Anda di halaman 1dari 24

BAB III.

TINJAUAN PUSTAKA

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA
Peremukan material pada dasarnya bertujuan untuk mereduksi ukuran
material, dari ukuran bongkah besar menjadi pecahan kecil. Peremukan umumnya
dilakukan dalam tiga tahap (Currie, 1973), yaitu :
1. Peremuk primer
Peremuk tahap pertama, mereduksi material tambang, berukuran 60 100
inchi dan menjadi produk berukuran 8 6 inchi. Alat yang sering dipakai
adalah jaw crusher, gyratory crusher, dan Impact crusher.
2. Peremuk sekunder
Merupakan peremuk tahap kedua, mereduksi produk peremuk primer menjadi
ukuran 3 sampai 2 inchi. Alat yang dipakai pada tahap ini adalah gyratory
crusher, cone crusher
3. Peremuk tersier
Peremuk tahap lanjut yang mereduksi umpan dari peremuk sekunder menjadi
berukuran lebih halus. Alat yang dipakai adalah balls mills dan hammer mills.

3.1.

Alat Peremuk (Crusher)


Pada proses peremukan ini akan direduksi sesuai yang ditetapkan, gaya

gaya yang mengakibatkan material remuk antara lain :

Gaya tekan (compression)


Gaya tekan dari alat peremuk harus lebih besar dari kekuatan material,
gaya tekan bisa berasal satu permukaan ataupun dua permukaan. Alat

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-34

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

peremuk yang meremukkan material adalah jaw crusher, gyratory crusher,


dan roll crusher.

Gaya Pukul (Impact)


Pukulan dikenakan pada material dimana semakin cepat pukulan maka
material yang terpukul akan semakin mudah untuk pecah. Alat pukul yang
mengunakan gaya pukul untuk meremukkan material adalah hammer mill
dan Impact crusher.

Gaya gesek (Attrition atau Abrasion)


Gesekan akan mengakibatkan material remuk, gesekan bisa terjadi antara
media yang digunakan untuk meremuk atau dari sesama material yang
akan diremuk. Alat peremuk yang mengunakan gaya ini adalah ball mill.

3.1.1. Cara Kerja Mesin Peremuk


Pada Hammer Crusher terdapat satu buah rotor dengan sejumlah hammer
yang berputar. Prinsip kerja dari hammer crusher adalah penghancuran batuan
akibat adanya benturan dan pukulan yang di timbulkan oleh batang dan palu
palu crusher dengan batuan.
Bagian bagian penting dari hammer crusher dalam proses peremukan
adalah:
a. Rotor : peremukan material di mulai pada unit, di unit ini material
langsung terpukul oleh hammer bar. Di mana hammer yang terpasang
terdiri atas beberapa buah dan tersusun dalam beberapa baris. Hammer
dalam satu baris dipasang pada sebuah hammer bolt yang di ikat ujungnya
EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN
DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-35

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

dengan snap ring. Sebuah hammer bar terpasang diantara center disc dan
end disc pada sisi tempat mengikat snap ring. Keseluruhan rangkaian dari
bagian rotor dirakit menjadi satu pada sebuah rotor shaft yang berputar
karena dihubungkan dengan drive unit pada ujungnya.
b. Hammer : berfungsi sebagai alat pemecah material dengan cara berputar
untuk memukul material. Terdapat beberapa buah hammer yang terpasang
pada tiga buah pasak dan tersusun berderet pada rotor.
c. Breaker Plate : merupakan lempengan baja yang befungsi sebagai bidang
tumpuhan material. Arah geraknya berlawanan dengan rotor hammer.
d. Cleaning Bar : merupakan dinding pemisah dari lempengan bajah dan
lebih tipis dari breaker plate. Pada bagian ini berputar searah dengan
putaran rotor hammer.

