Anda di halaman 1dari 23

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa karena hanya
atas rahmat dan petunjuk-Nya kami dapat menyelesaikan tugas mata kuliah
Pembiayaan Pendidikan, berupa makalah yang berjudul Pendidikan sebagai
Investasi Jangka Panjang, dengan dosen pengampu Dr. Bonardo Hutauruk Ak,
MM.
Sumber dari makalah ini berupa informasi yang didapat dari buku-buku
sumber yang relevan dengan pembahasan pada makalah . disusunnya makalah ini,
selain untuk memenuhi tugas mata kuliah, juga sebagai bahan kajian dan wawasan
bagi siapapun yang memerlukannya, khususnya bagi penyusun sendiri.
Kami menyadari makalah yang kami buat ini masih jauh dari sempurna, oleh
karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini.
Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah
berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir. Semoga
bermanfaat bagi kita semua. Amiin

Penyusun

MAKALAH

Konsep Dan Implementasi Pajak dalam Pendidikan


Disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pembiayaan Pendidikan

Dosen: Dr. Bonardo Hutauruk, AK. MM

Disusun oleh:
Andi Bakhtiar Fransiska

761612895

Indah Herawati

761612901

M. Nanang Nugroho

76161209

PROGRAM STUDI MANAJEMEN PENDIDIKAN


PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
2013
BAB I
PENDAHULUAN

Dalam berbagai aktivitas kehidupan manusia, pajak selalu terkait di


dalamnya. Pernyataan tersebut sangat relevan jika dikaitkan dengan Undangundang tentang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP) yang baru saja disahkan oleh
DPR. Banyak pihak menganggap bahwa dengan lahirnya UU BHP tersebut biaya
pendidikan semakin mahal dan semakin tidak terjangkau oleh masyarakat. Negara
dituding

menghindar

dari

kewajiban

konstitusional

di

bidang

pendidikan,

sebagaimana diatur dalam Pasal 31 UUD 1945. Kekuatiran dan tudingan tersebut
muncul karena negara mempersilahkan penyelenggara pendidikan untuk mendanai
kegiatannya secara mandiri melalui pendirian badan hukum pendidikan.
Akan tetapi, perlu diperhatikan juga bahwa badan hukum pendidikan
dimaksud harus didasarkan pada prinsip nirlaba, yaitu tidak didasarkan atas
motivasi untuk mencari keuntungan bagi pemilik modal. Hal ini dikarenakan, laba
yang diperoleh harus diinvestasikan kembali ke dalam badan hukum pendidikan
untuk meningkatkan layanan mutu pendidikan, seperti yang dinyatakan dalam
Pasal 4 UU BHP.
Ditengah

perdebatan

yang

mempertanyakan

peran

negara

dalam

mengucurkan anggarannya di bidang pendidikan (yang anggarannya juga berasal


dari pajak), bagaimana instrumen pajak dapat ikut memberikan iklim kondusif
dalam dunia pendidikan agar biaya pendidikan dapat relatif lebih murah dan
terjangkau, serta mengingat badan hukum pendidikan didasarkan pada prinsip
nirlaba, maka topik yang dibahas dalam makalah ini adalah Konsep Dan
Implementasi Pajak dalam Pendidikan

B. Masalah
1. Bagaimana kosep dan fungsi pajak di Indonesia.
2. Bagaimana perpajakan dalam nirlaba dan institusi pendidikan

3. Bagaimana peran pajak dalam pendidikan


C. Tujuan
1. Memahami konsep dan fungsi pajak di Indonesia
2. Memahami perpajakan dalam nirlaba dan institusi pendidikan
3. Memahami peran pajak dalam pendidikan

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Konsep Pajak
Pajak adalah iuran rakyat kepada kas negara berdasarkan undang-undang
(sehingga dapat dipaksakan) dengan tiada mendapat balas jasa secara langsung.
Pajak dipungut berdasarkan norma-norma hukum guna menutup biaya produksi
barang-barang dan jasa kolektif untuk mencapai kesejahteraan umum.
Jadi, Pajak merupakan hak prerogatif pemerintah, iuran wajib yang dipungut
oleh pemerintah dari masyarakat (wajib pajak) untuk menutupi pengeluaran rutin
negara dan biaya pembangunan tanpa balas jasa yang dapat ditunjuk secara
langsung berdasarkan undang-undang.
Ada bermacam-macam batasan atau definisi tentang pajak menurut para
ahli diantaranya adalah :
1. Prof. Dr. P. J. A. Adriani : pajak adalah iuran masrayakat kepada negara
(yang dapat dipaksakan) yang terutang oleh yang wajib membayararnya
menurut

peraturan-peraturan

umum

(undang-undang)

dengan

tidak

mendapat prestasi kembali yang langsung dapat ditunjuk dan yang gunanya
adalah untuk membiayai pengeluaran-pengeluaran umum berhubung tugastugas negara untuk menyelenggarakan pemerintahan.
2. Prof. Dr. H. Rochmat Soemitro SH. : pajak adalah iuran rakyat kepada kas
negara berdasarkan undang-undang (yang dapat dipaksakan) dengan tidak
m

ccendapat jasa timbal yang langsung dapat ditunjukan dan yang

digunakan untuk membayar pengeluaran umum.


3. Sommerfeld Ray M. Anderson Herschel M. & Brock Horace R. : Pajak
adalah suatu pengalihan sumber dari sektor swasta ke sektor pemerintah,
bukan akibat pelanggaran hukum, namun wajib dilaksanakan, berdasarkan
ketentuan yang sudah ditentukan dan tanpa mendapat imbalan yang
langsung dan proporsional, agar pemerintah dapat melaksanakan tugastugasnya untuk menjalankan pemerintahan.
4. Smeets : Pajak adalah prestasi kepada pemerintah yang terhutang melalui
norma-norma umum dan dapat dipaksakan tanpa adanya kontraprestasi
yang dapat ditunjukan dalam hak individual untuk membiayai pengeluaran
pemerintah

5. Suparman Sumawidjaya : pajak adalah iuran wajib berupa barang yang


dipungut oleh penguasa berdasarkan norma hukum, guna menutup biaya
produksi barang dan jasa kolektif dalam mencapai kesejahteraan umum.
Lima unsur pokok dalam definisi pajak pajak adalah :
1.
2.
3.
4.
5.

