Anda di halaman 1dari 14

LAPORAN PENDAHULUAN

ASUHAN KEPERAWATAN METERNITAS


PADA PASIEN DENGAN CA SERVIX DI RUANG KEMUNING
RS. HASAN SADIKIN
BANDUNG

Oleh :
Dahlia Monica S.
PPN 14164

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN IMMANUEL


PROGRAM PROFESI NERS
BANDUNG
2015

BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Pengertian
Kanker serviks adalah penyakit akibat tumor ganas pada daerah mulut
rahim sebagai akibat dari adanya pertumbuhan jaringan yang tidak terkontrol
dan merusak jaringan normal di sekitarnya (FKUI, 1990; FKKP, 1997).
Kanker serviks adalah pertumbuhan sel-sel abnormal pada daerah batas
antara epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan endoserviks kanalis
serviksalis yang disebut squamo-columnar junction (SCJ) (Wiknjosastro,
Hanifa. 2005).
B. Anatomi Fisiologi

Organ reproduksi wanita terbagi menjadi dua yaitu organ eksterna dan organ
interna. Organ Eksterna di kenal sebagai uvula dan terdiri dari atas bagianbagian berikut :
1. Mons veneris, sebuah bantalan lemak yang terletak di depan simpisis pubis
2. Labia mayora, dua lipatan tebal yang membentuk sisi vulva.
3. Labia minora, dua lipatan kecil dari kulit di antara bagian atas labia
mayora.
4. Klitoris, sebuah jaringan erektil yang serupa dengan penis laki-laki.
Letaknya anterior dalam vestibula.
5. Vestibula, setiap sisi di batasi lipatan labia dan bersambung dengan vagina.
Pemisah antara genetalian eksterna dan interna.
6. Hymen, merupakan lapisan tipis yang menutupi sebagian besar dari
introitus vagina.

Organ reproduksi bagian dalam :


1. Vagina, sebagai tempat saluran yang digunakan untuk mengeluarkan
darah saat haid, sebagai alat untuk bersenggama, dan sebagai jalan lahir
bayi saat melahirkan.
2. Uterus, menahan ovum yang telah di buahi selama perkembangan.
3. Tuba falopi, sebagai saluran yang membawa ovum dari ovarium ke
uterus.
4. Ovarium, memproduksi estrogen dan progesteron.
5. Servix , mulut rahim
C. Etiologi
Penyebab kanker serviks belum jelas diketahui namun ada beberapa faktor
resiko dan predisposisi yang menonjol, antara lain :
1. Umur pertama kali melakukan hubungan seksual
Penelitian menunjukkan bahwa semakin muda wanita melakukan
hubungan seksual semakin besar mendapat kanker serviks. Kawin pada
usia 20 tahun dianggap masih terlalu muda
2. Jumlah kehamilan dan partus
Kanker serviks terbanyak dijumpai pada wanita yang sering partus.
Semakin sering partus semakin besar kemungkinan resiko mendapat
karsinoma serviks.
3. Jumlah perkawinan
Wanita yang sering melakukan hubungan seksual dan berganti-ganti
pasangan mempunyai faktor resiko yang besar terhadap kankers serviks
ini.
4. Infeksi virus
Infeksi virus herpes simpleks (HSV-2) dan virus papiloma atau virus
kondiloma akuminata diduga sebagai factor penyebab kanker serviks
5. Sosial Ekonomi
Karsinoma serviks banyak dijumpai pada golongan sosial ekonomi rendah
mungkin faktor sosial ekonomi erat kaitannya dengan gizi, imunitas dan
kebersihan perseorangan.
Pada golongan sosial ekonomi rendah
umumnya kuantitas dan kualitas makanan kurang hal ini mempengaruhi
imunitas tubuh.
6. Hygiene dan sirkumsisi
Diduga adanya pengaruh mudah terjadinya kankers serviks pada wanita
yang pasangannya belum disirkumsisi. Hal ini karena pada pria non
sirkum hygiene penis tidak terawat sehingga banyak kumpulan-kumpulan
smegma.
7. Merokok dan AKDR (alat kontrasepsi dalam rahim)
Merokok akan merangsang terbentuknya sel kanker, sedangkan pemakaian
AKDR akan berpengaruh terhadap serviks yaitu bermula dari adanya erosi

diserviks yang kemudian menjadi infeksi yang berupa radang yang terus
menerus, hal ini dapat sebagai pencetus terbentuknya kanker serviks
(Rohmat Ratih, 2010)
D. Patofisiologi