Sumber : Ir. Luluk Edahwati, Alat Industri 2009

Gambar 3.1.
Spesifikasi Hammer Crusher
EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN
DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-36

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

3.1.2. Kapasitas Mesin Peremuk (Hammer Crusher)


Kapasitas nyata hammer dihitung dari banyaknya material yang di
umpangkan kedalam feeder. Perhitungan kapasitas nyata pada mulanya harus data
distribusi ukuran material umpan, kemudian dari data diperoleh nilai Presentase
material yang lolos, sehingga kapasitas hammer crusher dapat di hitung dengan
rumus (Currie, 1973) :
= .......................................................................................... (1)
Dimana :
Q

= kapasitas Hammer crusher (m3/jam)

= Diameter Rotor (m)

= Panjang Rotor (m)

3.2.

Roller Crusher
Alat ini terdiri dari dua buah silinder baja dan masing-masing

dihubungkan pada as (poros) tersendiri. Silinder ini berputar berlawanan arah


sehingga material yang ada diatas roll akan terjepit dan hancur.

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-37

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

Sumber : internet

Gambar 3.2.
beberapa tipe shell pada roll crusher
keterangan: (a) two corrugated shells, (b) one corrugated and one smoth shell, (c) one
step tooth and one smooth shell, (d) two step tooth shells synchronized, (e) two smooth
shells

Kapasitas roller tergantung pada kecepatan, lebar permukaan, diameter roll


crusher dan jarak antara roll yang satu dengan lainnya. Kapasitas roll crusher (C)
dinyatakan dengan rumus berikut (Currie, 1973):
C = 0,0034 .............................................................. (2)
Dimana :
N = Jumlah putaran ( rpm)
W = Lebar permukaan roll (inchi )
D = Diameter roll( inchi)
G = Berat jenis material
s = Jarak antar roll (inchi)
EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN
DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-38

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

3.3.

Nisbah Reduksi
Nisbah reduksi (Reduction Ratio) sangat menentukan keberhasilan suatu

peremukan, karena besar kecilnya nilai Reduction ratio ditentukan oleh


kemampuan alat peremuk untuk mengecilkan ukuran material yang akan diremuk.
Untuk itu harus dilakukan pengamatan terhadap tebal material umpan maupun
tebal material produk.
Reduction ratio adalah perbandingan ukuran terbesar umpan dengan
ukuran terbesar produk. Pada primary crushing besarnya reduction ratio adalah 4
7 dan pada secondary crushing besarnya reduction ratio adalah 7 20 (Currie,
1973). Besarnya reduction ratio merupakan batasan agar kerja alat efektif.
RL =

dimana :

................................................................................................. (3)
RL = limiting reduction ratio
tF = tebal umpan (cm)
tP = tebal produk (cm)
wF = lebar umpan (cm)
wP = lebar produk (cm)

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-39

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

3.4.

Peralatan Pada Unit Peremuk

3.4.1.

Hopper
Hopper merupakan salah satu alat bantu dari unit peremuk yang berfungsi

sebagai tempat penampungan sementara dari material umpan batuan, selanjutnya


material tersebut diumpankan ke alat peremuk oleh alat pengumpan feeder.
Hopper ini terbuat dari beton yang dilapisi oleh lembaran baja pada
dinding - dindingnya dengan tujuan agar terhindar dari keausan akibat gesekan
dan benturan dinding dengan material.

Gambar 3.3.
Hopper
Kapasitas hopper dihitung dengan rumus berdasarkan volume trapesium
yang terpancung, yaitu :

Vh = ( + +

)................................ (4)

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-40

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

Setelah volume hopper diketahui, maka kapasitas hopper tersebut adalah :


K = Vh x Bi3 ................................................................................................. (5)
Di mana :
K = Kapasitas hopper (ton)
Vh = Volume hopper (m3)
Bi = Bobot isi material berai (ton/m3)

3.4.2.

