Anda di halaman 1dari 14

KEMENTERIAN KEUANGAN REPUBLIK INDONESIA

BADAN PENDIDIKAN DAN PELATIHAN KEUANGAN


SEKOLAH TINGGI AKUNTANSI NEGARA
TANGERANG SELATAN

MAKALAH

ANALISIS PENERAPAN LEAN ACCOUNTING DALAM PELAYANAN


"PERMOHONAN PENGUKUHAN PENGUSAHA KENA PAJAK"
DI DIREKTORAT JENDERAL PAJAK

Diajukan:
RYAN IMANUR SATYA
NPM: 144060006350
Kelas 7B STAR, No. Absen 31

Untuk Memenuhi Tugas Akhir Mata Kuliah


Akuntansi Manajemen Program Diploma IV Keuangan
Spesialisasi Akuntansi STAR BPKP Semester VII T.A. 2014/2015

PERNYATAAN KEASLIAN MAKALAH

Yang bertanda tangan di bawah ini saya, Ryan Imanur Satya, menyatakan bahwa makalah
saya dengan judul : "Analisis Penerapan Lean Accounting Dalam Pelayanan Permohonan
Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak di Direktorat Jenderal Pajak" adalah asli hasil karya
saya sendiri.
Dengan ini saya menyatakan bahwa makalah ini bukan hasil contekan atau jiplakan (sebagian
atau seluruhnya). Apabila saya terbukti melakukan tindakan yang bertentangan dengan hal
tersebut di atas, dengan ini saya menyatakan siap dikenai sanksi "Tidak Lulus".

Tangerang Selatan, 2 Maret 2015


Yang Membuat Pernyataan

Ryan Imanur Satya


NPM 144060006350

ii

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL MAKALAH.................................................................................

PERNYATAAN KEASLIAN MAKALAH ...................................................................

ii

DAFTAR ISI...............................................................................................................

iii

ABSTRAK..................................................................................................................

iv

I. PENDAHULUAN....................................................................................................

II. LANDASAN TEORITIS.........................................................................................

III. PEMBAHASAN.....................................................................................................

IV. SIMPULAN DAN SARAN.....................................................................................

DAFTAR PUSTAKA...................................................................................................

10

iii

Abstract
Lean accounting as one of management strategies to generate the shortest chain in business value stream
nowadays commonly used in the private sector. Lean accounting is considered could enhancing the products and
services quality while at the same time consuming a little time to produce it. Having characteristic that strongly
correlate with the profit oriented sector does not make it as barrier in the possibility of its implementation in public
sector. The possibility of lean accounting implementation in Directorate General of Taxes, one of public institution that
produce services such as the registration of PKP, is becoming a study that is expected could enhancing the service
quality to the taxpayer.
Keywords: Lean Accounting, Public Sector, Directorate General of Taxes, Registration of PKP ,Enhancing Service
Quality
Abstrak
Lean accounting adalah suatu pendekatan yang didesain untuk mendukung dan mendorong lean manufacturing.
Peran lean accounting sebagai salah satu strategi manajemen guna menghasilkan rantai terpendek dalam value
stream dewasa ini sangat umum digunakan dalam sektor swasta. Lean accounting dinilai dapat meningkatkan
kualitas produk barang dan jasa yang dihasilkan dengan jangka waktu yang lebih singkat. Karakteristik lean
accounting yang sangat erat dengan entitas profit-oriented tidak menjadikan hambatan dalam kemungkinan
penerapannya di sektor publik. Potensi penerapan lean accounting pada Direktorat Jenderal Pajak sebagai salah
satu institusi publik dengan produk layanan berupa penyelesaian permohonan pengukuhan pengusaha kena pajak
(PKP) menjadi kajian tersendiri yang diharapkan dan meningkatkan pelayanan kepada Wajib Pajak.
Kata Kunci: Lean Accounting, Sektor Publik, Direktorat Jenderal Pajak, Registrasi PKP, Peningkatan Kualitas
Layanan

iv

I.

