Anda di halaman 1dari 50

LAPORAN PRAKTIKUM

ANALISIS MAKANAN DAN KOSMETIK


IDENTIFIKASI DAN PENETAPAN KADAR BAHAN PENGAWET
PARABEN DALAM KOSMETIK (KRIM) DENGAN METODE KLT
SPEKTROFOTODENSITOMETRI

OLEH:
KELOMPOK 2
Ida Ayu Putu Chandra Dewi

1108505002

I Putu Krisnantara Wijana Putra 1108505017


Putu Eka Ayu Sunariyani

1108505046

JURUSAN FARMASI
FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS UDAYANA
2014

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Seiring kemajuan jaman, kecantikan dan kesehatan kian menjadi penting
bagi banyak manusia. Kecantikan telah menjadi sebuah komoditas bisnis yag
sangat menjanjikan, dimulai dari usaha oenjualan produk kecantikan, perawatan
kulit, perawatan rambut, kuku, ubuh dan lain sebagainya. Dalam zaman serba
komersil ini citra cantik merupakan sebuah komoditas yang dapat dibuat sesuai
persepsi sesuai industri kecantikan. Menjadi cantik dan tetap awet muda adalah
dambaaan setiap orang terutama para wanita. Apapun dilakukan agar tetap
menarik dan cantik, termasuk salah satunya dengan kosmetika. Menurut istilah
popular, kosmetika adalah bahan yang dipoleskan, disemprotkan atau digosokkan
pada tubuh sehingga dapat memberikan kesegaran, kehalusan, kelembutan,
kebersihan dan keharuman bagi pemakainya. Kosmetika adalah suatu yang dapat
memodifikasi aspek pada kulit dan rambut yang bisa bersifat perawatan atau
bentuk keindahan.
Penggunaan kosmetik di kalangan masyarakat khususnya masyarakat
Indonesia masih sangat banyak bahkan merupakan suatu kebutuhan yang sangat
mempengaruhi kehidupan sosial masyarakat. Menurut Peraturan Kepala Badan
Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia nomor HK.03.1.23.08.11.07331
tahun 2011 tentang metode analisis kosmetika, kosmetika adalah bahan atau
sediaan yang dimaksudkan untuk digunakan pada bagian luar tubuh manusia
(epidermis, rambut, kuku, bibir, dan organ genital bagian luar), atau gigi dan
membran mukosa mulut, terutama untuk membersihkan, mewangikan, dan
mengubah penampilan, dan/atau memperbaiki bau badan atau melindungi atau
memelihara tubuh pada kondisi baik (BPOM RI, 2011).
Kosmetik yang diproduksi dan diedarkan harus memenuhi persyaratan
mutu yang ditetapkan sesuai dengan Undang-Undang Kesehatan serta Peraturan
Peksanaannya, baik untuk bahan yang digunakan maupun cara pembuatannya

serta terdaftar dan mendapat izin edar dari Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM RI, 2003).
Salah satu jenis kosmetik yang sering digunakan masyarakat adalah krim
pelembab yang merupakan kosmetik yang berguna untuk melembabkan wajah.
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih bahan
obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Krim mempunyai
konsistensi relatif cair diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak atau minyak
dalam air. Sekarang batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk yang terdiri
dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam lemak atau
alkohol berantai panjang dalam air yang dapat dicuci dengan air. Dalam
kehidupan sehari-hari krim sering digunakan masyarakat dalam jangka waktu
yang lama, sehingga untuk membuat produk kosmetik (krim) yang lebih tahan
lama, sering ditambahkan bahan pengawet ke dalam kosmetik. Pengawet yang
umum ditambahkan ke dalam kosmetik yaitu senyawa asam 4-hidroksibenzoat
(paraben) termasuk metil paraben (MP), etil paraben (EP), propil paraben (PP)
dan butyl paraben (BP) karena sifatnya yang tidak memiliki bau atau rasa yang
jelas, tidak menghasilkan perubahan warna, praktis pH netral dan tidak
menyebabkan pengerasan atau mengeruhkan. Namun penggunaan pengawet ini
dapat membahayakan konsumen karena potensi mereka untuk menginduksi alergi
dan dermatitis apabila jumlah yang dipakai melebihi jumlah yang diijinkan (Soni
et al., 2002; Casoni, 2010).
Berdasarkan hal tersebut perlu dilakukan suatu analisis kandungan
senyawa paraben dalam kosmetik (krim) dengan metode analisis yang sesuai
untuk memperoleh hasil yang akurat dan optimal. Analisis paraben yang perlu
dilakukan mencakup uji kualitatif dan uji kuantitatif, sebab penggunaan paraben
dalam sediaan kosmetik tidak boleh lebih dari persyaratan yang telah ditetapkan.
Menurut Keputusan BPOM RI Nomor: HK.00.05.42.1018, kadar untuk bahan
pengawet golongan 4-hidroksibenzoat beserta esternya (metil-, etil-, propil-, dan
butil-) yang memiliki sifat sebagai anti jamur tidak boleh melebihi 0,4% (asam)
untuk ester tunggal dan 0,8% (asam) untuk ester campuran (BPOM RI, 2008).

Sehingga pada penelitian ini uji kualitatif dan uji kuatitatif senyawa paraben
dalam kosmetik krim dilakukan dengan metode KLT-Spektrofotodensitometer.
1.2 Tujuan
1.2.1

Melakukan uji kualitatif senyawa paraben dalam kosmetik (krim) dengan


metode KLT-Spektrofotodensitometer.

1.2.2

Menetapkan kadar senyawa paraben dalam kosmetik (krim) dengan


metode KLT-Spektrofotodensitometer.

1.2.3

Melakukan validasi metode analisis senyawa paraben dalam kosmetik


(krim) dengan metode KLT-Spektrofotodensitometer.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Kosmetik
Kosmetik adalah bahan atau sediaan yang digunakan pada bagian luar tubuh
manusia (epidermis, rambut, kuku, dan organ genital bagian luar) atau gigi dan
mukosa mulut terutama dimaksudkan untuk membersihkan, mewangikan,
mengubah penampilan, memperbaiki bau badan, melindungi atau memelihara
tubuh pada kondisi baik (BPOM RI, 2003). Kosmetik bukan suatu obat yang
dipakai untuk diagnosis, pengobatan maupun pencegahan penyakit, jika salah
dalam

penggunaan

akan

menimbulkan

efek

samping

yang

berbahaya

(Wasitaatmadja, 1997).
Penggolongan kosmetik dibagi antara lain menurut Peraturan Menteri
Kesehatan RI, menurut sifat modern atau tradisionalnya, dan menurut
kegunaannya bagi kulit.
1.

Menurut Peraturan Menteri Kesehatan RI, kosmetik dibagi ke dalam 13


kelompok :
a. Preparat untuk bayi, misalnya minyak bayi, bedak bayi, dan lain-lain.
b. Preparat untuk mandi, misalnya sabun mandi, dan lain-lain.
c. Preparat untuk mata, misalnya maskara, eye shadow, dan lain-lain.
d. Preparat wangi-wangian, misalnya parfum, minyak kelonyo, dan lain-lain.
e. Preparat untuk rambut, misalnya cat rambut, hair spray, dan lain-lain.
f. Preparat pewarna rambut, misalnya cat rambut, dan lain-lain.
g. Preparat make-up (kecuali mata), misalnya bedak, lipstick, dan lain-lain.
h. Preparat untuk kebersihan mulut, misalnya pasta gigi, penyegar mulut, dan
lain-lain.
i. Preparat untuk kebersihan badan, misalnya deodorant, dan lain-lain.
j. Preparat kuku, misalnya cat kuku, losio kuku, dan lain-lain.
k. Preparat perawatan kulit, misalnya pembersih, pelembab, pelindung, dan
lain-lain.
l. Preparat cukur, misalnya sabun cukur, dan lain-lain.
m. Preparat untuk suntan dan tabir surya, misalnya alas bedak tabir surya,
dan lain-lain.

2.

Penggolongan menurut sifat dan cara pembuatan :

a. Kosmetik modern, diramu dari bahan kimia dan diolah secara modern
(termasuk antaranya adalah cosmedics).
b. Kosmetik tradisional:
1) Betul-betul tradisional, misalnya mangir, lulur, yang dibuat dari bahan
alam dan diolah menurut resep dan cara yang turun temurun.
2) Semi tradisional, diolah secara modern dan diberi bahan pengawet agar
tahan lama.
3) Hanya namanya yang tradisional, tanpa komponen yang benar-benar
tradisional dan diberi zat warna yang menyerupai bahan tradisional.
3.

