Anda di halaman 1dari 29

Agama Sikh

Mei 28, 2013 | anisdhamayanti


ANIS DHAMAYANTI
1110032100009
AGAMA SIKH
Orang-orang Sikh adalah suatu ras yang luar biasa. Jumlah seluruhnya di dunia ini kurang lebih
ada 10 juta orang. Segala sesuatu tentang mereka ini luar biasa, pakaian mereka, sejarah mereka
dan terutama sekali adalah kelahiran mereka.

mindthis.ca
Sebelum diadakan pemisahan India, kebanyakan orang Sikh hidup di daerah Punjab, suatu
provinsi yang luas yang terletak di bagian utara India sejak pemisahan India tahun 1947, lebih
dari 2 juta orang harus meninggalkan rumah dan kampung halaman mereka, serta kekayaan
mereka di daerah yang diserahkan kepada Pakistan. Mayoritas agama Sikh sekarang berada di
Punjab Timur yang menjadi milik India.

mapsofindia.com
Sikh Empire Map

mapsofindia.com
Indian Religion

worldreligionsslocomb.wikispaces.com
Sikhism Symbol
Simbol dari agama Sikh adalah Khanda. Di tengah simbol tersebut terdapat pedang yang bermata
dua yang melambangkan kekuatan Tuhan yang mengontrol seluruh nasib alam semesta. Ini
adalah kedaulatan atas hidup dan mati. Salah satu pedang melambangkan keadilan Ilahi, yang
menyiksa dan menghukum para penjahat. Di tepi lain melambangkan kebebasan dan otoritas
yang diatur oleh nilai-nilai moral dan spiritual. Di luar pedang bermata dua, kita bisa melihat dua
pedang:
Di sebelah kiri adalah Pedang Kedaulatan Spiritual
Di sebelah kanan adalah Pedang Kedaulatan Politik
Harus ada keseimbangan diantara keduanya, dan keseimbangan ini ditekankan dalam lingkaran.
Lingkaran ini disebut dengan Chakra. Chakra adalah simbol kesatuan manifestasi Ilahi, baik
segala sesuatu, segala keinginan, tanpa awal dan akhir, abadi, dan absolut. [1]
Kepercayaan Sikh atau yang lebih dikenal dengan nama Khalsa atau yang murni berasal dari
agama Hindu, muncul dalam tahun 1699 M dan dianggap sebagai kepercayaan yang paling
kontemporer di dunia ini.
Sebelum tiba saat kelahiran Sikh atau Khalsa itu, perlulah diuraikan sekedarnya tentang latar
belakang dan kondisi yang ada saat itu yang menyebabkan lahirnya kepercayaan baru ini.
1. A.

Sejarah dan Perkembangan

Setiap kehidupan bangsa memiliki suatu masa dimana nilai-nilai yang telah ada menjadi goyah.
Hal ini umumnya terjadi karena adanya tantangan dari nilai-nilai lain yang baru dan berbeda
dengan nilai-nilai yang telah ada sebelumnya.
Sejak berabad-abad orang-orang India menerima Hinduisme sebagai suatu yang suci dan tidak
dapat diubah. Pada tahun 780 M, kontinen India sebelah Selatan menjadi sasaran Mogul. Invasi
dimulai dari Utara. Perlawanan dilakukan pada permulaannya. Penduduk Hindu, yang memang

bersifat lembut dan cinta damai, kemudian menyerah pada invasi ini dan akhirnya orang-orang
Mogul memerintah India. Munculnya bangsa Mogul membawa nilai-nilai baru ke India yang
berbeda sekali dengan nilai-nilai yang telah berlaku.
Dan ketika abad ke-15 mulailah gerakan Bhakti di India. Kampanye ini banyak persamaannya
dengan Reformasi Agama di Eropa dimana para reformis memprotes terhadap norma-norma
ritual dalam agama dan tahayul pada zaman itu.
Penganjur-penganjur falsafah Bhakti ini mengajarkan bahwa etika pribadilah yang merupakan
inti dari agama, dan bahwa bentuk dan tempat bersembahyang adalah tidak banyak artinya.
Mereka mengajarkan bahwa tujuan dari Hinduisme dan Islam adalah sama, bahwa semua
perbedaan sosial dan kebudayaan diantara keduanya adalah tidak perlu dan salahlah bila
membuat perbedaan ini sebagai tujuan perjuangan, kebencian, dan permusuhan agama.
Namun, gerakan ini tidak memiliki pemimpin dan penuntun. Guru Nanaklah yang kemudian
memberikan pimpinan dan tuntunan dan ia merupakan pendiri dari kepercayaan Sikh ini.[2]
a)

Guru Nanak sebagai Pendiri

Guru Nanak, pencipta agama Sikh, dilahirkan pada tanggal 15 April 1469 Masehi di Talwandi
Rai Bhoi sekarang dikenal sebagai Nanakana Sahib di distrik Sheikhupura di Punjab, kini di
wilayah Pakistan Barat. Ayahnya Mehta Kalu, adalah seorang Hindu dari golongan Bedi
keturunan ksatria dan ia bekerja sebagai akuntan desa pada Rai Bular, seorang Islam, tuan tanah
setempat. Ia memiliki sebidang tanah yang luas dan sejumlah ternak yang cukup banyak. Ibunya
bernama Tripta dan kakak perempuannya Nanaki, yang berumur lima tahun lebih tua
daripadanya. Sejak masa kanak-kanak Nanak terkenal memiliki watak yang luar biasa, sangat
condong kea rah pengabdian dan kebaktian.
Pada umur tujuh tahun, Nanak dikirim ke sekolah dasar untuk memperoleh pelajaran mengenai
Devanagri, Sanskerta, dan berhitung. Namun, semua itu tidak menyenangkan hatinya. Ia telah
ditakdirkan untuk suatu panggilan lain, yaitu panggilan seorang pembentuk, telah memiliki visi
yang luas. Nanak seorang anak yang luar biasa, segala pelajaran yang diberikan oleh gurunya ia
jawab sebelum diberikan, gurunya menjadi tercengang dan mengakui bahwa Nanak benar-benar
anak yang luar biasa.
Kemudian ia dikirim kepada seorang Brahmin untuk mempelajari buku-buku Veda dan Shastra.
Tetapi disini juga ia tidak belajar lama. Setelah agak mahir dalam bahasa Parsi, ia meninggalkan
sekolah dan bergabung dengan orang-orang suci. Dan tindakannya ini telah menusuk hati
ayahnya yang berusaha keras agar anaknya menjadi seorang pedagang.[3]
Guru Nanak selalu melawan adat-istiadat kolot agama Hindu sehingga pada umur Sembilan
tahun ketika ia hendak dikalungi benang keagamaan di lehernya pada upacara Yajnopayitam, ia
menolak dengan tegas dan meminta penjelasan akan kegunaan benang tersebut. Setelah
dijelaskan oleh pendita keluarganya, bahwa benang tersebut merupakan lambang agama Hindu
dan bahwa tanpa benang tersebut seorang Hindu yang berkasta tinggi akan kehilangan hak-hak
kekastaannya, ia semakin keras menolak dianugerahi benang tersebut.