E. Tanda dan gejala


Perdarahan
Sifatnya bisa intermenstruit atau perdarahan kontak, kadang-kadang
perdarahan baru terjadi pada stadium selanjutnya. Pada jenis intraservikal
perdarahan terjadi lambat.
Biasanya menyerupai air, kadang-kadang timbulnya sebelum adanya
perdarahan. Pada stadium lebih lanjut perdarahan dan keputihan lebih banyak
disertai infeksi sehingga cairan yang keluar berbau (Rohmat Ratih, 2010)
F. Penatalaksanaan
1. Penatalaksanaan Ca.Cervic Kanker noninvasive, terbatas Penatalaksanaan
kanker serviks yang terbatas hanya pada lapisan luar dari serviks
memerlukanpenanganan untuk membuang area abnormal. Pada
kebanyakan wanita pada situasi ini, tidak diperlukanpenanganan
tambahan. Prosedur untuk membuang kanker noninvasif termasuk
a. Biopsi Cone.

Selama operasi ini, dokter menggunakan scalpel untuk mengambil


selembar jaringan serviks berbentuk cone dimana abnormalitas
ditemukan.
b. Operasi Laser.
Operasi ini menggunakan gelombang sempit pada cahaya laser untuk
membunuh sel kanker dansel pre-kanker
c. Loop electrosurgical excision procedure (LEEP).Teknik ini
menggunakan lintasan kabel untuk memberikan arus listrik, yang
memotong seperti pisau bedah , dan mengambil sel dari mulut serviks.
d. Cryosurgery.
Teknik yaitu dengan membekukan dan membunuh sel kanker dan
prekanker..
e. Hysterectomy.
Operasi besar ini termasuk membuang jaringan dari area kanker dan
prekanker,serviks, danuterus. Hysterectomy biasanya dilakukan pada
kasus yang dipilih dari kasuskanker servikal noninvasif.
2. Kanker invasif Kanker servikal yang menginvasi lebih dalam dari lapisan
luar sel pada serviks disebut sebagai kanker invasive dan membutuhkan
lebih banyak penanganan. Penanganan untuk kanker serviks bergantung
pada beberapa faktor, termasuk stadium kanker, permasalahan medis lain
yang mungkin dimiliki, dan pilihan pasien sendiri. Opsi penatalakasanaan
terdiri dari :
a. Operasi.
Operasi untuk mengambil uterus biasanya dilakukan untuk mengatasi
stadiumdini dari kankerserviks. Hysterectomy sederhana yaitu dengan
membuang jaringankanker, serviks, dan uterus.Hysterectomy biasanya
pilihan hanya jika kanker dalamstadium yang dini Invasi kurang dari
3milimeter (mm) ke dalam serviks. Hysterectomyradikal Membuang
serviks, uterus, bagianvagina, dan nodus limfe pada area tersebut
merupakan operasi standar dimana terdapat invasi lebih besar dari 3
mm kedalam serviksdantidak ada bukti adanya tumor pada dinding
pelvis.Hysterectoy dapat mengobati kanker serviksstadium dini dan
mencegah kanker kembalilagi, namun membuang uterus membuat
pasientidak mungkin hamil lagi. Efek sampingsementara dari
hysterectomy termasuk nyeri pelvis, dankesulitan dalam pencernaan,
danurinasi
b. Radiasi.
Terapi radiasi menggunakan energi tinggi untuk membentuk sel
kanker. Terapiradiasi dapatdiberikan secara eksternal atau internally
(brachytherapy) dengan menempatkan alat diisi dengan material
radioaktif yang akan ditempatkan di serviks. Terapi radiasi sama
efektifnya dengan operasi pada kanker serviks stadium dini. Bagi
wanita dengan kanker serviks yang lebihberat, radiasi merupakan
penatalaksaanaan terbaik. Kedua metode terapi radiasi ini dapa

