Anda di halaman 1dari 4

Kehamilan Ektopik

Kehamilan dimana ovum yang dibuahi berimplantasi dan tumbuh di tempat yang tidak
normal, termasuk kehamilan servikal dan kehamilan kornu.
Etiologi dan Faktor Risiko
Kerusakan tuba akibat dari inflamasi, infeksi, dan pembedahan. Inflamasi dan infeksi
dapat menyebabkan kerusakan tanpa obstruksi tuba total.
Divertikel tuba dapat mengakibatkan abnormalitas yang menjerat blastokist atau
menghambat transpor. Kehamilan tuba dapat terjadi pada tuba terobstruksi dengan
patensi tuba kontralateral, dengan sperma bermigrasi melalui abdomen untuk
memfertilisasi ovum yang dilepaskan dari sisi yang terobstruksi.
Aktivitas mioelektrik bertanggung jawab terhadap aktivitas propulsif tuba falopii. Aktivitas
ini memfasilitasi pergerakan sperma dan ovum untuk saling mendekati dan mengeluarkan
zigot ke dalam cavum uteri.
Estrogen meningkatkan aktivitas otot polos dan progesteron menurunkan tonus otot.
Penuaan mengakibatkan hilangnya secara progresif aktivitas mioelektrikal sepanjang tuba
falopii, yang dapat menerangkan peningkatan insiden kehamilan tuba pada wanita
perimenopause.
Faktor-faktor risiko independen yang terbukti secara konsisten meningkatkan risiko
kehamilan tuba adalah sebagai berikut :
1.
Sebelumnya secara laparoskopik terbukti mengidap PRP.
2.
Kehamilan tuba sebelumnya
3.
Sedang memakai IUD
4.
Bedah tuba sebelumnya untuk infertilitas
Radang Panggul
Hubungan antara PRP, obstruksi tuba, dan kehamilan ektopik telah diketahui dengan
jelas.Setelah satu kejadian PRP, rasio kehamilan ektopik dibandingkan kehamilan
intrauterin adalah 1 : 24, merupakan peningkatan enam kali lipat dibandingkan insiden
wanita yang secara laparoskopik tidak menderita PRP.
Clamidia adalah suatu patogen penting yang menyebabkan kerusakan tuba dan
selanjutnya menyebabkan kehamilan tuba. Hubungan yang kuat antara infeksi klamidia
dan kehamilan tuba dapat ditunjukkan dengan tes serologi klamidia.
Penggunaan kontrasepsi
IUD inert dan mengandung tembaga mencegah baik kehamilan intrauterin maupun
ekstrauterin. Wanita yang hamil dengan IUD masih pada tempatnya, bagaimanapun, 0,400,8 kali lebih mungkin untuk mengalami kehamilan tuba dibandingkan mereka yang tidak
menggunakan kontrasepsi.
Karena IUD mencegah implantasi lebih efektif pasa uterus dibandingkan pada tuba, wanita
hamil dengan IUD enam sampai sepuluh kali lebih mungkin untuk mengalami kehamilan
tuba dibandingkan hamil tanpa kontrasepsi.
Sterilisasi
Risiko terbesar kehamilan, mencakup kehamilan ektopik, terjadi dalam 2 tahun setelah
sterilisasi. Reanastomosis tuba setelah sterilisasi juga meningkatkan risiko kehamilan
ektopik. Risiko bergantung pada metode sterilisasi, lokasi oklusi tuba, sisa panjang tuba,
penyakit lain yang menyertai dan teknik bedah.

