Anda di halaman 1dari 25

LABORATORIUM FARMAKOGNOSI-FITOKIMIA

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS HASANUDDIN
LAPORAN PRAKTIKUM
KROMATOGRAFI LAPIS TIPIS (KLT)

OLEH:
NAMA

: AFDIL VIQAR VIQHI

NIM

: N111 12 904

KELOMPOK

: VI (ENAM)

GOLONGAN

: SELASA SIANG

ASISTEN

: EKA HARDIYANTI

MAKASSAR
2014

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Kromatografi lapis tipis adalah suatu teknik pemisahan cara lama,
digunakan secara luas, terutama dalam analisis campuran yang rumit dari
sumber alam. Kromatografi lapis tipis lebih unggul bila sejumlah kondisi
pemisahan yang berbeda-beda diperlukan untuk menangani penetapan
kadar seluruh cuplikan, karena sejumlah bejana pengembang yang berisi
berbagai sistem pelarut dapat lebih hemat dipakai. Keuntungan lain,
tiadanya gangguan pelarut pada penyelidikan secara fotometri karena
pelarut sebagai fase gerak telah diuapkan.
Pemisahan secara kromatografi `dilakukan dengan cara mengotak-atik
langsung beberapa sifat fisika umum dari molekul, pada sistem
kromatografi, campuran yang akan dipisahkan ditempatkan dalam
keadaan sedemikian rupa sehingga komponen-komponennya harus
menunjukkan dua dari ketiga sifat tersebut yaitu kelarutan, adsorbsi, dan
keatsirian.
I.2 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami teknik pemisahan senyawa dalam suatu
ekstrak tumbuhan dengan menggunakan metode Kromatografi Lapis Tipis
(KLT).

I.3 Tujuan Percobaan


Mengetahui dan memahami teknik pemisahan senyawa dalam suatu
ekstrak daun sirih (Piper betle folia) dengan menggunakan metode
Kromatografi Lapis Tipis (KLT).
I.4 Prinsip Percobaan
Suatu metode pemisahan komponen kimia yang berdasarkan prinsip
partisi dan adsorpsi secara selektif, komponen kimia bergerak naik
mengikuti cairan pengembang karena daya serap adsorben terhadap
komponen-komponen kimia tidak sama maka komponen dapat bergerak
dengan kecepatan yang berbeda dan hal inilah yang menyebabkan
terjadinya pemisahan. Pemisahan senyawa pada ekstrak daun sirih dengan
metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT) menggunakan silika gel GF 254 sebagai
fase diam dan fase gerak campuran hexan-eti asetat 10 : 1 (non polar) dan 2 : 3
(polar).

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1. Pengertian Kromatografi Lapis Tipis (KLT)
Kromatografi lapis tipis (KLT) dikembangkan oleh Izmailoff dan
Schraiber pada tahun 1938. KLT merupakan bentuk kromatografi planar,
selain

kromatografi

kertas

dan

elektroforesis.

Berbeda

debgan

kromatografi kolom yang mana fase diamnya diisikan atau dikemas di


dalamnya, pada kromatografi lapis tipis, fase diamnya berupa lapisan
yang seragam (uniform) pada permukaan bidang datar yang didukung
oleh lempeng kaca, plat aluminium atau plat plastik. Meskipun demikian,
kromatografi planar ini dapat dikatakan sebagai bentuk terbuka dari
kromatografi kolom. (1)
Kromatografi
campuran

Lapis

senyawa

Tipis

menjadi

(KLT)
senyawa

merupakan
murninya

cara

pemisahan

dan

mengetahui

kuantitasnya yang menggunakan. Kromatografi juga merupakan analisis


cepat yang memerlukan bahan sangat sedikit, baik penyerap maupun
cuplikannya. (2)
KLT dapat dipakai dengan dua tujuan. Pertama, dipakai selayaknya
sebagai metode untuk mencapai hasil kualitatif, kuantitatif, atau preparatif.
Kedua, dipakai untuk menjajaki system pelarut dan system penyangga
yang akan dipakai dalam kromatografi kolom atau kromatografi cair kinerja
tinggi. (2)

Adapun manfaat dari Kromatografi Lapis Tipis (KLT) yaitu :


