Anda di halaman 1dari 27

MAKALAH FISIKA TEKNIK

PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA UAP (PLTU)

DISUSUN OLEH
NAMA

:DWI IRWANTONO

NIM

:K2514026
PTM/B

PENDIDIKAN TEKNIK MESIN


PENDIDIKAN TEKNIK DAN KEJURUAN
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

BAB I
PENDAHULUAN
A.

Latar Belakang
Kebutuhan listrik pada saat ini dirasa cukup banyak. Sebagai negara kepulauan,
Indonesia memiliki luas wilayah yang cukup besar. Seiring dengan tidak meratanya jumlah
kelahiran dan persebaran penduduk pada setiap wilayah atau pulau yang ada di Indonesia
mengakibatkan konsentrasi kepadatan penduduk hanya terdapat pada beberapa tempat saja,
secara khusus hanya terdapat pada kota-kota besar saja.
Inilah yang menyebabkan kebutuhan energi listrik diperkotaan sangat dibutuhkan.
Banyaknya pembangkit listrik yang ada seperti PLTU (Pembangkit Listrik Tenaga Uap) harus
menghasilkan jumlah tenaga lisrik dalam jumlah yang cukup besar.
Seperti yang dicanangkan oleh PLN bahwa melalui PLTU ditargetkan dapat tercapai
produksi tenaga listrik sebesar 10.000MW dengan membangun PLTU sebanyak 35 buah yang
nantinya akan ditempatkan di jawa dan luar jawa.
Sebagai sumber energi sebuah PLTU adalah batu bara. Sebuah pembangkit listrik jika
dilihat dari bahan baku untuk memproduksinya, maka Pembangkit Listrik Tenaga Uap bisa
dikatakan pembangkit yang berbahan baku Air. Kenapa tidak UAP? Uap disini hanya sebagai
tenaga pemutar turbin, sementara untuk menghasilkan uap dalam jumlah tertentu diperlukan
air. Menariknya didalam PLTU terdapat proses yang terus menerus berlangsung dan berulangulang. Prosesnya antara air menjadi uap kemudian uap kembali menjadi air dan seterusnya.
Proses inilah yang dimaksud dengan Siklus PLTU.
Air yang digunakan dalam siklus PLTU ini disebut Air Demin (Demineralized), yakni
air yang mempunyai kadar conductivity (kemampuan untuk menghantarkan listrik) sebesar
0.2 us (mikro siemen). Sebagai perbandingan air mineral yang kita minum sehari-hari
mempunyai kadar conductivity sekitar 100 200 us. Untuk mendapatkan air demin ini, setiap
unit PLTU biasanya dilengkapi dengan Desalination Plant dan Demineralization Plant yang
berfungsi untuk memproduksi air demin ini.
Secara sederhana bagaimana siklus PLTU itu bisa dilihat ketika proses memasak air.
Mula-mula air ditampung dalam tempat memasak dan kemudian diberi panas dari sumbu api
yang menyala dibawahnya. Akibat pembakaran menimbulkan air terus mengalami kenaikan
suhu sampai pada batas titik didihnya. Karena pembakaran terus berlanjut maka air yang
dimasak melampaui titik didihnya sampai timbul uap panas. Uap ini lah yang digunakan
untuk memutar turbin dan generator yang nantinya akan menghasilkan energi listrik.

B.

Maksud dan Tujuan


Maksud dan tujuan pembuatan makalah ini antara lain, yaitu:
1. Sebagai bahan kajian para mahasiswa mengenai PLTU
2. Sebagai metode pengumpulan data tentang PLTU
3. Sebagai pemenuhan tugas Mata Kuliah Operasi Sistem Tenaga Listrik

C. Ruang Lingkup
Makalah ini membahas mengenai Definisi, Prinsip Kerja, Komponen dan Fungsi,
Kelebihan serta Kekurangan dari PLTU

BAB II
PEMBAHASAN
A. PEMBANGKIT PADA UMUMNYA TERDAPAT :
a. Instalasi Energi Primer, yaitu bahan bakar atau instalasi tenaga air
b. Instalasi Mesin Penggerak Generator, yaitu yang berfungsi sebagai pengubah energi
primer menjadi energi mekanik penggerak generator. Mesin penggerak generator ini dapat
c.

berupa ketel uap beserta turbin uap, mesin diesel, turbin gas, dan turbin air
Instalasi Pendingin, yaitu instalasi yang berfungsi mendinginkan instalasi penggerak yang

menggunakan bahan bakar


d. Instalasi Listrik, yaitu instalasi yang secara garis besar terdari dari :
Instalasi Tegangan Tinggi, yaitu instalasi yang menyalurkan energi listrik yang
-

dibangkitkan generator
Instalasi Tegangan Rendah, yaitu instalasi alat-alat bantu dan instalasi penerangan
Instalasi Arus Searah, yaitu instalasi yang terdiri dari baterai aki beserta pengisinya dan
jaringan arus serarah yang terutama digunakan untuk proteksi, kontrol dan telekomunikasi.

B. PROSES KONVERSI ENERGI


Dalam PLTU, energi primer berupa bahan bakar (batubara/minyak gas) dikonversikan
menjadi listrik (energi sekunder), dengan tahapan sebagai berikut:
a.

Pertama, energi kimia dalam bahan bakar dikonversikan menjadi energi panas dalam ruang

bakar boiler, dalam proses pembakaran.


b. Kedua, energi panas tersebut diatas selanjutnya dikonversikan menjadi energi dalam uap
c.

(enthalpy) di boiler, melalui proses perpindahan panas.


Ketiga, energi dalam uap (enthalpy) selanjutnya dikonversikan menjadi energi mekanik

berupa putaran pada turbin uap.


d. Terakhir, energi mekanik dari turbin uap dikonversikan menjadi energi listrik pada generator.

C. SIKLUS UAP DAN AIR


Dari Gambar diatas menggambarkan siklus uap dan air yang berlangsung dalam PLTU,
yang dayanya relatif besar, di atas 200 MW. Untuk PLTU ukuran ini. PLTU umumnya
memiliki pemanas ulang dan pemanas awal serta menpunyai 3 tubin yaitu turbin tekanan
tinggi, turbin tekanan menengah dan turbin tekanan rendah. Siklus yang digambarkan oleh
Gambar diatas telah disederhanankan, yaitu bagian yang menggambarkan sirkuit pengolahan

air utnuk suplisi dihilangkan untuk penyederhanan. Suplisi air ini diperlukan karena adanya
kebocoran uap pada sambungan-sambungan pipa uap dan adanya blow down air dari drum
ketel.
Air dipompakan ke dalam drum dan selanjuntya mengalir ke pipa-pipa air yang
merupakan dinding yang mengelilingi ruang bakar ketel. Ke dalam ruang bakar dan udara
pembakaran. Bahan bakar yang dicampur udara ini dinyalakan dalam ruang bakar sehingga
terjadi pembakaran dalam ruang bakar. Pembakaran bahan bakar dalam ruang bakar
mengubah energi kimia yang terkandung dalam bahan bakar menjadi energi panas (kalori).
Energi panas hasil pembakaran ini dipindahkan ke air yang aad dalam pipa air ketel melalui
proses radiasi, konduksi dan konveksi.
Untuk setiap macam bahan bakar. Komposisi perpindahan panas berbeda, mislanya bahan
bakar minyak paling banyak memindahkan kalori hasil pembakarannya melalui radiasi
dibandingkan bahan bakar lainnya. Untuk melaksanakan pemabakaran diperlukan oksigen
yang diambil dair udara. Oleh karena itu, diperlukan pasokan udara yang cukup ke dalam
ruang bakar. Untuk keperluan memasok udara ke ruang bakar dan pada ujung keluar udara
dari ruang bakar.
Gas hasil pembakaran dalam ruang bakar setelah diberi kesempatan memindahkan
energi panasnya ke air yang ada di dalam pipa air ketel, dialirkan melalui saluran
pembuangan gas untuk selanjuntya di buang ke udara melalui cerobong. Gas buang sisa
pembakaran ini masih mengandung banyak energi panas karena tidak semua energi panasnya
dapat dipindahkan ke air yang ada dalam pipa air ketel. Gas buang yang masih mempunyai
suhu di atas 400C ini dimanfaatkan untuk memanasi.
a.

