Anda di halaman 1dari 13

Derajat luka

a. Klasifikasi luka dan pasal yang berhubungan:


Luka ringan pasal 352 KUHP
Luka sedang pasal 351 (1) atau 353 (1)
Luka berat pasal 90 KUHP
b. Kriteria luka berat: memenuhi salah satu kriteria di bawah ini
Jatuh sakit atau mendapat luka yang tidak memberi harapan akan sembuh
sama sekali
Yang menimbulkan bahaya maut
Tidak mampu secara terus menerus untuk menjalankan tugas jabatan atau
pekerjaan pencarian
Kehilangan salah satu pancaindera
Mendapat cacat berat
Menderita sakit lumpuh
Terganggunya daya pikir selama lebih dari empat minggu
Gugur atau matinya kandungan seorang perempuan
c. Luka sedang adalah luka yang membutuhkan perawatan namun tidak
memenuhi kriteria luka berat, sementara luka ringan adalah luka yang tidak
membutuhkan perawatan

Luka tembak
a. LT tempel terdapat jejas laras
b. LT sangat dekat (maksimal 15 cm) terbentuk akibat anak peluru, mesiu, jelaga
dan panas/api kelim api
c. LT dekat terbentuk akibat anak peluru dan mesiu kelim jelaga (maksimal 30
cm), kelim tato (maksimal 60 cm)
d. LT jauh (> 60 cm) terbentuk akibat komponen anak peluru kelim kesat dan
kelim lecet
e. Penjelasan kelim
Kelim lecet: bagian yang kehilangan kulit ari yang mengelilingi lubang akibat
anak peluru yang menembus kulit
Kelim kesat: usapan zat yang melekat pada anak peluru (pelumas, jelaga, dan
elemen mesiu) pada tepi lubang
Kelim tato: butir-butir mesiu yang tidak habis terbakar yang tertanam pada
kulit di sekitar kelim lecet.
Kelim jelaga: penampilan jelaga/asap pada permukaan kulit di sekitar lubang
luka tidak masuk
Kelim api: daerah hiperemi atau jaringan yang terbakar yang terletak tepat di
tepi lubang luka

Gonorrhea
a. Dapat ditularkan melalui hubungan seksual atau paparan dari ibu ke bayi saat persalinan.
Masa inkubasi Neisseria gonorrheae adalah 2-7 hari.
b. Tampilan klinis:

Perempuan: sekret vagina yang tipis, purulen, dan agak berbau (endoserviksitis). Namun,
banyak juga yang asimtomatis. Bisa disertai disuria.
Laki-laki: nyeri berkemih dan kencing bernanah (uretritis)
Bayi: mata merah disertai sekret purulen bilateral (oftalmia neonatorum)
c. Penunjang: dengan pewarnaan Gram dapat ditemukan diplokokus intraselular gram-negatif
(gambaran biji kopi). Sampel yang dipakai untuk laki-laki adalah eksudat uretra, untuk
perempuan gunakan smear dari endoserviks.
d. Tatalaksana:
Dewasa:
Ceftriaxone 250 mg IM dosis tunggal, DITAMBAH DENGAN
Azithromycin 1 g PO dosis tunggal ATAU doksisiklin 2 x 100 mg PO selama 7 hari
Catatan : Azithromycin atau doksisiklin juga adalah tata laksana untuk uretritis non-GO
(tidak ditemukan diplokokus; disebabkan oleh Chlamydia trachomatis)
Oftalmia neonatorum:
Ceftriaxone 25-50 mg/kg IV/IM dosis tunggal (maksimal 125 mg)
Berikan juga salep mata antibiotik dan lakukan irigasi dengan salin untuk mengurangi sekret
Toksoplasmosis kongenital
a. Terjadi bila ibu terinfeksi Toxoplasma gondii saat mengandung bayi tersebut.
Ibunya sendiri biasanya asimtomatik. Sumber infeksi khas adalah daging mentah
(khususnya sapi dan babi).
b. Tampilan klinis: kerusakan neurologis ireversibel. Trias toksoplasmosis:
retinokoroiditis, kalsifikasi serebral, dan kejang.
c. Penunjang dan tata laksana: dilakukan saat bayi masih di dalam kandungan.
Ada dua tahap:
Pertama, lakukan pemeriksaan serologis pada ibu. Diagnosis toksoplasmosis
maternal ditegakkan apabila terdapat serokonversi, yaitu IgG (-) dan IgM (+)
berubah menjadi IgG (+) dan IgM (+) setelah tiga minggu.
Setelah itu, cari tahu apakah sudah terjadi transmisi ke dalam fetus. Lakukan
USG dan pemeriksaan cairan amnion.
Sembari menunggu hasil, cegah transmisi dengan memberikan spiramisin jika
usia gestasi < 18 minggu. Jika usia gestasi 18 minggu, berikan pirimetamin +
sulfadiazin + asam folinat.
Bila hasil positif untuk toksoplasmosis fetal ditegakkan, maka spiramisin harus
diganti dengan pirimetamin + sulfadiazin + asam folinat sampai persalinan. Bila
hasil negatif, teruskan pengobatan yang sudah diberikan sampai persalinan

