalu.
Berkali-kali ia telpon redaksi, tapi jawabannya tak jelas. Pernah
juga mendatanginya, namun tidak berhasil karena, katanya,
sekretaris redaksi (yang biasanya menangani honorarium) tidak
masuk. Ia yakin itu hanya alasan belaka. Akibatnya trauma.
Beberapa bulan lamanya ia tidak membuat artikel. Malas,
katanya.
Cerita Yuni lain lagi, ia girang karena puisinya dimuat
di salah satu majalah. Namun akhirnya ia kecewa, ternyata
honor yang diterimanya tidak sesuai bayangannya. Sebagai
penulis pemula, Yuni pernah membayangkan, penulis itu kaya,
sekali artikel dimuat, honornya pasti besar. Bayangan yang
muluk-muluk pun muncul dan semangat belajar puisi dan
cerpen begitu menggebu. Namun setelah kejadian itu, ia tak
kelihatan lagi menulis.
Membaca kisah-kisah di atas, saya jadi teringat dengan
diri saya sendiri. Mirip sekali dengan yang saya alami. Ketika
baru mulai mencoba menulis di media, tak satupun tulisan saya
dimuat. Semuanya ditolak. Setelah itu, sayapun akhirnya

32

memutuskan untuk berhenti menulis untuk konsumsi media.


Hal ini berlangsung hingga beberapa tahun lamanya.
Namun, setelah saya baca beberapa tulisan tentang kiat
menulis, sayapun jadi terkompori lagi untuk mencoba menulis
di media. Beberapa artikel kemudian berhasil saya tulis dan
langsung saya kirim. Dan alhamdulillah, beberapa artikel saya
kemudian dimuat. Terbayang oleh saya besarnya honor yang
akan saya dapat. Namun, sayapun kemudian merasa kecewa
setelah mendapat kiriman honor yang ternyata jumlahnya jauh
dari bayangan. Dan kekecewaan semakin bertambah ketika
ternyata beberapa tulisan saya yang dimuat kemudian tidak
diberi honor. Walaupun memang kekecewaan ini agak sedikit
terobati dengan rasa gembira ketika melihat tulisan saya
terpampang indah di media. Namun saya tidak bisa memungkiri
bahwa rasa kecewa di hati ini tetap saja ada. Apalagi jika saat
itu saya sedang dalam kondisi yang memang sangat
membutuhkan honor itu, berapapun jumlahnya.
Lho, kalo gitu, yang dibilang Pak Onno berarti nggak
bener dong!
Oo..bukan...bukan begitu! Pak Onno nggak salah. Kita
harus pahami bahwa yang digambarkan oleh pak Onno dalam
artikelnya itu ialah kondisi seorang penulis yang sudah sukses
yang karyanya banyak dimuat di mana-mana. Memang seperti
itulah keadaannya. Kemudian, yang digambarkan oleh Abu AlGhifari adalah kondisi penulis pemula pada umumnya. Jadi,
kedua-duanya, baik Pak Onno maupun Abu Al-Gifari, nggak
salah. Apa yang mereka katakan itu benar adanya.
Nah, jadi kesimpulannya, kalo kita pingin jadi penulis
seperti yang digambarkan oleh Pak Onno, kita harus melewati
dulu tahapan menjadi penulis pemula. Mungkin bisa jadi ada
saja penulis pemula yang langsung sukses. Karya-karyanya
banyak dimuat di media. Namun sepertinya jumlah mereka
nggak banyak deh. Justru kayaknya lebih banyak penulis yang
harus melewati masa-masa sulit dulu. Dia harus mengalami

penolakan berkali-kali. Setelah berusaha sungguh-sungguh


dengan terus berlatih, belajar, dan mencoba, maka akhirnya
diapun berhasil menjadi penulis sukses yang tulisannya dimuat
di mana-mana. Uang pun kemudian mengalir ke dalam
katongnya.
Oleh karena itu, bagi kamu-kamu yang memang pingin
terjun ke dalam dunia tulis-menulis, agar kamu nggak kecewa
dan gampang putus asa di awal-awal melangkah, hendaknya
kamu ubah niatmu. Kalo awalnya niatmu menulis cuma pingin
dapat honor atau kesenangan dunia saja, sekarang kamu ganti
dengan niat ikhlas untuk ibadah. Lupakan saja dulu masalah
honor dan tetek-bengek keduniaan lainnya. Kalo niatmu
menulis untuk ibadah, kamu nggak bakalan deh kecewa dan
putus asa ketika tulisanmu kemudian nggak dimuat atau kamu
nggak dikasih honor dari tulisanmu yang dimuat. Sebab, kamu
akan tetep dapet honor (baca: pahala) dari Alloh.
Perlu kamu ketahui Sobat, kalo honor dari Alloh itu
jauh lebih besar dibanding honor menulis yang jumlahnya
paling-paling nggak seberapa. Bahkan nggak bisa dibandingin
karena saking besarnya.
Kalo kamu pingin tau honor apa saja yang bakalan
kamu dapat kalo kamu menulis dalam rangka beribadah kepada
Alloh, kamu buka saja deh bab selanjutnya. Gimana, pada
pingin tau kan?! Ya udah kalo gitu ....
Eh...sebentar...sebentar... Kayaknya kita kudu denger
dulu deh nasihat dari Abu Al-Ghifari. Insya Alloh bermanfaat
buat kita-kita, terutama para penulis pemula. Baru setelah itu
kita buka bab selanjutknya. Ok, sobat?
Nasihatnya begini nih...
Namun bagi seorang Muslim, uang bukanlah segalagalanya, menulis adalah ibadah yang pahalanya akan
didapatkan di sisi Alloh Subhanahu wa Taala kelak yang jauh
lebih besar daripada yang didapatkan di dunia. Penulis Muslim
sadar bahwa dakwah bil kitabah adalah amanah perjuangan

33

34

yang harus senantiasa dijunjung tinggi. Profesionalime,


loyalitas dan integritas harus dikedepankan.
Jika tidak, nasib dakwah Islam hanya tinggal kenangan,
ditinggalkan para penulis yang haus uang. Memang uang
penting, namun itu bukanlah tujuan. Uang akan mengikuti
dengan sendirinya bersama profesionalisme. Niatkan ibadah
niscaya semangat menulis senantiasa terpelihara. Gantungkan
hati hanya kepada Alloh Subhanahu wa Taala niscaya kita
tidak akan kehilangan pegangan, Dia-lah Alloh Yang
Mahakaya, Maha Rahman dan Rahim pada hamba-hamba-Nya.
Jangan pernah takut miskin karena rizki hanya Alloh
Subhanahu wa Taala yang mengatur. Jika tetap istiqomah
dalam kebenaran (taqwa), maka Alloh akan memberikan rizki
dari jalan yang tidak disangka-sangka.
Barangsiapa yang bertaqwa kepada Alloh, dia akan
diberi jalan keluar dan dibukakan rizki dari jalan yang tidak
disangka-sangka.(QS. At-Thalaq: 2-3)
Katakanlah:Siapakah yang memberi rezki kepadamu
dari langit dan dari bumi? Katakanlah:Alloh. (QS. Saba: 24)
Karena itu, sebelum terjun ke dunia tulis-menulis,
terlebih dahulu luruskan niat. Hadapkan hati hanya kepada
Alloh Subhanahu wa Taala. Jadikanlah tulis-menulis sebagai
bentuk ibadah. Jadilah insan yang memiliki integritas tinggi,
yaitu insan yang memiliki hati bersih, jujur, istiqomah, penuh
semangat juang, dan yakin bahwa pahala di sisi Alloh jauh
lebih besar dari yang kita rasakan di dunia yang fana ini.
Dan sesungguhnya akan Kami berikan cobaan
kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan
harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah berita gembira
kepada orang-orang yang sabar. (QS. Al-Baqarah: 115).
Demikianlah nasihat beliau.

35

36

HONOR DARI ALLOH


Sobat...
Ternyata memang dahsyat, lho. Jika niat kita yang
utama dalam menulis itu untuk ibadah, pahala yang bakalan
kita dapat buanyak en guede buanget. Di antaranya nih saya
sebutin...
1. Kita bakalan mendapatkan pahala kebaikan yang
berlipat ganda. Rasulullah Shallallahu alaihi wa
Sallam bersabda begini:
Barangsiapa yang berniat untuk berbuat kebajikan
tetapi ia belum mengerjakannya, maka ditetapkan satu
kebaikan untuknya. Jika ia mengerjakannya, maka
ditetapkan baginya sepuluh sampai tujuh ratus kali
lipat hingga berlipat-lipat banyaknya.(HR. AlBukari dan Muslim)
2. Kita bakalan mendapatkan pahala karena telah
mengajarkan kebaikan kepada orang lain. Mau tau
pahalanya?
Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda:
Segala sesuatu akan memintakan ampunan kepada
orang yang mengajarkan kebaikan, bahkan ikan-ikan
yang ada di lautpun akan memintakan ampunan
baginya (HR. Ath-Thabrani)
Beliau Shallallahu alaihi wa Sallam juga bersabda:
Demi Allah, engkau menyebabkan seseorang
mendapatkan hidayah Allah itu lebih baik daripada
engkau memiliki unta merah. (HR. Bukhari dan
Muslim)
Unta merah itu adalah harta paling berharga bagi orang
Arab tempo dulu. Kalo sekarang mungkin sebanding
dengan mobil canggih keluaran terbaru.
37

3. Jika orang lain mengamalkan apa yang kita ajarkan


lewat tulisan, kita bakalan dapat bagian pahalanya juga.
Jadi kita dapat pahala dobel.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda:
Barangsiapa yang menunjuki kepada satu kebaikan,
maka dia akan memperoleh pahala seperti pahala orang
yang melakukannya. (HR. Muslim)
4. Jika orang yang mengamalkan apa yang kita ajarkan
lewat tulisan mengajarkan lagi ke orang lain (orang ke3) kita bakalan dapat pahala tambahan lagi, dan akan
terus bertambah jika orang ke-3 mengajarkan lagi ke
orang ke-4, dst. Jadi kita dapat pahala berantai.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda:
Barangsiapa yang mengajak kepada petunjuk, maka
dia berhak memperoleh pahala seperti pahala orangorang yang mengikutinya, hal tersebut tidak mengurangi
sedikitpun dari pahala mereka. (HR. Muslim)
5. Kita bakalan terus dapat pahala, meskipun telah
meninggal dunia, karena telah mengajarkan ilmu yang
bermanfaat kepada orang lain.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda:
Jika manusia telah mati, maka terputuslah semua
amalnya, kecuali tiga hal: sedekah jariyah, ilmu yang
bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.
(HR. Muslim)
Beliau Shallallahu alaihi wa Sallam juga bersabda:
Di antara amal dan kebaikan yang dapat menyusul
seorang Mukmin setelah ajalnya tiba adalah ilmu yang
diajarkan dan disebarluaskan, anak shalih yang
ditinggalkan, mushaf yang diwariskan, masjid yang
dibangun, atau rumah yang diperuntukkan untuk
38

Sebagai contoh, misalnya, lewat tulisan kita yang


dimuat di media, kita mengajarkan para Muslimah untuk
memakai jilbab yang sesuati aturan syariat (jilbab syari).
Kemudian, dari 1000 pembaca tulisan kita, ada 100 Muslimah
yang mau mengamalkan. Mereka mau memakai jilbab yang
syari. Trus, ke-100 orang ini mengajarkan lagi ke Muslimah
yang lain. Masing-masing mengajarkan ke-10 orang. Maka kita
juga bakalan dapat pahala dari mereka semua (100 X 10 = 1000
pahala). Bahkan, pahala yang kita dapat nggak putus-putus jika
ajaran kita masih terus disebarkan (diajarkan ke banyak orang).
Misalnya ada Muslimah yang mengajarkan ke ibunya,
neneknya, anak perempuannya, adik perempuannya, kakak
perempuannya, tantenya, tetehnya, ....dstdstsampai tujuh
turunan lebih. Maka, kita bakalan dapat pahala mengalir yang
nggak terhitung banyaknya.
Nah, demikianlah beberapa pahala yang bakalan kita
dapat kalo kita menulis dalam rangka beribadah kepada Alloh.
Luar biasa sekali, kan?! Makanya, tunggu apa lagi. Segera deh
nulis. Jangan ditunda-tunda.
Eh, tapi kita juga kudu ingat sobat. Semua pahala itu
baru bisa kita dapat kalo syaratnya terpenuhi. Udah pada tau
kan syaratnya apa saja? Yup, benar sekali. Niat kita kudu ikhlas
dan tulisan kita nggak ngelanggar aturan syariat.
Namun bukan berarti kalo gitu kita nggak boleh
mengharapkan keuntungan dunia. Bukan begitu maksudnya.
Kita tetap boleh kok mengharapkan keuntungan dunia. Tapi
kita tetap harus momposisikan ikhlas di atas segalanya. Kalo
memang niat kita dalam menulis itu benar-benar ikhlas, insya

Alloh kita bakalan dapat juga keuntungan dunia. Kata siapa?


Alloh sendiri yang bilang. Alloh berfirman begini.
Barangsiapa yang menghendaki keuntungan di akhirat akan
Kami tambah keuntungan itu baginya, dan barangsiapa yang
menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya
sebagian keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bagian
pun di akhirat. (QS. Asy-Syura: 20)
Tuh kan, bener. Kalo kita niatnya buat akhirat, kita
bakalan dapet dunia juga. Jadi kita dapet keuntungan dobel.
Akhirat dapat, dunia juga dapat. Tapi, kalo kita niatnya murni
buat dunia, kita nggak bakalan dikasih akhirat. Begitulah kata
Alloh dalam ayat di atas.
Terkait dengan hal ini, Rasulullah juga pernah bersabda
begini,Orang yang cita-citanya tertuju pada dunia saja,
urusannya akan Alloh cerai-beraikan, kemiskinan senantiasa
terbayang di pelupuk matanya, sementara dunia yang
mendatanginya hanya sebatas yang telah Alloh tetapkan
baginya saja. Dan siapa yang cita-citanya tertuju pada akhirat,
pasti Alloh beri keteguhan pada kesatuan jiwanya, kekayaan
selalu melekat dalam hatinya. Sementara dunia justru
mendatanginya secara pasrah. (HR. Ibnu Majah)
Kemudian sobat, selain ikhlas, supaya kita dapat pahala
seperti yang sudah saya sebutkan di atas, kita juga kudu
memperhatikan apa yang kita tulis. Hendaknya tulisan yang
kita bikin itu nggak menyimpang dari rambu-rambu syariat.
Hendaknya isi tulisan kita itu ialah tulisan yang mengajarkan
hal-hal bermanfaat, baik bagi dunia maupun akhirat. Kalo yang
kita tulis mengajarkan yang nggak benar, bukannya pahala
yang bakalan kita dapat, tapi kita justru dapat dosa.
Nah, sekarang, kalo kamu memang benar-benar pingin
berdakwah lewat tulisan, kamu lanjutin deh bacanya. Ntar saya
ceritakan deh gimana biasanya saya menulis artikel buat
dikirim ke media. Pada pingin tau kan ceritanya? Ya udah kalo
gitu. Lanjuuuut...

39

40

ibnussabil (orang yang kehabisan bekal dalam


perjalanan), saluran air yang dibangun atau sedekah
yang dikeluarkan dari hartanya saat sehat dan hayat
masih dikandung badan, (pahalanya) akan mengikutinya
hingga setelah meninggal. (HR. Ibnu Majah)

GIMANA SIH CARANYA?


Sobat
Suatu hari ada SMS masuk ke HP saya. Begitu saya
buka, oo..ternyata dari Atep, kawan saya asal Bandung. Lewat
SMS dia bertanya kepada saya tentang bagaimana caranya
menulis di media. Rupanya dia membaca pula 3 artikel saya
yang dimuat 3 bulan berturut-turut di kolom Hikmah koran
Republika.
Sayangnya, saya tidak sempat mengabadikan SMS-nya.
HP saya keburu dijual sebelum saya sempat memindahkan isi
SMS dari kawan saya itu. Tapi seingat saya, dengan logat
Sunda-nya yang kental, dia menulis begini:
Hebat euy, tulisannya dimuat terus.
Kumaha caranya kang?
Ana juga mau nulis nih
Demikian kurang lebih bunyi SMS-nya. Lalu, apa
jawaban yang saya berikan? Entahlah, saya sama sekali sudah
nggak ingat lagi. Biasanya sih kalo ada teman yang nanya
seperti ini, jawaban saya sederhana saja. Cukup dengan
mengatakan,Ya, tulis saja!
Ternyata, pertanyaan semisal yang diajukan Si Atep,
ditanyakan pula oleh beberapa teman saya yang lain. Mereka
pingin tahu gimana caranya menulis di media. Rata-rata yang
bertanya adalah mahasiswa. Misalnya saja Frendy, seorang
mahasiswa tingkat tiga di sebuah perguruan tinggi negeri di
Bogor. Katanya, dia pingin menulis di koran karena dosennya
di kelas bilang, jika ada mahasiswa yang tulisannya berhasil
dimuat di koran, maka akan mendapat tambahan nilai.
Seperti biasa, jawaban yang saya berikan singkat
saja,Ya, tulis saja! Dan tentunya dengan ditambah
beberapa tips secara umum.
41

42

Dari beberapa kejadian ini, saya jadi berpikir. Kenapa


nggak bikin saja tulisan tentang gimana caranya menulis di
media? Bukankah saya pernah punya pengalaman nulis di
media? Mudah-mudahan bisa bermanfaat buat kaum Muslimin,
terutama teman-teman saya yang pada pingin nulis di media.
Saya jadi teringat beberapa tahun yang lalu. Ketika
pertama kali mencoba menulis di media, sama sekali nggak
punya pembimbing. Kalau nanya ke teman yang pernah nulis,
jawaban yang saya dapat sekenanya. Nggak jelas. Akhirnya,
saya menulis sesuka saya. Tidak pakai aturan. Yang penting
jadi tulisan, trus setelah itu diposin ke alamat redaksi.
Waktu itu saya nggak tahu apa itu intro, bagaimana
membuat intro yang menarik, bagaimana membuat judul yang
wah, seperti apa format tulisan dan ukuran kertas yang dipakai
buat menulis, bagaimana caranya mengirim tulisan yang
efektif, dsb. Hasilnya, seluruh tulisan yang saya kirim, tak
satupun yang diterima.
Nah, agar orang lain nggak mengalami hal yang serupa
dengan yang saya alami, sengaja saya tulis buku ini. Walaupun
harus saya akui sayapun masih pemula dan awam dalam dunia
tulis-menulis. Tapi tidak apalah. Mudah-mudahan yang nggak
seberapa ini bisa memberikan sedikit pencerahan. Ya minimal,
nggak bleng sama sekali. Setidaknya ada sedikit cahaya yang
menerangi jalan mereka-mereka yang tertarik untuk dakwah
lewat media massa. Meskipun cahaya itu cuma seterang lampu
5 watt.
Baiklah. Buat teman-teman saya yang pernah bertanya
kepada saya tentang gimana caranya menulis di media, trus
juga buat kamu-kamu semua yang pada pingin tau gimana
caranya menulis di media, berikut ini sedikit pengalaman saya
tentang gimana biasanya saya membuat sebuah tulisan (artikel)
untuk dikirim ke media massa. Semoga bermanfaat. Selamat
mengikuti!

43

44

7 LANGKAH MEMBUAT ARTIKEL


(Bagian(Bagian-1)
Sobat...
Sebelum saya bercerita tentang proses kreatif saya
menulis artikel, kayaknya saya kudu menjelaskan dulu ke
kamu-kamu semua tentang pengertian artikel. Apa sih
sebenarnya artikel itu?
Ada banyak ragam pengertian artikel. Di antaranya, ada
yang bilang kalo artikel itu ialah semua jenis tulisan atau
karangan yang terbit atau akan diterbitkan di surat kabar atau
majalah. Ada juga yang bilang kalo artikel itu ialah tulisan yang
berisi pendapat, sikap, atau pendirian subjektif mengenai
masalah yang sedang dibahas disertai dengan alasan dan bukti
yang mendukung pendapatnya. Pendapat lain mengatakan kalo
artikel itu ialah karangan faktual tentang suatu persoalan secara
lengkap, yang panjangnya sering tak tentu, untuk dimuat di
surat kabar, majalah, buletin, dan sebagainya dengan tujuan
menyampaikan gagasan dan fakta guna meyakinkan, mendidik
atau menghibur. Lah, trus mana yang benar?
Entahlah, saya juga nggak tau mana yang benar. Tapi,
setelah membaca berbagai macam pendapat tentang pengertian
artikel, saya lebih menguatkan pendapat yang mengatakan
bahwa artikel itu ialah tulisan singkat (sekitar 300 1000 kata)
dan bersifat faktual (non fiksi/ bukan cerita). Jadi, menurut
saya, ada dua ciri utama sebuah artikel: singkat dan faktual.
Kalo seandainya ada tulisan singkat tapi isinya cerita, berarti
bukan artikel, melainkan cerpen. Kemudian, kalo ada tulisan
yang bersifat faktual tapi panjangnya sampai ribuan kata, berati
juga bukan artikel, melainkan makalah seminar atau apalah
namanya.
Kalo kata Abu Al-Ghifari, artikel memiliki ciri-ciri atau
memerlukan syarat-syarat khusus dalam pembuatannya sebagai
berikut:
45

1. Lugas, yaitu penulisan langsung menuju persoalan.


2. Logis, yaitu segala keterangan yang dipaparkan,
memiliki dasar dan alasan yang logis (masuk akal) dan
dapat diuji kebenarannya.
3. Tuntas, yaitu masalah dikupas secara mendalam.
4. Obyektif, yaitu keterangan yang disajikan sesuai dengan
data dan fakta yang ada.
5. Cermat, yaitu berusaha menghindari berbagai
kekeliruan walau sekecil apapun.
6. Jelas dan padat, yaitu keterangan yang dikemukakan
dapat dipahami pembaca dan tidak bertele-tele.
7. Tidak melibatkan emosi berlebihan, seperti rasa haru,
marah, benci atau kagum yang diungkapkan secara
berlebihan.
8. Terbuka dan tidak egois, yaitu menerima kemungkinan
pendapat baru dan tidak merasa diri paling benar.
9. Memperhatikan bahasa baku dan mengikuti kaidah
tanda baca yang diakui.
Nah, demikianlah sedikit pembahasan tentang artikel.
Selanjutnya, saya akan bercerita tentang pengalaman saya
merangkai kata demi kata hingga akhirnya menjadi sebuah
tulisan berupa artikel yang siap dikirim ke media massa.
Untuk bisa menghasilkan sebuah tulisan (artikel),
kurang-lebih ada 7 langkah yang biasa saya ayunkan. Berikut
ini penjelasannya...
Langkah Pertama: Pengamatan Media
Biasanya nih, yang pertama kali saya lakukan sebelum
membuat tulisan ialah melakukan pengamatan media. Pertamatama, saya amati rubrik apa saja yang ada di media itu.
Kemudian, jika saya tertarik menulis di salah satu rubrik, maka
terlebih dahulu saya baca-baca beberapa tulisan yang biasa
dimuat di rubrik itu. Yang saya perhatikan terutama seputar
46

tema, judul, cara penyampaian, panjang tulisan, dan bahasa


yang digunakan. Setelah saya yakin bisa membuat tulisan
seperti yang dimuat di rubrik itu, sayapun kemudian langsung
menuliskannya.
Saya pikir, melakukan pengamatan media sebelum
menulis sangatlah penting. Jangan sampai nantinya kita salah
dalam mengirim tulisan. Misalnya begini. Kita pingin menulis
di rubrik A yang hanya menerima tulisan dengan jumlah kata
sekitar 350 kata, tapi kemudian artikel yang kita kirim
panjangnya sampai 600 kata lebih. Tentu saja tulisan kita nggak
bakalan dimuat. Kenapa? Ya, nggak muat atuh! Kepanjangan.
Atau, bisa juga kita mengirim tulisan ke majalah B yang
biasa menerima tulisan dengan bahasa gaul (remaja), tapi
tulisan yang kita kirim bahasanya formal banget mirip bahasa
pidato presiden. Ya, jangan nangis kalo kemudian artikel kita
ditolak.
Atau, bisa juga begini. Kita sudah bikin tulisan dengan
bahasa yang sesuai dengan media yang hendak kita kirimi. Tapi
ketika dikirim, tulisan kita tidak pernah dimuat. Apa sebabnya
coba? Karena media yang kita kirimi hanya menerima tulisan
tentang pertanian, sedangkan tulisan yang kita kirim isinya
tentang agama. Tentu saja nggak akan pernah dimuat. Ibarat
orang jualan roti, tapi nawarinnya ke toko bangunan. Nggak
nyambung banget, gitu lho!
Nah, agar nggak terjadi hal-hal yang seperti ini, ada
baiknya kita sering-sering melakukan pengamatan. Kalau saya,
biasanya saya akan membaca paling tidak tiga tulisan yang
pernah dimuat di rubrik yang hendak saya tuju. Saya baca-baca
dan analisa. Terutama sekali yang saya lihat ialah gaya
bahasanya. Apakah gaul, formal, atau populer. Baru setelah itu,
saya membuat tulisan yang bergaya bahasa sama.
Ternyata, ada keuntungan lain juga lho dengan
melakukan langkah ini. Terkadang ketika sedang membaca,
saya dapat banyak ide untuk dituliskan. Misalnya, ketika

sedang membaca tulisan di rubrik Y yang ada di majalah H,


terbersit keinginan untuk menulis tema serupa untuk dikirim ke
koran B. Atau, terbersit pula untuk mengembangkannya
menjadi sebuah buku. Intinya, ide-ide sering muncul saat saya
sedang melakukan pengamatan.
Setelah melakukan pengamatan, langkah saya
selanjutnya ialah

47

48

Langkah Kedua: Mencari Ide


Emangnya ide itu apa sih, kok pake dicari-cari. Kayak
anak hilang aja pake dicari-cari segala?
Oya, ide itu apa ya? Mmmapa ya?? Ide itu
ya.mmmAduh, gimana cara ngejelasinnya ya. Mmmide
ya ide. (Lho, gimana sih!)
Ya sudah. Saya minta bantuan Abu Al-Ghifari saja deh
buat menjelaskan. Kata beliau, ide adalah sesuatu yang muncul
dalam pikiran secara spontanitas. Ide ini muncul biasanya jika
pikiran kita menangkap sesuatu yang menurut pikiran kita
cukup menarik. Ide muncul tidak kenal tempat dan waktu,
artinya kapan saja dan di mana saja, ide bisa muncul.
Nah, demikianlah kira-kira yang dimaksud dengan ide.
Gimana, cukup jelas, kan? Sip lah kalo begitu. Kita lanjutin lagi
ya pembahasannya.
Jadi begitu, Sobat. Sebelum membuat tulisan, kita harus
nyari ide dulu. Ke mana nyarinya? Apakah ke kolong tempat
tidur? Ke atas genteng? Ke dalam WC? Ke dalam dompet? Ke
rumah tetangga? Ke gunung? Ke dalam goa? Atau....
Ya, terserah. Sebab ide ada di mana-mana, nggak cuma
di satu tempat. Ide bertebaran di mana-mana. Dan lagi, ide itu
kadang bisa datang tiba-tiba. Misalnya kita lagi duduk bengong
di teras rumah sambil mikirin utang yang sudah menumpuk, eh
tiba-tiba dateng tuh ide. Namun kadang sebaliknya. Sudah
dicari kemana-mana, eh si ide nggak kelihatan sedikitpun
batang hidungnya. Bete banget, kan?!

Kata Andrias Harefa (penulis 30 buku laris), ide-ide


bisa muncul dari bacaan, bisa dari tontonan, bisa dari obrolan,
bisa dari radio, bisa dari pertanyaan orang, bisa dari surat
elektronik, dari milis, dari internet, dari lamunan, dari
pengamatan, dan dari semua arah. Tempatnya pun tak ada yang
sangat khusus. Di rumah, di mobil, di pesawat, di kantor, di
restoran, di mana saja ide-ide bisa muncul tiba-tiba.
Mengingat ide bertebaran di mana-mana dan bisa
hinggap di kepala kita kapan waktu, makanya kita kudu siapsiap menangkapnya. Kalau saya, ketika sedang bepergian
biasanya akan membawa alat tulis berupa pulpen dan buku
kecil atau minimal selembar kertas. Agar ketika tiba-tiba
kedatangan ide, saya bisa langsung mengikatnya. Cara saya
mengikat ide biasanya dengan mengubahnya menjadi judul
sementara. Atau sering juga saya lengkapi dengan outline
sementara.
Tapi, kita juga judu ingat, Sobat! Ide memang
bertebaran di mana-mana dan bisa hinggap sewaktu-waktu.
Tapi, gimana kalau setelah di tunggu-tunggu sekian lama, ide
itu nggak nemplok-nemplok juga. Apa yang harus kita
lakukan?
Tentu saja kita harus mencarinya? Kita harus bergerak!
Kalau saya, cara mencarinya dengan melakukan satu hal, yaitu
pengamatan. Jadi hampir sama dengan langkah pertama di
atas. Sama-sama melakukan pengamatan. Cuma bedanya, untuk
pengamatan yang ini lebih luas. Nggak cuma mengamati
sebuah media. Tapi mengamati segala hal. Entah itu bahan
bacaan ataupun peristiwa yang ada di sekitar saya atau yang
saya alami sendiri.
Apa yang saya lihat, apa yang saya dengar, apa yang
saya baca, apa yang saya rasakan, apa yang saya alami bisa
menjadi sumber ide. Jadi, untuk mencari ide menulis, nggak
perlu saya jauh-jauh pergi ke laut atau ke gunung. Nggak perlu
juga saya bertapa berhari-hari di dalam gua yang gelap dan

pengap sampai badan lumutan. Saya perhatikan saja kejadian


yang ada di sekitar saya. Niscaya akan saya dapati ide-ide
bagus yang bisa saya olah sedemikian rupa menjadi sebuah
tulisan.
Ketika melihat seorang kawan satu kos yang memiliki
kebiasaan tertawa keras ketika melihat atau mendengar hal-hal
yang lucu, bahkan pernah jam dua belas malam dia tertawa
sangat keras karena menonton film komedi di televisi, padahal
di sekitarnya banyak kawan-kawan lain yang sudah tertidur
lelap, maka muncullah ide untuk membuat tulisan tentang etika
tertawa dalam Islam. Artikel itu kemudian dimuat di sebuah
majalah dengan judul Tertawa Ada Aturannya.
Ketika merasakan problema hidup yang membelit
bangsa ini semakin kuat, sementara itu banyak masyarakat yang
mulai terlihat pesimis dalam menjalani hidup, maka muncullah
ide untuk membuat tulisan yang berisi motivasi agar tetap
optimis dalam menjalani hidup, sesulit apapun hidup yang
dijalani. Lahirlah kemudian sebuah artikel dengan judul
Optimis Dengan Ikhtiar dan Tawakal yang dimuat di HU.
Pikiran Rakyat.
Ketika melihat banyak wanita Muslimah yang nggak
menjaga kehormatannya, bahkan cenderung mencabik-cabik
kehormatannya sendiri dengan cara membuang nilai-nilai Islam
dari diri mereka, maka muncullah ide untuk membuat tulisan
yang berisi nasihat agar para wanita kembali kepada Islam.
Kemudian, lahirlah sebuah tulisan dengan judul Memuliakan
Wanita yang dimuat di kolom Hikmah HU. Republika.
Ketika terjadi gempa bumi di Yogyakarta dan
sekitarnya, maka muncullah ide untuk membuat tulisan tentang
musibah. Kemudian lahirlah sebuah tulisan dengan judul
Istirja (kalimat Inna Lillahi wa Inna Ilaihi rojiun) yang
dimuat di HU. Republika.
Dst....dst....dst....

49

50

Namun, selain mencari ide sendiri, kadang saya juga


suka minta bantuan orang lain untuk mencarikan. Saya sering
bertanya kepada kawan-kawan,Kira-kira, tema apa yang bagus
untuk ditulis saat ini?.
Setelah ide didapat, langkah saya selanjutnya adalah ...
Langkah Ketiga: Menguji Ide
Sebelum saya bahas langkah yang ketiga ini, ada sedikit
yang ingin saya tambahkan terkait dengan langkah kedua.
Kalau saya nih, seringnya mendapatkan ide ketika sedang
membaca, entah membaca buku, majalah, ataupun artikel. Oleh
karena itu, saran saya buat kamu-kamu semua, banyakbanyaklah membaca! Tiada hari tanpa membaca. Bukankah
kita diperintahkan Alloh untuk banyak membaca. Ingat kan
wahyu yang pertama kali turun? Iqro! Bacalah! Sayangnya,
banyak orang Islam yang justru malas untuk membaca.
Ya...begitulah keadaannya....
Baiklah. Sekarang kita langsung saja bahas langkah
yang ketiga: Menguji ide.
Melanggar syariat apa nggak?
Sanggup nggak saya menuliskannya ?
Referensinya ada nggak?
Manfaat nggak buat orang lain?
Apakah sudah pernah dibahas oleh orang lain?
Demikian kira-kira beberapa pertanyaan yang saya
ajukan ke dalam diri saya dalam langkah pengujian ide ini. Bila
ide itu nggak ngelanggar syariat dan saya memang sanggup
menuliskannya dan tulisan yang akan saya buat itu bermanfaat
untuk masyarakat, ya saya lanjutkan? Kalau ternyata referensi
kurang dan tema yang hendak saya tulis terasa berat jika tanpa
referensi yang memadai, saya lebih memilih mundur. Daripada
berat-beratin diri, tul gak?
Tapi, kalau referensi kurang, namun saya masih mampu
menuliskannya, saya lanjutkan saja. Kalau memang masih bisa,
51

kenapa nggak dicoba? Trus, kalo sudah pernah dibahas oleh


orang lain, saya akan coba untuk membahasnya dari sisi dan
penyajian yang beda.
Lima pertanyaan di atas berlaku umum, baik untuk
tulisan yang terkait dengan deadline (batas waktu) maupun
yang nggak. Tapi, untuk tulisan yang terkait dengan deadline,
biasanya akan saya tambahkan beberapa pertanyaan lagi:
Apakah ide saya ini aktual ?
Apakah saya sanggup menuliskannya dalam jangka waktu
maksimal 2 hari?
Sebab, untuk jenis tulisan yang terkait deadline,
biasanya media hanya menerima tulisan yang aktual. Misalnya
sekarang lagi ramai-ramainya dibahas tentang poligami. Maka
kalau bisa, saat ini juga langsung menulis tentang poligami.
Jangan tunggu sampai seminggu. Ntar jadi basi alias nggak
aktual lagi.
Terkait hal ini, kita bisa saksikan sendiri ketika sedang
ramai-ramainya kasus Ahmadiyah. Hampir semua media
membahas tentang Ahmadiyah. Tapi itu paling cuma
berlangsung beberapa waktu saja. Setelah itu, ganti tema yang
lain yang lebih aktual.
Ini yang terkait dengan artikel yang terikat deadline.
Namun untuk yang nggak, bisa dikirim kapan saja. Tapi juga
jangan kelamaan. Jangan sampai keduluan orang lain yang
menulis dengan tema yang sama dengan tulisan yang sedang
kita buat.
Langkah Keempat: Membuat Judul dan Outline Sementara
Judul dan outline sementara berfungsi sebagai pengarah
agar tulisan tidak melebar ke mana-mana. Outline sementara
biasanya berisi hal-hal yang ingin saya bahas terkait dengan
tema yang hendak saya tulis. Misalnya saya ingin membuat
tulisan tentang shalat. Maka bisa saja saya beri judul
sementara Kedudukan Shalat dalam Islam. Kemudian outline
52

sementaranya bisa berupa hal-hal berikut: Definisi shalat,


hukum shalat, manfaat shalat, syarat diterimanya shalat, dll.
Terkadang langkah keempat ini saya gabung dengan
langkah kedua, yaitu ketika saya sedang mencari ide. Seperti
sudah saya singgung juga di atas, bahwa ketika saya sudah
mendapatkan ide, biasanya ide itu saya ikat dalam bentuk judul
sementara dan terkadang ditambah outline sementara.
Manfaatnya apa? Ya, agar ide itu nggak menguap begitu saja.
Sebab, jika ide itu tidak diikat, dia gampang kabur.
Pernah saya merasa kesal karena tidak sempat untuk
mengikat ide. Padahal ide itu bagus. Namun saya tunda untuk
mengikatnya dalam bentuk tulisan. Pikir saya waktu itu,Ah,
nanti saja baru ditulis. Insya Alloh saya masih ingat kok!.
Tapi,
beberapa
menit
kemudian,
ide
itupun.kabuuuuuuuur..!!!! Karena sulit untuk dikejar,
sayapun kemudian cuma bisa tertunduk lesu sambil menggerutu
dalam hati,Yaah, kenapa tadi nggak dicatat saja.!.
Pada langkah keempat ini, setelah sebelumnya saya
melakukan pengujian ide, sayapun coba melihat kembali ide
yang telah saya tangkap. Saya baca kembali judul dan outline
sementara yang sudah saya buat. Saya coba kaji lagi, saya
pikir-pikir lagi, saya pertimbangkan lagi,Bagus nggak kirakira ide ini?.
Kalau saya memang benar-benar yakin dengan ide itu,
saya coba perbaiki judul dan outlinenya. Saya coba membuat
beberapa pilihan judul yang kira-kira menarik. Saya juga kaji
kembali outline yang sudah saya buat. Kadang saya tambahkan
beberapa hal lagi yang kemungkinan akan saya bahas dalam
tulisan saya ini nantinya. Semua itu saya lakukan sambil
membayang-bayangkan bentuk tulisan saya nantinya kalau
sudah jadi. Ya, menghayal dikit lah
Langkah keempat ini saya rasa cukup penting untuk
dilakukan sebelum maju ke langkah berikutnya, yaitu mencari
dan membaca referensi. Sebab, kalau kita sudah punya

bayangan tentang apa saja yang akan kita tulis, hal ini akan
memudahkan kita dalam mencari referensi. Kita tentu hanya
akan mencari referensi yang cocok dengan pembahasan yang
akan kita tulis. Nggak perlu kita membaca buku referensi dari
awal hingga akhir, padahal pembahasan yang akan kita tulis
cuma ada di bab terakhir dari buku itu, misalnya. Jadi, cukup
kita membaca bab itu, tidak perlu membaca semua bab yang
ada dalam buku itu.
Selain itu, kita pun akan terbantukan ketika sedang
membaca referensi. Saat membaca, ketika kita dapati kalimat
atau paragraf yang cocok dengan bahasan yang kita ingin
bahas, kita bisa langsung memberi tanda di situ. Kita bisa kasih
tanda berupa garis atas, dicontreng, atau dikasih stabilo. Tapi
ingat, Sobat! Ini kalo bukunya punya kita sendiri. Kalo punya
orang, ya jangan atuh! Kita salin saja kalimat atau paragraf
yang kita butuhkan di kertas. Atau kalau mau, kita bisa
fotocopy biar nggak capek-capek nyalin.