Pendahuluan

Pada dasarnya, akuntansi manajemen berbeda dengan akuntansi dalam beberapa


hal. Informasi akuntansi manajemen ditujukan untuk pengguna internal, sedangkan
informasi akuntansi keuangan diarahkan untuk pengguna eksternal. Akuntansi manajemen
merupakan salah satu cabang ilmu turunan dari akuntansi, yang tujuan utamanya adalah
menyajikan laporan-laporan sebagai satu satuan usaha untuk kepentingan pihak internal
dalam rangka melaksanakan proses manajemen yang meliputi perencanaan,
pengorganisasiaan, pengarahan dan pengendalian. Banyak hal yang dilakukan dalam
kegiatan akuntansi manajemen guna menghasilkan laporan-laporan internal yang menjadi
dasar dalam pengambilan keputusan manjerial. Salah satu kegiatan yang dilakukan dalam
hal manajemen adalah lean manufacturing.
Untuk meningkatkan performa perusahaan, salah satu upaya yang dilakukan
manajemen adalah dengan menerapkan konsep lean manufacturing melalui lean
accounting. Lean Manufacturing secara teknisnya dapat didefinisikan sebagai suatu strategi
untuk mendapatkan rantai produksi terpendek dalan suatu organisasi bisnis melalui
eliminasi pemborosan atau waste-elimination. Pemborosan atau waste sendiri merupakan
hal-hal yang terjadi dalam serangkaian value stream yang tidak mempunyai nilai tambah
terhadap pelanggan atau konsumen. Sementara value stream merupakan semua kegiatan
baik yang bernilai tambah maupun tidak, yang diperlukan sejak produk mulai dipesan
pelanggan atau produk mulai dirancang hingga produk sampai ke tangan pelanggan.
Mengenai sejarah perkembangan Lean manufacturing, pada awalnya dikembangkan
oleh Toyota dan perusahaan-perusahaan Jepang lainnya. Ide atas lean manufacturing
terinspirasi dari kunjungan para eksekutif Toyota ke Ford Motor Company di tahun 1980-an
dan kemudian dikembangkan oleh pemimpin Toyota seperti Taiichi Ohni dan konsultan
Shigeo Shingo setelah Perang Dunia II. Lean accounting kemudian menjadi populer di tahun
1990-an setelah buku berjudul The Machine that Changed the World: The Story if Lean
Production (Womack, Jones, dan Roos 1991)diterbitkan dan dipublikasikan.
Saat ini strategi lean accounting telah mendunia. Lean acoounting secara luas
diterapkan oleh banyak industri manufaktur mulai dari industri automobile sampai dengan
industri elektronik yang bertujuan untuk peningkatan pelayanan, kualitas, dan penghematan
biaya. Perusahaan swasta secara berkesinambungan melakukan perbaikan atas proses
bisnis yang terjadi dengan waste-elimination. Namun dalam hal sektor publik atau
pemerintah, penerapan lean accounting sebagai salah satu strategi guna memberikan
pelayanan prima kepada masyarakat sebagai stakeholder masih jarang atau belum
diterapkan sama sekali di Indonesia. Hal ini bukan berarti bahwa lean accounting tidak dapat
diimplementasikan dalam bidang jasa yang disediakan oleh pemerintah. Di beberapa
pemerintahan di luar pemerintahan Indonesia, departemen atau institusi publik seperti
halnya di Swedish Municipalities, US Environmental Protection Agency (EPA) merupakan
beberapa contoh institusi publik yang menerapkan prinsip lean accounting dan mencapai
hasil yang mengesankan atas perkembangan proses pemerintahan dan pelayanan kepada
publik.
Kementerian Keuangan Republik Indonesia memiliki eselon I yang bergerak di
bidang perpajakan, yaitu Direktorat Jenderal Pajak. Terkait dengan tugas penghimpunan
dana pajak dari masyarakat, Direktorat Jenderal Pajak juga melakukan berbagai macam
kegiatan pelayanan kepada masyarakat. Salah satu bentuk pelayanan kepada masyarakat
adalah pelayanan dalam hal penerbitan surat pengukuhan pengusaha kena pajak (PKP).
Layanan ini tercantum dalam 16 layanan unggulan Kementerian Keuangan Republik
Indonesia.
Pada tulisan ini, penulis akan mencoba menjabarkan prinsip lean accounting dan
proses bisnis pelayanan pemberian surat pengukuhan pengusaha kena pajak (PKP) serta
melakukan analisis dengan kemungkinan penerapan lean accounting dalam kegiatan
pelayanan penerbitan surat pengukuhan pengusaha kena pajak (PKP) tersebut.