Nanak ketika itu bekerja sebagai seorang Modi atau pengawas toko di salah satu perusahaan
Daulat Khanlodi. Setahun setelah pernikahan kakaknya dengan Jai Ram, sekretaris Daulat
Khanlodi, Gubernur Propinsi Punjab, Nanak menikah dengan Sulakhani, putri Mul Chand,
seorang Patwari (akuntan desa) di Pokhoke-Randhwa di distrik Gurdaspur, pada tahun 1488.
Mereka dikaruniai dua orang putra, Siri Chand dan Lakhmi Das yang masing-masing lahir pada
tahun 1494 dan 1497.
Setelah perkawinannya, ia menjalankan kehidupan sehari-hari seperti biasanya. Pada tanggal 20
Agustus 1507, sebagaimana biasanya pada suatu pagi sebelum fajar ia pergi untuk mandi di kali
Ravi. Sesungguhnya sesaat setelah mandi ia duduk bermeditasi dan waktu itulah ia mendengar
panggilan Tuhan agar ia mengabdikan hidupnya bagi kebaikan dunia, dengan menuntun manusia
ke jalan yang benar menuju Tuhan. Menurut ceritera, pagi hari itu Nanak menyelam ke dalam air
dan tidak muncul-muncul lagi. Hal tersebut dilaporkan kepada majikannya dan Nanak dituduh
korupsi dalam dagang, yang ternyata sama sekali tidak benar setelah diperiksa pembukuannya.
Selama masa penyelamannya, ia dikatakan menghadap Tuhan dan muncul kembali pada hari
keempat setelah ia menyelam.[4]
Ia sekarang tidak lagi bekerja sebagai pengawas toko, tetapi mengabdi kepada Missi agung dari
hidupnya, yaitu untuk menunjukkan jalan yang benar kepada umat manusia yang sedang berbuat
kesalahan-kesalahan besar dan penderitaan-penderitaan yang menekan. Ia meninggalkan desanya
dengan berjalan kaki untuk berkhotbah kepada rakyat. Sekarang ia bukan Nanak lagi, tetapi telah
memperoleh peranan seorang Guru duniawi dan disebut sebagai Guru Nanak. Dengan mengatasi
kesedihan istrinya dan untuk sewaktu-waktu mengunjungi kakaknya, Nanaki, ia memulai
perjalanannya dengan ditemani oleh Mardana Bhai. Tempat pertama yang penting yang ia
kunjungi adalah Sayyedpur di kota Eminabad di distrik Gujranwala.
Ia membagi perjalanannya atas lima bagian yang memakan waktu kira-kira tiga puluh tahun
untuk meluaskan daerah ajarannya. Ia mengelilingi seluruh India, Srilangka, kepulauan
Maladewa dan Lokadewa. Perjalanannya meluas ke Assam dan Birma di Timur, Tibet, Turkistan
dan Siberia Selatan di Utara, dan Afganistan, Iran, Arab Saudi dan Turki di Barat. Dalam
perjalanannya itu, ia mengunjungi hampir seluruh pusat-pusat penting agama Hindu. Ia juga
mengunjungi tempat-tempat suci yang pada waktu itu dilangsungkan suatu upacara sembahyang.
Demikianlah kemana-mana ia pergi menyebarkan ajaran-ajarannya sehingga ia menarik banyak
pengikut dan simpatisan-simpatisannya. Sekembalinya dari perjalanannya ke Barat, India
diserang oleh raja Mogul, yaitu Babar dari Iran. Guru Nanak jatuh diantara tawanan-tawanan dan
sebagai tawanan ia menjadi korban kerja paksa dan dipaksa mengangkat beban-beban berat.
Namun, karena Mir Khan, pengawas penjara melihat suatu keajaiban[5] yang terjadi pada Guru
Nanak, akhirnya Raja membebaskannya Guru Nanak dan memohon agar Guru Nanak menerima
sesuatu daripadanya. Tetapi Guru Nanak tidak ingin menerima sesuatu darinya, ia hanya ingin
rekan-rekannya yang senasib dibebaskan dari penjara. Setelah Guru Nanak meninggalkan rumah
tahanan Babar, maka berakhirlah perjalanan-perjalanan yang panjang.
Cara Nanak mengajarkan ajarannya adalah sederhana dan praktis. Ia telah mencapai hati
manusia. Ia mengajarkan mereka cinta universal, toleransi dan pengertian tanpa memandang
pada kasta, kepercayaan atau agama. Ia mengajarkan bahwa semua orang dilahirkan sama tanpa

ada perbedaan apapun. Selama pengembaraannya selama dua puluh dua tahun Guru Nanak telah
berhasil menarik sejumlah besar pengikut yang menamakan diri mereka Sikh (pengikut).
Kaum Sikh dari Guru ini berasal dari semua tingkat penghidupan, banyak diantaranya adalah
orang-orang Mogul dan Hindu dari berbagai kasta yang akhirnya menemukan Tuhan yang sama
dan hidup dalam persamaan dan kasih.
Kartapur adalah sebuah kota yang didirikan oleh Guru Nanak pada 1504 M dengan bantuan
Doda Bhai dan Duni Chand Bhai yang juga mendirikan Dharamsala disini bagi Guru Nanak.
Guru sendiri baru menetap di tempat ini kira-kira tahun 1522 M. Tetapi kini Kartapur
Dharamsala dari Guru Nanak itu sudah lama tidak ada lagi karena dilanda banjir sungai Ravi,
dan sekarang hanya tinggal kota Dera Baba Nanak yang berdiri di seberang sungai.
Pada masa inilah, yaitu pada tahun 1532 M seorang Lahna dari distrik Amritsar diperkenalkan
kepada Guru Nanak, dimana Guru segera meneliti orang itu dan Guru berkata bahwa Lahna
memiliki piutang dan bahwa ia (Guru) adalah penghutang. Kata-kata itu menimbulkan efek yang
dalam dan kekal dalam hati Lahna. Selama tujuh tahun pengabdiannya itu, Lahna menjadi
seorang pengikut yang sempurna dan telah lulus dalam berbagai testing yang dilakukan oleh
Guru terhadap pengikut-pengikutnya.
Guru kini telah berusia tujuh puluh tahun dan merasa bahwa akhir hayatnya akan segera tiba. Ia
menunjuk seorang pengganti untuk melanjutkan ajarannya yang besar itu. Pilihannya itu jatuh
kepada Lahna. Pada tanggal 14 Juni 1539, Guru Nanak resmi menunjuk Lahna sebagai
penggantinya, dan menamakannya Angad, ia pun mempersembahkan lima pice di hadapannya
sebagai penganut dari Gurunya dan menyembah kaki Guru Angad sebagai tanda bahwa ia akan
memegang tugas Guru.
Tiga bulan dan satu minggu kemudian, pada tanggal 22 September 1539, Guru Nanak
meninggalkan dunia ini dengan menyerahkan segala tugas-tugas kariernya sampai pada dirinya
sendiri kepada Guru Angad. [6]
Akhirnya, pada petang kewafatan Guru Nanak, terjadi suatu pertikaian diantara orang Hindu dan
Islam mengenai cara pemakaman jenazahnya, sebab masing-masing menuntut bahwa Guru
Nanak adalah miliknya; orang-orang Hindu hendak membakar jenazah Guru menurut adat
istiadat mereka, tetapi orang Islam hendak menguburkan jenazah Guru menurut ajaran Islam.
Maka untuk penyelesaian, mereka masing-masing mengadakan upacara sembahyang memohon
kepada Guru Angad agar menunjukkan pihak mana yang berhak atas jenazahnya. Mereka
mendapatkan jawaban bahwa mereka masing-masing harus mendapatkan sekumpulan bunga di
atas jenazah Guru Nanak dan melihat kembali pada esok paginya. Maka mereka pun berbuat
seperti telah ditunjukan dan menutupi jenazah Guru Nanak dengan sehelai kain putih. Keesokan
harinya ketika mereka membuka tutup jenazah Guru, mereka tercengang karena jenazah lenyap
tanpa bekas, sedangkan bunga-bunga mereka semuanya masih segar. Mereka lalu mengambil
bunga-bunga itu dan melakukan pemakaman dengan caranya masing-masing, yaitu orang-orang
Hindu mendirikan sebuah Smadh atau rumah kecil dengan patung Guru Nanak sedangkan orang
Islam mendirikan makam besar.

Walaupun Guru Nanak sudah tidak ada lagi, namun cahaya Ilahinya masih tetap menerangi dunia
dan umat manusia dalam bentuk dan Guru Granth Sahib. Untuk menghidupkan terus nama Guru
Nanak, orang-orang Sikh mengucapkan:
Subhnan-da-Sanjha Nanak. Subhnan-da-Yar O
Untuk seluruh umat manusia adalah Nanak.
Sahabat dari semua.[7]
b)

Tiga macam Ketentuan Disiplin

Bentuk yang hidup, sebagai seni agama, dalam penghayatannya membutuhkan ketentuanketentuan yang oleh penganut-penganut agama Sikh dipegang teguh sebagai disiplin hidup.
Demikianlah dalam kehidupan pribadi seorang Sikh sejati harus mengikuti tiga macam disiplin,
yaitu; disiplin kata, disiplin sakramen, dan disiplin pengabdian.
1. Disiplin kata atau sabda Tuhan
Disiplin kata menyatakan bahwa seorang Sikh harus bangun pagi-pagi sekali, misalnya jam
04.00 pagi lalu mandi dan kemudian bermeditasi atas Tuhan Yang Maha Esa. Ia harus
menyanyikan Hymne dan membaca Granth. Di dalam ode Asa-di-Var yang terdapat dalam kitab
suci Granth, ajaran Guru Nanak, perhatian yang utama adalah terletak pada ungkapan disiplin
kata yang menceritakan karier manusia dalam prosesnya menjadi malaikat. Ode Asa-di-Var ini
mengikuti tingkat kemajuan dari masa sebagai manusia biasa sampai menjadi abdi Tuhan yang
sempurna. Para penganut agama Sikh karenanya diperingatkan untuk tidak melakukan hal-hal
yang bertentangan dengan Jiwa Yang Agung ini; kalau tidak menurut, seluruh hidupnya akan
tersia-sia dan buruklah nanti akhirnya. Contoh eksplisit disiplin ini dapat dilihat dalam
kehidupan sehari-hari yang nyata pada orang-orang Sikh yang sangat patuh kepada ajaran-ajaran
Guru mereka seperti Guru Gobind Singh, Guru kesepuluh Agama Sikh yang telah meletakkan
disiplin.
Adalah sangat ideal menyaksikan orang-orang laki-laki dengan turban yang beraneka warna,
kumis yang lebat dan jenggot yang rapi. Begitu gagah, mengesankan dan menonjol kelihatan
pribadi-pribadi mereka. Bagi para wanita, menghiasi kepala dengan rambut yang indah dan
panjang adalah mempesona. Dengan jalinan rambut yang bersih dan ikal yang dipelihara mereka
tampak agung. Langkah-langkah mereka menyerupai dewi dan mereka berjalan di dunia ini
dengan memercikkan cinta dan menyebarkan damai.