Dermatitis atopik
a. Definisi : inflamasi kulit kronis dan residif
b. Tampilan klinis
Gejala utamanya adalah gatal
Bentuknya polimorfik. Umumnya berupa eritema dan skuama, tapi bisa juga
ada vesikel, krusta, papul, sampai likenifikasi. Kulit pasien seringkali kering
(xerosis).
Lebih sering menyerang daerah fleksor dan wajah
Onset biasanya di bawah usia 2 tahun
Sering disertai rinitis alergik dan asma (trias atopi)
c. Tata laksana
Pelembab setiap hari untuk mencegah serangan

Kortikosteroid topikal saat ada gejala. Pemilihan jenis kortikosteroid tergantung


beratnya lesi

Malnutrisi (Gizi buruk)


a. Diagnosis :
BB/TB <70% atau <-3SD dari median (marasmus)
Edema pada kedua punggung kaki sampai seluruh tubuh (kwashiorkor : BB/TB
>70% atau marasmik-kwashiorkor : BB/TB <70%)
b. Tipe :
Marasmus : sangat kurus, tampak tulang terbungkus kulit, wajah seperti orang
tua susah, wasting, iga gambang, kulit keriput, jaringan lemak sumkutan
minimal/tidak ada, perut cekung.
Kwashiorkor : edema, , mata sayu, rambut tipis, kemerahan seperti rambut
jagung, mudah dicabut dan rontok, cengeng, wajah sembab dan membulat,
rewel dan apatis, pembesaran hati.
c. Tatalaksana :
Fase stabilisasi dengan F-75, atasi komorbid lain.
Fe baru diberikan pada fase rehabilitasi

Acute Coronary Syndrome (Angina Pektoris Tidak Stabil, STEMI, NON-STEMI)


a. Diagnosis ditegakkan jika ada 2 dari 3 : Nyeri dada tipikal, EKG, enzim jantung positif.
b. Klinis : Nyeri dada sulit dilokalisir, terasa seperti terhimpit benda berat, menjalar ke
bahu/lengan, mual muntah, berkeringat dingin. Berlangsung >20 menit.
c. Pemeriksaan tambahan : EKG, Enzim jantung (CKMB, troponin)
d. Tata laksana awal : MONA Morfin, Oksigen, Nitrat (ISDN atau Nitrogliserin), dan
Aspirin.
e. Angina Pektoris tidak stabil : Angina yang terjadi pertama kali, Angina crescendo (makin
berat), Angina yang tidak membaik dengan istirahat/nitrat. EKG : biasanya ST depresi. Enzim
jantung normal.
f. Angina Pektoris stabil (tidak termasuk dalam ACS) : Angina yang sehari-hari, sering
dirasakan, muncul saat aktifitas, frekuensi dan beratnya nyeri tetap sama, membaik dengan
istirahat/nitrogliserin.
g. STEMI : EKG menunjukkan ST Elevasi. Enzim jantung meningkat. Terapi diberikan
trombolitik (streptokinase).
h. NON-STEMI : EKG menunjukkan ST depresi (biasanya) atau T inversi. Enzim jantung
meningkat. Tidak diberikan trombolitik.
i. Faktor risiko : Usia, riwayat keluarga (ACS <55 thn), rokok, LDL tinggi, hipertensi,
obesitas, DM, stress, physical inactivity.

