Anda di halaman 1dari 6

RESUME

PETROLEUM SYSTEM DAN ROCK PROPERTIES

DISUSUN OLEH :

Nama

: Fitrian Hidayat

NIM

: 1001016

JURUSAN S1 TEKNIK PERMINYAKAN


SEKOLAH TINGGI TEKNOLOGI MINYAK & GAS BUMI
BALIKPAPAN
2012

A. Petroleum System
Definisi: Petroleum System adalah konsep yang menyatukan elemen berbeda dan proses
geologi minyak bumi. Aplikasi praktis dari sistem minyak bumi dapat digunakan dalam eksplorasi,
evaluasi sumber daya, dan penelitian. Sebuah sistem petroleum meliputi lapisan batuan induk aktif
dan semua minyak dan akumulasi gas. Ini mencakup semua elemen geologi dan proses yang
penting jika akumulasi minyak dan gas adalah untuk eksis.

Elemen Dan Proses:


Elemen-elemen penting dari Petroleum system: Source rock
Reservoir rock
Seal rock
Trap
Petroleum System memiliki 2 proses: Trap formation
Generationmigrationaccumulation of hydrocarbons
Elemen-elemen penting dan proses harus berada pada tempat dan waktu yang tepat, sehingga
bahan organic yang terdapat dalam batuan induk dapat diubah menjadi akumulasi minyak bumi.
Sebuah sistem petroleum ada di mana pun semua elemen penting dan proses diketahui atau
diperkirakan keberadaannya.

A.1 Source Rock


Dalam Petroleum geology, batuan induk mengacu pada batuan dimana hidrokarbon telah atau
mampu dihasilkan. Mereka membentuk salah satu elemen penting dari sebuah sistem petroleum.
Source Rock adalah sedimen yang kaya akan material organik yang mungkin telah terdeposit
dalam berbagai lingkungan termasuk deep water marine, lacustrine dan delta.

Tipe-Tipe Source Rock


Source Rock Tipe 1 terbentuk dari sisa-sisa alga yang terdeposit dalam kondisi anoxic di danau
yang dalam. Tipe ini cenderung untuk menghasilkan minyak mentah yang waxy ketika diberikan
tekanan panas selama terkubur dalam.
Source Rock Tipe 2 terbentuk dari plankton laut dan sisa-sisa bakteri diawetkan dalam kondisi
anoxic di lingkungan laut: mereka menghasilkan minyak dan gas ketika mengalami crack panas
saat penguburan yang mendalam.
Source Rock Tipe 3 terbentuk dari bahan tanaman darat yang telah didekomposisi oleh bakteri
dan jamur dalam kondisi oxic atau sub-oxic: mereka cenderung untuk menghasilkan sebagian
besar gas dengan minyak ringan. Sebagian besar batu bara termasuk dalam tipe 3.

Faktor Terbentuknya Source Rock


Untuk menjadi source rock ada 3 faktor yang mempengaruhi. Yaitu :
1. TOC ( total organic karbon ) merupakan kuantitas dari karbon organic yang terendapkan
dalam batuan tersebut. Semakin tinggi nilai OC maka akan semakin baik source rock
tersebut dan kemungkinan terbentuknya hidrokarbon akan semakin tinggi. TOC yang dapat
menghasilkan adalah di atas 1 % .
2. Kerogen merupakan kualitas dari carbon organic yang terendapkan dala batuan tersebut.
Keregon akan menentukan hidrokarbon yang akan di bentuk. Kerogen ada beberapa tipe .
diantaranya :