Pemanas Lanjut (Super Heater)


Di dalam pemanas lanjut, mengalir uap dari drum ketel yang menuju ke turbin uap tekanan
tinggi. Uap yang mengalir dalam pemanas lanjut ini mengalami kenaikan suhu sehingga suhu

uap air ini semakin kering, oleh karena adanya gas buang di sekeliling pemanas lanjut.
b. Pemanas Ulang (Reheater)
Uap yang telah digunakan untuk menggerakan turbin tekanan tinggi, sebelum menuju turbin
tekanan menengah, dialirkan kembali melalui pipa yang dikelilingi oleh gas buang. Di sini
uap akan mengalami kenaikan suhu yang serupa dengan pemanas lanjut.
c. Economizer
Air yang dipompakan ke dalam ketel, terlebih dahulu dialirkan melalui ekonomizer agar
mendapat pemanasan oleh gas buang. Dengan demikian suhu air akan lebih tinggi ketika
masuk ke pipa air di dalam ruang bakar yang selanjuntya akan mengurangi jumlah kalori
yang diperlukan untuk penguapan (lebih ekonomis).
d. Pemanas Udara

Udara yang akan dialirkan ke ruang pembakaran yang digunakan untuk membakar bahan
bakar terlebih dahulu dialirkan melalui pemanas udara agar mendapat pemanasan oleh gas
buang sehingga suhu udara pembakaran naik yang selanjuntya akan mempertinggi suhu nyala
pembakaran.
Dengan menempatkan alat-alat tersebut diatas dalam saluran gas buang, maka energi
panas yang masih terkandung dalam gas buang dapat dimanfaatkan semaksimal mungkin.
Sebelum melalui panas udara, gas buang diharapkan masih mempunyai suhu diatas suhu
pengembunan asam sulfat H2SO4, yaitu sekitar 180C. Hal ini perlu untuk menghindari
terjadinya pengembunan asam sulfat di atas pemanas udara. Apabila hal ini terjadi, maka akan
terjadi korosi pada pemanas udara dan pemanas udara tersebut akan menjadi rusak (keropos)
Energi panas yang timbul dalam ruang pembakaran sebagai hasil pembakaran, setelah
dipindahkan ke dalam air yang ada dalam pipa air ketel, akan menaikan suhu air dan
menhasilkan uap. Uap ini dikumpulkan dalam drum ketel. Uap yang terkumpul mempunyai
tekanan dan suhu yang tinggi dimana bisa mencapai 100 kg/cm dan 530C. Energi yang
tersimpan dalam drum ketel dapat digunakan untuk mendorong atau memanasi sesuatu (uap
ini mengandung energi). Drum ketel berisi air dibagian bawah dan uap yang mengandung
energi dibagian atas.
Uap dari drum ketel dialirkan ke turbin uap, dan dalam trubin uap, energi dari uap
dikonversikan menjadi energi mekanis penggerak generator. Turbin pada PLTU besar, diatas
150 MW, umumnya terdiri dari 3 kelompok, yaitu turbin tekanan tinggi, tubin tekanan
menegah, turbin tekanan rendah. Uap dari drum ketel mula-mula dialirkan ke turbin tekanan
tinggi dengan terlebih dahulu melalui pemanas lanjut agar uapnya menjadi kering. Setelah
keluar dari turbin tekanan tinggi, uap dialirkan ke pemanas ulang untuk menerima energi
panas dan gas buang sehingga suhunya naik. Dari pemanas ulang, uap dialirkan ke turbin
tekanan menengah.
Keluar dari turbin tekanan menengah, uap langsung dialirkan ke turbin tekanan rendah.
Turbin tekanan rendah umumnya merupakan turbin dengan uap aliran ganda dengan arah
aliran yang berlawanan untuk mengurangi gaya aksial turbin.
Dari turbin tekanan rendah, uap dialirkan ke kondensor untuk diembunkan. Kondensor
memerlukan air pendinginn untuk mengembunkan uap yang keluar dari turbin tekanan
rendah, Oleh karena itu, banyak PLTU dibangun dipantai, Penggunaan air laut sebagai air
pendingin menimbulkan masalah-masalah sebagai berikut :
a.

Material yang dialiri air laut harus material anti korosi (tahan air laut)

b.

Binatang laut bisa masuk dan berkembang biak dalam saluran air pendingin yang

memerlukan pembersihan secara periodik


c. Selain binatang laut, kotoran air laut juga ikut masuk dan akan menyumbat pipa-pipa
kondensor sehingga diperlukan pembersihan pipa kondensor secara periodik
d. Ada risiko air laut masuk ke dalam sirkuit uap. Hal ini berbahaya bagi sudu-sudu turbin uap.
Oleh karena itu, harus dicegah.
Setelah air diembunkan dalam kondensor, air kemudian dipompa ke tangki pengolah air.
Dalam tangki pengolah air, ada penambahan air agar memenuhi mutu yang diinginkan untuk
air ketel. Mutu air ketel antara lain menyangkut kandungan NaC1, C1, O 2 dan derajat
keasaman (pH). Dari tangki pengolah air, air dipompa kembali ke ketel, tetapi terlebih dahulu
melalui Ekonomizer, air mengambil energi panas dari gas buang sehingga suhunya naik,
kemudian baru mengalir ke ketel uap.
Pada PLTU yang besar, diatas 150 MW, biasanya digunakan pemanas awal (pre heater),
yaitu pemanas air yang akan masuk ke ekonomizer sebelum masuk ke ketel uap. Pemanas
awal ini ada 2 buah, masing-masing menggunakan uap yang diambil (di-tap) dan turbin
tekanan menengah dan turbin tekanan rendah sehingga didapat pemanas awal tekanan
menengah dan pemanas awal tekanan rendah.

Pembangkit listrik tenaga uap (PLTU)

Pembangkit

listrik tenaga uap (PLTU) adalah pembangkit yang


mengandalkan energikinetik dari uap untuk menghasilkan energi listrik.Bentuk
utama dari pembangkit listrik jenis ini adalah Generator yang dihubungkan ke
turbinyang digerakkan oleh tenaga kinetik dari uap panas/kering. Pembangkit
listrik tenaga uapmenggunakan berbagai macam bahan bakar terutama batu
bara dan minyak bakar serta MFOuntuk start up awal.
PLTU batubara, bahan bakar yang digunakan adalah batubara uap yang te
rdiri dari kelas sub bituminus danbituminus. Lignit juga mulai mendapat tempat s

ebagai bahan bakar pada PLTU belakangan ini, seiringdengan perkembangan tek
nologi pembangkitan yang mampu mengakomodasi batubara berkualitasrendah.
skema PLTU bahan bakar batubara

Pembakaran Lapisan Tetap

Metode lapisan tetap menggunakan

atas kisi api (traveling

stoker boiler untuk proses pembakarannya.


Sebagai bahan bakarnya adalah batubara
dengan kadar abu yang tidak terlalu rendah
dan berukuran maksimum sekitar 30mm.
Selain itu, karena adanya pembatasan
sebaran ukuran butiran batubara yang
digunakan, maka perlu dilakukan
pengurangan jumlah fine coal yang ikut
tercampur ke dalam batubara tersebut.
Alasan tidak digunakannya batubara dengan
kadar abu yang terlalu rendah adalah karena
pada metode pembakaran ini, batubara dibakar
diatas lapisan abu tebal yang terbentuk di
fire grate) pada stoker boiler.