PPOK
a. Pasien batuk berdahak, sesak, eksaserbasi akut, dengan riwayat perokok >20
tahun.

b. PF : Wheezing, barrel chest, ekspirasi memanjang.


c. Pemeriksaan tambahan : SPIROMETRI - FEV1 <80. Foto polos : gambaran
emfisema (lebih lusen, batas paru turun dan mendatar).
d. Pengobatan :
STOP ROKOK
Bronkodilator (ipratropium dan atau salbutamol)
Steroid inhalasi
Oksigen dan antibiotik amoxiclav/doksisiklin/sefalosporin (untuk eksaserbasi
akut dan tanda infeksi)
e. Lain-lain :
Bedakan dengan bronkiektasis (gambaran honey-comb appearance)

Pneumonia / Bronkopneumonia
a. Pneumonia ringan : di samping batuk atau kesulitan bernapas, hanya ada
NAPAS CEPAT.
<2 bln : >60x/mnt
2 - 11 bln : >50x/mnt
1 5 thn : >40x/mnt
>5 thn : >30x/mnt
b. Pneumonia berat : ada nafas cuping hidung, retraksi, nodding, gambaran foto
polos khas pneumonia (infiltrat, konsolidasi)
c. PF : sesak, retraksi, nafas cuping hidung, ronki basah kasar
d. Pemeriksaan tambahan : infiltrat/konsolidasi pada foto polos, leukositosis
e. Pengobatan :
Amoksisilin clavulanat
Bila berat dapat digunakan Sefalosporin (mis. Ceftriaxone iv)

Glukoma
a. Glukoma akut/sudut tertutup
Etiologi : obstruksi trabekula oleh iris perifer
Tampilan klinis :
a. Anamnesis : mata merah, visus turun mendadak, nyeri, mual muntah, halo
b. PF : TIO > 21 mmHg, injeksi konjungtiva, edema kornea, pupil middilatasi
nonreaktif, bilik mata depan (COA) dangkal
Tatalaksana :
a. Inisial : acetazolomide, timolol, steroid topikal, pilokarpin
b. Definitif : iridotomi perifer
b. Glukoma kronik/sudut terbuka
Etiologi : disfungsi trabekula --> penurunan ekskresi aqueous humor -->
neuropati optik
Tampilan klinis :
a. Anamnesis : Umumnya asimtomatik. Bisa ditemukan defek lapang pandang
perifer (tunnel vision).
b. PF : TIO umumnya meningkat tapi sering juga normal (normotension
glaucoma), cup-to-disc ratio > 0,5, lapang pandang menyempit
Penunjang : Perimetri. Lapang pandang, bukan TIO, yang digunakan untuk
menilai progresivitas dan keberhasilan terapi.
Tata laksana : Beta-blocker topikal. Bila tidak berhasil, dilakukan bedah
trabekuloplasti laser atau trabekulektomi.

Hirschprung Stenosis pylorus Atresia duodenum Hernia diafragmatika


a. Hirschprung : pengeluaran mekonium terlambat (>24 jam), muntah hijau, kembung,
pemeriksaan colok dubur tinja menyemprot. Radiologi ditemukan zona transisi.
b. Stenosis pilorus : gejala muncul di usia 2-3 minggu, muntah proyektil non-billous, ada
bercak kopi, muntah 30-60 menit setelah intake. PF terdapat massa berbentuk buah zaitun di
epigastrium. Radiologi ditemukan string sign.
c. Atresia duodenum : muntah setelah lahir, muntah hijau, muntah terus menerus walaupun
dipuasakan. Radiologi ditemukan double-bubble sign, tidak ada udara di distal duodenum.
d. Hernia diafragmatika : Bayi sesak, didapatkan bising usus pada auskultasi di paru, pada
radiologi ditemukan gambaran udara usus di paru