Profil Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Republik Indonesia


Direktorat Jenderal Pajak adalah sebuah direktorat jenderal dengan tingkatan eselon
I di bawah Kementerian Keuangan Republik Indonesia yang mempunyai tugas di bidang
perpajakan, di antaranya merumuskan serta melaksanakan kebijakan dan standardisasi
teknis di bidang perpajakan. Dalam melaksanakan tugasnya, Direktorat Jenderal Pajak
menyelenggarakan fungsi :

Penyiapan perumusan kebijakan Kementerian Keuangan di bidang perpajakan.


Pemberian bimbingan teknis dan evaluasi di bidang perpajakan.
Pelaksanaan administrasi direktorat jenderal.
Pelaksanaan kebijakan di bidang perpajakan.
Perumusan standar, norma, pedoman, kriteria, dan prosedur di bidang perpajakan.

Salah satu bentuk layanan yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Pajak adalah
pelayanan penyelesaian permohonan pengukuhan pengusaha kena pajak (PKP) yang
termasuk di dalam komitmen 16 layanan unggulan Direktorat Jenderal Pajak kepada para
Wajib Pajak.

II.

Landasan Teoritis

Untuk meningkatkan performa perusahaan, salah satu upaya yang dilakukan


manajemen adalah dengan menerapkan konsep lean manufacturing melalui lean
accounting.Lean Accounting terdiri atas pengaturan biaya melalui value stream, mengubah
teknik penilaian persediaan, dan modifikasi laporan keuangan agar memasukkan informasi
non-finansial.
Lean accounting adalah suatu pendekatan dan konsep yang didesain untuk
mendukung dan mendorong proses lean manufacturing. Untuk menghindari berbagai
hambatan dan masalah, berbagai perubahan danlam perhitungan biaya produk dan
pendekatan pengendalian operasional akan dibutuhkan ketika berpindah ke sistem lean
manufacturing yang berbasis arus nilai. Perhitungan biaya rata-rata, pelaporan biaya arus
nilai, dan penggunaan intensif berbagai ukuran non-keuangan untuk pengendalian
operasional adalah ciri pendekatan lean accounting. Biaya produk rata-rata adalah total
biaya arus nilai periode terkait dibagi dengan unit yang dikirimkan pada periode tersebut.
Laporan perhitungan biaya arus nilai melaporkan berbagai pendapatan dan biaya
sesungguhnya setiap periode (untuk tiap arus nilai). Sistem pengendalian lean
menggunakan box scorecard untuk membandingkan berbagai metriks operasional.
Kapasitas dan keuangan dengan kinerja periode sebelumnya serta dengan kondisi di masa
depan yang diinginkan. Kesederhanaan dan kesesuaian adalah ciri lean accounting.
Lean manufacturing adalah strategi untuk mendapatkan rantai produksi terpendek
melalui eliminasi pemborosan atau waste-elimination. Tujuan lean manufacturing adalah
mengurangi inventori dan selalu memenuhi permintaan konsumen. Keuntungannya adalah
biaya yang lebih rendah, kualitas yang lebih tinggi, dan waktu yang lebih cepat.
Lean manufacturing meliputi semua konsep dan teknik yang bertujuan untuk
menyederhanakan bisnis sampai pada kegiatan-kegiatan yang esensial saja yang
diperlukan untuk memenuhi kebutuhan pelanggan dengan cara lebih efektif dan
menguntungkan (Brosnahan, 2008). Selanjutnya Guan et al., (2009) menyatakan bahwa
terdapat dua tujuan utama lean manufacturing, yaitu mengeliminasi item-item yang tidak
bernilai tambah dan menciptakan nilai bagi pelanggan. Fokus lean manufacturing meliputi
nilai pelanggan, value stream, aliran produksi, demand-pull, dan kesempurnaan.
Maskell dan Baggaley (2006) menguraikan visi lean accounting sebagai berikut:
"Dalam mendukung lean manufacturing, lean accounting mempunyai 4 (empat) visi.
Pertama, lean accounting menyediakan informasi yang akurat, tepat waktu, dan mudah
dipahami untuk memotivasi transfomasi falsafah lean ke seluruh bagian organisasi, dan
dalam rangka pengambilan keputusan yang bertujuan meningkatkan nilai bagi pelanggan,
2

