Anda di halaman 1dari 19

1

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................................................

ii

DAFTAR ISI...............................................................................................................................

iii

BAB 1...........................................................................................................................................

PENDAHULUAN.......................................................................................................................

1.1

Latar Belakang.......................................................................................................................1

1.2

Rumusan Masalah..................................................................................................................1

1.3

Tujuan....................................................................................................................................2

BAB II.......................................................................................................................................3
PEMBAHASAN.......................................................................................................................3
2.1

Pengertian dan Arti Penting dari Penganggaran Modal.........................................................3

2.2

Jenis-Jenis Keputusan Penganggaran Modal.........................................................................3

2.3

Konsep Cash Flow.................................................................................................................5

2.4

Metode-Metode Penilaian Usul Investasi..............................................................................5

2.4.1

Net Present Value (NPV)................................................................................................7

2.4.2

Internal rate of return (IRR)...........................................................................................8

2.4.3

Metode IRR yang dimodifikasi (MIRR)........................................................................8

2.4.4

Profitability Index (PI)...................................................................................................9

2.5

Konflik Antara Metode NPV dan IRR.................................................................................10

2.6

Penilaian Proyek Investasi Yang Tidak Sama Umurnya......................................................11

2.7

Penjatahan Modal (Capital Rationating).............................................................................13

2.8

Pengaruh Inflasi Terhadap Capital Budgeting.....................................................................15

BAB III....................................................................................................................................18
PENUTUP...............................................................................................................................18
Kesimpulan.....................................................................................................................................18
DAFTAR PUSTAKA......................................................................................................................18
Lampiran.........................................................................................................................................19

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam sebuah perusahaan sering kali manajer dihadapkan dengan keputusan-keputusan untuk
investasi jangka panjang. Keputusan-keputusan seperti apakah perusahaan harus mengganti
peralatan yang sudah habis masa pakainya ? atau harus meningkatkan output dari produk
berjalan ?. keputusan-keputusan itu disebut dengan keputusan penganggaran modal (capital
budgeting).
Keputusan-keputusan penganggaran modal dihadapi oleh para manajer dalam semua jenis
organisasi, termasuk organisai-organisasi keagamaan, pelayanan kesehatan, dan instansi
pemerintahan. Terdapat banyak model-model keputusan yang berbeda-beda yang digunakan bagi
penganggaran modal.
Penganggaran modal atau capital budgeting timbul untuk menguraikan perencanaan jangka
panjang untuk melakukan dan membiayai pengeluaran-pengeluaran jangka panjang untuk
melakukan dan membiayai pengeluaran-pengeluaran proyek atau program-program yang
mempengaruhi hasil-hasil keuangan lebih dari setahun.
Masalah-masalah penganggaran modal mempengaruhi hampir semua organisasi. Karena
banyaknya faktor yang tidak dapat diketahui jumlahnya, organisasi yang dikelola dengan baik
cenderung akan mengumpulkan dan mengukur faktor-faktor yang dapat diketahui sebanyak
mungkin sebelum mengambil keputusan. Selain itu karena perusahaan atau organisasi memiliki
sumber-sumber yang terbatas, mereka harus mengadakan pilihan di antara berbagai investasi, jadi
harus dibentuk suatu dasar bagi perbandingan.

1.2 Rumusan Masalah


1.2.1 Apakah Pengertian dan Arti Penting dari Penganggaran Modal?
1.2.2 Apakah jenis-jenis usul investasi?
1.2.3 Apakah kriteria yang ideal dalam penganggaran modal?
1.2.4 Apakah konsep cash flow?
1.2.5 Apakah metode-metode penilaian usul investasi?

1.3 Tujuan
Makalah ini dibuat untuk memberikan pengetahuan yang lebih kepada pembaca juga
penulis, sekaligus untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah yang dosen berikan kepada
penulis.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian dan Arti Penting dari Penganggaran Modal