1. Pemeriksaan kualitatif dan kemurnian senyawa obat.
2. Pemeriksaan simplisia hewan dan tanaman.
3. Pemeriksaan komposisi dan komponen aktif sediaan obat.
4. Penentuan kualitatif masing-masing senyawa aktif campuran senyawa
obat.
II.2. Pelaksanaan KLT
1. Fase Diam (1)
Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penjerap
berukuran kecil dengan diameter partikel antara 10-30 m.
Semakin kecil ukuran rata-rata partikel fase diam dan semakin
sempit kisaran ukuran fase diam, maka semakin baik kinerja KLT
dalam hal efisiensi dan resolusinya.
Penjerap yang paling sering digunakan adalah silika dan
serbuk selulosa, sementara mekanisme sorpsi yang utama pada
KLT adalah adsorpsi dan partisi.
Beberapa contoh penyerap yang digunakan untuk pemisahan
dalam kromatografi lapis tipis adalah sebagai berikut : (2)
1. Silika gel
Ada beberapa jenis silika gel, yaitu :
a. Silika gel G
Silika gel G adalah silika gel yang mengandung 13 %
kalsium sulfat sebagai perekat. Jenis silika gel ini biasanya

mengandung ion logam, terutama ion besi. Kandungan ion besi


dapat dihilangkan dengan mengembangkan plat TLC silika gel G
dengan sstem pelarut metanol : asam HCl pekat 9 : 1.
b. Silika gel H
Perbedaan silika gel G dan silika gel H ialah, bahwa silika
gel H tidak mengandung perekat kalsium sulfat. Silika gel H
dipakai untuk pemisahan yang bersifat spesifik, terutama lipida
netral.
c. Silika gel PF
Jenis silika gel ini diketemukan belakangan, yang dibuat
sedemikian rupa sehingga senyawa-senyawa organik terikat
pada plat ini dapat mengadakan fluoresensi. Oleh karena itu
visualisasinya dapat dikerjakan dengan menempatkan plat yang
telah dikembangkan di dalam ruangan gelap atau dengan sinar
ultra violet yang bergelombang pendek.
2. Alumina
Penggunaan

alumina

dalam

TLC,

yang

semula

diperkenalkan oleh peneliti dari Cekoslowakia, tidak sesering


silika gel. Sebenarnya alumina netral mempunyai kemampuan
untuk memisahkan bermacam-macam senyawa, seperti terpena,
alkaloid, steroid, dan senyawa-senyawa alisklik, alifatik, serta
aromatik. Sebagai zat perekat alumina tidak mengandung zat

perekat, memepunyai sifat alkalis dan dapat digunakan baik


tanpa maupun dengan aktivasi (Keese,R. dkk, 1982)

3. Kieselguhr
Kieselguhr merupakan adsorben yang lebih lemah dari
silika gel dan alumina, oleh karena itu lebih cocok untuk
memisahkan senyawa-senyawa polar (Adnan, M., 1997)
Penjerap

