Anda di halaman 1dari 123

TEORI SOSIOLOGI KLASIK

KATA PENGANTAR
Buku ajar Teori Sosiologi Klasik adalah sebagai bahan bacaan atau
literatur mata kuliah Teori Sosiologi Klasik di Jurusan Sosiologi, Fakultas Ilmu
Sosial dan Ilmu Politik Universitas Lampung. Dengan adanya buku ini
merupakan salah satu jalan dalam mempermudah mahasiswa untuk
mendapatkan literatur Teori Sosiologi Klasik.
Sebagai sebuah mata kuliah wajib jurusan, maka telaah dalam buku ini
dibuat secara simpel dan universal agar mahasiswa mampu menyerap
secara baik semua tema yang dipaparkan dalam buku ajar ini. Dan materi
yang menjadi kajian dalam buku ajar ini dibagi dalam delapan bab pokok
bahasan
Bab pertama membahas tentang Teori Sosiologi. Salah satu kesulitan
yang mungkin timbul bagi para peminat di bidang ilmu sosiologi adalah
kurangnya pemahaman tentang pengertian apa yang disebut dengan teori.
Bagaimana kedudukan teori sosiologi di dalam usahanya untuk memahami
kenyataan-kenyataan sosial. Oleh karena itu pada bab pertama ini akan
dijelaskan tentang teori dan teori sosiologi.
Bab kedua membahas tentang Filsafat Sosial sebagai Dasar Teori
Sosial. Pokok bahasan yang akan diuraikan pada bab kedua ini adalah
lahirnya filsuf-filsuf yang terkenal di era Yunani yaitu Socrates, Plato dan
Aristoteles. Ke tiga tokoh yang menjadi sufi di zamannya ini, akan dibahas
secara rinci mulai dari riwayat hidupnya, metode berfikirnya hingga filsafat
sosial yang dilahirkannya yang akan menjadi dasar bagi lahirnya teori-teori
sosial selanjutnya khususnya teori-teori sosiologi.
Bab ketiga membahas tentang Periode Transisi dan Pemikiran Filsafat
Ke Pemikiran Ilmu Pengetahuan. Pokok bahasan pada bab ini menguraikan
pemikiran sosial para tokoh masa transisi dari periode filsafat ke ilmu
pengetahuan yang ditandai besarnya kekuasaan gereja dalam kehidupan
kemasyarakatan dengan salah satu pelopornya adalah Thomas van Aquinas.
Bab ini juga menguraikan pemikiran para tokoh sosial masa revolusi industri
dan Renaissance dengan tokohnya F. Bacon, N. Machiavelli, Thomas Hobbes,
John Lock dan Vico.

Bab
keempat
membahas Lahirnya
Sosiologi
Sebagai
Ilmu
Pengetahuan. Uraian utama pada bab keempat ini adalah menjelaskan
sumbangan pemikiran sosial yang berguna bagi lahirnya sosiologi sebagai
ilmu pengetahuan. Sumbangan pemikiran itu khususnya dari tokoh Saint
Simon, Auguste Compte dan Herbert Spencer. Ke tiga tokoh ini akan
diuraikan secara jelas mulai dari riwayat hidup hingga sumbangan pemikiran
mereka yang begitu berarti dan berperan dalam melahirkan sosiologi
sebagai ilmu pengetahuan.

Pokok pembahasan yang akan diuraikan pada bab kelima ini adalah
sumbangan pemikiran dari Karl Marx terhadap Ilmu Sosiologi. Adapun
materi-materi yang akan dibahas adalah sejarah singkat riwayat hidup Karl
Marx serta menjelaskan pemikiran Karl Marx tentang materialisme historis,
model-model masyarakat,alinasi, kesadaran kelas dan perubahan sosial.
Bab keenam membahas tentang sumbangan pemikiran dari Emile
Durkheim terhadap Ilmu Sosiologi. Durkheim dapat dipandang sebagai salah
seorang yang meletakkan dasar-dasar sosiologi modern. Pada bab enam ini
akan dijelaskan tentang fakta sosial, karakteristik dan metode pengamatan
fakta sosial Durkheim. Menjelaskan juga tentang pengertian solidaritas sosial
dan
membedakan
jenis-jenis
solidaritas
social.
Menjelaskan
pengertian kesadaran kolektif Durkheim, teori bunuh diri dan jenis-jenis
bunuh diri, pengertian anomi, serta pengertian integrasi masyarakat
menurut Durkheim.
Bab ketujuh pokok bahasannya adalah menguraikan sumbangan
pemikiran Max Weber yang berguna bagi pemikiran dan perkembangan ilmu
sosiologi. Materi yang akan dijelaskan diantaranya sejarah singkat riwayat
hidup Max Weber, konsepsi tindakan sosial dan tipe-tipe tindakan sosial
menurut Weber, pengertian verstehende, serta penjelasan Etika Protestan
dan Spirit Kapitalisme Weber yang cukup menggemparkan dan menjadi
bahan pergunjingan yang kontroversial bagi kehidupan ilmiah.
Di penutup bab ini (bab kedelapan) akan dibahas tentang Paradigma
Sosiologi. Dalam perkambangan selanjutnya setelah terlepas dari pengaruh
filsafat dan psikologi, sosiologi mulai memasuki arena pergulatan pemikiran
yang bersifat interen di kalangan teoritisnya sendiri. Pergulatan yang bersifat
interen ini hingga sekarang masih saja berlangsung. Perkembangan sosiologi
ditandai dan tercermin dari adanya berbagai paradigma di dalamnya. Pada

bab kedelapan ini akan dijabarkan tentang pengertian paradigma sosiologi,


sebab timbulnya berbagai paradigma sosiologi. menjelaskan 3 paradigma
sosiologi yaitu paradigma fakta sosial, paradigma definisi sosial, paradigma
perilaku sosial serta menjelaskan hubungan antara paradigma yang satu
dengan yang lainnya.
Akhirnya penulis berharap agar apa yang telah dipaparkan dalam
buku ini dapat dipahami oleh semua pembaca. Untuk itu kritik dan saran dari
mana dan dari siapapun jua datangnya dalam usaha penyempurnaan buku
ini, penulis sambut dengan senang hati dan ucapan terima kasih.
Bandar Lampung,
Juni 2011
Tim Penyusun

SANWACANA
Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT, karena atas Taufik
dan Hidayah Nyalah penulis dapat menyelesaikan buku ini., yang mana
hasilnya masih jauh dari sempurna. Buku yang berada di hadapan para
pembaca ini adalah sebagai pelengkap dan sekaligus memperkaya bahan
bacaan atau literatur dalam mata kuliah Teori Sosiologi Klasik bagi
mahasiswa di Jurusan Sosiologi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Universitas lampung khususnya dan di perguruan Tinggi lainnya baik di
negeri maupun swasta di Propinsi Lampung ini.
Penulis menyadari dengan sepenuh hati bahwa buku ini tidak akan
selesai andaikata tidak ada bantuan dari berbagai pihak. Oleh karena itu
penulis mengucapkan terima kasih yang setinggi-tingginya kepada semua
pihak
yang
telah
memberikan
bantuannya
kepada
penulis
khususnya kepada Hibah Peningkatan Mutu Buku Ajar Universitas
Lampung, yang telah memberi bantuan dana untuk proses pembuatan
buku ajar ini.

BAB I
TEORI SOSIOLOGI

A. PENDAHULUAN
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)
Salah satu kesulitan yang mungkin timbul bagi para peminat di
bidang ilmu sosiologi adalah kurangnya pemahaman tentang
pengertian apa yang disebut dengan teori. Bagaimana kedudukan teori
sosiologi di dalam usahanya untuk memahami kenyataan-kemyataan
sosial. Kesulitan ini akan lebih mudah teratasi apabila sebelum orang
membicarakan teori-teori sosiologi, sudah terlebih dahulu memahami
bagaimana pengertian teori dan kedudukannya di dalam usaha untuk
memahami kenyataan sosial.

Tujuan khusus mempelajari teori sosiologi adalah menjelaskan


batasan yang disebut teori dan teori sosiologi, serta bagaimana
mempergunakan teori sosiologi tersebut di dalam usaha memahami
atau menganalisa kenyataan sosial.
Untuk itu setelah mengikuti perkuliahan atau mempelajari teori
sosiologi, mahasiswa diharapkan dapat :
1. menjelaskan manfaat teori dalam kehidupan sehari-hari.
2. menjelaskan peran teori dalam memecahkan problema teoritis.
3. menggunakan
menganalisa kenyataan

teori

sosiologi

dalam

usaha

memahami

dan

sosial.

A. TEORI
Sadar atau tidak, semua orang sebetulnya berteori. Orang yang paling
erat hubungannya dengan kegiatan praktek sekalipun, seperti seorang
pengacara yang membela perkara dan memperingati hakim supaya tetap
berpegang pada fakta, harus menginterpretasikan fakta sehingga relevan
baginya. Ini namanya proses berteori.
Berteori dengan jalan memberikan interpretasi itu sangatlah penting,
karena perlu untuk menjelaskan peristiwa. Betapapun lingkungan suasana
yang kita hadapi itu baik atau buruk, kita harus jelaskan kepada diri kita
sendiri dan kepada orang lain, mengapa demikian. Caranya adalah
dengan jalan menghubungkan situasi sekarang dengan pengalaman atau
keputusan keputusan yang sudah kita berikan dimasa lampau, pengaruhpengaruh sosial atau tekanan-tekanan dari orang lain, krisis-krisis yang
umumnya dihadapi pada waktu itu, atau hambatan-hambatan serta
kesempatan-kesempatan yang tersedia dalam lingkungan itu.

Orang
tua
berusaha
menjelaskan
mengapa
anak-anaknya
menanggung suatu akibat tertentu, mahasiswa berusaha menjelaskan
kepada dirinya sendiri mengapa mereka tidak lulus walaupun mereka
merasa bahwa tidak harus terjadi demikian, guru, polisi, para pemimpin
politik menjelaskan kepada dirinya sendiri dan kepada orang lain,
mengapa dan apa yang mereka buat.
Merencanakan atau meramalkan masa depan menuntut kita untuk
melihat apa yang ada dibelakang fakta, dan berarti itu kita berteori. Tak
seorangpun dapat meramalkan masa depan dengan mutlak. Apa yang
kita buat adalah membuat dugaan-dugaan dan menyesuaikan perilaku
kita sekarang ini dalam hubungannya dengan harapan-harapan. Orang
muda yang memilih karir, orang tua yang menyesuaikan diri dengan
perilaku
anak-anaknya,
para
langganan
yang
merencanakan
pembelanjaannya yang penting, penjual yang mengembangkan taktiktaktik penjualan, pemimpin politik yang yang berdebat mengenai dilema
kebijaksanaan luar negeri, dan mahasiswa yang berspekulasi mengenai
kira-kira apa yang diberikan oleh profesor dalam ujian yang akan datang,
semua ini menunjukkan kepada kita akan adanya kebutuhan untuk bisa
melihat apa yang ada dibalik fakta yang ada sekarang, dan kita berteori.
Ada sikap yang umumnya dikemukakan orang dalam bentuk
pertanyaan apa guna teori dan mana faktanya. Kalau tidak ada fakta
yang kuat, ide seringkali menjadi tidak karuan karena apa artinya teori
tanpa fakta. Mahasiswa yang mempelajari sosiologi juga mempersoalkan
perlunya mempelajari ide-ide abstrak yang kelihatannya mempunyai
hubungan erat dengan dunia nyata. Asumsi bahwa kalau semua fakta
diketahui maka orang akan berbicara tentang fakta saja dan teori tidak
diperlukan lagi.
Tetapi tidak semua fakta yang kita butuhkan tersedia. Kalaupun
faktanya sudah ada, masih harus diinterpretasikan supaya fakta itu
mempunyai arti yang sesuai dengan kebutuhan dan rencana kita. Karena
arti fakta itu tidak selalu jelas dengan sendirinya, maka teorilah yang
dapat membantu kita untuk menginterpretasikan dan menilainya.
Suatu teori yang baik dapat membantu kita untuk memahami fakta,
menjelaskan, dan memberikan ramalan yang valid, hal ini sangat perlu
dalam suatu perencanaan untuk masa yang akan datang, baik yang

berhubungan dengan kehidupan pribadi kita sendiri maupun yang


berhubungan dengan perencanaan kebijaksanaan umum.
Para ahli ilmu sosial dan akademisi lainnya kadang-kadang dituduh
terlalu menjauhkan diri dari dunia nyata dan hidup dalam menara gading.
Teori-teori yang mereka berikan sering tidak praktis dan relevan.
Kenyataan kehidupan sehari-hari nampaknya menjadi kabur karena
mereka menjelaskannya dengan istilah-istilah tertentu yang hanya
dimengerti oleh kelompok-kelompok tertentu saja (jargon).
Meskipun penggunaan istilah khusus yang sangat abstrak itu dapat
merugikan, namun para spesialis dalam semua bidang ilmu pengetahuan,
mulai dari ahli fisika dan hakim sampai dengan pekerja-pekerja dibengkel
mobil dan konstruksi, memiliki perbendaharaan istilah sendiri. Hal ini
sangat membantu mereka untuk dapat berkomunikasi secara tepat,
memungkinkan mereka untuk dapat mengambil bagian dan mempertegas
ide-ide yang bersifat teknis, serta memungkinkan mereka untuk dapat
bekerja sama dalam melaksanakan tugas-tugas tertentu. Lebih berguna
lagi kiranya, bahwa dengan istilah-istilah itu, batas-batas suatu profesi
dapat ditarik, dan meningkatkan status para anggota profesi, serta
membedakannya dari mereka yang tidak termasuk dalam profesi itu.
Teori yang dipergunakan orang dalam kehidupan sehari-hari biasanya
bersifat implisit, tidak eksplisit. Sering teori-teori dapat kita lihat dalam
tradisi dan dalam kebijaksanaan rakyat yang dapat diterima dengan akal
sehat. Asumsi-asumsi teoritis yang mendasar itu dapat kita lihat dalam
simbol-simbol kepercayaan yang sudah sangat berkambang mengenai
kodrat manusia atau masyarakat, seperti misalnya kepercayaan agama
yang mengatakan bahwa manusia memiliki satu keistimewaan tertentu
yang diperolehnya dari Allah, dan yang membedakan manusia dari
binatang-binatang lainnya, atau adannya kepercayaan bahwa dalam
jangka waktu yang panjang, orang yang berperilaku baik akan dihargai
dan yang berperilaku jahat atau buruk akan disiksa.
Teori-teori implisit itu mewarnai sikap kita pada umumnya terhadap
orang lain dan terhadap masyarakat. Kita semua tahu bahwa ada orang
yang sinis yang percaya bahwa manusia itu hanya tertarik pada
kesejahteraannya sendiri saja, dan ada manusia yang optimis yang terus
menerus menerus mencari sifat-sifat yang baik atau yang positif pada
orang lain dan sering melihatnya demikian, sedangkan orang lain tidak.

Karena banyak dari asumsi-asumsi ini bersifat implisit, maka orang lalu
tidak menjadi sadar kalau mereka tidak konsisten.
Bagi kebanyakan orang, teori-teorinya itu mungkin tetap bersifat
implisit, tetapi karena pelbagai alasan, orang lain menjadi lebih sadar
dimana segi-segi tertentu dari teori-teori mereka yang implisit itu menjadi
eksplisit dan tunduk pada analisa objektif atau analisa kritis. Proses ini
tidak harus berarti bahwa teori-teori implisit itu akan ditolak, sebaliknya
teori-teori itu mungkin mendapat dukungan. Bagaimanapun individu
menjadi sadar akan beberapaa dari asumsi-asumsi teoritis yang
mendasar dan rela mengujinya secara objektif, paling kurang dalam
tingkatan tertentu.
Umumnya kekuatan sesuatu teori terletak pada kemampuannya untuk
membawa banyak pemikiran dan informasi mengenai suatu problem
khusus. Teori demikian bisa menghasilkan dan mengandung ide-ide yang
siap dipakai pada suatu ketika. Sebuah teori mencoba memecahkan
sebuah problem teoritis ke dalam empat kategori yaitu .
1. Teori memungkinkan adanya ide-ide tambahan untuk pemecahan
beberapa problem teoritis yang ada.
2. Teori memungkinkan adanya model-model dari buah pikiran dan
dengan demikian menghasilkan suatu deskripsi skematis. Deskripsi itu
dapat dibayangkan sebagai suatu pola dan di dalam pola itu ide-ide
tersebut tersusun rapi dan serasi.
3. Model-model memungkinkan adanya teori-teori.
4. Teori memungkinkan adanya hipotesa-hipotesa.
1. Teori Memungkinkan adanya Ide-Ide
Sebuah
pendekatan
teoritis
terhadap
suatu
ide
secara
alamiah menyebabkan penciptaan ide-ide lain yang membantu untuk
menjelaskan yang satu dan mendefinisikan hubungannya dengan yang
lain.Contohnya: kelas sosial bisa dirasakan atau dialami tapi tidak ada arti
teoritis dalam batasan itu sendiri. Teori itu baru muncul kalau ide kelas
sosial tersebut diletakkan bersama-sama dengan ide-ide tambahan yang
ikut menerangkan hal-hal lainnya. Misalnya memahami kelas sosial harus
juga memahami arti struktur sosial, hak-hak istimewa, hubungan sosial,
kewajiban, otoritas, dan ide-ide lainnya. Jadi, pada prinsipnya sebuah ide

bisa dihasilkan dengan menguji sesuatu secara empiris, dan menjabarkan


ide ini ke dalam peta ide-ide yang disebut dengan teori.

2. Teori Memungkinkan adanya Model-Model


Teori dan model berbeda, kalau teori menerangkan sesuatu secara
langsung, sedangkan model menerangkan sesuatu dengan analogi. Suatu
model dari sesuatu hal bukanlah hal itu sendiri tapi suatu yang punya
sebuah persamaan dengan hal tersebut. Contohnya pesawat model dan
Boeing 747 tidaklah sama, tapi keduanya memiliki kesamaan yaitu
terbangnya pesawat model karena dilemparkan, namun bergeraknya
sayap-sayapnya di udara, bentuk dan struktur sayap-sayap dan
hubungan dengan struktur lainnya adalah analog dengan terbangnya
Boeing 747.
3. Model-Model Memungkinkan adanya Teori-teori
Sebuah teori bisa memprediksikan bahwa ada suatu hubungan
tertentu antara dua ide tetapi kurang membicarakan hubungan antara
ide-ide ini dengan ide-ide lainnya. Dengan menemukan suatu model yang
nampaknya mendekati hubungan antara ide-ide yang pertama, bisa
dengan analogi bahwa ada ide-ide lain yang memungkinkan terjadinya
hubungan itu oleh karena model itu memungkinkan tambahan-tambahan
untuk teori tersebut.
4. Teori-Teori Memungkinkan adanya Hipotesa-Hipotesa
Sebuah hipotesa adalah suatu pernyataan mengenai hubungan antara
dua atau lebih ide-ide atau kelas-kelas dari suatu hal. Dalam hubungan
yang paling kuat antar teori dan hipotesa adalah terjadi secara deduktif,
yaitu hipotesa-hipotesa itu mengikuti secara langsung dari generalisasi
dan konsep-konsep yang telah ditetapkan dalam sebuah teori. Sebuah
teori dapat menghasilkan hipotesa-hipotesa bila teori itu ditetapkan
dalam problem teoritis atau empiris tertentu. Contohnya teori solidaritas
sosial dan praktek-praktek keagamaan seperti yang dilakukan Emile
Durkheim dalam bukunya Suicide, kita bisa membuat hipotesa-hipotesa
atau pernyataan-pernyataan mengenai hubungan yang mungkin terjadi

antara praktek-praktek agama dan sosial tertentu seperti bunuh diri


misalnya
Salah satu cara untuk mengklasifikasikan teori adalah mengikat diri
dengan teori-teori itu menurut wilayah-wilayah di mana teori-teori itu
mula-mula diajukan atau digunakan untuk berbagai macam keperluan.
Cara lain ialah mengelompokkan teori-teori menurut wilayah di mana
teori-teori itu dilahirkan dan digunakan secara paling luas.
Ada satu lagi cara untuk mengklasifikasikan teori yang banyak
dianjurkan orang akhir-akhir ini, yaitu yang menekankan bahwa untuk
mendapatkan teori mengenai sesuatu , sesuatu itu harus pertama-tama
didefinisikan secara tepat dan kemudian sesuatu hal itu dapat
diperhitungkan.

B. TEORI SOSIOLOGI
Sosiologi adalah disiplin ilmu yang mencoba menjelaskan aspek-aspek
kehidupan manusia, maka sosiologi juga peka untuk melakukan
pembahasan tentang nilai dan moral yang terlibat dalam berteori. Pada
umumnya argumentasi kebebasan nilai dalam teori sosiologi telah
berjalan,
yang
mana
agar
dapat
ditemukan
sesuatu
dan
mengkonsepsikan sesuatu itu, para sosiolog perlu menghilangkan
prasangka pribadi mengenai hubungan sosial dalam studinya. Pernyataan
ini tidak berarti bahwa dia harus tidak menjadi seorang yang bermoral.
Tetapi untuk tujuan deskripsi dan teori ini bila seseorang ingin
mengetahui yang sebenarnya maka dia harus mengobservasikan,
menguraikan, dan menggunakan teori dengan tidak berat sebelah. Bila
kejujuran tidak dipakai sepenuhnya, apa yang dianggap seharusnya
terjadi dapat ia nyatakan sebagai sesuatu yang sesungguhnya, dogma
akan turut lebur dalam pemikirannya.
Sosiologi sejak awal perkembangannya dipermulaan abad 19 hingga
dewasa ini, telah mengalami perubahan yang terus menerus. Ilmu yang
oleh Auguste Compte disebut dengan Sosial Physics , dikenal dengan
nama sosiologi, berkembang terus seiring perubahan yang timbul dalam
masyarakat. Adalah Compte, bapak pendiri sosiologi yang mengatakan
ada 2 cara untuk mempelajari suatu ilmu pengetahuan yaitu secara
dogmatis dan secara historis.

Mempelajari ilmu pengetahuan secara dogmatis akan membawa kita


pada pemahaman teori-teori ilmu yang bersangkutan, sedangkan
mempelajarinya secara historis memaksa kita menelusuri awal mula,
konteks situasi di mana teori itu lahir.
Pernyataan di atas ini sesungguhnya juga berawal dari banyak
pendapat para sarjana di lapangan ilmu pengetahuan sosial bahwa tujuan
yang fundamental dari ilmu-ilmu sosial termasuk sosiologi adalah
menerangkan tentang kenyataan-kenyataan perubahan sosial. Bahkan
khusus untuk sosiologi itu sendiri ada yang menyatakan ilmu ini adalah
ilmu tentang krisis sosial. Dinyatakan demikian karena pada
kenyataannya, sejak awal pertumbuhannya hingga perkembangannya
dewasa ini sosiologi cenderung memperoleh bentuk-bentuk baru selaras
dengan krisis sosial.
Charles A Ellwood, di dalam bukunya yang terkenal A History of Sosial
Philosophy menyebut adanya sebuah teori yang dikenal dengan the
crisis of thought atau Teori Krisis Pemikiran. Menurut teori ini, orang
hanya akan berfikir bila mana timbul persoalan-persoalan, bila mana
kebiasaan-kebiasaan lama kita tidak lagi berfungsi dan kita membutuhkan
kebiasaan-kebiasaan baru. Sebagaimana akan diterangkan kemudian di
dalam buku ini, Charles Ellwood mengambil contoh krisis yang
menimbulkan
lahirnya
pemikiran-pemikiran
di
lapangan
ilmu
kemasyarakatan ketika Athena, negara kota di abad Hellenic yang angkuh
itu berantakan ketika dikalahkan oleh Sparta, suatu bangsa yang oleh
orang Athena dianggap bangsa yang terbelakang.
Jadi jelaslah bahwa sosiologi adalah merupakan refleksi dari keadaan
masyarakat yang sedang berubah dan teori-teori yang dihasilkannya
merupakan hasil dari keadaan masyarakat itu sendiri. Dan karena pada
kenyataannya tiada satupun masyarakat yang tidak mengalami
perubahan, maka sosiologi akan terus berkembang di dalam masyarakat.
Teori-teorinya akan terus berkembang dengan segala konsekuensinya,
yang mungkin akan terlempar dari peredaran atau mungkin juga akan
bertahan. Sementara itu pula akan muncul teori-teori baru yang
dihasilkan seiring dengan perubahan kemasyarakatan yang terjadi.
Untuk membuktikan hal itu mungkin kita bisa melacaknya jauh ke
belakang pada permulaan abad ke 19 dimana terjadi perubahan yang
sangat cepat dan hebat di dalam masyarakat akibat terjadinya revolusi

industri dan juga terjadinya revolusi sosial di Eropa. Sebuah perubahan


yang memperkenalkan kekuasaan masyarakat dan kekuasaan massa.
Penemuan-penemuan baru di bidang teknologi pada masa itu telah
menghasilkan polarisasi yang sangat hebat antara kaum pemilik modal
dengan mereka yang tidak memiliki.
Berkembangnya
industri-industri
di
daerah
perkotaan
telah
mengakibatkan mengalirnya urbanisasi dari daerah pedesaan untuk
mencari kehidupan yang lebih baik di perkotaan. Tetapi kemudian
kenyataannya menunjukkan telah terjadi semacam penghisapan oleh
kaum majikan yakni para pemilik modal yang menguasai indusri-industri
tersebut terhadap para buruh yang bekerja di pabrik-pabrik. Perubahan ini
kemudian menghasilkan berbagai krisis sosial dengan meningkatnya
kriminalitas dan kemiskinan rakyat jelata yang tidak punya modal. Di
dalam situasi sedemikian inilah sosiologi mencatat tampilnya teori-teori
yang membela kaum buruh yang tertindas yang dipelopori oleh Karl Marx
dan kawan-kawannya.
Demikian juga kalau kita ingin mencari bukti-bukti lain, misalnya pada
abad pertengahan. Di abad ini tidak terjadi perubahan yang berarti di
lapangan kemasyarakatan. Pada abad ini gereja merupakan pendukung
kebudayaan, merupakan tenaga yang menyatukan dan menguasai
masyarakat. Prinsip-prinsip kemasyarakatan dirumuskan oleh bapa-bapa
gereja seperti Santo Agustinus dan dan Thomas van Aquinas sebagai
pemuka-pemukanya. Dan sejarah mencatat dalam abad ini praktis tidak
ada perhatian tentang masalah-masalah sosial atau dengan kata lain
dalam periode ini terjadi perubahan-perubahan yang sangat lambat di
lapangan ilmu pengetahuan sosial.
Sebaliknya pada akhir abad pertengahan, terjadi perubahanperubahan yang sangat cepat di dalam masyarakat. Tumbuhnya
nasionalisme yang mendesak feodalisme, berkembangnya perdagangan
dan tumbuhnya borjuis yang kemudian menjadi semakin berpengaruh. Di
dalam perode ini terjadi pertentangan yang memenuhi dunia dan
pertengahan yakni pertentangan antara raja dan paus untuk saling
berebut kekuasaan. Juga periode ini ditandai tumbuh dan berkembangnya
kota-kota dan mengalirnya penduduk desa ke kota yang kemudian
menghasilkan perubahan-perubahan terhadap tradisi adat kebiasaan dan
moral yang kemudian mulai menghilangnya yang mengikat masyarakat.
Timbullah dari keadaan ini pemikiran-pemikiran yang reflektif dan diskusi-

diskusi tentang apa yang disebut dengan problem-problem sosial. Abad


inilah yang mungkin dikenal dengan periode Renaissance, dimana muncul
kembali pemikiran-pemikiran Yunani dan Romawi abad ke 4 sebelum
masehi, yaitu periode Plato dan Aristoteles, ahli-ahli sejarah seperti
Herodotus, Tucydides, Polybos, dan juga Cicero yang dalam ilmu
pengetahuan diklasifikasikan sebagai ahli teori kemasyarakatan dari
abad Hellenic.
Abad Hellenic ini, seperti halnya abad modern sekarang ini adalah
suatu masa transisi yang mana terjadi disorganisasi sosial yaitu ketika
rejim Negara kota membuka jalan bagi tumbuhnya suatu negara
kekaisaran sesudah penaklukan Alexander atas negara-negara Yunani.
Dari uraian terdahulu, kembali kita melihat hubungan antara krisis
dengan munculnya teori-teori sosial sebagaimana dinyatakan oleh Teori
Krisis Pemikiran. Sehingga dapatlah dinyatakan pula bahwa suatu ilmu
sosial sesungguhnya pada suatu waktu dan tempat tertentu,
menggambarkan usaha para pemikir untuk dapat memahami keadaan
masyarakat di mana mereka hidup, terutama keadaan yang timbul dari
keadaan yang berubah baik untuk kepentingan para pemikir itu sendiri
maupun untuk kepentingan masyarakat.