Iuran/pungutan dari rakyat kepada negara


Pajak dipungut berdasarkan undang undang
Pajak dapat dipaksakan
Tanpa jasa timbal atau kontraprestasi
Digunakan untuk membiayai rumah tangga negara (pengeluaran umum
pemerintah)
Ciri-ciri Pajak yang terdapat dalam pengertian pajak antara lain sebagai

berikut1 :
1. Pajak dipungut oleh negara, baik oleh pemerintah pusat maupun oleh
pemerintah
2.

daerah

berdasarkan

atas

undang-undang

serta

aturan

pelaksanaannya.
Pemungutan pajak mengisyaratkan adanya alih dana (sumber daya) dari
sektor swasta (wajib pajak membayar pajak) ke sektor negara (pemungut

pajak/administrator pajak).
3. Pemungutan pajak diperuntukan bagi keperluan pembiayaan umum
pemerintah dalam rangka menjalankan fungsi pemerintahan, baik rutin
maupun pembangunan.
4. Tidak dapat ditunjukan adanya imbalan (kontraprestasi) individual oleh
pemerintah terhadap pembayaran pajak yang dilakukan oleh para wajib
pajak.
5. Berfungsi sebagai budgeter atau mengisi kas negara/anggaran negara yang
diperlukan untuk menutup pembiayaan penyelenggaraan pemerintahan,
pajak juga berfungsi sebagai alat untuk mengatur atau melaksanakan
kebijakan negara dalam lapangan ekonomi dan sosial (fungsi mengatur /
regulatif).
c. Fungsi fungsi pajak

http://maksumpriangga.com/pengertian-dasar-dan-ciri-ciri-pajak-definisi-pajak.html

Manfaat pokok atau kegunaaan pokok dari pajak itu sendiri mempunyai peranan
yang sangat penting untuk kehidupan bernegara, karena pajak merupakan sumber
pendapatan negara dan pajak akan di gunakan untuk membiayai APBN, maka
beberapa fungsi pajak antara lain2 :
1. Fungsi Stabilitas, Pajak memberi kesempatan pada pemerintah untuk
dapat menjalankan kebijakan yang berhubungan dengan stabilitas harga
sehingga dapat mengendalikan laju inflasi. Fungsi stabilitas ini dapat
berjalan dengan cara mengatur peredaran uang di masyarakat, pemungutan
pajak, dan penggunaan pajak seefisien mungkin.
2. Fungsi Anggaran (budgertair), kegunaan pajak sebagai alat untuk
memasukan dana secara optimal ke kas negara berdasarkan undangundang perpajakan yang berlaku, jadi pajak berfungsi untuk membiayai
pengeluaran-pengeluaran negara terkait proses pemerintahan.
3. Fungsu mengatur (regulerend), yaitu suatu fungsi dimana pajak
diperguanakan oleh pemerintah sebagai alat untuk mencapai tujuan tertentu,
dan merupakan fungsi tambahan, jadi sebagai pelengkap dari fungsi utama
pajak.
4. Fungsi retribusi pendapatan, yaitu pajak yang sudah dipungut oleh
negara akan digunakan untuk membiayai semua kepentingan umum,
termasuk untuk membiayai pembangunan.

pajak terbagi menjadi dua bagian yang menerangkan dimana pajak itu di
jalankan prosedurnya oleh pemerintah antara lain :
1. Pajak Langsung

http://maksumpriangga.com/fungsi-fungsi-dasar-pajak.html

Pajak langsung adalah pajak yang dikenakan kepada wajib pajak setelah muncul
atau terbit Surat Pemberitahuan / SPT Pajak atau Kohir yang dikenakan
berulang-ulang kali dalam jangka waktu tertentu. Contoh dari pajak langsung
adalah pajak penghasilan (PPh), pajak bumi dan bangunan (PBB), pajak
penerangan jalan, pajak kendaraan bermotor, dan lain sebagainya. 3
2. Pajak Tidak Langsung
Pajak tidak langsung adalah pajak yang dikenakan kepada wajib pajak pada saat
tertentu / terjadi suatu peristiwa kena pajak seperti misalnya pajak pertambahan
nilai (PPN), pajak bea balik nama kendaraan bermotor (BBNKB), dan lain-lain.
Tarif dan Objek Pajak
.1. Sebesar 15% dari jumlah bruto atas :
a. dividen, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Ayat (1) huruf "g" Undangundang PPh;
b. bunga, sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 Ayat (1) huruf "f";
c. royalti;
d. hadiah dan penghargaan selain yang telah dipotong Pajak Penghasilan
Pasal 21 Ayat (1) huruf "e" Undang-undang PPh.
Hadiah dan penghargaan yang dipotong Pajak Penghasilan 21 adalah
hadiah dan penghargaan dalam bentuk apa pun yang diterima atau
diperoleh Wajib Pajak orang pribadi dalam negeri berkenaan dengan
suatu kegiatan yang diselenggarakan, misalkan kegiatan olah raga,
keagamaan, kesenian, dan kegiatan lainnya.
Adapun hadiah dan penghargaan yang dipotong Pajak Penghasilan 23
adalah hadiah dan penghargaan dalam bentuk apapun yang diterima
atau diperolehWajib Pajak badan dalam negeri berkenaan dengan suatu
kegiatan yang diselenggarakan.
2.

