Anda di halaman 1dari 27

A.

TAKSONOMI BLOOM
Taksonomi berasal dari dua kata dalam bahasa Yunani yaitu tassein yang berarti mengklasifikasi dan
nomos yang berarti aturan. Jadi Taksonomi berarti hierarkhi klasifikasi atas prinsip dasar atau aturan.
Istilah ini kemudian digunakan oleh Benjamin Samuel Bloom, seorang psikolog bidang pendidikan yang
melakukan penelitian dan pengembangan mengenai kemampuan berpikir dalam proses pembelajaran.
Sejarah taksonomi bloom bermula ketika awal tahun 1950-an, dalam Konferensi Asosiasi Psikolog
Amerika, Bloom dan kawan-kawan mengemukakan bahwa dari evaluasi hasil belajar yang banyak
disusun di sekolah, ternyata persentase terbanyak butir soal yang diajukan hanya meminta siswa untuk
mengutarakan hapalan mereka. Konferensi tersebut merupakan lanjutan dari konferensi yang dilakukan
pada tahun 1948. Menurut Bloom, hapalan sebenarnya merupakan tingkat terendah dalam kemampuan
berpikir (thinking behaviors). Masih banyak level lain yang lebih tinggi yang harus dicapai agar proses
pembelajaran dapat menghasilkan siswa yang kompeten di bidangnya. Akhirnya pada tahun 1956, Bloom,
Englehart, Furst, Hill dan Krathwohl berhasil mengenalkan kerangka konsep kemampuan berpikir yang
dinamakan Taxonomy Bloom. Jadi, Taksonomi Bloom adalah struktur hierarkhi yang
mengidentifikasikan skills mulai dari tingkat yang rendah hingga yang tinggi. Tentunya untuk mencapai
tujuan yang lebih tinggi, level yang rendah harus dipenuhi lebih dulu. Dalam kerangka konsep ini, tujuan
pendidikan ini oleh Bloom dibagi menjadi tiga domain/ranah kemampuan intelektual (intellectual
behaviors) yaitu kognitif, afektif dan psikomotorik.
Ranah Kognitif berisi perilaku yang menekankan aspek intelektual, seperti pengetahuan, dan
keterampilan berpikir. Ranah afektif mencakup perilaku terkait dengan emosi, misalnya perasaan, nilai,
minat, motivasi, dan sikap. Sedangkan ranah Psikomotorik berisi perilaku yang menekankan fungsi
manipulatif dan keterampilan motorik / kemampuan fisik, berenang, dan mengoperasikan mesin. Para
trainer biasanya mengkaitkan ketiga ranah ini dengan Knowledge, Skill and Attitude (KSA). Kognitif
menekankan pada Knowledge, Afektif pada Attitude, dan Psikomotorik pada Skill. Sebenarnya di
Indonesia pun, kita memiliki tokoh pendidikan, Ki Hajar Dewantara yang terkenal dengan doktrinnya
Cipta, Rasa dan Karsa atau Penalaran, Penghayatan, dan Pengamalan. Cipta dapat diidentikkan dengan
ranah kognitif , rasa dengan ranah afektif dan karsa dengan ranah psikomotorik.
Ranah kognitif mengurutkan keahlian berpikir sesuai dengan tujuan yang diharapkan. Proses berpikir
menggambarkan tahap berpikir yang harus dikuasai oleh siswa agar mampu mengaplikasikan teori
kedalam perbuatan. Ranah kognitif ini terdiri atas enam level, yaitu: (1) knowledge (pengetahuan), (2)
comprehension (pemahaman atau persepsi), (3) application (penerapan), (4) analysis (penguraian atau
penjabaran), (5) synthesis (pemaduan), dan (6) evaluation (penilaian).
Level ranah ini dapat digambarkan dalam bentuk piramida berikut:

nkcoapsyevwlmrithudg

Tiga level pertama (terbawah) merupakan Lower Order Thinking Skills, sedangkan tiga level berikutnya
Higher Order Thinking Skill. Namun demikian pembuatan level ini bukan berarti bahwa lower level tidak
penting. Justru lower order thinking skill ini harus dilalui dulu untuk naik ke tingkat berikutnya. Skema
ini hanya menunjukkan bahwa semakin tinggi semakin sulit kemampuan berpikirnya.

.

motivasi. penghargaan. semangat.Ranah Afektif mencakup segala sesuatu yang terkait dengan emosi.minat. nilai. Lima kategori ranah ini diurutkan mulai dari perilaku yang sederhana hingga yang paling kompleks. . misalnya perasaan. dan sikap.

Perkembangan tersebut dpat diukur sudut kecepatan. keterampilan motorik dan kemampuan fisik.Ranah Psikomotorik meliputi gerakan dan koordinasi jasmani. . jarak. ketepatan. Ada tujuh kategori dalam ranah psikomotorik mulai dari tingkat yang sederhana hingga tingkat yang rumit. cara/teknik pelaksanaan. Ketrampilan ini dapat diasah jika sering melakukannya.

tiga level pertama (terbawah) merupakan Lower Order Thinking Skills. namun urutan level mash sama yaitu urutan rendah hingga terttingi. knowledge diubah menjadi remembering (mengingat)  Pada level 2. Revisi Krathwohl ini sering digunakan dalam merumuskan tujuan belajar yang sering kita kenal dengan istilah C1 sampai dengan C6. Taksonomi Bloom baru versi Kreathwohl pada ranah kognitif terdiri dari enam level: remembering (mengingat). sedangkan tiga level berikutnya Higher Order Thinking Skill. Lorin Anderson Krathwohl dan para ahli psikologi aliran kognitivisme memperbaiki taksonomi Bloom agar sesuai dengan kemajuan zaman. analysis diubah menjadi analyzing (menganalisis)  Pada level 5. Perubahan istilah dan pola level taksonomi bloom dapat digambarkan sebagai berikut: Noun (kata benda) To verb form (kata kerja) Sama dengan sebelum revisi. understanding (memahami). Revisi hanya dilakukan pada ranah kognitif. synthesis dinaikan levelnya menjadi level 6 tetapi dengan perubahan mendasar.nkcoapsyevwlmithgrubd REVISI TAKSONOMI BLOOM Pada tahun 1994. mengurai). evaluation turun posisinya menjadi level 5 dengan sebuata evaluating (menilai) Jadi. secara logika adalah sebagai berikut: . Revisi tersebut meliputi: 1. Jadi. comprehension dipertegas menjadi understanding ( memahami)  Pada level 3. Perubahan kata kunci dari kata benda menjadi kata kerja untuk setiap level taksonomi 2. dalam menginterpretasikan piramida di atas. yaitu  creating (mencipta) Pada level 6.evaluating (menilai) dan creating (mencipta). Perubahan-perubahan berikut dapat dijelaskan sebagi berikut :  Pada level 1. analyzing (menganalisis. Perubahan mendasar terletak pada level dan 6. salah seorang murid Bloom. Perubahan hamper terjadi pada semua level hierarkhis. application diubah menjadi applying (menerapkan)  Pada level 4. Hasil perbaikan tersebut baru dipublikasikan pada tahun 2001 dengan nama Revisi Taksonomi Bloom. applying (menerapkan).