RINGKASAN
Suatu teori yang baik dapat membantu kita untuk memahami fakta,
menjelaskan, dan memberikan ramalan yang valid, hal ini sangat perlu
dalam suatu perencanaan untuk masa yang akan datang, baik yang
berhubungan dengan kehidupan pribadi kita sendiri maupun yang
berhubungan dengan perencanaan kebujaksanaan umum.
Umumnya kekuatan suatu teori terletak pada kemampuannya untuk
membawa banyak pemikiran dan informasi mengenai satu problem
khusus atau seperangkat problem dan dengan demikian melampaui
pemikiran yang tidak sistematis dalam detail dan ketepatan untuk
pembentukan kosep yang berikutnya. Teori yang demikian itu bisa
menghasilkan dan mengandung ide-ide yang siap pakai pada suatu
ketika.
Sebuah teori mencoba memecahkan sebuah problem teoritis ke dalam
empat kategori yaitu

1.
Teori memungkinkan adanya ide-ide tambahan untuk pemecahan
beberapa problem teoritis yang ada.
2.
Teori memungkinkan adanya model-model dari buah pikiran dan
dengan demikian menghasilkan suatu deskripsi skematis. Deskripsi itu dapat
dibayangkan sebagai suatu pola dan di dalam pola itu ide-ide tersebut
tersusun rapi dan serasi.
3.

Model-model memungkinkan adanya teori-teori.

4.

Teori memungkinkan adanya hipotesa-hipotesa.


Sosiologi adalah merupakan refleksi dari keadaan masyarakat yang
sedang berubah dan teori-teori yang dihasilkannya merupakan hasil dari
keadaan masyarakat itu sendiri. Dan karena pada kenyataannya tiada
satupun masyarakat yang tidak mengalami perubahan , maka sosiologi
akan terus berkembang di dalam masyarakat. Teori-teorinya akan terus
berkembang dengan segala konsekuensinya, yang mungkin akan
terlempar dari peredaran atau mungkin juga akan bertahan. Sementara
itu pula akan muncul teori-teori baru yang dihasilkan seiring dengan
perubahan kemasyarakatan yang terjadi.

LATIHAN

1.

Jelaskan manfaat teori!

2.
Sebuah teori memecahkan problem toritis ke dalam 4 kategori,
sebutkan dan jelaskan!
3.
Para ahli ilmu sosial dan akademisi lainya kadang-kadang dituduh
terlalu menjauhkan diri dari dunia nyata dan hidup dalam menara gading,
apa maksudnya?
4.

Jelaskan latar belakang munculnya teori sosiologi dalam masyarakat!

TUGAS
Buatlah makalah sebagai tugas kelompok dengan mengkaji secara
sosiologis sebuah fenomena sosial yang ada di masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA

Johnson, D.P., 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Gramedia. Jakarta.
M. Siahaan, Hotman. 1986.Pengantar
Sosilogi. Erlangga. Jakarta.

Ke

Arah

Sejarah

dan

Teori

BAB II
FILSAFAT SOSIAL SEBAGAI DASAR TEORI SOSIAL

PENDAHULUAN
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Alam pikiran mengenai masyarakat sesungguhnya sama tuanya


dengan alam pikiran ilmiah itu sendiri. Masyarakat selalu dikenal dalam
pengalaman dan masyarakat selalu menghadapkan manusia pada
persoalan-persoalan yang diikhtiarkan oleh manusia itu untuk
menjawabnya. Karena dia selalu menghadapkan manusia pada persoalanpersoalan dan masalah-masalah praktis inilah sebabnya masyarakat
menjadi buah pikiran.
Dalam alam pemikiran mengenai masyarakat tercerminlah masyarakat
itu sendiri sebagai yang dialami, yang dalam perkembangannya
melahirkan dua hal yaitu perkembangan dari kenyataan sosial yaitu
masyarakat itu sendiri dan perkembangan pemikiran ilmiah. Dan karena
pengetahuan yang paling tua adalah filsafat, maka di dalam filsafat itu
pastilah dibicarakan tentang masyarakat. Dan karena filsafat lahir di alam
pikiran Yunani maka yang pertama-tama perlu dibicarakan adalah alam
pikiran Yunani.
Pokok bahasan yang akan diuraikan pada bab dua ini adalah
lahirnya filsuf-filsuf yang terkenal di era Yunani yaitu Socrates, Plato dan
Aristoteles. Ke tiga tokoh yang menjadi sufi di zamannya ini, akan
dibahas secara rinci mulai dari riwayat hidupnya, metode berfikirnya
hingga filsafat sosial yang dilahirkannya yang akan menjadi dasar bagi
lahirnya teori-teori sosial selanjutnya khususnya teori-teori sosiologi.

Setelah mempelajari uraian pokok bahasan ini mahasiswa diharapkan


mampu
1.
Menjelaskan tentang riwayat hidup, metode berfikir dan filsafat
sosial Socrates.
2.
Menjelaskan tentang riwayat hidup, metode berfikir dan filsafat
sosial Plato.
3.
Menjelaskan tentang riwayat hidup, metode berfikir dan filsafat
sosial Aristoteles.
4.
Membandingkan metode berfikir dan filsafat sosial Socrates
dengan Plato.
5.
Membandingkan metode berfikir dan filsafat sosial Aristoteles
dengan Plato/Socrates.

A. SOCRATES

1. Riwayat Hidup
Sufi terbesar ini lahir kira-kira 470 SM, dan meninggal pada tahun 399
SM. Dia berasal dari keluarga terpandang. Ayahnya seorang seniman
patung, dan banyak memberikan inspirasi pada cara berpikir Socrates.
Dia juga merupakan seorang prajurit pada angkatan perang Athena.
Pada suatu ketika, ia mendapat panggilan suci (devine commision)
untuk menunjukkan kearah mana kebenaran harus dikembangkan dan
bagaimana menghilangkan kebodohan sesama warga Negara Athena.
Sebagai prajurit dalam perang Peloponesus dia pergi dari satu barak ke
barak yang lain, dan kepada setiap orang yang dijumpainya dia selalu
menanyakan pendapanya mengenai masalah-masalah sosial dan politik.
Dari pertanyaan-pertanyaan tersebut akhirnya ia mengetahui bahwa ia
sesungguhnya tidak mengetahui apa-apa, seperti orang lainpun tadak
mengetahui apa-apa pula. Oleh karena itu dia berpendapat bahwa yang
diperlukan adalah sesuatu penyelidikan yang dapat dipercaya. Dengan

penyelidikan itu dicarilah hakekat kehidupan sosial politik yang kemudian


melahirkan pemikiran filsafatnya.
Ketika pada suatu hari Oracle Delphy menyatakan bahwa Socrates
adalah seorang yang paling bijaksana di Athena, maka dia menjawab:
Hanya satu hal saja yang saya ketahui, ialah bahwa saya tidak tahu apaapa. Dari pernyataan inilah Socrates memberi dasar metode berpikir
filsafatnya.
2.

Metode Berfikir
Socrates adalah orang pertama yang menggunakan cara berpikir untuk
meragukan sesuatu dan mengutamakan pentingnya definisi mengenai
sesuatu. Ia berpendapat bahwa langkah pertama untuk mendapatkan
pengetahuan adalah dengan lebih dahulu menjelaskan idea-idea dan
konsepsi-konsepsi. Definisi yang tepat mengenai istilah-istilah dan
konsepsi-konsepsi adalah paling sulit di dalam ilmu pengetahuan dan
filsafat. Akan tetapi definisi ini justru harus difahami lebih dahulu untuk
dapat menemukan kebenaran. Secara singkat Socrates berpendapat
bahwa definisi adalah merupakan langkah pertama di dalam ilmu
pengetahuan. Dari sudut ini Socrates dapat disebut sebagai orang yang
pertama menunjukkan perlunya logika sebagai dasar bagi ilmu
pengetahuan dan filsafat.

3.

Filsafat Sosial
Kita mengenal pemikiran Socrates hanya melalui tulisan-tulisan
Plato muridnya, dalam bentuk drama timbal cakap. Akan tetapi sesuatu
yang tidak perlu diragukan sebagai ajaran Socrates adalah pernyataan
bahwa kecerdasan adalah merupakan dasar dari semua keutamaan, di
dalam adat kebiasaan, di dalam lembaga-lembaga sosial dan di dalam
hubungan sosial manusia maupun di dalam kehidupan pribadi. Menurut
Socrates tabiat yang baik adalah sinonim dari kecerdasan, pengetahuan
menjadikan seseorang bijaksana.
Seseorang yang adil misalnya, harus mengetahui hukum dengan
sebaik-baiknya. Akan tetapi, Socrates menyatakan bahwa disamping
hukum-hukum manusia terdapat juga hukum Tuhan; dan keadaan adalah

kebijakan yang mengalir dari pengetahuan tentang hukum Tuhan.


Socrates mengajarkan bahwa kebajikan dalah sesuatu yang dapat dicapai
dengan kecerdasan manusia. Apabila kita hendak membangun
masyarakat dengan berhasil, maka kita harus membangun dengan
landasan ilmu pengetahuan.
Kritik yang pertama terhadap pemikiran Socrates adalah bahwa ia
terlalu intelektualistik. Kenyataannya, orang-orang cerdik pandai,
sekalipun mereka banyak mengetahui kebenaran akan tetapi mereka
banyak pula melakukan kesalahan. Tentang hal ini Socrates menjawab,
bahwa mereka memang tidak akan dapat mengetahui benar bagimana
mereka dapat mencapainya. Akan tetapi bilamana suatu pengetahuan
dilaksanakan, orang tidak akan melakukan kesalahan yang lebih jauh.

B. PLATO

1.

Riwayat Hidup
Plato dilahirkan kira-kira 427 SM. Dan meninggal pada tahun 347 SM.
Ia berasal dari keluarga bangsawan Athena yang sangat memuliakan
kaumnya.
Sesudah Socrates meninggal, Plato merantau ke berbagai negeri
seperti Mesir, Asia, Sisilia dan Italia bagian selatan, dimana dia kemudian
berkenalan dengan pemikiran Phythagoras. Pada tahun 387 SM, ia
kembali ke Athena dan mendirikan suatu sekolah yang terkenal dengan
nama Academia yang karena banyak menarik pemuda-pemuda
terpelajar Yunani, dapat disebut sebagai Universitas pertama di Eropa

Terdapat tiga buah bukunya yang paling terkenal yaitu :


1.

The Republic.
The Republic merupakan usaha pertamanya yang besar untuk
menggambarkan suatu masyarakat ideal di mana keadilan dapat
diwujudkan.

2.
The Laws yang merupakan buku yang membuat garis besar konstitusi
sosial politik.
3.
The Statesman (Negarawan) yang membuat suatu diskusi tentang
konstitusi politik.

2.

Metode Berfikir
Dia mengembangkan metoda dialektika Socrates, dengan memulainya
dan menguji konsep-konsep pikiran. Kita dapat mengenal manusia
misalnya, melalui cara mengenal pengertian umum tentang manusia,
inilah yang disebut dengan Platonic idealism, yang sebagai suatu
metoda berpikir biasa disebut Conseptualism, suatu doktrin yang
mengajarkan bahwa kebenaran harus diperoleh dengan menguji atau
membuktikan konsep-konsep. Metoda berpikir Plato ini (dan juga
Socrates), bertolak belakang dengan metoda yang dipergunakan oleh
ilmu-ilmu pengetahuan modern. Plato berpendapat bahwa kebenaran
universal tidak dapat dicapai melalui pengertian-pengertian tentang
gejala-gejala yang nampak.
Plato adalah pencipta ajaran serbacita (ideenleer), karena itu
filsafatnya disebut idealisme. Diapun beranggapan bahwa pengetahuan
yang diperoleh melalui pengamatan atas gejala-gejala yang nampak,
adalah bersifat relatif. Kebajikan tidak mungkin ada tanpa memiliki
pengetahuan dan pengetahuan tidak dapat hanya terbatas pada
pengamatan saja. Sebab pengetahuan itu dilahirkan oleh alam bukan
benda, melainkan alam sebacita. Contohnya cita atau konsep tentang
kuda yang memiliki semua sifat kuda dalam bentuk yang murni, tidak
dapat diamati di dunia ini. Kuda kita lihat berbeda satu sama lain dalam
bentuk, warna, dan sifatnya. Kuda dalam bentuk yang murni dan
sempurna ada di idealisme pikiran manusia, sedangkan dalam
kenyataannya kuda dikenali dalam keadaan yang kurang sempurna di
dunia ini.
Jadi serbacita itu adalah pengertian-pengertian yang sudah ada pada
saat manusia lahir. Mencari pengetahuan berarti menimbulkan kembali
ingatan-ingatan dan tata tertib dari kerinduan jiwa kita akan dunia
sebacita, dimana jiwa kita dahulu berada.

3.

Filsafat Sosial
The Republic sebenarnya bernilai sebagai tulisan tentang etika sosial,
mengenai masyarakat ideal, The Republic itu sebagai tulisan pertama dan
terbesar yang bersifat sosiologis. Plato menganggap bahwa masyarakat
ideal adalah merupakan perluasan dari konsep tentang individu manusia.
Menurut Plato manusia pada dasarnya memiliki tiga sifat tingkatan
kegiatan yaitu

a.

The Appetites or the senses (nafsu atau perasaan-perasaan)

b.

The Spirit or the will (semangat atau kehendak-kehendak)

c.

Inteligence, reason, and judgment (kecedasan atau akal)


Berdasarkan tiga elemen aktivita individu tresebut plato kemudian
menyusun suatu masyarakat ideal di dalam tiga lapisan atau kelas yaitu :

a.
b.

c.

Mereka yang mengabdikan hidupnya untuk memperoleh pemuasan


nafsu dan perasaannya.
Mereka
yang
mengabdikan
hidupnya
untuk
memperoleh
penghormatan dan perbedaan sebagai manifestasi dari pada spirit or
will
Mereka yang mempersembahkan hidupnya untuk pemeliharaan akal
atau kecerdasan untuk mengajar kebenaran.
Berdasarkan tiga lapisan sosial Plato kemudian merumuskan tiga
kegiatan lapisan sosial. Ketiga aktivita lapisan sosial itu adalah :
1. Mereka yang mengabdikan hidupnya bagi pemenuhan
nafsu dan perasaan, bertugas untuk menghidupi atau
memelihara masyarakat. Mereka ini adalah kelas pekerja
(manual work), yang meliputi pekerja-pekerja di sektor
pertanian dan industri yang harus mendukung dan
menghidupi dua kelas yang lain. Kepada kelas inilah
didalam masyarakat ideal Plato, diberi hak-hak yang penuh
dan istimewa sebagai seorang warga negara yang
diperolehkan memiliki kekayaan pribadi, oleh karena

berfungsi menyediakan atau memprodusir barang-barang


kebutuhan hidup seluruh anggota masyarakat.
2. Mereka yang hidupnya diabdikan untuk memperoleh
penghormatan dan perbedaan sebagai manifestasi
dari spirit
or
the
will bertugas
untuk
melindungi
masyarakat dari serangan yang datang dari luar maupun
dari dalam masyarakat itu sendiri. Mereka ini adalah kelas
militer (a citizen soldier class). Mereka inilah warga negara
dalam pengertian yang sesungguhnya. Mereka adalah
gambaran dari masyarakat komunis yang sempurna dan
tidak memiliki kehidupan yang bebas dan ganjaran mereka
satu-satunya adalah penghormatan yang diberikan
masyarakat dan kemenangan-kemenangan perang.
3. Mereka
yang
mempersembahkan
hidupnya
untuk
memelihara akal atau kecerdasan bertugas untuk
memerintah dan memimpin masyarakat disebut sebagai
kelas penguasa (magistrates or guardian class). Kelas ini
terutama diangkat dari kelas militer melalui seleksi dalam
kemampuan dan kecerdasan otaknya. Mereka tidak hanya
menjadi filosof dan negarawan, tetapi lebih dari itu juga
seorang guru.
Meskipun Plato membagi masyarakat ke dalam 3 kelas sosial, tetapi
tidak berarti bahwa pembagian tersebut merupakan lapisan yang tertutup
setiap orang mempunyai kesempatan yang sama di dalam
masyarakat.Plato menghendaki masyarakat yang ideal itu yakni
aristokratis di bawah kaum intelek di mana kekuasaan dan pengawasan
akan dipegang oleh kelas yang berpendidikan dan berkecerdasan tinggi.
Yang terpenting bagi studi sosiologi dalam buku Plato The
Republic adalah konsepsinya tentang keadilan (justice). Hanya di dalam
masyarakat tertentu, Kata Plato, keadilan dapat direalisir. Orang yang adil
hanya dapat ada di dalam masyarakat adil. Dengan demikian konsepsi
Plato tentang keadilan adalah merupakan konsepsi sosial.
Dalam bukunya The Laws Plato hanya memuat garis besar konstitusi
politik. Di dalam buku ini tahap perkembangan sosial. Plato
mengemukakan perkembangan masyarakat melalui lima tahap yaitu :

a. Tahap kehidupan masyarakat yang terisolir di dalam


masyarakat pemburu dan yang hidup di padang-padang
rumput.
b. Masyarakat yang Patriarchal di mana keluarga-keluarga
tersusun ke dalam ikatan-ikatan klan dan suku-suku, tetapi
masyarakat ini masih hidup di padang-padang sebagai
masyarakat pemburu dan penggembala.
c. Masyarakat petani yang sudah mulai mendiami desa-desa
pertanian
d. Masyarakat yang hidup di kota-kota perdagangan
e. Masyarakat yang hidup di kota yang mapan seperti Sparta
atau Athena
Plato adalah pencipta pertama dari pada ide tentang komunisme, dia
hanya membatasi komunismenya pada dua lapisan atas dalam
masyarakat. Menurut pendapatnya terdapat banyak persamaan antara
ide komunisme Plato dengan komunisme Rusia, yaitu :
a. Keduanya membenci perdagangan dan ekonomi uang
b. Keduanya menaruh perhatian pada persoalan hak milik
sebagai satu-satunya sumber semua kejahatan dan
kebusukan
c. Keduanya menghendaki hapusnya kemakmuran dan hak
milik perseorangan
d. Keduanya menghendaki pengawasan kolektif bagi anakanak
e. Keduanya
menghendaki
pengawasan
semua
ilmu
pengetahuan dan ideologi bagi kepentingan negara
f. Keduanya memiliki ajaran dogmatis yang menghendaki
agama negara terhadap mana semua aktivitas harus disubordinasikan kepadanya.
Plato adalah pencipta pertama tentang kesamaan sosial yang mutlak
antara wanita dan laki-laki, dan perlunya pengawasan terhadap
perkawinan. Disamping itu Plato adalah orang pertama yang menghargai
ilmu pengetahuan dalam masyarakat. Ia menunjukkan bahwa tidak saja
perlu adanya leadership yang cakap tetapi ia menunjukkan pula
keuntungan sosial dari pada pemerintah oleh orang-orang bijaksana (para
cendekiawan). Fasisme modern barang kali merupakan suatu bentuk

modern berdasarkan konsep plato. Hanya saja berbeda dari komunisme


Rusia Plato sebaliknya mengatakan bahwa setiap masyarakat harus selalu
terdapat susunan-susunan kelas yang bersifat natural.
Plato menekankan adanya perbedaan-perbedaan antara individuindividu dan kelas-kelas sosial ciptaannya terlampau kaku. Perbedaan
antara kelas-kelas tersebut lebih bersifat gradual dari pada bersifat
kualitatif.

C. ARISTOTELES

1.

Riwayat Hidup

Filsuf ini dilahirkan pada tahun 384 SM, di Stagira, dan meninggal pada
tahun 332 SM, pada usia 62 tahun. Ibu Aristoteles adalah seorang ahli
kesehatan dari Raja Amyntas II, dan ayahnya juga seorang ahli kesehatan,
penjinak binatang, dan pecinta alam yang pada akhirnya mempengaruhi
pemikiran Aristoteles yang bersifat naturalistik.

Setelah kematian ayahnya, Aristoteles pergi ke Athena pada usia 18 tahun


untuk belajar di academy dibawah asuhan Plato. Plato mengakui bahwa
Aristoteles adalah muridnya yang paling brilliant, karena ia mampu
mengembangkan pikirannya sendiri. Pada kematian Plato, Aristoteles
memiliki hak terbesar untuk memimpin Academia, sekalipun demikian
pimpinan jatuh ketangan kemenakan Plato. Aristoteles merasa perlu untuk
meninggalkan Athena, ia akhirnya mengungsi ke istana Hermias. Di sini ia
berdiam selama tiga tahun, kemudian ia menikahi anak angkat Hermias yang
cantik, bernama Pythias.

Tahun 342 SM Aristoteles dipanggil ke istana raja Philip II dari Mecodonia


untuk menjadi guru dari puteranya Alexander yang masih berusia 13 tahun.
Sesuia dengan ide-ide pendidikannya sendiri, Aristoteles tidak mendidik
Alexander sebagai murid privat, melainkan mendidiknya dalam satu sekolah

bagi anak bangsawan Mecedonia. Setelah Alexander diangkat menjadi raja,


Alexander memberikan bantuan kepada Aristoteles untuk membeli bukubuku guna mendirikan suatu perpustakaan dan sebuah museum serta
mengumpulkan informasi-informasi ilmiah. Itulah sebabnya Aristoteles dapat
mengumpulkan 158 konstitusi dari berbagai negara kota di jamannya. Hal itu
pula yang menyebabkan dia mampu melakukan studi induktif yang luas
berbagai masyarakat Yunani dan non Yunani.

Pada usianya yang ke 50 tahun Aristoteles kembali lagi ke Athena dengan


membawa serta perpustakaan dan museumnya. Kemudian dipanggil ke
istana raja Philip II dari Mecodonia untuk menjadi guru dari puteranya
Alexander Banyak diantara tulisan aristoteles merupakan catatan muridnya,
cara yang demikian merupakan dasar yang baik bagi pembentukan
pemikiran, karena muridnya merupakan kumpulan ingatan yang hidup.
Kemudian Aristoteles menyingkir ke Calcis sampai ia meninggal. Pikiran
Aristoteles bersifat ensiklopedis, adalah merupakan pembangunan banyak
ilmu pengetahuan dan disiplin filsafat.

2. Metode Berfikir

Aristoteles berbicara tentang filsafat dan dunia realita. Pemikiran Aristoteles


adalah objektif dan dan realitas, teorinya dibangun berlandaskan fakta-fakta,
ia menemukan sember kebenaran pada pengalaman. Aristoteles merupakan
orang pertama yang menggunakan metoda historis dalam mempelajari
kenyataan sosial. Dia adalah pembangun logika, yaitu suatu ilmu tentang
cara berpikir yang benar, ilmu pengetahuan menurutnya adalah bangunan
pengetahuan yang masuk akal. Jelaslah bahwa Aristoteles tidak pernah
memimpikan untuk memisahkan penyelidikannya tentang apa yang ada
dan apa yang seharusnya ada.

3.

Filsafat Sosial

a.

Ajaran Tentang Asal mula Masyarakat

Ada dua bentuk asosiasi manusia yang bersifat dasar dan essensial, yaitu
asosiasi antara laki-laki dan wanita untuk mendapatkan keturunan, dan
asosiasi antara penguasa dan yang dikuasai. Kedua asosiasi ini
bersifat naturalistic (tidak disengaja). Negara berasal dari perkumpulan
kampung/dusun, sedangkan dusun berasal dari kumpulan keluarga yang
terbentuk secara alamiah. Ciri-ciri negara : merdeka penuh (full
independent), memenuhi kebutuhan sendiri (self sufficiency) dan memiliki
pemerintahan sendiri (self government). Negara adalah suatu natural
group, dan manusia adalah makhluk sosial (zoon politicon). Masyarakat
manusia memiliki dasar kultur dan dasarnya yang alamiah.

b.

Ajaran Tentang Organisasi Sosial

Aristoteles membagi ilmu tentang keluarga kedalam empat bagian :


1.

Tentang hubungan antara tuan dengan budaknya.

2.

Tentang hubungan antara suami dengan istri.

3.

Tentang hubungan antara orangtua dengan anaknya.

4.

Tentang ilmu atau seni keuangan.

c.

Ajaran Tentang Organisasi Politik

Aristoteles mengemukakan pembagian fungsi pemerintahan kedalam fungsi


legislatif, eksekutif, dan judikatif, dengan maksud agar terdapat pengawasan
satu sama lain. Ada enam bentuk fundamental daripada negara, yaitu :
pemerintahan oleh seseorang disebut Monarki apabila baik dan Tyrani
apabila buruk. Pemerintahan oleh sejumlah orang disebut Aristokrasi
apabila baik dan Oligarkhi apabila buruk, pemerintahan oleh banyak orang
disebut Demokrasi dalam bentuk baik maupun korup.

d.