pertumbuhan, profitabilitas, dan arus kas. Kedua, lean accounting adalah mengeliminasi
kegiatan-kegiatan yang tidak bernilai tambah dengan tetap mempertahankan pengendalian
finansial menyeluruh. Ketiga, lean accounting patuh pada prinsip-prinsip akuntansi berterima
umum, regulasi pelaporan ekstern, dan persyaratan pelaporan intern. Keempat, lean
accounting mendukung lean culture dengan mendorong investasi pada sumber daya
manusia, menyediakan informasi yang relevan dan actionable, serta memberdayakan
continuous improvement (CI) pada setiap tingkatan dalam organisasi."
Tujuh Pemborosan (7 waste) adalah jenis-jenis pemborosan yang terjadi di dalam
proses manufaktur ataupun jasa, yakni Transportasi, Persediaan, Gerakan, Menunggu,
Proses yang berlebihan, Produksi yang berlebihan, dan Barang rusak. Di dalam Bahasa
Inggris, dikenal dengan istilah TIMWOOD (Transportation, Inventory, Motion, Waiting, Overprocessing, Over-production, Defect). Tujuh pemborosan ini diperkenalkan oleh Taiichi
Ono dari Jepang yang bekerja untuk Toyota dan diperkenalkan dalam sistem produksi yang
dikenal dengan Toyota Production System.
1. Transportasi
Transportasi barang, baik itu bahan mentah, produk setengah jadi, ataupun produk jadi
baik yang dilakukan di dalam areal pabrik ataupun dari penyalur merupakan pemborosan.
Setiap pergerakan, menambah risiko barang itu rusak, hilang, atau terlambat terkirim.
Selain itu, transportasi tidak mengubah bentuk benda dan tidak menambah nilai barang,
sehingga pelanggan tidak mau membayar biaya transportasi ini. Di dalam konsep lean
manufacturing, segala jenis Transportasi ini harus diminimasi melalui tata letak yang
sebaik mungkin.
2. Inventori
Inventori adalah salah satu pemborosan terbesar karena inventori memakan modal,
menjadi usang dan mengkonsumsi ruang dan tenaga kerja, sementara hanya duduk.
Inventori juga bisa menyembunyikan masalah-masalah lainnya. Hampir setiap
ketidaksempurnaan dalam sebuah sistim atau masalah menciptakan suatu kebutuhan
untuk meningkatkan inventori.
3. Gerakan
Gerakan yang tidak perlu juga dikategorikan sebagai pemborosan, baik itu pergerakan
pekerja untuk melakukan sesuatu yang tidak perlu, ataupun pergerakan material yang
tidak perlu.
4. Menunggu
Pada saat sebuah barang tidak bergerak atau tidak di proses, barang tersebut berstatus
menunggu (idle). Menunggu bisa disebapkan oleh banyak hal. Menunggu bisa
dikarenakan oleh inventori terlalu banyak, menunggu karena apa mesin atau peralatan
rusak, menunggu untuk dikirim, menunggu karena sistem pengerjaan borongan dan lainlain.
5. Proses yang berlebihan
Proses yang berlebihan bisa terjadi bila proses pengerjaan sebuah produk melebihi apa
yang diinginkan oleh pelanggan. Termasuk di dalamnya penggunaan peralatan yang
lebih presisi atau lebih canggih dari yang dibutuhkan.
6. Produksi yang berlebihan
Produksi yang berlebihan bisa diartikan bahwa sebuah produk dibuat dalam jumlah yang
melebihi apa yang dibutuhkan pelanggan. Dapat juga diartikan sebuah produk dibuat
terlalu cepat dibandingkan dengan tanggal yang diinginkan pelanggan. Hal ini sering
3

