Anda di halaman 1dari 12

HNP CERVICAL

A. Pengertian Hnp Cervikal


Hnp cervikal adalah saraf terjepit juga sering terjadi di daerah leher. Herniated
nucleus pulposus (HNP) secara umum digunakan untuk kelainan pada vertebra cervicalis,
pergeseran (displacement) nucleus pulposus tidak selalu merupakan penyebab kelainan pada
vertebra cervicalis. Herniasi vertebra cervicalis dapat dikategorikan menjadi tiga tipe: (1)
herniasi tipe lunak (soft disc herniation) yang meliputi herniasi nucleus pulposus melalui
robekan pada annulus fibrosus, (2) herniasi tipe keras (hard disc protrusion) yang meliputi
pembentukan bone spur, atau (3) kombinasi keduanya. Ketika materi lunak dari nucleus
pulposus mengalami herniasi melalui robekan pada annulus fibrosus,maka disebut "soft disc
herniation" karena material dari diskus yang mengalami herniasi mempunyai konsistensi
yang lunak. Namun demikian, tanpa adanya robekan atau defek pada annulus fibrosus, gejala
dari kelainan vertebra cervical tetap dapat terjadi akibat pembentukan bone spur
(pertumbuhan yang berlebihan dari spikula tulang) pada tepi vertebra sehingga menekan saraf
atau medula spinalis. Hal ini disebut "hard disc herniation" karena terbentuk dari bone spur.
Kombinasi dari kedua jenis herniasi tersebut juga dapat terjadi.
Manifestasi dari HNP dapat dibagi menjadi empat tipe yaitu :
1. Disc Degeneration:
Terjadi perubahan kimiawi berhubungan proses penuaan, sehingga menyebabkan diskus
menjadi lemah tetapi tanpa terjadinya herniasi
2. Disc Prolapse (bulge atau protrusion):
Perubahan bentuk atau posisi dari diskus intervertebralis dengan sedikit desakan (bulging
atau protrusion) ke arah kanalis spinalis
3. Extrusion:
Bahan seperti gel (nucleus pulposus) menerobos keluar dari dinding annulus fibrosus tetapi
masih tetap berada di dalam diskus intervertebralis
4. Sequestration or Sequestered Disc:
Nucleus pulposus menerobos keluar dari annulus fibrosus dan bahkan dapat bergerak keluar
dari diskus intervertebralis sampai ke dalam kanalis spinalis

