Anda di halaman 1dari 8

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

SUSPENSI KERING (REKONSTITUSI)


(Re-New by: Afrian)

I . PENDAHULUAN
A. Definisi
FI IV hlm. 17 : Suspensi dapat dibagi dalam 2 jenis, yaitu suspensi yang siap digunakan atau
yang dikonstitusikan dengan sejumlah air untuk injeksi atau pelarut lain yang sesuai sebelum
digunakan. Suspensi tidak boleh diinjeksikan secara intravena dan intratekal.

BP 2002 hal. 1181,1884 : Serbuk dan granul untuk larutan dan suspensi oral : Serbuk oral
adalah preparat yang mengandung zat padat longgar (loose), partikel kering yang bervariasi
dalam derajat kehalusannya. Dapat mengandung satu atau lebih zat aktif, dengan atau tanpa
bahan pembantu, dan jika perlu, zat warna yang diizinkan serta zat pemberi rasa. Disuspensikan
dalam air atau pembawa lain sebelum diberikan oral.

Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hal 318, hlm 326 : Suatu suspensi yang
direkonstitusikan adalah campuran sirup dalam keadaan kering yang akan didispersikan dengan
air pada saat akan digunakan dan dalam USP tertera sebagai for oral suspension. Bentuk
suspensi ini digunakan terutama untuk obat yang mempunyai stabilitas terbatas di dalam pelarut
air, seperti golongan antibiotika.

B. Alasan Pembuatan Suspensi Kering (Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hal
318, hlm 317)
Umumnya, suatu sediaan suspensi kering dibuat karena stabilitas zat aktif di dalam pelarut air
terbatas, baik stabilitas kimia atau stabilitas fisik. Umumnya antibiotik mempunyai stabilitas yang
terbatas di dalam pelarut air.
C. Persyaratan Sediaan Suspensi Rekonstitusi (Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2,
hal 318)
1. Campuran serbuk/granul haruslah merupakan campuran yang homogen, sehingga
konsentrasi/dosis tetap untuk setiap pemberian obat.
2. Selama rekonstitusi campuran serbuk harus terdispersi secara cepat dan sempurna dalam
medium pembawa.
3. Suspensi yang sudah direkonstitusi harus dengan mudah didispersikan kembali dan dituang oleh
pasien untuk memperoleh dosis yang tepat dan serba sama.
4. Produk akhir haruslah menunjukkan penampilan, rasa, dan aroma yang menarik.
D. Keuntungan Sediaan Suspensi Rekonstitusi (Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol
2, hal 318, hlm 317; Diktat Tek. Likuid & Semsol, Goeswin 1993, hlm. 89)
Untuk zat aktif yang tidak stabil dalam pembawa air, kestabilan zat aktif dapat dipertahankan karena
kontak zat padat dengan medium pendispersi dapat dipersingkat dengan mendispersikan zat padat
dalam medium pendispersi pada saat akan digunakan.
E. Beberapa Hal yang Harus Diperhatikan Dalam Pengolahan Campuran Kering (Pharm.Dosage
Forms:Disperse System, 1989, Vol 2, hal 318, hlm 325)
1. Gunakan pengaduk yang efisien. Evaluasi prosesing skala batch pada alat skala pilot. Jadi,
bukan menggunakan peralatan laboratorium.
2. Tentukan waktu pengadukan yang sesuai.
3. Hindari pengumpulan panas dan kelembaban selama pengadukan.
4. Batasi variasi suhu dan kelembaban. Umumnya adalah 70oC dengan RH >40%.
5. Batch yang sudah selesai diolah harus disimpan terlindung dari kelembaban. Simpan dalam
wadah tertutup rapat yang dilengkapi dengan kantong pengering silika gel.
6. Ambil contoh untuk menguji keseragaman batch. Lakukan pengujian pada bagian atas, tengah,
dan bawah dari campuran kering.