Penganggaran modal adalah proses perencanaan pengeluaran modal untuk memperoleh
asset yang aliran kasnya diperkirakan di atas satu tahun (Brigham and Houston; 2003 ; Rosyd
2009). Penganggaran modal mencakup keseluruhan proses penganalisisan proyek-proyek dan
penetapan proyek mana yang akan dimasukkan ke dalam penganggaran modal. Ada dua jenis
proyek dalam penganggaran modal, yaitu: proyek independen dan proyek saling ekslusif (Hansen
dan Mowen, 2005). Proyek independen adalah proyek yang jika diterima atau ditolak, tidak akan
mempengaruhi arus kas proyek lainnya sedangkan proyek saling ekslusif adalah proyek-proyek
yang apabila diterima, akan menghalangi penerimaan proyek lainnya. Misalkan, keputusan untuk
mengotomatisasi proses produksi menggantikan sistem manual yang selama ini dipakai.
Keputusan ini akan menghilangkan sistem produksi manual yang selama ini dipakai karena
hanya salah satu sistem yang akan dipakai. Proses penganalisaan dan penetapan proyek dalam
penganggaran modal akan melibatkan tiga faktor utama yang saling terkait yaitu manfaat, waktu,
dan resiko. Faktor manfaat terkait dengan aliran kas masuk bagi perusahaan di masa depan.
Faktor waktu terkait dengan jeda waktu antara investasi di awal periode dengan realisasi kas
masuk. Sedangkan faktor resiko terkait dengan tingkat resiko yang dihadapi sehubungan dengan
realisasi dari kas masuk di masa depan (Belkaoui, 1993; Rosyd 2009).

2.2 Jenis-Jenis Keputusan Penganggaran Modal


a. Ekspansi
Motif umum untuk melakukan pengeluaran modal adalah dengan meningkatkan
kapasitas perusahaan melalui pembelian aktiva tetap, seperti tanah dan pabrik.
b. Penggantian
Dengan tumbuhnya perusahaan dan mencapai tahap dewasa, banyak pengeluaran modal
yang dikeluarkan untuk penggantian atau pembaharuan dari aktiva yang usah. Suatu saat
mesin membutuhkan perbaikan besar dan pengeluaran untuk perbaikan tersebut perlu
dievaluasi dibandingkan dengan manfaat dari penggantian tersebut.
c. Pembaharuan
Seringkali dilakukan sebagai alternatif dari penggantian. Pembaharuan meliputi
pembangunan kembali, pemeriksaan yang sangat teliti, penyesuaian kembali dari
5

mesin/fasilitan. Misalnya, mesin bor dapat diperbaharui dengan mengganti motornya dan
menambah sistem kontrol numerik. Baik penggantian maupun pembaharuan yang dilakukan
oleh perusahaan dapat meningkatkan efisiensi.
d. Tujuan lain
Beberapa pengeluaran modal tidak hanya ditujukan untuk perolehan aktiva tetap yang
berwujud tetapi menggunakan dana perusahaan yang berjangka waktu lama dan diharapkan
menghasilkan di masa yang akan datang. Misalnya, pengeluaran untuk iklan, penelitian dan
pengembangan, konsultasi manajemen, produk baru.
2.2.1 Manfaat Anggaran Modal
1 Dana akan terikat untuk jangka waktu yang panjang
2 Investasi pada aktiva tetap diharapkan akan meningkatkan penjualan dimasa yang akan
3
4

datang.
Pengeluaran dana sangat besar dan sulit untuk menjual kembali hasil investasi
Kesalahan dalam pengambilan keputusan akan berakibat fatal.

2.2.2 Manfaat penyusunan anggaran modal


1 Bidang Perencanaan
2

Merencanakan penanaman modal yang sehat.


Bidang Koordinasi
Mengkoordinir penanaman modal dalam kaitannya dengan :
Kebutuhan pembelanjaan, yakni kebutuhan kas
Pelaksanaan investasi pada berbagai aktivitas operasional
Potensi Penjualan
Potensi Keuntungan
Potensi Return on Investment
Bidang Pengendalian
Mengendalikan perubahan modal

2.3 Konsep Cash Flow


Untuk mempermudah analisis, aliran kas investasi dikelompokkan menjadi tiga, yaitu
aliran kas awal, aliran kas periode operasi produksi, dan aliran kas terminal.
2.3.1

Aliran kas awal (Initial Cash Flow)

Aliran kas awal (Initial Cash Flow) adalah pengeluaran untuk merealisasi gagasan
sampai menjadi kenyataan fisik, misalnya aliran kas langsung pengeluaran biaya
membangun unit instalasi (produksi) baru sampai siap beroperasi, yang terdiri dari

baya prakonstruksi, pembelian material dan peralatan, konstruksi, dan modal kerja.
Untuk proyek ukuran besar aliran kas awal dapat berlangsusng sekama 2-3 tahun.
2.3.2

aliran kas periode operasi (Operational Cash Flow)

