Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Berkemih merupakan peristiwa yang sangat vital bagi manusia. Berkemih
bertujuan untuk membuang kelebihan cairan dan substansi yang sudah diproses
terlebih dahulu di korteks ginjal. Hal ini begitu penting agar tidak terjadi penumpukan
zat-zat sisa di dalam tubuh.
Saluran berkemih atau traktus urinarius yang bermula dari ginjal, ureter,
vesica urinaria sampai dengan uretra harus dalam keadaan yang baik dan tidak
memiliki kelainan supaya proses berkemih tetap lancar. Pada laki-laki, uretra terdapat
di dalam corpus spongiosum penis yang berarti pembentukan penis atau genitalia
eksterna sendiri sangat penting sebagai muara akhir dari urine. Kelainan bisa saja
terjadi karena pembentukan genitalia eksterna pada masa embrio dipengaruhi oleh
berbagai macam faktor.
Apabila faktor-faktor ini ada yang terganggu maka pembentukan dari organ itu
sendiri juga pasti akan ikut terganggu. Kelainan yang biasanya terjadi pada masa
embriologi pembentukan genitalia eksterna pada laki-laki adalah hipospadia atau
epispadia yaitu kelainan pada pembentukan uretranya. Masalah yang akan dijelaskan
sesuai dengan skenario adalah tentang hipospadia yaitu ujung uretra yang berada di
bagian inferior penis.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
1. Anatomi Traktus Urinarius

1
Gambar 1, Traktus Urinarius,
(www.le.ac.uk/pa/teach/va/anatomy/case4/frmst4.html)

a. Ginjal
Dua ginjal terletak pada dinding posterior abdomen, di luar rongga
peritoneum.
Berat

ginjal

pada

orang

dewasa kirakira 150 gram


dan kira-kira
seukurun
kepalan
tangan.
Gambar 2, Ginjal, (Guyton dan Hall, 2006)

Sisi

medial setiap

ginjal merupakan daerah lekukan yang disebut hilum tempat lewatnya


arteri dan vena renalis, cairan limfatik, suplai saraf, dan ureter yang
membawa urin akhir dari ginjal ke kandung kemih,tempat urin disimpan
hingga dikeluarkan. Ginjal dilingkupi oleh kapsul fibrosa yang keras untuk
melindungi struktur dalamnya yang rapuh.
Jika ginjal dibagi 2 dari atas ke bawah, dua daerah utama yang dapat
digambarkan yaitu korteks di bagian luar dan medula di bagian dalam.
Medula ginjal terbagi menjadi beberapa massa jaringan berbentuk kerucut
yang disebut piramida ginjal. Dasar dari setiap piramida dimulai pada
perbatasan antara korteks dan medula serta berakhir di papila, yang
menonjol ke dalam ruang pelvis ginjal, yaitu sambungan dari ujung ureter
bagian atas yang berbentuk corong. Batas luar pelvis terbagi menjadi
2

kantong-kantong dengan ujung terbuka yang disebut kalises mayor, yang


meluas ke bawah dan terbagi menjadi kalises minor, yang mengumpulkan
urin dari tubulus setiap papila.1
Suplai Darah Ginjal - Darah yang mengalir ke kedua ginjal
normalnya sekitar 22% dari curah jantung,atau 1100 ml/menit.Arteri
renalis memasuki ginjal melalui hilum dan kemudian bercabang cabang
secara progresif membentuk arteri interlobaris, arteri arkuata,arteri
interlobularis ( juga disebut arteri radialis), dan arteriol aferen,yang
menuju ke kapiler glomerulus tempat sejumlah besar cairan dan zat
terlarut.( kecuali protein plasma ) difiltrasi untuk memulai pembentukan
urin. Ujung distal kapiler pada setiap glomerulus bergabung untuk
membentuk arteriol eferen,yang menuju jaringan kapiler kedua, yaitu
kapiler peritubular, yang mengelilingi tubulus ginjal. Sirkulasi ginjal ini
bersifat unik karena memiliki dua bentuk kapiler, yaitu kapiler glomerulus
dan kapiler peritubulus, yang tersusun dalam suatu rangkaian dan
dipisahkan oleh arteriol eferen yang membantu untuk mengatur tekanan
hidrostatik dalam kedua perangkat kapiler.Tekanan hidrostatik yang tinggi
pada kapiler glomerulus ( kira kira 60 mmHg ) menyebabkan filtrasi
cairan yang cepat,sedangkan tekanan hidrostatik yang jauh lebih rendah
pada kapiler peritubulus ( kira kira 13 mmHg ) memungkinkan reabsopsi
cairan yang cepat. Dengan mengatur tahanan arteriol aferen dan eferen,
ginjal dapat mengatur tekanan hidrostatik pada kapiler glomerulus dan
kapiler peritubulus, dengan demikian mengubah laju filtrasi glomerulus
dan/atau