pemilihan kata kerja kunci yang tepat memegang peranan penting dalam menjelaskan tujuan program diklat. Tentukan tujuan pembelajaran 2. b. Kata kerja kunci tersebut merupakan acuan bagi instruktur dalam menentukan kedalaman penyampaikan materi.apakah termasuk Persepi. Adaptasi. Namun demikian. baik pada tujuan program diklat. apakah cukup memahami saja. Kesiapan. Proses pembelajaran dapat dimulai dari tahap mana saja tergantung kreasi tiap orang. memang diakui bahwa pentahapan itu sebenarnya cocok untuk proses pembelajaran yang terintegrasi. Mungkin itulah alasan mengapa revisi baru dilakukan pada ranah kognitif yang difokuskan pada knowledge. Skill menekankan aspek psikomotorik yang membutuhkan koordinasi jasmani sehingga lebih tepat dipraktekkan bukan dipelajari. mendemonstrasikan. Menganalisis. menganalisis dan mengevaluasi. skills atau attitude. Tentukan ranah kemampuan intelektual sesuai dengan kompetensi pembelajaran. Organisasi dan Karakterisasi. 4.     Sebelum kita memahami sebuah konsep maka kita harus mengingatnya terlebih dahulu Sebelum kita menerapkan maka kita harus memahaminya terlebih dahulu Sebelum kita menganalisa maka kita harus menerapkannya dulu Sebelum kita mengevaluasi maka kita harus menganalisa dulu Sebelum kita berkreasi atau menciptakan sesuatu. Reaksi yang kompleks Kreativitas. Bagaimana Cara Menggunakan Taksonomi Bloom? Dalam kaitannya dengan tugas pengajar/widyaiswara dalam menyusun kurikulum. menilai. Menilai. untuk menjelaskan instruksi kedalaman materi. Tentukan kompetensi pembelajaran yang ingin dicapai apakah peningkatan knowledge. dan sebagainya. 5. apakah termasuk penerimaan. dapat ditentukan pula media pembelajaran yang sesuai dengan mengacu pada Bloom’s Cognitive Wheel. dan peserta didik 3. Membuat. Dalam hal ini perlu dipertimbangkan karakteristik mata diklat. Ranah kognitif : Tentukan tingkatan taksonomi. kompetensi dasar dan indikator pencapaian. untuk penerapan taksonomi bloom dalam ranah kognitif. Ranah Psikomotorik : Kategorikan ranah tersebut. c. a. Ranah Afektif: Kategorikan ranah tersebut. . kompetensi dasar dan indikator pencapaian agar konsep materi tersampaikan secara effektif. Langkah-langkah yang harus digunakan dalam menerapkan Taksonomi Bloom adalah sebagai berikut: 1. Reaksi yang diarahkan. Memahami. Gunakan kata kerja kunci yang sesuai. Beberapa kritik dilemparkan kepada penggambaran piramida ini. Sebagai tambahan. Reaksi natural (mekanisme). mengaplikasikan. Ada yang beranggapan bahwa semua kegiatan tidak selalu harus melewati tahap yang berurutan.Menerapkan. Attitude juga merupakan faktor yang sulit diubah selama proses pembelajaran karena attitudeterbentuk sejak lahir. maka kita harus mengingat. Hingga saat ini ranah afektif dan psikomotorik belum mendapat perhatian. Responsif. Nilai yang dianut (Nilai diri). memahami. apakah pada tingkatan Mengingat.

yaitu: a. Tes yang mengukur kemampuan khusus atau tes bakat yang dibuat untuk mengungkap kemampuan potensial dalam bidang tertentu c. untuk mengukur atribut tertentu. Respon subjek atas tes merupakan perilaku yang ingin diketahui dari penyelenggaraan tes. kemampuan atau bakat yang dimiliki oleh individu atau kelompok. Dalam kaitan dengan pembelajaran aspek tersebut adalah indikator pencapaian kompetensi. Dari dua definisi tersebut dan uraian lebih jauh tentang itu dapat ditarik pengertian bahwa: a. Tes yang ditujukan untuk mengukur prestasi yang digunakan untuk mengungkapkan kemampuan aktual sebagai hasil belajar d. Tes menghendaki subjek agar menunjukkan apa yang diketahui atau apa yang dipelajari dengan cara menjawab atau mengerjakan tugas dalam tes. Tes berasal dari bahasa Perancis yaitu “testum” yang berarti piring untuk menyisihkan logam mulia dari material lain seperti pasir. Tes yang mengungkap aspek kepribadian (personality assesment) yang bertujuan mengungkap karakteristik individual subjek dalam aspek yang diukur. batu. Jenis-jenis Tes . Tes yang mengukur intelegensia umum yang dirancang untuk mengukur kemampuan umum seseorang dalam suatu tugas b. tanah. b. BENTUK-BENTUK INSTRUMENT SEBGAI ALAT EVALUASI. intelegensia. 1.B. yang secara keseluruhan mungkin mustahil dapat tercakup dalam tes. atau tugas-tugas yang harus dilakukan oleh peserta tes dengan tujuan untuk mengukur suatu aspek tertentu dari peserta tes. Tes pada umumnya berisi sampel perilaku. dilakukan dengan prosedur administrasi dan pemberian angka yang jelas dan spesifik. Tes pada dasarnya adalah alat ukur atribut psikologis yang objektif atas sampel perilaku tertentu. pengetahuan. Dalam psikologi. cakupan butir tes yang bisa dibuat dari suatu materi tidak terhingga jumlahnya. pernyataanpernyataan yang harus dipilih/ditanggapi. Kemudian diadopsi dalam psikologi dan pendidikan untuk menjelaskan sebuah instrumen yang dikembangkan untuk dapat melihat dan mengukur dan menemukan peserta Tes yang memenuhi kriteria tertentu. Tes Tes secara sederhana dapat diartikan sebagai himpunan pertanyaan yang harus dijawab. karena tes memang mengukur perilaku. sebagai manifestasi atribut psikologis yang mau diukur. sehingga hasilnya relatif ajeg bila dilakukan dalam kondisi yang relatif sama. PROSEDUR PENYUSUNAN INSTRUMEN DAN PENGEMBANGANNYA Instrumen penilaian terdiri dari instrument penilaian tes dan instrument penilaian non tes. sehingga tes harus dapat mewakili kawasan (domain) perilaku yang diukur. 2005) mendefinisikan tes adalah serangkaian pertanyaan atau latihan atau alat lain yang digunakan untuk mengukur keterampilan. dan sebagainya. untuk itu perlu pembatasan yang jelas c. Tes adalah prosedur pengukuran yang sengaja dirancang secara sistematis. tes dapat diklasifikasikan menjadi empat. Cronbach (dalam Azwar.

sangat besar pengaruhnya terhadap siswa . 2005): Langkah Pokok Mengembangkan Tes Mengembangkan tes sebagai instrumen asesmen proses dan hasil belajar adalah menyusun alat ukur suatu gejala yang bersifat abstrak yaitu pemahaman dan penguasaan anak terhadap materi yang berupa seperangkat kompetensi dipersyaratkan. b. Karena demikian seringnya pengajar menyusun tes hasil belajar. dimana ketepatan (validitas) maupun keajegan hasil pengukurannya (reliabilitas) serta obyektivitas hasil pengukurannya tidak lagi perlu diragukan. dan kurang perlu mempersiapkannya secara cermat. Pembagian jenis tes berdasarkan cara penyusunan. Jenis tes berdasarkan waktu penyelenggaraan. Proses pengukuran diharapkan dapat menghasilkan data yang valid dan akurat sehingga harus dilakukan secara terencana dan sistematis. Pengukuran berbagai atribut yang berupa benda ataupun aspek-aspek phisik seperti mengukur tinggi bangunan. Sebagai pendidik. Pembagian jenis tes berdasarkan cara mengerjakan. ada lima jenis atau cara pembagian yaitu: a. Seperti halnya atribut psikologis yang lain ketika melakukan pengukuran terhadap hasil belajar. mengukur tinggi badan. meter. e. ataupun kecepatan motor sangat mungkin dapat dilakukan dengan tepat karenanya dapat diterima secara universal karena validitasnya sangat mudah dibuktikan. Pembagian jenis tes berdasarkan tujuan penyelenggaraan. berat badan. luas tanah. c. d. tes sebagai alat ukur mungkin tidak akan pernah dapat menggambarkan hasil dengan validitas dan reliabilitas ataupun obyektivitas yang sempurna. Langkah-Langkah Menyusun Tes Proses pengukuran merupakan proses kuantifikasi terhadap atribut.Pada jenis-jenis tes. benda atau gejala tertentu. Padahal penyusunan tes. karena menganggap hal ini sebagai hal yang sudah biasa/umum dilakukan. yang menjadi persoalan kemudian adalah pengukuran hasil belajar yang termasuk bidang non phisik atau aspek yang bersifat abstrak. Untuk itu dalam menyusun tes sebagai alat ukur hasil belajar perlu dipertimbangkan beberapa permasalahan yang merupakan keterbatasan dari tes sebagai alat ukur psikologis (Saifuddin. Alat yang biasa digunakan sebagai alat ukur dari hasil belajar adalah tes. Pembagian jenis tes berdasarkan bentuk jawaban. Sehingga dapat dikatakan bahwa tes merupakan salah satu alat ukur dalam melakukan asesmen proses dan hasil pembelajaran. justru sering menimbulkan kecerobohan. karena dengan mudah akan dapat dilakukan pengukuran ulang dengan hasil yang sama persis. Dalam hal ini pendidik harus paham bahwa aspek yang bersifat abstrak seperti hasil belajar ini dalam melakukan pengukuran memerlukan perencanaan dan pelaksanaan yang sistematis. dan dalam kenyataan di lapangan sebagian besar tenaga pengajar memang menggunakan teknik tes sebagai upaya untuk mengukur hasil belajar tersebut. suhu udara. Tinggi suatu bangunan dengan mudah dapat diukur dengan centimeter. berat beras dengan cepat dapat diukur dengan timbangan dan sebagainya. mengukur tinggi bangunan imbang beras.