Peggolongan menurut kegunaannya bagi kulit :


a. Kosmetik perawatan kulit (skin-care cosmetics)
Jenis ini perlu untuk merawat kebersihan dan kesehatan kulit. Termasuk di
dalamnya:
1) Kosmetik untuk membersihkan kulit (cleanser): sabun, krim
pembersih wajah (cleansing cream), susu pembersih wajah (cleansing
milk), dan penyegar kulit (freshener).
2) Kosmetik untuk melembabkan kulit (moisturizer), misalnya krim
pelembab wajah (moisturizing cream), krim malam untuk wajah (night
cream), krim antikerut (anti wrinkle cream).
3) Kosmetik pelindung kulit, misalnya krim tabir surya (sunscreen cream)
dan alas bedak tabir surya (sunscreen foundation), krim/losio sunblock.
4) Kosmetik untuk menipiskan atau mengampelas kulit (peeling),
misalnya krim scrub yang berisi butiran-butiran halus yang berfungsi
sebagai pengampelas (abrasiver).
b. Kosmetik riasan (dekoratif atau make-up)
Jenis ini diperlukan untuk merias atau menutup cacat pada kulit
sehingga

menghasilkan

penampilan

yang

lebih

menarik

serta

menimbulkan efek psikologis yang baik, seperti percaya diri (self


confidence). Dalam kosmetik riasan, peran zat pewarna dan zat pewangi
sangat besar.
(Novianty, 2008)
Komposisi utama dari kosmetik adalah bahan dasar yang berkhasiat, bahan
aktif dan bahan tambahan lain seperti: bahan pewarna, bahan pewangi, dimana
pada pencampuran bahan-bahan tersebut harus memenuhi kaidah pembuatan

kosmetik ditinjau dari berbagai segi teknologi pembuatan kosmetik termasuk


farmakologi, farmasi, kimia teknik dan lainnya (Iswari, 2007).
Berdasarkan Keputusan BPOM RI Nomor: HK.00.05.4.1745 tentang
kosmetik dijelaskan bahan yang digunakan meliputi zat warna, zat pengawet, dan
tabir surya yang digunakan dalam kosmetik harus dengan pembatasan dan
persyaratan penggunaan sesuai dengan yang ditetapkan (BPOM RI, 2003).
2.2. Krim (Cream)
Krim adalah bentuk sediaan setengah padat mengandung satu atau lebih
bahan obat terlarut atau terdispersi dalam bahan dasar yang sesuai. Krim
mempunyai konsistensi relatif cair diformulasi sebagai emulsi air dalam minyak
atau minyak dalam air. Sekarang batasan tersebut lebih diarahkan untuk produk
yang terdiri dari emulsi minyak dalam air atau dispersi mikrokristal asam-asam
lemak atau alkohol berantai panjang dalam air yang dapat dicuci dengan air.
Prinsip pembuatan krim adalah berdasarkan proses penyabunan (safonifikasi) dari
suatu asam lemak tinggi dengan suatu basa dan dikerjakan dalam suasana panas
yaitu temperatur 700- 800C (Depkes RI, 1995).
Krim juga dapat didefinisikan sebagai sediaan setengah padat berupa emulsi
kental mengandung tidak kurang dari 60% air, dimaksudkan untuk pemakaian
luar. Untuk membuat krim digunakan zat pengemulsi umumnya berupa surfaktansurfaktan anionik, kationik, dan nonionik. Untuk krim tipe A/M biasanya
menggunakan sabun polivalen, span, adeps lanae, cholesterol, cera. Untuk krim
tipe M/A biasanya menggunakan sabun monovalen seperti triethanolaminum
stearat, natrium stearat, kalium stearat, ammonium stearat (Anief, 1997).
Dalam pembuatan krim diperlukan suatu bahan dasar. Bahan dasar yang
digunakan harus memenuhi kriteria-kriteria tertentu. Kualitas dasar krim yang
diharapkan adalah: stabil; lunak; mudah dipakai; dasar krim yang cocok; dan
terdistribusi merata di kulit. Fungsi dari krim adalah sebagai bahan pembawa
substansi obat untuk pengobatan kulit; sebagai bahan pelumas bagi kulit; dan
sebagai pelindung untuk kulit yaitu mencegah kontak langsung dengan zat-zat
berbahaya (Anief, 1997).

Berdasarkan jenisnya, krim dapat diklasifikasikan sebagai berikut:


a. Krim Pendingin (Cold Cream)

Pelembab yang karena kandungan airnya menguap secara lambat


menimbulkan rasa dingin pada kulit. Biasanya bentuk sediaannya air dalam
minyak namun tidak terlalu lunak dan tidak terlalu lengket, berisi bees-wax,
mineral oil, paraffin, dan spermaceti.
b. Krim Vitamin (Vitamin Cream)

Mengandung vitamin B compleks, asam pantotenat, vitamin E, vitamin


A, C, D. Kegunaan vitamin secara topikal pada kulit ini diragukan manfaatnya
karena permeabilitas kulit yang rendah dan jauh kurang efisien dibanding bila
diberikan per oral.
c. Krim Urut (Massage Cream)

Ditujukan untuk memperbaiki kulit yang rusak dan meninggalkan


minyak dipermukaan kulit dalam waktu yang agak lama, biasanya berbentuk
krim emulsi air dalam minyak (A/M).
d. Krim Tangan atau Badan (Hand and Body Cream)

Dipakai untuk melembutkan dan menghaluskan kulit ditempat tersebut


dengan menggunakan emolien, humektan, dan barrier kulit. Pelembab biasanya
lebih cair, dapat ditambah tabir surya, aloe vera, alantoin, AHA, atau vitamin.

e. Krim yang Mengandung Zat Makanan (Nourishing Cream or Skin Food Cream)
Tidak memberi makan kulit tetapi hanya untuk lubrikasi, mengurangi
hilangnya kelembaban kulit dan tidak menghilangkan kerut secara permanen. Isi
terpenting adalah lanolin, white germ oil, sun flower oil atau corn oil.

(Wasitaatmadja, 1997)
2.3. Bahan Pengawet (Preservative) pada Kosmetik
Bahan pengawet yang biasa digunakan dalam kosmetik bertujuan untuk
membuat kosmetik lebih tahan lama selama proses distribusi dan penyimpanan.
Adapun senyawa yang sering digunakan antara lain metil paraben (metil 4hidroksibenzoat), etil paraben (etil 4-hidroksibenzoat), propil paraben (propil 4-

hidroksibenzoat), dan butil paraben (butil 4-hidroksibenzoat). Golongan paraben


efektif dalam rentang pH yang lebar dan mempunyai aktivitas antimicrobial
spektrum luas, akan tetapi aktivitasnya paling efektif melawan jamur dan khamir.
Aktivitas antimicrobial meningkat dengan semakin panjangnya rantai alkil,
namun kelarutan dalam air akan menurun, oleh karena itu kombinasi dari
golongan paraben sering dipakai agar menjadi lebih efektif (Rowe et al., 2009).
Senyawa golongan paraben (4-hidroksibenzoat) memiliki efek negatif bagi
konsumen dimana ester dari 4-hidroksibenzoat dapat menginduksi terjadinya
alergi dan dermatitis (Soni et al., 2002; Casoni, 2010). Untuk menjaga keamaanan
penggunaan bahan pengawet dalam kosmetik, maka pada lampiran IV Peraturan
Kepala BPOM RI Nomor: HK.00.05.42.1018 tentang Bahan Kosmetik
dicantumkan kadar maksimum dari bahan pengawet yang diijinkan digunakan
dalam kosmetik dimana untuk garam dan ester dari 4-hidroksibenzoat yaitu 0,4%
(asam) untuk ester tunggal atau 0,8% (asam) untuk ester campuran.
2.4. Sifat Fisiko Kimia Senyawa Asam 4-Hidroksibenzoat (Paraben)
2.4.1. Metil Paraben (Metil 4-Hidroksibenzoat)
Metil paraben dengan nama kimia Metil 4-hidroksibenzoat memiliki rumus
kimia C8H8O3 dan berat molekul 152,15 g/mol. Pemeriannya berupa kristal tak
berwarna atau kristalin putih. Tidak berbau atau hampir tidak berbau dan jika
dikecap menimbulkan rasa terbakar. Kelarutan metil paraben yaitu larut dalam 2
bagian air dan dalam 50 bagian etanol (Depkes RI, 1979). Konstanta disosiasi
(pKa) yaitu 8,4 pada 22 C dengan koefisien partisi log P (oktanol/air) sebesar 2,0
(Moffat et al., 2005). Berat jenis metil paraben yaitu 1,352 g/cm3 dengan jarak
lebur 125-128 C (Rowe et al., 2009).

Gambar 1. Struktur Molekul Metil Paraben (Rowe et al., 2009)

Panjang
Gelombang
Gambar 2. Spektrum UV Metil Paraben
dalam Larutan Etanol 257 nm
(A11=1075a) (Moffat et al., 2005)
Metil paraben digunakan secara luas sebagai pengawet dengan aktivitas
antimicrobial dalam kosmetik dan formulasi sediaan farmasi. Metil paraben dapat
digunakan tersendiri atau dikombinasikan dengan ester paraben lain atau agen
antimicrobial lainnya. Dalam kosmetik, metil paraben merupakan bahan pengawet
yang paling sering digunakan (Rowe et al., 2009).
2.4.2. Etil Paraben (Etil 4-Hidroksibenzoat)
Etil paraben dengan nama kimia Etil 4-hidroksibenzoat memiliki rumus
kimia C9H10O3 dan berat molekul 166,18 g/mol. Pemeriannya berupa serbuk
kristalin yang berwarna putih, tak berbau atau hampir tidak berbau. Kelarutan etil
paraben yaitu larut dalam 1500 bagian air, dalam 2 bagian etanol, 1,2 bagian
aseton, 10 bagian kloroform, dan dalam 3,5 bagian eter (Depkes RI, 1979).
Konstanta disosiasi (pKa) yaitu 8,3 pada 25 C dengan koefisien partisi log P
(oktanol/air) sebesar 2,5 (Moffat et al., 2005).

Gambar 3. Struktur Molekul Etil Paraben (Rowe et al., 2009)

Gambar 4. Spektrum UV Etil Paraben dalam Larutan Asam 254 nm


(A11=956b), (Moffat et al., 2005).
Etil paraben digunakan secara luas sebagai pengawet antimicrobial dalam
kosmetik dan formulasi sediaan farmasi. Etil paraben dapat digunakan tersendiri
atau dikombinasikan dengan ester paraben lain atau agen antimicrobial lainnya.
Dalam kosmetik, etil paraben merupakan salah satu bahan pengawet yang paling
sering digunakan (Rowe et al., 2009).
2.4.3. Propil Paraben (Propil 4-Hidroksibenzoat)
Propil paraben dengan nama kimia Propil 4-hidroksibenzoat memiliki
rumus kimia C10H12O3 dan berat molekul 180,20 g/mol. Pemeriannya berupa
serbuk kristalin putih, tidak berbau, dan tidak berasa. Kelarutan propil paraben
yaitu larut dalam 2500 bagian air dingin, dalam 400 air mendidih, 1,5 bagian
etanol, 4 bagian kloroform, dan 3 bagian eter (Depkes RI, 1979). Konstanta
disosiasi (pKa) yaitu 8,4 pada 22 C dengan koefisien partisi log P (oktanol/air)
sebesar 3,0 (Moffat et al., 2005). Berat jenis metil paraben yaitu 0,706 g/cm 3
dengan titik didih 295 C (Rowe et al., 2009).