terjadi pada saat proses produksi menggunakan sistim borongan dengan jumlah besar.
Produksi yang berlebihan membawa pemborosan-pemborosan yang lain seperti inventori
yang berlebihan, yang akhirnya membutuhkan sumberdaya untuk penyimpanan,
transportasi untuk menyimpan produk yang belum dikirim ke pelanggan.
7. Barang rusak
Barang rusak, adalah pemborosan yang paling mudah dikenali. Barang rusak dimanapun
terjadinya pelanggan tidak mau membayarnya, sehingga menimbulkan biaya lebih untuk
melakukan perbaikan, atau memproduksi ulang, dan lain-lain. Walaupun ada beberapa
barang rusak yang bisa diperbaiki, namut proses perbaikan itu sendiri membutuhkan
sumber daya yang seharusnya tidak perlu ada.
Ketujuh bentuk waste di atas pada awalnya ditujukan untuk perusahan-perusahaan
yang bergerak di dalam bidang manufaktur. Namun saat ini dalam perkembangannya waste
juga dapat diidentifikasi dalam perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang jasa dan
bahkan juga di instansi pemerintah yang kegiatan utamanya adalah pemberian jasa publik
kepada masyarakat luas. Berikut adalah contoh pemborosan atau waste yang dapat terjadi
dalam kegiatan adminsitratif pelayanan yang diberikan oleh instansi pemerintah kepada
masyarakat.
Tabel 1
Daftar Contoh Pemborosan (Waste)
Pemborosan

Contoh

Inventori (Inventory)

Tumpukan pekerjaan yang belum kerjakan


(permit, plan approval) bahan atau info yang
berlebihan database/file/folder yang using

Barang Rusak (Defects)

Data yang eror, informasi yang hilang,


kesalahan dalam dokumen, instruksi atau
persyaratan yang membingungkan,
kesalahan pengetikan

Produksi yang berlebihan (Over Production)

Laporan dan salinan yang tidak dibutuhkan,


pesan elektronik yang berlebihan,
melakukan pekerjaan administratif yang tidak
dibutuhkan

Kompleksitas (Complexity)

Langkah-langkah proses yang tidak


dibutuhkan, terlalu banyak tingkatan
autorisasi dalam bentuk tanda tangan, job
description yang tidak jelas

Menunggu (Waiting)

Waktu yang diperlukan dalam kaitannya


dengan siklus approval, menunggu informasi
atau keputusan, menunggu orang yang
sedang dalam meeting

Gerakan Berlebih (Excess Motion)

Perjalanan ke mesin printer dan mesin


fotokopi, kegiatan yang tidak dibutuhkan
untuk mencari file atau suplai.

Benda bergerak (Moving Item) / Transportasi

Penyaluran laporan, perjalanan/pergerakan


dokumen, penyimpanan dokumen

III.