Gambar Stoker Boiler

Pembakaran Batubara Serbuk (Pulverized Coal


Combustion/PCC)

Pada PCC, batubara diremuk dulu dengan menggunakan coal pulverizer (coal
mill) sampai berukuran 200 mesh (diameter 74m), kemudian bersama sama
dengan udara pembakaran disemprotkan ke boiler untuk dibakar. Pembakaran
metode ini sensitif terhadap kualitas batubara yang digunakan, terutama sifat
ketergerusan (grindability), sifat slagging, sifat fauling, dan kadar air (moisture
content). Batubara yang disukai untuk boiler PCC adalah yang memiliki sifat
ketergerusan dengan HGI (Hardgrove Grindability Index) di atas 40 dan kadar air
kurang dari 30%, serta rasio bahan bakar (fuel ratio) kurang dari 2. Pembakaran

dengan metode PCC ini akan menghasilkan abu yang terdiri diri dari clinker ash
sebanyak 15% dan sisanya berupa fly ash.
Gambar PCC Boiler

Pembakaran Lapisan
Mengambang (Fluidized
Bed Combustion/FBC)
Pada pembakaran dengan metode
FBC, batubara diremuk terlebih dulu
dengan menggunakan crusher sampai
berukuran maksimum 25mm. Tidak seperti
pembakaran menggunakan stoker yang
menempatkan batubara di atas kisi api
selama pembakaran atau metode PCC
yang menyemprotkan campuran batubara
dan udara pada saat pembakaran, butiran
batubara dijaga agar dalam posisi mengambang, dengan cara melewatkan angin
berkecepatan tertentu dari bagian bawah boiler.
Gambar Tipikal boiler FBC

PFBC
Pada PFBC, selain dihasilkan panas yang digunakan untuk memanaskan air
menjadi uap untuk memutar turbin uap, dihasilkan pula gas hasil pembakaran
yang memiliki tekanan tinggi yang dapat memutar turbin gas, sehingga PLTU
yang menggunakan PFBC memiliki efisiensi pembangkitan yang lebih baik
dibandingkan dengan AFBC karena mekanisme kombinasi (combined cycle) ini.
Nilai efisiensi bruto pembangkitan (gross efficiency) dapat mencapai 43%.
Gambar Prinsip kerja PFBC

Peningkatan efisiensi panas


Untuk

lebih meningkatkan efisiensi panas, unit gasifikasi sebagian (partial


gasifier) yang menggunakan teknologi gasifikasi lapisan mengambang (fluidized
bed gasification) kemudian ditambahkan pada unit PFBC. Dengan kombinasi
teknologi gasifikasi ini maka upaya peningkatan suhu gas pada pintu masuk
(inlet) turbin gas memungkinkan untuk dilakukan.
Pada proses gasifikasi di partial gasifier tersebut, konversi karbon yang
dicapai adalah sekitar 85%. Nilai ini dapat ditingkatkan menjadi 100% melalui
kombinasi dengan
pengoksidasi (oxidizer).
Pengembangan lebih
lanjut dari PFBC ini
dinamakan dengan
Advanced PFBC (APFBC), yang prinsip
kerjanya ditampilkan
pada gambar 10 di
bawah ini. Efisiensi netto
pembangkitan (net
efficiency) yang
dihasilkan pada A-PFBC
ini sangat tinggi, dapat mencapai 46%.
Gambar Prinsip kerja A-PFBC

ICFBC
Ruang pembakaran utama (primary combustion chamber) dan ruang
pengambilan panas (heat recovery chamber) dipisahkan oleh dinding
penghalang yang terpasang miring. Kemudian, karena pipa pemanas (heat
exchange tube) tidak terpasang langsung pada ruang pembakaran utama, maka
tidak ada kekhawatiran terhadap keausan pipa sehingga pasir silika digunakan
sebagai pengganti batu kapur untuk media FBC. Batu kapur masih tetap

digunakan sebagai bahan pereduksi


SOx, hanya jumlahnya ditekan sesuai
dengan keperluan saja.
Gambar ICFBC

IGCC

pada sistem ini terdapat alat


gasifikasi (gasifier) yang digunakan
untuk menghasilkan gas, umumnya
bertipe entrained flow. Yang tersedia
di pasaran saat ini untuk tipe tersebut
misalnya Chevron Texaco (lisensinya
sekarang dimiliki GE Energy), E-Gas
(lisensinya dulu dimiliki Dow,
kemudian Destec, dan terakhir Conoco
Phillips ), dan Shell. Prinsip kerja ketiga alat tersebut adalah sama, yaitu
batubara dan oksigen berkadar tinggi dimasukkan kedalamnya kemudian
dilakukan reaksi berupa oksidasi sebagian (partial oxidation) untuk menghasilkan
gas sintetis (syngas), yang 85% lebih komposisinya terdiri dari H 2 dan CO. Karena
reaksi berlangsung pada suhu tinggi, abu pada batubara akan melebur dan
membentuk slag dalam kondisi meleleh (glassy slag). Adapun panas yang
ditimbulkan oleh proses gasifikasi dapat digunakan untuk menghasilkan uap
bertekanan tinggi, yang selanjutnya dialirkan ke turbin uap.
Gambar Tipikal IGCC

D. PERALATAN UTAMA PTLU


1. Coal Handling
Sebelum digunakan sebagai bahan bakar, batubara akan melalui beberapa proses yaitu
Stacking, Reclaiming dan Processing. Tetapi Coal Handling hanya akan melaksanakan proses
stacking dan Reclaming, sedangkan untuk Processing termasuk didalam pengoperasian
boiler dan akan dijelaskan pada pembahasan selanjutnya. Stacking merupakan proses

penumpukan batubara dari kapal laut. Sedangkan Processing merupakan sistem penanganan
batubara dari Silo hingga siap digunakan di Boiler.

Stacking
Stacking adalah proses pemindahan batubara dari kapal ke Coal Pile. Beberapa istilah dalam
Stacking antara lain :
a.

Jetty
Jetty merupakan dermaga atau tempat merapat kapal laut pengangkut batubara di

PLTU. Tiap Jetty mempunyai empat buah Doc Mobil Hopper yang fungsinya untuk
memindahkan batubara dari kapal ke Belt Conveyor. Doc Mobil Hopper dapat diubah-ubah
posissinya sesuai dengan posisi kapal, hal ini dikontrol oleh operator di Coal Unloading
Control building (CUCB).
b.

Belt

Conveyor

Belt Conveyor berbentuk semacam sabuk besar yang terbuat dari karet yang bergerak
melewati Head Pulley dan Tail Pulley, keduanya berfungsi untuk menggerakkan Belt
Conveyor, serta Tansioning Pulley yang berfungsi sebagai peregang Belt conveyor. Untuk
menyangga Belt Conveyor beserta bobot batubara yang diangkut dipasang Idler pada jarak
tertentu diantara Head Pulley dan Tail Pulley. Idler adalah bantalan berputar yang dilewati
oleh Belt Conveyor. Batubara yang diangkut oleh Conveyor dituangkan dari sebuah bak
peluncur (Chute) diujung Tail Pulley kemudian bergerak menuju ke arah Head Pulley.
Biasanya , muatan batubara akan jatuh ke dalam bak peluncur lainnya yang terletak dibawah
Head Pulley untuk diteruskan ke conveyor lainnya atau masuk ke bak penyimpan. Disetiap
belokan antar Conveyor satu dengan yang lain dihubungkan dengan Transfer House, selain
itu pada belt Conveyor ditambahkan juga beberapa aksesori yang bertujuan untuk
meningkatkan fleksibilitasnya, antara lain:
1. Pengambil Sampel
Dilakukan secara otomatis, jika terdeteksi adanya metal pada batubara pengambil sampel
langsung berhenti.
2. Metal Detector
Merupakan alat untuk mendeteksi adanya logam-logam didalam batu bara yang tercampur
pada proses pengiriman.
3. Magnetic Separator
Untuk memisahkan logam-logam yang terkandung dalam batubara pada proses pengiriman.
4. Belt Scale