Mekanisme sorpsi

Silika gel

Adsorpsi

Penggunaan
As.amino, hidrokarbon,
vitamin, alkaloid
Senyawa-senyawa non

Silika + hidrokarbon

Partisi termodifikasi
polar
As.amino, nukleotida,

Serbuk selulosa

Partisi
karbohidrat
Hidrokarbon,ion logam,

Alumina

Adsorpsi

pewarna makanan,
alkaloid
Gula, asam-asam

Kieseguhr

Partisi
lemak
As.nukleat, nukleotida,

Selulosa penukar ion

Pertukaran ion

halida dan ion-ion


logam
Polimer, protein,

Gel sephadex

Ekslusi
kompleks logam
Interaksi adsorpsi,

-siklodekstrin

Campuran enansiomer
stereospesifik

2. Fase Gerak (1)

Fase gerak pada KLT dapat dipilih dari pustaka, tetapi lebih sering
dengan mencoba-coba karena waktu yang diperlukan hanya sebentar.
Sistem yang paling sederhana ialah campuran 2 pelarut organik karena
daya elusi campuran kedua pelarut ini dapat mudah diatur sedemikian
rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal. Berikut adalah
beberapa petunjuk dalam memilih dan mengoptimasi fase gerak :
a. Fase gerak harus mempunyai kemurnian yang sangat tinggi karena
KLT teknik yang sensitif.
b. Daya elusi fase gerak harus diatur sedemikian rupa sehingga harga
Rf terletak antara 0,2-0,8 untuk memaksimalkan pemisahan.
c. Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti
silika gel, polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi
solute yang berarti juga menentukan nilai Rf. Penambahan pelarut
yang bersifat sedikit polar seperti dietil eter ke dalam pelarut non
polar seperti metil benzene akan meningkatkan harga Rf secara
signifikan.
d. Solut-solut ionik dan solut-solut polar lebih baik digunakan campuran
pelarut sebagai fase geraknya, seperti campuran air dan metanol
dengan perbandingan tertentu. Penambahan sedikit asam etanoat
atau ammonia masing-masing akan meningkatkan solute-solut yang
bersifat basa dan asam.
3. Aplikasi (Penotolan) Sampel (1)
Untuk memperoleh roprodusibilitas, volume sampel yang ditotolkan
paling sedikit 0,5 l. Jika volume sampel yang ditotolkan lebih besar dari

2-10 l, maka penotolan harus dilakukan secara bertahap dengan


dilakukan pengeringan antar totolan.
4. Pengembangan (1,4)
Bila sampel telah ditotolkan maka tahap selanjutnya adalah
mengembangkan sampel dalam bejana kromatografi yang sebelumnya
telah dijenuhi dengan uap fase gerak. Tepi bagian bawah lempeng tipis
yang telah ditotoli sampel dicelupkan kedalam fase gerak kurang lebih
0,5-1 cm. Tinggi fase gerak dalam bejana harus dibawah lempeng yang
telah berisi totolan sampel.
Bejana kromatografi harus tertutup rapat dan sedapat mungkin
volume fase gerak sedikit mungkin (akan tetapi harus mampu mengelusi
lempeng sampai ketinggian lempeng yang telah ditentukan). Untuk
melakukan penjenuhan fase gerak, biasanya bejana dilapisi dengan
kertas saring. Jika fase gerak telah mencapai ujung dari kertas saring,
maka dapat dikatakan bahwa fase gerak telah jenuh.
Gambar berikut ini menunjukkan posisi dari totolan sampel,
posisi lempeng dalam bejana serta ketinggian eluen dalam
bejana :

Gambar 1 : Lempeng dalam beaker(chamber) dengan garis


pembatas
penotolan sampel dan batas eluen.

Gambar 2 : Lempeng dengan penunjukan kenaikan bercak dan batas atas


pengelusian.
5. Deteksi Bercak (1,4)
Deteksi bercak pada KLT dapat dilakukan secara kimia dan fisika.
Cara kimia yang biasa digunakan adalah dengan mereaksikan bercak
dengan suatu pereaksi melalui cara penyemprotan sehingga bercak
menjadi jelas. Cara fisika yang dapat digunakan untuk menampakkan

bercak adalah dengan dengan cara pencacahan radioaktif dan fluorosensi


sinar ultraviolet. Fluorosensi sinar ultraviolet terutama untuk senyawa
yang dapat berfluorosensi, membuat bercak akan terlihat jelas.
Berikut adalah cara-cara kimiawi untuk mendeteksi bercak :
a. Menyemprot lempeng KLT dengan reagen kromogenik yang
akan

bereaksi

secara

kimia

dengan

solute

yang

mengandung gugus fungsional tertentu sehingga bercak


menjadi

berwarna.

Kadang-kadang

dipanaskan

terlebih

dahulu untuk mempercepat reaksi pembentukan warna dan


intensitas warna bercak.
b. Mengamati lempeng dibawah

lampu

ultraviolet

yang

dipasang panjang gelombang emisi 254 atau 366 untuk


menampakkan solut sebagai bercak yang gelap atau bercak
yang berfluorosensi terang pada dasar yang berfluorosensi
seragam. Lempeng yag diperdagangkan dapat dibeli dalam
bentuk

lempeng

yang

sudah

diberi

dengan

senyawa

fliorosen yang tidak larut yang dimasukkan ke dalam fase


diam untuk memberikan dasar fluorosensi atau dapat pula
dengan menyemprot lempeng dengan reagen fluorosensi
setelah dilakukan pengembangan.
c. Menyemprot lempeng dengan asam sulfat pekat atau asam
nitrat pekat lalu dipanaskan untuk mengoksidasi solut-solut
organik yang akan nampak sebagai bercak hitam sampai
kecoklat-coklatan.

