Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Kesehatan

jiwa

merupakan

kemampuan

individu

untuk

menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, masyarakat, dan


lingkungan, sebagai perwujudan keharmonisan fungsi mental dan
kesanggupannya menghadapi masalah yang biasa terjadi, sehingga
individu tersebut merasa puas dan mampu.
Kesehatan jiwa seseorang selalu dinamis dan berubah setiap saat
serta dipengaruhi oleh beberapa faktor, yaitu : kondisi fisik (somatogenik),
kondisi perkembangan mental-emosional (psikogenik) dan kondisi
dilingkungan sosial (sosiogenik). Ketidakseimbangan pada salah satu dari
ketiga faktor tersebut dapat mengakibatkan gangguan jiwa.
Gangguan jiwa menurut Depkes RI (2000) adalah suatu perubahan
pada fungsi jiwa yang menyebabkan adanya gangguan pada fungsi jiwa,
yang menimbulkan penderitaan pada individu dan atau hambatan dalam
melaksanakan peran sosial. WHO memperkirakan saat ini di seluruh dunia
terdapat 450 juta orang mengalami gangguan jiwa, di Indonesia sendiri
pada tahun 2006 diperkirakan 26 juta penduduk Indonesia mengalami
gangguan jiwa dengan ratio populasi 1:4 penduduk. Sebagai salah satu
upaya untuk mengurangi penurunan produktifitas maka pasien yang
dirawat inap dilakukan upaya rehabilitasi sebelum klien dipulangkan dari
rumah sakit. Tujuannya untuk mencapai perbaikan fisik dan mental
sebesar-besarnya, penyaluran dalam pekerjaan dengan kapasitas maksimal
dan penyesuaian diri dalam hubungan perseorangan dan sosial sehingga
bisa berfungsi sebagai anggota masyarakat yang mandiri dan berguna.

B. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum

Mahasiswa mampu berfikir kritis dan analisis dalam memahami peran


perawat dalam terapi psikofarmaka.
2. Tujuan Khusus
a. Mahasiswa memahami pengertian psikofarmaka
b. Mahasiswa memahami klasifikasi obat-obatan psikofarmaka
c. Mahasiswa memahami peran perawat dalam pemberian obat
C. Metode Penulisan
Dalam penulisan makalah ini penulis menggunakan metode
deskriptif yaitu dengan penjabaran masalah-masalah yang ada dan
menggunakan studi kepustakaan dari literatur yang ada, baik di
perpustakaan maupun internet.

D. Sistematika Penulisan
Makalah ini terdiri dari tiga bab yang disusun dengan sistematika
penulisan sebagai berikut: Bab I Pendahuluan terdiri dari latar belakang,
tujuan penulisan, metode penulisan, dan sistematika penulisan. Bab II
Pembahasan terdiri dari pengertian psikofarmaka, klasifikasi obat-obatan
psikofarmaka dan peran perawat dalam psikofarmaka. Bab III : Penutup
terdiri dari kesimpulan dan saran

BAB II
TINJAUAN TEORI
A. Pengertian Psikofarmako
Psikofarmaka adalah obat-obatan yang digunakan untuk klien dengan
gangguan mental. Psikofarmaka termasuk obat-obatan psikotropik yang
bersifat Neuroleptik (bekerja pada sistem saraf). Pengobatan pada gangguan
mental bersifat komprehensif, yang meliputi :
1.
Teori biologis (somatik). Mencakup pemberian obat psikotik dan
2.
3.

Elektro Convulsi Therapi (ECT)


Psikoterapeutik
Terapi Modalitas
Psikofarmakologi adalah komponen kedua dari management psikoterapi.