Gambar 5. Struktur Molekul Propil Paraben (Rowe et al., 2009)

Gambar 6. Spektrum UV Propil Paraben dalam Larutan Asam 255 nm


(A11=877b), Larutan Basa (A11=1324b) (Moffat et al., 2005).
Propil paraben digunakan secara luas sebagai pengawet antimicrobial dalam
kosmetik dan formulasi sediaan farmasi. Propil paraben dapat digunakan
tersendiri atau dikombinasikan dengan ester paraben lain atau agen antimicrobial
lainnya. Dalam kosmetik, propil paraben merupakan bahan pengawet yang paling
sering digunakan. (Rowe et al., 2009). Kadar maksimum propil paraben dalam
kosmetik yaitu 0,4% (asam) untuk ester tunggal atau 0,8% (asam) untuk ester
campuran (BPOM RI, 2003).
2.4.4. Butil Paraben (Butil 4-Hidroksibenzoat)
Butil paraben dengan nama kimia Butil 4-Hidroksibenzoat memiliki rumus
kimia C11H14O3 dan berat molekul 194,23 g/mol. Pemeriannya berupa kristal tak
berwarna atau berwarna putih, kristalin, tak berbau atau hampir tidak berbau,
serbuk tak berasa. Kelarutan butil paraben yaitu larut dalam 6500 bagian air, larut

dalam aseton, alkohol, eter, kloroform, propilen glikol, dan sukar larut dalam
gliserin (Depkes RI, 1979). Koefisien partisi log P (oktanol/air) sebesar 3,57
(Masten, 2005). Berat jenis butil paraben yaitu 0,819 g/cm 3 dengan jarak lebur 6871 0C (Rowe et al., 2009).

Gambar 7. Struktur Molekul Butil Paraben (Masten, 2005)

Gambar 8. Spektrum UV Butil Paraben (Moffat et al., 2005)


Butil paraben digunakan secara luas sebagai pengawet antimicrobial dalam
kosmetik dan formulasi sediaan farmasi. Butil paraben dapat digunakan tersendiri
atau dikombinasikan dengan ester paraben lain atau agen antimicrobial lainnya.
Dalam kosmetik, butil paraben merupakan bahan pengawet yang paling sering
digunakan (Rowe et al., 2009).
2.5. KLT-Spektrofotodensitometri
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan metode pemisahan komponenkomponen atas dasar perbedaan adsorpsi atau partisi oleh fase diam di bawah

gerakan pelarut pengembang atau campuran analit (Mulja dan Suharman, 1995).
Dalam KLT, fase gerak yang dikenal sebagai pelarut pengembang akan bergerak
sepanjang fase diam karena pengaruh kapiler pada pengembangan secara menaik
(ascending), atau karena pengaruh gravitasi pada pengembangan secara menurun
(descending) (Gandjar dan Rohman, 2007).
Lapisan yang memisahkan pada metode Kromatografi Lapis Tipis, yang
terdiri atas bahan berbutir (fase diam) ditempatkan pada penyangga berupa pelat
gelas, logam, atau lapisan yang cocok. Campuran yang akan dipisah berupa
larutan, ditotolkan berupa bercak atau pita. Setelah plat atau lapisan ditaruh di
dalam bejana tertutup rapat yang berisi larutan pengembang yang cocok (fase
gerak),

pemisahan

terjadi

selama

perambatan

kapiler

(pengembangan).

Selanjutnya, senyawa yang tidak berwarna harus ditampakkan atau dideteksi


(Stahl, 1985).
Prinsip dari pemisahan komponen senyawa kimia dengan KLT didasarkan
pada perbedaan laju migrasi masing-masing molekul senyawa diantara fase diam
dan fase gerak yang dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti adsorpsi/partisi pada
fase diam, kelarutan dalam cairan partisi dan pelarut pembilas, serta polaritas dari
cairan partisi dan pelarut (Satiadarma, 2004). Suatu campuran zat dapat
dipisahkan dengan teknik KLT berdasarkan perbedaan afinitas masing-masing
komponen terhadap fase gerak dan fase diamnya. Komponen yang telah terpisah,
besar serapannya dapat diukur dengan spektrofotodensitometer. Kadar dari sampel
dapat ditentukan dari perbandingan antara serapan sampel dan bakunya.

Gambar 9. Bejana Berisi Plat KLT Sebelum dan Sesudah


Pengembangan (Stahl, 1985)

Fase diam yang digunakan dalam KLT merupakan penjerap berukuran kecil
dengan diameter partikel antara 10-30 m. Semakin kecil ukuran rata-rata partikel
fase diam dan semakin sempit kisaran ukuran fase diam, maka semakin baik
kinerja KLT dalam hal efisiensi dan resolusinya. Fase diam pada KLT merupakan
lapisan yang seragam pada permukaan bidang datar yang didukung oleh lempeng
kaca, plat aluminium, atau plat plastik (Gandjar dan Rohman, 2007).
Sebelum digunakan, lapisan disimpan dalam lingkungan yang tidak lembab
dan bebas dari uap. Untuk itu biasanya plat KLT yang akan digunakan diaktifasi
terlebih dahulu selama 30 menit di dalam pengering pada 110oC dengan posisi
tegak di dalam rak pengering. Ini bertujuan untuk bila dilihat dalam sinar jatuh
dan sinar lewat, lapisan yang kering mempunyai wajah yang seragam dan
membentuk ikatan yang baik dengan penyangga. Selain itu kadar air mempunyai
pengaruh terhadap daya pemisahnya (Stahl, 1985).
Adsorben yang dapat digunakan diklasifikasi berdasarkan sifat kimia atau
dari ikatannya. Penjerap yang umum ialah silika gel, alumina, kieselgur, selulosa
dan turunannya, poliamida, dan lain-lain. Silika gel ini menghasilkan perbedaan
dalam efek pemisahan yang tergantung kepada cara pembuatannya. Selain itu
harus diingat bahwa penjerap seperti aluminium oksida dan silika gel mempunyai
kadar air yang berpengaruh nyata terhadap daya pemisahannya (Stahl, 1985).
Untuk fase diam yang polar dapat digunakan fase gerak dari non polar sampai
paling polar. Untuk fase diam yang non polar (sistem fase balik) biasanya
digunakan fase gerak larutan berair, metanol, asetonil, dan isopropanol. Sistem
pelarut yang paling sederhana ialah campuran dua pelarut organik karena daya
elusi campuran kedua pelarut ini dapat diatur sedemikian rupa sehingga
pemisahan dapat terjadi secara optimal atau sempurna. Berikut ini adalah
beberapa petunjuk dalam memilih dan mengoptimasi fase gerak:
1.

Fase gerak harus memiliki kemurnian yang sangat tinggi karena KLT
merupakan teknik yang sensitif.

2.

Daya elusi fase gerak harus diatur sedemikian rupa sehingga harga Rf terletak
antara 0,2 sampai 0,8 untuk memaksimalkan pemisahan.

3.

Untuk pemisahan dengan menggunakan fase diam polar seperti silika gel,
polaritas fase gerak akan menentukan kecepatan migrasi solut yang berarti
juga menentukan nilai Rf. Penambahan pelarut yang bersifat sedikit polar
seperti dietil eter kedalam pelarut non polar seperti metil benzen akan
meningkatkan harga Rf secara signifikan.

4.

Solut-solut ionik dan solut-solut polar lebih baik digunakan campuran pelarut
sebagai fase geraknya, seperti campuran air dan metanol dengan
perbandingan tertentu. Penambahan sedikit asam etanoat atau amonia masingmasing akan meningkatkan solut-solut yang bersifat basa dan asam.
(Gandjar dan Rohman, 2007)
Pemilihan fase gerak didasarkan pada keterpisahan senyawa-senyawa dalam

analit yang didasarkan pada nilai Rf dan hRf. Nilai Rf diperoleh dari membagi
jarak pusat kromatografik dari titik awal dengan jarak pergerakan pelarut dari titik
awal. Perhitungan nilai hRf ditunjukkan dengan persamaan dibawah ini.

jarak elusi analit dari titik awal penotolan


100
jarak muka pelarut dari titik awal penotolan
Penggunaan KLT dapat berupa analisis kualitatif dan analisis kuantitatif.
hR f

Pada analisis kualitatif, KLT dapat digunakan untuk uji identifikasi senyawa baku.
Parameter pada KLT yang digunakan untuk identifikasi adalah nilai Rf. Dua
senyawa dikatakan identik jika mempunyai nilai Rf yang sama jika diukur pada
kondisi KLT yang sama. Untuk meyakinkan identifikasi dapat dilakukan dengan
menggunakan lebih dari 1 fase gerak dan jenis pereaksi semprot (Gandjar dan
Rohman, 2007). Keterulangan harga Rf sangat dipengaruhi oleh perbedaan
kondisi proses pemisahan senyawa tertentu dibandingkan kondisi yang telah
dibakukan sekal, meskipun dalam hal ini harga Rf bukanlah harga absolut seperti
pada konstanta fisik lain (titik didih, titik lebur, dan lain-lain). Beberapa faktor
yang mempengaruhi penentuan harga Rf ini antara lain kualitas adsorben (ukuran
partikel, pH dan kemurnian), ketebalan lapisan adsorben (untuk ketebalan 0,25-3
mm), kejenuhan bejana, teknik pengembangan, suhu (mempengaruhi kapasitas
adsorpsi dari adsorben sehingga suhu pada saat pengukuran Rf harus
dicantumkan), dan kualitas pelarut (kromatogram bisa sangat beragam untuk

kualitas pelarut yang berbeda, karena itu untuk penentuan harga Rf harus selalu
digunakan pelarut segar) (Kusmardiyani dan Nawawi, 1992).
Densitometer atau Thin Layer Chromato Scanner makin banyak digunakan
secara luas. Densitometri adalah metode analisis instrumental yang berdasarkan
interaksi radiasi elektromagnetik dengan analit yang merupakan noda pada KLT.
Interaksi radiasi elektromagnetik dengan joda pada plat KLT yang ditentukan
adalah absorpsi, transmisi, pantulan (refleksi) pendar fluor atau pemadaman
pendar fluor dari radiasi semula. Densitometri lebih dititikberatkan untuk analisis
kuantitatif analit-analit dengan kadar yang sangat kecil yang perlu dilakukan
pemisahan terlebih dahulu dengan KLT (Mulja dan Suharman, 1995).
Prinsip kerja spektrofotodensitometri berdasarkan interaksi antara radiasi
elektromagnetik dari sinar UV-Vis dengan analit yang merupakan noda pada plat.
Radiasi elektromagnetik yang datang pada plat diabsorpsi oleh analit, ditransmisi
atau diteruskan jika plat yang digunakan transparan. Radiasi elektromagnetik yang
diabsorpsi oleh analit atau indikator plat dapat diemisikan berupa flouresensi dan
fosforesensi (Sherma and Fried, 1994). Pemadaman flouresensi indikator F-254
dapat terjadi akibat adanya noda pada plat sehingga teramati di bawah lampu UV
sebagai noda hitam (Mulja dan Suharman, 1995).

