Anda di halaman 1dari 30

LAPORAN PENDAHULUAN

KECEMASAN (ANSIETAS)
Untuk Memenuhi Tugas Profesi Stase Keperawatan Jiwa
Koordinator : Ns. Sri Padma Sari, S.Kep., MNS

Disusun Oleh :
Kelompok 8
Jati Adi Prakoso

Alnia Rindang C

Pipit Aprillia Ristanti

Aniestia Yuliana

Yudea Atalia

Ghilma Agustia Rohaina

Selly Hning Pangastuti

Suwaryanti

Ciptaningrum Marisa P

PROGRAM STUDI ILMU KEPERAWATAN


JURUSAN KEPERAWATAN
FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS DIPONEGORO
2014

LAPORAN PENDAHULUAN
KECEMASAN (ANSIETAS)
A. MASALAH UTAMA
Kecemasan
B. PROSES TERJADINYA MASALAH
a. Pengertian
Kecemasan
Kecemasan adalah suatu perasaan yang sifatnya umum, dimana seseorang merasa
ketakutan atau kehilangan kepercayaan diri yang tidak jelas asal maupun wujudnya.
(Sutardjo, 2005)
Kecemasan adalah sesuatu yang menimpa hampir setiap orang pada waktu tertentu
dalam kehidupannya. Kecemasan merupakan reaksi normal terhadap siatuasi yang
sangat menekan kehidupan seseorang. Kecemasan bisa muncul atau bergabung
dengan gejala-gejala lain dari berbagai gangguan emosi. (Savitri, 2003)
Kecemasan merupakan suatu perasaan subjektif mengenai ketegangan mental yang
menggelisahkan sebagai reaksi umum dari ketidakmampuan mengatasi suatu masalah
atau tidak adanya rasa aman. Perasaan yang tidak menentu tersebut pada umumnya
tidak menyenangkan yang nantinya akan menimbulkan atau disertai perubahan
fisiologis dan psikologis (Kholil, 2010).
Jadi, kecemasan adalah rasa takut atau khawatir pada situasi tertentu yang sangat
mengancam yang dapat menyebabkan kegelisahan karena adanya ketidakpastian
dimasa mendatang serta ketakutan bahwa sesuatu yang buruk akan terjadi.
Gangguan panik
Merupakan suatu episode ansietas yang cepat, intens, dan meningkat, yang
berlangsung 15 sampai 30 menit, ketika individu mengalami ketakutan emosioanl
yang besar juga ketidaknyamanan fisiologis.

b. Penyebab atau Etiologi


Secara umum, ansietas terjadi ketika seseorang mengalami kesulitan menghadapi
situasi, masalah, dan tujuan hidup.
Faktor Predisposisi
2

Menurut Stuart dan Laraia, terdapat beberapa teori yang dapat menjelaskan ansietas,
diantaranya:
1. Teori Biologis
Setiap orang mempunyai potensi mengalami kecemasan yang kemungkinan besar
dipengaruhi oleh ketidakseimbangan senyawa kimia di dalam otak yang membuat
kecemasan atau ketakutan menjadi abnormal. Hal ini terjadi karena seseorang
mengalami abnormalitas elektroensefalografik pada lobus temporal yang biasanya
berespons terhadap karbamazepin (suatu antikonvulsan) atau obat-obatan lain.
(Sullivan & Coplan, 2000).
a. Teori Genetik
Ansietas dapat memiliki komponen yang diwariskan karena kerabat tingkat
pertama individu yang mengalami peningkatan ansietas memiliki kemungkinan
lebih tinggi mengalami ansietas dengan wanita berisiko dua kali lipat lebih
besar daripada pria. Horwath dan Weissman (2000) menjelaskan bahwa suatu
kemungkinan sindrom kromosom 13 yang dapat terlibat dalam hubungan
genetika yang mungkin pada gangguan panik, seperti sakit kepala hebat,
masalah ginjal, kandung kemih, atau tiroid, prolaps katup mitral.
b. Teori neurokimia
Asam gama-amino butirat (GABA) merupakan neurotransmiter asam amino
yang diyakini tidak berfungsi pada gangguan ansietas. GABA, suatu
neurotransmiter inhibitor, berfungsi sebagai agens antiansietas alami tubuh
dengan mengurangi eksitabilitas sel sehingga megurangi frekuensi bangkitan
neuron. GABA tersedia pada sepertiga sinaps saraf, terutama sinaps di sistem
limbik dan lokus seruleus, tempat neurotransmitter norepinefrin diproduksi,
yang menstimulasi fungsi sel. Karena GABA mengurangi ansietas dan
noreepinefrin meningkatkan ansietas, diperkirakan bahwa masalah pengaturan
neurotransmitter ini menimbulkan gangguan ansietas.
2. Teori Psikologis:
a. Teori Perilaku
Ansietas merupakan sesuatu yang diperlajari melalui pengalaman individu.
Pola-pola perilaku tertentu mengajarkan seseorang bertindak dengan cara
berbeda. Misalnya, jika sejak kecil seringkali diterapkan perilaku main sendiri
atau jarang bersosialisasi, maka kondisi tersebut bisa terbawa hingga dewasa

yang membuatnya menjadi takut atau cemas untuk berhadapan dengan orang
lain. Ansietas merupakan segala sesuatu yang mengganggu kemampuan
seseorang untuk

mencapai

tujuan yang

diinginkan.

Pakar perilaku

menganggap sebagai dorongan belajar berdasarkan keinginan dari dalam


untuk menghindari kepedihan. Individu yang terbiasa dengan kehidupan dini
dihadapkan pada ketakutan berlebihan lebih sering menunjukkan ansietas
dalam kehidupan selanjutnya
b. Psikodinamik (Pandangan Psikoanalitik)

Ego atau aku berfungsi menengahi tuntutan dari dua elemen yang
bertentangan dan fungsi ansietas adalah mengingatkan ego bahwa ada bahaya.
Teori psikodinamik berpendapat bahwa beberapa ketakutan berakar dari
trauma atau kekerasan di masa kecil seperti pernah diejek atau dipermalukan.
Ketakutan ini bisa dilupakan tapi dapat muncul kembali di kemudian hari.
c. Pandangan Interpersonal
Ansietas timbul dari perasaan takut terhadap tidak adanya penerimaan dan
penolakan interpersonal. Ansietas berhubungan dengan perkembangan trauma,
seperti perpisahan dan kehilangan, yang menimbulkan kelemahan spesifik.
Orang yang mengalami harga diri rendah terutama mudah mengalami
perkembangan ansietas yang berat.
3. Sosial budaya
Ansietas merupakan hal yang biasa ditemui dalam keluarga. Ada tumpang tindih
dalam gangguan ansietas dan antara gangguan ansietas dengan depresi. Faktor
ekonomi, latar belakang pendidikan berpengaruh terhadap terjadinya ansietas.
Faktor Presipitasi
Faktor presipitasi dibedakan menjadi:
1. Ancaman terhadap integritas seseorang meliputi ketidakmampuan fisiologis yang
akan datang atau menurunnya kapasitas untuk melakukan aktivitas hidup sehari-hari.
2. Ancaman terhadap sistem diri seseorang dapat membahayakan identitas , harga diri,
dan fungsi sosial yang terintegrasi seseorang.
Etiologi Panik:
a. Teori biologi
4