Pembedahan Abdominal
Banyak pasien dengan kehamilan ektopik mempunyai riwayat pembedahan abdominal
sebelumnya.Kistektomi ovarium atau wedge resection meningkatkan risiko kehamilan
ektopik, tampaknya sebagai akibat pembentukan jaringan parut perituba.
Penyebab Lain
Abortus.Pada abortus berulang (lebih dari dua abortus berturut-turut), risiko meningkat
dua sampai empat kali. Peningkatan insiden ini sekunder akibat infeksi post operatif dan
prosedur aborsi yang tidak tepat.
Infertilitas. Walaupun insiden kehamilan ektopik meningkat dengan bertambahnya umur
dan partias, terdapat juga suatu peningkatan yang bermakna pada wanita nullipara yang
menjalani terapi infertilitas.
Risiko tambahan untuk wanita infertil berhubungan dengan terapi spesifik, mencakup
rekonstruksi sterilisasi, tuboplasti, induksi ovulasi dan fertilisasi invitro.
Perubahan hormonal akibat induksi ovulasi dengan klomifen sitrat dan gonadotropin dapat
menjadi predisposisi implantasi tuba.
Hiperstimulasi, dengan konsentrasi estrogen yang tinggi, mungkin berperan dalam
kehamilan tuba,namun tidak semua penelitian menunjukkan hubungan ini.
Salfingitis Isthmika Nodusa (SIN). SIN adalah suatu kondisi patologis noninflamasi tuba
dimana epitel tuba meluas ke dalam miosalfing dan membentuk suatu divertikel sejati.
Aktivitas elektrik miometrium di atas divertikel ditemukan abnormal.
Endometriosis dan Leiomioma. Endometriosis atau leiomioma dapat menyebabkan
obstruksi tuba. Namun keduanya jarang berhubungan dengan kehamilan ektopik.
Dietilstilbestrol. Wanita yang terpapar dengan dietilstilbestrol (DES) in utero yang
kemudian menjadi hamil mengalami peningkatan risiko terjadinya kehamilan ektopik.
Wanita yang terpapar DES, ditemukan sekitar 50% mempunyai abnormalitas cavum uteri.
Merokok. Merokok berhubungan dengan peningkatan risiko kehamilan tuba lebih dari dua
kali lipat. Perubahan motilitas tuba, aktivitas silia, dan implantasi blastokist semuanya
berhubungan dengan intake nikotik.

Diagnosis
TRIAS KET : Amenorhae, Nyeri Abdomen dan Perdarahan pervaginam
Diagnosis kehamilan ektopik adalah rumit oleh karena presentasi klinisnya yang
berspektrum luas, dari pasien yang tanpa gejala sampai mereka yang mengalami akut
abdomen dan syok hemodinamik.
Riwayat
Riwayat yang penting mencakup riwayat menstruasi, kehamilan sebelumnya, riwayat
infertilitas, status kontrasepsi sekarang, penilaian faktor risiko, dan gejala-gejala sekarang.
Gejala klasik trias kehamilan ektopik adalah nyeri, amenore, dan perdarahan
pervaginam. Kelompok gejala ini hanya tampak pada sekitar 50% pasien, namun paling
tipikal pada pasien dengan kehamilan ektopik ruptur nyeri abdomen adalah keluhan yang
paling umum, tetapi intensitas dan perjalanan nyeri bervariasi secara luas.
Nyeri dapat unilateral atau bilateral dan mungkin terjadi pada abdomen bagian atas atau
bawah. Nyeri bahu dan punggung diperkirakan akibat iritasi hemoperitoneal diafragma,
dapat mengindikasikan adanya perdarahan intraabdominal.

Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik harus mencakup pemeriksaan tanda vital dan pemeriksaan abdomen
dan pelvis. Abdomen dapat tidak nyeri atau nyeri ringan dengan atau tanpa rebound.
Uterus dapat sedikit membesar, dengan temuan yang serupa dengan kehamilan normal.
Nyeri gerak serviks mungkin ada.
Dengan ruptur dan perdarahan intraabdominal, pasien mengalami takikardi diikuti dengan
hipotensi. Bising usus menurun atau hilang. Abdomen mengalami distensi dengan nyeri
dan nyeri rebound. Nyeri gerak serviks muncul. Seringkali pemeriksaan pelvis inadekuat
karena nyeri dan proteksi diri.
Pemeriksaan laboratorium.
Pemeriksaan -hCG kuantitatif merupakan basis diagnostik untuk kehamilan ektopik. hCG
enzyme immunoassay, dengan sensitivitas 25 mIU/mL adalah uji skrining yang akurat
untuk deteksi kehamilan ektopik. Uji ini positif pada hampir semua kehamilan ektopik yang
didokumentasikan.
Standar rujukan. Standar internasional diperkenalkan pada 1964, mempunyai jumlah
yang bervariasi dari hCG subunit dan . Suatu preparasi yang dimurnikan dari -hCG
sekarang telah tersedia. Jadi pasien dengan konsentrasi hCG kurang dari 1.000 mIU/mL,
suatu uji kehamilan urine positif harus diperoleh sebelum meberikan terapi.
Waktu penggandaan. kadar hCG berhubungan dengan umur kehamilan. Selama 6
minggu pertama amenore, kadar hCG serum meningkat secara eksponensial. Jadi selama
periode waktu ini, waktu penggandaan relatif konstan, tanpa memperhatikan kadar awal.
Setelah umur kehamilan enam minggu, ketika kadar hCG lebih tinggi dari 6.000 sampai
10.000 mIU/mL, kadar hCG meningkat perlahan dan tidak konstan.
Waktu penggandaan hCG dapat membedakan kehamilan ektopik dari kehamilan
intrauterine, suatu peningkatan 66% kadar hCG dalam 48 jam merupakan batas nilai
normal kehamilan intrauterine viabel.
Pemeriksaan kadar hCG serial biasanya diperlukan bila pemeriksaan ultrasound awal
tidak jelas (misalnya bila tidak terdapat bukti gestasi intrauteri atau aktivitas jantung
ekstrautrine yang konsisten dengan kehamilan ektopik). Bila kadar hCG kurang dari 2.000,
waktu penggandaan memprediksikan kehamilan intrauterine viabel (peningkatan normal)
dibandingkan dengan nonviabilitas (peningkatan subnormal). Dengan peningkatan kadar
yang normal, pemeriksaan ultrasound kedua dilakukan bila kadar diperkirakan (dengan
ekstrapolasi) mencapai 2,000 mIU/mL. Peningkatan kadar abnormal (kurang dari 2.000
mIU/mL) menunjukkan kehamilan nonviabel. Lokasi (misalnya intrauterine versus
ekstrauterine) harus ditentukan secara pembedahan, baik laparoskopi atau dilatasi dan
kuretase. Hasil ultrasonografi yang tidak jelas, dan kadar hCG kurang dari 2.000 mIU/mL
adalah diagnostik untuk gestasi nonviabel, baik kehamilan ektopik ataupun abortus
komplit. Sebagai hukum umum, abortus komplit mengalami penurunan kadar hCG yang
cepat (50% dalam 48 jam), sementara kadar pada kehamilan ektopik meningkat atau
tetap.
Petanda Endokrinologis Lain
Kadar estradiol meningkat secara lambat sejak konsepsi sampai umur kehamilan 6
minggu dan kemudian meningkat cepat saat produksi oleh plasenta meningkat. Kadar
estradiol lebih rendah secara bermakna pada kehamilan ektopik bila dibandingkan dengan
kehamilan normal.
Kreatin Kinase telah diteliti sebagai petanda untuk diagnosis kehamilan ektopik. Kadar
kreatin kinase serum secara bermakna lebih tinggi pada semua pasien dengan kehamilan

tuba bila dibandingkan dengan pasien yang mengalami missed abortion atau kehamilan
intrauterin normal
Relaksin adalah hormon protein yang dipoduksi hanya oleh korpus luteum gravidarum.
Kadar relaksin lebih rendah secara bermakna pada kehamilan ektopik dan abortus
spontan dibandingkan pada kehamilan intrauterin normal.