collazoprojects.com
Sikhism Women
1. Disiplin Sakramen
Disiplin sakramen menyatakan bahwa seorang Sikh harus mengikuti upacara-upacara pada
waktu kelahiran, perkawinan dan kematian dalam suatu keluarga. Di dalam setiap upacara ia
harus bersikap penuh kewibawaan dan seimbang dengan menghaturkan doa sesuai dengan
keadaan. Syarat-syarat utama dari disiplin sakramen kepercayaan Sikh seperti yang ditentukan
oleh para Guru mereka adalah: Penyerahan mutlak atas kemauan Tuhan Yang Maha Esa; Hidup
sebagai pemimpin keluarga dan bekerja bagi kepentingan kemanusiaan dengan jalan tetap murni
diantara yang tidak murni di dunia ini; mengakui manifestasinya di dalam segalanya, termasuk
yang tidak boleh disentuh dan wanita serta mencintai dan mengabdi kepada mereka tanpa
perbedaan sebagaimana dinyatakan oleh Guru Nanak:
Yang paling bawah dari yang bawah
Yang paling rendah dari yang dilahirkan rendah
Nanak, carilah persahabatan mereka
Persahabatan dengan yang besar adalah sia-sia
Sebab, dimana yang lemah diperhatikan
Disanalah pengampunanMu bertahta.
Penghormatan yang sama harus diberikan kepada semua orang dan semua agama dan melihat
kesatuan di balik kegandaan dalam hidup, sebagaimana diuraikan oleh Guru Gobind Singh:
Kuil dan Masjid adalah sama

Sembahyang Hindu dan doa Islam adalah sama


Semua orang sama, hanya karena
Ilusi mereka tampaknya berbeda.
Kebenaran utama tidak dapat diperoleh hanya dengan berdoa dan berkhotbah, tetapi dengan jalan
hidup sesuai dengan ajaran Guru.

etravelblog.com
Golden Temple Amritsar, Punjab

geograph.org.uk
Sikh Temple Kembrey Street Swindon, Britain
Sebuah Gurudwara adalah sebuah gedung pertemuan yang dipilih oleh Guru Sikh atau untuk
bertemu dan berbicara tentang Tuhan dan untuk ibadah umum. Ini adalah tempat meditasi,
pengetahuan ilahi, kebahagiaan dan ketenangan. Berbeda dengan candi Hindu yang berisi altar
dan patung-patung, Kuil Sikh hanya memiliki sebuah buku agama dan tidak ada patung atau
berhala. Agama Sikh tidak percaya pada pluralitas Tuhan, menghormati sungai, atau pohon,
supremasi Brahminical, sistem kasta, sihir, Hathayoga, animisme, berhala, atau patung raja atau

imam. Gurudwara adalah sekolah dimana para anggota iman dilatih dalam kekudusan melalui
filsafat diuraikan dalam himne Guru cinta dan pengabdian. Himne menanamkan dalam diri
pengikut berupa gagasan cinta, kepuasan, kerendahan hati, kebapaan Allah, persaudaraan
manusia, dan kemurnian pikiran, tubuh, pikiran, ucapan dan perbuatan. Pertapaan, puasa,
penebusan dosa, mantra, penyembahan pahlawan, kuburan dan tempat-tempat kremasi, semua ini
dilarang keras bagi umat yang menghadiri pertemuan di Sikh Gurdwara . Pemuja seharusnya
berhenti dari mujizat, mengucapkan berkat dan kutuk, dan percaya kepada pertanda. Mereka
memakai nama Tuhan sebagai kalung dan mencoba untuk berlatih Nam (mengingat nama Allah),
Dan (amal) dan Ishnan (kemurnian), kejujuran dan keterbukaan, menahan diri dengan marah,
tenaga kerja untuk tujuan saling menguntungkan, menguntungkan dan mendidik pidato,
kerendahan hati dan kesabaran.
Kuil Sikh biasanya terlihat dari jauh-jauh karena menjulang tinggi tiang bendera, yang
terbungkus kain kuning dengan bendera kuning berkibar bangga di langit dengan simbol Sikh
yang terdiri dari gelang lemparan dan belati di tengah dan dua pedang melengkung dengan
menangani mereka menyeberang di bawahnya. Di India Gurudwaras sering dibangun dalam gaya
Indo-Sarasenic (Di Inggris, Gurudwaras disimpan dalam apa pun bangunan yang tersedia dan
tidak khusus dirancang dan dibangun, tapi hampir semua membawa Nishan Sahib (tiang
bendera)) dengan kubah berbentuk seperti bawang tergencet di atas atap ditutupi dengan
tembaga disepuh dengan emas dan dikelilingi oleh kubah yang lebih kecil dibangun setelah
gaya Moghul. Lengkungan yang diperkaya dengan ukiran bunga dan daun. Tidak sama seperti
Shikhra Hindu, sebuah menara Muslim atau Kristen puncak menara. Yang dipenuhi oleh gambar,
berhala dan patung-patung yang mencolok. Di tempat himne keagamaan mereka didekorasi
dengan desain bunga, cabang dan daun, melahirkan dalam melihatnya emosi estetika dan
agama. Kuil Emas adalah simbol dari tradisi Sikh dalam arsitektur, seni, agama dan sejarah. Ini
naik dari pusat kolam renang yang sangat meningkatkan keindahannya oleh refleksi di
air. Menurut Percy Brown Gurudwara merupakan perwujudan dari emosi keagamaan, terwujud
dalam marmer, kaca, warna dan logam.
Penganut melepas sepatu mereka sebelum memasuki Gurdwara dan menutupi kepala
mereka. Melewati sepanjang lorong, mereka mencapai titik fokus di mana Granth Kudus
dibungkus oleh kain mahal yang ditempatkan pada platform di bawah kanopi. Dengan hormat,
mereka tunduk ke tanah dengan tangan terlipat, memberikan persembahan uang dan menapak
langkah-langkah mereka duduk di Ulasan Sangat (jemaat kudus). Semua duduk di lantai,
perempuan di salah satu sisi lorong dan laki-laki di sisi lain, menunjukkan kesetaraan semua
Sikh di bawah Guru.[8]
1. Disiplin Pengabdian
Disiplin pengabdian menyatakan bahwa seorang Sikh haruslah mengabdi kepada sesamanya
untuk menyatakan kecintaannya kepada Tuhan. Dalam melakukan pengabdian ini, hambatanhambatan seperti kasta atau kepercayaan dan ras haruslah dilupakan. Cara hidup seorang Sikh
memberikan forum yang sama bagi semua orang untuk berdiri sama tegak seperti saudara.
Semua pengikut Guru-Guru baik mereka Hindu, Islam, yang tertindas dan orang-orang terbaik