Gangguan panik dapat diwariskan secara genetik. Serangan panik dapat muncul
ketika girus parahipokampus diaktifkan oleh jalur norepinefrin. Gejala serangan
panik, misalnya peningkatan frekuensi jantung yang terlihat pada peningkatan kadar
noreepinefrin yang dilepaskan. Obat-obatan seperti yohimbin menyekat reseptor
pengikat norepinefrin sehingga ansietas meningkat.
b. Psikoanalitis
Informasi yang direpresi ke alam bawah sadar dapat muncul ke alam sadar. Informasi
ini menyebabkan konflik yang berasal dari salah satu dari empat sumber: ansietas
superego, rasa bersalah yang dirasakan oleh individu yang secara sosial dan personal
memiliku impuls yang tidak tepat, dan tipe hukuman terhadap konflik jika informasi
ini diketahui, ansietas separasi, tentang potensi kehiangan orang terdekat, dan ansietas
id atau destruksi individu. Tujuan psikoanalitis adalah menghadapi konflik untuk
mengkaji sumber ansietas yang sebenarnya kemudian melakukan intervensi.
Masalah fisik yang dapat dikaitkan dengan kecemasan meliputi: (TirtoJiwo, 2012)
1) Penyakit jantung
2) Diabetes
3) Masalah tiroid (seperti hipotiroidisme atau hipertiroidisme)
4) Asma
5) Penyalahgunaan obat
6) Penarikan diri (withdrawal) alkohol
7) Penarikan diri (withdrawal) dari obat anti-kecemasan (benzodiazepin)
8) Tumor Langka yang memproduksi hormon tertentu yang menyebabkan badan
dalam posisi siaga hadapi atau lari
9) Otot atau kejang atau kram.
10) Rasa terbakar atau sensasi menusuk-nusuk sensasi yang tidak memiliki sebab
yang jelas
Hal-hal yang dapat meningkatkan resiko terkena gangguan kecemasan meliputi:
(TirtoJiwo, 2012)
a. Menjadi perempuan. Wanita lebih mungkin dibandingkan pria untuk didiagnosis
dengan gangguan kecemasan.
b. Trauma ketika anak anak. Anak-anak yang mengalami pelecehan atau trauma atau
menyaksikan peristiwa traumatis beresiko lebih tinggi mengalami gangguan
kecemasan di beberapa titik dalam hidup.

c. Stres karena sakit. Memiliki kondisi kesehatan kronis atau penyakit serius seperti
kanker dapat menyebabkan kekhawatiran yang signifikan tentang masa depan,
perawatan Anda dan mungkin keuangan Anda.
d. Penumpukan stres. Sebuah peristiwa besar atau penumpukan yang lebih kecil
dalam situasi kehidupan yang penuh stres dapat memicu kecemasan yang
berlebihan misalnya, kekhawatiran yang sedang berlangsung tentang keuangan
atau kematian anggota keluarga.
e. Kepribadian. Orang dengan beberapa tipe kepribadian lebih rentan terhadap
gangguan kecemasan dari orang lain. Selain itu, beberapa gangguan kepribadian,
seperti gangguan kepribadian borderline, mungkin berhubungan dengan gangguan
kecemasan.
f. Memiliki hubungan darah dengan penderita gangguan kecemasan. Gangguan
kecemasan dapat diwariskan dalam keluarga.
g. Penyalahgunaan obat. Penyalahgunaan narkotik atau alkohol dapat menyebabkan
atau memperburuk kecemasan.

c. Tanda dan Gejala

Awitan gangguan ansietas sangat bervariasi. Awitanldi secara akut atau bertahap.
Awitan dapat timbul tanpa peristiwa pencetus atau terjadi karena peritiwa akut yang
menimbulkn stress atau bahkan stressor kronis seperti masalah kesehatan, pekerjaan,
nutrisi, medikasi atau keluarga. Gangguan ansietas ditandai dengan tingkat ansietas
yang tinggi, yang terlihat pada perilaku yang tidak lazim, misalnya khawatir, panik,
pikiran dan tindakan obsesif-kompulsif atau takut terhadap objek atau peristiwa yang
tidak sesuai dengan realitas situasi.
Kecemasan dapat diekspresikan secara langsung melalui perubahan fisiologis dan
psikologis (Sheila,2008)
1. Respon fisiologis
a. Kardiovaskuler : tekanan arteri meingkat, denyut jantung meningkat,
konstruksi pembuluh darah perifer, tekanan darah meningkat, tekanan darah
menurun, denyut nadi menurun
b. Pernafasan : nafas cepat dan pendek, nafas dangkal dan terengah-engah
6

c. Gastrointestinal : nafsu makan menuru, tidak nyaman pada perut, mual dan
diare
d. Neuromuskular : tremor, gugup, gelisah, insomnia dan pusing
e. Traktus urinarius : sering berkemih
f. Kulit : keringat dingin, gatal dan wajah kemerahan
2. Respon perilaku
Respon perilaku yang sering muncul adalah gelisah, tremor, ketegangan fisik,
reaksi terkejut, gugup, bicara cepat, menghindar, kurang koordinasi, menarik diri
dari hubungan interpersonal dan melarikan diri dari masalah.
3. Respon kognitif
Respon kognitif yang muncul adalah perhatian terganggu, pelupa, salah dalam
memberikan penilaian, hambatan berpikir logis, tidak mampu berkonsentrasi,
tidak mampu mengambil keputusan, menurunnya lapangan persepsi dan
kreatifitas, bingung, takut, kehilangan kontrol, takut pada gambaran visual dan
takut cedera atau kematian.
4. Respon afektif
Respon afektif yang sering muncul adalah mudah terganggu, tidak sabar, gelisah,
tegang, ketakutan, waspada, gugup, mati rasa, rasa bersalah dan malu.
d. Akibat atau Dampak