d. Memaparkan lempeng dengan uap iodium dalam chamber


tertutup.
e. Melakukan scanning pada permukaan lempeng dengan
densitometer, suatu instrument yang dapat mengukur
intensitas

radiasi

yang

direfleksikan

dari

permukaan

lempeng ketika disinari dengan lampu UV atau lampu sinar


tampak. Solut-solut yang mampu menyera[p sinar akan
dicatat sebagai puncak (peak) dalam pencatatan (recorder).
Reagen yang umum digunakan sebagai penampak bercak
dalam KLT dapat dibedakan menjadi 2, yaitu reagen umum (yang
berlaku untuk hampir semua senyawa organik) sebagaimana
ditunjukkan tabel 1 dan reagen spesifik yang hanya mendeteksi
jenis atau golongan senyawa tertentu (tabel 2).
Tabel 1
Beberapa reagen umum yang digunakan pada KLT
Metode deteksi
Asam fosfomolibdat
+ pemanasan

Warna bercak solut


Biru gelap

Penggunaan
Beberapa senyawa
organik

Asam sulfat pekat +


pemanasan

Hitam kecoklatan

Semua senyawa
organik

Uap iodium

Coklat

Beberapa senyawa
organik

Tabel 2
Beberapa reagen spesifik yang digunakan pada KLT
Metode deteksi
Ninhidrin
2,4-dinitrofenil
hidrazon

Warna bercak solut


Pink ke ungu
Orange/merah

Penggunaan
Asam-asam amino
Senyawa-senyawa
karbonil

Bromokresol

Kuning

Asam-asam organik

hijau/biru
2,7-Fluoresein
Vanilin/asam asetat
Rhodamin B

Kuning-kehijauan
Merah/hijau/pink
Berfluoresensi

Senyawa organik
Alkohol, keton
Lemak

Anisaldehid/antimon

merah
Berbagai macam

Steroid

triklorida
Difenil amin/seng

Berbagai macam

Pestisida

6. Perhitungan Nilai Rf (4)

Gambar 3 : Perbandingan jarak bercak dan jarak tempuh eluen


Faktor retensi (Rf) adalah jarak yang ditempuh oleh komponen
dibagi dengan jarak yang ditempuh oleh eluen, dengan persamaan :
Jarak yang ditempuh senyawa terlarut
Rf

=
Jarak yang ditempuh pelarut

Nilai

Rf

dinyatakan

hingga

angka

1,0

beberapa

pustaka

menyatakan nilai Rf yang baik yang menunjukkan pemisahan yang cukup


baik adalah berkisar antara 0,2-0,8.
Beberapa faktor yang mempengaruhi nilai Rf adalah :

a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.
i.
j.
k.
l.

Pelarut
Bahan pengembang (jenis dan ketebalan lapisan)
Kejenuhan ruangan akan pelarut
Kelembaban udara
Konsentrasi
Komposisi larutan diperiksa
Panjang trayek migrasi
Senyawa asing
Ketidak homogenan kertas
Arah serabut kertas
Mutu dan sifat dari lapisan adsorbsi dan kertas
Derajat kejenuhan bejana pemisah.

BAB III
METODE KERJA
III.1

Alat dan Bahan

III.1.1 Alat
Alat yang digunakan dalam percobaan kromatografi lapis tipis
adalah lempeng, pinset, pipa kapiler, vial,
III.1.2 Bahan

Bahan yang digunakan dalam percobaan kromatografi lapis tipis


adalah aluminium foil, ekstrak awal, ekstrak latur heksan, ekstrak larut
butanol jenuh air, etil asetat, heksan, metanol.
III.2