B. PATOFISIOLOGI
Diskus intervertebralis didesain untuk mengabsorbsi goncangan dan tekanan yang
ditransmisikan melalui struktur rangka tubuh. Bagian tengah diskus intervertebralis tersusun
dari bahan mirip gel yang disebut nucleus pulposus.17 Nucleus tersebut dikelilingi oleh
jaringan ikat kolagen yang menyusun batas luar discus disebut annulus fibrosus. HNP
(Herniated Nucleus Pulposus) terjadi akibat adanya beban tekanan terhadap tulang belakang
yang terjadi secara tiba-tiba atau dalam jangka waktu lama. Ketika terjadi beban tekanan pada
diskus intervertebralis, nucleus akan terdorong ke arah dinding annulus. Seiring dengan
terjadinya peningkatan beban tekanan, maka mulai terjadi robekan pada serat annulus dan
terjadi perubahan bentuk diskus intervertebralis.
Diskus biasanya akan terdorong kearah postero-lateral (49 % kasus), posterocentral
(8%), lateral/foraminal (<10%), intraosseous/vertical (14%): "Schmorl node"
,extraforaminal/anterior (29%). HNP sering ditemukan pada arah posterolateral karena bagian
posterolateral merupakan bagian paling lemah dimana di daerah tersebut banyak terdapat
persarafan di daerah leher, oleh karena itu herniasi sering menyebabkan penekanan terhadap
saraf sehingga menimbulkan disfungsi saraf sensorik atau motorik.
HNP cervical sering ditemukan pada verterbra cervicalis bagian bawah (level vertebra
C6-7). Didaerah ini terdapat persarafan yang menyusun pleksus brachialis. Saraf-saraf dari
pleksus brachialis berjalan mempersarafi sepanjang ekstremitas atas, sehingga gejala-gejala
akibat kompresi saraf dapat timbul pada seluruh atau sebagian ekstremitas atas. Pada
beberapa kasus, herniasi terjadi akibat trauma akut akibat beban tekanan yang tiba-tiba pada
vertebra cervicalis. Sebagai contoh, herniasi terjadi ketika individu yang terbentur kepalanya
pada waktu menyelam di kolam renang yang dangkal. HNP cervical akibat trauma akut
merupakan penyebab utama dari central cord syndrome.
Gejala utama pada HNP cervical adalah rasa nyeri, parestesia atau kelemahan pada
daerah leher atau ekstremitas atas. Rasa nyeri atau parestesia dapat timbul pada seluruh atau
sebagian ekstremitas atas. Penelitian lain menunjukkan bahwa nucleus pulposus mengandung
bahan-bahan kimia (phospholipise A, bradykinin, stromeolysn, histamine, VIP, and substance
P) yang dapat mengiritasi saraf sehingga menimbulkan pembengkakan dan timbul rasa nyeri
akibat perasangan chemoreceptors. HNP akut sering menyebabkan nyeri radicular melalui
radikulitis kimiawi akibat terjadi pelepasan proteoglikans dan fosfolipase yang dilepaskan
dari nucleus pulposus sehingga menyebabkan inflamasi kimiawi dan atau kompresi saraf
langsung.
Mediator kimiawi interleukin 6 dan nitric oxide juga dilepaskan dari diskus
intervertebralis dan ikut berperan dalam kaskade inflamasi. Radikulitis kimiawi merupakan
kunci pokok penyebab rasa nyeri pada HNP karena kompresi saraf saja tidak selalu
menimbulkan rasa nyeri kecuali ganglion saraf dorsal juga terlibat. Terkadang fragmen dari
annulus fibrosus yang pecah dapat terdesak sampai ke kanalis spinalis.
Herniasi juga dapat menginduksi demielinisasi saraf yang mengakibatkan gejalagejala neurologik. HNP akibat trauma yang jarang ditemukan pada vertebra cervical level C23 memiliki manifestasi berupa rasa nyeri pada daerah leher dan bahu yang non-spesifik,
hipestesia perioral, gejala radikulopati lebih menonjol daripada mielopati, dan disfungsi
motorik dan sensorik tungkai atas lebih sering ditemukan daripada tungkai bawah.

Radikulopati cervical terjadi akibat kompresi saraf secara mekanis atau reaksi peradangan
(misal radikulitis kimiawi).
Regio cervical merupakan tempat tersering terjadinya radikulopati (5 36 % kasus). HNP
dari vertebra cervical merupakan penyebab radikulopati pada 20 25 % kasus. Insiden dari
cervical radikulopati secara berurutan adalah sebagai berikut: C7 (70%), C6 (19-25%), C8 (410%), and C5 (2%). Kelemahan otot dapat ditemukan pada bagian otot ekstremitas atas yang
dipersarafi oleh serat saraf yang terkena. Karena gejala dapat ditemukan pada berbagai regio
di ekstremitas atas, maka HNP cervical sulit dibedakan dengan kelainan akibat kompresi
saraf yang lain yang terjadi pada ekstremitas atas,seperti thoracic outlet atau carpal tunnel
syndromes.
C. GEJALA KLINIK
Tidak semua HNP menimbulkan gejala, bahkan pada beberapa individu ,HNP
ditemukan secara tidak sengaja pada waktu dilakukan pemeriksaan X-ray untuk indikasi yang
berbeda. Gejala yang timbul dapat dikategorikan menjadi tiga kelompok:
1. Kelompok pertama (Axial Joint Pain) meliputi: rasa nyeri di
daerah leher, nyeri menjalar sampai di daerah skapula (scapular pain) dinding dada,
atau daerah bahu, nyeri pada bagian belakang kepala, kesulitan dalam pergerakan kepala,
dan dizziness ,khususnya jika leher digerakkan ke belakang atau dimiringkan. Tidak
ditemukan adanya tanda-tanda defisit neurologik. Gejala ini timbul akibat kompresi lokal dari
ligamen dan struktur anatomi sekitar.
2. Kelompok kedua (Cervical Radiculopathy) meliputi :
rasa nyeri di sepanjang bahu, lengan atas dan tangan, rasa baal di tangan dan jari-jari,
dan kelemahan pada lengan atas. Gejala-gejala pada kelompok kedua ini diakibatkan oleh
kombinasi kompresi saraf yang melewati daerah herniasi (pada level vertebra C5-6 atau C67) inflamasi pada saraf spinal. Jika yang terkena adalah pada level vertebra C5-6, gejala yang
dapat timbul meliputi penurunan reflex brachialis radialis, kelemahan pada otot bisep dan
rasa nyeri / parestesia yang menjalar ke ibu jari dan jari telunjuk. Jika yang terkena adalah
pada level vertebra C6-7, maka gejala yang dapat timbul adalah kehilangan reflex trisep,
kelemahan otot trisep, dan rasa nyeri atau parestesia yang menjalar ke jari tengah. Gejala lain
yang dapat ditemukan (sensitifitas 50 %) adalah:

Spurling sign (rasa nyeri timbul akibat ekstensi, fleksi lateral dan axial load pada
area yang terkena.
Rasa nyeri hilang dengan traksi pada leher

Rasa nyeri berkurang jika pasien meletakkan lengan atas di atas kepalanya

3. Kelompok ketiga (Cervical Myelopathy) merupakan gejala


yang memerlukan perhatian khusus karena adanya potensi menyebabkan kerusakan
pada keempat ekstremitas, kelemahan pada keempat ekstremitas dengan disertai hilangnya
rangsang sensorik (rasa baal) , reflex fisiologis meningkat, timbulnya reflex patologis
(Hoffmans dan atau Babinski signs), keseimbangan terganggu, gangguan dalam cara berjalan
(gait disorder), clumsy spastic legs, gangguan dalam fine motor movements dan kesulitan
dalam kontrol buang air besar dan buang air kecil (akibat peningkatan tonus otot pada
dinding kandung kemih sehingga menimbulkan frekuensi dan nokturia). Pada kelompok
ketiga ini gejala timbul akibat kompresi dari medula spinalis baik akut maupun kronik.
Deteksi dini merupakan hal yang penting, karena jika telah ditemukan gejala defisit
neurologik yang berat, maka sulit untuk sembuh secara spontan, bahkan dengan terapi bedah
sekalipun, fungsi yang hilang tidak dapat kembali.
Secara umum gejala yang dapat ditemukan pada HNP cervical meliputi:

Nyeri di daerah leher khususnya pada bagian belakang dan samping


Rasa nyeri yang dalam di dekat atau sekitar bahu pada bagian yang terkena

Rasa nyeri yang menjalar ke bahu, lengan atas dan bawah, dan yang jarang pada
tangan, jari-jari atau dada (Referred pain)

Rasa nyeri memburuk dengan batuk, peregangan atau tertawa

Peningkatan rasa nyeri ketika fleksi leher atau menengokkan kepala

Spasme dari otot-otot leher

Kelemahan otot-otot lengan

Rasa baal atau tingling (a "pins-and-needles" sensation) di daerah bahu atau lengan

Posisi atau pergerakan leher tertentu dapat menimbulkan rasa nyeri hebat

Gejala kompresi medula spinalis meliputi awkward or stumbling gait, kesulitan dalam
gerakan motorik terampil pada tangan dan lengan, dan rasa kesemutan yang menjalar sampai
ke kaki. Gejala ini dapat bervariasi tingkat keparahannya dan tidak seluruhnya ditemukan
pada pasien.2,29
Level
Kelemahan

C4-C5
Shoulder

C5-C6
Forearm flexion

C6-C7
Wrist extension

Rasa baal

Shoulder

Upper arm, thumb

Middlefinger,allfingertips

Tabel vertebra yang terkena sesuai letak persarafannya

Anamnesa

Meliputi:
o onset
o

Mekanisme trauma

C7-T1
Grip
Ring and little
fingers

Gejala sistemik yang menyertai (misal, demam merupakan pertanda infeksi,


penurunan berat badan dapat merupakan pertanda keganasan).

Discogenic pain tanpa keterlibatan saraf biasanya bersifat samar-samar, difus, dan
distribusi secara axial.
o

Aktivitas yang dapat meningkatkan tekanan intra-diskus (misal, mengangkat,


manuver Valsalva) dapat memperburuk gejala. Sebaliknya, berbaring
terlentang dapat memperbaiki gejala dengan menurunkan tekanan intra-diskus.

Beban getaran (Vibrational stress) akibat mengemudi dapat memperburuk discogenic


pain.

Bergantung pada adanya keterlibatan sensorik atau motorik, nyeri radicular dapat
bersifat dalam, tumpul, atau tajam, rasa terbakar, dan rasa seperti tersetrum (electric).
o

Nyeri radicular tersebut biasanya mengikuti pola persarafan dermatom atau


myotomal pada tungkai atas.