atau terkemuka di dalam masyarakat adalah bersaudara dan diberi makan di dapur yang sama,
yang disebut Langgar.
Orang Sikh dengan sukarela menyapu lantai, membersihkan alat-alat pertukangan, menggosok
sepatu atau mengambil air dalam Langgar. Langgar memberi banyak jalan pengabdian.
Demikianlah di dalam hidup bermasyarakat, seorang Sikh diharapkan menunaikan tugasnya
terhadap masyarakatnya itu. Ia harus melakukan Amrit (baptis) dan membantu melaksanakan
untuk orang lain. Ia juga harus siap menerima tindakan-tindakan disiplin apabila bersalah atau
bertindak tanpa disiplin atau melanggar disiplin. Singkatnya, ia harus ambil bagian aktif dalam
kehidupan masyarakat Panth. Tetapi semuanya itu harus didasarkan atas keikhlasan dan
kerendahan hati. Tidak seorang pun sanggup mencapai Tuhan bila hati sanubarinya sendiri penuh
dengan kesombongan.
Ia adalah Pangeran diantara manusia
lah menghapus kesombongan diantara orang budiman
Ia yang menganggap diri dari keluarga rendah
Dihormati sebagai tertinggi dari yang tinggi
Ia yang sujud hingga ke debu semua manusia
kan melihat Nama Tuhan bersemayam di tiap kalbu
Pengabdian yang didasarkan atas kerendahan dan keikhlasan hati yang tulus akan
mentransformasikan manusia dari dunia kegelapan menuju dunia kebajikan. Transformasi dalam
diri manusia ini terjadi bukan hanya dengan jalan intelektual melalui ajaran-ajaran Guru, tetapi
melalui kepribadian sebagai suatu contoh yang tipikal.
Pengabdian menuntun orang ke jalan kelepasan. Jalan untuk kelepasan menurut aliran Sikh
adalah dengan dua cara, yaitu dengan sembahyang dan berbuat kebajikan bagi kemanusiaan. Ia
diharapkan untuk mengambil setiap kesempatan untuk menolong sesamanya dan membantunya
sekuat kemampuannya, tanpa mengharapkan balasan. Pikirannya pun harus bebas dari kerakusan
dan keinginan akan kekuasaan dan ia harus benar-benar memiliki kerendahan hati.
Pengabdian terhadap Tuhan sebagai Bapa dan setiap orang sebagai saudara adalah tema utama
khotbah Guru Nanak. Menurut ajaran Sikh, Gurulah yang sebenarnya melakukan pembentukan
karakter para pengikutnya, yang dilakukan dengan jalan menghilangkan kejahatan yang biasanya
timbul karena egoisme dan dengan jalan melaksanakan kebajikan untuk kepentingan masyarakat.
Keinginan Agung itulah yang merupakan obat satu-satunya. Hal ini dapat dilakukan dengan
hidup yang senantiasa penuh puja, keinginan yang seimbang dan pekerjaan yang aktif. Guru
menunjukkan bagaimana seorang penganut harus hidup sesuai dengan kebenaran dan
menghargai kehidupan-kehidupan yang benar-benar berarti. Kebenaran dan kerendahan hati
adalah inti dari semua kebajikan. Melakukan pengabdian kepada Tuhan dengan cara
mempraktekkan kebajikan secara benar, seperti misalnya pengampunan dan kebenaran adalah

lebih efektif untuk menghindarkan diri dari dosa daripada cara-cara yang begitu lemah seperti
pemakaian benang suci, tanda di dahi, dan cara-cara lain yang sama sekali tidak sama dalam
prakteknya. Yang paling akhir adalah kebanggaan seks yang membawa degradasi demikian rupa
terhadap kewanitaan di India. Wanita adalah sejajar dengan pria di hadapan Tuhan dan samasama bertanggung jawab terhadap tindakan-tindakan mereka di hadapan Tuhan. Guru-Guru Sikh
adalah orang-orang yang sempurna dan dilukiskan demikian dalam Kitab Suci Sikh.
c)

Para Pengganti Guru Nanak

Sebagaimana telah disebutkan sebelumnya, Guru Nanak oleh para penganut dan pengikut agama
Sikh diakui sebagai Guru Agung, Guru Utama Yang Suci, yang telah melahirkan dan
mengajarkan satu agama yang sangat berbeda dengan Hindu. Justru, ide-ide keagamaannya
hampir sama dengan ide keislaman, terutama dari segi mistik. Itulah sebabnya Guru Nanak juga
dikatakan sebagai seorang sufi.
Akan tetapi, agama Sikh mengalami perjalanan sejarah yang ironis. Bersamaan dengan
perjalanan waktu yang dilalui, orang-orang Sikh yang menyebut diri mereka sebagai pengikut
setia Guru Nanak, mulai semakin dekat kepada Hinduisme dan sebaliknya, semakin asing dari
Islam.
Sampai dewasa ini, pengikut agama Sikh mempercayai dan mengikuti sepuluh orang guru yang
sangat besar peranannya dalam sejarah agama Sikh. Mereka terdiri dari Guru Nanak, sebagai
pelopor dan Guru Agung yang suci itu, beserta Sembilan orang guru penggantinya secara
berturut-turut. Kesembilan orang guru tersebut masing-masing berkuasa penuh selama masa
jabatannya untuk mengendalikan kemana agama dan umat Sikh akan dibawa. Berikut adalah
urutan masing-masing guru yang sepuluh itu beserta peranan masing-masing dalam perjalanan
sejarah agama Sikh:[9]

http://www.dollsofindia.com

gyaandarpan.com
10 Guru Sikh
1. Guru pertama, Guru Nanak, dianggap sebagai pendiri agama Sikh. Riwayat hidupnya
sudah diuraikan.
2. Guru Angarh (1539-1552).
Ia menjadi guru karena ditunjuk langsung oleh Guru Nanak sebagai penggantinya. Dengan
kebijaksaannya, ia berhasil mencegah terjadinya perpecahan antara para pengikutnya dengan
mereka yang mengikuti putra Guru Nanak, Sri Chand, yang menuntut bahwa dialah yang berhak
untuk menggantikan bapaknya.
1. Guru Amar Das (1552-1574).
Peranan utamanya adalah mengorganisir orang-orang Sikh menjadi 22 sangat atau jamaah dan
mendirikan lembaga yang dikenal dengan Guru-ka-Lengar atau Dapur Umum, tempat dimana
semua orang dari seluruh kasta dengan bebas mengambil makanan bersama-sama. Amar Das
dianggap sebagai guru yang berusaha keras mengadakan perubahan sosial atau pembaharu sosial
yang besar. Amar Das juga melarang orang Hindu melakukan pemujaan terhadap Sakti,
membakar janda yang ditinggal mati suaminya.
1. Guru Ram Das (1574-1581).
Guru ini memulai penggalian danau besar yang disebut Amritsar, juga merencanakan konstruksi
kuil emas di tengah-tengah danau tersebut. Lokasi danau itu disediakan oleh Sultan Akbar dan
peletakan batu pertama pembangunan kuil tersebut dilakukan oleh seorang sufi besar, Hazrat
Mian Meer dari Lahore. Ram Das mulai melakukan tradisi mengumpulkan sumbangan tetap,
semacam zakat, dari para pengikutnya. Sumbangan ini dimaksudkan untuk mengatur masyarakat
Sikh yang semakin nyata wujudnya. Dia juga mulai mengangkat pejabat-pejabat yang disebut
Masand untuk memimpin upacara agama dan mengumpulkan sumbangan tersebut. Ram Das
adalah guru pertama yang menunjuk putra sebagai penggantinya.

