Anda di halaman 1dari 3

Rekristalisasi

Rekristalisasi merupakan metode yang biasa digunakan untuk memurnikan


padatan. Dalam konteks sederhana, semua zat yang tidak diinginkan akan lebih
mudah terlarut dalam pelarut tertentu dibandingkan dengan zat yang diinginkan.
Sampel terlarut dalam pelarut panas untuk membentuk larutan jenuh, larutan
kemudian didinginkan, dan Kristal yang terbentuk selama pendinginan
dikumpulkan oleh filter hisap. Zat pengotor yang terlarut tertinggal dalam larutan
setelah pendinginan dan melewati filter pada filtrasi hisap.

Gambar Filtrasi Hisap


Jika zat pengotor tidak terlarut terdapat dalam sampel, zat pengotor tersebut
dihilangkan dengan menyaring larutan panas dengan saringan (gravity filtration).
Hal tersebut dilakukan sebelum larutan menjadi dingin.

Gambar Gravity Filtation

Material yang dimurnikan


mengandung:
Senyawa yang diinginkan
Zat pengotor yang terlarut
Zat pengotor tidak terlarut
Senyawa dilarutkan dalam
pelarut panas dan di disaring

Air saringan
mengandung senyawa
dan zat pengotor tidak
terlarut

Bahan yang tidak


terlarut tertahan oleh
penyaring ; dibuang

Dibiarkan dingin sampai terbentuk Kristal;


Kristal dikumpulkan dengan filtrasi hisap

Air saringan
mengandung zat
pengotor yang terlarut ;

Kristal dari senyawa


yang diinginkan
tertahan pada saringan;
dikeringkan; tentukan
titik lelehnya

Gambar. Diagram alir rekristalisasi padatan


A4.1 Pelarutan Sampel.
Setelah pelarut terpilih melalui rekomendasi literatur atau dari penjelasan
prosedural, tempatkan pelarut dengan volume yang sesuai dengan mengunakan
boiling chip atau batang pengaduk ke dalam labu Erlenmeyer dan bawa pelarut
untuk didihkan. Untuk pelarut yang mempunyai titik didih di bawah 95o C,
gunakan steam bath. Untk pelarut yang mempunyai titik didih yang lebih tinggi,
gunakan hotplate atau sand bath. Tempatkan padatan yang akan dikristalisasi
dengan menggunkan stir bar ke dalam labu Erlenmeyer atau beaker glass yang
akan kurang dari setengah isi saat di tambahkan larutan. Tambahkan secara

perlahan-lahan sedikit pelarut panas ke dalam sampel dan terbentuk campuran


sampel dan pelarut seperti bubur. Panaskan bubur dengan menambahkan pelarut
panas secara perlahan-lahan sampai sampel terlarut sempurna.
Perlu diperhatikan bahwa pelarut yang digunakan tidak ditambahkan
dalam jumlah yang banyak. Jumlah pelarut yang ditambahkan dikira-kira sesuai
dengan jumlah sampel.
Kemungkinan senyawa dapat larut dalam pelarut yang mendidih secara
perlahan, dan zat pengotor yang tidak terlarut mungkin masih terdapat dalam
sampel jika sebagian besar sampel suda larut tapi penambahan pelarut yang lebih
tidak tampak melarutkan sisa maka dalam kotoran larut hadir dan solusinya harus
disaring selagi panas.
A4. 2 Penghilangan Warna pada Larutan
Adanya zat pengotot berwarna pada sampel terlihat jelas. Terkadang
selama proses rekristalisasi, kandungan warna tersisa dalam larutan pada saat
pendinginan dan terhapus dengan pelarut selama proses filtrasi hisap. Seringkali
kandungan warna teradsorpsi atau terserap oleh Kristal yang terbentuk, sehingga
produk yang dihasilkan menjadi tidak murni. Karena sebagian besar zat pengotor
berwarna lebih mudah diadsorpsi oleh karbon aktif, penambahan sedikit karbon
aktif dan diikuti dengan filtration gravity dapat menghapus beberapa jika tidak
sebagian warna tersebut. Molekul-molekul yang mempunyai warna tersebut
diadsorpsi oleh karbon dan terpisah dari larutan. Karbon harus ditambahkan hanya
setelah larutan didinginkan. Setelah karbon ditambahkan, larutan dipanaskan
kembali sampai titik didihnya.