Pembahasan

Di sini akan dibahas analisis penerapan lean accounting dalam pelayanan


permohonan pengukuhan pengusaha kena pajak di Direktorat Jenderal Pajak. Terkait
dengan kegiatan pelayanan yang diberikan oleh Direktorat Jenderal Pajak, terdapat 16
Layanan unggulan Direktorat Jenderal Pajak kepada para Wajib Pajak sebagaimana diatur
dalam Keputusan Menteri Keuangan Nomor 187/KMK.01/2010 tentang Standar Prosedur
Operasi (Standard Operating Procedure) Layanan Unggulan Kementerian Keuangan. Ke-16
Layanan Unggulan tersebut adalah sebagai berikut :
1. Pelayanan penyelesaian permohonan pendaftaran Nomor Pokok Wajib Pajak
(NPWP)
2. Pelayanan penyelesaian permohonan pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP)
3. Pelayanan penyelesaian permohonan pengembalian kelebihan pembayaran Pajak
Pertambahan Nilai (PPN)
4. Pelayanan penerbitan Surat Perintah Membayar Kelebihan Pajak (SPMKP)
5. Pelayanan penyelesaian permohonan keberatan penetapan pajak penghasilan,
Pajak Pertambahan Nilai (PPN), dan pajak penjualan atas barang mewah
6. Pelayanan penyelesaian Surat Keterangan Bebas (SKB) Pemungutan PPh Pasal 22
impor
7. Pelayanan penyelesaian permohonan pengurangan PBB
8. Pelayanan pendaftaran obyek pajak baru dengan penelitian kantor
9. Pelayanan penyelesaian mutasi seluruhnya obyek dan subjek PBB
10. Pelayanan penyelesaian permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) pemotongan
PPh pasal 23
11. Pelayanan penyelesaian permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) pemotongan
PPh atas bunga deposito dan tabungan serta diskonto SBI yang diterima atau
diperoleh dana pension yang pendiriannya telah disahkan oleh Menteri Keuangan
12. Pelayanan penyelesaian permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) PPh atas
penghasilan dari pengalihan ha katas tanah dan/atau bangunan
13. Pelayanan penyelesaian permohonan Surat Keterangan Bebas (SKB) PPN atas
barang kena pajak (BKP) tertentu
14. Pelayanan penyelesaian permohonan keberatan Pajak Bumi dan Bangunan
15. Pelayanan penyelesaian permohonan pengurangan atau penghapusan sanksi
administrasi
16. Pelayanan penyelesaian permohonan pengurangan atau pembatalan ketetapan
pajak yang tidak benar
Pelayanan penyelesaian permohonan pengukuhan pengusaha kena pajak (PKP)
merupakan bentuk pelayanan yang langsung dirasakan oleh masyarakat luas. Dalam
pemberian pelayanan penyelesaian permohonan pengukuhan pengusaha kena pajak
(PKP), janji pelayanan kepada masyarakat yang ditetapkan oleh Direktorat Jenderal Pajak
adalah 1 hari kerja sejak permohonan diterima lengkap, artinya permohonan pengukuhan
5

pengusaha kena pajak (PKP) yang diajukan ke kantor pelayanan pajak harus diselesaikan
paling lambat hari kerja berikutnya.
Proses Dalam Penyelesaian Permohonan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP)
Sehubungan dengan permohonan permohonan pengukuhan pengusaha kena pajak
(PKP), permohonan dapat diajukan secara langsung ke Kantor Pelayanan Pajak dimana
Wajib Pajak berdomisili. Berdasarkan Keputusan Menteri Keuangan Nomor
187/KMK.01/2010 tentang Standar Prosedur Operasi (Standard Operating Procedure)
Layanan Unggulan Kementerian Keuangan, prosedur yang dilakukan dalam hal
permohonan pengukuhan pengusaha kena pajak (PKP) yang diajukan kepada Kantor
Pelayanan Pajak adalah sebagaimana digambarkan dalam bagan 1 berikut :
Gambar 1
Flowchart Permohonan Pengukuhan Pengusaha Kena Pajak (PKP)

Pada flowchart di atas diketahui bahwa dalam proses penyelesaian permohonan


pengukuhan pengusaha kena pajak (PKP) melibatkan tiga pihak, yaitu dimulai dari
permohonan oleh Wajib Pajak, dan diselesaikan oleh petugas pendaftaran wajib pajak dan
kepala seksi pelayanan. Berdasarkan proses bisnis terkait yang dapat dilihat pada flowchat
di atas dan pada pelaksanaannya di lapangan, maka sesuai dengan prinsip Lean
manufacturing maka akan dilakukan identifikasi atas hal-hal yang merupakan waste di
dalam proses penyelesaian permohonan pengukuhan pengusaha kena pajak. Sejumlah
waste yang teridentifikasi dapat dilihat pada tabel 1 berikut :

Tabel 2
Daftar Pemborosan (Waste) Pada Proses Pengukuhan PKP
Pemborosan (Waste)

Inventori (Inventory)

Barang Rusak (Defects)

Menunggu (Waiting)

Gerakan Berlebih (Excess Motion)

Jenis Pemborosan (Waste)