Pengumpan (Feeder)
Feeder adalah alat pengumpan material dari hopper ataupun dari ROM ke

unit peremuk atau ke atas belt conveyor dengan kecepatan konstan. Penggunaan
alat pengumpan bertujuan agar proses pengumpanan dari hopper menuju ke alat
peremuk dapat berlangsung dengan laju yang konstan, tidak terlalu besar dan
tidak terlalu kecil, sehingga dapat mencegah terjadinya penumpukan batubara atau
tidak ada umpan di dalam hopper ataupun pada alat peremuk.
Macam macam feeder yang sering digunakan dalam industri
pertambangan antara lain :
a.

Apron Feeder, pengumpan yang berupa lembaran baja, masing-masing


dihubungkan oleh Roller Chain (rantai berputar), feeder ini dirancang untuk
memindahkan material yang berat dan besar dari Hopper menuju ban berjalan
atau ke unit peremuk.

b.

Vibrating Feeder, merupakan tipe pengumpan yang didesain untuk


memisahkan batubara dari debu-debu halus hasil penambangan. Pengumpan

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-41

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

tipe ini terdiri dari lembaran baja bergelombang dengan jarak tertentu, cara
kerjanya adalah berdasarkan getaran yang ditimbulkan oleh motor penggerak.
c.

Belt Feeder, merupakan pengumpan yang terdiri dari belt (sabuk) karet yang
dihubungkan dengan pulley seperti pada belt conveyor.

d.

Reciprocating Feeder, merupakan tipe pengumpan yang cara kerjanya adalah


mendorong material yang ada di dalam hopper dengan kecepatan teratur,
pengumpan tipe ini terdiri dari alat pendorong yang terletak pada rel (jalur)
yang dapat bergerak maju mundur secara teratur. Pengumpan ini biasanya
dipakai pada alat peremuk sekunder.

e.

Chain Curtain Feeder/Ross Feeder adalah pengumpan yang menggunakan


rantai yang menjulur di bawah hopper yang ditahan oleh lembaran baja,
fungsinya adalah mengontrol pengumpanan pada alat peremuk primer dengan
efek berat dari rantai tersebut. Grizzly Feeder, pengumpan yang dirancang
untuk memindahkan material yang cara kerjanya lebih selektif, dimana
material yang lolos (undersize) langsung masuk ban berjalan sedangkan yang
tidak lolos (oversize) akan masuk ke alat peremuk.

f.

Chain and Flight Feeder, adalah pengumpan yang terdiri dari rangkaian
flight (batangan baja) dengan ketebalan tertentu dan jarak tertentu yang
berfungsi sebagai pendorong material menuju alat peremuk. Flight (batangan
baja) tersebut dihubungkan dengan rangkaian rantai (Chain) serta lantai yang
berupa lembaran baja sebagai penahan material (plate).

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-42

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

3.4.3. Perhitungan Kapasitas Teoritis Pengumpan (Feeder)


Kapasitas
menggunakan

teoritis

pengumpan

persamaan CEMA

(Feeder)
Conveyor

dapat

dihitung

Equipment

dengan

Manufactures

Association), (Belt Conveyor For Bulk Materials, second edition 1979 ) sebagai
berikut :
Q = V x T x L x d x 60 .................................................................................. (6)
Dimana :
Q = Kapasitas feeder, ton/jam
V = Kecepatan angkut feeder, m/menit
T = Tinggi tumpukan material di atas feeder, m
L = Lebar feeder, m
d = Densitas lepas material, ton/m3

3.4.4.

Sabuk Berjalan (Belt Conveyor)


Ban berjalan (belt conveyor) adalah suatu alat angkut material yang berupa

karet dan dapat bekerja secara kesinambungan pada kemiringan tertentu maupun
mendatar (CEMA, CBI Publishing Co.Inc, Second Edition, 1979).
Sabuk dibuat dengan menyatukan beberapa jenis anyaman kapas, atau
nilon, rayon, dan kabel baja, menjadi kontruksi tulangan yang memberikan
kekuatan untuk menahan tarikan dalam sabuk. Lapisan itu ditutup dengan perekat
yang terbuat dari karet yang kemudian menggabungkannya menjadi struktur yang
menyatu (Peurifoy, 1988). Sabuk berjalan digerakkan oleh motor penggerak yang

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-43

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

dipasang pada head

pulley. Sabuk akan kembali ke tempat semula karena

dibelokkan oleh pulley awal dan pulley akhir.