Sebesar 15% dari jumlah bruto dan bersifat final atas bunga simpanan yang
dibayarkan oleh koperasi.

3. Sebesar 15% dari perkiraan penghasilan neto atas :


a. sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan penggunaan harta,
kecuali sewa dan penghasilan lain sehubungan dengan persewaan tanah
dan atau bangunan yang dikenakan PPh yang bersifat final berdasarkan
3

http://organisasi.org/pengertian-pajak-langsung-dan-pajak-tidak-langsung-arti-definisi-istilahekonomi-dasar-perpajakan

Peraturan Pemerintah Nomor 29 Tahun 1996;


b. imbalan sehubungan dengan jasa teknik, jasa manajemen, jasa konsultan
hukum, jasa konsultan pajak, dan jasa lain sebagaimana dimaksud dalam
Pasal 23 Ayat (1) huruf "c" Undang-undang Pajak Penghasilan, yang
dilakukan oleh Wajib Pajak Dalam Negeri atau Bentuk Usaha Tetap selain
jasa yang telah dipotong Pajak Penghasilan Pasal 21 4.

3. Pemajakan atas Organisasi Nirlaba


Hal yang umum sering dipahami bahwa organisasi nirlaba adalah suatu
organisasi yang bebas pajak (Tax Exeption), namun prinsipnya organisasi ini bukan
suatu organisasi yang memiliki kekebalan terhadap kewajiban pembayaran pajak,
hal ini bukan hanya di negara kita namun juga di negara-negara lain dimana tidak
memberi

pengecualian

kepada

organisasi

nirlaba

maupun

para

penggiat/pekerjanya sebagai wajib pajak. Pemerintah hanya memberikan fasilitas


pengecualian sebagai objek pajak pada penghasilan yang didapat oleh organisasi
nirlaba dalam bentuk hibah, sumbangan, maupun warisan.
Pada dasarnya, organisasi nirlaba dapat diklasifikasikan berdasarkan dua
model, yaitu (i) tidak diperkenankan untuk membagikan laba yang diperolehnya
(the prohibition of profit distribution model), dan (ii) bertujuan untuk kepentingan
publik atau sosial (the public purpose model). Pendirian organisasi nirlaba
dimaksudkan untuk menjalankan fungsi sosial atau memproduksi barang dan jasa
publik yang sifatnya tidak memberikan keuntungan secara finansial. Oleh karena
sifatnya yang tidak memberikan keuntungan maka tidak mungkin sektor swasta,
yang berorientasi mencari keuntungan, mau menyediakan barang publik. Oleh
karena itu, pemerintahlah yang harus menyediakannya. Akan tetapi, dapat saja
terjadi pemerintah tidak mampu menyediakan seluruh atau sebagian barang atau
jasa

publik

yang

diperlukan

masyarakat,

sehingga

sektor swasta

dapat

menggantikan peran pemerintah. Tentu saja sektor swasta bersedia menyediakan


barang atau jasa publik jika mendapatkan keuntungan yang layak.
4. Pemajakan atas Institusi Pendidikan Nirlaba di Beberapa Negara

http://www.pajak.net/info/PPh23.htm

Terdapat tiga model sistem perpajakan atas organisasi nirlaba yang


dikembangkan di beberapa negara, yaitu 5
1. Organisasi nirlaba akan dikenakan pajak sama dengan organisasi yang
berorientasi laba (full taxation model).
2. Penghasilan yang diperoleh oleh organisasi nirlaba dikecualikan dari
pengenaan pajak (full exemption model).
3. Pengenaan pajak secara parsial (partial exemption model) yang dapat
dilakukan seperti dengan cara:

Pengurangan tarif pajak (misalnya dianut oleh Italia yang memberikan


pengurangan tarif pajak sebesar 50% dari tarif normal).

Atas penghasilan tertentu dikecualikan dari pengenaan pajak.

Model partial exemption inilah yang paling banyak dianut oleh negara-negara di
dunia. Sebagai perbandingan, di India, berdasarkan Income Tax Act 1961,
memberikan pembebasan pajak secara otomatis atas penghasilan yang diterima
dari universitas atau institusi pendidikan yang tidak bertujuan untuk mencari laba
sepanjang organisasi tersebut mengakumulasi laba sesuai dengan tujuan semula
didirikannya organisasi tersebut.

5.

Perpajakan atas Institusi Pendidikan di Indonesia


Secara garis besar, ketentuan perpajakan atas organisasi pendidikan di

Indonesia antara lain sebagai berikut ini 7:


5

David Gliksberg, General Report of the Taxation of Non-Profit Organizations, International Fiscal
Association (IFA), 1999, hal. 35.
6

Milton Cerny & Marva J Rowan, Indian Tax Law Create Potential for Nonprofits, Tax Notes
International, 2004, hal. 725.
7

1.

Dari sisi badan hukum pendidikan:


a. Pajak Penghasilan (PPh) Badan
Laba yang diperoleh oleh organisasi yang menyelenggarakan pendidikan
formal, yang diinvestasikan kembali dalam bentuk pembangunan gedung
dan prasarana pendidikan, tidak dikenakan PPh. Akan tetapi, apabila laba
tersebut setelah lewat dari 4 (empat) tahun, tidak digunakan untuk
membangun gedung dan prasarana pendidikan maka akan dikenakan pajak
penghasilan pada tahun pajak berikutnya setelah lewat jangka waktu 4
(empat) tahun tersebut (Peraturan Menteri Keuangan (PMK)-87/PJ./1995,
Pasal 4 ayat (3) huruf m UU PPh, serta ditegaskan juga dalam Pasal 38 ayat
(4) UU BHP).
b. Pajak Pertambahan Nilai (PPN)

Atas jasa pendidikan yang diberikan tidak dikenakan PPN (Pasal 5 PP No.
144 tahun 2000). Akan tetapi, untuk pembangunan gedung untuk proses
belajar mengajar, baik yang dibangun sendiri (Pasal 16C UU PPN), atau
melalui kontraktor tetap dikenakan PPN

(PP No. 146 tahun 2000

sebagaimana telah diubah dengan PP No. 38 tahun 2003).