Rasa takut dan cemas dapat menetap bahkan meningkat meskipun situasi yang betulbetul mengancam tidak ada, dan ketika emosi-emosi ini tumbuh berlebihan
dibandingkan dengan bahaya yang sesungguhnya, emosi ini menjadi tidak adaptif.
Kecemasan yang berlebihan dapat mempunyai dampak yang merugikan pada pikiran
serta tubuh bahkan dapat menimbulkan penyakit-penyakit fisik (Cutler, 2004)
Menurut Yustinus (2006) membagi beberapa dampak kecemasan ke dalam beberapa
simtom, yaitu:
a. Simtom suasana hati
Individu yang mengalami kecemasan memiliki perasaan akan adanya hukuman
dan bencana yang mengancam dari suatu sumber tertentu yang tidak diketahui.
Orang yang mengalami kecemasan tidak dapat tidur, sehingga dapat
menyebabkan sifat mudah marah.
7

b. Simtom kognitif
Kecemasan dapat menyebabkan kekhawatiran dan keprihatinan pada individu
mengenai hal-hal yang tidak menyenangkan yang mungkin terjadi. Individu
tersebut tidak memperhatikan masalah-masalah real yang ada, sehingga individu
sering tidak bekerja atau belajar secara efektif, dan akhirnya dia akan menjadi
lebih merasa cemas.

c. Simtom motor
Orang-orang yang mengalami kecemasan sering merasa tidak tenang, gugup,
kegiatan motor menjadi tanpa arti dan tujuan, misalnya jari-jari kaki mengetukngetuk, dan sangat kaget terhadap suara yang terjadi secara tiba-tiba. Simtom
motor merupakan gambaran rangsangan kognitif yang tinggi pada individu dan
merupakan usaha untuk melindungi dirinya dari apa saja yang dirasanya
mengancam.
C. MASALAH KEPERAWATAN DAN DATA YANG PERLU DIKAJI
1. Masalah keperawatan (Stuart & Sunden ,1998)
a. Koping individu tidak efektif
b. Anxietas
c. Isolasi sosial : menarik diri
d. Tidak efektifnya koping keluarga
e. Harga diri rendah : Gangguan konsep diri
f. Perilaku kekerasan
g. Tidak efektifnya pelaksanaana regimen terapeutik
2. Data yang perlu dikaji :
Pengkajian ditujukan pada fungsi fisiologis dan perubahan perilaku melalui
gejala atau mekanisme koping sebagai pertahanan terhadap kecemasan.
a. Kaji faktor predisposisi
Faktor predisposisi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat
menyebabkan timbulnya kecemasan seperti:
1) Peristiwa traumatic yang dapat memicu terjadinya kecemasandengan krisis
yang dialami individu baik krisis perkembangan atau situasional.
2) Konflik emosional yang dialami individu dan tidak terselesaikan dengan baik.
Konflik antara id dan super ego atau antara keinginan dan kenyataan dapat
menimbulkan kecemasan pada individu.
8

3) Konsep diri terganggu akan menimbulkan ketidakmampuan individu berpikir


secara realistissehingga akan menimbulkan kecemasan.
4) Frustasi akan menimbulkan rasa ketidakberdayaan untuk mengambil
keputusan yang berdampak terhadap ego.
5) Gangguan fisik akan menimbulkan kecemasan karena merupakan ancaman
terhadap integritas fisik yang dapat mempengaruhi konsep diri individu.
6) Pola mekanisme koping keluarga atau pola keluarga menangani setres akan
mempengaruhi individu dalam berespon terhadap konflik yang dialami
karena pola mekanisme koping individu banyak dipelajari dalam keluarga.
7) Riwayat gangguan kecemasan dalam keluarga akan mempengaruhi respon
individu dalam berespon terhadap konflik dan mengatasi kecemasannya.
8) Medikasi yang dapat memicu terjadinya kecemasan adalah pengobatan yang
mengandung

benzodiepin,

karena

benzodizepin

dapat

menekan

neurotrasmiter gamma amino butyric acid (GABA) yang mengontrol aktivitas


neuron di otak yang bertanggung jawab menghasilkan kecemasan
b. Kaji stressor presipitasi
Stressor presipitasi adalah semua ketegangan dalam kehidupan yang dapat
mencetuskan

timbulnya

kecemasan.

Stressor

presipitasi

kecemasan

dikelompokkan menjadi dua bagian:


1) Ancaman terhadap integritas fisik. Ketegangan yang mengancam integritas
fisik meliputi:
a) Sumber internal, mrliputi kegagalan mekanisme fisiologis system imun,
regulasi suhu tubuh, perubahan biologis normal (mis.hamil).
b) Sumber eksternal, meliputi paparan terhadapinfeksi virus dan bakteri,
polutan lingkungan, kekurangan nutrisi, tidak adekuatnya tempat tinggal.
2) Ancaman terhadap harga diri meliputi sumber internal dan eksternal.
a) Sumber internal: kesulitan dalam berhubungan interpersonal dirumah dan
di tempat kerja, penyesuaian terhadap peran baru. Berbagai ancaman
terhadap integritas fisik juga dapat mengancanm harga diri
b) Sumber eksternal: kehilangan orang yang dicintai, perceraian, perubahan
status pekerjaan, tekanan kelompok, social budaya
c. Kaji perilaku
Secara langsung kecemasan dapat di ekspresikan melalui respon fisiologis
dan psikologis dan secara tidak langsung melalui pengambangan mekanisme
koping sebagai pertahanan melawan kecemasan.
9

1) Respon fisiologis: Mengaktifkan system saraf otonom (simpatis dan


parasimpatis)
2) Respon psikologologis: Kecemasan dapat mempengaruhi aspek intrapersonal
maupun personal.
3) Respon kognitif: Kecemasan dapat mempengaruhi kemampuan berpikir baik
proses

pikir

maupun

isis

pikir,

diantaranya

adalah

tidak

mampu

memperhatikan, konsentrasi menurun, mudah lupa, menurunya lapangan


persepsi, bingung.
4) Respon afektif : Klien akan mengekspresikan dalam bentuk kebingungan dan
curiga berlebihan sebagai reaksi emosi terhadap kecemasan
d. Kaji penilaian terhadap stressor
1) Kognitif (kerusakan perhatian, kurang konsentrasi, pelupa, kesalahan dalam
menilai, preokupasi, bloking, penurunan lapangan pandang, berkurangnya
kreativitas, produktivitas menurun, bingung, sangat waspadai, berkurangnya
objektivitas, takut kehilangan kontrol, takut bayangan visual, takut akan
terluka atau kematian, kesadaran diri meningkat, mimpi buruk).
2) Afektif (mudah terganggu, tidak sabar, gelisah, tegang, nervous, takut, alarm,
frustasi, teror, gugup, gelisah, merasa bersalah, pemalu, frustasi).
3) Fisiologik
a) Kardiovaskular (palpitasi, jantung berdebar, td meningkat, rasa mau
pingsan, pingsan, TD menurun, denyut nadi menurun).
b) Pernafasan (nafas cepat, nafas pendek, tekanan pada dada, nafas dangkal,
pembengkakan pada tenggorok, sensasi tercekik, terengah-engah).
c) Neuromuskular (refleks meningkat, reaksi kejutan, mata berkedip-kedip,
insomnia, tremor, rigiditas, gelisah, wajah tegang).
d) Gastrointestinal (kehilangan nafsu makan, menolak makanan, rasa tidak
nyaman pada abdomen, mual, rasa terbakar di perut, diare, perut melilit).
e) Traktus urinarius (tidak dapat menahan kencing, sering berkemih).
f) Reproduksi (tidak datang bulan/amenore, darah haid berlebihan, darah
haid amat sedikit, masa haid berkepanjangan, masa haid amat pendek, haid
beberapa kali dalam sebulan, menjadi dingin, ejakulasi dini).
g) Integumen (wajah kemerahan, berkeringat setempat/telapak tangan, gatal,
rasa panas dan dingin pada kulit, wajah pucat, berkeringat seluruh tubuh).
4) Behavioral (gelisah, ketegangan fisik, tremor, gugup, bicara cepat, kurang
koordinasi, cenderung mendapat cedera, menarik diri dari hubungan