Material yang didistribusikan melalui pengumpan akan dibawa oleh sabuk
berjalan dan berakhir pada head pulley, pada saat proses kerja di unit peremuk
dimulai, sabuk berjalan harus bergerak terlebih dahulu sebelum alat peremuk
bekerja, hal ini bertujuan mencegah terjadinya kelebihan muatan pada sabuk.
Pemakaian sabuk berjalan dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : sifat fisik,
keadaan material, jarak pengangkutan, dan produksi.
a.

Sifat Fisik dan Kondisi Material Batuan


Kemampuan sabuk berjalan dalam mengangkut material sangat berhubungan
dengan material yang diangkutnya, kondisi material tersebut antara lain :

Ukuran dan bentuk material


Sabuk berjalan dapat digunakan untuk mengangkut material yang
mempunyai ukuran tidak terlalu besar. Hal ini disesuaikan dengan
bentuk sabuk berjalan yang mempunyai penampang melintang yang
kecil.

Ukuran

material

yang

kecil

akan

memudahkan

dalam

pengangkutan dan tidak mudah tumpah keluar dari sabuk. Agar


memenuhi persyaratan tersebut maka material hasil penambangan perlu
diperkecil ukurannya.

Kandungan air
Kandungan air pada material dapat mempengaruhi kondisi sabuk
berjalan. Material dengan kandungan air tinggi tidak dapat diangkut
dengan sabuk berjalan yang memiliki kemiringan besar. Sebaliknya bila
kandungan air terlalu sedikit, maka material yang terlalu kecil akan
beterbangan. Agar kandungan air tetap tidak bertambah yang

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-44

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

diakibatkan oleh adanya air hujan, maka sabuk berjalan harus dilengkapi
dengan penutup, sehingga dengan demikian kandungan air tetap.

Komposisi material
Material yang berada di kuari tidak hanya berupa material saja, tetapi
juga tersisipi oleh tanah (soil). Pada saat kandungan air pada material
besar, tanah akan menjadi lengket. Apabila kondisi demikian maka dapat
menyebabkan

material lengket atau menempel pada return idler,

sehingga jalannya sabuk akan bergelombang dan daya motor akan


semakin bertambah besar.
b.

Keadaan Topografi
Kondisi lapangan dapat mempengaruhi penggunaan sabuk berjalan, daerah
dengan karakteristik berbukit-bukit dimana kemiringan pada daerah tersebut
cukup besar, maka dibandingkan dengan penggunaan lori atau truck dalam
mengangkut material, sabuk berjalan lebih memungkinkan untuk digunakan
karena dalam mengatasi kemiringan kemampuan sabuk berjalan lebih besar,
yaitu dapat mencapai 30% - 35%. Hal ini dapat digunakan sebagai alternatif
dalam pemilihan suatu alat angkut.

c.

Jarak Pengangkutan
Sabuk berjalan dapat digunakan untuk mengangkut material jarak dekat
maupun jarak jauh. Untuk pengangkutan jarak jauh sabuk berjalan dibuat
dalam beberapa unit, hasil kerja pengangkutan material dengan sabuk
berjalan berlangsung berkesinambungan, sehingga dengan demikian dapat
menghasilkan produksi sabuk berjalan yang besar, tetapi jika pada suatu saat
sabuk berjalan mengalami kerusakan, maka produksi akan menjadi sangat

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-45

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

menurun atau bahkan tidak bisa berproduksi sama sekali. Dengan demikian
pertimbangan terhadap kemungkinan ini perlu dilakukan dalam penggunaan
sabuk berjalan.