reabsorpsi tubulus

sebagai

respons

terhadap

kebutuhan

homeostatik tubuh. Kapiler peritubulus mengosongkan isinya ke dalam


pembuluh system vena, yang berjalan secara paralel dengan pembuluh
arteriol dan secara progresif membentuk vena interlobularis, vena arkuata,
vena interlobaris, dan vena renalis, yang meninggalkan ginjal di samping
arteri renalis,yang meninggalkan ginjal di samping arteri renalis dan
ureter.1
Nefron Sebagai Unit Fungsional - Ginjal Masing masing ginjal
manusia terdiri dari kurang lebih 1 juta nefron, masing masing mampu
membentuk urin.Ginjal tidak dapat membentuk nefron baru. Oleh karena
itu, pada trauma ginjal,penyakit ginjal,atau proses penuan yang normal
3

akan terjadi penurunan jumlah nefron secara bertahap. Setelah usia 40


tahun, jumlah nefron yang berfungsi biasanya menurun kira2 10 % setiap
10 tahun jadi, pada usia 80 tahun, jumlah nefron yang berfungsi 40 %
lebih sedikit dari pada ketika usia 40 tahun.Berkurangnya fungsi ini tidak
mengancam jiwa karena perubahan adaptif sisa nefron menyebabkan
nefron tersebut dapat mengeksresikan air, elektrolit,dan produksi sisa
dalam jumlah yang tepat. Setiap nefron terdiri dar : ( 1 ) glomerulus
( sekumpulan kapiler glomerulus ) yang di lalui sejumlah besar cairan

Gambar 3, Nefron, (Guyton dan Hall, 2006)

yang difiltrasi dari darah dan ( 2 ) tubulus yang panjang tepat cairan hasil
filtrasi diubah menjadi urin dalam perjalanannya menuju pelvis ginjal.
Glomerulus tersusun dari suatu jaringan kapiler glomerulus yang
bercabang dan beranastomosis,yang mempunyai tekanan hidrostatik tinggi
( kira kira 60 mmHg ) bial dibandingkan dengan kapiler lainnya.Cairan
yang difiltrasi dari kapiler glomerulus mengalir ke dalam kapsul Bowman
dan kemudian masuk ke tubulus proksimal. Dari tubulus proksimal,cairan
mengalir ke ansa Henle yang masuk ke dalam medula renal.Setiap
lengkung terdiri atas cabang desenden dan asenden.Dinding cabang
desenden dan ujung cabang asenden yang paling rendah sangat tipis, dan
oleh karena itu di sebut bagian tipis ansa Henle. Di tengah perjalanan
kembalinya cabang asenden dari lengkung tersebut ke kortex dindingnya
menjadi jauh lebih tebah dan, oleh karena itu disebut bagian tebal cabang
asenden. Pada ujung cabang asenden tebal terdapat bagian yang pendek,
4