Atas impor dan penyerahan buku pelajaran, dibebaskan dari pengenaan
PPN (PP No. 146 tahun 2000 sebagaimana telah diubah dengan PP No. 38

tahun 2003).
Dari sisi donatur
Sumbangan fasilitas penelitian dan pengembangan yang dilakukan di
Indonesia (Pasal 6 ayat (1) huruf j UU PPh), serta pendidikan (Pasal 6 ayat
(1) huruf l UU PPh) dapat dibebankan sebagai pengurang penghasilan kena
pajak bagi si pemberi sumbangan.
Dari beberapa contoh peraturan pajak di atas, tampak bahwa pemerintah

telah memberikan fasilitas keringanan pajak atas badan hukum pendidikan. Dalam
kaitannya dengan pemajakan atas laba dari badan hukum pendidikan, pengenaan
pajak atas laba tersebut hanya akan dikenakan pajak jika tidak dipergunakan untuk
membangun sarana dan prasarana pendidikan dalam kurun waktu 4 (empat) tahun.
Akan tetapi, terkait dengan PPN, berdasarkan ketentuan di atas, apabila
badan hukum pendidikan melakukan pembangunan gedung pendidikan, akan

terkena PPN yang tidak dapat direstitusi. Tentu PPN yang tidak dapat direstitusi ini
akan menjadi biaya, yang pembebanannya dapat saja digeser kepada para peserta
didik. Lebih lanjut Bagi penyelenggara kegiatan yang berbentuk badan usaha atau
yayasan/organisasi nirlaba yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau
penelitian dan pengembangan perlu merenungkan sedikit fasilitas yang terdapat
dalam pasal 4 ayat (3) huruf m UU Nomor 36 tahun 2008 tentang perubahan
keempat atas UU Nomor 7 tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan (UU PPh). Yang
berbunyi : sisa lebih yang diterima atau diperoleh badan atau lembaga nirlaba
yang bergerak dalam bidang pendidikan dan/atau bidang penelitian dan
pengembangan, yang telah terdaftar pada instansi yang membidanginya, yang
ditanamkan kembali dalam bentuk sarana dan prasarana kegiatan pendidikan
dan/atau penelitian dan pengembangan, dalam jangka waktu paling lama 4 (empat)
tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut, yang ketentuannya diatur lebih lanjut
dengan atau berdasarkan Peraturan Menteri Keuangan; . Atas ketentuan
pelaksanaan ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan nomor 80/PMK.03/2009.
Fasilitas ini pada awalnya di atur dalam Keputusan Dirjen Pajak Nomor KEP87/PJ./1995 tentang Pengakuan penghasilan dan biaya atas dana pembangunan
gedung dan prasarana pendidikan bagi yayasan atau organisasi yang sejenis yang
bergerak di bidang pendidikan.
Pengertian Sisa Lebih
Adalah selisih dari seluruh penerimaan yang merupakan objek Pajak Penghasilan
selain penghasilan yang dikenakan Pajak Penghasilan tersendiri, dikurangi dengan
pengeluaran untuk biaya operasional sehari-hari badan atau lembaga nirlaba.
Sisa lebih yang diperoleh badan atau lembaga nirlaba atau Yayasan yang
ditanamkan kembali dalam bentuk pembangunan dan pengadaan sarana dan
prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan yang
diselenggarakan bersifat terbuka kepada pihak manapun dan telah mendapat
pengesahan dari instansi yang membidanginya, dalam jangka waktu paling lama 4
(empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut dikecualikan sebagai objek
Pajak Penghasilan.

Badan atau lembaga nirlaba sebagaimana dimaksud wajib menyampaikan


pemberitahuan

mengenai

rencana

fisik

sederhana

dan

rencana

biaya

pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana kegiatan pendidikan dan/atau


penelitian dan pengembangan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak tempat
Wajib Pajak terdaftar dengan tindasan kepada instansi yang membidanginya.
Pemberitahuan

disampaikan

bersamaan

dengan

penyampaian

Surat

Pemberitahuan Tahunan (SPT) Pajak Penghasilan tahun pajak diperolehnya sisa


lebih tersebut atau paling lama sebelum pembangunan dan pengadaan sarana dan
prasarana kegiatan pendidikan dan/atau penelitian dan pengembangan dimulai,
dalam jangka waktu 4 (empat) tahun sejak diperolehnya sisa lebih tersebut.
Pelaksanaan Pemanfaatan Fasilitas
1. Atas jenis perusahaan ini segera menanamkan kembali dengan melakukan
pengembangan

pembangunan

gedung

sebagai

sarana

infrastruktur

pendukung pendidikan dan penelitian. Dalam pembangunan terdapat 2 (dua)


opsi yaitu menggunakan kontraktor atau Kegiatan membangun sendiri. Jika
menggunakan kontraktor akan dikenakan PPN 10% yang tidak bisa
dikreditkan (Karena Organisiasi ini bukan PKP) namun dapat dikapitalisasi
sebagai nilai perolehan. Atau dengan Kegiatan Membangun Sendiri dimana
tarif yang dikenakan hanya 4% (Tarif 10% dikalikan DPP sebesar 40%)
artinya terdapat penghematan pembayaran PPN sebesar 6%.
2. Pemahaman atas biaya-biaya yang diperkenankan untuk dikurangkan dari
penghasilan bruto (deductible) sebagaimana diatur dalam SE-39/PJ.4/1995
tentang Penyuluhan tentang perlakuan pajak penghasilan bagi yayasan
atau organisasi yang sejenis, pada butir 4, antara lain berupa:
1. Gaji/tunjangan/honorarium pimpinan/dosen/pengajar/karyawan;
2. Biaya umum/administrasi/alat tulis menulis kantor;
3. Biaya publikasi/iklan;
4. Biaya kendaraan;
5. Biaya kemahasiswaan;