3.4.4.1. Bagian-bagian Sabuk Berjalan (Belt Conveyor)


Sabuk berjalan terdiri dari ban yang menggelindingi roda gerak awal dan roda
gerak ujung yang menghampar di atas roll.
Bagian-bagian terpenting dari sabuk berjalan dapat dibagi kedalam dua kelompok
bagian, yaitu :
1.

Bagian-bagian yang bergerak


a. Pulley adalah suatu roll atau silinder yang berputar pada sumbunya dan
terletak pada ujung dari rangka sabuk berjalan.
b. Sabuk atau ban, berfungsi untuk membawa material yang diangkut dari
suatu tempat ke tempat lain. Sabuk tersebut terbuat dari campuran karet
dan beberapa lapis tenunan benang kapas (ply).
c. Motor Penggerak (Drive Unit), berfungsi untuk menggerakkan drive
pulley dan biasanya dilengkapi dengan sistem perpindahan roda gigi.
d. Idler, berfungsi untuk menahan dan menyangga sabuk. Pemilihan terhadap
diameter, ukuran bearing dan shaft mendasarkan pada : perawatan, kondisi
operasi, muatan , serta kecepatan ban.

2.

Bagian-bagian Yang Tetap


a. Kerangka (frame), berfungsi untuk menyangga rangkaian sabuk sehingga
muatan dapat diangkut dengan aman.

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-46

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

b. Penegang (Take-Up), berfungsi untuk membentuk sabuk sehingga muatan


diatas idler dapat berjalan dengan baik serta untuk menghindari terjadinya
selip antara ban dengan pulley penggerak
c. Centering device, berfungsi untuk mencegah agar sabuk tidak meleset dari
Roller sehingga sabuk tetap berjalan pada alur alur dengan baik.
d. Loading Skirt, digunakan untuk mencegah muatan jangan sampai tercecer
pada Loading point.
e. Belt Cleaner atau Scrapper, digunakan untuk membersihkan material
lengket yang menempel pada sabuk dan dipasangkan pada permukaan
sabuk setelah head pulley.
f. Chute atau Corong, adalah alat yang digunakan untuk menumpahkan
material dan mengarahkan ke tempat tertentu.

(sumber : Google, bagian bagian belt conveyor)


Gambar 3.4.
Bagian-bagian Sabuk Berjalan

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-47

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

3.4.4.2. Kapasitas Produksi Teoritis Sabuk Berjalan


Kapasitas teoritis sabuk berjalan sangat dipengaruhi oleh luas penampang
melintang material yang terangkut sabuk berjalan, kecepatan sabuk berjalan, dan
bobot isi material yang terangkut.
Luas penampang melintang akan tergantung pada lebar sabuk, dalamnya
cekungan sabuk, sudut lereng alam (angle of repose) material terangkut dan
sejauh mana sabuk itu mampu dimuati sampai batas kemampuannya, sedangkan
sudut lereng alami material diatas sabuk berjalan dipengaruhi oleh jenis dan
kondisi material yang diangkut (tabel 3.1.).
Table 3.1.
Sudut Lereng Alami Material
Sudut Lereng alami
(o )
10
20
30

Jenis dan Kondisi Material


Yang Diangkut
Material lepas, halus dan kering
Material lepas, diangkut dengan alat dan kondisi khusus
Material cukup kasar

Dengan mengetahui luas penampang melintang muatan di atas sabuk


berjalan maka kapasitas teoritis dari sabuk berjalan dapat dicari dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut :
A = K (0,9 B 0,05)2 ....................................................................................... (6)
Dimana :
A

= luas penampang melintang muatan di atas sabuk berjalan (m3)

= koefisien dari luas penampang melintang muatan di atas sabuk berjalan,


dimana harganya tergantung dari harga trough of angle () dan harga
angle of repose ().