97

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

Ada masalah potensial akibat terjadinya perubahan sifat aliran dari campuran kering, yaitu dapat
menyebabkan demixing, pemisahan dan penyerapan kelembaban selama pengolahan atau pada
serbuk yang sudah kering sempurna.
Aliran yang tidak baik atau caking sering terjadi apabila individu partikel bergabung. Penyebabnya
antara lain :
Tidak stabil terhadap suhu tinggi
Muatan permukaan
Variasi kelembaban
Kristalisasi
Pemampatan karena berat serbuk.
Contoh yang tidak baik :
Anti foam mengambang pada permukaan, tidak membentuk lapisan tipis.
Masa kental Na CMC lengket pada leher botol.
Zat warna tidak homogen, terlihat sebagian warna pekat.
F. Jenis Sediaan Suspensi Rekonstitusi (Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hal

318, hlm 323-325)


Ada 3 jenis sediaan suspensi rekonstitusi, yaitu :
1. Suspensi rekonstitusi yang berupa campuran serbuk
Formulasi berupa campuran serbuk merupakan cara yang paling mudah dan sederhana. Proses
pencampuran dilakukan secara bertahap apabila ada bahan berkhasiat dalam komponen yang berada
dalam jumlah kecil. Penting untuk diperhatikan, alat pencampur untuk mendapatkan campuran yang
homogen.
Keuntungan formulasi bentuk campuran serbuk :

Alat yang dibutuhkan sederhana, hemat energi dan tidak banyak

Jarang menimbulkan masalah stabilitas dan kimia karena tidak digunakannya pelarut dan
pemanasan saat pembuatan.

Dapat dicapai keadaan kelembaban yang sangat rendah


Kerugian formulasi bentuk campuran serbuk :

Homogenitas kurang baik. Sulit untuk menjamin distribusi obat yang homogen ke dalam
campuran.

Kemungkinan adanya ketidakseragaman ukuran partikel.

Aliran serbuk kurang baik.


Variasi ukuran partikel yang terlalu banyak berbeda dapat menyebabkan pemisahan dalam bentuk
lapisan dengan ukuran berbeda. Aliran yang tidak baik dapat menimbulkan pemisahan.
2. Suspensi rekonstitusi yang digranulasi
Pembuatan dengan cara digranulasi terutama ditujukan untuk memperbaiki sifat aliran serbuk dan
pengisian dan mengurangi volume sediaan yang voluminous dalam wadah.
Dengan cara granulasi ini, zat aktif dan bahan-bahan lain dalam keadaan kering dicampur sebelum
diinkorporasi atau disuspensikan dalam cairan penggranulasi. Granulasi dilakukan dengan
menggunakan air atau larutan pengikat dalam air. Dapat juga digunakan pelarut non-air untuk bahan
berkhasiat yang terurai dengan adanya air.
Keuntungan cara granulasi :
a. Memiliki penampilan yang lebih baik daripada campuran serbuk.
b. Memiliki sifat aliran yang lebih baik.
c. Tidak terjadi pemisahan.
d. Tidak terlalu banyak menimbulkan debu selama pengisian.
Kerugian cara granulasi :
a. Melibatkan proses yang lebih panjang serta dibutuhkan peralatan yang lebih banyak dan butuh
energi listrik.

97

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

b. Adanya panas dan kontak dengan pelarut dapat menyebabkan terjadinya resiko instabilitas zat
akif.
c. Sulit sekali menghilangkan sesepora cairan penggranul dari bagian dalam granul dimana dengan
adanya sisa cairan penggranul kemungkinan dapat menurunkan stabilitas cairan.
d. Eksipien yang ditambahkan harus stabil terhadap proses granulasi.
e. Ukuran granul diusahakan sama karena bagian yang halus akan memisah sebagai fines.
3. Suspensi rekonstitusi yang merupakan campuran antara granul dan serbuk
Pada cara ini komponen yang peka terhadap panas seperti zat aktif yang tidak stabil terhadap panas
atau flavor dapat ditambahkan sesudah pengeringan granul untuk mencegah pengaruh panas. Pada
tahap awal dibuat granul dari beberapa komponen, kemudian dicampur dengan serbuk (fines).
Kerugian dari cara ini :
a. Meningkatnya resiko tidak homogen.
b. Untuk menjaga keseragaman, ukuran partikel harus dikendalikan.
Perbandingan Ketiga Jenis Suspensi Rekonstitusi (Pharm.Dosage Forms : Disperse System, 1989,
Vol 2, hal 318, hlm 326)
Jenis Suspensi
Campuran serbuk

Keuntungan
Lebih ekonomis; resiko
ketidakstabilan lebih rendah.
Campuran granul
Penampilan lebih baik;
karakteristik aliran lebih baik;
segregasi dan debu dapat
ditekan.
Kombinasi antara Harga lebih murah; dapat
serbuk dan granul
menggunakan senyawa yang
tidak tahan panas.