Untuk mengetahui jumlah tonnase berat batubara yang diangkut oleh Belt Conveyor.
5. Dust Supasion
Berfungsi untuk :
Air Polution kontroller
Menyemprot air pada batubara
Menghemat batubara agar tidak menjadi debu
Menghalangi terjadinya percikan api akibat debu panas dari batubara.
c. Reclaiming
Reclaming adalah proses pengambilan batubara dari Coal Pile dan menyalurkan ke
Silo. Beberapa istilah dalam reclaiming antara lain :
d. Coal Pile
Terdapat empat daerah Coal Pile, berturut-turut dari utara ke selatan :
Di Coal Pile, proses penimbunan dan pengambilan batubara dilakukan dengan alat yang
disebut Stacker/Reklaimer. Alat ini merupakan sebuah konveyor yang kompleks dan
terpasang pada sebuah struktur yang dapat bergerak. Didalam proses penimbunan, stacker
menyalurkan batubara melalui sebuah lengan yang dapat diatur agar selalu diam ditempat,
sehingga batubara yang tumpah melalui lengan itu akan membentuk timbunan yang tinggi ,
apabila lengan bergerak maju mundur maka timbunan yang akan dihasilkan menjadi
timbunan yang rapi dan memanjang. Pada saat pengambilan, Reclaiming Bucket pada stacker
akan berputar dan mengeruk batubara yang selanjutnya dituang ke Belt Conveyor untuk
dibawa ke instalasi. Seperti halnya proses penimbunan, Reclaiming Bucket ini dapat juga
diatur agar tetap diam ditempat atau maju mundur untuk mengeruk batubara.
e. Coal Silo
Terdapat enam buah Coal Silo yaitu A, B, C, D, E dan F. Pengisian Silo dilakukan
dengan menggunakan Belt conveyor yang dihubungkan dengan Tripper, pengopersiannya
dilakukan oleh operator di Coal handling Control Building (CHCB). Silo merupakan bunker
tempat menampung batubara di instalasi yang kemudian digunakan sebagai bahan bakar di
boiler. Volume sebuah silo sebesar 600 ton, pengisian ulang dilakukan setiap volume silo
kurang dari 30 40%. Dari silo batubara dimasukkan ke Pulverizer dengan menggunakan
Coal Feeder, batubara dari Pulverizer ini yang akan digunakan untuk pembakaran di boiler.
2. BOILER (KETEL UAP)
Boiler merupakan perlatan utama yang diperlukan dalam proses energi panas
pembakaran bahan bakar menjadi energi kinetis uap yang mempunyai tekanan dan temperatur

yang tertentu. Boiler terdiri dari dimana panas yang diberikan merupakan hasil dari
pembakaran bahan bakar minyak bersama udara pemabakaran.
Dalam menjalankan tugas, boiler ditunjang oleh komponen-komponen sebagai berikut :
a.

Ruang Bakar (Furnace) adalah bagaian dari boiler yang dindingnya terdiri dari pipa-pipa air,
sedangkan pada sisi bagaian depan terdepat sembilan buah burner yang terletaknya terdiri
dari 3 tingkat tersusun mendatar yang berfungsi untuk membakar residu. Pembakaran residu
ini disertai dengan aliran udara yang panas, sedangkan gas bahan bakar yang keluar dari
ruang bakar dipapkai untuk memanaskan air preheater dan selanjutnya disalurkan ke

b.

cerobong untuk dibuang


Dinding Pipa (Water Tubes) merupakan dinding yang berada dalam ruang bakar yang
berfungsi sebagai tempat penguapan air, dinding ini berupa pipa-pipa yang berisi air yang

c.

berjajar vertikal
Burner adalah tempatnya terjadi suatu pembakaran, dimana bahan bakar selalu dikabutkan
menjadi partikel-partikel kecil sehingga memudahkan untuk berbaur dengan partikel-partikel
udara. Untuk penyaalan awal atau pemabakaran awal diperlukan bahan HSD, sedangkan
untuk proses pengkabutannya digunakan residu. Penyalaan tertangantung dari beban yang
dipikul oleh unit. Burner management sistem adalah penyaluran konfigurasi penyalaan burner
pada waktu start up atau shut down dan pada waktu load change. Jumlah burner yang
menyala atau mati tergantung dari beban generator yang sebanding dengan kapasitas dari
burner terbatas, maka diperlukan beberapa burner yang menyala, juga didalam
konfigurasinya diatur supaya pemanasan dalam ruang bakar dapat merata dan efesien.
Penyalaan burner yang tidak berimbang dengan beban generator akan mengakibatkan tidak

stabilnya tekanan dan temperatur uap.


d. Steam Drum adalah suatu alat pada boiler yang berfungsi sebagai tempat penampungan uap
hasil dari proses pernguapan di dalam boiler, dimana temperaturnya cukup tinggi dan berupa
campuran air dan udara. Campuran feed water dan mengalir mengikuti bentuk separator,
sehingga air pada campuran akan jatuh dan masuk ke dalam saluran primary dan secondary
e.

drum. Uap yang telah dipisahkan oleh separator masuk ke chevron dryers.
Superheater digunakan untuk memanaskan lebih lanjut dan boiler sehingga menjadi uap
kering. Pemanasan untuk superheater diambil dari panas gas buang hasil pembakaran diruang

pembakaran (furnace). Superheater dibagi menjadi 3 tahap yaitu


Primary superheater
Secondary superheater
Final superheater
Primary superheater menerima gas yang relatif dingin untuk dipanaskan dengan gas buang
yang diialari searah dengan aliran uap tersebut. Kemudian uap keluar dari secondary

superheater outlet melalui transfer yang dilengkapi dengan pipa spary type attemperator
untuk mengatur suhu uap menuju secondary superheater. Disini uap akan dipanas lebih lanjut
seperti di primary superheater, selanjutnya uap akan ke final superheater dimanan uap juga
akan dipanasi. Uap dari final outlet superheater masuk ke final superheater. Dan keluar
f.

melalui final outlet superheater untuk meninggalkan boiler menuju high pressure.
Reheater digunakan untuk menaikan kembali enthalpy uap setelah diekspansikan di high
pressure turbine dengan jalan dipanaskan ulang. Pada pemanasan ulang itu temperatur akan
naik, sedangkan tekanannya tetap sehingga enthalpy uap akan naik kembali. Temperatur

g.

pemanas ulang reheater akhir adalah 565C.


Ekonomizer berfungsi untuk menyerap panas yang keluar dari ruang bakar (furnace) dan
masih banyak mengandung banyak kalori, maka diusahkan untuk meningkatkan efisiensi dan
juga agar tidak terjadi perbedaan suhu yang terlalu besar didalam boiler yang dapat
mengakibatkan keretakan pada dinding boiler. Ekonomizer seperti itu pendingin cerobong
yang terlalu besar (stack cooler) dan berfungsi sebagai pemanas air umpan tekanan rendah.
Hanya, medium pemanasnya di sini adalah gas buang dan bukan uap yang dibocorkan dari

turbin.
h. Air Preheater atau yang disebut pemanas udara awal befungsi untuk memanaskan udara
pembakaran dari forced draft fan (FD fan) yang dilewatkan melalui steam air coil heater.
Pemanas ini mempunyai tipe aliran yang berlawanan dan dua putaran yang bergantian. Masuk
dialiran yang masih panas dan udara dari kipas tekan paksa melewati pemanas ke sisi udara
i.

untuk diambil panasnya.


Steam air coil heater terletak antara preheater dengan forced draft fan dimana alat ini
berfungsi sebagai penguat panas udara awal sebelum udara masuk ke air preheater dan
menjaga temperatur gas dapat diusahakan tetap konstan sesuai dengan standart temperatur

j.

yang telah ditetapkan.