Nyeri radicular cervical sering ditemukan menjalar ke region interskapular


meskipun nyeri juga dapat dirujuk ke regio occipital, bahu, atau lengan.

Nyeri di daerah leher tidak selalu menyertai radikulopati dan sering tidak
ditemukan bersamaan.

Selain itu, pasien juga dapat mengeluh rasa baal pada tungkai bagian distal
dan kelemahan di bagian proximal. Atrofi juga dapat ditemukan.

Penelitian menunjukkan bahwa HNP cervical dapat menginduksi perubahan


suhu dengan distribusi spesifik pada ekstremitas atas.

Pemeriksaan fisik

Pasien dengan gejala nyeri radicular juga memiliki manifestasi berupa penurunan
ruang gerak (range of motion (ROM)) cervical.
o Rasa nyeri radicular dapat ditimbulkan dengan ekstensi leher dan rotasi atau
dengan manuver Spurling (leher pasien diekstensikan, dimiringkan ke lateral,
dan ditahan ke bawah)??
o

Gejala rasa nyeri dapat dikurangi dengan fleksi leher atau abduksi tungkai atas
yang bergejala ke atas kepala (abduction sign).

Penurunan sensasi terhadap rasa nyeri, rasa raba ringan, atau rasa getar dapat
timbul pada tungkai atas bagian distal. Kelemahan pada tungkai bagian
proksimal dapat bermanifestasi jika terdapat kompresi saraf motorik yang
signifikan

Hilangnya atau menurunnya reflex yang berhubungan dengan level saraf yang
terkena dapat juga ditemukan.

Peningkatan reflex tungkai atas dan bawah atau tanda-tanda UMN lainnya
merupakan pertanda mielopati dan merupakan indikasi dilakukan evaluasi
diagnostik yang agresif.

Pasien dengan nyeri diskogenik tanpa keterlibatan saraf menunjukkan manifestasi


penurunan ruang gerak cervical, pemeriksaan neurologik normal, dan peningkatan
rasa nyeri dengan kompresi axial dan pengurangan rasa nyeri dengan distraksi.

Pada palpasi dapat ditemukan nyeri tekan miofasial atau trigger points, yang dapat
bersifat primer maupun sekunder akibat proses patologik lainnya.

Pemeriksaan khusus:
1. Distraction test: Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui apakah traksi leher
dapat membantu mengatasi rasa nyeri yang timbul. Tes ini dapat mengurangi rasa
nyeri jika: (1) rasa nyeri diakibatkan oleh penyempitan foramen, (2) timbul iritasi
pada facet joint. Pemeriksaan ini dapat meningkatkan rasa nyeri yang timbul di daerah
ligamen.
2. Compression test: Dengan menekan vertebra cervicalis sampai berdekatan akan
menimbulkan rasa nyeri jika terjadi penyempitan foramen atau iritasi facet joint.
3. Valsalva test: Pemeriksaan ini dilakukan dengan menahan napas sekuatnya sehingga
menyebabkan peningkatan tekanan intratekal yang mengindikasikan adanya space
occupying lesion.
4. Swallowing test: Kesulitan menelan dapat disebabkan oleh kelainan pada vertebra
cervicalis. Peningkatan rasa nyeri atau kesulitan menelan (disfagia) selain dapat
disebabkan oleh kelainan vertebra cervical anterior, juga dapat disebabkan oleh
vertebral subluxations, osteophytes protrusion, soft tissue swelling dan atau tumor.
5. Adson's test: Pemeriksaan ini bertujuan untuk mengetahui keadaan arteri subclavia.
Adanya kekakuan otot-otot di daerah leher atau kelainan patologis lainnya dapat
menyebabkan penekanan pada arteri tersebut. Raba denyut nadi radialis pasien,
kemudian lakukan abduksi, ekstensi dan rotasikan lengan kearah lateral. Pasien
disuruh mengambil napas dalam dan kepala dirotasikan kearah yang terdapat
kelainan. Hasil tes positif jika terdapat pengurangan pengisian denyut nadi (pada
Thoracic outlet syndrome, hasil tes positif pada kurang lebih 20 % kasus).
6. Vertebral Artery Test: Pemeriksaan ini bertujuan untuk menilai aliran dari arteri
vertebralis. Pasien diposisikan dalam posisi terlentang. Kemudian tangan pemeriksa
memegang bagian kepala pasien, kepala pasien kemudian diekstensikan, rotasi, dan
fleksi kearah lateral secara perlahan. Pada pasien diamati terhadap terjadinya
dizziness, bicara ngawur (slurred speech) dan hilang kesadaran. Jika terjadi salah satu
atau seluruh gejala diatas maka hasil pemeriksaan positif terhadap terjadinya oklusi
total atau parsial dari arteri vertebralis.
7. Spurling's Sign: Hiperekstensi dengan disertai rotasi eksternal. Rasa nyeri yang timbul
pada arah rotasi menunjukkan adanya stenosis foramen dan iritasi radix saraf
Test Position: Dengan posisi pasien dalam keadaan duduk, pemeriksa melakukan
kompresi pada kepala pasien. Tekanan diarahkan tegak lurus kebawah dan kemudian diulangi
dengan fleksi lateral ke setiap sisi. Hasil tes positif jika ditemukan adanya rasa nyeri atau
kesemutan pada ekstremitas atas di bagian yang sesuai dengan arah fleksi kepala. Rasa nyeri
timbul akibat adanya tekanan pada radix saraf dan berkorelasi dengan persarafan dermatom.