10

interpersonal, menghalangi, melarikan diri dari masalah, menghindar,


hiperventilasi).
5) Respon sosial (kadang kadang menghindari kontak sosial/ aktivitas sosial
menurun, kadang-kadang menunjukkan sikap bermusuhan).
e. Kaji sumber dan mekanisme koping
1) Sumber koping
Individu dapat menanggulangi stress dan kecemasan dengan
menggunakan atau mengambil sumber koping dari lingkungan baik dari
sosial, intrapersonal dan interpersonal. Sumber koping diantaranya adalah aset
ekonomi, kemampuan memecahkan masalah, dukungan sosial budaya yang
diyakini. Dengan integrasi sumber-sumber koping tersebut individu dapat
mengadopsi strategi koping yang efektif (Suliswati, 2005).
2) Mekanisme koping

Kemampuan individu menanggulangi kecemasan secara konstruksi


merupakan faktor utama yang membuat klien berperilaku patologis atau tidak.
Bila individu sedang mengalami kecemasan ia mencoba menetralisasi,
mengingkari atau meniadakan kecemasan dengan mengembangkan pola
koping. Pada kecemasan ringan, mekanisme koping yang biasanya digunakan
adalah menangis, tidur, makan, tertawa, berkhayal, memaki, merokok,
olahraga, mengurangi kontak mata dengan orang lain, membatasi diri pada
orang lain (Suliswati, 2005). Mekanisme koping untuk mengatasi kecemasan
sedang, berat dan panik membutuhkan banyak energi. Menurut Suliswati
(2005), mekanisme koping yang dapat dilakukan ada dua jenis, yaitu :
a) Task oriented reaction atau reaksi yang berorientasi pada tugas.
Merupakan

pemecahan

masalah

secara

sadar

digunakan

untuk

menanggulangi ancaman stressor yang ada secara realistis, yaitu:


- Perilaku menyerang (agresif)
Biasanya digunakan individu untuk mengatasi rintangan agar
-

memenuhi kebutuhan.
Perilaku menarik diri
Digunakan untuk menghilangkan sumber ancaman baik secara fisik

maupun secara psikologis.


Perilaku kompromi.
Digunakan untuk mengubah tujuan-tujuan yang akan dilakukan atau
mmengorbankan kebutuhan personal untuk mencapai tujuan.
11

b) Ego oriented reaction atau reaksi berorientasi pada ego. Mekanisme


pertahanan Ego membantu mengatasi ansietas ringan maupun sedang yang
digunakan untuk melindungi diri dan dilakukan secara tidak sadar untuk
mempertahankan ketidakseimbangan. Adapun mekanisme pertahanan Ego
adalah:
- Kompensasi
Adalah proses dimana seseorang memperbaiki penurunan citra diri
dengan secara tegas menonjolkan keistimewaan/kelebihan yang
-

dimilikinya.
Penyangkalan (Denial)
Menyatakan ketidaksetujuan terhadap realitas dengan mengingkari
realitas tersebut. Mekanisme pertahanan ini paling sederhana dan

primitif.
Pemindahan (Displacemen)
Pengalihan emosi yag semula ditujukan pada seseorang/benda tertentu

yang biasanya netral atau kurang mengancam terhadap dirinya.


Disosiasi
Pemisahan dari setiap proses mental atau prilaku dari kesadaran atau

identitasnya.
Identifikasi (Identification)
Proses dimana seseorang mencoba menjadi orang yang ia kagumi
dengan mengambil/menirukan pikiran-pikiran,prilaku dan selera orang

tersebut.
Intelektualisasi (Intelektualization)
Penggunaan logika dan alasan yang berlebihan untuk memghindari

pengalaman yang mengganggu perasaannya.


Introjeksi (Intrijection)
Mengikuti norma-norma dari luar sehingga ego tidak lagi terganggu

oleh ancaman dari luar (pembentukan superego).


Fiksasi
Berhenti pada tingkat perkembangan salah satu aspek tertentu (emosi
atau tingkah laku atau pikiran) sehingga perkembangan selanjutnya

terhalang.
Proyeksi.
Pengalihan buah pikiran atau impuls pada diri sendiri kepada orang
lain terutama keinginan. Perasaan emosional dan motivasi tidak dapat
ditoleransi.
12

Rasionalisasi
Memberi keterangan bahwa sikap/tingkah lakunya menurut alasan
yang seolah-olah rasional,sehingga tidak menjatuhkan harga diri.
Reaksi formasi
Bertingkah laku yang berlebihan yang langsung bertentangan dengan
keinginan-keinginan,perasaan yang sebenarnya.
Regressi
Kembali ketingkat perkembangan terdahulu (tingkah laku yang
primitif), contoh; bila keinginan terhambat menjadi marah, merusak,

melempar barang, meraung, dan sebagainya.


Represi
Secara tidak sadar mengesampingkan pikiran, impuls, atau ingatan
yang menyakitkan atau bertentangan, merupakan pertahanan ego yang

primer yang cenderung diperkuat oleh mekanisme ego yang lainnya.


Acting Out
Langsung mencetuskan perasaan bila keinginannya terhalang.
Sublimasi
Penerimaan suatu sasaran pengganti yang mulia artinya dimata
masyarakat untuk suatu dorongan yang mengalami halangan dalam

penyalurannya secara normal.


Supresi
Suatu proses yang digolongkan sebagai mekanisme pertahanan tetapi
sebetulnya merupakan analog represi yang disadari;pengesampingan
yang disengaja tentang suatu bahan dari kesadaran seseorang;kadang-

kadang dapat mengarah pada represif berikutnya.


Undoing
Tindakan/perilaku atau komunikasi yang menghapuskan sebagian dari
tindakan/perilaku atau komunikasi sebelumnya merupakan mekanisme
pertahanan primitif.