(2) Menulis materi pokok. jumlah peserta tes. Menetapkan panjang Tes : langkah menetapkan panjang tes.yang akan mengikuti tes. untuk mengurangi kesalahan dalam pengukuran maka tes harus direncanakan secara cermat. dan cakupan materi yang diujikan banyak. dengan proporsi yang sebanding sesuai dengan jenjang pendidikan. langkah ini biasanya dilakukan dengan menyusun kisi-kisi soal yaitu daftar spesifikasi. tetapi seharusnya Anda perlu mencermatinya karena langkah ini juga memerlukan kecermatan dalam memilih kalimat-kalimat yang mudah dimengerti dan tidak menimbulkan interpretasi ganda. contoh. Penetapan ini penting mengingat bahwa kemampuan belajar merupakan proses yg kompleks dan menyangkut pemahaman yang bersifat abstrak. Bentuk Tes : Pemilihan bentuk tes akan dapat dilakukan dengan tepat bila didasarkan pada  tujuan tes. keandalan yang diinginkan. meliputi berapa waktu yang tersedia untuk melakukan tes. Ada tiga langkah dalam mengembangkan kisi-kisi tes dalam sistem penilaian berbasis kompetensi dasar. Bentuk tes objektif lebih cocok digunakan pada mata pelajaran yang batasnya jelas. dan sebagainya. waktu koreksi singkat. bentuk tes objektif pilihan ganda dan bentuk tes benar salah cocok digunakan bila jumlah peserta tes banyak. (1) Menulis kompetensi dasar. Biologi. dan karakteristik mata pelajaran yang diujikan. hal ini terkait erat dengan penetapan jumlah item-item tes yang akan dikembangkan. guru bisa memberikan pembobotan yang berbeda dari setiap soal yang disusun. Misalnya. sehingg harus jelas pada bagian mana cakupan materi yang akan diukur dan dikembangkan dalam soal tes. maka teknik penilaiannya adalah tes tertulis. Dalam memilih teknik tes mana yang akan digunakan Pendidik juga harus mempertimbangkan ciri indikator. Secara umum ada lima langkah pokok yang harus dilewati yaitu : a) Perencanaan Tes  Menentukan cakupan materi yang akan diukur yang menyangkut penetapan cakupan materi dan  aspek (ranah) kemampuan yang akan diukur. dan (4) Menentukan jumlah soal. sedang bila tuntutan indikator berkaitan dengan pemahaman konsep. Tingkat berpikir yang digunakan dalam mengerjakan tes harus mencakup mulai yang rendah sampai yang tinggi. dan waktu yang tersedia. maka teknik penilaiannya adalah tes unjuk kerja (performance). apabila tuntutan indikator melakukan sesuatu. b) Menulis Butir Pertanyaan  Menulis draft soal : Menulis soal bagi Anda pasti sudah menjadi pekerjaan rutin sebelum ulangan. Ada tiga hal yang harus dipertimbangkan dalam menentukan jumlah soal. Apabila oleh pendidik ada materi yang dinilai lebih penting dan mempunyai tingkat kesulitan yang lebih tinggi. (1) apakah pertanyaan mudah dimengerti? (2) apakah sudah sesuai dengan indikator (3) apakah tata letak keseluruhan baik? (4) apakah perlu pembobotan (5) apakah kunci jawaban sudah benar? . waktu yang tersedia untukmemeriksa lembar jawaban tes. yaitu bobot masing-masing bagian yang telah ditentukan dalam kisi-kisi. misalnya mata pelajaran Matematika. cakupan materi tes. Dalam hal ini perlu diperhatikan beberapa hal yaitu. Ada dua hal yang perlu mendapat perhatian dalam penulisan butir pertanyaan yaitu format pertanyaan dan alternatif jawaban. (3) Menentukan indikator. yaitu.

Misalnya revisi dilakukan untuk. Langkah ini dapat dilakukan dengan beberapa cara misalnya diskusi dengan sesama pendidik ataupun dengan cara mencermati kembali substansi dari konsep yang akan diukur. Sehingga dalam melakukan langkah ini harus pula dijaga obyektivitas dengan selalu menggunakan kunci jawaban dan indikator keberhasilan. dan (6) Pemahaman bahasa yang digunakan dsbnya. (5) Kejelasan petunjuk pengisian. Memantapkan Validitas Isi (Content Validity): Content validity atau validitas isi pada dasarnya  merupakan koefisien yang menunjukkan kesesuaian antara draft tes yang telah disusun dengan isi dari konsep dan kisi-kisi yang telah disusun. hasilnya berupa angka yang disebut skor mentah. apakah semua materi telah terjabar dalam item. baik dalam pengawasan. Namun untuk bentuk soal tes uraian masalah ini akan menjadipersoalan. angka yang menunjukkan berapa soal yang bisa dijawab benar oleh siswa. (3) Memperjelas petunjuk. Penentuan jumlah soal yang bisa dijawab benar ini tidak menjadi masalah untuk tes obyektif. Materi tentang ini akan secara khusus dibahas pada UNIT 6. dan berbagai kode etik penyelenggaraan tes yang lain. (2) Bagaimana rencana pelaksanaan. Anggapan itu kurang benar karena uji coba tetap diperlukan dalam penyusunan tes buatan guru. try out tidak harus dilakukan secara formal dan dalam skala besar. untuk kemudian berdasar data hasil analisis tersebut akan diambil keputusan dalam berbagai kepentingan.Setelah ujian dilaksanakan maka langkah berikut adalah koreksi. menjaga kerahasiaan soal. dan apakah soal yang disusun telah pula sesuai ranah atau kawasan yang akan diukur. Memberikan skor pada hasil tes: Yaitu memeriksa hasil jawaban dari para siswa. (2) Menambah butir-butir baru. dan interpretasi dari hasil ujian tersebut. Melakukan Uji Coba (try out) : Mungkin Anda mengira bahwa try out hanya digunakan untuk tes  standard dan tidak perlu dilakukan untuk tes buatan guru. Melakukan Analisis Hasil Tes : Setelah semua pekerjaan siswa dikoreksi langkah berikutnya adalah melakukan analisis terhadap skor hasil tes. (4) Kejelasan format tes. dsbnya. (3) Memperkirakan penggunaan waktu pengerjaan. c) Melakukan pengukuran dengan tes  Menjaga obyektivitas pelaksanaan tes: Kegiatan pengukuran yang berupa penyelenggaraan tes  juga sudah menjadi kegiatan Anda sehari-hari. Mengembangkan Tes Sebagai Instrumen Asesmen . karena setiap siswa akan mengemukakan argumentasi yang berbeda-beda untuk menjawab soal dan permasalahan tes. (1) Eliminasi butir-butir yang jelek. untuk kemudian dilakukan revisi sesuai dengan kebutuhan. (1) Analisis item. meskipun demikian pendidik tetap harus menjaga obyektifitas. yang perlu Anda perhatikan adalah bahwa try out dapat dilakukan untuk berbagai kepentingan diantaranya adalah untuk. untuk memberikan  skor/angka sebagai penghargaan terhadap setiap poin soal yang dapat dikerjakan. Revisi soal : Hasil dari uji coba kemudian dilakukan analisis untuk mencari tingkat kesulitan soal dan penggunaan bahasa yang kurang komunikatif. dan (4) Memodifikasi format dan urutan.

menyimpulkan. dalam langkah kegiatan umum masuk dalam langkah “menentukan cakupan materi yang akan diukur”. kompetensi dasar. Sesuai dengan Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Mengembangkan Tes Pada Kawasan Kognitif.Setelah membahas langkah-langkah pokok yang seharusnya dilakukan dalam pelaksanaan tes. Di samping itu pemilihan bentuk tes akan dapat dilakukan dengan tepat bila didasarkan pada tujuan tes. seperti: menyebutkan. memberikan contoh:mengidentifikasi. Afektif. Menetapkan Jenis Tes dan Penulisan Butir Soal. mendemonstrasikan. (3) Bahasa. karakteristik mata pelajaran yang diukur pencapaiannya. Indikator dirumuskan dengan menggunakan kata kerja operasional yang dapat diukur. Indikator merupakan ukuran. ciri-ciri. Dan Psikomotor 1. dan (4) Kaidah Penulisan. misalnya rumusan soal atau pertanyaan harus jelas dan tegas. b. (2) Konstruksi. akan pula dapat ditetapkan jenis tes yang mana. maka indikator pencapaian hasil belajar dikembangkan oleh pendidik dengan memperhatikan perkembangan dan kemampuan setiap peserta didik. Mengembangkan Tes pada Domain Kognitif . bila ditetapkan tes. Dengan tetap mengacu pada langkah-langkah pokok tersebut. misalnya rumusan soal tidak menggunakan kata/kalimat yang menimbulkan penafsiran ganda. cakupan materi tes. Dalam menyusun instrumen penilaian tertulis perlu dipertimbangkan. dan indikator keberhasilannya. Setelah Anda menjabarkan standar kompetansi. karakteristik. (1) Materi. Dengan demikian sistem penilaian yang dilakukan guru semakin sempurna atau semakin memenuhi prinsipprinsip penilaian. Indikator-indikator pencapaian hasil belajar dari setiap kompetensi dasar merupakan acuan yang digunakan untuk menyusun butir tes. mempraktekkan. menghitung. jumlah peserta tes. maka Anda mulai dapat menetapkan indikator yang menunjukkan tingkat pencapaian kompetensi tersebut sebaiknya dapat diukur dengan menggunakan alat ukur apa. Kegiatan ini. Setiap kompetensi dasar dapat dikembangkan menjadi beberapa indikator pencapaian hasil belajar. pembuatan atau proses yang berkontribusi / menunjukkan ketercapaian suatu kompetensi dasar. a. misalnya kemampuan guru dan sarana atau perasarana penunjang. dan daya dukung sekolah.Menjabarkan Kompetensi Dasar ke dalam Indikator Pencapaian Hasil Belajar. misalnya kesesuian soal dengan kompetensi dasar dan indikator pencapaian pada kurikulum tingkat satuan pendidikan. membedakan. harus berpedoman pada kaidah penulisan soal yang baku dari berbagai bentuk soal penilaian. termasuk waktu yang tersedia untuk memeriksa lembar jawaban tes. Rancangan penilaian ini diinformasikan kepada siswa pada awal pertemuan (awal semester). keluasan dan kedalaman kompetensi dasar. berikut ini akan dikemukakan langkah-langkah detail yang diharapkan dapat menuntun Anda mengembangkan tes sebagai instrumen asesmen di kelas.