tdikombinasi. Terapi radiasi dapat digunakan sendiri, dengan


kemoterapi, sebelum operasi untuk mengecilkan tumor atau setelah
operasi untuk membunuh sel kanker lainnya yang masih hidup.Efek
samping dari radiasi terhadap area pelcis termasuk nyeri lambung,
nausea, diare, iritasi kandung kemih, dan penyempitan vagina, dimana
akan menyebabkan hubungan seks lebih sulit dilakukan. Wanita
premenopausal dapat berhenti menstruasi sebagai akibat dari terapi
radiasi.
c. Kemoterapi.
Kemoterapi dengan agen tunggal digunakan untuk menangani pasien
dengan metastasi sextrapelvis sebagaimana juga digunakan pada
tumor rekurren yang sebelum telah ditangani dengan operasi atau
radiasi dan bukan merupakan calon exenterasi. Efek samping
kemoterapi tergantung dari obat yang diberikan namun secara umum
dapat menyebabkan diare, lelah, mual, dan rambut rontok. Beberapa
obat kemoterapi dapat mengakibatkan infertilitas dan menopause dini
pada wanita premenopause
d. Kemoradiasi.
Pemakaian kemoradiasi telah diketahui secara luas memberikan
harapanhidup lebih tinggidibandingkan pemberian radiasi saja pada
penanganan kanker serviks.Kombinasi antara kemoterapi dan terapi
radiasi berdasarkan teori dari pembunuhan selsinergis efek
terapeutikdari dua modalitas terapi digunakan bersamaan lebih besar
dibandingkan jika 2 modalitastersebut digunakan tidak bersamaan.
Bila dikombinasikandengan radiasi, penggunaan mingguancisplatin
mengurangi resiko progresi selama 2tahun sebesar 43% ( harapan
hidup 2 tahun = 70%)untuk stadium II B sampai stadiumIV A. Pada
keadaan ini, cisplatin sepertinya bekerja sebagairadiosensitizer,
dapatmenurunkan kemungkinan dari rekurensi lokal dan lebih
mengurangi jumlah kejadianmetastasis jauh (Rohmat, Ratih, 2010).
G. Data Focus
1. Wawancara
a. Identitas pasien : Nama, Umur, Agama, Status, Pekerjaan, Alamat,
Tanggal Masuk, Tanggal Pengkajian, No.RM, Diagnosa Medik.
b. Keluhan Utama : Gejala yang pertama kali pasien rasakan/temukan.
c. Riwayat Kesehatan :
1) Riwayat kesehatan dahulu
2) Riwayat Kesehatan sekarang
3) Riwayat kesehatan keluarga
d. Riwayat menstruasi
Riwayat yang lengkap di perlukan untuk menetukan taksiran
persalinan (TP). TP ditentukan berdasarkan hari pertama haid
terakhir (HPHT). Untuk menentukan TP berdasarkan HPHT dapat

e.
f.

g.

h.

i.