6. Biaya ujian semester;


7. Biaya sewa gedung & utilities (listrik, telepon, air);
8. Biaya laboratorium;
9. Biaya penyelenggaraan asrama;
10. Bunga bank dan biaya-biaya bank lainnya;
11. Biaya pemeliharaan kampus;
12. Biaya penyusutan;
13. Kerugian karena penjualan/pengalihan harta;
14. Biaya penelitian dan pengembangan;
15. Biaya bea siswa dan pelatihan dosen/pengajar/karyawan;
16. Biaya pembelian buku perpustakaan dan alat-alat olah raga & peraga;
17. Subsidi/bea siswa bagi siswa yang kurang mampu;
18. Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) bagi yang terkena.3.
3. Meminimalkan beban pajak dengan meningkatkan kepatuhan administrasi
perpajakan

yang

didukung

dengan

tertibnya

penegakan

disiplin

anggaran/pendanaan untuk menghindari pengenaan sanksi perpajakan,


serta pelaporan penyelenggaraan pembangunan gedung dan prasarana
pendidikan kepada KPP setempat dengan tindasan kepada Dirjen
Pendidikan yang ditunjuk.
Pemerintah menyadari bahwa bidang pendidikan, penelitian dan pengembangan
adalah bertujuan dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana
diamanatkan dalam Pembukaan UUD 1945 oleh karena itu adalah hal yang wajar
jika diberikan fasilitas/kemudahan-kemudahan.
d. Peran pajak dalam pendidikan

Ditengah keraguan masyarakat akan peranan pajak dalam memajukan


pendidikan di Indonesia, sebenarnya pemerintah telah memberikan keringanan
pajak terhadap institusi pendidikan. Hal ini mengingat pentingnya pendidikan bagi
kemajuan bangsa dan masih terbatasnya anggaran negara untuk bidang
pendidikan.
Dalam

peranannya

tersebut,

pemerintah

memberikan

insentif

bagi

organisasi nirlaba yang menginvestasikan penghasilan yang diperolehnya pada


pengembangan dunia pendidikan. Terhadap laba yang diperoleh oleh organisasi
pendidikan tersebut yang diinvestasikan kembali dalam bentuk sarana dan
prasarana pendidikan, tidak dikenakan Pajak Penghasilan (PPh). Artinya, apabila
organisasi pendidikan tersebut mendapatkan laba, laba yang seharusnya
dikenakan pajak (PPh) tidak akan dikenakan PPh jika laba tersebut ditanamkan
kembali dalam bentuk sarana dan prasarana. Pemerintah memberikan jangka
waktu selama 4 (empat) tahun sejak laba tersebut diperoleh, untuk ditanamkan
kembali.
Akan tetapi, setelah lewat dari 4 (empat) tahun laba tersebut tidak digunakan
untuk membangun sarana dan prasarana pendidikan maka akan dikenakan pajak
penghasilan pada tahun pajak berikutnya setelah lewat jangka waktu 4 (empat)
tahun tersebut. Hal ini sebagaimana diatur dalam Pasal 4 ayat (3) huruf m UndangUndang Nomor 7 Tahun 1983 tentang Pajak Penghasilan sebagaimana telah
beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2008 (UU
PPh). Selanjutnya

dasar pelaksanaannya

diatur melalui Peraturan Menteri

Keuangan Nomor 80/PMK.03/2009 tentang Sisa Lebih yang Diterima atau


Diperoleh Badan Lembaga atau Nirlaba yang Bergerak dalam Bidang Pendidikan
dan/atau Bidang Penelitian dan Pengembangan yang Dikecualikan dari Objek
Pajak Penghasilan. Petunjuk teknisnya diatur dalam Peraturan Dirjen Pajak Nomor
PER-44/PJ./2009 tentang Pelaksanaan Pengakuan Sisa Lebih yang Diterima atau
Diperoleh Badan atau Lembaga Nirlaba yang Bergerak dalam Bidang Pendidikan
dan/atau Bidang Penelitian danPengembangan yang Dikecualikan dari Objek Pajak
Penghasilan. Sementara itu, sarana dan prasarana pendidikan tersebut meliputi
sebagai berikut:

1. Pembelian atau pembangunan gedung dan prasarana pendidikan, penelitian


dan

pengembangan

termasuk

pembelian

tanah

sebagai

lokasi

pembangunan gedung dan prasarana tersebut;


2. Pengadaan sarana dan prasarana kantor, laboratorium dan perpustakaan;
3. Pembelian/pembangunan asrama mahasiswa, rumah dinas guru, dosen
atau karyawan, dan
4. Sarana prasarana olahraga, sepanjang berada di lingkungan/lokasi lembaga
pendidikan formal.
Sebagai ilustrasi, jika sebuah organisasi nirlaba yang menyelenggarakan
pendidikan tersebut mencatatkan laba sebesar Rp 10 miliar pada tahun 2011,
organisasi tersebut dapat menggunakan fasilitas pajak yaitu yang seharusnya pada
tahun 2011 dikenakan PPh sebesar Rp 2,5 miliar (25% x Rp 10 miliar) tetapi tidak
akan dikenakan PPh jika organisasi tersebut menggunakan laba sebesar Rp 10
miliar tersebut dalam jangka waktu 4 tahun untuk menambah bangunan kelas atau
menambah buku perpustakaan. Artinya, organisasi nirlaba yang menyelenggarakan
pendidikan tersebut terbebas dari tagihan PPh. Namun, jika sampai dengan tahun
2015 (4 tahun setelah 2011) laba tersebut tidak digunakan semuanya, maka laba
tersebut akan dikenakan PPh.
Adapun badan nirlaba yang menyelenggarakan pendidikan tersebut wajib
menyampaikan pemberitahuan mengenai rencana fisik sederhana dan rencana
biaya pembangunan dan pengadaan sarana dan prasarana kegiatan pendidikan
dan/atau penelitian dan pengembangan kepada Kepala Kantor Pelayanan Pajak
tempat badan nirlaba tersebut terdaftar dengan tindasan kepada instansi yang
membidanginya.
Selain