D. DIAGNOSA KEPERAWATAN
Diagnosa keperawatan pada kecemasan:
1.
2.

Ansietas berhubungan dengan adanya ancaman pada lingkungan


Panik berhubungan dengan penolakan keluarga

E. RENCANA TINDAKAN
Tujuan Umum:
13

Klien akan menunjukkan mekanisme koping adaptif dalam mengatasi stres dan mampu
mengurangi ansietasnya dari tingkat ringan hingga panik.
Tujuan Khusus:
a. Klien mampu mengenal ansietas.
b. Klien mampu mengekspresikan dan mengidentifikasi tentang ansietasnya.
c. Klien mampu mengidentifikasi situasi yang menyebabkan ansietas.
d. Klien mampu mengatasi ansietas melalui teknik relaksasi.
e. Klien mampu memperagakan dan menggunakan teknik relaksasi untuk mengatasi
f.
g.
h.
i.

ansietas.
Klien mampu membina hubungan saling percaya.
Klien mampu melakukan aktifitas sehari-hari.
Klien mampu meningkatkan kesehatan fisik dan kesejahteraannya.
Klien terlindung dari bahaya.

TINDAKAN KEPERAWATAN:
a. Bina hubungan saling percaya
1) Pertimbangkan agar pasien merasa aman dan nyaman saat berinteraksi.
2) Tindakan yang harus dilakukan dalam membina hubungan saling percaya
meliputi:
i)
Mengucapkan salam terapeutik
ii)
Berjabat tangan
iii)
Menjelaskan tujuan interaksi
iv)
Membuat kontrak topik, waktu dan tempat setiap kali bertemu pasien atau
klien.
b. Bantu pasien mengenal ansietas
1) Bantu pasien untuk mengidentifikasi dan menguraikan perasaannya.
2) Bantu pasien menjelaskan situasi yang menimbulkan ansietas.
3) Bantu pasien mengenal penyebab ansietas.
4) Bantu klien menyadari perilaku akibat ansietas.
c. Ajarkan pasien teknik relaksasi untuk meningkatkan kontrol dan rasa percaya diri.
1) Pengalihan situasi
2) Latihan relaksasi:
i)
Tarik nafas dalam
ii)
Mengerutkan dan mengendurkan otot-otot.
3) Hipnotis diri sendiri (latihan 5 jari).
d. Motivasi klien melakukan teknik relaksasi setiap kali ansietas muncul.
TINDAKAN KEPERAWATAN: SP 1
a. Membina hubungan saling percaya.
b. Membantu pasien mengenal ansietas.
c. Mengajarkan tehnik relaksasi dengan pengalihan situasi.
d. Memasukkan ke dalam jadwal kegiatan sehari-hari.
14

TINDAKAN KEPERAWATAN: SP 2
a. Mengevaluasi latihan teknik pengalihan situasi.
b. Mengajarkan dan melatih tehnik relaksasi nafas dalam.
c. Memasukkan ke dalam jadwal kegiatan harian.
TINDAKAN KEPERAWATAN: SP 3
a. Mengevaluasi latihan teknik tarik nafas dalam
b. Mengajarkan dan melatih tehnik relaksasi progresif: mengerutkan dan
mengendurkan otot.
c. Memasukkan ke dalam jadwal kegiatan harian.
TINDAKAN KEPERAWATAN: SP 4
a. Mengevaluasi latihan tehnik relaksasi progresif mengerutkan dan mengendurkan
otot.
b. Mengajarkan dan melatih tehnik relaksasi lima jari.
c. Memasukkan ke dalam jadwal kegiatan harian.
Teknik relaksasi progresif:
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Otot yang dapat dilatih mulai dari otot muka sampai otot kaki.
Kerutkan otot muka, kendurkan, 3-10 kali.
Otot punggung
Otot perut
Otot tangan
Otot kaki.

Teknik relaksasi lima jari:


a. Membayangkan, distraksi.
b. Sentuhkan ibu jari dengan telunjuk, sambil melakukannya, kenang saat merasa
sehat, menikmati kegiatan fisik yang menyenangkan, misalkan membayangkan
ketika baru saja selesai mengikuti pertandingan bulu tangkis dan bapak menjadi
pemenangnya.
c. Kedua, sentuhkan ibu jari dengan jari tengah, sambil melakukannya, kenang saat
pertama kali jatuh cinta, saat pertama kali bertemu dengan istri dan kenangan
indah yang lain.

15

d. Ketiga, sentuhkan ibu jari dengan jari manis dan bayangkan ketika saat pertama
menerima pujian yang paling berkesan.
e. Terakhir, sentuhkan ibu jari dengan kelingking dan bayangkan berada di satu
tempat yang paling disukai, misalnya pantai, bayangkan berjalan di sekeliling
pantai, kembangkan imajinasi.
Rencana Keperawatan berdasarkan tingkat ansietas:
1. Ansietas Ringan
Deskripsi
Ansietas ringan

Batasan Karakter
Tidak nyaman.

Intervensi
Gerakan tidak tenang.

adalah

ansietas

Gelisah.

Perhatikan

normal

dimana

Insomnia ringan.

motivasi individu

tanda

peningkatan ansietas.

Perubahan nafsu makan Bantu

klien

pada keseharian ringan.

menyalurkan

dalam

secara konstruktif.

batas

Peka.

kemampuan

Pengulangan

Gunakan obat bila perlu.

untuk melakukan pertanyaan.


dan memecahkan
masalah

Perilaku

Dorong
Berikan

Peningkatan

Sadari

penggunaan

persepsimekanisme pertahanan.

pemecahan masalah.
Mudah marah.

informasi

akurat dan fuktual.

kewaspadaan.
Peningkatan

pemecahan

mencarimasalah.

perhatian.

meningkat.

energi

Bantu

dalam

mengidentifikasi
keterampilan koping yang
berhasil.
Pertahankan cara yang
tenang dan tidak terburu.
Ajarkan latihan

dan

tehnik relaksasi.
2. Ansietas Sedang
16

Deskripsi
Ansietas sedang
adalah

cemas ansietas ringan.

yang

tidak

tergesa-gesa,

Perhatian terpilih daritenang bila berurusan

mempengaruhi
pengetahuan
baru

Batasan Karakter
Intervensi
Perkembangan
dari Pertahankan
sikap

lingkungan.

dengan pasien.

Konsentrasi hanya pada Bicara dengan sikap

dengan tugas-tugas individu.

penyempitan

Suara bergetar.

lapangan

Ketidaknyamanan

persepsi sehngga jumlah


individu

waktu

tenang,

tegas

meyakinkan.
Gunakan kalimat yang
yangpendek dan sederhana.

digunakan.

Hindari

menjadi

kehilangan

Takipnea.

cemas,

pegangan tetapi

Takikardia.

melawan.

dapat mengikuti

Perubahan dalam nada Dengarkan pasien.

pengarahan
orang lain.

suara.

marah,

dan

Berikan kontak fisik

Gemetaran.

dengan

menyentuh

Peningkatan keteganganlengan
otot.

dan

tangan

pasien.

Menggigit

kuku, Anjurkan

memukul-mukulkan

jari,menggunakan

pasien
tehnik

menggoyangkan kaki danrelaksasi.


mengetukkan jari kaki.