Ajaran Tentang Sosial Development

Aristoteles mengemukakan bahwa monarki adalah merupakan bentuk


pemerintahan yang paling tua dan primitif, yang bersumber langsung dari
kekuasaan laki-laki dalam keluarga patriarchal. Aristokrasi adalah bentuk

pemerintahan yang dipimpin oleh kaum bangsawan yang memerintah untuk


orang banyak. Dalam pikiran Aristoteles sebab-sebab daripada revolusi
adalah bersifat psikologis dan karenanya dapat dicegah.

e.

Ajaran Tentang Etika Sosial

Aristoteles menyatakan bahwa negara adalah suatu asosiasi yang tidak


semata-mata bertujuan untuk menyelenggarakan perlindungan bersama
atau mengusahakan kemakmuran komersial. Ada tiga kesejahteraan atau
kehidupan individu yang bahagia menurut Aristoteles, yaitu :
5.

External goods, or wealth (kekayaan).

6.

Good of the body, or health (kesejahteraan).

7.

Goods of the soul, or intelligence and character (kecerdasan atau


karakter).

Sistem sosial yang baik menurut Aristoteles adalah suatu sistem dimana
setiap orang dapat berbuat sebaik-baiknya dan hidup bahagia. Dengan
demikian idealisme Aristoteles tentang masyarakat adalah merupakan
idealisme seimbang antara kemakmuran material, kesehatan fisik,
kecerdasan yang tersebar, dan karakter yang merata.

f.

Ajaran Tentang Social Progress

Aristoteles memiliki pengajaran tentang perbaikan sosial, yaitu ajaran


tentang bagaimana membangun atau memelihara suatu masyarakat yang
ideal yaitu melalui pendidikan.Ada tiga jalan yang dapat membuat manusia
menjadi baik dan bijaksana, yaitu : Alam, habit dan akal atau pikiran.

Pendidikan mengandung dua hal, yaitu : habituasi atau apa yang disebut
dengan latihan membiasakan diri, dan pendidikan kekuatan-kekuatan
rasional, yakni akal atau pikiran. Yang harus diperhatikan di dalam setiap
pendidikan adalah meningkatkan karakter atau moral warga negara, karena
karakter yang lebih tinggi akan menghasilkan tertib sosial yang tinggi pula.

RINGKASAN

Socrates, Plato dan Aristoteles adalah pemikir-pemikir sosial yang muncul di


zamannya yaitu di abad Yunani. Sebagai sufi bagi masyarakat Yunani
ketika terjadi krisis besar dimasyarakatnya itu, dimana kebenaran dan
keadilan sulit didapat, yang ada hanya ketidakpastian. Khususnya krisis
terbesar ketika negara kecil Sparta mengalahkan Athena yang begitu kuat
sehingga membuat shock masyarakatnya. Persoalan yang dialami
masyarakat Yunani yang serba dalam ketidakjelasan dan ketidakpastian
akhirnya melahirkan filsafat sosial dari Socrates bahwa kecerdasan sumber
keutamaan. Dengan kecerdasan atau ilmu pengetahuan maka kebajikan
akan tercapai sehingga membangun masyarakat pun akan berhasil baik.
Metode berfikir dan filsafat sosial Socrates selanjutnya dikembangkan oleh
muridnya yaitu Plato yang terkenal dengan ajaran idealismenya. Dengan
menguraikan sketsa masyarakat idealnya yang merupakan pengembangan
sifat-sifat manusia dalam buku The Republicnya. Plato adalah pencipta
pertama ide tentang komunisme. Aristoteles sebagai murid Plato ternyata
mampu mengembangkan arah pikirannya sendiri berbeda dengan gurunya.
Dengan membangun teori di atas landasan fakta-fakta meskipun masih
spekulatif, serta metode berfikir induktif berbeda dengan teori Plato/Socrates
yang dibangun berdasarkan dunia idea saja serta bersifat deduktif. Filsafat
sosial Aristoteles yang terkenal adalah bahwa manusia menurut kodratnya
adalah mahluk sosial (man is naturally a political animal) atau Zoon
politicon. Oleh karena itu, Aristoteles di pandang sebagai pelopor dalam
ilmu-ilmu pengetahuan sosial. Meskipun demikian, baik Aristoteles maupun
Plato dan Socrates sebagai filsuf besar yang namanya menembus zaman
sekalipun, tetap juga tidak luput dari berbagai kesalahan sebagaimana
lazimnya kehidupan dunia ilmu pengetahuan.

LATIHAN

1.

Jelaskan kritik sosial yang diberikan pada filsafat sosial Socrates!

2.

Jelaskan perbedaan metode berfikir antara Plato dengan Aristoteles !

3.

Coba jelaskan kembali menurut anda tentang zoon politicon yang


dikemukakan oleh Aristoteles !

4.

Jelaskan 6 persamaan antara ide komunisme Plato dengan komunisme


Rusia!

5.

Mengapa sekolah yang didirikan oleh Aristoteles lebih dikenal dengan


nama Parepatetic school !

TUGAS

Buatlah makalah yang berisikan rangkuman kritik-kritik yang diberikan oleh


para ahli terhadap metode berfikir maupun filsafat sosial dari Socrates, Plato
dan Aristoteles, berdasarkan sumber rujukan yang diberikan dan yang anda
ketahui. Selanjutnya akan didiskusikan di kelas!

DAFTAR PUSTAKA

Bouman, P.J., 1956. Ilmu Masyarakat Umum. Terjemahan Sujono. Cetakan ke


delapan. Yayasan Pembangunan. Jakarta.

De Haan, J. Bierens, 1953. Sosiologi Perkembangan dan Metode. Terjemahan


Adnan Syamni. Yayasan Pembangunan. Jakrta.

Johnson, D.P., 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Gramedia. Jakarta.

M. Siahaan, Hotman. 1986.Pengantar


Sosilogi. Erlangga. Jakarta.

Ke

Arah

Sejarah

dan

Teori

Soekanto, Soerjono. 1990. Sosiologi Suatu Pengantar. Radjawali. Jakarta


.-----------------------, 1985. Pengantar Konsep dan Teori Sosiologis. Unila Press.
Lampung

BAB III
PERIODE TRANSISI DARI PEMIKIRAN FILSAFAT KE PEMIKIRAN ILMU
PENGETAHUAN

PENDAHULUAN
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Pokok bahasan pada bab ini menguraikan pemikiran sosial para tokoh masa
transisi dari periode filsafat ke ilmu pengetahuan yang ditandai besarnya

kekuasaan gereja dalam kehidupan kemasyarakatan dengan salah satu


pelopornya adalah Thomas van Aquinas. Bab ini juga menguraikan pemikiran
para tokoh sosial masa revolusi industri dan Renaissance dengan tokohnya F.
Bacon, Niccolo Machiavelli, Thomas Hobbes, John Lock dan Vico.

Setelah mempelajari uraian pokok bahasan tadi, mahasiswa diharapkan


mampu :
1.
menjelaskan pemikiran sosial tokoh masa transisi abad pertengahan
yang dikenal dengan sebutan abad Scholastik yang salah satu tokohnya
yaitu Thomas Van Aquinas.
2.
menjelaskan pemikiran sosial tokoh-tokoh masa revolusi industri dan
Renaissance yaitu F. Bacon, N. Machiavelli, Thomas Hobbes, J.Locke dan Vico.

A. Campur Tangan Lembaga Agama dalam Urusan Pemerintahan

Dalam perkembangan teori-teori selanjutnya periode akhir Yunani tidak


begitu besar peranannya dalam pemikiran teori sosial, dibandingkan dengan
periode abad pertengahan atau apa yang dikenal dengan abad Scholastik.

Pada abad Scholastik pertumbuhan sosial terasa tersendat-sendat karena


besarnya kekuasaan gereja dalam kehidupan kemasyarakatan. Abad ini
adalah suatu abad di mana agama kristen berkembang pesat, di mana
bapak-bapak gereja tidak saja di lapangan kebudayaan, melainkan juga di
lapangan politik. Bahkan di sebut abad Scholastik adalah karena pemikiran
filsafat pada masa itu menyusun ajaran gereja dalam suatu sistem ilmiah.
Pengaruh Aristoteles sangat besar dalam periode ini, terutama pada
pemikiran tokoh Sholastik, Thomas Van Aquinas.

Thomas Van Aquinas

a.

Riwayat Hidup

Thomas Van Aquinas dilahirkan di daerah Napoli pada tahun 1225. Dia
berasal dari keturunan bangsawan dan mengenyam pendidikan di
universitas Napoli. Aquinas belajar filsafat di University of Cologne, kemudian
pada tahun 1245 Ia melanjutkan pendidikannya di University of Paris. Seusai
studi, Aquinas kemudian menjadi maha guru di universitas tersebut. Aquinas
memperoleh gelar kehormatan dengan sebutan Doctor Angelicus oleh
mahasiswanya. Di antara tulisan-tulisannya yang paling terkenal yaitu a
Commentary on Aristotle dan juga Summa Theologica. Aquinas meninggal
pada tahun 1247.

b.

Metode Berpikir

Aquinas membedakan dua sumber kebenaran yaitu Wahyu dan Akal.


Dengan wahyu dimaksudkan adalah yang bersumber dari Al-Kitab dan
tradisis-tradisi Gereja. Metode berpikirnya menunjukkan bagaimana dia
berusaha untuk menyelaraskan kedua sumber pengetahuan tersebut,
sekalipun dia lebih menitik beratkan kepada sumber wahyu. Menggunakan
akal pikiran secara benar dan menginterpretasikan ajaran Aristoteles secara
benar, akan membawa kepada kesimpulan yang sama sebagai mana
diberikan oleh wahyu sebagai sumber pengetahuan, kata Aquinas.

c.

Filsafat Sosial Aquinas

Asal
mula
negara
karena
adanya
kebutuhan
sosial.
Aquinas
menambahkan bahwa wewenang (authority) negara, tidak hanya bersifat
natural, tetapi juga bersumber dari Tuhan.

Hukum menurut Aquinas dibagi dalam 4 bagian, yakni:

1.

Eternal Law (hukum abadi)


adalah hukum yang keseluruhannya berakar dalam jiwa Tuhan.

2.

Natural Law (hukum alam)

sekedar manusia sebagai makhluk yang berpikir yang menjadi bagian


daripadanya.
3.

Human Law (hukum manusia atau hukum positif)

merupakan pelaksanaan dari hukum alam berhubung dengan syaratsyarat khusus


yang diperlukan oleh keadaan di dunia.
4.

Divine Law (hukum Tuhan)

mengisi kekurangan-kekurangan dari pikiran manusia dan membimbing


dengan
wahyu-wahyu Nya kearah alam baka, dengan cara yang tak mungkin
salah.
Wahyu merupakan sumber utama dari hukum ini dan tugas gereja
untuk
menginterprestasikan
teologi.

wahyu

ini.

Keadilan

merupakan

penerapan

B. Pengaruh Revolusi Industri Terhadap Perkembangan Pemikiran


Sosial

Abad pertengahan sekalipun mendapat perhatian besar secara historis dan


sosiologis, tetapi tidak memiliki hasil pikiran yang orisinil. Abad yang
kemudian menjelang sesudah abad pertengahan ini adalah abad rasional
serta empiris yang percaya pada kemajuan dan kekuasaan akal. Yang
kemudian menjadi abad yang meletakkan dasar ke arah nasib ilmu
pengetahuan selanjutnya Abad ini adalah abad Aufklarungyang berkembang

di Ingris dan Perancis akhir abad ke 18 dengan tokoh-tokoh diantaranya F.


Bacon, N.Machiavelli, Thomas Hobbes, John Locke dan Giambattista Vico.

1. Francis Bacon

Empirisme yang menjadi metode berfikir utama di dalam awal pertumbuhan


modern di abad Renaissance sebenarnya bermula di tanah Inggris. Negara
ini terkenal sebagai pemula pemikiran baru itu melalui tokoh yang bernama
Francis Bacon (1561-1628), seorang pemikir yang gelisah. Tokoh ini berasal
dari Verulam. Ungkapan yang sangat terkenal dari orang ini adalah bahwa
bagi dia, tujuan ilmu pengetahuan adalah untuk menguasai alam,
pengetahuan adalah kekuasaan, katanya kita dapat menguasai alam jika kita
mengetahui undang-undang yang mengatur perkembangan alam. Dan usaha
ini hanya bisa berhasil melalui pengamatan-pengamatan yang sistematis.
Metode berfikir yamg paling tepat untuk pengamatan ini adalah melalui
metode berfikir induktif.

2. Niccolo Machiavelli

Machiavelli dilahirkan di Florence pada tahun 1469 dan wafat tahun 1527.
Machiavelli adalah seorang realis yang menganjurkan politik kekuasaan
praktis dengan tidak memakai dasar-dasar kesusilaaan atau alam metafisika.
Machiavelli dapat disebut sebagai wakil dari paham baru yaitu paham
Negara kebangsaan, dan pemahaman pemisahan gereja dengan Negara, di
mana di dalam paham ini terjelma suatu kecondongan alam pikiran yang
hendak memisahkan antara alam rohaniah dengan alam pikiran duniawi.
Dalam tulisan yang terkenal The Prince Machiavelli mengatakan bahwa
negara, setelah bebas dari kekuasaan gereja, hendaklah berakar pada rakyat
bangsa, pada kesadaran kebangsaan.

Menurut Machiavelli tujuan dari Negara adalah untuk memperoleh


kekuasaan, tidak perduli bagaimana caranya dapat memperoleh kekuasaan
tersebur, apakah akan melanggar moral atau tidak. Politik tidak perlu
dihubungkan dengan moral.

Machiavelli mengemukakan 5 cara bagi negara untuk memperbesar


kekuasaan :
1. Meningkatkan jumlah penduduk. Besarnya jumlah penduduk adalah
merupakan
sumber kekuasaan.
dilakukan melalui

Untuk

meningkatkan

jumlah

penduduk

dapat

peningkatan kelahiran.
2. Memperluas perdagangan dan komersialisasi.
3. Mengadakan perjanjian atau persekuutuan yang menguntungkan dengan
negara lain.
4. Membangun tentara yang kuat (termasuk tentara sewaaan)
5. Diplomasi. Menurut
diplomasi. Sebab

Machiavelli

Negara

harus

pandai

melalukan

suatu diplomasi apabila dilakukan secara berhasil, akan merupakan


kekuatan yang
lebih besar dari kekuatuan tentara.

Dengan metode yang diajarkan oleh Machiavelli ini, maka dia dapat disebut
sebagai bapak dari militerisme modern, dan merupakan orang yang pertama
kali sekali mengajarkan pentingnya suatu ekspansi politik perdagangan dan
politik imperialisme perdagangan. Dan lebih dari semua itu, Machiavellli
adalah perumus dari politik amoral, terutama dalam usaha memperoleh
kekuasaan. Sebab menurutnya, barang siapa mempunyai kekuasaan akan
mempunyai hukum dan barang siapa yang tidak mempunyai kekuasaan dia
tidak akan pernah mempunyai hukum.

3. Thomas Hobbes

a.

Riwayat Hidup

Lahir pada tahun 1588 dan meninggal pada tahun 1679. Ia merupakan anak
seorang pendeta gereja Inggris yang mendapat pendidikan dari perguruan
Magdalena dan kemudian di Oxford, kemudian menjadi seorang Kepala
Sekolah Gereja.

b.

Metode Berpikir

Metode berpikir yang dikembangkan oleh Hobbes sebenarnya terbatas pada


prinsip-prinsip hukum alam dan matematika. Cara berpikir sarjana ini adalah
bersifat materialistic dan mekanistik. Teorinya yang bersifat egoistic itu
terkenal
dengan
ungkapan Belium
Omnium
Comtra
Omnes artinya ; perang antara semua melawan semua. Manusia menurut
Hobbes pada dasarnya hidup dalam keadaan soliter, miskin, jahat brutal dan
keji.

Tiga faktor yang mengakibatkan terjadinya pergulatan yang terus-menerus


antara manusia, yaitu:
1.

Persaingan diantara manusia untuk memuaskan nafsu-nafsunya.

2.

Ketakutan dari tiap orang terhadap orang lain

3.
Kerinduan manusia yang bersifat alamiah untuk memperoleh pujian
serta rasa kekaguman sebagai makhluk yang lebih superior dibandingkan
dengan makhluk yang lain, atau kecintaan manusia untuk memperoleh
keagungan.
Demikianlah, Hobbes menganggap egoisme manusialah yang mendorong
manusia untuk mempertahankan serta memperbaiki hidupnya.

c.

Filsafat Sosial Hobbes

Masyarakat menurut Hobbes terbentuk dari adanya perjanjian diantara


menusia, sedangkan negara terbentuk diatas perjanjian diantara kekuasaan
dan ketaatan. Manusia menyerahkan segenap kekuasaan dan hak nya
kepada negara dan negara kemudian menjadi Leviathan yang berkuasa
mutlak, dan tidak dapat di bagi-bagi kepada seseorang atau kepada suatu
perwakilan. Kekuasaan haruslah ditangan satu orang, dan kekuasaannya
meliputi seluruh lapangan hidup.

Hobbes adalah orang pertama yang menganjurkan sesuatu sistem


pemerintahan negara yang totaliter. Apabila negara bersifat monarki, maka
kekuasaan raja adalah bersifat suci, sedangkan bila kedaulatan negara
tersebut bersifat demokrasi, maka suara rakyat adalah suara Tuhan.

Hobbes memandang bahwa kehidupan sosial dan kehidupan politik bersifat


statis dan tidak memperhitungkan faktor histories, serta tidak memiliki
ajaran tentang perkembangan dan kemajuan sosial. Di atas semua itu,
Hobbes tidak memberi tempat mengenai pentingnya etika dalam
pemikirannya tentang kehidupan politik dan kehidupan masyarakat, padahal
ajaran tentang etika merupakan ide dasar dari ilmu pengetahuan sosial.

4. Giambattista Vico

a.

Riwayat Hidup

Dilahirkan tahun 1668 dan meninggal tahun 1744. Ia berasal dari keluarga
sangat miskin di Napoli. Teorinya yang sangat terkenal yakni mengenai

perkembangan masyarakat. Vico menulis buku berjudul The Principle of A


New Science pada tahun 1725, sebuah buku tentang filsafat sejarah dan
memuat teori tentang perkembangan sosial.

b. Filsafat Sosial

Vico memandang manusia sebagai makhluk sosial. Ia juga menyetujui


pendapat bahwa rasa takut yang melingkupi diri manusialah yang kemudian
melahirkan agama, kemudian agama melahirkan kebajikan serta ajaranajaran moral.

Teorinya mengatakan bahwa sejarah perkembangan umat manusia pada


dasarnya adalah sama, dari masa lalu maupun masa yang kemudian.
Perkembangan sosial itu dimulai dari keadaan manusia yang bersifat biadab
menuju kepada keadaan manusia yang menganut agama kemudian
perkembangan manusia yang menganut ajaran-ajaran moral, lalu
masyarakat yang memiliki hukum, masyarakat bernegara, lalu masyarakat
menjadi terorganisir

c. Ajaran Perkembangan Sosial

Ada tiga tahap perkembangan sosial/kemasyarakatan, yaitu :

1.

The age of gods

Masa ini adalah suatu masa didalam kehidupan sosial yang mulai mengenal
tentang Tuhan atau berbagai Tuhan. Rasa takut menciptakan suatu dunia
mengenai adanya Tuhan. Masa ini disebut sebagai masa mitologis. Bentuk
pemerintahan didalam masa ini adalah Theokratis. Vico berusaha untuk
menunjukkan bahwa bentuk pemerintahan yang mula-mula sekali adalah
pemerintahan yang didominasi oleh kelas rohaniawan, karena itu bersifat
theokratis.

2.

The age of heros, or of demigods, or of great men apotheosized

Masa ini ditandai oleh berkembangnya kepala-kepala keluarga yang bersifat


patrialchal menjadi pemimpin atau penguasa masyarakat. Abad
kepahlawanan ini adalah abad dimana sisa-sisa kebiadaban manusia masih
terasa. Kepala keluarga tersebut kemudian bersama-sama membentuk
pemerintahan di dalam masyarakat yang lebih luas. Bentuk pemerintahan ini
bersifat aristokratis.

Tahap kedua ini juga ditandai oleh perkembangan perbudakan , sekalipun


didalam masa ini ada juga budak yang mampu membebaskan diri dan
mempertahankan hak-hak mereka didalam pertarungan antara kaum
bangsawan dan rakyat jelata.

3.

the age of men

Masa ini adalah masa dimana manusia sudah mulai menemukan dirinya.
Bahasa juga sudah mulai berkembang ke dalam wujud tulisan. Hak-hak sipil
dan politik mulai diperluas, bentuk pemerintahannya demokrasi dan
monarki. Agama juga mulai memanusiawi dan tujuannya diarahkan kepada
pengembangan moral. Vico menyebut masa ini sebagai masa pemerintahan
bebas atau pemerintahan Republik. Selanjutnya Vico menambahkan bahwa
masa ini mengandung pula benih-benih keruntuhan. Agama telah
dipengaruhi oleh pemikiran yang bersifat skeptis. Masyarakat telah dikorupsi
oleh kemewahan sehingga muncul pertentangan antara golongan kaya dan
golongan miskin. Sementara itu pemerintahan telah menjurus menjadi
korup. Keadaan yang demikian ini akan ditaklukkan oleh dua kekuatan, yaitu
musuh yang datang dari luar atau tenggelam kedalam bentuknya yang
barbar.

5. John Locke

a.

Riwayat Hidup

Dilahirkan pada tahun 1632 dan meninggal tahun 1704. Ia memperoleh


pendidikan di Gereja Kristen, Oxford, dan pernah menjadi anggota Gereja
Inggris pada masa restorasi. Locke seorang penganut aliran Liberal di dalam
bidang politik dan agama. Seorang yang sangat mempertahankan
kebebasan individual. Pada dasarnya ia adalah seorang pemikir metafisis.
Dia sangat menaruh perhatian yang sangat besar terhadap masalah-masalah
filsafat yang meliputi teori-teori ilmu pengetahuan, sebagai mana terbukti
dari tulisannya yang terkenal Essay Concerning Human Understanding.

b.

Filsafat Sosial Locke

Locke dapat dipandang sebagai salah satu pemuka di dalam menggunakan


metode psikologi didalam ilmu sosial. Dasar ajaran filsafat sosial
mengemukakan bahwa semua pengetahuan manusia diperoleh melalui
pengamatan serta pemahaman terhadap kenyataan-kenyataan. Secara
umum Locke menganut metode berfikir induktif, sekalipun ia juga menganut
metode deduktif.
Manusia menurut Locke adalah makhluk sosial yang mendambakan
perdamaian, kemauan baik dan tolong-menolong. Locke mengemukakan
adanya hak-hak alamiah yang dimiliki manusia, yaitu hak untuk hidup,
kemerdekaan, dan hak milik pribadi.

Pemerintah dibentuk adalah untuk melindungi hak-hak yang bersifat alamiah


ini. Negara diperlukan karena kelemahan dan kejahatan kebanyakan orang.
Negara diciptakan karena adanya perjanjian sosial diantara rakyat. Tujuan
dari negara adalah melindungi hak milik, hak hidup, serta kebebasan yang
merupakan hak azasi manusia.

Locke adalah ahli pikir yang terkenal dengan kekuasaan membuat undangundang dengan yang menjalankan undang-undang. Apabila undang-undang

dipegang
oleh
masyarakat
seluruhnya
sedangkan
pemerintah
menjalankannya, maka negara itu dalah negara yang bersifat demokrasi.
Apabila kekuasaan perundang-undangan diserahkan kepada satu orang atau
beberapa orang, maka ia disebut dengan monarki atau aristokrasi.
Demikianlah uraian tentang J. Locke yang buah pikirannya menandai
abadAufklarung, terutama tentang pentingnya kesatuan di dalam
membentuk negara dan pembatasan kekuasaan pemerintahan. Ajaran
Locke ini sangat berakar di Amerika.

RINGKASAN

Abad pertengahan adalah abad di mana kekuasan gereja di bawah Paus


mempunyai wewenang besar terhadap kebudayaan dan politik Tumbuhnya
kekuasaan gereja itu ditopang oleh ahli-ahli pikir yang berlatar belakang
gereja dengan pemikiran yang tidak orisinil. Thomas Aquinas misalnya,
hanya berusaha untuk memadukan filsafat sosial Aristoteles dengan filsafat
Kristen. Abad yang kemudian menjelang sesudah abad pertengahan adalah
abad Aufklarung yang berkembang di akhir abad ke 18 yang muncul pada
masa revolusi di Inggris dan Perancis. Abad Aufklarung adalah abad
permulaan dari pikiran yang bersifat positivistis, yang percaya pada
kemajuan dan kekuasan akal. Dan pemikiran-pemikiran mereka mempunyai
kaitan langsung terhadap sosiologi dalam pertumbuhannya sebagai ilmu
yang langsung bertumpu pada persoalan-persoalan kemasyarakatan. F.
Bacon, Machiavelli, Thomas Hobbes, J. Locke serta G. Vico adalah tokohtokoh yang lahir pada abad itu.

LATIHAN

1.

Bagaimakah Francis Bacon memandang pengetahuan dan metode apa


yang
digunakannya ?

2.

Bagaimanakah pendapat
masyarakat dan negara ?

Hobbes

3.

Jelaskan kaitan antara wewenang (authority) negara dengan agama


menurut Aquinas ?

4.

Jelaskan teori tentang perkembangan sosial yang dikemukakan oleh


Vico ?

5.

Jelaskan teori tentang asal


dikemukakan oleh John Locke ?

6.

Sebutkan faktor-faktor yang mengakibatkan terjadinya pergulatan di


antara manusia menurut Hobbes ?

mula

mengenai

masyarakat

terbentuknya

dan

negara

suatu

yang

TUGAS
Buatlah makalah tentang berbagai persoalan ekonomi, sosial, maupun politik
yang terjadi di masyarakat kita dengan menggunakan konsep pemikiran
dari Nicccolo Machiavelli!

DAFTAR PUSTAKA

De Haan, J. Bierens. 1953. Sosiologi Perkembangan dan Metode. Terjemahan


Adnan Syamni. Yayasan Pembangunan.Jakarta.

Laeyendecker,L., 1994. Tata, Perubahan dan Ketimpangan. Suatu Pengantar


Sejarah Sosiologi. Gramedia. Jakarta.

M. Siahaan, Hotman, 1986. Pengantar Ke Arah Sejarah Dan Teori Sosiologi.


Erlangga. Jakarta.

BAB IV
LAHIRNYA SOSIOLOGI SEBAGAI SUATU ILMU PENGETAHUAN

PENDAHULUAN
Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Uraian utama pada bab empat ini adalah menjelaskan sumbangan pemikiran
sosial yang berguna bagi lahirnya sosiologi sebagai ilmu pengetahuan.
Sumbangan pemikiran itu khususnya dari tokoh Saint Simon, Auguste
Compte dan Herbert Spencer. Ke tiga tokoh ini akan diuraikan secara jelas
mulai dari riwayat hidup hingga sumbangan pemikiran mereka yang begitu
berarti dan berperan dalam melahirkan sosiologi sebagai ilmu pengetahuan.