yang sebenarnya merupakan plak pada dindingnya, dan dikenal sebagai


macula densa. Setelah macula densa, cairairan memasuki tubulus distal,
yang terletak pada korteks renal ( seperti tubulus proksimal ). Tubulus ini
kemudian di lanjutkan dengan tubulus renalis arkuatus dan tubulus
koligentes kortikal, yang menuju ke duktus kolidentes kortikal.Duktus
koligentes bergabung membentuk duktus yang lebi besar secara
progresif,yang akhirnya mengalir menuju pelvis renal melalui ujung vavila
renal.Setiap ginjal,mempunyai kira- kira 250 duktus koligentes yang
sangat besar, yang masing masing mengumpulkan urin dari sekitar 4000
nefron.1
b. Ureter
Ureter adalah lanjutan dari renal pelvis yang panjangnya antara 10
sampai 12 inchi (25-30 cm), dan diameternya sekitar 1 mm sampai 1 cm.
Ureter terdiri atas dinding luar yang fibrus, lapisan tengah yang berotot,
dan lapisan mukosa sebelah dalam. Ureter mulai sebagai pelebaran hilum
ginjal, dan letaknya menurun dari ginjal sepanjang bagian belakang dari
rongga peritoneum dan di depan dari muskulus psoas dan prosesus
transversus dari vertebra lumbal dan berjalan menuju ke dalam pelvis dan
dengan arah oblik bermuara ke kandung kemih melalui bagian posterior
lateral. Pada ureter terdapat 3 daerah penyempitan anatomis, yaitu :
1. Uretropelvico junction, yaitu ureter bagian proksimal mulai dari renal
pelvis sampai bagian ureter yang mengecil
2. Pelvic brim, yaitu persilangan antara ureter dengan pembuluh darah
arteri iliaka
3. Vesikouretro junction, yaitu ujung ureter yang masuk ke dalam vesika
urinaria (kandung kemih).
Ureter berfungsi untuk menyalurkan urine dari ginjal ke
kandung kemih. Gerakan peristaltik mendorong urine melalui ureter
yang diekskresikan oleh ginjal dan disemprotkan dalam bentuk
pancaran, melalui osteum uretralis masuk ke dalam kandung kemih.
c. Vesica Urinaria
Vesica urinaria terletak tepat dibelakang os pubis di dalam rongga
pelvis. Pada orang dewasa kapasitas maksimum vesica urinaria sekitar 500
ml. Vesica urinaria mempunyai dinding otot yang kuat. Bentuk dan batasbatasnya sangat bervariasi sesuai dengan jumlah urin yang di kandungnya.
Vesica urinaria yang kosong pada orang dewasa terletek seluruhnya di
5

dalam pelvis; waktu terisi; dinding atasnya terangkat sampai masuk regio
hypogastrica. Pada anak kecil, vesica urinaria terbenam ke dalam pelvis
untuk menempati posisi seperti pada orang dewasa.
Vesica urinaria yang kosong berbentuk piramid mempunyai apex,
basis, dan sebuah fascies superior serta dua buah fascies inferolateralis;
juga mempunyai collum.
Apex vesica urinaria mengarahh ke depan dan terletak di belakang
pinggir atas sympisis pubis. Apex dihubungkan dengan umbilicus oleh
ligamentum umbilicalis mediana (sisa urachus).
Basis, atau facies posterior vesica, menghadap ke posterior dan
berbentuk segitiga. Sudut superolateralis merupakan tempat muara ureter,
dan sudut inferior merupakan tempat asal urethra. Pada laki-laki, kedua
ductus deferens terletak berdampingan di fascies posterior vesica dan
memisahkan vesicula seminalis satu dengan yang lain. Bagian atas fascies
posterior vesicae diliputi peritoneum, yang membentuk dinding anterior
excavatio rectovesicalis. Bagian bawah facies posterior dipisahkan dari
rectum oleh ductus deferens, vesicula seminalis, dan fascia rectovesicalis.
Pada perempuan, uterus dan vagina terletak berhadapan dengan facies
posterior.
Facies superior vesicae diliputi peritoneum dan berbatasan dengan
lengkung ileum atau colon sigmoideum. Sepanjang pinggir lateral
permukaan ini, peritoneum melipat ke dinding lateral pelvis.
Bila vesica urinaria terisi, bentuknya menjadi lonjong, permukaan
superiornya membesar dan menonjol ke atas, ke dalam cavitas
abdominalis. Peritoneum yang meliputinya terangkat pada bagian bawah
dinding anterior abdomen, sehingga vesica urinaria berhubungan langsung
dengan dinding anterior abdomen.