a. Kerogen tipe I
Terbentuk di perairan dangkal
Berasal dari algae yang bersipat lipid
H/C > 1.5 dan O/C < 0,1
Menghasikan minyak
b. Kerogen tipe II
Terbentuk di marine sedimen
Berasal dari algae dan protozo
H/C antara 1,2 1,5 dan O/C antara 0,1-0,3
Menghasilkan minyak dan gas
c. Kerogen tipe III
Terbentuk di daratan
Berasal dari tumbuhan daratan
H/C < 1,0 dan O/C > 0,3
Menghasilkan gas
d. Kerogen tipe IV
Telah mengalami oksidasi sebelum terendapkan , sehingga kandungan karbon telah
terurai sebelum terendapkan
Tidak menghasilkan hidrokarbon
3. Maturity atau pematangan adalah proses perubahan zat-zat organic menjadi hidrokarbon.
Proses pematangan di akibatkan kenaikan suhu di dalam permukaan bumi. Dimana maturity
di bagi 3 Yaitu antara lain :
a. Immature adalah sourcerock yang belum mengalami perubahan menjadi hidrokarbon
b. Mature adalah source rock yang sedang mengalami perubahan menjadi hidrokarbon
c. Overmature adalah source rock yang telah mengalami pematangan menjadi hidrokarbon.

A.2 Reservoir Rock


Semua minyak yang dihasilkan oleh source rock tidak akan berguna kecuali bermigrasi sampai
tersimpan dalam wadah yang mudah diakses, sebuah batu yang memiliki ruang untuk "menyedot
hidrokarbon. Reservoir rock adalah tempat minyak bermigrasi dan berada dibawah tanah. Sebuah
batu pasir memiliki banyak ruang di dalam dirinya sendiri untuk menjebak minyak, seperti spons
memiliki ruang dalam dirinya sendiri untuk menyerap air. Karena alasan inilah batupasir menjadi
batuan reservoir yang paling umum. Batu gamping dan dolostones, beberapa di antaranya adalah
sisa-sisa kerangka terumbu karang kuno, adalah contoh lain dari batuan reservoir.

A.3 Seal Rock


Karena besarnya tekanan ribuan kaki di bawah permukaan bumi, minyak terdorong untuk pindah
ke daerah dengan tekanan lebih rendah. Jika hal tersebut dibiarkan, maka minyak akan terus
bergerak ke atas sampai di atas tanah. Meskipun rembesan ini menandakan adanya minyak di
bawah tanah,hal ini juga memberitahu kita bahwa banyak minyak telah melarikan diri, dan
mungkin berarti bahwa tidak banyak yang tersisa untuk ditemukan. Tidak seperti batu reservoir,
yang bertindak seperti spons, seal rock bertindak seperti dinding dan langit-langit, yang
menghalangi cairan untuk bergerak melaluinya. Seal Rock yang paling umum adalah shale, yang
bila dibandingkan dengan batupasir, memiliki ruang yang sangat kecil di dalam untuk cairan
(minyak, misalnya) untuk bergerak melaluinya.

Meskipun Seal Rock mencegah minyak dari bergerak melalui mereka, mereka tidak selalu
menghalangi minyak bergerak di sekitar mereka. Untuk mencegah itu, diperlukan semacam
jebakan geologi.

A.4 Trap
Sebuah konfigurasi batuan yang cocok untuk menjebak hidrokarbon oleh formasi yang relatif
kedap melalui mana hidrokarbon tidak akan bermigrasi.
Perangkap digambarkan sebagai
Perangkap Structural
Perangkap Hidrokarbon yang terbentuk dalam struktur geologi seperti lipatan dan
patahan
Perangkap Stratigrafi
Perangkap Hidrokarbon yang dihasilkan dari perubahan jenis batuan atau pinch-out,
ketidakselarasan, atau fitur sedimen lainnya seperti terumbu atau buildups
Perangkap Kombinasi
Kombinasi antara struktural dan stratigrafi. Dimana pada perangkap jenis ini merupakan
faktor bersama dalam membatasi bergeraknya atau menjebak minyak bumi.
Jebakan merupakan komponen penting dari sistem petroleum