Setelah mempelajari bab ini mahasiswa diharapkan mampu :


1. menjelaskan riwayat hidup dan sumbangan pemikiran Saint Simon
terhadap
sosiologi.
2. menjelaskan riwayat hidup dan sumbangan pemikiran A. Compte terhadap
sosiologi.

3. menjelaskan riwayat hidup dan sumbangan pemikiran H. Spencer


terhadap sosiologi.

A.

Saint Simon

1.

Riwayat Hidup

Saint Simon dilahirkan dari keluarga bangsawan pada tahun 1760. Simon
adalah seorang amatir dan avontunis di bidang ilmu pengetahuan. Selain itu,
beliau juga seorang ahli tehnik matematik sekaligus seorang pemikir agama.

Buku-buku karyanya antara lain:


a.
An Introductie on to the Scientific Work of the Nineteenth Century
(1808)
b.

Memoir upon the Science of Man (1813)

c.

Treatise on Universal Gravitation (1814)

d.
Monograph yang berjudul The Reconstruction of European Society
(1816)
e.
f.

Industry (1817)
New Cristiany (1825)

2. Sumbangan Pemikiran Terhadap Sosiologi

Saint Simon berusaha untuk menggunakan metoda ilmu alam di dalam


mempelajari masyarakat. Simon juga menyatakan bahwa dalam mempelajari
masyarakat harus secara menyeluruh, sebab semua gejala sosial adalah
saling berhubungan satu sama lain, dan oleh sebab itu pula sejarah
perkembangan masyarakat sebenarnya menunjukan suatu kesamaan.

Menurut Simon, semua ilmu pengetahuan haruslah bersifat positif yang


dicapai melalui metoda-metoda pengamatan, eksperimentasi dan
generalisasi sebagaimana yang digunakan dalam ilmu alam.

a. Ajaran tentang Perkembangan Sosial


Saint Simon menggunakan 2 prinsip untuk menerangkan perkembangan
sosial :
1. Adanya perkembangan yang terus menerus dan meluas dari masyarakat
2. Hukum tentang kemajuan pengetahuan manusia

Menurut Simon, dua prinsip tersebut yang mampu merubah masyarakat.


Simon mengatakan bahwa adanya kesejajaran (paralelisme) antara
perkembangan individu dengan masyarakat yang kemudian diterangkannya
dalam dua cara berfikir manusia, yaitu:
1.

Cara berfikir Sintesis

2.

Cara berfikir Analisis

Masyarakat yang berpola pikir sintesis akan bersifat konstruktif atau organis,
dan pada masyarakat yang berfikir analisis akan membawa pemikiran yang
kritis. Simon mengambil contoh masyarakat periode kritis adalah pada masa
Yunani sampai kelahiran Socrates, kemudian masa reformasi Eropa pada
abad pertengahan sampai terjadinya Revolusi Perancis yang merupakan
awal dari periode konstruktif atau organis.

Saint Simon mengatakan bahwa bentuk pengetahuan manusia berkembang


mulai dari tingkatannya yang spekulatif atau theologies menuju tingkatannya
yang semakin konkrit, atau bersifat positif atau ilmiah. Ini berarti bahwa kita
harus memandang masyarakat secara keseluruhan yang berkembang dari
tingkatannya yang berdasarkan pemikiran yang spekulatif atau theologies,
menuju masyarakat yang diorganisir berdasarkan pemikiran yang bersifat
positif atau ilmiah.

b. Ajaran tentang Organisasi Politik


Simon mengemukakan tiga bentuk lembaga perundang-undangan yaitu:
1.

Invitation, yang bertugas untuk merumuskan hukum-hukum

2.

Examination, yang bertugas menyusun kebijaksanaan

3.
Execution, yang bertugas untuk menetapkan hukum-hukum serta
kebijaksanaan tersebut dalam kenyataan sehari-hari

B.

Auguste Comte

1.

Riwayat Hidup

Auguste Comte lahir di Perancis pada tahun 1798. Comte adalah anak
keluarga monarki Katolik yang terdidik dalam lingkungan psikologi dan
kedokteran
pada Polytechnique. Kemudian,
Comte
mengajar
filsafat
positivistic dan mendirikan masyarakat positivis. Dalam tradisi filsafat
pencerahan, beliau berpengalaman pada katalis politik Perancis
sebagaimana pasca penolakan revolusi, permulaan revolusi industri, dan
konflik yang meningkat antara ilmu dan agama.

Buku-buku karyanya antara lain:


1.

A Course of Positive Philosophy (1830-1862)

2.

A General view of Positivism (1848)

3.

Subjective Synthetis (1856)

Comte sangat dikenal sebagai seorang yang telah memberikan


nama Sosiologi. Sosiologi baru disebut sebagai ilmu pada abad 19. Dan
usaha untuk membangunnya sebagai suatu ilmu yang berdiri sendiri barulah
pada jaman Auguste Compte. Dalam konteks kemasyarakatan Comte, dapat
dipahami bahwa tujuan utama sosiologi nya adalah mengeliminasi konstruksi
masyarakat modern secara revolusioner (seperti menghentikan disorganisasi

moral). Comte tertarik dengan organisasi masyarakat dalam konteks


humanisme positivistik filsafatnya.

2. Sumbangan Pemikiran Terhadap Sosiologi

Sejak melakukan fondasi terhadap masyarakat, gagasan sosiologinya


menekan pada tuntunan moral. Comte berupaya mengembangkan fisika
sosial yang akan melahirkan hukum-hukum sosial dan reorganisasi sosial,
sesuai dengan sistem nilai yang dikemukakan oleh Comte yang banyak
bernilai dan sebagai hal yang sangat natural.
Dalam hal ini, dikatakan Comte bahwa tugas sosiologi sebagai suatu ilmu
pengetahuan positif adalah mengkaji dan memahami sistem ini secara
menyeluruh untuk memberikan sumbangan bagi pemecahan ilmiah terhadap
masalah-masalah sosial.

3.

Metodologi Auguste Comte

Menurut Comte, alam semesta diatur oleh hukum-hukum alam yang tak
terlihat (invisible natural) sejalan dengan evolusi dan perkembangan alam
pikiran atau nilai-nilai sosial yang dominan. Comte menyatakan bahwa
proses evolusi ini terjadi melalui tiga tahapan utama yang disebut dengan
hukum tentang perkembangan intelegensi manusia (the law of the three
stages), yaitu: tahapan theologies atau fiktif, tahapan metafisis atau abstrak,
dan tahapan scientifik atau positivistik sebagai proses peradaban dan
pengaruh faktor-faktor tertentu, seperti kebosanan, harapan hidup, sifat-sifat
populasi, dan lain sebagainya. Dengan adanya ketiga tahapan tersebut,
dapat mengubah tatanan naluri yang rendah menuju tatanan yang lebih
tinggi yang mengarah pada penekanan yang bersifat intelektual menuju
tahapanpositif, yaitu
tahapan
yang
paling
ilmiah
dan
keutuhan
moralitas. Dalam setiap tahap perkembangan intelegensi manusia terdapat
pula bagian-bagian yang merupakan sub-ordinat.

Tahap tingkatan pemikiran yang bersifat theological atau fictitious dapat


dibagi dalam
tiga
sub
ordinat
yaitu: fetishism,
polytheism,
dan monotheism. Fetishism adalah tingkatan pemikiran yang menganggap
bahwa semua gejala yang terjadi dan bergerak dibawah pengaruh kekuatan
supernatural atau kekuatan gaib. Oleh para ahli agama sebagai
perkembangan agama pada tingkat animisme. Proses evolusi manusia
berkembang ke tahap Polytheism yaitu tingkatan pemikiran bahwa segala
sesuatu yang ada di alam dikendalikan oleh dewa-dewa. Perkembangan
selanjutnya ke tingkat pemikiran yang Monotheism yang menganggap hanya
ada satu Tuhan yang mengendalikan alam ini.

Tingkat pemikiran manusia kedua adalah the methaphysical or abstract


stage yaitu tingkat pemikiran yang menganggap bahwa alam semesta ini
segala sesuatunya diatur oleh hukum-hukum alam. Tahap ini adalah tahap
transisi manusia untuk sampai ke tahap ketiga dari tingkatan pemikiran
manusia yaitu the positive or scientific stage, yaitu suatu tingkatan
pemikiran yang menganggap semua gejala alam dengan segala isinya hanya
dapat
diterangkan
serta
dipahami
melalui
kenyataan-kenyataan
obyektif/positif. Arti cara berfikir positif adalah suatu cara berfikir bahwa
untuk
memahami
semua
gejala
alam
haruslah
melalui
pengamatan/observasi terhadap gejala itu sendiri tanpa melihat kekuatankekuatan yang abstrak di luar kenyataan itu.

Metode positif ini,


mengembangkan
penggunaan observasi (penelitian),
percobaan (eksperiment), serta perbandingan untuk memahami keseluruhan
statistika dan dinamika sosial. Metode-metode tersebut memberikan
gambaran terhadap hukum-hukum sosial melalui eksperimentasi, baik
secara langsung maupun tidak langsung, sebagaimana halnya evolusi
masyarakat secara umum. Dengan ini, Comte menyebutkan sebagai
metodologi yang mengarah pada pengembangan yang lebih luas terhadap
model teorinya yang didasarkan organik dan natural, yaitu pada asumsiasumsi organik dan natural.

4.

Tipologi Masyarakat Compte

Auguste Comte membagi masyarakat atas dua bagian utama yaitu model
masyarakat statis (sosial statics)yang menggambarkan struktur sosial
kelembagaan masyarakat dan prinsip perubahan sosial yang meliputi sifatsifat sosial (agama seni, keluarga, kekayaan, dan organisasi sosial), dan sifat
kemanusian (naluri emosi, perilaku, dan inteligensi). Dan model masyarakat
dinamis
(sosial
dynamics) yang
menggambarkan
struktur
sosial
kelembagaan masyarakat dan prinsip perubahan sosial yang terdiri atas
hukum-hukum perubahan sosial, dan faktor yang berhubungan dengan
tingkat kebosanan masyarakat, usia harapan hidup, perkembangan
penduduk, dan tingkat perkembangan intelektual. Comte memandang
bagian-bagian ini sebagai suatu kesatuan yang berkembang melalui tiga
macam tahapan perkembangan intelektual menuju positivisme. Tipologi
Comte ini lebih menggambarkan unsur-unsur pokok dan beberapa proses
dalam sistem sosial sehingga dapat mengantisipasi pekerjaan selanjutnya
oleh golongan struktur fungsional, bahkan konflik para ahli teori sosiologi.

Dari uraian di atas, kita dapat melihat bahwa pandangan-pandangan Comte


itu tidak sederhana dan karya-karyanya yang menggambarkan dasar-dasar,
baik bagi sosiologi maupun teori sosiologi, dan mengandung unsur-unsur
yang signifikan yang masih relevan dengan masalah-masalah sosiologi yang
ada dalam masyarakat modern saat ini. Dengan mengonseptualisasikan
masyarakat seperti yang dilakukan Comte, dimana Comte telah meletakan
dasar pengembangan sebuah ilmu tentang kemayarakatan. Meskipun
sebenarnya Compte tidak pernah menyebut nama sosiologi, sebab semua
ajaran sosial tentang apa yang kita sebut dengan sosiologi pada dewasa ini,
oleh Compte disebut dengan sosial physics. Namun, sejarah telah
menyebut bahwa Auguste Compte adalah pendiri sosiologi.

C.

Herbert Spencer

1. Riwayat Hidup

Herbert Spencer adalah seorang bangsawan Inggris yang dilahirkan dari


keluarga pembangkang(nonconformist dissenter). Spencer menerima
pendidikan klasik dirumahnya dan bekerja sebagai seorang juru gambar,
kemudian menjadi editor pada majalah The Economist. Pandangan
Spencer tentang masyarakat tampaknya dipengaruhi oleh Revolusi Industri
dan ekspansi ekonomi, dari perspektif teori evolusi Darwin. Teorinya sangat
banyak berhubungan dengan tipe evolusi organik, seperti halnya teori Comte
tentang pembagian masyarakat menjadi
masyarakat statis
dan
dinamis. Karya-karya utama Spencer antaranya:
1. Sosial Statics (1850)
2. First Principle (1862)
3. The Study of Sociology (1873)

Perhatian utama Spencer adalah melacak atau menemukan proses evolusi


sosial melalui masyarakat secara historis dan sosiologis. Dalam penerapan
prinsip-prinsip evolusi biologis terhadap masyarakat merupakan sesuatu
yang tidak begitu mengejutkan. Dengan demikian, analogi organik yang
diterapkan pada masyarakat secara langsung dalam kerangka evolusi.
Memahami evolusi organik seperti ini menjadi penting untuk kontrol yang
lebih besar terhadap masyarakat yang mengakibatkan korelasi yang lebih
dekat antara kebutuhan-kebutuhan individual dan masyarakat. Seperti juga
Comte, Spencer juga menjelaskan tentang teori organik, evolusi, dan dasardasar teori praktis kemasyarakatan yang didasarkan pada kebutuhankebutuhan masyarakat yang tertinggi.

Dalam hal sosiologi, Spencer memandang masyarakat sebagai suatu


kesatuan dan perkembangan yang utuh, menggambarkan lebih dari
sejumlah bagiannya dan bukunya subjek yang menghilangkan bagian-bagian
itu. Hubungan-hubungannya sama dengan hubungan-hubungan fungsional
dan menopang dalam organisme biologis. Dalam hal ini, Spencer merupakan
seorang pelopor dari paham fungsionalis strukturalis kontemporer.

2. Sumbangan Pemikiran Terhadap Sosiologi

Dalam tradisi Victorian, Spencer memandang bahwa alam semesta berada


dalam
keadaan
yang
terus-menerus
mengalami
evolusi
dan
perubahan (dissolusion). Spencer menganggap bahwa inilah tugas sosiologi
untuk melacak proses-proses ini seperti yang mereka terapkan dalam
masyarakat.

Spencer memandang masyarakat sebagai suatu kesatuan yang utuh dan


berkembang sesuai dengan hokum-hukum evolusi alam. Sistem organik ini
terdiri
atas
subsistem inner dan outer dan
secara
terus-menerus
berkembang jauh dari tingkat-tingkat baru sebagaimana ia berkembang dari
masyarakat primitif menuju masyarakat yang modern dan industri. Tugas
utama sosiologi adalah memahami proses-proses ini secara lebih mendalam
supaya tercipta sebuah masyarakat yang harmonis.

3. Metodologi Herbert Spencer

Metodologi yang digunakan Spencer hampir sama dengan metodologi


Comte, yaitu observasi empirik, metode perbandingan, serta sejarah
deduktif dan induktif. Metode-metode ini digunakan untuk menjelaskan atau
melacak proses evolusi sosial.

4. Tipologi Masyarakat Spencer

Tipologi utama Spencer adalah pembagian masyarakat menjadi masyarakat


statis dan masyarakat dinamis. Spencer menguraikan secara rinci sifat-sifat
ideal dua tipe masyarakat tersebut. Spencer menggambarkan masyarakat
berdasarkan kepatuhan individu, kekakuan yang tinggi, cara hidup yang
teratur, dan ketentuan distribusi penghargaan serta bentuk sentralisasi yang
tinggi dari pemerintah. Masyarakat industri dipandang sebagai kondisi yang
memungkinkan individu memperoleh status yang lebih tinggi karena lebih

sedikitnya peraturan, adanya disentralisasi, dan penghargaan yang


menyebar dalam kontrak sosial. Tipe-tipe sosial ini pada dasarnya
menggambarkan tingkatan-tingkatan evolusi dari primitif sampai modern.

RINGKASAN

Dari bahasan-bahasan diatas, setelah dikaji kembali ada sejumlah


persamaan mendasar antara pemikiran Saint Simon, A. Compte dan H.
Spencer yaitu :
1.
Memberikan reaksi terhadap masalah-masalah politik dan ekonomi
pada masanya di dalam tradisi pencerahan. Fokus kajian mereka adalah
memahami bagaimana hukum-hukum alam berlaku dalam masyarakat
sebagaimana yang telah berkembang dalam memberikan dasar-dasar ilmiah
bagi kontrol sosial, dan kebahagiaan masyarakat.
2.

Memandang bahwa masyarakat diatur oleh hukum-hukum alam.

3.
Memandang masyarakat sebagai satu kesatuan yang utuh dan
berkembang terus melalui serangkaian tahapan-tahapan menuju masyarakat
yang lebih positif dan industri.
4.
Menjelaskan susunan masyarakat yang terdiri dari masyarakat statis
dan dinamis serta masyarakat yang sintesis dan analitis.
5.
Menekankan pada observasi empiris dan metode komperatif sebagai
metode-metode yang sesuai.
6.
Menggaris bawahi tipe-tipe masyarakat pada tahapan tertentu dari
evolusi sebagai tipologi-tipologi dasar mereka.

LATIHAN

1.
Menurut Saint Simon, terdapat adanya kesejajaran antara
perkembangan individu dengan masyarakat. Dari pernyataan tersebut, hal
apakah yang dapat menjadi penyebab kesejajaran tersebut, serta adakah
pengaruh terhadap perkembangan masyarakat di dalamnya?
2.
Menurut Auguste Comte, tipologi yang Comte kemukakan
menggambarkan masyarakat yang bagaimana dan jelaskan apa yang
dimaksud dengan masyarakat statis dan masyarakat dinamis?
3.
Dalam teori yang dikemukakan oleh Herbert Spencer, apa yang
menjadi bahasan utama dalam sosiologi?
4.
Apa yang membedakan teori yang dikemukakan oleh Saint Simon,
Auguste Comte, dan Herbert Spencer dalam perspektif sosial masyarakat?

TUGAS
Buatlah rangkuman pemikiran sosiologi dari Saint Simon, A.Compte dan
Herbert Spencer, berdasarkan literatur rujukan yang diberikan. Kemudian
jelaskan persamaan dan perbedaan dari pemikiran sosiologis ke tiga tokoh
tersebut. Selanjutnya akan didiskusikan di kelas!

DAFTAR PUSTAKA

De Haan, J. Bierens, 1953. Sosiologi Perkembangan dan Metode. Terjemahan


Adnan Syamni. Yayasan Pembangunan. Jakarta.

Johnson, Paul D, 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern I. Gramedia. Jakarta

Kinloch, Graham. 2005. Perkembangan


Sosiologi. Pustaka Setia. Bandung

Dan

Paradigma

Utama

Teori

Laeyendecker, L., 1994. Tata Perubahan dan Ketimpangan. Suatu Pengantar


Sejarah Sosiologi. Gramedia. Jakarta.

M. Siahaan, Hotman. 1986. Pengantar


Sosiologi. Erlangga. Jakarta

Ke

Arah

Sejarah

Dan

Teori

Soekanto, Soerjono, 1986. Sosiologi Suatu Pengantar. Rajawali. Jakarta.

Veeger, K.J., 1986. Realitas Sosial. Refleksi Filsafat Sosial atas Hubungan
Individu-Masyarakat dalam Cakrawala Sejarah Sosiologi. Gramedia. Jakarta.

BAB V
SUMBANGAN PEMIKIRAN SOSIOLOGI DARI KARL MARX

PENDAHULUAN

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Pokok bahasan yang akan diuraikan pada bab lima ini adalah sumbangan
pemikiran dari Karl Marx terhadap ilmu sosiologi. Adapun materi-materi yang
akan dibahas adalah sejarah singkat riwayat hidup Karl Marx serta
menjelaskan pemikiran Karl Marx tentang materialisme historis, model-model
masyarakat,alinasi, kesadaran kelas dan perubahan sosial.

Setelah mengetahui materi pokok bahasan pada bab lima, mahasiswa


diharapkan mampu :
1.

menjelaskan konsep materialisme historisnya Karl Marx.

2.

menjelaskan model-model masyarakat Karl Marx.

3.
menjelaskan
alienasi Karl Marx.

konsep

alienasi

dan

membedakan

macam-macam

4.
menjelaskan perjuangan kelas dan analisa dialektika perubahan sosial
Karl Marx.
5.
mengkaji fenomena masyarakat saat ini dengan menggunakan teori
Karl Marx

A. Riwayat Hidup Marx

Jika secara spontan orang ditanya tentang Karl Marx, biasanya jawaban yang
muncul akan berkisar pada Marx sebagai seorang kakek tua berjenggot
dengan wajah angker yang ide-idenya perlu dicurigai dan dihindari. Ia akan
dipahami sebagai seorang lelaki dari Jerman yang adalah filsuf, ahli ekonomi,
dan teoritikus sosial yang mempelopori gagasan mengenai materialisme
dialektis dan materialisme historis. Selanjutnya ia akan dipandang sebagai
seorang penganjur perjuangan kelas dan revolusi komunis; seorang atheis
pejuang gagasan diktator proletariat dan masyarakat tanpa kelas; atau
seorang anti-kapitalis yang membenci kaum borjuis sambil menunjukkan
ketakterpisahan antara politik dan ekonomi.

Mengingat adanya kesulitan teknis menemukan sumber-sumber biografis


Marx pada masa awal hidupnya, di sini catatan mengenai hal itu akan
disampaikan secara sekilas saja. Marx lahir di Trier (kini di Jerman), pada
tanggal 5 Mei 1818. Ayahnya Henrich Marx dan ibunya Henrietta berasal dari
keluarga rabbi Yahudi. Ayahnya Henrich Marx, adalah seorang pengacara di
negara Prusia, ssebelum negara itu pada tahun 1867 menjadi bagian dari
konfederasi Jerman.

Usia delapan belas tahun, sesudah memperlajari hukum selam setahun di


Universitas Bonn, Marx pindah ke Universitas Berlin. Selama masa studinya
di Berlin, Marx amat dipengaruhi oleh filsafat idealisme George Hegel (17701831). Di sini ia juga behubungan dan amat dipengaruhi dengan kaum
Hegelian Muda. Mereka ini bermaksud.menerapkan gagasan Hegel guna
melawan agama sebagai lembaga yang tak ramah(organized religion) dan
pemerintah Prusia yang dirasakan sebagai otoritarian. Pada tahun 1841, di
usianya yang ke-23, Marx meriah gelar doktor dalam bidang filsafat.
Perjalanan hidupnya setelah itu adalah perjalanan yang penuh kesulitan dan
tantangan.

Setelah menyelesaikan disertasi doktornya di Universitas Berlin, Marx


menerima tawaran untuk menulis dalam surat kabar borjuis liberal,
bernama Rheinishe Zeitung di Cologne. Kemudian ia menjadi pimpinan surat
kabar ini walaupun pada akhirnya harus ditutup oleh pemerintah karena
dianggap terlalu kritis.

Setelah itu ia pun pindah ke Paris. Di Paris inilah Marx menikah dengan Jenny
pada tanggal 19 Juni 1843. Di sini pula ia bertemu dengan Friedrich Engels.
Pada tahun 1845 ia dan keluarganya berpindah ke Brussels. Kemudian tahun
1846 Marx bersama teman kerjanya Friedrich Engels (sekaligus teman dekat
sampai Marx meninggal) mengikuti Communist League suatu organisasi
revolusioner yang bermarkas di London.

Dua tahun kemudian (1848) dia diusir karena pemerintah Belgia takut
bahwa Marx akan mendorong revolusi di situ. Marx pun kembali ke Paris, lalu
ke Rhineland, namun di sana ia juga berbenturan dengan penguasa
setempat. Akhirnya pada tahun 1849 Marx pindah ke London. Ia tinggal dan
berkarya di kota itu sampai meninggalnya, pada tanggal 14 Maret 1883.

B. Alam Berpikir Marx

Sebagai seorang ahli sosial sekaligus filosof yang juga menguasai ilmu
ekonomi, Marx dalam melihat masalah kemasyarakatan memiliki pusat
perhatian pada tingkat struktur sosial dan bukan pada tingkat kenyataan
sosial budaya. Marx dalam hal ini lebih memusatkan perhatiannya pada cara
orang menyesuaikan diri dengan lingkungan fisiknya. Dia juga melihat
hubungan-hubungan sosial yang muncul dari penyesuaian ini dan tunduknya
aspek-aspek kenyataan sosial dan budaya pada asas ekonomi.

Bagi Marx, kunci untuk memahami kenyataan sosial tidak ditemukan dalam
ide-ide abstrak, tetapi dalam pabrik-pabrik atau dalam tambang batu bara.
Di mana para pekerja menjalankan tugas yang di luar batas kemanusiaan
dan berbahaya, untuk menghindarkan diri dari mati kelaparan dan berbagai
penderitaan kaum buruh, inilah kenyataan sosial. Kenyataan sosial bukan
impian naif dan idealistik yang dibuat oleh ilmu pengetahuan, teknologi dan
pertumbuhan industri untuk meningkatkan kerjasama dan meningkatkan
kesejahteraan dalam bidang materil semua orang.

Karl Marx dalam pemikiran filosofisnya banyak dipengaruhi oleh George


Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831) dan Ludwig Feurbach (1804-1872),
keduanya filsuf Jerman. Kalau Hegel dalam pemikirannya lebih bersifat
idealistik, Feurbach lebih bersifat materialistik, humanistik dan inderawi.
Namun, pada akhirnya pengaruh kedua tokoh ini hanya akan menjadi titik
tolak bagi Marx untuk sampai ke pemikiran-pemikirannya sendiri.

Sedikit banyak dalam ingatan orang Marx lebih dikenal sebagai pengikut
Hegelian. Marx sendiri menggunakan inti model analisa dialektik Hegel. (lihat
gambar).

1.

2.

Penjelasan pengertian dasarnya dalam analisa dialektika berintikan :


Pandangan mengenai pertentangan antara tesis dan antitesis serta titik
temu keduanya yang akhirnya akan membentuk sintesa baru; kemudian ini
menjadi tesis baru, dan dalam pertentangan dengan tesis baru itu, muncul
suatu antitesis baru, dan akhirnya kedua tesis yang saling bertentangan ini
tergabung dalam satu sintesa baru yang lebih tinggi tingkatannya.

Meskipun model ini agak abstrak, mungkin dapat digambarkan dalam satu
hal yang terdapat dalam tradisi masyarakat kita sendiri dengan adanya
pertentangan antara ide-ide yang digunakan untuk membenarkan pelbagai
bentuk pelapisan sosial dan ide-ide mengenai persamaan. Namun, sulit
untuk membayangkan suatu dilema dasar seperti itu yang dapat
dipertemukan sepenuhnya.

Menurut kebanyakan ahli selain alam pikirnya, Marx dalam berkarya dan
menelurkan karya-karyanya berpijak pada tiga sila dasar:
1.

Teori Materialisme Historis


Materialisme Historis Marx menjelaskan sejarah dengan memposisikan
material manusia sebagai dasar sejarah dan memandang produksi mental,
intelektual seseorang dan kehidupan budaya sebagai efeknya.

2.

Teori Perjuangan Kelas


Menurut hasil analisa dan pengamatan Antoni Gidden terhadap teori
Perjuangan Kelas Marx bahwa di dunia ini di belahan manapun masyarakat
terbagi menjadi dua golongan besar, yaitu Golongan Borjuis (pemilik modal)
dan Golongan Proletar (kaum buruh, tani).