digunakan rumus naegle, yaitu hari ditambah tujuh, bulan dikurangi


tiga, tahun disesuaikan.
1) Menarche
2) Siklus haid
3) Lama haid
Riwayat Pernikahan : menikah pada usia berapa, berapa kali
menikah, lamanya pernikahan.
Riwayat Kehamilan: menjelaskan tentang kehamilan yang lalu, usia
kehamilan yang sebelumnya, sudah hamil berapa kali, jarak
kehamilan anak pertama ke anak berikutnya, kebiasaan saat hamil,
rutin atau tidak memeriksaan kandungan saat hamil.
Riwayat Persalinan : menjelaskan tentang pengalaman persalinan,
jenis persalinan sebelumnya, tempat persalinan sebelumnya, dan
penolong persalinan persalinan yang sebelumnya, apakah ada
kelainan pada anak sebelumnya, BB dan PB saat lahir, apakah ada
anak yang meninggal.
Riwayat Kontrasepsi : Beberapa bentuk kontrasepsi dapat berakibat
buruk pada janin, ibu, atau keduanya. Riwayat kontrasepsi yang
lengkap harus didapatkan pada saat kunjungan pertama. Penggunaan
kontrasepsi oral sebelum kelahiran dan berlanjut pada kehamilan
yang tidak diketahui dapat berakibat buruk pada pembentukan organ
seksual pada janin.
Riwayat Operasi dan Penyakit : Kondisi kronis seperti dibetes
melitus, hipertensi, dan penyakit ginjal bisa berefek buruk pada
kehamilan. Oleh karena itu, adanya riwayat infeksi, prosedur
operasi, dan trauma pada persalinan sebelumnya harus di
dokumentasikan.

2. Pemeriksaan Fisik (Head to Toe)


a. Kepala : Bentuk kepala, kebersihan kulit kepala, ada luka/tidak, kulit
kepala halus dan statis atau tidak, keluhan yang di rasakan ( sakit
kepala/tidak.
b. Rambut : warna rambut, kebersihan, distribusi, rontok/tidak.
c. Dahi : bentuk dahi, ada luka atau tidak.
d. Mata : kesimetrisan mata, konjungtiva, reflek pupil terhadap cahaya,
pungsi pengelihatan, pergerakan bola mata, ada nyeri tekan/tidak,
pakai kacamata/tidak, ada keluhan/tidak.
e. Muka : bentuk muka, ada luka/tidak, ada keluhan/tidak, ada colosma
gravidarum/tidak, ada udem/tidak.
f. Telinga : simetris/tidak, kebersihan, funsi pendengaran, ada keluhan
atau tidak.
g. Hidung : bentuk hidung, kebersihan, fungsi penciuman, ada keluhan
atau tidak.

h. Mulut : warna bibir, kebersihan, keadaan gigi, mukosa bibir,


kebersihan lidah, ada keluhan/tidak.
i. Leher : peningkatan JVP, pembesaran kelenjar tyroid dan kelenjar
getah bening, ada keluhan/tidak.
j. Jantung dan Paru : suara nafas dan buny jantung, irama jantung dan
pernafasan, taktil premitus
k. Payudara : sudah keluar kolostrum atau ASI, kebersihan payudara,
areola mamae menghitam, keadaan puting susu, pembesaran
payudara, ada benjolan/tidak, ada keluhan/tidak.
l. Abdomen : bentuk abdomen, warna kulit, bising usus, ada luka
operasi/tidak, pembesaran perut, keadaan pusat, pigmentasi linea alba,
kontraksi uterus baik/tidak, TFU.
m. Punggung : kebersihan, ada luka/tidak, ada keluhan/tidak
n. Genetalia : keadaan perineum, tanda chendwich, kebersihan, lochea,
ada luka/tidak, ada kelainan/tidak, ada keluhan/tidak.
o. Ekstremitas : kelengkapan jari, kebersihan, warna, ada udem/tidak,
reflek, ROM.
3. Pemeriksaan Diagnostik
a. Sitologi/Pap Smear (Prostatic Acid Phosphate)
Keuntungan, murah dapat memeriksa bagian-bagian yang tidak
terlihat. Kelemahan, tidak dapat menentukan dengan tepat lokalisasi.
b. Schillentest
Epitel karsinoma serviks tidak mengandung glycogen karena tidak
mengikat yodium. Kalau porsio diberi yodium maka epitel karsinoma
yang normal akan berwarna coklat tua, sedang yang terkena
karsinoma tidak berwarna.
c. Kolposkopi
Memeriksa dengan menggunakan alat untuk melihat serviks dengan
lampu dan dibesarkan 10-40 kali.
Keuntungan : dapat melihat jelas daerah yang bersangkutan sehingga
mudah untuk melakukan biopsy.
Kelemahan : hanya dapat memeriksa daerah yang terlihat saja yaitu
porsio, sedang kelainan pada skuamosa columnar junction dan intra
servikal tidak terlihat.
d. Kolpomikroskopi
Melihat hapusan vagina (Pap Smear) dengan pembesaran sampai 200
kali.
e. Biopsi
Dengan biopsi dapat ditemukan atau ditentukan jenis karsinomanya
f. Konisasi
Dengan cara mengangkat jaringan yang berisi selaput sendir serviks
dan epitel gepeng dan kelenjarnya. Konisasi dilakukan bila hasil
sitologi meragukan dan para serviks tidak tampak kelainan-kelainan
yang jelas.