1. Guru Arjun (1581-1606).


Guru ini memainkan peranan yang sangat penting dan menentukan dalam sejarah agama Sikh
dan para pengikutnya. Hal ini disebabkan: pertama, ia menyelesaikan pembangunan kuil emas
Amritsar; kedua, ia menyempurnakan penyusunan kitab suci agama Sikh, Adi Granth; ketiga, ia
mengorganisir orang-orang Sikh menjadi satu masyarakat yang berdiri sendiri terpisah dari
lainnya, dengan kitab suci sendiri yang ditulis berdasarkan naskah-naskah mereka sendiri,
dengan danau suci dan rumah ibadah sendiri pula. Guru Arjun dianggap sebagai Sachcha
Padshah (kaisar yang benar) oleh para pengikutnya. Arjun telah mengadakan inovasi terhadap
agama Sikh, seperti menciptakan pakaian pimpinan kebaktian, memperluas ajaran-ajaran agama
Sikh berdasarkan ijtihadnya sendiri, dan menata masyarakat Sikh ke arah suatu masyarakat yang
bakal menjadi satu kerajaan yang dicita-citakannya. Arjun adalah guru pertama yang mengambil
peranan aktif dalam kehidupan politik sehingga terlibat dalam konflik dengan kaisar Jehangir
(1605-1927).
1. Guru Har Gobind (1606-1645).
Karena golongan Sikh sudah terlibat dalam pertentangan-pertentangan politik secara terbuka dan
langsung sejak masa Guru Arjun, maka Har Gobind mulai berpikir tentang keamanan dan
keselamatan dirinya. Untuk itu, ia mengangkat pengawal-pengawal pribadi dan memerintahkan
para pengikutnya untuk memasuki dinas ketentaraan. Di kuil-kuil Sikh nyanyian-nyanyian suci
yang penuh kedamaian digantinya dengan mendengarkan lagu-lagu perjuangan. Selain itu,
kursus-kursus keagamaan diganti pula dengan pelajaran tentang rencana-rencana penaklukan
atau strategi militer. Dibawah kepemimpinannya, kaum Sikh berusaha menggempur pasukanpasukan kerajaan kaisar Shah Jehan.
1. Guru Har Rai (1645-1661).
Ia adalah cucu Har Gobind. Ia berusaha keras meningkatkan semangat kemiliteran kaum Sikh.
Untuk itu, ia menjalin kerjasama dengan Dara Shikoh, seorang moderat, putra Shah Jehan. Har
Rai pernah membantu Shikoh dalam peperangannya melawan Aurangzeb sampai mencapai
kemenangan.
1. Guru Hari Krishen (1661-1664).
Guru Har Rai tidak menunjuk putranya yang tertua, Ram Rai, menjadi penggantinya, melainkan
Hari Krishen, putranya yang kedua. Hal ini disebabkan karena putra tertuanya itu menjalin
hubungan dengan musuhnya, Aurangzeb, seperti yang telah disebutkan diatas. Hari Krishen
sendiri waktu itu masih kecil. Oleh karena itu, pengangkatannya adalah sebagai simbol belaka,
karena ia meninggal saat usia Sembilan tahun. Ram Rai tidak mau patuh dan tidak menerima
adiknya sebagai guru. Ia memisahkan diri dan mendirikan sekte sendiri bersama para
pengikutnya. Mulai saat itu gejala perpecahan di kalangan kaum Sikh semakin terlihat.
1. Guru Tegh Bahadur (1664-1675).

Pada saat Hari Krishen meninggal dunia, beberapa orang utama di lingkungan kaum Sikh tampil
menuntut agar diangkat menjadi guru penggantinya. Pilihan akhirnya jatuh pada Tegh Bahadur.
Ram Rai, saingan terdekatnya, semakin kecewa karena merasa bahwa yang paling berhak
menjadi guru menggantikan adiknya adalah dirinya sendiri. Kekecewaannya itu membuatnya
semakin memisahkan diri dari kaum Sikh pada umumnya, dan menjadikan dirinya sebagai
musuh utama Tegh Bahadur. Namun, Tegh Bahadur ternyata orang yang kuat dan berhasil
menjadikan dirinya sebagai seorang panglima perang yang pertama bagi kaum Sikh yang telah
berhasil memperluas pengaruh agama Sikh sampai ke wilayah-wilayah India bagian selatan,
bahkan sampai ke Ceylon.
1. Guru Govind Singh (1675-1708).
Selain Guru Har Gobind yang sempat menjadi guru selama kurang lebih 39 tahun, maka Guru
Govind Singh adalah guru kedua yang paling lama menjabat sebagai guru, yaitu 33 tahun. Ia
adalah putra Tegh Bahadur. Selama dua puluh tahun ia berhasil menahan diri dari dendam
terhadap orang yang membunuh ayahnya. Waktu selama itu ia pergunakan untuk
mengkonsolidasi diri dan kekuatan. Ia menyusun rencana untuk menjadikan dirinya sebagai
jagoan Hindu melawan penguasa Mughal. Untuk itu, ia berusaha memperbesar masuknya
pengaruh Hindu ke dalam agama Sikh. Ia mulai menulis beberapa cerita tentang dewa-dewi
Hindu. Syair-syair agama Hindu, yang dikutipnya dari Ramayana dan Mahabharata,
dikembangkannya di kuil-kuil Sikh bersama-sama dengan Adi Granth.
Guru Govind Singh menetapkan adanya upacara yang disebut Khanda-di-Pahul (pembaptisan
dengan mata pedang) untuk membaptiskan lima orang murid pilihannya yang utama dengan
perangkat pembaptisan yang terdiri dari sebuah mangkuk berisi air dan gula. Air diaduk dengan
sebuah pisau besar atau sebuah pedang kecil yang bermata dua (disebut Amrita). Lima orang
murid pilihannya disebut Piyaras, meminum Amrita tersebut. Setelah itu mereka disuruh
memakan apa yang disebut Karah Parshad, sejenis bubur. Setelah mengikuti upacara
pembaptisan, para murid diresmikan memakai nama singh di akhir nama masing-masing.
Maksud pemakaian nama tersebut adalah agar setiap pemimpin Sikh memiliki keberanian seperti
keberanian singa-singa di dalam hutan. Selain menerima pembaptisan dan menyandang nama
Singh, mereka juga harus memakai lima istilah simbol, yang setiap istilah tersebut dimulai
dengan huruf K:

Kes (rambut dan jenggot yang tidak dipotong),

Kangha (sisir);

Kirpan (pedang);

Kach (celana panjang sampai lutut);

Kara (sebuah gelang yang terbuat dari baja).

Lima hal tersebut menjadi pertanda utama untuk menentukan golongan Sikh pengikut guru
kesepuluh. Selain itu, Guru Govind Singh juga berpesan kepada murid-muridnya yang telah
dibaptis itu agar mereka terus mewarisi semangat dimana saja dan kapan saja mereka berada.[10]
Setelah sepuluh guru, kaum Sikh tidak lagi memiliki guru-guru lanjutannya. Kedudukan guru
digantikan oleh Adi Granth, kitab suci mereka yang sudah sempurna disusun selama jangka
waktu hampir 150 tahun. Sepeninggal Guru Govind Singh, para pengikutnya melanjutkan tradisi
yang telah diwariskannya. Lima orang murid pilihan membaptis pengikut-pengikut pilihannya
untuk memperkokoh jamaah baru mereka. Jamaah baru ini kemudian terkenal dengan nama
Khalsa Panth atau Jalan Yang Murni, sementara mereka yang dibaptis disebut dengan Khalsas,
yang berarti Seorang yang suci murni.
Namun demikian, tidak semua orang Sikh menerima ajaran tentang pembaptisan ini. Mereka
yang menolaknya disebut golongan Shajdharis, atau orang yang hidup tenteram. Mereka
membentuk sebuah sekte tersendiri yang berbeda jauh dengan Khalsa Panth.
Golongan Sikh Khalsa Panth lama kelamaan menjelma menjadi kekuatan militer yang sangat
handal. Orang yang menggabungkan diri ke dalamnya, terutama dari kelompok Jat, adalah
mereka yang diilhami oleh semangat kebencian yang mendalam terhadap Islam. Bagi mereka,
menjadi Sikh berarti secara terang-terangan melahirkan rasa permusuhan terhadap umat Islam
dan kaum Brahmanisme. Dengan persenjataan yang kuat, mereka siap memberikan pukulan yang
menghancurkan terhadap Islam. Untuk itu, mereka siap pula mengorbankan segala-galanya,
termasuk jiwa dan raga mereka. Jika mereka berhasil dalam menghancurkan kekuatan Islam itu,
maka ganjaran yang mereka harapkan hanyalah lambang sikh saja, tidak yang lain.
Semangat perang benar-benar dibina dan dihidup-suburkan oleh Guru Govind Singh. Pertamatama ia mulai menyerang suatu pemerintahan raja-raja semi Hindu di bukit-bukti Shivalik yang
menjadi daerah mandate kekaisaran Mughal. Kemudian atas dorongan raja-raja yang menguasai
daerah pegunungan, mereka bergandengan tangan untuk menghancurkan kekuasan Mughal
sendiri. Namun, raja-raja kecil itu ternyata bermuka dua. Satu saat mereka memihak dan
membantu Govind, tetapi di lain saat mereka memihak kaisar Mughal, dengan mengadakan
perjanjian-perjanjian dengan para perwira lapangan pihak kaisar.
Dalam percobaan mengadakan perang terbuka ini, pasukan Govind mengalami kekalahan dan
hampir saja dihancurkan seluruhnya oleh pasukan Aurangzeb, kalau saja kaisar tersebut tidak
segera memerintahkan penghentian penghancurannya. Kaisar tersebut memperlihatkan kebesaran
jiwanya. Akan tetapi, kebaikan kaisar itu dipandang guru sebagai kesempatan yang sangat
menguntungkan untuk menyusun rencana baru dan mengadakan reorganisasi dan rekonsolidasi
para pengikutnya.
Sewaktu kaisar Aurangzeb kembali ke pusat kerajaan dan tanggung jawab diserahkan kepada
raja-raja kecil itu, maka raja-raja ini bersatu menyerang posisi kaum Sikh di Anandpur. Raja-raja
daerah mengalami kekhawatiran kalau-kalau Guru Govind merampas daerah mereka untuk
mewujudkan kerajaan sendiri. Kaum Sikh mengalami kekalahan total dan kehilangan segala
yang mereka miliki. Guru Govind melarikan diri dan meminta bantuan kepada golongan Jat. Ia
juga menulis kepada Aurangzeb melaporkan bahwa ia dan para pengikutnya sedang mengalami