Ultrasonografi
USG transvaginal lebih superior dibandingkan dengan transabdominal dalam
mengevaluasi struktur intrapelvis.
Diagnosis kehamilan intrauterin dapat ditegakkan satu minggu lebih awal dengan USG
transvaginal dibandingkan transabdominal. Penampakan uterus yang kosong, deteksi
massa adneksa, dan cairan bebas peritoneal, dan tanda-tanda langsung kehamilan
ektopik lebih terpercaya ditegakkan dengan prosedur transvaginal.
Penampakan kantung gestasi normal mungkin disimulasi oleh penumpukan cairan
intrauterin, kantung pseudogestasional yang terjadi pada 8% sampai 29% pasien dengan
kehamilan ektopik. Lusensi USG, lokasinya yang sentral kemungkinan merepresentasikan
perdarahan ke dalam cavitas endometrial oleh decidual cast. Bekuan dalam lusensi ini
mungkin menyerupai fetal pole.
Secara morfologis identifikasi Double Decidual Sac Sign (DDSS) merupakan metode
terbaik secara USG yang dikenal untuk membedakan true sacs dari pseudosacs. Kantung
ganda (double sac, double ring) dipercaya sebagai desidua kapsularis dan parietalis,
terlihat sebagai cincin ekhogenik konsentrik terpisah oleh ruang hipoekhogenik.
Massa adneksa kompleks atau solid sering berhubungan dengan kehamilan ektopik,
namun massa itu mungkin saja korpus luteum, endometrioma, hidrosalfing, neoplasma
ovarium (misalnya kista dermoid atau fibroid pedunkulasi). Cairan bebas cul-de-sac sering
berhubungan dengan kehamilan ektopik dan tidak lagi dipertimbangkan sebagai bukti
adanya ruptur.

Kuldosintesis
Tujuan prosedur ini adalah untuk menentukan adanya darah tidak beku, yang
meningkatkan kemungkinan kehamilan ektopik ruptur. Apabila darah tidak beku diperoleh
hasilnya adalah positif. Pada adanya cairan serous hasilnya adalah negatif. Pada tidak
adanya cairan atau darah beku adalah non diagnostik.
Secara historis bila hasil kuldosintesis positif laparotomi dilakukan untuk persangkaan
diagnosis kehamilan tuba ruptur. Bagaimanapun hasil kuldosintesis tidak selalu berkorelasi
dengan status kehamilan.
Laparoskopi
Laparoskopi adalah baku emas untuk diagnosis kehamilan ektopik. Umumnya tuba falopii
mudah divisualisasi dan dievaluasi, namun diagnosis kehamilan ektopik terlewatkan pada
3-4% pasien yang memiliki gestasi ektopik sangat kecil.

Penanganan
Kehamilan ektopik dapat diterapi baik secara medis maupun pembedahan. Kedua metode
efektif dan pemilihannya tergantung keadaan klinis, lokasi kehamilan ektopik, dan sumber
daya yang tersedia.
Terapi Pembedahan
Penanganan operatif paling banyak dipergunakan untuk menterapi kehamilan ektopik.
Salfingektomi versus Salfingostomi
Salfingostomi linear sekarang merupakan prosedur pilihan pada pasien dengan kehamilan
ektopik tidak ruptur dan ingin mempertahankan potensi fertilitasnya di masa depan.
Salfingostomi linear sama efektifnya dengan reseksi segmental dengan reanastomosis
primer.

Ultrasound Doppler
Pola ini terlihat di dekat endometrium, berhubungan dengan kehamilan intrauterin normal
dan abnormal dan diberi istilah peritrophoblastic flow. Sementara USG transvaginal
memerlukan kantung desidual ganda yang berkembang baik (atau aktivitas jantung) untuk
menlokalisir gestasi intrauterin, penggunaan teknik Doppler memungkinkan deteksi
kehamilan intrauterin lebih awal. Gabungan penggunaan Doppler dan pencitraan dua
dimensi memungkinkan pembedaan kantung pseudogestasional dan kantung gestasi
intrauterin sejati dan pembedaan tanda uterus kosong sebagai adanya kehamilan
intrauterin normal dan abnormal dan tidak adanya kehamilan intrauterin.
Dilatasi dan Kuretase
Kuretase uterus dilakukan bila kehamilan telah dikonfirmasi sebagai nonviabel dan lokasi
kehamilan tidak ditentukan secara USG. Metode sampling endometrium adalah akurat
dalam mendiagnosis perdarahan uterus abnormal.
Penting untuk mengkonfirmasi adanya jaringan trofoblastik secepat mungkin sehingga
terapi dapat dilakukan.