3.

Teori Nilai Lebih


Konsep ini menjelaskan keuntungan kaum kapitalis dan eksloitasi buruh.
Marx mendefinisikan nilai lebih sebagai perbedaan antara nilai upah yang
diterima buruh dan nilai dari apa yang mereka hasilkan. Artinya, perbedaan
antara upah yang harus dibayar kaum kapitalis kepada buruh dan produk

hasil kerja kaum buruh yang bisa dijual kaum kapitalis untuk kepentingan
kaum kapitalis.

C. Karya-Karya Karl Marx

Berikut adalah beberapa karya Marx semasa hidupnya:


1.

Economic and Philosophical Manusript.


Tulisan ini terinspisrasi karena Marx banyak mengenal tulisan-tulisan ahli
ekonomi politik seperti Adam Smith dan David Ricardo. Marx dalam hal ini
mengambil isu individualisme pendekatan ini dengan mengatakan bahwa
deengan individualisme manusia dikesampingkan.

2.

The German Ideology


Karya ini merupakan hasil pemikirannya dengan Engles. Karya ini mengenai
suatu interpretasi komprehensif tentang perubahan dan perkembangan
sejarah sebagai alternatif terhadap interpretasi Hegel mengenai sejarah.

3.

The Class Strruggles in France dan The Eighteenth Brumaire of Louis


Bonaparte.
Kedua esai ini menerapkan metode materialis historisnya Marx dengan
berusaha untuk mengungkapkan kondisi-kondisi sosial dan material yang
mendasar yang terdapat di bawah permukaan perjuangan-perjuangan
ideologis yang dinyatakan hanya dengan kondisi-kondisi sosial dan materil.

4.

The Communist Manifesto


Sebuah tulisan yang ditugaskan kepada Marx oleh organisasi Communist
League setelah perdebatan antara Marx dan Weikting dalam organisasi itu
mengenai waktu yang tepat untuk revolusi proletariat. Dan ini merupakan
pernyataan yang akan menjadi program teoretis untuk organisasi itu.

5.

Das Kapital

Dalam Das Kapital Marx mengembangkan dan mensistematisasi sebagian


besar ide-ide yang sudah diuraikan sebelumnya secaara singkat dari karyakarya sebelumnya

D. Materialisme Historis Marx

Dari karya The Comunist Manifesto, dan Das Kapital, Marx sangat terkenal
dengan dialektika materialis dan dialektika historisnya. Baginya, kekuatan
yang mendorong manusia dalam sejarah adalah cara manusia berhubungan
antara manusia yang satu dengan manusia yang lain, yang dalam
perjuangannya yang abadi untuk merengut kehidupan dari alam. Tindakan
historis yang pertama adalah membina kehidupan material itu sendiri.
Keinginan untuk memenuhi kebutuhan makan dan minum, tempat tinggal
serta sandang adalah tujuan manusia yang utama pada awalnya. Namun
demikian, perjuangan manusia tidaklah terhenti pada saat kebutuhannya
yang paling utama terpenuhi atau tercapai, manusia memang sesungguhnya
binatang yang tetap tidak akan terpuaskan. Ketika kebutuhan-kebutuhan
pokok telah terpenuhi, pemenuhan kebutuhan itu justru menyebabkan
timbulnya kebutuhan-kebutuhan baru, yang mengawali terbentuknya kelaskelas yang saling bertentangan. Menurut Marx, semua periode sejarah
ditandai oleh perjuangan kelas yang berbeda satu sama lain sesuai dengan
periode sejarahnya. Meskipun gejala historis merupakan hasil dari saling
mempengaruhi antar berbagai komponen, sesungguhnya hanya faktor
ekonomi yang merupakan independent variabelnya. Perkembangan
politik ,hukum, filsafat, kesusasteraan dan kesenian semuanya bertopang
pada faktor ekonomi.

E. Teori Alienasi

Selain teori Perjuangan Kelas dan beberapa hal di atas ada sebuah teori Marx
yang menjelaskan dampak dari produktifitas manusia terhadap keterasingan
manusia itu sendiri. Teori ini lebih dikenal dengan Teori Alienasi.

Alienasi atau keterasingan merupakan masalah yang menjadi menarik untuk


dikaji ketika orang mulai sadar bahwa lama kelamaan barang-barang yang
diproduksi manusia makin menjadi otonom, bahkan seakan-akan menguasai
manusia. Menurut Marx alienasi ada dan dijumpai orang di mana-mana
dalam segala bidang dan dalam semua lembaga di mana manusia
memasukinya. Tetapi alienasi yang paling penting adalah alienasi yang
dijumpai di tempat orang bekerja, karena manusia menurut Marx
adalahhomo faber artinya manusia sebagai pekerja/pencipta. Alienasi
dalam bidang kerja ada empat aspek yaitu :
a. Manusia diasingkan dari produk hasil pekerjaannya.
b.

Terasing dari kegiatan produksi.

c.

Terasing dari sifat sosialnya sendiri.

d.

Terasing dari rekan-rekannya atau masyarakatnya.

Demikianlah, sesungguhnya Marx telah mengemukakan bagaimana


manusia teralienasi adalah merupakan manusia yang sebenarnya hidup di
dalam dunianya yang tidak terhayati oleh dirinya sendiri.

F.

Kesadaran Kelas dan Perjuangan Kelas

Teori kelas dari Marx berdasarkan pemikiran bahwa sejarah dari segala
bentuk masyarakat dari dahulu hingga sekarang adalah sejarah pertikaian
antara golongan. Menurut pandangannya, sejak masyarakat manusia mulai
dari bentuknya yang primitif secara relatif tidak berbeda satu sama lain,
namun tetap mempunyai perbedaan-perbedaan fundamental antara
golongan yang bertikai di dalam mengejar kepentingannya masing-masing.
Bagi Marx, dasar dari sistem stratifikasi adalah tergantung dari hubungan
kelompok-kelompok manusia terhadap sarana produksi. Yang disebut kelas
dalam hal ini adalah suatu kelompok orang-orang yang mempunyai fungsi
dan tujuan yang sama dalam organisasi produksi.

Kelas-kelas yang memiliki kesadaran diri, memerlukan sejumlah kondisi


tertentu untuk menjamin kelangsungannya, yaitu mereka memerlukan
adanya suatu jaringan komukasi ddi antara mereka, pemusatan massa
rakyat serta kesadaran akan adanya musuh bersama dan adanya bentuk
organsisasi yang rapi. Organisasi ini dapat berupa serikat-serikat buruh atau
serikat-serikat kerja lainnya untuk mendesak upah yang lebih tinggi,
perbaikan kodisi kerja, dan sebagainya. Akhirnya organisasi kelas buruh
ini akan menjadi cukup kuat bagi mereka untuk menghancurkan seluruh
struktur sosial kapitalis dan menggantikan dengan struktur sosial yang
menghargai kebutuhan dan kepentingan umat manusia seluruhnya yang
diwakili oleh kelas proletar.

G. Analisa Dialektika Perubahan Sosial

Cara analisa dialektik merupakan inti model bagaimana konflik kelas


mengakibatkan perubahan sosial. Umumnya analisa dialektik meliputi suatu
pandangan tentang mansyarakat yang terdiri dari kekuatan-kekuatan yang
berlawanan yang sewaktu-sewaktu menjadi seimbang. Dalam pandangan
Marx, kontradiksi yang paling penting adalah antara kekuatan-kekuatan
produksi materil dan hubungan-hubungan produksi, dan antara kepntingankepentingan kelas yang berbeda. Karena kontradiksi inilah, setiap tahap
sejarah dalam perkembangan masyarakat dapat dilihat sebagai tahap yang
mempersiapkan jalan untuk kehancuran akhirnya sendiri, dengan masingmasing tahap baru yang menolak tahap sebelumnya di mana secara
paradoks memasuki awalnya. Namun gerak sejarah yang bersifat dialektik
itu tidak terlepas dari kemauan atau usaha manusia. Manusialah yang
menciptakan sejarahnya sendiri, meskipun kegiatan kreatifnya ditentukan
dan terikat oleh lingkungan materil dan sosial yang ada. Khusus dalam The
Communist Manifesto, Marx mendesak kaum buruh untuk mempergunakan
moment yang tepat dalam sejarah yang ditimbulkan oleh munculnya krisis
ekonomi, untuk mengubah masyarakat melalui kegiatan revolusioner mereka
sendiri.

RINGKASAN

Adalah suatu hal yang tidak dapat dipungkiri bahwa kehadiran Karl Marx
dalam perkembangan sosiologi telah memberikan warna baru. Bahkan dalam
perkembangannya kelak, sosiologi modern telah menampilkan lagi ajaranajarannya yang dikenal dengan Neo Marxian yang mewarnai suatu aliran
dalam sosiologi yaitu pendekatan konflik. Juga dapat dicatat secara
sosiologis adalah jasa Marx untuk menampilkan pendapatnya bahwa
kesadaran manusia dan kesadaran golongan (kelas menurut Marx) senatiasa
ditentukan pula oleh keadaan masyarakat di mana kesadaran itu hidup dan
berkembang.

Kebesaran Marx tidak terlepas pula dari kesilapan. Dia terlampau


menekankan faktor ekonomi sebagai satu-satunya faktor yang paling penting
menggerakkan sejarah. Dalam kenyataannya, berbagai faktor lain seperti
faktor geografis dan dorongan-dorongan biologis yang inherent dalam diri
manusia, lebih dahulu mengemuka dan bekerja dibandingkan dengan faktor
ekonomis. Demikian juga faktor-faktor intelegensi, pengalaman, ide-ide
religi, tata hukum bahkan seni memberikan aktifitas yang ditujukan kepada
apa yang disebut dengan tujuan-tujuan ideal. Sebagaimana banyak kita
temukan di dalam kehidupan masyarakat primitif, di mana seluruh aktifitas
di lapangan sedemikian itu, merupakan faktor yang lebih dahulu di jalankan
sebelum melaksanakan aktifitas ekonomi.

LATIHAN

1.

Jelaskan maksud dari teori perjuangan kelas Karl Marx!

2.
Apa yang dimaksud dengan alienasi, serta sebutkan 4 aspek manusia
sebagai homo faberteralinasi dalam pekerjaannya!

3.
4

Jelaskan maksud konsep pemikiran Marx tentang materialisme historis!

Sebutkan dan jelaskan 3 sila dasar menurut para ahli sebagai pijakan
Marx dalam
Berkarya!
5. Jelaskan kritik utama yang diberikan terhadap teori Karl Marx!

TUGAS

1.
Carilah serta kumpulkan dari surat-surat kabar atau media massa
lainnya, 2 artikel yang menyangkut persoalan-persoalan yang berkaitan
dengan dunia kerja, khususnya dalam dunia industri di Indonesia.
2.
Analisakan persoalan-persoalan itu dengan menggunakan teori Karl
Marx yang telah kamu pelajari!
DAFTAR PUSTAKA

De Haan, J. Bierens, 1953. Sosiologi Perkembangan dan Metode. Terjemahan


Adnan Syamni. Yayasan Pembangunan. Jakarta.

Giddens, Anthony, 1986. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern. Suatu Analisis
Karya Tulis Marx, Durkheim dan Max Weber. UI Press. Jakarta.

Laeyendecker, L., 1994. Tata, Perubahan dan Ketimpangan. Suatu Pengantar


Sejarah Sosiologi. Gramedia. Jakarta.

Lavine, T.Z., 2002.Dari Socrates Ke Sartre: Petualangan Filsafat, Jendela.


Yogyakarta

M. Siahaan, Hotman, 1986. Pengantar


Sosiologi. Erlangga. Jakarta.

Ke

Arah

Sejarah

dan

Teori

P. Johnson, Doyle, 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Dindonesiakan :


Robert M.Z. Lawang. Gramedia. Jakarta

Wardaya, Baskara T., 2003. Marx Muda: Marx Muda Berwajah Manusiawi. Buku
Baik.Yogyakarta.

Ramli, Andi Muawiyah. 2000. Peta Pemikiran Karl Marx. LKLS. Yogyakarta.
Suseno, Frans Magnis. 2000. Pemikiran Karl Marx. Gramedia. Jakarta.

BAB VI

SUMBANGAN PEMIKIRAN SOSIOLOGI DARI EMILE DURKHEIM

PENDAHULUAN

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Pokok bahasan yang akan diuraikan pada bab keenam ini adalah sumbangan
pemikiran dari Emile Durkheim. Durkheim dapat dipandang sebagai salah
seorang yang meletakkan dasar-dasar sosiologi modern. Durkheim adalah

seorang ahli sosiologi yang sangat luas bidang perhatiannya. Ia menulis


tentang metode-metode sosiologi, tentang pengetahuan dan sosiologi
agama, tentang pembagian kerja dan bunuh diri, tentang pendidikan dan
moral, dan tentang sosialisme. Hubungan dengan masalah-masalah sosial
selau tampak dalam karyanya.

Durkheim sebagi tokoh klasik utama yang pendekatan teoritisnya


menekankan tingkat analisa struktur sosial serta memperhatikan proses
sosial yang meningkatkan integrasi dan solidaritas dalam masyarakat.
Sosidaritas sosial dan integrasi mungkin dilihat sebagai suatu contoh dari
fakta sosial yang berada diluar individu dan tidak dapat dijelaskan menurut
karakteristik individu. Untuk memahami tingkat dan tipe solidaritas sosial
yang terdapat dalam masyarakat, perlu menganalisa stuktur sosialnya.

Tekanan Durkheim pada tingkat analisa struktur sosial adalah pada analisa
mengenai
hasil-hasil tindakan sosial yang obyektif terlepas dari motif-motif subyektif,
serta minatnya pada penelitian mengenai dasar-dasar keteraturan sosial,
merupakan elemen-elemen utama dalam teori fungsional masa kini.

Setelah mempelajari pokok bahasan di bab enam ini, mahasiswa diharapkan


mampu :
1.
menjelaskan fakta sosial, karakteristik dan metode pengamatan fakta
sosial Durkheim.
2.
menjelaskan pengertian solidaritas sosial dan membedakan jenis-jenis
solidaritas sosial menurut Durkheim.
3.

menjelaskan pengertian kesadaran kolektif Durkheim

4.
menjelaskan teori bunuh diri dan jenis-jenis bunuh diri menurut
Durkheim.
5.

menjelaskan pengertian anomi Durkheim

6.

menjelaskan pengertian integrasi masyarakat menurut Durkheim

7.
mengkaji fenomena masyarakat saat ini dengan menggunakan teori
Durkheim

A.

Riwayat Hidup

Sosiolog besar ini dilahirkan di Epinal di propinsi Lorraine di Perancis Timur


pada 15 April 1858 dan meninggal tahun 1917. Durkheim bolehlah disebut
sebagai sosiolog Perancis pertama yang sepanjang hidupnya menempuh
jenjang ilmu sosiologi yang paling akademis. Dialah yang memperbaiki
metode berfikir sosiologi yang tidak hanya berdasarkan pemikiran-pemikiran
logika filosofis tetapi sosiologi akan menjadi suatu ilmu pengetahuan yang
yang benar katanya apabila mengangkat gejala sosial sebagai fakta-fakta
yang dapat diobservasi.Tonggak sejarah yang pentng dicapai ketika
Durkheim mendirikan LAnee Sociologique, jurnal ilmiah pertama untuk
sosiologi. Jurnal itu meningkatkan pengertian serta penghargaan terhadap
disiplin sosiologi yang mengalami perkembangan pesat.

B. Fakta Sosial Durkheim

1. Pengertian Fakta Sosial

Fakta sosial didefinisikan oleh Durkheim sebagai cara-cara bertindak,


berfikir, dan merasa yang ada diluar individu dan yang memiliki daya paksa
atas dirinya. Dalam arti lain, yang dimaksudkan adalah pengalaman umum
manusia. Pengertian fakta sosial meliputi suatu spectrum gejala-gejala
sosial. Yang terdapat bukan saja cara-cara bertindak dan berfikir melainkan
juga cara-cara berada, yaitu fakta-fakta sosial morfologis, seperti bentuk
permukiman, pola jalan-jalan, pembagian tanah, dan sebagainya.

Fakta sosial menurut Durkheim terdiri atas dua macam :

1. Dalam bentuk material. Yaitu barang sesuatu yang dapat disimak,


ditangkap, dan diobservasi. Fakta sosial yang berbentuk material ini adalah
bagian dari dunia nyata. Contohnya arsitektur dan norma hukum.
2. Dalam bentuk non material. Yaitu sesuatu yang dianggap nyata. Fakta
sosial jenis ini merupakan fenomena yang bersifat inter subjective yang
hanya dapat muncul dari dalam kesadaran manusia. Contohnya adalah
egoisme, altruisme, dan opini.

2. Karakteristik Fakta Sosial

Bagaimana gejala sosial itu benar-benar dapat dibedakan dari gejala yang
benar-benar individual (psikologis) Durkheim mengemukakan dengan tegas
tiga karakteristik fakta sosial, yaitu :
1. Gejala sosial bersifat eksternal terhadap individu. Individu sejak awalnya
mengkonfrontasikan fakta sosial itu sebagai suatu kenyataan eksternal.
Hampir setiap orang sudah mengalami hidup dalam satu situasi sosial yang
baru, mungkin sebagai anggota baru dari suatu organisasi, dan pernah
merasakan adanya norma serta kebiasaan yang sedang diamati yang tidak
ditangkap/ dimengertinya secara penuh. Dalam situasi serupa itu, kebiasaan
dan norma ini jelas dilihat sebagai sesuatu yang eksternal.
2. Fakta itu memaksa individu. Individu dipaksa, dibimbing, diyakinkan,
didorong, atau dengan cara tertentu dipengaruhi oleh pelbagai tipe fakta
sosial dalam lingkungan sosialnya. Seperti Durkheim katakan : Tipe perilaku
atau berfikir ini mempunyai kekuatan memaksa yang karenanya kereka
memaksa individu terlepas dari kemauan individu itu sendiri. Ini tidak berarti
bahwa individu itu harus mengalami paksaan fakta sosial dengan cara yang
negatif atau membatasi atau memaksa seseorang untuk berprilaku yang
bertentangan dengan kemauannya kalau sosialisasi itu berhasil, sehingga
perintahnya akan kelihatan sebagai hal yang biasa, sama sekali tidak
bertentangan dengan kemauan individu.
3. Fakta itu bersifat umum atau tersebar secara meluas dalam suatu
masyarakat.
Dengan kata lain, fakta sosial itu merupakan milik bersama bukan sifat
individu perorangan. Sifat umumnya ini bukan sekedar hasil dari
penjumlahan beberapa fakta individu. Fakta sosial benar-benar bersifat

kolektif, dan pengaruhnya terhadap individu merupakan hasil dari sifat


kolektifnya ini.

3. Metode Pengamatan Fakta Sosial

Durkheim dalam bukunya yang berjudul The Rules Of Sosiological Method


memberikan dasar-dasar metodologi dalam sosiologi. Salah satu prinsip
dasar yang ditekankan Durkheim adalah bahwa fakta sosial harus dijelaskan
dalam hubungannya dengan fakta sosial lainnya. Ini adalah asas pokok yang
mutlak. Kemungkinan lain yang besar untuk menjelaskan fakta sosial adalah
menghubungkannya dengan gejala individu (seperti kemauan, kesadaran,
kepentingan pribadi individu, dan seterusnya) seperti yang dikemukakan
oleh ahli ekonomi klasik dan oleh Spencer.

Prinsip dasar yang kedua (dan salah satu yang fundamental dalam
fungsionalisme modern) adalah bahwa asal-usul suatu gejala sosial dan
fungsi-fungsinya merupakan dua masalah yang terpisah. Seperti ditulis
Durkheim Lalu apabila penjelasan mengenai suatu gejala sosial diberikan
kita harus memisahkan sebab yang mengakibatkannya (efficient cause)
yang menghasilkan gejala itu, dan fungsi yang dijalankannya. Sesudah
menentukan bahwa penjelasan tentang fakta sosial harus dicari di dalam
fakta sosial lainnya, Durkheim memberikan strategi tentang perbandingan
terkendali sebagai metoda yang paling cocok untuk mengembangkan
penjelasan kausal dalam sosiologi.

Metoda perbandingan Durkheim lebih ketat dan terbatas. Pada intinya,


metoda perbandingan terkendali itu meliputi klasifikasi silang dari fakta
sosial tertentu untuk menentukan sejauh mana mereka berhubungan. Kalau
korelasi antara dua himpunan fakta sosial dapat ditunjukkan sebagai valid
dalam pelbagai macam keadaan, hal ini memberi satu petunjuk penting
bahwa tipe fakta itu mungkin berhubungan secara kausal. Artinya, variasi
dalam nilai dari satu tipe variable mungkin merupakan sebab dari variasi
dalam nilai variable yang kedua.

C. Solidaritas Sosial Durkheim

Solidaritas menunjuk pada satu keadaan hubungan antara individu dan atau
kelompok yang didasarkan pada perasaan moral dan kepercayaan yang
dianut bersama yang diperkuat oleh pengalaman emosional bersama.

Sumber utama bagi analisa Durkheim mengenai tipe-tipe yang berbeda


dalam solidaritas dan sumber struktur sosialnya diperoleh dari bukunya The
Devision Of Labour In Society. Tipe/jenis solidaritas yang dijelaskan
Durkheim tersebut yaitu:
a.

Solidaritas mekanik.
Solidaritas mekanik didasarkan pada suatu kesadaran kolektif bersama,

yang
menunjuk pada totalitas kepercayaan dan sentimen bersama yang ratarata ada
pada warga masyarakat yang sama itu. Indikator yang paling jelas
untuk
solidaritas mekanik adalah ruang lingkup dan kerasnya hukum-hukum
yang
bersifat menekan
solidaritas mekanik
adalah bahwa
homogenitas yang

itu (repressive).

silidaritas itu

Ciri

khas

didasarkan

yang

pada

penting
suatu

dari

tingkat

tinggi dalam kepercayaan, sentimen, dan sebagainya. Homogenitas


serupa itu
hanya mungkin kalau pembagian kerja bersifat sangat minim.

b.

Solidaritas organik.

Solidaritas organik didasarkan pada tingkat saling ketergantungan yang


tinggi.
Saling ketergantungan itu bertambah sebagai hasil dari bertambahnya
spesialisasi
dalam pembagian
menggairahkan

pekerjaan,

bertambahnya
perbedaan
mempertahankan bahwa

yang

memungkinkan

dikalangan

dan

individu.

juga

Durkheim

kuatnya solidaritas organik itu ditandai oleh pentingnya hukum yang


bersifat
memulihkan dari pada yang bersifat represif. Dalam sistem organik,
kemarahan
kolektif yang
kemungkinannya,

timbul

karena

perilaku

menyimpang

menjadi

kecil

karena kesadaran koleftif itu tidak begitu kuat.

Selain itu, Durkheim juga membandingkan sifat pokok dari masyarakat yang
didasarkan pada solidaritas mekanik dengan sifat masyarakat yang
didasarkan pada solidaritas organik.

Perbandingan tersebut yaitu :

Solidaritas Mekanik

Solidaritas Organik

Pembagian kerja rendah

Pembagian kerja tinggi

Kesadaran kolektif rendah

Kesadaran kolektif lemah

Hukum represif dominan

Hukum restitutif dominan

Individualitas rendah

Individualitas tinggi

Konsensus terhadap pola-

Konsensus terhadap nilai

pola normatif itu penting

abstrak dan umum itu penting

Peranan komunitas dalam


Badan kontrol sosial yang
menghukum
orang
yang menghukum
orang
yang
menyimpang
menyimpang
Saling ketergantungan itu
Saling
rendah
yang tinggi
Bersifat
pedesaan

primitif

atau

Bersifat
perkotaan

ketergantungan
industrial-

D. Kesadaran Kolektif

Kesadaran kolektif dapat memberikan dasar moral yang tidak bersifat


kontraktual yang mendasari hubungan kontraktual. Dalam benak Durkheim,
kesadaran kolektif yang mendasar ini diabaikan oleh ahli teori seperti
Spencer, yang melihat dasar fundamental dari keteraturan sosial ini dalam
hubungan-hubungan yang bersifat kontraktual. Kesadaran kolektif juga ada
dalam bentuk yang lebih terbatas dalam pelbagai kelompok khusus dalam
masyarakat.

Durkheim juga menekankan pentingnya kesadaran kolektif bersama yang


mungkin ada dalam pelbagai kelompok pekerjaan dan profesi. Keserupaan
dalam kegiatan dan kepentingan pekerjaan memperlihatkan suatu
homogenitas internal yang memungkinkan berkembangnya kebiasaan,
kepercayaan, perasaan, dan prinsip moral dan kode etik bersama. Akibatnya,
anggota kelompok ini dibimbing dan dipaksa untuk berprilaku sama seperti
anggota satu suku bangsa primitif dengan pembagian kerja yang rendah
yang dibimbing dan dipaksa oleh kesadaran kolektif yang kuat. Durkheim
merasa bahwa solidaritas mekanik dalam pelbagai kelompok pekerjaan dan
profesi harus menjadi semakin penting begitu pembagian pekerjaan meluas,
sebagi satu alat perantara yang penting antara individu dan masyarakat
secara keseluruhannya.

E. Teori Bunuh Diri (Suicide)

Selain konsepsinya tentang solidaritas mekanis organis, Durkheim sangat


terkenal dengan studinya tentang kecenderungan orang untuk melakukan
bunuh diri. Dalam bukunya yang kedua, Suicidedikemukakan dengan jelas
hubungan antara pengaruh integrasi social terhadap kecenderungan untuk
melakukan bunuh diri. Durkheim dengan tegas menolak anggapan lama
bahwa penyebab bunuh diri yang disebabkan oleh penyakit kejiwaan
sebagaimana teori-teori psikologi mengatakannya. Dia juga menolak
anggapan Gabriel Tarde bahwa bunuh diri akibat imitasi. Durkheim juga
menolak teori yang menghubungkan bunuh diri dengan alkoholisme.
Durkheim menolak teori bunuh diri karena kemiskinan, kenyataan orangorang lapisan atas tingkat bunuh dirinya lebih tinggi dibandingkan orangorang dari lapisan atas. Dari hasil penelitiannya Negara-negara miskin
seperti Italia dan Spanyol justru memiliki angka bunuh diri yang lebih rendah
dibandingkan dengan Negara-negara Eropa yang lebih makmur seperti
Perancis dan Jerman.

Menurut Durkheim peristiwa-peristiwa bunuh diri sebenarnya kenyataankenyataan sosial tersendiri yang karena itu dapat dijadikan sara penelitian
dengan menghubungkannya dengan derajat integrasi sosial dari suatu
kehidupan
masyarakat.
Untuk
membuktikan
teorinya,
Durkheim
memusatkan perhatiannya pada 3 macam kesatuan sosial yang pokok dalam
masyarakat, yaitu kesatuan agama, keluarga dan kesatuan politik.