Gambar 10. Spektrofotodensitometer yang Dihubungkan ke PC


(Marlock, 2008)
Analisis kuantitatif dari suatu senyawa yang telah dipisahkan dengan KLT
biasanya dilakukan dengan densitometer langsung pada lempeng KLT (atau secara
in situ). Densitometer dapat bekerja secara serapan atau flouresensi, dimana

kebanyakan densitometer mempunyai sumber cahaya yang diarahkan menuju


monokromator (untuk memilih rentang panjang gelombang yang cocok antara
200-800), sistem untuk memfokuskan sinar pada lempeng, pengganda foton, dan
rekorder (Gandjar dan Rohman, 2007). Output detektor dikonversikan menjadi
signal dan diamplifikasi. Sebagai tambahan untuk scanning instrumen
densitometer dilengkapi dengan digital konverter, dan data akan diproses secara
digitalisasi oleh komputer. Analis dapat bekerja dengan densitometri pada
jangkauan panjang gelombang 190 s/d 800 nm. Terjadinya penyimpangan
baseline yang disebabkan oleh variasi ketebalan dan ketidakseragaman lapisan
pada densitometer sangat kecil dan level signalnya relatif tinggi.
Pada umumnya yang paling sering digunakan adalah mode absorbsi dengan
menggunakan sinar UV pada 190-300 nm. Oleh karena kebanyakan plat KLT
menggunakan silika gel yang bersifat opaque (tidak tembus cahaya), maka
pengukuran dengan mode transmitan tidak cocok digunakan. Penentuan absorpsi
analit pada plat KLT opaque didasarkan pada rasio intensitas antara radiasi
elektromagnetik yang datang dengan intensitas radiasi elektromagnetik yang
dipantulkan/direfleksikan. Pengukuran flouresensi merupakan metode pengukuran
langsung yang peka untuk senyawa dalam daerah ultraviolet dapat ditentukan
melalui emisi penyinaran sekunder. Intensitas cahaya flouresensi setelah
dipancarkan melalui suatu monokromator, diukur secara selektif dalam kondisi
yang sesuai, berbanding lurus dengan berat senyawa yang ada dalam noda
(Sherma and Fried, 1994).
Semua densitometer pemayar mempunyai rancang bangun tertentu, yang
meliputi sumber cahaya, perangkat pemilih panjang gelombang, sistem
pengumpul dan pemusat cahaya, serta detektor. Selain itu diperlukan mekanisme
gerak lempeng di bawah cahaya terpusat untuk memayar lempeng. Dalam hal
ini pemilihan panjang gelombang adalah monokromator (MK) dan perangkat
indera adalah tabung photomultiplier (PM). Bila tebung photomultiplier
diletakkan di bawah lempeng, alat bekerja sebagai penerus (T), bila diletakkan di
atas lempeng, alat bekerja sebagai pengukur pantulan (R). Pada alat sinar ganda
menggunakan pemecah sinar (PS) untuk memusatkan sinar berpanjang gelombang

sama ke permukaan lempeng. Penggunaan monokromator lebih menguntungkan


karena memudahkan pengubahan panjang gelombang dan menghasilkan berkas
sinar dengan sedikit panjang gelombang. Jenis sumber cahaya tergantung pada
panjang gelombang cahaya yang digunakan, yaitu: lampu hidrogen, raksa atau
ksenon untuk pengukuran sinar UV dan lampu wolfram untuk panjang gelombang
sinar tampak (Munson, 1991).
2.6. Validasi Metode Analisis
Menurut Harmita (2004), validasi metode analisis adalah suatu tindakan
penilaian terhadap parameter tertentu, berdasarkan percobaan laboratorium, untuk
membuktikan

bahwa

parameter

tersebut

memenuhi

persyaratan

untuk

penggunaannya. Beberapa kriteria validasi metode adalah keseksamaan, linieritas


dan rentang, batas deteksi (LOD) dan batas kuantitasi (LOQ).
(1)

Keseksamaan (Presisi)
Keseksamaan adalah ukuran yang menunjukkan derajat kesesuaian
antara hasil uji individual, diukur melalui penyebaran hasil individual dari
rata-rata jika prosedur diterapkan secara berulang pada sampel-sampel yang
diambil dari campuran yang homogen. Keseksamaan diukur sebagai
simpangan baku atau simpangan baku relatif (koefisien variasi).
Keseksamaan dapat dinyatakan sebagai keterulangan (repeatability) atau
ketertiruan (reproducibility). Keterulangan adalah keseksamaan metode jika
dilakukan berulang kali oleh analis yang sama pada kondisi sama dan dalam
interval waktu yang pendek. Ketertiruan adalah keseksamaan metode jika
dikerjakan pada kondisi yang berbeda (Harmita, 2004). Jika hasil analisis
adalah x1, x2, x3, x4,......xn, maka nilai simpangan bakunya (SD) dapat
dihitung sesuai dengan persamaan 2.1 berikut ini:

SD

x x

n 1

............................................................................

....(2.1)
Keterangan:
SD

= simpangan baku

= jumlah sampel

Sedangkan nilai simpangan baku relatif/koefisien variasi (KV) dapat


dihitung sesuai dengan persamaan 2.2 sebagai berikut:
KV

SD

100% ..................................................................................

.....(2.2)
Keterangan:
KV
= koefisien variasi

= rata-rata hasil analisis


Suatu data dikatakan memenuhi keseksamaan bila nilai KV < 2%
(Harmita, 2004).
(2)

Linearitas dan Rentang


Linearitas adalah kemampuan metode analisis yang memberikan respon
yang secara langsung atau dengan bantuan transformasi matematik yang
baik, proporsional terhadap konsentrasi analit dalam sampel. Rentang
metode adalah pernyataan batas terendah dan tertinggi analit yang sudah
ditunjukkan dapat ditetapkan dengan kecermatan, keseksamaan dan
linieritas yang dapat diterima. Parameter yang diamati adalah nilai r dari
persamaan linier dan simpangan baku residual (Sy). suatu data dikatakan
linier apabila nilai r = 1 atau -1 (Harmita, 2004). Untuk menghitung nilai Sy
digunakan persamaan 2.3.

Sy

y1 y 1
N 2

...........................................................................

............(2.3)
Keterangan:
y1

= AUC senyawa yang terukur alat (respon detektor)

= AUC hasil perhitungan berdasarkan persamaan garis lurus

(1 = a+bx)
N

= jumlah standar yang diukur

(3)

Batas Deteksi (LOD) dan Batas Kuantitasi (LOQ)


Batas deteksi (LOD) adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang
dapat dideteksi yang masih memberikan respon signifikan dibandingkan
dengan blangko. Batas deteksi merupakan parameter uji batas. Batas
kuantitasi (LOQ) merupakan parameter pada analisis renik dan diartikan
sebagai kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi
kriteria cermat dan seksama. LOD dan LOQ dapat dihitung dengan
menggunakan persamaan sebagai berikut:
3Sy

LOD

= slope

.............................................................................................(2.4)
LOQ

10 Sy
slope

............................................................................................(2.5)
Keterangan: Sy = simpangan baku residual
(Harmita, 2004).

BAB III
METODE PENELITIAN
3.1. Alat dan Bahan
3.1.1. Alat

Gelas beaker
Gelas ukur
Neraca analitik
Pipet ukur
Pipet tetes
Corong gelas
Sendok tanduk
Batang pengaduk
Ballfiller
Labu ukur
Penangas air
Botol Vial

Lap
Kertas perkamen
Aluminium foil
Kertas saring Whatman

Spektrofotodensitometer
CAMAG
Botol vial
Syringe
Chamber

3.1.2. Bahan
Sampel krim
N-Heksana
Diklorometan
Asam asetat
Aseton
Etil asetat
TLC aluminium sheets silica gel 60 GF 254 ukuran10 x 10 cm

Serbuk baku etil paraben


Serbuk baku metil paraben
Serbuk baku propil paraben
Serbuk baku butil paraben

3.2. Prosedur Kerja


3.2.1. Pembuatan Larutan Baku Induk
Larutan baku metil paraben, etil paraben, propil paraben, dan
butil paraben 1 mg/mL dibuat dengan cara: ditimbang masing-masing 10
mg serbuk metil paraben, etil paraben, propil paraben, dan butil paraben
baku. Serbuk dimasukkan ke dalam beaker gelas ditambahkan aseton-etil
asetat (2:1) secukupnya hingga larut. Dimasukkan ke dalam labu ukur 10
mL, kemudian ditambahkan aseton-etil asetat (2:1) sampai tanda batas,
digojog hingga homogen.
3.2.2. Pembuatan Larutan Baku Kerja
Diketahui : M1

= 2 mg/mL

M2

= 200 g/mL

V2

= 25 mL

Ditanya

: V1 =........?