Perawat perlu memahami konsep umum psikofarmaka. Beberapa hal yang


termasuk Neurotransmitter adalah Dopamin, Neuroepineprin, Serotonin, dan
GABA (Gama Amino Buteric Acid), dll. Meningkatnya dan menurunnya
kadar/konsentrasi neurotransmitter akan menimbulkan kekacauan atau
gangguan mental. Obat-obatan psikofarmaka efektif untuk mengatur
keseimbangan Neurotransmitter.
B. Klasifikasi
Menurut Rusdi Maslim, yang termasuk obat-obatan psikofarmaka adalah
golongan :
1. Anti Psikotik
a. Definisi
Anti

Psikotik

termasuk

psikotropik:Neuroleptika

golongan

mayor

transquilizer

atau

adalah obat-obat yang dapat menekan

fungsi-fungsi psikis tertentu tanpa mempengaruhi fungsi-fungsi umum,


seperti berpikir, dan berkelakuan normal. Obat ini dapat meredakan
emosi, agresi, dan dapat juga mengurangi gangguan jiwa seperti ;
halusinasi serta menormalkan perilaku yang tidak normal.
3

b. Pengolongan
1) Fenotiazin, contoh obat : chlorpromazine (dosis 150-600 mg/hari),
thioridazin (dosis 150-600 mg/hari), Trifluoperazin (dosis 10-15
mg/hari), perfenazin (12-24 mg/hari), Flufenazin (dosis 10-15
mg/hari).
2) Butirofenon, contoh obat : Halloperidol (dosis 5-15 mg/hari),
Droperidol (dosis 7,5-15 mg/hari).
3) Difenilbutil piperidin, contoh obat : pimozide ( dosis 1-4 mg/hari).
4) Atypcal, contoh obat : Risperidon ( dosis 2-6 mg/hari).
c. Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja dari obat anti-psikosis yaitu Memblokade
Dopamine pada reseptor pasca sinaps neuron di otak, dan juga dapat
memblokade reseptor kolinergik, adrenergic dan histamine. Untuk obat
generasi pertama ( fenotiazin dan butirofenon), umumnya tidak
terlalau selektif benzamid sangat selektif dalam memblokade reseptor
dopamine D2. Anti-psikosis golongan atypical memblokade reseptor
dopamine dan juga serotonin 5HT2.
d. Indikasi
Obat anti-psikosis merupakan pilihan pertama dalam menangani
skizofreni, untuk memgurangi delusi, halusinasi, gangguan proses dan
isi pikiran dan juga efektif dalam mencegah kekambuhan. Major
transquilizer juga efektif dalam menangani mania, perilaku kekerasan
dan agitasi akibat bingung dan demensia.
e. Efek Samping
Efek samping yang ditimbulkan dari pengunaan obat anti-psikosis
antara lain :
1) Sedasi dan Inhibisi Psikomotor
2) Gangguan Otonomik
3) Gangguan Ekstrapiramidal
4) Gangguan Endokrin, metabolik, hematologic
f. Kontraindikasi
Obat-obat anti-psikosis berkontradiksi dengan : penyakit hati,
penyakt darah, kelainan jantung, epilepsy, febris yang tinggi, penyakit
SSP, ketergantungan alcohol, dan gangguan kesadaran.
g. Efek samping pada anti psikotik :
Efek Samping pada Sistim Syaraf ( Ektrapyramidal Side Efect / EPSE/
EPS / Ekstrapyramidal Syndrome ) :
4

1) Parkinson
Efek samping ini muncul 1 - 3 minggu pemberian obat
(tergantung respon klien). Terdapat TRIAS gejala parkinsonisme ;
a) Tremor : sering terjadi, dan paling jelas pada istirahat.
b) Bradikinesia : muka seperti topeng, berkurangnya gerakan
reiprokal pada saat berjalan.
c) Rigitas : gangguan tonus otot ( kaku )
2) Distonia
kontraksi otot singkat atau bisa juga lama. Tanda - tanda; muka
menyeringai, gerakan tubuh dan anggota tubuh tidak terkontrol.
3) Akathisia
Ditandai