Hati-hati melakukan pemeriksaan pada pasien dengan osteoarthritis, osteoporosis,dan


congenital cervical stenosis
H. Foraminal Distraction Test
Dilakukan dengan posisi yang sama dengan Spurlings Test. Tangan pemeriksa diletakkan
pada bagian belakang kepala dan dagu sambil memberikan tekanan (distraction force). Jika
keluhan rasa nyeri dan atau gejala parestesia berkurang atau menghilang berarti hasil tes
positif. Tes ini tidak dilakukan jika terdapat kecurigaan adanya vertebra cervicalis yang tidak
stabil.

TERAPI
Terapi meliputi terapi konservatif dan terapi bedah. Terapi konservatif meliputi
bedrest, terapi fisik, chiropractic manipulation, blok saraf, pemberian steroid, analgetik dll.
Pada sebagian besar pasien, terapi konservatif atau non-bedah dapat secara efektif
mengurangi gejala yang timbul. Jika gejala tidak membaik dengan terapi konservatif, maka
dapat dipertimbangkan terapi bedah dekompresi.
Terapi fisik (Physical Therapy)
Tujuan dari terapi fisik ini adalah untuk menghilangkan rasa nyeri, menormalkan
pergerakan vertebra, dan memperbaiki kontrol neuromuskular. Terapi fisik seperti misalnya
Ice and heat therapy, massage, stretching, dan neck traction dapat membantu mengurangi
rasa nyeri dan meningkatkan fleksibilitas. Terapi non-bedah efektif dalam penatalaksanaan
HNP pada 90 % kasus. 23,29,39
Istirahat
Dengan mengistirahatkan sendi dan otot yang menjadi sumber rasa nyeri dapat berguna
untuk membantu proses penyembuhan. Jika rasa nyeri masih dirasakan pada waktu
melakukan aktivitas atau pergerakan, hal ini menandakan masih adanya iritasi yang sedang
berlangsung. Oleh karena itu sebaiknya semua gerakan dan aktivitas yang dapat
meningkatkan rasa nyeri sebaiknya dihindari. Dokter atau ahli terapi biasanya akan
menganjurkan untuk memakai soft atau hard neck collar untuk membatasi pergerakan leher.10

Pengaturan posisi

Ada berbagai cara khusus yang dapat diberikan oleh dokter atau ahli terapi untuk
membantu mengistirahatkan kepala dan leher sehingga dapat mengurangi atau
menghilangkan rasa nyeri yang timbul. Salah satu cara yang dilakukan adalah dengan
menggunakan bantal khusus (contour pillow), untuk membantu menempatkan leher pada

posisi yang nyaman pada waktu tidur atau beristirahat. Alat khusus seperti neck roll atau
rolled towel dapat diletakkan di bawah bantal sehingga pada saat berbaring, alat tersebut
dapat mengisi dan membantu menstabilkan kelengkungan pada leher.10

Ultrasound

Alat ultrasound dapat memproduksi gelombang frekuensi tinggi yang diarahkan ke


tempat nyeri di leher. Dengan melewati jaringan tubuh, gelombang ini dapat menggetarkan
molekul-molekul. Hal ini dapat menyebabkan gesekan dan rasa hangat ketika gelombang
melewati jaringan. Sisa dari gelombang akan diubah menjadi energi panas di dalam jaringan
tubuh yang lebih dalam. Efek panas ini membantu membersihkan area yang menjadi sumber
rasa nyeri dan mensuplai darah yang kaya nutrisi dan oksigen.