Disentri
a. Bisa disebabkan oleh bakteri Shigella atau parasit Entamoeba hystolytica
b. Tampilan klinis: Diare berdarah disertai lendir, kram perut, dan demam.
Disentri bakteri umumnya akut (3 hari sampai 1 minggu), sementara disentri
amuba terjadi perlahan-lahan (2 minggu atau lebih).
c. Penunjang:
Disentri bakteri: kultur feses (umumnya tidak dilakukan)
Disentri amuba: Pada pemeriksaan mikroskopik akan ditemukan trofozoit yang
berisi eritrosit multipel. Trofozoit tersebut memiliki satu nukleus dengan kariosom
kecil yang terletak di sentral. Bila tidak ditemukan trofozoit anggap disentri
bakteri.
d. Tata laksana:
Umumnya semua disentri dianggap bakterial sehingga diberi cotrimoxazole.
Bila setelah 2 hari tidak ada perbaikan, lakukan pemeriksaan tinja.
Bila ditemukan trofozoit, berikan metronidazole. Bila tidak, berikan
ciprofloxacine, cefixime, atau asam nalidiksat.

Demam tifoid
a. Tampilan klinis:
Minggu ke-1: demam yang perlahan-lahan bertambah tinggi, menggigil, anoreksia, malaise,
nyeri kepala frontal, lidah kotor, konstipasi, kembung (timpani), nyeri abdominal ringan
difus, hepatosplenomegali
Minggu ke-2: demam mencapai plateau, insomnia, mengigau, bradikardia relatif, diare,
perdarahan GI
Minggu ke-3: tampilan klinis bertambah berat, sering terjadi status tifoid (penurunan
kesadaran dan/atau psikosis). Perforasi adalah komplikasi yang jarang, namun terjadi di
minggu ketiga.

b. Penunjang:
Darah tepi: leukopenia, trombositopenia, anemia
Kultur : darah (dalam agar empedu) untuk minggu 1-2, feses untuk minggu 2-3, urin untuk
minggu 3-4
Widal: mulai positif pada akhir minggu pertama. Diagnosis demam tifoid ditegakkan
apabila terdapat peningkatan titer 4 kali lipat pada pemeriksaan ulang dengan interval 5-7
hari atau peningkatan titer O sebanyak 1:200.
c. Tata laksana:
Lini pertama: chloramphenicol (DOC, tapi kontraindikasi bila leukosit < 2000/mm3),
amoxicillin/ampicillin, cotrimoxazole
Lini kedua: fluoroquinolone (DOC, tapi kontraindikasi untuk usia < 18 tahun), ceftriaxone,
cefixime
Harap diperhatikan bahwa beberapa literatur menyebutkan bahwa DOC lini pertama adalah
fluoroquinolone

Otitis Eksterna Maligna


a. Etiologi: Pseudomonas. Terjadi pada orang tua penderita DM karena pH
serumen yang tinggi, imunokompromais, dan mikroangiopati.
b. Tampilan klinis: Nyeri lebih berat dan sekret lebih banyak daripada OE biasa.
Liang telinga bengkak. Bila inflamasi menyebar ke nervus VII, bisa menyebabkan
paralisis fasial.
c. Tatalaksana: Ciprofloxacine oral. Debridemen lokal bila perlu.

Otitis Eksterna Akut


a. Otitis eksterna sirkumskripta
Etiologi : S. aureus/albus. Infeksi terjadi di 1/3 liang telinga luar (ada kulit).
Tampilan klinis : furunkel (bisul), nyeri tekan perikondrium, nyeri saat membuka mulut,
gangguan pendengaran (bila furunkel menyumbat liang telinga)
Tatalaksana :
a. Aspirasi jika sudah menjadi abses
b. Antibiotik salep polymixin B/bacitracin/antiseptik 2-5% dalam alkohol
c. Analgetik
d. Insisi jika furunkel menebal
b. Otitis eksterna difus
Etiologi : Pseudomonas/S. Albus. Infeksi terjadi di 2/3 liang telinga dalam.
Tampilan klinis : nyeri tekan tragus, liang telinga hiperemis dan sempit, sekret berbau
Tatalaksana :
a. Bersihkan liang telinga
b. Tampon dengan antibiotik/kompres rivanol 1/1000 selama 2 hari
c. Tetes telinga polimiksin B, neomisin, atau kloramfenikol
d. Hidrokortison topikal untuk mengurangi inflamasi