dengan

perasaan

subyektif

dan

obyektif

dari

kegelisahan, seperti adanya perasaan cemas, tidak mampu santai,


gugup, langkah bolak - balik dan gerakan mengguncang pada saat
duduk. Ketiga efek samping diatas bersifat akur dan bersifat
Reversible (bisa hilang atau kembali normal).
4) Tardive Dyskenesia
Merupakan efek samping yang timbulnya lambat, terjadi
setelah pengobatan jangka panjang dan bersifat Ireversible (susah
hilang/ menetap).Berupa gerakan Involunter yang berulang pada
lidah, wajah, mulut / rahang, anggota gerak seperti jari dan ibu
jari, dan gerakan tersebut akan hilang pada saat tidur. Efek
samping pada sistim saraf perifer.
5) Cholinergic
Ini terjadi karena penghambatan pada reseptor Asetilkolin.
Yang termasuk Efek Samping Kolinergic adalah ;
a) Mulut Kering
b) Kontipasi
c) Pandangan kabur, akibat midriasis pupil dan Sikloplegia
(pariese otot otot siliaris) menyebabkan Presbiopia
d) Hipotensi Orthostatik, akibat penghambatan reseptor
Adrenergik
e) Kongesti / sumbatan Nasal
2. Anti Depresi
a. Definisi
Antidepresan adalah obat yang mampu memperbaiki suasana jiwa

dengan menghilangkan atau meringankan gejala keadaan murung, yang


idak disebabkan oleh kesulitan social ekonomi, obat-obatan, atau
penyakit.
b. Pengolongan
1) Trisiklik (TCA) : Amitriptilin (75-150 mg/hari), Imipramin ( 75-150
mg/hari).
2) SSSRI : sentralin (50-150 mg/hari), Fluvoxamin (50-100 mg/hari),
Fluxentin (20-40 mg/hari), Paroxentin (20-40 mg/hari).
3) MAOI : Moclobemide (300-600 mg/.hari)
4) Atypical : mianserin (30-60 mg/hari), Trazodon ( 75-150 mg/hari),
Maprotilin (75-150 mg/hari dosis terbagi).

c. Mekanisme Kerja
Menghambat re-uptake aminergic neurotransmiter, menghambat
penghancuran

oleh

enzim

monoamine

oxidase

sehingga

tjd

peningkatan jumlah aminergic neurotransmiter pana sinaps neuron di


SSP.
d. Indikasi
Obat antidepresan digunakan untuk penderita depresi dan kadang
juga berguna untuk penderita ansietas foba, obsesif-kompulsif, dan
mencegah kekambuhan depresi.
e. Efek Samping
1) Sedasi
2) Efek Antikolinergik (mulut kering, penghilatan kabur, konstipasi,
sinus takikardi)
3) Efek Anti Adrenergik Alfa (perubahan EKG, hipotensi)
4) Efek Neurotoksik
f. Kontraindikasi
Kontraindikasi pada penyakit jantung koroner, Glaucoma, retensi urin,
hipertensi prostat, gangguan fungsi hati, epilepsy.
3. Anti Mania (Lithium Carbonate)
a. Definisi
Obat Antimania adalah obat yang digunakan untuk mengendalikan
kecenderungan patologis untuk suatu aktivitas tertentu, yang tidak
dapat dikendalikan , misalnya mengutil ( kleptomania).
6

b. Pengolongan
Obat antimania yang menjadi acuan adalah litium karbonat (250-500
mg/hari).

c. Mekanisme Kerja
Efek anti mania dari lithium carbonate disebabkan kemampuanya
mengurangi

dopamine

reseptor

supersensitivity,

meningkatkan

cholinergic muscarinic activity, dan menghambat cyclic adenosine


monophospate.
d. Efek Samping
Efek samping lithium berhubungan erat dengan dosis dan kondisi fisik
pasein. Efek samping dini yaitu mulut kering, haus, gastrointestinal
distress, kelemahan otot, poliuria, tremor halus,. Sedangkan efek
samping lain yaitu : hipotiroidisme, peningkatan BB, odema,
lekositosis, ggn daya ingat dan konsentrasi
e. Kontraindikasi
Respon hipersensitivitas terhdap litium karbonat, penyakit ginjal,
penyakit tiroid.
f. Indikasi
Mengurangi

Agresivitas,

Tidak

menimbulkan

efek

sedatif,

Mengoreksi/Mengontrol pola tidur, iritable dan adanya Flight Of Idea.