53

54

Langkah Kelima: Mencari dan Membaca Referensi


Saya bersyukur kepada Alloh karena diberi nikmat
berupa hobi membaca. Alhamdulillah sejak kecil saya senang
sekali membaca. Kalo dulu, waktu SD sampai SMU, yang
peling sering saya baca ialah buku-buku cerita seperti komik,
dongeng, dan novel.
Tapi itu dulu. Sekarang saya justru lebih senang baca
buku-buku keagamaan, semisal aqidah, fikih, hadits, tafsir, dll.
Selama ini, puluhan buku agama telah saya baca. Oleh karena
itu, saya lebih sering menulis tema-tema keagamaan dibanding
tema lain yang umum. Bahkan hampir seluruh tulisan saya
yang tersebar di koran, majalah, dan buletin berbicara tentang
agama.
Nah, kebiasaan membaca saya ini memudahkan saya
dalam mencari referensi dalam menulis. Walaupun saya sudah
lupa pembahasan rinci sebuah buku, tapi saya masih ingat garis

besarnya. Jadi, ketika saya kepikiran untuk membuat tulisan


tentang suatu tema, saya langsung kebayang tentang buku-buku
apa saja yang bisa saya jadikan sebagai referensi.
Misalnya saja, ketika saya ingin menulis tentang
Jilbab, saya langsung teringat dengan buku karya Syaikh
Muhammad Nashiruddin Al-Albani yang berjudul Jilbab AlMaratil Muslimah. Buku itu membahas secara lengkap dalildalil persyaratan jilbab yang harus dipenuhi oleh seorang
Muslimah. Maka, langsung saja saya mencari buku itu.
Selain buku, kita juga bisa menjadikan artikel sebagai
bahan referensi. Untuk referensi berupa artikel, saya biasa
mencarinya lewat internet. Saya datang ke warnet, trus mencari
referensi yang saya butuhkan dengan mesin pencari google.
Sekali ketik key word-nya, referensi yang saya butuhkan
banyak tersedia.
Jadi, referensi bisa berupa apa saja dan bisa didapat di
mana saja. Referensi bisa berupa buku, majalah, maupun
artikel. Referensi juga bisa dicari di mana saja. Bisa
diperpustakaan, di toko buku, internet, atau bisa juga di rumah
teman alias minjam. Hanya saja yang perlu saya ingatkan,
ketika kita minjam buku teman, hendaknya kita rawat baikbaik. Jangan dicoret-coret. Dan jangan lupa untuk
dikembalikan. Trus, kalau nanti tulisan kita dimuat dan dapat
honor lumayan gede, jangan lupa juga traktir teman yang sudah
minjemin buku kepada kita. Oke, bos?!
Tapi kalo dilihat-lihat sih, referensi yang banyak
dipakai biasanya berupa buku. Karena memang sebuah buku
umumnya membahas secara lebih lengkap suatu pembahasan
ketimbang artikel yang ada di koran, majalah, maupun di
internet.
Oleh karena itu, saran saya lagi (Saran lagi, saran
lagi..... Moga kalian nggak bosen ya dengerin saran saya!),
alangkah baiknya kita memiliki kebiasaan membeli buku-buku
yang bermanfaat. Kalau kita punya rezeki jangan dipakai buat

jajan semua. Sisihkan sebagian buat beli buku. Insya Allah


manfaatnya lebih besar ketimbang kita belikan bakso yang
nggak sampai 10 menit langsung hilang. Tapi kalo buku bisa
langgeng sampai tujuh turunan lebih. Ini kalo bukunya nggak
dimakan rayap atau dijual buat bayar utang (Wah, gue banget
nih! He..he..).
Nah, setelah kepala saya sudah dijejali oleh kerumunan
kata-kata yang merengek-rengek dan meronta-ronta untuk
minta segera dituliskan, maka langkah saya selanjutnya
ya...tentu saja menuliskannya. Kalau nggak segera dituliskan,
ntar kata-kata itu bisa ngambek sehingga nggak mau keluarkeluar dari kepala. Ibarat bayi yang sudah berusia sembilan
bulan di perut ibunya. Kalau nggak segera dikeluarin bisa-bisa
ntar terjadi sesuatu yang nggak-nggak dengan bayi itu. Buntutbuntutnya bisa mengalami keguguran.
Oleh karena itu, saran saya (Maaf nih, saran lagi. Nggak
apa-apa kan?!): Kalau memang kita sudah kebelet mau pipis
eh, kok mau pipis sih- mau nulis, segera tuliskan! Jangan
ditunda-tunda. Nggak usah pake nunggu tukang bakso lewat
dulu (Lho, apa hubungannya coba?!)
Tapi, untuk pembahasan langkah keenam ini saya tunda
dulu sebentar. Saya mau ngebahas dulu tentang susunan
anatomi sebuah artikel. Sebab, langkah keenam ini akan lebih
enak untuk dijalankan kalo kita sudah tau apa saja bagianbagian dari sebuah artikel. Oleh karena itu, kita akan coba
terlebih dahulu melakukan pembedahan terhadap sebuah
artikel. Baru setelah itu kita bahas langkah yang keenam.

55

56

MEMBEDAH ARTIKEL
Sobat....
Lho, pada mau ke mana?
Ini, mau ngambil jas lab sama peralatan bedah dulu
di rumah. Kan kita mau melakukan pembedahan.
Eeh, nggak perlu. Yang mau kita bedah itu artikel,
bukan kodok. Jadi nggak perlu pake jas lab segala. Ayo, pada
balik lagi!
Yup, sekarang kita akan coba membedah artikel. Tapi
sebelumnya, saya mau tanya dulu nih. Ada nggak kira-kira
yang bersedia artikelnya dibedah? Atau kalo nggak, saya pake
artikel saya saja deh buat dibedah.
Mmm...artikel yang mana ya? Oya, artikel saya yang
pernah dimuat di koran Republika saja deh. Artikelnya kayak
gini nih, coba perhatikan baik-baik.
***
MEMULIAKAN WANITA
Oleh: Mujianto
Islam memberikan perhatian yang sangat besar
kepada kaum wanita. Islam mengangkat harkat dan
martabat
wanita
dengan
memberikan
pendidikan,
perlindungan, serta hak-hak mereka sesuai dengan fitrah
dan kodratnya. Perhatian besar ini adalah sesuatu yang
tidak pernah diberikan oleh umat manapun sepanjang masa.
Sebelum Islam datang, wanita ditempatkan pada
posisi yang rendah dan hina. Wanita dianggap sebagai
komoditas yang dapat diperjualbelikan dan tak mempunyai
hak sedikitpun untuk menolak perlakuan hidup yang sangat
rendah. Bahkan, pada masa Arab jahiliyah, kehadiran
wanita dianggap sebagai sebuah kesialan.
Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar
dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah

57

58

padamlah)
mukanya,
dan
dia
sangat
marah.
Ia
menyembunyikan dirinya dari orang banyak, disebabkan
buruknya berita yang disampaikan kepadanya, apakah dia
akan memeliharanya dengan menanggung kehinaan
ataukah akan menguburkannya ke dalam tanah (hiduphidup). Ketahuilah, alangkah buruknya apa yang mereka
tetapkan itu. (QS An-Nahl (16): 58-59)
Namun, kini Islam telah datang dengan membawa
cahaya kedamaian untuk seluruh alam. (QS Al-Anbiya (21):
107). Dalam naungan Islam, wanita menempati derajat
yang tinggi, hak wanita diakui secara sempurna. Islam
menjaga wanita dari sekadar objek syahwat dan nafsu
kebinatangan. Bahkan, Islam memandang mereka sebagai
unsur penting dalam kebangkitan, ketahanan, dan
keselamatan masyarakat. Wanita memiliki andil yang amat
besar dalam pembentukan tokoh-tokoh berjasa bagi Islam
dan kaum Muslimin. Islam menjadikan wanita layaknya
sebuah permata berharga. Oleh karena itu, Islam menjaga
wanita dengan sebenar-benar penjagaan. Sebagai salah
satu bukti konkret, Islam mewajibkan para wanita untuk
mengenakan Jilbab (QS Al-Ahzab (33):59)
Jilbab merupakan salah satu dari sekian banyak
bentuk kasih sayang Islam kepada wanita. Jilbab menjadi
benteng, agar mereka terlindung dan terjaga. Dengan
begitu kesucian mereka akan tetap terpelihara.
Sayangnya,
wanita
zaman
sekarang
justru
menanggalkan nilai-nilai Islam itu. Mereka lebih senang
dengan gaya hidup Barat yang serbapermisif. Salah satunya
adalah kebiasaan mengumbar aurat. Maka, lepas pula
perlindungan Islam dari diri mereka.
Wanita tanpa Islam layaknya bunga di tepi jalan. Tak
ada yang melindungi. Setiap saat mata-mata nakal, bebas
memandang dengan buas dan begitu mudahnya dipetik oleh
tangan-tangan jahil manusia berhati srigala. Setelah puas,
bunga pun dicampakkan begitu saja di jalanan.
Sekarang, manakah yang akan kau pilih,wahai
wanita Muslimah! Menjadi permata ataukah bunga di tepi
jalan. Tidak ada paksaan dalam agama, telah nyata
kebenaran dari kesesatan. (QS Al-Baqarah (2): 256)

59

Sumber: Republika edisi Selasa, 9 Mei 2006


***
Nah, coba perhatikan baik-baik artikel saya di atas.
Kalau dibedah, ternyata artikel saya paling tidak tersusun dari
empat komponen: (1) Judul, (2) Intro/lead/teras, (3) Isi, dan (4)
Penutup.
Dari ke-4 komponen ini, saya yakin kalian sudah tau
semua, kecuali mungkin satu komponen yang rada-rada asing
bagi sebagian orang. Termasuk saya. Waktu pertama kali nyoba
nulis di media, saya tahunya artikel itu terdiri dari judul, isi,
dan penutup. Saya nggak tahu apa itu intro. Setelah saya bacabaca buku tentang kiat penulisan, saya baru tahu. Oo...intro itu
yang itu....Kirain apaan! Lha trus, apa itu intro?
Ya, gampangnya, bisa saya katakan bahwa yang
dimaksud dengan intro ialah paragraf pembuka. Nama
lainnya lead atau teras. Biasanya sih intro sebuah artikel
terdapat pada paragraf pertama, walaupun ada juga yang
terdapat pada paragraf satu dan dua. Tujuannya ialah ......Ah,
mungkin lebih enak kalau kita bahas dulu satu persatu. Biar
lebih fokus.
EMPAT KOMPONEN PENYUSUN ARTIKEL
1. Judul
Sobat...
Pernah nggak kamu memperhatikan judul-judul yang
ada di halaman depan sebuah surat kabar. Rata-rata hebohheboh, kan? Terutama surat kabar yang isinya kebanyakan
cuma berita seputar kriminalitas. Misalnya begini:
KARENA CEMBURU, ISTRI BAKAR SUAMI
60

Nah, kira-kira, kenapa judulnya dibuat seperti itu? Apa


tujuannya? Ya, benar! Tujuannya ialah untuk membuat orang
tertarik membaca tulisan itu. Ya, minimal orang mau melirik
dan tergerak untuk mengambil koran yang memuat tulisan
dengan judul yang heboh itu. Jadi, judul bisa dikatakan
sebagai daya pikat pertama sebuah tulisan. Oleh karena itu,
judul harus dibuat semenarik mungkin.
Ada juga yang bilang bahwa judul itu ibarat wajah
wanita. Secara fitrah, seorang laki-laki tentu lebih tertarik untuk
melihat wanita yang berwajah cantik dibanding yang kurang,
tul nggak?! (Tapi, inget lho. Semua ciptaan Alloh nggak ada
yang jelek, semuanya cantik dan bagus!). Nah, jadi....ya kalian
tentu bisa menyimpulkan sendiri maksudnya. Sama kok dengan
penjelasan sebelumnya. Intinya, judul harus dibuat cantik,
indah, heboh,menarik, memikat, memukau, me....ee....me apa
lagi ya?
Trus, gimana caranya bikin judul yang menarik?
Wah, pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Sebab sangat
subjektif. Penilaian orang beda-beda. Bisa jadi, menurut saya
bagus, tapi menurut orang lain kurang bagus. Atau malah
sebaliknya. Menurut saya kurang bagus, eh orang lain justru
bilang,Iiih..bagus banget!
Berdasarkan pengalaman menulis di media, hampir
semua judul yang saya berikan diubah oleh redaktur. Pernah
saya memberi judul artikel saya Fikih Tertawa, tapi oleh
redaktur diganti menjadi Tertawa Ada Aturannya. Pernah
juga saya memberi judul artikel saya Merokok = Bunuh Diri,
tapi setelah dimuat judulnya berubah menjadi Pembunuh
Berasap.
Begitupun dengan artikel saya di atas. Awalnya artikel
itu saya beri judul Wanita dan Islam. Saya pikir judul ini

sudah menarik. Bayangan saya, begitu membaca judul ini, akan


timbul pertanyaan dalam diri pembaca,Emangnya, apa
hubungannya wanita dengan Islam?. Nah, dengan begitu,
harapan saya, pembacapun jadi tertarik untuk membaca artikel
saya ini. Tapi ternyata redaktur punya pendapat lain. Mereka
ternyata punya judul yang menurut mereka lebih menarik.
Jadi intinya, saya nggak tahu gimana cara bikin judul
yang menarik. Oleh karena itu, lebih baik kamu tanya saja deh
ke penulis lain. Barangkali mereka tahu.
Kalau saran saya sih, untuk bisa membuat judul yang
menarik, kita harus banyak-banyak latihan. Kita juga harus
sering-sering mengamati judul-judul tulisan yang ada di media.
Dari sana nantinya kita bisa belajar banyak tentang bagaimana
caranya membuat judul yang menarik.
Tapi yang jelas, judul hedaknya dibuat dengan
ringkas dan padat. Judul artikel diusahakan tidak lebih
dari lima kata, tetapi cukup menggambarkan isi bahasan.
Kemudian, perlu diperhatikan juga, bahwa di bawah
judul artikel biasanya tertulis juga nama penulis. Kemudian, di
bawah nama penulis (sebelum intro) dicantumkan pula profesi
atau jabatan yang tengah dipegang oleh si penulis. Kalo kamu
misalnya nggak punya profesi atau jabatan yang bisa
dibanggakan, kamu kasih saja embel-embel peminat atau
pemerhati di bawah namamu. Misalnya Peminat Masalah
Keagamaan atau Pemerhati Masalah Sosial dan Politik.
Namun, untuk hal ini beda-beda di setiap media. Ada
media yang mencantumkan nama penulis beserta profesi atau
jabatannya di akhir tulisan. Ada juga yang cuma nama,
sedangkan jabatan atau profesi penulis diletakkan di akhir
tulisan. Dan, ada juga media yang cuma mencantumkan nama
penulis tanpa embel-embel profesi atau jabatan. Jadi setiap
media beda-beda dalam hal ini. Oleh karena itu, pengamatan
media sangat dibutuhkan sebelum kita mengirim tulisan ke
sana.

61

62

SEORANG ANAK MENGHAMILI IBU TIRINYA


MAYAT TANPA KEPALA DI RUMAH KOSONG

2. Intro
Setelah orang membaca judul sebuah tulisan, kemudian
dia tertarik untuk membacanya, maka yang dia baca pertama
kali ialah paragraf pertama. Nah, paragraf pertama inilah yang
disebut dengan intro atau biasa disebut juga dengan paragraf
pembuka.
Sama juga dengan judul, intro pun harus dibuat
menarik. Bedanya, kalau judul berfungsi untuk menarik orang
agar mau membaca intro, sedangkan intro berfungsi untuk
menarik orang agar mau membaca isi tulisan secara
keseluruhan, dari awal sampai akhir.
Lalu, gimana caranya supaya intro bisa menarik?
Yang saya tau, dari membaca beberapa referensi (buku,
majalah, dan artikel) tentang kiat menulis, ada beberapa macam
intro yang bisa dicoba. Misalnya: pernyataan yang menarik;
mengutip berita di koran; mengutip ayat Al-Quran, hadits,
pepatah, atau ungkapan populer yang berhubungan dengan
tema tulisan; mengutip ucapan seseorang (kutipan langsung);
mengutip pendapat orang; mengutip data atau peristiwa yang
mengejutkan; ataupun berupa dialog.
Sebagai contoh, ketika kita hendak menulis tema
tentang zina (free sex), maka kita bisa memulai tulisan
dengan mengutip ayat Al-Quran:
Janganlah kamu sekalian mendekati perzinahan, karena zina
itu adalah perbuatan kezi (QS. Al Israa: 32)
Atau kutipan data mengejutkan, seperti:
Berdasarkan penelitian Lembaga XYZ, 90% remaja di kota
ABC pernah melakukan hubungan sex diluar nikah (Republika,
09 Mei 2010)
Trus, kapan bagusnya menulis lead? Apakah saat
awal menulis?
Terserah, bisa kapan saja. Kalo bisa di awal lebih bagus.
Cuma kalo nggak bisa, ya bisa kapan saja.
63

Ada yang punya saran begini. Saat mulai menulis,


lupakan dulu teori intro yang sudah kita pelajari. Ketika sedang
menulis teruskan saja. Yang penting semua gagasan dan fakta
yang mau diungkap sudah tersampaikan.
Nah, selesai menulis, barulah mikirin intro. Carilah di
sekitar tubuh tulisan kita itu paragraf yang paling menggugah
selera. Apa yang baru bagi kebanyakan orang? Apa yang
tampak langka? Apa yang penting?
Apabila sudah ketemu, ambil paragraf itu. Jadikan dia
intro. Tentu kalimat itu harus dipoles ulang. Dan tentu saja
karena intro diambil dari bagian tengah tulisan, jadinya struktur
tulisan kita perlu ditata ulang. Mainkan copy-paste. Pindahkan
paragraf-paragraf sesuai keinginan kita.
Dalam tulisan saya di atas, saya memilih intro berupa
pernyataan yang, menurut saya, menarik. Harapan saya, setelah
membaca intro, pembaca akan tertarik untuk membaca bagian
isinya. Pinginnya saya, akan timbul pertanyaan dari dalam diri
pembaca seperti ini: Masak sih Islam memberikan perhatian
besar kepada wanita? Apa buktinya? Bukankah.....? Dst...dst...
Namun, dalam membuat intro, kita juga harus melihat
media yang bakalan kita kirimi tulisan. Sebab, nggak semua
media menerima jenis intro seperti yang sudah saya sebutkan di
atas. Intinya, kita emang kudu banyak membaca dan melakukan
pengamatan sebelum menulis. Oleh karena itulah, langkah
pertama yang saya ayunkan ketika hendak menulis ialah
melakukan Pengamatan Media.
3. Isi Tulisan
Saya nggak akan bercerita banyak tentang isi tulisan.
Kamu-kamu tentu sudah pada ngerti, kan? Intinya, isi tulisan
mengandung hal-hal yang akan kita sampaikan. Tumpahkan
saja semua kata-kata yang ada di kepala kita ke dalam isi
tulisan. Habiskan semua, jangan sampai ada yang tersisa.

64

Kalau kamu punya informasi, entah itu berupa fakta


maupun data, sampaikan saja. Kalau ada cerita menarik, ya
sampaikan saja. Kalau memang semua itu ada hubungannya
dengan tema tulisanmu, ya sampaikan saja. Tumpahkan
semuanya. Nah, inilah isi tulisan.
Jadi, sekali lagi, isi tulisan mengandung hal-hal yang
akan kita sampaikan dan bicarakan. Adapun intro cuma sekedar
pengantar, agar pembaca mau mendengarkan apa yang ingin
kita bicarakan.
Kemudian, agar pembaca betah mendengarkan ocehan
kita, ada yang ngasih saran begini. Exspos besar-besaran
sesuatu yang kita anggap paling menarik. Ceritakan semuanya
habis-habisan sampai tuntas, hingga tidak ada lagi informasi
yang tersisa. Begitu kira-kira sarannya.
Trus, ada yang ngasih saran juga, kalo isi tulisan kita
cukup panjang, ada baiknya agar dipilah-pilah menjadi
beberapa sub judul. Di samping untuk mempermudah dalam
proses penulisan, dengan adanya sub judul, berguna juga untuk
memberi kesempatan kepada pembaca untuk beristirahat
barang sejenak.
Nah, kalau sudah tidak ada lagi yang mau diceritakan,
sekarang saatnya undur diri. Saatnya tulisan ditutup.

pamit, asal diikuti dengan nada yang menurun. Dengan


merasakan gaya pamit itu, sebenarnya para pembaca juga sudah
tahu bahwa sebentar lagi perjalanan ke alam imajinasi melalui
tulisan itu akan berakhir tanpa perlu diumumkan segala.
Ada banyak cara sebenarnya yang bisa digunakan untuk
menutup sebuah tulisan. Bisa dengan memberikan kesimpulan,
saran, ajakan, ataupun doa. Atau, lewat penutup kita bisa
mengajak pembaca untuk merenung. Misalnya dengan
mengajukan sebuah pertanyaan yang membuat mereka berfikir.
Seperti penutup artikel saya di atas.
Ok deh, Sobat...
Dengan berakhirnya penjelasan tentang penutup ini,
berakhir pulalah acara pembedahan kita. Semoga bisa
memberikan sedikit pencerahan buat kita semua. Sekarang,
mari kita teruskan langkah kita!

4. Penutup
Untuk menutup sebuah artikel, tidak perlu kita buat
judul Penutup pada paragraf akhir. Sebab, kesannya
gimanaaa....gitu! Meskipun tulisan itu harus ditutup dengan
penutup, kata Nilnaiqbal, tapi lebih enak rasanya kalau tidak
dikatakan terus terang dengan judul Penutup, melainkan
langsung saja berupa alinea baru bergaya pamit dan terasa
sebagai alinea akhir.
Katanya lagi, gaya pamit bisa dihasilkan dengan
menyelipkan kata demikian, jadi, atau maka. Kata
akhirnya juga memberi kesan bahwa alinea ini bergaya
65

66

7 LANGKAH MEMBUAT ARTIKEL


(BagianBagian-2)

Ketika hendak menulis artikel dengan tema yang


memang benar-benar saya kuasai, artinya saya tidak perlu
susah-susah baca referensi terlebih dahulu karena semua data
sudah ter-save di otak, maka saya gunakan teknik menulis
TS. Saya tuliskan saja semua yang ingin saya tulis. Saya
biarkan pena ini terus bergerak. Saya tumpahkan semua kata-

kata yang tersimpan di kepala. Saya biarkan ceceran-ceceran


tinta membentuk kata-kata itu. Terus saja saya menulis.
Saya tidak terlalu pedulikan masalah tanda baca,
pemilihan kata, penggunaan bahasa, atau segala tetek bengek
ketatabahasaan lainnya. Yang penting saya harus menulis. Saya
harus tuliskan semuanya. Saya harus tumpahkan semuanya.
Hingga akhirnya keran kata-kata itu kering dengan sendirinya
karena sudah tidak menyisakan kata-kata.
Ketika awal menulis, saya juga tidak terlalu
dipusingkan dengan intro. Pokoknya saya langsung menulis
saja walaupun belum mendapatkan kata-lata pembuka (intro)
yang menarik. Yang penting semua gagasan dan fakta yang
mau saya ungkapkan sudah tersampaikan. Setelah selesai, baru
saya mikirin gimana caranya bikin intro yang menarik.
Namun, dalam menulis dengan teknik ini saya tetap
punya pengarah. Tidak asal grasak-grusuk begitu saja. Saya
tetap berpatokan pada judul dan outline yang sudah saya buat.
Jadi, sebelum mulai menumpahkan tulisan, saya lihat
kembali judul dan outline yang telah saya buat ketika
melakukan langkah yang ke.mmm.ke berapa? Lho, kok
saya jadi lupa ya? Sebentarsebentar, saya lihat dulu. Oya,
langkah yang ketiga. Saya baca sebentar judul dan outline
sementara yang sudah saya buat, saya amat-amati dan pikirkan
sejenak, baru setelah itu saya berasyik masyuk dengan katakata.
Jadi, judul dan outline itulah yang mengarahkan saya
dalam proses penulisan dengan teknik TS. Bahkan bukan hanya
untuk teknik TS saja, teknik yang lain pun sama. Terutama
sekali yang sangat membantu ialah outline itu. Dengan adanya
out line, saya jadi tau apa saja yang harus saya tuliskan. Jadi
nggak sampai ngelantur ke mana-mana.
Biasanya teknik menulis TS ini saya gunakan untuk
menulis artikel berupa tanggapan terhadap sesuatu, entah
sesuatu yang saya baca, dengar, maupun yang saya lihat. Sebab

67

68

Gimana Sobat, sudah tau kan sekarang komponenkomponen penyusun sebuah artikel? Biar tambah ingat, saya
ulangi lagi nih. Yang pertama, judul. Trus, yang kedua, intro.
Yang ketiganya isi dan yang keempatnya penutup.
Nah, sekarang saya akan lanjutkan kembali cerita saya
yang tertunda. Sekarang kita menginjak kepada langkah yang
keee.mmm..yang keberapa ya? Oya, yang keenam.
Langkah Keenam: Menuliskan
Ada dua teknik yang biasa saya gunakan dalam menulis
artikel. Teknik yang pertama namanya teknik TS, singkatan
dari Tuliskan Saja, dan teknik yang kedua namanya teknik
BT, singkatan dari Baca dan Tuliskan. Atau, kadang dua
teknik ini saya gabung jadi satu. Jadi namanya
teknik.mmm.teknik apa ya jadinya? Mmmterserah deh
mau ngasih nama apa! Sebab, apalah arti sebuah nama teknik
menulis. Yang penting kan intinya kita bisa menghasilkan
tulisan, tul nggak?! Kalau masalah teknik sih terserah mau
pakai teknik apa saja. Atau, biar gampang mengingatnya, saya
kasih saja namanya teknik BTBT, singkatan dari Baca,
Tuliskan, Baca, Tuliskan lagi.
(TEKNIK TS )

ketika menanggapi sesuatu, tentu saja saya sudah punya


gambaran atau ilmu yang hendak saya sampaikan. Jadi tinggal
menuangkan saja. Kalau di tengah jalan ada kesulitan, baru
saya buka-buka referensi yang saya butuhkan yang terkait
dengan tema yang hendak saya tulis.
Misanya saja, ketika saya mendengar dari seorang
kawan bahwa di sebuah daerah (saya lupa, di Bekasi atau
Tangerang) ada seorang penceramah di sebuah acara peringatan
Maulid Nabi yang mengatakan bahwa orang yang mengatakan
bahwa peringatan Maulid Nabi termasuk bidah, maka halal
darahnya! Karena saya tidak setuju dengan pernyataan si
penceramah itu, maka sayapun tertarik untuk menanggapinya.
Kemudian, saya kirim tanggapan saya itu ke rubrik opini
sebuah koran. Namun sayang, tulisan saya itu sampai saat ini
nggak keliatan juga batang hidungnya.
Namun, sebagai contoh, tidak apalah jika saya
tampilkan di sini. Mudah-mudahan bisa diambil manfaatnya
oleh kamu-kamu semua. Begini nih tulisannya...
***
MENYIKAPI KHILAFIYAH
Oleh: Mujianto
Peminat Masalah Sosial dan Keagamaan

Bahkan, tidak menutup kemungkinan menjadi pemicu


terjadinya pertumpahan darah antara sesama ummat Islam.
Tulisan ini semoga bisa meredam hal itu.
Sudah Sunnatullah
Memang, kalau kita perhatikan, banyak sekali perbedaan
pendapat (khilafiyah) di tubuh ummat Islam, terutama
dalam masalah hukum-hukum fikih (fiqhiyyah). Ambil misal,
yang paling populer, ialah permasalahan qunut Subuh. Ada
yang berpendapat bahwa qunut Subuh terus-menerus
termasuk bidah (ibadah yang tidak ada contohnya dari
Rasulullah). Namun, ada yang berpendapat sebaliknya,
qunut Subuh terus-menerus termasuk amalan sunnah (ada
contohnya dari Rasulullah). Masing-masing memiliki
argumentasi yang mendukung pendapatnya.
Dahulu, kita sering mendengar, perbedaan pendapat seperti
ini bisa menyulut terjadinya pertikaian antara sesama
ummat Islam. Bahkan tak jarang sampai menimbulkan baku
hantam di antara sesama mereka. Hanya saja, semakin
hari, ummat Islam terlihat semakin dewasa. Mereka terlihat
lebih bijaksana dalam menyikapi perbedaan pendapat yang
ada. Yang penting sekarang, kedua belah pihak tidak saling
menjelek-jelekkan.

Saya sempat kaget mendengar cerita seorang kawan belum


lama ini. Katanya, pada acara peringatan Maulid Nabi di
sebuah daerah, penceramah yang diundang dalam acara itu
mengeluarkan pernyataan bahwa orang yang mengatakan
bahwa peringatan Maulid Nabi termasuk bidah, maka halal
darahnya!. Sungguh sebuah pernyataan yang cukup untuk
membuat bulu kuduk merinding.

Sebenarnya, kalau kita mau kaji lebih jauh, munculnya


banyak perbedaan pendapat di tubuh ummat Islam, justru
hal ini menjadi bukti akan kebenaran Islam. Sebab, sudah
jauh-jauh hari Rasulullah memberitakan akan terjadinya hal
ini. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah
bersabda,Sungguh, orang yang masih hidup di antara
kalian
sepeninggalku
nanti,
mereka
akan
melihat
persilisihan yang banyak.. (HR. Ahmad, Abu Dawud, AtTirmidzi dll.)

Jika memang benar yang dikatakan kawan saya itu, maka


sungguh sangat disayangkan. Ukhuwah Islamiyah yang
sekarang ini sudah mulai terbina, bisa rusak karenanya.

Jadi, perbedaan pendapat adalah sunnatullah yang mau


tidak mau pasti terjadi. Tinggal sekarang, bagaimana cara
kita menyikapinya? Jika kita menyikapinya dengan emosi

69

70

dan tanpa ilmu, bisa-bisa kerusakan yang akan ditimbulkan.


Namun, jika kita menyikapinya sesuai dengan petunjuk
Rasulullah, insya Allah, perbedaan pendapat bukanlah suatu
hal yang patut dirisaukan.

Ummat Islam harus cerdas. Ketika ada perbedaan pendapat,


mereka diperintahkan untuk mengkaji secara mendalam
dalil-dalil yang dikemukakan oleh masing-masing pihak
yang berbeda pendapat. Adapun tolak ukur kebenarannya
ialah sunnah Rasul dan sunnah Khulafaur Rasyiddin.

Jalan Keluar
Ketika Rasulullah memberitakan akan terjadinya banyak
perbedaan pendapat di tubuh ummat Islam sepeninggal
beliau nanti, beliau sekaligus memberikan solusi untuk bisa
keluar dari keadaan itu. Dalam lanjutan hadits di atas,
Rasulullah bersabda,Maka, wajib bagi kalian mengikuti
sunnahku dan sunnah Khulafaur Rasyidin.
Jadi, berdasarkan hadits ini, ada dua cara dalam menyikapi
perbedaan pendapat. Pertama, mengembalikannya kepada
Sunnah Rasulullah. Tercakup dalam sunnah Rasulullah ini
ialah Al-Quran dan Al-Hadits. Dan, ini sesuai dengan firman
Allah dalam surat An-Nisa ayat 59, Kemudian jika kamu
berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia
kepada Allah dan Rasul, jika kamu benar-benar beriman
kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah
lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.

Kemudian, secara tidak langsung, Islam melarang


ummatnya menjadi muqallid (pengekor). Ketika ada orang
yang mengeluarkan sebuah pernyataan, tidak lantas
diterima begitu saja. Terlebih dahulu harus diperiksa
kebenarannya. Tidak peduli siapapun yang mengatakannya.
Sebab, kata Imam Malik, setiap perkataan manusia bisa
diterima dan bisa ditolak, kecuali perkataan Rasulullah.
Sayangnya, jarang sekali kita jumpai para tokoh agama
(ustadz, kiai, dll.) yang mengajarkan madu-nya untuk
bersikap kritis. Akibatnya, dalam kehidupan beragama,
masyarakat kita cenderung bersikap ikut-ikutan (taklid).
Setiap yang dikatakan tokohnya, itulah yang dianggap
benar. Seolah-olah perkataan tokohnya adalah wahyu yang
mutlak kebenarannya dan tidak bisa digangu gugat. Hal ini
sungguh sangat kita sayangkan.
Saling Menghormati

Kemudian, cara yang kedua ialah mengembalikannya


kepada sunnah Khulafaur Rasyidin (Abu Bakar, Umar,
Utsman dan Ali). Yakni, kita cocokkan perbedaan yang ada
dengan pemahaman dan pengamalan Khulafaur Rasyidin
terhadap sunnah Rasulullah (Al-Quran dan Al-Hadits). Atau,
ringkasnya, bisa kita katakan bahwa jalan keluar dari beda
pendapat ialah mengembalikannya kepada Al-Quran dan AlHadits sesuai dengan pemahaman dan pengamalan para
Khulafaur Rasyidin. Inilah jalan keluar yang diajarkan oleh
Rasulullah.

Karena sudah menjadi sunnatullah, maka yang namanya


perbedaan pendapat jelas pasti ada. Para Sahabat di jaman
Rasulullah pun tidak luput dari yang namanya berbeda
pendapat. Namun, kenapa mereka bisa adem-ayem
meskipun terkadang berbeda pendapat? Hal ini disebabkan
penyikapan mereka
yang
sesuai dengan petunjuk
Rasulullah. Maka, jika kita ingin hidup damai seperti
mereka, tidak bisa tidak, kitapun harus mengikuti jejak
mereka (QS. At-Taubah: 100). Tidak ada cara lain.

Dari sini bisa kita tarik pelajaran penting, bahwa sebenarnya


ummat Islam diperintahkan untuk melakukan studi kritis.

Kemudian, tak lupa pula agar kita saling menghormati.


Ketika ada yang berbeda pendapat dengan kita, jangan
langsung kita vonis sesat apalagi sampai menghalalkan
darah segala. Hendaknya kita diskusikan secara baik-baik

71

72

Studi Kritis

bersama pihak yang berbeda pendapat dengan kita. Sebab,


bisa jadi, setelah didiskusikan dan dikaji secara mendalam,
justru kebenaran itu berada dipihak orang yang
pendapatnya berbeda dengan kita. Dan, ini bisa saja terjadi.
Maka, di saat itu, kewajiban kita ialah mengikuti kebenaran,
meskipun menyalahi keyakinan kita selama ini. Sebab,
kebenaranlah yang lebih berhak untuk diikuti. Adapun orang
yang menolak kebenaran, maka dia termasuk orang yang
sombong. Rasulullah bersabda,Sombong adalah menolak
kebenaran dan merendahkan manusia. (Al-Hadits). Wallahu
alam.