Perhitungan

:
V1 . M1

= V2. M2

V1 . 2 mg/mL = 25 mL. 200 g/mL


V1 . 2 mg/mL = 25 mL. 0,2 mg/mL
V1

= 2,5 mL

Dibuat larutan dengan konsentrasi 200 g/mL. Dipipet masing-masing 2,5


mL larutan baku metil paraben, etil paraben, propil paraben, dan butil
paraben 2 mg/mL kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 25 mL.
Ditambahkan larutan aseton-etil asetat (1:10) v/v ad 25 mL, digojog
hingga homogen.
3.2.3. Pembuatan Larutan Seri Paraben Konsentrasi 50 ng/L; 100 ng/L,
150 ng/L, dan 200 ng/L
Dibuat larutan dengan konsentrasi 50 ng/L; 100 ng/L, 150
ng/L, dan 200 ng/L terlebih dahulu. Dari larutan tersebut kemudian
ditotolkan pada plat dengan pipet 2 L hingga kadar dalam plat akan
menjadi 100 ng; 200 ng; 300 ng; 400 ng; dan 800 ng.

Pembuatan Larutan Seri paraben Konsentrasi 50 ng/L


Diketahui:

C1= 200 g/mL


C2= 50 ng/L
V2= 5 mL

Ditanya: V1= .........?


Jawab:
C1. V1

C2. V2

200 g/mL . V1

= 50 ng/L. 5 mL

200 g/mL . V1

= 50 g/mL. 5 mL

V1

= 1,25 mL

Pembuatan:
Untuk membuat larutan seri paraben dengan konsentrasi
50 ng/L, maka dipipet 1,25 mL larutan seri paraben 200 g/mL
kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 5 mL dan ditambahkan
aseton-etil asetat (1:10) v/v ad 5 mL, digojog hingga homogen.
Pembuatan Larutan Seri paraben Konsentrasi 100 ng/L
Diketahui:

C1= 200 g/mL


C2= 100 ng/L
V2= 5 mL

Ditanya: V1= .........?


Jawab:
C1. V1

C2. V2

200 g/mL . V1

= 100 ng/L. 5 mL

200 g/mL . V1

= 100 g/mL. 5 mL

V1

= 2,5 mL

Pembuatan:
Untuk membuat larutan seri paraben dengan konsentrasi
100 ng/L, maka dipipet 2,5 mL larutan seri paraben 200 g/mL
kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 5 mL dan ditambahkan

aseton-etil asetat (1:10) v/v ad 5 mL, digojog hingga homogen.


Pembuatan Larutan Seri paraben Konsentrasi 150 ng/L
Diketahui:

C1= 200 g/mL


C2= 150 ng/L
V2= 5 mL

Ditanya: V1= .........?


Jawab:
C1. V1

C2. V2

200 g/mL . V1

= 150 ng/L. 5 mL

200 g/mL . V1

= 150 g/mL. 5 mL

V1

= 3,75 mL

Pembuatan:
Untuk membuat larutan seri paraben dengan konsentrasi
150 ng/L, maka dipipet 3,75 mL larutan seri paraben 200 g/mL
kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 5 mL dan ditambahkan
aseton-etil asetat (1:10) v/v ad 5 mL, digojog hingga homogen.
Pembuatan Larutan Seri paraben Konsentrasi 250 ng/L
Diketahui:

C1= 200 g/mL


C2= 250 ng/L
V2= 5 mL

Ditanya: V1= .........?


Jawab:
C1. V1

C2. V2

200 g/mL . V1

= 250 ng/L. 5 mL

200 g/mL . V1

= 250 g/mL. 5 mL

V1

= 6,25 mL

Pembuatan:
Untuk membuat larutan seri paraben dengan konsentrasi

250 ng/L, maka dipipet 6,25 mL larutan seri paraben 200 g/mL
kemudian dimasukkan ke dalam labu ukur 5 mL dan ditambahkan
aseton-etil asetat (1:10) v/v ad 5 mL, digojog hingga homogen.
3.2.4. Preparasi Sampel
Ke dalam beaker gelas 50 mL ditimbang 1 g sampel krim
pelembab wajah. Sebanyak 40 mL aseton-etil asetat (2:1) ditambahkan ke
dalam beaker glass kemudian diaduk pada suhu 40C diatas penangas air.
Sampel diaduk hingga larut atau tersuspensi. Sampel dibiarkan dingin
mencapai suhu ruang kemudian disaring dengan kertas saring. Filtrat
ditampung dan dimasukkan ke dalam labu ukur 50 mL kemudian
ditambahkan aseton-etil asetat (2:1) hingga volume 50 mL. Larutan ini
yang kemudian ditotolkan pada plat KLT aluminium sheets silika gel 60
GF 254.
3.2.4

Pembuatan Fase Gerak N-heksana-Diklorometana-Asam Asetat


(25:25:3)
Dibuat fase gerak n-heksana-diklorometana-asam asetat (25:25:3) dengan
cara dipipet sebanyak 11,8 mL N-heksana, 11,8 mL diklorometan, dan 1,4
mL asam asetat ke dalam labu ukur 25 mL, digojog hingga homogen.
Ditutup dengan aluminium foil.

3.2.5. Penyiapan Fase Diam


Disiapkan 9 cm x 10 cm plat TLC aluminiumsheets silica gel 60 F
254 (fase diam). Plat tersebut dicuci dengan metanol sebanyak 5 mL
sampai tanda batas pada plat di kedua sisi chamber. Setelah dicuci, plat
tersebut diaktivasi menggunakan oven pada suhu 110C selama 30 menit.
3.2.6. Pemisahan dan Deteksi Hasil
Pada plat silika gel 60 F254 yang telah diaktivasi ditotolkan larutan metil
paraben, etil paraben, propil paraben, dan butil paraben standar dengan seri
konsentrasi yang sudah ditetapkan dan larutan sampel hasil ekstraksi
dengan jarak 1 cm antar penotolan. Plat dimasukkan ke dalam bejana

kromatografi yang sudah berisi sistem fase gerak kloroform-metanol (9:1)


kemudian dielusi dengan arah vertikal hingga 8,5 cm dari titik penotolan.
Plat discan dengan TLC Scanner (CAMAG-Muttenz-Switzerland) pada
panjang gelombang pengukuran sehingga diperoleh kromatogram masingmasing senyawa metil paraben, etil paraben, propil paraben, butil paraben.
Tiap noda dibuat spektrumnya pada panjang gelombang 190-400 nm.
Spektrum masing-masing senyawa yang terdeteksi dibandingkan dengan
library untuk uji konfirmasi senyawa yang terdeteksi. Kedua senyawa
dikatakan identik jika memenuhi nilai korelasi > 0,95. Ditentukan panjang
gelombang maksimum pengukuran dengan melihat keempat spektrum seri
paraben. Dilakukan pengukuran pada panjang gelombang maksimum
untuk menentukkan besar serapan masing-masing spot. Besar serapan
dicatat sebagai AUC (Area Under Curve) dari tiap-tiap senyawa yang
terdeteksi. Dibuat persamaan regresi linier dari seri larutan standar yaitu y
= bx +a, dimana y = AUC, dan x = konsentrasi. Hasil AUC sampel yang
diperoleh dimasukkan ke dalam persamaan regresi linier sehingga
diperoleh kadar pengawet paraben dalam sampel.

BAB IV

HASIL DAN PENGAMATAN


4.1 Hasil
Pengamatan pada panjang gelombang 255 nm

Gambar 4.1 Kromatogram seri dan sampel pada 255 nm


Tabel 4.1 Hasil pembacaan metil paraben pada panjang gelombang 255 nm
Track

Rf

AUC

Standar 1
(100 ng)

0,48

2972,3

Standar 2
(200 ng)

0,48

6593,9

Standar 3
(300 ng)

0,47

8787,8

Standar 4
(400 ng)

0,47

8997,7

Standar 5
(800 ng)

0,48

9960,0

Sampel 1

0,47

3462,0

Sampel 2

0,47

3539,7

Sampel 3

0,47

2697,5

Tabel 4.2 Hasil pembacaan propil paraben pada panjang gelombang 255 nm
Track

Rf

AUC

Standar 1
(100 ng)

0,58

2466.9

Standar 2
(200 ng)

0,58

5689.8

Standar 3
(300 ng)

0,59

7540.8

Standar 4
(400 ng)

0,59

7728.3

Standar 5
(800 ng)

0,59

8507.0

Sampel 1

0,61

1523.5

Sampel 2

0,61

1417.7

Sampel 3

0,61

1003.3

4.2 Perhitungan
4.2.1 Kurva Kalibrasi Standar Metil Paraben
Tabel 4.3 Nilai AUC standar seri pada 255 nm

Larutan
Standar 1
Standar 2
Standar 3

Konsentrasi (ng)
100
200
300

AUC
2972,3
6593,9
8787,8

Gambar 4.2 Kurva Kalibrasi Standar Metil Paraben


4.2.2 Perhitungan Kadar Sampel pada Plat
Kadar metil paraben dalam plat setelah penotolan dihitung dengan
menggunakan persamaan regresi linier pada kurva kalibrasi metil paraben,
dimana y = AUC dan x = kadar.
Dik: Persamaan regresi linier

y = 29.078x + 302.5

AUC sampel I

= 3462,0

AUC sampel II

= 3539,7

AUC sampel III

= 2697,5

Dit: Kadar metil paraben dalam plat = ...?