BPH
a. Pasien laki-laki separuh baya dengan keluhan kesulitan BAK, pikirkan
kemungkinan BPH.
b. Gejala Obstruksi (hesitansi, pancaran miksi lemah, intermitensi, miksi tidak
puas, menetes setelah miksi, atau retensi urin total)
c. Gejala iritasi (frekuensi, nokturi, urgensi, disuri).
d. PF : Rectal touche. Penunjang : USG.
e. Tatalaksana : alfa-bloker (tamsulosine), 5-alfa-reduktase inhibitor (finasteride),
tindakan bedah (TURP, TUIP, prostatektomi)
f. Hati-hati Ca prostat bila mudah berdarah, dan ada kaheksia pada pasien

Guillain-Barre Syndrome
a. Etiologi : antibodi terhadap patogen tertentu (mis. C. Jejuni) bereaksi silang
dengan mielin sistem saraf perifer
b. Tampilan klinis : Kelemahan otot dan penurunan refleks yang dimulai dari
tungkai lalu menjalar ke atas, didahului oleh infeksi pernapasan atau
gastrointestinal beberapa minggu sebelumnya. Pada kasus berat bisa terjadi
gagal napas.
c. Tatalaksana: plasmaferesis atau imunoglobulin

Epilepsi
a. Klasifikasi :
Kejang parsial (fokal) : berasal dari bagian tertentu dalam korteks serebri
a. Sederhana : Tidak ada penurunan kesadaran. Gejala bisa sensoris, motoris, otonom, atau
psikis, tergantung bagian korteks yang terlibat.
b. Kompleks : Ada penurunan kesadaran (ditandai dengan amnesia). Gejalanya biasanya
berupa bengong mendadak yang diikuti dengan automatisme dan kebingungan pascaserangan.
c. Kejang tonik-klonik umum sekunder : kejang parsial yang berlanjut menjadi kejang tonik
klonik umum
Kejang umum : berasal dari seluruh hemisfer korteks serebri, kiri maupun kanan
a. Absens/lena (petit mal) : Bengong mendadak, tanpa aura, tanpa kebingungan pascaserangan. Berlangsung hanya sebentar (< 20 detik), bisa disertai automatisme maupun tidak.
b. Mioklonik : kedutan motorik aritmik (tidak teratur)
c. Klonik : kedutan motorik ritmik (teratur), lebih lama dari mioklonik
d. Tonik : ekstensi atau fleksi tonik mendadak pada kepala, badan, atau ekstremitas
e. Tonik-klonik umum primer (grand mal) : kejang berawal sebagai ekstensi tonik ekstremitas
atas dan bawah yang berlangsung beberapa detik, kemudian menjadi gerakan klonik ritmik,
dengan kebingungan pasca-serangan
f. Atonik : Hilangnya tonus postural tubuh secara mendadak (pasien tiba-tiba jatuh)
b. Etiologi : Seringkali idiopatik. Tapi bisa juga sebagai bagian dari sebuah sindrom
keturunan, malformasi kongenital, infeksi, trauma kepala, stroke, tumor, dan penyakit
degeneratif lain.
c. Tampilan klinis : kejang berulang tanpa demam