Laparotomi versus Laparoskopi


Laparotomi diindikasikan bila pasien tidak stabil secara hemodinamik, sementara
laparoskopi untuk pasien yang stabil secara hemodinamik. Kehamilan ektopik ruptur tidak
selalu memerlukan laparotomi. Namun bila bekuan darah dalam jumlah besar tampak atau
darah intraabdominal tidak dapat dievakuasi dengan cepat, laparotomi harus
dipertimbangkan. Laparoskopi dipilih untuk penanganan kebanyakan kehamilan ovarial
dan abdominal.
Outcome reproduktif setelah kehamilan ektopik biasanya dievaluasi dengan menentukan
patensi tuba dengan histerosalfingografi, angka kehamilan intrauterin selanjutnya, dan
angka kehamilan ektopik berulang.

Terapi Medis
Obat yang paling sering dipergunakan untuk penanganan medis kehamilan ektopik adalah
metotreksat. Metotreksat adalah suatu analog asam folat yang menghambat dehidrofolat
reduktase dan selanjutnya menghambat sintesis DNA. Penggunaan metotreksat untuk

terapi primer kehamilan ektopik, intramuskular (1 mg/kg/hari) diikuti dengan faktor


citrovorum (0,1 mg/kg/hari) pada hari yang bergantian. Terapi diberikan sampai terdapat
sedikitnya penurunan 15% dalam dua pemeriksaan kadar hCG harian. Metotreksat dosis
tunggal intramuskular untuk terapi kehamilan ektopik dengan injeksi 50 mg/m 2 tanpa
faktor citrovorum. Dibandingkan dengan protokol dosis majemuk, metotreksat dosis
tunggal lebih murah, penerimaan pasien lebih baik karena lebih sedikit pengawasan yang
diperlukan selama terapi, insiden efek samping menurun, dan hasil terapi dan prospek
untuk fertilitas di masa depan adalah sebanding.
Memulai terapi metotreksat.
Tabel 17.4 Memulai Metrotreksat : Checklist Dokter dan Instruksi kepada Pasien
Checlist Dokter
Pemeriksaan kadar hCG
USG transvagina dalam 48 jam
Kuretase endometrial bila kadar hCG kurang dari 2.000 mIU/mL
SGOT normal, Fungsi ginjal normal (BN, SC), dan DL normal (leukosit < 2,000/mL, dan platelet > 100.000)
Pemberian Rhogam bila pasieh Rh-negatif
Identifikasi kehamilan ektopik tidak ruptur lebih kecil dari 3,5 cm
Memperoleh informed conset
Peresepan FeSO4 325 mg p.o 2 kali sehari bila hematokrit kurang dari 30%
Jadwal follow-up pada hari ke-4, 6, dan 7
Instruksi kepada Pasien
Menghindari penggunaan alkohol, multivitamin yang mengandung asam folat, dan hubungan seksual sampai kadar hCG negatif
Hubungi dokter bila :
Bila mengalami perdarahan pervaginam yang lama dan banyak
Bila nyeri lama atau berat (nyeri perut bagian bawah dan pelvis adalah normal selama 10-14 hari pertama terapi
Penggunaan metode kontrasepsi oral atau barier

Follow-up pasien. Setelah pemberian metotreksat intramuskular pasien dimonitor sebagai


pasien rawat jalan. Pasien yang melaporkan nyeri hebat atau nyeri yang berkepanjangan
dievaluasi dengan pengukuran kadar hematokrit dan dilakukan USG transvaginal. Temuan
USG selama follow-up, walaupun biasanya tidak berguna, dapat dipergunakan untuk
meyakinkan bahwa tuba belum ruptur. Cairan pada cul-de-sac sangat umum, dan jumlah
cairan dapat meningkat bila abortus tuba terjadi.
Pasien diharapkan untuk tidak hamil selama sedikitnya dua bulan setelah terapi.
Histerosalfingografi dapat dilakukkan walaupun prosedur ini tidak harus.
Kandidat untuk metotreksat. Untuk memaksimalkan keamanan terapi dan untuk
menyingkirkan kemungkinan menterapi kehamilan intrauterin nonviabel atau viabel dini,
pasien yang dipertimbangkan sebagai kandidat untuk terapi metotreksat harus mencakup
faktor sebagai berikut :
1.
2.
3.