Kerugian
Terjadi mixing dan segregasi;
kehilangan selama proses.
Harga lebih mahal; efek panas dan
cairan penggranulasi pada obat dan
eksipien.
Dapat terjadi segregasi campuran
yang granular dan non-granular.

I I . FORMULA
A. Formulasi Umum Suspensi Rekonstitusi (Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2,
hlm. 319)
Aspek formulasi yang harus diperhatikan dalam merancang bentuk sediaan suspensi: ukuran partikel,
pemakaian zat pembasah (jika diperlukan), suspensi yang akan dibentuk (flokulasi/deflokulasi)
Kriteria pemilihan komponen didasarkan pada kesesuaian untuk rekonstitusi dan jenis bentuk fisik
campuran serbuk yang dibutuhkan.
Di dalam mengembangkan formulasi, bahan yang digunakan sebaiknya seminimal mungkin karena
makin banyak bahan akan makin menimbulkan masalah seperti masalah inkompatibilitas akan
meningkat dengan makin banyaknya bahan yang dicampurkan.
Oleh karena itu, sedapat mungkin eksipien yang digunakan adalah yang benar-benar dibutuhkan
dalam formulasi. Sangat dianjurkan menggunakan eksipien yang dapat berfungsi lebih dari satu
macam saja. Semua eksipien harus sesegera mungkin terdispersi pada saat direkonstitusi.
B. Komponen yang Terdapat Dalam Suspensi Rekonsitusi Terdiri Dari :
1. Zat aktif
Zat aktif dengan kelarutan yang relatif kecil di dalam fasa pendispersi. Sifat partikel yang harus
diperhatikan adalah ukuran partikel dan sifat permukaan padat-cair (hidrofob/hidrofil).
2.

Bahan Pensuspensi (Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hlm. 320) Bahan
ini digunakan untuk memodifikasi viskositas dan menstabilkan zat yang tidak larut dalam
medium pendispersi.