Cara Kerja

a. Penyiapan Lempeng KLT


1. Lempeng KLT diaktifkan dalam oven
2. Lempeng dikeluarkan dan digunting dengan ukuran tertentu
3. Lempeng siap digunakan.
b. Identifikasi Kromatografi Lapis Tipis
1. Siapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Larutkan masing-masing ekstrak heksan, tidak larut hexan, dan
ekstrak awal dengan metanol.
3. Disiapkan 2 chamber yang masing-masing dijenuhkan dengan kertas
saring dengan pelarut etil dan heksan 10 : 1 dan 2 : 3
4. Setelah jenuh Sampel ditotolkan ke lempeng menggunakan pipa
kapiler
5. Kemudian dikeringkan dan dimasukkan dalam chamber.
6. Dikeluarkan kemudian dilihat nodanya pada UV 254 dan 366 nm.
Diberi tanda pada lempeng nodanya. Lalu disemprot dengan H 2SO4
10 %.
7. Ukur jarak noda dan jarak pelarut. Kemudian dihitung nilai R f.

BAB IV
HASIL PENGAMATAN
IV.1. Gambar Pengamatan
Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia
Fakultas Farmasi
Laboratorium Farmakognosi-Fitokimia
Universitas
FakultasHasanuddin
Farmasi
Universitas Hasanuddin

Eluen
Eluen nonpolar
polar
Heksan:Etil
Heksan:Etil asetat=2:3
asetat=10:1
UV254
254 nm
nm
UV

Eluen
Eluen nonpolar
polar
Heksan:Etil asetat=2:3
Heksan:Etil
asetat=10:1
UV
366
nm
UV 366 nm

Eluen
Eluen nonpolar
polar
Heksan:Etil asetat=2:3
Heksan:Etil
asetat=10:1
H
SO
10%
2
4
H2SO4 10%

IV.2.

Perhitungan

IV.2.1. Eluen non polar


Rf noda ekstrak awal
Jarak yang ditempuh senyawa terlarut
Rf

=
Jarak yang ditempuh pelarut
2,54 cm
=
5,8 cm
=

0.438

Rf noda larut heksan


Jarak yang ditempuh senyawa terlarut
Rf

=
Jarak yang ditempuh pelarut
2,74 cm
=
5,8 cm
=

0,473

Rf noda larut butanol jenuh air


Jarak yang ditempuh senyawa terlarut
Rf

=
Jarak yang ditempuh pelarut
1,52 cm
=

5,8 cm
=

0,263

IV.2.2. Eluen polar


Rf noda ekstrak awal
Jarak yang ditempuh senyawa terlarut
Rf

=
Jarak yang ditempuh pelarut
5,4 cm
=
5,7 cm
=

0.948

Rf noda larut heksan


Jarak yang ditempuh senyawa terlarut
Rf

=
Jarak yang ditempuh pelarut
5,5 cm
=
5,7 cm
=

0,965

Rf noda larut butanol jenuh air


Jarak yang ditempuh senyawa terlarut
Rf

=
Jarak yang ditempuh pelarut
4,61 cm
=
5,7 cm

0,81

BAB V
PEMBAHASAN
Pada percobaan praktikum Fitokimia ini dilakukan percobaan
kromatografi lapis tipis yang mempunyai tujuan untuk mempelajari dan
memahami metode pemisahan dengan metode kromatografi lapis tipis
dan juga agar dapat mengetahui bagaimana cara menentukan nilai Rf
komponen-komponen yang dipisahkan dan mengidentifikasi zat yang
dipisahkan.
Pengertian dari kromatografi lapis tipis itu sendiri merupakan salah
satu analisis kualitatif dari suatu sampel yang ingin dideteksi dengan
memisahkan

komponen-komponen

sampel berdasarkan

kepolaran. Prinsip kerjanya memisahkan pelarut ekstrak

perbedaan
berdasarkan

perbedaan kepolaran.
Pada percobaan ini menggunakan teknik fase diam dan fase
geraknya yang ingin dipisahkan. Larutan atau campuran larutan yang
digunakan dinamakan eluen (pengembang). Semakin dekat kepolaran