dan (10) letak pilihan jawaban benar ditentukan secara acak. (4) tidak ada petunjuk jawaban benar. jenis melengkapi atau isian. Tes Lisan Pertanyaan secara lisan masih sering digunakan untuk mengukur daya serap peserta didik pada kawasan kognitif. (7) pilihan jawaban logis dan tidak menggunakan negatif ganda. Yang perlu Anda ingat tes lisan harus disampaikan dengan jelas. Untuk menghindari kelemahan tersebut cara yang ditempuh adalah: (a) jawaban tidak panjang. karena kunci jawabannya hanya satu. dan semua peserta didik harus diberi kesempatan yang sama. Pertanyaan pada bentuk soal ini di antaranya adalah: hitunglah. tafsirkan. Ada tiga jenis soal bentuk ini. memilih. yaitu mulai dari hapalan sampai dengan evaluasi. (8) kalimat yang digunakan sesuai dengan tingkat perkembangan peserta tes. Jawaban salah satu siswa harus dikembalikan ke forum kelas untuk ditanggapi siswa yang lain. d. e. (3) panjang kalimat pilihan jawaban relatif sama. baru menunjuk peserta untuk menjawab pertanyaan. seperti pengetahuan dan pemahaman. Tingkat berpikir untuk pertanyaan lisan di kelas cenderung rendah. menyusun. (b) tidak melihat nama peserta ujian. (2) memerlukan waktu yang lama untuk melakukan koreksi. (4) hindari mengggunakan pilihan jawaban “semua benar “ atau “semua salah”. Keunggulan bentuk tes ini dapat mengukur tingkat berpikir dari yang rendah sampai yang tinggi. dan jenis identifikasi atau . yaitu: jenis pertanyaan. Bentuk Tes uraian Obyektif Bentuk ini tepat digunakan untuk bidang Matematika dan IPA. Bentuk Tes jawaban Singkat Tes ini mengharuskan siswa menuliskan jawaban singkatnya sesuai dengan petunjuk. dan (d) menyiapkan pedoman penskoran. buat kesimpulan. Setiap langkah ada skornya.Pada dasarnya akan sangat mudah mengembangkan tes untuk mengukur indikator pencapaian hasil belajar pencapaian kawasan (domain) kognitif. (c) memeriksa tiap butir secara keseluruhan. c. Tes Pilihan Ganda Ketika Anda mengembangkan tes pilihan ganda hendaknya memperhatikan sepuluh pedoman penulisannya yaitu: (1) soal harus jelas. (3) cakupan materi yang diujikan sangat terbatas. b. (6) pilihan jawaban angka diurutkan. sehingga bisa mencakup materi yang banyak. (9) menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan baku. Beberapa prinsip yang harus dipedomani adalah memberi waktu untuk berpikir. dan memadukan gagasan dan ideidenya dengan menggunakan kata-katanya sendiri. (4) dan adanya efek bluffing. hampir semua jenis tes dengan berbagai bentuk soal dapat digunakan untuk mengukur kawasan ini seperti misalnya : a. Pengerjaan soal ini melalui suatu prosedur atau langkahlangkah tertentu. (2) isi pilihan jawaban homogen dalam arti isi. Kelemahan bentuk tes ini adalah : (1) penskoran sering dipengaruhi oleh subjektivitas penilai. Bentuk Tes Uraian Tes ini menuntut siswa menyampaikan. Objektif disini dalam arti apabila diperiksa oleh beberapa guru dalam bidang studi tersebut hasil penskorannya akan sama.

Perlu dilakukan tindakan bila sebagian besar siswa bersikap negatif pada mata pelajaran tertentu. untuk beberapa fokus sikap diantaranya adalah : a. jender. f. dan laporan pribadi. Bentuk Tes Menjodohkan Pengerjaan tes ini dilakukan dengan menjodohkan atau memasangkan suatu premis dengan daftar kemungkinan jawaban. Sikap terhadap permasalahan faktual yang ada di sekitarnya Penilaian afektif juga dapat melihat fokus nilai semacam kejujuran. 2. Sikap terhadap diri sendiri Meskipun harga diri siswa dipengaruhi oleh keluarga dan kejadian di luar sekolah. hal-hal yang terjadi di kelas diharapkan dapat meningkatkan harga diri siswa. Langkah-langkah dalam menyusun skala likert antara . pertanyaan langsung. b. e. Hasil observasi perilaku dapat dijadikan sebagai umpan balik dalam pembinaan. Siswa yang memiliki sikap positif terhadap belajar cenderung menjadi pembelajar pada masa depan. (2) jumlah alternatif jawaban lebih banyak dari pada premis. Sikap positif terhadap belajar Siswa diharapkan memiliki sikap yang baik terhadap belajar. dan (3) tidak menimbulkan interpretasi ganda. Perilaku adalah kecenderungan seseorang dalam sesuatu hal. (2) rumusan kalimat soal harus komunikatif. (3) alternatif jawaban berhubungan secara logis dengan premisnya. (4) rumusan kalimat soal harus komunikatif. Mengembangkan Tes pada Domain Afektif Pengembangan tes pada domain afektif ini. dan nilai kebebasan. Bentuk Tes Unjuk Kerja (Performance) Tes bentuk ini sering pula diklasifikasikan dalam bentuk penilaian autentik atau penilaian alternatif yang bertujuan untuk mengetahui tingkat kemampuan peserta didik dalam menyelesaikan masalah-masalah di kehidupan nyata. kebangsaan dan keagamaan.asosiasi. c. dan suatu petunjuk untuk menjodohkan masing-masing premis itu dengan satu kemungkinan jawaban. Penilaian sikap dapat dilakukan dengan beberapa cara atau teknik antara lain: observasi perilaku. Fokus penilaian afektif dapat dikenakan terhadap permasalahan-permasalahan aktual di sekitar siswa. (1) soal mengacu pada indikator. Bila Anda menuliskan soal bentuk ini perhatikan bahwa: (1) soal harus sesuai dengan indikator. d. dan (5) butir soal menggunakan Bahasa Indonesiayang baik dan benar. Sikap positif terhadap perbedaan Siswa perlu mengembangkan sikap yang lebih toleran dan menerima perbedaan seperti etnik. Ketika Anda menyusun tes bentuk ini perhatikan keharusannya yaitu. integritas. Pada tes ini biasanya digunakan dengan memanfaatkan skala likert. g. keadilan. Sikap terhadap mata pelajaran Tes sikap terhadap mata pelajaran dapat diberikan pada awal atau akhir program agar siswa memiliki sikap yang lebih baik pada suatu mata pelajaran.