Jawab:

- Sampel I (plat)
y = 29,078x + 302.5

3462,0 = 29,078x + 302.5


3159,5 = 29,078x
x = 108,65 ng
- Sampel II (plat)
y = 29,078x + 302.5
3539,7 = 29,078x + 302.5
3237,2 = 29,078x
x = 111,32 ng
- Sampel III (plat)
y = 29,078x + 302.5
2697,5= 29,078x + 302.5
2395 = 29,078x
x = 82,36 ng
Kadar Metil Paraben dalam Sampel
Bobot total sampel krim adalah 25 gram. Sampel ditimbang 1 gram,
diekstrak dengan pelarut dan di ad sampai 50 mL pelarut. Kemudian
larutan uji ditotolkan sebanyak 6 uL. Dengan perhitungan balik dapat
diketahui kadar metil paraben dalam sampel adalah:
Sampel I
Penotolan
= 108,65 ng/6 uL
= 18,11 ng/uL
= 18,11 ug/mL
Kadar sampel
= 18,11 ug/mL x 50 mL
= 905,5 ug
Kadar dalam krim =

x bobot krim

x 25 gram

= 0,023 gram

=
Sampel II
Penotolan
Kadar sampel

x 100%

= 0,092%
= 111,32 ng/6 uL
= 18,55 ng/uL
= 18,55 ug/mL
= 18,55 ug/mL x 50 mL
= 927,5 ug

Kadar dalam krim =

x bobot krim

x 25 gram

= 0,023 gram
=
Sampel III
Penotolan
Kadar sampel

x 100%

= 0,092%
= 82,36 ng/6 uL
= 13,73 ng/uL
= 13,73 ug/mL
= 13,73 ug/mL x 50 mL
= 686,5 ug

Kadar dalam krim =

x bobot krim

x 25 gram

= 0,017 gram
=

x 100%

= 0,068%

Kadar Metil Paraben dalam Sampel Rata-rata


kadar I kadar II kadar III
3
0,092% 0,092% 0,068%
=
3

Kadar metil paraben rata-rata =

= 0,084%

Standar Deviasi (SD) dan CV


Sampel

Kadar Rata-

Kadar (x)

x-x

(x-x)2

8 x 10-3%

6,4 x 10-5%

I
II

0,092%

rata (x)
0,084%

0,092%

0,084%

8 x 10-3%

6,4 x 10-5%

III

0,068%

0,084%

-0,016

2,56 x 10-4%

(x-x)2
Standar Deviasi (SD) =

3,84 x 10-4%

x"

n 1

3,84 x 10-4%
3 1

= 0,014%
CV =

SD
100%
x"
0,014%

= 0,084% 100% = 16,67%

4.2.3 Kurva Kalibrasi Standar Propil Paraben


Tabel 4.4 Nilai AUC standar seri pada 255 nm
Larutan

Konsentrasi (ng)

AUC

Standar 1
Standar 2
Standar 3

100
200
300

2466.9
5689.8
7540.8

Gambar 4.3 Kurva Kalibrasi Standar Propil Paraben


4.2.4 Perhitungan Kadar Sampel
Kadar propil paraben dalam plat setelah penotolan dihitung dengan
menggunakan persamaan regresi linier pada kurva kalibrasi propil paraben,
dimana y = AUC dan x = kadar.
Dik: Persamaan regresi linier

y = 25.37x + 158.6

AUC sampel I

= 1523.5

AUC sampel II

= 1417.7

AUC sampel III

= 1003.3

Dit: Kadar metil paraben dalam plat = ...?


Jawab:
- Sampel I (plat)
y = 25,37x + 158,6
1523,5= 25,37x + 158,6
1364,9 = 25,37x
x = 53,79

- Sampel II (plat)
y = 25,37x + 158,6
1417,7= 25,37x + 158,6
1259,1 = 25,37x
x = 49,62
- Sampel III (plat)
y = 25,37x + 158,6
1003,3= 25,37x + 158,6
844,7 = 25,37x
x = 33,29

Kadar Propil Paraben dalam Sampel


Bobot total sampel krim adalah 25 gram. Sampel ditimbang 1 gram,
diekstrak dengan pelarut dan di ad sampai 50 mL pelarut. Kemudian
larutan uji ditotolkan sebanyak 6 uL. Dengan perhitungan balik dapat
diketahui kadar propil paraben dalam sampel adalah:
Sampel I
Penotolan
= 53,79 ng/6 uL
= 8,965 ng/uL
= 8,965 ug/mL
Kadar sampel
= 8,965 ug/mL x 50 mL
= 448,25 ug
Kadar dalam krim =

x bobot krim

x 25 gram

= 0,011 gram
=
Sampel II
Penotolan

x 100%

= 0,044%
= 49,62 ng/6 uL
= 8,27 ng/uL

Kadar sampel

= 8,27 ug/mL
= 8,27 ug/mL x 50 mL
= 413,5 ug

Kadar dalam krim =

x bobot krim

x 25 gram

= 0,01 gram
=
Sampel III
Penotolan
Kadar sampel

x 100%

= 0,04%
= 33,29 ng/6 uL
= 5,55 ng/uL
= 5,55 ug/mL
= 5,55 ug/mL x 50 mL
= 277,5 ug

Kadar dalam krim =

x bobot krim

x 25 gram

= 6,94 x 10-3 gram


=

x 100%

= 0,02%

Kadar Propil Paraben dalam Sampel Rata-rata


kadar I kadar II kadar III
3
0,044% 0,04% 0,02%
=
3

Kadar propil paraben rata-rata =

= 0,035%

Standar Deviasi (SD) dan CV

Sampel

Kadar (x)

I
II
III

Kadar Rata-

(x-x)2

x-x

0,044%

rata (x)
0,035%

9 x 10-3%

8,1 x 10-5 (%)2

0,04%

0,035%

5 x 10-3%

2,5 x 10-5 (%)2

0,02%

0,035%

-0,015%

2,25 x 10-4 (%)2

(x-x)2
Standar Deviasi (SD) =

3,31 x 10-4 (%)2

x"

n 1

3,31 x 10-4 (%) 2


3 1

= 0,012%
CV =

SD
100%
x"
0,012%

= 0,035% 100% = 34,28%


4.2.5 Perhitngan LOD dan LOQ Metil Paraben
-

Menentukan AUC yang Telah Dimasukkan ke dalam Persamaan


Regresi Linier
Diketahui : Data yang digunakan dalam membuat persamaan regresi linier:
Konsentrasi I

= 100 ng

Konsentrasi II = 200 ng
Konsentrasi III = 300 ng
Persamaan regresi linier : y = 29.078x + 302.5
Ditanya : y =.......?
Jawab

I.

y = 29.078x + 302.5
y = (29.078 x 100) + 302.5
y = 3210,3

II.

y = 29.078x + 302.5
y = (29.078 x 200) + 302.5
y = 6118,1

III.

y = 29.078x + 302.5
y = (29.078 x 300) + 302.5
y = 9025,9

Menentukan Simpangan Baku Residual


C (ng)

(y-y)2

100
200

2972,3

y
3210

y-y

6593,9

6118

475,9

225625

300

8787,8

9025

-237,2

56263,84

-237,7

56501,29

(y-y)2

338390,13

Nilai Simpangan Baku Residual (

Sy

) = ...?

Jawab :

Sy

Sy
Sy

x
x

y"

n 2

338390,13
3 2

= 581,71

Menentukan nilai LOD dan LOQ

Sy

Diketahui :

= 581,71

Dari persamaan y = 29.078x + 302.5; maka diketahui b = 29,078


Ditanya : LOD dan LOQ = ...?
Jawab
:

LOD =
=

3 Sy x
Slope (b)
3 581,71
29,078

= 60,01 ng

10 Sy x
LOQ =
Solpe (b)
=

10 581,71
29,078

= 200,05 ng
4.2.6 Perhitngan LOD dan LOQ Propil Paraben
-

Menentukan AUC yang Telah Dimasukkan ke dalam Persamaan


Regresi Linier
Diketahui : Data yang digunakan dalam membuat persamaan regresi linier:
Konsentrasi I

= 100 ng

Konsentrasi II = 200 ng
Konsentrasi III = 300 ng
Persamaan regresi linier : y = 25.37x + 158.6
Ditanya : y =.......?
Jawab
I.

y = 25.37x + 158.6
y = (25.37 x 100) + 158.6
y = 2695,6

II. y = 25.37x + 158.6


y = (25.37 x 200) + 158.6
y = 5232,6

III.

y = 25.37x + 158.6
y = (25.37 x 300) + 158.6
y = 7769,6

Menentukan Simpangan Baku Residual


C (ng)

(y-y)2

100
200

2466.9

y
2695

y-y

5689.8

5232

457,8

209580,84

300

7540.8

7769

-228,2

52075,24

-228,1

52029,61

(y-y)2

313685,69

Nilai Simpangan Baku Residual (

Sy

) = ...?

Jawab :

Sy

Sy
Sy

x
x

y"

n 2

313685,69
3 2

= 560,07

Menentukan nilai LOD dan LOQ


Diketahui :