Pada Mania dengan kondisi berat pemberian anti mania di kombinasi
dengan obat anti psikotik.
4. Anti Cemas
Sering juga disebut : Psycholeptics, Minortranqulizers, Anxyolitics,
Ansiolitika.
a. Definisi
adalah obat yang digunakan untuk gangguan mental yang sering
dijumpai dengan ansietas berat serupa dengan takut (seoerti takikardi,
berkeringat, gemetar, palpitasi) dan rasa takut, gelisah rasa takut yang
mungkin timbul dari penyebab yang tidak diketahui.

b. Pengolongan
1) Benzodiazepine
Obat anti ansietas golongan Benzodiazepin yang menjadi acuan
adalah Diazepam/ Klordiazepoksid.
2) Non benzodiazepine
Untuk obat non benzodiazepine antara lain Sulpirid dan Buspiron.
3) Diazepam ( Valium )
: 2 mg/tab. 5 mg/injeksi
4) Chlordiazepoxide ( Etabrium ) : 5,10 mg / tab
5) Frisium ( Clubazam )
: 10 mg
6) Xanac ( AlphaZolam )
: 0,25mg & 0,5 mg/tab
7) Sulfiride ( Dogmasil )
: 50 mg/tab
8) Buspiron ( Buspar )
: 10 mg/tab
c. Mekanisme Kerja
Obat antiansietas benzodiazepine yang bereaksi dengan
reseptornya yang akan meng-inforce the inhibitory action of GABA
neuron, sehingga hiperaktivitas tersebut mereda. Sindrom ansietas
disebabkan hiperaktivitas dari system limbic yang terdiridari
dopaminergic, nonadrenergic, seretonnergic yang dikendalikan oleh
GABA ergic yang merupakan suatu inhibitory neurotransmitter.
d. Efek Samping
Efek samping yang ditimbulkan dari penggunaan obt antiansietas
antara lain: mengantuk, kewaspadaan berkurang, kinerjaa psikomotor
menurun, kemampuan kognitif melemah, relaksasi otot (rasa lemas,
cepat lelah).
e. Indikasi
Untik mengobati ansietas dan gangguan ansietas, insomnia, depresi,
gangguan stress pasca trauma, putus alkohol.
f. Kontraidikasi
Pasien dengan hipersensitif terhadap benzodiazepin, glaukoma,
miastenia gravis, insufisiensi paru kronik, penyakit ginjal dan penyakit
hati kronik
5. Anti Insomnia : Phenobarbital
Sering disebut juga Hypnotics, Somnifacient, Hipnotika
a. Definisi
Obat yang digukanan untuk gejala/kelainan dalam tidur berupa
kesulitan berulang untuk tidur.

b. Pengolongan Obat
Obat acuan adalah fenobarbital
1) Benzodiazepine : Nitrazepam, Trizolam, Estazolam
2) Non Benzodiazepin : Choral Hydrate
3) Nitrazepam ( Magadon )
: 5 mg/tab
4) Estazolam ( Esilgan )
: 1,2 mg / tab
c. Mekanisme Kerja
Obat anti-insomnia bekerja pada reseptor BZ1 di susunan saraf pusat
yang berperan dalam memperantara proses tidur.
d. Efek Samping
Efek samping yang ditimbulkan yaitu supresi SSP pada saat tidur,
rebound phenomen.
e. Indikasi
Diberikan pada orang yang kesulitan untuk tidur.
f. Kontraindikasi
Berkontraindikasi pada wanita hamil dan menyusui, gagal jantung,
penyakit pernapasan akut, dan sleep apnoe syndrome.
g. Lama pemberian
1 2 minggu untuk pencegahan pemakaian obat lama : Dapat
menimbulkan sleep EEG yang menetap selama 6 bulan