(3) Mengklasifikasikan pernyataan positif atau negatif. ucapan. Instrumen psikomotor ini terdiri dari dua macam. Hasil belajar psikomotor dapat diklasifikasikan menjadi tiga. Soal untuk ranah psikomotor juga harus mengacu pada standar kompetensi yang sudah dijabarkan menjadi kompetensi dasar. Pada tingkat rule using siswa sudah dapat menggunakan hukum-hukum dan atau pengalamanpengalaman untuk melakukan keterampilan yang komplek. yang biasanya menyertai atau inheren dalam pelaksanaan proses belajar mengajar sangat banyak macamnya. menggunakan jangka sorong. yaitu: a. motor chaining.lain adalah: (1) Memilih variabel afektif yang akan diukur. Setiap butir standar kompetensi dijabarkan menjadi 3 sampai dengan 6 butir kompetensi dasar. (c) demonstrasi. Di antaranya bisa disebutkan adalah observasi (baik dengan cara langsung. siswa sudah mampu menggabungkan lebih dari dua keterampilan dasar menjadi satu keterampilan gabungan. dilihat. dan (8) Melaksanakan penilaian. (b) gambar. maupun partisipasi). misalnya memegang raket. Teknik evaluasi non-tes berarti melaksanakan penilaian dengan tidak mengunakan tes. sikap sosial. specific responding. tak langsung. angket (tertutup atau . yakni (a) mengingatkan kembali sub-sub keterampilan yang sudah dipelajari dan (b) mengingatkan prosedur-prosedur atau langkah-langkah gerakan yang telah dikuasainya. siswa baru mampu merespons hal-hal yang sifatnya fisik. ada kalanya satu butir soal ranah psikomotor terdiri dari beberapa indikator. (4) Menentukan jumlah gradual dan frase atau angka yang dapat menjadi alternatif pilihan. yang dapat didengar. baik secara individu maupun secara kelompok. b. (6) Melakukan ujicoba. misal memukul bola. (d) praktik. wawancara (terstruktur atau bebas). Mengembangkan Tes pada Domain Psikomotor Pada umumnya pelajaran yang termasuk kelompok psikomotor adalah mata pelajaran yang indikator keberhasilan yang lebih beorientasi pada gerakan dan menekankan pada reaksi-reaksi fisik atau keterampilan tangan. riwayat hidup dan lain-lain. tingkah laku. (5) Menyusun pernyataan dan pilihan jawaban menjadi sebuah alat penilaian. Yang berhubungan dengan kegiatan belajar dalam pendidikan. yaitu soal da lembar yang digunakan untuk mengamati dan menilai jawaban siswa terhadap soal tersebut 2. (2) Membuat beberapa pernyataan tentang variabel afektif yang dimaksudkan. Alat penilaian yang non-test. misal bagaimana memukul bola yang tepat agar dengan tenaga yang sama namun hasilnya lebih keras. Namun. atau diraba. sifat. memegang bed untuk tenis meja dsb. Untuk kondisi eksternal dapat dilakukan dengan: (a) instruksi verbal. Gagne (1977) berpendapat bahwa ada 2 kondisi yang dapat mengoptimalkan hasil belajar keterampilan yaitu kondisi internal dan eksternal. Selanjutnya setiap butir kompetensi dasar dapat dijabarkan menjadi 3 sampai dengan 6 indikator dan setiap indikator harus dapat dibuat lebih dari satu butir soal. Teknik penilaian ini umumnya untuk menilai kepribadian anak secara menyeluruh meliputi sikap. Untuk kondisi internal dapat dilakukan dengan cara. (7) Membuang butir-butir pernyataan yang kurang baik. dan (e) umpan balik. menggergaji. Non Test Alat penilaian dapat berarti teknik evaluasi.

Observasi dapat dilakukan pada berbagi tempat misalnya kelas pada waktu pelajaran. atau tidak sesuai dengan yang kita kehendaki. sangat. Observasi Observasi merupakan suatu pengamatan langsung terhadap siswa dengan memperhatikan tingkah lakuya.terbuka). Penggolongan Teknik Non-tes 1. observasi tidak mengambil bagian dalam kegiatan yang dilakukan oleh objeknya. observer sudah mengatur sruktur yang berisi kategori atau kriteria. Kalau observasi nonpartisipatif. masalah yang akan diamati. 2. Sedangkan observasi nonpartisipatif. portfolio. tetapi juga menilai reaksi tersebut. dan berapa kali muncul. Format yang disusun berisi item-item tentang kejadian atau tingkah laku yang digambarkan akan terjadi. student journal. dan tidak ikut bermain. dan sebagainya. upacara dan lain-lain. Keberhasilan siswa dalam proses belajar-mengajar tidak dapat diukur dengan alat tes. misalnya . Observasi sistematis dan observasi nonsitematis Observasi sistematis adalah observasi yang sebelum dilakukan. checklist. Cara dan Tujuan Observasi Menurut cara dan tujuannya observasi dapat dibedakan menjadi 3 macam: 1. Disini sebelum guru melaksanakan observasi sudah membuat kategori-kategori yang akan diamati. dilapangan pada waktu murid olah raga. Atau evaluator berada “diluar garis” seolah-olah sebagai penonton belaka. Sedangkan observasi nonsistematis yaitu apabila dalam pengamatan tidak terdapat stuktur ketegori yang akan diamati. bukan hanya mencatat bagaimana reaksi itu. Secara umum observasi adalah cara menghimpun bahan-bahan keterangan (data) yang dilakukan dengan mengadakan pengamatan dan pencatatan secara sistematis terhadap fenomena-fenomena yang sedang dijadikan sasaran pengamatan. Contoh observasi partisipatif : Misalnya guru mengamati setiap anak. concept map. sosiometri. Dari penelitian berpengalaman diperoleh suatu petunjuk bahwa mencatat data observasi bukanlah sekedar mencatat. Contoh observasi sistematis misalnya guru yang sedang mngamati anak-anak menanam bunga. tetapi juga mengadakan pertimbangan kemudian mengadakan penilaian ke dalam suatu skala bertingkat. kurang. pertanyaan-pertanyaan. guru hanya sebagai pengamat. Sebab masih banyak aspek-aspek kemampuan siswa yang sulit diukur secara kuantitatif dan mencakup objektifitas misalnya aspek efektif psikomotor. Misalnya kita memperhatikan reaksi penonton televise. Dalam menggunakan metode observasi cara yang paling efektif adalah melengkapinya dengan format atau blangko pengamatan sebagai instrumen. dihalaman sekolah pada waktu bermain. Observasi partisipatif dan nonpartisipatif Observasi partisipatif adalah observasi dimana orang yang mengobservasi (observer) ikut ambil bagian alam kegiatan yang dilakukan oleh objek yang diamatinya.

kesiapan. Observer tidak perlu mengunakan bahasa untuk berkomunikasi dengan objek yang diamati. Misalnya mengamati anak yang menyayi. Observer banyak tergantung kepada faktor-faktor yang tidak dapat dapat dikontrol sebelumya. Sifat Observasi Observasi yang baik dan tepat harus memilki sifat-sifat tertentu yaitu: Hanya dilakukan sesuai dengan tujuan pengajaran Direncanakan secara sistematis Hasilnya dicatat dan diolah sesuai dengan tujuan Dapat diperika validitas. Observasi Eksperimental Observasi eksperimental adalah observasi yang dilakukan secara nonpartisipatif tetapi sistematis. . b. antara lain: a. dan bahagia. kerjasama dan kebersihan. tetapi langsung mengamati anak yang sedang menanam bunga. 2. Observasi dapat dilakukan untuk melengkapi dan mencek data yang diperoleh dari teknik lain. 3. 4. observasi digunakan untuk: 1. Dalam observasi memungkinkan pencatatan yang serempak dengan terjadinya suatu gejala atau kejadian yang penting c. Kemudian ketegori-kategori itu dicocokkan dengan tingkah laku murid dalam menanam bunga. rehabilitas dan ketelitiaanya. 2. antara lain: a. Tujuannya untuk mengetahui atau melihat perubahan. maka hanya sebentar dan tidak langsung memegang peran. dia sedih dan duka tetapi dirahasiakan. Observasi dapat memperoleh data sebagai aspek tingkah laku anak. Tetapi belum tentu hatinya gembira. observer juga mempunyai beberapa kelemahan. Apabila si objek yang diobservasikan mengetahui kalau sedang diobservasi maka tidak mustahil tingkah lakunya dibuat-buat. ketangkasan.tentang: kerajinan. dia kelihatan gembira. Apabila seseorang yang diamati sengaja merahasiakan kehidupannya maka tidak dapat diketahui dengan observasi. lincah. Menilai minat. kalaupun menggunakan. Suatu tes essay / obyektif tidak dapat menunjukan seberapa kemampuan siswa dapat menjelaskan pendapatnya secara lisan. gejala-gejala sebagai akibat dari situasi yang sengaja diadakan. 3. b. mempunyai beberapa kelebihan. kedisiplinan. Observasi nonsistematis maka guru tidak membuat kategori-kategori diatas. misalnya wawancara atau angket d. dalam bekerja kelompok dan juga kemampuan siswa dalam mengumpulkan data 1. 3. Kelebihan dan Kelemahan Observasi Observasi sebagai alat penilai non-tes. agar observer merasa senang. Melihat proses kegiatan yang dilakukan oleh siswa maupun kelompok. Observer tidak dapat mengungkapkan kehidupan pribadi seseorag yang sangat dirahasiakan. Selain keuntungan diatas. Sebagai alat evaluasi . c. Mungkin sebaliknya. sikap dan nilai yang terkandung dalam diri siswa.