Gambar 4, Vesica Urinaria pada pria, (Snell, Richard S., 2000)

Fascies inferolateralis di depan berbatasan dengan bantalan lemak


retropubis dan os pubis. Lebih ke posterior, di atas berbatasan dengan
musculus obsturator internus dan di bawah dengan musculus levator ani.
Collum vesicae terletak di inferior dan pada laki=laki terletak pada
permukaan atas prostat. Di sini, serabut otot polos dinding vesica urinaria
dilanjutkan

sebagai

serabut

otot

polos

prostat.

Collum

vesicae

dipertahankan pada tempatnya oleh ligamentum puboprastaticum pada


laki-laki

dan

ligamentum

pubovesicale

pada

perempuan.

Kedua

ligamentum ini merupakan penebalan dari fascia pelvis. Pada perempuan,


karena tidak ada prostat, collum vesicae terletak langsung pada fascies
superior diaphragmatis urogenitalis.
Batas-batas vesica urinaria
1)
Pada laki-laki

Ke anterior: sympisis pubis, lemak retropubik, dan dinding


anterior abdomen.

Ke posterior: vesica rectovesicalis peritonei, duuctus deferens,


vesicula seminalis, fascia rectovesicalis, dan rectum.

Ke lateral: di atas musculus obturator internus dan di bawah


musculus levator ani.

Ke superior: cavitas peritonealis, lengkung ileum, dan colon

sigmoideum

Ke inferior: prostat
2)
Pada perempuan
Karena tidak ada prostat, vesica urinaria terletak lebih rendah di dalam
pelvis perempuan dibandingkan dengan pelvis laki-laki, dan collum
vesicae terletak langsung di atas diapragma urogenital. Batas-batas antara
vesica urinaria dengan uterus dan vagina.

Ke anterior: sympisis pubis, lemak retropubik, dan dinding


anterior abdomen.

Ke posterior: dipisahkan dari rectum oleh vagina

Ke lateral: di atas musculus obsterator internus dan di bawah


musculus levator ani

Ke superior: excavatio uterovesicalis dan corpus uteri

Ke inferior: diapragma urogenitale.5


d. Uretra
Uretra merupakan tabung yang menyalurkan urine ke keluar dari bulibuli melalui proses miksi. Secara anatomis uretra dibagi menjadi 2 bagian
yaitu uretra posterior dan uretra anterior. Pada pria, organ ini berfungsi
juga dalam menyalurkan cairan mani. Uretra di perlengkapi dengan
sfingter uretra interna yang terletak pada perbatasan buli-buli dan
uretra,serta sfringter uretra eksterna yang terletak pada perbatasan uretra
anterior dan posterior. Sfingter uretra interna terdiri atas otot polos yang
dipersarafi oleh system simpatik sehingga pada saat buli-buli penuh,
sfingter ini terbuka .sfingter uretra eksterna terdiri atas otot bergaris oleh
siste somatic yang dapat diperintah sesuai dengan keinginan seseorang
.pada saat kencing sfingter ini terbuka dan tetap tertutup pada saat
menahan kencing.
Panjang uretra wanita kurang lebih 3-5 cm , sedangkan uretra pada pria
23-25 cm.perbadaan panjang inilah yang menyebabkan keluhan hambatan
pengeluaran urine lebih sering terjadi pada pria.

Gambar 5, Uretra pada pria, (www.Ivy-Rose.co.uk)

Uretra posterior pada pria terdiri atas uretra pars prostatika yaitu
bagian uretra yang dilingkupi oleh kelenjar prostat, dan uretra pars
membranasea.di bagian posterior lumen uretra prostatk, terdapat suatu
tonjolan verumontanum, dan disebelah proksimal dan distal dari
verumontanum ini terdapat Krista uretralis.bagian akhir dari vas deferens
yaitu kedua

duktus ejakulatorius terdapat dipinggir kiri dan kanan

veromontanum, sedangkan sekresi kelenjar prostat bermuara didalam


duktus prostatikus yang tersebar di uretra prostatika.3

2.