Sy

= 560,07

Dari persamaan y = 25.37x + 158.6; maka diketahui b = 25,37


Ditanya : LOD dan LOQ = ...?
Jawab
:
LOD =
=

3 Sy x
Slope (b)
3 560,07
25,37

= 60,22 ng
LOQ =
=

10 Sy x
Solpe (b)
10 560,07
25,37

= 220,76 ng

BAB V
PEMBAHASAN

Pada praktikum ini akan dilakukan penetapan kadar pengawet jenis


paraben yang terdiri dari metil-, etil-, propil-, dan butil paraben pada sampel krim.
Namun karena keterbatasan bahan di laboratorium, bahan yang dapat digunakan
hanya metil paraben dan propil paraben. Penetapan kadar dilakukan dengan
metode KLT-Spektrofotodensitometri. Dasar pemilihan metode tersebut adalah
kandungan sampel yang beragam dimana terdapat campuran berbagai zat
sehingga perlu dilakukan pemisahan terlebih dahulu dengan KLT. Selanjutnya
kadar zat diukur dengan menggunakan spektrofotodensitometri.
Pembuatan larutan baku standar metil paraben dan propil paraben dengan
konsentrasi 2 mg/mL menggunakan pelarut aseton dan asetil asetat dengan
perbandingan 2:1. Penggunaan pelarut ini berdasarkan kelarutan dimana kedua
analit memiliki kelarutan yang baik pada pelarut tersebut. Sedangkan untuk
pengenceran larutan baku standar tersebut digunakan pelarut yang sama yaitu
aseton dan etil asetat namun dengan perbandingan berbeda yaitu 1:10.
Penggunaan perbandingan berbeda tersebut hanya bertujuan untuk menambahkan
volume sampai batas volume tertentu. Pembuatan lima seri variasi konsentrasi
bertujuan untuk pembuatan persamaan regresi linier untuk penentuan kadar metil
paraben dan propil paraben. Menurut pustaka, jumlah seri larutan yang sebaiknya
dibuat untuk menentukan linieritas larutan baku pembanding adalah sebanyak 8
buah dengan konsentrasi 50-150% dari kadar analit dalam sampel (Harmita,
2004). Namun, dalam skala laboratorium cukup dibuat lima seri larutan standar
dengan minimal 3 data yang digunakan.
Preparasi sampel dilakukan dengan menimbang 1 gram sampel krim dan
ditambahkan dengan pelarut aseton dan etil asetat dengan perbandingan 2:1.
Penggunaan pelarut tersebut berfungsi untuk mengekstraksi analit yang memiliki
kelarutan baik pada pelarut. Pencampuran dilakukan diatas penangas air pada
suhu 40C sambil diaduk untuk meregangkan ikatan antara fase air dan minyak
dalam krim sekaligus meningkatkan kontak antara analit dan pelarut. Setelah
pencampuran campuran dibiarkan dingin pada suhu ruang kemudian difiltrasi
untuk menghilangkan komponen tak larut. Filtrat ditambahkan sejumlah pelarut
hingga 50 mL untuk mendapatkan volume akhir yang terukur.

Metode pemisahan analit dilakukan dengan metode KLT (Kromatografi


Lapis Tipis). Kromatografi lapis tipis merupakan bentuk kromatografi planar
dengan fase diam yang berupa lapisan seragam (uniform) pada permukaan bidang
datar yang didukung oleh lempeng kaca, plat alumunium, atau plat plastik
(Gandjar dan Rohman, 2007). Mula-mula dilakukan pemilihan fase diam serta
fase gerak yang akan digunakan dalam pemisahan. Fase diam yang dipilih adalah
plat aluminium sheets silica gel 60 F 254.Silica gel merupakan jenis fase diam
yang paling umum digunakan.Pada permukaan silika gel terdiri atas gugus Si-OSi dan gugus silanol (Si-OH). Gugus silanol inilah yang bersifat sedikit asam dan
bersifat polar karena gugus silanol ini memiliki kemampuan untuk berikatan
dengan hidrogen dengan solut-solut yang bersifat sedikit polar hingga sangat polar
(Gandjar dan Rohman, 2007). Plat aluminium sheets silica gel 60 F 254 adalah
plat dengan fase diam silica yang memiliki ukuran pori 60

dan ditambahkan

agen yang bisa berfluoresensi pada panjang gelombang 254nm (Adamovics,


1997). Plat kemudian dipotong dengan ukuran 10 x 10 cm. Pemilihan ukuran ini
sebab terdapat delapan larutan yang ditotolkan pada plat yaitu lima seri larutan
baku pembanding, tiga larutan sampel, dengan jarak antar spot adalah 1 cm.
Fase gerak yang digunakan pada praktikum ini adalah pelarut campuran
yang terdiri dari n-heksana-diklorometana-asam asetat (25:25:3). Sistem pelarut
campuran merupakan sistem yang dibuat dimana daya elusi campuran pelarut
dapat diatur sedemikian rupa sehingga pemisahan dapat terjadi secara optimal.
Fase gerak didapat dari jurnal dimana telah menunjukkan hasil bahwa terjadi
pemisahan yang baik pada senyawa paraben. Campuran pelarut tersebut memiliki
kepolaran yang berbeda-beda sehingga diharapkan akan menghasilkan pemisahan
yang optimal.
Plat yang telah dipotong dicuci terlebih dahulu dengan menggunakan
metanol yang bertujuan untuk menghilangkan pengotor yang terdapat pada plat.
Pencucian dilakukan dengan metanol sebab metanol merupakan pelarut universal
yang dapat melarutkan senyawa baik non polar, semi polar, maupun senyawa
polar. Selain itu, metanol juga pelarut yang mudah menguap sehingga mudah

dihilangkan dari plat. Pencucian dilakukan dalam chamber dengan menggunakan


tisu. Tisu bertujuan sebagai media pelekatan pengotor yang berasal dari plat. Oleh
karena itu, pencucian plat dilakukan hingga kertas tisu basah. Plat silika memiliki
gugus Si-O-Si dan gugus Silanol (Si-OH). Gugus silanol bersifat sedikit asam dan
polar. Adanya air dari atmosfer yang tertambat pada plat dapat mendeaktivasi
permukaaan silika dan air akan menutupi sisi aktif dari silika. Sehingga plat silika
harus diaktivasi sebelum digunakan (Gandjar dan Rohman, 2009). Dipilihnya
suhu 110oC selama 30 menit karena suhu dan waktu tersebut merupakan kondisi
yang optimum untuk proses pengaktivasian plat. Suhu 1100C digunakan untuk
mengurangi kandungan air pada plat KLT karena air memiliki titik didih 100 0C.
Apabila digunakan suhu lebih rendah, maka air akan susah menguap dan air sulit
untuk menguap. Pada suhu 1100C diharapkan dapat menguapkan air agar tidak
mengganggu analisis, waktu yang digunakan tidak boleh terlalu lama karena
justru akan menyebabkan plat kering dan mudah retak, kemudian plat akan
rusak.Jika suhu pengaktifan jauh diatas 110C, mungkin terjadi degradasi yang
tak bolak-balik pada penjerap dan menyebabkan pemisahan kurang efektif
(Gritter, 1991). Proses pengaktivasian plat hanya menghilangkan sebagian
kandungan air pada plat untuk menjaga kelembapan plat. Kandungan air yang
harus ada dalam plat silica gel berkisar 11-12% (Adamovics, 1997).
Selanjutnya dilakukan penotolan lima seri larutan pembanding dan tiga
larutan sampel pada plat yang telah diaktivasi. Penotolan dilakukan dengan pipet
kapiler lalu larutan seri konsetrasi, sampel, ditotolkan. Pemisahan pada
kromatografi lapis tipis yang optimal akan diperoleh hanya jika menotolkan
sampel dengan ukuran bercak sekecil dan sesempit mungkin (Gandjar dan
Rohman, 2007). Penotolan harus dilakukan secara bertahap dengan dilakukan
pengeringan antar totolan. Sebagaimana dalam prosedur kromatografi yang lain,
jika sampel yang digunakan terlalu banyak maka akan menurunkan resolusi.
Penotolan sampel yang tidak tepat akan menyebabkab bercak yang menyebar dan
puncak ganda serta terbentuknya tailing (pemisahan yang berekor) (Gandjar
dan Rohman, 2007). Kelebihan beban menyebabkan bercak asimetri dan
perubahan harga Rf (Stahl, 1985).

Fase gerak yang telah disiapkan dimasukkan ke dalam chamber untuk


proses penjenuhan. Kertas saring sebagai indikator penjenuhan dimasukkan ke
dalam chamber, dengan cara menempelkan pada dinding chamber. Penjenuhan
chamber bertujuan agar penguapan yang terjadi dalam chamber merata sehingga
udara di dalam chamber tetap jenuh pelarut (Kusmardiyani dan Nawawi, 1992)
yang nantinya berfungsi untuk membuat pengelusian berjalan baik dan hasil yang
didapat dari pengelusian diharapkan mampu untuk mengidentifikasi senyawa
yang terkandung di dalam sampel yang di uji. Apabila cairan dalam chamber telah
merambat naik secara sempurna pada kertas saring maka dapat dikatakan
chamber telah jenuh.
Bila

sampel

telah

ditotolkan

maka

tahap

selanjutnya

adalah

mengembangkan sampel tersebut dalam chamber yang telah jenuh. Selama proses
pengelusian, chamber ditutup rapat untuk menjaga kestabilan fase gerak yang ada
di dalamnya. Chamber harus tertutup rapat dan sedapat mungkin menggunakan
sedikit fase gerak (akan tetapi harus mampu mengelusi lempeng hingga
ketinggian yang ditentukan) untuk memaksimalkan dan efesiensi proses
pengelusian (Gandjar dan Rohman, 2007). Fase diam silica gel yang bersifat polar
akan menjerap fase gerak yang bersifat nonpolar yang nantinya mampu
menggerakkan senyawa yang bersifat nonpolar sehingga terjadi pergerakan
senyawa dari titik asalnya. Pergerakan senyawa ini diakibatkan oleh adanya
perbedaan afinitas dan pengaruh kapiler pada pengembangan secara menaik
(ascending). Prinsip pemisahan kromatografi lapis tipis didasarkan pada afinitas
kepolaran senyawa yang akan dielusi, dimana fase diam yang bersifat polar akan
mengelusi senyawasenyawa yang non polar naik bersama fase gerak yang
digunakan, sedangkan senyawasenyawa polar akan tertahan pada fase diamnya.
Setelah proses pengelusian plat selanjutnya dilakukan scanning dengan
spektrofotodensitometer. Panjang gelombang yang digunakan adalah 255 nm.
Pemilihan panjang gelombang tersebut karena kedua analit yaitu metil paraben
dan propil paraben memiliki absorbansi yang cukup baik dan tidak saling
mengganggu secara pengukuran di panjang gelombang tersebut (Rajagopal and
Agrawal, 2011.). Dari hasil scanning plat dengan spektrodensitometer diperoleh 2