Phoresis

Terdapat dua metode yang dapat digunakan para ahli terapi untuk mentransmisikan
substansi melalui kulit. Phonophoresis menggunakan gelombang suara frekuensi tinggi untuk
mendorong Corticosteroid (cortisone) melalui kulit. Iontophoresis menggunakan alat kecil
yang memproduksi muatan listrik kecil, yang digunakan untuk membawa obat-obatan
khususnya steroid melalui kulit. Steroid merupakan obat antiinflamasi yang sangat kuat yang
berfungsi menghentikan reaksi kimiawi didalam tubuh yang menimbulkan rasa nyeri.

Electrical Stimulation

Terapi ini bertujuan menstimulasi saraf dengan mengirimkan impuls listrik melalui kulit.
Electrical stimulation dapat mengurangi rasa nyeri dengan mengirimkan impuls sebagai ganti
rasa nyeri. Dua orang peneliti ternama mengemukakan sebuah teori yang disebut Gait
Theory. Teori ini mengatakan bahwa jika kita merasakan sensasi selain rasa nyeri, seperti
rasa seperti digosok (rubbing), dipijat (massage), atau impuls listrik yang menjalar, maka
kolumna spinalis akan menutup gerbang rasa nyeri sehingga tidak terjadi penjalaran rasa
nyeri ke otak.

Soft tissue mobilization/massage

Massage telah terbukti mampu megurangi rasa nyeri dan spasme otot dengan
merelaksasikan otot, membawa aliran darah kaya oksigen dan nutrisi dan dengan
membersihkan area yang terkena iritasi kimiawi yang timbul akibat reaksi peradangan. Para
ahli terapi fisik memiliki berbagai cara berbeda dalam melakukan mobilisasi atau massage,
yang dapat meliputi effleurage (merupakan salah satu teknik pelepasan miofasial yang
membantu memperbaiki pergerakan yang normal), Strain-counter-strain (merupakan salah
satu bentuk terapi yang khususnya berguna jika terdapat sumber rasa nyeri yang menjadi
penyebab keterbatasan gerak otot). Terapi ini biasanya dilakukan dengan meletakkan otot
pada posisi tertentu, biasanya pada tempat serat otot yang paling pendek. Posisi ini
dipertahankan selama mungkin untuk mempengaruhi aliran sinyal listrik saraf ke otot. Salah
satu bentuk terapi lainnya, adalah dengan muscle energy technique.

Joint mobilization

Teknik ini dilakukan dengan cara memberikan tekanan dan pergerakan secara bertahap
oleh para ahli terapi fisik yang berpengalaman. Penekanan perlahan yang dilakukan secara
bertahap dapat membantu melumasi permukaan sendi, mengurangi kekakuan, dan membantu
pengerakan dengan mengurangi rasa nyeri. Rasa nyeri dapat menimbulkan spasme pada otot,
karena otot berusaha menjaga sendi yang menimbulkan rasa nyeri, sehingga membatasi
pergerakan leher. Dengan memberikan tekanan secara perlahan atau mobilisasi, ahli terapi
berusaha untuk menghentikan aliran sensasi rasa nyeri sehingga dapat membuat otot menjadi
relaks. Setelah rasa nyeri berkurang, maka dapat dilakukan mobilisasi tahap selanjutnya
untuk membantu memperpanjang jaringan di sekitar sendi sehingga membantu
mengembalikan pergerakan normal khususnya di leher.