Periode ini jumlah pendapatan dari hasil penjualan produk telah melampaui
pengeluaran biaya operasi dan produksi.
2.3.3 Aliran kas terminal (terminal cash flow)
Aliran kas terminal (terminal cash flow) terdiri atas nilai sisa dari aset dan
pengembalian modal kerja.
2.4 Metode-Metode Penilaian Usul Investasi
2.4.1

payback period
Payback period didefinisikan sebagai sejumlah tahun yang dibutuhkan untuk

mengembalikan biaya suatu proyek Metode ini mengabaikan arus kas diluar periode
pembayaran kembali

dan tidak mempertimbangkan nilai waktu dari uang. Akan

tetapi , pembayaran kembali memberikan indikasi mengenai risiko dan likuiditas suatu
proyek, karena menunjukkan berapa lama modal yang diinvestasikan akan berada
dalam risiko.
Kelebihan:
1. Perhitungannya mudah dan sederhana
2. Mempertimbangkan aliran kas dan bukan laba secara akuntansi
3. Sebagai alat pertimbangan resiko karena makin pendek periode pengembalian
makin rendah resiko kerugian
Kelemahan:
1. Tidak dapat secara khusus menentukan maksimilisasi kekayaan perusahaan
2. Tidak memperhatikan nilai waktu dari uang
3. Tidak dapat mengenali aliran kas yang terjadi setelah periode
2.4.1

Net Present Value (NPV)


Nilai bersih sekarang (NPV), merupakan teknik penganggaran modal

yang rumit. Nilai bersih sekarang diperoleh dari nilai sekarang aliran kas bersih yang
didiskonto dengan tingkat bunga yang sama dengan biaya modal yang telah ditentukan
perusahaan dikurangi nilai investasi awal.

Rumus:
NPV = nilai sekarang dari aliran kas bersih investasi awal
PT. Widyatama
Perhitungan Nilai Bersih Sekarang (NPV)
Dengan tingkat bunga 18%
(dalam rupiah)
Aliran kas bersih
Tabel FBNS

Tahun

NS

18%
1
2
3
4
5
Sisa Inv.
Tanah
Jumlah nilai sekarang
Investasi
NPV
2.4.2

83.980.750.000
83.661.200.000
91.747.474.000
91.351.425.830
102.376.430.172
141.487.500.000
45.000.000.000

0,847
0,718
0,609
0,516
0,437
0,437
0,437

71.131.695.250
60.068.741.600
55.874.211.666
47.137.335.728
44.738.499.985
61.830.037.500
19.665.000.000
360.445.521.729
327.975.000.000
32.470.521.729

Internal rate of return (IRR)


Metode pengembalian internal didefinisikan sebagai tingkat diskonto

yang memaksa NPV proyek sama dengan nol. Proyek akan diterima jika IRR-nya lebih
besar daripada biaya modal.
Rumus:
AKW

Rp 0 =

p
w=1
(1+IRR )W

IA

AKW

IA =

p
w=1
(1+IRR )W

2.4.3

Metode IRR yang dimodifikasi (MIRR)


Metode NPV dan IRR akan menghasilkan keputusan penerimaan /

penolakan yang sama untuk proyek-proyek yang independen, tetapi jika proyek-proyek
tersebut saling eksklusif, maka dapat terjadi konflik peringkat. Jika terjadi konflik
peringkat, maka sebaiknya menggunakan metode NPV. Metode NPV dan IRR lebih
unggul daripada metode pembayaran kembali, tetapi NPV lebih unggul dari IRR,
karena NPV berasumsi arus kas akan diinvestasikan kembali pada tingkat biaya modal
perusahaan , sedangkan IRR berasumsi arus kas akan diinvestasikan kembali pada
tingkat IRR proyek. Investasi kembali pada tingkat biaya modal umumnya adalah
asumsi yang lebih baik karena lebih mendekati kenyataan.
Metode IRR yang dimodifikasi memperbaiki masalah yang terdapat dalam IRR
biasa. MIRR melibatkan perhitungan nilai akhir (TV) dari arus kas masuk yang
dimajemukkan pada tingkat biaya modal perusahaan dan kemudian menentukan
tingkat diskonto yang memaksa nilai sekarang TV menjadi sama dengan nilai sekarang
arus kas keluar.