Refleks Berkemih
Kandung

kemih

mendapat

persarafan

dari

saraf-saraf

pelvis, yang

berhubungan dengan medulla spinalis melalui pleksus sacralis (segmen S-2 dan S3) dari medulla spinalis. Serabut saraf sensorik mendeteksi derajat regangan
dalam dinding kandung kemih. Sinyal-sinyal regangan dari uretra posterior
merupakan sinyal yang kuat dan berpeperan untuk memicu refleks pengosongan
kandung kemih. Persarafan motorik yang dibawa dalam saraf-saraf pelvis
merupakan serabut saraf parasimpatis. Saraf ini berakhir di sel ganglion yang

terletak didalam dinding kandung kemih. Kemudian saraf-saraf postganglionik


yang pendek akan mempersarafi sfingter uretra interna. Sfingter uretra interna
terdiri dari otot detrusor yang disarafi oleh saraf parasimpatis .
Urine mengalir dari duktus koligentes menuju kalies ginjal. Urin meregangkan
kalies dan meningkatkan aktivitas pacemaker, yang kemudian

akan memicu

kontraksi peristaltic yang menyebar ke pelvis ginjal dan ke arah bawah di


sepanjang ureter. Dinding ureter terdiri dari otot polos yang dipersarafi oleh saraf

Gambar 6, Vesika Urinaria dan Innervasinya, (Guyton dan Hall, 2006)

simpatis dan parasimpatis. Kontraksi peristaltik pada ureter diperkuat oleh saraf
parasimpatis dan dihambat oleh saraf simpatis. Ureter memasuki kandung kemih
melalui otot detrusor di area trigonum kandung kemih. Tonus norama otot
detrusor di dalam kandung kemih cendrung akan menekan ureter dengan demikian
mencegah aliran balik urin dari kandung kemih ketika terbentuk tekanan dalam
kandung kemih selama mikturisi atau selama kompresi kandung kemih.Setiap
gelombang peristaltic disepanjang ureter meningkatkan tekanan di dalam ureter
sehingga daerah yang menujuh kandung kemih memebuka dan memungkinkan
aliran urin ke dalam kandung kemih.1

3. Embriologi Genitalia Pria


A. Testis
Jika mudigah secara genetik adalah pria, sel gerinativum primordial
membawa kompleks kromosom XY. Di bawah pengaruh gen SRY di
kromosom Y, yang mengode testis determiting factor, korda seks primitive
terus berproliferasi dan menembus dalam ke medula untuk membentuk testis

10

atau korda medularis. Ke arah hilus kelenjar, korda terurai menjadi janin untaiuntai halus sel yang kemudian membentuk tubulus rete testis.
Pada perkembangan lebih lanjut, terbentuk suatu lapisan jaringn ikat
fibrosa padat, tunika albuginea yang memisahkan korda testis dari epitel
permukaan.
Pada bulan ke empat, korda testis menjadi berbentuk tapal kuda, dan

Gambar 7, Pengaruh sel germativum primordial pada gonad indiferen, (Sadler, 2006)
Gambar 8, A. Potongan melintang testis pada minggu ke delapan, B. Testis dan
Duktus Genitalis pada bulan 4, (Sumber: Sadler, 2006)

ujung-ujungnya bersambung dengan ujung-ujung rete testis. Korda testis


sekarang terdiri dari sel germinativum primitif dan sel sustentakular serotoli
yang bersal dari epitel permukaan kelenjar.
Sel interstisial leydig yang berasal dari mesenkim asli gonadal ridge,
terletak antara korda-koda testis. Sel-sel ini mulai