Dalam hal ini hendaknya pewawancara dapat menyesuikan diri dengan orang yang diwawancarai  Keterampilan pewawancara. b. suatu cara yang dilakukan secara lisan yang berisikan pertanyaan-pertanyaan yang sesuai dengan tujuan informsi yang hendak digali.a. f. d. Keberhasilan wawancara juga sangat dipengaruhi oleh pedoman yang dibuat oleh guru sebelum guru melaksanakan wawancara harus membuat pedoman-pedoman secara terperinci. Keberhasilan wawancara sebagai alat penilaian sangat dipengaruhi oleh beberapa hal :  Hubungan baik pewawancara dengan anak yang diwawancarai. Langkah-langkah menyusun observasi : Merumuskan tujuan Merumuskan kegiatan Menyusun langkah-langkah Menyusun kisi-kisi Menyusun panduan observasi Menyusun alat penilaian 2. Wawancara dapat memberikan keterangan keadaan pribadi hal ini tergantung pada hubungan baik antara pewawancara dengan objek. b. Wawancara (Interview) Wawancara. wawancara dibagi dalam 2 kategori. c. . c. Langkah-langkah penyusunan wawancara : Perumusan tujuan Perumusan kegiatan atau aspek-aspek yang dinilai Penyusunan kisi-kisi Penyusunan pedoman wawancara Lembaran penilaian Kelebihan dan kelemahan wawancara Kelebihan wawancara yaitu : a. wawancara bebas yaitu si penjawab (responden) diperkenankan untuk memberikan jawaban secara bebas sesuai dengan yang ia diketahui tanpa diberikan batasan oleh pewawancara. e. karena guru perlu melatih diri agar meiliki keterampilan dalam melaksanakan wawancara.  Pedoman wawancara. b. Kedua adalah wawancara terpimpin dimana pewawancara telah menyusun pertanyaan pertanyaan terlebih dahulu yang bertujuan untuk menggiring penjawab pada informasi-informasi yang diperlukan saja. Wawancara adalah suatu teknik penilain yang dilakukan dengan jalan percakapan (dialog) baik secara langsung (face to pace relition) secara langsung apabila wawancara itu dilakukan kepada orang lain misalnya kepada orang tuannya atau kepada temanya. Wawancara dapat dilaksanakan untuk setiap umur dan mudah dalam pelaksaannya c. yaitu pertama. Wawancara dapat dilaksanakan serempak dengan observasi. Keterampilan pewawancara sangat besar pengaruhnya terhadap hasil wawancara yang dilakukan. d. e. a. tentang pertanyaan yang akan diajukan.

Wawancara tidak terpimpin (Un-Guided Interview) yang sering dikenal dengan istilah wawancata sederhana (Simple Interview) atau wawancara tidak sistematis (Non-Systematic Interview). Ditinjau dari segi cara menjawab atau strukturnya. Keberhasilan wawancara dapat dipengaruhi oleh kesediaan. b. 3. Jenis-jenis angket Ditinjau dari segi siapa yang menjawab. yaitu pembagian kuesioner berdasarkan siapa yang menjawab. Kuesioner langsung Suatu kuesioner dikatakan sebagai kuesioner langsung adalah apabila kuesioner tersebut dikirimkan dan diisi langsung oleh orang yang akan dimintai jawabann tentang dirinya b. b. yaitu: a. tetangga. atau wawancara bebas. Dilaksanakan secara langsung apabila angket itu diberikan kepada anak yang dinilai atau dimintai keterangan sedangkan dilaksanakan secara tidak langsung apabila nagket itu diberikan kepada orang untuk dimintai keterangan tentang keadaan orang lain. Wawancara menuntut penguasaan bahasa yang baik dan sempurna dari pewawancara. dan pembagian berdasarkan cara menjawab. Data tentang keadaan individu lebih banyak diperoleh dan lebih tepat dibandingkan dengan observasi dan angket. atau diberikan kepada temannya. Kuesioner tertutup (berstruktur) . c. Pembagiannya dibedakan menjadi dua. Kuesioner tidak langsung Kuesioner tidak langsung adalah kuesioner yang dikirimkan dan diisi bukan oleh orang yang diminta keterangannya. kuesioner/angket dibagi menjadi dua yaitu: a. Pada umumnya tujuan penggunaan angket atau kuesioner dalam proses pembelajaran terutama adalah untuk memperoleh data mengenai latar belakang peserta didik sebagai salah satu bahan dalam menganalisis tingkah laku dan proses belajar mereka. Adanya pengaruh subjektif dari pewawancara dapat mempengaruhi hasil wawancara Jenis-jenis wawancara Ada dua jenis wawancara yang dapat pergunakan sebagai alat evaluasi. Wawancara terpimpin (Guided Interview) yang juga sering dikenal dengan istilah wawancara berstruktur (Structured Interview) atau wawancara sistematis (Systematic Interview). Angket (Questionaire) Pada dasarnya angket adalah sebuah daftar pertanyaan yang harus diisi oleh orang yang akan diukur (responden). dan sebagainya. d. kuesioner dibagi menjadi dua yaitu: a. Kuesioner jenis ini biasanya digunakan untuk mencari data tentang bawahan. Kelancaran wawancara dapat dipengaruhi oleh keadaan sekitar pelaksanaan wawancara. Angket adalah daftar pertanyaan yang terbagi dalam beberapa kategori. kemampuan individu yang diwawancarai. saudara. e. Angket sebagai alat penilaian non-tes dapat dilaksanakan secara langsung maupun secara tidak langsung. Wawancara dapat menimbulkan hubungan yang baik antara si pewawancara dengan objek. Misalnya diberikan kepada orangtuanya. Sedangkan kelemahan wawancara: a.d. anak.

Kadang-kadang pertanyaan yang diberikan tidak dijawab oleh semua anak. minat anak. kuesioner ini adalah angket/kuesioner yang membutuhkan jawaban uraian panjang. c. b. e. sebab banyak anak yang merasa kurang perlu hasil dari angket yang diterima. Karena anak merasa bebas menjawab dan tidak diawasi secara mendetail. mempunyai beberapa kelebihan dan kelemahan. alasan-alasan terbuka. dan bebas. dari anak. Riwayat hidup adalah gambaran tentang keadaan seseorang selama dalam masa kehidupannya. Kelebihan angket antara lain: a. sehingga tidak memberikan kembali angketnya Langkah-langkah menyusun angket : Merumuskan tujuan Merumuskan kegiatan Menyusun langkah-langkah Menyusun kisi-kisi Menyusun panduan angket Menyusun alat penilaian 4. perkembangan atau keberhasilan belajar peserta didik tanpa menguji (teknik non-tes) juga dapat dilengkapi atau diperkaya dengan cara melakukan pemerikasaan terhadap dokumen-dokumen. c. Pertanyaan yang diberikan melalui angket adalah terbatas. sehingga apabila ada hal-hal yang kurang jelas maka sulit untuk diterangkan kembali b. atau mungkin dijawab tetapi tidak sesuai dengan kenyataan yang sebenarnya. Setiap anak dapat memperoleh sejumlah pertanyaan yang sama c. misalnya dokumen yang memuat infomasi mengenai riwayat hidup (auto biography). f. Dengan mempelajari riwayat hidup. kemampuan. b. Pemeriksaan Dokumen (Ducumentary Analisis) Evaluasi mengenai kemajuan. maka subjek evaluasi akan dapat menarik suatu kesimpulan tentang kepribadian kebiasaan atau sikap dari obyek yang dinilai. Kuesioner terbuka disusunapabila macam jawaban pengisi belum terperinci dengan jelas sehingga jawabannya akan beraneka ragam. bakat.Kuesioner tertutup adalah kuesioner yang disusun dengan menyediakan pilihan jawaban lengkap sehingga pengisi hanya tinggal memberi tanda centang pada jawaban yang dipilih. . b. Ada kemungkinan angket yang diberikan tidak dapat dikumpulkan semua. antara lain: a. Dengan kata lain. Kuesioner terbuka (tidak berstruktur) Kuesioner terbuka adalah Kuesioner yang disusun sedemikian rupa sehingga para pengisi bebas mengemukakan pendapatnya. a. Dengan angket kita dapat memperoleh data dari sejumlah anak yang banyak yang hanya membutuhkan waktu yang sigkat. Kelebihan dan kelemahan angket Angket sebagai alat penilaian terhadap sikap tingkah laku. Dengan angket anak pengaruh subjektif dari guru dapat dihindarkan Sedangkan kelemahan angket. Yang biasanya anak dituntut untuk memberi penjelasan-penjelasan. d.