g. Pemeriksaan secara radiologis (CT Scan dan MRI) untuk mengetahui


apakah sudah ada penyebaran lokal dari ca tersebut.
h. Servikografi
i. Gineskopi
j. Pap net/pemeriksaan terkomputerisasi dengan hasil lebih sensitive.
(Ninik, 2014)
H. Analisa Data
No
Data
1
Ds :
Pasien mengatakan sakit
di
daerah
panggul
menjalar ke bokong
Pasien mengatakan nyeri
terus memerus
Pasien mengatakan skala
nyeri 5.
Do:
Pasien tampak meringis
kesakitan
TD:140/100
N : 94x/m
P: 21x/m
2

Ds:
Pasien mengatakan nafsu
makan berkurang
Pasien
mengatakan
sebelum sakit BB 65 kg

Do :
Pasien tampak tidak
menghabiskan makanan
BB pasien 60 kg
Keluar darah dan berbau
khas pada jalan lahir
Pasien tampak berbaring
lemah.

Etiologi
Ca Servix

Masalah
Nyeri

Terjadi penyebaran sel


Penekanan syaraf piseral
Nosiseptor
Kornu dorsalis medula
spinalis
Serabut perifer
Cortex Serebri
Nyeri di persepsikan
Ca cervix
Penurunan enzim pencernaan
Abnormalitas metabolisme
glukosa dan tri gliserida
Stimulus reseptor volume
lambung berkepanjangan
Nafsu makan berkurang

Pemenuhan
nutrisi
kurang dari
kebutuhan
tubuh.

I. Diagnosa Keperawatan
1. Nyeri akut b/d proses penyakit
2. Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d intake output yang tidak adekuat
(Santosa, Budi. 2005)

Intervensi Keperawatan
No
Dx
1
Nyeri
akut b/d
proses
penyakit

Tujuan
Tupan: Dalam 1x 24 jam nyeri
berkurang s/d hilang.
Tupen: dalam 1x30 menit pasien
merasa nyaman. Dengan kriteria
hasil :
1. Pasien mengatakan skala
nyeri
yang
dialaminya
menurun
2. TTV pasien dalam batas
normal, meliputi :
Nadi normal (60 - 100)
Pernapasan normal (16 - 24)
Tekanan darah normal ( 100
- 140 mmHg / 60 - 90 mmHg)
Suhu normal (36,5OC 37,5oC)
3. Ekspresi wajah pasien tidak
meringis
4. Pasien tampak tenang (tidak
gelisah)
5. Pasien dapat melakukan
teknik relaksasi dan distraksi
dengan tepat sesuai indikasi