antara sampel dengan eluen, maka sampel akan semakin terbawa oleh
fase gerak tersebut.
Pada percobaan ini terlebih dahulu Lempeng yang akan digunakan
harus diaktifkan terlebih dahulu. Pengaktifan lempeng bertujuan untuk
mengurangi kadar air (gugus OH) silika gel agar pada proses elusi
lempeng silika gel dapat menyerap dan berikatan dengan sampel namun
tidak membentuk ikatan hidrogen sehingga sulit dielusi oleh pelarut/eluen
(pengembang) yang digunakan. Pengaktifan lempeng dilakukan dalam
oven. Sebagai fase gerak digunakan eluen non polar yaitu hexan : etil
asetat sebanyak 10 : 1 dan eluen polar yaitu hexan : etil asetat sebanyak
2 : 3. Eluen yang digunakan merupakan kombinasi dari dua atau tiga
macam pelarut, hal ini dimaksudkan untuk mencapai semua tingkat
kepolaran sehingga diharapkan eluen ini dapat mengangkat noda dengan
tingkat kepolaran yang berbeda-beda pula. Dengan perbandingan jumlah
pelarut yang digunakan adalah perbandingan yang didasarkan pada
perhitungan bahwa eluen tersebut dapat menarik komponen kimia yang
maksimal. Namun jika pada penampakan noda belum didapat jumlah
noda yang maksimal atau posisi noda yang terlalu ke atas atau ke bawah
maka perbandingan eluen yang digunakan dapat dimodifikasikan kembali.
Selanjutnya lempeng dielusi di chamber berisi eluen yang terlebih
dahulu sudah dijenuhkan menggunakan kertas saring. Chamber diketahui
jenuh bila kertas saring yang dimasukkan ke dalam chamber telah basah
semua. Tujuan penjenuhan chamber ini yaitu untuk menghilangkan uap air

atau gas lain yang mengisi fase penjerap yang akan menghalangi laju
eluen. Kemudian lempeng tersebut diberi batas atas 0,5 cm dan batas
bawah 1 cm. Batas bawah digunakan untuk menotolkan sampel. Tujuan
diberi batas bawah ini adalah untuk mencegah agar sampel tidak sampai
tercelup dan larut dalam eluen. Batas atas digunakan untuk mengakhiri
proses elusi

yang ditandai bahwa migrasi eluen sampai tanda batas.

Proses migrasi eluen ini diharapkan agar sampel juga ikut bermigrasi
keatas. Selain itu juga batas atas dan batas bawah pelat harus diberi
tanda dengan pensil karena jika menggunakan bolpoin maka noda bolpoin
akan ikut terelusi atau mengembang. Setelah jenuh, masing-masing
ekstrak ( awal, larut heksan dan larut BJA) dari daun sirih (Piper betle
folia) ditotolkan pada lempeng silika gel yang berfungsi sebagai fase diam.
Setelah jenuh kemudian lempeng dimasukkan ke dalam chamber
menggunakan pinset dengan posisi berdiri dan tempat penotolan tidak
terendam dengan eluen.
Kemudian lempeng yang telah dielusi selanjutnya dikeringkan dan
diamati noda-noda yang tampak pada lampu UV 254 nm dilanjutkan ke
lampu UV 366 nm. Penampakan noda pada lampu UV 254 nm dan 366
nm adalah karena adanya daya interaksi antara sinar UV dengan gugus
kromofor yang terikat oleh auksokrom yang ada pada noda tersebut. Yang
dimaksud dengan gugus kromofor adalah suatu gugus fungsi yang
memiliki peranan menyebabkan suatu senyawa memiliki warna. Gugus
kromofor juga merupakan

gugus kovalen tidak jenuh yang dapat

menyerap

radiasi

dalam

daerah

UV-Vis.

Sedangkan

auksokrom

merupakan gugus fungsi yang mempunyai peranan untuk memberikan


warna yang lebih intensif pada suatu senyawa. Auksokrom tidak lepas
kaitannya dengan adanya kromofor di dalam senyawa tersebut.
Fluoresensi cahaya yang tampak merupakan emisi cahaya yang
dipancarkan oleh komponen tersebut ketika elektron yang tereksitasi dari
tingkat energi dasar ke tingkat energi yang lebih tinggi kemudian kembali
ke keadaan semula sambil melepaskan energi.