d. Penunjang : elektroensefalografi
e. Tatalaksana : asam valproat

Perdarahan antepartum
a. Plasenta previa
Definisi : Implantasi plasenta di atas ostium serviks interna
Klasifikasi
a. Komplit : seluruh ostium tertutup
b. Parsial : sebagian ostium tertutup
c. Marginal : tidak menutup, tapi berada dalam jarak <2 cm dari ostium
d. Letak rendah (low lying) : Berada dalam jarak 2-3,5 cm dari ostium. Tidak dianggap
plasenta previa.
Tampilan klinis : Bisa asimptomatis, bisa juga terjadi perdarahan yang tidak disertai nyeri.
VT tidak boleh dilakukan sebelum USG memastikan tidak ada plasenta previa. Inspekulo
boleh dilakukan.
Penunjang : USG. Transvaginal lebih baik daripada transabdominal.
Tata laksana
a. Tidak ada perdarahan : tunggu sampai 37 minggu, lalu lakukan sectio caesarea
b. Perdarahan
i. 37 minggu : sectio caesarea
ii. < 37 minggu : Bila hemodinamik tidak stabil, lakukan sectio caesarea. Bila stabil, rawat
inap untuk observasi.
b. Solusio plasenta
Definisi : Plasenta terpisah dari uterus
Etiologi : Berhubungan dengan hipertensi.
Tampilan klinis : Perdarahan vaginal, nyeri perut, kontraksi, gerakan janin berkurang.
Perdarahan pada solusio plasenta terlihat sedikit karena sebagian besar darah tidak keluar dari
uterus. Bisa terjadi syok maternal atau gawat janin.
Penunjang : USG
Tata laksana : stabilisasi hemodinamik dan persalinan (SC bila janin hidup, vaginal bila
janin mati)
c. Vasa previa
Definisi : korda umbilikus berada di antara fetus dan ostium serviks
Tampilan klinis : Perdarahan berat ketika ketuban pecah saat persalinan. Risiko kematian
janin akibat syok sangat tinggi.
Tata laksana : sectio caesarea

HIV
a. Penularan melalui darah dan hubungan seksual.
b. Klinis : curiga pada diare kronik, candidiasis oral, dan infeksi oportunis lainnya.
c. Penegakan diagnosis dengan pemeriksaan HIV (ELISA, Western-blot), penilaian
selanjutnya untuk terapi dan pemantauan dengan pemeriksaan CD4.
d. Tahapan infeksi HIV:
- Infeksi HIV akut 2-6 minggu setelah terinfeksi sindrom retroviral akut/flu-like symptoms.
Window period (periode jendela) hingga 3 bulan sudah dapat menularkan HIV, pemeriksaan
antibodinya negatif
- Infeksi HIV asimtomatik (masa laten) tidak ada gejala, tapi pemeriksaan antibodi sudah
positif, dapat hingga 10 tahun
- Limfadenopati persisten menyeluruh nodus limfe berdiameter > 1 cm pada 2 atau lebih
daerah ekstra inguinal selama lebih dari 3 bulan
- Infeksi HIV simtomatik (AIDS) CD4 <200
e. Stadium klinis HIV berdasarkan WHO:
- Stadium 1: asimtomatik, limfadenopati generalisata persisten
- Stadium 2: BB turun <10%, herpes zoster, ulkus oral berulang, dermatitis seboroik, infeksi
jamur kuku
- Stadium 3: BB turun >10%, diare kronik >1 bulan, demam >1 bulan, kandidiasis oral, TB
paru
- Stadium 4: HIV wasting syndrome (BB turun >10%+diare kronik >1 bulan+demam >1
bulan), PCP, TB ekstra paru
f. CD4 <350 harus mendapat ARV. Regimen utamanya Zidovudin (AZT) + Lamivudin (3TC)
+ Nevirapine/Efavirenz

Kaidah Dasar Bioetik


Beneficence: Beneficence adalah prinsip bioetik dimana seorang dokter melakukan suatu
tindakan untuk kepentingan pasiennya, yang sering keluar:
a. Memberi obat generik, tidak polifarmasi
b. Menyampatkan edukasi ke pasien
c. Pemberian obat anti nyeri pada pasien terminal (yang penting masih hidup)
d. Menolong anak yang diduga menjadi korban kekerasan dalam keluarga
e. Membuat rujukan yang dianggap perlu
f. Memutuskan dan menjelaskan kepada keluarga untuk melakukan amputasi pada kondisi
gawat (keuntungan>kerugian)
Non-Maleficence: Prinsip gawat darurat, dokter tidak melakukan suatu perbuatan atau
tindakan yang dapat memperburuk pasien (first do no harm), yang sering keluar:
a. Dokter menolak aborsi tanpa indikasi medis (mis: hamil di luar nikah)
b. Dokter melakukan kuret atas indikasi medis (mis: perdaharan)
c. Tidak melakukan euthanasia
d. Dokter mengutamakan pasien gawat

e. Dokter melakukan bius terlebih dahulu sebelum tindakan medis walaupun pasiennya tidak
sadar
f. Tidak melakukan rujukan lab/memberi obat yg sbnrnya tidak mutlak, demi mendapat
komisi