2.4.4

Profitability Index (PI)


Profitability Index disebut juga rasio manfaat-biaya dihitung dengan cara

membagi jumlah nilai sekarang (NS) dari aliran kas bersih dengan investasi awal. Nilai
sekarang dari aliran kas bersih yang digunakan untuk perhitungan indeks laba di sini
adalah nilai sekarang dari aliran kas bersih yang dihitung dengan tingkat diskonto
minimum yang ditentukan investasi.
Rumus:
(PI) =

jumlah nilai sekarang dari aliran kas bersih


Investasi Awal

Kriteria Keputusan
Kriteria keputusan untuk menerima atau menolak suatu proyek menggunakan teknik
profitability index
Proyek diterima jika IL > 1
9

Proyek ditolak jika IL < 1


Contoh:
PT. Widyatama memiliki indeks laba sebesar :
PI =

Rp 360.445521.729
Rp 327.975 .000.000

= 1,10

Kesimpulan: karena Profitability index PT. Widyatama > 1 maka proyek


diterima. Hasil perhitungan PI menyimpulkan bahwa proyek investasi dapat
diterima di mana PI sebesar 1,10 kebih besar dari 1 (satu)

2.5 Konflik Antara Metode NPV dan IRR


NPV dan IRR untuk proyek yang konvensional akan menghasilkan keputusan yang
sama tentang diterima atau tidaknya suatu proyek. Tetapi perbedaannya terletak pada asumsi
yang digunakan sehingga meranking proyek-proyek tersebut dengan cara yang berbeda.
2.5.1

Profil NPV
Proyek dapat dibandingkan dengan grafik yang menjelaskan tentang keadaan

nilai sekarang dari suatu proyek untuk berbagai tingkat diskonto. Hal ini bermanfaat
dalam mengevaluasi dan membandingkan proyek terutama ketika terjadi perbedaan
ranking.
2.5.2

Ranking yang betentangan (conflinting rankings)


Rangking yang bertentangan terjadi pada proyek dengan NPV dan IRR, yang

disebabkan oleh perbedaan besarnya dan waktu dari aliran kas. Walaupun kedua faktor
menjelaskan perbedaan ranking, sebabnya secara implisit terletak pada asumsi
mengenai re-investasi dari aliran kas bersih. NPV mengasumsikan bahwa aliran kas
bersih

diinvestasikan

kembali

pada

tingkat

biaya

modal,

sedangkan

IRR

mengasumsikan bahwa aliran kas bersih diinvestasikan pada tingkat yang sama dengan
tingkat IRR proyek.
10

Pada umumnya proyek dengan besarnya investasi yang sama dan mempunyai
aliran kas bersih pada awal operasi rendah cenderung mempunyai tingkat diskonto
yang rendah. Proyek yang mempunyai aliran kas bersih awal operasi yang tinggi
cenderung mempunyai tingkat diskonto yang tinggi.
2.5.3

Pendekatan mana yang terbaik?


Pandangan teoritis
Penggunaan NPV untuk menghitung capital budgeting merupakan pendekatan
yang lebih baik dibandingkan dengan IRR, sebab dalam NPV diasumsikan bahwa
aliran kas bersih merupakan hasil investasi yang diinvestasikan kembali pada
tingkat biaya modal perusahaan.
Penggunaan tingkat IRR cenderung tinggi, karenanya penggunaan NPV lebih
konservatif dan tingkat investasi kembalinya lebih realistik. Secara matematis jika
menggunakan IRR untuk proyek yang mempunyai aliran kas yang nonkonvensional mempunyai IRR nol atau lebih dari satu IRR yang benar. Hal ini
tidak terjadi pada pendekatan NPV.

Pandangan praktis
Manajer keuangan cenderung untuk menggunakan IRR karena IRR menunjukan
tingkat pengembalian yang sebenarnya. Mereka menganggap penggunaan NPV
lebih sulit sebab tidak mengukur pengembalian dari jumlah investasi.