Kadar hCG tampak setelah salfingostomi atau salfingotomi


Peningkatan atau menetapnya kadar hCG tampak dalam sedikitnya 12
sampai 24 jam setelah suction kuretase.
Tidak terdapat kantung gestasi intrauterin atau penumpukan cairan terdeteksi
dengan USG transvaginal, kadar hCG lebih dari 2.000 mIU/mL, dan ditemukan massa
kehamilan ektopik yang sedikitnya berukuran 3,5-4 cm.

Temuan USG harus diinterpretasikan dengan hati-hati karena kebanyakan kehamilan


ektopik tidak ruptur disertai dengan cairan dalam cul-de-sac.

Jenis-Jenis Kehamilan Ektopik.


Resolusi Spontan
Beberapa kehamilan ektopik mengalami resolusi dengan resorpsi atau abortus tuba
sehingga tidak memerlukan terapi medis atau bedah. Proporsi kehamilan
ektopik yang mengalami resolusi spontan dan mengapa terjadi sementara
kehamilan ektopik lain tidak berresolusi spontan masih belum diketahui.
Penurunan kadar hCG adalah indikator yang paling sering dipergunakan, tetapi ruptur
kehamilan ektopik dapat terjadi bahkan dengan penurunan kadar hCG.
Jaringan Trofoblastik Persisten.
Kehamilan ektopik persisten terjadi bila pasien telah menjalani pembedahan konservatif
(misalnya salfingostomi, ekspresi fimbrial) dan jaringan trofoblastik viabel masih tersisa.
Secara histologis, tidak ada embyo yang dapat diidentifikasi, implantasi biasanya medial
dari insisi tuba sebelumnya, dan villi khorionik residual biasanya terbatas dalam muskular
tuba. Implantasi jaringan trofoblastik peritoneal dapat juga menyebabkan persistensi.
Insiden kehamilan ektopik persisten meningkat dengan meningkatnya penggunaan
pembedahan yang menkonservasi tuba. Persistensi didiagnosis bila kadar hCG tetap
setelah pembedahan konservatif. Gestasi ektopik persisten paling baik didiagnosis dengan
pengukuran kadar hCG serum atau progesteron 6 hari postoperatif dan dengan interval 3
hari sesudahnya.
Terapi kehamilan ektopik persisten dapat secara medis atau pembedahan. Terapi
pembedahan mencakup salfingostomi ulangan atau lebih sering salfingektomi. Metotreksat
memberi alternatif pada pasien yang stabil secara hemodinamik pada waktu diagnosis.
Kehamilan Ektopik Kronis
Kehamilan ektopik kronis adalah suatu keadaan dimana kehamilan tidak diresorbsi secara
lengkap selama penanganan. Keadaan ini muncul bila terdapat persistensi villi khorionik
dengan perdarahan ke dalam dinding tuba, yang mengalami distensi secara perlahan dan
tidak mengalami ruptur. Keadaan ini diterapi secara pembedahan dengan pengangkatan
tuba yang terkena. Seringkali ovarium harus diangkat karena terdapat inflamasi dan
adhesi. Hematoma dapat muncul sekunder karena perdarahan kronis.
Kehamilan Ektopik Non Tuba
Kehamilan Servikal. Insiden kehamilan servikal di Amerika Serikat antara 1 dalam 2.400
sampai 1 dalam 50.000 kehamilan. Bermacam keadaan diperkirakan sebagai predisposisi
terjadinya kehamilan servikal, mencakup riwayat abortus terapeutik, sindrom Asherman,
riwayat seksio sesarea, paparan dietilstilbestrol, leiomioma, dan fertilisasi invitro. Kriteria
diagnostik untuk kehamilan servikal ditetapkan berdasarkan analisis histologis dari
spesimen histerektomi. Kriteria klinis mencakup temuan sebagai berikut :
1.
Uterus lebih kecil dari serviks yang berdistensi.
2.
Ostium uteri interum tidak berdilatasi
3.
Kuretase cavum endometrial tidak menghasilkan jaringan plasenta.
4.
Ostium uteri eksternum membuka lebih awal dibandingkan abortus spontan.
Kriteria diagnostik USG juga telah dijelaskan yang berguna dalam membedakan
kehamilan servikal sejati dari abortus spontan yang sedang berlangsung. Diagnosis
mungkin lainnya yang harus didiferensial dari kehamilan servikal mencakup karsinoma
serviks, leiomioma servikal atau submukosa yang prolap, tumor trofoblastik, plasenta
previa, dan plasenta letak rendah.