Energi inilah yang

menyebabkan perbedaan fluoresensi warna yang dihasilkan oleh tiap


noda. Bedanya, pada UV 254 warna noda yang nampak adalah berwarna
gelap karena lempeng yang digunakan adalah lempeng dengan penjerap
silika gel GF 254 yang berfluorosensi pada lampu UV 254 nm sehingga
penjerap disekitar noda berfluorosensi terang sedangkan nodanya
berwarna gelap

atau dengan

kata

lain

yang

berpendar adalah

lempengnya. Sedangkan pada lampu UV 366 nm, penjerap tidak


berfluorosensi sehingga yang berfluorosensi benar-benar adalah noda
sehingga warna noda yang tampak adalah terang atau dengan kata lain
nodanya yang berpendar.
Untuk menghindari noda berekor, maka ekstrak yang ditotolkan
dibuat dalam konsentrasi yang rendah. Apabila konsentrasi ekstrak terlalu
pekat maka akan diperoleh noda yang berekor atau bertumpuk.
Noda-noda yang diperoleh biasanya berekor disebabkan karena :
c. Penotolan yang berulang-ulang dan letaknya tidak tepat
d. Kandungan senyawa yang terlalu asam atau basa

e. Lempeng yang tidak rata


f. Chamber yang tidak jenuh
Penampakan noda juga dapat dilihat dengan cara penyemprotan
dengan H2SO4. Hal ini dilakukan karena pada konsentrasi tersebut
memililki efektifitas yang sama dan selain itu lebih ekonomis serta lebih
aman karena
oleh H2SO4

konsentrasinya lebih rendah. Prinsip penampakan noda


adalah karena asam sulfat ini bersifat reduktor sehingga

dapat memutuskan ikatan rangkap sehingga panjang gelombangnya akan


bergeser ke arah yang lebih panjang sehingga dapat terlihat oleh mata.
Pergeseran dari serapan ke panjang gelombang yang lebih panjang
karena sisipan atau pengaruh pelarut (geseran merah) disebut pergeseran
batokromik. Sedangkan pergeseran hipsokromik adalah pergeseran dari
serapan ke kepanjang gelombang yang lebih pendek karena sisipan atau
pengaruh pelarut (geseran biru).
Setelah dilihat penampakan noda-nodanya, maka diukur jarak noda
dari titik awal (batas bawah) serta jarak eluen. Hasilnya akan digunakan
untuk menentukan harga Rf.
Ekstrak Daun sirih (Piper betle folia) merupakan ekstrak metanol
yang bersifat semi polar. Semi polar merupakan senyawa yang dapat
menarik senyawa polar dan senyawa non polar. Dan dilihat silika gel yang
bersifat polar sehingga ikatannya tidak begitu kuat sehingga totolan akan
naik mengikuti eluen sesuai prinsip like dissolve like. Demikian pula
dengan ekstrak heksan yang sifatnya non polar akan naik mengikuti eluen
sedangkan untuk ekstrak yang tidak larut heksan yang sifatnya polar

maka ikatannya dengan silika gel kuat karena senyawa dan silika gel
mempunyai kepolaran yang hampir sama maka totolan tidak naik
nodanya.

BAB VI
PENUTUP
VI.1

Kesimpulan
Pengembangan dengan eluen non polar (heksan : etil asetat =

10:1) diperoleh noda pada ekstrak awal dengan Rf = 0,438, noda pada
larut heksan dengan Rf = 0,473, noda pada larut butanol jenuh air dengan
Rf = 0, 263.
Pengembangan dengan eluen polar (heksan : etil asetat = 2:3)
diperoleh noda pada ekstrak awal dengan Rf = 0,948 noda pada larut
heksan dengan Rf = 0,965, noda pada larut butanol jenuh air dengan Rf =
0, 81.
VI.2

Saran
Sebaiknya alat-alat praktikum KLT lebih diperbanyak lagi agar

praktikum dapat berjalan baik dan efisien.

DAFTAR PUSTAKA
1. Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi
Analisis. Yogyakarta : Pustaka Pelajar
2. Anonim. http:// repository.usu.ac.id/ bitstream/ 123456789/ 21191/ 4/
Chapter% 20II.pdf. Diakses pada tanggal 31 Maret 2014
3. Gritter, Roy J. dkk. (1991). Pengantar Kromatografi. Edisi II. Penerbit
ITB, Bandung.
4. Anonim. http://www.scribd.com/doc/54821830/11/ Spektrofotometer
UV-Vis. Diakses pada tanggal 31 Maret 2014