Olahraga (Exercises)

Olahraga merupakan hal yang penting selama masa penyembuhan akibat HNP. Ada
berbagai tipe olahraga yang dapat dilakukan. Pada tahap awal, ketika rasa nyeri masih terasa
di daerah leher, olahraga tertentu dapat dilakukan untuk mengurangi rasa nyeri. Salah satunya
dengan menempatkan leher pada posisi tertentu, sehingga dapat mengurangi penekanan pada
daerah nyeri. Cara menemukan posisi yang tepat dapat dengan menggunakan alat seperti
bantal, rolled towel, atau commercial neck roll. Pada kasus-kasus dengan rasa nyeri yang
signifikan, maka dapat dilakukan olahraga pernapasan.
Tahap olahraga berikutnya memfokuskan pada kekuatan otot-otot leher karena otot-otot
ini dapat membantu menstabilkan vertebra agar tetap pada posisinya (stabilization training).
Segera setelah kekuatan otot-otot leher meningkat, maka diperlukan latihan koordinasi
sehingga dapat mengurangi resiko terjadinya trauma kembali. Fokus terakhir adalah dengan
fitness training, melalui fitness training dapat meningkatkan efektivitas otot dapat
memperoleh nutrisi dan oksigen dari darah. Setelah otot menggunakan nutrisi dan oksigen,
dapat terjadi pembentukan zat sisa metabolisme yang dapat menimbulkan rasa nyeri, maka
latihan ini dapat meningkatkan kemampuan otot untuk membersihkan zat sisa metabolisme
ini.
Olahraga juga dapat menstimulasi pelepasan endorfin ke dalam darah. Hormon ini
berperan sebagai zat pengurang rasa nyeri. Jalan santai, stationary cycling, dan arm cycling
merupakan contoh olahraga yang dapat memperbaiki fungsi hati dan ginjal. Olahraga
mungkin tidak menyembuhkan HNP, tetapi dapat membantu mengontrol rasa nyeri dan stress
yang menyertainya. 10,23
Ice/Heat Therapy
Dalam 24 sampai 48 jam pertama, cold therapy (misalnya dengan es) dapat
membantu mengurangi pembengkakan, spasme otot dan rasa nyeri dengan mengurangi aliran
darah. Es membuat vasokonstriksi pembuluh darah. Hal ini dapat membantu mengontrol
reaksi inflamasi yang menimbulkan rasa nyeri. Ada berbagai cara penggunaan es misalnya
dengan cold packs, ice bags, atau ice massage. Cold packs atau ice bags biasanya diletakkan
pada area yang nyeri selama 10 -15 menit. Ice massage (dapat dilakukan dengan
menggunakan secangkir air yang telah dibekukan) biasanya dilakukan dengan menggosokkan
es pada tempat nyeri selama tiga sampai 5 menit atau sampai terasa baal.

Setelah 48 jam pertama, heat therapy dapat diberikan. Panas dapat meningkatkan aliran
darah melalui vasodilatasi pembuluh darah untuk menghangatkan dan merelaksasikan
jaringan lunak. Peningkatan aliran darah dapat membantu membersihkan iritasi toksin yang
dapat mengumpul di jaringan akibat spasme otot dan trauma diskus. Selain itu juga dapat
membantu membawa nutrisi dan oksigen sehingga dapat membantu proses penyembuhan
luka. Sumber panas berupa moist hot pack, a heating pad, atau mandi atau berendam air
hangat lebih menguntungkan daripada menggunakan krim yang hanya memberikan sensasi
hangat. Jangan memberikan sumber dingin atau panas langsung ke kulit; tetapi bungkus
sumber panas atau dingin dengan handuk tebal selama 15 20 menit.

McKenzies approach

Pada sebagian besar kelainan vertebra cervicalis, berbagai penelitian mendukung


penggunaan terapi konservatif seperti metode McKenzie dan cervicothoracic stabilization
programs, dikombinasi dengan senam aerobik. Sistem McKenzie mengidentifikasi 3
mekanisme sindrom yang menyebabkan rasa nyeri dan gangguan fungsi. Sindrom postural
dapat menimbulkan rasa nyeri jika jaringan lunak normal diberikan beban terus menerus pada
akhir ROM; tidak selalu ditemukan kelainan patologi. Penatalaksanaan bertujuan untuk
mengoreksi postur tubuh. Sindrom disfungsi dapat menimbulkan rasa nyeri ketika pasien
berusaha melakukan gerakan secara penuh, pada jaringan parut yang mengalami kontraktur.