97

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

Bahan pensuspensi yang digunakan harus mudah terdispersi dan mengembang dengan
pengocokan secara manual selama rekonstitusi. Zat pensuspensi yang membutuhkan hidrasi,
suhu tinggi atau pengadukan dengan kecepatan tinggi untuk pengembangannya tidak dapat
digunakan, misalnya agar, karbomer, meilselulosa. Walaupun metilselulosa dan Al Mg silikat
tidak dianjurkan digunakan, tetapi ternyata baik sekali untuk formula cephalexin dan eritromisin
etil suksinat.
Bahan pensuspensi yang sering digunakan dalam suspensi rekonstitusi antara lain:
Nama Zat
Muatan Listrik
Akasia
CMC Na
Iota karagen
Mikrokristalin selulosa dengan CMC Na
Povidon
0
Propilenglikol alginat
Silikon dioksida, koloidal
0
Na starch glycolate
Tragakan
Xanthan gum
Tragakan akan menghasilkan campuran yang kental dan digunakan untuk mensuspensikan
partikel yang tebal. Alginat akan menghasilkan campuran yang kental. Iota karagenan akan
menghasilkan dispersi tiksotropik. Tetapi, kelemahan penggunaan ketiga zat tersebut yang
merupakan gum alam adalah terjadinya variasi atau perbedaam dalam warna, kekentalan,
kekuatan gel, dan kecepatan hidrasi.
3. Pemanis (Pharm.Dosage Forms : Disperse System, 1989, Vol 2, hlm. 321-322) Obat umumnya
pahit dan rasanya tidak enak. Untuk mengatasi hal ini sukrosa selain digunakan sebagai pemanis,
berperan pula sebagai peningkat viskositas dan pengencer padat. Sukrosa dapat pula dihaluskan
untuk meningkatkan luas permukaan dan dapat pula digunakan sebagai pembawa untuk
komponen yang berbentuk cair misalnya minyak atsiri. Pemanis lain yang dapat digunakan:
manitol, aspartam, dekstrosa, dan Na sakarin. Aspartam cukup stabil tetapi tidak tahan panas.
4. Wetting agent (Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hlm. 322) Wetting agent
ini dipakai jika zat aktif bersifat hidrofob. Zat yang hidrofob menolak air, untuk mempermudah
pembasahan ditambahkan wetting agent. Wetting agent ini harus efektif pada konsentrasi kecil.
Wetting agent yang berlebihan akan mengakibatkan pembentukan busa dan rasa yang tidak
menyenangkan. Yang lazim digunakan adalah Tween 80, non ionik, kebanyakan kompatibel
dengan eksipien kationik dan anionik dari obat. Konsentrasi yang biasa digunakan adalah <0,1%.
Zat lain yang lazim digunakan adalah Na lauril sulfat, anionik, inkompatibel dengan obat
kationik.
5. Dapar (Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hlm. 322)
Untuk mencapai pH yang optimum dari semua bahan yang ditambahkan. Untuk mengatur
stabilitas dan menjaga agar obat tetap berada dalam keadaan tidak larut. Dapar yang lazim
digunakan adalah dapar sitrat
6. Pengawet (Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hlm. 322)
Pengawet untuk suspensi rekonstitusi terbatas karena kelarutannya rendah pada suhu kamar.
Sukrosa pada konsentrasi 60% w/w dapat mencegah pertumbuhan mikroba. Pengawet yang
umum digunakan adalah sukrosa, kalium sorbat, natrium benzoat, natrium metil hidroksibenzoat.
Natrium benzoat cukup efektif dalam pH asam dimana molekul tidak mengalami ionisasi.
Diperlukan untuk mencegah pertumbuhan mikroba, tidak dianjurkan pemakaian asam sorbat dan
senayawa paraben.
7. Flavor (Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hlm. 323) Digunakan secukupnya
untuk meningkatkan penerimaan pasien penting sekali untuk anakanak. Harus dilihat peraturan
Menkes terutama zat yang boleh digunakan.

97

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

8.

Pewarna (Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hlm. 323)


Pewarna digunakan untuk meningkatkan estetika. Penggunaan pewarna ini harus diperhatikan,
karena dapat terjadi inkompatibilitas dengan zat lain karena faktor ionik, misalnya FD&C Red
No.3 yang merupakan garam dinatrium, merupakan senyawa anionik dan inkompatibel dengan
wetting agent kationik.

9.

Anti caking (Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hlm. 323)
Digunakan amorphous silica gel. Masalah umum yang terjadi dalam pencampuran serbuk adalah
aliran yang jelek dan caking, karena terjadi aglomerasi akibat lembab. Sebagai pengering, bahan
ini dapat menarik kelembaban dari campuran serbuk kering untuk mempermudah aliran serbuk
dan mencegah caking. Selain itu zat ini akan memisahkan partikel tetap kering untuk mencegah
penyatuan, juga berfungsi sebagai isolator termal, menghalangi dan mengisolasi kondisi muatan
dan secara kimia bersifat inert.

C. Eksipien (Pharm.Dosage Forms :Disperse System, 1989, Vol 2, hlm. 319)


Eksipien yang Biasa
Ditambahkan
Suspending agent
Wetting agent
Pemanis
Pengawet
Flavor
Dapar
Pewarna

Eksipien yang Tidak Biasa


Ditambahkan
Anticaking
Flocculating agent
Solid diluent
Antibusa
Desintegran granul
Antioksidan
Lubrikan

I I I . P E M B U ATAN S E D I A A N S U S P E N S I R E K O N S T I T U S I
A. Prosedur Lengkap Pembuatan Suspensi Rekonstitusi
(Modul praktikum Tek. Sediaan Likuid & Semisolid, 2003, hal 30-32)
1. Cara tanpa granulasi :

Zat aktif dan eksipien ditimbang sejumlah yang dibutuhkan.