***
(TEKNIK BT)
Sekarang, kita akan berbicara tentang teknik BT.
Ketika saya mendapatkan ide untuk menulis tentang tema
tertentu, saya langsung baca referensi yang terkait dengan tema
itu. Selesai membaca, baru saya tuliskan dengan bahasa saya
sendiri. Jadi persis seperti orang yang habis baca buku,
kemudian dia menceritakan isi buku itu kepada orang lain
dengan bahasanya sendiri. Kadang sisinya cuma sekedar
ringkasan dari isi buku yang saya baca. Atau olahan dari
beberapa referensi yang saya baca.
Contoh penggunaan teknik ini dalam menulis bisa
dilihat dalam artikel saya yang dimuat di kolom hikmah HU
Republika edisi Rabu, 19 Juli 2006. Judulnya Menjaga
Kesucian. Artikel ini bisa dikatakan merupakan ringkasan dari
buku Jilbab Al-Marah Muslimah karya Syaikh Muhammad
Nashiruddin Al-Albani rahimahullah. Selesai membaca buku
itu, saya tuliskan kembali dengan kata-kata saya sendiri tentang
kedelapan persyaratan jilbab syari. Terutama bagian intro dan
penutup. Adapun bagian isi yang berisi dalil-dalil, saya copypaste dari buku itu.
73

Biar kalian lebih jelas, saya kasih lihat saja artikelnya.


Ini dianya
***
MENJAGA KESUCIAN
Oleh: Mujianto
Islam mewajibkan seorang Muslimah mengenakan
jilbab. Hai Nabi katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak
perempuanmu, dan istri-istri orang Mukmin, hendaklah
mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.
Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk
dikenal, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah adalah
Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (QS Al-Ahzab
[33]: 59)
Dengan jilbab, identitas seorang wanita menjadi
jelas. Bahwa, mereka seorang Muslimah. Dengan jilbab
pula, seorang wanita akan terhindar dari tatapan mata liar,
sehingga mereka tidak diganggu. Kesucian mereka pun
menjadi terjaga.
Namun, jilbab bukan sekadar pakaian penutup tubuh
(aurat) wanita. Ada beberapa syarat yang harus dipenuhi
agar pakaian yang dikenakan seorang wanita bisa dikatakan
jilbab yang sebenarnya (jilbab syari).
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani dalam
kitabnya yang berjudul Jilbab Al-Marah Al-Muslimah
menyebutkan delapan syarat jilbab syari. Pertama,
menutup seluruh tubuh, kecuali muka dan telapak tangan.
Kedua, bukan untuk tabarruj (bersolek) yang bisa
menyebabkan pandangan mata tertuju padanya (QS AlAhzab [33]: 33)
Ketiga, bahannya terbuat dari kain yang tebal, tidak
tipis dan tidak tembus pandang (transparan). Keempat,
kainnya longgar, tidak ketat dan tidak membentuk lekuk
tubuh. Kelima, tidak diberi wewangian atau parfum.
Wanitamana saja yang memakai wewangian, lalu ia lewat

74

di muka orang banyak agar mereka mendapatkan baunya,


maka ia adalah pezina. (HR Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Keenam, tidak menyerupai pakaian laki-laki. Sebab,
Rasulullah SAW melaknat laki-laki yang memakai pakaian
wanita, dan wanita yang memakai pakaian laki-laki (HR Abu
Dawud, Ibnu Majah, Al Hakim, dan Ahmad). Ketujuh, tidak
menyerupai pakaian orang-orang kafir. Barangsiapa
menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari
mereka. (HR Ahmad dan Abu Dawud).
Kedelapan,
bukan
pakaian
untuk
mencari
popularitas. Barangsiapa mengenakan pakaian untuk
mencari popularitas di dunia, niscaya Allah akan
mengenakan pakaian kehinaan kepadanya pada hari kiamat,
kemudian membakarnya dengan api neraka. (HR Abu
Dawud dan Ibnu Majah).
Kedelapan syarat ini bukanlah hal yang sulit untuk
dipenuhi. Sebab, tidak ada yang sulit dalam syariat Islam.
Semuanya mudah. Allah menghendaki kemudahan bagimu,
dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. (QS Al-Baqarah
[2]: 185). Dalam firman-Nya yang lain,Dan Dia (Allah)
sekali-kali tidak menjadikan untuk kamu dalam agama ini
suatu kesempitan. (QS Al-Hajj [22]: 78).

referensi. Setelah merasa cukup informasi yang saya butuhkan,


saya pun menulis lagi dengan teknik TS. Mentok lagi, baca
lagi. Setelah itu tulis lagi, dan begitu seterusnya hingga jadilah
sebuah tulisan.
Untuk tulisan jenis ini, contohnya ialah artikel saya
yang berjudul Memuliakan Wanita. Kalian bisa lihat lagi di
bab sebelumnya.
***
Jadi, beginilah kira-kira cara saya menulis sebuah
artikel. Biasa-biasa saja, kan? Nggak ada yang istimewa.
Nah, ketika sebuah tulisan berhasil saya tulis, bukan
berarti tulisan sudah jadi dan siap kirim. Belum, belum selesai.
Masih harus diproses lagi di langkah yang ketujuh. Apakah
itu

Selain dua teknik menulis ini, sebagaimana telah saya


singgung di atas, saya juga biasa pakai teknik menulis
campuran. Bahkan, bisa dibilang, ini adalah teknik menulis
yang paling sering saya gunakan. Misalnya saya ingin menulis
suatu tema, maka saya pun kemudian membaca-baca referensi
yang ada kaitannya dengan tema. Setelah benar-benar saya
kuasai, saya langsung menuliskannya. Saya gunakan teknik
TS. Jika di tengah jalan mentok, saya baca-baca lagi

Langkah Ketujuh: Mengedit


Waahini dia nih langkah yang paling mengasyikkan.
Di antara langkah-langkah yang lain, langkah ini yang paling
saya suka. Kenapa? Sebab di langkah ini saya bisa bebas
berekspresi dan lebih nyantai melakukannya.
Permisalannya seperti orang yang sedang menggambar.
Ketika dia sudah menghasilkan gambar, misalnya gambar
pemandangan, namun belum 100% jadi, maka langkah
selanjutnya tentu saja ialah menyempurnakan gambar. Dilihat
lagi gambar yang sudah dibuatnya. Kalo ada yang kelihatannya
kurang, ditambahin saja. Kalo ada yang kelihatannya nggak
cocok, yadihapus saja. Kalo kurang garis, dikasih garis. Kalo
kurang arsiran, dikasih arsiran. Kalo ada gambar yang pingin
ditambahin, ya ditambahin saja. Kalo ada yang kurang
matching, ya dihapus saja. Kalo ada yang mau diubah, diubah
saja. Kalo ada yang mau ditambahin, ditambahin saja. Kalo
mau dikasih warna, ya..kasih warna saja. Pokoknya bebas saja.

75

76

Sumber: Republika edisi Rabu, 19 Juli 2006


***
(TEKNIK BTBT )

Yang penting jadi gambar yang sesuai dengan yang diinginkan.


Yaitu gambar yang indah dipandang. Ada gunungnya, ada
langitnya, ada mataharinya, ada burungnya, ada sawahnya, ada
padinya, ada petaninya, ada rerumputannya, ada sungainya,
ada pohon kelapanya, adammm.ada apalagi ya? Pokoknya
semua serba ada deh.
Nah, begitupun halnya dengan menulis. Ketika artikel
selesai ditulis, walaupun belum fix, maka yang saya lakukan
kemudian adalah membacanya lagi dari awal. Sambil baca,
kalo ada huruf yang kurang, maka saya tambahin. Kalo ada
paragraf yang saya pikir nggak nyambung, yasaya perbaiki.
Kalo kurang koma, saya kasih koma. Kalo kurang titik, saya
tambahin titik. Kalo ada data yang pingin saya tambahin, ya
saya masukin saja ke dalam artikel. Kalo artikel kepanjangan,
ya saya kurang-kurangin. Kalo ada yang mau saya hapus, ya
saya hapus saja. Pokoknya saya bikin gimana caranya agar
artikel yang saya buat benar-benar mantap, dalam artian tidak
ada kekurangan lagi (minimal menurut pandangan saya). Saya
berusaha agar artikel yang saya bikin benar-benar bisa
dipahami maksudnya. Nggak njelimet.
Dalam mengedit, saya bisa lakukan berkali-kali.
Kadang bisa sampai belasan kali. Saya baca dari awal, saya
perbaiki, kemudian saya baca lagi, baca lagi, baca lagi, dan
terus saya baca lagi hingga berkali-kali. Sampai saya merasa
puas. Sampai saya ngerasa artikel saya sudah benar-benar fix
dan siap kirim. Baru kemudian saya berhenti mengedit.
Untuk mengedit tulisan, saya biasanya melakukannya
tidak di depan layar monitor. Artikel yang setengah jadi (hasil
langkah keenam) saya print di atas kertas. Kemudian, saya
ambil pulpen warna merah, untuk kemudian artikel itu saya
baca dan saya coret-coret (perbaiki). Setelah puas, baru
kemudian hasil coret-coretan saya itu saya pindahin ke layar
monitor. Terkadang habis itu saya print untuk yang kedua
kalinya. Saya baca-baca lagi. Kalo masih ada yang harus saya

perbaiki, ya..saya perbaiki saja. Kemudian hasil koreksiannya


saya masukan lagi ke naskah yang ada di monitor.
Terkadang, ketika sedang mengedit tulisan, saya jadi
teringat dengan berbagai macam bacaan yang pernah saya baca
terkait dengan tema tulisan yang sedang saya buat. Jika saya
merasa cocok untuk memasukkannya ke dalam tulisan, saya
pun langsung memasukannya saja. Dan, setelah tulisan saya
periksa berkali-kali, kemudian saya merasa sudah tidak ada lagi
yang
akan
ditambahin,
maka
sayapun
kemudian
mengirimkannya ke media yang hendak saya tuju.
Nah, jadi begitulah cara saya membuat sebuah tulisan
untuk dikirim ke media. Untuk menghasilkan sebuah tulisan,
kadang ada yang butuh waktu cepat dan kadang ada yang butuh
waktu agak lama, tergantung jenis tulisannya. Kalo tulisan yang
terkait dengan deadline, kadang hari itu juga bisa langsung jadi.
Misalnya artikel untuk dikirim ke rubrik opini. Ketika
saya baca sebuah tulisan yang ada di rubrik opini yang terdapat
pada koran hari ini, kemudian saya merasa ada sesuatu yang
harus ditanggapi, maka langsung hari itu juga saya tulis dan
saya kirim. Atau paling nggak besoknya saya kirim. Sebab,
kalo kelamaan bisa basi dan bisa keduluan penulis yang lain.
Ini kalo tulisan terkait dengan deadline.
Berbeda halnya dengan tulisan yang nggak ada
hubungannya dengan deadline. Saya bisa bebas kapan saja
untuk menuliskannya. Bisa sehari, dua hari, bahkan bisa
berminggu-minggu baru saya selesaikan.
Gimana sobat
Menurut kalian, langkah yang saya ayunkan mudah apa
nggak? Atau mungkin kalian punya langkah-langkah sendiri
dalam menulis artikel. Yasilakan saja. Setiap orang kan
beda-beda. Saya di sini cuma pingin ngasih masukan tentang
pengalaman saya selama menulis artikel. Barangkali saja apa
yang saya ceritakan di sini bisa jadi bahan inspirasi buat kamukamu semua. Mungkin ada beberapa yang bisa kalian adopsi

77

78

sehingga aktivitas menulis kalian jadi lebih mudah dan


menyenangkan. Harapan saya sih begitu.
Kemudian, perlu saya ingatkan juga, bahwa langkahlangkah yang saya sampaikan ini merupakan langkah-langkah
yang ringan. Jadi jangan kalian anggap sebagai langkah yang
berat. Semua langkah ini bisa dilakukan secara cepat dan bisa
bersamaan. Misalnya, begitu saya dapat ide, langsung saya ikat
dengan judul dan outline semntara. Kemudian saya berpikir
sejenak untuk menguji ide (sekitar 3 menitan), dan langsung
mulai menulis.
Jadi mudah saja. Dan tidak mesti langkah-langkah ini
harus diayunkan semuanya. Bisa lompat-lompat dan juga
urutannya bisa ngacak. Bahkan kadang bisa bolak-balik.
Pokoknya fleksibel saja. Yang penting tujuan utamanya
tercapai, yaitu terciptanya sebuah tulisan. Itu saja.
Oya, ada yang perlu saya tambahkan juga. Sebelum
kamu ngirim tulisan ke media, ada baiknya juga kamu minta
teman-temanmu atau siapa saja untuk baca tulisanmu. Minta
mereka untuk memberi penilaian, entah berupa kritik atau
saran. Sebab bisa jadi, apa yang menurut kita bagus, tapi
menurut orang lain kurang bagus. Apa yang menurut kita
sempurna, tapi ternyata menurut orang lain masih banyak
kekurangan di sana-sini. Oleh karena itu, jangan sungkansungkan untuk minta penilaian orang lain terhadap tulisan kita.
Kali saja ada sesuatu yang bermanfaat yang bisa kita dapat.
Dah, gitu saja tambahan dari saya. Sekarang, biar kalian
nggak lupa, saya akan coba memberikan sedikit ringkasan dari
ketujuh langkah yang sudah saya sebutkan.
***
7 LANGKAH MENULIS ARTIKEL
***

Pertama-tama, saya amati rubrik apa saja yang ada di media itu.
Kemudian, jika saya tertarik menulis di salah satu rubrik, maka
terlebih dahulu saya baca-baca beberapa tulisan yang biasa
dimuat di rubrik itu. Yang saya perhatikan terutama seputar
tema, judul, cara penyampaian, panjang tulisan, dan bahasa
yang digunakan.
Langkah Kedua: Mencari Ide
Kata Andrias Harefa (penulis 30 buku laris), ide-ide
bisa muncul dari bacaan, bisa dari tontonan, bisa dari obrolan,
bisa dari radio, bisa dari pertanyaan orang, bisa dari surat
elektronik, dari milis, dari internet, dari lamunan, dari
pengamatan, dan dari semua arah. Tempatnya pun tak ada yang
sangat khusus. Di rumah, di mobil, di pesawat, di kantor, di
restoran, di mana saja ide-ide bisa muncul tiba-tiba.
Langkah Ketiga: Menguji Ide
Melanggar syariat apa nggak?
Sanggup nggak saya menuliskannya ?
Referensinya ada nggak?
Manfaat nggak buat orang lain?
Apakah sudah pernah dibahas oleh orang lain?
Apakah ide saya ini aktual ?
Apakah saya sanggup menuliskannya dalam jangka waktu
maksimal 2 hari?
Langkah Keempat: Membuat Judul dan Outline Sementara
Judul dan outline sementara berfungsi sebagai pengarah agar
tulisan tidak melebar ke mana-mana. Outline sementara
biasanya berisi hal-hal yang ingin saya bahas terkait dengan
tema yang hendak saya tulis. Misalnya saya ingin membuat
tulisan tentang shalat. Maka bisa saja saya beri judul
sementara Kedudukan Shalat dalam Islam. Kemudian outline

Langkah Pertama: Pengamatan Media


79

80

sementaranya bisa berupa hal-hal berikut: Definisi shalat,


hukum shalat, manfaat shalat, syarat diterimanya shalat, dll.
Langkah Kelima: Mencari dan Membaca Referensi
Referensi bisa berupa apa saja dan bisa didapat di mana saja.
Referensi bisa berupa buku, majalah, maupun artikel. Referensi
juga bisa dicari di mana saja. Bisa diperpustakaan, di toko
buku, internet, atau bisa juga di rumah teman alias minjam.
Langkah Keenam: Menuliskan
Ketika saya mendapatkan ide untuk menulis tentang tema
tertentu, saya langsung baca referensi yang terkait dengan tema
itu. Selesai membaca, baru saya tuliskan dengan bahasa saya
sendiri. Jadi persis seperti orang yang habis baca buku,
kemudian dia menceritakan isi buku itu kepada orang lain
dengan bahasanya sendiri. Kadang sisinya cuma sekedar
ringkasan dari isi buku yang saya baca. Atau olahan dari
beberapa referensi yang saya baca.
Langkah Ketujuh: Mengedit
Ketika artikel selesai ditulis, walaupun belum fix, maka yang
saya lakukan kemudian adalah membacanya lagi dari awal.
Sambil baca, kalo ada huruf yang kurang, maka saya tambahin.
Kalo ada paragraf yang saya pikir nggak nyambung, yasaya
perbaiki. Kalo kurang koma, saya kasih koma. Kalo kurang
titik, saya tambahin titik. Kalo ada data yang pingin saya
tambahin, ya saya masukin saja ke dalam artikel. Kalo artikel
kepanjangan, ya saya kurang-kurangin. Kalo ada yang mau
saya hapus, ya saya hapus saja. Pokoknya saya bikin gimana
caranya agar artikel yang saya buat benar-benar mantap, dalam
artian tidak ada kekurangan lagi (minimal menurut pandangan
saya). Saya berusaha agar artikel yang saya bikin benar-benar
bisa dipahami maksudnya. Nggak njelimet.

81

82

MENGIRIM ARTIKEL
Sobat muda yang saya cintai....
Sekarang saya akan cerita sedikit tentang pengalaman
saya mengirim tulisan ke media. Ada dua cara yang pernah
saya lakukan dalam mengirim artikel ke media. Pertama, lewat
pos; dan kedua lewat email. Dengan kedua cara ini,
alhamdulillah, tulisan saya pernah dimuat.
Ketika awal-awal kali menulis, saya selalu mengirim
artikel lewat pos. Sebab saya taunya cuma cara ini. Waktu itu
saya belom biasa gunain internet. Bikin email saja belum bisa.
Jadi saya pakai cara yang sudah umum saja, yaitu lewat pos.
Artikel saya yang sudah fix saya print di kertas A-4.
Saya buat juga surat pengantar dan biodata singkat untuk
dilampirkan. Kemudian semuanya saya masukan ke dalam
amplop. Kadang saya juga sertakan perangko balasan, biar kalo
artikel saya belom layak muat, bisa dibalikin sama redaksi.
Tapi sekarang saya agak males ngirim artikel lewat pos.
Kenapa? Sebab, kalo saya pikir-pikir, jauh lebih efektif ngirim
artikel lewat email. Disamping biayanya murah, artikel pun
bisa lebih cepat sampai.
Kalo ngirim artikel lewat email, paling-paling saya
cuma ngeluarin duit 500 1000 perak buat sewa warnet. Beda
kalo ngirim lewat pos. Bisa sampai 10.000, misalnya biaya buat
ngeprint naskah, beli amplop, perangko, ongkos ke kantor pos,
dll. itupun sampainya baru besok atau dua hari kemudian. Kalo
lewat internet, saat itu dikirim, saat itu juga artikel kita sampai
di meja redaksi.
Trus, perkiraan saya juga, kalo kita ngirimnya lewat
email, kemungkinan besar akan lebih dilirik dibanding ngirim
lewat pos. Sebab begini. Kalo kita ngirim artikel lewat email,
berarti kita telah membantu kerja redaktur. Kalo tulisan kita
cocok dengan selera mereka, mereka bisa langsung copy-paste.
Jadi nggak perlu ngetik ulang lagi. Beda kalo artikel kita
83

dikirim lewat pos. Mereka harus ngetik ulang lagi kalo emang
tertarik memuat tulisan kita.
Trus, gimana caranya ngirim tulisan lewat email?
Yagampang saja. Kalo kamu emang blank sama sekali
masalah internet, kamu bisa minta ajarin temanmu. Kamu ajak
dia ke warnet, trus kamu minta ajarin gimana caranya bikin
email dan gimana caranya ngirim surat lewat email. Ini cara
yang paling gampang dan cepat.
NGIRIM NASKAH VIA EMAIL
Biar kamu sedikit ada gambaran, berikut ini saya kasih
contoh cara saya mengirim artikel lewat email. Begini nih
caranya
Pertama, saya siapkan berkas yang mau saya kirim
yang terdiri dari: Surat pengantar, tulisan, dan biodata
singkat. Semua fail yang berisikan berkas itu saya kumpulkan
dalam satu folder. Kemudian saya simpan ke dalam flash disk
(kalo dulu biasanya pakai disket)
Sebagai contoh, berikut ini, saya kutipkan contoh surat
pengantar yang pernah saya kirim plus form isian biodata. Kalo
kamu mau ditiru, silakan saja. Saya nggak ngelarang, kok.
Santai saja....

84

CONTOH SURAT PENGANTAR


Hal
Lamp.

: Kirim Artikel (Hikmah)


: - Naskah
- Biodata Penulis

CONTOH FORM ISIAN BIODATA PENULIS


BIODATA PENULIS

Kpd Yth.
Redaktur Kolom Hikmah
HU. Republika
di Tempat
Assalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh
Islam memberikan perhatian yang sangat besar kepada kaum wanita. Islam
telah menjaga wanita dengan memberikan pendidikan, perlindungan, serta
memberikan hak-hak mereka sesuai fitrah dan kodratnya. Perhatian besar ini
adalah sesuatu yang tidak pernah diberikan oleh umat manapun sepanjang
masa.
Sayangnya wanita jaman sekarang justeru mencampakkan nilai-nilai Islam
dari diri mereka. Mereka lebih senang dengan gaya hidup barat yang serba
permisif. Salah satunya adalah kebiasaan umbar aurat. Maka lepaslah
perlindungan Islam dari diri mereka.
Tulisan ini mencoba untuk menyadarkan Muslimah agar mereka mau
kembali kepada kemuliaan, yaitu kembali kepada Islam. Kami harap redaksi
berkenan untuk memuatnya.
Wassalamualaikum wa rahmatullahi wa barakatuh

Bogor 19 April 2006


Hormat Kami

Mujianto

85

Nama
Nama Pena
Jenis Kelamin
TTL
Agama
Kewarganegaraan
Pendidikan
Alamat
No HP
E-mail
No Rekening
Pengalaman Menulis

:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:
:

***
Nah, begitu...
Sekarang kita lanjut ke cara yang kedua. Setelah segala
sesuatunya siap, saya kemudian pergi ke warnet dengan
membawa flash disk berisi fail tulisan yang hendak saya kirim.
Sesampainya di sana, sambil buka email, saya pindahkan folder
yang berisi berkas tulisan dari flash disk ke hardisk computer.
Setelah email terbuka, pada kolom TO saya isi alamat media
yang hendak dituju (Contoh: sekretariat@republika.co.id); pada
kolom BCC saya isi dengan alamat email saya (buat arsip);
pada kolom SUBJECT saya isi nama rubrik dan judul tulisan
(Contoh: Rubrik Opini: Menyikapi Khilafiyah).
Kemudian, pada badan email biasanya saya isi dengan
surat pengantar (Oya, file yang berisi surat pengantar awalnya
saya tampilkan dulu di layar monitor, trus saya copy paste ke
86

badan email). Setelah itu, naskah saya kirim via attachment.


Caranya?
Attachment ---> klik browse ---> klik file yang mau
dikirim ---> klik open ---> klik send ---> selesai
Nah begitulah biasanya cara saya mengirimkan tulisan
lewat email. Jelas, kan? Kalo belom jelas juga, tanya temenmu
saja deh yang ngerti internet. Trus minta ajarin sama dia. Lebih
bagus lagi, ajak dia ke internet untuk ngajarin kamu secara
langsung. Gampang, kan? Gitu aja kok repot!
Ya sudah gitu saja. Selamat mengirim tulisan. Semoga
sukses! Kalo tulisanmu dimuat, jangan lupa kabarin saya
ya...Biar saya kebagian senengnya. Syukur-syukur kalo saya
kecipratan uang honornya jugahehehe.uhukuhuk

87

88

NAMA PENA
Sobat ....
Kalian tau nggak, siapa nama Nabi kita?
(Ceritanya pada jawab: Tauuuuuu...!!!)
Ya sudah kalo semua pada tau. Syukur deh kalo gitu.
Memang sudah seharusnya kita tau siapa Nabi kita. Malu dong,
kalo ngaku Muslim tapi nggak tau siapa nama Nabinya, ya
nggak?!
Lagi pula, di dalam kubur nanti, kita akan dikasih
pertanyaan ini, lho! Beneran! Serius! Saya nggak boong!
Nanti, pas jasad kita sudah dibaringkan di liang lahat, trus
orang-orang yang nguburin kita sudah pada pergi, kita akan
didatengin oleh dua Malaikat. Dua Malaikat ini akan
mengajukan tiga pertanyaan kepada kita. Salah satu
pertanyaannya ya...itu tadi: Siapa Nabimu? Kalo jawaban kita
benar, kita akan diberi kenikmatan dalam kubur. Kuburan kita
akan diluaskan. Kuburan kita akan terang-benderang. Surga
ditampakkan kepada kita, dan kita akan ditemani oleh amal
shalih yang rupanya diganti oleh Alloh menjadi rupa yang elok
rupawan.
Tapi, kalo kita nggak bisa ngejawabnya, kita akan
dipentung oleh Malaikat dengan martil raksasa, yang membuat
kita menjerit dengan lolongan keras yang kalo didengar oleh
manusia dan jin niscaya mereka akan tersungkur pingsan.
Setelah itu kita akan merasakan azab kubur yang luar biasa
mengerikan. Tubuh kita akan digencet sampai ringsek. Trus,
ditampakkan Neraka kepada kita. Kemudian kita akan ditemani
oleh amal buruk kita yang menjelma menjadi sosok yang sangat
mengerikan dan berbau sangat busuk. Hiii...kita berlindung
kepada Alloh dari azab kubur.
Nah Sobat, sekarang saya mau nanya lagi nih. Kalo
kalian semua memang sudah pada tau nama Nabi kita, coba

89

sekarang siapa yang tau nama lain dari Nabi kita? Ayo, yang
tau angkat tangan!
Lho, kok pada diem semua sih. Pertanyaannya jelas,
kan?! Ya sudah, saya ulangi lagi. Dengerin nih pertanyaannya.
Siapa nama lain dari Nabi kita selain Muhammad Shallallohu
alaihi wa Sallam? Ayo, yang bisa jawab angkat tangan!
Ya, coba itu yang angkat tangan. Siapa nama lain dari
nabi Muhammad???
Ahmad!
Ya, bener sekali, Ahmad. Selain Ahmad, siapa lagi ?
Ada yang tau? Wah, masa nggak ada yang tau sih. Banyak lho
nama lain Nabi Muhammad. Belasan. Bahkan mungkin
puluhan. Ayo, ada yang tau nggak? Waduh, gimana sih. Kok
nggak ada yang tau. Saya hitung sampai tiga nih. Satu....
Dua....Tiiii....gaaa...!
Bener nih nggak ada yang tau? Ya udah kalo memang
nggak ada yang tau. Nih, saya kasih tau nih. Dengerin baik-baik
ya. Jangan pada ngelamun.
Dari Jubair bin Muthim radhiyallohu anhu, Rasulullah
Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda, Sesungguhnya aku
memiliki beberapa nama. Aku adalah Muhammad, aku adalah
Ahmad, aku adalah Al-Mahi (yang menghapus), yaitu yang
denganku Alloh menghapus kekafiran, aku adalah Al-Hasyir
(yang menghimpun), yaitu yang manusia dihimpunkan di atas
kedua tapak kakiku, aku adalah Al-Aqib (yang paling
belakangan), yaitu yang tidak ada seorang Nabi dan Rasul
sesudahnya.(Muttafaq alaih)
Nah tuh, dengerin tuh. Jadi nama Nabi Muhammad itu
ada banyak. Nggak cuma satu. Kalo kamu pingin tau namanama yang lainnya, baca saja deh buku sejarah perjalan hidup
Nabi (siroh nabawiyyah). Insya Alloh di sana ada penjelasan
yang lebih lengkap lagi. Di sini saya cuma pingin ngasih tau ke
kamu-kamu semua kalo kita nggak masalah punya nama lebih
dari satu. Rosul saja punya nama lebih dari satu. Trus, para
90

Sahabat Rosul juga banyak yang punya nama lebih dari satu.
Misalnya saja Abu Huroiroh. Ayo, siapa yang tau nama asli
Abu Huroiroh? Ada yang tau nggak? Namanya, kalo kalian
mau tau, ialah Abdurrohman bin Sokhr. Nah, itu nama asli
beliau. Namun beliau justru lebih dikenal dengan nama Abu
Huroiroh.
Nah, terkait dengan tulis menulis, nggak masalah kalo
kita punya nama lebih dari satu. Istilahnya nama pena. Atau,
ada yang bilang juga nama samaran. Banyak juga lho penulis
yang pakai nama pena dalam karya-karya tulis mereka.
Saya sendiri suka pakai nama pena. Dalam menulis
artikel kadang saya pakai nama yang beda-beda. Pernah saya
pakai nama Abdul Khalik, Ibnu Saman, Al-Batawi dan lainlain. Kalau dalam menulis buku saya biasa pakai nama Abdul
Jabbar.
Ngomong-ngomong, kamu sudah punya nama pena
belum? Kalo belum, saya ada saran nih. Pakai saja kunyahmu buat nama pena?
Wah, apaan tuh kunyah? Kok, kayaknya saya baru
denger deh!
Oo..belom tau ya? Wah, maaf deh kalo gitu. Kirain
kalian sudah pada tau. Kunyah itu istilah dalam bahasa Arab.
Kunyah itu artinya nama yang diawali dengan Abu (Artinya:
Bapak), Ummu (Artinya: Ibu), atau Ibnu (Artinya: Anak).
Misalnya, kamu punya bapak namanya Ali. Nah, berarti
kunyahmu Ibnu Ali, artinya anak dari si Ali. Atau, kamu
punya anak yang namanya Budi. Nah, berarti kunyahmu
Abu Budi, artinya bapak dari si Budi.
Atau, selain kunyah, kamu juga bisa pakai nama pena
menggunakan nama-nama yang disandarkan kepada namanama Alloh. Misalnya, Abdul Kholik (Hamba dari Sang
Pencipta), Abdul Rahman (Hamba dari Yang Maha Pengasih),
Abdul Rahim (Hamba dari Yang Maha Penyayang), dll. Atau,
bisa juga kamu pakai nama orang-orang shalih, seperti nama-

nama para sahabat Nabi seperti Ali, Utsman, Umar, Hamzah,


Hudzaifah, dll. Atau terserah kamu deh mau pakai nama pena
apa. Yang penting nama-nama itu bukan nama-nama yang
mengandung keburukan. Gunakanlah nama-nama yang
mengandung doa kebaikan.
Tapi kamu juga kudu hati-hati kalo ngirim artikel pakai
nama pena. Jangan lupa untuk nyantumin juga nama aslimu.
Sebab, kalo nanti tulisanmu dimuat, kemudian honor tulisanmu
dikirim lewat wesel, nanti bisa susah ngambil uangnya. Sebab
yang tertulis di wesel bukan nama aslimu. Beda dengan yang
tertera di KTP.
Seperti pengalaman kawan saya. Pernah suatu ketika
tulisannya dimuat di sebuah surat kabar nasional. Kemudian
honornya dikirim lewat wesel. Namun yang tertulis di wesel
bukan nama aslinya, melainkan nama pena dari kawan saya itu.
Kemudian, ketika kawan saya itu hendak menguangkan wesel
itu di kantor pos, penjaga posnya nggak mau ngasih karena
nama yang tertera di wesel berbeda dengan yang tertera di
KTP. Setelah bersitegang cukup lama, barulah kawan saya itu
diberi uangnya.
Barangkali itu saja yang bisa saya sampaikan terkait
dengan nama pena. Mudah-mudahan ada manfaaatnya.

91

92

MELAWAN KEBUNTUAN

Oo..jadi begitu masalahnya. Sama dong kalo gitu


dengan saya. Saya juga dulu suka ngalamin hal yang sama
dengan kamu. Tapi sekarang....mmm....kadang-kadang masih
juga sih ngalamin seperti yang kamu alamin. Rasanya berat
untuk numpahin kata-kata ketika hendak mulai menulis.
Padahal ide sudah pada ngumpul di kepala. Tapi rasanya susah
banget untuk dialirkan. Macet gitu, lho! Keadaan yang kayak
gini biasa disebut Writers Block atau kebuntuan dalam
menulis.
Kalo kata Bambang Trim, ada empat indikasi mengapa
writers block terjadi:
1. penulis memiliki perbendaharaan kata yang relatif
sedikit sehingga kesulitan mengalirkan kata-kata;
2. referensi menulis sangat kurang sehingga tidak
mencukupi kebutuhan untuk megalirnya ide (hal ini
sering juga membuat frustasi);
3. ide menulis berkembang terlalu luas sehingga menyasar
ke sana ke mari dan akhirnya menjadi bingung;
4. topik tulisan memang tidak dikuasai sepenuhnya oleh
penulis.

Nah, begitu katanya. Tapi, selain keempat hal di atas,


kayaknya ada satu hal lagi yang bisa mengundang datangnya
writers block. Apa itu? Yaitu keinginan untuk menghasilkan
tulisan yang bagus ketika hendak membuat tulisan. Hal ini tak
jarang membuat seorang penulis membuang-buang waktu
percuma hanya untuk memikirkan, bagaimana caranya
membuat tulisan yang menarik dan kemungkinan besar di
terima di media. Akibatnya, hampir satu jam di depan
komputer, tapi layar monitor masih bersih. Terkadang bisa
menulis beberapa kalimat. Tapi, karena merasa kurang puas,
kalimat-kalimat itupun di-delete kembali.
Lah, trus gimana cara ngatasinnya?
Kalo saya nih, ketika terjadi hal yang kayak gitu,
biasanya saya pakai jurus ngamuk. Eit, sebentar dulu.
Bukan maksudnya saya ngamuk-ngamuk sambil mecahin
piring atau gelas. Bukan, bukan itu maksudnya. Ngamuknya
saya beda. Kalau saya ngamuk ketika nulis, saya akan paksakan
pena untuk terus bergerak. Saya tumpahkan apa saja yang ada
di kepala, walaupun kadang nggak nyambung dengan tema
yang hendak saya tulis.
Saya juga nggak peduli apakah kalimat yang saya
hasilkan itu bagus apa nggak, yang penting saya harus tuliskan.
Biarin saja hasilnya jelek, banyak salahnya. Masa bodo. Ntar
juga bakalan diperbaiki kalo semua unek-unek yang ada di
kepala sudah tumpah ruah semua.
Emang sih hasilnya tulisan saya jadi berantakan.
Bahkan ancur-ancuran. Ada yang kurang titik komanya, ada
yang menggunakan bahasa nggak baku, ada yang kurang huruf,
ada yang .... wah pokoknya serba ada deh. Tapi is ok. No
problem. Nanti saya perbaiki lagi.
Intinya, saya tuliskan saja apa adanya. Nggak mikirin
apakah tulisan saya bagus apa nggak. Yang penting nulis.
Bahkan kadang-kadang awalnya nggak nyambung dengan tema
tulisan yang hendak saya tulis.

93

94

Gimana sobat? Udah berapa tulisan yang kamu kirim?


Mmm...anu...mmm...belom ada satupun
Apa...??? Belom ada satupun! Kenapa?
Soalnya bingung mau nulis apa. Trus juga, pas mau nulis
kok rasanya berat banget. Udah duduk satu jam lebih di
depan komputer, tapi layar monitor masih bersih. Dikit-dikit
dihapus, dikit-dikit dihapus. Rasanya susah banget nuangin
kata-kata.