Soot Blower berfungsi untuk menyemprotkan uap ke dalam ruang bakar sehingga
membersihkan heat recovery area, antara lain ekonomizer, superheater dan lainnya saat unit

ini beroperasi .
k. Cerobong (stack) berfungsi untuk menyalurkan gas buang hasil pembakaran di ruang bakar
untuk dilepaskan atmosfer.
3. TURBIN
Turbin adalah mesin penggerak, dimana energi fluida kerja dipergunakan langsung
untuk memutar roda turbin . Jadi, berbeda dengan yang terjadi pada mesin torak, pada turbin
tidak terdapat bagian mesin yang bergerak translasi. Bagaian turbin yang memutar dinamakan
rotor dan roda turbin sedangkan bagian turbin yang tidak berputar dinamakan stator atau

rumah turbin, roda turbin terletak di dalam rumah turbin dan roda turbin memutar poros daya
yang menggerakkan atau memutar bebannya (dalam hal ini generator). Siklus ideal dari turbin
uap yang sederhana digunakan siklus Rankine. Siklus Rankine dapat digambarkan pada
diagram T sebagai fungsi S seperti tampak pada gambar.
Dalam kenyataannya siklus sistem turbin uap yang menyimpang dari siklus ideal (Rankine),
antara lain adanya beberapa faktor dibawah ini :

Kerugian dalam ketel uap juga terjadi kerugian tekanan. Dengan demikan air masuk kedalam
ketel harus bertekanan lebih tinggi dari pada tekanan uap yang harus dihasilkan, sehingga

memerlukan kerja pompa yang lebih besar pula.


Kerugian energi di dalam turbin terutama karena adanya gesekan antara fluida kerja dan
bagian dari turbin sedangkan kerugian kalor ke atmosfer sekitar tidak begitu besar jika

dibandingkan dengan kerugian gesekan.


Kerugian di dalam pompa
Kerugian didalam kondensor, yang dalam hal ini relatif kecil salah satu diantaranya adalah
proses pendinginan dibawah temperatur jenuh dari air kondensat yang keluar dari kondensor.
Turbin uap menghasilkan putaran karena aliran uap yang tetap masuk ke nozzle dan
ditekan dengan tekanan rendah. Uap tersebut masuk ke steam jet, disini kecepatan uap
dinaikkan, sebagian energi kinetik dari uap tersebut dikirim ke sudu-sudu turbin yang
mengakibatkan terdorong sudu-sudu turbin untuk berputar. Besar dan kecilnya beban sangat
berpengaruh sekali terhadap uap yang akan dihasilkan, bila beban cukup tinggi, maka jumlah
uap yang dibutuhkan juga besar dan sebaliknya. Pengaturan jumlah uap yang masuk kedalam
turbin ini dilakukan oleh kontrol valve yang bekerja 3 tingkatan yaitu :
Turbin uap pada PLTU menjadu 3 tingkatan yaitu :

Tubin tekanan tinggi (high pressure turbine)


Turbin tekanan menengah (intermedete pressure turbine)
Turbin tekanan rendah (low pressure turbine)
Prinsip kerja turbin adalah sebagai berikut :
Uap kering dari final superheater yang mempunyai temperatur dan tekanan tinggi yang
dialirkan ke turbin tekanan tinggi. Didalam turbin ini terdapat sudu-sudu gerak yang
mempuyai bentuk sedemikian rupa sehingga dapat mengekspansikan uap. Energi yang
diterima sudu-sudu turbin digunakan untuk menggerakan poros turbin. Disini terjadi
perubahan energi, maka temperatur uap akan turun dan perlu diadakan pemanas ulang
didalam reheater. Dari heater masuk ke intermadete pressure turbine dan akan
menggerakkan sudu-sudu inetermadete pressure turbine dan low pressure turbine, sehingga
dari gerakan sudu-sudu ini akan memperkuat gerakan poros turbin. Poros turbin dihubungkan

dengan poros generator menggunakan kopling tetap (fixed coupling). Dari generator terjadi
perubahan energi dari energi mekanis menjadi energi listrik.
Hal yang utama selama start dan pembenanan adalah pemanasan yang perlahan-lahan
dan merata pada bagian-bagian kritis yang dari logam turbin seperti TSV, 1 stage nozzle bowl
pasage.I shell area, rotor turbin tekanan tinggi dan rotor turbin tekanan menengah. Untuk
menghasilkan laju pemanasan yang merata ini untuk membatasi tegangan, start turbin
menjadi 4 tingkatan-tingkatan utama berdasarkan suhu metal dan uap yaitu :

Cold Start : dari shutdown dimana temperatur inner casingnya dibawah 180C
Warm Star : dari shutdown selama 1 bulan lebih kurang 55 jam dan temperatur inner

casingnya antara 180C sampai 350C


Warm Start dibagi menjadi 2 yaitu :
Warm up I start : dari shutdown dimana temperatur inner casingnya dibawah 180C sampai

250C
Warm up II start : dari shutdown dimana temperatur inner casingnya dibawah 250C sampai

350C
Hot start : dari shutdown selama semalam dengan temperatur tekanan tinggi inercasingnya

antara 350C sampai 500C


Very hot start : setelah unit trip dan temperatur tekanan tinggi inner casingnya diatas 500C
Keempat kategori serta tersebut terbagi menjadi 2 tipe, yaitu :

Tipe pertama dimana by pass turbin tidak digunakan


Tipe kedua dimanan by pass turbin digunakan
Bagian utama dari turbin adalah :

a.

Rotor turbin terdiri dari rotor untuk tekanan tinggi, menengah, rendah, tiap-tiap rotor ditahan
oleh 2 bantalan journal (bantalan luncur). Bantalan no 1 dan 2 berfungsi untuk mendukung
rotor tekanan tinggi sedangkan bantalan no 3 dan 4 berada pada tekanan tinggi tersebut dari
baja panduan chrom mobliden dan vanadium vanadium yang tahan terhadap tekanan tinggi
dan tegangan kelemahan. Rotor untuk tekanan rendah terbuat dari baja panduan nikel chrom
mobliden dan vanadium yang mempunyai ketahanan besar terhadap gesekan temperatur
rendah. Tiap-tiap rotor ditempat dari baja panduan pejal dan difabrikasi untuk bentuk poros,

cakra, bantalan, piringan penahan dan kopling pliens.


b. Sudu-sudu turbin mempunyai efisiens sudu yang tinggi, ketepatannya tinggi dan terpercaya.
Sudu mempunyai bentuk dan ukuran yang sesuai dengan tingkatannya. Sudu terbuat dari
panduan baja chrom yang mempunyai sifat yang ketabanan terhadap tegangan dan kelalahan
yang sangat baik dan terhadap kikisan uap dan korosi. Sudu-sudu bagian tekanan menengah
diberi slubung (sroud type). Sudu-sudu bagian akhir dimesin dengan tipe cioretial pada
pangakalanya yang masuk ke dalam roda (cakra) dan dikunci dengan pen. Logam satelite

dipatrikan dengan penggu sudu ini untuk mencegah erosi karena benturan (tumbukan) dengan
butiran air karena uap basah. Dalam pengoperasiannya, turbin uap dibantu oleh komponen-

komponen sebagi berikut :


Turning Gear digunakan untuk memutar proses turbin. Tujiuannya untuk mencegah deflesi
(lentingan) dari poros karena panas dari uap pada waktu unit beroperasi dan karena sudu-sudu

turbin.
Pipa Crosover berfungsi sebagai penyalur uap dari keluaran turbin tekanan menengah ke
turbin tekanan rendah yang dipasang pada casing turbin tersebut. Untuk mencegah gaya
dorong akibat beda pemuaian antara casing dan pipa crosover, maka pada sambungan pipa

diberikan bellows ekspansi yang lentur.


Governor adalah untuk mengontrol putaran turbin dan membatasi putarannya pada batas
tertentu , pada setiap saat terjadi perubahan beban yang menyebabkan perubahan putaran

turbin
Pengaman putaran lebih dari turbin yang digunakan jika gorvernor kurang sensitif cara
kerjanya. Karena apabila gorvernor kurang sensitif, maka putaran turbin akan lebih cepat dan
yang diharapkan. Hal ini sangat membahayakan, sehingga diperlukan adanya pengaman
berupa nock yang dipasang pada poros. Dan nock ini akan menjulur keluar dan menyentuh

tuas yang dipasang sekeliling poros tersebut dan relay akan menghentikan turbin.
Pengaman bantalan axial berfungsi sebagai pengaman rotot dan mengamankan sudu-sudu
agar tidak bergerak kearah axial melebihi batas yang diijinkan path saat berputar. Gerakan
axial menyebabkan adanya gesekan antara stator dan rotor, karena sempitnya jarak bebas

antara sudu-sudu tetap dengan sudu gerakannya.