Biasanya
berkas-berkas
permohonan
pengukuhan pengusaha kena pajak (PKP)
mengalami penumpukan karena intensitas
permohonan tersebut memiliki kuantitas
yang besar, baik yang masuk dari Wajib
Pajak yang datang langsung, maupun
permohonan yang disampaikan melalui surat
pos
Data yang akan dimasukkan ke dalam
berkas-berkas permohonan pendaftaran
pengusaha kena pajak (PKP) seperti formulir
dan persyaratannya tidak valid atau tidak
lengkap, misalnya terdapat salah penulisan
atau syaratnya tidak lengkap. Dalam hal
formulir dan persyaratannya belum lengkap,
maka akan dikembalikan kepada Wajib
Pajak untuk dilengkapi
Dalam proses menunggu persetujuan
(approval) dari kepala seksi pelayanan untuk
menandatangani Surat Pengukuhan atau
Penolakan Pelaporan Pengusaha Kena
Pajak (PKP) kepada Wajib Pajak
Alokasi mesin cetak yang jauh dari petugas
pendaftaran wajib pajak sehingga terdapat
gerakan berlebih (excess motion) dari
tahapan pelayanan ini

Berdasarkan prinsip Lean Accounting, maka setelah dilakukan identifikasi atas


macam-macam waste dalam value stream penyelesaian permohonan pengukuhan
pengusaha kena pajak (PKP), maka dilakukan penghapusan atas waste tersebut sebagai
berikut :
1. Inventory (Inventori)
Seperti telah dijabarkan dalam identifikasi di atas bahwa tumpukan berkas-berkas
pendaftaran PKP yang harus diproses ini terjadi dikarenakan jalur masuk permohonan
dari dua jalur yaitu dari permohonan melalui surat pos dan permohonan dari Wajib Pajak
yang datang langsung. Untuk meminimalisasi terjadinya backlog atau tumpukan
pekerjaan (berkas-berkas) yang harus diselesaikan maka hal yang harus dilakukan
adalah melalui penambahan jumlah pegawai yang menangani dan berfokus pada bagian
pendaftaran PKP (registrasi PKP). Sebagaimana diketahui bahwa salah satu
permasalahan di Direktorat Jenderal pajak adalah jumlah pegawai pajak yang kurang.
Kemudian harus ditetapkan masing-masing pegawai yang bertanggung jawab untuk
menyelesaikan permohonan PKP yang masuk dari Wajib Pajak Langsung maupun dari
Kantor Pos. Penambahan jumlah pegawai yang menangani registrasi PKP akan secara
signifikan mengurangi jumlah backlog yang terjadi.
2. Barang Rusak (Defect)
Yang dimaksud dalam barang rusak (defect) adalah terjadinya error dalam pengisian
data yang disebabkan pengisian oleh Wajib Pajak pada formulir pendaftaran PKP yang
salah ataupun data yang diisi dalam formulir pendaftaran PKP tidak terdapat atau tidak
dapat diproses di dalam sistem database. Defect juga dapat berupa dokumen yang
7

dipersyaratkan dalam permohonan pengukuhan PKP tidak lengkap sehingga


permohonan yang masuk yang telah diterima tidak dapat diproses lebih lanjut sehingga
menjadi inventory defects. Dalam praktiknya seringkali Permohonan PKP diterima hanya
dengan melihat semua formulir yang harus diisi, telah diisi oleh Wajib Pajak tanpa
meneliti lebih lanjut mengenai isiannya. Dalam praktiknya kebanyakan petugas pajak
akan menerima permohonan PKP dan menerbitkan bukti penerimaan surat dan
mengambil formulir permohonan PKP pada hari kerja berikutnya. Sehingga akan
semakin menumpuk inventory defects-nya. Dan juga hal ini banyak menyebabkan
formulir yang defect. Solusi penghapusan waste defect ini adalah dengan memproses
langsung permohonan yang diterima secara langsung sehingga formulir yang
bermasalah dapat langsung dikonfirmasi kepada pemohonnya. Kemudian petugas pajak
harus langsung meneliti isian dalam formulir tersebut apakah sudah lengkap dan benar
sehingga tidak menimbulkan masalah dari waste ini di kemudian hari. Jika solusi ini
diterapkan secara konsisten maka kerugian dari waste ini akan berkurang secara
signifikan.
3. Menunggu (Waiting)
Meminta tanda tangan (approval) dari kepala seksi pelayanan merupakan salah satu
otorisasi yang harus dilakukan dalam proses penerbitan surat pengukuhan pengusaha
kena pajak (PKP). Dalam hal kepala seksi pelayanan sedang melakukan perjalanan
dinas maka perlu ditetapkan pejabat pengganti sementara sehingga tidak menghambat
proses pelayanan permohonan pengukuhan pengusaha kena pajak (PKP).
4. Gerakan Berlebihan (Excess Motion)
Seringkali di dalam seksi pelayanan mesin cetak (printer dan mesin fotokopi) diletakkan
pada posisi yang jauh dari petugas pendaftaran PKP agar terjangkau oleh semua
petugas. Hal ini sesungguhnya menimbulkan waste dikarenakan gerakan yang
berlebihan untuk menuju mesin cetak tersebut. Sehingga penghapusan waste pada hal
ini dapat dilakukan dengan menambah mesin cetak khusus untuk diletakkan dekat
dengan petugas pendaftaran PKP. Dengan solusi ini maka akan diperoleh waste
elimination yaitu berupa efesiensi pergerakan petugas pendaftaran PKP ke mesin cetak
khusus tersebut.