penderitaan, ia memohon kaisar membantu mereka membebaskan diri dari penderitaan itu.
Kaisar memerintahkan gubernur Punjab untuk menghentikan penghancuran terhadap Govind
Singh dan pasukannya. Kemudian kaisar memanggil untuk menghadap karena akan diberi tugas
khusus. Guru memenuhi panggilan itu dan berangkat ke ibukota kerajaan. Namun, di dalam
perjalanan Aurangzeb meninggal dunia. Tetapi, kedatangannya di ibukota disambut oleh Bahadur
Shah I, yang memerintah sebagai pengganti Aurangzeb.
Akan tetapi kaisar kemudia banyak terlibat dalam peperangan-peperangan melawan kaum Sikh.
Setelah Govind mengetahui kaisar memiliki banyak kelemahan, maka akhirnya Govind bangkit
kembali menentang kerajaan. Govind memerintahkan seorang pengikut fanatiknya, Banda, untuk
membangun kekuatan militer yang akan melakukan pembunuhan terhadap kaum Muslimin di
Punjab sebagai pembalasan atas kekalahannya di Anandpur dulu. Namun, mereka tidak berhasil
sepenuhnya melaksanakan rencana penghancuran umat Islam itu, karena Govind Singh dibunuh
oleh Pathan, orang yang bapaknya dulu dibunuh olehnya hanya gara-gara suatu perkara kecil
saja.
Akibat lain yang diderita kaum Sikh karena politik Govind Singh adalah kematian semua putra
Govind dalam pertempuran.[11]
d)

Ajaran-Ajaran Guru Nanak


1. Tentang Tuhan Yang Maha Esa

Dalam ajarannya mengenai Tuhan Yang Maha Esa, Guru nanak selalu menegaskan bahwa Tuhan
adalah Tunggal, Yang Maha Esa. Ia tiada termanifestasikan dan juga termanifestasikan dalam
segala hal, tiada terbatas. Maka itu Guru Nanak mengajarkan bahwa, kalau orang ingin
kebahagiaan dan menemui Tuhannya, carilah Ia dalam jiwa. Menurut Guru Nanak, Tuhan adalah
Pencipta tetapi juga Pemusnah. Ia adalah Pemberi tetapi juga Ia adalah Peminta kembali.
Tiadalah terbatas kebajikan, rahmat, inspirasi, jangkauan, penglihatan, dan cipta tuhan. Dan
tiadalah ada bandingannya kemurahan, penerimaan, pengampunan, dan perintahnya. Demikian
kata Guru Nanak tentang Tuhan Yang Maha Esa ini seperti dilukiskan dalam syair-syair yang
berikut:
1. Tuhan itu tunggal
Ia adalah pencipta segala
1. Ia tanpa rasa takut apapun
Ia tiada mempunyai musuh
Dan Ia tidak mengenal mati
Ia bebas dari inkarnasi
1. Siapa pun yang mengetahui misteri yang dinyatakan

Oleh Yang Maha banyak, ia akan bersatu dengan Dia


Dengan membuat KemauanNya jadi kemauanmu
Engkau akan mencapai Dia
1. Dalam duka dan suka, seluruh dunia terbelenggu
Semua perbuatan mereka diarahkan pada pernyataan aku
Tanpa kata takhayul tidak dapat dihentikan
Dan ego tak dapat dienyahkan
1. Orang harus ketahui
Semuanya adalah manifestasi dari kemauanNya
Tetapi kemauanNya tak dapat dilukiskan
Dengan kemauanNya semua cepat bernyawa
1. Ada yang memujaNya sebagai sesuatu
Yang sekaligus dekat dan jauh sekali
Tiada akhir dalam menggambarkanNya
Tiada terbilang banyaknya
Yang mencoba untuk menggambarkanNya
Namun Ia tetap tak tergambarkan
1. Tuhan tidak mungkin dapat dibentuk
Ataupun diciptakan Yang Tiada Berbentuk
Adalah tiada batas
Dan sempurna dalam diriNya
1. Tiada terbataslah kebajikanNya
Tiada terbataslah kata untuk memujaNya

Tiada terbataslah kerjanya


Dan tiada terbataslah jumlah rahmatNya
Tiada terbataslah tatapNya
Dan tiada terbataslah inspirasiNya
Tiada terbatas dan di luar jangkauan
Pengertian maksud tujuanNya
1. Banyak yang menyalah-gunakan pemberianNya
Yang mencaci-makiNya
Banyak yang pandir hanya makan dan menikmati
Tetapi tidak memikirkan anugerahNya
Dan banyak yang sangat menderita
Kelaparan, kemelaratan dan kesengsaraan
Yang juga merupakan pemberianNya
1. Dengan jalan menaatiNya, Wahai Nanak
Manusia bukannya mengembara untuk sedekah
Dengan sucinya Nama Ilahi
Barang siapa yang menaatiNya akan merasakan
kebahagiaanNya dalam nurani
1. Tentang Sabda Adalah Kata Tuhan
Menurut Guru Nanak, Sabda adalah Kata Tuhan. Karena itu Guru Nanak menganjurkan agar tiap
orang dapat menyatukan dirinya dengan Sabda untuk mengerti misteri hidup di dunia kini dan di
dunia kelak. Dan apabila orang telah menyatukan dirinya dengan Sabda tersebut maka ia harus
melaksanakan Sabda itu dan dengan melaksanakan Sabda itu orang dapat menentun orang lain,
kesadarannya terangkat menuju kemanusiaan universil, terbebas dari duka dan derita dan lepas
dari roda inkarnasi, menuju kelepasan dan kedamaian abadi. Sabda dalam arti kata yang
sebenarnya adalah Kata Tuhan. Dan Sabda mengungkapkan dirinya dalam seluruh cipta Tuhan,
bergetar tiada terbatas, ke setiap penjuru,juga ke setiap hati sanubari manusia. Sumber bahagia

dan damai dapat dijumpai dimana-mana melalui Sabda dan dengan Sabda, Tuhan menampakkan
diriNya.
1. Dengan jalan menyatukan diri dengan Sabda
Orang dapat mencapai status Sidha
Memiliki kekuatan suci
Seorang Pir, seorang Sura atau Natha
1. Dengan menyatukan diri dengan Sabda
Orang dapat menghindarkan diri dari kematian
Tanpa sedikit pun terluka
Melalui pintu-pintu kematian
1. Wahai Nanak, penganutNya
Hidup dalam ketentraman abadi
Sebab Sabda itu telah menghapuskan
Semua dosa dan duka
1. Dengan menyatukan diri dengan Sabda
Orang menjadi tempat semua kebajikan
Orang menjadi seorang Sheik
Dan seorang raja spirituil sejati
1. Dharma atau Sabda bagaikan banteng
Dengan harmonis menopang penciptaan
Barang siapa menyadari ini
Pastilah mengetahui kebenaran
1. Sabda adalah Guru dan Guru adalah Sabda
Sebab semua amrita menghiasi Sabda

Direstuilah Sabda yang menyebut nama Tuhan


Tetapi hanya sedikit yang mengetahui Sabda
1. Sabda adalah ether dan bumi
Keduanya mempunyai bentuk melalui Sabda
Sabda mengungkapkan dirinya dalam aspek lain
Juga seluruh cipta muncul dari Sabda
Wahai Nanak, Sabda tiada terbatas
Bergetar di tiap hati sanubari manusia
1. Barangsiapa yang melaksanakan Sabda
Dapat menemukan rumahnya yang sejati
Maka aku Nanak akan mengabdi
Kepadanya dengan patuh hati
1. Dalam suka dan duka
Seluruh dunia ini bersatu padu
Semua perpaduan dikendalikan ego
Tanpa Sabda tahyul dan ego tak bisa dilenyapkan
1. Tentang Guru sebagai Penuntun Hidup Abadi
Dengan tuntunan seorang Guru yang arif-bijaksana, yang suci dan yang agung, pengabdian
kepada Tuhan dapat diarahkan dengan tepat dan mencapai tujuan, sebab Guru itu akan
memperlihatkan tempat yang sebenarnya, akan membuka misteri alam semesta ini dan membawa
kebahagiaan dan ketentraman ke dalam hati setiap penganut.
Guru sejati akan membawa orang ke seberang ke pantai samudera kedamaian, akan membuat
Sabda bergetar dalam sanubari manusia, melagukan nyanyi suci, akan mengantar ilham
kerinduan akan Tuhan, akan membuka mata hati untuk melihat visi Tuhan. Guru adalah index
pikiran Tuhan, lautan ketenangan yang dalam dan luas dan penghapus dosa.
1. Setiap orang mengucapkan nama Tuhan