Dalam kesatuan agama, Durkheim membuat kesimpulan bahwa penganutpenganut agama Protestan mempunyai kecenderungan lebih besar untuk
melakukan bunuh diri dibandingkan dengan penganut agama Katholik.Hal ini
dikarenakan perbedaan derajat integrasi sosial di antara penganut agama
Katolik dengan Protestan. Penganut agama Protestan memperoleh
kebebasan yang jauh lebih besar untuk mencari sendiri hakekat ajaranajaran kitab suci. Pada agama Katolik tafsir agama lebih ditentukan oleh
para pater. Oleh karena itu kepercayaan bersama dari penganut Protestan
menjadi berkurang, hingga sekarang ini terdapat banyak gereja (sektesekte). Integrasi yang rendah dari penganut agama protestan itulah yang

menyebabkan angka laju bunuh diri dari penganut ajaran ini lebih besar
dibandingkan dengan penganut ajaran Katolik.

Dalam kesatuan keluarga, Durkheim menunjukkan bahwa angka laju bunuh


diri lebih banyak terdapat pada orang-orang yang tidak kawin daripada
mereka yang sudah kawin. Kesatuan keluarga yang lebih besar umumnya
terintegrasi mengikat anggota-anggotanya untuk saling membantu.

Dalam kesatuan politik, Durkeim menyebutkan bahwa dalam keadaan damai,


golongan militer ummunya lebih besar kecenderungan bunuh dirinya
dibandingkan golongan masyarakat sipil. Sedangkan dalam suasana perang,
golongan militer justru lebih sedikit melakukan bunuh diri bila dibandingkan
golongan sipil karena mereka lebih terintegrasi dengan baik (disiplin keras).
Dalam situasi perang justru kecenderungan bunuh diri lebih rendah
dibandingkan situasi damai. Dalam masa revolusi/pergolakan politik,
anggota-anggota masyarakat justru lebih terintgrasi dalam menghadapi
musuh-musuhnya.

Durkheim mendefinisikan bunuh diri sebagai setiap kematian yang


merupakan akibat langsung atau tidak langsung dari suatu perbuatan positif
atau negatif oleh korban itu sendiri, yang mengetahui bahwa perbuatan itu
akan berakibat seperti itu. Definisi itu terlampau luas, sebab didalamnya
juga termasuk kematian para prajurit yang mengajukan dirinya untuk
melaksanakan tugas yang sukar, ataupun kematian seorang ayah yang ingin
menyelamatkan anaknya dari arus kencang yang bergolak. Hal ini akan
berakibat negatif dalam penalaran seperti yang akan ternyata kemudian.

Durkheim membagi bunuh diri dalam beberapa jenis yaitu :


-

Bunuh diri egoistis (egoistic suicide) Yaitu yang merupakan akibat dari
kurangnya integrasi dalam kelompok. Misalnya, lebih banyak orang Protestan
yang bunuh diri dari pada orang Katolik. Sebab orang Katolik lebih terikat
pada komunitas keagamaan sedangkan dalam Protestan terdapat anjuran

yang kuat untuk bertanggung jawab secara individual. Kenyataan ini


dinyatakan secara tepat sekali di dalam rumusan bahwa seorang Protestan
dipaksa untuk bebas.
-

Bunuh diri anomi (anomie suicide). Anomi adalah suatu situasi dimana
terjadi suatu keadaan tanpa aturan, dimana kesadaran kolektif tidak
berfungsi. Jenis bunuh diri ini terjadi dalam waktu krisis dan bukannya krisis
ekonomi saja. Bunuh diri ini juga terjadi bilamana sekonyong-konyong terjadi
kemajuan yang tidak terduga.

Altruistic Suicide, adalah bunuh diri karena merasa dirinya menjadi


beban masyarakat. Bunuh diri ini sifatnya tidak menuntut hak, sebaliknya
memandang bunuh diri itu sebagai suatu kewajiban yang dibebankan oleh
masyarakat. Contoh : Harakiri orang jepang.

Bunuh diri Fatalistik. Merupakan lawan dari bunuh diri anomi, dan yang
timbul dari pengaturan kelakuan secara berlebih-lebihan, misalnya dalam
rezim yang sangat keras dan otoriter.

]
F.

Anomi Durkheim

Anomi adalah suatu situasi di mana terjadi suatu keadaan tanpa aturan, di
mana colective conciousness(kesadaran kelompok) tidak berfungsi. Suatu
situasi di mana aturan-aturan dalam masyarakat tidak berlaku/berfungsi lagi
sehingga orang merasa kehilangan arah dalam kehidupan sosialnya.
Contohnya krisis yang sering terjadi di dalam perdagangan dan industri,
terhadap spesialisasi yang jauh di dalam ilmu pengetahuan yang merugikan
kesatuan dalam ilmu pengetahuan sendiri, terhadap sengketa antara modal
dan kerja. Durkheim menamakan situasi ini situasi pembagian kerja anomis.

Sebaliknya, menurut pendapat Comte bahwa disintegrasi itu timbul pada


saat pembagian kerja melewati suatu batas kritis. Disintegrasi ini hanya
dapat dibendung oleh negara yang harus mengadakan tindakan yang
mengatur. Durkheim berpendapat bahwa pandangan ini tidak benar. Aturanaturan hanya timbul apabila terdapat interaksi yang cukup banyak dan

cukup lama, kalau interaksi seperti itu tidak ada, maka terjadi anomi, yaitu
sama sekali tidak ada aturan, atau aturan-aturan yang ada tidak sesuai
dengan taraf perkembangan pembagian kerja. Karena itu, anomi tidak boleh
diberantas dengan mengurangi pembagian kerja, tetapi dengan
menghilangkan sebab-sebab anomi itu.

G.

Integrasi Masyarakat menurut Durkheim

Didalam karya besarnya yang pertama Durkheim membahas masalah


pembagian kerja. Durkheim merumuskan masalahnya : Apakah peningkatan
pembagian kerja harus dipandang sebagai kewajiban moral yang tidak boleh
dihindari oleh manusia? Ia mencoba merumuskan jawabannya atas dasar
suatu analisa obyektif terhadap fakta-fakta. Menurut penglihatannya, fungsi
pembagian kerja itu ialah peningkatan solidaritas. Antara kawan-kawan dan
didalam keluarga ketidaksamaan menciptakan suatu ikatan : justru karena
individu mempunyai kualitas yang berbeda maka terdapatlah ketertiban,
keselarasan, dan solidaritas. Karena individu melakukan berbagai kegiatan,
maka mereka menjadi tergantung satu sama lain dan karenanya terikat satu
sama lain. Karena ketertiban, keselarasan, dan solidaritas merupakan
keperluan umum atau syarat-syarat hidup yang merupakan keharusan bagi
organisme sosial, maka hipotesa bahwa pembagian kerja adalah syarat
hidup bagi masyarakat modern dapat dibenarkan.

RINGKASAN

Durkheim adalah akademisi yang sangat mapan dan berpengaruh. Dia


berhasil dalam melembagakan sosiologi sebagai satu disiplin akademi yang
sah. Sebelum Durkheim, sosiologi merupakan bidang yang belum jelas
perbedaannya dengan filsafat menurut ide-ide teoritisnya, juga tidak jelas
perbedaannya dengan sejarah atau psikologi menurut isi dan metodametodanya. Pendiriannya mengenai kenyataan gejala sosial yang berbeda

dengan gejala individu, analisanya mengenai tipe struktur sosial yang


berbeda dan mengenai dasar soilidaritas sosial serta integrasinya yang
berbeda-beda. Perhatiannya untuk menelusuri fungsi sosial dari gejala sosial
yang terlepas dari maksud dan motivasi yang sadar dari individu,
pemecahan sosilogisnya mengenai gejala penyimpangan, bunuh diri dan
individualisme, serta studi statistiknya yang cermat mengenai angka bunuh
diri sebagai contoh bagaimana menganalisa gejala sosial secara empiris,
dalam semua bidang ini Durkeim memberikan sumbangan penting terhadap
perkembangan perspektif sosilogi modern. Pengaruhnya mungkin sangat
menyolok dalam aliran fungsionalisme sosiologi modern.

LATIHAN
1.

Menurut Durkheim fakta sosial terbagi menjadi dua macam. sebutkan dan
jelaskan!

2.

Durkheim mengemukankan dengan tegas tiga karakteristik fakta sosial.


Sebutkan dan jelaskan tiga karakteristik fakta sosial tersebut !

3.

Dalam bukunya yang berjudul The Rules of Sosiological Method,


Dukheim menjelaskan metode pengamatan fakta sosial. Dengan cara apa
fakta sosial tersebut dijelaskan ?

4.

Jelaskan
organik !

5.

Apa yang dimaksud dengan bunuh diri, dan sebutkan jenis-jenis bunuh diri
menurut Durkheim !

TUGAS

perbedaan

antara

solidaritas

mekanik

dengan

solidaritas

1.
Saat ini cukup banyak peristiwa-peristiwa bunuh diri yang terjadi di
masyarakat. Cari dan kumpulkan 3 berita tentang bunuh diri yang terdapat
di surat kabar atau media massa lainnya!
2.
Berikan analisa anda terhadap persoalan-persoalan bunuh diri tersebut
dengan menggunakan teori Suicidenya E. Durkheim!

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik dan A.C. Van Der Leeden (Penyunting). 1986. Durkheim dan
Pengantar Sosiologi Moralitas. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

De Haan, J. Bierens, 1953. Sosiologi Perkembangan dan Metode. Terjemahan


Adnan
Syamni. Yayasan Pembangunan. Jakarta.

Gidden, Anthony, 1985. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern, UI Press.


Jakarta.

Johnson, D.P., 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern I. Gramedia. Jakarta.

Laeyendecker, 1994. Tata Perubahan dan Ketimpangan. Suatu Pengantar


Sejarah Sosiologi. Gramedia. Jakarta.

M. Siahaan, Hotman. 1986. Pengantar


Sosiologi. Erlangga. Jakarta.

Ke

Arah

Sejarah

dan

Teori

Ritzer, George. 1991. Sosiologi Ilmu Paradigma Ganda, Rajawali. Jakarta.

Soekanto, Soerjono, 1985. Emile Durkheim. Aturan-Aturan Metode Sosiologis.


Seri Pengenalan Sosiologi 2. Rajawali. Jakarta.

Veeger, K.J., 1986. Realitas Sosial. Gramedia. Jakarta.

BAB VII

SUMBANGAN PEMIKIRAN SOSIOLOGI DARI MAX WEBER

PENDAHULUAN

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Pokok bahasan pada bab ketujuh ini adalah menguraikan sumbangan


pemikiran Max Weber yang berguna bagi pemikiran dan perkembangan ilmu
sosiologi. Materi yang akan dijelaskan diantaranya sejarah singkat riwayat
hidup Max Weber, konsepsi tindakan sosial dan tipe-tipe tindakan sosial
menurut Weber, pengertian verstehende, serta penjelasan etika protestan
dan spirit kapitalisme Weber yang cukup menggemparkan dan menjadi
bahan pergunjingan yang kontroversial bagi kehidupan ilmiah.

Setelah mempelajari bab ini mahasiswa diharapkan dapat:


1. Menjelaskan pemikiran Max Weber tentang tindakan sosial dan tipe-tipe
tindakan
sosial.
2. Menjelaskan pemikiran Max Weber tentang verstehen.
3. Menjelaskan pemikiran Max Weber tentang etika protestan dan spirit
kapitalisme.

A.` Riwayat Hidup

Max Weber dilahirkan sebagai anak tertua dari tujuh bersaudara pada 21
April 1864 di Erfurt, Thuringia wilayah Jerman Timur. Weber meninggal pada
14 Juni 1920. Sosiologi lahir dalam konteks latar belakang sosial masyarakat
Jerman di mana dia berada, suatu masyarakat yang berada dalam masa
transisi yang pesat dan penuh dengan kontradiksi internal. Selagi Weber
hidup, Jerman mengalami transisi dari suatu masyarakat yang sangat
bersifat agraris ke masyarakat yang sangat bersifat industri dan perkotaan.
Transisi ini disertai oleh rasionalisasi yang semakin bertambah dalam semua
bidang kehidupan politik dan ekonomi. Seperti Durkheim, Weber juga aktif
menerbitkan
jurnal
ilmu
sosial
di
Jerman
yaitu Archiv
fur
Sozialwissenschaften dan menjadi editornya. Jurnal ini menjadi jurnal sosial
yang terkemuka di Jerman. Diantara sekian banyak karyanya yang ditulis,
adalah antara lain :
1.
2.
3.

Wirtschaft und Gessellschaft (Economy and Society) 1920


Gessamelter Aufsatze zur Religionssoziologie (diterjemahkan Ephraim
Fischoff dengan judul Sociology of Religion) 1921
The Protestan Ethic and The Spiritof Capitalism 1904

4.

The Theory of Sosial and Economic Organization (terjemahan Talcott


Parsons, 1947)

5.

From Max Weber; Essay in Sociology (terjemahan dan diedit H.H. Gerth
and c. Wright Mills, 1946)

B. Tindakan Sosial Weber

Max Weber sangat tertarik pada maslah-masalah sosiologis yang luas


mengenai struktur sosial dan masyarakat. Oleh karena itu ia mendefinisikan
sosiologi sebagai suatu ilmu pengetahuan yang berusaha memperoleh
pemahaman interpretative mengenai tindakan sosial agar dengan demikian
bisa sampai ke suatu penjelasan kausal mengenai arah dan akibatakibatnya.

Atau bisa diartikan sosiologi sebagi ilmu tentang perilaku sosial. Kata
keprilakuan yang dipakai oleh Weber untuk perbuatan-perbuatan yang bagi
si pelaku mempunyai arti subyektif. Dimana si pelaku hendak mencapai
suatu tujuan atau didorong motivasi. Artinya, yang menjadi inti dari sosilogi
Weber bukanlah bentuk-bentuk substansial dari kehidupan masyarakat
maupun nilai obyektif dari tindakan, melainkan semata-mata arti yang nyata
dari tindakan perseorangan yang timbul dari alasan-alasan subyektif. Adanya
kemungkinan untuk memahami tindakan seseorang inilah yang
membedakan sosiologi dari ilmu pengetahuan alam, yang menerangkan
peristiwa-peristiwa tetapi tidak memahami perbuatan obyek-obyek.

Kegagalan teoritisasi sosial memperhitungkan arti-arti subyektif individu


serta orientasinya, dapat membuatnya memasukkan perspektif dan nilainya
sendiri dalam memahami perilaku orang lain. Pelaku individual mengarahkan
kelakuannya pada penetapan-penetapan atau harapan-harapan tertentu
yang berupa kebiasaan umum atau dituntut dengan tegas atau bahkan
dibekukan oleh Undang-Undang.

Adapun beberapa klasifikasi perilaku sosial yang dibedakan menjadi 4 tipe,


yakni :

1. .Kelakuan yang diarahkan secara rasional kepada tercapainya suatu


tujuan.
2. Kelakuan yang berorientasi kepada suatu nilai, suatu keindahan (nilai
estetis),
kemerdekaan(nilai politik), persaudaraan (nilai keagamaan) dan lain-lain.
3. Kelakuan yang menerima orientasinya dari perasaan atau emosi
seseorang atau
disebut kelakuan afektif atau emosional.
4. Kelakuan yang menerima arahnya dari tradisi atau tradisional.

Keempat tipe kelakuan tersebut sebagai tipe-tipe murni yang berarti bahwa
konstruksi-konstruksi konseptual dari Weber untuk memahami dan
menafsirkan realitas empiris yang beraneka ragam.

Tekanan yang diberikan Weber bersama dengan kaum historis Jerman


berlawanan dengan strategi idealistik yang hanya menginterpretasi perilaku
individu atu perkembangan sejarah suatu masyarakat menurut asumsiasumsi apriori yang luas. Tekanan yang bersifat empirik ini juga sejalan
dengan positifisme, tetapi itu tidak berarti menghilangkan aspek-aspek
subyektif dan hanya memperhatikan aspek-aspek obyektif yang nyata.

Tindakan sosial itu harus dimengerti dalam hubungannya dengan arti


subyektif yang terkandung di dalamnya, orang perlu mengembangkan suatu
metode untuk mengetahui arti subyektif ini secara obyektif dan analistis.
Namun bagi Weber, konsep rasionalitas merupakan kunci bagi suatu analisa
obyektif mengenai arti-arti subyektif dan juga merupakan dasar
perbandingan mengenai jenis-jenis tindakan sosial yang berbeda.

Asumsi yang mendasari adalah pendekatan obyektif hanya berhubungan


dengan gejala yang dapat diamati (benda fisik/ perilaku nyata), sedangkan
pendekatan subyektif berusaha untuk memperhatikan juga gejala-gejala

yang sukar ditangkap dan tidak dapat diamati seperti , perasaan individu,
pikirannya dan motif-motifnya. Cara lain untuk melihat perbedaan antara
obyektif dan subyektif dalam hubungannya dengan hal di mana pengalaman
subyektif pribadi seseorang dimiliki bersama oleh suatu kelompok sosial.

Weber juga memberikan 4 tipe ideal dari tindakan sosial dalm sosiologinya,
yaitu:
a.

Rasionalitas instrumental (zweck rationalitat)


Merupakan
pertimbangan-

tindakan

sosial

yang

melandaskan

diri

kepada

pertimbangan manusia yang rasional ketika menghadapi lingkungan


eksternalnya.
b.

Rasionalitas yang berorientasi nilai (Wert rationalitat)


Merupakan tindakan sosial yang rasional, namun yang menyandarkan
diri
kepada suatu nilai-nilai absolut tertentu.

c.

Tindakan tradisional
Merupakan tindakan sosial yang didorong dan berorientasi kepada
teradisi masa
lampau.

d.

Tindakan afektif
Merupakan suatu tindakan sosial yang timbul karena dorongan atau
motivasi
yang sifatnya emosional.

Pola perilaku khusus yang sama sesuai dengan kategori-kategori tindakan


sosial yang berbeda dalam situasi-situasi yang berbeda, tergantung pada
orientasi subyektif dari indifidu yang terlibat. Tindakan sosial dapat
dimengerti hanya menurut arti subyektif dan pola-pola motifasional yang

berkaitan. Untuk tindakan rasional arti subyektif dapat ditangkap dengan


skema alat tujuan (means-ends schema).

C. Verstehende Weber

Aspek pemikiran Weber yang paling terkenal adalah yang mencerminkan


tradisi idealis yaitu tekanannya pada verstehen (pemahaman subyektif)
sebagai metode untuk memperoleh pemahaman yang paling valid mengenai
arti-arti subyektif tindakan sosial atau disebut dengan introspeksi, yaitu
memberikan seseorang pemahaman akan motifnya sendiri atau arti-arti
subyektif dalam tindakan-tindakan orang lain.

Dengan kata lain verstehende adalah suatu metode pendekatan yang


berusaha untuk mengerti makna yang mendasari dan mengitari peristiwa
sosial dan historis. Pendekatan ini bertolak dari gagasan bahwa setiap situasi
sosial didukung oleh jaringan makna yang dibuat oleh para aktor yang
terlibat di dalamnya.

D.

Tindakan Sosial dan Struktur Sosial

Tulisan-tulisan Weber secara metodologis menekankan pentingnya arti-arti


subyektif dan pola-pola motivasional, karya substansifnya meliputi suatu
analisa struktural dan fungsional. Hal ini dapat dilihat tentang stratifikasi
yang memiliki 3 dimensi, studinya mengenai dominasi birokratik dan
pengaruhnya dalam masyarakat modern. Serta ramalannya yang

berhubungan dengan konsekuensi-konsekuensi


pengaruh etika Protestan.

jangka

panjang

dari

Struktur sosial dalam perspektif Weber sebagai suatu istilah yang


bersifat probabilistic dan bukan sebagai kenyataan empirik yang terlepas
dari individu-individu. Suatu keteraturan sosial akan diarahkan ke suatu
kepercayaan akan validitas keteraturan itu. Realitas akhir yang menjadi
dasar satuan-satuan sosial yang lebih besar adalah tindakan sosial individu
dengan arti-arti subyektifnya.

Karena orientasi subyektif individu mencakup kesadaran (tepat atau tidak)


akan tindakan yang mungkin dan reaksi yang mungkin dari orang lain, maka
probabilitas-probabilitas ini mempunyai pengaruh yang benar-benar
terhadap tindakan sosial, baik sebagai sesuatu yang bersifat memaksa
maupun sebagai alat untuk mempermudah satu jenis tindakan daripada
lainnya.

E.

Stratifikasi: Ekonomi, Budaya, dan Politik

Weber mengakui pentingnya stratifikasi ekonomi sebagai dasar yang


fundamental untuk kelas. Bagi Weber, kelas sosial terdiri dari semua mereka
yang memiliki kesempatan hidup yang sama dalam bidang ekonomi, yaitu:
Sejumlah orang sama-sama memiliki suatu komponen tertentu yang merupkan
sumber dalam kesempatan hidup mereka.
Komponen ini secara eksklusif tercermin dalam kepentingan ekonomi berupa
kepemilikan benda-benda dan kesempata-kesempatan untuk memperolh
pendapatan.
Kondisi-kondisi komoditi atau pasar tenaga kerja.

Bahwa kelas sosial berlandaskan pada dasar stratifikasi yang bersifat


impersonal dan obyektif. Bagi Weber, kekuasaan adalah kemampuan untuk

melaksanakan kehendak seseorang meskipun mendapat tantangan dari


orang lain. Partai politik merupakan organisasi dimana perjuangan untuk
memperoleh atau menggunakan kekuasaan dinyatakan paling jelas ditingkat
organisasi rasional. Struktur kekuasaan tidak harus setara dengan struktur
otoritas.

F. Tipe Otoritas dan Bentuk Organisasi Sosial

Hubungan sosial dalam tipe keteraturan menujukkan keanekaragaman yang


berbeda-beda. Weber mengidentifikasikan beberapa tipe yang berbeda,
sehingga muncul organisasi dalam suatu struktur otoritas yang mapan,
artinya suatu struktur dimana individu-individu diangkat, bertanggung jawab
untuk mendukung keteraturan sosial. Kalau hubungan itu bersifat asosiatif
(rasional) dan bukan komunal (emosional), meliputi sifat administratif, maka
hubungan itu menunjukkan pada Organisasi yang Berbadan Hukum.

Namun bagi Weber yang utama adalah pada landasan keteraturan sosial
yang absah. Artinya bahwa keteraturan sosial dan pola-pola dominasi yang
berhubungan dengan itu diterima sebagai yang benar, baik oleh mereka
yang tunduk pada suatu dominasi maupun mereka yang dominan. Weber
mengidentifikasikan 3 dasar legitimasi yang utama dalam hubungan otoritas,
ketiganya dibuat berdasarkan tipologi tindakan sosial. Masing-masing tipe
berhubungan dengan tipe struktur adminstratifnya sendiri dan dinamika
sosialnya sendiri yang khusus. Tipe-tipe itu adalah :

1. Otoritas Tradisional

Tipe ini berlandaskan pada kepercayaan yang mapan pada tradisi yang
sudah ada. Hubungan antar tokoh pemilik otoritas dengan bawahannya
adalah pribadi. Weber membedakan 3 otoritas tradisional yaitu ;
gerontokrasi, patriakalisme, dan patrimodialisme. Pengawasan dalam

gerontokrasi berada pada tangan orang-orang tua dalam suatu kelompok,


dalam patriarkalisme ada pada satuan kekerabatan individu tertentu
pewaris, dan dalam sistem otoritas patrimodial pengawasan oleh staf
administrasi yang ada hubungan pribadi dengan pemimipinnya.

2. Otoritas Karismatik

Otoritas ini didasarkan pada mutu luar biasa yang dimiliki pemimpin sebagai
pribadi. Menurut Weber, istilah kharisma akan diterapkan pada mutu
tertentu yang terdapat pada kepribadian seorang, yang berbeda dengan
orang biasa yang dianugerahi kelebihan. Kepatuhan para pengikut
tergantung pada identifikasi emosional pemimpin itu sebagai pribadi.
Orientasi kepemimpinan kharismatik biasanya menantang status-quo
kebalikan dari kepemimpinan tradisional.

3. Otoritas Legal-Rasional

Otoritas yag didasarkan pada komitmen terhadap seperangkat aturan yang


diundangkan secara resmi dan diatur secara impersonal. Tipe ini erat
kaitannya dengan rasionalitas instrumental. Jiadi, peraturan berhubungan
dengan posisi baik sebagai atasan atau bawahan.

Otoritas legal-rasional diwujudkan dalam organisasi birokratis. Analisa Weber


yang sangat terkenal mengenai birokratis adalah membandingkan birokrasi
dalam bentuk-bentuk administrasi tradisional kuno yang didasarkan pada
keluarga dan hubungan pribadi. Weber melihat birokrasi sebagai suatu
bentuk organisasi yang paling efisien, sistematis, dan dapat diramalkan.
Dalam masyarakatnya sendiri, yang dikuasai ketika sedang berada dibawah
birokrasi militer dan birokrasi politik Prusia, ketika melihat perkembangan
administrasi industri dan administrasi politik nasional di negara-negara Barat
lainnya, ia mendapat kesan bahwa perkembangan dunia modern ditandai
oleh semakin besarnya pengaruh birokrasi.

Salah satu alasan pokok mengapa bentuk organisasi birokratis itu memiliki
efisiensi adalah karena organisasi itu memiliki cara yang secara sistematis
menghubungkan kepentingan individu dengan tenaga pendorong dengan
pelaksana fungsi-fungsi organisasi. Ini dilihat dari dari pelaksanaan fungsi
organisasi yang secara khusus menjadi kegiatan yang utama bagi pekerjaan
pegawai birokrasi.

Dalam mengembangkan dan meningkatkan bentuk organisasi birokratis,


orang orang membangun bagi dirinya suatu Kandang Besi dimana pada
suatu saat mereka sadar bahwa mereka tidak bisa keluar lagi dari situ.
Proses ini tidak hanya ada pada masyarakat kapitalis tetapi juga masyarakat
sosialis. Menurut Weber bahwa kelak akan muncul seorang pemimpin
karismatik yang akan membuat dobrakan dari cengkraman mesin birokratis
yang tanpa jiwa itu dan tidak memberi tempat kepada perasaan dan citacita manusia.

G. Etika Protestan dan Spirit Kapitalisme

Analisa Weber dalam bukunya The Protestant Ethic and The Spirit of
Capitalism memiliki pengaruh ide-ide yang bersifat independen dalam
perubahan sejarah. Weber hidup di Eropa Barat yang sedang menjurus ke
arah pertumbuhan kapitalisme modern. Hal ini yang mendorongnya untuk
mencari sebab hubungan antara tingkah laku agama dan ekonomi, terutama
di masyarakat Eropa Barat yang mayoritas beragama Protestan.

Adapun karakteristik dari sifat Spirit Kapitalisme Modern menurut Weber,


yaitu:

1.