Butlers approach

Teknik terapi Butler dapat memperbaiki gejala nyeri radicular dengan melakukan
mobilisasi pada saraf yang terkena. Awalnya ahli terapi akan mengidentifikasi "adverse
neural tension" yaitu mengevaluasi daya peregangan dan ruang gerak berdasarkan
mekanisme patofisiologi dan respon fisiologis dari saraf yang terkena. Secara spesifik ahli
terapi akan melakukan pemeriksaan neurodinamik untuk mengevaluasi saraf (misal
mobilisasinya di sekitar diskus intervertebra) dan karakteristik fisiologisnya (misalnya
responnya terhadap iskemia, peradangan). Kemudian ahli terapi akan memberikan terapi awal
berupa mobilisasi pasif sebagai input terhadap sistem saraf pusat tanpa menimbulkan respon
stres dan neurogenic massage untuk mengurangi pembengkakan perineural.
Dalam empat sampai enam minggu biasanya sebagian besar pasien akan mengalami
perbaikan gejala setelah diberikan terapi fisik tanpa intervensi bedah, jika terapi konvensional
gagal maka dapat dilakukan terapi bedah.
Saat ini banyak Ahli Bedah Orthopedi mencoba pengobatan conservative untuk
memperbaiki HNP dengan meregangkan jaraknya satu sama lain sehingga mengurangi
tekanan pada syaraf yang terjepit dan alat ini disebut DISK DR.
Disk Dr ini berguna menujang tulang belakang , fleksibel dan nyaman dipakai dan dari
hasil X foto pada pengguna Disk Dr menunjukkan bahwa jarak discus L4 dan L5 bertambah
3 cm. Disk Dr ini diciptakan untuk HNP Cervical dan Lumbal dan diciptakan oleh Ahli
Bedah Orthopedi Rumah Sakit Seoul Paek Universitas Inje. Hasil penelitihan yang
dilakukan pada 328 kasus , 85 % mengalami perbaikkan kondisi dalam waktu 3 hari , dan 91

% mengalami hasil yang sangat memuaskan terutama untuk Kasus HNP ringan atau HNP
yang menolak operasi baik bila ada kontra indikasi operasi atau penderita yang takut operasi
KOMPLIKASI
Komplikasi dari kelainan vertebra cervical dapat meliputi nyeri radicular atau axial yang
hebat. Herniasi diskus intervertebralis yang mendesak medula spinalis dapat menimbulkan
gejala-gejala akibat mielopati berupa kelemahan, hiperreflexia, dan disfungsi neurogenik
usus dan kandung kemih. Radikulopati dapat bermanifestasi sebagai kelemahan ekstremitas
atas yang signifikan atau rasa baal

PROGNOSIS

Prognosis umumnya baik pada individu dengan HNP akibat perubahan degeneratif.
Kondisi ini biasanya bersifat asimtomatik, kecuali individu tersebut terkena trauma pada
segmen vertebra yang mengalami perubahan degeneratif. Selama individu tersebut dapat
mempertahankan keseimbangan mekanik dan stabilitas, biasanya tidak akan menimbulkan
gejala.39

PENCEGAHAN

Ada beberapa faktor resiko yang tidak dapat dimodifikasi seperti misalnya proses
penuaan, tetapi ada juga faktor resiko yang dapat dimodifikasi untuk mencegah terjadinya
cervical disc disease seperti pola hidup yang meliputi postur tubuh yang baik, olahraga secara
teratur, diet teratur, dan berhenti merokok. Setelah sembuh dari operasi, ada berbagai anjuran
yang dapat diikuti untuk mencegah terjadinya HNP:

Lakukan olahraga secara teratur (olahraga seperti berenang, bersepeda, jalan cepat
merupakan olahraga yang tidak memberikan beban tekanan pada tulang vertebra)
Hindari aktivitas yang dapat menyebabkan leher menjadi hiperreflexi atau
hiperekstensi (Para peneliti telah menemukan cara untuk mengurangi stress dan rasa
nyeri di daerah leher yang disebut dengan 3 R yaitu :Rest,Relaxation dan
Recovery)

Pertahankan postur tubuh yang baik (Terdapat tiga macam kelengkungan normal
pada tulang vertebra, dengan cara mempertahankan ketiga macam kelengkungan
tersebut pada waktu berdiri, duduk, atau bergerak merupakan dasar untuk
memperoleh postur tubuh yang sehat).

Berhenti merokok (karena merokok selain dapat menganggu proses penyembuhan,


juga dapat menyebabkan aterosklerosis, yang dapat mempercepat proses degeneratif)

Hindari stress karena dapat menyebabkan ketegangan pada otot (muscle tension)

Pencegahan merupakan kunci untuk menghindari timbulnya rasa nyeri didaerah leher di
masa-masa yang akan datang. Selalu ingat bahwa meskipun leher sifatnya sangat mobile,
tetapi tetap mempunyai batasan.