Ajak

pasien

untuk

mengungkapkan
perasaannya.
Bantu

pasien

mengenali dan menamai


ansietasnya.

3. Ansietas Berat
Deskripsi

Batasan Karakter

Intervensi
17

Pada

ansietas

berat

lapangan

Perasaan terancam.
Ketegangan

otot

Isolasi pasien dalam


yanglingkungan yang aman

persepsi menjadi berlebihan.

dan tenang.

sangat menurun.

Diaforesis.

Individu

Perubahan pernapasan.

dan

cenderung

Napas panjang.

sampai konstan.

memikirkan

hal

Biarkan

Hiperventilasi.

perawatan

kontak

Berikan

sering

obat-obatan

yang sangat kecil

Dispnea.

pasien melakukan hal

saja

Pusing.

untuk dirinya sendiri.

dan

mengabaikan hal

Perubahan

Observasi

adanya

yang

lain. gastrointestinalis.

tanda-tanda peningkatan

Individu

tidak

agitasi.

mampu

berfikir

realistis

Rasa terbakar pada ulu Jangan

dan hati.

membutuhkan
banyak

m)

Yakinkan

Anoreksia.

pasien

bahwa dia aman.

Diare atau konstipasi.


dapat

mennyentuh

pasien tanpa permisi.

Sendawa.

pengarahan,
untuk

Mual muntah.

Kaji keamanan dalam

Perubahan kardivaskuler. lingkungan sekitarnya.

memusatkan

Takikardia.

pada daerah lain.

Palpitasi.
Rasa tidak nyaman pada
prekokardia.
Berkurangnya

jarak

persepsi secara berat.


Ketidakmampuan untuk
berkonsentrasi.
Rasa terbakar.
Kesulitan

dan

ketidaktepatan
pengungkapan.
w)

Aktivitas

yang

tidak
18

berguna.
Bermusuhan.
4. Panik
Deskripsi
Adalah tingkat

Batasan Karakter
Intervensi
Hiperaktif / imobilitasi Tetap bersama pasien ;

dimana individu berat.


berada

pada

Rasa

minta bantuan.
terisolasi

yang Jika

bahaya terhadap ekstrim.


diri sendiri dan

hilangkan

Kehilangan

menjadi

diam
menyerang
dengan
kacau.

beberapa

desintegrasistressor

orang lain serta kepribadian.


dapat

mungkin
fisik

dan

psikologisdari

Sangat goncang dan otot-lingkungan.

atau otot tegang.

Bicara dengan tenang,

Ketidakmampuan
cara berkomunikasi

untuksikap

denganmenggunakan

kalimat yang lengkap.


Distori
penilaian

nada

suara yang rendah.

persepsi

dan Katakan pada pasien

yang

tidakbahwa anda (staf) tidak

realistis

terhadapakan

lingkungan dan ancaman. dirinya


Perilaku

meyakinkan,

kacau

usaha melarikan diri.


Menyerang.

membahayakan
sendiri

atau

dalamorang lain.
Isolasikan pasien pada
daerah yang aman dan
nyaman.
Lanjut

dengan

perawatan ansietas berat.


Sedangkan rencana keperawatan pada ansietas berat dan sedang, yaitu sebagai
berikut:
Kriteria hasil: klien akan mengurangi ansietasnya sampai tingkat sedang atau ringan.

19

Rencana keperawatan: respon ansietas pada tingkat sangat berat


Tujuan

Intervensi

Rasional

Khusus
Klien dapat- Dukung

dan

terlindung

mekanisme

dari bahaya.

klien

terimaAnsietas berat dan panik

pertahan

diridapat

dikurangi

dengan

mengijinkan klien untuk


menentukan

stress

yang

besarnya
dapat

ditangani.
Kenalkan klien pada kriteria
kesediahan

yang

berhubungan

dengan

mekanisme kopingnya saat

Jika klien tidak mampu


menghilangkan

ansietas,

ketegangan dapat mencapai

ini
- Berikan umpan balik kepada
klien

tentang

perilaku,

stressor dan sumber koping.