IV.

Simpulan dan Saran

Lean Manufacturing merupakan salah satu strategi manajemen yang bisa juga diterapkan
tidak hanya di dalam sektor swasta atau komersial, tetapi bisa juga diterapkan di dalam
sektor publik (pemerintahan). Lean manufacturing yang diterapkan di sektor pemerintahan
lebih memfokuskan bagaimana menghapus waste guna meningkatkan waktu pelayanan.
Lean Manufacturing di sini lebih bertujuan pada peningkatan pelayanan guna peningkatan
kepuasan pelanggan (masyarakat itu sendiri). Dalam alur proses penerbitan surat
pengukuhan pengusaha kena pajak (PKP) dapat diidentifikasi pemborosan (waste) berupa :
backlog inventory, defect, waiting, dan excessive movement. Kemudian atas waste tersebut
dilakukan penghapusan (waste elimination), yang akan berdampak semakin singkatnya
waktu pelayanan. Solusi-solusi yang diterapkan untuk penghapusan waste tersebut
diharapkan akan meningkatkan pelayanan dan meningkatkan kepuasan pelanggan
(masyarakat itu sendiri). Karena sektor publik harus selalu berfokus pada pemberian
layanan publik semaksimal mungkin. Yang terpenting dari solusi-solusi tersebut adalah
konsistensi sehingga minimalisasi atas waste tersebut akan berkurang secara signifikan.

Saran
Lean Manufacturing ini membutuhkan komitmen yang kuat dari pimpinan, membutuhkan
konsistensi dari seluruh pihak yang terlibat untuk terus menerus melakukan continuous
improvement (perbaikan dan perkembangan yang berkelanjutan), serta membutuhkan
dukungan (support) yang kuat dari pihak pemangku kebijakan (eksekutif) di Kementerian
Keuangan.
8

Saran dan solusi untuk permasalahan di sini adalah perlunya diberikan pelatihan-pelatihan
kepada para petugas pajak (baik pelatihan ekstern maupun pelatihan intern) sehingga
dengan sendirinya akan menambah kualitas dalam diri petugas pajak tersebut. Kualitas di
sini bisa didefinisikan sebagai pemahaman teori dan praktik dalam dunia perpajakan.
Dengan peningkatan kualitas (soft quality) dari petugas pajak maka diharapkan bisa
menambah nilai (value-added) kepada para pelanggan (Wajib Pajak) secara
berkesinambungan. Terlebih lagi akan menjadi suatu budaya positif (positive culture) di
lingkungan Direktorat Jenderal Pajak Kementerian Keuangan Republik Indonesia.

Daftar Pustaka
Don R. Hansen dan Maryanne M. Mowen, 2007, Management Accounting, Eight Edition,
Thomson South-Western, United States of America
Keputusan Menteri Keuangan Nomor 187/KMK.01/2010 tentang Standar Prosedur Operasi
(Standard Operating Procedure) Layanan Unggulan Kementerian Keuangan
Ray H. Garrison dan Eric W. Noreen, 2008, Managerial Accounting, Twelfth Edition, Irwin
McGraw-Hill, North America
United States Environmental Protection Agency. 2009. Lean in Government Starter Kit
Version 2.0 : How to Implement Successful Lean Initiatives at Environmental Agency, United
States of America

10