Tapi hanya mengucapkan orang tidak menyadariNya


1. Memang berkat bantuan Guru
Tuhan bertakhta dalam jiwa
Dengan begitu memetik buahnya
1. Cahaya menyinari semua hati nurani
Berkat kearifan Guru, CahayaMu menyala
Dan yang menyenangkan Engkau
Menjadi pujaanMu selalu
1. Mengabdilah kepada Guru sejati
Dengan penuh kasih dan pengabdian menunggal
Ketahuilah bahwa guru sejati
Adalah suci di atas segala suci
Memenuhi semua keinginan dan engkau akan
Menimbun rakhmat buah segala rindu hatimu
1. Nama Tuhan adalah samudera kedamaian
Melalui Guru samudera itu dicapai
Tinggallah padaNya dari hari-keseharian
Hingga tanpa visi kau bersatu dengan namaNya
1. Barangsiapa menganggap dirinya guru
Hidup atas kemurahan orang lain
Janganlah sekali menundukkan kepala padanya
Ia yang mencari hidup dengan keringet keningnya
Dan membaginya dengan orang lain

Oh Nanak, hanya dia tahu jalannya


1. Guru menyerupai Tuhan dalam kekuatan
Sebagai pencipta, pelindung dan pemusnah
Guru mampu menghukum yang jahat
Dan melindungi yang bijaksana dan miskin
1. Guru sejati adalah lautan keterangan
Dalam dan luas, penghapus dosa
Ia yang mengabdi kepada guru
Baginya tiada hukuman dari Batara Yama
Tiada seorang pun bisa menyamai Guru
Aku telah menjelajahi seluruh jagat
Berkata Nanak : Guru sejati telah memberiku
Harta dari Sabda dan jiwaku penuh dengan sukacita
1. Tentang Praktek-Praktek Spirituil
Bagi Guru Nanak, hidup spirituil adalah melaksanakan praktek-praktek spirituil dengan tunduk
kepada Sabda Tuhan melalui petuah-petuah dan ajaran-ajaran Guru. Mendengarkan Sabda,
menurut Guru Nanak, adalah mempraktekan Sabda itu. Dan mempraktekkan Sabda itu berarti
melaksanakan tugas hidup di dunia ini bagi kebajikan dan kebenaran. Tuhan adalah Penuntun
yang memimpin kita lewat SabdaNya (Satnam), lewat kongregasi para pendita (Satsangat) dan
lewat Guru sejati (SatGuru).
Dan melaksanakan tuntunan Tuhan ini adalah melaksanakan praktek spirituil. Praktek spirituil
berarti menumbuhkan persaudaraan universil, mendalami pengetahuan dan buku suci,
mengampuni orang yang bertobat, melaksanakan Kirtan, mempraktekkan perbuatan-perbuatan
suci, sabar,sederhana, rela memberi, penuh kash sayang, berkata benar, melawan nafsu jahat,
bekerja keras, berbuat kebajikan selalu, membela kebenaran. Bagi Guru Nanak, penyiksaan diri
sebagai praktek spirituil atau bertapa yng membabi-buta atau menggunakan jubah agama
berlebihan atau berbuat amal dan ibadah secara formil belaka, adalah hipokrit yang tida sesuai
dengan Sabda Tuhan.
1. Renungkan bentuk Dia yang menuntun

Terimalah katanya sebagai kebenaran ajaran suci


Buatlah tapak kakiNya bergema di saat jantungmu terhenti
Ia Yang Tak Terbatas, tundukkanlah dirimu kepadaNya
1. Kenanglah kaki Penuntun dalam kalbumu
Dengan selalu mengenangkanNya,
Engkau kan dapat menyeberangi samudera mayapada
1. Jadikanlah kelepasan hasil jerih payahmu
Dan berusahalah bagi yang suci
Dan hormat pada Dia Yang Lebih Tinggi
Jadikan pundi-pundimu
Dan jadikan meditasi Konstan padaNya
1. Tuhan tidak akan senang
Pada tapa yang membabi buta
Pun tidak dengan banyak baju agama
Dia yang membentuk wadah jasmani ini
Dan menuangkan ke dalamnya dengan hadiahNya
Berupa santapan nikmat hanya akan merasa puas
Dengan kasih dan pengabdian manusia
1. Bersihkanlah nafsu jahatmu
Dan biarkanlah jiwamu memuja Tuhan
Dan bila kau lepas dari dosa
Dan mempraktekkan renungan dan pengekangan diri
Bunga teratai dan madu

Akan menetes ke dalam rongga dadamu


1. Kerendahan hati adalah kata
Kesebaran adalah kebajikan
Dan kesopanan adalah pesona
Yang tidak ternilai harganya
Jadikanlah ketiga ini jubahmu
1. Dengan mengunjungi tempat suci
Mempraktekkan kesederhanaan, melaksanakan
Rasa iba dan amal secara formil
Orang memperoleh sedikit sekali penghormatan
Itupun kalau memang ada
Hanya dengan mendengar dan membaca
Dan merenungkan apa yang kau ketahui
Setelah mendengar dan membaca
Dan dengan mengembangkan sikap pengabdian
Dari pikiranmu engkau dapat kualifikasikan dirimu
Bersiram sepuas hatimu di kuil yang paling kudus[12]
B.

Ajaran dan Praktek Keagamaan

1. Keyakinan tentang Ilahiat


Keyakinan tentang Ilahiat di dalam agama Sikh itu dapat dijabarkan dengan istilah Mystic
Monotheism. Guru Nanak menerima pokok keyakinan di dalam agama Islam tentang keesaan
Allah Maha Kuasa, tidak beranak, tidak diperanakkan, tanpa ada suatu pun mirip denganNya,
menciptakan alam semesta, dan punya wewenang penuh atas makhlukNya.
Dengan begitu, Guru Nanak menolak Polytheism yang dianut agama Hindu. Tetapi, Guru Nanak
menerima pokok keyakinan di dalam agama Hindu bahwa zat Allah Maha Kuasa itu meresapi
seluruh alam, yaitu Pantheism.

Keyakinan serupa itulah yang disebut Mystic Monotheism, yaitu yakin akan keesaan Allah itu
secara mistik. Melalui tatacara mistik akan dapat dicapai penggabungan kembali antara zat Insan
dengan zat Tuhan dalam satu kesatuan wujud (Wahdatul Wujud), pada saat-saat yang sangat
singkat di dalam Ekstasi. Keyakinan tentang Ilahiat di dalam agama Sikh itu dapat dipahamkan
pada ayat-ayat di dalam Adi Granth yang sudah disalin ke dalam bahasa Inggris oleh Ernest
Trumpp dengan judul The Adi Granth, or Holy Scriptures of the Sikhs edisi Tubner tahun 1877.
Tuhan itu Esa, namanya: Yang Maha Benar, sang pencipta, sunyi dari takut dan permusuhan,
baka, ada sepanjang zat-Nya, Maha Besar dan Maha Asih. Yang Maha Benar dan Maha Esa itu
mulai dari sekalian permulaan. Yang Maha Benar dan Maha Esa itu azali dan baka. (35, 195).
Tetapi, suatu panggilan yang dapat dikatakan khusus dan hanya dijumpai di dalam agama Sikh
ialah: Sat Nam. Nama Ilahi itu termuat pada ayat Pertama di dalam Adi Granth, dan setiap
bagian-bagian di dalam Adi Granth itu dimulai dengan Nama Ilahi itu. Nama Ilahi itu yang
paling dimuliakan itu dinyatakan ungkapan pertama-tama terucap dari mulut Guru Nanak
sewaktu dikatakan bermula mendapat wahyu.
Adi Granth selanjutnya mengungkapkan tentang Sat Nam itu, sebagai berikut:
Guru ditanya tentang kenapa Sat Nam itu dituliskan senantiasa pada awal setiap nyanyian
keagamaan (hymns). Ia pun menjawab: Nama tersebut adalah Tuhan dari seluruhnya. Para murid
yang menyembah Nama Yang Benar, akan terhindar dari segala rintangan menuju keselamatan.
Tersebab itulah Nama yang Benar itu mengawali setiap nyanyian keagamaan. (138).[13]
Orang yang mengabaikan Nama tersebut, akan binasa. Bagaimana seseorang bisa selamat tanpa
Nama tersebut. (149, 589). Aku berada di dalam Nama, dan Nama itu berada di dalam-Ku (135,
77).
1. Keyakinan tentang Alam dan Manusia
Alam semesta itu ciptaan Tuhan dan fana. Tiada satupun yang kekal kecuali Tuhan. (131, 231,
642). Segala apapun di dalam alam semesta itu hanya maya. (188, 189).
Nanak adalah hamba-Nya. Dia itu Tuhan Maha Kuasa. (644). Selama manusia terpikir bahwa
sesuatunya itu dilakukan sendiri, maka ia akan tidak bahagia. (400). Dengan kodrat Tuhan,
seluruhnya terjadi. Dengan kodrat Tuhan, seluruhnya menjalani fungsinya. Dengan kodrat
Tuhan, seluruhnya dikuasai oleh maut. Dengan kodrat Tuhan, seluruhnya terserap ke dalam Yang
Maha Benar. Hai Nanak! Apapun yang dikehendaki Tuhan, semuanya terjadi. Tiada satupun
berada di bawah wewenang makhluk-Nya. (135, 78).
Granth Saheb, yang merupakan kitab suci di dalam agama Sikh itu, tidak ada berbicara tentang
kiamat dan kebangkitan dan peradilan Ilahi, yakni permasalahan eskatologi.
Hal itu disebabkan Guru Nanak menerima pokok keyakinan di dalam agama Hindu tentang
Karma, Samsara, dan Nirvana.