= Lebar sabuk berjalan (m)

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-48

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

Keterangan :

= Angle of repose

= Trough of angle
Harga koefisien luas penampang (K) melintang pada sabuk berjalan dapat

dilihat dalam tabel 3.4.

(Perry, Robert H. 1999. Perrys Chemical Engineers Handbook


Seventh Edition. New York : Mc Graw-Hill Companies)

Gambar 3.5.
Sabuk berjalan (belt conveyor)

Kapasitas teoritis sabuk berjalan dapat dihitung dengan menggunakan


rumus (Reference book, Kurimoto. Ltd Crushing and Screening) :
Qt = 60 x A x V x Bi x S ................................................................................ (7)
Dimana :
Qt

= Kapasitas teoritis sabuk berjalan (m3/jam)

= Luas penampang muatan di atas sabuk berjalan (m3)

= Kecepatan sabuk berjalan (m/menit)

Bi

= Bobot isi material (ton/m3)

= Koefisien pengaruh kemiringan sabuk

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-49

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

Tabel 3.2.
Luas Penampang Melintang Material Sabuk Berjalan
30o

Trough of Angle ()
Angle of repose ()

10o

20o

30o

Lebar sabuk berjalan


(mm)
400
450
500
600
750
900
1050
1200
1400
1600
1800
2000
Constan (K)

1,20
1,57
2,10
1,00
4,88
7,21
10,04
13,24
18,27
24,11
30,76
38,22
0.1248

1,43
1,86
2,50
3,57
5,81
8,60
11,92
15,79
21,79
28,75
36,68
45,57
0,1488

1,69
2,22
2,96
4,22
6,87
10,14
14,08
18,64
25,76
33,94
43,31
53,81
0,1757

3.4.4.3. Sudut Kemiringan Sabuk Berjalan (Belt Conveyor)


Bila sabuk berjalan dipakai untuk mengangkut material dengan
kemiringan tertentu maka sudut kemiringan maksimumnya tergantung dari :
1.

Bentuk material, bentuk yang cenderung mudah menggelinding, maka


hanya bisa diangkut dengan sudut-sudut kecil, yaitu 10o 12o.

2.

Kesinambungan aliran umpan, umpan yang berkesinambungan akan


menyebabkan penggumpalan atau penutupan pada ujung bawah sabuk,
sehingga memperbesar kemungkinan meluncurnya material. Ukuran butir,
ukuran seragam akan lebih mudah menggelincir. Kandungan air, bila
terlalu banyak akan menyebabkan material mudah meluncur.

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-50

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

3.5.

Kesedian Dan Penggunaan Alat


Ada beberapa pengertian yang dapat menunjukkan keadaan peralatan

sesungguhnya dan efektivitas pengoperasiannya (Partanto, 1993), antara lain :


1.

Mechanical Availability (MA)


Mechanical Availability adalah suatu cara untuk mengetahui kondisi
peralatan yang sesungguhnya dari alat yang dipergunakan, Persamaannya
adalah :

MA = + 100% ................................................................................. (8)


Dimana :
W = Jumlah jam kerja, yaitu waktu yang dibebankan kepada suatu alat yang
dalam kondisi yang dapat dioperasikan, artinya tidak rusak. Waktu ini
meliputi pula tiap hambatan (delay time) yang ada.
R=

Jumlah jam untuk perbaikan dan waktu yang hilang karena menunggu
saat perbaikan termasuk juga waktu untuk penyediaan suku cadang
serta waktu untuk perawatan preventif.

2.

Physical Availability (PA)


Physical Availability adalah catatan ketersediaan mengenai keadaan fisik dari
alat yang sedang dipergunakan, persamaannya adalah :
PA =

+
++

100 % ........................................................................ (9)

dimana :
S=

Jumlah jam suatu alat yang tidak dapat dipergunakan, akan tetapi alat
tersebut tidak dalam keadaan rusak dan siap untuk dioperasikan.

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-51

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

3.