Misalnya, saya bingung ketika hendak menulis artikel


tentang Jilbab. Padahal saya sudah di depan layar monitor.
Maka, daripada bengong, mending saya tulis saja apa yang ada
di kepala. Walaupun awalnya cuma nulis begini...
Hari ini, Senin 8 Desember 2008. Malam semakin larut.
Rintik hujan semakin menderas. Matapun mulai mengantuk.
Padahal saya pingin banget nulis tentang jilbab. Sebab pembahasan
ini penting. Mengingat sekarang ini banyak muslimah yang nggak
pada pake jilbab. Bahkan sebaliknya. Bukannya make jilbab, eh
malah ngumbar aurat di mana-mana.
Mmm...Tapi saya bingung mau mulai dari mana. Apakah
dari firman Alloh dalam surat Al-Ahzab ayat 59 yang berbunyi
.......................
Ayat ini merupakan dalil bahwa ..............
Nah, seperti ini. Kadang, ketika saya memaksakan diri
untuk menulis, di tengah-tengah perjalanan menulis saya
mendapatkan hal-hal yang menarik terkait dengan tema yang
hendak saya tulis. Padahal nggak terpikirkan sebelumnya.
Hingga akhirnya, setelah cukup bersusah-payah, sebuah tulisan
berhasil saya hasilkan, meskipun masih berantakan. Setelah itu,
saya lakukan pemolesan dan pemangkasan di sana-sini
(editing).
Oya, terkait dengan hal ini juga, agar kebuntuan bisa
teratasi, ada nasihat bagus dari ASM Romli. Kata beliau, Bagi
pemula, ketika memulai menulis, jangan pikirkan harus
langsung membuat tulisan bagus. Langsung saja tuliskan apa
yang ada di pikiran dengan gaya bebas, layaknya menulis surat,
mengisi diary (buku harian), atau menulis jawaban soal ujian di
bangku sekolah/kuliah/testing penerimaan pegawai. Biarkan
mengalir. Toh ada pepatah, All of the first draft are shits,
semua tulisan pertama pasti kacau balau. Jangan tunggu
sampai Anda dapat menulis kalimat atau bab-bab yang
sempurna, atau ungkapan-ungkapan yang dalam, kata James
95

G. Robbins & Barbara S. Jones (1987). Janganlah terkejut atau


kecewa jika Anda gagal untuk mempertunjukkan atau
menghasilkan kualitas yang tinggi dalam tulisan pertama Anda.
Pokoknya teruslah memulainya!. Demikianlah isi nasihat
beliau.
Tapi, kalo memang keran kata-kata begitu sulit terbuka,
mau dipaksain kayak gimanapun tetap saja mampet, ya sudah...
Saya pakai jurus lain lagi. Nama jurusnya langkah seribu.
Maksudnya, saya lari dari menulis. Saya lakukan kegiatan lain.
Bisa diskusi dengan teman, baca Al-Quran, tidur, main bola,
baca buku, browsing internet, atau apa sajalah. Yang penting
bukan kegiatan yang maksiat.
Trus, kalo kemudian tiba-tiba datang ide untuk menulis,
saya langsung saja tuliskan. Biar ide itu nggak kabur lagi.
Hingga akhirnya, jadilah sebuah tulisan.
Jadi, inilah dua jurus yang bisa kamu pakai kalo kamu
menemukan kesulitan ketika hendak membikin sebuah tulisan.
Kalo kamu mau coba praktekkin, silakan saja.
Atau mungkin kamu punya jurus lain yang lebih sakti.
Boleh dong saya dikasih tau. Jangan nyembunyiin ilmu, lho.
Nggak boleh. Ilmu itu untuk dibagi-bagi, bukan buat
disembunyiin.
Ya udah, gitu saja. Selamat menulis. Semoga
dimudahkan dalam menghasilkan tulisan. Amieen...

96

GIMANA SUPAYA GAMPANG ?


Sobat...
Lho, kok kayaknya pada lesu sih? Ada apa? Ada
masalah? Mungkin saya bisa bantu.
Saya lagi sedih nih.
Lho, kenapa sedih?
Soalnya sampe sekarang saya belom bisa
menghasilkan satu tulisan pun. Rasanya kok susah banget
bikin tulisan.
Lho, kan sudah saya kasih tau tentang langkah-langkah
menulis artikel. Trus, saya juga sudah ngajarin kamu dua jurus
menulis. Jurus ngamuk sama jurus langkah seribu.
Iya, saya udah nyoba semuanya. Tapi kok tetep aja
susah untuk menuangkan kata-kata.
Mmm...kalo boleh tau, emangnya kamu mau nulis
tentang apa sih?
Saya rencananya mau nulis tentang ibadah haji.
Mmm...emangnya kamu pernah naik haji?
Kalo naek haji sih belom. Cuma, waktu TK dulu, saya
pernah belajar tentang manasik haji. Tapi itu dulu, 20 tahun
yang lalu.
Tapi kamu paham nggak tentang manasik haji, dari awal
sampai akhir?
Ya... dikit-dikit sih paham.
Wah, kayaknya ini deh sumber masalahnya. Kamu
kayaknya belum terlalu menguasai tentang tema tulisan yang
hendak kamu buat. Jadinya kamu ngerasa berat untuk
menuliskannya. Kalo saran saya sih, mendingan kamu bikin
tulisan yang ringan-ringan saja dulu. Yang gampang saja,
jangan yang susah-susah. Tulis saja sesuatu yang memang
kamu bener-bener menguasainya.
Nah, ini dia nih salah satu tips agar menulis menjadi
terasa mudah. Tulislah sesuatu yang memang kamu benar97

benar mengusainya dan kamu paham. Jangan bikin tulisan yang


kamu kurang begitu paham apalagi yang kamu nggak ngerti
sama sekali. Ntar kamu sendiri yang susah. Ibarat orang mau
bikin kursi, tapi dia cuma tau dikit-dikit tentang gimana cara
bikin kursi. Bisa-bisa sudah berjam-jam dia kerja, tapi kursi
nggak jadi-jadi.
Jadi, biar kamu mudah dalam menghasilkan tulisan, ya
itu tadi, tulis tema-tema yang menurutmu ringan. Jangan
memaksakan diri nulis tema yang berat-berat. Kalo kata
Mohammad Fauzil Adhim, Masalah yang paling mudah kita
tulis adalah apapun yang kita yakini, kita alami dan kita
rasakan.
JK Rowling, penulis novel Harry Potter, juga pernah
ngasih nasehat begini, Mulailah dengan menuliskan hal-hal
yang kau ketahui. Tulislah tentang pengalaman dan perasaanmu
sendiri. Itulah yang saya lakukan.
Trus, selain itu, agar kamu juga bisa lebih mudah
menghasilkan tulisan, maka buatlah tulisan yang referensinya
mudah didapat. Syukur-syukur kamu punya sendiri semua
referensinya. Jadi nggak perlu repot-repot minjem ke orang
lain. Dengan banyaknya referensi, tentu kamu akan lebih
mudah dalam membuat tulisan. Kalo kamu nemuin kesulitan
pas waktu nulis, kamu bisa buka-buka lagi referensi yang kamu
punya.
Nah, jadi begitu. Dua hal inilah yang kayaknya kudu
ada dalam dirimu supaya kamu bisa dengan mudah membuat
tulisan. Jadi, kamu kudu paham dulu dengan tema yang pingin
kamu tulis, dan kamu juga sebaiknya punya referensi yang
cukup tentang tema itu.
Kalo nggak percaya, silakan deh kamu buktikan sendiri.
Insya Alloh, dalam waktu singkat kamu bakalan bisa
menghasilkan sebuah tulisan. Selamat mencoba ya! Doaku
selalu menyertaimu (Ce ileh.... Kesannya gimanaa, gitu lho!).

98

MENGHADAPI PENOLAKAN
Sobat ...
Lho...lho...lho... kok kayaknya sedih sih. Ada apa lagi
nih? Masih ngerasa susah bikin tulisan?
Bukan...bukan itu yang bikin saya sedih. Kalo
masalah menulis sih udah beres. Udah beberapa tulisan yang
berhasil saya buat. Bahkan satu di antaranya udah saya
kirim ke media. Cuma...mmm...cuma...
Cuma apa?
Cuma....mmm... tulisan saya itu ditolak. Hiks... hiks...
hiks... sedih rasanya...hiks...hiks....(Sambil bercucuran air
mata)
Eeh...kok malah nangis sih. Malu tuh diliatin banyak
orang. Udah diem. Cup...cup...cup... Anak soleh nggak boleh
cengeng. Masak tulisan ditolak saja pakai nangis segala. Udah
gitu tulisan yang ditolak cuma satu lagi. Kamu tau nggak, ada
loh penulis yang ngirim sampe 500 tulisan tapi semuanya
ditolak.
Ah, masak sih sampe sebanyak itu!
Yee...nggak percaya. Kamu kenal nggak sama seorang
sastrawan yang namanya Joni Ariadinata. Kalo belum kenal,
sama dong dengan saya...he...he.... Saya juga belum kenal sama
dia. Maksudnya belom kenal secara langsung. Saya kenalnya
cuma lewat majalah yang pernah nyeritain tentang pengalaman
dia dalam dunia tulis-menulis.
Katanya, dia pernah punya pengalaman 500 tulisannya
ditolak sama media yang dia kirimin tulisannya. Baru kemudian
setelah itu, tulisannya mulai dimuat satu persatu. Bayangin
coba. 500 kali tulisannya ditolak! Kalo kita paling-paling baru
beberapa tulisan saja yang ditolak. Jadi nggak usah larut dalam
kesedihan. Apalagi sampai nangis-nangis segala. Ya...sedih sih
boleh saja. Tapi jangan sampai berlarut-larut, gitu lho!

Saya sendiri sudah lupa, sudah berapa banyak tulisan


saya yang ditolak. Bahkan, di awal-awal saya coba menulis di
media, tak satupun tulisan saya yang dimuat. Semuanya ditolak.
Baru kemudian, beberapa tahun kemudian, setelah terus
mencoba mengirim artikel ke media, satu demi satu artikel saya
mulai bermunculan di media. Terutama di majalah. Namun
tetap saja, artikel yang ditolak jauh lebih banyak dibanding
yang dimuat.
Memang sedih sih kalo artikel kita ditolak. Gimana
nggak sedih coba! Kita sudah capek-capek ngetik tulisan, baca
banyak referensi, trus keluar duit yang nggak sedikit buat biaya
ngirim artikel, eeh...ternyata malah ditolak. Capek deh!
Sedihnya lagi, artikel kita itu terkadang nggak ketahuan
rimbanya. Nyasar entah kemana. Sepertinya artikel kita itu lupa
jalan pulang. Atau mungkin kecebur ke dalam tong sampah
yang ada di depan kantor media yang kita kirimi tulisan.
Padahal kita sudah ngasih perangko balasan buat ongkos
pulang.
Sobat...
Buat kamu-kamu yang baru awal-awal ngirim tulisan
ke majalah atau surat kabar, jangan kaget kalo nanti tulisanmu
ditolak. Itu mah biasa. Dalam dunia tulis-menulis, yang
namanya penolakan itu hal yang wajar. Bukan hal yang aneh.
Jangankan kita penulis pemula yang baru ngirim satu-dua
tulisan, penulis senior saja yang sudah cukup lama malang
melintang di dunia persilatan eh salah- di dunia penulisan,
masih saja pernah mengalami penolakan.
Sebab begini sobat. Dalam sehari kadang redaksi
mendapat banyak kiriman tulisan dari penulis luar. Dengerdenger ada yang sampai 200-an dalam sehari. Tapi yang
diterima paling-paling sekitar 10 tulisan. Nah, kalo gitu, yang
lainnya mau dikemanain? Nggak mungkin kan dimuat semua.
Berarti nggak ada pilihan lain selain dikembalikan. Bisa

99

100

dikembalikan ke alamat si pengirim tulisan, atau bisa juga


dikembalikan ke tong sampah alias dibuang.
Jadi terkadang, artikel yang ditolak itu bukan berarti
artikel itu jelek. Bahkan bisa jadi artikel itu sebenarnya bagus.
Cuma ada banyak alasan kenapa artikel itu kemudian ditolak.
Diantaranya, PERTAMA, tema artikel itu nggak aktual.
Padahal redaksi pinginnya nerima artikel dengan tema yang
sedang hangat dibicarakan saat ini. KEDUA, artikelnya
kepajangan (jumlah hurufnya kebanyakan). Misalnya artikel
yang dikirim itu panjangnya sampai 8 lembar, padahal redaktur
cuma butuh tulisan yang panjangnya sekitar 5 lembar saja. Atau
sebaliknya, artikel yang dikirim terlalu pendek.
KETIGA, ada tulisan lain yang lebih bagus. Inget lho,
yang lebih bagus. Jadi sebenarnya tulisan yang masuk ke
meja redaksi semuanya bagus. Namun, di antara semuanya,
tentu ada yang paling bagus. Maka, tentu saja artikel yang
paling bagus yang diambil oleh redaksi. Sisanya? Ya... tentu
saja ditolak. Dan masih banyak lagi alasan yang membuat
sebuah artikel tidak dimuat.
Jadi begitu, sobat! Artikel kita ditolak, bukan berarti
artikel kita jelek. Bisa jadi artikel kita sebenarnya bagus. Cuma
ya...itu tadi. Ada artikel lain yang lebih bagus atau ada alasanalasan lain yang membuat artikel kita ditolak.
Lah trus, apa yang harus kita lakukan kalo artikel kita
ditolak? Nangis? Marah? Manggil polisi? Pergi ke dukun? Atau
...
Kalau saya nih, begitu tau artikel saya ditolak, saya
akan melakukan beberapa hal berikut: Pertama, artikel saya
yang ditolak itu saya simpan. Siapa tau suatu saat bermanfaat.
Misalnya buat bahan mencari ide menulis atau untuk referensi
tulisan-tulisan saya selanjutnya.
Kedua, saya tampilin di blog pribadi saya. Jadi,
walaupun artikel saya tidak terpampang di media dan tidak
dibaca banyak orang, tapi dengan saya tampilin di blog, paling

nggak ada saja orang yang membacanya. Berarti artikel saya


tetap bermanfaat untuk orang lain.
Ya, dua hal inilah yang biasanya saya lakukan ketika
artikel saya ditolak. Saya simpan atau saya tampilin diblog. Jadi
nggak lantas saya buang ke tong sampah.
Sebenarnya, kalau kamu mau, ketika artikelmu ditolak,
kamu bisa saja perbaiki artikelmu itu. Trus kamu coba kirim
lagi ke media yang lain. Atau, kamu bisa juga kirim ke media
yang sama yang menolak tulisanmu. Barangkali saja, setelah
tulisanmu kamu perbaiki, redaksi tertarik untuk memuatnya.
Coba saja dulu!
Oya, ngomong-ngomong masalah penolakan artikel,
saya jadi teringat dengat Fauzil Adhim. Kalian tentu kenal kan
dengan beliau? Itu lho, penulis buku-buku seputar keluarga dan
pernikahan. Bukunya yang paling terkenal judulnya Kupinang
Engkau Dengan Hamdalah.
Dalam buku Inspiring Words for Writer dia bercerita
sedikit tentang pengalamannya ketika mendapat penolakan
artikel. Dia menulis begini,Suatu saat saya menulis dua artikel
tentang mengajarkan membaca pada anak sejak dini ke sebuah
surat kabar terbitan Jakarta. Satu minggu saya tunggu, belum
dimuat. Dua minggu, belum juga. Tiga minggu..., saya
mendapatkan kiriman dari redaksi berupa surat penolakan.
Putus asa?
Tidak.
Saya segera memperbaiki artikel tersebut. Terlalu
dipaksakan memang, sehingga kurang enak dicerna. Setelah
diperkaya sana-sini, tulisan itupun menjelma menjadi buku laris
saat itu: Mengajar Anak Anda Mengenal Allah Melalui
Membaca. Inilah buku pertama saya. Buku itu sekarang saya
tulis ulang dalam tiga bagian. Membuat anak GILA Membaca
adalah bagian pertama yang mendapat sambutan luas di
masyarakat.

101

102

Kalau saja saya menganggap penolakan itu akhir dari


segala-galanya, barangkali trologi Kupinang Engkau dengan
Hamdalah yang kemudian dikemas menjadi satu jilid dalam
Kado Pernikahan untuk Istriku, tidak pernah hadir. Sekarang,
buku Kupinang Engkau dengan Hamdalah saja telah terjual
lebih dari 100.000 eksemplar. Ya, seratus ribu eksemplar!
Benarlah, kadang yang dianggap musibah, sama sekali
bukanlah musibah. Demikian cerita beliau.
Gimana, Sobat?! Setelah membaca uraian saya di atas,
sudah nggak sedih lagi kan sekarang? Nah, gitu dong! Kita
nggak usah sedih kalo artikel kita ditolak. Apalagi sampai
nangis-nangis segala. Mestinya justru kita bersyukur ketika
artikel kita ditolak.
Lho, kok bersyukur. Artikel ditolak kok malah
bersyukur! Gimana sih?! Saya jadi bingung nih...
Iya dong. Kita tetap mesti bersyukur. Sebab apa? Sebab,
walaupun artikel kita ditolak, kita tetap dapat pahala dari Alloh
Subhanahu wa Taala. Pertama, kita dapat pahala niat. Kedua,
kita dapat pahala berlipat ganda karena telah melaksanakan niat
kita itu. Ketiga, kita dapat pahala karena telah menyebarkan
kebaikan kepada orang lain. Yaa, paling nggak kita sudah
menyebarkan kebaikan kepada pihak redaksi walaupun
kemudian artikel kita nggak dimuat. Bisa jadi redaktur yang
baca artikel mendapatkan manfaat dari artikel kita itu
(tercerahkan). Hanya saja dia tidak memuatnya disebabkan
beberapa alasan yang sudah saya sebutkan di atas tadi.
Barangkali kita perlu merenungi sabda Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa Sallam berikut ini:
Barangsiapa yang berniat untuk berbuat kebajikan tetapi ia
belum mengerjakannya, maka ditetapkan satu kebaikan
untuknya. Jika ia mengerjakannya, maka ditetapkan baginya
sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat hingga berlipat-lipat
banyaknya.(HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kemudian, Sobat ....

Kita juga musti bersyukur karena dengan adanya


penolakan itu, berarti Alloh secara nggak langsung telah
memberi kita nasihat dan mengingatklan kita agar senantiasa
menjadi orang yang tawadhu (rendah hati). Kita nggak boleh
sombong. Sebab, ternyata masih banyak orang lain yang
kualitas tulisannya jauh lebih bagus di atas kita. Hal ini
sekaligus menjadi cambuk buat kita agar lebih giat lagi untuk
terus belajar dan belajar, menulis dan menulis. Hingga akhirnya
tulisan kita berhasil dimuat di media.
Nah, jadi begitu, Sobat. Ngerti kan kamu sekarang?

103

104

LADANG LUAS TERBENTANG


Sobat ....
Kalian tau nggak, berapa kira-kira jumlah majalah dan
surat kabar sekarang ini? Kayaknya makin banyak saja, ya?
Baik yang skalanya besar (nasional) maupun yang cuma
lingkup kecil (daerah). Mungkin kalau mau dihitung-hitung
bisa mencapai puluhan jumlahnya, atau bahkan mungkin
sampai ratusan.
Tapi itu nggak terlalu penting untuk diketahui. Yang
jelas, dengan semakin banyaknya media massa yang ada
sekarang ini, tentu saja merupakan kesempatan bagi kita untuk
berdakwah lewat tulisan. Dengan semakin banyaknya media,
berarti ladang dakwah semakin terbentang luas. Tul, ngak?!
Jadi, kita kudu manfaatin sebaik-baiknya. Kita harus
tanami sebanyak-banyaknya tanaman (baca: tulisan) yang
bermanfaat untuk kemaslahatan ummat. Jangan biarkan orangorang yang nggak bener menanaminya dengan tanaman yang
berbahaya.
Emang sih, ladang dakwah emang terbentang luas.
Tapi saya bingung mau nulis tentang apa?
Lho, kenapa mesti bingung! Banyak hal yang bisa kita
tulis. Baik itu tulisan yang membahas tentang permasalahan
agama, maupun yang temanya umum. Pokoknya kita bisa
menulis apa saja sesuai dengan kemampuan kita.
Kalo kita minatnya menulis hal-hal yang berbicara
masalah agama, kita bisa mencari media yang menyediakan
ruang untuk tulisan-tulisan semacam itu. Kalo kita ingin
menulis di majalah, kirim saja ke majalah Islam. Sekarang ini
banyak kok majalah Islam yang bermunculan. Rata-rata mereka
menerima tulisan dari penulis luar. Atau, kita juga bisa
mengirim tulisan kita ke koran. Baik koran yang berskala
nasional maupun daerah.

105

Sebelumnya, tentu saja kita harus periksa dulu, apakah


koran itu menyediakan ruang untuk tulisan yang membahas
permasalahan agama atau nggak. Kalo memang ada, kita bisa
baca-baca dulu model tulisan yang biasa dimuat di koran itu.
Kita perhatikan hal-hal yang menyangkut gaya bahasa, panjang
tulisan, tema tulisan, dll. Baru setelah itu kita buat tulisan yang
kira-kira memenuhi kriteria dari media itu. Kemudian, kalo
tulisan kita udah jadi, kita kirim deh ke sana.
Sebagai contoh, koran yang menyediakan ruang khusus
untuk tulisan yang berbicara masalah agama ialah koran
Republika. Di koran Republika ada kolom kecil di halaman
muka yang biasa menampilkan tulisan yang berbicara seputar
permasalan agama. Namanya kolom Hikmah. Nah, kamu bisa
coba kirim tulisanmu ke sana.
Selain koran Republika, masih banyak lagi koran-koran
lain yang menerima tulisan seputar keagamaan. Misalnya saja
koran Pikiran Rakyat. Koran yang beredar di wilayah Jawa
Barat ini setiap hari Jumat menyediakan rubrik Renungan
Jumat. Isinya ya...berbicara tentang permasalahan agama. Nah,
kamu juga bisa tuh ngirim tulisanmu ke sana.
Tapi kita juga kudu ingat, Sobat. Yang namanya
dakwah dengan tulisan itu nggak mesti tema yang kita tulis
melulu berbicara masalah agama. Kita juga bisa menulis hal-hal
yang menyangkut masalah keduniaan. Misalnya saja masalah
pertanian, kedokteran, perekonomian, perindustrian, dll. Yang
penting tulisan kita itu bermanfaat untuk ummat dan bisa
membuat orang lain berubah ke arah yang lebih baik setelah
membaca tulisan kita. Bukankah arti kata dakwah itu adalah
menyeru atau mengajak. Nah berarti kalo kita berhasil
menyeru atau mengajak orang lain ke arah yang lebih baik
dengan tulisan kita, berarti kita telah melakukan dakwah lewat
tulisan. Ya nggak?! (Ya iya lah...!)
Trus...mmm...apa ya? Mmm... Oya. Selain kita
mengajak orang lain untuk menuju ke arah yang lebih baik, kita
106

juga bisa mengingatkan orang lain untuk meninggalkan hal-hal


yang buruk dan berbahaya. Misalnya saja sekarang ini di
masyarakat kita sedang merebak judi togel. Nah, kita bisa
membuat tulisan yang isinya mengingatkan masyarakat akan
dampak negatif judi, baik ditinjau dari sisi keduniaan maupun
sisi akhirat. Kemudian kita kirim tulisan kita ke rubrik opini
yang ada di hampir setiap surat kabar. Atau, kalau kita belum
sanggup nulis untuk rubrik opini, kita bisa memulai terlebih
dahulu dengan menulis di kolom surat pembaca yang ada di
hampir setiap surat kabar juga. Insya Alloh akan lebih mudah
untuk dimuat.
Jadi intinya, hendaknya kita manfaatin benar-benar
berbagai media yang ada sekarang ini. Kita jadikan mediamedia itu sebagai sarana untuk dakwah (wasailud dawah).
Jangan sampai media-media itu justru dipakai untuk
menyebarkan keburukan oleh orang-orang yang dalam hatinya
belum diterangi oleh cahaya hidayah.
Trus juga...mmm...apa lagi ya? Eee... Oya. Kayaknya
kudu saya ingetin ke kamu-kamu semua kalo dakwah itu
maknanya luas. Pokoknya kalau kita bisa mengajak orang lain
untuk berubah ke arah yang lebih baik, maka berarti kita telah
berdakwah. Makanya, kita jangan bingung kalo pingin dakwah
lewat tulisan. Silakan tulis apa saja sesuai kemampuan. Yang
penting tulisan kita itu bermanfaat untuk ummat, baik manfaat
di dunia maupun di akhirat.
Tapi kan media sekarang ini nggak semuanya
sehat. Ada juga media yang isinya cuma gosip (baca:
ghibah) dan gambar-bambar seronok. Bisa nggak kita ngirim
tulisan ke sana?
Ya, bisa saja. Kita bikin saja tulisan yang isinya berupa
nasehat kepada pihak redaksi agar selalu ingat kepada Alloh.
Kita ingatkan mereka bahwa menceritakan aib orang lain
(ghibah) dan menampilkan gambar-gambar seronok merupakan
perbuatan haram. Jika mereka tetap melakukan perbuatannya

itu, maka mereka akan menanggung dosa jutaan orang yang


terjatuh dalam perbuatan maksiat oleh sebab perbuatan mereka.
Kita ingatkan mereka juga tentang hari akhirat, Surga dan
Neraka. Kita ingatkan mereka bahwa azab Alloh sangat pedih.
Kita tulis nasihat itu dengan bahasa yang lembut. Kita sertakan
ayat-ayat Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah Shallallahu
alaihi wa Salllam. Mudah-mudahan, setelah membaca tulisan
kita, mereka mau bertaubat dan mengganti isi media mereka
dengan hal-hal yang bermanfaat dan diridhoi Alloh
Subahanahu wa Taala.
Barangkali itu saja yang bisa saya sampaikan. Lebih dan
kurangnya saya mohon maaf. Wabillahi taufiq wal hidayah...
(Lho, kok kayak penutupan ceramah ...he...he...)

107

108

MENEMBUS MEDIA
Sobat....
Sekali lagi saya ingetin nih. Ladang untuk menyebarkan
kebaikan terbentang luas. Jadi jangan sampai disia-siakan
begitu saja. Segera deh ditanemin dengan tulisan-tulisanmu
yang bermanfaat!
Ya..., emang bener sih. Ladang buat menulis emang
terbentang luas. Banyak media yang siap menerima tulisan
kita. Tapi, gimana caranya supaya tulisan kita bisa diterima?
Yang ngirim tulisan kan bukan cuma kita aja. Buanyak.
Puluhan. Bahkan mungkin ratusan. Lah, trus gimana
caranya supaya kita bisa bersaing dengan mereka. Gimana
caranya supaya tulisan kita bisa menembus media? Tentu
nggak gampang, toh!
Oo..iya ya. Bener juga ya. Gimana caranya ya supaya
tulisan kita bisa tembus ke media? Saya juga bingung nih
ngejawabnya. Barangkali ada yang bisa bantu ngasih jawaban?
Gimana caranya supaya tulisan kita bisa menembus media?
Mmm....tapi begini, Sobat. Memang nggak gampang
untuk bisa menembus media. Buktinya, nggak semua orang
yang begitu mengirim tulisan ke media lantas dimuat. Ada yang
dimuat dan ada (bahkan banyak) yang ditolak.
Tapi, bukan berarti nggak mungkin atau mustahil bagi
kita sebagai seorang penulis pemula untuk bisa menembus
media. Buktinya, ada juga penulis pemula yang baru beberapa
kali, atau bahkan mungkin baru pertama kali mengirim tulisan,
tapi langsung dimuat. Walaupun memang jumlah mereka nggak
banyak. Tapi yang jelas ada. Dan bisa jadi kita nanti menjadi
salah satu dari mereka.
Sepertinya, kalo menurut saya sih, nggak ada seorang
pun yang bisa ngasih tau tentang gimana caranya supaya tulisan
yang dikirim ke berbagai media pasti dimuat. Bahkan penulis
kawakan sekalipun. Mereka paling-paling cuma bisa ngasih
109

saran dan masukan berupa kiat-kiat agar tulisan kemungkinan


besar bisa diterima. Nah, kalo kamu mau tau apa saja kiatkiatnya, kamu bisa baca sendiri di buku-buku maupun artikel
yang membahas tentang kiat menulis.
Kalo kamu main ke toko buku, coba deh iseng-iseng
kamu liat-liat buku yang ada di rak buku bagian komunikasi
atau Jurnalistik atau apalah nama rak bukunya. Sebab, setiap
toko buku beda-beda ngasih nama rak bukunya. Yang jelas di
rak itu bakalan kamu temuin buku-buku yang ngebahas tentang
kiat menulis atau teknik menulis. Coba deh kamu baca-baca
sendiri buku-buku kiat menulis yang ada di sana..
Saya sendiri termasuk orang yang seneng baca-baca
buku yang kayak gituan. Ketika saya berkunjung ke toko buku,
biasanya saya akan menyempatkan diri untuk mendatangi rak
buku yang memajang buku-buku tentang kiat menulis, baik
menulis artikel maupun menulis buku.
Saya nggak tau, kenapa kok jadi keranjingan membaca
buku-buku tentang kiat menulis. Apakah karena saya sekarang
hobi menulis? Entahlah. Bisa jadi begitu.
Memang, setelah saya tertarik dengan dunia tulis
menulis, saya jadi hobi mengoleksi buku-buku tentang kiat
menulis. Bahkan ketika browsing internet, saya sempatkan juga
untuk mencari artikel tentang kiat menulis.
Hingga saat ini saya punya cukup banyak (walaupun
belum terlalu banyak) buku-buku dan artikel tentang kiat
menulis. Di antara buku-buku kiat menulis yang sudah saya
miliki sampai saat ini antara lain:
1. Kiat Menjadi Penulis Sukses karya Abu Al-Ghifari
(Buku kiat menulis yang pertama kali saya miliki)
2. Berdakwah Lewat Tulisan karya Aef Kusnawan
3. Saya Bermimpi Menulis Buku karya Bambang Trim
4. Menjadi Powerful Dai Dengan Menulis Buku karya
Bambang Trim

110

5. Proses Kreatif Penulis Hebat (Kumpulan tulisan) editor


Salman Faridi
6. Inspiring Words for Writers karya Mohammad Fauzil
Adhim
7. Menulis Artikel Itu Gampang karya Nurudin
8. Jurus Jitu Menulis Buku Untuk Orang Sibuk karya Edy
Jaqeus (Sayang, sampai saat ini saya belum sanggup
beli buku Resep Cespleng-nya)
9. Menjadi Penulis Hebat karya O Solihin
10. Bagaimana Menjadi Penulis yang Sukses karya Wilson
Nadeak
11. Panduan Menjadi Penulis: Kiat Menulis Artikel untuk
Media Massa karya Asep Syamsul M. Romli
12. Penulis-penulis Pengguncang Dunia karya Anton WP.
13. Siapa Bilang Jadi Penulis Tidak Bisa Kaya karya
Pracoyo
14. Jurnalistik Islami karya Ahmad Y. Samantho
15. dll. (Misalnya buku hasil wawancara dengan Mbak
Helvi Tiana Rosa, cuma judulnya saya agak lupa karena
bukunya ketinggalan di rumah ortu. Kalo nggak salah
Menjadi Kaya dengan Menulis atau ... apaa... gitu.
Yang jelas ada kata-kata kayanya.)
Namun, sekarang saya agak kecewa ketika membaca
buku-buku kiat menulis yang ada di pasaran saat ini. Isinya
mirip dengan yang sudah-sudah. Kebanyakan cuma teori.
Jarang saya temui buku kiat menulis yang berisi kisah
keterlibatan langsung penulisnya di dunia tulis menulis.
Maksudnya proses kreatif mereka dalam membuat tulisan dari
awal hingga dimuat di media.
Memang, rata-rata penulis memiliki tujuan sama. Lewat
buku yang mereka tulis, mereka ingin ngomporin orang untuk
mau menulis. Sayangnya, kalau menurut saya (barangkali
menurut kamu beda lagi), api kompor yang mereka nyalakan
111

kurang panas. Akibatnya, saya jadi bosan untuk membacanya,


karena isi bukunya hampir sama dengan buku-buku yang sudah
saya miliki. Tidak jauh beda. (Teori lagi, teori lagi. Bosen, ah!
Yang lain donk!)
Sssttjangan salah paham dulu, Sobat! Bukannya saya
anti sama teori. Sebab, teori juga penting. Buktinya, setelah
membaca teori tentang kiat sukses menulis di media, belasan
tulisan saya berhasil dimuat, baik di koran maupun di majalah.
Sebelumnya, tidak satupun tulisan saya yang dimuat. Jadi
sekali lagi, teori juga penting. Tapi, kalau setiap hari dijejalin
teori terus, lama-lama bosen juga. Tul, gak?!
Sebuah buku tentang kiat menulis yang berisi kisah
pengalaman praktis penulisnya dalam berkecimpung di dunia
tulis menulis tentu daya kompornya akan lebih besar
dibandingkan dengan buku yang hanya berisi teori. Sebab,
orang akan lebih percaya terhadap teori yang disampaikan
karena telah dibuktikan sendiri keampuhannya oleh si
penyampai teori (penulis buku). Dengan begitu, orang akan
lebih tertarik untuk mencobanya.
Permisalannya begini. Misalnya ada dua orang, Si A
dan Si B. Keduanya merupakan seorang pebisnis. Kemudian
mereka berdua ingin menyemangatimu agar mau memulai
bisnis. Si A menyarankanmu untuk melakukan ini dan itu
sambil dia menceritakan pengalamannya selama berkecimpung
di dunia bisnis; bagaimana dia memulai bisnis, suka-duka dia
selama menjalani bisnisnya, hingga akhirnya dia sukses di
dunia bisnis. Bahkan nggak sampai di situ. Diapun kadang
ngajak kamu ngeliat-liat usaha bisnisnya. Sedangkan Si B cuma
ngomong begini; kalau kamu ingin sukses di dunia bisnis kamu
harus
beginibegitumelakukan
inimelakukan
itublablabla..tanpa menceritakan kisah pengalaman
dia selama berkecimpung di dunia bisnis (pengalaman dia
dalam mempraktikkan teori yang dia sampaikan).

112

Nah, jadi begitu, Sobat. Kalo kamu memang pingin tau


tentang kiat-kiat menembus media, kamu baca saja deh sendiri
buku-buku tentang kiat menulis. Atau kamu juga bisa dapetin
kiat-kiat menulis lewat artikel yang ada di internet.
Dengan membaca tulisan-tulisan semacam itu kamu
bakalan ngedapetin banyak hal yang terkait dengan tulis
menulis. Nggak hanya kiat-kiat menembus media saja. Banyak
hal lain yang bisa kamu dapet. Misalnya, tentang gimana
caranya membuat kalimat yang baik sesuai kaidah jurnalistik,
gimana caranya mengatasi hambatan dalam menulis, dan halhal lainnya yang sangat bermanfaat.
Waduh, kalo gitu saya harus ngeluarin duit lagi dong
buat beli buku-buku itu!
Oonggak mesti. Kamu boleh kok cuma baca-baca
saja buku yang ada di toko buku. Nggak apa-apa. Nggak ada
yang ngelarang. Gratis, gitu lho!
Ya emang sih. Tapi di daerah saya nggak ada toko
buku. Saya kan tinggal di daerah terpencil. Sedangkan toko
bukunya jauh di kota sana. Untuk bisa ke sana saya harus
ngeluarin ongkos lumayan gede. Jadi, gimana nih?

Kalo internet gimana?