6. Anti Obsesif-Kompulsif : Clomipramine


Disebut juga sebagai : Drugs Used In Obsessive Compulsive
Disorders
a. Definisi
Adalah obat yang digunakan pada orang yang menderita obsesi yaitu
munulnya gambaran/ ide-ide yang tidak di inginkan yang menimblka
kecemasan berulang.
b. Pengolongan Obat
Obat anti Obsesif Kompulsif yang menjadu acuan adalah klomipramin.
Obat anti kompulsi dapat digolongkan menjadi :
1) Obat
anti
obsesi-kompulsi
Contoh: klomipramin

trisiklik

2) Obat

anti

obsesi-kompulsi

SSRI.

Contoh: sertralin, paroksetin, fluvoksamin, fluoksetin.


c. Mekanisme Kerja
Menghambat re-uptake neurotransmitter serotonin sehingga gejala
mereda.
d. Indikasi
Mencegah atau mengurangi jumlah serangan panic
e. Efek samping
Obat anti obsesi-kompulsi, sama seperti obat antidepresi trisiklik,
dapat berupa:
1) Efek antihistamin

(sedasi,

rasa

mengantuk,

kewaspadaan

berkurang, kinerja psikomotor menurun, kemampuan kognitif


menurun, dan lain-lain)
2) Efek antikolinergik (mulut kering, keluhan lambung, retensi urin,
disuria, penglihatan kabur, konstipasi, gangguan fungsi seksual,
sinus takikardi, dan lain-lain).
3) Efek antiadrenergik alfa (perubahan EKG, hipotensi ortostatik)
4) Efek neurotoksis (tremor halus, kejang epileptik, agitasi, insomnia)
f. Kontraindikasi
Kontraindikasi pada penyakit jantung koroner, Glaucoma, retensi urin,
hipertensi prostat, gangguan fungsi hati, epilepsy
g. Dosis
1) Obat dimulai dengan dosis rendah. Klomipramin mulai dengan 2550 mg/hari (dosis tunggal malam hari), dinaikkan secara bertahap
dengan penambahan 25 mg/hari sampai tercapai dosis efektif
(biasanya

sampai

200-300

mg/hari).

Dosis pemeliharaan umumnya agak tinggi, meskipun bersifat


individual, klomipramin sekitar 100-200 mg/hari dan sertralin 100
mg/hari.
2) Sebelum dihentikan, lakukan pengurangan dosis secara tapering
off.
Meskipun respons dapat terlihat dalam 1-2 minggu, untuk
mendapat hasil yang memadai setidaknya diperlukan waktu 2-3
bulan dengan dosis antara 75-225 mg/hari.

10

7. Anti Panik, yang paling sering digunakan oleh klien jiwa : Imipramine
Disebut juga sebagai : Drugs Used In Panic Disorders
a. Penggolongan Obat Antipanik
1) Obat antipanik trisiklik, contohnya: imipramin, klomipramin
2) Obat antipanik benzodiazepine, contoh: alprazolam
3) Obat antipanik RIMA (Reversible Inhibitors of Monoamine
oxydase-A), contoh: muklobemid
4) Obat antipanik SSRI, contoh: sertralin, fluoksetin, paroksetin,
fluvoksamin.