insentif

tersebut,

pemerintah

memiliki

peranan

lain

dalam

pengembangan dunia pendidikan, terhadap sumbangan dari pihak ketiga yang


langsung digunakan untuk investasi di bidang pendidikan sebagaimana diatur
dalam Pasal 6 ayat (1) huruf j dan huruf l UU PPh. Dalam UU PPh diatur bahwa
terhadap Wajib Pajak yang memberikan sumbangan dalam rangka penelitian dan
pengembangan yang dilakukan di Indonesia serta sumbangan fasilitas pendidikan
maka sumbangan tersebut menjadi biaya yang dapat mengurangi penghasilan

kena pajak Wajib Pajak tersebut sesuai dengan persyaratan dalam Peraturan
Pemerintah Nomor 93 Tahun 2010 tentang Sumbangan Penanggulangan Bencana
Nasional, Sumbangan Penelitian dan Pengembangan, Sumbangan Fasilitas
Pendidikan,

Sumbangan

Pembinaan

Olahraga,

dan

Biaya

Pembangunan

Infrastruktur Sosial yang Dapat Dikurangkan dari Penghasilan Bruto.


Insentif pemerintah yang lain di bidang pendidikan adalah dalam rangka
pemberian beasiswa. Penerima beasiswa yang mengikuti pendidikan formal
dan/atau pendidikan nonformal di dalam negeri dan/atau di luar negeri dikecualikan
dari objek PPh. Hal ini diatur dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor
246/PMK.03/2008 tentang

Beasiswa

yang

Dikecualikan

dari

Objek

Pajak

Penghasilan sebagaimana telah diubah dengan Peraturan Menteri Keuangan


Nomor 154/PMK.03/2009.
Adapun lebih lanjut diatur bahwa komponen beasiswa tersebut terdiri dari
biaya pendidikan yang dibayarkan ke sekolah (tuition fee), biaya ujian dan biaya
penelitian yang berkaitan dengan bidang studi yang diambil. Selain itu, komponen
tersebut juga dapat berupa biaya untuk pembelian buku dan/atau biaya hidup yang
wajar sesuai dengan daerah lokasi tempat belajar. Sementara itu, bagi perusahaan
pemberi beasiswa, biaya pemberian beasiswa sesuai Pasal 6 ayat (1) huruf g UU
PPh, dapat dibebankan sebagai biaya dengan memperhatikan kewajarannya.
e. Ketentuan pajak penggunaan dana BOS
Ketentuan peraturan perpajakan dalam penggunaan dana BOS diatur sebagai
berikut.
1. Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOS untuk
pembelian ATK/bahan/penggandaan dan lain-lain pada kegiatan penerimaan siswa
baru; kesiswaan; ulangan harian, ulangan umum, ujian sekolah dan laporan hasil
belajar siswa; pembelian bahan-bahan habis pakai, seperti buku tulis, kapur tulis,
pensil dan bahan praktikum; pengembangan profesi guru;
pembelian bahan-bahan untuk perawatan/perbaikan ringan gedung sekolah
a. Bagi bendaharawan/pengelola dana BOS pada Sekolah Negeri ataspenggunaan
dana BOS sebagaimana tersebut di atas adalah:
i.

Tidak perlu memungut PPh Pasal 22 sebesar 1,5%1

ii.

Memungut dan menyetor PPN sebesar 10% untuk nilai pembelian lebih dari Rp
1.000.000,- (satu juta rupiah) atas penyerahan Barang Kena Pajak dan atau
Jasa Kena Pajak oleh Pengusaha Kena Pajak Rekanan Pemerintah. Namun
untuk nilai pembelian ditambah PPNnya jumlahnya tidak melebihi Rp
1.000.000,- (satu juta rupiah) dan bukan merupakan pembayaran yang
dipecah-pecah, PPN yang terutang dipungut dan disetor oleh Pengusaha Kena
Pajak Rekanan Pemerintah sesuai dengan ketentuan yang berlaku umum2.
Pemungut PPN dalam hal ini bendaharawan pemerintah tidak perlu memungut
PPN atas pembelian barang dan atau jasa yang dilakukan oleh bukan
Pengusaha Kena Pajak (PKP)8. bukan merupakan pembayaran yang dipecahpecah, PPN yang terutang dipungut dan disetor oleh Pengusaha Kena Pajak
Rekanan Pemerintah sesuai dengan ketentuan yang berlaku umum2.
Pemungut PPN dalam hal ini bendaharawan pemerintah tidak perlu memungut
PPN atas pembelian barang dan atau jasa yang dilakukan oleh bukan
Pengusaha Kena Pajak (PKP)9.

b. Bagi bendaharawan/pengelola dana BOS pada Sekolah bukan negeri adalah


tidak termasuk bendaharawan pemerintah sehingga tidak termasuk sebagai
pihak yang ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22 dan atau PPN. Dengan
demikian kewajiban perpajakan bagi bendaharawan/ pengelola dana BOS pada
Sekolah Bukan Negeri yang terkait atas penggunaan dana BOS untuk belanja
barang sebagaimana tersebut diatas adalah:
i. Tidak mempunyai kewajiban memungut PPh Pasal 22, karena tidak
termasuk sebagai pihak yang ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal 22.
ii. Membayar PPN yang dipungut oleh pihak penjual (Pengusaha KenaPajak).