Adanya usaha-usaha ekonomi yang diorganisir dan dikelola secara


rasional diatas landasan-landasan dan prinsip-prinsip ilmu pengetahuan dan
berkembangnya pemilikan atau kekayaan pribadi.

2.

Berkembangnya produksi untuk pasar.

3.

Produksi untuk massa dan melalui massa.

4.

Produksi untuk uang.

5.

Adanya Anthusiasme, etos dan efisiensi yang maksimal uang menuntut.

Bahwa kapitalisme modern merupakan bersumber didalam agama Protestan,


yang hal ini merupakanWirischaflsethik. Spirit kapitalisme modern adalah
Protestanisme yaitu merupakan aturan-aturan agama protestan tentang
watak dan perilaku penganut-penganutnya didalam kehidupan sehari-hari.

Weber menunjukkan bahwa spirit protestan didalam etika praktis sehari-hari.


Menurut Weber etika protestan mewujudkan diri sebagai suatu pengertian
tertentu tentang Tuhan, dimana Tuhan dianggap sebagai Yang Maha Esa,
Maha Pencipta, dan Penguasa Dunia. Akibat konsepsi mengenai Tuhan
tersebut, maka penganut agama protestan menganggap kesenangan adalah
merupakan sesuatu yang tidak baik, sebaliknya untuk mengagungkan Tuhan
orang harus berhemat.

Inti dari spirit kapitalisme modern adalah menganggap bahwa bekerja keras
adalah merupakan callingatau suatu panggilan suci bagi kehidupan manusia.
Spirit protestan juga menganut paham bahwa membuat atau mencari uang
dengan
jujur
merupakan
aktivitas
yang
tidak
berdosa.
Itulah
pembuktianpertama secara analitis dari Weber tentang hubungan antara
spirit kapitalisme modern identik dengan spirit protestan, bahwa agama
berpengaruh pada faktor ekonomi.

Pembuktian kedua ditunjukkan Weber bahwa sejak zaman reformasi, negaranegara yang menganut agama protestan sebagai mayoritas adalah negaranegara yang lebih maju ekonominya.

Pembuktian ketiga Weber ditunjukkan bahwa di Jerman, penduduknya yang


menganut agama protestan secara ekonomi lebih kaya dibanding dengan
penganut agama non protestan.

Demikian Weber secara bertahap menunjukkan bahwa setiap sekte dalam


protestan itu nyatanya memiliki kecenderungan yang sama dalam
menunjang kehadiran Kapitalisme Modern, sehingga dengan demikian ia
memperkuat pendapatnya dengan menstudi semua penganut Protestan di
negara-negara Jerman, Inggris, Belanda, Amerika, dan lain-lain sebagaimana
ajaran agama itu mendorong kehadiran kapitalisme.

RINGKASAN

Weber menaruh perhatian yang besar pada struktur sosial yang besar dan
perubahan sejarah. Gambaran dasarnya mengenai kenyataan sosial yang
dpusatkan pada tindakan individu yang dapat dimengerti hanya dalam artiarti subyrktif yang dicerminkannya. Hal ini berbeda dengan pusat perhatian
Durkheim pada fakta sosial yang mengatasi individu. Dalam perspektif
Weber, pelbagai kategori struktur sosial didefinisikan dengan istilah-istilah
yang bersifat probabilistik, tidak sebagai fakta obyektif, dan strategi analisa
tipe ideal diberikan untuk memungkinkan suatu analisa perbandingan
mengenai tipe-tipe struktur sosial yang berbeda atau tipe orientasi budaya
yang berbeda. Analisa Weber mengenai etika protestan serta pengaruhnya
dalam meningkatkan pertumbuhan kapitalisme menunjukkan pengertiannya
mengenai pentingnya kepercayaan agama serta nilai dalam membentuk
motivasional individu serta tindakan ekonominya. Selain itu juga, Weber
telah memberikan corak tersendiri dengan verstehende soziologienya, yang
dalam perkembangan selanjutnya banyak dijadikan model dalam analisaanalisa sosiologi oleh sosiolog-sosiolog modern masa kini.

LATIHAN

1. Jelaskan apa yang dimaksud dengan verstehende sociologie Weber!


2. Inti dari sosiologi Weber adalah tindakan sosial, jelaskan maksudnya serta
sebutkan
tipe-tipe tindakan sosial Weber!
3. Sebutkan dan jelaskan 3 tipe otoritas yang dibuat berdaarkan tipologi
tindakan sosial
Weber!
4. Jelaskan 3 pembuktian analitis yang dilakukan Weber yang menjelaskan
hubungan
antara spirit kapitalisme modern dengan spirit protestan!
6.

Sebutkan 5 karakteristik dari spirit kapitalisme modern menurut Weber!

TUGAS

1. Buatlah makalah tentang rangkuman kritik-kritik yang diberikan oleh para


ahli
sosiologi terhadap karya-karya Weber, khususnya pada karyanya yang
paling
kontroversial yang
Capitalism.

berjudul The Protestant Ethic andThe Spirit of

2. Carilah rujukannya sesuai dengan rujukan pustaka yang telah diberikan.


3. Diskusikan di kelas !

DAFTAR PUSTAKA

De Haan, J.Bierens, 1953. Sosiologi Perkembangan dan Metode. Terjemahan


Adnan Sjamni. Yayasan Pembangunan Jakarta.

Johnson, D.P., 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern I. Gramedia. Jakarta
Giddens, Anthony. 1986. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern. UI Press.
Jakarta
Laeyendecker, L., 1994. Tata, Perubahan, dan
Pengantar Sejarah Sosiologi. Gramedia. Jakarta.

M. Siahaan, Hotman,
Sosiologi. Erlangga.

1986. Pengantar

ke

arah

Ketimpangan.

Sejarah

dan

Suatu

Teori

Jakarta.
Soekanto,Soerjono, 2002. Sosiologi Suatu Pengantar, PT. Raja Grafindo
Persada. Jakarta.
----------------------,
1985. Max
Weber.
Konsep-Konsep
Sosiologi. Seri Pengenalan Sosiologi I. Rajawali. Jakarta.

Veeger, K.J., 1986. Realitas Sosial. Gramedia. Jakarta.

Dasar

Dalam

BAB VIII

PARADIGMA SOSIOLOGI

PENDAHULUAN

Tujuan Instruksional Khusus (TIK)

Sosiologi lahir di tengah-tengah persaingan pengaruh antara filsafat dan


psikologi, oleh karena itu tak mengherankan kalau pengaruh kedua cabang
ilmu ini masih saja terasa sampai saat ini. Emile Durkheim adalah orang
pertama yang mencoba melepaskan sosiologi dari dominasi kedua kekuatan
yang mempengaruhinya itu. Durkheim terutama berusaha melepaskan
sosiologi dari alam filsafat positif Auguste Comte untuk kemudian
meletakkan sosiologi ke atas dunia empiris. Dua karyanya yang besar dan
berpengaruh itu semula disusunnya dalam rangka usaha untuk melepaskan
sosiologi dari pengaruh filsafat filsafat Comte dan Herbert Spencer. Masingmasing adalah Suicide (1951) dan The Rule of Sociological Method (1964).

Suicide adalah hasil karya Durkheim yang didasarkan atas hasil penelitian
empiris terhadap gejala bunuh diri sebagai suatu fenomena sosial.
Sedangkan The Rule Of Sosiological Method berintikan konsep-konsep dasar
tentang metode yang dapat dipakai untuk melakukan penelitian empiris
dalam lapangan sosiologi,

Auguste Comte mendapat kehormatan sebagai bapak sosiologi melalui karya


filsafat positifnya. Ia merupakan orang pertama yang mengusulkan
pemberian nama sosiologi terhadap keseluruhan pengetahuan manusia
tentang kehidupan bermasyarakat. Namun demikian, Durkheim menempati
posisi yang sangat penting pula dalam mengembangkan sosiologi modern
sebagai disiplin yang berdiri sendiri. Peranan Durkheim yang terpenting
terletak pada usahanya dalam merumuskan objek studi sosiologi.

Durkheim adalah orang pertama yang menunjukkan fakta sosial (social fact)
sebagai pokok persoalan yang harus dipelajari oleh disiplin sosiologi. Fakta
sosial dinyatakannya sebagai barang sesuatu yang berbeda dari dunia ide
yang menjadi sasaran penyelidikan dari filsafat. Menurut Durkheim, fakta
sosial tak dapat dipelajari dan difahami hanya dengan melalui kegiatan
mental murni atau melalui proses mental yang disebut pemikiran spekulatif.

Untuk memahaminya diperlukan suatu kegiatan penelitian empiris, sama


halnya dengan ilmu pengetahuan alam dalam mempelajari objek studinya.

Dengan menerangkan tentang obyek penyelidikan sosiologi inilah Durkheim


berusaha untuk melepaskan sosiologi dari pengaruh filsafat positif Comte
dan Spencer yang mengarahkan sosiologi kepada dunia ide, yang hanya
dapat dipahami melalui pemikiran spekulatif. Dengan meletakkan fakta
sosial sebagai sasaran yang harus dipelajari oleh sosiologi, berarti
menempatkan sosiologi sebagai suatu disiplin yang bersifat empiris dan
berdiri sendiri terlepas dari pengaruh filsafat.

Dalam perkambangan selanjutnya setelah terlepas dari pengaruh filsafat dan


psikologi, sosiologi mulai memasuki arena pergulatan pemikiran yang
bersifat interen di kalangan teoritisnya sendiri. Pergulatan yang bersifat
interen ini hingga sekarang masih saja berlangsung. Perkembangan sosiologi
ditandai dan tercermin dari adanya berbagai paradigma di dalamnya.

Setelah mengikuti perkuliahan dan mempelajari


sosiologi, mahasiswa diharapkan dapat :

tentang

paradigma

1. menjelaskan pengertian paradigma sosiologi


2. menjelaskan sebab timbulnya berbagai paradigma sosiologi
3. menjelaskan 3 paradigma sosiologi yaitu paradigma fakta sosial,
paradigma definisi
sosial, paradigma perilaku sosial.
4. menjelaskan hubungan antara paradigma yang satu dengan yang lainnya.

A. Latar Belakang Munculnya Paradigma Sosiologi

Istilah paradigma ini pertama kali diperkenal oleh Thomas Kuhn dalam
karyanya The Structure of Scientific Revolution (1962), intinya menyatakan
bahwa perkembangan ilmu pengetahuan bukanlah terjadi secara kumulatif
tetapi secara revolusi. Ia berpendapat bahwa sementara kumulatif
memainkan peranan dalam perkembangan ilmu pengetahuan, maka
sebenarnya perubahan utama dan penting dalam ilmu pengetahuan itu
terjadi sebagai akibat dari revolusi.

Model perkembangan ilmu pengetahuan menurut Kuhn adalah sebagai


berikut :
Parad I Normal Science Anomalies Crisis Revolusi Parad II

Kuhn melihat bahwa ilmu pengetahuan pada waktu tertentu didominasi oleh
satu paradigma tertentu, yakni suatu pandangan yang mendasar tentang
apa yang menjadi pokok persoalan (Subject matter) dari suatu cabang ilmu.

Normal Science adalah suatu periode akumulasi ilmu pengetahuan, di mana


para ilmuwan bekerja dan mengembangkan paradigma yang sedang
berpengaruh. Namun para ilmuwan tidak dapat mengelakkan pertentangan
dengan penyimpangan-penyimpangan yang terjadi (anomalies) karena tidak
mampunya paradigma I memberikan penjelasan secara memadai terhadap
persoalan yang timbul. Selama penyimpangan memuncak, suatu krisis akan
timbul dan paradigma itu sendiri mulai disangsikan validitasnya. Bila krisis
sudah sedemikian seriusnya maka suatu revolusi terjadi dan paradigma yang
baru akan muncul sebagai yang mampu menyelesaikan persoalan yang
dihadapi oleh paradigma sebelumnya. Jadi dalam perode revolusi telah
terjadi suatu perubahan yang besar dalam ilmu pengetahuan. Paradigma
yang lama telah mulai menurun pengaruhnya, digantikan oleh paradigma
baru yang lebih dominan.

Dalam perkembangan selanjutnya Masterman mencoba mereduksi konsep


paradigma Kuhn menjadi tiga tipe, yakni ; Paradigma metafisik (metaphisical
paradigm), paradigma sosiologis (Sosiological paradigm) dan paradigma

konstrak (costruct paradigm). Robert Friedrichs adalah orang pertama yang


mencoba merumuskan pengertian Paradigma ini sebagai upaya menganalisa
perkembangan sosiologi, ia merumumuskan paradigma sebagai suatu
pandangan mendasar dari suatu disiplin ilmu tentang apa yang menjadi
pokok persoalan (subject matter) yang semestinya dipelajarinya. (a
fundamental image a discipline has of its subject matter).

Lebih jauh George Ritzer, dengan mensintesakan pengertian paradigma yang


dikemukakan oleh Kuhn, Masterman dan Friedrichs, secara lebih jelas bahwa
paradigma adalah pandangan yang mendasar dari ilmuwan tentang apa
yang menjadi pokok persoalan yang semestinya dipelajari oleh suatu cabang
ilmu pengetahuan (discipline).

Persoalannya sekarang adalah mengapa terjadi perbedaan antar komunitas


atau sub-komunitas dalam suatu cabang ilmu, khususnya dalam Sosiologi,
George Ritzer mengungkapkan tiga faktor, yakni :
1. Karena dari semula pandangan filsafat yang mendasari pemikiran ilmuwan
tentang
apa yang semestinya menjadi subtansi itu berbeda, dengan kata lain
diantara
komunitas-komunitas ilmuwan itu terdapat perbedaan pandangan yang
mendasar
tentang pokok persoalan apa yang semestinya dipelajari.
2. Sebagai konsekuensi logis dari pandangan filsafat yang berbeda itu maka
teori-teori
yang dibangun dan dikembangkan oleh masing-masing komunitas itu
berbeda, pada
masing-masing komunitas ilmuwan berusaha bukan saja mempertahankan
kebenaran
teorinya tetapi juga berusaha melancarkan kecaman terhadap kelemahan
teori dari

komunitas ilmuwan lain.


3. Metode yang dipergunakan untuk memahami substansi ilmu itu juga
berbeda.

Ritzer menilai bahwa sosiologi itu terdiri atas kelipatan beberapa paradigma
(multiple paradigm), pergulatan pemikiran sedemikian itu dijelaskan dalam
uraian tentang masing masing paradigma dibawah ini.

B. Paradigma Fakta Sosial

Exemplar paradigma fakta sosial ini diambil dari kedua karya Durkheim.
Durkheim meletakkan landasan paradigma fakta social melalui karyanya The
Rules of Sociological Method (1895) dan Sucide (1897). Durkheim melihat
sosiologi yang baru lahir itu dalam upaya untuk memperoleh kedudukan
sebagai cabang ilmu social yang berdiri sendiri, tengah berada dalam
ancaman bahaya kekuatan pengaruh dua cabang ilmu yang telah berdiri
kokoh yakni filsafat dan psikologi. Menurut Durkheim, riset empiris adalah
yang membedakan antara sosiologi dengan filsafat. Kenyataan tentang
hidup bermasyarakat nyata adalah sebagai obyek studi sosiologi menurut
Durkheim, bukan ide keteraturan masyarakat (social order) yang lebih
bernilai filosofis.

Fakta sosial menjadi pokok persoalan penyelidikan sosiologi, fakta sosial


dinyatakan sebagai barang sesuatu (thing) yang berbeda dengan ide. Barang
sesuatu menjadi objek penyelidikan dari seluruh ilmu pengetahuan. Menurut
Durkheim fakta sosial tidak dapat dipelajari melalui introspeksi, fakta sosial
harus diteliti dalam dunia nyata. Lebih jauh Durkheim menyebutkan fakta
sosial terdiri atas dua macam :

1. Dalam bentuk material, yaitu barang sesuatu yang dapat disimak,


ditangkap dan

diobservasi. Fakta sosial yang berbentuk material ini adalah bagian dari
dunia nyata
(external world) contohnya arsitektur dan norma hukum.

2. Dalam bentuk non material, yaitu sesuatu yang dianggap nyata (external),
fakta sosial
jenis ini merupakan fenomena yang bersifat inter subjective yang hanya
dapat muncul
dari dalam kesadaran manusia, contohnya egoisme, altrusisme dan opini.

Fakta Sosial yang berbentuk material lebih mudah difahami, misalnya norma
hukum jelas merupakan barang sesuatu yang nyata ada dan berpengaruh
terhadap kehidupan individu, begitu pula arsitektur.

Dalam paradigma ini pokok persoalan yang menjadi pusat perhatian adalah
fakta-fakta sosial yang pada garis besarnya terdiri atas dua tipe, masingmasing struktur sosial (social structure) dan pranata sosial (social
institution). Norma-norma dan pola nilai ini biasa disebut dengan pranata,
sedangkan jaringan hubungan sosial dimana interaksi sosial berproses dan
menjadi terorganisir serta melalui mana posisi-posisi sosial dari individu dan
sub kelompok dapat dibedakan, sering diartikan sebagai struktur sosial.
Dengan demikian struktur sosial dan pranata sosial inilah yang menjadi
pokok persoalan persoalan penyelidikan sosiologi menurut paradigma fakta
sosial.

Ada empat teori yang tergabung dalam paradigma fakta sosial ini seperti
teori fungsionalisme structural, teori konflik, teori system dan teori sosiologi
makro, dimana dua teori yang paling dominan didalamnya yakni (1) Teori
Fungsionalisme Struktural dan (2) Teori Konflik.

Metode observasi tidak cocok untuk studi fakta social. Fakta social tidak
dapat diamati secara langsung, hanya dapat dipelajari melalui pemahaman
(interpretative understanding). Penganut paradigma fakta sosial cenderung
mempergunakan metode kuesioner dan interview dalam penelitian empiris
mereka. Namun, penggunaan metode kuesioner dan interview oleh para
penganut paradigma fakta social ini mengandung ironi karena kedua metode
ini tidak mampu menyajikan secara sungguh-sungguh bersifat fakta social.
Informasi yang dikumpulkan melalui kuesioner dan interview banyak
mengandung unsure subyektifitas dari si informan.

1. Teori Fungsionalisme Struktural

Teori Fungsionalisme Struktural menekankan kepada keteraturan dan


mengabaikan konflik dan perubahan-perubahan dalam masyarakat. Konsep
utamanya adalah fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifest dan
keseimbangan. Menurut teori ini masyarakat merupakan suatu sistem sosial
yang terdiri atas bagian-bagian atau elemen yang saling berkitan dan saling
menyatu dalam keseimbangan. Perubahan yang terjadi pada suatu bagian
akan membawa perubahan pula terhadap bagian yang lain. Asumsi dasarnya
adalah bahwa setiap struktur dalam sistem sosial, adalah fungsional
terhadap yang lain. Sebaliknya kalu tidak fungsional maka struktur itu tidak
akan ada atau akan hilang dengan sendirinya.

Secara ekstrim penganut teori ini beranggapan bahwa semua peristiwa dan
semua struktur adalah fungsional bagi sutu masyarakat. Perubahan dapat
terjadi secara perlahan-lahan dalam masyarakat. Kalau terjadi konflik,
penganut teori Fungsionalisme Struktural memusatkan perhatiannya kepada
masalah bagaimana cara menyelesaikannya sehingga masyarakat tetap
dalam keseimbangan Robert K. Merton sebagai penganut teori ini

berpendapat bahwa objek analisa sosiologi adalah fakta sosial seperti;


peranan sosial, pola-pola institusional, proses sosial, organisasi kelompok,
pengendalian sosial.

Penganut teori fungsional menganggap segala pranata sosial yang ada


dalam suatu masyarakat tertentu serba fungsional dalam artian positif dan
negative. Merton mengistilahkan fungsional dan disfungsional. Contohnya;
perbudakan dalam sistem sosial Amerika Serikat lama khususnya bagian
selatan. Perbudakan jelas fungsional bagi masyarakat Amerika Serikat kulit
putih. Karena sistem tersebut dapat menyediakan tenaga buruh yang murah,
memajukan ekonomi pertanian kapas serta menjadi sumber status sosial
terhadap kulit putih. Tetapi sebaliknya, perbudakan bersifat disfungsi. Sistem
perbudakan membuat orang sangat tergantung kepada sistem ekonomi
agraris sehingga tidak siap untuk memasuli industrialisasi.

Dari pendapat Merton tentang fungsi, maka ada konsep barunya yaitu
mengenai sifat dari fungsi. Merton membedakan atas fungsi manifest dan
fungsi latent. Fungsi manifest adalah fingsi yang diharapkan(intended) atau
fungsional. Fungsi manifest dari institusi perbudakan di atas adalah untuk
meningkatkan
produktifitas
di
Amerika
Selatan.
Sedangkan
fungsi latent adalah sebaliknya yaitu fungsi yang tidak diharapkan,
sepanjang menyangkut contoh di atas fungsai latentnya adalah
menyediakan kelas rendah yang luas.

Penganut Teori Fungsionalisme Struktural sering dituduh mengabaikan


variabel konflik dan perubahan sosial dalam teori-teori mereka. Karena
terlalu memberikan tekanan pada keteraturan (order) dalam masyarakat
dan mengabaikan konflik dan perubahan sosial, mengakibatkan golongan
fungsional ini dinilai sebagai secara ideologis sebagai konservatif. Bahkan
ada yang menilai golongan fungsional ini sebagai agen teoritis dari status
quo.

Hal penting yang dapat disimpulkan bahwa masyarakat menurut kacamata


teori fungsional senantiasa berada dalam keadaaan berubah secara

berangsur-angsur dengan tetap memelihara keseimbangan. Setiap peristiwa


dan setiap struktur yang ada, fungsional bagi sistem sosial itu. Demikian
pula dengan institusi yang ada, diperlukan oleh sistem sosial itu, bahkan
kemiskinan serta kepincangan sosial sekalipun. Masyarakat dilihat dalam
kondisi dinamika dalam keseimbangan.

2. Teori Konflik

Teori Konflik dibangun dalam rangka untuk menentang secara langsung


terhadap teori fungsionalisme structural. Tokoh utama teori ini adalah Ralp
Dahrendorf. Proposisi yang dikemukakan oleh penganut Teori Konfik
bertentangan dengan proposisi yang dikemukakan oleh penganut Teori
Fungsionalisme Struktural. Perbedaan proposisi tersebut akan dijelaskan
sebagai berikut :

Menurut teori Fungsionalisme Struktural :


1. Masyarakat berada pada kondisi statis atau tepatnya bergerak dalam
kondisi
keseimbangan
2. Setiap elemen atau setiap institusi memberikan dukungan terhadap
stabilitas.
3. Anggota masyarakat terikat secara informal oleh norma-norma, nilai-nilai
dan
moralitas umum.
4. Konsep-konsep utamanya
fungsi manifest, dan
keseimbangan (equilibrium)

adalah

fungsi,

disfungsi,

fungsi latent,

Menurut Teori Konflik :


1. Masyarakat senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai
oleh
pertentangan yang terus menerus di antara unsur-unsurnya.
2. Setiap elemen memberikan sumbangan terhadap desintegrasi social.
3. Keteraturan dalam masyarakat hanyalah disebabkan karena adanya
tekanan atau
pemaksaan dari atas oleh golongan yang berkuasa.
4. Konsep-konsep sentral Teori Konflik adalah wewenang dan posisi,
keduanya
merupakan fakta sosial. Distribusi kekuasaan dan wewenang secara
tidak merata
tanpa terkecuali menjadi faktor yang menentukan konflik sosial secara
sistematis.
Perbedaan wewenang adalah suatu tanda dari adanya berbagai posisi
dalam
masyarakat.

Menurut Dahrendorf kekuasaan dan wewenang senantiasa menempatkan


individu pada posisi atas dan bawah dalam setiap struktur. Karena
wewenang itu adalah sah, maka setiap individu yang tidak tunduk terhadap
wewenang yang ada akan terkena sanksi. Dengan demikian masyarakat
disebut sebagai Dahrendorf sebagai persekutuan yang terkoordinasi secara
paksa (imferatively coordinated associations).

Oleh karena kekuasaan selalu memisahkan dengan tegas antara penguasa


dengan yang dikuasai, maka dalam masyarakat selalu terdapat dua
golongan yang saling bertentangan. Pertentangan itu terjadi dalam situasi di
mana golongan yang berkuasa berusaha mempertahankan status quo
sedangkan golonganyang dikuasai berusaha untuk mengadakan perubahan-

perubahan. Pertentangan kepentingan ini selalu ada di setiap waktu dan


dalam setiap struktur.

Menurut Dahrendorf terdapat mata rantai antara konflik dan perubahan


sosial. Konflik menurutnya memimpin ke arah perubahan dan pembangunan.
Dalam situasi konflik, golongan yang terlibat melakukan tindakan-tindakan
untuk mengadakan perubahan dalam struktur sosial. Kalau konflik itu terjadi
secara hebat maka perubahan yang timbul akan bersifat radikal. Begitu pula
kalau konflik itu disertai oleh penggunaan kekerasan maka perubahan
struktural akan efektif.

Pierre van Berghe (1963) mengemukakan empat fungsi konflik;


1. Sebagai alat untuk memelihara solidaritas.
2. Membantu menciptakan ikatan aliansi dengan kelompok lain.
3. Mengaktifkan peranan individu yang semula terisolasi.
4. Fungsi komunikasi.Sebelum konflik, kelompok tertentu mungkin tidak
mengetahuai
posisi lawan. Tapi dengan adanya konflik, posisi dan batas antara
kelompok menjadi
lebih jelas. Individu dan kelompok tahu secara pasti di mana mereka
berada dan
karena itu dapat mengambil keputusan lebih baik untuk bertindak
dengan lebih
tepat.

Kesimpulan penting yang dapat diambil adalah bahwa teori konflik ini
ternyata terlalu mengabaikan keteraturan dan stabilitas yang memang ada
dalam masyarakat disamping konflik itu sendiri. Masyarakat selalu
dipandang dalam kondisi konflik. Mengabaikan norma-norma dan nilai-nilai
yang berlaku umum yang menjamin terciptanya keseimbangan dalam

masyarakat. Masyarakat seperti tidak pernah aman dari pertikaian dan


pertentangan. Seperti membenarkan Hobbes yang mengatakan : bellum
omnium contra omnes (perang antara semua melawan semua).

C. Paradigma Definisi Sosial

Max Weber sebagai tokoh paradigma ini mengartikan sosiologi sebagai suatu
studi tentang tindakan sosial antar hubungan sosial. Yang dimaksud tindakan
sosial itu adalah tindakan individu sepanjang tindakannya itu mempunyai
makna atau arti subyektif bagi dirinya dan diarahkan kepada tindakan orang
lain. Sebaliknya tindakan individu yang diarahkan kepada benda mati atau
objek fisik semata tanpa dihubungkannya dengan tindakan orang lain bukan
merupakan tindakan sosial. Tindakan seseorang melempar batu ke sungai
bukan tindakan social. Tapi tindakan tersebut dapat berubah menjadi
tindakan social kalau dengan melemparkan batu tersebut menimbulkan
reaksi dari orang lain seperti mengganggu seseorang yang sedang
memancing.