Nama Generik

Dosis Anjurin

o
1
2
3
4
5
6
7
8

Imipramin
Klomopramin
Alprazolam
Moklobemid
Sertralin
Fluoksetin
Parosetin
Fluvoksamin

75-150 mg/hari
75-150 mg/hari
2-4 mg/hari
300-600 mg/hari
50-100 mg/hari
20-40 mg/hari
20-40 mg/hari
50.100/hari

b. Mekanisme Kerja
Mekanisme kerja obat antipanik adalah menghambat reuptake
serotonin
c. Efek Samping
Efek samping yang ditimbulkan antara lain: mengantuk, sedasi,
kewaspadaan berkurang, dan Neurotoksik.
d. Indikasi
Mencegah atau mengurangi jumlah serangan panic
e. Lama pemberian
1) Lamanya pemberian obat tergantung dari individual, umunya
selama 6- 12 bulan, kemudian dihentikan secara bertahap selama 3
bulan bila kondisi penderita sudah memungkinkan
2) Dalam waktu 3 bulan bebas obat 75% penderita menunjukkan
gejala kambuh. Dalam keadaan ini maka pemberian obat dengan
11

dosis semula diulangi selama 2 tahun. Setelah itu dihentikan secara


bertahap selama 3 bulan.
f. Kontraindikasi
Wanita hamil dan menyusui

C. Peran Perawat dalam Pemberian Obat


1. Pengkajian
Pengkajian sebelum pengobatan yang meliputi :
a. Diagnosa Medik
b. Riwayat Penyakit
c. Hasil Pemeriksaan Lab
d. Jenis obat yang digunakan, dosis, waktu pemberian
e. Program terapi yang lain
f. Mengkombinasikan obat dengan terapi Modalitas
g. Pendidikan kesehatan untuk klien dan keluarga tentang pentingnya
minum obat secara teratur dan penanganan efek samping obat
h. Monitoring efek samping penggunaan obat
Alat pengkajian medikasi dapat digunakan untuk mengumpulkan riwayat
medikasi, yaitu :
a. Alat Pengkajian Medikasi
Untuk setiap kategori obat yang diminum oleh pasien berikut ini:
1) Medikasi psikiatri yang diresepkan dan pernah diminum
2) Medikasi non-psikiatri yang diresepkan dan diminum dalam 6
bulan terakhir atau diminum untuk penyakit medis utama jika
lebih dari 6 bulan yang lalu
3) Obat yang dijual bebas dan diminum dalam 6 bulan terakhir
4) Dapatkan informasi berikut dari pasien dan sumber lain :
a) Nama Obat
b) Alasan diminum
c) Tanggal mulai diberikan dan dihentikan
d) Dosis harian tertinggi
e) Siapa yang meresepkan obat tersebut?
f) Apakah obat tersebut efektif ?
g) Efek samping atau reaksi yang merugikan
h) Apakah obat tersebut diminum sesuai petunjuk ?
i) Jika tidak, bagaimana obat tersebut diminum?
j) Riwayat obat yang oleh keturunan pertama
k) Obat yang diminum diresepkan untuk orang lain
b. Untuk setiap kategori obat yang diminum oleh pasien berikut ini:
1) Alkohol
2) Tembakau
12

3) Kafein
4) Obat obat terlarang
5) Dapatkan informasi berikut ini dari pasien dan sumber lain :
a) Nama zat
b) Tanggal dan jadwal penggunaan
c) Ringkasan efek
d) Reaksi yang merugikan atau gejala putus obat
e) Upaya untuk berhenti atau terapi untuk berhenti
f) Dampak zat terhadap :
(1) Kualitas Hidup
(2) Hubungan / pasangan / anak
(3) Pekerjaan / pendiidkan
(4) Kesehatan / produktifitas
(5) Citra diri
(6) Biaya
c. Kewaspadaan Perawat
Penggunaan obat secara bersamaan, atau poliformasi, dapat
meningkatkan aksi terapeutik spesifik, dapat diperlukan untuk
mengobati penyakit yang terjadi bersamaan, dan dapat melawan efek
obat pertama yang tidak diinginkan. Sayangnya, beberapa masalah
berkaitan