berkembang sesegera

setelah dimulainya diferensiasi korda-korda ini. Pada minggu ke delapan


kehamilan, sel leydig mulai menghasilkan testosteron, dan testis mampu
mempengaruhi diferensiasi seksual duktus genitalis dan genitalia eksterna.
Korda testis tetap soild sampai pubertas, saat korda ini memperoleh
sebuah lumen sehingga membentuk tubulus semineferus. Jika telah mengalami
rekanalisis, tubulus seminiferus menyatu dengan tubulus rete testis yang
selanjutnya akan masuk ke duktuli eferentes.
Duktuli eferentes ini adalah sebagian dari tubulus-tubulus ekskretotik
system mesonefros yang tersisa. Saluran-saluran ini menghubngkan rete testis
dan duktus mesonefrikus atau wollfi yang menjadi duktus deferens.4

11

B. Duktus Genitalis pada pria


Seiring dengan regresi mesonefros, beberapa saluran ekskresi, tubulus
epigenitalis, membentuk kontak dengan korda rete testis dan akhirnya
membentuk duktus eferens testis. Tubulus ekskretorik di sepanjang kutub

Gambar 9, Pengaruh kelenjar seks pada diferensiasi kelamin lebih


lanjut, (Sumber:Sadler, 2006)

kaudal testis, tubulus paragenitalis tidak bergabung dengan korda rete testis.
Sisa dari saluran ini secara ke seluruh di kenal sebagai paradidimis.
Kecuali di bagian paling kranialnya, apendiks epididimis, duktus
mesonefrikus menetap dan mwmbwntuk saluran-saluran genital utama. Tetapi
di bawah muara duktus eferens, duktus mesonefrikus memanjang dan menjadi
sangat berkolok-kelok, membentuk ( duktus duktus ) epididimis. Dari ekor
epididimis ke tonjolan tunas vesikula seminalis, dukus mesonefrikus
memperoleh lapisan otot tebal duktus deften. Region duktu setelah vesikula
seminalis adalah duktus ejakulatorius. Duktus paramesonefrikus pada pria
mengalami degnerasi kecuali sebagian kecil dari ujung kranilanya, apendiks
testis.4

C. Genitalia ekterna
1. Stadium indiferen
Pada minggu ketiga perkembangan, sel-sel mesenkim yang berasal dari
region gais primitive ( primitive streak ) berimegrasi mengeliling
12

membrane kloaklis untuk membentuk tuberkulum genital. Di sebelah


kaudal, lipatan dibagi menjadi lpatan uretra di sebelah anterior dan lipatan
anus di posterior.
Sementara itu, pasangan elevasi lain, penebalan genital( genital
swelling), mulai tampak di kaudal sisi lipatan uretra. Penebalan ini
kemudian di bentuk penebalan skrotum pada pria dan labia mayor pada
wanita. Namun, pada akhir minggu keenam, kedua jenis kelamin mustahil
dibedakan.
2. Genitalia eksterna pada pria

Gambar 10, A,B. stadium indeferen genitalia eksterna; A. sekitar 4


minggu; B. sekitar 6 minggu, C. Pertumbuhan berkelanjutan
tubernakulum genital dan memanjangnya lipatan uretra yang belum
mulai menyatu, (Sadler, 2006)

Perkembangan genitalia ekterna pada pria berada dibawah pengaruh


berbagai androgen yang disekresikan oleh testis dan ditandai oleh
pemanjangan cepat tuberkulum genitale yang disebut phallus (penis).
Selama pemanjangan ini, phallus menarik lipatan uretra kea rah depan
sehingga lipatan lipatan tersebut membentuk dining lateral dari alur
uretra (urethral groove). Alur ini berjalan di sepanjang aspek kaudal
phallus yang telah memanjang tetapi tidak mencapai bagian paling distal,
glans. Lapisan epitel alur yang berasal dari endoderm, membentuk
lempeng uretra.
Pada akhir bulan ketiga, kedua lipatan uretra menutupi lempeng uretra,
membentuk uretra penis. Memanjang hingga ke ujung phallus. Bagian
paling distal uretra terbentuk selama bulan keempat, saat sel-sel ektoderm
dari ujung glans penis menembus ke arah dalam dan membentuk suatu
13

korda epitel pendek. Korda ini kemudian memperoleh lumen sehingga


terbentuklah Ostium uretra eksternum.
Penebalan genitale yang pada pria dikenal sebagai penebalan
skrotum, timbul di regio inguinal. Pada perkembangan selanjutnya, kedua