orangtua dan lingkungannya itu bukan tidak mungkin pada saat-saat tertentu sangat diperlukan sebagai bahan pelengkap bagi pendidik dalam melakukan evaluasi hasil belajar terhadap peserta didik. Langkah pemilihan teman Disini guru menyuruh semua murid untuk memilih teman-temannya yang disenangi secara berurutan sebanyak satu atau dua anak. antara lain: a. agar dapat mudah diketahui siapa yang paling banyak dipilih. Sehingga dengan demikian seorang guru dapat mengetahui bagaimana keadaan hubungan social dari tiap-tiap anak dalam suatu kelompok atau kelas. Dalam pembuatan sosiogram usahakan anak yang paling banyak dipilih diletakan ditengahtengah. Dari uraian tersebut diatas dapatlah dipahami.Berbagai informasi. Dalam memilih anak perlu disebutkan alasan mengapa harus memilih teman itu. Rating scale atau skala bertingkat . dan sebagainya. yang kesemuannya itu tidak mungkin dievaluasi dengan mengunakan tes sebagai alat pengukurnya. Dengan melihat hasil sosiometri kita dapat mengetahui bagaimana kedudukan dan relasi sosial dari masing-masing anak dalam kelompok. Sehnggga sosiometri merupakan alat yag tepat untuk menilai hubungan sosial dan tingkah laku sosial dari murid-murid dalam suatu kelas. lebih-lebih evaluasi yang berhubungan dengan kondisi kejiwaan peserta didik. susunan antar individu dan arah ubungan sosial. tingkah laku atau sikapnya. Teknik-teknik non-tes juga menempati kedudukan yang penting dalam rangka evaluasi hasil belajar. bahwa dalam rangka hasil evaluasi hasil belajar peserta didik. minatnya. evaluasi tidak harus semata-mata dilakukan denan mengunakan alat berupa tes-tes hasil belajar. 6. Untuk pembentukan kelompok dalam menentukan kelompok kerja (pembagian tugas) b. Untuk memperbaiki hubungan individu dalam kelompok dan memberi bimbingan kepada setiap anak. baik mengenai peserta didik. seperti persepsinya terhadap guru. 5. Langkah Pembuatan Gambar (Sosiogram) Dari data yang telah kita buat dalam metrik sosiometri. yang meliputi stuktur hubungan individu. dapat pula kita buat sebuah peta atau sosiogram. Langkah –langkah dalam sosiometri Adapun langkah-langkah yang dilakukan guru dalam sosiometri adalah: a. Manfaat sosiometri Sosiometri sebagai alat penilaian non-tes sangat berguna bagi guru dalam beberapa hal. Sehingga hasil dari sosiogram ini dapat dibuat pertimbangan untuk menilai sikap sosial anak dan kepribadiannya dalam kelompok. bakatnya. Untuk pengarahan dinamika kelompok c. Sosiometri Sosiometri adalah suatu penilaian untuk menentukan pola pertalian dan kedudukan seseorang dalam suatu kelompok. b.

Pernyataan tentang kualitas keberadaan sesuatu. 1-5. dan konasi (kecenderungan berbuat atau bertingkah laku sehubungan dengan obyek). perasaan dan tindakan atau tingkah laku kearah positif maupun negative terhadap suatu obyek. Angka-angka tersebut kemudian dapat dipergunakan untuk melakukan perbandingan terhadap angka yang lain. pemahaman. Daftar cocok Daftar cocok adalah sebuah daftar yang berisikan pernyataan beserta dengan kolom pilihan jawaban. karena ia memiliki informasi yang sangat kaya tentang hasil belajar yang bersifat nonkognitif. Untuk skala Likert digunakan lima angka. 2005: 112). yaitu: a. Skala Thrustone . 8. Penentuan lokasi tersebut dilakukan dengan kuatifikasi pernyataan seseorang terhadap butir pernyataan yang disediakan. yaitu kognisi (pengetahuan. 10. mulai dari yang sangat negative sampai dengan yang sangat positif. Riwayat hidup Evaluasi ini dilakukan dengan mengumpulkan data dan informasi mengenai objek evaluasi sepanjang riwayat hidup objek evaluasi tersebut. Skala 1 berarti sangat negative dan skala 5 berarti sangat positif. Participation charts ini terutama berguna untuk mengamati keiatan diskusi di kelas. Skala ini disusun dalam bentuk suatu pernyataan dan diikuti oleh pilihan respon yang menunjukkan tingkatan. Rating scale atau skala bertingkat menggambarkan suatu nilai dalam bentuk angka. b. Rating scale terdiri dari dua bagian. keyakinan terhadap suatu obyek). Bentuk-bentuk skala sikap a. 9. Definisi tersebut memuat tiga komponen sikap.Rating scale adalah instrument pengukuran non tes yang menggunakan suatu prosedur terstruktur untuk memperoleh informasi tentang sesuatu yang diobservasi yang menyatakan posisi tertentu dalam hubungannya dengan yang lain (Asmawi Zaenul dan Noehi Nasution. Si penjawab diminta untuk memberikan tanda silang (X) atau cek (√) pada jawaban yang ia anggap sesuai. Skala sikap Sikap adalah tendensi mental yang diwujudkan dalam bentuk pengetahuan atau pemahaman. Angka-angka diberikan secara bertingkat dari angka terendah hingga angka paling tinggi. 7. b. Petunjuk penilaian tentang pernyataan tersebut. afeksi (perasaan dalam menghadapi obyek). Skala Likert Prinsip pokok skala Likert adalah kedudukan seseorang dalam suatu kontinum sikap terhadap obyek sikap. Keterlibatan dalam siswa dalam pembelajaran merupakan salah satu indikasi tentang kemampuan peserta didik untuk menyesuaikan diri dengan kelompoknya atau penerimaan peserta didik terrentu dalam kelompok tertentu. Bagan partisipasi Salah satu tujuan yang ingin dicapai dalam proses pembelajaran adalah keikutsertaan peserta didik secara sukarela dalam kegiatan pembelajaran. Partisipasi peserta didik dalam proses pembelajaran harus diukur.

merupakan karya favorit. maka berarti ia setuju dengan pernyatan sebelumnya dan tidak setuju dengan pernyataan sesudahnya. Misalnya dalam menilai hasil. Prinsip penilaian berkala dan berkelanjutan Penilaian berbasis portofolio menerapkan prinsip penilaian berkala. 11. Prinsip dasar penilaian berbasis portofolio a. c.Penilaian berbasis portofolio menerapkan prinsip penilaian berkelanjutan. dan sebagainya. . Prinsip penilaian proses dan akhir Penilaian berbasis portofolio menerapkan prinsip penilaian proses dan hasil sekaligus. Skala ini digunakan untuk mengukur minat atau pendapat siswa mengenai suatu kegiatan atau topic suatu pelajaran maupun mata pelajaran itu sendiri. skala terdiri dari 5 tingkatan sedangkan pada skala Thurstone jumlah sdkala yang digunakan berkisar antara 7 sampai 11. dan sebagainya. karena kedua hal tersebut berkaitan dengan masalah keadilan. yang biasanya ditulis dalam buku nilai siswa. Skala Guttman Skala Guttman merupakan sederetan pernyataan opini tentang sesuatu obyek secara berurutan. b.  Laporan kegiatan siswa diluar sekolah yang menunjang kegiatan belajar. Bila ia setuju dengan pernyataan dengan nomor urut tertentu. Dimensi-dimensi yang ada diukur dalam kategori menyenangkan-membosankan. Proses belajar yang dinilai misalnya diperoleh dari catatan perilaku harian atau catatan anekdot mengenai sikap-sikap siswa dalam belajar. dan sangat menyentuh perasaan ataumemiliki nilai kenangan. secara berkala setiap selesai satu satuan pelajaran ataupun satu kompetensi dasar. Responden diminta untuk menyatakan pendapatnya tentang pernyataan itu (setuju atau tidak setuju). d. Hal ini terlihat dari adanya kontinuitas penilaian. hasil ulangan umum atau tes sumatif. sangat berarti. diadakan ulangan atau tes. Penilaian Berbasis Portofolio Portofolio merupakan folder atau dokumen yang berisi contoh hasil karya siswa yang menuru siswa. antusias dalam mengikuti pelajaran. hanya saja pada descriptive graphic rating.  Tugas-tugas terstruktur  Catatan perilaku haarian siswa. merupakan karya terbaik. baik penilaian hasil maupun proses tidak ada yang boleh tertutup. Semantic differensial Instrumen ini mengukur konsep-konsep untuk tiga dimensi. Prinsip penilaian yang adil Penilaian yang baik hendaknya memerhatikan kondisi dan perbedaan-perbedaan individual.Skala ini mirip dengan descriptive graphic rating scale. c. sulit-mudah. sangat sulit dikerjakan tetapi berhasil. baik-tidak baik. Portofolio seorang siswa biasanya memuat:  Hasil ulangan harian atau tes formatif.