puncak pada tiap seri penotolan campuran standar metil paraben dan propil
paraben dan penotolan sampel seperti yang terlihat pada Gambar 4.1. Dari hasil
pemisahan kedua senyawa dapat dikatakan bahwa telah terjadi pemisahan yang
cukup baik antara metil paraben dan propil paraben. Dalam perhitungan tidak
dilakukan penghitungan resolusi pemisahan. Walaupun demikian secara visual
telah dapat terlihat pemisahan kedua senyawa yang cukup baik.
Dari kedua puncak yang terbentuk kemudian ditentukan puncak yang
merupakan metil paraben dan propil paraben. Hal tersebut dilakukan dengan
membandingkan spektrum spot yang diukur pada panjang gelombang 255 nm
dengan spektrum standar yang terdapat di library. Faktor similaritas antara
spektrum spot dan standar standar dilihat untuk mengetahui kedekatan antara
kedua spektrum tersebut. Faktor similiaritas yang baik adalah menghasilkan nilai
> 0,97. Kedua puncak yang telah terpisah menghasilkan nilai Rf yang berbeda.
Puncak metil paraben menghasilkan Rf sebesar 0,47-0,48 sedangkan propil
paraben meenghasilkan Rf sebesar 0,58-0,61. Nilai Rf ini sedikit berbeda dari
acuan jurnal yang dipakai dimana Rf metil paraben dan propil paraben yang
dihasilkan adalah 0,50 dan 0,61 (Rajagopal and Agrawal, 2011). Hal tersebut
terjadi karena banyak faktor diantaranya perbedaan kondisi daerah dan kondisi
laboratorium maupun perbedaan alat dan bahan yang digunakan. Selain itu, acuan
fase gerak pada pustaka tidak dapat digunakan seluruhnya karena terdapat
keterbatasan pelarut di laboratorium sehingga harus mengganti pelarut tersebut
dengan sifat kepolaran yang serupa. Pelarut yang diganti adalah pelarut heptan
menjadi n-heksan dimana kedua pelarut ini memiliki sifat kepolaran yang
berdekatan.
Dari data konsentrasi dan nilai AUC seri metil paraben dan propil paraben
dibuat persamaan regreasi linier untuk menentukan kadar dari metil paraben dan
propil paraben dalam sampel. Persamaan regresi untuk metil paraben adalah y =
29,078x + 302.5 dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,9803. Sedangkan
persamaan regresi untuk propil paraben adalah y = 25,37x + 158,6 dengan nilai
koefisien korelasi sebesar 0,9762. Dari nilai koefisien korelasi tersebut, seri
konsentrasi metil paraben dan propil paraben menghasilkan linearitas yang baik

dan valid karena berada pada nilai lebih besar dari 0,95. Dengan nilai linearitas
yang baik tersebut, persamaan regresi yang dihasilkan dapat digunakan untuk
menetapkan kadar dari sampel.
Dari hasil perhitungan dengan menggunakan permasaan regresi diperoleh
kadar metil paraben dan propil paraben pada sampel krim adalah pada sampel I
sebesar 0,092% dan 0,044%; pada sampel II sebesar 0,092% dan 0,04%; dan pada
sampel III sebesar 0,068% dan 0,02%. Dari hasil tersebut didapat kadar rata-rata
metil paraben dan propil paraben adalah 0,084% dan 0,035%. Kadar yang didapat
telah memenuhi persyaratan sesuai yang tercantum dalam Peraturan Kepala
BPOM RI Nomor: HK.00.05.42.1018 tentang Bahan Kosmetik yaitu penggunaan
bahan pengawet dalam kosmetik adalah < 0,4% sehingga kosmetik tersebut aman
untuk digunakan. Namun terdapat penyimpangan dalam nilai koefisien variasi
yang didapat. Nilai koefisien untuk metil paraben dan propil paraben adalah
16,67% dan 34,28%. Nilai tersebut sangat jauh dari syarat yaitu tidak boleh
melebihi 2%. Hasil yang tidak memenuhi syarat koefisien variasi menandakan
hasil yang didapat tidak presisi. Nilai koefisien variasi yang tidak sesuai tersebut
diduga akibat penotolan sampel pada sampel III tidak mencapai 6 uL. Penotolan
yang dilakukan kemungkinan hanya mencapai 2-4 uL karena dari pola hasil yang
didapat sampel I dan sampel II memiliki hasil yang mirip namun tidak pada
sampel III. Dengan berbedanya nilai tersebut maka rata-rata kadar analit menjadi
tidak sesuai dengan kadar sebenarnya dan menghasilkan koefisien variasi yang
tidak memenuhi syarat. Nilai LOD dan LOQ untuk metil paraben adalah 60,01 ng
dan 200,05 ng sedangkan untuk propil paraben adalah 60,22 ng dan 220,76 ng.
Nilai LOD dan LOQ menunjukkan bahwa agar metil paraben dan propil paraben
dapat terdeteksi kadar minimal untuk metil paraben dan propil paraben adalah
pada kadar LOD dan untuk dapat ditentukan kadarnya, kadar minimal metil
paraben dan propil paraben adalah pada kadar LOQ.

BAB VI
KESIMPULAN

6.1

Sampel krim pemutih yang diuji secara kualitatif dengan metode KLT
menandakan teridentifikasi senyawa golongan paraben, yang ditandai
dengan harga Rf metil paraben untuk sampel I, II, dan III pada panjang
gelombang maksimum 255 nm adalah sama yakni 0,47. Sedangkan harga Rf
propel paraben untuk sampel I, II, dan III pada panjang gelombang

6.2

maksimum 255 nm adalah sama yakni 0,61.


Uji Kuantitatif sampel krim pemutih dilakukan dengan metode KLTSpektrofotodensitometer, diperoleh kadar metil paraben dalam sampel I,II,
III berturut-turut adalah 0,092% ; 0,092% ; 0,068% . Sedangkan kadar
propil paraben dalam sampel I,II, III berturut-turut adalah 0,044%; 0,04%;
0,02%. Kadar yang didapat telah memenuhi persyaratan sesuai yang
tercantum dalam Peraturan Kepala BPOM RI Nomor: HK.00.05.42.1018
tentang Bahan Kosmetik yaitu penggunaan bahan pengawet dalam kosmetik
adalah < 0,4% sehingga kosmetik tersebut aman untuk digunakan.

6.3

Persamaan regresi linier yang diperoleh untuk metil paraben adalah y =


29.078x + 302.5 dengan r2=0,9803 dan untuk propil paraben y = 25.37x +
158.6 dengan r2 = 0,9762. Dari nilai koefisien korelasi tersebut, seri
konsentrasi metil paraben dan propil paraben menghasilkan linearitas yang
baik dan valid karena berada pada nilai lebih besar dari 0,95. Nilai LOD dan
LOQ untuk metil paraben adalah 60,01 ng dan 200,05 ng sedangkan untuk
propil paraben adalah 60,22 ng dan 220,76 ng.

DAFTAR PUSTAKA
Anief, Moh. 1997. Ilmu Meracik Obat. Yogyakarta: Gadjah Mada University
Press.
BPOM RI. 2003. Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan
Republik Indonesia Nomor HK.00.05.4.1745. Cited: 15 Januari 2012.
Available at: http://husinrm.files.wordpress.com/2008/02/kosmetik.pdf
Casoni, Dorina. 2010. Determination of the Lipophilicity of Some Food Additives
by Chromatographic Methods (tesis). Cluj-Napoca: Babes-Bolyai
University,

Cluj-Napoca

Faculty

of

Chemistry

and

Chemical

Engineering.
Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia.
Depkes R.I. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan
Republik Indonesia.
Gandjar, Ibnu Gholib dan Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis.
Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Harmita. 2004. Petunjuk Pelaksanaan Validasi Metode dan Cara Perhitungannya.
Majalah Ilmu Kefarmasian, Vol. I, No.3: Hal. 117 135.
Iswari, T. R, 2007. Buku Pegangan Ilmu Pengetahuan Kosmetik. Jakarta: Penerbit
Gramedia Pustaka Utama.
Kusmardiyani, Siti dan Asari Nawawi. 1992. Kimia Bahan Alam. Jakarta: Pusat
Antar Universitas Bidang Ilmu Hayati.
Masten, Scott A. 2005. Butyl Paraben, Review of Toxicological Literature. North
Carolina: National Toxicology Program (NTP), National Institute of
Environmental Health Sciences (NIEHS).
Moffat, Antonym C., M. David Osselton, and Brian Widdop. 2005. Clarke`s
Analysis of Drugs and Poisons. Third editions. London: The
Pharmaceutical Press.

Mulja, M. dan Suharman. 1995. Analisis Instrumental. Surabaya: Airlangga


University Press.
Munson, J.W. 1991. Analisis Farmasi Metode Modern. Surabaya: Airlangga
University Press.
Novianty, Tri. 2008. Pengaruh Formulasi Sediaan Losio terhadap Efektifitas
Minyak Buah Merah sebagai Tabir Surya Dibandingkan terhadap Sediaan
Tabir Surya yang Mengandung Oktinoksat. Jakarta: Program Studi
Farmasi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas
Indonesia.
Rajagopal, K. and S. S. Agrawal. 2011. Simultaneous Estimation Of PHydroxybenzoic Acid And Its Esters In Washoff / Leave- On Cosmetic
Products By Highperformance Thin Layer Chromatography. IJPSR, Vol.
2(1), 100-105
Rowe, Raymond C., Paul J. S., Paul J. W. 2009. Handbook of Pharmaceutical
Exipients. London: Pharmaceutical Press.
Satiadarma, K. 2004. Azas Pengembangan Prosedur Analisis, Edisi Pertama,
Cetakan Pertama. Surabaya: Airlangga University Press.
Sherma, J. and B. Fried. 1994. Handbook of Thin-Layer Chromatography. Third
Edition. New York: Marcel Dekker Inc.
Soni, M.G., S.L. Taylor, N.A., and Greenberg, G. A. Burdock. 2002 Food
Chemistry Toxicology. Heidelberg: Springer.
Stahl, Egon. 1985. Analisis Obat Secara Kromatografi dan Mikroskopi. Bandung:
Penerbit ITB.
Wasitaatmadja SM. 1997. Penuntun Ilmu Kosmetik Medik. Jakarta: UI
Press.