Secara definitif Weber merumuskan Sosiologi sebagai ilmu yang berusaha


untuk menafsirkan dan memahami (interpretative understanding) tindakan
sosial serta antar hubungan sosial untuk sampai kepada penjelasan kausal.
Dalam definisi ini terkandung dua konsep dasarnya. Pertama konsep
tindakan sosial, kedua konsep tentang penafsiran dan pemahaman.Konsep
terakhir ini ini menyangkut metode untuk menerangkan yang pertama.

Konsep pertama tentang tindakan sosial yang dimaksud Weber dapat berupa
tindakan yang nyata-nyata diarahkan kepada orang lain. Juga dapat berupa
tidakan yang bersifat membatin atau bersifat subyektif yang mungkin

terjadi karena pengaruh positif dari situasi tertentu. Atau merupakan


tindakan perulangan dengan sengaja sebagai akibat dari pengaruh situasi
yang serupa. Atau berupa persetujuan pasif dalam situasi tertentu.

Bertolak dari konsep dasar tentang tindakan sosial dan antar hubungan
sosial sosial itu Weber mengemukakan lima ciri pokok yang menjadi sasaran
penelitian sosiologi yaitu :
1. Tindakan manusia, yang menurut si aktor mengandung makna yang
subyektif. Ini
meliputi berbagai tindakan nyata.
2. Tindakan nyata dan yang bersifat, membatin sepenuhnya dan bersifat
subyektif.
3. Tindakan yang meliputi pengaruh positif dari suatu situasi, tindakan yang
sengaja
diulang serta tindakan dalam bentuk persetujuan secara diam-diam.
4. Tindakan itu diarahkan kepada seseorang atau kepada beberapa individu.
5. Tindakan itu memperhatikan tindakan orang lain dan terarah kepada
orang lain itu.

Untuk mempelajari tindakan sosial itu Weber menganjurkan melalui


penafsiran dan pemahaman (interpretative understanding), atau menurut
terminology Weber disebut dengan verstehen. Bila seseorang hanya
berusaha meneliti perilaku (behavior) saja, dia tidak akan meyakini bahwa
perbuatan itu mempunyai arti subyektif dan diarakan kepada orang lain.
Maka yang perlu dipahami adalah motif dari tindakan tersebut. Menurut
Weber ada 2 cara memahami motif tindakan yaitu : 1) kesungguhan, 2)
mengenangkan dan menyelami pengalaman si actor. Peneliti menempatkan
dirinya dalam posisi si actor serta mencoba memahami sesuatu yang
dipahami si actor.

Atas dasar rasionalitas tindakan sosial, Weber membedakannya dalam


empat tipe, dimana semakin rasional tindakan sosial itu semakin mudah
dipahami, empat tipe itu adalah :

a. Zwerk rational, yakni tindakan sosial murni,. Dalam tindakan ini aktor
tidak hanya sekedar menilai cara yang terbaik untuk mencapai tujuannya
tapi juga menentukan nilai dari tujuan itu sendiri.

b. Werktrational action, dalam tindakan tipe ini aktor tidak dapat menilai
apakah cara-cara yang dipilinya itu merupakan yang paling tepat untuk
mencapai tujuan yang lain. Dalam tindakan ini memang antara tujuan dan
cara-cara mencapainya cenderung menjadi sukar untuk dibedakan, namun
tindakan ini rasional karena pilihan terhadap cara-cara sudah menentukan
tujuan yang diinginkan.

c. Affectual action, adalah tindakan yang dibuat-buat, dipengaruhi oleh


perasaan emosi dan kepura-puraan si aktor. Tindakan ini sukar dipahami
kurang atau tidak rasional.
d.Traditional action, tindakan yang didasarkan atas kebiasaan-kebiasaan
dalam mengerjakan sesuatu di masa lalu saja.

Kedua tipe tindakan yang terakhir sering hanya merupakan tanggapan


secara otomatis terhadap rangsangan dari luar. Karena itu tidak termasuk
dalam jenis tindakan yang penuh arti yang menjadi sasaran penelitian
sosiologi.

Konsep kedua dari Weber adalah konsep tentang antar hubungan


social (social relationship). Hubungan sosial didefinsikan sebagai tindakan
yang beberapa orang aktor yang berbeda-beda, sejauh tindakan itu
mengandung makna dan dihubungkan serta diarahkan kepada tindakan
orang lain. Tidak semua kehidupan kolektif memnuhi syarat sebagai antar
hubungan sosial, dimana tidak ada saling penyesuaian (mutual orientation)

antara orang yang satu dengan yang lain meskipun ada sekumpulan orang
yang diketemukan bersamaan.

Ada tiga teori yang termasuk ke dalam paradigma definisi sosial ini, yakni :
Teori aksi (action theory), teori interaksionisme simbolik (symbolic
interactionism) dan teori fhenomenologi (fhenomenology). Ketiga teori ini
mempunyai kesamaan ide dasarnya yang berpandangan bahwa manusia
adalah aktor yang aktif dan kreatif dari realitas sosialnya. Artinya tindakan
manusia tidak sepenuhnya ditentukan norma-norma, kebiasaan-kebiasaan,
nilai-nilai dan sebagainya yang kesemuanya itu tercakup dalam fakta sosial.
Manusia mempunyai cukup banyak kebebasan untuk bertindak di luar batas
kontrol dari fakta sosial.

Di sini pula terletak perbedaan yang sebenarnya antara paradigma definisi


sosial dengan paradigma fakta sosial. Paradigma fakta sosial menganggap
bahwa perilaku manusia dikontrol oleh berbagai norma, nilai-nilai serta
sekian alat pengendalian sosial lainnya. Sedangkan paradigma perilaku
sosial (social behavior) adalah bahwa yang terakhir ini melihat tingkahlaku
manusia senantiasa dikendalikan oleh kemungkinan penggunaan kekuasaan
atau kemungkinan penggunaaan kekuatan (re-enforcement).

Penganut paradigma Definisi Sosial cenderung menggunakan metode


observasi dalam penelitian mereka. Alasannya adalah untuk dapat
memahami realitas intrasubjective dan intersubjective dari tindakan sosial
dan interaksi sosial. Namun kelemahan teknik observasi adalah ketika
kehadiran peneliti di tengah-tengah kelompok yang diselidiki akan
mempengaruhi tingkah laku subyek yang diselidiki itu. Lagipula tidak semua
tingkah laku dapat diamati, seperti tingkah laku seksual misalnya.

1. Teori Aksi (Action Theory)

Tokoh-tokoh Teori Aksi di antaranya Florian Znaniecki, The Method of


Sociology (1934) dan Social Actions(1936), Robert Mac Iver, Sociology: Its
Structure and Changes (1931), Talcot Parsons; The Structure of Social
Action (1937).

Beberapa asumsi dasar fundamental dari Teori Aksi dikemukakan Hinkle


dengan merujuk karya Mac Iver, Znaniecki dan Parson sebagai berikut ;
a. Tidakan manusia muncul dari kesadarannya sendiri sebagai subyek dan
dari situasi
ekternal dalam posisinya sebagai obyek.
b. Sebagai subyek manusia bertindak atau berperilaku untuk mencapai
tujuantujuan
tertentu, jadi tindakan manusia bukan tanpa tujuan.
c. Dalam bertindak manusia menggunakan cara, teknik, prosedur, metode
serta
perangkat yang diperkirakan cocok untuk mencapai tujuan tersebut.
d. Kelangsungan tindakan manusia hanya dibatasi oleh kondisi yang tak
dapat diubah
dengan sendirinya.
e. Manusia memilih, menilai dan mengevaluasi terhadap tindakan yang
akan, sedang
dan yang telah dilakukannya.
f. Ukuran-ukuran, aturan-aturan atau prinsip-prinsip moral diharapkan
timbul pada saat
pengambilan keputusan.

g. Studi mengenai antar hubungan social memerlukan pemakaian teknik


penemuan
yang bersifat subjektif seperti metode verstehen, imajinasi, sympathetic
reconstruction atau seakan-akan
experience).

mengalami

sendiri

(vicarious

Kesimpulan utama yang dapat diambil adalah bahwa tindakan sosial


merupakan suatu proses dimana aktor terlibat dalam pengambilan
keputusan-keputusan subyektif tentang sarana dan cara untuk mencapai
tujuan tertentu yang telah dipilih, yang kesemua itu dibatasi kemungkinankemungkinannya oleh sistem kebudayaan dalam bentuk norma-norma, idede dan nilai-nilai sosial. Di dalam menghadapi yang yang bersifat kendala
baginya itu, aktor mempunyai sesuatu di dalam dirinya berupa kemauan
bebas.

2. Teori Interaksionisme Simbolik

Tokoh-tokoh teori Interaksionisme Simbolik adalah John Dewey, Charles


Horton Cooley, G.H. Mead. Ide dasar teori ini bersifat menentang
behaviorisme radikal yang dipelopori oelh JB Watson. Hal ini tercermin dari
gagasan tokoh sentral teori ini yakni G.H. Mead yang bermaksud untuk
membedakan teori interaksionisme simbolik dengan teori behavioralisme
radikal.

Behaviorisme Radikal berpendirian bahwa perilaku individu adalah sesuatu


yang dapat diamati. Mempelajari tinglahlaku (behavior) manusia secara
obyektif dari luar. Penganut behaviorisme cenderung melihat perilaku
manusia itu seperti perilaku binatang dalam arti hanya semata-mata
merupakan hasil rangsangan dari luar.

Mead dari Interaksionisme Simbolik, mempelajari tindakan sosial dengan


mempergunakan teknik intropeksi untuk dapat mengetahui sesuatu yang

melatarbrlakangi tindakan sosial tu dari sudut aktor dengan pengggunaan


bahasa serta kemampuan belajar yang tidak dimiliki oleh binatang.

Menurut teori Interaksionisme Simbolik , fakta sosial bukanlah sesuatu yang


mengendalikan dan memaksa tindakan manusia. Fakta sosial ditempatkan
dalam kerangka simbol-simbol interaksi manusia. Teori ini menolak
pandangan paradigma fakta sosial dan paradigma perilaku sosial ( social
behavior) yang tidak mengakui arti penting kedudukan individu. Padahal
kenyataannya manusia mampu menciptakan dunianya sendiri.

Bagi paradigma fakta sosial, individu dipandangnya sebagai orang yang


terlalu mudah dikendalikan oleh kekuatan yang berasal dari luar dirinya
sendiri
seperti kultur,
norma,
dan
peranan-peranan
sosial.
Sehingga pandangan ini cenderung mengingkari kenyataan bahwa manusia
mempunyai kepribadian sendiri. Sedangkan paradigma perilaku sosial
melihat tingkah laku.

Beberapa asumsi tori Interaksionisme Simbolik menurut Arnold Rose :


1. Manusia
memberikan

hidup

dalam

suatu

lingkungan

simbol-simbol.

Manusia

tanggapan terhadap simbol-simbol melalui proses belajar dan bergaul


dalam
masyarakat.
Kemampuan manusia
memahami simbol-

berkomunikasi,

belajar,

serta

simbol itu merupakan kemampuan yang membedakan manusia dengan


binatang.
2. Melalui simbol-simbol manusia berkemampaun menstimulir orang lain
dengan cara
yang mungkin berbeda dari stimuli yang diterimanya dari orang lain.
3. Melalui komunikasi simbol-simbol dapat dipelajari sejumlah besar arti dan
nilai-nilai,

dan karena itu dapat dipelajari cara-cara tindakan orang lain.


4. Terdapat satuan-satuan kelompok yang mempunyai simbol-smbol yang
sama., atau
akan ada simbol kelompok.
5. Berfikir merupakan proses pencarian kemungkinan yang bersifat simbolis
dan untuk
mempelajari tindakan-tindakan yang akan datang, menaksir keuntungan
dan kerugian
relative menurut individual, di mana satu diantaranya dipilih untuk
dilakukan.

Kesimpulan utama dari teori Interksionisme Simbolik bahwa kehidupan


bermasyarakat terbentuk melalui proses interaksi dan komunikasi antara
individu dan antar kelompok dengan menggunakan simbol-simbol yang
dipahaminya melalui proses belajar. Tindakan seseorang dalam proses
interkasi bukan semata-mata tanggapan yang bersifat langsung terhadap
stimulus yang datang dari lingkungannya, tetapi melalui proses belajar.

3. Teori Fenomenologi (Phenomenological Sociology)

Ada empat unsur pokok dari teori Fenomenologi Yaitu :


1. Perhatian terhadap aktor dengan memahami makna tindakan aktor yang
ditujukan
kepada dirinya sendiri.
2. Memusatkan perhatian kepada kenyataan yang penting atau pokok dan
kepada sikap
yang wajar atau alamiah (natural attitude). Teori ini jelas bukan
bermaksud fakta

sosial secara langsung. Tetapi proses terbentuknya fakta sosial itulah


yang menjadi
pusat perhatiannya. Artinya bagaimana individu ikut serta dalam proses
pembentukan dan pemeliharaan fakta-fakta sosial yang memaksa mereka
itu.
3. Memusatkan perhatian kepada masalah makro. Maksudnya mempelajari
proses
pembentukan dan pemeliharaan hubungan sosial pada tingkat interaksi
tatap muka
untuk memahaminya dalam hubungannya dengan situasi tertentu.
4. Memperhatikan pertumbuhan, perubahan dan proses tindakan. Berusaha
memahami
bagaimana keteraturan dalam masyarakat diciptakan dan dipelihara
dalam pergaulan
sehari-hari. Norma-norma
tindakan manusia

dan

aturan-aturan

yang

mengendalikan

dan yang memantapkan struktur sosial dinilai sebagai hasil interpretasi si


aktor
terhadap kejadian-kejadian yang dialaminya.

D. Paradigma Perilaku Sosial

Tokoh pendekatan behaviorisme ini adalah B.F. Skinner yang memegang


peranan penting dalam pengembangan sosiologi behavior. Skinner
mengkritik obyek studi paradigma fakta sosial dan definisi sosial bersifat
mistis tidak konkrit relistis. Obyek studi sosiologi yang konkrit realistis adalah
perilaku manusia yang nampak serta kemungkinan perulangannya (behavior
of man and contingencies of reinforcement).

Paradigma perilaku sosial memusatkan perhatiaannya kepada hubungan


antara individu dengan lingkungannya, dimana lingkungan itu terdiri atas : a)
bermacam-macam obyek social dan b) bermacam-macam obyek non
sosial. Prinsip yang menguasai antar hubungan individu dengan obyek sosial
adalah sama dengan prinsip yang menguasai hubungan antara individu
dengan obyek non sosial. Pokok persoalan sosiologi menurut paradigma ini
adalah tingkah laku individu yang berlangsung dalam hubungannya dengan
faktor-faktor lingkungan yang menghasilkan akibat-akibat atau perubahan
dalam faktor lingkungan menimbulkan perubahan terhadap tingkahlaku.

Bagi paradigma perilaku sosial individu kurang sekali memiliki kebebasan.


Tanggapan yang diberikan ditentukan oleh sifat dasar stimulus yang datang
dari luar dirinya. Jadi tingkah laku manusia lebih bersifat mekanik. Beda
dengan paradigma definisi sosial yang menganggap aktor adalah dinamis
dan mempunyai kekuatan kreatif di dalam proses interaksinya. Ada dua teori
yang termasuk ke dalam paradigma Perilaku Sosial, yakni Teori Behavioral
Sociology dan Teori Exchange.

Paradigma ini lebih banyak menggunakan metode eksprimen dalam


penelitiannya. Keutamaan metode eksprimen ini adalah memberikan
kemungkinan terhadap penelitian untuk mengontrol dengan ketat obyek dan
kondisi di sekitarnya. Metode ini memungkinkan pula untuk membuat
penilaian dan pengukuran dengan tingkat ketepatan yang tinggi terhadap
efek dari perubahan-perubahan tingkahlaku aktor yang ditimbulkan dengan
sengaja di dalam eksprimen. Walaupun eksprimen merupakan suatu metode
penelitian langsung yang agak baik terhadap tingkahlaku aktor, namun
peneliti masih dituntut untuk mengamati perilaku lanjut aktor yang sedang
diteliti.

1. Teori Behavioral Sociology

Teori ini memusatkan perhatiannya kepada hubungan antara akibat dari


tingkah laku yang terjadi di dalam lingkungan aktor dengan tingkah laku
aktor. Akibat tingkah laku diperlakukan sebagai variabel independen. Ini
berarti teori ini berusaha menerangkan tingkah laku yang terjadi melalui
akibat-akibat yang meengikutinya. Konsep dasar teori ini yang menjadi
pemahamannya adalah reinforcement yang dapat diartikan sebagai
ganjaran (reward). Tak ada sesuatu yang melekat dalam objek yang dapat
menimbulkan ganjaran. Sesuatu ganjaran yang tak membawa pengaruh
terhadap aktor tidak akan diulang. Contohnya tentang makanan sebagai
ganjaran yang umum dalam masyarakat. Tetapi bila sedang tidak lapar
maka makan tidak akan diulang. Bila si aktor telah kehabisan makanan,
maka ia akan lapar dan makanan akan berfungsi sebagai pemaksa.

2. Teori Exchange

Tokoh utama teori ini adalah George Homan, teori ini dibangun dengan
maksud sebagai reaksi terhadap paradigma fakta sosial, yang menyerang
ide Durkheim secara langsung dari tiga jurusan, yakni :
a) pandangan tentang emergence. Selama berlangsung interaksi timbul
fenomena baru
yang tidak perlu proposisi baru pula untuk menerangkan sifat fenomena
baru yang
timbul tersebut.
b) pandangan tentang psikologi. Sosiologi dewasa ini sudah berdiri sendiri
lepas dari
pengaruh psikologi.
c. Metode penjelasan Durkheim. Fakta sosial tertentu selalu menjadi
penyebab
fakta sosial yang lain yang perlu dijelaskan melalui pendekatan perilaku
(behavioral), yang bersifat psikologi.

Keseluruhan materi Teori Exchange secara garis


dikembalikan pada 5 proposisi George Homan yaitu :

besarnya

dapat

1. Jika tingkahlaku tingkahlaku atau kejadian yang sudah lewat dalam


konteks stimulus
dan situasi tertentu memperoleh ganjaran, maka besar kemungkinan
tingkahlaku atau
kejadian yang mempunyai hubungan dan stimulus dan situasi yang sama
akan terjadi
atau dilakukan.
2. Menyangkut frekuensi ganjaran yang diterima. Makin sering dalam
peristiwa tertentu
tingkahlaku seseorang memberikan ganjaran terhadap tingkahlaku orang
lain, makin
sering pula orang lain itu mengulang tingkahlakunya itu.
3. Memberikan arti atau nilai pada tingkahlaku yang di arahkan oleh orang
lain terhadap
aktor. Makin bernilai bagi seseorang sesuatu tingkahlaku orang lain yang
ditujukan
kepadanya
mengulangi

makin

besar

kemungkinan atau

makin

sering

ia

akan

tingkahlakunya itu.
4. Makin sering orang menerima ganjaran atas tindakannya dari orang lain,
makin
berkurang nilai dari setiap tindakan yang dilakukan berikutnya.
5. Makin dirugikan seseorang dalam dalam hubungannya dengan orang lain,
makin
besar kemungkinan orang tersebut akan mengembangkan emosi.

RINGKASAN

Paradigma adalah pandangan fundamental tentang apa yang menjadi pokok


persoalan (subject matter)disiplin tertentu. Paradigma adalah kesatuan
konsensus yang terluas dalam satu disiplin yang membedakan antara
komunitas ilmuwan (sub komunitas) yang satu dengan yang lain. Ada tiga
faktor yang menyebabkan terjadinya perbedaan paradigmatik dalam
sosiologi ; 1) perbedaan pandangan pandangan filsafat yang mendasari
pemikiran masing-masing sosiolog tentang pokok persoalan yang
semestinya dipelajari sosilogi. 2) Akibat logis yang pertama, maka teori-teori
yang dibangun dan dikembangkan masing-masing komunitas ilmuwan
berbeda. 3) Metode yang dipakai untuk memahami dan menerangkan
substansi disiplin inipun berbeda. Atas dasar perbedaan pandangan
mengenai apa yang semestinya dipelajari dalam sosiologi itulah terdapat
tiga paradigma sosiologi dewasa ini yaitu, paradigma fakta sosial, paradigma
definisi sosial dan paradigma perilaku sosial.

Paradigma Fakta Sosial menempatkan fakta sosial menjadi pokok persoalan


penyelidikan sosiologi. Bahwa fakta sosial tidak dapat dipelajari dengan
introspeksi melainkan harus diteliti secara empiris. Dalam penelitiannya
penganut paradigma ini cenderung menggunakan metode interview dan
kuesioner.
Exemplar
paradigma
fakta
social
adalah
karya
Durkheim Suicide dan The Rule of Sociological Method.Dalam paradigma ini
pokok persoalan yang menjadi pusat perhatian adalah fakta-fakta sosial
yang pada garis besarnya terdiri atas dua tipe, masing-masing struktur sosial
(social structure) dan pranata sosial (social institution). Teori yang tergabung
dalam paradigma ini adalah teori fungsionalisme structural, teori konflik,
teori system, dan sosiologi makro.

Paradigma Definisi Sosial menempatkan pokok persoalan sosiologi adalah


proses pendefinisian sosial dan akibat-akibat dari suatu aksi serta interaksi
sosial. Exemplar paradigma ini adalah karya Max Weber tentang tindakan

sosial (social action) Paradigma Definisi Sosial secara pasti memandang


manusia sebagai orang yang aktif menciptakan kehidupan sosialnya sendiri.
Ada tiga teori yang termasuk dalam paradigma ini yaitu : teori aksi sosial,
teori interaksionisme simbolik dan teori fenomenologi. Metode yang umum
digunakan penganut paradigma definisi sosial ialah observasi.

Paradigma Perilaku Sosial menempatkan pokok persoalan sosiologi ialah


perilaku dan perulangannya. Bagi paradigma ini perilaku sosial individu
kurang sekali memiliki kebebasan. Ada dua toeri yang termasuk dalam
paradigma ini yaitu teori sosiologi behavioral dan teori pertukaran (exchange
theory). Paradigma Perilaku Sosial lebih banyak menggunakan metode
eksprimen dalam penelitiannya.

LATIHAN

1. Jelaskan model perkembangan ilmu pengetahuan menurut Thomas Kuhn!


2. Sebutkan faktor-faktor
paradigmatik dalam

yang

menyebabkan

terjadinya

perbedaan

sosiologi!
3. Jelaskan Paradigma Fakta Sosial melalui eksemplar, teori-teori serta
metode yang
dipergunakan.
4. Jelaskan perbedaan proposisi yang dikemukakan penganut teori struktural
fungsional
dengan proposisi yang dikemukakan oleh penganut teori konflik sehingga
menimbulkan pertentangan!
5. Sebutkan dan jelaskan 4 tipe tindakan sosial menurut Weber!

6. Tokoh pendekatan behaviorisme B.F. Skinner mengkritik obyek studi


paradigma
fakta sosial dan definisi sosial bersifat mistis tidak konkrit relistis, Jelaskan
maksudnya!

TUGAS
Buatlah makalah individu yang isinya mengkaji sebuah fenomena social yang
adaa dalam masyarakat dengan menggunakan pisau analisa teori sosiologi
yang kamu pahami!

DAFTAR PUSTAKA

Johnson, D.P., 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern I. Gramedia. Jakarta.

Laeyendecker, 1994. Tata Perubahan dan Ketimpangan. Suatu Pengantar


Sejarah Sosiologi. Gramedia. Jakarta.

M. Siahaan, Hotman. 1986. Pengantar


Sosiologi. Erlangga. Jakarta.

Ke

Arah

Sejarah

dan

Teori

Ritzer, George. 1991. Sosiologi Ilmu Paradigma Ganda, Rajawali. Jakarta.

Soekanto, Soerjono, 1985. Emile Durkheim. Aturan-Aturan Metode Sosiologis.


Seri Pengenalan Sosiologi 2. Rajawali. Jakarta.

----------------------,
1985. Max
Weber.
Konsep-Konsep
Sosiologi. Seri Pengenalan Sosiologi I. Rajawali. Jakarta.

Dasar

Dalam

Veeger, K.J., 1986. Realitas Sosial. Gramedia. Jakarta.

DAFTAR PUSTAKA

Abdullah, Taufik dan A.C. Van Der Leeden (Penyunting). 1986. Durkheim dan
Pengantar Sosiologi Moralitas. Yayasan Obor Indonesia. Jakarta.

Bouman, P.J., 1956. Ilmu Masyarakat Umum. Terjemahan Sujono. Cetakan ke


delapan. Yayasan Pembangunan. Jakarta.

De Haan, J. Bierens, 1953. Sosiologi Perkembangan dan Metode. Terjemahan


Adnan Syamni. Yayasan Pembangunan. Jakarta.

Giddens, Anthony, 1986. Kapitalisme dan Teori Sosial Modern. Suatu Analisis
Karya Tulis Marx, Durkheim dan Max Weber. UI Press. Jakarta.

Kinloch, Graham. 2005. Perkembangan


Sosiologi. Pustaka Setia. Bandung

Dan

Paradigma

Utama

Teori

Laeyendecker, 1994. Tata Perubahan dan Ketimpangan. Suatu Pengantar


Sejarah Sosiologi. Gramedia. Jakarta.

Lavine, T.Z., 2002.Dari Socrates Ke Sartre: Petualangan Filsafat, Jendela.


Yogyakarta
M. Siahaan, Hotman. 1986. Pengantar
Sosiologi. Erlangga. Jakarta.

Ke

Arah

Sejarah

dan

Teori

P. Johnson, Doyle, 1994. Teori Sosiologi Klasik dan Modern. Dindonesiakan :


Robert M.Z. Lawang. Gramedia. Jakarta

Ramli, Andi Muawiyah. 2000. Peta Pemikiran Karl Marx. LKLS. Yogyakarta.

Ritzer, George. 1991. Sosiologi Ilmu Paradigma Ganda, Rajawali. Jakarta.

Soekanto,Soerjono, 2002. Sosiologi Suatu Pengantar, PT. Raja Grafindo


Persada. Jakarta.

Soekanto, Soerjono, 1985. Emile Durkheim. Aturan-Aturan Metode Sosiologis.


Seri Pengenalan Sosiologi 2. Rajawali. Jakarta.

.-----------------------, 1985. Pengantar Konsep dan Teori Sosiologis. Unila Press.


Lampung

----------------------,
1985. Max
Weber.
Konsep-Konsep
Sosiologi. Seri Pengenalan Sosiologi I. Rajawali. Jakarta.

Dasar

Suseno, Frans Magnis. 2000. Pemikiran Karl Marx. Gramedia. Jakarta.

Dalam