peneliti harus mengikuti langkah-langkah pengembangan instrumen. Portofolio untuk beberapa atau semua pelajaran Jenis ini menggambarkan profil kemampuan siswa yang memuat berbagai hasil karya siswa siswa dari berbagai mata pelajaran. Pengembangan spesifikasi alat ukur b. Menjabarkan variabel ke dalam indikator yang lebih rinci c. Suryabrata berpendapat bahwa langkah-langkah pengembangan alat ukur khususnya atribut non-kognitif adalah: a. Hasil pengukuran portofolio dijadikan dasar untuk menentukan apakah siswa terseburt masuk program akselerasi. pengayaan. b.Jenis-jenis portofolio a. e. Penyusunan skala dan norma. Portofolio untuk satu mata pelajaran Isi portofolio terdiri dari hasil karya siswa yang menggambarkan ketercapaian kompetensi dasar dari mata pelajaran tertentu. Perubahan paradigma penilaian b. Administrasi instrument i. b. Penilaian yang fleksibel a. . Mendefinisikan variable b. Uji-coba f. Melakukan uji coba e. Perakitan instrumen (untuk keperluan uji-coba) e. Analisis hasil uji-coba g. Akuntabilitas (dapat dipertanggungjawabkan) c. Penilaian diri sendiri e. dalam suatu penelitian tertentu. Jenis ini dapat dibuat dengan bimbingan wali kelas atau guru di kelas. Penulisan pernyataan atau pertanyaan c. Menyusun butir-butir d. d. Menganalisis kesahihan (validity) dan keterandalan (reliability). Keterlibatan orang tua d. Kelebihan dan kekurangan portofolio Kelebihan dari portofolio a. Kekurangan dari fortofolio Membutuhkan waktu yang relative lama Reliabilitas rendah Guru berorientasi pada pencapaian hasil akhir Belum tersedianya criteria penilaian yang baku Memerlukan tempat penyimpanan yang memadai Langkah-Langkah Dalam Pengembangan Instrumen Non Tes Menurut Hadjar. yaitu: a. Penelaahan pernyataan atau pertanyaan d. c. Seleksi dan perakitan instrument h. atau remidiasi.

Djaali dan Muljono menjelaskan langkah-langkah penyusunan dan pengembangan instrumen yaitu: 1) Sintesa teori-teori yang sesuai dengan konsep variabel yang akan diukur dan buat konstruk variabel 2) Kembangkan dimensi dan indikator variabel sesuai dengan rumusan konstruk variabel 3) Buat kisi-kisi instrumen dalam bentuk tabel spesifikasi yang memuat dimensi. Biasanya butir instrumen digolongkan menjadi dua kelompok yaitu kelompok pernyataan atau pertanyaan positif dan kelompok pernyataan atau pertanyaan negatif 6) Butir yang ditulis divalidasi secara teoritik dan empirik 7) Validasi pertama yaitu validasi teoritik ditempuh melalui pemeriksaan pakar atau panelis yang menilai seberapa jauh ketepatan dimensi sebagai jabaran dari konstruk.Secara lebih rinci. indikator. indikator sebagai jabaran dimensi dan butir sebagai jabaran indikator 8) Revisi instrumen berdasarkan saran pakar atau penilaian panelis 9) Setelah konsep instrumen dianggap valid secara teoritik dilanjutkan penggandaan instrumen secara terbatas untuk keperluan uji coba 10) Validasi kedua adalah uji coba instrumen di lapangan yang merupakan bagian dari proses validasi empirik. Merumuskan definisi konseptual dan operasional Langkah yang pertama kali harus dilakukan dalam pengembangan instrumen adalah merumuskan konstruk variabel yang akan diukur sesuai dengan landasan teoritik yang dikembangkan secara . nomor butir dan jumlah butir untuk setiap dimensi dan indikator 4) Tetapkan besaran atau parameter yang bergerak dalam suatu rentangan kontinum dari suatu kutub ke kutub lain yang berlawanan 5) Tulis butir-butir instrumen baik dalam bentuk pertanyaan maupun pernyataan. makin tinggi koefisien reliabilitas instrumen berarti semakin baik kualitas instrumen 15) Rakit semua butir yang telah dibuat menjadi instrumen yang final Terkait dengan penilaian kinerja. Jawaban responden adalah data empiris yang kemudian dianalisis untuk menguji validitas empiris atau validitas kriteria dari instrumen yang dikembangkan 11) Pengujian validitas krtieria atau validitas empiris dapat dilakukan dengan menggunakan kriteria internal maupun kriteria eksternal 12) Berdasarakn kriteria tersebut dapat diperoleh butir mana yang valid dan butir yang tidak valid 13) Untuk validitas kriteria internal. menyimpan dan menskor Dari beberapa teori langkah-langkah pengembangan instrumen di atas. Gronlund menjelaskan langkah-langkah penyusunan performance assessmentyaitu : 1) Spesifikasi kinerja yang ingin dicapai 2) Tentukan fokus penilaian (proses atau hasil) 3) Tentukan derajat (tingkat) kesesuaian dengan kenyataan 4) Tentukan situasi performance 5) Tentukan metode observasi. dapat disimpulkan bahwa secara garis besar langkah-langkah pengembangan instrumen penilaian kinerja adalah sebagai berikut: a. Instrumen diberikan kepada sejumlah responden sebagai sampel yang mempunyai karakteritik sama dengan populasi yang ingin diukur. 14) Dihitung koefisien reliabilitas yang memiliki rentangan 0-1. berdasarkan hasil analisis butir yang tidak valid dikeluarkan atau direvisi untuk diujicobakan kembali sehingga menghasilkan semua butir valid.

b. Pengembangan spesifikasi dan penulisan pernyataan Pengembangan spesifikasi yaitu menempatkan dimensi dan indikator dalam bentuk tabel spesifikasi pada kisi-kisi instrumen yang kemudian dilanjutkan dengan penulisan pernyataan. d. Format yang telah dirumuskan dalam spesifikasi perlu diikuti secara tertib. perlu pemahaman yang mendalam tentang validitas dan reliabilitas instrumen. g. yaitu melalui pemeriksaan pakar atau melalui panel yang pada dasarnya menelaah seberapa jauh dimensi merupakan jabaran yang tepat untuk konstruk. h. seberapa jauh indikator merupakan jabaran yang tepat dari dimensi. Tahap validasi pertama yang ditempuh adalah validasi teoritik. Melalui uji coba tersebut. Dari setiap pernyataan dicantumkan nomor butir dan jumlah butir sesuai dengan dimensi dan indikator yang akan diukur. c. baik validasi teoritik maupun validasi empirik. Selanjutnya jika semua butir pernyataan sudah valid secara teoritk atau konseptual maka dilakukan validasi empirik melaui uji coba. dan seberapa jauh butir-butir instrumen yang dibuat secara tepat dapat mengukur indikator. menyeluruh dan operasionalkan definisi konseptual tersebut sesuai dengan sifat instrumen yang akan dikembangkan kemudian rumuskan dan jabarkan indikator dari variabel yang akan diukur. terdapat dua hal yang harus diperhatikan dan dipenuhi untuk memperoleh instrumen yang berkualitas yaitu instrumen tersebut harus valid dan reliabel. Rumusan pernyataan sangat tergantung kepada model skala yang digunakan. Jawaban atau respon dari sampel uji coba merupakan data empiris yang akan dianalisis untuk menguji validitas empiris atau validitas kriteria yang dikembangkan. Uji coba Uji coba di lapangan merupakan bagian dari proses validasi empirik. e. Butir-butir yang sudah direvisi dirakit kembali dan dihitung kembali validitas dan reliabilitasnya. Analisis Berdasarkan data hasil uji coba selanjutnya dilakukan analisis untuk mengetahui koefisien validitas butir dan reliabilitas instrumen. Penelaahan pernyataan Butir-butir pernyataan yang telah ditulis merupakan konsep instrumen yang harus melalui proses validasi. f. . instrumen diberikan kepada sejumlah responden sebagai sampel uji coba yang mempunyai karakteristik sama atau ekivalen dengan karakteristik populasi penelitian. Untuk itu. Perakitan instrumen menjadi Instrumen final Terkait langkah-langkah pengembangan instrumen di atas. Revisi Instrumen Revisi instrumen dilakukan jika setelah melalui analisis terdapat butir-butir yang tidak valid atau memiliki reliabilitas yang rendah.