Main Stop Valve terletak didepan turbin path aliran masuk uap utama, yaitu boiler dengan
katup kontrol uap. Fungsi utama main stop valve adalah untuk menutup dengan cepat aliran
uap ke tubin bila dalam keadaan bahaya, seperti kegagalan path katup kontrol uap atau path

waktu kehilangan beban.


Pengaman Vacuum rendah merupakan pengaman vacuum kondensor yang juga disebut
Automatic Vacuum Trip yang merupakan interlock dengan turbin, karena tidak akan dimasuki

uap jika tekanan uap keluar turbin pada kondensor naik dan batas-batas yang telah diijinkan.
Throttle Valve bekerja secara hidrolik, bila terjadi gangguan sehingga unti harus dimatikan,
katup akan menutup saluran untuk masuk turbin dengan menggunakan tekanan hidrolik

operating mechanism.
Pengaman tekanan minyak sebagai pelumas juga sebagai media pendingin, sebab itu minyak
perlu dikontrol secara cermat, sehingga apabila terjadi pengurangan aliran maka sistem secara
interlock akan memerintahkan turbin untuk berhenti.

4. GENERATOR
Generator berfungsi mengkonversi energi mekanik (energi poros) dan turbin menjadi
energi listrik dengan cara mengkoplingkan poros generator dengan poros turbin. Generator
AC pada prinsipnya terdiri atas 2 bagian utama yaitu :
1.

Rotor adalah bagian generator yang berputar. Pada rotor terhadap kumparan konduktor
sebagai pembangkit medan magnet utama. Medan magnet ini timbul karena adanya arus yang
mengalir pada kumparan rotor yang diperoleh dan exiter. Jika rotor berputar, maka medan
magnet akan memotong kumparan jangkar stator, sehingga timbul gaya gerak listrik (GGL)

yang kemudian disalurkan ke terminal generator


2. Stator adalah bagian generator yang tidak bergerak (statis). Pada stator terdapat peralatan-

peralatan sebagai berikut :


Rumah generator berfungsi untuk melindungi komponen yang ada didalamnya, juga
berfungsi sebagai melekatnya inti dan belitan, konduktor serta terminal dari pada generator

itu sendiri
Resistance Temperature Detector, temperatur belitan stator diukur untuk kumparan pengukur
(search coil) sebanyak 12 buah, yang terpasang antara bagian atas dan bawah dan belitan
bagian dalam. Tahanan pengukur suhu dibuat dan bahan tembaga murni yang mempunyai
tahanan 25 pada temperatur 25C. Letak dan tahan tahanan pengukur temperatur ini diatur
sedemikian rupa, sehingga waktu generator bekerja maka tahanan pengukur temperatur

diharapkan akan menunjukan temperatur kerja normal yang tertinggi.


Sistem ventilasi, sistem ventilasi terdapat path stator dan berbentuk multiradial , sehingga
didapatkan suatu pendingin temperatur axial yang rata. Untuk tujuan yang sama, rotor
didinginkan melalui lubang-lubang angin yang berbentuk radial dilengkapi dengan celah-

celah ventelasi didalam gerigi rotor dan letak dibawah alur


Spane Heater, berfungsi untuk mencegah pengembunan dan kelembaban selama pemakaian
mesin berhenti untuk jangka waktu yang lama.

5. CONDENSOR
Condensor merupakan salah satu komponen utama dan PLTU yang berfungsi
menkondensasikan uap keluar turbin menjadi air menjadi pendingin air laut. Agar proses
kondensasi tersebut lebih efisien, maka tekanan di condensor harus rendah (divakumkan).
Kevakuman pada condensor didapatkan dengan cara menghisap ruang condensor dengan
Steam Air Jet Ejector. Air hasil kondensasian disebut air kondensat (condensate water). Air
kondesat masih mengandung sedikit O2. Air ditampung di hotwall dan dialirakan kembali ke
siklusnya. Udara dan gas-gas yang terkondensasi dikeluarkan oleh Steam Air Jet Ejector. Hal
m1 dilakukan sebab ada kemungkinan ada udara yang terbawa.
Bagian-bagian utama condensor adalah sebagai berikut :
1. Shell dapat diartikan sebagai penutup exhaust turbin yang menuju hotwell
- Connecting section dipakai untuk memegang bagian antara exhaust turbin dan bagian atas
shell yang diletekan diatas pondasi tubin agar tahan terhadap keadaan vacumm. Bagian
dalamnya ditunjang dengan pipa-pipa penguat yang disambungkan dengan path turbin. Pada
-

bagian atas dan sambungan disediakan sambungan pemanas air pengisi tekanan rendah.
Upper Shell berfungsi menyangga bagian bawah shell dan section sambungan pemanas air

pengisi tekanan rendah/


- Tube plate tube plate, merupakan material yang terbuat dan bahan baku Naval Brass yang
mempunyai keandalan dan tahan terhadap korosi. Tube plate dibor untuk menempatkan tubetube kondensor path setiap ujungnya. Letak tube-tube kondensor didalam tube plate.
disediakan untuk memaksimalkan permukaan kondensasi, meminumkan kerugian tekanan
-

path sisi uap.


Support plate adalah beberapa plate penyangga yang berada diantara tube plate. Plat-plat
penyangga m digunakan untuk menyangga tube-tube dan untuk mencegahnya bergetarnya
tube karena getaran turbin. Plat-plat penyangga m1 dipakai untuk berbagai penguatan tekanan

luar dan seal condensor.


2. Water box terdiri dan 2 bagian yang tepisah, bagian belakang dan bagian muka dan
memungkinkan dioperasikan secara bebas. Air pendingin terdiri dan 2 aliran dan masuk ke
inlot nozzle dan keluar outlet nozzle melalui tube-tube dan kotak air terikat path baigan
belakang dan masing-masing kotak air dipasang hole untuk inspeksi. Untuk penggunan air
laut sebagai pendingin, dipakai karet neoprene sebagai pelapis permukaan dalam water box.

3.

Back Washing Valve adalah katup yang terbuat dan karet yang berbentuk kupu-kupu dan
berada pada bagian yang rata dan kotak air bagian belakang. Back wash adalah perlakuan
untuk membersihkan tube kondensor dengan membalik arah aliran air laut sehingga
diharapkan kotoran-kotoran yang tersangkut inlet kondensor dapat terbawa air laut keluar dan
tube kondensor.

E. PERALATAN BANTU PLTU


Merupakan peralatan yang menunjang kerja sebuah PLTU, beberapa peralatan penunjang
yaitu :
1. Condensate Pump
Condensate Pump berfungsi untuk memompa kondensor untuk di proses law pressure heater
2. Cirluating Water Pump (CWP)
Cirluating Water Pump berfungsi untuk memompa air laut masuk ke kondensor sebagai arus
pendingin
3. Make Up Water Tank
Make Up Water Tank berfungsi sebagai tempat untuk menampung air yang dihasilkan oleh
water treatment equipment. Make up water transfer pump fungsinya untuk memompa air dan
make up water tank ke kondensor sebagai air penambah
4. Boiler Feed Pump (BFP)
Berfungsi untuk memompa air dan daerator menuju boiler
5. House Boiler Water Tank
House Boiler Water Tank adalah tangki yang menampung air suling untuk mengisi house
boiler
6. House Boiler
Merupakan boiler murni untuk menghasilkan uap pertama kali sebelum ada unit pemabangkit
yang beroperasi. Uap itu dialirkan ke low pressure auxiliary steam header ke desalination
plant untuk diembunkan kembali yang selanjuntya diproses dalam water treatment menjadi
air pengisi boiler mula
7. Raw Water Tank
Raw Water Tank merupakan tangki penampung air tawar yang dihasilkan dan desalination
plant
8. Water Treatment Supply Pump
Water Treatment Supply Pump berfungsi untuk memompa air tawar dan raw water tank ke
water treatment equipment untuk diolah kembali
9. Residual Oil Storage Tank
Tempat penyimpanan bahan bakar residu yang berasal dan kapal tangker dan merupakan
tangki penyimpanan bulanan. Kapasitas 20.000 liter
10. Residual Oil Transfer Pump
Residual Oil Transfer Pump mempunyai fungsi memompa dan memindahkan minyak residu
dan residual oil storage tank ke residual oil service tank