Masing-masing zat digerus dan dicampurkan sampai homogen.

Botol ditara sesuai volume yang akan dibuat dan dikeringkan.

Masing-masing zat digerus kemudian dicampurkan, campuran sediaan ditimbang dan


dimasukkan ke dalam botol yang sudah ditara dan dikocok sampai homogen.

Air ditambahkan sampai volume yang sudah ditentukan (bila langsung direkonstitusi).

Hitung waktu rekonstitusi.


2. Cara granulasi :

Masing-masing zat ditimbang sejumlah yang dibutuhkan.

Botol ditara sesuai dengan volume yang akan dibuat dan dikeringkan.

Masing-masing zat dihaluskan.

Masa granulasi dibuat dengan mencampurkan zat aktif, pemanis, pewarna, pengawet, pengikat
kemudian ditambahkan pelarut untuk membuat granul sedikit demi sedikit dengan pipet sampai
terbentuk masa yang dapat dikepal.

Masa granulasi diayak lalu dikeringkan sampai kadar air kurang dari 2%.

Ke dalam masa granul yang telah dikeringkan ditambahkan fines (zat aktif dan atau suspending
agent).

Bila diperlukan pembasah untuk zat yang hidrofob, maka ditambahkan zat pembasah dengan
jalan disemprotkan ke dalam masa granul.

Campuran masa granul dan fines ditimbang dan dimasukkan ke dalam botol yang telah ditara,
ditambahkan air sampai volume yang sudah ditentukan (jika langsung direkonstitusi).

Hitung waktu rekonstitusi.

97

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

B. Perhitungan dan Penimbangan


1. Perhitungan
Akan dibuat sediaan suspensi kering X dengan volume a ml per botol. Kekuatan sediaan yang
dibuat adalah ...........mg/5ml, dengan jumlah Z botol (coklat), dengan metoda ..
Jumlah sediaan yang akan dibuat Z botol @ a ml. Untuk keperluan uji mutu sediaan akhir sebagai
berikut :

Karena dari seluruh uji diatas ada uji yang tidak destruktif sehingga dapat digunakan untuk uji evaluasi
yang lain. Jadi jumlah suspensi kering yang akan dibuat adalah Z + 30 = Y botol
Volume tiap botol dilebihkan 3% untuk menjamin ketepatan volume sediaan setelah dituang dari botol.
Persentase penambahan volume mengacu pada FI IV <1131>, hal 1044. Volume sediaan tiap botol = a
ml + (3 % x a ml) = d ml
Total volume sediaan yang akan dibuat : Y botol x d ml = b ml
Untuk mencegah kehilangan selama pembuatan maka total sediaan dilebihkan 10 % , sehingga volume
total yang dibuat = b ml + (10% x b) ml = c ml.
2. Penimbangan
Formula yang akan dibuat :
Tiap 5 ml mengandung :
R/ zat aktif
Zat tambahan 1
Dll

m mg
n %

Penimbangan : (untuk mudahnya, diurutkan berdasarkan formula sediaan)


No. Bahan yang ditimbang Untuk volume 5 ml Untuk volume c ml
m mg
1. Zat aktif
m mg
x c 5ml
ml
2.
3.

Zat tambahan 1
dll

n % x 5 ml

n % x c ml

Contoh perhitungan fines bila menggunakan metoda semi granulasi :


Formula :

97

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

Misalkan akan dibuat sediaan sirup kering eritromisin stearat dengan kekuatan sediaan:
eritromisin stearat setara dengan eritromisin 250 mg/ 5ml, dengan volume per botol 60 ml.
Jumlah yang akan dibuat 45 botol (sudah termasuk jumlah yang diserahkan dan jumlah untuk
evaluasi).
Maka :
Volume tiap botol = 60 ml + (60 x 3%) = 61,8 ml
Untuk 45 botol
= 45 x 61,8 ml
= 2781 ml
Untuk mencegah kehilangan selama pembuatan maka total sediaan dilebihkan 10 % sehingga
volume total yang dibuat = 2781 ml + (10% x 2781) ml = 3059,1 ml dibulatkan 3060 ml.