Toksoplasmosis kongenital
a. Terjadi bila ibu terinfeksi Toxoplasma gondii saat mengandung bayi tersebut.
Ibunya sendiri biasanya asimtomatik. Sumber infeksi khas adalah daging mentah
(khususnya sapi dan babi).
b. Tampilan klinis: kerusakan neurologis ireversibel. Trias toksoplasmosis:
retinokoroiditis, kalsifikasi serebral, dan kejang.
c. Penunjang dan tata laksana: dilakukan saat bayi masih di dalam kandungan.
Ada dua tahap:
Pertama, lakukan pemeriksaan serologis pada ibu. Diagnosis toksoplasmosis
maternal ditegakkan apabila terdapat serokonversi, yaitu IgG (-) dan IgM (+)
berubah menjadi IgG (+) dan IgM (+) setelah tiga minggu.
Setelah itu, cari tahu apakah sudah terjadi transmisi ke dalam fetus. Lakukan
USG dan pemeriksaan cairan amnion.
Sembari menunggu hasil, cegah transmisi dengan memberikan spiramisin jika
usia gestasi < 18 minggu. Jika usia gestasi 18 minggu, berikan pirimetamin +
sulfadiazin + asam folinat.
Bila hasil positif untuk toksoplasmosis fetal ditegakkan, maka spiramisin harus
diganti dengan pirimetamin + sulfadiazin + asam folinat sampai persalinan. Bila
hasil negatif, teruskan pengobatan yang sudah diberikan sampai persalinan

Bipolar
a. Bipolar tipe I:
Setidaknya ada satu episode mania atau campuran (ada ciri mania dan depresi dalam saat
bersamaan)
Boleh ada episode depresi, boleh juga tidak
b. Bipolar tipe II:
Setidaknya ada satu episode hipomania DAN satu episode depresi mayor
Apa beda mania dengan hipomania?
a. Mania: fungsi sehari-hari menurun, ada ide kebesaran, bisa menjadi psikosis
b. Hipomania: fungsi sehari-hari normal atau bahkan meningkat, tidak ada ide kebesaran,
tidak menjadi psikosis
c. Tata laksana:
Episode manik: lithium
Episode campuran: asam valproat
Episode depresi: lithium + lamotrigine/antidepresan. Jadi, jangan beri antidepresan saja.

Kuning pada bayi


a. Ikterus setelah hari pertama sebagian besar fisiologis.
- Terjadi pada bayi aterm (5-6 mg/dl)
- Onset ikterus setelah 24 jam pertama
- Puncak ikterus pada hari ke 3-5
- Ikterus membaik dalam 1 minggu
b. Ikterik yang terjadi dalam 24 jam pertama kehidupan selalu patologis.
Sepsis
Inkompatibilitas Rhesus (Ibu Rh -, anak Rh +)
Inkompatibilitas ABO (Ibu O, anak A / B, Ibu A anak B dan sebaliknya)
G6PD
c. Ikterik yang bertahan >14 hari
Sepsis
Breastfeeding
Hipotiroid
Atresia Bilier (tinja pucat/dempul)
d. Kramer :
Kramer I : Kepala (Bil. Total 5-7)
Kramer II : Dada-pusat (Bil. Total 7-10)
Kramer III : bawah pusat - lutut (Bil. Total 10-13)
Kramer IV : Ekstremitas sampai pergelangan (Bil. Total 13-17)
Kramer V : Telapak (Bil. Total >17)
e. Komplikasi : Kernicterus, dapat terjadi bila bilirubin >20
f. Tatalaksana : Fototerapi dan atau Transfusi tukar. Kapan dilakukan?