11. Residual Oil Service Tank


Tangki penyimapanan bahan bakar berasal dan residual oil service tank dan merupakan tangki
penyimpanan harian
12. High Speed Diesel Oil Pump (HSD oil pump)
Berfungsi untuk memompa solar dan residual oil service tank ke house boiler high speed
diesel tank ke emergency generator high speed diesel tank dan igniter
13. Vacum Pump
Berfungsi untuk mengerluarkan udara yang terjebak didalam air pendingin kondensor,
sehingga sistem pendingin dalam kondensor menjadi sempurna.
14. Steam Jet Air Ejector
Berfungsi untuk menahan kevakuman tekanan uap dalam kondensor
15. Gland Steam Condensor
Berfungsi untuk mengembunkan uap setalah dipergunakan seal turbin
16. Low Pressure Heater (LP Heater)
Low Pressure Heater berfungsi untuk memanskan air pengisi boiler yang lewat didalamnya
17. Dearator
Berfungsi untuk memanaskan pengisi air boiler dan untuk menghilangkan udara yang
terkandung didalam air
18. Main Stop Valve
Berfungsi untuk membuka dan menutup uap yang masuk kedalam turbin dan dilengkapi
dengan by pass main stop valve
19. High Pressure Heater (HP Heater)
Berfungsi untuk memanaskan pengisi air boiler yang dilewatkan didalamnya. Panas tersebut
berasal dan uap ekstrasi pertama dan kedua
20. FD Fan
Berfungsi untuk mensupply udara guna proses bahan bakar dan mendorong flue gas dan ruan
bakar (burner). Biasanya digunakan sendiri kebanyakan pembangkit uap uruan besar dan
hampir semua pembangkit uap kelautan dan ditempatkan pada lubang-lubang udara ke
pemanas awal udara sehingga keselurahan sistem sampai lubang masuk ke cerobong berada
pada tekanan positif
21. Cooling Tower
Berfungsi untuk mendinginkan uap dan turbin yang telah dikondensasi oleh kondensor

F. MOTOR-MOTOR LISTRIK
Di dalam pusat listrik terdapat motor-motor listrik yang digunakan untuk berbagai
keperluan sesuai kegiataan pusat listrik.
Di dalam PLTU, motor listrik yang besar atau yang berperan penting bagi kelangsungan
a.
b.
c.
d.

operasi :
Motor penggerak pompa air ketel
Motor penggerak pompa air pendingin kondensor
Motor penggerak penggiling batu bara
Motor penggerak kipas penghisap dan kipas penekan udara ketel

e.

Motor pemutar poros turbin apabila turbin baru dihentikan sehingga proses pendidinginnya
tidak menyebabkan poros turbin (bearing device) bengkok. Motor ini di gerakkan dengan arus

f.

searah dari aki baterai.


Motor penggerak pompa sirkulasi minyak pelumas yang memberi pelumasan ke bantalan-

bantanlan turbin dan bantalan generator


g. Motor Penggerak penyemprot bahan bakar ke ruang ketel

G. MASALAH UTAMA DALAM PEMBANGKITAN TENAGA LISTRIK


a.
b.
c.
d.
e.
f.
g.
h.

Penyediaan Energi Primer


Penyediaan Air Pendingin
Masalah Limbah
Masalah Kebisingan
Operasi
Pemeliharaan
Gangguan dan Kerusakan
Pengembangan teknologi Pembangkitan

H. MASALAH OPERASI PLTU


Untuk menstart PLTU dari keadaan dingin sampai operasi dengan beban penuh,
dibutuhkan waktu antara 6-8 jam. Jika PLTU yang telah beroperasi dihentikan, tetapi uapnya
dijaga agar tetap panas dalam drum ketel dengan cara tetap menyalakan api secukupnya untuk
menjaga suhu dan tekanan uap ada di sekitar nilai operasi (yaitu sekitar 500C dan 100
kg/cm) maka untuk mengoperasikannya kembali sampai beban penuh diperlukan waktu kirakira 1 jam. Waktu yang lama untuk mengoperasikan PLTU tersebut diatas terutama
diperlukan untuk menghasilkan uap dalam jumlah yang cukup untuk operasi (biasanya
dinyatakan dalam ton per jam). Selain waktu yang diperlukan untuk menghasilkan uap yang
cukup untuk operasi, juga diperlukan masalah pemuaian bagian-bagian turbin. Sebelum
distart, suhu turbin adalah sama dengan suhu ruangan, yaitu sekitar 30C. Pada waktu start
dialirkan uap dengan suhu sekitar 500C. Hal ini harus dilakukan secara bertahap agar jangan
sampai terjadi pemuaian yang berlebihan dan tidak merata. Pemuaian yang berlebihan dapat
menimbulkan tegangan mekanis (mechanical stress) yang berlebihan, sedangkan pemuaian
yang tidak merata dapat menyebabkan bagian yang diam, misalnya antara sudu-sudu jalan
turbin dengan sudu-sudu tetap yang menempel pada rumah turbin.
Apabila turbin sedang berbeban penuh kemudian terjadi gangguan yang menyebabkan
pemutus tenaga (PMT) generator yang digerakkan turbin trip, maka turbin kehilangan beban
secara mendadak. Hal ini menyebabkan putaran turbin akan naik secara mendadak dan
apabila hal ini tidak dihentikan, maka akan merusak bagian-bagian yang berputar pada turbin
maupun pada generator, seperti bantalan, sudu jalan turbin, dan kumparan arus serarah yang
ada pada rotor generator. Untuk mencegah hal ini, aliran uap ke turbin harus dihentikan, yaitu

dengan cara menutup katup uap turbin. Pemberentian aliran uap ke turbin dengan menutup
katup uap turbin secara mendadak menyebabkan uap mengumpul dalam drum ketel sehingga
tekanan uap dalam drum ketel naik dengan cepat dan akhrinya menyebabkan katup pengaman
pada drum membuka dan uap dibuang ke udara. Bisa juga sebagian dari uap di by pass ke
kondensor. Dengan cara by pass ini tidak terlalu banyak uap yang hilang sehingga sewaktu
turbin akan dioperasikan kembali banyak waktu dapat dihemat untuk start. Tetapi sistem by
pass memerlukan biaya investasi tambahan kareran kondensor harus tahan suhu tinggi dan
tekanan tinggi dari hasil by pass.
Dari uraian diatas tampak bahwa perubahan beban mendadak memerlukan pula langkah
pengurangan produksi uap secara mendadak agar tidak terlalu banyak uap yang harus dibuang
ke udara. Langkah pengurangan produksi ini dilakukan dengan mematikan nyala api dalam
ruang bakar ketel dan mengurangi pengisian air ketel. Masalahnya di sini bahwa walaupun
nyala api dalam ruang bakar padam, masih cukup banyak panas yang tertinggal dalam ruang
bakar untuk menghasilkan uap sehingga pompa pengisi ketel harus tetap mengisi air ke dalam
ketel untuk mencegah penurunan level air dalam drum yang tidak dikehendaki.
Mengingat masalah-masalah tersebut diatas yang menyangkut masalah proses produksi
uap dan masalah-masalah pemuaian yang terjadi dalam turbin, sebaiknya PLTU tidak
dioperasikan dengan persentase perubahan-perubahan beban yang besar.
Efesiensi PLTU banyak dipengaruhi ukuran PLTU, karena ukuran PLTU menentukan
ekonomis tidaknya penggunan pemanas ulang dan pemanas awal. Efesiensi termis dari PLTU
berkisar pada angka 35-38%.