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Tabel 17.5. Kriteria Ultrasonografi untuk Kehamilan Servikal


Cavum uteri echo-free atau hanya ada kantung gestasi palsu
Transformasi desidua endometrium dengan struktur echo-dense
Struktur dinding uterus yang difus
Uterus berbentuk hourglass
Kanalis servikalis membalon
Kantung gestasi di dalam endoserviks
Jaringan plasenta di dalam kanalis servikalis
Tertutupnya ostium interna

Kehamilan Ovarial. Kehamilan pada ovarium terjadi pada 0,5% sampai 1,5% dari semua
kehamilan ektopik dan paling sering dari seluruh kehamilan ektopik non tuba. Insidennya
dari 1 dalam 40.000 sampai 1 dalam 7.000 persalinan (204,205). Kriteria diagnostik
dijelaskan pada tahun 1878 oleh Spiegelberg (Tabel 17.6). Tidak seperti gestasi tuba,
kehamilan ovarial tidak berhubungan dengan penyakit radang panggul maupun infertilitas.
Satu-satunya faktor risiko yang berhubungan dengan terjadinya kehamilan ovarial adalah
penggunaan IUD.
Tabel 17.6. Kriteria Diagnosis Kehamilan Ovarial (Spielberg)
1.
Tuba falopii pada sisi yang terkena harus intak
2.
Kantung gestasi harus berlokasi pada ovarium
3.
Ovarium harus terhubung dengan uterus oleh ligamentum
ovarii
4.
Jaringan ovarium harus ditemukan pada dinding kantung
gestasi
Terapi kehamilan ovarial telah berubah. Sementara ooforektomi dianjurkan di masa lalu,
kistektomi ovarian sekarang menjadi terapi yang lebih disukai. Mungkin untuk melakukan
kistektomi mempergunakan teknik laparoskopik. Terapi dengan injeksi metotreksat atau
prostaglandin juga telah dilaporkan.
Kehamilan Abdominal. Kehamilan abdominal diklasifikasi sebagai primer dan sekunder.
Tabel 17.7 memuat kriteria untuk mengklasifikasi kehamilan abdominal primer. Kehamilan
abdominal sekunder adalah jauh lebih sering dan terjadi akibat abortus atau ruptur tuba,
atau lebih jarang akibat implantasi dalam abdomen setelah ruptura uteri.
Tabel 17.7 Kriteria Studdiford untuk Diagnosis Kehamilan Abdominal Primer
1.
Adanya tuba dan ovarium normal tanpa bukti kehamilan sekarang ataupun
sebelumnya
2.
Tidak ada bukti fistule uteroplasenta
3.
Adanya kehamilan yang berhubungan secara eksklusif dengan permukaan
peritoneum dan cukup dini untuk mengeliminasi kemungkinan implantasi sekunder
setelah nidasi tuba primer
Penampakan pasien dengan kehamilan abdominal bervariasi dan tergantung dari umur
kehamilannya. Pada trimester pertama dan awal trimester kedua, gejala mungkin sama
dengan gejala gesatasi ektopik tuba; pada kehamilan abdominal lanjut, presentasi klinis
lebih bervariasi. Pasien mungkin mengeluhkan nyeri hebat akibat gerakan janin, gerakan
janin tinggi di dalam abdomen atau berkurangnya gerak janin secara mendadak.
Pemeriksaan fisik mungkin menemukan letak janin abnormal persisten, nyeri abdomen,
serviks uteri yang bergeser, mudahnya palpasi bagian-bagian janin, dan palpasi uterus