Gambar 11, A. perkembangan genitalia eksterna pria pada 10 minggu; B. potongan


melintang phallus selama pembentukan uretra penis; C. perkembangan bagian
glandular dari uretra penis, (Sumber:Sadler, 2006)

penebalan ini bergerak ke arah kaudal, dan masing-masing penebalan


kemudian membentuk separuh skrotum. Keduanya dipisahkan oleh septum
skrotum.4

BAB III
PEMBAHASAN
14

A.Skenario
LBM III
KENCING MEREMBES
Seorang ibu membawa anaknya usia 2 bulan dengan keluhan kemaluan bengkok dan
kencingnya merembes, sehingga dokter melakukan pemeriksaan dan ditemukan lubang
saluran kencing berada tidak diujung kemaluan. Ibu pasien menanyakan pada dokter
apakah hal ini berbahaya dan bisa disembuhkan ?

B. Terminologi
1. Hipospadia adalah suatu kelainan bawaan yang letak meatus uretra eksterna (dibagian
permukaan muara atau saluran uretra) terletak lebih ke proksimal yaiu lebih dekat
dengan pangkal di permukaan ventral penis.

C. Permasalahan
1. Mengapa kemaluan anak tersebut bengkok dan kencingnya merembes?
2. Mengapa lubang saluran kencing berada tidak di ujung kemaluan?
3. Apakah hal ini berbahaya dan bisa disembuhkan?

D. Pembahasan
1. Mengapa kemaluan anak tersebut bengkok dan kencingnya merembes?
Sebagian besar anak dengan kelainan hipospadia memiliki bentuk batang
penis yang melengkung. Biasanya di sekitar lubang kencing abnormal tersebut
terbentuk jaringan ikat (fibrosis) yang bersifat menarik dan mengerutkan kulit

15

sekitarnya. Jika dilihat dari samping, penis tampak melengkung seperti kipas
(chordee), bahasa Latin); secara spesifik jaringan parut di sekitar muara saluran
kencing kemudian disebut chordee. Tidak setiap hipospadia memiliki chordee.
Seringkali anak laki-laki dengan hipospadia juga memiliki kelainan berupa testis
yang belum turun sampai ke kantung kemaluannya (undescended testis).2
Hipospadia merupakan kelainan bawaan yang jarang ditemukan, dengan
angka kekerapan 1 kasus hipospadia pada setiap 250-400 kelahiran bayi laki-laki
hidup.2
Kencing merembes, disebabkan oleh letak dari lubang kencing yang berada di
bagian inferior penis. Selain itu, pada bayi laki-laki yang baru berusia di bawah 5
tahun, fungsi dari diafragma pelvis untuk mempertahankan agar kencing tidak
langsung keluar belum maksimal sehingga kencingnya merembes.2
2. Mengapa lubang saluran kencing berada tidak pada ujung kemaluan?
Hipospadia adalah kelainan bawaan lahir pada anak laki-laki, yang dicirikan
dengan letak abnormal lubang kencing tidak di ujung kepala penis seperti
layaknya tetapi berada lebih bawah/lebih pendek.