I. PEMELIHARAAN
Bagian-bagian PLTU lain yang sering rawan kerusakan dann perlu perhatian/pengecekan
periodik adalah :
a. Bagian-bagian yang bergesek satu sama lain, seperti bantalan dan roda gigi
b. Bagian yang mempertemukan dua zat yang suhunya berbeda, misalnya kondensor dan
c.

penukar panas (heat exchanger)


Kotak-kotak saluran listrik dan sakelar-sakelar

J. PENYIMPANAN BAHAN BAKAR


Karena banyaknya bakar yang tertimbun di PLTU, maka perlu perhatian khusus mengenai
pengelolaan penimbunan bahan bakar agar tidak terjadi kebakaran. Seharusnya di sekelilingi
tangki BBM dibangun bak pengaman yang berupa dinding tembok. Volume bak pengaman ini
harus sama dengan volume sehingga kalau terjadi kebocoran besar, BBM ini tidak mengalir
ke mana-mana karenanya semuannya tertampung oleh bak pengaman tersebut.
Pada penimbunan batubara, harus dilakukan pembalikan serta penyimpanan batubara agar
tidak terjadi penyalaan sendiri.

Pada penimbunan bahan bakar minyak (BBM, harus dicegah terjadinya kebocoran yang
dapat mengalirkan BBM tersebut ke bagian Instalasi yang bersuhu tinggi sehingga dapat
terjadi kebakaran.
Pada Penggunaan gas sebagai bahan bakar, pendeteksian bahan bakar gas (BBG) lebih
sulit dibandingkan dengan kebocoran bahan bakar minyak (BBM). Oleh karena itu, pada
penggunaan gas, alat-alat pendeteksian kebocoran harus dapat diandalkan untuk mencegah
terjadi kebakaran.
Pengawasan kebocoran gas hidrogen yang digunakan bahan pendingin generator serupa
dengan pengawasan kebocoran BBG, mengingat gas hidrogen juga mudah terbakar.
Karena risiko terjadinya kebakaran pada PLTU besar, maka harus ada instalasi
pemadaman kebakaran yang memadai dan personil perlu dilatih secara periodik untuk
menghadapi kemungkinan terjadinya kebakaran.

K. UKURAN PLTU
Dalam Instalasi PLTU terdapat banyak peralatan, Faktor utama yang menentukan ukuran
PLTU yang dapat dibangun adalah tersedianya bahan bakar dan persedian air pendingin,
selain tanah yang cukup luas. Mengingat hal-hal ini, maka PLTU baru ekonomis dibangun
dengan daya terpasang diatas 10 MW per unitnnya. Semakin daya yang terpasang, semakin
ekonomis. Secara teknis, PLTU dapat dibangun dengan daya terpasang diatas 1.000 MW per
unitnya. Unit PLTU milik PLN yang terbesar saat ini adalah 600 MW di Suralaya, Jawa
Barat.

L. MASALAH LINGKUNGAN
Gas buang yang keluar dari cerobong PLTU mempunyai Potensi mencemari lingkungan.
Oleh karena itu ada penangkap abu agar pencemaran lingkungan dapat dibuat minimal. Selain
abu halus yang ditangkap cerobong, ada bagian-bagian abu yang relatif besar, jatuh dan
ditangkap di bagian bawah ruang bakar. Abu dari PLTU, baik yang halus maupun yang kasar,
dapat dimanfaatkan untuk bahan bangunan sipil. Walaupun abunya telah ditangkap, gas buang
yang keluar dari cerobong masih megandung gas-gas yang kurang baik bagi kesehatan
manusia, seperti SO2, NOx dan CO2. Kadar dari gas-gas ini tergantung kepada kulitas bahan
bakar, khususnya batubara yang digunakan. Bila perlu, harus dipasang alat penyaring gas-gas
ini agar kadarnya yang masuk ke udara tidak melampaui batas yang diizinkan oleh
pemerintah.

M. PENGGUNAAN BAHAN KIMIA


Pada PLTU, digunakan bahan kimia yang dapat menimbulkan maslah lingkungan. Bahanbahan kimia tersebut digunakan pada :

a.

Air Pendingin dari air laut, untuk membunuh binatang dan tumbuhan laut agar tidak
menyumbat saluran air pendingin. Air pendingin dari air laut diperlukan dalam jumlah besar,
yaitu beberapa ton per detik. Air laut ini mengandung berbagai bakteri (mikroorgnasime)
yang dapat tumubuh sebagai tanaman dan menempel pada saluran sehingga menggurangi
efektivitas dan efesiensi sistem pendinginan PLTU. Untuk mengurangi pengaruh
mikroorganisme ini, ke dalam saluran air disuntikan secara kontinu untuk mencegah

kekebalan mikroorganisme.
b. Air pengisi ketel, yang telah melalui economizer, suhunya bisa mencapai sekitar 200C.
Untuk itu, air pengisi ketel sebelum melalui ekonomizer, dalam pengolah air ketel, ditambah
soda lime untuk mencegah timbulnya endapan pada pipa ketel uap. Bahan kimia ini akhirnya
akan terkumpul dan harus dibuang secara periodik (blow down). Mutu air ketel harus dijaga
agar tidak merusak bagian-bagian ketel maupun bagian-bagian turbin.
PLTU yang menggunakan bahan bakar batubara menghasilkan 2 macam abu :
1. Abu dari bagian bawah ruang bakar, bentuknya besar, bisa dijadikan bahan lapisan pengeras
2.

jalan
Abu Cerobong yang ditangkap oleh electrostatic precipitator, bisa dipakai sebagai bahan
campuran beton.

Kekurangan dan Kelebihan PLTU


Kelebihan
Efisiensi tinggi dengan metode Waste Heat Utilization.
Hasil pembangkitan steam dapat digunakan untuk proses produksi Mill.
Biaya bahan bakar lebih murah.
Biaya pemeliharaan lebih murah.
Kekurangan
Membutuhkan penanganan air umpan yang akan masuk ke dalam boiler.
Menghasilkan limbah batu-bara yang memerlukan penanganan khusus.
Menghasilkan polutan-polutan yang lebih tinggi.
Membutuhkan area yang lebih luas.
Kurang responsif terhadap fluktuasi.

A. Kesimpulan
Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) adalah Suatu sistem pembangkit tenaga listrik
yang mengkonversikan energi kimia listrik dengan menggunakan uap air sebagai fluida
kerjanya, yaitu dengan memanfaatkan energi kinetik uap untuk menggerakkan poros sudu sudu turbin. Sudu -sudu turbin mengerakkan poros turbin, untuk selanjutnya poros turbin
mengerakkan generator. Dari generator inilah kemudian dibangkitkan energi listrik.
Sehingga cara kerja Pembangkit Listrik tenaga Uap (PLTU) adalah sebagai berikut:
1. Udara masuk kedalam kompresor melalui saluran masuk udara (inlet).
2. Kompresor berfungsi untuk menghisap dan menaikkan tekanan udara tersebut, sehingga
temperatur udara juga meningkat.
3. Kemudian udara bertekanan ini masuk kedalam ruang bakar.
4. Di dalam ruang bakar dilakukan proses pembakaran dengan cara mencampurkan udara
bertekanan dan bahan bakar.
5. Proses pembakaran tersebut berlangsung dalam keadaan tekanan konstan sehingga dapat
dikatakan ruang bakar hanya untuk menaikkan temperatur.
6. Gas hasil pembakaran tersebut dialirkan ke turbin gas melalui suatu nozel yang berfungsi
untuk mengarahkan aliran tersebut ke sudu-sudu turbin.
7. Daya yang dihasilkan oleh turbin gas tersebut digunakan untuk memutar kompresornya
sendiri dan memutar beban lainnya seperti generator listrik, dll.
8. Setelah melewati turbin ini gas tersebut akan dibuang keluar melalui saluran buang
(exhaust).