2.6 Penilaian Proyek Investasi Yang Tidak Sama Umurnya


Manajer keuangan seringkali harus memilih keolompok terbaik dari proyek dengan
umur berbeda. Jika proyek mandiri, umur dari proyek tidak penting tetapi jika bersaing
meniadakan maka perbedaan umur harus dipertimbangkan, sebab proye tidak menghasilkan
jasa dalam waktu yang dapat dibandingkan. Hal ini menjadi penting jika berlangsungnya jasa
dibutuhkan dalam pertimbangan proyek.
Contoh sederhana yang menunjukkan masalah dasar yang tidak dapat dibandingkan
yang disebabkan oleh kebutuhan untuk memilih grup yang terbaik dari proyek bersaing
meniadakan dan mempunyai umur yang berbeda.
Contoh:
11

PT widyatama, mengevaluasi dua proyek yaitu:

Proyek XX dengan investasi awal sebesar Rp. 65.000.


Proyek YY dengan investasi awal sebesar Rp. 75.000.

Aliran kas dari masing-masing proyek dapat dilihat pada tabel dibawah ini. Biaya modal
dalam mengevaluasi proyek yang mempunyai resiko yang sama adalah sebesar 10%.

Tahun
Ke1
2
3
4
5
6

Aliran kas masuk (Rp)


Proyek XX
32.000
33.000
38.000
-

Proyek YY
40.000
30.000
25.000
20.000
15.000
10.000

NPV dari masing-masing proyek dengan biaya modal sebesar 10%:


NPVxx = [ 32.000 x (0,909]] + [33.000 x (0,826)] + [25.000 x (0,751)] 65.000
= [29.088 + 27.258 + 28.538] 65.000
= 84.884 65.000
= Rp. 19.884
NPVYY = [40.000 x (0,909)] + [30.000 x (0,826)] + [25.000 x (0,751)] + [20.000 x
(0,683)] + [15.000 x (0,621)] + [10.000 x (0,564)] 75.000
= (36.360 + 24.780 + 18.775 + 13.660 + 9.315 + 5.640) 75.000
= 108.530 75.000
= Rp. 33.530

12

Dengan tidak memperhatikan perbedaan lamanya proyek investasi, kedua proyek tersebut
dapat diterima (NPV > 0), proyek YY lebih disukai dari pada proyek XX. Dengan kata lain:

Jika proyek tersebut mandiri dan dananya terbatas, hanya satu yang dapat diterima yaitu

proyek YY karena NPVnya lebih besar akan lebih disukai.


Jika proyeknya bersaing meniadakan lamanya proyek harus dipertimbangkan. Proyek
XX memberikan pelayanan selama 3 tahun dan proyek YY selama 6 tahun. Pendekatan
NPV dapat menghasilkan putusan yang salah untuk memilih proyek yang lebih baik.

Meskipun ada sejumlah proyek dengan umur yang tidak sama, teknik yang lebih efisien
yaitu dengan menggunakan pendekatan Annualized Net Present Value (ANPV).

2.7 Penjatahan Modal (Capital Rationating)


Tujuan dari rasionalisasi kapital adalah memilih suatu grup dari proyek yang
menghasilkan NPV keseluruhan yang paling tinggi dan tidak membutuhkan dana lebih besar
dari yang dibudgetkan. Merupakan syarat mutlak untuk rasionalisasi kapital, proyek
bersaing meniadakan yang terbaik yang harus dipilih dan ditempatkan dalam grup dari
proyek mandiri.
Ada 2 pendekatan untuk memilih proyek dengan rasionalisasi kapital yaitu:

Pendekatan tingkat pengembalian internal (IRR)


Pendekatan pada rasionalisasi kapital yang menggambarkan proyek IRR dalam urutan
yang menurun dibandingkan dengan jumlah uang yang diinvestasikan.

Contoh soal
PT Widyatama mempunyai 6 proyrk yang bersaing untuk anggaran tetap sebesar Rp.
340.000. investasi awal dan IRR untuk setiap proyek sebagai berikut:
Proyek
A
B
C
D
E

Investasi awal (Rp)


150.000
90.000
100.000
40.000
60.000

IRR
12,5%
20%
16%
8%
15%
13

F
110.000
11%
Perusahaan mempunyai biaya modal 10%. Berdasarkan daftar harga proyek B, C dan E yang
diterima bersama, baru menyerap Rp. 250.000 dari anggaran sebesar Rp 340.000. proyek D
tidak dipertmbangkan sebab IRR < 10% (biaya modal). Dari pendekatan ini tidak menjamin
proyek B, C dan E akan memaksimalkan pendapatan perusahaan.