Wah, boro-boro internet. Listrik aja baru masuk
kemarin.
Mmm.gimana ya? Mmmsusah juga nih. Mmm
Ya udah kalo gitu. Saya kutipkan saja deh beberapa kiat yang
pernah saya dapat dari beberapa referensi yang pernah saya
baca. Dengerin nih
1. Tulislah sesuatu yang aktual (sedang hangat
dibicarakan), terutama untuk naskah yang berkaitan
dengan deadline. Misalnya, sekarang sedang ramai
diperbincangkan tentang RUU APP. Maka, buatlah
tulisan tentang RUU APP.
Seingat saya, terkait dengan kiat yang pertama ini,
seorang teman yang bapaknya bekerja di koran Kompas
pernah bilang begini,Kalo mau nulis di koran saratnya
cuma satu: AKTUAL, begitu kira-kira katanya.
2. Tulislah sesuatu yang sesuai momen. Misalnya
beberapa minggu lagi memasuki bulan Ramadhan.
Maka buatlah tulisan yang berkaitan dengan bulan
Ramadhan, jangan yang berkaitan dengan bulan Dzul
Hijjah.
3. Gunakan gaya bahasa yang sesuai dengan gaya bahasa
media yang hendak dikirimi tulisan. Gaya bahasa untuk
majalah remaja tentu saja beda dengan gaya bahasa
majalah umum. Gaya bahasa koran A tentu juga beda
dengan gaya bahasa koran B atau majalah C.
4. Buat tulisan yang menarik, baik tema, judul, intro, dan
isinya. Untuk hal ini, silakan kamu baca lagi bab
Membedah Artikel.
5. Buat tulisan yang isinya bisa dimengerti. Untuk itu,
menulislah sesuai dengan bahasa jurnalistik.
Wah, apaan tuh bahasa jurnalistik?
Bahasa jurnalistik, kata ASM Romli, adalah
gaya bahasa komunikatif dan spesifik. Komunikatif

113

114

Dari kedua orang ini, manakah yang lebih membuatmu


semangat untuk segera memulai bisnis? Kalau menurut saya,
jelas Si A. Oleh karena itu, dalam menulis buku ini saya
sertakan pula kisah pengalaman saya ketika menulis dan
mengirimkannya ke media. Plus saya kasih liat sebagian karyakarya saya sebagai contoh. Tujuannya biar kamu-kamu semua
dapat kejelasan dengan sejelas-jelasnya. Jadi, nggak cuma saya
kasih teori. Tapi kamu juga saya ajak ngeliat saya
mempraktekkan teori yang saya sampaikan. Mudah-mudahan
dengan begitu kamu jadi lebih termotivasi untuk segera
berdakwah bil kitabah.
***

artinya langsung menjamah materi atau ke pokok


persoalan, tidak berbunga-bunga, dan tanpa basa-basi
(straight to the point). Spesifik artinya mempunyai gaya
penulisan tersendiri, sebuah gaya bahasa yang
sederhana, kalimat-kalimatnya pendek dengan kata-kata
yang jelas dan mudah dimengerti. (Ssst...! Ngomong2
kalian ngerti nggak nih maksudnya?)
Selain itu, agar tulisan kita bisa dipahami, ada
baiknya sebelum tulisan dikirim ke media, terlebih
dahulu dibaca oleh orang lain untuk kemudian minta
dikomentari dan diberi masukan olehnya.
6. Kirim naskah yang benar-benar fix (tidak ada kesalahan
lagi, terutama yang menyangkut masalah tanda baca)
7. Mentaati peraturan teknis media, seperti ukuran kertas,
jenis huruf, spasi, dan jumlah kata. Biasanya peraturan
ini dicantumkan di bagian bawah susunan redaksi.
Kalau nggak ada, naskah bisa ditulis dengan format:
A4, font TNR, spasi 1,5, margin 3,3,3,3. Untuk jumlah
kata tergantung rubrik yang hendak dituju. Untuk opini
biasanya sekitar 700-an kata (Cara menghitung jumlah
kata di MS Word: Tools ---> Wourd Count --->
Words).
***
Nah, demikianlah beberapa kiat menembus media
massa yang pernah saya baca dari beberapa bahan bacaan yang
saya punya. Di antaranya dari buku-buku yang sudah saya
sebutin di atas, plus artikel yang saya dapat dari internet.
Semoga bisa menjadi bekal buatmu untuk segera menyemai
benih kebaikan di ladang luas yang terbentang.
Oya, sebagai tambahan penjelasan, saya juga pernah
diberi saran oleh pihak redaksi sebuah surat kabar yang pernah

115

menolak naskah saya. Mereka bilang kalo naskah yang mereka


terima harus memenuhi kriteria sebagai berikut:
1. Asli, bukan plagiasi, bukan saduran, bukan terjemahan,
bukan sekadar kompilasi,
bukan rangkuman
pendapat/buku orang lain .
2. Belum pernah dimuat di media atau penerbitan lain, dan
juga tidak dikirim bersamaan ke media atau penerbitan
lain.
3. Topik yang diuraikan atau dibahas adalah sesuatu yang
aktual, relevan, dan menjadi persoalan dalam
masyarakat.
4. Substansi yang dibahas menyangkut kepentingan
umum, bukan kepentingan komuninas tertentu
5. Artikel mengandung hal baru yang belum pernah
dikemukakan penulis lain, baik informasinya,
pandangan, pencerahan, pendekatan, saran, maupun
solusinya.
6. Uraiannya bisa membuka pemahaman atau pemaknaan
baru maupun inspirasi atas suatu masalah atau
fenomena.
7. Penyajian tidak berkepanjangan, dan menggunakan
bahasa populer/luwes yang mudah ditangkap oleh
pembaca yang awam sekalipun. Panjang tulisan 3,5
halaman kuarto spasi ganda atau 700 kata atau 5000
karakter (dengan spasi) ditulis dengan program Words.
8. Artikel tidak boleh ditulis berdua atau lebih.
Oke, Sobat. Dengan membaca uraian di atas, mudahmudahan kamu dapat sedikit pencerahan. Tapi saya ingetin juga
nih, Sobat. Ketika hendak menulis, jangan terlalu terbebani
dengan kiat-kiat yang sudah saya sebutin di atas. Kalo mau
nulis, ya nulis saja. Nggak usah mikir yang berat-berat.
Tulis saja apa yang pingin kamu tulis. Alirkan semua ide
yang ada di kepalamu. Jangan jadikan kita-kiat di atas
116

sebagai beban yang memberatkanmu untuk mengangkat


pena.
Jadi, sekali lagi, kalo kamu mau nulis, ya...nulis saja!
Tulis, tulis, dan tulis! Oke, Sobat ?!

117

JURUS AT
Sobat...
Ternyata memang benar kata orang-orang. Membaca
memang bisa bikin kita jadi tau banyak hal. Membaca juga
telah membuat kehidupan banyak orang berubah. Dari yang
tadinya biasa-biasa saja hingga menjadi orang yang luar biasa.
Coba deh kamu tanya orang-orang yang sekarang sudah
sukes meraih cita-cita mereka. Kenapa kok mereka bisa sukses?
Saya yakin, kebanyakan mereka akan menjawab bahwa mereka
bisa sukses diantaranya karena mereka membaca.
Makanya, kalo kita ingin meraih apa yang kita citacitakan, banyak-banyaklah membaca. Dengan membaca, insya
Alloh, pintu gerbang kesuksesan sedikit demi sedikit akan
terbuka. Termasuk tentu saja kesuksesan dalam menembus
media.
Saya sendiri sudah merasakan pengaruh dahsyat dari
membaca. Setelah membaca sekian banyak referensi tentang
penulisan, saya jadi tercerahkan. Hasilnya, satu demi satu
tulisan saya dimuat di media. Padahal sebelumnya, nggak ada
satupun yang dimuat.
Untuk melengkapi beberapa kiat menembus media
massa yang sudah saya sebutin di pembahasan sebelumnya,
pada pembahasan kali ini, saya akan turunkan ke kamu-kamu
semua dua buah jurus menembus media massa. Jurus ini saya
dapat setelah membaca sekian banyak referensi tentang kiat
menulis. Setelah saya praktikkan, hasilnya cukup lumayan.
Minimal beberapa tulisan saya berhasil dimuat dengan
mengandalkan kedua jurus ini. Yang pertama namanya jurus
AT dan yang kedua namanya jurus AT.
Lho, kok nama jurusnya sama?
Ya, namanya memang sama, tapi pengertiannya beda.
Pingin tau, kan?!

118

JURUS AT
Awal-awal menulis di media, saya sering pakai jurus
ini. Dan alhamdulillah beberapa tulisan saya berhasil dimuat.
Jurus ini bernama AT. Kependekan dari Amati dan Tiru.
Ketika saya pingin menulis di media tertentu, sebelumnya saya
amati dulu isi media itu. Rubrik apa saja yang dimuat di sana.
Setelah saya amat-amati, kemudian saya tentukan rubrik yang
hendak saya kirimi tulisan.
Setelah saya menentukan rubrik yang hendak saya tuju,
kemudian saya melakukan pengamatan terhadap beberapa
tulisan yang dimuat di rubrik itu. Setidaknya ada 2 hal yang
saya amati, yaitu tema dan gaya tulis. Tema apa saja yang
dimuat di rubrik itu? Trus, gimana gaya tulisnya?
Begitu pengamatan selesai, sayapun mencoba untuk
membuat sebuah tulisan. Saya cari tema yang kira-kira cocok
dengan rubrik yang saya tuju, kemudian saya mulai menulis
dengan meniru gaya bahasa dari beberapa artikel yang pernah
dimuat di sana. Hasilnya? Alhamdulillah, beberapa artikel saya
berhasil dimuat. Bahkan pernah tiga bulan berturut-turut
artikel saya dimuat di sebuah majalah remaja.
Jadi gampang saja kalo kamu mau pakai jurus AT.
Kamu amati beberapa media yang hendak kamu kirimi
tulisanmu, trus kamu tiru tulisan yang pernah dimuat di sana.
Gitu saja. Gampang, kan?!

Jadi saya nggak sanggup membelinya karena keuangan sedang


menipis. Saya cuma bisa baca-baca saja di toko itu sambil
berdiri.
Ada satu kiat menarik yang saya dapat dari buku itu.
Kiat itu kemudian saya namakan dengan jurus AT juga. Cuma
bedanya, AT di sini kepanjangan dari Amati dan
Tanggapi.
Menurut penulis buku itu, kalo tulisan kita mau dimuat,
bikin saja tanggapan. Ketika kita baca koran/majalah, kemudian
medapati tulisan (misalnya opini) yang kita nggak setuju, beri
saja tanggapan! Sebab, katanya, pihak redaksi dari media yang
bersangkutan punya tanggung jawab moral untuk memuat
tanggapan ini.
Kalo saya pikir-pikir, benar juga nih sarannya. Sebab,
saya sering perhatikan di rubrik opini sebuah surat kabar,
banyak juga tulisan yang isinya berupa tanggapan tulisan
sebelumnya. Biasanya tanggapan itu muncul tidak berapa lama
setelah tulisan yang ditanggapi dimuat.
Misalnya saja di koran Republika. Pernah pada hari
Jumat, 23 Mei 2008 Republika memuat opini dari seorang
jemaat Ahmadiyah. Dia menulis begini:

Ahmadiyah Menjawab
MB Shamsir Ali SH SHD
Plt Sekretaris Media dan Informasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia

JURUS AT
Jurus AT yang ini saya dapat beberapa tahun lalu
(kayaknya sih sekitar 4 atau 5 tahun lalu) saat saya berkunjung
ke sebuah toko buku. Ketika saya datangi rak buku yang
memajang buku-buku tentang kiat menulis, saya dapati sebuah
buku tentang kiat sukses menembus media massa. Bukunya
nggak terlalu besar. Namun sayang, harganya lumayan besar.
119

Harian Republika sering memuat artikel tentang Jemaat Ahmadiyah


dan pendirinya. Sangat sedikit upaya mengkonfrontir isi artikel itu
kepada Jemaat Ahmadiyah Indonesia, padahal hal itu sangat penting
agar pembaca memperoleh informasi yang benar, akurat, dan
berimbang.
Sekadar contoh wawancara dengan Ahmad Hariadi. Dalam
wawancara itu, Ahmad Hariadi ditanya: Siapa pemimpin Ahmadiyah
sedunia sekarang? Hariadi menjawab: Mirza Ghulam Ahmad, lahir

120

pada 1835 dan meninggal pada 1908. Dia mendirikan Ahmadiyah


tahun 1889. Setelah meninggal, dia diganti oleh khalifah Ahmadiyah
pertama. Kemudian, berturut-turut diganti oleh khalifah kedua, ketiga,
dan keempat. Khalifah keempat ini adalah cucunya Mirza Ghulam
Ahmad, namanya, Tahir Ahmad. (''Tugas saya menyadarkan Jemaat
Ahmadiyah'', Republika, 14 Mei 2008.
Semua orang yang meneliti secara langsung pasti tahu Hadhrat
Mirza Tahir Ahmad wafat beberapa tahun lalu. Sekarang, Jemaat
Ahmadiyah dipimpin khalifah kelima, Hadhrat Mirza Masroor Ahmad.
Begitu pula dalam Republika 16 April 2008 ('''Wahyu Cinta' Mirza
Ghulam'') tertulis, ''Ada 88 kitab --termasuk Tadzkirah-- yang
dikarang MGA....'' Padahal Tadzkirah bukan dikarang oleh Hadhrat
Mirza Ghulam Ahmad.
Bila hal-hal 'sederhana' semacam itu keliru maka dapat dipastikan
terjadi kekeliruan lain. Republika hanya bertumpu kepada Hasan Bin
Mahmud Aodah tentang asumsi bahwa MGA adalah pelayan
imperialis Inggris. Sepatutnya Republika menghubungi pihak
pemerintah Inggris ataupun India untuk memastikan kebenaran klaim
Aodah itu.
Ahmadiyah adalah sebuah Jamaah Islam yang didirikan oleh
Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad pada tahun 1889 Masehi/1306 Hijriah,
di Qadian India. Dan beliau mendakwakan diri sebagai Imam Mahdi
dan al Masih yang dijanjikan kedatangannya oleh Nabi Muhammad
SAW.
Jemaat Ahmadiyah bukan sebuah agama baru. Jemaat Ahmadiyah
bekerja untuk menghidupkan agama Islam dan menegakkan syariat
Islam. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menulis, ''Wahai kalian yang
bermukim di muka bumi dan wahai jiwa semua yang ada di barat
atau di timur, aku maklumkan secara tegas bahwa kebenaran hakiki
di dunia ini hanyalah Islam, Tuhan yang benar adalah Allah
sebagaimana yang terdapat di dalam Alquran, sedangkan Rasul
yang memiliki hidup keruhanian yang abadi dan sekarang bertahta di
atas singgasana keagungan dan kesucian adalah wujud terpilih
Muhammad SAW. (Rukhani Khazain, vol 15, hlm 141).

121

Jemaat Ahmadiyah berpegang teguh kepada Kitab Suci Alquranul


Karim. Hadhrat Mirza Ghulam Ahmad menulis, ''Keselamatan dan
kebahagiaan abadi manusia karena bisa bertemu dengan Tuhan-nya
dan hal ini tidak akan mungkin dicapai tanpa mengikuti Kitab Suci
Alquran.'' (Rukhani Khazain vol 10 hlm 442); ''Apa yang termaktub di
dalam Alquran merupakan wahyu utama dan mengatasi serta berada
di atas semua wahyu-wahyu lainnya.'' (Majmua Isytiharat, vol 2 hlm
84);
Berkenaan dengan dua kalimah syahadat, beliau menulis, ''Inti dari
kepercayaan saya adalah: Laa Ilaaha Illallahu, Muhammadur
Rasulullahu (Tak ada Tuhan selain Allah, Muhammad adalah utusan
Allah). Kepercayaan kami yang menjadi pergantungan dalam hidup
ini, dan yang padanya kami, dengan rahmat dan karunia Allah,
berpegang sampai saat terakhir dari hayat kami di bumi ini ialah:
Sayyidina Maulana Muhammad SAW adalah khataman nabiyyin dan
khairul mursalin, yang termulia dari antara nabi-nabi. Di tangan
beliau hukum syariat telah disempurnakan. Karunia yang sempurna
ini pada waktu sekarang adalah satu-satunya penuntun ke jalan yang
lurus dan satu-satunya sarana untuk mencapai 'kesatuan' dengan
Tuhan Yang Mahakuasa.'' (Izalah Auham, 1891: 137). Keyakinan
tentang hal ini juga terdapat dalam Malfuzhat (jilid I, halaman 342),
Taqrir Wajibul I'lan (1891), Kisti Nuh (1902, halaman 15), Al Wasiyat
(JAI, 2006, hlm 24).
Sesudah Nabi Muhammad SAW, tidak boleh lagi mengenakan istilah
nabi kepada seseorang kecuali bila ia lebih dahulu menjadi seorang
ummati dan pengikut dari Nabi Muhammad SAW.'' (Tajalliyati
Ilahiyah, 1906, hlm 9). ''Semua pintu kenabian telah tertutup kecuali
pintu penyerahan seluruhnya kepada Nabi Muhammad SAW dan
pintu fana seluruhnya ke dalam beliau.'' (Ek Ghalti ka Izalah 1901,
hlm 3)
Jemaat Ahmadiyah berkembang di hampir 200 negara dengan
jumlah anggota lebih dari 200 juta jiwa. Dalam upaya menegakkan
dan menyebarkan syiar Islam, Jemaat Ahmadiyah mendapat dana
dari pengorbanan para anggota yaitu infaq/iuran; setiap anggota
wajib membayar infaq/iuran setiap bulannya sebesar 1/16 sampai
dengan 1/3 dari pendapatan per bulan.

122

Jemaat Ahmadiyah Indonesia adalah bagian dari Jamaah


Ahmadiyah Internasional yang didirikan oleh Hadhrat Mirza Ghulam
Ahmad Qadiani pada tahun 1889 di Qadian India. Hadhrat Mirza
Ghulam Ahmad kami yakini adalah Almasih dan Imam Mahdi yang
kedatangannya telah dijanjikan oleh Nabi Muhammad Rasulullah
SAW. Keyakinan tentang datanya Imam Mahdi dan Nabi Isa di akhir
zaman adalah keyakinan seluruh umat Islam dari golongan
manapun.
Jemaat Ahmadiyah pertama kali datang ke Indonesia pada 1925,
diundang oleh Persatuan Mahasiswa Jawa Sumatra di India ketika
itu. Jemaat Ahmadiyah berperan aktif dalam proses pendirian NKRI
dan salah seorang anggotanya, Sayyid Shah Muhammad, adalah
ketua Panitia Pemulihan Pemerintahan RI. Beliau mendapat bintang
jasa kehormatan dari pemerintah Republik Indonesia.
Jemaat Ahmadiyah Indonesia dikukuhkan ber-Badan Hukum sesuai
bunyi Lembaran Berita Negara No 26 tahun 1953 dengan penetapan
Menteri Kehakiman RI No. JA 5/23/13 tanggal 13 Maret 1953.
Jemaat Ahmadiyah mengirimkan ribuan dai ke seluruh penjuru dunia;
membangun ribuan masjid di berbagai penjuru dunia, di antaranya
Masjid Baitul Futuh, Morden London UK yang merupakan masjid
terbesar di Eropa Barat; menerjemahkan Alquran ke dalam 100
bahasa, mendirikan stasiun televisi MTA Internasional (MTA 1; MTA
2, dan MTA 3 Al Arabiyya); melaksanakan bakti kemanusiaan melalui
Humanity First, termasuk membantu menanggulangi tsunami di
Aceh.
Jamaah Ahmadiyah Internasional dipimpin oleh Hadhrat Mirza
Masroor Ahmad, Khalifatul Masih V yang berkedudukan di London,
Inggris. Pada 17-19 April 2008, Khalifah Ahmadiyah menghadiri
pertemuan tahunan Ahmadiyah Ghana yang dihadiri oleh Presiden
Ghana, Ageyaku Kufour, dan Wakil Presiden, Alhaj Aliu Mahama.
Jemaat Ahmadiyah berpegang teguh kepada mottonya, Love for All,
Hatred for None.
Sumber:
http://republika.co.id/kolom_detail.asp?id=334863&kat_id=16

123

Waktu membaca tulisan ini, saya langsung bisa


menebak. Nggak lama lagi pasti bakalan keluar tanggapannya.
Dan ternyata benar, beberapa hari kemudian, Kamis, 29 Mei
2008 muncul tanggapan dari Habib Rizieq, Ketua Umum Front
Pembela Islam. Isi tanggapannya begini.

Lima Perkara Tolak Ahmadiyah


Hb Muhammad Rizieq Syihab Lc MA
Ketua Umum Front Pembela Islam/Ketua Rabithoh Alawiyah dan
Anggota Majelis Ala Dewan Imamah Nusantara serta Kandidat
Doktor Bidang Syariah di Universiti Malaya.
Membaca tulisan Shamsir Ali di Republika, Jumat (23/5), yang
berjudul Ahmadiyah
Menjawab,
saya memandang
perlu
menanggapinya karena penuh dengan penipuan dan penyesatan.
Shamsir hanya mengemukakan sejumlah persamaan antara
Ahmadiyah dan Islam sambil menyembunyikan segudang perbedaan
keduanya.
Lalu, dia mengambil kesimpulan Ahmadiyah sama dengan Islam.
Padahal, antara Ahmadiyah dan Islam tidak berarti bahwa
Ahmadiyah itu sama dengan Islam, sebagaimana banyaknya
persamaan antara monyet dan manusia tidak berarti monyet itu
sama dengan manusia.
Saya akan menyoroti tulisan Shamsir terkait lima persoalan.
Pertama, soal kenabian. Ahmadiyah memang mengakui Muhammad
SAW nabi dan rasul, tapi Ahmadiyah tidak mengakuinya sebagai
penutup para nabi. Ahmadiyah mengakui Nabi Muhammad SAW
sebagai Khaatamun Nabiyyiin, tetapi dengan makna stempel para
nabi atau semulia-mulianya para nabi, bukan dengan arti penutup
para nabi. Kalaupun Ahmadiyah terkadang menerima Muhammad
sebagai penutup para nabi, dibatasi hanya nabi yang membawa

124

syariat yang ditutup, sedang nabi yang tidak bawa syariat tetap ada
sampai akhir zaman.

kepada MGA, tapi dia tidak bisa memungkiri bahwa isi kandungan
Tadzkirah berasal dari MGA.

Dalam kitab Tadzkirah hal 493 baris 14 tertulis bahwa Mirza Ghulam
Ahmad (MGA) dijadikan sebagai rasul dan di hal 651 baris ketiga
tertulis bahwa Allah memanggil MGA dengan panggilan Yaa
Nabiyyallaah (Wahai Nabi Allah). Shamsir Ali pura-pura memuji Nabi
Muhammad SAW sebagai nabi yang istimewa dan termulia, padahal
dalam kitab Tadzkirah hal 192, 368, 373, 496, dan 579 disebutkan
bahwa MGA makhluk terbaik di alam semesta yang mendapat
karunia Allah yang tidak pernah didapat oleh selainnya.

Isi Tadzkirah menurut Ahmadyah kumpulan wahyu Allah SWT


kepada MGA. Dia juga tidak bisa mengelak bahwa yang tulis, cetak,
perbanyak, dan sebarluaskan Tadzkirah ke seluruh dunia adalah
Ahmadiyah sendiri. Dalam 12 poin komitmen Ahmadiyah,
Departemen Agama tertanggal 14 Januari 2008 dinyatakan
Tadzkirah catatan pengalaman rohani MGA.

Shamsir juga menyatakan MGA Al-Masih. Padahal, dalam Tadzkirah


disebutkan MGA bukan hanya Al-Masih, tapi MGA adalah Al-Masih
putra Maryam ( Hal 192, 219, 222, 223, 243, 280, 378, 380, 387,
401, 496, 579, 622, 637, dan 639). Di sini Shamsir Ali berusaha
menyembunyikan keanehan akidahnya.
Dalam kitab Tadzkirah hal 412 baris kedua dan hal 436 baris 2-3
tertulis bahwa MGA disamakan dengan anak Allah dan di hal 636
baris 13 disamakan pula dengan Arsy. Tadzkirah menyebutkan
kedudukan MGA sama dengan ketauhidan dan keesaan Allah (hal
15, 196, 223, 246, 368, 276, 381, 395, 496, 579, 636). Lalu MGA
menyatu dengan Allah dan menjadi Allah, lalu MGA yang
menciptakan langit dan bumi (hal 195-197, 696 dan 700). Di hal 51
baris 4 tertulis firman Allah kepada MGA Yaa Ahmad yatimmu
ismuka wa laa yatimmu ismii (Hai Ahmad, sempurna namamu, dan
tidak sempurna nama-Ku). Lihat juga di hal 245, 277, dan 366.
Kedua, soal Kitab Suci. Ahmadiyah memang mengakui Alquran Kitab
Suci yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, tapi
Ahmadiyah tidak mengakuinya sebagai Kitab Suci terakhir. Kalaupun
Ahmadiyah mengakui Alquran sebagai Kitab Suci terakhir, dibatasi
hanya sebagai wahyu syariat yang terakhir, sedang wahyu
nonsyariat tetap ada sampai akhir zaman.

Pada awal kitab Tadzkirah tertulis bahwa Tadzkirah adalah Wahyun


Muqoddas (wahyu yang suci). Di hal 43 baris 8, tertulis ucapan MGA
Khoothobani Robbii wa Qoola (Tuhanku bicara langsung kepadaku
dan berfirman). Di Hal 278, 369, 376, dan 637 tertulis Allah
menurunkan Tadzkirah di sekitar Qodiyan. Di hal 668 baris 12 tertulis
MGA sama dengan Alquran dan dia akan mendapatkan Al-Furqon.
Bagaimana bisa disamakan antara Islam yang beriman bahwa
Muhammad penutup para nabi dan Alquran Kitab Suci terakhir
dengan Ahmadiyah yang beriman bahwa setelah Muhammad ada
nabi baru bernama MGA, dan bahwa setelah Alquran ada kitab suci
baru bernama Tadzkirah yang diturunkan kepada MGA di Qodiyan,
India?
Bagaimana pula bisa disamakan antara Islam yang berakidah lurus
dan benar dengan akidah aneh Ahmadiyah yang meyakini MGA
makhluk yang termulia, dan namanya lebih sempurna dari nama
Allah serta MGA sama dengan Arsy dan anak Allah. Bahkan,
menyatu dengan Allah dan jadi Allah? Ini persoalan ushuluddin yang
sangat prinsip dan mendasar.

Menurut Ahmadiyah, kitab Tadzkirah kumpulan wahyu suci dari Allah


SWT kepada MGA yang kedudukannya sama dengan Kitab Suci.
Shamsir Ali boleh mengelak tentang penisbahan penulisan Tadzkirah

Ketiga, soal Ahmadiyah antek kolonialisme, bukan fitnah, tapi MGA


sendiri yang mengaku. Dalam kitab Ruhani Khazain yang merupakan
kumpulan karya MGA, Vol 3 Hal 21, MGA menyatakan kesediaan
berkorban nyawa dan darah bagi Inggris yang saat itu menjajah
India. Di hal 166 pada volume yang sama, MGA mewajibkan
berterima kasih kepada Inggris yang diakui sebagai pemerintah yang
diberkahi. Di volume 8 Hal 36, MGA mengaku sebagai pelayan setia
Inggris, lihat juga di volume 15 Hal 155 dan 156. Puncaknya di

125

126

volume 16 hal 26 dan vol 17 hal 443, MGA menghapuskan hukum


jihad.
Pada 1857 tatkala terjadi pemberontakan besar yang dilakukan kaum
Muslimin India terhadap penjajah Inggris, ayah MGA yang bernama
Ghulam Murtaza (Murtadha) ikut pasukan Inggris untuk membantai
kaum Muslimin. MGA sendiri yang cerita dalam kitab Tuhfah
Qaishariyah hal16.
Itulah sebabnya Ahmadiyah disayang dan dipelihara Inggris hingga
hari ini. Itu pula yang menjadi sebab Belanda tertarik menghadirkan
Ahmadiyah di Indonesia pada 1925. Para pelajar Jawa dan Sumatra
di India yang disebut-sebut Shamsir Ali sebagai pembawa
Ahmadiyah ke Indonesia hanya kamuflase. Intinya mereka antek
Belanda.
Dalam sejarah perjuangan melawan penjajah Belanda, Inggris,
Portugis, dan Jepang di Indonesia tidak ada seorang Ahmadiyah pun
yang terlibat. Ada pun nama seorang Ahmadiyah yang disebut-sebut
Shamsir Ali sebagai anggota Panitia Pemulihan Pemerintahan RI
dan mendapat Bintang Jasa Kehormatan dari Pemerintah RI masih
harus diteliti dan diperiksa kebenarannya.
Kalaupun benar, itu tidak berarti menjadi bukti kebenaran
Ahmadiyah. Banyak antek penjajah saat menjelang kemerdekaan RI
balik badan secara tiba-tiba untuk mendukung Pemerintah RI.
Mereka menyalip di tikungan dan menjadi pahlawan kesiangan.
Mereka pengkhianat yang mencari selamat dan manfaat.
Keempat, soal legalitas Ahmadiyah di Indonesia. Ahmadiyah pernah
dilegalkan berdasarkan SK Menteri Kehakiman RI No JA / 23 / 13
tertanggal 13 Maret 1953 yang kemudian dimuat dalam Tambahan
Berita Negara RI No 26 tanggal 31 Maret 1953. Tapi, patut
diperhatikan, SK itu kadaluwarsa dan secara hukum tidak berlaku
dengan adanya Perpres No 1 Tahun 1965 tentang Penodaan Agama
dan KUHP Pasal 156a tentang Penistaan Agama.
Karenanya, legitimasi Ahmadiyah terus dikoreksi secara berturutturut melalui berbagai SK yang melarang Ahmadiyah di berbagai
daerah, antara lain SK Kejari Subang, Jabar, Tahun 1976, SK Kejati

127

Sulsel Tahun 1977, SK Kejari Lombok Timur Tahun 1983, SE Dirjen


Bimas Islam, Depag, Tahun 1984, SK Kejari Sidenreng, Sulsel,
Tahun 1986, SK Kejari Kerinci, Jambi, Tahun 1989, SK Kejari
Tarakan, Kaltim, Tahun 1989, SK Kejari Meulaboh, Aceh Barat,
Tahun 1990, SK Kejati Sumut Tahun 1994, SKB Muspida Kuningan,
Jabar, Tahun 2003, SKB Muspida Bogor, Jabar, Tahun 2005,
Rekomendasi Bakorpakem 18 Januari 2005 tanggal 16 April 2008.
Kelima, soal prestasi dunia Ahmadiyah. Shamsir begitu bangga
dengan banyaknya cabang Ahmadiyah di dunia, pembangunan
tempat ibadah, sekolah, stasiun televisi, dan sebagainya. Lalu, dia
menjadikan semua itu sebagai bukti kebenaran Ahmadiyah.
Apakah keberhasilan Yahudi dan Nashrani di dunia berarti mereka
benar dan lurus? Sekali-kali tidak. Islam sangat menghargai
kebebasan beragama, tapi Islam tidak pernah menolerir penodaan
agama. Islam mengharamkan pemaksaan umat agama lain untuk
masuk ke dalam agama Islam, bahkan mengharamkan segala
bentuk penghinaan dan gangguan terhadap umat agama lain.
Agama lain, seperti Kristen , Budha, dan Hindu memiliki agama dan
konsep ajaran sendiri sehingga mesti dihargai dan dihormati serta
tidak boleh diganggu selama mereka tidak mengganggu Islam.
Sedang Ahmadiyah mengatasnamakan Islam, tapi menyelewengkan
ajaran Islam sehingga mereka sudah menyerang, mengganggu, dan
merusak Islam. Itulah penodaan agama. Karenanya, mereka mesti
dilawan dan dilenyapkan untuk menjaga kemurnian ajaran Islam.
Ikhtisar:
- Ada banyak fakta yang membuat umat harus waspada terhadap
ajaran ini.
- Siapa saja yang sudah keluar dari ajaran Alquran dan Sunah jelas
menyimpang.
Sumber:
http://republika.co.id/koran_detail.asp?id=335555vvvkat_id
=16

***
128

Sebenarnya, saya sempat juga tertarik menerapkan jurus


ini untuk menembus kolom opini sebuh surat kabar. Beberapa
kali saya menulis tanggapan terhadap artikel yang dimuat di
koran. Namun sayang, tak ada satupun yang dimuat. Entahlah,
saya tidak tahu alasan penolakannya. Bisa jadi karena kualitas
tulisan saya yang masih di bawah standar, atau saya ngirimnya
terlalu lama ( kadang saya baru mengirim tanggapan itu lebih
dari seminggu setelah pemuatan artikel yang saya tanggapi),
atau karena saya nggak punya gelar, sementara penulis yang
saya tanggapi memiliki gelar berderet-deret, atau juga karena
alasan seperti yang sudah saya sebutin di bab sebelumnya.
Entahlah... Semua serba misteri!
Memang, jurus AT ini belum bisa mengantarkan tulisan
saya untuk masuk ke rubrik opini sebuah surat kabar. Namun
jurus ini pernah mengantarkan tulisan saya masuk ke sebuah
majalah.
Pernah suatu ketika saya melakukan pengamatan
terhadap keadaan yang ada di sekitar saya. Terutama tentang
keadaan kaum Muslimin. Saya saksikan sekarang ini banyak
pemuda Islam yang memiliki semangat menggebu untuk
mengembalikan kejayaan Islam. Sayangnya, mereka seolah
bingung dalam mencari solusi yang tepat. Akibatnya, timbullah
perbedaan pendapat di antara mereka. Masing-masing mereka
menganggap bahwa solusi yang mereka tawarkan adalah yang
terbaik dan paling tepat untuk mengembalikan kejayaan umat.
Setelah mengamati hal ini, saya tergerak untuk
memberikan tanggapan sebatas ilmu yang saya punya. Saya
pun kemudian menulis sebuah artikel yang saya beri judul
Solusi Tepat untuk Mengembalikan Kejayaan Umat.
Artikel ini kemudian saya kirimkan ke sebuah majalah Islam,
dan alhamdulillah dua bulan kemudian dimuat. Artikelnya
seperti ini ...............
***
129

SOLUSI TEPAT
UNTUK MENGEMBALIKAN KEJAYAAN UMAT
Musibah demi musibah tidak henti-hentinya menerpa
umat Islam. Di belahan bumi manapun mereka berada
selalu saja menjadi umat yang tertindas. Seolah-olah antara
musibah dan umat Islam memiliki hubungan kekerabatan
yang dekat.
Kita tentu masih ingat, bagaimana musuh-musuh
Islam (Amerika, Inggris dan konco-konconya) bersekongkol
untuk mengobok-obok Irak yang notabene adalah negara
kaum muslimin. Sedangkan umat Islam di belahan bumi
lainnya tidak bisa berbuat apa-apa untuk membantu
saudaranya di Irak, melainkan hanya doa dari kejauhan.
Mereka (musuh-musuh Islam) sudah tidak ada rasa segan
dan takut lagi terhadap umat Islam. Keadaan ini tentu
mengingatkan kita akan sabda Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa Sallam
yang sekaligus merupakan bukti kebenaran
risalah yang beliau bawa. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
Sallam bersabda:Nyaris sudah umat-umat (selain Islam)
mengepung kalian dari segala penjuru seperti berkumpulnya
orang-orang yang makan menghadapi bejana makanannya.
Dikatakan:Wahai Rasulullah, apakah pada waktu itu jumlah
kita sedikit?, Nabi berkata:Tidak, bahkan kalian pada
waktu itu banyak, akan tetapi kalian laksana buih banjir.
Dijadikan penyakit wahn pada hati-hati kalian dan dicabut
rasa takut dari musuh-musuh kalian, karena kecintaan
kalian terhadap dunia dan kebencian kalian terhadap
kematian. (Hadits shohih riwayat Imam Ahmad dan Abu
Dawud)
Melihat keadaan yang menyedihkan ini, muncullah
orang-orang yang di dalam dirinya masih ada ghirah untuk
mengembalikan kejayaan umat seperti pada masa
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam dan para
shahabatnya.
Mereka
mencoba
untuk
mengadakan
perbaikan dari keterpurukan yang menimpa umat Islam.
Namun sayang, masing-masing mereka berbeda pandangan
tentang cara/metode yang lebih utama yang merupakan
jalan keluar dari kenyataan buruk yang terjadi di dalam

130

kehidupan umat. Akibat perbedaan pandangan mereka,


maka cara-cara yang mereka tempuh pun saling berlainan,
yang justru membawa kepada kenyataan buruk yang baru
yang merupakan buah dari perbedaan pemikiran di antara
orang-orang yang melakukan perbaikan ini.
Kenyataan membuktikan bahwa umat Islam kini
terkotak-kotak dalam kelompok-kelompok kecil yang
banyak. Masing-masing mereka menganggap bahwa solusi
yang mereka tawarkan adalah yang terbaik dan paling tepat
untuk mengembalikan kejayaan umat.
Memang ada anggapan sebagian orang bahwa hal ini
tidaklah mengapa. Cara boleh beda, tapi tujuan tetap sama.
Namun akibat yang terjadi justru tragis. Masing-masing
kelompok merasa bangga dengan kelompoknya masingmasing. Bahkan, tidak jarang terjadi pertikaian diantara
kaum muslimin. Mereka bukannya menjadi batu-bata yang
mestinya saling merekatkan satu sama lain untuk
membangun Islam yang kuat dan kokoh. Namun, mereka
justru laksana kucing dan anjing yang selalu ribut dan sulit
untuk disatukan.
Menyatukan Visi
Seandainya orang-orang yang melakukan perbaikan
ini mau untuk meluruskan, membetulkan dan menyatukan
pemikiran serta pandangan mereka, niscaya mereka semua
akan melihat bahwa kaidah/dasar dari metode yang lebih
utama ini nampak terlihat jelas di hadapan mereka. Akan
tetapi, banyaknya kesibukan mereka dengan berbagai
macam teori, permisalan-permisalan serta pemikiranpemikiran yang ada pada kelompok mereka masing-masing,
membuat mereka terhalang dari mengetahui hakikat
penyakit sehingga berikutnya mereka kehilangan pandangan
yang lurus untuk mengenal obatnya yang merupakan solusi
dan jalan keluar dari permasalahan yang mereka hadapi.
Solusi
Lalu langkah apa yang sebaiknya mereka lakukan
untuk menanggulangi berbagai problematika yang ada?