1. Keyakinan dalam agama Sikh


Pokok kebaktian di dalam agama Sikh bagi mencapai keselamatan adalah: Tafakkur dan Zikir.
Menurut konsepsi Upanishads di dalam agama Hindu ialah: dhyana-yoga dan Samadhi.
Tatacara bagi Tafakkur dan Zikir itu diungkapkan di dalam Adi Granth sebagai berikut:
Samadhi terhadap Ada Maha Agung itu satu-satunya upacara kebaktian keagamaan, hai saudarasaudaraku, (335). Kewajiban tertinggi adalah menyebut nama Tuhan Maha Esa itu terus
menerus, (234). Nama yang murni itu adalah bantuanKu, (577). Ingatlah senantiasa akan nama
yang teramat murni dari Ram. Hilangkan segala sesuatu yang lainnya dari ingatan, (582).
Sebutkan Nama itu berulangkali. Dengar akan Nama itu. Tumpukan ingatan pada Nama itu.
Pusatkan ingatan pada Tuhan. Ulang menyebut Nama-Nya setiap saat. Jiwamu akan terserap ke
dalam Nur Ilahi, (181).
Bagi kepentingan kebaktian itu terbentuklah suatu lembaga keagamaan dengan berbagai tata
tertib, bernama Khalsa Sangat (majelis murni). Sebutan Sangat disini sama dengan Sanga di
dalam agama Budda, dan Khalsa itu bermakna: murni.
Lembaga keagamaan itu lama kelamaan bertambah kukuh di tangan guru-guru yang
menggantikan Guru Nanak. Bahkan, lembaga keagamaan itu lambat laun berubah menjadi
lembaga politik, seperti yang telah diuraikan sebelumnya.[14]
1. Hari-hari Besar
a)

Baisakhi atau Tahun Baru

Baisakhi juga dieja Vaisakhi, yaitu festival yang diadakan untuk merayakan Tahun Baru Sikh dan
pendiri komunitas Sikh, yang dikenal dengan Khalsa, pada tahun 1699. Festival ini dirayakan
pada tanggal 13 atau 14 April. Yaitu festival panen di Punjab, yang menjadi festival Sikh yang
paling penting.
Kisah Baisakhi bermula pada tahun 1699, jamaah Sikh dari seluruh Punjab berkumpul untuk
merayakan festival panen lokal Baisakhi. Guru Gobind Singh keluar dari tenda dengan
membawa pedang dan meminta bahwa siapapun untuk siap memberikan hidupnya bagi
kemajuan agamanya.
Seorang Sikh muda datang ke depan dan menghilang di tenda dengan Guru. Kemudian Guru
muncul kembali sendirian dengan pedangnya yang berlumuran darah dan meminta relawan lain.
Peristiwa ini diulang sampai empat kali, hingga lima orang Sikh pergi ke tendanya.
Semua orang yang hadir sangat khawatir, sampai akhirnya kelima orang tersebut keluar dari
tenda dengan Guru Gobind Singh yang berturban. Kelima orang Sikh ini dikenal dengan Panj
Piare, atau Lima Kekasih. Orang-orang itu kemudian dibaptis ke Khalsa oleh Guru. Dia
mengucapkan beberapa doa kepada lima orang tersebut dan mereka ditaburi dengan Amrit.

Inilah awal mula upacara Amrit muncul dan kelima orang tersebut menjadi anggota pertama dari
Khalsa.[15]
b)

Diwali atau Festival Cahaya

Festival ini adalah festival cahaya yang dirayakan pada akhir Oktober atau awal November.
Festival ini dirayakan oleh orang Sikh, Hindu, dan Jain. Untuk Sikh, Diwali ini sangat penting
dirayakan karena untuk merayakan pembebasan Guru Har Gobind dari penjara dan 52 pangeran
lainnya, pada tahun 1619. Sikh merayakan kembalinya Guru Har Gobind dengan menyalakan
Kuil Emas dan tradisi ini berlanjut hingga saat ini.
Diwali berasal dari kata Sanskerta, dipavali, yang berarti deretan lampu. Diwali dikenal sebagai
festival lampu , karena rumah, toko-toko dan tempat-tempat umum yang dihiasi dengan lampu
minyak gerabah kecil disebut Diyas. Lampu ini secara tradisional didorong oleh minyak mustard,
dan ditempatkan di dalam baris jendela, pintu, dan bangunan luar untuk menghiasi mereka.
Di kota-kota di India dan di Inggris, lampu listrik yang sering digunakan untuk merayakan
Diwali. Di India, lampu minyak sering diletakkan di sungai Gangga, itu dianggap sebagai
pertanda baik jika lampu menyala pada semua jalan yang dilintasi. Selain itu, seperti Natal di
Barat, Diwali sangat banyak waktu untuk membeli dan bertukar hadiah. Diwali juga merupakan
waktu tradisional untuk mendekorasi ulang rumah dan membeli baju baru. Diwali juga
digunakan untuk merayakan keberhasilan panen.[16]
c)

Hola Mohalla

Hola Mohalla berasal dari kata Mohalla dalam bahasa Punjab, yang berarti prosesi terorganisir
dalam bentuk tentara yang diiringi drum perang dan bergerak dari satu Negara ke Negara lain.
Festival ini dirayakan setiap tahun pada bulan Maret.
Festival ini dimulai oleh Guru Sikh kesepuluh Guru Govind Singh yang telah mencoba untuk
mengumpulkan Sikh untuk latihan militer dan pertempuran mengejek setelah Holi. Ini kini telah
menjadi festival tahunan tradisional Sikh diadakan di Anandpur Sahib dan Kiratpur Sahib di
Punjab. Festival ini juga menandai Tahun Baru per bulan Nanakshahi kalender Sikh. Hal ini
dirayakan selama tiga hari dan mempertahankan karakter menyenangkan dan kegembiraan Holi
yang menyimpulkan sehari sebelumnya.
Bahkan saat ini, Sikh merayakan festival ini dengan sukacita dengan mengamati dan tampil di
parade seni bela diri, yang dipimpin oleh Sahibs Nishan dari Gurdwaras. Yang kemudian diikuti
oleh pembacaan puisi dan kompetisi musik. Tetapi melihat dari dekat mungkin berisiko bagi
penonton sebagai peserta yang melakukan Hola Mohalla berjuang keras dengan satu sama lain
meskipun mereka tidak bertarung dalam kenyataan. Perayaan telah diakui sebagai Festival
Nasional oleh Pemerintah. India dan itu sedang dirayakan di negara bagian Punjab sejak 1701.
[17]
[5] Keajaiban disini adalah ketika Guru Nanak dipaksa untuk mengangkat beban berat, barang
yang diangkatnya terangkat hingga sejengkal di atas kepalanya, padahal barang itu tidak

dipegang dan kuda yang diawasi oleh Mardana Bhai mengikutinya tanpa suatu pengendalian.
Sehingga, hal itu sangat mencengangkan Mir Khan, pengawas penjara tersebut.