Pendekatan net present value (NPV)


Pendekatan pada rasionalisasi kapital yang bersarkan penggunaan nilai sekarang untuk
menentukan grup dari proyek yang akan memaksimalkan kekayaan pemiliknya.

Proye

Peringkat untuk proyek PT. Widyatama


Investasi awal
IRR
Nilai sekarang Alt. 1 (Rp)

Alt. 2 (Rp)

dari aliran
masuk pada
tingkat 10%

B
C
E
A
F

90.000
100.000
60.000
150.000
110.000

40.000

(Rp)
20%
132.000
16%
145.000
15%
79.000
12,5%
190.000
11%
126.500
Titik batas IRR < 10%
8%
36.000
Jumlah

132.000
145.000
79.000

132.000
145.000
190.000

356.000

467.000

Kelompok proyek diperingkat dengan dasar IRR. Proyek B, C dan E. Membutuhkan


investasi sebesar Rp. 250.000 = (90.000 + 100.000 + 60.000) dengan nilai sekarang
(NS) sebesar Rp. 356.000. jika proyek B, C dan A dijalankan menggunakan total dana
yang dianggarkan digunakan seluruhnya sebesar Rp. 340.000 = (90.000 + 100.000 +
150.000) dengan nilai sekarang (NS) Rp 467.000 lebih besar daripada proyek B, C dan
E yang diurut berdasarkan IRR yang tertinggi. Proyek B, C dan A lebih disukai karena
memaksimalkan nilai sekarang (NS) dari dana yang tersedia. Hal ini sama dengan
memaksimalkan NPV, sebab dana baik yang digunakan atau tidak digunakan merupakan
total investasi awal. Dana yang tidak digunakan tidak meningkatkan nilai perusahaan.
Tujuan perusahaan adalah menggunakan dana untuk menghasilkan nilai sekarang (NS)

14

aliran kas masuk yang tertinggi. Dengan asumsi, porsi dana yang tidak digunakan tidak
akan menghasilkan keuntungan atau kerugian.
NPV untuk proyek B, C, E Rp 106.00 = (356.000 250.000)
NPV untuk proyek B, C, A Rp 127.000 = (467.000 340.000)
memaksimalkan NPV.

2.8 Pengaruh Inflasi Terhadap Capital Budgeting


Hubungan spesifik antara inflasi dan biaya modal masih dalam proses yang
ditetapkan secara tegas dan dalam ketiadaan model penuh untuk menjelaskan hubungan ini,
maka dalam bagian makalah ini akan memfokuskan pada hubungan antara perubahan inflasi
dan perubahan yang berikutnya dalam tingkat suku bunga. Secara khusus kita akan
menyepakati perbedaan antara tingkat suku bunga riil dan nominal, hubungan antara inflasi
dan pergerakan tingkat suku bunga serta hubungan antara tingkat suku bunga dan biaya
modal.
Dalam dunia non inflasioner, dana pinjaman dengan tingkat suku bunga
pengembalian pada tingkat yang setara untuk tingkat suku bunga ditetapkan dan nominal.
Jika inflasi diperkenalkan dalam sistem, pengembalian sebagaimana yang ditetapkan secara
nomminal akan berbeda dari pengembalian riil, ketika arus kas masa yang akan datang
memiliki daya beli lebih rendah. Ini bisa diperdebatkan apakah tingkat suku bunga akan naik
dengan cepat atau tidak dalam jumlah tertentu dari penggantian kerugian inflasi, dan
argumen pada setiap sisi telah disimpulkan oleh Bernstein [2], tapi apakah ini jelas bahwa
pengenalan inflasi menempatkan tekanan ke atas pada tingkat suku bunga. Alasan ini adalah
bahwa (1) peminjam akan meningkatkan permintaan mereka atas dana selama inflasi untuk
memberikan biaya transaksi yang lebih tinggi dan untuk memindahkan dari aktiva finansial
menjadi aktiva non finansial sebagai penghambat terhadap inflasi, dan (2) kebijakan pihak
berwenang akan bergerak untuk mengurangi tingkat pertumbuhan pasokan dana ketika
inflasi melawan alat kebijakan.
Perbedaan antara tingkat nominal dan tingkat riil dinamakan dengan inflasi premium
dan banyak teks saat ini menyatakan premium sebagai tambahan terhadap tingkat suku
bunga riil seperti contoh berikut :