131

Pertanyaan tersebut mungkin terasa aneh kalau


diajukan oleh seorang muslim, terlebih kalau pertanyaan
naif tersebut muncul dari diri seorang ulama. Sebab, dia
telah tahu persis bahwa sesungguhnya Islam adalah agama
yang sempurna, sebagaimana yang diberitahukan oleh Allah
dengan firman-Nya:Pada hari ini telah Ku sempurnakan
untuk kamu agamamu, dan telah Ku cukupkan kepadamu
nikmat-Ku, dan telah ku ridhai Islam menjadi agamamu.
(QS. Al-Maidah: 3)
Jadi, tidak boleh terjadi sampai terlintas rasa pesimis
dan putus asa dalam dirinya. Janggal rasanya jika sampai
muncul pertanyaan darinya, Kalau kaum muslimin
dihadapkan dengan berbagai macam problema, lantas apa
yang akan mereka lakukan? Dan bagaimana mereka hidup?
Sesungguhnya Al-Quran dan As-Sunnah secara luas
telah menjelaskan sistem kehidupan yang komplek, yang
memuat segala sesuatu yang kecil dan besar, yang bisa
menimpakan bahaya dan yang bisa mendatangkan manfaat.
Semuanya itu terangkum dalam sebuah uslub (metode)
yang jelas dan tegas.
Tampaknya Islam tidak cukup dengan hanya
meletakkan sistem dan membuat metode saja. Bahkan,
secara nyata Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam telah
mendirikan
sebuah
masyarakat
percontohan
yang
mengamalkan semua ajaran-ajaran Islam dalam praktek
kehidupan nyata. Karena itu benar adanya kalau dikatakan,
bahwa kejayaan agama itu tergantung pada sejauh mana
kita mengikuti Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam.
Penyakit dan Obatnya
Kalau kita mau perhatikan lebih jauh dan teliti
hadits-hadits Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam, kita
akan dapati bahwa Rasulullah telah menjelaskan kepada
kita dalam banyak haditsnya dan sunnah-sunnahnya
tentang hakikat dari perkara-perkara yang akan ditimpakan
kepada umat ini, dan dari apa-apa yang kelak akan terjadi
pada mereka.
Rasulullah telah menjelaskan secara rinci dalam
haditsnya tentang sebab-sebab dan penyakit yang menimpa

132

umat sekarang ini, sebagaimana telah dikeluarkan oleh Abu


Dawud dan Ahmad dari Ibnu Umar secara marfu:Apabila
kalin berjual beli dengan inah, kemudian kalian mengambil
ekor-ekor sapi, kalian ridho/rela dengan pertanian kemudian
kalian meninggalkan jihad, maka Allah akan timpakan
kepada kalian kehinaan dan tidak akan dicabut kehinaan itu
dari kalian sehingga kalian kembali kepada agama
kalian.(Hadits shahih, dikeluarkan dalam As-Silsilah AshShohihah (11) oleh Syaikh Albani)
Hadits Rasul yang mulia ini memberikan gambaran
tentang penyakit yang akan menjangkiti umat Islam. Kita
tentu melihat bagaimana
kehidupan kaum muslimin
sekarang jauh dari nilai-nilai keislaman. Mereka berhukum
bukan dengan hukum yang Allah turunkan. Kalaupun ada
yang menerapkan hukum Islam, itupun hanya sebagian
kecil saja, dan belum secara keseluruhan. Ekonomi ummat
morat-marit, banyak dari mereka yang terjerat dalam
belenggu riba yang membawa kepada kesengsaraan.
Mereka berpolitik dengan cara-cara yang kotor dan jauh dari
adab-adab Islami. Sikut menyikut jadi hal yang biasa dalam
pemerintahan. Hilang sudah persaudaraan sesama Muslim.
Akhlak masyarakatnya pun sudah sedemikian parah. Mereka
lebih senang berdesak-desakkan di depan panggung hiburan
daripada harus datang ke majelis ilmu.
Umat Islam sekarang ini banyak yang disilaukan dan
terlena oleh gemerlapnya kehidupan dunia. Kemudian
mereka lupa dan menelantarkan akhiratnya. Mereka
bersenang-senang mengumpulkan harta walaupun dari jalan
yang haram. Mereka sibuk dengan pekerjaannya masingmasing, hingga akhirnya lupa akhirat dan takut akan
kematian di jalan Allah (jihad). Inilah gambaran nyata
tentang keadaan kaum muslimin yang ada di hadapan kita.
Jadi, wajar saja kalau mereka mendapatkan kehinaan dan
kerendahan akibat dosa-dosa dan maksiat yang mereka
perbuat. Sebagaimana Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa
Sallam katakan dalam hadits di atas,Allah akan
menimpakan atas kalian kehinaan.
Lalu, apa obat dari penyakit-penyakit ini?

Sebagai salah satu bukti betapa kasih sayang dan


cintanya Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam kepada
umatnya, bahwa beliau bukan hanya memberitahukan
kepada mereka akan penyakit yang akan mereka derita.
Akan tetapi beliau juga memberitahukan obat dari penyakit
itu agar mereka bisa sembuh dari penyakitnya. Obatnya
adalah sebagaimana yang dikatakan oleh Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa Sallam ,hingga kalian kembali kepada
agama kalian.
Ya, obatnya adalah kembali kepada Islam secara
kaffah. Islam yang murni sebagaimana yang Rasulullah
Shallallahu 'alaihi wa Sallam sampaikan pertama kali,
kemudian diterapkan oleh para shahabatnya di bawah
bimbingan beliau. Obatnya adalah berpegang teguh kepada
agama dan kembali kepada pemahaman generasi yang
pertama tentangnya, serta berhias dengan akhlak mereka,
kemudian melaksanakan amalan seperti yang mereka
lakukan.
Obatnya adalah kembali kepada Al-Quran dan AsSunnah dengan pemahaman salafus sholih, kemudian
berdakwah kepadanya dan mendidik di atas keduanya.
Obatnya adalah kembali kepada urusan yang pertama di
bawah bayang-bayang ittiba dan jauh dari kesesatan
bidah. Obatnya adalah keimanan dan pemikiran yang murni
yang mengeluarkan umat dari sampah-sampah pemikiran
yang masuk ke dalam Islam. Kemudian menaikkan mereka
ke atas sampan kemuliaan salafush sholih untuk selanjutnya
menempuh jalan mereka dan mengikuti jejaknya. Hingga
akhirnya, kaum muslimin berkuasa atas luka-luka yang
menjangkiti mereka secara keseluruhan, dan akhirnya
derajat mereka bisa naik, kemudian mereka akan
berbahagia dan menempati puncak tertinggi dalam
kemuliaan.
(Sumber: Majalah Ar-Risalah/ No. 28/ Th. 3 Syaban
Ramadhan 1424 H/ Oktober 2003 dengan sedikit perbaikan
dan perubahan)

133

134

***

Jadi, kalo kita mau pakai jurus AT ini, kita memang


kudu sering-sering melakukan pengamatan. Amati apa saja.
Baik itu berupa bacaan, tontonan, atau yang lainnya. Terutama
sekali kejadian-kejadian yang ada di sekitar kita. Kemudian,
kalo kita mampu, kita bisa memberi tanggapan. Setelah itu kita
kirim ke media yang cocok.
Sebagai contoh, ketika kasus Ahmadiyah mencuat,
hampir setiap rubrik opini yang ada di koran-koran memuat
tulisan tentang Ahmadiyah. Ada yang pro dan ada yang kontra.
Mereka, para penulis itu, dalam hal ini tentu saja menggunakan
jurus AT. Mereka mengamati kejadian yang sekarang ini
sedang hangat diperbincangkan, kemudian mereka pun
memberi tanggapan. Tulisan mereka pun kemudian berhasil
dimuat.
Terbuktilah bahwa jurus AT ini memang benar-benar
ampuh. Kalo kamu pingin ngerasakan keampuhannya, coba deh
pakai jurus ini untuk menembus media. Trus, kalo kamu sudah
pakai jurus ini tapi tulisanmu nggak dimuat-muat juga,
ya...wajar saja. Sebab, bukan kamu saja yang pakai jurus ini.
Yang lain juga banyak yang pakai. Bisa jadi mereka lebih
mahir menggunakan jurus ini dibandingkan denganmu.
Tapi nggak apa-apa, Sobat. Teruslah mencoba, teruslah
belajar, teruslah membaca, dan teruslah menulis! Gunakanlah
kedua jurus yang sudah saya ajarkan ini. Semoga berhasil.
Ciaaaaat....!!! Gabruk! (Nah lho, kepleset! Terlalu semangat sih
gunain jurusnya he...he...)

135

136

MENULIS PAKAI
PAKAI ATURAN

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu agar dimasukkan ke


dalam Surga dan aku berlindung kepada-Mu dari siksa
Neraka. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaimah)
Nah, biar kita nggak ngalamin yang kayak gini, kita
kudu hati-hati kalo menulis.
Lho, kok nyambungnya jadi ke menulis sih.
Emangnya apa hubungannya Neraka dengan menulis?
Oo..begini, sobat! Kalian tau nggak dosa orang yang
mengajarkan keburukan kepada orang lain? Menurut hadits
Rasulullah, orang yang mengajarkan keburukan kepada orang
lain, maka dia akan kecipratan dosa dari orang yang dia ajarkan
keburukan itu. Kemudian, kalo orang yang dia ajarkan
keburukan itu mengajarkan kepada orang yang lain lagi, maka
orang yang pertama kali mengajarkan akan kecipratan dosanya
juga. Kenapa? Sebab dia yang jadi pelopornya. Dia yang
ngajarin pertama kali. Makanya dia ikut bertanggung jawab,
karena dia telah ikut andil menjerumuskan orang lain kepada
perbuatan dosa, walaupun secara nggak langsung.
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda
begini:
Barangsiapa yang mengajak pada kesesatan, maka dia akan
menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang
mengikutinya. (HR. Muslim)
Nah, lho! Ngeri banget, kan. Orang lain yang berbuat
dosa tapi kita kena kecipratan dosanya juga. Trus, yang lebih
mengerikan lagi, orang itu akan tetap dapat dosa, meskipun dia
sudah meninggal dunia, apabila keburukan yang pernah dia
ajarkan dulu ketika masih hidup di dunia tetap tersebar di
tengah-tengah masyarakat. Nah, lho!
Makanya, sekali lagi saya ingetin, hati-hati kalo nulis!
Jangan sampai kita bikin tulisan yang bisa menjerumuskan
orang lain pada perbuatan buruk. Hendaknya sebelum menulis
kita berpikir sejenak. Kita tanya diri kita. Apakah tulisan yang
kita bikin ini bermanfaat buat orang lain apa nggak? Kalo

137

138

Sobat...
Kalian mau nggak terus-terusan dapat dosa meskipun
sudah meninggal dunia? Tentu nggak bakalan mau, kan! Sebab,
kalo dosa yang ada pada kita jumlahnya lebih banyak daripada
pahala yang kita punya, bisa-bisa ntar kita dijebloskan ke dalam
penjara eh, kok penjara sih- Neraka maksudnya. Hiii...ngeri
banget kan.
Kalian tentu tau kan, seperti apa siksa Neraka itu?
Rasulullah pernah bersabda begini nih...
Sesungguhnya azab penghuni neraka yang paling ringan ialah
seorang memakai dua sandal dari api, maka mendidihlah
otaknya disebabkan oleh panas yang dihasilkan oleh kedua
sandal tersebut.(HR. Muslim)
Nah,lho! Siksa paling ringan saja kayak gini, apalagi
yang lebih berat dari ini.
Kemudian, kamu mau tau kan, seperti apa panas api
neraka itu. Nih dengerin nih ...
Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
Apakah kalian mengira bahwa api neraka seperti api kalian
ini? Ia api neraka- lebih hitam daripada aspal/ter. Api (kalian)
ini hanya satu bagian dari enampuluh sekian bagian api
neraka.(HR. Baihaqi, hadits ini disahihkan oleh Al-Albani
dalah Sahih Targhib wa At-Tarhib (3666))
Sekarang coba bayangin. Kalo kesundut rokok saja
sudah bikin kita sakit, apalagi kalo kesundut api Neraka???
Udah gitu kesundutnya nggak cuma sedetik dua detik, tapi bisa
bertahun-tahun lamanya. Makanya, kita semua senantiasa
berdoa meminta perlindungan kepada Allah dari siksa api
Neraka. Diantara doa yang bisa kita baca misalnya:

memang jelas-jelas bermanfaat, maka kita lanjutkan dengan


segera menuliskannya. Kalo ternyata setelah ditimban-timbang
tulisan itu nggak ada manfaatnya, maka lebih baik kita
tinggalin. Nggak usah kita bikin.
Tapi inget, sobat! Yang kita jadikan barometer dalam
menilai baik atau tidaknya sesuatu (dalam hal ini tulisan)
adalah syariat (agama), bukannya perasaan. Bisa jadi, apa yang
menurut perasaan kita baik, ternyata buruk menurut syariat.
Begitupun sebaliknya.
Alloh berfirman begini..
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat
baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu
padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu
tidak mengetahui. (QS. Al-Baqarah [2]:216)
***
Kalo kita ingin menulis tentang permasalahan
kita wajib mencocokkan dengan pribadi Rosululloh.
beliaulah yang jadi contoh teladan kita dalam
permasalahan agama, baik yang menyangkut masalah
ibadah, akhlak dan muamalah. Alloh berfirman:

agama,
Sebab,
semua
aqidah,

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan


yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat)
Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut
Allah. (QS. Al-Ahzab [33]:21)

139

So, nggak usah kita nulis yang nggak ada contohnya


dari beliau. Misalnya begini. Kalo beliau mencontohkan bahwa
hewan kurban itu cuma tiga jenis, yaitu onta, sapi dan kambing,
maka jangan kemudian kita bikin tulisan yang mengajarkan
bahwa berkurban boleh dengan ayam. Hal ini tentu saja
menyimpang dari ajaran Rosululloh. Kalo kemudian tulisan
kita itu dibaca oleh bayak orang dan diamalkan oleh mereka,
maka kita akan dapat dosanya. Dalilnya ya ...itu tadi. Hadits
Rasulullah yang menyatakan bahwa, Barangsiapa yang
mengajak pada kesesatan, maka dia akan menanggung dosa
seperti dosa orang-orang yang mengikutinya. (HR. Muslim)
Jadi, kalo masalah keagamaan kita nggak boleh bikin
hal-hal yang baru. Kita wajib mengikuti Rasulullah. Kalo kita
nekat juga bikin-bikin sesuatu yang baru dalam permasalahan
agama yang nggak ada contohnya dari Rasulullah, kita bisa
terancam Neraka. Amalan kita itupun nggak bakalan diterima
oleh Alloh. Rasulullah pernah bersabda begini.
Sesungguhnya ucapan yang benar adalah Kitabullah dan
sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad. Seburukburuk perkara adalah perkara yang dibuat-buat (dalam perkara
agama) dan setiap yang dibuat-buat adalah bidah, sedangkan
setiap bidah itu sesat dan setiap yang sesat itu berada dalam
neraka. (HR. An-Nasai [1577]; dishahihkan oleh Al-Albani
dalam Shahih An-Nasai [1/512])
Beliau juga bersabda:
Barangsiapa yang membuat-buat perkara baru dalam urusan
agama kami (Islam) yang bukan bagian darinya, maka
tertolak. (HR. Bukhari dan Muslim).
Sabda beliau yang lain:
Barangsiapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada
perintah (contoh) dari kami, maka tertolak. (HR. Muslim)
Perlu saya ingatkan juga, ketika kita membuat tulisan
seputar permasalahan agama, hendaknya hadits-hadits yang kita
cantumkan adalah hadits-hadits yang telah kita ketahui
140

keshahihannya (berdasarkan pemeriksaan pakar hadits/ahli


hadits). Bukan hadits yang lemah (dhaif), apalagi palsu
(maudhu) dan tidak ada asal-usulnya (la ashla lahu). Jangan
sampai kita terjatuh pada ancaman Rasulullah:



Barangsiapa dengan sengaja berdusta atas diriku, maka
hendaklah ia bersiap-siap menempati tempat tinggalnya di
neraka. (HR.Bukhari dan Muslim )
Beliau juga pernah bersabda:






Barangsiapa meriwayatkan dariku suatu hadits yang diketahui
bahwa hadits itu dusta, maka dia termasuk seorang pendusta.
(HR. Muslim, At-Tirmidzi dll)
Nah, ini kalo permasalah agama. Kalo permasalahan
dunia beda lagi. Kalo kita ingin menulis masalah keduniaan,
kita bebas nulis apa saja. Terserah. Dalam hal ini Rosulullah
memberi kebebasan kepada kita lewat sabdanya, Kalian lebih
paham tentang urusan dunia kalian. Tapi tentunya dengan
syarat, tema tulisan yang kita buat nggak melanggar aturan
agama.
Misalnya begini. Kita boleh-boleh saja menulis tentang
cara bercocok tanam. Nggak ada yang ngelarang. Tapi ingat,
kita nggak boleh misalnya- menulis tentang Cara Bercocok
Tanam Ganja di Dalam Pot. Kenapa nggak boleh? Ya...
karena kita dilarang untuk menanam ganja, baik di pot, di
pekarangan rumah, maupun di kebun. Kalo kita bikin tulisan
tentang cara bercocok tanam ganja, berarti sama saja kita
ngajarin yang nggak bener plus termasuk tolong-menolong
dalam hal keburukan (dosa). Tentang hal ini, Alloh berfirman:

141

dan janganlah kalian tolong-menolong dalam berbuat dosa dan


pelanggaran. (QS.Al-Maidah [5]:2)
Contoh lain lagi. Kita boleh-boleh saja menulis tentang
kiat-kiat menjual barang. Tapi ingat! Tidak lantas kemudian
kita boleh misalnya- bikin tulisan tentang Tips Menjual
Narkoba Agar Tidak Ketahuan Polisi. Kalian tentu sudah
tau kan, kenapa hal ini nggak boleh?
Nah jadi begitu. Kita memang kudu hati-hati kalo nulis.
Nggak bisa asal nulis. Kita kudu taat aturan yang sudah
digariskan oleh syariat.
Wah, mau nulis aja kok kayaknya repot banget sih.
Pake di atur-atur segala.
Lho, nggak kok, nggak repot. Kita bebas kok nulis apa
saja. Kalo mau nulis, ya nulis saja. Bebas saja. Nggak ada yang
ngelarang. Tapi ya...itu tadi. Ada beberapa hal (aturan) yang
memang kudu kita perhatikan. Dan ini nggak bikin kita repot
kok.
Permisalannya begini, lho. Misalnya kita pingin main
sepak bola. Nah, ketika di lapangan bola, kita bebas mau
ngapain saja. Mau nendang bola pakai gaya apapun terserah.
Mo pakai tendangan pisang kek, tendangan duren kek,
tendangan rambutan kek, terserah. Mau ngoper ke kiri, ke
kanan, ke belakang, ke depan, ke atas juga terserah. Mau
berhentiin bola pakai dada atau pakai kepala, boleh saja. Nggak
ada yang ngelarang. Cuma, ada beberapa peraturan yang kudu
kita taati. Misalnya, nggak boleh nyentuh bola pakai tangan
(ntar hands ball), nggak boleh nendang bola keluar garis (ntar
out), nggak boleh nendang kaki lawan (ntar di ganjar kartu
merah), dan beberapa peraturan lainnya. Nah, walaupun ada
peraturan-peraturan ini, kita asyik-asyik saja kan main bola.
Enjoy aja lagi! Kita nggak ngerasa kerepotan, kan? Kita bebas
berekspresi ketika di lapangan walaupun ada aturan itu.
Nah, begitupun dengan menulis. Kita bebas saja
menulis. Gunakan jurus apapun utuk menghasilkan sebuah
142

tulisan. Tapi ingat, jangan bikin tulisan yang melanggar aturan


syariat. Itu saja. Nggak repot, kan? Kalo orang lain bisa,
kenapa kita nggak? Kitapun bisa bikin tulisan yang sesuai
dengan aturan syariat. Ya, nggak?!
Trus, kita juga kudu ingat, Sobat. Bahwa segala sesuatu
yang kita perbuat selama hidup di dunia bakalan
dipertanggungjawabkan di hadapan Alloh kelak. Alloh
berfirman begini...

ini nggak mesti terjadi kalo sebelum berbuat kita melakukan


evaluasi sejenak.
Barangkali ada baiknya kita merenungi perkataan Hasan
Al-Bashri berikut ini...
Allah sayang kepada hamba-Nya yang berhenti
sejenak ketika hendak melakukan suatu pekerjaan. Jika sesuatu
yang akan dikerjakannya untuk Allah, maka ia melanjutkannya,
dan jika sesuatu yang akan dikerjakan itu bukan untuk Allah
maka ia mengurungkannya.(Hasan Al-Bashri)
Jadi begitu, Sobat. Semoga kalian bisa memakluminya.

Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak


mempunyai
pengetahuan
tentangnya.
Sesungguhnya
pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan dimintai
pertanggungjawabannya. (QS. Al-Israa [17]: 36)
Rasulullah juga bersabda begini....
Tidak akan bergeser kedua telapak kaki anak Adam dari sisi
Robnya pada hari kiamat, hingga dia ditanya tentang lima hal:
(1) Tentang umurnya untuk apa dia habiskan, (2) tentang masa
mudanya untuk apa dia pergunakan, (3) tentang hartanya,
darimana dia dapat dan (4) ke mana dia infaqkan, dan (5)
amalan apa yang telah diperbuat dari ilmu yang dia
miliki.(HR. At- Tirmidzi)
Jadi, kelak kita akan berdiri di hadapan Alloh untuk
mempertanggungjawabkan semua yang pernah kita lakukan
selama hidup di dunia. Termasuk, tentu saja, tulisan yang kita
buat.
Oleh karena itu, sebelum berbuat apa saja, sudah
sepantasnya kita berhenti sejenak untuk melakukan muhasabah
(evaluasi). Jangan sampai kemudian kita berbuat sesuatu yang
ternyata perbuatan itu justru berbahaya. Bukan hanya
berbahaya untuk diri kita tapi juga buat orang lain. Padahal hal

143

144

BELAJAR MENULIS DARI ZIDANE

2 Pelajaran
Nah, Sobat. Dari perjalanan karir Zidane ini, setidaknya
ada 2 pelajaran penting yang bisa kita petik sebagai bekal kita
untuk meraih kesuksesan dalam dunia tulis-menulis.
Pertama, untuk bisa menjadi penulis sukses yang
tulisannya banyak dimuat di berbagai media, kita kudu banyak
berlatih. Berlatih apa? Ya, tentu saja berlatih menulis, masak
berlatih berenang. Emangnya kita mo jadi atlit renang
...he...he...

Hendaknya kita biasakan diri kita untuk menggerakkan


pena. Kalo bisa, setiap hari ada untaian kata yang kita hasilkan.
Apa saja bentuknya. Bisa berupa diari (berisi kejadian-kejadian
unik penuh hikmah yang dialami hari ini), surat (ke ortu,
sodara, temen, dll.), komentar singkat terhadap sesuatu
(misalnya tentang buku yang barusan kita baca, kejadian yang
kita lihat di jalanan, berita yang kita baca di koran, dll.), catatan
pengajian, ringkasan buku, atau nulis apa saja deh (asal jangan
nulis tembok rumah tetangga saja, ntar dimarahin yang
punya...he...he...). Yang penting kita terus latihan, latihan, dan
latihan. Menulis, menulis, dan menulis. Sampai akhirnya kita
terbiasa untuk membuat tulisan, apapun bentuknya.
Eh, jangan salah lho! Terkadang tulisan yang kita bikin
ketika latihan suatu saat bisa kita kembangkan menjadi tulisan
untuk dikirim ke media. Atau, bisa juga kita jadikan sebagai
bahan untuk nulis buku. Kalian sudah tau belom? Ada lho buku
yang isinya cuma berupa kumpulan diari. Trus, ada juga buku
yang isinya cuma kumpulan surat-menyurat.
Nah, jadi begitu sobat. Kalo mau berhasil, jangan
pernah bosan dan malas untuk terus berlatih. Insya Alloh,
dengan terus-menerus berlatih, lama kelamaan kita akan
menjadi orang yang mahir dalam mengolah kata-kata. Seperti
halnya Zidane yang mahir dalam mengolah bola. Inilah
pelajaran pertama.
Kemudian, pelajaran KEDUA, sebelum kita menulis
untuk media besar, sebaiknya kita mulai dulu mengirim
tulisan ke media yang kecil. Misalnya media daerah (lokal)
atau media yang baru terbit. Supaya apa? Ya, supaya
saingannya nggak terlalu banyak. Sehingga peluang dimuatnya
naskah kita lebih besar dibanding kalo kita ngirim ke media
yang sudah gede (nasional).
Walaupun memang, kadang bisa jadi kita nggak dapat
honor dari media yang kecil itu. Atau, kalaupun dapat,
jumlahnya nggak seberapa. Tapi paling nggak, dengan

145

146

Sobat
Kalian tentu kenal kan dengan Zinedine Zidane. Itu lho,
pemain sepakbola dari Perancis yang beberapa kali dinobatkan
sebagai pemain sepakbola terbaik dunia.
Yang nyeruduk dadanya Matterazi waktu final piala
dunia 2006 itu ya?
Nah, iya yang itu. Kenal, kan? Dari perjalanan karir
Zidane ini, kita bisa ambil pelajaran berharga untuk bisa
menjadi penulis yang sukses. Coba deh kita pikir-pikir. Untuk
meraih sukses sebagai pemain sepak bola terbaik dunia, Zidane
tentu harus melewati perjalanan yang panjang. Ada tahapantahapan yang kudu dia lalui.
Awal kali masuk lapangan, dia tentu nggak langsung
mahir seperti sekarang. Dia kudu menjalani latihan berkali-kali.
Dia kudu belajar nendang bola yang baik dan benar, belajar
mengolah bola, belajar gocek, dll. Kemudian, dia juga nggak
langsung bermain untuk klub besar. Tapi dia mulai dari klub
yang kecil-kecil dulu. Setelah melewati massa yang cukup
panjang, barulah dia bisa bergabung dengan klub-klub sepak
bola raksasa Eropa, hingga akhirnya ia dinobatkan sebagai
pemain terbaik dunia.

dimuatnya tulisan kita di media yang kecil itu, selain membuat


kita senang, kita pun terdorong dan terangsang untuk terus
menulis. Hal ini juga bisa meninggkatkan PD kita. Sekaligus
juga hal ini bisa menjadi barometer buat kita. Dengan
dimuatnya tulisan kita berarti menunjukkan bahwa kualitas
tulisan kita sudah cukup lumayan. Kemudian, kalau kita
memang ngerasa sudah mampu dan siap, kita bisa mencoba
menulis untuk media besar.
Atau, sebagai ajang latihan, kita juga bisa mencoba
terlebih dahulu mengirim tulisan utuk rubrik surat pembaca
yang ada di surat kabar. Kalo dimuat, walaupun cuma 1-2
paragraf, semangat kita tentu akan terdorong untuk menulis
lebih banyak dan lebih bermutu lagi. Ada sebuah pepatah yang
cocok dengan hal ini. Sedikit demi sedikit lama-lama tentu
akan menjadi bukit.
Nah, inilah dua pelajaran penting yang dapat kita ambil
dari sosok Zinedine Zidane. Eh, tapi ngomong-ngomong, dari
tadi saya sering nyebut-nyebut istilah penulis sukses ya?
Emangnya siapa sih penulis sukes itu? Apakah penulis yang
karyanya tersebar di mana-mana? Atau, Penulis yang dapat duit
banyak dari menulis? Atau...
Wah, kayaknya menarik juga nih kalo kita bahas.
Gimana, setuju kan kalo kita bahas?! Ya sudah kalo pada
setuju, mari kita bahas.

147

148

MENJADI PENULIS SUKSES


Sobat....
Saya yakin banget deh, orang-orang bakalan ngasih
jawaban yang beda kalo ditanya tentang Siapa sih penulis
sukses itu?. Kalo kamu nggak percaya, coba deh iseng-iseng
tanya setiap orang yang kamu temui di jalanan. Kasih mereka
pertanyaan Siapa sih penulis sukses menurutmu?. Saya yakin
deh, kamu pasti nggak bakalan mau melakukannya (Soalnya....,
kurang kerjaan banget sih nanya-nanya yang kayak
gituan...he...he...)
Tapi memang benar, lho! Pendapat orang beda-beda
tentang pengertian penulis sukses. Misalnya, ada yang
mengatakan kalo penulis sukses itu ialah penulis yang
tulisannya dimuat di mana-mana. Ada juga yang berpendapat
bahwa penulis sukses ialah penulis yang dapat banyak duit dari
hasil tulisannya. Trus ada juga yang berpendapat eee...apa lagi
ya? Mmm...pokoknya banyak deh pendapat-pendapat lain
tentang pengertian penulis sukses.
Oya, saya punya buku yang judulnya Bagaimana
Menjadi Penulis yang Sukses. Buku itu berisi kumpulan
artikel yang ditulis oleh penuls luar negeri yang diterjemahkan
dan dikumpulkan oleh Wilson Nadeak. Di bab pertama buku itu
ditampilkan sebuah tulisan dari Larston D. Farrar yang berjudul
Siapa yang Disebut Penulis Sukses?.
Nah, si Larston ini pernah menanyai beberapa orang
penulis tentang definisi seorang penulis yang sukses. Dan
ternyata jawaban yang didapat beda-beda. Berikut ini saya
kutipkan beberapa di antaranya. Simak nih...
Alden Hatch: Seorang penulis yang sukses ialah penulis
yang dapat memperoleh uang yang cukup untuk menunjang
kehidupannya.

149

Richard Gehman: Menurut hemat saya seorang penulis


yang sukses ialah penulis yang dapat nafkah dari tulisannya dan
juga yang merasakan kepuasan dari dalamnya.
Edison Marshal: Seorang penulis yang sukses ialah
penulis yang hidup seratus tahun yang lalu - tetapi mereka
tetap dihormati sekarang, karya mereka dibaca secara luas.
Roger Burlingame: Seorang penulis yang sukses ialah
penulis yang dapat menghasilkan uang.
Emil Zubryn: Saya harus mengatakan bahwa seorang
penulis yang sukses ialah seorang penulis free-lance yang hidup
sepenuhnya dari penghasilan tulisannya.
Erskine Caldwell: Seorang dapat dikatakan penulis
sukses apabila tujuh puluh lima prosen karya tulisnya
diterbitkan.
Jesse Stuart: Seorang penulis yang sukses ialah penulis
yang telah menulis karya pada masanya dan tetap hidup
sekalipun dia sudah mati. Uang tidak ada hubungannya sama
sekali dengan tulisan yang sukses.
Scott Young: Menurut pikiran saya, seorang penulis
yang sukses ialah yang menulis apa yang diyakininya akan
menjadi karya yang terbaik yang dapat dihasilkannya, dan dia
memperoleh penghasilan yang cukup sebagai imbalannya.
Frederic A. Birmingham: Penulis yang sukses ialah
penulis yang setiap hari dapat makan secara teratur.
Nah, demikianlah beberapa pendapat tentang pengertian
dari penulis sukses. Jadi memang benar. Setiap orang
memang beda-beda dalam memberi definisi. Nggak hanya para
penulis luar. Penulis dalam negeri kita sendiri pun gitu juga.
Mereka memberi definisi yang beda-beda. Walaupun kadang
hampir mirip-mirip.
Misalnya, Jonru (pendiri http://www.penulislepas.com
dan penulis buku Menerbitkan Buku Itu Gampang)
berpendapat kalo penulis sukses itu ialah penulis yang karya-

150

karyanya disukai orang lain. Semakin banyak orang yang suka


pada karyanya, maka penulis tersebut semakin sukses.
Saya juga pernah dengar Andrea Hirata (penulis novel
Laskar Pelangi) mengatakan kalo penulis sukses itu adalah
penulis yang mampu menggerakkan pembacanya untuk
melakukan hal-hal yang luhur setelah membaca bukunya.
Dan masih ada lagi pendapat-pendapat lain yang saya
nggak bisa kutipkan di sini semua. Takut kepanjangan.
Eh, tapi ngomong-ngomong, kamu sendiri gimana
pendapatnya? Apa definisi penulis sukses menurutmu?
Kalo menurut saya nih, kalo ada yang naya ke saya,
saya akan jawab kalo penulis sukses itu ialah penulis yang
menghasilkan tulisan yang bisa mencerahkan banyak orang.
Ketika orang membaca tulisannya, maka orang itupun
terdorong untuk bisa berubah ke arah yang lebih baik.
Jika tulisan itu berbicara masalah agama, maka orang
yang membacanya menjadi semakin ingat kepada Alloh,
semakin mendekatkan diri kepada Alloh. Ibadah orang itupun
kemudian mengalami peningkatan, baik dari segi kualitas
maupun kuantitas. Misalnya, ketika orang membaca tulisan
yang membahas tentang sholat, maka begitu selesai
membaca, orang-orang tergerak untuk memperbaiki kualitas
sholatnya. Mereka pun berusaha untuk mencocokkan sholatnya
dengan sholat Rasulullah sebagai bentuk dari pengamalan
sabda beliau:
Sholatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku
sholat. (HR. Al-Bukhari). Disamping itu, merekapun berusaha
untuk memperbanyak ibadah sholatnya, baik sholat yang wajib
maupun sholat yang sunnah.
Dan, jika tulisan itu berbicara masalah keduniaan, maka
orang-orang terdorong untuk mengubah tarap hidupnya ke arah
yang lebih baik. Misalnya, tulisan itu berbicara masalah
pertanian. Maka, ketika orang selesai membacaya kemudian
mempraktikkannya, diapun hidupnya berubah. Hasil

pertaniannya semakin meningkat setelah mempraktikkan ilmu


yang diajarkan dalam tulisan yang dibacanya itu. Kualitas
komoditi pertaniannya pun semakin bagus.
Kemudian, di samping menghasilkan tulisan yang
mencerahkan, seorang penulis sukses juga adalah penulis yang
dari tulisannya itu dia bisa mendapatkan dua kenikmatan, yaitu
kenikmatan dunia dan akhirat. Kenikmatan dunia bisa berupa:
dimuatnya tulisan-tulisannya di berbagai media, mendapatkan
honor yang lumayan, dan kepuasan batin. Sedangkan
kenikmatan akhirat berupa pahala yang melimpah yang bisa
mengantarkannya masuk ke dalam Surga.
Nah, jadi inilah pengertian penulis sukses menurut
saya. Intinya, penulis sukses itu ialah penulis yang karyanya
bisa mencerahkan orang lain sekaligus menghasilkan 2 manfaat
bagi dirinya, manfaat di dunia dan di akhirat.
Bisa jadi seorang penulis itu nggak telalu banyak
karyanya yang dimuat media. Honor yang didapat pun mungkin
nggak seberapa. Namun jika karya-karyanya itu bisa
mencerahkan orang lain, mengubah kehidupan orang lain ke
arah yang lebih baik, dan memberi manfaat bagi dirinya
(terutama manfaat di akhirat), maka dialah penulis sukses itu.
Lah trus, gimana caranya supaya bisa jadi penulis
sukses?
Caranya?! Mmm...gimana ya? Yaa...kamu baca saja deh
buku ini dari awal sampi akhir. Ntar kamu juga bakalan tau
sendiri gimana caranya jadi penulis sukses. Oke, Sobat!?

151

152

NASIHAT IMAM ASYASY-SYAFII


Sobat....
Barangkali inilah akhir perbincangan kita. Sebelum saya
tutup, saya pingin menyampikan nasihat dari seorang ulama
besar. Namanya Imam Asy-Syafii. Kalian tentu kenal kan
dengan beliau?
Lewat bait syairnya, beliau pernah memberi nasihat
begini...


Saudaraku, engkau tidak akan mendapat ilmu, melainkan
dengan enam perkara.
Akan kukabarkan kepadamu rinciannya dengan jelas
Kecerdasan, keinginan kuat, kesungguhan, bekal
yang cukup,
bimbingan guru, dan waktu yang lama

Coba deh kita perhatikan enam hal yang beliau


sampaikan. Jika seorang penulis punya bekal keenam hal ini
sebelum memasuki kancah tulis-menulis, saya sangat yakin,
insya Alloh dia bakalan ngedapetin kesuksesan.
Mari kita coba bahas satu persatu...
Pertama, KECERDASAN
Untuk bisa menjadi penulis sukses tentu saja kita butuh
kecerdasan. Sebab nggak mungkin orang yang bodoh (baca:
nggak punya ilmu) bisa jadi penulis sukses. Tul, nggak?!
Alhamdulillah, setiap kita telah diberi modal oleh Alloh
untuk menjadi orang yang cerdas. Bukankah setiap kita
diberikan otak oleh Alloh. Dengan modal otak inilah kita bisa
menjadi orang yang cerdas. Caranya? Ya tentu saja dengan
selalu mengasahnya. Sebagaimana pisau, kalo sering diasah,
maka dia bakalan tajam. Tapi kalo jarang diasah bahkan nggak
pernah diasah-asah, dia bakalan tumpul dan karatan.
Begitupun dengan otak. Kalo sering diasah dia bakalan
tajam (cerdas). Namun sebaliknya. Kalo jarang diasah, lama
kelamaan bakalan tumpul (bodoh). Maka, agar otak kita tajam,
harus sering kita asah. Cara ngasahnya tentu saja dengan
banyak belajar. Kita kudu banyak membaca, banyak
menganalisa, banyak menghafal, banyak eee....banyak apa lagi
ya? Yaa...pokoknya banyakin aktivitas yang bisa bikin otak kita
tajam. Kita kudu ngisi terus otak kita dengan ilmu-ilmu yang
bermanfaat.