- Hindari

perhatian

pada

fobia, ritual atau keluhan


fisik.
- Kuatkan

ide

bahwa

kesehatan fisik berhubungan


dengan kesehatan emosional
20

- Batasi perilaku maladaptif


klien dengan cara yang
Klien

mendukung
akan- Bersikap tenang terhadapPerilaku

mengalami

klien

dimodifikasi

situasi

yang
- Kurangi
lebih sedikit
lingkungan
menimbulkan
ansietas

- Batasi

dapat
dengan

mengubah lingkungan dan


stimulus

interkasi

klien

dengan

lingkungan

interaksi

klien

dengan klien lain untuk


meminimalkan

aspek

menularnya ansietas
- Identifikasi dan modifikasi
situasi

yang

dapat

menimbulkan ansietas bagi


klien
- Berikan

tindakan

fisik

seperti mandi air hangat dan


Klien

massage
dapat- Ikutlah terlibat

terlibat dalam aktivitas

denganDengan

klien

mendorong

untukaktivitas ke luar rumah,

aktivitas yang memberikan dukungan padaperawat membatasi waktu


dijadwalkan

penguatan

sehari-hari

produktif secara sosial


- Berikan

perilakuklien yang tersedia untuk

beberapa

jenis

latihan fisik
- Rencanakan

mekanisme

koping

destruktif

sambil

meningkatkan
dan

jadwal

atau

partisipasi

meninkmati

aspek

kehidupan lainnya

daftar aktivitas yang dapat

21

dilakukan setiap hari


- Libatkan anggota keluarga
dan
Klien

sistem

lainnya
akan- Berikan

mengalami

medikasi

dapat

yangEfek

hubungan

membantuterapeutik

penyembuhan mengurangi
dan

pendukung

rasa

- Amati
efek
ansietas berat
medikasi
dan

dapat

tidakditingkatkan jika kendali

gejala- nyaman klien

gejala

yang

kimiawi terhadap gejala


samping
lakukan

penyuluhan kesehatan yang


relevan

kemungkinan klien untuk


mengarahkan
pada

perhatian

konflik

yang

mendasari

Rencana keperawatan: respon ansietas pada tingkat berat


Tujuan Khusus
Intervensi
Klien
akan- Bantu

Rasional
klienUntuk

mengidentifikasi

mengindentifikasi

dan

menggambarkan

menggambarkan

perasaan

perasaan

danrespon

mengadopsi
koping

yang

baru, klien pertama kali


yangharus

menyadari

tentang mendasari kecemasan perasaan dan mengatasi

ansietasnya

penyakangkalan
-

dan

resistens yang disadari


atau tidak disadri
Kaitkan perilaku klien
dengan

perasaan

tersebut
- Validasikan

semua
22

perubahan dan asumsi


kepada klien
- Gunakan

pertanyaan

terbuka untuk beralih


dari topic yang tidak
mengancam ke isu-isu
konflik
- Variasikan

besarnya

ansietas

untuk

meningkatkan motivasi
klien

Klien

- Gunakan

konfrontasi

supportif

dengan

bijaksana
akan- Bantu

mengidentifikasi

klienSetelah

perasaan

manggambarkan situasiansietas dikenali, klien

penyebab ansietas dan

interaksi

yangharus

mendahului ansietas
Tinjau penilaian klien
terhadap stressor, nilai-

mengerti

perkembangannya
termasuk

stressor

pencetus,

penilaian

stressor

dan

sumber

yang tersedia

nilai yang terancam dan


cara

konflik

berkembang
- Hubungkan
pengalaman
dengan

klien
pengalaman
23

yang relevan pada masa


lalu
akan- Kaji bagaimana klienRespons koping adaptif

Klien
menguraikan
respons
adaptif

menurunkan

dapat dipelajri melalui

koping ansietasnya dimasa laluanalisa


dan dan

maladaptif

tindakan

mekanisme

yangkoping yang digunakan

dilakukan

untukdimasa lalu, penilaian

menurunkakannya

ulang
menggunakan

stressor,
sumber

koping yang tersedia


dan

menerima

tanggung jawab untuk


berubah.
Tunjukkan

efek

maladaptif

dan

destruktif dari respons


koping saat ini
- Dorong

klien

menggunakan

koping

adaptif

efektif

yang

dimasa lalu
- Fokuskan klien pada
tanggung jawab untuk
berubah
- Bantu

klien

mengevaluasi

untuk
nilai,

sifat dan arti stressor


pada saat yang tepat

24

- Bantu klien secara aktif


mengkaitkan hubungan
Klien

sebab akibat
akan- Bantu

klienIndividu

mengimplementasi mengidentifikasi
kan dua respons untuk
adaptif

caramengatasi

membangundengan

untuk kembali

dapat
stress
mengatur

pikiran,distress emosional yang

mengatasi ansietas memodifikasi perilaku,menyertainya

melalui

menggunakan su,mberteknik penatalaksanaan


dan menguji responsstres
koping yang baru
- Dorong

klien

melakukan
fisik

aktivitas
untuk

menyalurkan energi
- Libatkan orang terdekat
sebagai sumber koping
dan dukungan sosial
- Ajarkan teknik relaksasi
untuk

meningkatkan

percaya diri

TINDAKAN KEPERAWATAN KELUARGA


Tujuan tindakan untuk keluarga:
a. Keluarga mampu mengenal masalah ansietas pada anggota keluarganya.
b. Keluarga mampu memahami proses terjadinya masalah ansietas.
c. Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami ansietas.
d. Keluarga mampu mempraktekkan cara merawat pasien dengan ansietas.
e. Keluarga mampu merujuk anggota keluarga yang mengalami ansietas.
Tindakan keperawatan keluarga yang dapat dilakukan adalah:

25

a.
b.
c.
d.

Diskusikan masalah yang dirasakan keluarga dalam merawat pasien.


Diskusikan tentang proses terjadinya ansietas serta tanda dan gejala.
Diskusikan tentang penyebab dan akibat dari ansietas.
Diskusikan cara merawat pasien dengan ansietas dengan cara mengakarkan teknik

relaksasi:
i)
Mengalihkan situasi
ii)
Latihan relaksasi
iii)
Menghipnotis diri sendiri (latihan 5 jari).
e. Diskusikan dengan keluarga perilaku pasien yang perlu dirujuk dan bagaimana
merujuk pasien.
f. Terapi Aktivitas Kelompok.
Rencana Keperawatan berdasarkan diagnosa keperawatan:
1. Cemas Berat atau Panik
Tujuan yang diharapkan:
a. Klien terlindung dari bahaya.
b. Klien dapat menyesuaikan dengan lingkungan barunya.
c. Kien dapat mengikuti aktifitas yang telah dijadwalkan.
d. Klien dapat mengalami kesembuhan dengan berkurangnya tanda gejala.
Rencana Tindakan Keparawatan:
a. Lindungi klien dari bahaya:
1) Bina hubungan terapeutik:
beri

terima

terlebih

dahulu

kehendaknya

dan

dukungan klien dari pada melawan Kenalkan realitas nyeri yang

berhubungan dengan mekanisme koping Jangan fokuskan pada fobia, ritual atau
keluhan fisik.
2) Beri umpan balik tentang: perilaku stress, penilaian stresor dan sumber koping
perkuat ide bahwa kesehatan fisik Berhubungan dengan kesehatan emosi.
Kemudian mulailah membuat batasan perilaku mal-adaptif klien dengan cara
mendukung.
b. Modifikasi lingkungan yang dapat mengurangi kecemasan:
1) Lakukan cara yang tenang kepada klien
2) Kurangi stimulasi lingkungan
3) Batasi interaksi pasien dengan orang lain,

untuk

meminimalkan

menularnya cemas pada orang lain.


4) Identifikasi dan modifikasi situasi yang mempengaruhi kecemasan.
5) Berikan tindakan yang dapat mendukung fisik, seperti; mandi hangat, massage.
c. Dorong klien melakukan aktifitas yang telah dijadwalkan

26

1) Dukung klien untuk beraktifitas dengan berbagi kegiatan seperti membersihkan


ruangan, merawat taman selanjutnya berikan penguatan perilaku produktif secara
2)
3)
4)
5)

sosial.
Berikan beberapa jenis latihan fisik seperti; senam, relaksas
Bersama-sama klien untuk membuat jadwal kegiatan.
Libatkan keluarga atau sistem pendukung lainnya yang memungkinkan.
Kolaborasi pemberian obat-obat anti ansietas untuk menurunkan gejal-gejala

cemas berat.
6) Kolaborasi pemberian obat anti ansietas.
7) Amati efek samping obat.
2. Cemas tingkat sedang
a. Tujuan Umum
1) Klien dapat mengidentifikasi perasaan cemas.
2) Klien dapat mengenali penyebab cemas.
3) Klien dapat menguraikan respon koping adaptif dan mal-adaptif.
4) Klien dapat melaksanakan 2 respon adaptif untuk mengatasi cemas.
Rencana Tindakan Keperawatan
1. Identifikasi perasaan cemas.
a. Bina hubungan saling percaya.
b. Bantu klien mengidentifikasi dan menguraikan perasaannya.
c. Monitor adakah kesesuaian perilaku dengan perasaan.
d. Validasi pasien tentang perasaan cemasnya semua perubahan dari asumsi yang
ada.
e. Gunakan pertanyaan terbuka, kaitkan perilaku klien dengan perasaan klien.
f. Lakukan konfrontasi suportif secara bijaksana. (jika perlu)
2. Kenali penyebab kecemasan klien
a. Bantu klien untuk menggambarkan situasi dan interaksi yang mendahului cemas.
b. Tinjau penilaian klien terhadap; stresor; nilai-nilai yang terancam; timbulnya
konflik.
c. Hubungkan pengalaman klien sekarang dengan masa lalu
3. Dorong klien untuk menguraikan cara koping adaptif
a. Gali bagaimana klien mengatasi cemas dimasa lalu dan bagaimana tindakan yang
b.
c.
d.
e.
f.