Use of Availability (UA)


Angka Use of Availability biasanya dapat memperlihatkan seberapa efektif
suatu alat yang sedang tidak rusak untuk dapat dimanfaatkan, hal ini dapat
dijadikan suatu ukuran seberapa baik pengelolaan pemakaian peralatan,
persamaannya adalah :
UA =

4.

100% ........................................................................... (10)

Effective Utilization (Eut)


Effective Utilization merupakan cara untuk menunjukkan berapa persen dari
seluruh waktu kerja yang tersedia yang dapat dimanfaatkan untuk kerja
produktif, persamaannya adalah :

Eut =

++

100% ........................................................................ (11)

3.6. Efektifitas Penggunaan Peralatan


Efektifitas alat peremuk berhubungan dengan produksi yang dihasilkan dari
peralatan tersebut. Efektifitas digunakan untuk mengetahui sampai sejauh mana
tingkat penggunaan dan kemampuan yang dicapai peralatan tersebut yaitu dengan
membandingkan antara kapasitas yang dicapai saat ini dengan kapasitas desainnya
dan dinyatakan dalam persen, perhitungan efektivitas pemakaian peralatan
menggunakan persamaan :

Ep =

100% ................................................................... (12)

Merupakan suatu acuan pendekatan agar dapat mencari atau menghitung


nilai data data.
EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN
DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-52

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

3.7. Metode Pengukuruan Efektivitas


Metode Pengukuruan Efektivitas suatu peralatan atau Overall effectiveness
(OEE) merupakan metode yang digunakan sebagai alat ukur (metric) dalam
penerapan diperlukan suatu metode yang mampu mengungkapkan permasalahan
dengan jelas agar dapat dilakukan peningkatan terhadap kinerja mesin dan
peralatan secara optimal (Jonsson dan Lesshammar, 1999), guna menjaga
peralatan pada kondisi ideal dengan menghapuskan six big losses peralatan.
Pengukuran OEE ini didasarkan pada pengukuran tiga rasio utama, yaitu:

1.

Availability Ratio
Availability

Ratio

merupakan

suatu

rasio

yang

menggambarkan

pemanfaatan waktu yang tersedia untuk kegiatan operasi mesin atau peralatan.
Nakajima (1988) menyatakan bahwa availability merupakan rasio dari operation
time, dengan mengeliminasi downtime peralatan, terhadap loading time. Dengan
demikian persamaan yang digunakan untuk mengukur availability ratio adalah:
Availability =

2.

x 100% .................................................. (14)

Performance Ratio
Performance Ratio

merupakan suatu ratio

yang

menggambarkan

kemampuan dari peralatan dalam menghasilkan barang. Rasio ini merupakan hasil
dari operating speed rate dan net operating rate. Operating speed rate peralatan
mengacu kepada perbedaan antara kecepatan ideal (berdasarkan desain peralatan)
dan kecepatan operasi aktual. Net operating rate mengukur pemeliharaan dari
EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN
DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-53

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

suatu kecepatan selama periode tertentu. Dengan kata lain, ia mengukur apakah
suatu operasi tetap stabil dalam periode selama peralatan beroperasi pada
kecepatan rendah, persamaan pengukuran rasio ini adalah (Nakajima, 1988):

PERFORMANCE =

3.

100%

.................................................. (15)

Quality Ratio
Quality ratio merupakan suatu rasio yang menggambarkan kemampuan

peralatan dalam menghasilkan produk yang sesuai dengan standar. Formula yang
digunakan untuk pengukuran rasio ini adalah (Nakajima, 1988):
QUALITY =

100% ........................................................................ (16)

Berdasarkan keseluruhan data diatas dapat diperoleh perhitungan nilai


OEE sebagai berikut:
OEE = % (%) % ........... (17)
Nilai OEE dari mesin dan peralatan dalam kondisi ideal yang merupakan
standar dari perusahaan kelas dunia adalah 85% dengan komposisi nilai ketiga
rasio sebagai berikut:
-

Ketersediaan waktu 90% atau lebih.