Emang sih, nasihat beliau ini sebenarnya untuk orangorang yang pingin ngedapetin ilmu. Nasihat ini beliau tujukan
untuk para penuntut ilmu (agama). Namun, kalo kita
perhatikan, nasihat beliau ini cocok juga buat para penulis,
terutama yang masih pemula (seperti saya misalnya), yang
kepingin sukses di dunia kepenulisan.

Kedua, KEINGINAN KUAT


Untuk bisa menjadi penulis sukses butuh adanya
keinginan kuat dari diri seorang penulis. Tanpa ada keinginan
kuat, kayaknya susah deh untuk bisa meraih kesuksesan. Dalam
hal apa pun, nggak hanya dalam hal tulis-menulis.

153

154

Trus, gimana caranya supaya bisa menumbuhkan


keinginan yang kuat dalam diri kita untuk bisa menjadi penulis
sukses?
Oo...gampang saja, Sobat. Kamu baca saja deh buku ini.
Terutama bab yang ngebahas tentang manfaat yang bakalan
didapat dari menulis. Insya Alloh bakalan timbul keinginan kuat
dalam dirimu untuk menjadi penulis sukses. Sebab biasanya,
keinginan untuk melakukan sesuatu bisa dibangkitkan dengan
cara mengetahui manfaat dan keutamaan dari sesuatu yang
akan dilakukan itu. Berarti, keinginan untuk menjadi penulis
sukses bisa dibangkitkan dengan mengetahui manfaat yang
bakalan didapat dengan menjadi penulis sukses. Dan hal itu
sudah saya kasih tau dalam buku ini.

tulisan, trus dia ngerasa susah dan berat menyusun kata-kata,


maka langsung dia hentikan dan nggak mau nulis-nulis lagi.

Ketiga, KESUNGGUHAN
Selain keinginan yang kuat, untuk bisa menjadi penulis
sukses, kita juga butuh kesungguhan. Walaupun kita sudah
punya keinginan kuat untuk menjadi penulis sukses, tapi kalo
kita nggak punya kesungguhan, maka sulit bagi kita untuk bisa
mewujudkan keinginanmu itu. Ibarat orang yang pingin banget
jadi kaya, tapi nggak mau sungguh-sungguh dalam berusaha
mencapai kekayaan (misalnya setiap hari kerjaanya cuma
males-malesan di rumah), maka kekayaan bakalan sulit dia
peroleh. Oleh karena itu, untuk meraih sukses dalam hal
apapun, selain butuh keinginan kuat, juga butuh kesungguhan.
Seorang penulis pemula yang sungguh-sungguh pingin
menjadi penulis sukses, maka akan terlihat dari aktivitasnya
sehari-hari. Misalnya, dia jadi sering baca-baca buku/tulisan
tentang kiat menulis, rajin nanya-nanya tentang dunia tulismenulis kepada orang yang lebih berpengalaman, rajin mencari
ilmu untuk dia sampaikan kepada masyarakat lewat tulisannya
nanti, rajin berlatih membuat tulisan, kemudian rajin mengirim
tulisannya ke media. Beda dengan penulis pemula yang nggak
sungguh-sungguh. Bisa jadi, baru pertama kali nyoba bikin

Keempat, BEKAL YANG CUKUP


Untuk bisa menjadi penulis sukses, kita butuh bekal.
Kalo menurut saya, ada dua bekal yang kudu kita punya.
Pertama, bekal duit. Untuk menghasilkan sebuah tulisan dan
mengirimkannya ke media kita butuh duit. Misalnya duit buat
beli alat-alat tulis, buat sewa rental komputer, buat nge-print
naskah, buat ongkos ngirim email, buat ongkos ke kantor pos,
buat beli perangkao, buat beli amplop, buat beli buku-buku
referensi dll. Memang sih, buat bikin satu tulisan dan
mengirimkannya ke media kadang biayanya nggak seberapa.
Misalnya cuma 3000 5000. Tapi kalo kita bikin tulisan
sampai puluhan bahkan ratusan, jumlah duit yang kita keluarin
bisa gede juga.
Bagi kamu-kamu yang banyak duit mugkin hal ini
nggak terlalu masalah. Tapi bagi orang-orang yang kondisi
keuangannya kembang-kempis, hal ini sungguh sangat terasa
sekali. Apalagi jika kemudian tulisannya nggak ada satupun
yang dimuat sehingga nggak ada honor yang dia dapat.
Oleh karena itu, buat kamu-kamu yang pingin
menjadikan kegiatan menulis sebagai ladang untuk mencari
maisyah (profesi) satu-satunya tanpa ditopang oleh pekerjaan
lain yang bisa lebih cepet menghasilkan duit (walaupun
sedikit), kamu kudu mempertimbangkan hal ini. Apalagi bagi
kamu-kamu yang baru mulai nyoba-nyoba menulis di media
(penulis pemula). Kecuali kalo kamu yakin sekali tulisanmu
bakalan diterima dan bisa menghasilkan honor yang lumayan
gede, kayak penulis-penulis yang sudah pada sukses yang
kadang justru medialah yang minta (beli) tulisan mereka. Kalo
nggak, ya...kamu pikir-pikir lagi deh.
Dalam hal ini, kayaknya nasihat dari Bang Alden Hetch
perlu kamu renungkan. Dia bilang begini,Nasihat yang perlu

155

156

kuberikan kepada penulis pemula ialah agar mereka


mempunyai sumber penghasilan dari bidang lain.
Kedua, bekal non-duit. Untuk bekal kedua ini yang
terpenting tentu saja adalah ilmu. Setidaknya ada dua ilmu
yang kudu kita punya. Pertama, ilmu tentang sesuatu yang
hendak kita tulis; kedua, ilmu tentang cara menyampaikannya
dalam bentuk tulisan.
Untuk mendapatkan kedua macam ilmu ini, ya...nggak
ada cara lain. Kita kudu banyak belajar. Pokoknya kita kudu
belajar, belajar, dan belajar. Terutama membaca, membaca, dan
membaca. Insya Alloh kalo kita sungguh-sungguh, kita bakalan
menjadi orang yang berilmu.
Eh, tapi jangan lupa juga untuk senantiasa berdoa
kepada Alloh agar diberikan ilmu yang bermanfaat dan
senantiasa diberikan tambahan ilmu. Misalnya dengan doa ...

butuhin. Kita juga bisa berguru lewat apa saja. Bisa lewat buku,
koran, majalah, atau internet. Dan alhamdulillah, sekarang ini
banyak sekali bertebaran buku-buku maupun artikel yang
mengajarkan ilmu menulis. Atau, kalo mau, kita juga bisa ikut
pelatihan menulis yang biasa diadain oleh penulis professional.
Atau kita ikutan milis-milis penulisan yang ada di internet.
Oya, ada firman Alloh yang cocok dengan bekal kelima ini. Alloh berfirman begini,...maka bertanyalah kepada
orang yang memiliki pengetahuan (ahlinya) jika kamu tidak
mengetahui. (QS. An-Nahl [16]: 43)
Trus, ada pepatah juga yang mengatakan,Malu
bertanya sesat di jalan. So, kalo kita nggak tau cara nulis
dimedia, ya...nyari tau donk! Tanya sama yang sudah tau.
Jangan sampai tulisan kita nyasar terus ke dalam tong sampah.

Kelima, BIMBINGAN GURU


Nggak bisa dipungkiri, untuk menjadi penulis sukses
kita butuh guru yang membimbing kita. Dengan adanya guru,
jalan menuju sukses akan terasa lebih mudah dan lebih cepat.
Permisalan gampangnya begini. Kalo kita pingin bisa bikin nasi
goreng spesial, tentu kita akan lebih cepat bisa kalo ada orang
yang ngajarin kita. Beda kalo kita nyoba-nyoba sendiri.
Kemungkinan gagalnya besar. Kalaupun nantinya berhasil,
waktunya tentu lebih lama dibandingkan kalo kita sebelumnya
dapat bimbingan dulu.
Dalam tulis menulis, kita bisa berguru kepada siapa
saja. Yang penting dari mereka kita bisa dapetin ilmu yang kita

Keenam, WAKTU YANG LAMA


Untuk bisa menjadi penulis sukses butuh waktu lama.
Nggak bisa instant. Banyak hal yang kudu kita pelajari dan
lewati. Oleh karena itu, untuk meraih kesuksesan butuh adanya
kesabaran. Sebab, kesuksesan nggak bisa didapat dalam waktu
sekejap.
Lho, tapi kan ada penulis pemula yang begitu
menulis, tulisannya langsung dimuat!
Ya, memang ada. Tapi, untuk bisa menulis kemudian
mengirimkannya ke media, tentu dia sudah melewati banyak
hal. Dia sudah baca berbagai referensi sejak dulu-dulu sehingga
sekarang dia sudah punya bekal ilmu yang cukup untuk
disampaikan. Kemudian, dia juga sudah punya bekal dalam hal
merangkai kata yang dia dapat dengan belajar bertahun-tahun,
baik di sekolah maupun di luar sekolah. Trus, jumlah mereka
pun nggak banyak. Bisa dihitung dengan jari.
Jadi intinya, untuk bisa meraih sukses, nggak bisa
instant. Perlu melewati perjalanan panjang dan berliku dalam
meraihnya. Sehingga dibutuhkan kesabaran dalam diri seorang

157

158

Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu ilmu yang


bermanfaat, rizki yang baik, dan amal yang diterima. (HR.
Ibnu Majah [925])

penulis untuk bisa meraih predikat sebagai seorang penulis


sukses.
Kamu tentu masih ingat kan dengan Joni Ariadinata.
Saya juga pernah dengar, dia butuh waktu panjang untuk
menjadi seperti dirinya yang sekarang ini. Menurut cerita yang
saya dengar nih, dia pernah ngerasa putus asa waktu setahun
tulisannya belom ada yang dimuat, dan sempat berpikir untuk
berhenti. Setelah ratusan tulisan dikirimkan dan tak satupun
yang dimuat, pada titik frustasi pernah memutuskan berhenti
menjadi penulis dan benci menulis. Tapi kemudian ada satu
tulisannya yang dimuat dan menjadikannya semangat lagi.
Diapun kemudian menulis lagi, tapi 6 bulan kemudian tidak
dimuat lagi. Pada saat frustasi keduanya, ternyata tulisannya
dimuat di sebuah koran besar dan tulisannya terpilih menjadi
juara.
Jadi sekali lagi, untuk meraih sukses butuh proses.
Ibarat sebuah pohon, untuk bisa tumbuh besar dan
menghasilkan buah butuh waktu yang panjang. Ia tidak tumbuh
dalam satu malam saja lantas berbuah. Pohon itu tumbuh dari
benih, mengalami proses pertumbuhan alami, melalui deraan
hujan dan terik matahari. Mungkin juga tiupan badai. Namun
semua itu justru akan mengukuhkan akarnya sehingga menukik
ke dalam tanah untuk mempertahankan pertumbuhannya. Dari
waktu ke waktu tantangan itu dihadapi, sampai akhirnya dahandahannya mengeluarkan buah. Tidak semua buahnya matang
dengan sempurna, sebagian mungkin gugur sebelum waktunya,
sebagian lagi dimakan burung, serangga, ulat, atau dijolok oleh
anak-anak. Yang tersisa sebagian, itulah yang mendatangkan
kebahagiaan bagi pemiliknya yang berusaha keras
memeliharanya!

punya kecerdasan, kemauan kuat, kesungguhan, bekal yang


cukup, pembimbing, dan kesabaran. Tanpa enam hal ini,
kayaknya sulit untuk bisa menjadi penulis yang sukses.
Mmm....apa lagi ya? Mmm...Ya sudah, gitu saja. Capek
nih ngomong terus dari tadi. Minum dulu ah...

***
Nah, jadi begitu sobat. Kayaknya kita memang kudu
punya enam bekal ini kalo pingin jadi penulis sukses. Kita kudu
159

160

CERITA PENUTUP
Sobat
Kayaknya sudah lumayan lama kita berbincangbincang. Hampir satu jam lebih, ya? Mungkin kamu juga sudah
capek dengerin saya ngomong terus dari tadi. Jadi, sudah
waktunya untuk istirahat. Barangkali kamu juga ada keperluan
lain.
Intinya, lewat perbincangan ini, saya cuma pingin
menyajikan tiga hal. Pertama, motivasi buat kamu-kamu
semua agar mau berbagi ilmu kepada orang lain (dalam hal ini
lewat tulisan). Kedua, sedikit pengalaman saya dalam
membuat tulisan dan mengirimkannya ke media. Ketiga,
nasihat dan peringatan kepada siapa saja (terutama untuk diri
saya) yang pingin/sudah terjun ke dunia tulis-menulis agar hatihati kalo nulis. Kenapa? Ya...kamu tentu sudah tau jawabannya.
Jadi, di sini saya NGGAK NGAJARIN kamu-kamu
semua tentang gimana caranya nyusun kalimat yang
efektif, gimana menggunakan tanda baca yang benar,
gimana membuat tulisan yang sesuai kaidah jurnalistik dan
hal-hal lainnya yang bersifat teoritis. Sebab saya sendiri juga
nggak terlalu ngerti tentang masalah itu. Saya juga sedang
dalam proses belajar. Kalo kalian pingin tau yang kayak ginian,
silakan saja belajar ke orang lain yang ngerti. Misalnya ke guru
bahasa Indonesimu di sekolah/kampus. Atau bisa juga lewat
buku-buku.
Nah, Sobat, kayaknya itu saja yang bisa saya
sampaikan. Untuk menutup perjumpaan kita kali ini saya ingin
sedikit bercerita. Saya akan sedikit ceritakan tentang awal mula
saya menulis di media. Walaupun ceritanya biasa-biasa saja dan
nggak ada yang istimewa, tapi mudah-mudahan yang biasa ini
bermanfaat dan bisa lebih membangun keakraban di antara kita.
Mau dengerin, kan? Nih, begini nih ceritanya
161

Mmm....sebentar...sebentar...Saya ingat-ingat dulu. Saya


agak lupa, sejak kapan mulai menulis artikel untuk dikirim ke
media. Seingat saya sejak duduk di bangku kuliah tingkat dua.
Sekitar semester tiga atau semester empat. Yang jelas tingkat
dua. Ya, tingkat dua. Sekitar segitulah.
Awal Ketertarikan
Awalnya saya melihat tulisan seorang kawan dimuat di
sebuah koran nasional. Tulisannya tidak terlalu panjang, sekitar
300-350 kata (satu lembar A4, font 12 dengan spasi 1). Karena
merasa bisa, saya jadi tertarik untuk ikutan menulis.
Ketertarikan saya semakin bertambah setelah tahu bahwa untuk
sekali muat, kawan saya katanya mendapat honor sebesar Rp.
50.000. Waktu itu, dengan uang segitu bisa dipakai buat makan
di warteg untuk sekitar 30 porsi dengan menu sederhana (nasi
plus sayur dan telur). Satu porsinya seharga Rp. 1.500.
Saya pun langsung take action. Saya gerakkan pena dan
langsung menulis. Tanpa pake lama, jadilah sebuah tulisan di
atas kertas. Setelah dipindahkan ke komputer dan di-print,
tulisan itu langsung saya kirim lewat pos.
Karena waktu itu saya belum pernah sedikitpun
membaca tentang kiat-kiat menulis di media massa, saya
menulis dengan asal saja. Yang penting jadi tulisan. Format
tulisan seperti spasi, jenis font, margin, saya tentukan
sekehendak saya. Selain mengirim tulisan ke koran, saya juga
pernah mencoba untuk mengirim tulisan ke majalah.
Setelah lama menunggu, tak satupun tulisan saya yang
dimuat, baik di koran maupun di majalah. Karena lelah
menunggu, sementara tak satupun tulisan yang muncul,
akhirnya saya putus asa. Saya pun tak lagi menulis untuk
media. Namun, walaupun tidak menulis untuk media, saya
masih tetap aktif menulis. Saya rutin menulis untuk bulletin
kelas yang saya asuh. Kalau di bulletin, tulisan saya muncul

162

Beberapa tahun kemudian (sekitar 2-3 tahun) saya pun


kembali berhenti menulis untuk media. Tapi saya tetap
istiqomah menulis untuk bulletin yang saya dan kawan-kawan
asuh.
Hingga suatu hari...

terus. Sebab redakturnya saya sendiri dengan dibantu beberapa


orang kawan.
Lama juga saya tidak menulis untuk dikirim ke media,
hingga berbulan-bulan lamanya. Namun, saat tingkat tiga
(entah semester berapa), timbul lagi keinginan untuk menulis.
Waktu itu, ada sebuah majalah remaja yang baru terbit. Di
majalah baru itu terdapat rubrik Tulisan Kamu. Pihak redaksi
menerima tulisan pembaca dengan tema yang telah ditentukan
sebelumnya. Waktu itu tema yang ditentukan redaksi ialah
Hakikat Cinta. Tulisan yang terpilih akan dimuat di dua edisi
depan (dua bulan kedepan).
Saya pun langsung mencari referensi tentang tema itu.
Tak berapa lama, jadilah sebuah tulisan yang saya beri judul
Hakikat Cinta. Tulisan itupun kemudian saya kirim via email
(Nitip kawan, karena waktu itu saya masih gaptek, nggak
ngerti bagaimana cara bikin email). Selanjutnya, dengan
harap-harap cemas, saya menunggu terbitnya majalah untuk
dua edisi ke depan.
Dua bulan telah berlalu. Saya pun bergegas mencari
majalah terbitan terbaru. Begitu dapat, langsung saya buka
halaman tengah di mana rubrik Tulisan Kamu berada. Dan
ternyata.....
BERHASiiiL!!!
HOREEE.SAYA
BERHASiiiL!!! Maksudnya berhasil DITOLAK. Tulisan saya
tidak dimuat (Hiks, sedih rasanya).
Setelah saya baca-baca dan saya kaji kembali tulisan
yang pernah saya buat, saya jadi maklum kenapa tulisan saya
tidak dimuat. Sebab, untuk tulisan di rubrik yang saya tuju
panjang tulisan yang dibutuhkan sekitar 700-an kata.
Sedangkan tulisan yang saya kirim mencapai 1000 kata lebih.
Maka wajar saja jika tulisan saya tidak dimuat.
Lagi-lagi saya putus asa menulis untuk media. Lebih
baik saya menulis untuk bulletin saya sendiri, pikir saya waktu
itu. Sebab tidak akan mungkin ditolak. Anda tentu tahu kenapa?
Yups, benar sekali! Karena sayalah redakturnya.

Buku yang Mencerahkan


Sekitar tahun 2003 (kalau tidak salah akhir bulan Mei),
saya pergi ke daerah Senen, Jakarta Pusat. Tepatnya ke daerah
Kwitang, tempat banyak orang berjualan buku. Ketika sedang
melihat-lihat buku yang dijual di emperan, mata saya tertuju
pada sebuah buku tentang kiat menulis. Judulnya Kiat Menjadi
Penulis Sukses karya Abu Al-Ghifari. Buku itu berisikan tipstips menulis artikel agar bisa dimuat. Selain itu juga
mengajarkan tentang cara menulis buku, dan hal-hal lainnya
yang berkaitan dengan dunia tulis-menulis.
Buku itu
merupakan hasil pengalaman penulisnya selama berkecimpung
di dunia kata. Karena isinya bagus menurut saya- dan
harganya pun tergolong murah, saya pun memutuskan untuk
membelinya.
Setelah membaca buku itu, semangat saya untuk
menulis di media bersemi kembali. Semenjak itu pula, saya jadi
suka membaca dan mengoleksi buku-buku tentang kiat menulis
yang ditulis oleh para penulis senior. Hampir setiap ada buku
kiat menulis, jika gaya bahasanya saya suka dan harga bukunya
cocok dengan isi kantong, saya langsung membelinya. Di
samping itu, saya juga rajin mengumpulkan artikel-artikel
tentang kiat menulis yang ada di internet. Hampir setiap kali
main ke warnet untuk suatu keperluan, saya sempatkan diri
untuk mencari artikel seputar dunia tulis menulis. Artikel yang
saya dapat kemudian saya download lalu diprint di kertas A4
dan saya bundel. Sehingga saya sekarang punya 2 buku

163

164

***

seukuran A4 masing-masing setebal sekitar 500 halaman yang


isinya tentang hal-hal yang terkait dengan tulis-menulis.
Dari buku-buku yang saya baca, tahulah saya bahwa
menulis artikel untuk media tidak bisa asal-asalan. Ada
tekniknya agar tulisan kita bisa dimuat. Misalnya, judul harus
dibuat semenarik mungkin, kemudian buat lead/intro (paragraf
pembuka) yang bikin orang penasaran untuk mau terus
membaca tulisan kita hingga selesai. Isi tulisan pun harus
dikemas dengan menggunakan bahasa yang enak dibaca,
dstdst
Tanpa tunggu lama, saya coba untuk membuktikan
keampuhan teori menulis yang telah saya dapat. Mingguminggu awal, jadilah 3 buah artikel. Dua saya kirim ke majalah
remaja El-Fata dan satunya lagi ke Majalah Islam Ar-Risalah.
Kedua-duanya berada di Solo.
Rupanya teori yang saya dapat dari berbagai bacaan
tentang kiat menulis benar-benar manjur. Dua dari tiga artikel
yang saya kirim langsung dimuat. Semenjak itu, saya pun jadi
semakin rajin menulis. Lahirlah kemudian dari tangan saya
puluhan artikel. Dari puluhan artikel yang saya kirim, kadang
ada yang dimuat, kadang ada juga yang ditolak. Tapi yang
ditolak lebih banyak dari yang dimuat. Walaupun begitu, saya
masih tetap semangat untuk menulis.

pemula seperti saya, hal ini sungguh luar biasa. Semenjak itu,
semangat saya untuk terus merajut kata menjadi kian berkobarkobar.
***

Hattrick
Setelah belajar banyak tentang teori menulis dan
dilanjutkan dengan mempraktekannya serta dengan terus
mencoba mengirimkannya ke media, saya pernah punya
pengalaman melakukan hattrick. Tiga artikel yang saya tulis
dimuat tiga bulan berturut-turut di sebuah majalah, dan tiga
artikel saya yang lain tiga bulan berturut-turut dimuat di sebuah
koran nasional.
Bagi penulis senior, hal ini mungkin suatu hal yang
biasa-biasa saja. Tidak ada istimewanya. Tapi bagi penulis

Nah, jadi begitu ceritanya. Dengan berakhirnya cerita di


atas berarti berakhir pula perjumpaan kita lewat buku ini.
Mudah-mudahan kita bisa bertemu kembali di buku-buku karya
saya yang lain.
Buat kamu-kamu yang punya kritik, saran, atau kesan
dan pesan, jangan sungkan-sungkan untuk menyampaikannya
ke alamat email saya di abduljabbar06@gmail.com atau
penulisbiasa@gmail.com. Trus, kalo kamu ada waktu, kamu
bisa berkunjung ke rumah saya di dunia maya. Nih alamatnya
saya
kasih
tau,
catet
nih:
http://penulispemula.wordpress.com
atau
http://abduljabbar2008.wordpress.com. Saya tunggu lho
kedatangannya.
Terakhir saya memohon kepada Alloh agar apa yang
saya tulis ini saya kerjakan semata-mata karena rasa ikhlas dan
mengharapkan keridhoan dari-Nya dan bermanfaat untuk kaum
Muslimin. Kemudian, jika tulisan saya ini dianggap sebagai
amal shalih oleh Alloh, maka dengan mengggunakan namanama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang tinggi dan
mulia, serta dengan perantaraan amal soleh saya ini, maka saya
memohon kepada Allah:
Ya Allah, ampunilah dosa hamba, dan dosa kedua orang
tua hamba. Sayangilah mereka berdua sebagaimana
mereka berdua telah menyayangi hamba di waktu kecil
Ya Allah, berilah hidayah kepada hamba, kepada kedua
orang tua hamba, kepada saudara-saudara hamba, kepada
kerabat hamba, kepada kawan-kawan hamba, dan kepada
seluruh kaum muslimin di mana saja berada

165

166

Ya Allah, berilah hamba ilmu yang bermanfaat, rizki yang


luas, dan terimalah amal ibadah hamba.
Ya Allah, jadikanlah karya-karya hamba bermanfaat
untuk kaum Muslimin, dan mudahkanlah dalam proses
penyebarannya. Amieen ya Allah...
Sebelum saya tutup, saya juga mohon maaf kalo ada
kata-kata saya yang kurang berkenan di hati. Ya...namanya juga
manusia, tempatnya salah dan lupa. Jadi, yamaaf-maaf saja.
Semoga Allah Subhanahu wa Ta'ala membalas
kebaikan semua pihak yang telah membantu dan turut andil
dalam penerbitan maupun pendistribusian buku ini.
Sesungguhnya Allah Maha Mendengar, Maha Mengabulkan,
Maha Dermawan, dan Maha Mulia.
Shalawat dan salam senantiasa tercurah kepada Nabi
kita Muhammad Shallallahu 'alaihi wa Sallam, keluarga dan
para Sahabatnya secara keseluruhan, serta orang-orang yang
mengikuti jejak mereka dengan baik hingga hari kiamat kelak.
Dan, saya akhiri saja pertemuan kita kali ini dengan
membaca doa penutup majelis:



Mahasuci Engkau, ya Allah, aku memuji-Mu. Aku bersaksi
bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi dengan benar
kecuali Engkau, aku memohon ampun dan bertaubat kepadaMu.
Wassalamualaikum wa Rahmatullahi wa Barakatuh.
SELESAI

167

168

UCAPAN TERIMA KASIH


Rosululloh Shallallahu 'alaihi wa Sallam bersabda:
Barangsiapa yang tidak berterima kasih kepada manusia, maka
dia tidak dikatakan bersyukur kepada Alloh.
(HR. Ahmad, Abu Dawud, dll.)
Maka, saya ucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya
kepada:
1. Kedua orang tua saya di Jakarta (Saman dan Munaya);
Terima kasih atas kasih sayang kalian berdua selama
ini. Mohon maaf karena sering mengecewakan dan
belum
bisa
memberikan
yang
terbaik
hikshiks..hiks(Sambil meneteskan air mata).
Ya Allah, ampunilah dosa saya dan dosa kedua
orang tua saya; dan sayangilah mereka berdua
sebagaimana mereka berdua telah menyayangi dan
mendidik saya di waktu kecil
2. Guru-guru saya di sekolah yang telah mengajarkan saya
membaca dan menulis sehingga saya bisa berkarya dan
berdakwah lewat tulisan. Terima kasih atas curahan
ilmu kalian.
3. Guru-guru saya di pengajian yang selalu mengajarkan
arti pentingnya menuntut ilmu agama dan kritis dalam
beragama. Semoga Alloh mewafatkan kita semua di
atas Islam dan Sunnah.
4. Guru-guru saya di sekolah kehidupan yang telah
mengajarkan ilmu menulisnya lewat perantaraan buku
dan artikel-artikelnya di internet: Abu Al-Ghifari, Edy
Zaqeus, Bambang Trim, Andrias Harefa, Jonru,
Hernowo, M. Fauzil Adhim, dll. Tulisan kalian
benar-benar mencerahkan!
5. Kawan-kawanku di Mabes Bukit Asri Ciomas: Faiz,
Thohir, Ardi, Anri, dan Wiji. Terima kasih atas bantuan
169

dan kebersamaan kalian selama ini. Jazakumulloh.


Tanpa kalian....entahlah.... Semoga sukses menggapai
cita!
6. Pihak penerbit yang berkenan membantu penyebaran
buku ini. Semoga bukunya best seller dan bermanfaat
untuk semuanya, baik manfaat di dunia maupun di
akhirat. Amieen...
7. Semua pihak yang telah membantu dan berjasa dalam
perjalanan sejarah kehidupan saya yang tidak mungkin
disebutkan namanya satu persatu. Jazakumullohu
khoiron. Semoga Alloh membalas dengan yang lebih
baik. Amien ya Allah

170

REFERENSIKU
Buku ini tersusun dari bongkahan-bongkahan kata yang
sebagiannya saya ambil dari beberapa literature berikut:
1. Kiat Menjadi Penulis Sukses, Abu Al-Ghifari, Mujahid
Press Bandung, Cetakan II: Syawal 1423 H/ Desember
2002 M.
2. Panduan Menjadi Penulis: Kiat Menulis Artikel untuk
Media Massa, Asep Syamsul M. Romli, BATIC Press
Bandung, Cetakan I: Januari 2002
3. Inspiring Words for Writers, Mohammad Fauzil Adhim,
pro You Yogyakarta, Cet I: Juli 2005
4. Menjadi Powerful Dai dengan Menulis Buku,
Bambang Trim, Kolbu Bandung, Cet II: Ramadhan
1427 H/ September 2006
5. Penulis-penulis Pengguncang Dunia, Anton WP, Katta
Solo, Cet I: Juni 2007
6. Bagaimana Menjadi Penulis yang Sukses, Wilson
Nadeak, Sinar Baru Algesindo Bandung, Cet II: 2001
7. Majalah Ar-Risalah/ No. 28/ Th. 3 Syaban Ramadhan
1424 H/ Oktober 2003
8. http://www.penulissukses.com
9. http://www.penulislepas.com
10. http://www.pembelajar.com
11. http://www.republika.co.id
12. http://sekolah-menulis.com
13. http://mhzen.wordpress.com/2008/02/07/alhamdulillahsaya-juara-i-lomba-menulis/
14. http://www.google.co.id/search?hl=id&q=
menjadi+penulis+artikel%2C+buku%2C+cerita+onno&
btnG=Telusuri+dengan+Google&meta=
15. http://www.pembelajar.com/wmview.php?ArtID=621
16. Majalah Nikah Vol. 3, No. 10 JAnuari 2005
171

SUMBER
INSPIRASI

172

Tema sama,
tapi penyajian bisa berbeda.
Seperti halnya nasi. Dari bahan dasar nasi,
kita bisa menyajikannya dalam berbagai
bentuk dan rasa; seperti nasi goreng, nasi
bakar, nasi uduk, nasi kuning, nasi
rames, nasi kebuli, dll.

173

174

Shalat Sesuai Tuntunan


Oleh: Fajar Kurnianto
Shalat, menurut bahasa, berarti doa, permohonan,
dan permintaan. Sedangkang menurut istilah syariat, shalat
bermakna serangkaian kegiatan ibadah khusus atau tertentu
yang dimulai dengan takbiratul ihram dan diakhiri dengan
salam. Praktik shalat harus sesuai dengan segala petunjuk
tata cara Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa Sallam sebagai
figur pengejawantah perintah Allah SWT. Rasulullah SAW
bersabda,Shalatlah kalian sesuai dengan apa yang kalian
lihat aku mempraktikkannya.(HR. Bukhari Muslim)
Ada beberapa alasan mengapa shalat harus sesuai
dengan tuntunan Rasulullah SAW. Pertama, shalat adalah
salah satu ibadah mahdhah, yaitu ibadah yang secara
langsung berhadapan dan berhubungan dengan Allah SWT.
Oleh karena itu, dalm praktikknya, Rasulullah SAW telah
memberikan contoh sesuai dengan tuntunan Allah SWT.
Kedua, dalam kaidah agama Islam dinyatakan bahwa segala
macam bentuk ibadah (mahdhah) itu hakikatnya adalah
terlarang (haram) kecuali yang diperintahkan oleh Allah
SWT dan Rasul-Nya sesuai dengan tuntunan. Ini berbeda
halnya dengan muamalat. Dalam urusan muamalat ada
kaidah agama yang menyatakan bahwa segala sesuatu itu
boleh sampai ada dalil syariat yang melarangnya.
Ketiga, shalat adalah bentuk ibadah suci dan sakral.
Praktiknya langsung Allah SWT ajarkan kepada Rasulullah
SWT. Para nabi utusan Allah SWT sebelum Rasulullah
Muhammad SAW juga berkewajiban melakukan shalat.
Namun, praktik shalatnya berbeda dengan yang saat ini.
Perbedaan ini adalah karena tuntunan dari Allah SWT, bukan
inovasi atau buatan para nabi itu sendiri. Keempat, shalat
merupakan salah satu perwujudan bentuk ketaatan total
seorang hamba kepada Allah SWT dan Rasul-Nya. Bagi
sebagian besar manusia, praktik dan gerakan-gerakan
shalat terlihat tidak rasional. Jelas, karena itu adalah urusan
ibadah yang tidak bisa dinilai oleh akal tapi oleh iman.
Imanlah yang membimbing manusia untuk mematuhi apa

175

176

pun yang Allah SWT dan Rasulullah SAW perintahkan, tanpa


perlu bertanya-tanya sebabnya.
Dengan demikian, seorang beriman tidak boleh
mempraktikkan shalat berbeda dengan yang Rasulullah SAW
lakukan. Karena, itu berarti membuat-buat hal yang baru
dalam agama. Ini yang Rasulullah SAW sebut sebagai
bidah. Sesungguhnya, petunjuk yang paling baik dan
benar adalah Kitab Allah dan dan petunjuk Muhammad
Rasulullah SAW. Sedangkan hal yang paling buruk adalah
membuat-buat hal baru (bidah) dalam agama (ibadah).
Ketahuilah, segala bentuk bidah (dalam masalah ibadah) itu
adalah sesat. (HR. Muslim).
Kitab Alquran dan Sunnah Rasulullah SAW adalah
dua sumber utama dalam beribadah kepada Allah SWT dan
dalam bermualamah dengan manusia lain. Keduanya
mengajarkan kebenaran yang membimbing manusia secara
pasti di jalan yang lurus. Jika manusia tidak meyakini
kebenaran dua sumber ini, bahkan melecehkannya, atau
mengubah dengan cara menambah atau mengurangi yang
ada, maka itu sama halnya dengan menyimpan.
Penyimpangan ini jelas tidak dibenarkan dalam beragama.
Wallahu alam.
Sumber: Kolom Hikmah HU. Republika, edisi Sabtu, 14 Mei
2005

177

Kebutuhan Shalat
Oleh: Mulyana
Sudah menjadi kenyataan bahwa manusia adalah
makhluk yang lemah. Allah SWT hendak memberikan
keringanan kepadamu, dan manusia dijadikan bersifat
lemah. (QS 4:28). Keadaan ini memberikan pengertian
bahwa manusia sangat membutuhkan Allah SWT dalam
segala aktivitasnya.
Karena itu, manusia harus memperbanyak berdoa
dan memohon kepada Allah SWT. Kita sebagai umat Nabi
Muhammad SAW telah diberi kemudahan untuk dapat
memohon dan berdoa kepada Allah SWT, di antaranya
melalui shalat. Perintah shalat yang disampaikan langsung
kepada Rasulullah SAW menunjukkan betapa pentingnya
ibadah tersebut dalam kehidupan seorang Muslim. Shalat
merupakan
kesempatan
terbaik
untuk
membangun
hubungan transendental secara langsung antara makhluk
dan
Penciptanya
(Sang
Khaliq).
Rasulullah
SAW
menjelaskan, sujud dalam shalat merupakan salah satu
waktu terbaik untuk berdoa.
Shalat
yang
dilaksanakan
dengan
khusyuk
mengantarkan kita menjadi golongan orang-orang yang
beriman dan bertakwa. Golongan inilah yang akan
memperoleh keuntungan, baik di dunia maupun di akhirat
kelak. Allah SWT berfirman,Sesungguhnya beruntunglah
orang-orang yang beriman, (yaitu) orang-orang yang
khusyuk dalam shalatnya. (QS 23:1-2)
Dalam
ayat
lainnya
Allah
SWT
menegaskan,Sesungguhnya orang-orang yang beriman
ialah mereka yang bila disebut nama Allah SWT gemetarlah
hati mereka, dan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya
bertambahlah iman mereka (karenanya), dan hanya kepada
Tuhanlah mereka bertawakal, (yaitu) orang-orang yang
mendirikan shalat dan yang menafkahkan sebagian dari
rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Itulah orangorang yang beriman dengan sebenar-benarnya. Mereka
akan memperoleh beberapa derajat ketinggian di sisi

178

Tuhannya dan ampunan serta rezeki (nikmat) yang mulia.