Peraturan Menteri Keuangan nomor 154/PMK.03/2010 tanggal 31 agustus 2010 tentang


Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 sehubungan dengan pembayaran atas penyerahan
barang dan kegiatan di bidang impor atau kegiatan usaha di bidang lain pasal 3 butir (1).

Undang-undang Republik Indonesia nomor 8 tahun 1983 terakhir dengan Undang-undang


nomor 42 tahun 2009 tentang Perubahan ketiga atas Undang Undang nomor 8 tahun 1983
tentang PPN barang dan jasa dan PPnBM serta KMK/563/2003 tentang penunjukkan
bendaharawan pemerintah untuk memnungut, menyetor, dan melaporkan PPN dan PPnBM
beserta tata cara pemungutan, penyetoran dan pelaporannya. 3 Keputusan Direktur Jenderal
Pajak nomor KEP-382/PJ/2002 tentang pedoman pelaksanaan pemungutan, penyetoran dan
pelaporan PPN dan PPNBm bagi pemungut PPN dan Pengusaha Kena Pajak Rekanan

2. Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOS untuk


pembelian/penggandaan buku teks pelajarandan/atau mengganti buku teks
yang sudah rusak.
a. Bagi bendaharawan/pengelola dana BOS pada sekolah negeri atas
penggunaan dana BOS untuk pembelian/penggandaan buku teks pelajaran
dan/atau mengganti buku teks yang sudah rusak adalah:
i.

Atas pembelian buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku


pelajaran agama, tidak perlu memungut PPh Pasal 22 sebesar
1,5%1.

ii.

Atas pembelian buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku


pelajaran agama, PPN yang terutang dibebaskan. iii. Memungut dan
menyetor PPN sebesar 10% untuk nilai pembelian lebih dari Rp
1.000.000,- (satu juta rupiah) atas penyerahan Barang Kena Pajak
berupa buku-buku yang bukan buku pelajaran umum, kitab suci dan
buku-buku pelajaran agama. Namun untuk nilai pembelian ditambah
PPN-nya jumlahnya tidak melebihi Rp 1.000.000,- (satu juta rupiah)
dan bukan merupakan pembayaran yang dipecah-pecah, PPN yang
terutang dipungut dan disetor oleh Pengusaha Kena Pajak Rekanan
Pemerintah.

b. Bendaharawan/pengelola dana BOS pada Sekolah Bukan Negeri adalah


tidak termasuk bendaharawan pemerintah sehingga tidak termasuk
sebagai pihak yang ditunjuk sebagai Pemungut PPh Pasal 22 dan atau
PPN. Dengan demikian kewajiban perpajakan bagi bendaharawan/
pengelola dana BOS pada Sekolah Bukan Negeri yang terkait dengan
pembelian/ penggandaan buku teks pelajaran dan/atau mengganti buku
teks yang sudah rusak adalah:
i.

Tidak mempunyai kewajiban memungut PPh Pasal 22, karena tidak


termasuk sebagai pihak yang ditunjuk sebagai pemungut PPh Pasal
22.

ii.

Atas pembelian buku-buku pelajaran umum, kitab suci dan buku-buku


pelajaran agama, PPN yang terutang dibebaskan.

iii.

Membayar PPN yang dipungut oleh pihak penjual (Pengusaha Kena


Pajak) atas pembelian buku yang bukan buku-buku pelajaran umum,
kitab suci dan buku-buku pelajaran agama.

3.

Kewajiban perpajakan yang terkait dengan pemberian honor pada kegiatan


penerimaan siswa baru, kesiswaan, pengembangan profesi guru, penyusunan
laporan BOS dan kegiatan pembelajaran pada SMP Terbuka. Semua
bendaharawan/penanggung jawab dana BOS baik pada sekolah negeri
maupun sekolah bukan negeri:
a. Bagi guru/pegawai non PNS sebagai peserta kegiatan, harus dipotong PPh
Pasal 21 dengan menerapkan tarif Pasal 17 UU PPh sebesar 5 % darijumlah
bruto honor.
b. Bagi guru/pegawai PNS diatur sebagai berikut :
i.Golongan I dan II dengan tarif 0% (nol persen).
ii.Golongan III dengan tarif 5% (lima persen) dari penghasilan bruto.
iii.Golongan IV dengan tarif 15% (lima belas persen) dari penghasilan bruto.

4.

Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOS dalam


rangka membayar honorarium guru dan tenaga kependidikan honorer sekolah
yang tidak dibiayai dari Pemerintah Pusat dan atau Daerah yang dibayarkan
bulanan diatur sebagai berikut:
a. Penghasilan rutin setiap bulan untuk guru tidak tetap (GTT), Tenaga
Kependidikan Honorer, Pegawai Tidak Tetap (PTT), untuk jumlah sebulan
sampai dengan Rp 2.025.000,- (dua juta dua puluh lima ribu rupiah) tidak
terhutang PPh Pasal 21.
b. Untuk jumlah lebih dari itu, PPh Pasal 21 dihitung dengan menyetahunkan
penghasilan sebulan. Dengan perhitungan sebagai berikut:
i. Penghasilan sebulan XX
ii. Penghasilan netto setahun (x 12) XX
iii. Dikurangi PTKP*) XX
iv. Penghasilan Kena Pajak XX
v. PPh Pasal 21 terutang setahun 5% (jumlah s.d. Rp 50 juta) dst XX
vi. PPh Pasal 21 sebulan (:12) XX
*) Besarnya Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP), adalah:
i). Status sendiri Rp 24,30 juta
ii). Tambahan status kawin Rp 2,025 juta
iii). Tambahan tanggungan keluarga, maks 3 orang @ Rp 2,025 juta