Kinerja mesin 95% atau lebih.

Kualitas produk 99% atau lebih.

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-54

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

3.8. Diagram Sebab-Akibat (Fishbone Diagram)


Menurut Gaspersz (2003) diagram sebab-akibat (fishbone diagram) adalah
suatu pendekatan terstruktur yang memungkinkan dilakukan suatu analisis lebih
terperinci dalam menemukan penyebab-penyebab suatu masalah, ketidaksesuaian,
dan kesenjangan yang ada. Diagram ini dapat digunakan dalam situasi dimana:
1.

Terdapat

pertemuan

diskusi

dengan

menggunakan

teknik

nalar

brainstorming) untuk mengidentifikasi mengapa suatu masalah terjadi.


2.

Diperlukan analisis lebih terperinci terhadap suatu masalah.

3.

Terdapat kesulitan untuk memisahkan penyebab dari akibat.

Penggunaan diagram sebab-akibat dapat mengikuti langkah-langkah berikut:


a)

Dapatkan kesepakatan tentang masalah yang terjadi dan ungkapkan masalah


tersebut sebagai suatu pertanyaan masalah (problem question).

b)

Bangkitkan sekumpulan penyebab yang mungkin dengan menggunakan


teknik nalar atau dengan membentuk anggota tim yang memiliki ide-ide
berkaitan dengan masalah yang sedang dihadapi.

c)

Gambarkan diagram dengan pertanyaan masalah ditempatkan pada sisi kanan


(membentuk kepala ikan) dengan kategori utama seperti manusia (man),
mesin (machine), metode (method), bahan baku (material), pengukuran
(measurement), dan lingkungan (environment). Kategori utama tersebut
ditempatkan pada cabang utama (membentuk tulang-tulang besar dari ikan)
dimana kategori utama ini dapat diubah sesuai kebutuhan.

d)

Tetapkan setiap penyebab dalam kategori utama yang sesuai dengan


menempatkan pada cabang yang sesuai.

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-55

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

e)

Untuk setiap penyebab yang mungkin, tanyakan mengapa? untuk


menemukan akar penyebab, kemudian daftarkan akar-akar penyebab tersebut
pada cabang-cabang yang sesuai dengan kategori utama (membentuk tulangtulang kecil ikan). Untuk menemukan akar penyebab, dapat digunakan teknik
bertanya mengapa sebanyak lima kali (five whys).

f)

Interpretasi diagram tersebut dengan melihat penyebab-penyebab yang


muncul secara berulang, kemudian dapatkan kesepakatan melalui konsensus
tentang penyebab tersebut.

g)

Tetapkan hasil analisis dengan menggunakan diagram sebab-akibat tersebut


dengan cara mengembangkan dan mengimplementasikan tindakan korektif
serta memantau hasil-hasil untuk memastikan bahwa tindakan korektif yang
dilakukan tersebut efektif telah menghilangkan akar penyebab dari masalah
yang dihadapi (Gasperz, 2003).
Mengingat pentingnya penggunaan diagram sebab-akibat dalam langkah ini,

berikut akan dikemukakan bentuk umum dari diagram sebab-akibat atau sering
juga disebut sebagai diagram tulang ikan (fishbone diagram) atau diagram
Ishikawa (Ishikawa diagram) sesuai dengan nama Prof. Kaoru Ishikawa dari
Jepang yang memperkenalkan diagram tersebut. Bentuk umum diagram sebabakibat dapat dilihat pada Gambar

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-56

BAB III. TINJAUAN PUSTAKA

Gambar 3.2.
Bentuk Umum Diagram Sebab-Akibat (Gaspersz, 2003)

EVALUASI PRODUKTIVITAS UNIT CRUSHER TERHADAP PROSES PRODUKSI SEMEN


DI PT. SEMEN GRESIK (PERSERO) Tbk
AUGUSTO RAFAEL PEREIRA
11.2007.1.00124

III-57