A.5 Generationmigrationaccumulation of hydrocarbons


Generasi tergantung pada tiga faktor utama:
adanya bahan organik cukup kaya untuk menghasilkan hidrokarbon,
suhu yang memadai,
dan waktu yang cukup untuk membawa batuan hingga matang.
Tekanan dan adanya bakteri dan katalis juga mempengaruhi generasi.
Generasi merupakan fase kritis dalam pengembangan sistem petroleum.
Migrasi adalah Pergerakan hidrokarbon dari sumber mereka ke batuan reservoir.
Pergerakan hidrokarbon baru yang dihasilkan keluar dari batuan induk mereka adalah migrasi
utama, disebut juga expulsion
Gerakan lebih lanjut dari hidrokarbon dalam batuan reservoir kedalam perangkap hidrokarbon
atau daerah lain akumulasi adalah migrasi sekunder.
Migrasi biasanya terjadi dari daerah struktural rendah ke daerah yang lebih tinggi di bawah
permukaan karena daya apung relatif hidrokarbon dibandingkan dengan batuan sekitarnya.
Migrasi dapat lokal atau dapat terjadi di sepanjang jarak ratusan kilometer di cekungan sedimen
yang besar, dan
penting untuk pembentukan sistem petroleum yang layak.
Akumulasi adalah Tahap dalam pengembangan Petroleum System di mana hidrokarbon
bermigrasi ke dan tetap terjebak dalam reservoir

B. Rock Properties
Syarat yang harus dipenuhi oleh suatu batuan reservoir adalah harus mempunyai kemampuan
untuk menampung dan mengalirkan fluida yang terkandung di dalamnya. Dan hal ini dinyatakan
dalam bentuk permeabilitas dan porositas. Porositas dan permeabilitas ini sangat erat
hubungannya sehingga dapat dikatakan bahwa permeabilitas adalah tidak mungkin tanpa
porositas walaupun sebaliknya belum tentu demikian, karena batuan yang bersifat porous belum
tentu mempunyai sifat kelulusan terhadap fluida yang melewatinya. Sifat-sifat batuan yang lainnya
adalah : wettabilitas, tekanan kapiler, saturasi dan kompresibilitas batuan.

1.

Porositas ()

Dalam reservoir minyak, porositas mengambarkan persentase dari total ruang yang tersedia untuk
ditempati oleh suatu cairan atau gas. Porositas dapat didefinisikan sebagai perbandingan antara
volume total pori-pori batuan dengan volume total batuan per satuan volume tertentu,
Porositas batuan reservoir dapat diklasifikasikan menjadi dua, yaitu:
a. Porositas absolut, adalah perbandingan antara volume pori total terhadap volume batuan
total yang dinyatakan dalam persen,
b. Porositas efektif, adalah perbandingan antara volume pori-pori yang saling berhubungan
terhadap volume batuan total (bulk volume) yang dinyatakan dalam persen.
Berdasarkan waktu dan cara terjadinya, maka porositas dapat juga diklasifikasikan menjadi dua,
yaitu :
a.
Porositas primer, yaitu porositas yang terbentuk pada waktu yang bersamaan dengan
proses pengendapan berlangsung.
b. Porositas sekunder, yaitu porositas batuan yang terbentuk setelah proses pengendapan.
Besar kecilnya porositas dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu ukuran butir, susunan butir, sudut
kemiringan dan komposisi mineral pembentuk batuan

2. Permeabilitas
Permeabilitas didefinisikan sebagai ukuran media berpori untuk meloloskan/melewatkan fluida.
Apabila media berporinya tidak saling berhubungan maka batuan tersebut tidak mempunyai
permeabilitas. Oleh karena itu ada hubungan antara permeabilitas batuan dengan porositas
efektif.
Sekitar tahun 1856, Henry Darcy seorang ahli hidrologi dari Prancis mempelajari aliran air yang
melewati suatu lapisan batu pasir. Hasil penemuannya diformulasikan kedalam hukum aliran fluida
dan diberi nama Hukum Darcy.
Besaran permeabilitas satu darcy didefinisikan sebagai permeabilitas yang melewatkan fluida
dengan viskositas 1 centipoises dengan kecepatan alir 1 cc/det melalui suatu penampang dengan
luas 1 cm2 dengan penurunan tekanan 1 atm/cm. Persamaan 4 Darcy berlaku pada kondisi :
Alirannya mantap (steady state)
Fluida yang mengalir satu fasa
Viskositas fluida yang mengalir konstan
Kondisi aliran isothermal
Formasinya homogen dan arah alirannya horizontal
Fluidanya incompressible\
Berdasarkan jumlah fasa yang mengalir dalam batuan reservoir, permeabilitas dibedakan menjadi
tiga, yaitu :
Permeabilitas absolute (Kabs)

Yaitu kemampuan batuan untuk melewatkan fluida dimana fluida yang mengalir melalui media
berpori tersebut hanya satu fasa atau disaturasi 100% fluida, misalnya hanya minyak atau gas
saja.
Permeabilitas efektif (Keff)
Yaitu kemampuan batuan untuk melewatkan fluida dimana fluida yang mengalir lebih dari satu
fasa, misalnya (minyak dan air), (air dan gas), (gas dan minyak) atau ketiga-tiganya. Harga
permeabilitas efektif dinyatakan sebagai ko, kg, kw, dimana masing-masing untuk minyak, gas dan
air.
Permeabilitas relatif (Krel)
Yaitu perbandingan antara permeabilitas efektif pada kondisi saturasi tertentu terhadap
permeabilitas absolute. Harga permeabilitas relative antara 0 1 darcy.

3. Saturasi
Saturasi adalah perbandingan antara volume pori-pori batuan yang terisi fluida formasi tertentu
terhadap total volume pori-pori batuan yang terisi fluida atau jumlah kejenuhan fluida dalam
batuan reservoir per satuan volume pori. Oleh karena didalam reservoir terdapat tiga jenis fluida,
maka saturasi dibagi menjadi tiga yaitu saturasi air (Sw), saturasi minyak (So) dan saturasi gas
(Sg),

4. Resistivity
Batuan reservoir terdiri atas campuran mineral-mineral, fragmen dan pori-pori. Padatan-padatan
mineral tersebut tidak dapat menghantarkan arus listrik kecuali mineral clay. Sifat kelistrikan
batuan reservoir tergantung pada geometri pori-pori batuan dan fluida yang mengisi pori. Minyak
dan gas bersifat tidak menghantarkan arus listrik sedangkan air bersifat menghantarkan arus listrik
apabila air melarutkan garam.
Arus listrik akan terhantarkan oleh air akibat adanya gerakan dari ion-ion elektronik. Untuk
menentukan apakah material didalam reservoir bersifat menghantar arus listrik atau tidak maka
digunakan parameter resistiviti. Resistiviti didefinisikan sebagai kemampuan dari suatu material
untuk menghantarkan arus listrik.

5. Wettability
Wettability didefinisikan sebagai suatu kemampuan batuan untuk dibasahi oleh fasa fluida atau
kecenderungan dari suatu fluida untuk menyebar atau melekat ke permukaan batuan. Sebuah
cairan fluida akan bersifat membasahi bila gaya adhesi antara batuan dan partikel cairan lebih
besar dari pada gaya kohesi antara partikel cairan itu sendiri. Tegangan adhesi merupakan fungsi
tegangan permukaan setiap fasa didalam batuan sehingga wettabiliti berhubungan dengan sifat
interaksi (gaya tarik menarik) antara batuan dengan fasa fluidanya.

6. Tekanan Kapiler
Tekanan kapiler pada batuan berpori didefinisikan sebagai perbedaan tekanan antara fluida yang
membasahi batuan dengan fluida yang bersifat tidak membasahi batuan jika didalam batuan
tersebut terdapat dua atau lebih fasa fluida yang tidak bercampur dalam kondisi statis.