Letak lubang kencing

abnormal bermacam-macam; dapat terletak pada kepala penis namun tidak tepat
di ujung (hipospadia tipe glanular), pada leher kepala penis (tipe koronal), pada
batang penis (tipe penil), pada perbatasan pangkal penis dan kantung kemaluan
(tipe penoskrotal), bahkan
pada

kantung

kemaluan

(tipe skrotal) atau daerah


antara kantung kemaluan
dan anus (tipe perineal).2
Penyebab
dari
hipospadia sampai saat ini
belum
Gambar 12, Jenis-jenis hipospadia
(Sumber:www.bedahplastik.com/hypospadia.html)

dapat

diijelaskan

secara pasti, namun teoriteori

yang

berkembang

umumnya
kelainan

mengaitkan
ini

dengan

masalah hormonal. Sebuah teori mengungkapkan kelainan ini disebabkan oleh


penghentian prematur perkembangan sel-sel penghasil androgen di dalam testis,
sehingga produksi androgen terhenti dan mengakibatkan maskulinisasi inkomplit
dari alat kelamin luar. Proses ini menyebabkan gangguan pembentukan saluran
16

kencing (uretra), sehingga saluran ini dapat berujung di mana saja sepanjang garis
tengah penis tergantung saat terjadinya gangguan hormonal. Semakin dini
terjadinya gangguan hormonal, maka lubang kencing abnormal akan bermuara
semakin mendekat ke pangkal.2
3. Apakah hal ini berbahaya dan bisa disembuhkan?
Letak lubang kencing yang masih di kepala penis biasanya jarang
menimbulkan keluhan bagi penderita pada usia anak-anak.Keluhan akan timbul
pada kelainan yang lebih berat dan pada usia penderita yang lebih tua.
Kelainan lebih berat yang menimbulkan keluhan, antara lain letak lubang
kencing yang semakin ke arah pangkal penis dan/atau adanya bentuk penis yang
melengkung. Jika kelainan bentuk ini tidak diperbaiki dengan tindakan operasi,
penderita kelak akan mengalami gangguan fungsi berkemih berupa arah dan
pancaran berkemih yang tidak normal. Pada keadaan yang sangat berat, penderita
bahkan tidak dapat berkemih dalam posisi berdiri karena urin keluar merembes
sehingga penderita akan lebih nyaman dalam posisi jongkok.
Masalah yang timbul akan semakin rumit sejalan bertambahnya usia penderita.
Masalah psikologis timbul akibat bentuk penis yang tidak normal dan kebiasaan
berkemih yang tidak lazim seperti anak laki-laki normal yang sebaya. Pada usia
pascapubertas dan pada usiareproduksi, penderita akan mengalami masalah fungsi
reproduksi berkenaan dengan bentuk penis yang melengkung saat ereksi,
kesulitan penetrasi penis saat berhubungan badan dan gangguan pancaran
ejakulasi. Kelainan ini dapat disembuhkan atau diperbaiki melalui cara operasi. 2

BAB IV
PENUTUP

Kesimpulan

17

Jadi, pembentukan struktur genitalia pada masa embrio sangat penting untuk masa
depan seseorang, satu saja kesalahan makan fungsi dari suatu organ tidak akan optimal dan
malah akan mempengaruhi organ lainnya.
Kelainan hipospadia yang dibahas dalam skenario ini memiliki karakteristik yang
khas yaitu terdapatnya lubang kencing di bagian inferior penis, kemaluan yang bengkok dan
juga kencing merembes. Kelainan ini dipengaruhi oleh berbagai macam faktor dan juga bisa
diperbaiki melalui jalan operasi atau pembedahan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Arthur C. Guyton dan John E.Hall. 2006. Buku Ajar Fisiologi Kedokteran.
Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC (hlm. 326, 327, 329)
2. Horton C E, Sadove R, Devine C J et al. Hypospadias, epispadias and Extrophy of the
Bladder. Chapter 54. (hlm 1337 1348)
18

3. Purnomo, B. Basuki. 2009. Dasar-dasar Urologi, Edisi Kedua. Jakarta:CV. Sagung


Seto Jakarta (hlm. 06, 13)
4. Sadler ,T.W. 2010. Langman Embriologi Kedokteran, Edisi 12.Jakarta:Penerbit Buku
Kedokteran EGC (hlm. 284 - 292, 298 - 299, )
5. Snell, Richard S. 2000. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran, Edisi 6.
Jakarta:Penerbit Buku Kedokteran EGC (hlm. 345 - 347)

19