dilakukan.
Tunjukan efek distruktif dari koping mal-adaptif.
Dorong klien untuk melakukan koping adaptif yang efektif.
Beri tanggung jawab klien.
Bantu klien menilai kembali : nilai, sifat dan arti stressor.
Diskusikan dengan klien manfaat manfaat berhubungan dan akibat kita

tidak berhubungan.
4. Bantu klien melakukan 2 respon adaptif untuk mengatasi cemas
27

a. Bantu klien mengidentifikasi cara untuk membangun kembali: pikiran positif;


perilaku adaptif, penggunaan sumber-sumer koping, dan menguji respon koping
yang baru.
b. Beri dorongan untuk melakukan aktifitas fisik dalam menyalurkan energi.
c. Libatkan orang terdekat sebagai sumber koping/dukungan sosial.
d. Ajarkan latihan relaksasi untuk meningkatkan pengendalian diri, relevansi diri
serta mengurangi stress.
Manajemen Ansietas secara umum:
1. Obat
Beberapa jenis obat yang digunakan untuk mengobati gangguan kecemasan. Ini
termasuk:
a. Antidepresan. Obat-obat ini mempengaruhi aktivitas kimia otak (neurotransmitter)
diperkirakan memainkan peran dalam gangguan kecemasan. Contoh antidepresan
digunakan untuk mengobati gangguan kecemasan termasuk fluoxetine (Prozac),
paroxetine (Paxil), escitalopram (Lexapro), sertraline (Zoloft), venlafaxine (Effexor)
dan imipramine (Tofranil).
b. Buspirone. Ini obat anti-kecemasan dapat digunakan secara berkelanjutan. Seperti
kebanyakan dengan antidepresan , biasanya memakan waktu sampai beberapa
minggu untuk menjadi sepenuhnya efektif. Sebuah efek samping yang umum dari
buspirone adalah perasaan kepala ringan tak lama setelah meminumnya. Efek
samping yang kurang umum termasuk sakit kepala, mual, gugup dan insomnia.
c. Benzodiazepin. Dalam keadaan terbatas dokter mungkin meresepkan salah satu obat
penenang untuk menghilangkan gejala kecemasan. Contohnya termasuk clonazepam
(Klonopin), lorazepam (Ativan), diazepam (Valium), chlordiazepoxide (Librium) dan
alprazolam (Xanax). Benzodiazepin biasanya digunakan hanya untuk menghilangkan
kecemasan akut secara jangka pendek. Karena mereka dapat membentuk kecanduan
(adiktif), obat ini bukan pilihan yang baik jika Anda punya masalah dengan
penyalahgunaan alkohol atau obat (membuat Anda lebih rentan terhadap kecanduan).
Mereka dapat menyebabkan efek samping yang mencakup kantuk, koordinasi
berkurang, dan masalah dengan keseimbangan dan memori.

28

2. Psikoterapi (TirtoJiwo,2012).
a. Psikoterapi merupakan terapi bicara dan konseling psikologis. Psikoterapi menggarap
tekanan hidup dan kekhawatiran yang mendasari dan membuat perubahan perilaku.
Psikoterapi ini dapat menjadi pengobatan yang efektif untuk mengatasi kegelisahan.
b. Terapi perilaku kognitif adalah salah satu yang paling umum dari jenis psikoterapi
untuk gangguan kecemasan. Terapi perilaku kognitif berfokus pada pengajaran
keterampilan khusus untuk mengidentifikasi pikiran dan perilaku negatif dan
menggantinya dengan yang positif
.

29

DAFTAR PUSTAKA
1. Carpenito, L.J., 1998. Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Edisi 6. Alih Bahasa : Yasmin
Asih. Editor Monica Aster, Jakarta : EGC.
2. Carpenito, L.J.2007.Buku Saku Diagnosis Keperawatan. Jakarta:EGC.
3. Cutler, Howard C. 2004. Seni Hidup Bahagia. Alih Bahasa: Alex Tri Kantjono Widodo.
Jakarta: Gramedia Pustaka Utama
4. David AT. 2004. Buku Saku Psikiatri.Ed.6. Jakarta:EGC.
5. Herdman, T Heather. 2012. NANDA International, diagnosis Keperawatan definisi dan
klasifikasi. 2012-2014. Jakarta: EGC
6. Keliat, Budi Anna. 1998. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Editor Yasmin Asih,
Jakarta : EGC
7. Mallapiang.2003.Keperawatan Jiwa.Jakarta:EGC.
8. Potter Patricia A, Anne Griffin, P. 2005. Buku Ajar Fundamental Keperawatan: Konsep
Klinis, Proses dan Praktik. Alih Bahasa: Yasmin Asih dkk. Editor edisi bahasa Indonesi:
Dewi Yulianti.
9. Proses Keperawatan Kesehatan Jiwa. Editor Yasmin Asih, 2000. Jakarta : EGC.
10. Rasmun, 2001, Keperawatan Kesehatan Mental Psikiatri Terintegrasi Dengan Keluarga.
Edisi Pertama, Jakarta : CV, Sagung Seto.
11. Ramaiah, Savitri. 2003. Kecemasan Bagaimana Mengatasi Penyebabnya. Jakarta:
Pustaka Populer Obor
12. Rochman, Kholil Lur. 2010. Kesehatan Mental. Purwokerto: Fajar Media Press
13. Struart, G.W., Sundeen, S.J., 1998. Buku Saku Keperawatan Jiwa Edisi 3.Jakarta: EGC
14. Stuart & Sundeen.2005. Buku Saku Keperawatan Jiwa. Alih Bahasa: Achir Yani S
Hamid. Editor: Yasmin Asih. Cetakan 1. Jakarta: EGC.
15. Suliswati.2005. Konsep Dasar Keperawatan Kesehatan Jiwa. Jakarta: EGC.
16. Townsend, M. C., 1998. Buku Saku Diagnosa Keperawatan Pada Keperawatan Psikiatri.
Edisi 3. Alih Bahas Novi Helena. Editor Monica Ester, Jakarta : EGC.
17. Tirtojiwo. 2012. Anxiey (Kecemasan). http://tirtojiwo.org/wpcontent/uploads/2012/06/
kuliah-anxiety.pdf diakses pada 25 Agustus 2014 pukul 18.57 WIB.
18. Videbeck, S.J., 2008, Buku Ajar Keperawatan Jiwa, Jakarta : EGC
19. Wiramihardja, Sutardjo. 2005. Pengantar Psikologi Abnormal. Bandung: Refika Aditama
20. Yustinus, Semium. 2006. Kesehatan Mental 2. Yogyakarta: Kanisius

30