Apendisitis akut
a. Klinis : Nyeri awal di periumbilikal, kemudian ke kuadran kanan bawah perut.
Mual muntah, demam.
b. PF : Nyeri tekan, lepas, dan ketok di titik McBurney. Psoas sign +, Obturator
sign +, Rovsing sign +
c. Pemeriksaan tambahan : Appendikogram (non-filling, partial filling, mouse tail,
cut-off)
d. Skor Alvarado:
Hasil skoring:
0-4 : bukan appendisitis
5-6 : kemungkinan appendisitis kecil
7-8 : kemungkinan besar appendisitis
9-10 : hampir pasti mengalami appendisitis
e. Tatalaksana : Appendektomi
f. Komplikasi : Peritonitis nyeri seluruh perut, pekak hati menghilang, BU
menghilang. Tatalaksana : Laparotomi.

Kolesistitis
a. Fat, Female, Forty, Fertile curigai kolelitiasis/kolesistitis.
b. Nyeri kadang dipengaruhi intake makanan berlemak, nyeri menjalar sampai ke
belakang.
c. Gambaran echoic pada kolelitiasis, gambaran penebalan dinding bila sudah
terjadi kolesistitis.
d. Kolesistitis bila ada tanda radang : demam, leukosit meningkat, murphy sign
(+)

Meningitis
a. Etiologi : inflamasi lapisan meninges sistem saraf pusat, umumnya karena infeksi
b. Tampilan klinis :
Anamnesis : demam tinggi dan sakit kepala
PF : kaku kuduk (+), tanda rangsang meningeal (+) Kernig, Brudzinski I, Brudzinski II
c. Penunjang : analisa LCS
Bakteri : warna keruh, leukosit tinggi ( 1000/mm3), banyak sel netrofil, protein meningkat,
glukosa rendah
Virus : warna jernih, leukosit rendah (< 100/mm3), banyak sel limfosit, protein normal,
glukosa normal
Tuberkulosis : warna xantokrom, jumlah leukosit variabel, banyak sel limfosit, protein
meningkat (tapi tidak setinggi bakteri), glukosa rendah
d. Tata laksana : Sesuai patogen penyebab. Khusus meningitis bakterial diberikan
dexamethasone.

SLE
a. Curigai pada wanita usia produktif, 4 dari 11 gejala menegakkan diagnosis :
Malar rash (butterfly rash)
Discoid rash
Fotosensitivitas
Sariawan tidak nyeri
Artritis
Serositis (pleuritis/perikarditis)
Gangguan ginjal
Gangguan neurologi
Gangguan hematologi
Gangguan Imunologi (anti-dsDNA +, antiphospholipid +)
ANA +
b. Tatalaksana : steroid dan atau sitostatik (metotreksat/siklofosfamid)

DM
a. Diagnosis DM :
Gejala 3 P (polidipsi, poliuria, polifagi) DAN GDS >200mg/dl
Gula darah puasa 126 mg/dl
TTGO 200 mg/dl
b. Tatalaksana :
Setelah terdiagnosis, mulai dengan METFORMIN, perbaiki gaya hidup, diet, dan
olahraga.
Untuk pemantauan, diperiksa HbA1C setiap 3 bulan. Target <7
Bila metformin dosis maksimal belum mencapai target, dapat ditambahkan
golongan obat lain (mis. Sulfonilurea) atau long-acting insulin. Masih belum
mencapai target, insulin dapat diintensifkan.
c. Efek samping obat oral DM:
Glibenklamid, glinid: hipoglikemia, kenaikan BB
Metformin: efek GI, mual, dispepsia, asidosis laktat
Acarbose: flatus
Tiazolidindion: retensi cairan/edema
DPP-4 inhibitor: kembung, muntah
d. Lain-lain :
Glukosa Puasa Terganggu : GDP 110 125
Toleransi Glukosa Terganggu : TTGO 140 199
Retinopati diabetik : Retinopati diabetik proliferatif ditegakkan berdasarkan
temuan adanya neovaskularisasi, dan stadium lanjut ditegakkan bila sudah
terjadi perdarahan vitreous
KAD : Komplikasi akut DM. Asidosis + Hiperglikemia + ketosis. Tatalaksana
utama: CAIRAN (NaCl), INSULIN, perbaiki elektrolit, perbaiki asidosis.
Hipoglikemia: keringat dingin, tremor, takikardi, koma. Pada koma hipoglikemia
berikan Dekstrose 40% bolus 50 ml tiap 10-20 menit hingga sada