Bahan-bahan yang akan digranulasi adalah sukrosa, nipagin, nipasol dan flavor. Jadi jumlahnya:
(612 + 5,51 + 0,61 + 0,61) g = 618,73 g
Maka jumlah PVP yang diperlukan:
1% x 618,73 g = 6,19 g
Total masa yang digranulasi : (618,73 + 6,19) g = 624,92 g
Misal : Setelah granul dikeringkan, diperoleh bobot granul menjadi 610 g dengan kadar air 1%.
Maka :
Jumlah botol suspensi yang diperoleh (kadar air 0%) = 0,99 x 610 x 45 botol = 43,49 botol.
624,92

C. Catatan Untuk Suspensi Rekonstitusi


Pada etiket serbuk untuk suspensi jadi harus juga tertera : (Fornas ed. 2, Th.1978 hal 333)
Pada etiket suspensi harus tertera KOCOK DAHULU
1. Volume cairan pembawa yang diperlukan
2. Sebelum digunakan, dilarutkan dalam cairan pembawa yang tertera pada etiket.

97

TEORI SEDIAAN APOTEKER ITB OKTOBER 2007/2008

LIKUIDA

I V . EVALUASI SEDIAAN SUSPENSI REKONSTITUSI


A. Evaluasi Fisika (Modul prak Likuida & Semsol, 2003, hal. 32)
1. Organoleptik
Dilakukan pengamatan terhadap warna (intensitas warna), bau (terjadinya perubahan bau),
rasa (perubahan mouthfeel).
2. Penentuan volume sedimentasi (Lihat Bab III Evaluasi dan Penyimpanan)
3. Penentuan waktu rekonstitusi (Lihat Bab III Evaluasi dan Penyimpanan)
4. Penentuan viskositas dan sifat aliran (Lihat Bab III Evaluasi dan Penyimpanan)
5. Penentuan homogenitas (Lihat Bab III Evaluasi dan Penyimpanan)
6. Penentuan pH (Lihat Bab III Evaluasi dan Penyimpanan)
7. Penetapan kadar air (Lihat TS solida)
8. Ukuran partikel & distribusi ukuran partikel zat yang terdispersi
9. Berat jenis sediaan
10. Penentuan volume terpindahkan
B. EvaluasiKimia
1. Penetapan kadar (dalam monografi zat aktif masing-masing)
2. Identifikasi (dalam monografi zat aktif masing-masing)
C. Evaluasi Biologi
1. Penetapan potensi antibiotika(FI IV <131>, hal 891-899)
2. Pengujian efektivitas pengawet antimikroba <61>(FI IV hal 854)
V . CONTOH FORMULA SUSPENSI REKONSTITUSI
(Pharm.Dosage Forms : Disperse System, 1989, Vol 2, hlm. 331-332)
a. SULFAMETHAZIN
R/
Sulfamethazine
5%
Sukrosa
60 %
Na Alginat
1,75 %
Na sitrat
0,88 %
Asam sitrat
0,4 %
Na benzoat
0,2 %
Tween 80
0,08 %
Keterangan :

Dosis sulfamethazine setelah direkonstitusi = 250 mg/5 mL.

Sukrosa sebagai pemanis dan solid diluent

Na alginat sebagai suspending agent. Na benzoat sebagai pengawet.

Asam sitrat dan Na sitrat sebagai dapar agar suspensi setelah direkontitusi pH=5.
Tween 80 sebagai wetting agent, yang membantu dispersi dari sulfametazin.
Volume sedimentasi suspensi ini setelah 10 hari pada suhu 30 oC adalah 0,95.
b. ERITROMISIN STEARAT
R/
Eritromisin stearat
Sukrosa
Na alginat
Na benzoat
Tween 80
c.

TETRASIKLIN HCl
R/
Tetrasiklin HCl
Sukrosa
Sterculia gum
Na bikarbonat
Na
benzoat
Tween 80

6,94 %
60 %
1,5 %
0,2 %
0,12 %
5,41 %
60 % 1
% 0,76
% 0,2 %
0,8 %

97