15

Persamaan 1
i=k+p
Dimana
i = tingkat suku bunga yang ditetapkan atau tingkat nominal
k = tingkat suku bunga riil
p = tingkat inflasi
Hubungan aktual adalah perkalian dan bukan penambahan. Hal dapat ditunjukkan jika kita
mengambil arus kas dan inflasi pada periode t yang sama di masa yang akan datang
Persamaan 2
C = C(1 + p)t
Dimana :
C = arus kas nominal atau terinflasi
t = periode waktu relatif pada tahun dasar
dan kemudian hitung C nilai saat ini dengan menggunakan tingkat suku bunga nominal dari
persamaan (1), kami telah menyusunnya menjadi :
Persamaan 3
PV = C/(1 + p)t
Kita dapat menyempurnakan pengaruh yang sama dengan mendeflasi C melalui indeks harga
dan kemudian potong dengan menggunakan tingkat suku bunga riil : sehingga menjadi :
Persamaan 4
16

PV = (C/(1 + p)t/(1 + k) t
Ketika persamaan (3) dan (4) diselesaikan dengan hasil sama, mereka dapat ditetapkan setara
satu sama lain, sehingga :
Persamaan 5
C / ( 1+ p )t C

( 1+ k )( 1+i )t

Sehingga menghasilkan :
Persamaan 6
(1 + p)t(1 + k)t =(1 + i)t
Demikian hubungan perkaliant ersebut. Rumus penambahan adalah perkiraan pertama yang
masuk akal, tapi tidak harhus digunakan dalam kasus anggaran modal yang sesungguhnya
karena hal ini akan menimbulkan bias ke atas.
Pada tahap ini kami memperkenalkan masalah inflasi dalam proses anggaran modal untuk
menentukan secara khusus pengaruhnya pada sejumlah variabel keuangan.
Persamaan 7
Ri = PQ
Dimana :
Ri = pendapatan dalam periode i
P = harga rata-rata per produk sepanjang periode
Q = kuantitas tahunan produk yang terjual

17

Asumsikan bahwa kuantitas konstan sepanjang waktu, dan bahwa P adalah harga konstan
dalam ketiadaan inflasi. Biaya kita dirancang dengan Ci + Di, dimana Di, adalah beban
penyusutan selama periode i.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Dalam mengambil keputusan yang menyangkut capital budgeting, seorang manajer diharapkan
pada sejumlah faktor yang saling terkait satu sama lain. Salah satu faktor yang cukup penting ialaj
jangka waktu capital budgeting yang relatif lama sehingga pengambilan keputusan akan menjadi
kurang fleksibel. Sebagai contoh, pembelian aktiva dengan umur ekonomis 10 tahun akan
memerlukan periode yang lebih lama sebelum hasil akhir dari tindakan tersebut dapat diketahui.
Lebih jauh lagi, karena penambahan aktiva terkait erat dengan perkiraan penjualaan di masa
mendatang, maka keputusan untuk membeli aktiva yang diharapkan akan terpakai selama 10 tahun
memerlukan adanya perkiraan penjualaan untuk masa 10 tahun mendatang.
Capitl budgeting yang efektif akan membantu untuk menetapkan saat yang tepat untuk
memperoleh aktiva dan meningkatkan mutu aktiva yang dibeli.perusahaan yang telah
memperkirakan kebutuhan aktiva tetapnya jauh-jauh hari akan mempunyai cukup waktu luang
untuk membeli dan memasang peralatannya sebelum penjualan mecapai kapasitas penuh.
Pada akhirnya, capital budgeting juga penting karen penambahan aktiva tetap lazimnya
memerlukan pengeluaran besar, dan sebelum perusahaan membelanjakan uang dalam jumlah besar,
diperlukan penyususan rencana yang matang dan tepat.

18

DAFTAR PUSTAKA

id.scribd.com/doc/43110251/MODUL6CAPITALBUDGETING
http://asdarmunandar.blogspot.com/2012/03/penganggaran-modal-bag-1.html
http://anakfoseiunhas.blogspot.com/2013/10/penganggaran-modal.html
Sunjaja, Ridwan S., dan Barlian, Inge, Manajemen Keuangan Dua: Edisi Kedua, Bandung, PT.
Prenhallindo, 2001.

19

Anda mungkin juga menyukai