5. Kewajiban perpajakan yang terkait dengan penggunaan dana BOS, baik


pada Sekolah Negeri, Sekolah Swasta, untuk membayar honor kepada
tenaga kerja lepas orang pribadi yang melaksanakan kegiatan perawatan
atau pemeliharaan sekolah harus memotong PPh Pasal 21 dengan
ketentuan sebagai berikut:*)
a. Jika upah harian atau rata-rata upah harian yang diterima tidak melebihi Rp
150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah) dan jumlah seluruh upah yang
diterima dalam bulan takwim yang bersangkutan belum melebihi Rp
1.320.000,- (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah), maka tidak ada PPh
Pasal 21 yang dipotong;
b. Jika upah harian atau rata-rata upah harian yang diterima tidak melebihi Rp
150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah), namun jumlah seluruh upah
yang diterima dalam bulan takwim yang bersangkutan telah melebihi Rp
1.320.000,- (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah), maka pada saat
jumlah seluruh upah telah melebihi Rp 1.320.000,- (satu juta tiga ratus dua
puluh ribu rupiah) harus dipotong PPh Pasal 21 sebesar 5% atas jumlah
bruto upah setelah dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang
sebenarnya;
c. Jika upah harian atau rata-rata upah harian yang diterima lebih dari Rp
150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah) dan jumlah seluruh upah yang
diterima dalam bulan takwim yang bersangkutan belum melebihi Rp
1.320.000,- (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah), maka harus
dipotong PPh Pasal 21 sebesar 5% dari jumlah upah harian atau rata-rata
upah harian di atas Rp 150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah);
d. Jika upah harian atau rata-rata upah harian yang diterima lebih dari Rp
150.000,- (seratus lima puluh ribu rupiah) dan jumlah seluruh upah yang
diterima dalam bulan takwim yang bersangkutan telah melebihi Rp
1.320.000,- (satu juta tiga ratus dua puluh ribu rupiah), maka pada saat
jumlah seluruh upah telah melebihi Rp 1.320.000,- (satu juta tiga ratus dua
puluh ribu rupiah), harus dihitung kembali jumlah PPh Pasal 21 yang harus
dipotong dengan menerapkan tarif 5% atas jumlah bruto upah setelah
dikurangi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP) yang sebenarnya.
Catatan: *) Besaran upah harian yang terutang pajak penghasilan (PPh)

pasal 21 jika mengalami perubahan maka mengikuti perubahan yang


terbaru.

BAB III
KESIMPULAN
Berdasarkan hal-hal tersebut diatas dapat disimpulkan bahwa:
1.

Dengan adanya insentif atau keringanan pajak yang diberikan oleh


pemerintah, diharapkan dapat memberikan payung hukum untuk menguatkan
kerja sama badan nirlaba di bidang pendidikan dengan pihak lain. Ketentuan
tersebut sekaligus untuk menghindari pengelolaan pendidikan sebagai
investasi dan komersialisasi, sehingga penambahan dana pendidikan tidak lagi

mengandalkan iuran dari siswa atau mahasiswa.


2.
Di tengah perdebatan atas kekuatiran semakin tidak terjangkaunya
biaya pendidikan dengan munculnya UU BHP ini, sebenarnya negara melalui
pemerintah dapat memberikan keringanan pajak (PPh, PPN, dan PBB) lebih
besar lagi kepada badan hukum pendidikan yang berbasis nirlaba. Hal ini dapat
dilakukan mengingat: (i) pentingnya pendidikan bagi kemajuan bangsa, (ii)
masih terbatasnya kucuran anggaran negara kita kepada bidang pendidikan,
serta (iii) status dari badan hukum pendidikan yang berbasis nirlaba, maka
sudah sewajarnya pemerintah tidak mengenakan pajak kepada badan hukum
pendidikan. Dengan tidak dikenakannya pajak atas badan hukum pendidikan,
diharapkan dapat meringankan biaya penyelenggaran pendidikan yang pada
gilirannya dapat mengurangi biaya pendidikan yang dibebankan kepada
peserta didik.

DAFTAR PUSTAKA
http://maksumpriangga.com/pengertian-dasar-dan-ciri-ciri-pajak-definisi-pajak.html
http://maksumpriangga.com/fungsi-fungsi-dasar-pajak.html
http://organisasi.org/pengertian-pajak-langsung-dan-pajak-tidak-langsung-artidefinisi-istilah-ekonomi-dasar-perpajakan
http://www.pajak.net/info/PPh23.htm
Gliksberg David, General Report of the Taxation of Non-Profit Organizations,
International Fiscal Association (IFA), 1999, hal. 35.
Rowan Marva & Cerny Milton, Indian Tax Law Create Potential for Nonprofits, Tax
Notes International, 2004, hal. 725.
Peraturan Menteri Keuangan nomor 154/PMK.03/2010 tanggal 31 agustus
2010 tentang Pemungutan Pajak Penghasilan Pasal 22 sehubungan
dengan pembayaran atas penyerahan barang dan kegiatan di bidang
impor atau kegiatan usaha di bidang lain pasal 3 butir (1).
Undang-undang Republik Indonesia nomor 8 tahun 1983 terakhir dengan
Undang-undang nomor 42 tahun 2009 tentang Perubahan ketiga atas
Undang Undang nomor 8 tahun 1983 tentang PPN barang dan jasa
dan PPnBM serta KMK/563/2003 tentang penunjukkan bendaharawan
pemerintah untuk memnungut, menyetor, dan melaporkan PPN dan
PPnBM beserta tata cara pemungutan, penyetoran dan pelaporannya.
3 Keputusan Direktur Jenderal Pajak nomor KEP-382/PJ/2002 tentang
pedoman pelaksanaan pemungutan, penyetoran dan pelaporan PPN
dan PPNBm bagi pemungut PPN dan Pengusaha Kena Pajak Rekanan