Intervensi
Rasional
1. Lakukan
pengkajian
nyeri
secara 1. Membantu
membedakan
komprehensif [catat keluhan, lokasi nyeri,
penyebab
nyeri
dan
frekuensi, durasi, dan intensitas (skala 0-10)
memberikan informasi tentang
dan tindakan penghilangan nyeri yang
kemajuan
atau
perbaikan
dilakukan]
penyakit,
terjadinya
komplikasi dan keefektifan
2. Pantau tanda - tanda vital
intervensi.
3. Dorong
penggunaan
keterampilan 2. Peningkatan
nyeri
akan
manajemen nyeri seperti teknik relaksasi dan
mempengaruhi
perubahan
teknik
distraksi,
misalnya
dengan
pada tanda - tanda vital
mendengarkan musik, membaca buku, dan
sentuhan terapeutik.
3. Memberikan rasa nyaman pada
pasien,
meningkatkan
4. Tingkatkan tirah baring, bantulah kebutuhan
relaksasi,
dan
membantu
perawatan diri yang penting
pasien untuk memfokuskan
kembali perhatiannya
5. Kolaborasi pemberian analgetik sesuai
indikasi
4. Menurunkan gerakan yang
dapat meningkatkan nyeri
5. Nyeri
adalah
komplikasi
tersering
dari
kanker,

untuk mengontrol nyeri

meskipun respon individual


terhadap nyeri berbeda-beda.
Pemberian analgetik dapat
mengurangi nyeri yang dialami
pasien
2.Nutrisi kurang dari Tupan : Dalam 1x 24 jam 1. Pantau
masukan 1. Mengidentifikasi
kebutuhan tubuh b/d kebutuhan nutrisi pasien
makanan setiap hari
defisiensi nutrisi
intake output yang tidak terpenuhi
adekuat
Tupen : Dalam 1x30 2. Ukur tinggi, berat 2. Membantu dalam
menit
intake
output
badan.
Pastikan
identifikasi malnutrisi
pasien adekuat.
jumlah
penurunan
protein dan kalori
Dengan kriteria hasil :
berat badan saat ini.
khususnya bila berat
Timbang berat badan
badan dan pengukuran
Berat badan pasien
setiap hari
antropometrik kurang
stabil (sesuai dengan
dari normal
BB pasien dalam
3. Dorong pasien untuk
kondisi normal)
makan diet tinggi 3. Kebutuhan jaringan
Pasien menunjukkan
kalori dan nutrien
metabolik
adanya peningkatan
dengan
masukan
ditingkatkan begitu
nafsu makan
cairan yang adekuat.
juga cairan (untuk
Tidak terjadi mual
Dorong penggunaan
menghilangkan
ataupun muntah
suplemen
produk sisa).
Pasien tidak tampak
Suplemen dapat
pucat / lemas
4. Kontrol
faktor
membantu untuk
lingkungan
mempertahankan

(misalnya
:
bau
masukan kalori dan
makanan yang terlalu
protein yang adekuat
kuat,
kebisingan
untuk pertumbuhan
lingkungan, makanan
pasien
yang terlalu pedas,
terlalu manis, dan 4. Untuk menurunkan
berlemak)
potensial terjadinya
respon mual dan
5. Kolaborasi :
muntah
Rujuk pada ahli gizi /
tim pendukung nutrisi 5. Memberikan rencana
diet khusus untuk
memenuhi kebutuhan
pasien, serta
menurunkan potensial
komplikasi yang
terjadi berkenaan
dengan malnutrisi
protein / kalori dan
defisiensi
mikronutrien
(Dongoes, Marylin ,1990)

DAFTAR PUSTAKA

Doengoes, Marylynn, dkk. 1999. Rencana Asuhan Keperawatan Edisi 3. Jakarta :


EGC
Santosa, Budi. 2005. Panduan Diagnosa Keperawatan NANDA. Jakarta : Prima
Medika
Rohmat Ratih. Penanganan CA Cervix. Didapatkan dari URL : http://ca
cervix/Penanganan CA Cervix Ratihrochmats Weblog.mht. Diunduh tanggal 1
februari 2015. (Diakses tanggal 4 Desember 2010)
Sulistyahningsih, ninik. Asuhan Keperawatan CA Cervix. Di dapat dari URL :
http://www.slideshare.net/septianraha/askep-ca-serviks. Diunduh tanggal 3
februari 2015.(Diakses tanggal 8 januari 2014)
Wiknjosastro, Hanifa. 2005. Ilmu Kandungan, Edisi Kedua. Jakarta : Yayasan
Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo