Anda di halaman 1dari 5

POTENSIOMETRI DAN KONDUKTOMETRI

Shofi Fajriah Ilmi1, Ika Rachmawati2, Nurulita Sari3


Departemen Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Institut Pertanian Bogor

ABSTRAK
Penentuan titik akhir titrasi larutan asam kuat/lemah dan basa kuat monovalen
serta penentuan konstanta ionisasi asam asetat dilakukan dengan metode potensiometri
dan konduktometri Titik akhir dalam titrasi dapat ditentukan dengan menetapkan
volume pada saat terjadi perubahan potensial atau konduktans yang relatif besar ketika
ditambahkan titran. Titik ekuivalen diperoleh setelah dibuat grafik hubungan antara
volume titran dan potensial/konduktans yang terukur. Penentuan titik akhir titrasi
larutan asam kuat/lemah dan basa kuat monovalen serta penentuan konstanta ionisasi
asam asetat dilakukan empat kali ulangan untuk metode potensiometri dan tiga kali
ulangan untuk metode konduktometri. Konsentrasi NaOH yang telah terstandariasi
menggunakan metode titrimetri, potensiometri dan konduktometri secara beurutan
adalah sebesar 0.1136 M, 0.1134 M, dan 0.1138 M. Penentuan konstanta ionisasi asam
asetat dengan metode potensiometri menghasilkan nilai Ka yang sama besar dengan
nilai Ka metode konduktometri, yaitu sebesar 10-8.

PENDAHULUAN
Potensiometri adalah satu cara elektrokimia untuk analisa ion secara kuantitatif
berdasarkan pengukuran potensial dari elektroda yang peka terhadap ion yang
bersangkutan. Metode ini digunakan untuk menentukan konsentrasi suatu ion, pH
larutan, dan titik akhir titrasi serta digunakan sebagai salah satu metode untuk mengukur
konsentrasi suatu larutan, yang dijelaskan melalui persamaan Nerst. Elemen yang
digunakan dalam potensiometri adalah elektroda pembanding, elektroda indikator,
jembatan garam, dan larutan yang dianalisis. Potensiometri dibagi menjadi
potensiometri langsung dan tidak langsung atau titrasi potensiometri. Metode langsung
berdasarkan pada perbandingan antara potensial yang terjadi saat elektroda indikator
dicelupkan pada larutan uji potensial dengan ketika elektroda dicelupkan pada larutan
standar analit. Dalam metode titrasi potensiometri, potensial diukur setelah penambahan
tiap tetes berurutan dari titran lalu pembacaan potensial yang diperoleh dijadikan grafik
dengan volume titran untuk memperoleh kurva titrasi. Titik akhir titrasi ditandai dengan
perubahan potensial yang mencolok. Sistem ini memperoleh ketelitian yang lebih baik
daripada titik ekivalen yang ditandai dengan perubahan warna maupun adanya endapan
(Suyanta et al. 2004).

Gambar 1 Radas titrasi potensiometri atau konduktometri

Salah satu teknik saat ini yang sering digunakan untuk analisis adalah
potensiometri yang berbasis elektroda selektif ion yaitu suatu elektroda yang berfungsi
sebagai sensor yang bekerja secara potensiometri dan akan memberikan respon berupa
potensial listrik terhadap ion tertentu secara selektif. Pengukuran menggunakan
elektroda selektif ion mempunyai kelebihan antara lain relatif murah, mudah digunakan
dan memiliki jangkauan aplikasi yang sangat luas, selektif dan memiliki waktu respons
cepat (Utami 2013).
Adanya ion dalam larutan dapat pula menghantarkan listrik. Larutan yang
banyak mengandung ion akan menghantarkan arus listrik dengan baik, sedangkan yang
mengandung relatif sedikit ion hanya sedikit menghantarkan arus listrik. Konduktometri
merupakan metode analisis kimia yang didasarkan pada daya hantar listrik suatu larutan
analat. Daya hantar suatu larutan bergantung jumlah, ukuran, muatan ion, dan sifat-sifat
pelarut seperti kekentalan. Daya hantar larutan (G) berbanding terbalik dengan tekanan
larutan. Bila larutan suatu elektrolit diencerkan, konduktivitas akan turun karena
terdapat ion dengan jumlah lebih sedikit yang berada tiap cm 3 larutan untuk membawa
arus. Jika semua larutan itu ditaruh antara dua elektrode yang terpisah 1 cm satu sama
lain dan cukup besar untuk mencakup seluruh larutan, konduktivitas akan naik pada saat
larutan diencerkan. Ini sebagian besar disebabkan oleh berkurangnya efek antar ionik
untuk elektrolit kuat dan oleh kenaikan derajat disosiasi untuk elektrolit lemah
(Mukhlas M dan Yushardi 2012).
BAHAN DAN METODE
Alat dan bahan
Alat yang digunakan pada percobaan potensiometri adalah potensiometer, gelas
piala, magnetic stirrer, buret 50 mL, neraca analitik, gelas arloji, gelas ukur, dan batang
pengaduk. Percobaan konduktometri menggunkana alat-alat yang sama, tetapi
potensiometer diganti dengan konduktometer.
Bahan yang digunakan untuk percobaan konduktometri adalah adalah NaOH
0.1, asam oksalat 0.1 N, HCl 0.1 N, asam asetat 0.1 N, akuades, dan dua nilai pH buffer
untuk kalibrasi potensiometer. Percobaan konduktometri juga menggunakan bahanbahan yang sama, tetapi dua nilai pH diganti dengan larutan KCl untuk kalibrasi
konduktometer.
Metode

Percobaan potensiometri dimulai dengan kalibrasi dua nilai pH potensiometer


menggunakan larutan buffer. Selanjutnya, NaOH distandardisasi menggunakan asam
oksalat 0.1 N. Standardisasi dilakukan dengan mengukur potensial larutan campuran
NaOH dengan asam oksalat yang diaduk dengan magnetic stirrer. Pengukuran
dilakukan setiap 0.5 mL saat penambahan 1-9 mL, setiap 0.1 mL pada penambahan 9-11
mL, dan setiap 0.5 mL pada penambahan 11-18 mL. Standardisasi ini dilakukan
sebanyak empat kali ulangan. Selanjutnya HCl dititrasi dengan NaOH yang telah
distandardisasi sebanyak empat kali ulangan dengan pengadukan menggunakan
magnetic stirrer. Pengukuran potensial dilakukan dengan rentang sama seperti saat
standardisasi. Penentuan konstanta ionisasi asam lemah dilakukan dengan mengukur
potensial dari titrasi asam lemah (asam asetat) dengan NaOH terstandardisasi sebanyak
empat kali ulangan dengan pengadukan menggunakan magnetic stirrer. Pengukuran
potensial dilakukan dengan rentang sama seperti standardisasi.
Percobaan konduktometri dimulai dengan kalibrasi konduktometer
menggunakan larutan KCl. Selanjutnya, NaOH distandardisasi menggunakan asam
oksalat 0.1 N. Standardisasi dilakukan dengan mengukur konduktansi larutan campuran
NaOH dengan asam oksalat yang diaduk dengan magnetic stirrer. Pengukuran
dilakukan setiap 0.5 mL saat penambahan 0-20 mL, Standardisasi ini dilakukan
sebanyak tiga kali ulangan. Selanjutnya HCl dititrasi dengan NaOH yang telah
distardardisasi sebanyak tiga kali ulangan dengan pengadukan menggunakan magnetic
stirrer. Pengukuran konduktansi dilakukan setiap 1 mL saat penambahan 1-5 mL, setiap
0.5 mL pada penambahan 5-15 mL, dan setiap 1 mL pada penambahan 15-20 mL.
Penentuan konstanta ionisasi asam lemah dilakukan dengan mengukur konduktansi dari
titrasi asam lemah (asam asetat) dengan NaOH terstandardisasi sebanyak tiga kali
ulangan dengan pengadukan menggunakan magnetic stirrer. Pengukuran konduktansi
dilakukan setiap 0.5 mL saat penambahan 0-20 mL.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Titik ekivalen (TE) suatu reaksi titrimetri, potensiometri ataupun konduktmetri
dapat ditentukan dengan memonitor reaksi titrasi dengan sensor yang cocok dengan
perubahan sinyal sebagai fungsi konsentrasi analat. Plot data ini nantinya akan
menghasilkan kurva titrasi dan TE dapat ditentukan dari kurva tersebut dengan
kesalahan yang lebih minimal. Metode paling sederhana dalam menentukan TE secara
visual dari kurva titrasi ini yaitu menentukan titik belok pada kurva titrasi
yang dihasilkan.
Metode potensiometri dan konduktometri digunakan untuk menentukan nilai Ka
melalui titik akhir titrasi. Penentuan titik akhir dari titrasi dapat menggunakan kurva
titrasi normal, kurva derivat pertama, dan kurva derivat kedua. Kurva titrasi normal
berupa kurva dengan daerah curam antara volume titran dengan potensial sebagai titik
ekuivalen titrasi. Kurva derivat pertama memiliki titik ekuivalen titrasi berupa titik
tajam menukik ke bawah sebagai hasil plot volume titran dengan E/V. Kurva derivat

kedua sebagai plot antara 2E/V2 memiliki titik ekuivalen pada garis sejajar dengan
kedua puncak kurva. Derivatif kedua kurva titrasi mungkin lebih tepat dalam
menentukan TA dibandingkan dengan yang derivatif pertama, karena TA diperoleh dari
titik potong dengan sumbu x (volume titran) kurva titrasi (Khopkar 1990).
Standarisasi NaOH dan asam lemah dengan basa kuat pada berbagai ulangan
menunjukan bahwa dengan penambahan NaOH menyebabkan penurunan potensial.
Titik ekuivalen (TE) titrasi NaOH diperoleh pada volume penambahan titran sebesar
mL sehingga diperoleh konsentrasi NaOH dalam larutan adalah
M dengan
ketelitian
, sedangkan konsentrasi NaOH hasil standardisasi menggunakan metode
titrimetri sebesar
M. Penurunan potensial juga terjadi pada titrasi HCL dengan
NaOH namun mengalami kenaikan potensial kembali setelah tercapainya TE.
Penentuan tetapan disosiasi asam lemah kurang cocok dengan menggunakan
potensiometri, sehingga dilakukan
percobaan yang sama dengan prosedur
konduktometri.
Prinsip titrasi konduktometri adalah dengan mengukur daya hantar larutan
berdasarkan suatu pergerakan ion dalam larutan dengan bantuan sel elektroda (Djenar et
al. 2001). Cara kerja dari metode ini yaitu dengan cara sebelum tercapainya titik
ekuivalen ion H+ akan digantikan oleh Na+ dan Cl- oleh OH- karena titran yang
digunakan adalah NaOH. Mobilitas H+ lebih tinggi dibandingkan dengan Na+ sehingga
terjadi perubahan dari nilai konduktan yang tinggi menjadi rendah yang mengakibatkan
kurva menjadi curam (Djenar et al. 2001). Penambahan larutan NaOH mengakibatkan
penurunan konduktans, lalu konduktans akan naik kembali setelah titik ekuivalen
tercapai. Hal tersebut memberikan kurva yang berbentuk parabola, sehingga titik
ekuivalen dapat ditentukan di dasar atau lembah kurva tersebut.
Penentuan nilai Ka asam asetat menggunakan metode ini lebih tepat karena
memberikan kurva V yang lebih landai daripada kurva potensiometri. Hal ini
disebabkan adanya sistem buffer yang menjaga nilai konduktans tersebut. Sistem ini
bekerja karena asam lemah memiliki disosiasi yang tidak sempurna sehingga
disosoasinya sangat lambat. Keadaan tersebut dimanfaatkan oleh ion-ion Na+ untuk
bergabung sehingga nilai konduktansnya tidak turun terlalu tajam. Nilai konstanta asam
(Ka) yang diperoleh dari kedua metode sama besar, yaitu 10-8 .

SIMPULAN

Pengukuran konsentrasi suatu larutan asam maupun basa dapat ditentukan


melalui titrasi potensiometri dan titrasi konduktometri melalui penentuan titik akhir
titrasi. Nilai Ka asam asetat dapat ditentukan melalui plot antara nilai
potensial/konduktans dengan volume titran.
DAFTAR PUSTAKA

Djenar NS, Widiastuti E, Marlina A. 2001. Kimia Analitik Instrumentasi. Bandung (ID)
Politeknik Negeri Bandung
Khopkar, S.M. 2008. Konsep Dasar Kimia Analitik. Jakarta (ID): UI-Press.
Mukhlas M, Yushardi. 2012. Uji kualitas pupuk organik berdasarkan daya hantar listrik
pada campuran kompos dan jerami padi. Jurnal Pembelajaran Fisika. 1(1): 131137.
Restu Tri Utami. 2013. Desain Ekstraktor untuk Analisa Nitrat dan Kalium Dalam
Tanah Pertanian dengan Metode Potensiometri [skripsi]. Jember (ID): UNEJ.
Suyanta, Susanto IR, Buchari, Indra N. 2004. Kinerja elektroda selektif ion lantanum
dengan ionophore DACDA [skripsi]. Yogyakarta (ID): Universitas Negeri
Yogyakarta.