(QS 8:2-4)
Shalat pun menjadi benteng bagi kita agar terhindar
dari perbuatan keji dan mungkar. Allah SWT berfirman,
Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu AlKitab (Alquran) dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat
itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan mungkar.
Dan sesungguhnya mengingat Allah (shalat) adalah lebih
besar (keutamaannya dari ibadah-ibadah yang lain). Dan
Allah mengetahui apa yang kamu kerjakan. (QS 29:45)
Jika dilaksanakan oleh semua keluarga, shalat juga
akan mengantarkan keluarga itu mampu melahirkan
generasi yang baik dan pilihan. Allah SWT telah
memerintahkan agar keluarga kita mendirikan shalat.
Penegasan soal ini diungkapkan Allah SWT dalam Surat
Thaha ayat 132. Allah SWT juga menjelaskan bahwa salah
satu karakter generasi yang buruk adalah melalaikan shalat.
Uraian tersebut memberi gambaran betapa banyak
manfaat dan keutamaan yang akan kita peroleh dengan
mendirikan shalat. Ini membuktikan bahwa shalat bukan
sebuah kewajiban semata. Shalat juga merupakan
kebutuhan bagi seluruh umat manusia. Sampai-sampai,
Rasulullah
SAW
pun
tetap
merasa
perlu
terus
memperbanyak shalat, meski Allah SWT sudah mengampuni
seluruh dosanya, dan menjamin kehidupan yang mulia di
akhirat.

Ide bertebaran di mana-mana.


Bisa jadi, ketika melewati kuburan,
kita lantas teringat akan kematian.
Kemudian muncullah ide untuk
membuat tulisan ringan yang berisi
nasihat agar senantiasa
mengingat mati

Sumber: Kolom Hikmah HU. Republika, edisi Sabtu, 3


September 2005

179

180

Zikrul Maut
Oleh: Prayitno
Kematian merupakan kepastian yang akan dialami
oleh setiap manusia. Kita berharap agar menghadapi
kematian dalam keadaan tunduk dan patuh kepada-Nya.
Karena itu, tidaklah terlalu penting kapan kita akan mati,
tapi yang penting adalah sejauh mana persiapan
menghadapi kematian itu dengan amal saleh.
Selalu ingat mati (zikrul maut) akan merangsang kita
untuk memperbanyak amal saleh. Paling tidak, ada lima
zikrul maut yang bisa kita lakukan. Pertama, menjenguk
orang sakit guna mendapatkan hikmah agar menjadi
semakin sadar betapa pentingnya kesehatan itu. Dengan
sakit, seseorang tidak akan bisa melakukan apa-apa,
sehingga akan tertanam tekad untuk memanfaatkan masa
sehat dengan banyak beribadah kepada Allah SWT.
Barangsiapa yang mengunjungi orang sakit, maka
berserulah Malaikat dari langit. Engkau telah berbuat baik,
baik pula perjalananmu, engkau akan mendiami rumah
dalam surga. (HR Ibu Majah).
Kegiatan kedua untuk mengingat mati adalah dengan
takziyah atau mendatangi orang yang meninggal. Takziyah
dimaksudkan untuk mendoakan mereka yang mati,
menggembirakan anggota keluarga yang ditinggal, serta
ikut mengurus jenazah dengan memandikan, menshalatkan,
dan menguburkannya. Cukuplah mati sebagai pelajaran
(guru) dan keyakinan sebagai kekayaan. (HR Thabrani)
Ketiga adalah melakukan ziarah kubur. Ziarah kubur
ini semula dialrang oleh Rasulullah SAW, namun kemudian
dianjurkan dalam rangka zikrul maut. Ziarah kubur akan
memberi kesadaran bahwa cepat atau lambat, kitapun akan
seperti orang yang berada dalam kuburan itu. Masalahnya,
kebahagiaan atau siksaan yang akan kita terima, sangat
tergantung dari amal saleh yang kita lakukan selama hidup.
Zikrul maut keempat adalah dengan memantapkan
keimanan kita akan datangnya hari kiamat atau hari akhir.
Bukan seperti keyakinan orang-orang kafir yang memungkiri
akan adanya hari kiamat. Dan mereka berkata, kehidupan

181

182

ini tidak lain hanyalah kehidupan di dunia saja, kita mati


dan kita hidup dan tidak ada yang membinasakan kita
kecuali masa, dan mereka sekali-kali tidak mempunyai
pengetahuan tentang itu, mereka tidak lain hanyalah
menduga-duga saja. (QS Al-Jaatsiyah (45): 24)
Kelima adalah menghayati dalil-dalil kehidupan
akhirat yang banyak tergambar dalam Alquran maupun
hadis Rasulullah SAW berupa siksaan bagi yang ingkar dan
balasan surga buat yang beramal saleh. Sesungguhnya
orang-orang yang kafir kepada ayat-ayat Kami, kelak akan
Kami masukkan mereka ke dalam neraka. Setiap kulit
mereka hangus, Kami ganti dengan kulit yang baru, supaya
mereka merasakan azab. Sesungguhnya Allah Mahaperkasa
lagi Mahabijaksana. (QS An-Nisa (4): 56).
Sumber: Kolom Hikmah HU. Republika, edisi Kamis, 8 Juni
2006

183

Banyak persoalan yang dihadapi


oleh masyarakat,
baik yang sifatnya pribadi maupun umum.
Ketika kita tahu solusinya,
kenapa tidak kita sampaikan saja
lewat tulisan!

184

Tuduhan Zina dalam Islam


HM Ihsan Abdul Djalil
Ketua Yayasan Ibadah Network (IbadahNet)
Keretakan rumah tangga Gusti Randa dan Nia
Paramitha mendapat publisitas luar biasa. Gusti menuduh
istrinya telah berzina dengan lelaki lain. Sebaliknya, Nia
berkeras menolaknya. Kedua pihak mengumbar versi
ceritanya masing-masing melalui media, sehingga polemik
rumah tangga ini pun menjadi konsumsi publik.
Tuduhan perzinaan bukanlah masalah sepele.
Sedemikian seriusnya, Islam mensyaratkan tuduhan
tersebut haruslah dibarengi dengan menghadirkan empat
saksi. Tentu saja itu bukan perkara mudah, mengingat
tindakan zina pastilah dilakukan secara sembunyi-sembunyi.
Di satu sisi, Islam menjunjung tinggi kehormatan
dan kesucian seorang Muslimah. Tidak boleh sembarangan
menuduh wanita baik-baik telah melakukan zina. Pelakunya
diancam hukuman cambuk 80 kali bila asal tuduh tanpa
bukti.
Firman Allah SWT dalam Alquran surah An-Nur ayat
4-5 menyebutkan,Dan orang-orang yang menuduh wanitawanita yang baik-baik (dengan tuduhan berbuat zina) dan
mereka tidak mendapatkan empat orang saksi, maka
deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali, dan
janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selamalamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik. Kecuali
orang-orang yang mau bertaubat sesudah itu dan
memperbaiki (dirinya) maka sesungguhnya Allah Maha
Pengampun lagi Maha Penyayang.
Lian
Dalam hal istri tetap membantah, sementara suami
tetap bersikukuh istrinya telah berzina tapi tidak memiliki
empat saksi yang menguatkan tuduhannya, maka
penyelesaiannya ditempuh dengan menerapkan lian. Istilah
hukum ini diambil dari kata al-lanu karena suami istri
masing-masing melaknat dirinya jika berdusta.

185

186

Dasar hukum lian adalah firman Allah SWT: Dan


orang-orang yang menuduh istrinya (berzina) padahal tidak
ada saksi-saksi selain diri mereka sendiri, maka persaksian
orang itu adalah empat kali bersumpah dengan nama Allah
bahwa sesungguhnya dia termasuk orang orang yang
benar. Dan (sumpah) yang kelima, bahwa laknat Allah
atasnya jika dia termasuk orang-orang yang berdusta.
Istrinya itu dihindarkan oleh sumpahnya empat kali atas
nama Allah sesungguhnya suaminya itu benar-benar
termasuk orang-orang yang berdusta. Dan (sumpah) yang
kelima bahwa murka Allah atasnya jika suaminya itu
termasuk orang-orang yang benar. (QS An-Nur, 6-9).
Ayat ini turun berkaitan dengan peristiwa yang
menimpa Hilal bin Umayyah pada masa Rasulullah.
Diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud dari Ibnu Abas RA, saat
itu Hilal menjumpai kehadiran lelaki di rumahnya. Hilal
membiarkannya hingga menjelang subuh dan esoknya baru
mengadu: Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku dating
menjumpai keluargaku, tetapi aku mendapati seorang lakilaki di tengah mereka. Aku sungguh melihatnya dengan
mata kepalaku sendiri dan mendengarnya dengan telingaku
sendiri. Lalu turunlah ayat ini sebagai jawaban dari Allah
SWT.
Setelah Rasulullah SAW menyampaikan wahyu
tersebut, Hilal berkata,Demi Allah, aku berkata benar
mengenai dirinya. Istrinya berkata,Dia berdusta. Lalu
keduanya dimintai saling melaknat. Hilal empat kali
bersumpah atas nama Allah bahwa dirinya benar. Dan
ketika hendak mengatakan sumpah kelima, dikatakan
kepadanya,Hilal, bertakwalah engkau kepada Allah, karena
sesungguhnya azab dunia itu lebih ringan dibandingkan
azab akhirat, dan sesungguhnya kewajiban sumpah yang
telah ditetapkan atasmu bisa menjadi azab bagimu.
Hilal pun berkata,Demi Allah, Allah tidak akan
mengazabku karena hal ini, sebagaimana juga tidak akan
menimpakan hokum cambuk kepadaku atas perkara ini.
Lalu Hilal pun bersumpah untuk yang kelima kalinya bahwa
sesungguhnya laknat Allah akan menimpanya jika ia
termasuk orang yang berdusta.

Istri Hilal juga diminta bersumpah atas nama Allah


sebanyak empat kali bahwa suaminya termasuk pendusta.
Dan tatkala hendak bersumpah yang kelima dikatakan
kepadanya,Bertakwalah engkau kepada Allah, karena
sesunggunya azab dunia itu lebih ringan dibandingkan
dengan azab akhirat, dan sesungguhnya kewajiban sumpah
ini bisa menjadi azab bagimu. Lalu istri Hilal pun
bersumpah yang kelima: kemurkaan Allah atas dirinya jika
terbukti suaminya yang benar.
Simpel dan Tuntas
Kasus seperti dalam rumah Gusti-Nia bukanlah
masalah pelik yang sulit dicarikan pemecahannya. Kalau
suami bersikukuh pada tuduhannya sementara istri tetap
membantah, maka hukum lian
ini layak dikemukakan
sebagai solusi. Hakim bisa menghadirkan keduanya dan
mereka diminta bersumpah lima kali.
Suami yang menuduh istrinya berzina tetapi tidak
mendatangkan bukti apapun dan tidak bersedia melakukan
lian maka akan dijatuhi hukuman karena dianggap telah
melakukan tuduhan palsu (qadzaf). Bila dia mau melakukan
lian tetapi istrinya tidak bersedia, maka istrinyalah yang
akan dijatuhi hukuman.
Hukum lian
berfungsi memastikan adanya
perzinaan. Istri langsung dipastikan telah berzina karena
lian suaminya dan karena ketidakmauan melakukan hal
sama. Sebaliknya, bila istri juga mau melakukan lian maka
tidak bisa dipastikan bahwa dirinya telah berzina. Dengan
dilaksanakannya lian, otomatis keduanya bercerai dan tidak
bisa kumpul lagi selamanya. Diriwayatkan dari Sahal bin
Saad, Rasulullah bersabda,Telah berlangsung ketetapan
dalam kaitannya dengan suami istri yang telah saling
melaknat, yakni keduanya dipisahkan satu sama lain dan
tidak boleh dikumpulkan kembali selamanya. Kecuali bila di
kemudian hari suami mengakui kebohongannya sendiri,
masih dimungkinkan rujuk dengan istrinya.
Hukum lian sebenarnya bisa diambil sebagai jalan
keluar yang islami atas kasus yang menimpa rumah tangga
Gusti dan Nia. Prosesnya sangat simple, tetapi bisa

187

188

menuntaskan masalah. Tidak berlarut-larut seperti yang kita


saksikan di berbagai media cetak dan elektronik pada saat
ini.
Sumber: Rubrik Opini HU. Republika, edisi Senin, 24 April
2006
(http://republika.co.id/kolom_detail.asp?id=244884&kat_id
=16)

189

Untuk berdakwah lewat tulisan tidak harus


menunggu jadi ustadz dulu. Kita bisa
melakukannya dengan berperan sebagai
PENYAMBUNG
PENYAMBUNG LIDAH USTADZ.
USTADZ Caranya?
Kita sampaikan ilmu yang diajarkan ustadz di
pengajian. Kita kemas catatan pengajian kita
menjadi artikel yang cocok untuk rubrik
tertentu yang ada di media massa. Meskipun,
misalnya, yang yang kita sampaikan cuma
penjelasan singkat tentang dua syarat
diterimanya amal ibadah.

190

Amal yang Diterima


Oleh: Iin Rosliah
Cinta dan semangat saja tak cukup dijadikan modal
agar amal diterima Allah SWT. Ada dua syarat yang mutlak
harus dipenuhi supaya amal tidak sia-sia di hadapan-Nya.
Pertama, ikhlas semata-mata mengharap ridha Allah
SWT, bukan karena motivasi duniawi atau ingin meraih puji.
Kedua, muwafaqah, artinya amal yang dilakukan sesuai
dengan tuntunan Alquran dan sunah Rasulullah SAW. Ikhlas
dan muwafaqah, ibarat dua sisi mata uang, saling terkait
dan tak dapat dipisahkan. Ibnu Katsir saat menafsirkan QS
Al Kahfi: 100 menguraikan, ikhlas dan mengikuti petunjuk
Rasulullah SAW merupakan dua rukun amal yang akan
diterima. Rukun adalah tiang. Sebuah bangunan akan
terwujud manakala kedua tiangnya berdiri tegak. Begitu
pula amal, akan diterima ketika dua syaratnya terpenuhi.
Ketika kita beribadah karena ingin mendapat
sanjungan sesame, berarti hati kita telah mendua. Dalam
kacamata agama, ini dikategorikan sebagai perbuatan syirik
yang akan menghalangi diterimanya amal oleh Allah SWT.
Barangsiapa
yang
mengharap
perjumpaan
dengan
Tuhannya, maka hendaklah mengerjakan amal saleh dan
janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah
kepada-Nya. (QS Al Kahfi: 110). Ibnul Qayyim
mengibaratkan orang yang beramal tanpa keikhlasan seperti
seorang musafir yang mengisi penuh kantongnya dengan
pasir. Ia membawanya, tapi tidak mendapatkan manfaat
apa pun.
Walau secara lahiriah tampak besar dan bagus, bila
tak dihiasi dengan keikhlasan, amal apapun menjadi tak
bermakna dalam pandangan Allah SWT. Alhasil, bukannya
pahala yang diraih, justru azab yang didapat. Jangan pula
sampai terjadi seperti tiga orang Muslim di hadapan
mahkamah Allah SWT kelak. Imam Muslim meriwayatkan,
ada seorang mujahid, seorang alim, dan seorang dermawan.
Bukan surga yang diperoleh, justru neraka yang yang
didapat ketiganya.

191

192

Pasalnya, amal yang mereka lakukan hanya untuk


mengejar prestise. Yang satu berjuang agar disebut sebagai
syuhada. Yang kedua menuntut ilmu dan mengajarkannya
agar disebut ulama. Dan yang terakhir
menginfakkan
hartanya agar dinilai sebagai dermawan. Setelah ikhlas,
syarat berikutnya adalah kesesuaian setiap amal dengan
tuntunan dalam Alquran dan sunah. Ini mengandung
makna, ibadah apa pun yang diperbuat, hendaknya
dilandasi oleh ilmu.
Beribadah tanpa dasar ilmu, cenderung menjadikan
perasaan sebagai standard. Baik buruk bukan diukur oleh
dalil, tapi semata-mata menimbang rasa. Alhasil, mudah
tergelincir dalam perbuatan bidah, mengada-ada dalam
urusan ibadah. Rasulullah SAW bersabda,Barang siapa
mengerjakan satu amalan yang tak ada perintahnya dari
kami, maka amalah itu tertolak. (HR Bukhari dan Muslim).
Sumber: Kolom Hikmah HU. Republika, edisi Rabu, 11
Januari 2006

193

Semakin mendekati akhir zaman,


semakin banyak pemikiran aneh
bergentayangan. Terkadang pemikiran aneh
itu dikemas dengan bahasa yang indah dan
enak didengar. Kemudian juga disampaikan
dengan argumentasi yang terkesan ilmiah,
dan disebarluaskan lewat berbagai macam
media. Dibutuhkan ketajaman pena para ahli
ilmu untuk mengcounternya,
agar masyarakat kita tidak berubah
menjadi masyarakat yang aneh.

194

Salat dalam Dwibahasa


Oleh OIM ABDURROCHIM
Dua puluh sembilan tahun yang lalu, seorang ulama
pernah
ditanya
tentang
kebolehannya
salat
yang
dialihbahasakan. Beliau menjawab pada Risalah No. 151 s/d
153 tahun XV/1396H/1976M dengan uraian yang mencakup
hal-hal yang berkaitan dengan kesejarahan, kebahasaan,
dan, tanpa terasa, bisa saja orang terjerumus pada
penggunaan kalimah yang hak, tapi digunakan untuk
meratakan jalan kebatilan. Kalimatu haqqin urida biha
bathilun!
Tahun 1932, dunia Islam gempar karena Kemal
Attatruk yang memerintah Turki selama empat masa
jabatan menjalankan program pem-Barat-an dengan
pembaruan yang terlalu ke depan. Termasuk melarang
Alquran berbahasa Arab, salat, dan azan dikumandangkan
dengan bahasa Turki. Agama dan negara dipisahkan. Ia
mendapat simpati dari kalangan Barat yang lega karena
Islam dibawa ke alam modern, tapi hakikatnya justru
menjerumuskan agama dan umat Islam ke jurang yang
berakhir pada penukaran hukum Islam dengan undangundang ala Barat.
Farid Wajdi, seorang ulama Mesir mendapat
serangan dari ulama Islam lantaran memberi angina kepada
kelompok yang berupaya menasionalisasi salat. Mereka
beralasan dengan fatwa Imam Abu Hanifah yang
kebanyakan penganutnya ada di Turki. Alasan yang hanya
dibuat-buat. Mengapa fatwa yang begitu berharga, kalau
memang ada, baru dilakukan mereka seribu tahun
kemudian seperti halnya di Turki dengan dan lewat tangan
Kemal Attaturk?
Baik untuk Farid Wajdi maupun Kemal Attaturk,
ulama dan umat Islam tidak tinggal diam. Mereka
mengoreksi, meluruskan, dan mengubah pendapat yang
salah itu. Mereka tidak terbius pada siapa yang berbicara
tapi pada apa yang dibicarakan. Apakah itu sesuai dengan
alas an yang dikemukakan Alquran dan hadis? Undzur ma
qola wala tandzur man qola.

195

196

Riwayat
Imam
Abu
Hanifah
yang
katanya
membolehkan membaca doa iftitah dengan bahasa Persi
dibantah dua orang muridnya yaitu Abu Yusuf dan
Muhammad.
Orang Arab pada permulaan Islam merasa berat
melafalkan huruf Arab Alquran. Dialek mereka yang terdiri
dari suku-suku itu merasa asing dengan bahasa Alquran
termasuk bacaan salat. Rasulullah saw. tidak mengizinkan
mereka menggunakan dialek masing-masing, bahasa yang
mereka kuasai. Bahkan bagi mereka yang belum mampu
membaca doa iftitah, bacaan ruku, dan sujud dengan benar,
berlakulah baginya sabda Rasulullah saw. tsummaqra ma
tayassara maaka minal Quran (kemudian bacalah yang
mudah bagimu dari Alquran) H.R. Al Bukhari.
Sesuai dengan arti dan maksud hadis yang masyhur
ini bahkan lebih baik tidak membaca apa-apa. Ini khusus
bagi mereka yang dimaksud tadi dan dengan latar belakang
seperti itu.
Mencontoh secara utuh salat Rasulullah saw. adalah
keharusan yang tidak bisa dibantah kapan dan di mana pun.
Sabda Rasulullah saw. Shallu kama ro-aitumuni
ushalli (hendaklah kamu salat sebagaimana kamu ketahui
bagaimana cara aku salat H.R. Al Bukhari. Ternyata
menurut kajian kebahasaan bermakna mengetahui dengan
yakin apa yang dilakukan dan dibaca. Ini karena ro-a pada
ro-aitumuni ushalli dengan aku dan salat sebagai dua
maful, artinya bukan melihat, tapi berarti yakin atau
mengetahui. Mungkin dengan mendengar dan melihat atau
bisa juga dengan dalil yang sahih, mengetahui apa yang
dilakukan dan dibaca.
Dalam kitab Tafshi Syarah wa Irab Syawahid Ibnu
Akil juz I:167 ditegaskan bahwa roa bila mutaaddi kepada
dua maful artinya mengetahui dengan yakin.
Mengemas kalimah, kata yang baik, hak, untuk
tujuan kebatilan bisa saja dilakukan orang. Kata-kata yang
baik untuk meyelubungi tujuan yang tidak baik adalah
upaya lain memalingkan orang ke arah kezaliman dan
kemaksiatan. Biasanya lebih berhasil ketimbang dengan
usaha jahat dengan terang-terangan.

Ulama
yang
begitu
tawadu
yang
hanya
mencantumkan nama inisialnya E A N, kemudian
menyimpulkan, melakukan apa yang tidak dilakukan
Rasulullah dalam urusan ibadah hukumnya bidah. Dan apa
yang ditinggalkan (tidak dikerjakan, pen) oleh Rasulullah
dan sahabat, padahal waktu itu ada penyebab dan
pendorongnya, itu adalah satu dalil bahwa perbuatan itu
tidak dibenarkan dan tidak disyariatkan.
Sekarang di Negara kita hal semacam itu muncul.
Yusman Roy pimpinan Pondok Pesantren Itikaf Ngaji
Lelaku di Kabupaten Malang Jawa Timur mempraktikkan
salat dalam dua bahasa. Bacaan salat dalam bahasa aslinya
ditambah dengan bahasa Indonesia. Salat dalam dwibahasa!
Kalau diukur dengan ukuran kesejarahan dan
kebahasaan seperti diuraikan di atas, jelas apa yang
dilakukan Yusman Roy merupakan kesalahan besar. Oleh
karena itulah MUI Jawa Timur menilainya sesat dan akhirnya
ia harus berurusan dengan pihak kepolisian karena ada
unsure penodaan terhadap agama.
Yang menjadi pertanyaan, mengapa pada awalnya ia
tidak lebih dulu bertanya kepada ahlinya sebelum hal itu
dilakukan. Padahal bertanya kepada ahlinya merupakan
kaidah yang tidak bisa diabaikan. Malu bertanya sesat di
jalan mungkin hanya merupakan peribahasa yang
dampaknya memang terasa, tapi apa yang Allah SWT
firmankan,Tanyalah kepada orang-orang yang mengerti
bila kamu tidak tahu! (An-Nahl (16): 43, Al Anbiya (21):7),
akibatnya akan amat besar. Tidak hanya menyangkut sesat
di jalan saja tapi mencakup seluruh masalah yang berkaitan
dengan kehidupan ini dan segala akibatnya. Termasuk di
dalamnya menyesatkan sejumlah orang yang mengikuti
ajarannya.
Tidak ada alasan untuk bersikukuh pada pendapat
yang
salah.
Malah
menjadi
kewajiban
untuk
mengembalikannya kepada kaidah baku yang dimiliki umat
Islam sebagai rujukan utama yaitu Alquran dan sunah
Rasulullah Saw. yang begitu jelas dan gambling bisa dibaca
dan ditelusuri.

197

198

Allah SWT memberikan petunjuk untuk itu.


Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu,
maka kembalikanlah ia kepada Allah (Alquran) dan Rasul
(sunahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah
dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu)
dan lebih baik akibatnya (Annisaa (4): 59).
Kewajiban umat Islam lah untuk mengoreksi dan
mau dikoreksi, meluruskan dan mau diluruskan, dan
mengubah pendapat yang salah serta mengembalikannya
kepada Alquran dan sunah Rasulullah saw!
Sumber: Rubrik Renungan Jumat
(http://www.pikiran-rakyat.co.id)

199

HU.

Pikiran

Rakyat

Ada anggapan bahwa Islam adalah agama


yang keras, sadis, brutal, barbar, penebar
teror, dsb. Padahal Islam adalah agama yang
Indah, karena datang dari Alloh yang Maha
Indah dan menyukai keindahan. Oleh karena
itu, sudah menjadi tugas penulis Muslim
untuk meluruskan anggapan yang keliru ini.
Tebarkanlah keindahan Islam lewat goresangoresan pena. Agar semua orang tahu bahwa
Islam adalah agama yang indah.
Islam pembawa rahmat
untuk seluruh ummat

200

Merasakan Keindahan Islam


Oleh: Abdul Jabbar

Sayangilah setiap yang ada di permukaan bumi,


niscaya Allah Yang berada di atas langit
akan menyayangimu
(HR. Ahmad)

Sebagai seorang muslim, tentu sangat wajar jika kita


menginginkan syariat Islam diberlakukan di tengah-tengah kita.
Sebab, menurut keyakinan kita, hanya dengan syariat Islam sajalah
kedamaian akan bisa terwujud. Bukan hanya untuk ummat Islam,
melainkan untuk ummat-ummat yang lain (non-Muslim). Sebab,
Islam adalah agama rahmatan lil alamin (rahmat untuk seluruh
alam). Dan, aturan Islam adalah satu-satunya aturan yang bisa
menyelesaikan semua problematika ummat.
Jika Anda tidak percaya, berikut ini sedikit bukti akan
kebenaran pernyataan saya di atas.
Islam dan Kedamaian
Saya akan bawakan dua buah dalil yang menunjukkan bukti
bahwa Islam adalah rahmat untuk seluruh alam. Dalam sebuah hadits,
Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam bersabda:



201

202

Iman itu ada 70 lebih cabang. Yang tertinggi adalah kalimat Laa
Ilaaha illallah, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan
gangguan dari jalan. Dan sifat malu adalah bagian dari iman(HR.
Muslim)
Simak baik-baik hadits di atas. Islam menjadikan perbuatan
menyingkirkan gangguan dari jalan sebagai bagian dari keimanan
seorang muslim. Oleh karena itu, bagi seorang muslim yang
mengaku bahwa dirinya beriman, jika dia melihat gangguan di jalan,
maka dia wajib menyingkirkannya. Apa saja bentuknya. Entah duri,
paku, pecahan kaca, dsb. Tujuan apa? Tak lain dan tak bukan adalah
agar pengguna jalan siapapun dia- bisa merasa aman lewat di jalan
itu.
Nah, dari hadits yang mulia ini kita bisa mengambil
kesimpulan bahwa Islam adalah agama kedamaian. Islam membawa
keamanan bagi seluruh ummat manusia.
Dan, dari hadits ini pula kita bisa mengambil kesimpulan
bahwa perbuatan teror (seperti membom tempat-tempat umum dll.)
yang dilakukan oleh sebagian orang yang mengaku dirinya Muslim,
pada hakikatnya perbuatannya itu bukanlah dari Islam sama sekali,
meskipun mereka teriak seribu kali bahwa perbuatannya itu
mengatasnamakan Islam.
Sekali lagi coba kita renungkan. Kalau menyingkirkan duri
dari jalan saja termasuk cabang keimanan, lantas bagaimana mungkin
membunuh orang banyak tanpa alasan yang dibenarkan dan merusak
harta milik orang lain termasuk dalam bingkai keimanan?!
Dalam hadits lain Rasulullah Shallallahu alaihi wa Sallam
bersabda,





Barangsiapa yang membunuh orang kafir muahad, niscaya ia tidak
akan akan mencium bau surga. (HR. Al-Bukhari)

Kafir muahad adalah orang kafir yang terlindungi darahnya,


karena mereka mendapatkan izin masuk oleh suatu negara, baik
untuk bekerja, berwisata atau tujuan-tujuan lainnya.
Jadi, jika ada orang kafir (misalnya turis asing) datang ke
Indonesia, maka haram untuk diganggu. Kalau diganggu saja tidak
boleh, apalagi sampai dibunuh dengan cara di-bom dll ! Padahal
mestinya, dengan datangnya orang kafir ke negeri kaum muslimin
merupakan kesempatan bagi orang Islam untuk memperkenalkan
kepada mereka tentang keindahan Islam. Mudah-mudahan dengan
begitu mereka jadi tertarik dengan Islam dan mau untuk masuk ke
dalam Islam. Setelah itu, mereka bisa sebarkan Islam itu ke
negaranya masing-masing. Sayangnya, orang Islam sendiri yang
justru menyediakan fasilitas kemaksiatan untuk mereka. Jadi, siapa
yang salah sebenarnya?
Bagaimana, Anda tentu sudah yakin, bukan, bahwa Islam
adalah agama rahmatan lil alamin? Sekarang saya ingin
buktikan bahwa aturan Islam adalah satu-satunya aturan yang bisa
menyelesaikan problematika yang ada di masyarakat.
Islam adalah Solusi
Sekarang ini masyarakat kita resah dengan beragam
permasalahan yang membelit bangsa ini. Seperti misalnya kasus
pornografi, pornoaksi, perzinaan, pemerkosaan, dan perselingkuhan.
Belum lagi kasus kriminalitas lainnya seperti pencurian dan
pembunuhan. Pengangguran semakin banyak. Masyarakat miskin di
mana-mana. Ditambah lagi pergaulan bebas para remaja yang
semakin tak terkontrol. Dan masih banyak lagi yang lainnya.


Lalu, bagaimana solusinya?


Mungkin, kalau pertanyaan ini diajukan kepada para wakil
rakyat kita, butuh waktu berbulan-bulan dan menelan dana banyak
untuk merumuskan jawaban yang tepat. Kita tentu masih ingat
dengan RUU APP, bukan?
Padahal, kalau kita mau melirik kepada Islam, semua
jawaban tersedia. Tinggal kitanya, mau mempraktikkan atau tidak.

203

204

Coba saja buka-buka Al-Quran dan hadits, insya Allah, akan Anda
temukan solusi jitu dari beragam problematika yang sedang
membelit bangsa ini. Kenapa saya katakan solusi jitu? Sebab, solusi
ini berasal langsung dari Allah, Pencipta manusia, Yang tentu saja
paling tahu tentang segala sesuatu yang bisa membuat baik
kehidupan manusia.
Kalau begitu, apa solusi Islam terhadap semua problematika
di atas?
Mudah saja. Dalam Islam, ada aturan berpakaian baik untuk
laki-laki maupun untuk perempuan. Coba sekarang Anda bayangkan,
seandainya cara berpakaian masyarakat sesuai dengan aturan Islam.
Laki-lakinya berpakaian sopan dan wanitanya mengenakan jilbab
syari. Maka, apa yang terjadi ? Saya yakin 100 %, kasus perzinaan,
pelecehan seksual, dan pemerkosaan akan bisa ditekan seminimal
mungkin. Apalagi dengan diadakannya hukum rajam bagi pelaku
zina, tentu akan lebih efektif lagi. Orang tentu akan berfikir 1000 kali
kalau ingin berzina.
Kemudian, seandainya para wanitanya semua memakai jilbab
syari, tentu kasus pereselingkuhan akan hilang dengan sendirinya.
Sebab, ketika para suami keluar rumah, kemudian mereka melihat
para wanita yang berbusana serba tertutup, maka mereka tentu akan
lebih betah tinggal di rumah. Karena di rumahnya mereka bisa
melihat sang istri menyuguhkan dandanan yang ehm. Dengan
begitu keharmonisan rumah tangga akan lebih terjaga. Dan, tidak ada
lagi istilahnya cuci mata di luar rumah. Gimana mau cuci mata, lha
wong tertutup semua!
Lalu, bagaimana dengan orang-orang (misalnya artis-artis
barat dan para pengikutnya) yang tidak menutup aurat dan masih
suka berpornografi dan pornoaksi ria, entah di majalah, film,
panggung dll.
Oo gampang saja. Dalam Islam, laki-laki dan wanita wajib
menundukkan pandangan. Jadi, haram untuk melihat aurat lawan
jenis. Nah, jika orang Islam mau menerapkan syariat ini, insya
Allah, pelaku pornografi dan pornoaksi akan berhenti sendiri. Sebab
aksi panggungnya tidak akan ada yang nonton dan majalahnya tidak

205

akan ada yang beli. Lama-kelamaan mereka juga akan gulung tikar
dan alih profesi. Tul gak?!
Mungkin ada yang berkata begini,Di agama lain juga
diharamkan zina, mencuri, membunuh dll.
Maka saya katakan: Ya, saya tidak menyangkal jika ada
agama lain yang mengharamkan perbuatan tercela, seperti zina dll.
Sebab setiap agama pada dasarnya mengajarkan manusia untuk
berbuat kebajikan dan menjauhkan diri dari perbuatan jahat. Tapi ada
yang perlu Anda catat: Bahwa Islam lebih dari sekedar itu. Islam
membimbing kita dengan cara praktis untuk mencapai kebajikan dan
menjauhkan diri dari kejahatan dalam kehidupan pribadi dan
masyarakat.
Misalnya saja, ketika Islam mengharamkan suatu perbuatan,
maka Islam juga mengharamkan segala sarana yang bisa membawa
kepada perbuatan haram itu. Dan, inilah yang tidak ada pada agamaagama lain.
Contoh, Islam mengharamkan zina. Islam juga
mengharamkan segala sarana yang bisa mengantarkan pada
perzinaan, seperti melihat aurat lawan jenis, bersepi-sepian antar
lawan jenis (kholwat), bercampur baur antara pria dan wanita
(ikhtilat), menampakan aurat, berjabat tangan dengan lawan jenis
yang bukan muhrim (bahasa Arabnya mahrom), melirihkan suara
bagi wanita ketika berbicara dengan laki-laki, pamer aurat dan lekuklekuk tubuh dll. Adakah aturan seperti ini dalam agama lain ?
Saya jadi teringat dengan perkataan seorang ustadz ketika dia
menyampaikan ceramah tentang dunia wanita. Kira-kira perkataan
si ustadz begini, Bohong besar jika ada orang yang

berteriak-teriak
ingin
memberantas
zina,
perkosaan, dan pelecehan seksual terhadap para
wanita. Tapi, dia membiarkan saja para wanita
berkeliaran dengan mengenakan pakaian yang
siap untuk diperkosa!

206

Gimana, Anda setuju dengan perkataan si ustadz ini? Kalo


saya sih setuju banget!

di bawah naungan Islam seperti jaman Rasulullah dahulu.


Wallahu alam.

Barangkali ada yang mencoba memberikan sanggahan


begini: Jika Islam adalah agama terbaik, mengapa banyak orang
Islam yang tidak jujur, tidak dapat dipercaya, dan melakukan
penipuan, pencurian, menyuap, korupsi, dan mengkonsumsi obatobatan terlarang.
Jawabnya mudah saja. Saya yakin Anda pun tentu bisa
menjawabnya. Tapi saya akan coba memberi jawaban begini: Kalian
jangan menilai mobil dari sopirnya! Lho, apa maksudnya?!.
Jika Anda ingin menilai betapa bagusnya model keluaran
baru mobil Mercedes, kemudian Anda melihat ada seseorang yang
tidak bisa menyetir duduk di tempat duduk sopir lalu menyetir mobil
itu dan menabrak tiang listrik, siapa yang akan Anda salahkan?
Mobil itu atau orang yang menyetirnya? Otomatis Anda akan
menyalahkan sang sopir. Untuk meneliti kebagusan mobil itu,
seseorang tidak bisa melihat pada sopir, tetapi harus melihat pada
kemampuan dan keistimewaan yang ada pada mobil itu. Seberapa
tinggi kecepatannya, berapa kapasitas bahan bakarnya, fasilitas
kenyamanannya apa saja, dan lain sebaginya.
Jadi, jika Anda ingin menilai seberapa bagus agama Islam,
maka nilailah dari sumber yang asli, yaitu Al-Quran dan As-Sunnah.

***
Tampaknya uraian saya ini akan panjang jika ingin
diteruskan. Jadi, cukup sampai sini dulu. Jika Anda belum puas,
silakan baca sendiri Al-Quran dan hadits-hadits Rasulullah. Insya
Allah, solusi dari problematika masyarakat ada semua di sana.

Intinya, saya hanya ingin menunjukkan bahwa aturan


Islam adalah satu-satunya aturan yang bisa menyelesaikan
semua problematika ummat. Dan, Islam adalah rahmat bagi
seluruh alam. Jadi, sangat wajar jika ummat Islam rindu untuk
diatur oleh Islam, dan bisa merasakan kembali sejuknya tinggal
207

208