terpisah dari gestasi. Diagnosis dapat dicurigai bila tidak terdapat kontraksi uterus setelah
infus oksitosin.
Karena kehamilan dapat berlanjut sampai aterm, morbiditas dan mortalitas maternal
potensial adalah sangat tinggi. Sebagai akibatnya, intervensi bedah dianjurkan bila
kehamilan abdominal didiagnosis. Saat pembedahan, plasenta dapat diangkat bila suplai
vaskular dapat diidentifikasi dan diligasi, akan tetapi perdarahan dapat terjadi, yang
memerlukan packing abdominal yang dibiarkan dan diangkat setelah 24 sampai 48 jam.
Embolisasi arterial angiografis telah dikemukakan. Bila suplai vaskular tidak dapat
diidentifikasi, tali pusat diligasi di dekat plasenta, dan plasenta dibiarkan di tempatnya.
Involusi plasenta dapat dipantau dengan pemeriksaan USG dan kadar hCG serial.
Komplikasi potensial dari tindakan meninggalkan plasenta mencakup obstruksi ileus,
pembentulan fistula, dan sepsis. Terapi metotreksat tampaknya dikontraindikasikan karena
angka komplikasi yang tinggi telah dilaporkan, mencakup sepsis dan kematian, dipercaya
sebagai akibat nekrosis jaringan yang cepat.
Kehamilan Interstitial. Kehamilan interstitial merupakan 1% dari kehamilan ektopik.
Pasien ini cenderung untuk muncul pada umur kehamilan lebih lanjut dibandingkan
dengan kehamilan tuba. Kehamilan interstitial sering berhubungan dengan ruptura uteri;
jadi, mereka secara tidak proporsional merupakan persentase besar dari fatalitas
kehamilan ektopik. Terapinya adalah reseksi kornual dengan laparotomi, namun
penanganan laparoskopik juga telah dikemukakan.
Kehamilan Interligamentous. Kehamilan interligamentous adalah bentuk jarang dari
kehamilan ektopik yang terjadi pada sekitar 1 dari 300 kehamilan ektopik. Kehamilan
interligamentous biasanya sebagai akibat penetrasi trofoblastik dari kehamilan tuba
melalui serosa tuba ke dalam mesosalfing, dengan implantasi sekunder di antara
ligamentum latum. dapat juga terjadi bila fistula uteri terjadi antara cavitas endometrial dan
cavum retroperitoneal. Seperti halnya kehamilan abdominal, plasenta dapat melekat pada
uterus, kandung kemih, dan dinding pelvis. bila memungkinakan plasenta harus diangkat;
bila tidak mungkin, dapat ditinggalkan in situ dan diharapkan mengalami resorbsi.
Kehamilan Heterotropik. Kehamilan heterotropik terjadi bila terdapat kehamilan
intrauterin dan ektopik secara bersamaan. Insiden yang dilaporkan bervariasi luas dari 1
dalam 100 sampai 1 dalam 30.000 kehamilan. Pasien yang menjalani induksi ovulasi
memiliki insiden kehamilan heterotropik yang jauh lebih tinggi dibandingkan mereka yang
mengalami konsepsi spontan. Kehamilan intrauterin terlihat selama pemeriksaan USG dan
kehamilan ekstrauterin mungkin terlewatkan dengan mudah. Pemeriksaan hCG serial
sering tidak membantu karena kehamilan intrauterin menyebabkan peningkatan kadar
hCG yang sesuai.
Terapi kehamilan ektopik ini adalah operatif; sekali kehamilan ektopik telah diangkat,
kehamilan intrauterin berlanjut pada kebanyakan pasien. Mungkin juga untuk melakukan
terapi medis nonkemoterapeutik seperti injeksi langsung KCL transvaginal atau secara
laparoskopik sebagai terapi kehamilan ektopik ini.
Kehamilan Ektopik Majemuk. Gestasi ektopik ganda atau majemuk terjadi lebih jarang
dari gestasi heterotropik dan dapat tampak pada berbagai lokasi dan kombinasi.
Penanganannya adalah serupa dengan jenis kehamilan ektopik lain dan bergantung pada
lokasi kehamilan.
Kehamilan Setelah Histerektomi. Bentuk paling jarang dari keahmilan ektopik adalah
yang terjadi setelah histerektomi vaginal maupun abdominal. Kehamilan seperti ini dapat
terjadi setelah histerektomi supraservikal karena pasien memiliki kanalis servikalis yang

memungkinkan akses ke dalam ruang peritoneal. Kehamilan setelah histerektomi total


mungkin terjadi sekunder akibat defek mukosa vagina yang memungkinkan sperma
memasuki cavum abdomen.