dengan

penggunaan

obat

bersamaan,

termasuk

kebingungan saat tercapai ke efektifan terapeutik dan efek samping


serta pekembangan interaksi obat.
2. Melaksanakan Prinsip Pengobatan Psikofarmako
a. Persiapan
1) Melihat order permberian obat di lembaran obat (status)
2) Kaji setiap obat yang akan diberikan. Termasuk tujuan, cara kerja
obat, dosis, efek samping obat dan cara pemberian
3) Kaji pengetahuan klien dan keluarga tentang obat
4) Kaji kondisi klien sebelum pengobatan
b. Lakukan minimal prinsip lima benar
c. Laksanakan program pemberian obat
1) Gunakan pendekatan tertentu
2) Pastikan bahwa obat telah terminum
3) Bubuhkan tanda tangan pada dokumentasi pemberian obat,
sebagai aspek legal
4. Laksanakan program pengobatan berkelanjutan melalui program rujukan.
5. Menyesuaikan dengan terapi non famakoterapi.
6. Turut serta dalam penelitian tentang obat psikofarmaka

13

Setelah seorang perawat melaksanakan terapi psikofarmaka maka tugas terakhir


yang penting harus dilakukan adalah evaluasi. Dikatakan reaksi obat efektif jika :
a. Emosional stabil
b. Kemampuan berhubungan interpersonal meningkat
c. Halusinasi, Agresi, Delusi, menarik diri menurun
d. Prilaku mudah diarahkan
e. Proses berpikir kea rah logika
f. Efek samping Obat
g. Tanda-tanda Vital

14

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Salah satu somatik terapi (terapi fisik) pada klien gangguan jiwa adalah
pemberian obat psikofarmaka. Psikofarmaka adalah sejumlah besar obat
farmakologis yang digunakan untuk mengobati gangguan mental. Obatobatan yang paling sering digunakan di Rumah Sakit Jiwa adalah
Chlorpromazine, Halloperidol, dan Trihexypenidil. Obat-obatan yang
diberikan selain dapat membantu dalam proses penyembuhan pada klien
gangguan jiwa, juga mempunyai efek samping yang dapat merugikan klien
tersebut, seperti pusing, sedasi, pingsan, hipotensi, pandangan kabur dan
konstipasi. Untuk menghindari hal tersebut perawat sebagai tenaga kesehatan
yang langsung berhubungan dengan pasien selama 24 jam, harus mampu
mengimbangi terhadap perkembangan mengenai kondisi klien terutama efek
dari pemberian obat psikofarmaka.
B. Saran

15

DAFTAR PUSTAKA
Keliat, B.A. dkk.2007. Advance Course Community Mental Health Nursing.
Manajemen Community Health Nursing District Level: Jakarta

Pradana, Berti. 2009. Makalah Keperawatan Jiwa Peran Perawat dalam


Pengobatan Psikofarmaka
http://peran-cantique.blogspot.com/2008/03/peran-perawat-dalampsikofarmaka.html. Diakses pada tanggal 07 April 2015
ttp://www.docstoc.com/docs/PERAN

-PERAWAT-PADA

REHABILITASI-

KLIEN-GANGGUAN-JIWA
Link Sumber : http://diaryforberti.blogspot.com/2014/12/makalah-keperawatanjiwa-peran-perawat.html#ixzz3WaoTZVEf

http://senyumketiga.blogspot.com/2014/08/makalah-somatik-farmakologi.html
DAFTAR

PUSTAKA

9PADJADJARAN.http://www.pendahuluan-psikofarmaka.blogspot.com/
http://www.docstoc.com/docs/51615838/PERAN-PERAWAT-PADAREHABILITASI-KLIEN-GANGGUAN-JIWA
http://satriadwipriangga.blogspot.com/2011/11/psikofarmaka.html

16